Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
26
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e8e867ae83c7221c06ec17d/sfth-gudhuk-awakmu
Cerbung penuh amarah pada tiap desah PROLOG 2007, aku sudah jual diri ke om-om karena keadaan. Saat itu yang terpikir hanya, 'Mau makan apa?' Dari sederet kisah ini, akan kuceritakan padamu perjalanan hidupku yang tak mudah. Mungkin cerita ini terlihat seperti curhatan, namun kuharap kalian bakal suka dan tetap membaca cerita ini. Kata guruku teknik bercerita demikian adalah story telling sih. Tok
Lapor Hansip
09-04-2020 09:20

[SFTH] Gudhuk Awakmu

icon-verified-thread
Cerbung penuh amarah pada tiap desah


[SFTH] Gudhuk Awakmu

PROLOG


2007, aku sudah jual diri ke om-om karena keadaan. Saat itu yang terpikir hanya, 'Mau makan apa?' Dari sederet kisah ini, akan kuceritakan padamu perjalanan hidupku yang tak mudah.


Mungkin cerita ini terlihat seperti curhatan, namun kuharap kalian bakal suka dan tetap membaca cerita ini. Kata guruku teknik bercerita demikian adalah story telling sih.
Quote:Tokoh-tokoh dalam cerita ini
Cindy Yuvia sebagai Sudaryanti[SFTH] Gudhuk Awakmu

Desta sebagai suami Sudaryanti bernama Farel Abimanyu[SFTH] Gudhuk Awakmu

Helsi Herlinda sebagai ibu mertua dari Sudaryanti[SFTH] Gudhuk Awakmu

Robby Sugara sebagai bapak mertua Sudaryanti
[SFTH] Gudhuk Awakmu

Marion Jola sebagai Lia amelia teman dari Sudaryanti[SFTH] Gudhuk Awakmu

Faye Nicole sebagai Ratih Kumala teman dari Sudaryanti
[SFTH] Gudhuk Awakmu




Quote:Ini ibuku dalam pandanganku kala kecil [SFTH] Gudhuk Awakmu



With Love


Warna_Senja
Diubah oleh qoni77
profile-picture
profile-picture
profile-picture
NadarNadz dan 20 lainnya memberi reputasi
21
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
[SFTH] Gudhuk Awakmu
09-04-2020 09:21

Masa Kecil, Aku Pembawa Sial?

[SFTH] Gudhuk Awakmu

[SFTH] Gudhuk Awakmu




Sewaktu kecil keluargaku masih kaya raya, bapak bekerja di luar kota. Beliau pemborong proyek yang sukses. Saat itu kami adalah orang terkaya di desa kami. Semua orang menaruh hormat kepada kami. Dunia memang begitu bukan?

Menurut cerita dari orang-orang dan keempat saudara lelakiku, sejak aku lahir semua perlahan berubah. Aku anak keempat dari lima bersaudara, nomor empat diisi olehku. Entah, dianggap pembawa sial atau sangkalan, bapak bangkrut. Akhirnya, kami menjadi sangat-sangat miskin, kata ibu saat itu usiaku sekitar tiga tahunan.

"Sejak kamu lahir, Ti. Bapakmu mengalami kemunduran dalam banyak proyeknya."

"Kamu itu anak pembawa sial, Ti"

Dua kalimat itu terlalu sering kudengar sedari kecil yang sukses membuatku tak punya ruang untuk berekspesi di lingkungan tempat tinggal kami.

Aku masih ingat betul kalau bapak itu sangat sayang terhadapku.

"Yanti, Sayang. Anak bapak yang paling cantik. Sabar ya karena bapak belum bisa belikan kamu baju baru."

"Iya, gak pa-pa kok, Pak. Yanti tahu kalau Bapak dan Ibu sudah berusaha keras membesarkan kami berlima."

Dengan mata berlinang bapak mengelus pipiku. Amat terasa getar pada tiapa sentuhannya. Biasanya kami bercengkerama di depan rumah, dan saudaraku yang lain bermain sepak bola tanpa aku. Ketakutan untuk bergabung dengan saudara sendiri ini bahkan terus bersemayam dalam alam bawah sadar hingga aku sedewasa ini.

Kulihat ibu mengamati aku dan bapak di balik tirai. Ibu tengah memasak jemblem untuk dijual secara keliling. Selain berjulaan kudapan tradisional itu, ibu dan bapak biasanya kerja di area perkebunan. Sangat sulit dalam keadaan miskin tanpa tabungan dan tanpa pundi-pundi bagi bapak dan ibu. Kukira bapak dan ibu merupakan orang tua terbaik bagi kami.

Jemblem adalah panganan dari singkong parut yang tengahnya diisi dengan gula merah. Seperti onde-onde yang tengahnya diberikan isian kacang hijau. Selain jemblem ibu juga membuat kerupuk samiler yang juga terbuat dari singkong. Ini adalah kerupuk legendaris dari daerah tempat kami tinggal.

Aku lupa kalau aku juga berpikir bapak dan ibuku itu kukira terpaut umur yang jauh. Bapak sudah beruban meski tetap gagah, emmm ... seperti gubernur Jawa Tengah saat ini. Kalau ibu sangatlah cantik, cuma karena dulu ibu tidak berdandan jadi sangat alami cantiknya.

Jika kalian tahu tokoh Zaenab di senetron Si Dul Anak Sekolahan, maka ibuku wajahnya hampir mirip kayak beliau. Cantiknya alami, mungkin karena orang dulu tidak mengangungkan kosmetik, sih.
Diubah oleh qoni77
profile-picture
profile-picture
profile-picture
husnamutia dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Lihat 2 balasan
Memuat data ..
[SFTH] Gudhuk Awakmu
09-04-2020 09:24
Quote:Original Posted By qoni77
lanjutan


Menarik nih kak cerita...good job wkkwkw
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
[SFTH] Gudhuk Awakmu
09-04-2020 13:37
gudhuk awakmu njur sopo? ditunggu lanjutannya
Diubah oleh trifatoyah
profile-picture
qoni77 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 5 balasan
Memuat data ..
[SFTH] Gudhuk Awakmu
09-04-2020 15:04
jemblem marai mblenger
profile-picture
qoni77 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
[SFTH] Gudhuk Awakmu
09-04-2020 15:29
Zaenab cantik ya
profile-picture
qoni77 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
[SFTH] Gudhuk Awakmu
09-04-2020 15:46
Bentar ane nyimak dulu
profile-picture
qoni77 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Post ini telah dihapus oleh KS06
[SFTH] Gudhuk Awakmu
10-04-2020 07:56
jembleb ng gonku jenenge glundung kuwi
0 0
0
[SFTH] Gudhuk Awakmu
10-04-2020 14:32
Maaf sebelumnya aku krisan ya?. ceritanya bagus say. akan lebih bagus lagi jika perjudul kamu bikin part atau episode
tar bikin lins per partnya jd yg baca biar gampang nyariinya.

Untuk paragraf pembuka di part 1 coba kamu langsung masuk ke konflik batin si tokoh saat ia harus rela menjual dirinya demi makan setelah itu masuk ke dalam cerita semasa ia kecil dahulu.

paragraf 2& 3 sederhanakan lagi cara kamu menuliskan ceritanya ini terkesan muter muter cara penyampaiannya bila aku yg baca gak tahu jika yang lainnya.

saranku paragraf 2 langsung aja masuk ke scane ke paragraf 3 digabung jadikan satu dengan cara disederhanakan. contoh aku ambil dari tulisan kamu.....>
aku terlahir dari lima bersaudara, empat laki-laki satu perempuan yaitu diriku. Sewaktu kecil keluargaku tergolong orang kaya, itu yang aku dengar dari cerita orang-orang. Ayah bekerja sebagai pemborong proyek yang dihormati serta disegani oleh para bawahannya. Entah apa yang terjadi, mungkin aku anak pembawa sial sehingga saat aku terlahir di dunia ayah mengalami kebangkrutan.
0 0
0
[SFTH] Gudhuk Awakmu
10-04-2020 14:47
part 2

Siang di sini amat terik>singkat padat berisi. namun, akan lebih bagus lagi jika kamu mengiring pembaca untuk bermain kata menerka nerka waktu yang terjadi saat itu.


Menjadi satu-satunya anak perempuan itu gak enaknya adalah-----> Coba baca ulang kalimat ini dan bandingkan dengan yang ini >Menjadi anak perempuan satu-satunya itu tidak enak. Tidak enaknya adalah sering dimintai tolong Ibu dan Ayah. Inilah yang terjadi kepadaku. Seandainya gender tidak terlalu termakan tradisi ....(penekanan tak bisa melanjutkan kata-kata si tokoh. maksudnya si tokoh crt tak bisa melanjutkan kslimatnya karena merasa ada tekanan batin yg dialaminya.)

ini dulu krisan dariku kurang lebihnya minta maaf jk ada salah salah kata. mohon diabaikan jika tidak berkenan🙏🙏

0 0
0
[SFTH] Gudhuk Awakmu
14-04-2020 17:35
lagi nebak2 iki ts wong ndi emoticon-Ngakak (S)

nang nggonku jembleme jenenge toklo hehehehe
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
[SFTH] Gudhuk Awakmu
14-04-2020 19:31
jemblem , lentho , rimbil , sak baraan kabeh iku mbak
0 0
0
[SFTH] Gudhuk Awakmu
22-04-2020 21:53
bagus ceritanya

nunggu lanjutannya, Gan

pasti banyak hikmah nih
0 0
0
[SFTH] Gudhuk Awakmu
14-05-2020 09:07

Jadi Penjual Jemblem

[SFTH] Gudhuk Awakmu

Matahari sudah membulat sempurna di atas awan yang jauh, namun rasanya teramat menyengat. Ibu yang tadi pagi dari tegal telah memarut beberapa singkong untuk membuat jemblem. Dulu panganan ini sudah sangat enak. Gak ada orang gak suka kudapan tradisional kayak gini. Maklum, jajanan bungkus plastik pabrikan itu belum popular dan terpriduksi secara masal. Hanya orang-orang kaya yang sanggup untuk membelinya. Seperti es krim yang mahal banget dan kini diliris lagi akibat banyak orang mengisi petisi. Menurutku kelak jemblem perlu juga untuk dibuatkan petisi. Agar generasi masa depan tidak lupa akan kue ini. Selain itu mereka tidak bergantung pada nasi saja.

"Ti, nanti kalau jembleme wes mateng, kon iderne ya! Bantu ibu karo bapak ben awake dewe iso tuku beras, Nduk."

Sambil memasukkan kayu bakar pada mulut pawon, ibu meminta dengan nada menghiba penuh penekanan.

Menjadi satu-satunya anak perempuan itu nggak enak. Tidak enaknya adalah paling sering dimintai tolong oleh ibu dan bapak. Inilah yang terjadi padaku. Andai gender tak terlalu termakan tradisi.

Mataku hampir basah. Lalu aku berucap, "Tapi ... Bu! Aku isin karo konco-koncoku. Isin Bu!"

Aku yang sedari kecil dikucilkan tidak bisa untuk menjadi anak yang baik-baik saja. Emmm ... maksudku punya rasa percaya diri yang teramat besar.

"Lah, awake dewe ki ora mangan isin kok, Ti. Ibuk mbi bapakmu iku pengen kowe kabeh iso sekolah. Ojo sampek dadi wong sing bodo. La saban dino kan songko hasile bakulan iki iso gawe nyangone kowe ro mas-masmu. Nak adikmu kan durung sekolah."

Ada getaran pada setiap perkataan ibu. Aku bisa apa? Aku tidak mau jadi anak yang durhaka. Andai ....


"Yowes-yowes, Bu. Aku manut wae. Sebenere neng sekolahku iku ono guru KKN lho, Bu. Lah, guru mau saiki manggon neng mburine omahe Puguh. Aku piye yo, Bu?"

Berat, namun aku beranikan diri untuk bertanya apa pendapat ibu tentang hal ini.

"Yo gak popo kok Yanti anakku. Awake dewe kudu latihan prihatin. Ben besok awakmu iso luweh apik tinimbang ibumu iki. Guru mau kudune malah nduweni rasa bangga, yen awakmu iso dadi contoh sing apik kumawu."

Deg! Hatiku berdesir namun ada yang menghangat di sana. Ibu menurutku adalah guru terbaik. Aku baru menyadarinya sekarang.

Ibu mulai meletakkan jemblem pada tampah. Tampah adalah lingkaran bulat yang dibuat dari anyaman bambu. Tak lupa ibu juga meletakkan di atas tampah itu sebelumnya selembar daun pisang sebagai alasnya.

"Lo, Ti. Wes siap. Ndang budal. Mumpung jembleme sek anget. Wong-uwong mengko lak do seneng nak maem jemblem sing anget iki."

Dengan bangga ibu mengangkat tampah berisikan jembelem sekitar empat puluhan itu dialihkan kepada kedua tangan mungilku. Dengan baju kedodoran dan tubuh ringkih aku menerimanya dengan senyum pengharapan.

"Siap, Bu! Yanti budal ndisik. Dongakne ndang enthek yo, Bu!

"Yo ... yo, Gendhuk cah ayuku."

Aku mulai melangkahkan kali keluar rumah. Rute pertama yang akan kulewati adalah rumah kedua sahabatku yang mereka masih mau menerimaku di sekolahan.

"Eh, kuwi Yanti tho?" ucap kedua sahabatku yang ternyata juga dalam perjalanan ke rumahku.

"Hehe, arep neng endi doan ki?" aku bertanya basa-basi.

"Yo neng omahmu tho,Ti!"

Kami saling melemparkan rawa renyah khas anak SD.

"Ti, aku engko seng ngomong jemblem-jembelem ya?" tanya Lia.

"Ti, aku engko sing ngadahi jembleme nak enek wong tuku ya?" tanya sahabatku satunya.

"Kowe kari gowo jembleme ae!" Mereka kompak mau membantuku.

"Siap!" jawabku dengan senyum semringah.


Kenangan masa kecil yang sangat indah. Mungkin aku nggak akan mudah untuk sekedar melupakannya.
0 0
0
[SFTH] Gudhuk Awakmu
14-05-2020 09:46

Akibat Ada Teman Kaya Raya

[SFTH] Gudhuk Awakmu

Masih di bangku sekolah saat aku SD. Sejauh ini hidupku cukup bahagia memiliki dua teman seperti Lia dan Ratih. Mereka nggak meninggalkanku saat yang lain menjauh.

Kata orang-orang aku ini kumal, jelek, jorok, miskin, lusuh, intinya semua kutukan anak jahanam seolah melekat erat pada diri ini. Kalau diingat sakit hati masa kecil ternyata meniupkan mimpi buruk saban malam dan itu amat sangat mengganggu sih.

Memasuki kelas 2 SD, kami mendapatkan teman baru. Namanya Zubaidah Anggraeni. Dia kaya, cantik, dan suka ngasih jajan kepada anak-anak lainnya. Hanya aku yang nggak nampak sepertinya.
0 0
0
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
the-story-of-roy
Stories from the Heart
rahasia-hati-true-story
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
typo-bikin-malu
Stories from the Heart
live-laugh--love
Stories from the Heart
sesuatu-tentang-mimpi
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia