Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
224
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e8a5a134601cf080704c456/sfth-tertambatnya-cinta-dari-roudhoh-sampai-jabal-rahmah
selalu kunanti di padang cinta Bab 1. Mendadak Menikah. Kebahagiaan jelas terpancar dari wajah ayu Nisa, wanita keturunan Arab, Indonesia itu, hatinya benar-benar lega, setelah sebelumnya membujuk dengan sedikit memaksa putra bungsunya Muhammad Hamzah, yang biasa di panggil Azza. Pemuda yang memiliki tinggi 180 cm, berkulit sawo matang, beralis tebal, berhidung mancung, ya dialah Azza. Pengusaha s
Lapor Hansip
06-04-2020 05:22

(SFTH) Tertambatnya Cinta Dari Roudhoh Sampai Jabal Rahmah

icon-verified-thread
selalu kunanti di padang cinta
 (SFTH) Tertambatnya Cinta Dari Roudhoh Sampai Jabal Rahmah


Bab 1. Mendadak Menikah.

Kebahagiaan jelas terpancar dari wajah ayu Nisa, wanita keturunan Arab, Indonesia itu, hatinya benar-benar lega, setelah sebelumnya membujuk dengan sedikit memaksa putra bungsunya Muhammad Hamzah, yang biasa di panggil Azza.

Pemuda yang memiliki tinggi 180 cm, berkulit sawo matang, beralis tebal, berhidung mancung, ya dialah Azza. Pengusaha sukses di bidang percetakan. Tapi belum sukses di bidang percintaan. Begitulah yang sering dikatakan bundanya, Anisa Rahadian. Wanita yang sebenarnya telah berusia lima puluh lima tahun, tapi masih kelihatan enerjik seperti berusia di bawah lima puluh tahun.

Azza mengenakan stelan jaz hitam dengan paduan celana juga hitam, kelihatan tampak gagah. Keluarga dari mempelai pria yang berasal dari kota hujan itu berkumpul di ruang tamu yang sudah di dekor sedemikian megahnya.

Penghulu baru saja datang, setelah mengucapkan salam dan menyalami keluarga mempelai pria, kemudian duduk di depan Azza yang tampak sedang menghafalkan doa, jangan sampai nanti salah dalam pelafalannya.

Sepuluh menit, bahkan sampai tiga puluh menit mempelai wanita tidak kunjung keluar, wajah Nisa dan suaminya tampak cemas. Kenapa lama sekali?

Apa yang terjadi sebenarnya?

Pak Surya, ayah dari Amelia Adinda Putri mempelai wanita yang sekarang entah di mana keberadaannya, tidak ada yang tahu, di detik-detik melangsungkan ijab qobul dia telah menghilang. Tentu saja membuat keluarga Surya Kelana sangat marah, sekaligus malu, mau ditaruh di mana mukanya.

Keributan di dalam jangan sampai ke ruang tamu, itu ultimatum Pak Surya sambil memegang kepalanya yang terasa semakin pening, Bu Surya hanya bisa terisak menangis di sudut kamar pengantin.

Tamu-tamu mulai banyak berdatangan, mereka langsung menempati tempat duduk yang sudah disediakan.
Wajah Pak Surya merah padam, malu sudah pasti, ia tak menyangka Amelia putrinya yang dirasa penurut itu tega melempar kotoran tepat di mukanya.

Pak Surya keluar dari kamar, mengumpulkan adik-adiknya, untuk ikut memecahkan masalah besar yang sedang dihadapinya. Pikirannya benar-benar kacau. Mendadak matanya menangkap sosok tinggi berhijab lebar dan mukanya ditutup dengan masker, siapa lagi kalau bukan Huma, anak dari adiknya, yang baru saja pulang dari pesantren.

"Huma," panggil Pak Surya.

Huma menoleh begitu mendengar ada yang memanggilnya. Gadis yang mengenakan gaun berwarna maroon dengan jilbab senada itu memenuhi panggilan Pak Dhe nya.

"Iya, Pak Dhe. Ada apa?" tanya Huma yang sudah tahu tentang kepergian Amelia. Huma berusaha menghibur keluarga yang sedang dirundung masalah itu. Huma adalah putri dari adik perempuan Surya.

"Yang sabar, Pak Dhe. Huma juga nggak nyangka, Mbak Amel akan berbuat seperti sekarang ini."

"Huma, untuk sekarang ini, yang dibutuhkan bukan kesabaran saja. Tapi, sebuah keikhlasan. Pak Dhe, mohon keikhlasanmu untuk menggantikan mempelai wanita,"

Humaira, gadis cantik bermata sendu yang baru saja menginjak umur dua puluh tahun sebulan yang lalu itu, shock. Bagaimana mungkin dia mau menerima tawaran yang diberikan Pak Dhe nya untuk menikah, dengan laki-laki yang belum pernah dilihatnya, bahkan namanya saja dia tidak tahu.

Menikah? Apa ada yang salah dengan kepulangan Huma kali ini? Seandainya Huma tidak pulang, tentu semua ini tidak terjadi, bagaimana dengan biodata yang sudah Huma berikan pada Kak Hisyam? Dan biodata Kak Hisyam yang ada dalam tas warna coklat ini, bahkan Huma belum sempat membacanya, karena tadi terburu-buru ke pesta pernikahan Amelia.

"Huma, tolong selamatkan dua keluarga ini," pinta Pak Surya dengan penuh harap.

"Tapi, Pak Dhe," ucap Huma lirih sambil menunduk.

"Tidak ada kata tapi," tegas suara Surya.

"Kenapa harus, Huma?" tanya Huma, perlahan tapi pasti, mata beningnya telah berembun lalu meneteskan air yang membasahi masker warna maroon yang dikenakannya.

"Huma, Pak Dhe akan melunasi semua hutang-hutang Ayah mu di Bank, dan dan juga hutang ibu mu di warung-warung. Huma tertunduk, memang semenjak Ayahnya kena tipu, dan usahanya menjadi bangkrut, kehidupan keluarganya sangat memprihatikan. Untuk biaya kuliah dan sekolah adik-adiknya, Surya yang membiayai selama ini.

Apakah Huma harus membayar semua biaya yang telah dikeluarkan Pak Dhe selama ini?

Huma menatap bayangan wajahnya di cermin, perias pengantin dengan bayaran paling mahal di kota Batik itu, berulangkali telah menyapukan make up ke wajahnya yang mendadak pucat.

"Sudah dong, Mbak. Nggak usah nangis terus, entar bedaknya nggak bisa nempel," bujuk perias pengantin yang bernama Herlina.
Bagaimana Huma tidak menangis, dia tidak menyangka pernikahannya akan secepat kilat seperti sekarang ini.

"Apa, Ibu tahu. Huma dijadikan pengantin pengganti?"

"Tahu, Mbak. Bu Surya sudah menceritakan semuanya."

Sementara itu di ruang tengah, Pak Ramdan Alamsyah ayah dari Aza dan Ibunya Anisa Rahadian, beserta Azza merasa sangat diinjak-injak harga dirinya. Mau di taruh di mana mukanya di hadapan kerabat yang sudah datang jauh-jauh dari kota hujan itu. Sedangkan di sana Ramdan Alamsyah sudah menyebar undangan kepada teman juga kolega-kolega bisnisnya.

Namun, akhirnya Ramdan menyetujui usul yang diberikan Pak Surya. Awalnya Azza menolak, tapi karena Nisa kembali sedikit memaksa, dengan alasan ingin segera punya cucu, dan melihat umur Azza yang sudah genap dua puluh delapan tahun, lagian salah Azza juga, sudah diberikan kesempatan untuk membawa calon istri ke rumah tapi selalu PHP dengan bundanya.

Emangnya gampang bawa calon istri, seperti membalikkan telapak tangan apa. Azza

Azza pemuda itu memang pemuda introvert, pendiam. Kalau tidak ditanya, ya diam. Sudah berulang kali Bundanya memilihkan calon pendamping untuknya, tapi semua ditolak, baru ketika Nisa ingat Surya teman kuliahnya memiliki seorang gadis, dan semua urusan orang tua, Azza setuju, walaupun pada akhirnya mengecewakan hatinya.

Ijab qobul baru saja usai, tidak dilanjutkan dengan pesta, karena keluarga Surya juga berbagi tugas untuk mencari Amelia. Orang tua Azza dan saudaranya sudah kembali ke hotel. Azza yang tinggal di rumah itu, walaupun sebenarnya itu bukan rumah mertuanya.

Sementara di dalam kamar Amelia, seorang gadis yang sudah sah menjadi istri Azza, tampak mondar-mandir dengan tangan dingin dan dada gemuruh tak karuan. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Digigitnya bibir dengan sapuan lipstik hasil kerja Herlina dengan imbalan puluhan juta.

Berwudu, ya Huma harus mengambil air wudhu, ambil wudhu biar sedikit tenang.

Selesai berwudhu kembali Huma mengenakan gaun yang tadi dipakainya, berkali-kali Huma menyalahkan dirinya, kenapa ia harus datang ke pesta pernikahan saudara sepupunya. Seandainya ...

Sekarang bukan saatnya berandai-andai, Huma

Huma duduk di tepi ranjang sambil meremas-remas tangannya yang masih saja dingin, jantungnya berhenti sesaat, ketika pintu kamar telah dibuka oleh seorang laki-laki, yang sama sekali belum pernah dikenalnya.

Azza dengan santainya membuka jas, Huma langsung menutup muka dengan dua tangan putihnya. Azza tersenyum tipis melihat gadis di depannya itu, kemudian mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi.

Selamat ... selamat, untung saja dia cepat-cepat masuk kamar mandi. Ya Allah apa yang harus Huma lakukan sekarang? Lindungi Huma dari makhluk yang sekarang sedang berada di kamar mandi ya Allah. Walaupun Huma tahu dia juga makhluk Mu.

Pintu kamar mandi terbuka, Azza sudah berganti dengan baju santai. Berjalan mendekat ke kaca Kemudian menyisir rambut cepaknya yang masih basah.

"Assalamu'alaikum," ucapnya kemudian.

Apa maksudnya dia mengucapkan salam, apa artinya dia juga sedang mengucapkan cinta, yang kalau Huma membalasnya maka, Huma sudah menerima cintanya?

"Kalau ada orang memberi salam itu di jawab," kata Azza berjalan menuju ke sofa yang terletak di samping lemari ukiran kayu jati itu.

Tidak akan, Huma tidak akan menjawab salamnya, kalau maksudnya untuk itu. Tapi, bukankah kalau orang memberi salam maka harus dijawab?

"Waalaikummussalam," jawab Huma lirih, hampir tidak kedengaran.

"Siapa tadi, namamu?" tanya Azza sambil memijit kakinya sendiri.

Memang inilah pernikahan paling aneh, bahkan untuk nama saja kami sama-sama tidak tahu. Tapi Huma masih ingat tadi Ayah dan Bundanya memanggilnya Azza

"Kamu bisu?" tanyanya lagi.

Kenapa aku jadi banyak bicara gini, biasanya aku paling malas ngomong sama cewek.

"Enggak, na ... namaku Huma, lengkapnya,"

"Oh iya lupa, aku 'kan tadi sudah menyebutkan namamu. Humaira Az-Zahra."

Kalau sudah tahu kenapa masih tanya, apa sih maksudnya?

"Duduk sini," perintah Azza sambil menepuk sofa di sampingnya.

Dia mau ngapain? ya Allah, tolongin Huma, Huma benar-benar takut.

"Sini!"

Kali ini intonasinya sedikit keras, buru-buru Huma mendekat ke arah Azza, dan duduk di ujung sofa.

Azza tampak tersenyum kembali melihat tingkah Huma. Entah apa yang ada di otaknya sekarang.

"Apa kamu pikir, aku bisa menerimamu dengan mudah, setelah apa yang dilakukan sepupumu itu?"

Pertanyaan yang membuat bulu kuduk meremang, tatapan dari manik coklat itu, seakan menguliti seluruh kulit tubuh Huma.

"Maafkan, Mbak Amelia," pinta Huma masih tetap menunduk.

"Tidak perlu minta maaf, toh semuanya sudah terjadi."

"Tapi ...."

"Kamu tidak ganti baju?" tanya Azza menelisik gaun yang dikenakan Huma.

"Ini sudah,"

"Oh, oh ya. Aku lupa, mana kamu bawa baju ganti. Sedangkan kamar ini sendiri bukan kamar kamu, ini kamarnya Amelia." Tersenyum sinis.

"Maaf."

"Untuk apa? Aku cuma heran saja, di jaman seperti sekarang ini, yang semuanya sudah serba canggih, kok masih ada gadis seperti mu. Yang mau-maunya disuruh jadi pengantin pengganti, aku cuma mau nanya, apa kamu masih waras?"

Pertanyaan aneh, kamu juga kenapa mau-maunya nikahin Huma?

"Nggak bisa jawab 'kan. Oke aku jawab sendiri. Siapa sih yang nggak kenal Pak Suryo, yang apa-apa saja bisa dibeli."

"Dia, Pak Dhe Huma, jangan jelek-jelekin dia."

"Oh, sayangnya aku sudah tahu tadi."

Kalau sudah tahu nggak usah nyindir gitu dong

"Huma, to the points aja. Karena kita menikah atas kemauan orang tua, apalagi kita mendadak menikah hari ini, maka perlu kamu dengarkan."

Iya ... iya ... Huma juga sudah dengar dari tadi masih dengan menunduk.

"Aku tidak akan pernah menyentuhmu sampai kamu siap untuk disentuh," ucap Azza datar.

Ya, Allah. Alhamdulillah engkau telah mengabulkan doaku, pekik hati Huma.

"Besok kita pindah dari rumah ini, ke rumah aku. Berhubung aku tidak akan ngapa-ngapain kamu, aku tidak akan menyuruh kamu melakukan kewajiban sebagai istri apapun itu, maka tidak ada kewajiban memberikan uang belanja ke kamu, kita hidup sendiri-sendiri, walaupun status kita menikah."

Eh, orang ini waras nggak dengan perkataannya? Masak dia minta aku pindah ke rumahnya, tapi dia tidak mau memberi nafkah lahir, apa karena dia juga tidak akan memberiku nafkah batin? Ya, cuma status, menikah!



Bersambung


sumber gambar pinterest
Diubah oleh trifatoyah
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jondolson dan 48 lainnya memberi reputasi
49
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 3
(SFTH) Tertambatnya Cinta Dari Roudhoh Sampai Jabal Rahmah
06-04-2020 05:22
Tertambatnya Cinta dari Raudhoh Sampai Jabal Rahmah

Love Azza & Huma

Bab 1
Bab 2
Bab 3
Bab 4.
Diubah oleh trifatoyah
profile-picture
profile-picture
profile-picture
fitrijunita dan 8 lainnya memberi reputasi
9 0
9
Lihat 2 balasan
Memuat data ..
(SFTH) Tertambatnya Cinta Dari Roudhoh Sampai Jabal Rahmah
06-04-2020 05:23
Tertambatnya Cinta Dari Roudhoh Sampai Jabal Rahmah

Bab 2. Status Menikah

 (SFTH) Tertambatnya Cinta Dari Roudhoh Sampai Jabal Rahmah


Setelah menunaikan shalat Isya, dan makan malam, Azza dan Huma kembali ke kamar.

"Kamu nggak usah takut, aku sadar diri bukan lelaki seperti yang kamu harapkan."

Huma masih menunduk mendengarkan apa saja yang diucapkan oleh laki-laki di sampingnya. Sedikit bisa bernapas lega, setidaknya dia laki-laki yang baik.

"Mungkin saja kamu sudah punya kekasih, seorang ustadz atau pun, laki-laki yang barangkali saja tengah menimba ilmu jauh di seberang sana, kalau memang demikian adanya, aku akan membantumu, mewujudkan cita-cita itu."

"Bukan itu ...," ucap Huma kemudian, tak menyangka ucapan itu akan keluar dari bibir tebal Azza.

Huma telah berburuk sangka, Astaghfirullah, ternyata dia tidak seperti yang Huma kira.

"Huma, Mungkin Bundaku juga Pak Dhe keterlaluan, telah memaksakan kehendaknya padamu, kalau pun aku berada di posisimu, aku juga tidak bisa menolaknya."

Azza menarik napasnya panjang, mengembuskanya pelan, tangan kanannya membuka botol air mineral yang dibawanya dari luar tadi, sebelum masuk ke kamar. Dalam tiga kali tegukan saja, air itu tinggal setengah.

"Apa, Kak Azza mau teh?" tawar Huma memandang sekilas ke arah Azza kemudian menunduk kembali.

"Aku sudah bilang tadi, aku tidak mau berhutang budi sama kamu, aku tidak mau menyuruhmu dan satu lagi, aku tidak mau berusaha mencintaimu."

Deg! ternyata laki-laki ini keras sekali pediriannya

"Bukankah, Kakak di sini tamu. Anggap saja aku tuan rumah yang berusaha menghormati tamunya dengan baik, karena menghormati tamu akan mendapatkan pahala yang berlimpah."

"Sudah, kamu nggak perlu repot-repot. Satu yang ingin aku harapkan dari kamu."

"Apa itu?" tanya Huma penasaran.

"Kita kerjasama."

"Maksudnya?"

"Berbuat baiklah pada Ayah dan Bundaku, kita sama-sama dewasa. Aku mohon jaga sikap kamu, kita lalui hari-hari berikutnya seperti biasa, aku dengan kegiatan ku, dan kamu bebas melakukan apa saja yang kamu inginkan, karena aku tahu, kamu nggak akan berbuat sesuatu yang bodoh."

Huma mulai menguap dia menutup mulutnya dengan tangan kanannya. Azza tahu itu, pastilah gadis di sampingnya sangat kelelahan, lelah jiwa dan raga.

"Silakan kamu tidur di ranjang itu, aku akan tidur di sofa ini."

Azza melihat sekilas ranjang pengantin yang bertabur bunga mawar, harum semerbak wanginya. Ranjang pengantinnya dengan Amelia.

"Kakak saja yang tidur di ranjang itu, biar aku yang tidur di sofa."

Huma merasa tidak enak kalau harus tidur di ranjang yang nyaman itu, sementara Azza tidur di sofa yang sempit.

"Biar adil kita suit," usul Azza.

"Kita bukan anak kecil yang akan bermain, harus melewati proses suit terlebih dahulu, anggap saja aku tuan rumah yang ingin menghormati tamunya, bukankah itu adab sebagai tuan rumah."

"Apa kamu lupa, Huma. Kita di sini sama-sama tamu."

Kalau kita di sini sama-sama tamu, bukan berarti kita tidur di sofa bersama jadinya, hiii serem. Apaan sih kamu Huma, nggak usah parno deh!

"Ya udah kita suit, yang kalah tidur di sofa, yang menang tidur di ranjang," usul Huma yang di setujui oleh Azza.

Akhirnya Azza dan Huma beneran suit, persis seperti anak kecil yang akan bertanding dalam sebuah pertandingan. Dua kali suit Huma menang melulu.

"Kok, Kak Azza curang sih! Kakak sengaja mengalah, iya 'kan?" tanya Huma yang curiga, karena Azza sengaja melambatkan gerakan jarinya.

Ingin rasanya Azza mencubit hidung bangir itu, tentu saja Azza mengalah, karena tidak mungkin membiarkan Huma tidur di sofa.

Aku tidak harus menyakiti gadis ini, walaupun sejujurnya dia sedikit menarik, lihat saja ketika tadi tersenyum dua lesung pipit langsung muncul di dua pipinya yang ranum, Azza! Berhenti. Apa-apaan sih kamu! Ingat bersikap wajar, kalau kamu tidak ingin sakit hati

"Kamu udah menang dua kali, sekarang tidurlah, aku tidak akan menggangu mu."

Huma bangkit dari duduknya, mencubit lengan entah yang keberapa kalinya, memastikan kalau dirinya tidak sedang bermimpi, itu terbukti dari rasa sakit di lengannya.

Azza mulai menyelonjorkan kakinya, merebahkan tubuhnya yang dirasa juga penat, tangannya dijadikan bantal untuk menopang kepalanya. Huma berjalan mendekat sambil membawa bantal dan juga selimut.

"Bantalnya, Kak. Nanti kepalanya sakit."

"Terima kasih."

Huma berjalan kembali ke ranjang, membaringkan tubuhnya perlahan. Dia tidak tahu, pernikahan macam apa yang akan dijalaninya. Pernikahan dengan orang yang sama sekali tidak dikenalnya. Karena lelah yang mendera Huma pun memejamkan matanya.

Suara azan subuh berkumandang, Huma menggeliat, kemudian bangun dan duduk di tepi ranjang, pandangannya langsung tertuju ke sofa, kosong.

Kemana perginya laki-laki itu, akh sudahlah bukankah pernikahan ini hanya status

Huma berjalan menuju kamar mandi, rupanya Azza sudah mandi, kamar mandi basah semua, bau sabun dan shampo menguar wangi ke seluruh ruangan dan handuknya juga tertinggal di kamar mandi.

Huma merasakan perutnya sedikit mulas, dia baru ingat kalau tanggal-tanggal ini adalah waktunya kedatangan tamu bulanan, benar saja dia merasakan ada sesuatu yang basah.

untung saja dalam kamar mandi ini ada pembalut milik Mbak Amelia, Dimanapun Mbak berada, Huma minta satu pembalutnya, ya?

Begitu Huma keluar dari kamar mandi, dia melihat Azza yang sudah rebahan kembali di sofa sambil memainkan ponselnya.
Suasana hening bak kuburan di tengah malam, tak ada suara keluar dari bibir kami.

Huma jadi teringat dengan biodata Hisyam yang belum sempat dibacanya, ia teringat ketika Ustazah Rima buru-buru memberikannya, sebelum Huma masuk ke dalam mobil yang telah menjemputnya. Baru saja tangan kanannya mau membuka tas yang berada di sampingnya duduk, sebuah nada dering alunan lagu Asyah Istri Rasullullah yang dilantunkan begitu merdu oleh Anisa Rahman, membuat Huma meraih ponsel yang diletakkan di nakas.

Rupanya nomor asing tak ada nama yang tertera di layar.

Siapa sih pagi-pagi gini telpon, angkat nggak ya?

Azza mengalihkan pandangannya ke arah Huma, gadis itu sedikit salah tingkah, sampai akhirnya dia memutuskan untuk menerima panggilan itu.

"Hallo, Assalamu'alaikum."

"Waalaikummussalam."

"Maaf dengan siapa?"

Terdengar suara laki-laki diseberang sana, yang sepertinya Huma pernah mendengarnya, Tapi siapa?

"Aku Hisyam, Ukhti."

Huma langsung membekap mulutnya dengan tangan sebelah kirinya, sementara tangan sebelah kanannya masih memegang ponsel itu, meletakkannya di dekat telinga, matanya langsung tertuju ke arah Azza yang seperti memperhatikan gerak-geriknya.

Ya Allah bagaimana ini, ternyata Kak Hisyam. Pasti dia akan menanyakan biodata itu.

"Hallo, Ukhti masih mendengar suara saya?"

"Emm, iya."

"Bagaimana, Ukh. Apa sudah dibaca biodata dari saya?"

Huma harus jawab apa ini, apa Huma harus jawab tidak sempat membacanya? Ataukah Huma berterus-terang kalau Huma sudah menikah, bukankah pernikahan ini hanya satus?

"Emm ...."

"Ukhti, setelah saya melakukan Sholat Istikharah, saya mantap untuk ...."

"Maaf, " Huma memotong cepat.

"Apakah, Ukhti belum siap?"

"Bukan itu."

"Lantas?"

Ternyata Ponsel Huma baterai nya lowbet, karena semalam lupa tidak di isi baterai, ia terlanjur tidur akibat kelelahan.

"Dari siapa?" tanya Azza begitu melihat Huma, mengambil charger.

"Maaf, bukan siapa-siapa," jawab Huma gugup.

"Kalau bukan siapa-siapa, mengapa mesti gugup gitu, sampai wajahnya pucat."

Refleks Huma langsung menutup muka dengan kedua telapak tangannya. Ia tidak mungkin mengatakan siapa laki-laki barusan itu. Setidaknya walaupun pernikahan dengan Azza hanya status dia harus menghormatinya.

"Ya sudah kalau kamu tidak mau cerita, itu juga bukan urusanku," ucap Azza dengan nada dingin.

Ya ... memang bukan urusanmu, tapi mengapa harus kepo gitu.

"Siap-siap, aku mau mengantar ke rumahmu, untuk kemas-kemas mengambil baju."

"Baiklah."

***

Mungkin kamu nggak akan percaya, kalau rumah Huma jauh dari rumah Pak Dhe, maksudnya jauh dari segi kemewahan. Huma hanya tinggal di gang sempit, sebuah rumah kontrakan yang sederhana, di huni oleh lima anggota keluarga, Huma, Ayah, Ibu, Sarah dan Ibrahim.

"Maaf, Kak. Mobilnya harus parkir di sini. Nggak bisa masuk."

Azza langsung menghentikan mobilnya di pinggir gang. Huma membuka pintu, sebelumnya mengajak Azza untuk turun. Dengan malas Azza mengikuti langkah Huma.

Sepanjang perjalanan menyusuri gang sempit itu, setiap kali berpapasan dengan tetangga, Humma berusaha untuk menyapa, tetangga-tetangga memandang aneh ke arah laki-laki yang berjalan di samping Huma. Karena selama ini tidak pernah terdengar Huma punya pacar ataupun kekasih hati.

Apa gue terlalu tampan ya, kok banyak yang merhatiin gue. Aza

"Masih jauh," tanya Azza kemudian.

"Sebentar lagi," jawab Humma singkat.

Tak lama kemudian sampailah Huma dan Azza di rumah mungil bercat hijau muda. Terlihat ibunya sedang menyapu lantai. Begitu melihat putrinya, sapu itu langsung di letakkannya.

"Assalamu'alaikum."

Azza dan Huma hampir bersamaan mengucapkan salam.

"Waalaikummussalam."

Humma langsung mencium punggung tangan ibunya, bergantian dengan Azza.
Ibunya mempersilakan Azza masuk. Laki-laki itu kaget, begitu tahu betapa kecilnya rumah orang tua Huma, hampir sama dengan rumah kecil yang ditinggali oleh pembantu di rumah Bundanya.

Apa mungkin, alasan gadis itu mau menikah denganku, karena harta? Bisa jadi!

"Duduk, Nak Azza. Maaf duduknya di tikar."

"Terima kasih."

Bahkan kursi tamu pun tidak ada

"Humma, buatin minum dulu buat suamimu," perintah sang ibu.

"Tidak usah, Bu. Tadi saya sudah minum."

Bu, engkau tidak tahu. Kalau laki-laki yang ada di depanmu ini, laki-laki yang telah menjadi menantumu dalam waktu kilat, tidak akan menerima apapun pemberian putrimu ini.

"Oh iya, Nak Eza bisa menginap di sini barang satu atau dua hari."

Ibu, bagaimana mungkin engkau menawarkan laki-laki ini untuk menginap di sini, sedangkan Kamar Huma aja sempit gitu, hanya ada ranjang kecil, almari dan meja belajar kecil pula. Lantas dia mau tidur di mana?

"Maaf, Bu. Kami tidak bisa menginap di sini."

Alhamdulillah, itu jawaban yang Huma tunggu-tunggu

Setelah ibunya pamit ke dalam, Huma pun mengucapkan terima kasih pada Azza karena menolak tawaran ibunya.

"Emang aku nggak punya kerjaan, mau nginep di sini," ucap Azza kemudian.

"Iya, Kak. Huma tahu, pasti Kak Azza itu orang penting."

"Oh, gitu ya. Makanya kamu mau menikah dengan aku." Setengah menyindir.

"Bukan itu, Kak."

"Sudahlah, cepat bereskan pakaian kamu."

Setelah pamitan dengan keluarganya, Huma mengikuti langkah Azza. Banyak wejangan yang diberikan oleh orang tuanya, kalau dia harus menjadi istri yang baik untuk suaminya. Istilah kata surgo nunut neroko katut.

***

Setelah melakukan perjalanan yang cukup panjang maka sampailah mereka di rumah kembali, rumah megah milik orang tua Azza. Rupanya orang tua Azza tidak ingin membiarkan Huma langsung ke rumah Azza.

Huma benar-benar tidak menyangka kalau rumah orang tua Azza begitu besar, dua kali lipat dari rumah Pak Dhe Suryo.

"Kamu bisa istirahat di ranjang itu," kata Azza sambil menjatuhkan tubuhnya di sofa.

"Maaf, Kak. Biar Huma tiduran di sofa aja, bukankah ranjang itu milikmu."

"Kamu mau membantah? Aku yang berkuasa di sini."

"Tidak, Kak."

"Makanya nggak usah cerewet, turuti saja perintahku."

Cerewet, hai. Kapan Huma cerewet. Huma 'kan nggak enak aja. Masa numpang di sini, malah enak-enakan tidur di ranjang, bukankan kamar ini, milikmu?

"Maaf, Kak."

"Minta maaf apalagi?" tanya Azza mulai kesal.

"Pembalut Huma habis, Huma lagi dapet. Tapi nggak tahu mau beli di mana."

"Lantas apa hubungannya denganku? Jangan bilang ya kamu minta dibelikan pembalut, ogah! Makhluk apa itu pembalut."

"Bu ... bukan minta dibelikan, tapi ...."

"Tapi, apa?"

"Minta dianterin beli."

"Haaaah! Kamu nggak lihat aku capek?"

"Tapi, kalau Huma nggak pakai pembalut entar bisa bocor."

"Bocor? Emangnya hujan, ngenai genteng yang pecah bisa bocor?"

Nih orang, nggak tahu tentang wanita banget, menyebalkan!

"Ya, udah kalau Kak Azza nggak mau nganterin, kalau Huma kesasar, jangan salahin Huma." Berkata dengan polos.

Kenapa aku menikahi gadis yang kelewat polos seperti ini? Heh Azza!

Akhirnya Azza mau mengantar Huma, kalau saja pembatu sudah kembali, sudah dipastikan Azza ogah mengantarkan Huma.

Baru saja hendak membuka pintu, mereka berpapasan dengan Nisa Bundanya Azza.

"Mau kemana, Za?"

"Nganterin, Huma belanja keperluannya. Bun."

Nggak mungkin lah aku mengatakan, mau nganterin Huma beli pembalut.

"Iya, Bun. Mau keluar sebentar."

"Lama juga nggak apa-apa, wong kamu perginya dengan suamimu. Huma, Bunda sudah tahu semuanya tentang kamu, Bunda malah bersyukur, akhirnya memiliki menantu seperti dirimu."

Nisa menepuk-nepuk pundak Huma, terpancar jelas dari matanya kalau Nisa juga menyayangi Huma.

"Terima kasih, Bun," berkata Huma tampak sedikit malu.

"Sudah, kalau ngobrol terus kapan belanjanya nih." Azza tampak sedikit kesal.
Akhirnya Huma pamit sama Nisa, wanita yang kini telah menjadi ibu mertuanya.

Di dalam mobil.

"Untuk kamu."

Azza menyerahkan uang sepuluh lembar berwarna merah, sebelum mobil dijalankan. Huma merasa ada yang aneh, karena malam itu Azza telah mengatakan tidak akan memberikan nafkah lahir untuk nya, dan telinganya mendengar dengan normal.

"Untuk beli pembalut? Banyak amat."

Hampir saja tawa Azza meledak, tapi ditahannya, iya hanya geleng-geleng kepala melihat kepolosan Huma

Emangnya, elo mau jualan pembalut?

"Itu, bayaran kamu. Untuk yang telah kamu lakukan. Karena sudah baik sama Bunda, dan Bunda tidak curiga dengan kepura-puraan hatimu."

Bayaran, Huma dibayar satu juta oleh laki-laki yang telah menjadi suami Huma, tanpa melakukan pekerjaan apapun, hanya karena berbuat baik pada Bundanya, dasar laki-laki aneh, mengapa juga menganggap dirinya pura-pura


Bersambung
Diubah oleh trifatoyah
profile-picture
profile-picture
profile-picture
fitrijunita dan 17 lainnya memberi reputasi
18 0
18
(SFTH) Tertambatnya Cinta Dari Roudhoh Sampai Jabal Rahmah
06-04-2020 05:23
Kisah Cinta Azza dan Huma
 (SFTH) Tertambatnya Cinta Dari Roudhoh Sampai Jabal Rahmah
Diubah oleh trifatoyah
profile-picture
profile-picture
profile-picture
uliyatis dan 10 lainnya memberi reputasi
11 0
11
(SFTH) Tertambatnya Cinta Dari Roudhoh Sampai Jabal Rahmah
06-04-2020 05:37
Keren Bund. jauh tapi bakal jadi nih kayaknya
Kok bisa dapat ide kayak gini Bund?

sangat langka di zaman sekarang
profile-picture
profile-picture
profile-picture
fitrijunita dan 8 lainnya memberi reputasi
9 0
9
Lihat 8 balasan
Memuat data ..
(SFTH) Tertambatnya Cinta Dari Roudhoh Sampai Jabal Rahmah
06-04-2020 06:07
Kasihan Huma

Eh BTW aku kok malah ingat si Huma film kartun jaman aku kecil dulu 🤭
profile-picture
profile-picture
profile-picture
fitrijunita dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Lihat 11 balasan
Memuat data ..
(SFTH) Tertambatnya Cinta Dari Roudhoh Sampai Jabal Rahmah
06-04-2020 07:31
Wah keren ceritanya nih. Gimana ya kelanjutannya. Ada ga sih yg beneran kek gini.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
fitrijunita dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Lihat 7 balasan
Memuat data ..
(SFTH) Tertambatnya Cinta Dari Roudhoh Sampai Jabal Rahmah
06-04-2020 08:05
bagus banget bundaaa...
Mengalir banget. Bikin betah bacanya. Ane fokus baca aja sih karena seru. Meskipun pernikahan terjadi bukan atas dasar kemauan oaling tidak Azza bisa mengormati Huma
Di tunggu next partnya
profile-picture
profile-picture
profile-picture
fitrijunita dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Lihat 2 balasan
Memuat data ..
(SFTH) Tertambatnya Cinta Dari Roudhoh Sampai Jabal Rahmah
06-04-2020 08:12
Quote:Original Posted By trifatoyah
terima kasih, ya. semoga ngikutin terus cerita ini.


Siap bunda. Kereen bangetemoticon-2 Jempol
profile-picture
profile-picture
profile-picture
fitrijunita dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
(SFTH) Tertambatnya Cinta Dari Roudhoh Sampai Jabal Rahmah
06-04-2020 10:41
Aku setia ngikutin tritnya kakak trifatoyah pokoknya emoticon-Wagelaseh emoticon-Wagelaseh
ditunggu lanjutannya ya kak..... emoticon-Malu
sama kisah yang lainnya juga jangan lupa di update. ku pantau terus pokoknya haha emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak
profile-picture
profile-picture
profile-picture
fitrijunita dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
(SFTH) Tertambatnya Cinta Dari Roudhoh Sampai Jabal Rahmah
06-04-2020 11:56
Wah ada cerita yang baru lagi nih, Aku suka Aku suka
profile-picture
profile-picture
profile-picture
fitrijunita dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
(SFTH) Tertambatnya Cinta Dari Roudhoh Sampai Jabal Rahmah
06-04-2020 14:49
Aku suka cerita nya...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
fitrijunita dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Lihat 2 balasan
Memuat data ..
(SFTH) Tertambatnya Cinta Dari Roudhoh Sampai Jabal Rahmah
06-04-2020 15:03
Aku suka di tunggu lanjutannya mbak
profile-picture
profile-picture
profile-picture
fitrijunita dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Lihat 2 balasan
Memuat data ..
(SFTH) Tertambatnya Cinta Dari Roudhoh Sampai Jabal Rahmah
06-04-2020 17:26
Lahh trus cumn status doang jadinya
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Ninaahmad dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
(SFTH) Tertambatnya Cinta Dari Roudhoh Sampai Jabal Rahmah
06-04-2020 19:07
nunggu lanjutan aja
profile-picture
profile-picture
profile-picture
fitrijunita dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 2 balasan
Memuat data ..
(SFTH) Tertambatnya Cinta Dari Roudhoh Sampai Jabal Rahmah
06-04-2020 19:15
next donk
profile-picture
profile-picture
profile-picture
fitrijunita dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 2 balasan
Memuat data ..
(SFTH) Tertambatnya Cinta Dari Roudhoh Sampai Jabal Rahmah
08-04-2020 04:56
@qoni77, @evihan92, @r.i.r.i.n @nurulnadlifa bab 2 dah update nih.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
fitrijunita dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
(SFTH) Tertambatnya Cinta Dari Roudhoh Sampai Jabal Rahmah
08-04-2020 06:38
Quote:Original Posted By trifatoyah
Bab 3


Kasihan si Huma. Keren ceritanya, Kak. Lanjut yaa, emm jan lupa wapri. Hihi soale suka lupa. Emm
profile-picture
trifatoyah memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
(SFTH) Tertambatnya Cinta Dari Roudhoh Sampai Jabal Rahmah
08-04-2020 07:43
paragraf 6 typo Bund

mungkin Azza telah berburuk sangka pada Huma?

maaf bila salah yeee

Alhamdulillah ya Bund. bakal up-date saban hari ya?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
fitrijunita dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 3 balasan
Memuat data ..
(SFTH) Tertambatnya Cinta Dari Roudhoh Sampai Jabal Rahmah
08-04-2020 08:34
Quote:"Besok kita pindah dari rumah ini, ke rumah aku. Berhubung aku tidak akan ngapa-ngapain kamu, aku tidak akan menyuruh kamu melakukan kewajiban sebagai istri apapun itu, maka tidak ada kewajiban memberikan uang belanja ke kamu, kita hidup sendiri-sendiri, walaupun status kita menikah."


Ya ampun, kek gimana itu rasanya yaa..sabarin yang panjang dahhemoticon-Mewekemoticon-Mewek
profile-picture
trifatoyah memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
(SFTH) Tertambatnya Cinta Dari Roudhoh Sampai Jabal Rahmah
08-04-2020 08:56
ceritanya bagus nih, keren.
profile-picture
profile-picture
fitrijunita dan trifatoyah memberi reputasi
2 0
2
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Halaman 1 dari 3
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
the-story-of-roy
Stories from the Heart
rahasia-hati-true-story
Stories from the Heart
kakek-penyeruput-piccolo
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
live-laugh--love
Stories from the Heart
sesuatu-tentang-mimpi
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia