Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
7
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e91f24d09b5ca712d6f2c20/aku-terima-karena-allah
:menang :cendolgan INDEX PROLOG CHAPTER 1 CHAPTER 2 CHAPTER 3 CHAPTER 4 CHAPTER 5 Tokoh-tokoh: Syafahira Dhanisa (Istri Azzam) Azzam Alhusayn Zahidi (Suami Nisa) Ahmad Hafidzan Fayzulen (Teman dekat Nisa) Arkanan Jovan Shafiyyur (Sahabat Nisa) Jihan Fakhirah Tusaliha (Sahabat Nisa) Sadam Malik (Sahabat Nisa) Ahsan Fauzillah Alfarizi (Ayah Nisa) Hamidah Salmahira (Ibu Nisa) Umar Hamzah Alfarizi (Ay
Lapor Hansip
11-04-2020 23:37

Aku Terima karena Allah

icon-verified-thread
Aku Terima karena Allah



emoticon-Menang emoticon-Cendol Gan







Quote:
INDEX


PROLOG
CHAPTER 1
CHAPTER 2
CHAPTER 3
CHAPTER 4
CHAPTER 5





Quote:Tokoh-tokoh:


Syafahira Dhanisa (Istri Azzam)
Azzam Alhusayn Zahidi (Suami Nisa)
Ahmad Hafidzan Fayzulen (Teman dekat Nisa)
Arkanan Jovan Shafiyyur (Sahabat Nisa)
Jihan Fakhirah Tusaliha (Sahabat Nisa)
Sadam Malik (Sahabat Nisa)
Ahsan Fauzillah Alfarizi (Ayah Nisa)
Hamidah Salmahira (Ibu Nisa)
Umar Hamzah Alfarizi (Ayah ustadz Azzam)
Nur Salamah (Ibu ustadz Azzam)




SINOPSIS

"Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi, dan tidak pula pada diri kalian sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh al- Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah," (QS Al-Hadîd [57]: 22).

~~~~


Sang pemilik kehidupan mereka yang akan membawa takdir mereka jauh dari angan-angan. Dalam sebuah bahtera rumah tangga yang suci terhimpun sebuah lantunan untuk penyempurna agama mereka.

Ini berawal sebuah surat yang dapat merubah kehidupan seorang anak muda. Surat yang ditulis orang tua kandung Nisa lima tahun lalu. Dipaksa menikah?. Tapi ini bukan kisah siti Nurbaya yang menikah demi melunasi hutang harta benda. Ini kisah tentang Syafahira Dhanisa, kerap disapa Nisa yang duduk di kelas 12 aliyah. Harus bisa menerima kenyataan kalau dia harus bersuamikan seorang ustadz, yang tak lain adalah seorang guru yang mengajar di sekolahnya, juga sepupunya sendiri. Mantap ini yang dinamakan three in one.

Orang tua angkat Nisa pun sangat setuju. Karena ia tahu kalau hanya Azzam yang bisa merubah perangai Nisa yang kerap membebal. Sebuah perasaan dilema saat Nisa berusaha menyembunyikan status pernikahannya dengan sahabat dan teman sekolahnya. Termasuk, Fey, sahabat yang menaruh hati dengan Nisa. Perbedaan umur yang jauh juga membuat Nisa kerap menghadapi konflik dalam menerima Ustadz Azzam sebagai suaminya.








PROLOG


Hiruk pikuk orang-orang berlalu lalang dalam rumah mempersiapkan segala keperluan untuk acara akad nikahku yang akan dilaksanakan hari ini. Sebenarnya batinku masih merontak, tidak hendak menuruti kehendak ayah dan ibu. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, aku benci situasi ini, aku benci suasana ini. Tiba-tiba air mataku jatuh. “Pengantin prianya sudah datang!” terdengar suara itu samar-samar. Tidak lama ibu pun masuk dan membimbingku keluar. Aku sudah duduk di samping Azzam, dan bapak penghulu sepertinya juga sudah siap.

Bismillahirrahmanirrahim

Ankahtuka wazawwajtuka maktubataka binti Syafahira Dhanisa alal mahri bi mahrin mushafin hallan”
suara Pak Ahsan

Qabiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkur wa radhiitu bihi wallahu waliyu taufiq” suara Azzam yang tak kalah lantang dari suara ayah.

“Sah!”

“Sah!”

“Alhamdulillah”


Tak terasa air mataku mengalir. Kini aku resmi menjadi istri Azzam. Aku tidak tahu bagaimana perjalanan hidupku selanjutnya.

Ibu memberikan kode agar aku mencium tangan suamiku.

Aku menurut dan mencium tangan Azzam, harum. Setelah aku mencium tangannya ia berbalik mencium keningku dengan lembut.

Ayah menepuk pundak Azzam sambil mengatakan sesuatu. “Azzam, ayah titip Nisa dengan kau, tolong jaga dia”

Azzam mengangguk. “Iya ayah. Aku akan menjaganya”

Ayah menepuk kembali pundak Azzam pertanda ia yakin kalau Azzam akan menjalankan kewajibannya.

***


Malam ini bintang bertaburan dilangit, mereka seolah-olah berlomba-lomba untuk menampakkan sinarnya yang paling terang. Aku masih duduk dikursi sambil menghadap jendala, kepalaku menengadah ke langit. Hembusan lembut angin malam menerpa wajahku membuat rambutku yang terurai sebahu, tersibak.

Clek

Suara pintu kamarku terbuka. Aku yakin itu pasti Abang Azzam. Aku hanya diam tidak menggubrisnya. Meskipun kami berdua di kamar ini, tapi belum ada percakapan yang berlangsung. Hening!. Sunyi! hanya terdengar suara jangkrik memecah kesunyian.

Aku merubah posisiku, menghadap Abang Azzam yang duduk di tempat tidur. Ada sesuatu yang aku hendak tanyakan.

“Abang kenapa abang terima?” kataku memulai. Aku menanyakan itu karena batin masih saja menolak.

“Saya terima karena Allah...”

“Maksudnya karena Allah?” tanyaku tidak paham.

Lama abang Azzam diam, lalu berbicara lagi menjawab pertanyaanku. Aku merubah posisiku kembali seperti semula, menengadahkan kepala menghadap ke langit dengan jendela kamar yang masih terbuka.

“Saya terima karena Allah subhanahuwata’ala. Kita ini ijab dan qabul maknanya bahwa saya memanglah ditakdirkan untuk berjodoh dengan Nisa. Itu maksud saya karena Allah. Kalau Allah tidak mengizinkan, tentu kita tidak akan menikah. Sesungguhnya Allah itu Maha Adil. Jodoh, maut semuanya sudah diatur oleh Allah.”

Suara Abang Azzam terputus.

“Mungkin begitulah ketentuannya Nisa. Kalau jodoh saya memang dengan Nisa, tentu mau menunggu sampai kapan pun kita pasti akan tetap menikah. Kalau Nisa masih belum ikhlas bersuamikan saya. Tidak apa. Saya iklas, sampai suatu saat nanti Nisa mau menerima saya sebagai suami Nisa. Dan Nisa juga bisa menerima saya karena Allah.








Diubah oleh syrmey
0
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Aku Terima karena Allah
11-04-2020 23:48

Aku Terima karena Allah

CHAPTER 1



Menjelang tengah malam, motor gede Fey melanju kencang menyusuri jalanan kota metropilitan yang sekarang telah mulai sepi. Tak perlu waktu lama Fey sudah berbelok ke salah satu warung makan sederhana, tempat biasa kami berkumpul dengan in the geng. Aku senang hari ini karena bisa berkumpul lagi dengan mereka, teman-temanku. Maklum saja sudah hampir seminggu aku hanya berbaring di kasur karena sakit. Huh! sangat tidak mengasyikkan, dan membuatku jenuh dan tentunya rindu dengan mereka.

Rembulan terlihat begitu temaram, menerangi setiap sudut malam. Teman-temanku terlihat juga begitu asyik tak mau melewatkan moment ini. Terlihat Sadam dan Jovan masih sibuk bermain catur di sudut meja sebelah kanan. Sementara aku duduk di meja sebelahnya sambil meneguk minuman berwarna merah. Fey yang barusan tiba langsung memesan ice Coffie dan berbincang denganku.

Handphone berdering

Ibu calling .....

Nama yang tertera di layar handphone Dhanisa.

Ibu
Assalamualaikum.


Dhanisa
Wa’alaikumsalam Bu.


Ibu
Nisa kenapa belum pulang, sudah jam berapa ini? Kau ini anak perempuan, tidak baik pulang larut-larut malam.


Dhanisa
Bu, sebentarlah lagi yah Nisa pulang,karena teman-teman masih banyak dan belum juga ada yang pulang.

Ibu
Tidak ada nanti-nanti! Sekarang cepat pulang!


Dhanisa
Ssh! Iya-iya ...


Ibu
Benar ya! Ibu tunggu dalam waktu 5 menit. Assalamu’alaikum


Dhanisa
Wa’alaikumsalam


Telepon terputus.

Aku mulai mengemas barang-barang dan siap-siap untuk segera beranjak pulang ke rumah.

“Fey, aku mau pulang sekarang! Tolong antar aku yah!” pintaku pada laki-laki yang duduk denganku barusan.

“Eh, kenapa cepat sekali Nisa? lagian ini masih jam berapa? nggak seru banget!” ucap Fey sambil melirik arloji yang melekat di tangan kirinya.

“Sudahlah jangan banyak tanya. Sekarang mau antar aku atau tidak!” kataku ketus.

“Iya. Oke-oke. Sebentar aku ambil motor dulu.” menyegerakan langkahnya untuk mengambil motor yang terparkir di depan warung Mak Silah, tempat ini sudah kami anggap sebagai basecamp. Tempat aku dan teman-teman biasa kumpul.

Aku melihat Jihan masih sibuk juga dengan aktivitasnya membaca buku. Memanglah di antara kami dia memang yang paling pandai di kelas. Jangan tanya perihal aku. Aku sangat malas orangnya. Tapi itulah, belum ada inisiatifku untuk mencontoh sifat Jihan, padahal sebentar lagi aku akan menghadapi ujian kelulusan tingkat sekolah menengah atas.

“Jihan, aku pulang dululah” pamitku pada Jihan.

“Hah! benarkah! terus aku ditinggal sendiri”

“Siapa bilang kau sendirian, itu masih ada Sadam, Jovan.”

“Hem, ya sudahlah nanti aku pulang bareng Sadam. Hati-hati di jalan ya Nisa!” nasihatnya.

“Okey. Bye. Sampai jumpa besok di sekolah ya!”

“Okey!”

Aku mendengar suara deru mesin motor Fey. Aku segera berjalan keluar. Fey memberikan helm yang telah dipegangnya kepadaku. “Nah, pakai!” pintanya. Deru mesin motor pelahan mulai menghilang meninggalkan warung Mak Silah.

***


Tok...tok...

Assalamu’alaikum!”

Kreekk

Suara itu terdengar seperti orang yang sedang membuka kenop pintu dari dalam.

Wa’alaikumsalam. Ayo masuklah” kata Ahsan─ayah Dhanisa.

“Mana ibu, Yah!”

Ayah tidak menjawab namun menunjuk ke sebuah kursi sofa berwarna coklar cream, disanakah ibu duduk sambil menatap layar televisi.

Ayah membimbingku dengan lembut untuk gabung dengan ibu di sana. Ayah memang orang yang tidak pernah kasar dengan aku, sedikit berbeda dengan ibu yang memiliki watak agak keras dan juga tegas, akupun tak berani membantah dibuatnya. Lagi pula mana mungkin aku bisa membantah karena semenjak orang tua kandungku meninggal enam tahun lalu. Aku kemudian diangkat anak olehnya. Mungkin karena selama ini, mereka belum lagi dikaruniai anak.

Dulu sebenarnya mereka pernah punya anak, namanya Khalid. Ia anak yang pandai dan memiliki prestasi yang gemilang. Maka tidak heran setelah tamat kuliah berlomba-lomba perusahaan yang ingin menggunakan jasanya. Kenangan lain tentang dia adalah sewaktu aku masih SMP pernah dikeluarkan sekolah, karena kerap membolos waktu belajar. Abang Khalid yang tahu tentang perangaiku itu akhirnya mengurus segala perpindahan sekolah ke sini. Dia sangat baik dan selalu menolongku. Namun siapa sangka, diusianya yang masih sangat muda ia harus menemui ajalnya. Khalid meninggal dalam insiden kecelakaan. Memanglah maut, jodoh tidak ada yang tahu.

Aku yakin keluarga ini begitu sedih kala ia harus meratapi kemalangan ditinggal mati oleh sang anak laki-laki satu-satunya. Mungkin kesedihan seperti itulah yang mereka rasakan saat aku juga harus merelakan orang tuaku pergi untuk selama-lamanya dalam kecelakaan itu pula.

Masa itu ayah dan ibu kandungku serta abang Khalid baru saja menghadiri pesta pernikahan Paman Hamzah─saudara kandung dari Ibuku. Paman Hamzah, Ibuku, dan juga Pak Ahsan, mereka adik beradik, saudara.

Kisah itu bermula ketika Khalid yang pada saat itu mengendarai mobil, tiba-tiba saja ban mobil itu pecah hingga membuat mobil itu oleng lalu menabrang beton pembatas dengan begitu kencang dan keras. Abang Khalid meninggal seketika di tempat, sementara ibu dan ayah masih sempat ditolong orang sekitar. Tapi takdir berkata lain. Keduanya meninggal ketika diperjalanan menuju rumah sakit.

Bagai dentuman yang keras, ketika aku mendengar perihal berita mengenaskan itu. Keluarga Pak Ahsan, selalu berada di samping aku dan selalu pula menguatkan aku agar tetap sabar dan tabah. Hingga suatu ketika mereka berpikir untuk mengambil aku sebagai anak angkatnya. Perlahan-lahan aku mencoba untuk mengiklaskan karena memang aku yakin itu adalah takdir Tuhan yang sudah tertulis di lauful mahfuz.

Ibu Hamidah, itulah nama ibu angkatku. Ia sudah duduk dikursi sofa berwarna coklat cream begitu juga dengan aku. Tidak tahu ada apa. Sepertinya ada sesuatu yang ingin mereka katakan. Aku melihat mereka ragu-ragu dan saling menatap satu sama lain.

“Ayah! Ibu! kenapa sih?”

Keduanya masih diam. Binggung harus memulainya.

“Huss, ayah mulailah”

“Saya!” tanya Pak Ahsan sambil menunjuk dirinya.

“Iyalah! siapa lagi.”

“Ih! Kenapa sih ini?” tanya Dhanisa binggung.

“Ahm, begini Nisa. Ada sesuatu yang ingin kami sampaikan. Ini mungkin sedikit mengejutkan Nisa”

Nisa mengernyitkan dahi. “Apa? bilanglah?”
Ayah merogoh sesuatu dari kantong bajunya. Terlihat selembaran kertas putih yang terlipat-lipat. Perlahan dan dengan hati-hati ayah membuka lembaran kertas putih itu.

“Ini” ucap ayah sembari menyodorkan kertas itu kepadaku.

“Apa ini Yah?”

“Baca saja!” katanya dengan singkat.

Bola mata Dhanisa mulai bergerak dari sudut kiri kertas kemudian sampai ke kanan kertas, begitu terus, hingga bacaan di kertas itu selesai dibaca.

“Hah!!!”

Mendengar teriakan Dhanisa membuat keduanya sontak kaget.

“Apa! Nggak! Dhanisa nggak mau!”

“Nisa itu adalah permintaan keluarga paman Hamzah, beliau meminta agar menyampaikan surat ini pada Nisa” kata Ibu, menyahut.

“Tapi Ibu haruskah secepat itu! Nisa nggak mau! lagian masih harus sekolah Bu dan mengejar cita-citaku yang masih panjang”

“Iya, Ibu tahu. Tapikan bisa kau jalani sambil bersekolah!”

“Nggaklah ibu! Ibu, Ayah, tolonglah minta sama keluarga paman Hamzah tuh untuk batalkan semuanya.” rengek Dhanisa.

“Tidak bisa Nisa! Ibu dan Ayah punya alasan sendiri, kenapa Ibu dan Ayah setuju dengan pemintaan keluarga mereka”

Aku sudah malas dengan situasi yang seperti ini. Aku pun memutuskan untuk masuk kamar saja. Tidak mau memikirkan tentang semua ini.

Di kamar aku hanya ditemani dentingan jarum jam yang terus bekerja. Ia berberak mula dari detik ke detik, lalu menit ke menit dan jam ke jam begitu seterusnya. Suaranya terdengar nyaring.

Aku masih belum tidur, masih menaruh rasa kesal dengan sikap ayah dan ibu. Terkadang ada sedikit terbesit dipikiranku untuk pergi dari rumah. Tapi, sepertinya naluriku menolak. Aku tidak mungkin meninggalkan mereka karena aku hanya memiliki mereka sebagai keluarga. Setelah orang tua kandungku meninggal merekalah satu-satunya keluargaku saat ini.




~Bersambung...
Diubah oleh syrmey
0 0
0
Aku Terima karena Allah
11-04-2020 23:56

Aku Terima karena Allah

CHAPTER 2


Nasi dengan lauk pauk yang banyak terhidang di depan meja. Ibu, ayah dan juga aku telah siap untuk menyantap makan malam ini. Suap demi suap aku nasi masuk ke dalam mulut, begitu nikmat rasanya. Tak ada lagi aku hiraukan perkataan ibu dan ayah tentang perjodohan itu. Tiba-tiba saja di penghujung makanku, ayah dan ibu mengatakan harus pergi ke Singapura karena ada beberapa urusan pekerjaan ayah di sana.

“Nisa, Ibu dan Ayah seminggu lagi akan bertolak ke Singapura”

“Hem, berapa hari Ayah dan Ibu tinggal disana?” tanyaku sembari menyuapkan nasi masuk ke dalam mulut.

“Bukan satu dua hari, tapi mungkin lima bulan Nisa”

“Hah! lama sekali Bu. Kenapa tidak selepas idul fitri saja, karena sekitar dua minggu lagi kitakan juga akan menjalankan ibadah puasa”

“Yang namanya pekerjaan mana bisa ditunda Nisa. Lagi pula bukan hanya urusan kerja di sana. Tapi ada juga beberapa proyek almarhum abangmu yang masih hendak dilanjutkan! dan kita tidak mungkin juga akan membawa Nisa ikut karena Nisa akan mengikuti ujian kelulusan kan sebentar lagi?”

Aku mengangguk. Sembari dalam hati aku berpikir berarti niat ayah dan ibu untuk perjodohan itu pasti akan dibatalkan. Raut wajahku berubah senang.

“Nggak apa-apalah, Ibu dan Ayah nggak usah gelisah begitu. Nisa bisa kok jaga diri” kata Dhanisa sambil tersenyum.

“Tidak! Nisa tidak akan tinggal sendiri di sini.”

“Terus dengan siapa?”

“Dengan Abang Azzam-lah. Lagi pula Ibu tidak akan tenang hendak pergi kalau membiarkan Nisa tinggal sendiri dalam rumah ini!” kata ibu.

Aku melihat ibu mengerlingkan mata ke arah ayah. Tampak olehku ayah menarik napas dalam-dalam.

“Nisa! Ibu, Ayah juga keluarga paman Hamzah telah berunding untuk menyegerakan pernikahan Nisa dengan Azzam”

Seketika aku tersedak karena nasi yang aku telan belum sepenuhnya melewati kerongkonganku, ditambah lagi dengan perkataan ibu tadi. Namun, aku masih mencoba untuk tenang. Aku menggapai gelas berisikan air putih yang berada di depanku lalu meneguknya.

“Ha-ha, Ibu dan Ayah bercandakan? Ibu janganlah berlebihan kalau bercanda nih” ucapku, yang aku kira ayah dan ibu hanya melempar lelucon.

“Siapa yang bercanda, kami serius Nisa” ibu bersuara.

Berkerut dahiku mendengar perkataan ibu barusan. Sepertinya mereka sangat ingin agar aku segera menikah dengan Abang Azzam.

“Bu, Ibu tahukan menikah itu tidak bisa dianggap main-main?”

“Ya, ibu tahu”

“Nah, ini soal masa depan Nisa Ibu. Biarlah dulu Nisa selesaikan studi. Ibu juga tahukan kalau Abang Azzam sepupu Nisa. Abang Azzam tuh juga guru di sekolah Nisa, mengajar di kelas Nisa juga. Dia mengajar bidang agama, tepatnya mata pelajaran Alqur’an Hadist. Mata pelajaran yang Nisa tidak kuasai.”

Berbicara tentang abang Azzam. Dia adalah ustadz di sekolahku, ustadz yang bisa dibilang sangat populer di sekolah. Dia belum beristri, mungkin karena itulah banyak wanita yang terpesona selalu berusaha menarik perhatiannya, termasuk juga guru di sana dan bahkan anak muridnya sendiri. Tapi kalau dibilang tampan, menurutku dia biasa-biasa saja. Mungkin karena dalam pandangan aku dia bukalah lelaki idamanku, sehingga tidak pula aku tertarik dengannya. Sampai-sampai mareka yang mengagumi Ustadz Azzam membentuk sebuah kelompok yang mereka sebut “Fans Club Ustadz Azzam”.

Aku hanya mendiamkan diri sejenak sewaktu mendengarkan pekataan ibu. Kemudian nasi yang masih tersisa di dalam piring aku habiskan. Untung saja nasi yang tersisa di piring tinggal sedikit lagi. Malas aku lama-lama mendengar celotehan ibu dan ayah di atas meja makan ini. Panas rasanya telingaku mendengarnya. Sebaiknya aku segera menyelesaikan makanku dan beranjak dari meja makan.

“Ibu percayalah, Nisa pasti bisa jaga diri. Okey” kataku masih berusaha meyakinkan ibu.

“Heh! Ibu tidak percaya Nisa. Kalau ada si Azzam tentu sudah tenanglah hati Ibu dan Ayah nih. Kalau Nisa nikah dengan Azzam sudah pasti Azzam akan menjaga Nisa.”

“Sudahlah Bu! jangalah terlalu mengkhawatirkan Nisa”

“Bagaimana Ibu tidak khawatir Nisa!” nadanya mulai meninggi. “Sedangkan kami yang selalu memantau Nisa, menasehati Nisa setiap hari tetap saja membebal. Entah keluar ke mana, dengan lelaki mana. Balik selalu larut malam” jelas Ibu yang selalu menerangkan tentang perilakuku.

Aku diam sejenak. Setelah memastikan nasi yang ada dipiring telah habis aku lahap. Aku langsung pergi meninggalkan meja makan karena kuping sudah begitu panas mendengar celotehan ibu.

“Hah! lihat itu! belum juga orang tua selesai berbicara langsung main pergi saja dia! Nisa! Nisa kamu dengar tidak apa yang ibu bilang tadi?” teriak ibu dengan nada suara meninggi.

Aku kemudian berhenti. Menatap raut wajah ibu yang terus memandangku. Namun, aku hanya memandang dan bertingkah seolah tak bersalah. Aku melihat ayah menggelengkan kepala ke arah ibu.

“Sudahlah Bu, nanti lagi kita bicarakan” kata ayah berusaha menenangkan ibu.

Aku bernapas lega. Ku lanjutkan kembali langkah kakiku menuju dapur.

'Yes, selamat! selamat! untung ada ayah yang membelaku tadi' ucapku dalam hati.

***


Aku duduk sofa empuk, sambil menyalakan LED TV yang terpampang di depanku. Ku lihat ayah dan ibu juga ikut bergabung denganku untuk menonton tayangan.

Ayah memulai pembicaraan.

“Nisa!”

“Hmm”

“Setuju atau tidak. Yang jelas kami sudah menganggap kalau Nisa sudah setuju dengan keputusan tadi”

“Setuju! Setuju apa? kapan Nisa bilang setuju?”, ujarku kesal.

Kenapa tiba-tiba ayah berkata seperti itu?’ pikirku. Aku kira ayah tadi diam karena ia berpihak dengan aku. Ternyata ayah diam karena malas hendak bertengkar. Aku masih duduk di sofa dengan tangan kanan menopang dagu. Mataku masih lekat memandang televisi yang menyala di depan. Melihat aku yang tidak mereaksi lagi ibu mengambil remote televisi yang ada ditanganku. Seketika saja layar televisi berubah menjadi gelap. Aku menghela napas panjang.

Kalau saat ini, orang tua sibuk menyuruh anak perawannya yang sudah berumur tiga puluhan untuk menikah. Tapi lain halnya dengan ini, belum juga masuk dua puluh tahun sudah diminta untuk menikah. Ishh! jika memang diminta untuk menikah, baguslah kalau disuruh menikah dengan seorang dokter, atau dosen atau paling tidak dengan seorang pengacara-lah. Baru aku semangat dan setuju untuk menerima pertunangan itu. Nah ini! aku dijodohkan dengan seorang ustadz dan tidak tahannya saudara sepupu lagi!. Histt, malas sekali!.

Aku benar-benar kesal mendengar keputusan ayah dan ibu. Jika aku menikah sebelum ujian kelulusan dilaksanakan bisa-bisa sekolah mengeluarkan aku, dan melarang aku untuk ikut melaksanakan ujian kelulusan madrasah.

“Kalau Ayah dan Ibu hanya menyuruh supaya abang Azzam menjaga Nisa, sebaiknya Ibu dengan Ayah minta saja abang Azzam supaya sesekali datang untuk melihatku dan menjengukku di rumah” usulku.

“Alah! kita orang tuamu saja yang selalu mengawasi selama 24 jam, tapi sikap tuh tidak juga berubah. Capek ibu dan ayah nasihati Nisa terus, tapi Nisa tidak pernah mau merubah sikap dan perilaku Nisa” bantah Ibu.

Aku mencoba membela diri. “Ibu dan Ayah menjaga Nisa 24 jam apanya? Ibu dan Ayah saja sibuk dengan pekerjaan yang banyak, pulang kadang juga malam.”

Aku diam sebentar, kemudian menyambung pembicaraan sebelumnya, “Jadi, kalau begitu tidak ada bedanya kan kalau Nisa menikah atau tidak?,” sambungku.

Ibu berdiam, terlihat mengatur napasnya.

“Ya, setidak-tidaknya, Ibu tenanglah kalau meninggalkan Nisa karena tidak sendirian di rumah, karena Nisa tidak akan bisa berbuat semau Nisa. Ibu tidak mau ketika kami pulang nanti Nisa tiba-tiba hamil sembilan bulan. Hah! setelah itu barulah timbul rasa penyesalan karena tidak mau mendengar perkataan orang tua. Nisa juga tidak boleh terlalu percaya dengan teman laki-laki Nisa itu. Kalau dia itu laki-laki yang baik, tentu dia tidak akan membawa jalan anak gadis orang sampai larut malamkan?”

Kaget aku mendengar apa yang dikatakan ibu. Tidak aku sangka pikiran ibu bisa sampai ke sana. “Ih, Ibu nih bicara apalah?”. Aku menjeda pembicaraanku kemudian melanjutkannya kembali. “Ibu, selama ini Nisa-lah yang selalu mengajak Fey untuk keluar. Bukan dia!. Janganlah Ibu tuh salah sangka dulu dan menuduh orang yang tidak-tidak. Itu tidak baik Bu!”

“Hah! kalau Nisa keluar rumah terus pulang sampai larut malam itu, apakah baik?” celah ibu.

“Nisa! apa Nisa tahu kalau tingkah Nisa sudah menjadi bahan perbincangan warga”

Aku hanya diam. Aku sempat tak menyangka jika kebiasaanku keluar sampai laut malam manjadi perhatian orang-orang sekitar. Ah! aku nggak peduli dengan semua itu!. Yang jelas aku harus mencari jalan keluar sepaya bisa mengagalkan rencana ayah dan ibu. Aku memainkan rambutku sambil berpikir keras.

“Ibu”

“Hmm”

“Bu, Ibu nggak usah bersusah payah sampai menyuruh Nisa untuk menikah. Biarlah! Nisa sudah bisa jaga diri sendiri. Ibu tidak perlu khawatir. Nisa sudah dewasa, sudah 18 tahun” godaku kepada ibu sambil memelas, berharap keputusan itu bisa berubah.

“Meskipun sekarang kau sudah dewasa tetap saja menjadi tanggungan Ayah dan Ibu. Kalau memang Nisa sudah dewasa tentulah Nisa tahu mana sikap yang baik dan mana yang tidak baik. Tapi ini masih juga belum sadar diri, jalan dengan laki-laki sampai larut malam, nongkrong di warung Mak Silah sampai tengah malam. Apakah sikap yang seperti itu yang dikatakan bersikap dewasa. Kalau orang tua menasehati, Nisa buat seolah-olah tidak mendengar. Sudah itu kalau salah selalu saja mencela dan membela diri. Kalau dulu ibu selalu menurut dengan apa yang dikatakan orang tua, tidak melawan seperti Nisa ini” ucap Ibu panjang lebar, menerangkan.

Aku berpikir sebenarnya memang betul apa yang dikatakan ibu tentang perilaku aku yang jarang di rumah. Bagaimana bisa aku betah di rumah. Aku selalu bosan bila terus berada dalam rumah tidak ada teman untuk berbagi cerita. Ingin berbagi cerita dengan ayah dan Ibu. Tapi apa daya ayah dan ibu selalu sibuk, aku belum bangun ayah dan ibu sudah sibuk mau berangkat kerja kemudian pulang pukul 9 malam kadang sampai pukul 12 malam barulah mereka sampai rumah.

Dengan begitupun aku sering nongkrong bersama geng De Langit di warung Mak Silah yang kami sebut sebagai basecamp kami, sambil membawa laptopku karena di warung Mak Silah ada Wi-Fi. Aku juga kadang-kadang makan malam di sana. Siapa lagi yang mau aku ajak keluar malam, hanya Fey, Sadam atau Jovan kalau Jihan sekarang sepertinya sudah sulit hendak di ajak jalan keluar malam. Biasalah sama seperti dengan ayah dan ibuku yang juga melarang cuman bedanya kalau Jihan menurut, kalau aku agak melanggar sedikit perkataan ayah dan ibu. Lagian aku juga tidak mungkin di rumah terus hanya menatap LED TV dan dinding rumah 24 jam. Bosanlah.

Pernah suatu ketika aku diajak Fey, Jovan dan Sadam untuk ikut lomba memancing. Jarak kolam pemacingan itu juga tidak jauh dari rumah. Aku sampai rumah pukul 2 malam karena aku ikut mereka. Ibu juga masih sering mengungkit hal ini. Bukannya aku sengaja untuk pulang larut malam, karena memang waktu itu ada lomba memancing, orang disana begitu riuh, meriah. Karena takut dimarah Ibu aku meminta Fey untuk menemaniku pulang sambil menjelaskan semuanya pada ayah dan ibu di rumah.

“Maaf Bu,” nadaku pelan, karena merasa bersalah pulang terlambat.

Ibu hanya diam, namun matanya yang berbicara. “Hem, iya ibu maafkan”

Dada akan terasa lapang jika mendengar jawaban ibu.





~Bersambung...
Diubah oleh syrmey
0 0
0
Aku Terima karena Allah
12-04-2020 00:08

Aku Terima karena Allah

CHAPTER 3


Ada empat mata pelajaran hari. Salah satunya mata pelajaran yang diajarkan abang Azzam. Tepatnya jam pelajaran kedua setelah pelajaran Matematika. Aku manarik napas dalam-dalam, berusaha memberikan semangat kepada diri sendiri, untuk menjalani hari ini. Apalagi hari ini terpaksa aku melihat muka abang Azzam alias Ustadz Azzam.

Entah kenapa aku masih merasa mengantuk karena semalam aku di serang insomnia, sulit sekali tidur. Aku selalu memikirkan apa yang ayah dan ibu katakan.

“Doorrr!” Jihan mengejutkanku dari belakang.

“Hem, terlambat kau?”

“Iya, karena ban motor aku pecah tadi, jadi aku minta kakak aku untuk mengantarku” kata Jihan yang bercerita sambil meletakkan tasnya di atas meja.

Ibu Lydia yang menyadari Jihan baru masuk, kemudian memanggil Jihan untuk maju ke depan.

“Jihan kenapa kamu terlambat, sudah pukul berapa ini?”

“Maaf Bu, tadi di tengah jalan ban motor saya pecah, lalu saya meminta Kakak saya untuk menjemput dan mengantarkan aku ke sekolah. Jadi, saya terlambat akhirnya.” Jelas Jihan.

“Oh begitu, ya sudah kalau begitu silahkan duduk Jihan.”

“Terima kasih Bu”

Krringgg....

Bel tanda pergantian jam sudah berbunyi, itu tandanya sekarang masuk jam pelajaran Ustadz Azzam.

“Ehem!” terdengar suara deheman dari luar pintu. Ternyata itu suara Ustadz Azzam. Ustadz Azzam tipe orang yang selalu menepati waktu. Jika ia mengajar pukul 10.00 Wib maka sebelum pukul 10.00 Wib Ustadz Azzam sudah berdiri di depan pintu kelas. Sementara Ibu Lydia sepertinya sengaja untuk keluar lebih lambat ketika mengajar Matematika supaya bisa mencuri pandang Ustadz Azzam. Huh! Rasanya satu sekolah sudah tahu kalau Bu Lydia itu suka dengan Ustadz Azzam. Hanya saja aku kurang tahu apakah Ustadz Azzam suka juga atau tidak dengan Bu Lydia.

Setelah itu apabila Bu Lydia keluar, sempat aku mendengar Bu Lydia berbicara atau sekedar menegur Ustadz Azzam. “Maaf jika saya korupsi waktu Ustadz tadi”. Aku lihat Ustadz Azzam hanya mengangguk. Hmm.... bagaimana aku tidak mendengar, aku duduk dekat dengan pintu pasti aku dengar percakapan mereka.

Abang Azzam sudah masuk ke dalam kelas, seperti biasa abang Azzam akan meminta kami membaca penggalan ayat Al-Qur’an kemudian dia akan meminta kami untuk menyebutkan hukum tajwidnya.

Aku masih duduk santai dan tenang karena tidak mungkin namaku dipanggil, kan adik sepupunya sendiri. Aku tersenyum.

“Syafahira Dhanisa?”

Aku nyaris tersedak karena kaget abang Azzam memanggil namaku. Baru aku hendak membanggakan abang sepupu sendiri yang menjadi ustadzku, aku sudah dipanggil. Aduh!.

“Apa hukum tajwid untuk ayat ini Dhanisa?” jari telunjuknya menunjuk ke sepotong ayat yang sudah dituliskan di papan tulis.

Mataku kemudian membulat.

Aduh, bagaimana ini! tajwid! inilah bagian yang aku lemah. Coba saja dia tanya yang lain saja, seperti tauhid, atau apa tentu aku tahu. Meskipun aku tidak terlalu menguasai tetapi setidaknya aku bisa menjawabnya.

Aku membaca potongan ayat Al-Qur’an tersebut. ‘Itu seperti hukum mad, tapi mad apa ya? apakah mad jaiz, atau mad wajib? eh apa mad arid lisukum, mad badal, mad.... ’ tekaku. Ah! aku coba memandang ke Jihan yang duduk di sebelahku namun dia hanya menatap ke depan. Seperti takut kalau-kalau dia dimarahi Ustadz Azzam karena memberitahu aku jawabannya. Ya, sudahlah aku jawab saja.

“Emm...emm... mad Jaiz, ustadz” jawabku ragu.

“Berikan alasannya kenapa disebut mad jaiz?” tanya Ustadz Azzam

Abang Azzam yang terus mengujamkan pertanyan membuatku terlihat bodoh sekali, rasanya ingin sekali aku lari dari ruangan ini.

“Maaf Ustadz, sebenarnya kalau masalah hukum tajwid saya kurang begitu paham” ujarku.

Rasanya darah sudah naik ke muka. Aku merasa dipermalukan oleh abang Azzam di depan kelas ini. Wajar saja, karena umurku sudah 18 tahun namun aku masih juga tidak paham hukum tajwid. Apa dia memang sengaja untuk mempermalukan aku, ‘Ah! Dhanisa cobalah berpikir positif

Lama abang Azzam memandangku menunggu jawaban. “Ya sudah tidak apa-apalah, Nisa silahkan duduk,” pintanya.

Setelah aku duduk, aku mengarahkan mukaku ke bawah. ‘Wah! sepertinya aku sudah ditertawakan satu kelas, hanya saja mereka tidak berani untuk bersuara’ pikirku lagi.

“Yang ini mad wajib muttasil.” ujar Ustadz Azzam sambil menunjuk potongan ayat tersebut. “Mad wajib muttasil” ulangnya sekali lagi. Kemudian ia memberikan bulatan pada ayat tersebut. “Ia mad wajib muttasil karena ada huruf mad bertemu dengan huruf hamzah dalam satu kata”

Ustadz Azzam kembali memandang ke arah para siswanya setelah menerangkan.

“Seperti inilah kalau kita ingin melihat supaya tidak salah kalau itu mad jaiz munfasil atau mad wajib muttasil. Sekarang kita lihat letaknya, mad wajib muttasil berarti bersambung dengan huruf hamzah. Jadi jika terdapat huruf hamzah yang terletak setelah mad asli dan berada dalam satu kata maka itu mad wajib muttasil.”

Ustadz Azzam berpikir sejenak sebelum menuliskan potongan ayat. Kemudian ia membuat dua bulatan pada ayat tersebut.

“Yang ini mad jaiz munfasil. Kalau mad jaiz munfasil berarti berpisah, jadi apabila terdapat huruf hamzah yang terletak setelah mad asli dan berada dalam dua kata. Maka itu mad jaiz munfasil” jelas Ustadz Azzam.

“Paham Syafahira Dhanisa?”

Sekarang, sepertinya ingin sekali aku benar-benar berlari keluar kelas apabila sekali lagi dia memanggil namaku. Aku mengangkat muka sedikit, “Paham Ustadz”.

“Hah, Dhanisa! berapa harakat untuk mad wajib muttasil?”

“Hmm...” aku berpikir sebentar. Aku mencoba mengingat, apakah dua, empat, lima, atau enam?.
Melihat aku kesulitan, abang Azzam menggelengkan kepala. “Sudah”

“Bagaimana kalian membaca Al-Qur’an kalau tidak tahu tajwid. Membaca Al-Quran tidak sama ketika kita membaca buku pada umumnya. Ada adab yang perlu kita pegang. Salah satunya membaca Al-Qur’an dengan tartil. Tartil adalah mentajwidkan bacaaan (membaguskan bacaan) atau membaca sesuai hukum tajwid, secara perlahan-lahan dengan baik dan benar karena itu bisa membantu kita dalam memahami dan metadaburi maknanya.” terangnya.

Ustadz Azzam menjeda sejenak kemudian melanjutkan kembali.

“Bagaimana juga dengan nasib bacaan sholat kalian, kalau semua melanggar hukum-hukum ketika membaca ayat-ayat al-qur’an. Padahal kita sudah diperintahkan untuk membaguskan bacaan sesuai hukum tajwid dan penempatan bunyi setiap huruf-hurufnya” ucap Ustadz Azzam, dengan lembut ia memberikan nasihat.

Aku meletakkan kepala di atas meja. Gila! kalau memang jadi aku menikah dengan dia, pastilah sudah setiap hari aku mendapatkan ceramah dari ustadz satu ini.



~Bersambung...
Diubah oleh syrmey
0 0
0
Aku Terima karena Allah
12-04-2020 12:40
ijin gelar tikar.
emoticon-Cool
0 0
0
Aku Terima karena Allah
12-04-2020 19:15
Quote:Original Posted By bukhorigan
ijin gelar tikar.
emoticon-Cool


Iya gan
0 0
0
Aku Terima karena Allah
13-04-2020 06:21

Aku Terima karena Allah

CHAPTER 4


“Abang! kenapa abang setuju!” tanyaku dengan nada pelan, takut-takut kalau nanti ada yang mendengar percakapan kami.

Ustadz Azzam memutar badannya ke arahku. Pandangannya dijatuhkan ke mukaku.”Berikan saya sepuluh alasan kenapa saya mesti menjawab pertanyaan Nisa?”

Entah mengapa aku merasakan sikap Abang Azzam sedikit berbeda dengan ketika dia mengajar di kelas.

“Abang yang seharus patut memberikan sepuluh alasan kenapa Nisa harus ikut keputusan itu!” balasku geram. Itu keputusan ibu dan ayah bukan keputusanku.

Abang Azzam hanya terseyum tipis. “Saya punya alasan kenapa saya mau menerima ini”

Jawaban abang Azzam membuatku semangkin mengeryitkan dahi karena bingung mendengarkan kata-katanya.

Abang Azzam memasang muka pura-pura tidak paham. Dia bergerak sedikit seperti hendak menyambung kembali ucapannya yang terhenti.
“Abang! abang bisa kalau ingin menolaknya. Abang bilang saja kalau abang sudah punya pilihan sendiri. Nanti Nisa akan beritahu mereka,” spontan otakku bekerja, hingga keluarlah ide itu.
Siapa tahu, ustad satu ini sudah ada pilihan sendiri, cuman tidak sanggup hendak menolak, karena aku tahu ustadz sangat menjaga hati orang tua. Abang Azzam diam sejenak. Tanpa menoleh ke arahku dia membalas. “Pilihan mereka adalah pilihan saya. Nisa tidak usah khawatir akan itu” ucap Ustadz Azzam, singkat.

Dahiku berkerut. ‘Huh! jawaban macam apa yang aku dengar ini, dia terlihat pasrah saja, seperti dialah anak gadis yang akan dipaksa menikah. Sekarang ini, anak gadisnya adalah aku, tahu!’, keluhku dalam hati.

***


Sepertinya malam ini ayah dan ibu akan pulang larut malam lagi karena sibuk. Aku berjalan menuju dapur. Ku buka lemari es, mataku memutar mencari sesuatu. Meskipun lemari es ini terisi penuh, tapi sepertinya tidak ada yang bisa dimakan. Inilah akibatnya kalau tidak ada keinginan untuk belajar memasak.

Aku mengeluh. Aku menutup kembali lemari es itu. “Apakah aku harus makan mie lagi malam ini?” ucapku. Cukuplah sudah dua hari berturut-turut ini aku makan mie instan, masa malam ini makan mie lagi, bisa-bisa aku tambah bodoh. Aku berjalan ke kamar. Kosong. Sunyi. Ah! inilah penyakit aku apabila tinggal diam di rumah sendirian. Aku kemudian menggapai telepon yang berada di atas meja, kemudian mencari nama Fey lalu menekan panggilan telepon. Tak lama suara Fey terdengar.

***


Cukup lama aku menunggu Fey sampai akhirnya ia tiba juga di warung Mak Silah dengan menggunakan motor gede miliknya.

“Lambatnya kau nih!” nadaku kesal. Hampir setengah jam aku menunggu, hampir saja aku menjadi lumut di sini karena lama sekali menunggu kau Fey.

Fey hanya membalas dengan senyum tipis. Fey kemudian meminta kepada Mak Silah untuk membuatkannya segelas coffie.

“Maaflah! aku tadi ada urusan dikit”, ucapnya memberi alasan sambil tangan sibuk merapikan rambutnya yang acak-acakkan akibat tertiup angin.

Aku memandang Fey dengan sedikitpun tidak berkedip. Seperti biasa aku mencoba membaca raut wajahnya ketika dia memberikan alasan.

“Kau tidak bohongkan!” tanyaku yang sedikit menyergap Fey.

Fey mengigit bibirnya. Seketika pandangannya dialihkan ke arah lain sebelum dia memandang aku kembali.

“Sumpah! aku tidak akan bisa membodohimu Nisa” balasnya perlahan.

Aku tertawa begitu Fey mengaku, “Itu kau tahu, kau mau berbohong, tetapi masalahnya kau kurang pandai”

Fey hanya mengeleng-gelengkan kepalanya saja.

“Kau sudah pesan makanan belum?” tanya Fey.

“Sudah. Barusan tadi”

“Okey” Fey membalas pendek. Tidak lama kemudian dia tersenyum dan mengangkat tangannya ke arah seseorang yang ada di belakangku. Spontan saja aku menoleh. Tiba-tiba berdesir darahku ketika melihat abang Azzam sedang melihat kami berdua di sini. Matanya seperti mau menerkam aku. Akupun langsung mengalihkan pandangan. Aku mengigit bibirku. Ada sedikit perasaan takut. ‘Kenapa ustadz nih datang juga ke warung Mak Silah malam-malam begini’ pikirku.

***


Seminggu sebelum ayah dan ibu berangkat, aku dengan abang Azzam sudah melaksanakan akad, dan telah sah menikah. Setelah menikah, dari awal ibu sudah memberitahu aku tentang rencananya. Setelah aku selesai melaksanakan ujian kelulusan tingkat madrasah. Ia ingin mengadakan acara resepsinya di rumah. Dan ia ingin aku mengundang seluruh teman sekolahku. Seketika saja, aku tidak bisa bayangkan bagaimana aku akan melayani teman-temanku nanti, ketika aku berdiri duduk berdampingan di pelaminan dengan abang Azzam. Itu berarti lima bulan lagi aku akan naik dipelaminan duduk bersanding dengan abang Azzam. Tak bisa aku bayangkan. Akupun belum hendak ingin memberitahu perihal ini dengan sahabatku Jihan, Jovan, Fey, dan Sadam. Bukannya aku tidak percaya dengan mereka, tapi aku takut kalau nanti dia cerita dengan teman-teman yang lain di sekolah bagaimana?.

Aku teringat kembali jawaban abang Azzam ketika aku menanyakan perihal kenapa ia mau dan setuju dengan ide untuk perjodohan ini. Aku dengan sabar mendengar jawaban yang keluar dari mulut dia yaitu.

“Saya terima karena Allah”

Sumpah sebenarnya aku tidak paham maksud dia. Karena Allah? kenapa? Apakah aku ini sudah seperti anak gadis yang hanyut dalam pergaulan yang salah, sehingga dia mengatakan terima aku karena Allah? apakah aku ini nampak seperti anak gadis yang sudah terjerumus dalam dunia kemaksiatan, atau dia terima aku karena ...... Argh! entahlah!.



~Bersambung...
Diubah oleh syrmey
0 0
0
Aku Terima karena Allah
13-04-2020 06:26

Aku Terima karena Allah

CHAPTER 5


Aku berjalan mengendap-ngendap untuk mengetahui apakah yang dilakukan abang Azzam. Aku mengeryitkan dahi, aku melihat dia sedang serius memandang sesuatu ditangannya. Ish! apalah sudah tengah malam begini ustadz muda itu masih juga membaca buku? tidurlah ustadz! membacakan masih bisa dilanjutkan besok. Lagi pula mataharikan gratis. Jadi tidak akan membuat tagihan listrik menjadi naik.

“Tidurlah, Nisa. Sudah malam ini!” kata bang Azzam.

Aku sontak terkejut, hampir saja aku jatuh ke belakang pintu ini. Aku kemudian membenarkan posisiku. Bagaimana dia bisa tahu aku mengintipnya dari balik pintu.

“Nisa tentu abang tahu, kalau Nisa mengintip dari balik pintu tuh, kan nampak cahaya dari luar”

Dia ini selalu tahu apa saja yang sedang aku pikirkan. Sudah terlanjur ketangkap basah. Aku membuka pintu perlahan kemudian masuk ke dalam kamar. Aku masih berdiri di ujung tempat tidur. Aku masih tidak tahu harus berbuat apa, apakah aku harus naik ke ranjang atau aku akan terus tetap berdiri di sini, berdiri sampai abang Azzam yang turun.

Karena tadi siang aku sudah sah menjadi istri dia, malam ini aku harus tidur sekamar dengannya. Semantara kamar yang lain dipakai saudara sepupu perempuanku untuk tidur, selain itu laki-laki yang lainnya tidur di ruang tamu atau dimanapun yang mereka kehendaki.

Tidak bisakah aku tidur seperti malam-malam biasanya? entah mengapa tubuh terasa dingin, dan jantungku berdegub kencang. Aduh! kenapa aku berpikir yang bukan-bukan sih!. Eh! walaupun aku menikah bukan atas kemauanku sendiri tapi atas kemauan ayah dan ibu. Aku masih berpikir kalau aku ini anak di bawah umur!.

“Nisa?”

Perlahan aku mengangkat mukaku. Aku memandang wajah abang Azzam yang teduh dan tenang.

“Bersediakah Nisa kalau abang tidur di sini? kalau tidak biarlah abang tidur di bawah” ucapnya sambil menunjuk ke lantai bawah yang kosong tanpa alas apapun.

Tidur di lantai tanpa alas tentulah begitu dingin, dingin yang bisa saja menusuk sampai ketulang. Entah kenapa tiba-tiba aku merasa kasihan. Terus aku menggelengkan kepala tanda tidak setuju, melihat reaksiku Abang Azzam hanya tersenyum. Aduhai, meskipun dia ini abang sepupu aku, aku tetap melihat dia sebagai guruku, ustadku yang mengajar di sekolah.

Aku ingat dulu pernah juga kami dekat dan akrab sebagai saudara sepersepupuan. Tetapi semenjak ia memutuskan untuk melanjutkan studi ke Mesir aku sudah semangkin jarang bertemu apa lagi mengobrol dengannya. Kadang-kadang hanya sesekali saja, ketika dia libur kuliah dan balik ke Indonesia. Sifatnya pun sekarang sudah agak berubah, kalau sebelum dia melanjutkan sekolah ke Mesir, dia sangat sering bercanda dan usil terhadap aku. Tapi, setelah ia masuk ke sekolah di Mesir untuk memperdalam ilmu agama, dia mulai berubah. Sedikit lebih pendiam. Akupun jadi segan hendak menegurnya.

“Tidurlah, sudah pukul berapa ini!”

Aku melirik jam yang berada di atas meja sebelah Abang Azzam. Jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Dia ini tidak mengantukkah? tanpa mengeluarkan sepatah katapun, aku meluruskan badan di atas ranjang tempat tidurku. Ish dah! Mimpi apalah aku semalam.

“Abang tidak akan ganggu Nisa. Sudah, tidurlah”

Apa yang diucapkannya itu sedikit membuatku terasa lega. Perlahan aku memejamkan mata. Aku manarik selimutku dalam-dalam. Tidak! ini tidak apa-apa Nisa, dia itu suami kau...suami kau...suami kau, Nisa.

“Zikir apa itu, Nisa? Lebih baik Nisa baca tiga Qul dan sholawat nabi sebelum tidur daripada menyebutkan hal yang bukan-bukan,” tegur suara itu. Siapa lagi suara itu, kalau bukan suara Abang Azzam yang menegur. Terasa darah sudah naik kemuka.

“Diamlah!” kesalku. Selimut aku tarik terus hingga menutup kepala yang tadinya terbuka. Abang Azzam sepertinya sedang menertawakan aku. Ustadz ya ustad, tetapi sikap dia itu masih sama dengan ketika ia menjadi sepupuku. Masih tidak hilang. Tetap saja jahil.



~Bersambung. ..
Diubah oleh syrmey
0 0
0
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
prekuel-sebelum-karma
Stories from the Heart
cerita-horor--imah-leuweung
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
Heart to Heart
rindu
B-Log Personal
aldebaran
B-Log Collections
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia