Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
203
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e84fc5ac820842d6d64cd52/you-made-me-love-more
Hallo, kenalin, nama gue Adri. Adri Pratama. Tapi, gue lebih memilih untuk dipanggil dengan panggilan Tama. Kenapa? Karena lidah gue engga bisa ngomong 'R'. Yah, sedikit banyak hal tersebut jadi bahan bercandaan buat temen-temen, sahabat-sahabat gue, bahkan guru-guru gue. "Nama kamu siapa?" ujar salah satu guru di sekolah gue. "Tama, Bu," jawab gue. "Nama panjangnya? Masa nama kamu cuma Tama aj
Lapor Hansip
02-04-2020 03:40

You Made Me Love More

Past Hot Thread
You Made Me Love More
Special thanks to agan @pandaibesi666 for the cover emoticon-Kiss (S)


Quote:

Chained to the wall of our room
Yeah you chained me like a dog in our room
I thought that's how it was
I thought that we were fine
Then the day was night
You were high you were high when I was doomed
And dying for with no light with no light

Tied to my bed
I was younger then
I had nothing to spend but time on you
But it made me love it made me love it made me love more
It made me love it made me love it made me love more

Do what you said the words she said left out
Over unto the sky where I'll soon fly
And she took the time
To believe in to believe in what she said
And she made me love she made me love she made me love more
She made me love she made me love she made me love more


Sharon Van Etten - Love More
(Covered by Justin Vernon in the video above)


Hallo semua suhu-suhu penghuni SFTH di forum terbesar di Indonesia ini. Sebelumnya, newbie meminta maaf jikalau sekiranya newbie lancang.

Setelah sekian lama menjadi silent reader, newbie beranikan diri untuk menuliskan cerita disini. Untuk nama karakter terkait dan tempat akan disamarkan. Kalau ada yang bertanya, ini real atau fiksi? Anggap saja fiksi, agar kehidupan newbie tidak digali.

Akan ada beberapa adegan 18+, mohon disikapi secara bijak oleh suhu-suhu disini. Dan juga, banyak dialog yang disempurnakan, karena newbie tidak mampu mengingat semua dialog secara persis.

Newbie juga akan mencoba sebisa mungkin untuk menggunakan pengejaan yang baik namun tidak terlalu baku, agar tulisan newbie dapat mudah dibaca dan dimengerti oleh suhu-suhu semua disini. Newbie engga mau kalau sampai Ivan Lanin pensiun dini karena engga sengaja baca cerita newbie yang penulisannya berantakan.

Jika ada kesalahan dalam pengetikan, newbie memohon maaf, dikarenakan newbie hanya menggunakan smartphone untuk mengetik cerita ini. Mohon harap dimaklumi, because this is my very first attemp to write this kind of thing.

Untuk rules di thread ini, rules mengacu kepada rules di SFTH pada umumnya.

Biar keren kayak suhu-suhu disini, maka ini adalah beberapa jawaban untuk frequently asked questions (FAQ):

Quote:Q: Gan, ini cerita real atau fiksi?
A: Anggap aja fiksi, biar readers ga kepo sama kehidupan gue.

Q: Gan, ini terjadi di kota mana?
A: Dimana aja bisa, gue bebaskan imajinasi readers

Q: Gan, boleh minta sosmednya?
A: Nope, no socmed, no cell number, nothing.

Q: Gan, boleh minta mulustrasinya?
A: Jujur, gue ga hapal nama-nama artis, jadi gue susah buat nyari yang mirip sama karakter yang muncul. Tapi, setiap karakter penting akan gue jabarkan bentukannya seperti apa.

Q: Gan, update berapa lama sekali?
A: Tergantung kosong waktunya, karena gue mempunyai real life yang jauh lebih penting. Sebenarnya kendala utamanya adalah, mengkonversikan ingatan dan memory gue untuk dituangkan menjadi kalimat dan paragraf.

Q: Gan, boleh kritik/saran?
A: Boleh banget, gue sangat tunggu kritik dan saran dari kalian, terutama kritik dan saran yang membangun.

Q: Gan,—
A: Gan gen gan gen. Udah ah, cukup.


So, without any further ado, grab a seat, and please enjoy the show, ladies and gentlemen.
Diubah oleh fxckified
profile-picture
profile-picture
profile-picture
SimonSnow dan 53 lainnya memberi reputasi
54
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 9
You Made Me Love More
02-04-2020 03:41

Prologue: A Little Bit About Me

Hallo, kenalin, nama gue Adri. Adri Pratama. Tapi, gue lebih memilih untuk dipanggil dengan panggilan Tama. Kenapa? Karena lidah gue engga bisa ngomong 'R'. Yah, sedikit banyak hal tersebut jadi bahan bercandaan buat temen-temen, sahabat-sahabat gue, bahkan guru-guru gue.

Quote:"Nama kamu siapa?" ujar salah satu guru di sekolah gue.

"Tama, Bu," jawab gue.

"Nama panjangnya? Masa nama kamu cuma Tama aja? Lagian engga ada nama Tama di buku absennya juga," balas guru gue dengan panjang lebar.

"Adri Pratama, Bu," masih dengan aksen cadel gue.

"Adkhi? Engga ada juga yang namanya Adkhi," jawab guru gue, yang gue engga tau apakah dia sengaja atau pura-pura engga tau.

"Adri, Bu. Pake 'R'. Romeo. O-P-Q-R. Oscar-Papa-Quebec-Romeo. Nah pake huruf terakhir yang saya sebutin Bu," jawab gue yang mulai kesal dan terpaksa menjabarkan dengan phonetic code agar guru tersebut mengerti.

"Ooh Adri. Lidah kamu cadel gitu, gimana caranya kamu nyebutin nama kamu kalau kenalan sama orang lain? Hihi," jawab sang guru menahan tawanya.

"Makanya saya bilangnya nama saya Tama, Bu," ucap gue kesal dan ingin segera menyudahi dialog ini.


Itulah sedikit kisah mengenai alasan kenapa gue lebih memilih untuk dipanggil dengan nama 'Tama'.

Sekilas tentang fisik gue (saat ini), gue adalah seorang pria dengan tinggi badan ±184 cm dan berat badan ±80 kg. Tidak terlalu kurus memang, namun setiap orang yang bertemu dengan gue selalu bilang "kok elu kurus banget sekarang?" padahal berat badan gue cenderung stabil. Gue pengen banget nambah berat badan, tapi sebanyak apapun gue makan, berat badan gue masih segini-segini aja. Entahlah, mungkin ada yang aneh dengan badan gue, atau mungkin sedikit dosa-dosa gue sudah dikonversi oleh Tuhan menjadi berat di badan gue.

Kulit gue coklat karena gue sering main keluar tanpa memakai jaket, baik itu saat main, naik motor, atau mobil. Atau mungkin karena terlalu sering main di luar rumah saat kecil. Tapi, kulit asli gue berwarna putih pucat. Mungkin karena gue ada sedikit darah Belanda. Kenapa gue bilang sedikit? Karena, yang orang Belanda adalah buyutnya kakek gue. Jauh kan? Hahaha. Balik lagi ke warna kulit. Bahkan, kalau dibandingkan dengan semua mantan gue, kulit di badan gue masih jauh lebih putih dibandingkan dengan kulit di badan mereka. Sampai teman-teman gue bilang, "elu tuh kayak gabungan dari dua orang, tangan sama badan bisa beda jauh banget warnanya, heran gue." Ya, jujur, gue sendiri juga heran. Pernah gue selama liburan sekolah ataupun kuliah berdiam diri dirumah dengan tujuan agar kulit memutih kembali. Namun, usaha gue tentunya sia-sia. Engga ada perubahan yang berarti.

Untuk wajah, gue menilai wajah gue biasa-biasa aja. Sedikit bayangan mengenai wajah: rambut gue sedikit ikal (baru terlihat ikal saat rambut gue panjang), alis tebal, bulu mata panjang dan lentik (yang membuat kebanyakan teman-teman gue yang perempuan cemburu saat melihat bulu mata gue) dengan ceruk mata yang dalam (dan beberapa teman gue bilang kalau gue memiliki tatapan yang tajam), hidung standar (engga pesek dan engga mancung tapi ada sedikit tulang hidung yang menonjol), bibir sedikit tebal, dan mempunyai brewok yang tersambung hingga kumis dan jenggot (yang baru tumbuh saat gue duduk di kelas 2 SMA). Dengan wajah seperti ini, banyak teman gue yang bilang gue manis, namun banyak juga yang bilang gue biasa aja. Beberapa teman gue bilang kalo gue mirip aktor Reza Rahadian, namun dengan tulang pipi yang lebih kurus, dan gue memakai kacamata sejak SMA.

Gue anak tunggal, kesepian tanpa sosok kakak, adik. Bokap gue kerja di perusahaan perminyakan multinasional, dan ditempatkan di sebuah negara di Timur Tengah. Jadwal pulangnya tidak menentu, terkadang 1 tahun atau bahkan 2 tahun sekali. Nyokap mempunyai sebuah usaha yang modal awalnya berasal dari gaji yang dikirimkan oleh bokap gue.

Meskipun di rumah gue ada juga nenek dari pihak nyokap, dan juga adik perempuan nyokap yang belum menikah meskipun pada saat itu sudah memasuki umur pertengahan 30, namun tetap saja gue merasa sepi, dan hal tersebut sedikit-banyak mempengaruhi kepribadian gue. Gue menjadi orang yang tertutup kalau dihadapkan dengan orang baru. Namun, gue akan merasa nyaman dan bisa terbuka dengan orang-orang terdekat gue. Dan hal ini yang menyulitkan gue ketika gue menyukai seorang wanita, karena gue akan cenderung diam dan hanya memperhatikan mereka dari jauh tanpa keberanian untuk mengajak berkenalan. Jangankan berkenalan, bahkan untuk mendekat pun gue engga berani. Meskipun dalam proses perkenalannya sudah dimediasi oleh teman-teman gue, tapi tetap saja gue bakal menjadi gugup dan berkeringat dingin.

Mungkin itulah sekilas tentang diri gue, untuk karakter-karakter lainnya yang terkait dengan cerita akan dijelaskan kemudian. So, here we go. []

Diubah oleh fxckified
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Anissanuryantri dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
You Made Me Love More
02-04-2020 03:42

1st Scene: New School, New Life

Sekolah Menengah Pertama. Ya, mulai hari ini gue resmi menjadi anak SMP. Dari seorang anak kecil yang akhirnya tumbuh menjadi seorang remaja tanggung. Dimana gue mulai mengenal bermacam-macam jenis pergaulan. Baik itu positif, maupun negatif, semuanya gue ketahui di masa ini. Patut dicatat, disini gue mengetahui macam-macam jenis kenakalan remaja bukan berarti gue melakukan hal tersebut. Gue mengetahui hal tersebut dari cerita teman-teman gue hingga melihat mereka melakukannya di depan mata gue.

Baik, kembali ke cerita sekolah. Hari ini adalah hari pertama dari serangkaian kegiatan MOS. Pada hari ini, gue masih ditemani oleh Nyokap ke sekolah, dikarenakan jarak yang cukup jauh dan harus naik angkutan kota sebanyak 3 kali, dan juga karena gue engga mengetahui angkutan kota yang harus gue naiki untuk menuju ke sekolah.

Setelah upacara penerimaan yang dipimpin oleh kepala sekolah selesai, gue mencari nama gue di lembaran HVS yang ditempel di pintu kelas. Setelah beberapa detik mencari, gue menemukan nama gue. Hmm, kelas 1-G. Okey. Gue mencari letak kelas 1-G, dan gue masuk ke kelas tersebut yang ternyata sudah penuh ditempati oleh teman-teman baru gue yang akan menemani gue selama disekolah ini.

Gue menduduki kursi pojok kanan belakang, yang berada di sisi jauh dari meja guru. Dengan jendela di sebelah kanan gue, yang membuat gue bisa melihat langsung ke arah lapangan. Seperti yang sudah gue sebutkan di awal, gue orang yang butuh adaptasi di lingkungan baru. Gue masih merasa canggung untuk berada di kelas ini. Sehingga akhirnya gue memutuskan untuk menaruh tas di atas meja, dan menutup mata sejenak. Gue sedikit terlelap sampai akhirnya gue merasakan ada tepukan di bahu gue.

Quote:"Disini kosong?" tanya orang tersebut.

Dia laki-laki, tingginya orang tersebut berada sedikit dibawah gue, kulit putih, rambut belah tengah, dan berbadan tambun.

"Oh, kosong kok. Lu mau duduk disini?" jawab gue.

"Iya, bangku yang lain udah penuh bro. Kenalin, gue Revi," ucapnya sambil menjulurkan tangan dan mengenalkan diri.

"Gue Tama, panggil aja gitu," ucap gue sambil menjabat tangannya dan mempersilahkan dia duduk.

"Lu dari SD mana, Tam?" tanya Revi.

"Gue dari SD di perbatasan kota ini sama kota sebelah, deket rumah gue. Lu sendiri?"

"Gue dari SD yang di pusat kota," jawab Revi.

"Oh ya? Gue banyak temen rumah yang sekolah di SD itu. Lu kenal Erik, Eza, Galang, sama Ivan ga?" tanya gue dengan mengabsen satu-persatu teman-teman rumah gue yang kebetulan satu sekolah dengan Revi.

"Kenal, dulu satu kelas kok. Mereka semua masuk kesini juga kok," jawab Revi dengan antusias.

"Masa?! Kok gue engga tau ya? Hahaha," ujar gue sambil menggaruk-garuk kepala yang engga gatal.


Memang, gue terakhir bertemu teman-teman rumah gue itu pada saat kelas 5 SD. Perbedaan jam sekolah pada saat kelas 6, gue masuk sekolah pagi dan pulang sekolah jam 2 siang, dan teman-teman gue masuk jam 10 pagi dan pulang jam 5 sore, membuat gue terpisah dari lingkup pergaulan teman-teman rumah gue. Namun siapa yang menyangka, bahwa gue bakalan bertemu lagi dengan teman-teman rumah gue di sekolah ini. Gue tersenyum saat gue mengetahui hal tersebut.

Berselang 15 menit kemudian, ada seorang perempuan perwakilan dari OSIS masuk ke kelas gue. Dia memperkenalkan dirinya, namanya Anya. Anya ini cantik, berkulit putih, dengan rambut lurus sepunggung yang dikuncir kuda. Dia satu angkatan diatas kami, karena anggota OSIS yang dianggap aktif adalah anggota kelas 1 dan kelas 2. Untuk anggota yang sudah berada di kelas 3, mereka hanya sebagai pengawas, karena menurut peraturan sekolah, siswa-siswi kelas 3 sudah tidak boleh aktif di organisasi atau ekstrakulikuler apapun agar dapat mempersiapkan diri untuk menghadapi Ujian Nasional. Anya menyapa kami dan memberikan sambutan kepada kami sebagai siswa baru, dan menyuruh kami maju satu-persatu untuk memperkenalkan diri didepan kelas. Teman-teman gue maju satu-persatu, hingga akhirnya tiba giliran gue.

Quote:"Hallo, nama saya Tama. Saya dari SD xx, rumah saya di xx. Ada yang ditanyakan?" ucap gue saat memperkenalkan diri didepan kelas.

"Tama, udah punya pacar belum?" kata seorang teman sekelas gue yang gue ketahui namanya Fanny. Gue tau namanya karena dia memperkenalkan diri didepan kelas sebelum giliran gue maju, karena posisi duduknya berada didepan gue.

"Belum, Fan. Hehe. Masih kecil ah belum ngerti pacar-pacaran," jawab gue yang disambut dengan tawa teman-teman baru gue. "Ada lagi yang mau ditanyakan?" sambung gue. Dan engga ada seorangpun yang mengacungkan tangannya.

"Baik kalau begitu, mohon kerja samanya ya teman-teman. Terima kasih!" ujar gue tersenyum sambil berjalan menuju bangku gue.


Sekilas tentang Fanny, dia memiliki kulit sedikit kecoklatan, rambut lurus kecoklatan dan selalu diikat kuncir, pipi tembem menggemaskan, dan yang membuatnya tambah terlihat imut adalah gigi kelincinya.

Jam 10:00, bel istirahat berbunyi. Gue mengajak teman baru gue, Revi, untuk mencari kantin. Karena di awal masuk kami berdua belum sempat berkeliling lingkungan sekolah, maka kami sempat memutar-mutar sekolah hingga akhirnya menemukan kerumunan siswa. Dan dapat dipastikan itu adalah kantin sekolah, yang ternyata letaknya engga jauh dari kelas kami.

Quote:"Lu pesen apa, Rev?" tanya gue kepada teman baru gue ini. Maklum, baru satu orang yang gue kenal. Dan gue belum menemukan teman-teman rumah gue.

"Apa ya? Gue beli batagor aja deh, soalnya udah sarapan tadi. Lu mau pesen apa? Biar sekalian nih," ucap Revi.

"Gue nitip roti sama susu aja deh, gue ga bisa sarapan nasi," balas gue.

Memang gue engga bisa sarapan nasi putih. Dari dulu, kalau gue makan nasi putih pagi-pagi, perut gue selalu terasa mual. Makanya, sebisa mungkin gue menghindari sarapan nasi putih. Terkecuali nasi uduk atau nasi kuning, perut gue masih bisa menerima.

"Yaudah, lu tunggu sini aja. Gue yang pesenin, lu cari tempat duduk aja," ucap Revi seraya meninggalkan gue.


Kebetulan gue menemukan bangku yang kosong dengan kapasitas 4 orang, dengan posisi 2 orang saling berhadapan. Akhirnya gue duduk di bangku tersebut dengan sedikit terburu-buru karena takut didahului oleh siswa lain.

Setelah duduk di bangku tersebut, gue memperhatikan siswa-siswi yang berkeliaran dan berkerumun di kantin ini. Mayoritas dari siswi disini memang cantik-cantik. Tapi gue belum bisa membedakan, apakah mereka teman satu angkatan gue ataukah senior, karena kami semua berseragam sama tanpa embel-embel aksesoris apapun.

Oh iya, gue memang lebih suka memperhatikan sekeliling, baik manusia ataupun lingkungan, dibandingkan harus berinteraksi dengan mereka. Sempat gue berpandangan mata dengan beberapa siswi disini, dan dibalas senyuman oleh mereka. Sedang asyik memperhatikan sekitar, keasyikan gue terganggu oleh suara indah yang keluar dari bibir tipis seorang perempuan.

Quote:"Hey, Tama ya? Boleh numpang duduk disini, engga? Kursi lain penuh semua nih," kata seorang wanita dibelakang gue.

"Eh, kak Anya. Iya silahkan kak. Masih kosong kok. Saya cuma berdua sama Revi," balas gue sambil menyunggingkan senyum kepadanya.

"Yeay! Makasih ya, Tam! Eh, kamu engga pesen makan?" tanya Anya sambil duduk dan menaruh tempat makan dan botol minum yang dibawanya. Gue sedikit kaget karena dia menggunakan panggilan 'aku-kamu'. Dan baru gue sadari, dia bersama dengan seorang perempuan yang tidak kalah cantiknya, dan sama-sama membawa tempat makanan dan botol minum. "Oh iya aku lupa, nih kenalin temen sekelas aku. Namanya Agni. Mulai besok, dia jadi pengawas juga di kelas kamu, bareng sama aku. Ngomong-ngomong, jangan kaku-kaku napa, masa ngomongnya pake 'saya'. Sama jangan panggil 'kak', kayaknya kita seumuran deh. Aku kelahiran tahun xx juga kok," tambahnya.

"Halo kak Agni, saya Tama. Oke deh kak, eh maaf, maksudnya Nya. Aku ga akan panggil pake 'kak' lagi deh," ujar gue sambil masih tersenyum.

"Halo Tama, gue Agni," ucapnya sambil memandang gue, namun yang gue lihat, pandangannya sedikit aneh.


Gue kembali melihat ke sekitar, memperhatikan murid-murid disini yang sedang berseliweran mencari makanan yang sesuai dengan selera lidah mereka. Setelah 1-2 menit memperhatikan sekeliling, Anya kembali membuka obrolan.

Quote:"Kamu emang pendiem ya, Tam?" tanya Anya sambil melihat ke kerumunan murid juga.

Gue melihat ke arahnya sambil kebingungan, "kamu nanya ke aku?"

"Siapa lagi di meja ini yang namanya Tama, Tamaaa! Hih!" ujarnya sambil sewot, yang membuat gue tertawa kecil karena hal tersebut membuat dia terlihat lebih lucu di mata gue.

"Ya gitu lah Nya, mungkin karena faktor lingkungan sih, makanya aku jadi pendiem gini," ucap gue sambil masih tertawa kecil.

"Maksudnya gimana tuh, Tam?" tanya Anya yang mulai penasaran.

"Aku anak tunggal, jadi engga punya kakak atau adik. Papa kerja di luar negeri. Mungkin karena sepi, jadi engga pernah bisa cerit—"

"Woy! Nih makanan lu. Roti dan susu. Gue cariin lu, ketemu juga akhirnya," potong Revi. Lalu dia melihat orang yang duduk didepan gue, "eh, hallo kak Anya," sapa Revi sambil senyum.

"Eh iya hallo, lu siapa namanya? Lupa gue hehe," ujar Anya sambil tertawa kecil dan kaku.

"Revi, kak" jawabnya.

"Oh iya ini kenalin, temen sekelas gue, namanya Agni," ucap Anya kepada Revi.

"Hallo kak Agni, saya Revi, temen sebangkunya Tama, salam kenal ya, kak," ucap Revi seraya menjulurkan tangannya kepada Agni.

"Hallo Revi, salam kenal juga ya," jawab Agni sambil menjabat tangan Revi dan tersenyum.

"Btw, sorry ya lama, penuh banget ditempat batagor itu. Ngantri, bos!" ucap Revi membuka pembicaraan baru setelah kami terdiam karena sibuk dengan makanan masing-masing.

"Santai, Rev. Tapi agak cepet ya makannya, 10 menit lagi masuk nih," ujar gue santai. Ya, gue yang hanya memakan roti dan susu, tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menghabiskan makanan gue dibandingkan dengan Revi yang membeli 2 porsi batagor yang disatukan dalam satu piring.

"Oke bro, liat aja, 3 menit lagi juga habis ini makanan," ucapnya.


Dan benar, kurang dari 3 menit kemudian makanan Revi sudah berpindah dari piring ke perutnya, dan sukses membuat gue, Anya, juga Agni melongo. Memang postur tubuhnya tidak membohongi.

Quote:"Kelas sekarang nih?" tanya Revi sambil mengambil gelas susu milik gue dan meminumnya, "eh gue bagi yak, seret nih."

"Yuk, kelas. Anya, kak Agni, aku duluan yah," ucap gue pada dua orang perempuan didepan gue yang masih memakan makanannya, "sebentar lagi masuk soalnya."

"Okey, Tam," balas mereka berdua serempak.

"Kakak-kakak, saya duluan ya, mari kak," ucap Revi sambil berdiri dan diikuti oleh gue.

"Iyaa," ucap Anya dan Agni kembali serempak.

Sesampainya di kelas, Revi bertanya, "kok elu manggilnya ga pake 'kak' sih ke Anya? Mana ngomongnya pake aku-kamu. Curiga nih gue," katanya dengan nada menyelidik dan kembali cengengesan.

"Ga usah sok detektif, Rev. Ga pantes," balas gue sambil tertawa.

"Hahaha, jiwa detektif gue keluar nih. Tapi mereka berdua cakep ya," ucapnya sambil tertawa. Dan gue hanya menaruh muka gue di atas meja sambil mencoba memejamkan mata, dan berkata dalam hati, tau aja lu yang cakep-cakep, batin gue.

[]

Diubah oleh fxckified
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ZenCrows dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
You Made Me Love More
02-04-2020 04:03

2nd Scene: 2nd Day of MOS

Hari ke dua dari total tiga hari rangkaian MOS yang harus gue lewati. Gue terbangun di dini hari, tepatnya pukul 04:45 akibat alarm yang gue nyalakan di telepon seluler hadiah dari nyokap gue, sebuah telepon seluler yang termasuk keren di jamannya, Nokia 6600.

Setelah terbangun, gue segera mengambil handuk dari jemuran disamping rumah dan bergegas untuk menuju kamar mandi dan bersiap-siap untuk melaksanakan MOS hari ke dua.

Quote:"Pagi Ma," sapa gue kepada nyokap gue.

"Pagi, Tama," balas nyokap sambil tersenyum, "udah siap? Engga ada yang ketinggalan kan? Buku? Pulpen? Pensil?" tanya nyokap gue yang memang selalu seperti itu setiap pagi sebelum gue berangkat sekolah.

"Engga ada kok, Ma," jawab gue, "Ma, hari ini Tama berangkat sendiri aja, ga usah dianter sama Mama, udah hafal angkotnya kok sekarang," lanjut gue.

"Beneran? Ya udah kalau gitu. Kamu mau sarapan dulu, engga?" tanya nyokap.

"Ada roti engga, Ma? Kalo ada ya boleh deh, takut kelaperan entar pas MOS," ucap gue kepada nyokap.

"Ada kok. Mama bikinin dulu buat isian rotinya ya, nanti Mama bikin juga buat kamu bawa ke sekolah biar pas istirahat ga perlu jajan. Okey?" ucap Nyokap seraya berjalan menuju dapur.

"Oke, Ma," balas gue.


Nyokap gue membuat isian roti andalannya, yaitu telor orak-arik, dan ditambah dengan selembar keju. Memang, sedikit tidak lazim untuk menggunakan telor orak-arik sebagai isian roti, tapi saat gue mencobanya, ternyata buatan nyokap sangat enak. Sampai hari ini, gue masih belum tau apa resep roti telor orak-arik tersebut.

Setelah nyokap selesai membuat roti tersebut, gue langsung melahapnya dan menyisakan beberapa rangkap roti ke tempat makanan yang akan gue bawa ke sekolah. Dan tak lupa, nyokap juga memberikan susu dan memasukannya ke tas gue. Dan memberikan beberapa lembar uang.

Quote:"Nah ini, buat ongkosnya. Angkot pertama, kamu bayarnya 500. Angkot ke-dua, kamu bayarnya 500 juga. Angkot ke-tiga, kamu bayarnya 1500, soalnya angkot ke-tiga itu paling jauh. Uang jajan kamu 10000. Nih pegang," ucap nyokap sambil memberikan uang tersebut.


Dalam hati gue tersenyum, karena uang jajan gue naik lagi. Sebagai perbandingan, pada tahun itu kita masih bisa mendapatkan seporsi nasi goreng dengan harga hanya 3000 rupiah. Sepotong ayam krispi yang dijual oleh pedagang yang menggunakan gerobak masih bisa didapatkan dengan harga 1000-1500, setidaknya di kota gue. Jadi, untuk ukuran anak SMP, menurut gue pribadi, nominal tersebut sudah cukup besar.

Quote:"Yes, uang jajan naik! Hehe. Makasih ya Mah. Aku berangkat ya, Assalamualaikum," ucap gue sambil salim dan mencium tangan orang tua gue.

"Waalaikumsalam, hati-hati ya, nanti kamu langsung pulang ya," ucap nyokap.

"Iya, Ma!" teriak gue sambil menutup pintu.


Jam tangan Casio gue yang memiliki fitur kalkulator, menunjukkan bahwa sekarang sudah pukul 05:45. Perkiraan gue, jam 06:30 gue sudah sampai di sekolah. Gue menunggu angkot di depan rumah. Selama menunggu angkot, tiba-tiba...

Quote:"WAYOLO mau kemana lu," kata seseorang dibelakang gue yang mengagetkan gue dan disambut oleh gelak tawa beberapa orang.

"SETAAAAAANNN!!" maki gue karena kaget oleh suara dan tepukan yang cukup keras dari orang tersebut di bahu gue, dan gue berbalik ingin melihat siapa yang mengagetkan gue. "Sialan! Gue kaget, setan! Sialan lu, Za!" lanjut gue memaki orang tersebut yang ternyata adalah Eza, teman rumah gue. Dan di belakangnya ada Erik, Galang, dan Ivan yang tertawa terbahak-bahak melihat reaksi gue.

"Mau kemana lo, Tam?" tanya Eza kepada gue.

"Mau nyangkul, gue. Ya mau sekolah lah, udah pake seragam gini, ya kali mau ke sawah," jawab gue sebal sambil masih menarik napas karena kaget.

"Hahaha, gitu aja sewot lu ah. Lu sekolah dimana sih?" tanya Erik yang sedari tadi tertawa.

"Sama kayak elu semua, gue di kelas 1-G. Lu pada di kelas mana sih? Gue sebangku sama temen lu, si Revi, katanya masuk sekolah itu juga. Kemarin pas istirahat gue diem di kantin tapi ga ngeliat lu semua," ucap gue sambil bertanya ke mereka.

"Gue kelas 1-E, Eza kelas 1-B, Galang kelas 1-C, Ivan kelas 1-F. Sama ada temen rumah kita kok satu lagi, si Hadi, dia juga satu sekolah sama kita. Dia kelas 1-C, sekelas sama Galang. Kita waktu istirahat kemarin jajan di depan sekolah, engga ke kantin. Kelas kita kan deketnya ke depan sekolah, males kalo ke kantin, jauh," jawab Erik.


Memang kelas 1 memiliki gedung yang terpisah. Kelas 1-A hingga 1-F terletak di gedung depan, dekat dengan gerbang sekolah. Sedangkan kelas 1-G sampai 1-J terletak di gedung belakang, yang dekat dengan kantin.

Quote:"Oh, pantesan engga ketemu. Yuk berangkat, angkotnya udah ada tuh. Eh, Hadi gak bareng berarti?" tanya gue ke teman-teman gue sambil menaiki angkot tersebut yang mendadak penuh karena kami menaikinya.

"Engga, sakit katanya, palingan alesan doang, dia kan males ikut acara ginian," jawab Ivan yang rumahnya memang paling dekat dengan Adi.


Akhirnya kami sampai di sekolah setelah menempuh perjalanan dan berganti-ganti angkutan sambil diselingi beberapa candaan anak sekolahan sepanjang perjalanan. Gue berpisah dengan teman-teman gue, dan gue menuju gedung belakang dimana kelas gue berlokasi. Begitu memasuki kelas, sudah terlihat beberapa teman sekelas gue yang belum terlalu gue kenal. Gue langsung menuju bangku yang kemarin gue tempati, menaruh tas di meja gue, dan mencoba untuk sedikit terlelap.

Gue terbangun oleh gerakan di meja gue, yang ternyata itu adalah Revi. Dia cengengesan saat gue melihat ke arahnya, sambil berkata,

Quote:"Pagi, bro. Lemes amat, lu udah sarapan belum?" tanyanya.

"Udah bro, cuma ngantuk aja gue. Semalem ga bisa tidur gue," jawab gue.

"Pantesan, ya udah lanjut lah tidurnya. Nanti gue bangunin kalo kakak kelas udah ada yang masuk," balasnya yang tidak gue jawab dan gue melanjutkan untuk memejamkan mata. Dan ternyata, tidak lama kemudian...

"Bro, bangun bro, kak Anya udah masuk tuh, sama kak Agni juga" ucap Revi sambil menggoyangkan badan gue.

"Hmm? Oke, bro. Ini gue udah bangun kok," jawab gue terbangun sambil mengerjapkan mata.


Dan di depan kelas, gue melihat Anya dan Agni yang sedang menjelaskan bahwa acara hari ini adalah demonstrasi untuk ekstrakulikuler yang terdapat di sekolah ini. Beberapa diantaranya adalah futsal, basket, voli, karate, taekwondo, paskibra, pramuka, PMR, cheerleader, modern dance, dan lain-lain. Dan kami semua, siswa-siswi baru di sekolah ini dipersilahkan untuk menuju lapangan dan memperhatikan dari selasarnya untuk menonton demonstrasi dari perwakilan setiap ekskul.

Quote:"Lu mau daftar apa, bro?" tanya Revi kepada gue.

"Belum tau nih, liat nanti aja deh. Gue sih pengen bela diri, cuma engga terlalu kepake juga kayaknya. Gue kan engga pernah berantem," jawab gue sambil mencari tempat duduk di selasar depan kelas pinggir lapangan, "ikutan cheerleader aja apa?" usul gue yang disambut tawa oleh Revi dan beberapa teman gue yang mengekor di belakang kami.


Dan demonstrasi ekskul sudah dimulai. Sebenarnya, gue sedikit tertarik untuk mengikuti ekskul basket. Dengan ditunjang tinggi badan, gue kira gue akan sedikit terpakai oleh tim basket di sekolah gue.

Setelah beberapa saat, masuklah demonstrasi dari cheerleader. Gue engga menyangka bahwa Anya dan Agni adalah anggota dari ekskul cheerleader. Wajah mereka memang cantik, sehingga pantas untuk menjadi anggota ekskul tersebut. Namun dengan badan yang mungil dan perilaku mereka yang cenderung kalem, tidak menunjukkan bahwa mereka adalah anggota cheerleader. Dan seperti yang gue duga, saat membentuk pyramid, dengan badannya yang mungil, Anya berada di posisi puncak pyramid tersebut. Sebagai perbandingan, tinggi Anya hanya sebatas bahu gue, dengan badan yang proporsional namun dengan 'aset' yang cukup menonjol. Hehe.

Memasuki waktu istirahat, Revi mengajak gue untuk pergi menuju kantin. Namun gue menolak tawaran tersebut karena gue membawa bekal dari rumah. Dan pada akhirnya Revi berangkat sendiri ke kantin sambil sedikit mengejek gue dengan berkata bahwa gue masih seperti anak kecil karena membawa bekal dari rumah, dan gue balas dengan senyuman gue.

Saat gue mau membuka tempat makan gue, gue melihat Fanny, yang duduk didepan gue, mengeluarkan juga bekal makanan dari tasnya. Dia melihat ke arah gue dan berkata,

Quote:"Lu bekel juga, Tam? Makan bareng yah," ucapnya sambil membalikkan badan dan bangkunya sehingga sekarang kami berhadapan namun tetap duduk di bangku masing-masing.

"Iya, Fan. Ya udah makan bareng aja, Fan," jawab gue sambil membuka tempat makan gue dan mengambil sepotong roti buatan Nyokap.

"Lu bekel apaan, Tam? Roti ya? Mau coba dong segigit, boleh engga, Tam?" ucapnya memelas yang membuat gue tertawa melihat wajahnya.

"Hahaha, ya udah nih ambil aja, masih banyak kok, gue bawa 4 potong," ucap gue sambil tertawa kecil karena melihat wajahnya.

"Engga ah, segigit aja, kalo sepotong nanti gue kenyang, bekel makanan gue ga kemakan nanti," jawabnya sambil membuka mulutnya sambil berujar, "Aaaaa..."


Gue mengarahkan roti yang gue pegang ke mulutnya Fanny, dan dia menggigit dan mengunyah roti tersebut. Setelah sekian detik, terlihat ekspresi terkejutnya dengan membulatkan matanya. Setelah menelan gigitan tersebut, dia berkata,

Quote:"Enak banget, Tam! Sumpah, gue gak nyangka rasanya bakalan kayak gini. Awalnya gue pikir bakalan aneh, karena gue baru liat roti diisi telor orak-arik sama keju, tapi enak ternyata!" ucapnya semangat.

"Iya dong, nyokap gue, gitu!" balas gue sambil mengambil susu yang masih didalam tas gue.

"Lu bekel roti doang, Tam? Atau lu bawa bek— BUSET! Lu serius bawa susu segitu? Itu buat berapa hari?" tanyanya terkejut yang kemudian tertawa terbahak-bahak saat gue mengeluarkan susu rasa coklat berukuran 1 liter.

"Buat hari ini kok, buat sehari doang. Gue emang biasanya minum segini. Kalo lagi males, biasanya gue minum yang kalengan aja, Fan. Biar engga terlalu banyak," jawab gue santai.

"Pantes aja badan lu setinggi itu ya, minumnya seliter sehari," ucapnya.

"Ah, genetik mungkin ini sih, bokap gue juga tinggi soalnya, Fan. Dan gue juga bukan cuma minum susu doang, tapi minum vitamin juga, yang iklannya 'bajuku dulu tak segini, tapi kini tak cukup lagi'," jawab gue sambil menyanyikan iklan tersebut.

"Hahaha dasar lu, malah iklan," balasnya sambil menghabiskan makanannya.


Setelah memakan bekal dan meminum kira-kira setengah dari susu yang gue bawa, gue duduk di selasar depan kelas. Engga lama kemudian,

Quote:"Hey. Ngelamun aja, awas kesambet loh," kata suara perempuan, yang ternyata itu Anya.

"Eh, kak. Ngagetin aja. Engga ngelamun kok, cuma kekenyangan aja nih," jawab gue tanpa melihat ke arahnya.

"Oh, eh emang kamu makan dimana? Kok aku gak liat kamu ya? Di depan gak ada, di kantin belakang juga gak ada," tanyanya, dan dia melanjutkan, "kok manggil 'kak' lagi sih? Kan udah dibilang kemaren, panggil nama aja."

"Eh iya lupa, maaf Nya, kebiasaan kalau manggil kakak kelas pake sebutan itu soalnya, hehe. Aku makan di kelas, tadi dibekelin roti sama mama," jawab gue sambil tersenyum, lalu gue lanjutkan, "ciee, nyariin ya? Hahaha." Sekilas, gue lihat mukanya menjadi merah, terlihat kontras sekali dengan kulitnya yang putih.

"Ih, nyebelin!" jawabnya sewot sambil mencubit tangan kiri gue, "aku bosen aja makan berdua sama Agni melulu, biar ada perubahan gitu," ujarnya.


Gue hanya tersenyum sekaligus meringis karena cubitannya. Selagi gue mengelus-ngelus tangan gue, Anya berkata lagi,

Quote:"Tam, kamu punya hp kan? Aku minta nomer kamu dong," pintanya sambil melihat ke mata gue.


Gue mendadak salah tingkah karena dia melihat gue seperti itu. Lama kelamaan, dia tersenyum dan tertawa, gue kebingungan melihat ke arah dia.

Quote:"Kamu kenapa, Nya? Kok tiba-tiba ketawa gitu? Jangan-jangan kamu yang kesambet ya," tanya gue keheranan.

"Gak apa-apa kok, lucu aja ngeliat muka salting kamu. Satu sama, ya. Tadi kamu udah bikin aku salting juga, nah sekarang aku bales. Wlek!" ucapnya sambil menjulurkan lidah dan kembali tertawa lebar, "eh mana nomer hp kamu? Aku mau minta," lanjutnya sambil masih tertawa.

"Yah, jangan dong, kalau kamu minta, nanti aku harus cari nomor lagi. Nomor hpku udah bagus soalnya," jawab gue dengan sedikit bercanda.

Mendadak dia terdiam dan menjulurkan tangannya ke rambut gue, lalu menjenggutnya sambil menarik-narik rambut gue, "ihhh nyebelin! Mana minta nomer kamu cepetaaan!" ucapnya kesal.

"Adadadaaah iya iya ini nomorku, udah berhenti jenggutnya dong, sakit tau!" ucap gue sewot. Dan akhirnya gue memberikan nomor gue ke Anya.

"Oke deh, makasih ya, Tam! Nanti malem aku telpon yaaah. Aku mau ke kelas dulu ya. Dadah Tamaa!" ucapnya sambil berdiri dan meninggalkan gue.


***

Malam harinya, saat gue sedang bermain game di komputer, ponsel gue berdering menandakan ada telepon masuk. 'Hmm, nomer engga dikenal,' batin gue. Lalu gue pun mengangkatnya.

Quote:"Hallo, Assalamualaikum, selamat malam. Tama disini. Dengan siapa saya berbicara?" ucap gue menyapa lawan bicara gue.

"Waalaikumsalam, hai Tama! Ini Anya. Hahaha," jawabnya sambil tertawa.

"Oh, Anya. Ada apa, Nya? Kok kamu ketawa-ketawa sih?" tanya gue, heran.

"Hahaha, ga kenapa-kenapa kok, Tam. Lucu aja tadi dengernya, komplit banget kamu nyapa di teleponnya, hahaha," ujarnya sambil masih tertawa.

"Hehehe, iya nih, kebiasaan kalo ada nomor yang engga dikenal pasti gitu nyapanya," jawab gue.

"Kamu lagi apa, Tam?" tanyanya, memulai percakapan kami malam itu lewat sambungan ponsel.


Gue hanya tersenyum mengingat percakapan gue dengan Anya barusan. Selama kurang lebih 30 menit kami berbicara. Entahlah, gue merasa aneh dengan diri gue sendiri. Engga biasanya gue bisa secepat ini untuk dekat dengan seorang perempuan, terlebih perempuan tersebut adalah seorang kakak kelas yang terkenal karena cantiknya, dan sifat kalemnya. Mungkin gue patut bersyukur, karena tanpa harus bersusah payah untuk mendekatinya, dia datang sendiri ke hidup gue dan mulai sedikit mewarnai hidup gue yang biasanya berjalan datar. []






Nb: mohon masukan dari suhu-suhu, dari part yang sudah dipost, apakah cerita newbie terlalu bertele-tele, atau terlalu lambat, atau mungkin terlalu mendetail? Atau sudah cukup? Karena niat awal newbie disini ingin menceritakan sedetail mungkin. Dan juga, mungkin ada masukan terkait dengan cara penulisan newbie? Terima kasih, dan newbie tunggu masukan dari suhu-suhu semua.
Diubah oleh fxckified
profile-picture
profile-picture
profile-picture
daniadi123 dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
You Made Me Love More
02-04-2020 10:23

3rd Scene: Last Day of MOS

Hari ke-3 dari 3 hari rangkaian MOS. Seperti biasa, gue terbangun oleh suara alarm yang digaungkan oleh ponsel gue. Gue segera bergegas bersiap-siap untuk menuju ke sekolah. Tidak lupa sarapan dan salam kepada nyokap, gue segera bergegas menuju ke depan rumah, sambil menunggu teman-teman rumah gue datang ke rumah gue. Setelah menunggu sekitar 5 menit, gue melihat gerombolan teman-teman gue yang sedang berjalan menuju ke arah gue. Kami bertukar candaan dan akhirnya Eza, mengucapkan sesuatu ke gue.

Quote:"Tam, pengawas kelas lu kak Agni sama kak Anya, ya? Hoki banget sih, cakep dua-duanya. Beda banget sama kelas gue, pengawasnya cowok dua-duanya, mana kayak kingkong pula," celetuknya yang membuat kami semua tertawa.

"Hahaha, iya, pengawas gue Agni sama Anya. Kenapa? Demen lu ya, Za?" tanya gue sambil tersenyum.

"Anya cakep sih, demen gue liatnya. Lu punya nomer telponnya ga?" jawabnya, dan dia melanjutkan omongannya, "ah percuma juga sih nanya ke elu, ga akan berani juga lu mintanya." Dan semua teman gue mengamininya. Tentunya mereka semua sudah mengetahui, bahwa gue adalah orang yang pendiam, dan tidak pernah melakukan pendekatan duluan kepada perempuan manapun.

"Taruhan yuk, tiap orang goceng aja deh. Kalo gue dapet nomernya, lu semua bayar ke gue. Kalo gue ga dapet, lu semua gue traktir di kantin," tantang gue.

"Deal!" ucap mereka serempak tanpa berpikir. Gue tersenyum dalam hati.

"Ya udah, kumpulin sini duitnya, gue pengen bukti," kata gue sambil menyetop angkot yang lewat, dan belum ada penumpangnya.


Di dalam angkot, mereka semua mengeluarkan uang, masing-masing 5000 rupiah. Total 20000 uang yang sudah dikumpulkan, tidak termasuk dari gue. Andai saja Hadi masuk sekolah, mungkin gue bisa dapat tambahan 5000 lagi. Hehe.

Quote:"Udah semua nih ya? Oke, sebentar ya," ucap gue seraya mengeluarkan ponsel gue dan menelpon seseorang, dan gue aktifkan fitur loudspeaker.

"Hallo Assalamualaikum, pagi Tama! Kenapa nih pagi-pagi telpon? Kangen ya? Baru juga semalem telponan," ucap seseorang di sambungan satunya.

"Waalaikumsalam, Anya udah berangkat belum? Hari ini kamu masih jadi pengawas di kelasku kan?" tanya gue kepada lawan bicara gue. Ya, lawan bicara gue adalah Anya.

"Sebentar lagi mau berangkat ini. Iya, masih kok. Sama Agni juga. Kenapa emangnya?" tanyanya tanpa curiga, dan disambut oleh muka teman-teman gue yang mesem.

"Oh gitu, ga apa-apa kok, cuma nanya aja. Ya udah kalo gitu, aku lagi di jalan nih. Kamu hati-hati ya, Anya. Assalamualaikum," balas gue sambil tersenyum penuh kemenangan.

"Oke, Tama! Sampai ketemu di kelas yaa! Waalaikumsalam," jawabnya sambil menutup telepon.


Dan usainya obrolan gue bersama Anya pun disambut oleh jitakan di kepala gue oleh teman-teman gue. Mereka semua kesal karena merasa tertipu oleh gue, sekaligus tertawa dan keheranan karena gue bisa memiliki nomor telepon Anya.

Quote:"Anjing! Gue kalah start sama setan satu ini! Hahaha!" ucap Eza sambil menjitak kepala gue dan tertawa keras.

"Sakit, setan! Lagian lu semua ngeremehin gue banget dah," gerutu gue sambil mengelus-elus kepala yang tadi dijitak oleh mereka. "Terus, lu mau ga nih nomernya Anya?" tanya gue ke Eza.

"Ga usah deh, buat lu aja, sumpah gue seneng akhirnya lu bisa komunikasi sama cewek! Hahaha," jawabnya, yang gue balas dengan tawa kecil gue, sambil memasukkan uang 20000 ke saku gue. Today's gonna be a good day, batin gue.


Beberapa puluh menit dan dua kali pergantian angkot kemudian, sampailah kami semua di sekolah. Seperti biasa, gue berpisah sendiri menuju gedung belakang, dan teman-teman gue menuju gedung depan. Gue berjalan santai menuju kelas gue, dan seperti biasa, menutup mata sejenak menghilangkan kantuk.

Quote:"Bro, bangun bro, udah bel," ucap seseorang di sebelah gue. Siapa lagi, selain Revi.

"Iya bro, thank you udah bangunin." Gue masih mencoba untuk kembali tersadar sepenuhnya dengan cara menggosok-gosokkan telapak tangan gue ke muka.


Selang beberapa menit kemudian, masuklah Agni ke dalam kelas gue, dan Agni langsung duduk di kursi yang diperuntukkan untuk guru. Dan beberapa detik kemudian, masuklah Anya ke dalam kelas gue.

Quote:"Hai Tamaa! Tadi pagi kenapa telpon? Kangen ya? Padahal baru aja semalem aku telpon," ucapnya dari pintu kelas sambil berjalan ke arah meja gue dengan nada yang cukup keras, dan suara genit yang dibuat-buat. Sontak, teman-teman sekelas gue terdiam dan serempak melihat ke arah gue. Gue yang kebingungan, hanya melihat ke arah Anya, lalu gue melihat Agni yang hanya tertawa tanpa suara di meja guru.

"Eh? Eng—engga kok! Eng...ga ada apa-apa, k—kepencet aja t—tadi," sanggah gue menahan malu dan gugup yang datang secara tiba-tiba.

"Hm? Kepencet? Tapi kok bisa ngobrol?" ucapnya sambil tersenyum genit.


Check mate. Mati gue. Pernah engga sih, reader disini merasakan rasa malu sampe rasanya pengen kabur? Ya, gue sedang merasakan hal itu. Gue hanya bisa menundukkan kepala, sambil menahan panasnya muka gue.

Quote:"Tama, lucu deh kamu kalo lagi malu-malu gitu. Oh iya, nanti pas istirahat kita makan bareng lagi, ya! Aku tunggu di kantin, okey?" ujarnya sambil berjalan ke depan kelas dan memulai MOS hari terakhir ini, tidak mempedulikan gue yang menahan malu, dan menganggap tidak ada kejadian apapun barusan.


Gue tau, hal itu dilakukannya dengan sengaja. Karena semalam, pada saat gue berbicara dengannya lewat telpon, gue engga sengaja bilang bahwa gue adalah orang yang tidak suka jika harus menjadi pusat perhatian. Mungkin seperti demam panggung, ya? Dan hal tersebut langsung dibuktikan oleh Anya. Yang jelas, uang 20000 yang gue dapatkan dari teman-teman gue, engga sebanding dengan rasa malu yang gue terima.

Semenjak detik itu, perlakuannya menghapus pemikiran gue yang menilai bahwa dia adalah orang yang bersifat kalem, berganti menjadi bersifat menyebalkan. Dan gue harus berhati-hati dalam mengatakan apapun, atau hal tersebut akan menjadi boomerang untuk gue.

Di depan kelas, Anya menjelaskan rangkaian acara hari ini. Singkatnya, acara hari ini adalah pengumpulan surat cinta untuk senior yang sudah ditugaskan kemarin, pengenalan staff pengajar di sekolah, pendaftaran ekskul yang dibuka hingga 2 minggu kedepan, dan penutupan.

Memasuki jam istirahat, Revi mengajak gue untuk menuju kantin. Gue yang sedang enggan bertemu dengan Anya, memutuskan untuk jajan di depan sekolah, yang akhirnya disetujui oleh Revi, sekalian bertemu dengan teman-teman rumah gue.

Tidak lama kemudian, sampailah gue di gerbang sekolah. Pilihan jajanannya lebih banyak dibandingkan dengan di kantin, namun yang kurang adalah tidak adanya bangku ataupun meja yang disediakan, sehingga kami harus berjongkok atau duduk di semen yang posisinya lebih tinggi dibandingkan jalanan. Setelah memutuskan untuk membeli pisang ijo, gue bergabung dengan teman-teman rumah gue, dan Revi pun ikut bergabung tentunya, karena Revi mengenali mereka juga.

Quote:"Tam, lu kalo dicariin sama kak Anya gimana? Kan dia ngajakin lu makan bareng tadi?" kata Revi membuka obrolan, yang sukses membuat Eza, Erik, Ivan, dan Galang melongo.

"Bodo amat, lagi males gue sama dia. Udah tau gue ga suka digituin, malah disengaja sama dia. Kesel gue," gerutu gue sambil mengunyah pisang ijo yang gue pesan.

"Eh bentar, lu diajakin makan bareng kak Anya? Gimana ceritanya?" tanya Galang yang mulai tertarik dengan cerita tersebut.


Revi inisiatif menceritakan kejadian yang tadi pagi terjadi di kelas gue, diselingi tawa teman-teman gue, yang memang mereka mengetahui karakter gue, membuat mereka tertawa keras sewaktu mengetahui kejadian yang menimpa gue. Namun, belum selesai Revi bercerita, tiba-tiba...

Quote:"TAMAAA!" teriak seorang perempuan dari kejauhan, sambil melambaikan tangannya, yang membuat dia dan gue kembali menjadi pusat perhatian. Ya, itu Anya.

"Shit!" umpat gue, yang membuat teman-teman gue menahan tawa.


Anya berlari kecil menuju ke arah kami. Setelah kami berjarak hanya beberapa langkah, Anya berkata,

Quote:"Ih, Tama, kan tadi aku ngajak kamu makan bareng. Kok kamu ninggalin sih?" tanyanya, yang engga gue jawab dan gue melanjutkan makan pisang ijo ini. Enak banget, bos!

"Aaa, Tama marah ya? Maafin Anya dong, Anya kan cuma bercanda tadi," lanjutnya sambil menggoyang-goyangkan tangan gue, dan berbicara dengan nada bicara yang dibuat manja, dan sukses membuat mulut gue mengulum senyum dan membuat teman-teman gue menahan tawa melihat kelakuan Anya.

"Sebel banget ngomongnya sok manja gitu. Ya udah, sana pesen makan. Kalau lama, aku tinggal nanti," jawab gue yang akhirnya luluh dengan perlakuannya, "eh bentar, ini kenalin dulu temen-temen rumahku. Ini Eza, ini Erik, yang ini Ivan, sama Galang," lanjutku sambil menunjuk teman-teman gue.

"Hallo, kenalin, Anya," ujar Anya sambil menyalami teman-teman gue satu persatu. "Ya udah, aku pesen dulu yah, kamu tungguin disini, jangan ke kelas dulu!" ucapnya dengan nada sok galak sambil pergi menuju ke arah penjual pisang ijo juga.

"Iya, bawel," gumam gue sambil menyendok makanan gue.


Teman-teman gue yang sedari tadi hanya memperhatikan gue dan Anya, akhirnya tertawa melihat perlakuan Anya terhadap gue.

Quote:"Baru kali ini gue liat muka elu sampe ngempet kesel gitu, Tam," ujar Eza sambil tertawa. "Untung Anya cakep ya. Coba kalo ga secakep itu, gue yakin lu bakalan marah-marah ga jelas," lanjutnya.

"Ga ngerti gue, engga tau kenapa gue ga bisa marah ke dia. Udah nahan kesel, pas liat mukanya eh tiba-tiba ilang keselnya. Heran gue," jawab gue sambil tersenyum miris mengingat apa yang dilakukan Anya tadi pagi.

"Gue yakin lu demen dia, Tam," ucap Eza yang sukses membuat gue mengalihkan pandangan gue ke wajahnya.

"Buset, baru kenal 2 hari, masa udah demen lagi aja. Liat nanti aja deh kedepannya gimana," jawab gue menggantung, sekaligus menyudahi pembicaraan karena melihat Anya sudah berjalan ke arah kami dengan membawa semangkuk es pisang ijo.

Saat Anya duduk di sebelah gue, teman-teman gue, termasuk Revi, serempak berdiri dan berkata, "kita duluan ya, Tam!" ucap Erik yang membuat gue melongo.

"Iya silahkan, makasih yah udah nemenin Tama," jawab Anya yang membuat gue melongo juga. Woy, dia pamit ke gue, bukan ke elu! Dan gue engga mau ditinggalin berduaan doang sama elu! batin gue.

"Eh, oh, ya udah deh, gue ikut ya," ucap gue yang membuahkan jitakan di kepala gue yang dilakukan oleh Galang.

"Heh, lu temenin dulu kak Anya, bego!" umpatnya yang membuat gue terduduk kembali.

"Ya udah, ya udah. Nanti balik bareng ya. Tar gue samperin ke kelas lu deh," ucap gue kepada mereka, yang dibalas dengan anggukan.

"Tam,"

"Tama,"

"Tamaaa! Ih, nyebelin!" ucap Anya berulang-ulang sambil mencubit lengan gue.

"Aduduuuh, sakit! Ga usah pake nyubit bisa kan?" ucap gue sambil mengusap lengan gue yang dicubit oleh Anya.

"Abisnya, aku panggil-panggil kamu engga nyaut. Nyebelin!" jawabnya merajuk, "kamu pulang naik apa?" lanjutnya.

"Naik angkot Nya, ke jalan xx. Kenapa emangnya? Mau bareng?" tanya gue.

"Engga, aku dijemput papaku. Rumahku searah kok, cuma rumahku masih 10 menitan lagi dari rumahmu. Pulangnya bareng aku yuk?" tawar Anya ke gue.

"Engga ah, aku naik angkot aja," jawab gue.

"Harus mau! Aku tungguin disini nanti pulangnya!" ucapnya sambil melotot seraya berdiri dan mengambil mangkuk pisang ijo bekas gue, lalu digabung dengan bekasnya dan mengembalikan ke penjualnya. "Udah bel nih, yuk masuk ke kelas." Anya menggamit tangan gue dan menariknya. "Ayo cepet ah! Aku masih harus ngawas kelas kamu nih!" ucapnya sambil berlari kecil.


Saat memasuki kelas, gue dan Anya menjadi tontonan semua teman-teman gue. Gue yang awalnya kebingungan melihat teman-teman gue menahan senyum dan tawa, akhirnya menyadari bahwa tangan gue masih digamit oleh Anya. Dan gue segera melepaskan pegangan tangannya, dan menuju ke bangku gue.

Btw, Anya mengikuti gue ke kelas karena dia masih jadi pengawas di kelas gue.

Quote:"Ciee Tama, mesra banget sama kak Anya," ucap Dhea, si tukang gosip, teman sebangku sekaligus teman SD Fanny.

"Apa sih, Dhe. Udah deh," sahut gue. Selain tidak suka menjadi pusat perhatian, gue juga tidak suka jika harus menjadi subyek untuk bahan gosip. Gue lebih suka untuk dibicarakan depan muka gue dibandingkan dengan dibicarakan dibelakang punggung gue.


Anya pun kembali melihat ke arah gue, dan mengulum senyum. Mau bikin ulah apa lagi ini anak, batin gue ketika curiga melihat senyum jahilnya.

Ketika Agni sedang menjelaskan peraturan sekolah ini, Anya memanggil gue.

Quote:"Adri Pratama," panggilnya.

Gue menghela napas, kecurigaan gue terbukti. "Iya, Anya?" jawab gue.

Agni yang sedang menjelaskan di depan kelas gue, mendadak menghentikan suaranya dan memperhatikan kami.

"Jangan lupa ya, kita pulang bareng," katanya sambil memunculkan senyum jahil itu kembali.

Agni, yang sedari tadi memperhatikan, langsung tersenyum, "ciee, Anya. Gila, sigap banget lu, Nya," celetuknya.

Dan teman-teman gue pun serentak berkata, "cieee Tamaa," dan gue hanya bisa menundukkan kepala menahan malu, sedangkan sang tersangka hanya melenggang santai ke arah meja guru.

[]

Diubah oleh fxckified
profile-picture
profile-picture
profile-picture
beqichot dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
You Made Me Love More
02-04-2020 18:30

4th Scene: The Beginning of the Roller Coaster Ride

Mungkin akan ada pertanyaan dari readers semua, "mengapa awal cerita sangat jauh mundur ke belakang?" Gue akui, gue bingung untuk menentukan awalnya, kisah ini memang mundur terlalu jauh, namun dari sinilah semuanya berawal. Jika gue melewatkan cerita gue di masa SMP, maka jalan ceritanya akan terlihat rancu, karena terdapat banyak hal yang berkaitan pada saat sekarang dengan masa SMP gue. Dan kemungkinan besar, jika sesuai dengan rencana gue, maka cerita ini akan menjadi cerita yang cukup panjang. Namun, terlepas dari panjangnya cerita, sebisa mungkin akan newbie tamatkan sesuai dengan rencana newbie. Newbie hanya mengharapkan support dari suhu-suhu semua.

Baiklah, kembali ke cerita.

Siang ini, gue membatalkan rencana pulang dengan teman-teman gue, untuk memenuhi permintaan dari Anya untuk pulang bersama. Meskipun hal tersebut menguntungkan gue karena gue tidak perlu untuk mengeluarkan ongkos, namun tetap saja gue merasa tidak enak kepada Anya dan papanya karena gue merasa merepotkan mereka berdua. Sekilas tentang papanya Anya, pada saat itu umurnya sekitar 35an. Papanya Anya adalah pengusaha yang cukup sukses di bidang properti. Dari obrolan yang gue dapat, Anya adalah anak tunggal, sama seperti gue. Dan juga papanya banyak bertanya ke gue, baik mengenai keseharian gue, keluarga, sekolah, ataupun hal lainnya. Tidak jarang pula Anya ikut nimbrung obrolan gue dengan papanya.

Quote:"Rumah Tama dimana?" tanya papanya Anya.

"Di jalan xx Om. Om lewat jalan itu atau engga? Kalau engga lewat, biar Tama turun dijalan aja terus pake angkot, Om", jawab gue sopan.

"Lewat kok, setiap jemput Anya juga selalu lewat situ. Kamu tau restoran di jalan itu? Om sering mampir ke situ, enak makanannya," ujar papanya Anya.

"Pah, adek mau mampir dulu ya ke restoran itu? Adek lapar, belum makan siang kan, sekarang udah mau sore ini. Udah lama juga engga makan disana," Anya ikut nimbrung obrolan kami. "Kamu cobain juga deh, Tam. Enak-enak loh makanannya!" seru Anya kepada gue dengan semangat.

"Kalo aku udah bosen makan disitu, Nya, kan rumahku deket situ. Jadi pasti sering dong, hehe," jawab gue, "tapi ayo deh, aku ikut aja," sambung gue tersenyum.


Beberapa saat kemudian, kami sudah sampai di parkiran restoran tersebut. Setelah mendapatkan spot parkir dan memarkirkan mobilnya, gue, papanya Anya, dan Anya segera turun dari mobil, dan segera masuk ke restoran. Gue lihat, siang ini parkiran restoran cukup penuh. Wajar memang, biasanya pada jam siang seperti ini, restoran penuh oleh orang tua yang akan menjemput anaknya dari sekolah. Kebetulan, restoran ini bersebrangan dengan sebuah sekolah elit di kota ini.

Sekilas mengenai restorannya, restoran ini menyediakan makanan pada umumnya, seperti ayam, bebek, sapi, kambing, dan banyak macam lainnya. Restoran ini memiliki 2 lantai, dan kapasitas restoran ini kurang lebih dapat menampung 100 hingga 120 orang, namun parkiran mobilnya hanya dapat menampung sekitar 12 mobil saja. Terdapat gerbang selebar ±3 meter yang selalu tertutup di samping restoran, meskipun masih dalam satu kawasan dengan restoran.

Setelah memesan, kami mencari meja, namun tidak ada satupun meja yang kosong. Seperti yang gue duga, restoran ini hari ini sangat penuh, terlihat dari banyaknya mobil yang terdapat di parkiran restoran ini. Bahkan terdapat antrian waiting list.

Quote:"Gimana nih? Mau dibungkus aja? Atau di-cancel aja?" tanya papanya Anya kepada kami.

"Sebentar Om, Tama coba tanyain dulu ke dalem ya, jangan kemana-mana dulu ya Om, Nya," jawab gue.


Engga lama gue di dalem, gue keluar lagi dengan membawa kunci. Dan gue meminta Anya dan papanya untuk mengikuti gue, dan mereka mengikuti gue dengan kerutan di dahinya. Heran, mungkin.

Gue membuka kunci gembok gerbang yang terdapat di sebelah restoran dan membuka gerbangnya, lalu masuk dan diikuti oleh Anya dan papanya. Setelah menutup gerbang, didepan gue terdapat jalur mobil, sepanjang ±8 meter dan berbelok ke kiri menandakan bahwa terdapat juga lahan parkir disitu yang cukup untuk menyimpan 4 mobil dan beberapa motor. Posisi persisnya terletak di belakang restoran. Setelah jalur mobil tersebut, terdapat sebuah halaman yang terhampar dari ujung kiri hingga ujung kanan yang terdapat beberapa pohon yaitu pohon jambu, sirsak, dan nangka. Setelah halaman, terlihat lapangan tennis yang beralaskan semen. Jika gue melihat agak menyerong ke kiri, terdapat sebuah rumah induk yang cukup luas, berada di sudut dan memanjang hingga ke tengah, bersebelahan dengan lapangan tennis. Sehingga ketika kita ingin menuju rumah, kita harus melewati halaman yang sudah diberi paving block untuk jalur jalan. Terdapat space kecil antara rumah dan lapangan tennis untuk menjemur pakaian. Dan ke rumah tersebut lah tujuan gue. (Denah bisa dilihat pada gambar di bawah ini)

Quote:
You Made Me Love More


Gue berjalan ke rumah tersebut dengan diikuti oleh Anya dan papanya yang keheranan namun tidak mengatakan apapun. Sampai di depan pintu, gue mengeluarkan kunci dan membuka pintu, lalu mempersilahkan Anya dan papanya untuk masuk, dan mereka duduk di ruang tamu.

Quote:"Selamat datang di rumah ya Nya, Om, maaf ya berantakan, abisnya ga ngira Anya sama Om bakalan mampir ke sini, tau gitu tadi diberesin dulu, hehe," ucap gue kepada Anya dan papanya.

"Loh, ini rumah kamu, Tam?" tanya Anya, yang gue jawab dengan anggukan.

"Terus, restoran di depan, itu punya kamu juga berarti?" tanya papanya Anya.

"Iya Om, dulu pas lagi disini papa buka usaha itu buat mama, dibantu sama nenek dan tante Tama juga. Alhamdulillah sampai sekarang masih jalan Om," jawab gue.


Papanya Anya hanya mengangguk-ngangguk. Setelah gue membuat air minum untuk mereka, gue permisi untuk mengganti baju. Gue kembali ke ruang tamu dan kami berbincang-bincang mengenai banyak hal, hingga makanan yang kami pesan datang dengan diantarkan oleh karyawan nyokap.

Beberapa lama setelah makan, Anya dan papanya pamit pulang. Gue mengantarkan mereka sampai ke parkiran restoran karena mobil papanya Anya diparkirkan di situ.

Quote:"Om, Anya, makasih banyak ya udah mampir. Sering-sering mampir ya Om," ucap gue sambil tersenyum.

"Loh, harusnya Om loh yang bilang makasih sama kamu, udah dijamu kayak gini. Maafin kita ya udah ngerepotin," ucap papanya Anya.

"Engga apa-apa kok, Om, Tama malah seneng, jadi engga sepi di rumah," kata gue. Lalu gue menghadap ke Anya, "Nya, kalo lagi bosen atau lagi pengen makan disini, kesini aja ya, jangan sungkan, ajak juga temen-temen kamu, biar sekalian promosi, hehe," ucap gue ke Anya.

"Iya, Tam, lain kali aku mampir lagi ke sini ya," senyumnya sumringah, mungkin karena mengetahui restoran kesukaannya adalah milik keluarga gue, atau merasa senang karena gue ajak untuk main lagi ke rumah gue. "Ya udah, kita pamit ya, Tam. Nanti kalo udah di rumah, aku telpon yaa! Dadah Tamaaa!" lanjutnya sambil menyusul papanya yang sudah siap di dalam mobil.

"Iya, hati-hati ya!" balas gue sambil melambaikan tangan ke arah mobilnya.


Gue bergegas masuk ke dalam rumah untuk mandi, karena cuaca cukup panas siang ini. Setelah mandi, gue menyalakan komputer untuk menyetel lagu-lagu klasik, seperti Deep Purple, Scorpions, Bryan Adams, Air Supply, dan lain-lain. Selera musik gue banyak tertular dari nyokap, yang selalu mendengarkan lagu-lagu tersebut setiap hari. Gue merebahkan badan gue di tempat tidur sambil memejamkan mata gue.

Sore hari menjelang petang, gue terbangun. Gue mencari ponsel yang ternyata masih gue simpan di tas. Saat gue membukannya, ada beberapa notifikasi yang gue lihat.

1 Missed Call
2 Messages Received

Gue buka recent calls, dan tertera sebuah nama disitu:

Quote:Missed Call
Anya
15:48


Ternyata Anya menghubungi gue, mungkin pada saat dia sudah sampai dirumahnya. Lalu, gue buka inbox di ponsel gue, tertera nama Anya di dua baris teratas, berarti SMS yang baru masuk ke ponsel gue, kesemuanya dari Anya. Gue buka SMS yang lebih awal dikirim oleh Anya.

Quote:From: Anya
Tama, mksh bnyk y buat hr ini, ak seneng bgt! Lain x ak mmpir lg ya! C u 2mrrw!
Received:
15:50


Gue hanya tersenyum membacanya. Lalu, gue buka SMS yang paling terakhir dikirim oleh Anya.

Quote:From: Anya
TAMA, GUE BETE SAMA LO!!!
Received:
17:23

[]

Diubah oleh fxckified
profile-picture
profile-picture
profile-picture
beqichot dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
You Made Me Love More
02-04-2020 20:26

5th Scene: She Went Crazy Over Simple Matter

Quote:From: Anya
TAMA, GUE BETE SAMA LO!!!
Received:
17:23


Loh, ini anak kenapa? batin gue dalam hati, sambil mengingat-ngingat apa kesalahan yang mungkin gue perbuat ke dia. Gue langsung mencoba menghubunginya, namun beberapa belas kali telpon yang gue coba tidak pernah diangkat oleh Anya. Awalnya, gue mau coba tanya ke Agni, tapi gue urungkan niat tersebut. Karena gue belum punya nomornya Agni. Hehe. Agni pernah menghubungi gue, tapi lewat telpon rumah. Jadi gue belum tau nomornya Agni. Besok aja deh gue tanyain, gumam gue dalam hati yang sudah kebingungan.

Malamnya, gue sedikit berbincang-bincang dengan nyokap. Nyokap terlihat antusias saat gue menceritakan tentang Anya. Meskipun ada beberapa nasihat juga dari nyokap agar jangan terlalu diambil pusing karena gue masih terlampau kecil untuk memikirkan tentang kisah asmara, namun nyokap juga menyuruh gue untuk meminta maaf ke Anya dan mengajak kembali Anya ke rumah dan mengenalkannya kepada nyokap.

Esok paginya, seperti biasa, setelah sarapan dan meminta uang kepada nyokap, tidak lupa dibekali 1 liter susu, gue menunggu teman-teman gue untuk berangkat bersama ke sekolah. Pada saat di dalam angkot, gue menanyakan beberapa hal yang gue alami kemarin sore ke teman-teman gue.

Quote:"Za, gue mau nanya nih. Kemarin kan si Anya sama bokapnya main ke rumah. Pas balik, dia sms kayak seneng gitu. Terus sorenya, dia tiba-tiba ngambek gitu. Kenapa ya itu anak?" tanya gue ke Eza sambil menunjukkan SMS yang Anya kirim ke gue.

"Hm, ini sih pasti lu bikin salah sama dia. Coba lu inget-inget lagi. Kemaren lu bikin salah apa ke dia?" Eza bertanya balik ke gue, yang gue jawab dengan lamunan sambil berusaha mengingat-ngingat kesalahan yang gue lakukan kemarin kepada Anya.

"Tau ah, bingung gue. Bodo amat deh," jawab gue setelah sekian menit memikirkan hal tersebut.


Beberapa saat kemudian, kami semua sampai di sekolah. Gue memisahkan diri dari teman-teman gue untuk menuju ke kelas gue. Setelah menyimpan tas, gue melihat jam tangan dan jam gue menunjukkan bahwa saat ini baru jam 06:35.

Gue pergi ke kantin untuk membeli roti dan beberapa buah gorengan untuk sekedar mengganjal perut, karena sarapan yang gue makan di rumah engga begitu memenuhi ruang di perut gue.

Saat gue sedang memakan roti, gue sempat melirik ke jalur masuk kantin dan gue melihat ada Agni dan Anya disitu. Namun, gue pura-pura engga menyadari kehadiran mereka dan memilih untuk pura-pura fokus bermain game di hp gue. Hingga pada akhirnya, sebuah panggilan dari nama kontak 'Anya' masuk ke ponsel gue. Dan belum sempat gue angkat, panggilan tersebut dimatikan. Sempat beberapa kali hal tersebut dilakukan oleh Anya. Entah memang iseng, atau memang berniat mengganggu gue bermain game. Hingga pada akhirnya, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel gue.

Quote:From: Anya
Sini lo!!!


Gue melihat ke arah Anya dan Agni duduk, dan mendapatkan Anya yang berwajah bete sedang memalingkan wajahnya dari arah gue, dan Agni yang tertawa cekikikan melihat gue.

Akhirnya, gue bawa makanan yang gue beli ke mejanya, dan duduk didepan Anya.

Quote:"Kenapa, Nya?" tanya gue.


Anya hanya diam sambil mengunyah makanannya. Gue melirik ke arah Agni dengan memberikan kode yang bermaksud 'kenapa ini anak?' dan dibalas oleh naiknya bahu Agni menandakan ia tidak tahu, diiringi oleh bibirnya yang menahan tawa karena melihat gue.

Quote:"Jadi, gue cuma disuruh ngeliatin lu makan aja, nih?" tanya gue lagi kepada Anya, yang masih belum dijawab olehnya.

"Ya udah, gue ke kelas dulu ya, Nya?" Ucapan gue langsung direspon oleh lirikan dan pelototan mata Anya ke arah gue yang seakan bilang 'mau kemana lo? Kalo gue bilang duduk, ya duduk lo!' Dan gue langsung mengurungkan niat untuk kembali ke kelas setelah melihat sorot matanya yang seperti itu. Gue, yang engga tau harus melakukan apa, hanya menghela napas dan melihat ke wajahnya. Agni tertawa semakin lebar melihat kebingungan gue.


Hingga akhirnya beberapa menit sebelum bel masuk, Anya membereskan bekas makannya dan berjalan menuju keluar kantin, diikuti oleh Agni. Dan gue buru-buru menuju salah satu penjual yang menjual cemilan, dan membeli satu batang coklat Silver Queen. Setelah membayarnya, gue mengejar Anya dan menahannya.

"Nya..." ucap gue sambil menahan lengannya dan membalikkan badannya agar menghadap gue. Dan tanpa banyak bicara, gue memberikan coklat tersebut, yang diambil oleh Anya, dan membalikkan badan gue dan berjalan menjauhi Anya untuk kembali ke kelas. Gue engga tau apa yang dilakukan Anya saat itu, tapi gue merasa dia sedang memperhatikan gue yang berjalan menjauhi dia.

Bel masuk berbunyi, dan seorang guru memasuki kelas gue. Beliau adalah guru pelajaran Bahasa Inggris, pelajaran kesukaan gue, sekaligus wali dari kelas gue di kelas 1 ini. Beliau memperkenalkan diri, namanya Bu Eva. Bu Eva memiliki paras yang cantik, dan belum menikah. Beliau adalah guru paling muda di sekolah gue. Dan jam ini dihabiskan untuk perkenalan diri dan pemilihan perangkat kelas. Nama gue, yang sudah dikenal teman-teman sekelas akibat ulah Anya kemarin, diajukan untuk menjadi ketua murid. Jelas gue menolak dengan keras, namun gue tidak bisa melakukan apapun untuk menolak keputusan tersebut karena teman-teman gue dan Bu Eva sudah terlanjur menyetujui hasil voting tersebut dan menolak untuk melakukan voting ulang.

Bu Eva mengatakan bahwa di sekolah ini, hari Kamis dan Jumat setelah MOS masih termasuk hari pengenalan terhadap lingkungan sekolah. Jadi, proses belajar mengajar baru efektif berlaku hari Senin depan. Syukurlah, batin gue. Gue belum terlalu semangat untuk belajar. Dan akhirnya, dari awal masuk hingga jam istirahat diisi oleh Bu Eva untuk menyusun perangkat kelas, jadwal piket, dan lainnya.

Beberapa menit sebelum istirahat, Bu Eva sudah kembali ke alamnya. Gue berjalan menuju kantin, memesan batagor kuah dan duduk di meja yang terletak di pojokan kantin sambil memainkan ponsel gue. Oh iya, Revi tidak masuk hari ini, gue engga tau alasannya apa. Dan absennya Revi membuat gue harus pergi ke kantin sendirian.

Saat gue sedang memakan makanan gue, ada dua orang yang tiba-tiba duduk satu meja dengan gue. Gue engga perlu melihatnya untuk mengetahui itu siapa. Gue tetap melanjutkan memainkan ponsel gue sambil sesekali menyuapkan batagor ke mulut gue.

Quote:"Tam," panggil Anya. Ya, siapa lagi yang duduk didepan gue selain Anya dan Agni.

"Hm," balas gue, cuek.


Anya tidak membalas apapun, dan gue masih berkutat dengan ponsel dan batagor gue.

Anya berdiri, dan berpindah posisi duduknya menjadi di sebelah gue. Gue meliriknya menggunakan ekor mata gue namun dengan kepala tetap menghadap ke ponsel gue, dia seperti sedang gugup ingin mengungkapkan sesuatu namun masih tertahan, terlihat dari gerakan tangannya yang tidak bisa diam memainkan jari-jarinya.

Quote:"Tam." Anya mulai bersuara, yang gue balas dengan lirikan mata gue ke arahnya, dan kembali melihat ponsel gue. Anya yang melihat hal yang gue lakukan, cuma menghela napas.

"Tama," ujarnya sambil menarik napas, "A—Aku...mau minta maaf karena udah bete-bete sama kamu," lanjutnya.

Gue ikut menarik napas, "emangnya apa sih salah gue, Nya?" tanya gue sambil melihat ke arahnya.

"Kamu engga salah kok. Cuma akunya aja yang ga jelas," jawabnya tanpa melihat ke arah gue.

"Iya, gue tau. Alasannya apa?" tanya gue kembali kepada Anya.

"Tapi kamu jangan ketawa ya?" ucapnya sambil memegang lengan gue dan menunjukkan wajah memelasnya. Gue engga menjawab, hanya memandang wajahnya. "Aku... bete gara-gara... kamu ngasih surat cinta ke Agni..."


Gue melongo. Agni juga. Gue dan Agni saling berpandangan, dan meledaklah tawa kita berdua sampai beberapa murid di kantin melihat ke arah kita bertiga.

Quote:"Hahaha, jadi gara-gara itu lu bete sama gue, Nya? jawab gue sambil masih tertawa lebar.

"Iiihh, kan kamu janji ga akan ngetawain aku! Lagian, mesra banget surat cintanya, sebel aku sama kamu! Terus, kenapa kamu ngomongnya 'gue-elu' lagi?" omel Anya sambil memajukan bibirnya, seperti merajuk yang dibuat-buat. Namun, yang dilakukannya membuatnya terlihat lebih imut di mata gue.

"Dih, aku kan ga janji buat engga ngetawain kamu! Kak Agni, jelasin gih! Gue masih pengen ngakak. Hahaha," ucap gue ke Agni sambil menahan tawa.

"Jadi gini, Anya sayang. Tama dan gue itu saudara jauh. Jadi, neneknya Tama dari pihak papanya itu adiknya kakek gue dari pihak mama. Gue tau karena waktu kecil, gue pernah kumpul keluarga besar. Tapi semenjak papanya Tama kerja di luar, gue ga pernah ketemu lagi sama dia," jelas Agni ke Anya, dan dia melanjutkan, "gue juga awalnya ga yakin, tapi pas gue tanyain ke mama, ternyata bener gue punya sodara namanya Tama. Gue coba minta nomer telponnya ke mama, terus gue telpon ke rumahnya. Eh ternyata bener dugaan gue, kalo Tama itu sodara jauh gue. Makanya dia ngirim surat cinta itu ke gue, gituu," jelas Agni panjang lebar sambil tersenyum.

"Hah? Seriusan lo, Ni? Aduh, gue malu banget, sumpah! Udah ah, gue mau balik ke kelas aja!" ucapnya sambil menutup mukanya yang memerah dengan tangannya.

"Makanya, kamu jangan bete duluan. Belum jelas juntrungannya, udah bete duluan. Dasar tembem!" kata gue sambil mencubit pipinya, "tapi kalo bukan sodaraan, aku mau deh sama kak Agni." Anya hanya melihat gue dengan tatapan tajam.

"Aku kesitu dulu bentar, Nya. Kamu tunggu dulu sebentar disini," ucap gue.

"Untung aja kamu sodaraan ya sama Agni," ujar Anya sambil menjulurkan lidahnya, yang membuat gue tertawa. "Ya udah, sana cepetan. Aku juga mau ke kelas nih," lanjutnya.


Gue berjalan menuju penjual batagor untuk membayarnya, dan berbelok ke pedagang cemilan untuk kembali membeli coklat. Gue lihat, Anya dan Agni sudah berdiri dan bersiap-siap untuk kembali ke kelasnya.

Quote:"Nya, ini buat kamu. Biar ga ngedumel melulu," kata gue seraya menyodorkan coklat kepada Anya.

"Tam, kamu pengen aku gendut ya? Ngasih coklat mulu, yang tadi pagi aja belum habis loh," ujarnya.

"Ya udah kalo gitu, buat kak Agni aja ya? Nih kak, siapa tau kakak mau," gue menyodorkannya ke Agni.

"Eh, engga. Buat aku aja. Makasih ya, Tam! Kita ke kelas dulu yah! Dadaah!" ujar Anya merebut coklat tersebut dari tangan gue. Gue hanya tersenyum melihat sifatnya yang menggemaskan itu.

[]




---
Ahh, gue rindu masa-masa dimana yang namanya masalah hidup hanya berkutat seputar tugas sekolah, dan percintaan remaja.
Diubah oleh fxckified
profile-picture
profile-picture
profile-picture
beqichot dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
You Made Me Love More
04-04-2020 12:52

6th Scene: Everything Went Well

Sudah hampir dua bulan gue bersekolah di sekolah baru ini. Gue sudah mengenal semua teman satu kelas gue, dan beberapa teman dari kelas lain. Gue juga mengenal beberapa teman dari kelas 2 dan kelas 3, karena gue mengikuti ekskul basket. Selain gue, teman-teman rumah gue seperti Eza, Erik, Ivan, Galang, dan Hadi juga mengikuti ekskul yang sama dengan gue. Sehingga, hari Sabtu yang biasanya kosong, kini gue isi dengan melakukan latihan basket.

Gue juga dapat berbaur dengan baik dengan teman-teman sekelas. Entah bagaimana awalnya, namun hampir setiap anak di kelas kami bisa kompak dan nyambung, baik dalam obrolan, ataupun dalam melakukan kegiatan. Sehingga, jika kami sedang ngobrol diluar kelas pada waktu istirahat, yang nimbrung dalam obrolan tersebut bisa berjumlah 10-15 orang. Hanya ada beberapa anak yang berbeda kumpulan dengan kami, yaitu anak-anak yang selalu membicarakan tentang mobil (pada saat itu sedang booming game Need for Speed, sehingga mendadak banyak yang tiba-tiba terobsesi dengan mobil), dan anak-anak yang selalu membicarakan game, atau bisa dibilang game freak (seperti Counter Strike, Gunbound, Warcraft, dll). Lain halnya dengan kumpulan kami, anak-anak yang membicarakan hal-hal umum, namun masih bisa diajak diskusi mengenai game juga karena sebagian besar dari kami juga bermain game, namun tidak terlalu candu.

Hanya satu hal yang dapat menyatukan semua anak laki-laki di kelas ini, yaitu video format .3gp yang didownload dari hasil menyewa komputer di warnet, dengan download speed tidak sampai 100 KB/s yang hasilnya di burn ke dalam CD (jaman dulu harga flash disk masih mahal, bos!), dan CD tersebut digilir oleh setiap anak, sampai ada 2 orang anak spesialis penyupplai .3gp, salah satunya adalah Revi. Lama-kelamaan, Revi melebarkan sayapnya hingga ke produk VCD dan DVD. Dia sering kali pergi ke pusat penjual kaset di kota gue, untuk menyupply anak-anak kelas gue dengan film dan genre baru. Gue yakin, pasti banyak readers disini yang mengalami apa yang gue alami. Ngaku lo semua! Hahaha.

Dan dalam kurun waktu hampir dua bulan ini juga, gue semakin mengenal Anya. Gue semakin kenal dengan sifatnya yang random, iseng, manja namun terkadang bisa bersikap dewasa. Sifatnya yang gue suka, dia tidak segan untuk bergerak to the point, dibandingkan memberikan kode-kode, atau menunggu orang lain untuk make a move. Contoh kecilnya adalah saat pertama bertemu dengan gue, atau saat meminta nomor gue. Seringkali pula dia menjadi pioneer dalam kegiatan-kegiatan sekolah. Sempat gue mengira dia adalah orang yang agresif, namun ternyata memang sifatnya seperti itu, dan gue menyukai itu.

Namun, ada salah satu sifatnya yang membuat gue tidak nyaman pada awalnya, yaitu sifat isengnya. Dia tidak segan untuk bercanda atau melakukan apapun untuk membuat gue menjadi pusat perhatian, baik itu di kelas, di kantin, ataupun di lapangan saat kelas gue sedang olahraga, karena gue sangat tidak nyaman dengan hal itu. Contoh kecilnya adalah saat MOS dulu. Dan dia melakukan hal tersebut murni untuk bercandaan. Namun pada akhirnya, gue bisa membiasakan diri terhadap sifat isengnya itu. Dan karena keisengannya itu, secara tidak langsung, dia dapat menumbuhkan sifat percaya diri gue dan sedikit demi sedikit meruntuhkan sifat demam panggung gue. Dan pada akhirnya gue bersyukur akan hal yang dia lakukan saat itu.

Sejauh ini, gue sudah cukup nyaman dengan hidup gue di sekolah ini. Dapat mengenal dekat Anya sang primadona sekolah, mempunyai teman-teman dan sahabat-sahabat yang nyambung, dan dijadikan tempat curhat gratisan oleh Fanny dan Dhea (teman sebangku Fanny). Sedikit banyak gue dapat mengetahui pola pikir perempuan setelah gue dijadikan tempat curhat oleh Fanny dan Dhea.

Quote:"Tam, kapan lu mau nembak Anya?" tanya Agni saat kita sedang istirahat dan makan di kantin. Entah kemana Anya saat itu. Dan pertanyaan itu sukses membuat gue tersedak kuah bakso pedas yang gue makan.

"Huk... Uhuk... Uhhh." Gue mencoba menghilangkan rasa tidak enak karena tersedak dengan memukul-mukul dada gue. "Duh, kak. Nembak dari mana. Lagian gue engga tau perasaan dia gimana ke gue. Dan juga, gue masih terlalu kecil bahas pacar-pacaran. Emangnya elu, udah tua," ujar gue ke kak Agni sambil meminum minuman gue.

"Sialan, gue cuma lebih tua setaun dari elu, kampret," ucapnya dengan muka masam. "Nih, gue kasih tau ya, Anya tuh ga pernah bersikap kayak gitu sama cowok manapun. Gue udah kenal dia dari kecil. Bahkan, gue kaget waktu liat sifat manjanya itu bisa keluar di depan elu. Selama ini gue liat dia cuma manja kayak gitu ke bokapnya doang," balasnya.

"Maksudnya? Emang kenapa kalo dia manja sama gue atau bokapnya doang?" tanya gue kebingungan.

"Pikirin aja sendiri maksud gue apa. Lu cowok. Harusnya lu paham, Tam," jawabnya kesal seraya menyudahi pembicaraan karena melihat Anya sedang berjalan ke arah kami.


Ya, gue baru menyadari. Anya bersikap manja hanya kepada gue atau papanya. Apakah hal ini menjadi pertanda bahwa dia mulai menyukai gue? Ataukah merasa nyaman sama gue? Entahlah, gue engga berpengalaman dalam hal asmara. Namun yang gue tangkap dari cerita Fanny dan Dhea selama ini, jika perempuan merasa nyaman terhadap seseorang, kebanyakan dari mereka mengeluarkan sifat aslinya dihadapan orang tersebut. Dan jika gue hubung-hubungkan, Anya suka bermanja-manja depan papanya, yang berarti memang itu sifatnya sedari kecil. Jika gue ambil kesimpulan, berarti Anya merasa nyaman dengan hadirnya gue disisinya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut sukses membuat gue tidak bisa konsentrasi selama sisa pelajaran, dan hanya melamun melihat ke langit dari jendela kelas gue. Hingga akhirnya,

TRAK, suara dari benturan benda tepat di depan gue.

Quote:"Allahu akbar!" sahut gue dengan suara keras, karena terkejut oleh sesuatu yang lewat di depan muka gue dengan sangat cepat, yang ternyata itu adalah sebuah tutup spidol yang dilempar oleh guru gue, dan membuyarkan lamunan gue yang membuat satu kelas tertawa.

"Adri Pratama! Ngeliatin apa kamu?" ujar Pak Edwin, guru Geografi kelas gue.

"Eng—engga, Pak! Engga ngeliatin apa-apa kok, Pak," jawab gue menahan kaget.

"Kamu ini, jadi KM bukannya ngasih contoh yang bener, malah ngelamun!" timpal Pak Edwin.

"Ma—maaf, Pak," ucap gue tertunduk. Masih terdengar tawa dari teman-teman gue.

"Sini kamu ke depan!"


Gue maju ke depan sambil membetulkan baju gue yang sedikit tidak rapi. Terlihat peta dunia sudah ditampilkan menutupi papan tulis. Saat di depan, Pak Edwin berkata,

Quote:"Kamu ga merhatiin kan pelajaran saya kan? Coba, tunjukkin di peta ini, dimana Ciputat!" ujar Pak Edwin.

"Hah? Ciputat, Pak? Engga akan ada dong Pak. Kan ini peta dunia, Pak," ucap gue. Ini orang mau ngerjain gue kayaknya, batin gue.

"Kalo Malioboro?" tambahnya, masih ingin mengerjai gue.

"Ga ada juga dong, Pak," kata gue pede.

"Ya udah, untung kamu paham. Pindah duduknya, jangan disitu lagi. Setiap pelajaran saya, kamu jangan duduk deket jendela!" ujarnya.

"Siap, Pak!" jawab gue sambil menuju bangku yang kosong di belakang kelas, namun jauh dari jendela.

Anyaaa, Anya. Kenapa lu bisa bikin gue jadi hilang konsentrasi gini sih, batin gue.


Bel sudah berbunyi, memasuki jam istirahat ke dua. akhirnya Pak Edwin pun keluar kelas. Akhirnya, gue bisa menghela napas lega. Gue berjalan sendiri ke kantin. Setelah memesan nasi dan chicken katsu juga jus semangka, gue duduk di meja pojokan seperti biasa.

Quote:"Hai cowok, sendirian aja nih?" ucap seseorang, yang ternyata itu Fanny.

"Oit, Fan. Sini duduk. Lu mau makan?" tanya gue.

"Iya nih, laper banget gue. Lu pesen apa?"

"Gue pesen chicken katsu noh, lumayan enak sih itu, pesen aja, mumpung kosong," jawab gue.

"Ya udah, gue pesen itu juga deh," ujarnya sambil meninggalkan kursinya. Tidak lama kemudian, dia kembali duduk di hadapan gue.

"Eh Tam, gimana lu sama kak Anya? Udah jadian? Gue liat tambah deket aja lu sama kak Anya," tanya Fanny mulai kepo, mungkin untuk bahan gosip di kelas.

"Ya gitu aja Fan, masih kayak biasa kok. Ga ada perubahan yang berarti," jawab gue cengengesan.

"Ya elah bahasa lu, Tam. Hahaha. Terus, kapan lu mau nembak dia?" tanya Fanny lagi.

"Ga tau, Fan. Gue belum tau dia gimana ke gue. Gue ga mau aja nanti kalo suatu saat harus putus, gue harus jadi menjauh dari dia. Gue udah terlanjur nyaman," ucap gue sambil mengaduk-aduk minuman gue.


Fanny hanya tersenyum aneh mendengar jawaban gue. Dan setelah itu, dia melihat ke arah lain. Seperti melamun.

Quote:"Haiii, ciee pacaran ya? Aku ganggu gak nih?" ucap seseorang mengagetkan gue, orang itu adalah Anya. Seperti biasa, dia datang berdua dengan kak Agni.

"Eh, Nya. Engga kok, duduk sini. Kamu mau makan juga?" tanya gue sambil mempersilahkan dia untuk duduk, dan dia duduk di sebelah gue.

"Iya nih, kamu pesen apa, Tam? Aku lagi pengen bakso deh," ujarnya sambil kembali berdiri dan mulai berjalan.

"Ya udah, pesen gih, aku pesen katsu tadi, ini lagi nunggu dianter makanannya," jawab gue.

"Oh iya, Tam. Aku kangen masakan restoran deh. Aku ke rumah kamu ya pulangnya? Tapi kita pake angkot aja, aku engga dijemput hari ini," pintanya.

"Ya udah ke rumah aja, berarti kamu makannya jangan banyak-banyak, tar sampe rumah aku malah kekenyangan loh, tambah tembem entar," jawab gue sambil mencubit pipinya. Gue engga pernah bosan untuk mencubit pipinya Anya. Tembem dan menggemaskan. Tapi dia juga sering membalas baik dengan cubitan di pipi juga, atau terkadang dengan gigitan di lengan gue.

"Habis kok, pasti. Nanti aku mau sekalian bungkusin buat mama sama papa ah. Pasti pada seneng," ujarnya sambil melihat ke arah gue dan tersenyum lucu.

"Eh, Nya. Kamu udah kenal belum? Nih, temen aku di kelas. Dia juga yang sering ngerecokin aku buat jadi temen curhat. Fanny namanya," ucap gue sambil menunjuk Fanny.

"Oh, hallo, Anya," ujar Anya tersenyum sambil menjulurkan tangannya ke Fanny.

"Hallo, kak Anya. Aku Fanny, temen sekelasnya Tama, yang duduknya depan Tama, hehehe," balas Fanny sambil membalas juluran tangan Anya.

"Oh iya gue inget, elu yang dulu pas perkenalan MOS nanya Tama udah punya pacar atau belum ya?" tanya Anya ke Fanny.

"Ah, iya kak. Iseng doang kok itu. Kan semuanya aku tanyain, kak. Hahaha," jawab Fanny terlihat gugup. Lalu obrolan kami terhenti oleh datangnya sosok penjual bakso yang mengantarkan pesanan Anya.

"Tam," terdengar Anya memanggil, namun dengan suara manjanya. Feeling gue ga enak, nih, batin gue.

"Hm," jawab gue

"Suapin dong," ujar Anya manja, sambil memanyunkan bibirnya dan mengedip-ngedipkan matanya. Tuh kan, bener.

"Ya udah sini aku suapin. Pake sendok tembok tapi ya?" canda gue, yang dibalas dengan rajukannya.


Gue melihat dua orang dihadapan kami ikut tersenyum melihat tingkah Anya. Namun, yang gue dan Anya tidak sadari, bahwa salah satu dari mereka mengembangkan senyum itu dengan terpaksa. []

Diubah oleh fxckified
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ZenCrows dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
You Made Me Love More
05-04-2020 12:27
ngelapak dl
nanti ku baca dah
ane jg sama gan cadel. dan nama ane pun ridwan
jd ya gtu lah
profile-picture
beqichot memberi reputasi
1 0
1
You Made Me Love More
05-04-2020 12:33
jejak dlu emoticon-2 Jempol
profile-picture
beqichot memberi reputasi
1 0
1
You Made Me Love More
05-04-2020 13:18
ikut nimbrung yah gan. keep update dan jangan ampe kentang yah emoticon-Jempol emoticon-Goyang
profile-picture
profile-picture
beqichot dan tomie210586 memberi reputasi
2 0
2
You Made Me Love More
05-04-2020 14:38
Quote:Original Posted By wawaw17
ngelapak dl
nanti ku baca dah
ane jg sama gan cadel. dan nama ane pun ridwan
jd ya gtu lah


silahkan gan
iya gan, kalo cadel suka jadi bahan becandaan temen-temen ye, sialan emang emoticon-Berduka (S)

Quote:Original Posted By theprodigy.
jejak dlu emoticon-2 Jempol


silahkan gan, jangan lupa siapin kopi sama cemilannya emoticon-coffee

Quote:Original Posted By alvien70
ikut nimbrung yah gan. keep update dan jangan ampe kentang yah emoticon-Jempol :goyang


silahkan gan, diusahakan update selalu. semoga trit ane ga obral kentang ya emoticon-Ngakak (S)
profile-picture
beqichot memberi reputasi
1 0
1
You Made Me Love More
05-04-2020 15:08
btw, suhu-suhu disini kalo punya kritik atau masukan terkait dengan penulisan atau jalan cerita, boleh ditumpahkan disini ya. biar ane bisa menulis dengan baik hehe.
profile-picture
beqichot memberi reputasi
1 0
1
You Made Me Love More
05-04-2020 15:14
Semoga tetap update gan.
Ceritanya sangat menarik apalagi sempat bahas HP kenangan dimasanya😁😁😁
profile-picture
beqichot memberi reputasi
1 0
1
Post ini telah dihapus oleh azhuramasda
You Made Me Love More
05-04-2020 18:08
Quote:Original Posted By fxckified


silahkan gan
iya gan, kalo cadel suka jadi bahan becandaan temen-temen ye, sialan emang emoticon-Berduka (S)


ane dlu di ejek nya ama temen SMP suruh bilang duua ribu nanti di kasih uang 2rb klo bisa bilang. haha. itu taun 2007 mungkin

profile-picture
profile-picture
beqichot dan fxckified memberi reputasi
2 0
2
You Made Me Love More
05-04-2020 18:21
Quote:Original Posted By wawaw17
ane dlu di ejek nya ama temen SMP suruh bilang duua ribu nanti di kasih uang 2rb klo bisa bilang. haha. itu taun 2007 mungkin


jahat sih ini tapi gue ngakak emoticon-Ngakak (S) ahahaha.
profile-picture
beqichot memberi reputasi
1 0
1
You Made Me Love More
05-04-2020 18:35
Quote:Original Posted By fxckified


jahat sih ini tapi gue ngakak emoticon-Ngakak (S) ahahaha.


ya seengganya bisa bikin orang ketawa. jgn ada kentangg antara kite gan
profile-picture
beqichot memberi reputasi
1 0
1
You Made Me Love More
05-04-2020 18:36
Numpang komen gan...
semoga tidak ada kentang diantara kita waseeeeekemoticon-Bettyemoticon-Betty
profile-picture
beqichot memberi reputasi
1 0
1
You Made Me Love More
05-04-2020 19:36

7th Scene: That Unforgettable Noon

Siang ini, sepulang sekolah, Anya menepati ucapannya untuk bermain ke rumah gue. Awalnya gue menolak, namun Anya menelpon papanya dan bilang bahwa papanya sudah mengizinkan dan papanya akan menjemputnya di rumah gue. Gue engga bisa menolak lagi.

Sesampainya dirumah, kita berdua masuk ke restoran dulu untuk memesan makanan dan meminta untuk diantarkan ke dalam rumah. Sempat kami bertemu dengan nenek dan tante gue yang terlihat sedang sibuk karena pembeli di restoran ini sedang penuh-penuhnya. Gue meminta kunci gerbang ke nenek gue.

Setelah masuk dan duduk di ruang tamu, gue meminta izin untuk mengganti baju terlebih dahulu ke Anya. Beberapa saat kemudian, kami asik mengobrol hingga salah satu karyawan nyokap datang mengantarkan makanan kepada kami. Anya makan dengan sangat lahap. Sebenarnya gue juga heran dengan tubuhnya Anya. Kami berdua makan sama banyaknya, namun tubuh kami sama-sama menolak untuk naik berat badannya. Mungkin bagi gue, ini adalah keanehan. Namun bagi Anya, hal ini adalah anugrah. Dia tidak perlu takut untuk makan dan menjadi kelebihan berat badan, sehingga tidak perlu repot-repot untuk melakukan diet.

Setelah makan dan duduk karena kekenyangan, gue dan Anya melanjutkan ngobrol-ngobrol mengenai teman-teman kami, dan bergosip mengenai mereka emoticon-Ngakak (S). Dan gue teringat kejadian yang dilakukan teman rumah gue kurang lebih satu bulan yang lalu.

Quote:Original Posted By Flashback
Saat itu gue baru akan pulang menggunakan angkot bersama teman-teman rumah gue dan pacarnya Erik yang baru berjalan kurang lebih 1 minggu. Ya, Erik sudah mempunyai pacar sekarang. Dengan masa PDKT hanya 3 hari, Erik berhasil menggaet salah satu teman sekelasnya. Saat kami berjalan menuju angkot, Pacarnya Erik, sebut saja Tasya, memberikan hasil photobox kepada Erik yang baru dilakukannya kemarin. Namun, Erik seperti buru-buru mengambil dan menyembunyikan hasil foto tersebut dari tangan Tasya. Gue dan teman-teman gue yang curiga, segera merebut foto tersebut dari tangan Erik sebelum sempat disembunyikannya. Lalu terlihat di foto tersebut, mereka foto berempat, yaitu Erik, Tasya, dan kedua teman Tasya. Namun, menurut gue pribadi, yang membuat Erik ingin segera menyembunyikan foto tersebut adalah karena di salah satu foto tersebut, terlihat Erik dan Tasya berciuman. Pada saat itu, gue masih engga menyangka bahwa mereka berani melakukan hal tersebut. Kelas 1 SMP, berciuman di photobox didepan teman-temannya, dan foto tersebut dipilih untuk dicetak.

Mulai timbul niat iseng kami. Kami mengoper-ngoper foto tersebut, dan salah satu dari kami menyembunyikannya. Lalu Eza memulai keisengannya.

Quote:"Kalau fotonya mau balik, praktekin dong yang lu lakuin di foto itu," ujar Eza.

"Gila, ga mau, lah. Sini balikin cepetan," jawab Erik yang panik dan takut fotonya hilang dan tersebar.

"Yee, makanya praktekin dulu. Kalo ga dipraktekin, besok fotonya udah nempel di mading," kata Galang yang disambut oleh tawa kami.

Dan tanpa banyak bicara, Tasya yang dari tadi hanya memperhatikan kami, berjalan menuju ke arah Erik dan mencium bibirnya.


Kami semua yang melihatnya otomatis terdiam. Bahkan Erik sendiri kaget dengan yang dilakukan oleh pacarnya itu. Mungkin hal tersebut bukanlah hal yang aneh, dan mungkin juga termasuk lumrah dilakukan oleh remaja tanggung seumuran kami. Namun, yang kami tidak sangka adalah bahwa Tasya berani untuk melakukan hal tersebut di pinggir jalan, meskipun ciuman tersebut tidak sampai 2 detik, dimana banyak orang dan kendaraan berlalu-lalang.

*sampe saat ini, hal ini kadang masih jadi bahan bercandaan gue dan temen-temen gue kalo lagi kumpul.


Gue menceritakan hal tersebut ke Anya. Anya hanya melongo mendengarnya, mungkin dia tidak menyangka bahwa akan ada anak SMP yang nekat berbuat seperti itu.

Quote:"Temen kamu kok berani sih?" tanya Anya.

"Bukan temen aku kali, itu sih pacarnya. Temen akunya sih cuma bengong pas pacarnya cium dia," jawab gue.

"Ya temen kamu juga dong, kan kamu kenal sama orangnya," ujarnya.

"Aku juga baru kenal hari itu kok, kalo temen-temenku yang lain sih udah kenal Tasya dari awal masuk. Keliatannya emang agak nakal sih dia. Pake rok pendek (jaman gue sekolah, rok 5cm diatas lutut itu termasuk pendek banget), baju seragam atasnya ga dikancingin, lengannya juga pendek banget, mana centil yang caper gitu lah ke semua orang," kata gue.

"Semua orang? Termasuk ke kamu juga?" tanya Anya.

"Ga tau, aku ga perhatiin. Ga peduli juga kalo dia caper ke aku. Yang jelas sih, ke Eza sama Galang dia caper gitu," jawab gue.


Anya hanya diam mendengarkan gue sambil menggenggam tangan gue dan menyenderkan kepalanya di bahu kanan gue. Ya, Anya sering menggenggam atau merangkul tangan gue saat kami sedang jalan berdua, kecuali jika kami sedang berada di lingkungan sekolah.

Pernah beberapa kali teman kami memergoki kami saat sedang jalan berdua di luar lingkungan sekolah, sehingga gosip tentang kami pun beredar luas di sekolah. Namun, setiap ada orang yang menanyakan masalah status kami, kami hanya menjawabnya dengan senyuman.

Quote:"Tam," panggilnya sambil memainkan ponsel gue.

"Hm?" jawab gue.

"Nengok sini deh." Anya menyuruh gue untuk melihat ke arahnya.

"Ap—," ucap gue menolehkan wajah gue ke arahnya. Namun, ucapan gue seketika terhenti, karena, tanpa berkata apapun, Anya menempelkan bibirnya di bibir gue.


Gue yang terkejut, bisa merasakan detak jantung gue naik drastis berkali lipat. Bahkan gue yakin bahwa Anya bisa merasakan degupan jantung gue saat itu. Dan gue, yang kebingungan dan tidak tau harus melakukan apa, hanya bisa diam dan melihat ke arah matanya yang tertutup. Perlahan gue pun menutup mata gue, mengikuti apa yang dilakukan Anya.

Setelah sekian detik, entah sekian menit gue engga tau, karena gue merasa waktu berjalan sangat lambat saat kami melakukan hal tersebut, perlahan Anya melepaskan pagutannya di bibir gue. Gue melihat senyuman tersungging di bibir tipisnya. Sekilas gue lihat pipi tembemnya bersemu merah. Lalu, Anya kembali menutup matanya dan kembali mendekatkan bibirnya ke arah bibir gue.

Gue pun mengikuti Anya untuk menutup mata gue dan menyentuhkan bibir gue ke bibirnya. Gue merasakan lidah Anya membasahi bibir gue, dan seperti memaksa masuk ke mulut gue. Gue membuka sedikit bibir gue, dan akhirnya lidahnya menyeruak masuk ke rongga mulut gue. Detak jantung gue bertambah lebih cepat lagi, dan waktu semakin terasa lambat bagi gue. Tangan Anya menekan tengkuk gue ke arahnya, dan tanpa gue sadari, ternyata sedari tadi tangan gue sudah memeluk Anya dan gue semakin mengeratkan pelukan gue ke Anya.

Anya melepaskan ciuman tersebut saat dia merasa kehabisan napas, terlihat dia sedikit memburu napas sesaat setelah melepaskan ciuman tersebut. Masih dalam pelukan gue, gue liat wajahnya menunduk, dan pipinya memerah. Sangat lucu dan menggemaskan.

Quote:"Tam..." panggilnya. Dan gue, yang masih berada dalam state of shock, a pleasant kind of shock, obviously, menghiraukan panggilannya tersebut.

"Tamaaa iiihh," panggilnya lagi sambil memeluk tubuh gue.

"Bentar, Nya. Aku masih speechless. Aku ga mimpi kan ini?" ujar gue sambil memandang wajahnya yang sedang melihat lurus ke depan. Gue lihat dia tersenyum lebar.

"Tam, aku deg-degan banget, serius deh. Itu pertama kalinya buat aku," ujarnya sambil semakin mengeratkan pelukannya, dan senyumnya semakin mengembang.

"Sama, Nya. Ini juga pertama buat aku. Jangankan buat ciuman, buat deket sama cewek aja, ini pertama kalinya. Aku deg-degan banget. Sampe speechless gini, ga tau mau ngomong apa," ujar gue seraya mengelus kepalanya. "Lagian kok bisa-bisanya tiba-tiba nyium aku?" tanya gue.

"Aku juga bingung, Tam. Tapi karena denger cerita kamu tentang temen kamu, aku jadi penasaran gimana rasanya. Hehe," ujarnya tersenyum lucu.


Gue hanya membalas senyumnya, dan Anya membenamkan wajahnya di dada gue sambil memeluk gue. Gue enggan untuk melepaskan pelukan gue di tubuhnya barang sedetik pun, dan nampaknya Anya pun begitu. Kami benar-benar terdiam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, sepertinya otak kami sibuk dengan hal yang berkecamuk di pikiran masing-masing. Apakah ini yang disebut dengan rasa sayang? Ini bukan pertama kalinya gue menyukai seseorang, namun ini pertama kalinya gue memiliki rasa sebesar ini terhadap seseorang. Dan gue juga bisa merasakan rasa kasih sayang yang Anya berikan mengalir lewat sandaran dan pelukannya itu.

Lalu kami dikagetkan oleh dering suara yang berasal dari ponsel milik Anya. Ternyata itu dari papanya Anya, yang mau menjemput Anya dan mengabarkan bahwa 15 menit lagi beliau sampai di rumah gue.

Quote:"Tam," panggil Anya.

"Ya?" jawab gue singkat.

"Aku ga mau pulang rasanya. Pengen di sini terus. Pengen peluk kamu terus, sama pengen..." ucapannya terhenti, bibirnya tersenyum malu.

"Sama pengen apa? Hm?" tanya gue sambil menyunggingkan senyum juga.

"Umm... pengen... cium kamu terus, hihi," ujarnya sambil kembali membenamkan wajahnya di dada gue dan memeluk gue. Mungkin dia malu mengungkapkannya, namun seperti yang pernah gue bilang, dia adalah orang yang tidak suka memberi kode. Dalam arti kata lain, dia suka berkata blak-blakan.

"Yee, dasar. Kamu maling keperjakaan bibir aku, tau," kata gue, sambil mengelus rambutnya. "Bukan cuma ciuman, tapi pelukan sama gandengan tangan juga, semuanya pertama kalinya sama kamu," lanjut gue.

"Sama, aku juga gitu. Yang pertama kali meluk dan cium aku, ya kamu," ucapnya, "ga tau kenapa, aku berani ngelakuinnya sama kamu. Padahal, kalo liat orang ciuman di tv aja, aku suka malu sendiri, sama deg-degan sendiri. Apa lagi kalo nonton tvnya pas lagi ada orang tua aku. Pengen ngumpet rasanya setiap ada adegan ciuman," lanjutnya. Gue tertawa lebar mendengan penuturannya.

"Tapi, Nya..." ucap gue menggantung.

"Kenapa, Tam?" Anya mendongakkan wajahnya melihat gue.

Gue melihat wajahnya yang lucu dan polos itu, "rasanya gimana? Enak ya?" tanya gue sambil tertawa kecil. Anya melepas pelukannya dan memukul pelan dada gue sambil tertawa kecil. Lalu ia memeluk gue kembali.

"Rasanya? Umm, ya gitu deh. Susah dijelasin, Tam. Hihi," jawabnya sambil tertawa kecil.

"Ya udah, yuk, siap-siap. Papa kamu sebentar lagi nyampe kan?" kata gue sambil melepas pelukan dan seraya berdiri, lalu menarik tangannya untuk ikut berdiri juga.

"Sebentar dulu, mau peluk lagi," ujarnya manja sesaat setelah berdiri. Dengan tinggi badan yang cukup jauh antara gue dan Anya, sangat nyaman rasanya untuk memeluknya. "Tam, kamu jangan jauh-jauh ya dari aku. Aku ga mau kalo harus jauh dari kamu. I beg you, don't leave me, ever," lanjutnya di pelukan gue.

"Iya, Nya. Kamu juga jangan kemana-mana ya, semoga kamu bisa tetep di samping aku," ucap gue sambil memeluknya gemas, dan melepaskan pelukan gue. Dan entah keberanian dari mana, gue menundukkan kepala gue, menarik dagunya, dan kembali mencium bibirnya, namun hanya sekilas kali ini. Anya tersenyum melihat apa yang gue lakukan kepadanya.

"Yuk, ke depan, sekalian ambil pesenan kamu dulu di restoran," kata gue sambil menarik tangannya.


Tidak lama kami menunggu papanya Anya. Gue sempat mengobrol dan mengajak masuk papanya Anya dulu, namun papanya menolak, sudah terlalu sore, katanya. Gue menyalami dan mencium tangan papanya sebelum Anya dan papanya pulang.

Tidak sampai 15 menit kemudian, datang sebuah sms dari Anya.

Quote:From: Anya
Tam, mksh bgt ya buat hri ini. Ak g akn prnh bisa lupain hri ini. Mksh bgt bgt bgt. Ak syg km, Tam.


Gue sedikit terkejut membaca sms tersebut. Namun, rasa terkejut tersebut segera hilang dan digantikan oleh rasa senang karena penuturan Anya. Gue balas smsnya.

Quote:To: Anya
Iya, Nya. Mksh jg buat hari ini. Ak jg ga akan prnh lupain siang ini. Ak jg syg kamu, Nya.


Gue kirim sms tersebut diiringi oleh senyuman yang lebar di bibir gue.

Tidak lama kemudian, masuk kembali sebuah sms ke ponsel gue.

Quote:From: Anya
Hihihi, nti mlm aku telp ya. Ak mau mndi sm mau istrht dlu. Btw, foto di gallery udh diliat blm? Jgn d hps y, kenang2an! I love u, adik kelasku!


Foto? Foto apa? Seingat gue, kita berdua engga foto-foto hari ini. Gue buru-buru membuka gallery gue, dan gue terkejut menemukan 4 buah foto yang baru saja diambil tadi siang. Dan ya, foto itu adalah foto gue berciuman dengan Anya yang diambil olehnya.

***

Keesokan harinya, gue terbangun dari tidur dengan wajah yang berseri-seri. Bagaimana tidak, perempuan yang selama ini dekat dengan gue dan ada di samping gue, mengatakan bahwa dia menyayangi gue. Dan tanpa disangka-sangka, dia memberikan first kissnya untuk gue, bahkan sebelum dia menyatakan bahwa dia menyayangi gue. Apakah hari kemarin itu hanya mimpi? Ataukah kenyataan? Rasanya gue hampir gila kalau mengingat kejadian kemarin sore.

Gue mengambil ponsel gue yang tengah dicharge. Gue mengirimkan pesan singkat kepada Anya.

Quote:To: Anya
Rise and shine, sleepy head! And have a great day!"


Setelah mengirim pesan tersebut, gue membuka gallery di ponsel gue. Dan ternyata foto yang kemarin diambil oleh Anya masih terdapat di ponsel gue. Berarti bukan mimpi, batin gue. Mendadak, gue merasakan semangat yang tinggi untuk pergi ke sekolah.

Sesampainya di sekolah, gue menaruh tas dan merebahkan kepala gue di meja. Belum 5 menit gue menutup mata, gue merasakan getaran yang dikeluarkan oleh ponsel gue.

Quote:From: Anya
Syg, sini k kntin. Ak bikinin sarapan buat km.


Gue tersenyum lebar saat membaca pesan singkat tersebut. Tanpa berpikir panjang, gue bergegas untuk segera ke kantin dan menemui Anya.

Di meja pojok, meja pertama kalinya gue duduk bersama Anya dan Agni, gue menemukan ada dua sosok perempuan disitu. Ternyata Anya dan Agni sudah menunggu gue di meja tersebut.

Quote:"Hai, Nya. Hallo, kak Agni," sapa gue dengan senyum sumringah kepada mereka.

"Halo, Tam. Nih, sarapan buat kamu. Aku bikin ini loh tadi pagi, khusus buat kamu," ucap Anya kepada gue.

"Waah, harusnya sih ga usah repot-repot, Nya. Tapi makasih banget ya! Aku coba ya makanannya?" jawab gue sambil membuka tempat makan yang diberikan Anya.


Nasi goreng. Bukan menu yang mewah, namun yang membuatnya terasa spesial adalah saat gue tau bahwa itu Anya sendiri yang membuatnya.

Quote:"Wah, enak! Kamu bakat jadi tukang nasi goreng, Nya! Kamu bisa masak?" canda gue.

"Masa jadi tukang nasi goreng doang sih? Kalo jadi chef sih ga apa-apa," ucapnya merajuk, "aku bisa kok masak beberapa menu, bukan menu yang ribet sih, paling ayam dan sayur-sayuran. Makanannya dihabisin ya, sayang! Aku mau beli minum dulu," lanjutnya sambil berdiri dan berjalan menuju penjual minuman.


Agni yang mendengar percakapan kami, hanya tersenyum. Gue curiga melihat senyumannya yang seperti itu.

Quote:"Duh, sodara gue udah gede ya sekarang," ucap Agni kepada gue.

"Hm? Maksudnya gimana, kak?" tanya gue, penasaran.

"Ya udah gede. Udah bisa sayang-sayang sama cewek. Udah bisa peluk-pelukan. Udah bisa cium-ciuman juga. Dasar. Gue laporin lu ke nyokap lu!" ancamnya sambil tertawa.


Gue kaget dengan apa yang dikatakan Agni, sampai membuat gue tersedak nasi goreng yang sedang gue makan. Melihat gue yang tersedak, Anya buru-buru mendatangi gue dan memberikan minum yang barusan dia beli.

Quote:"Duuh, makannya pelan-pelan dong, Tam. Jangan buru-buru, dikunyah dulu nasinya. Lagian kenapa sih bisa sampe keselek gitu?" tanya Anya sambil memijat punggung gue.

"Uhuk... Ga apa-apa kok, seret doang barusan," jawab gue menyangkal.

"Bohong tuh, Nya. Barusan gue bilang, sodara gue udah gede. Udah bisa sayang-sayangan, pelukan, ciuman, makanya dia jadi keselek," timpal Agni yang membuat gue hampir tersedak kembali, Anya mendadak melongo mendengarnya, "gimana rasanya, Tam? Enak?" tanyanya sambil tersenyum jahil.

"Hah? Ra—rasa apa maksudnya, kak?" tanya gue ke Agni, gugup.

"Itu, rasa nasi gorengnya. Gimana, enak?" tanyanya sambil menahan tawa.

"O—oh, enak kok, enak banget, kakak mau?" jawab gue.

"Kalau rasa bibirnya Anya gimana? Enak juga ga?" Pertanyaan tersebut sukses membuat gue tersedak kembali, membuat Agni tertawa terbahak-bahak, dan membuat wajah Anya semakin merah.

Setelah tenggorokan gue aman, gue bertanya ke Agni, "lagian kok kakak bisa tau sih hal private kayak gitu?" tanya gue sewot.

"Gue lagi pinjem hpnya Anya mau nebeng sms, eh banyak sms dari elu, iseng aja gue baca. Isinya ngomongin foto gitu, gue penasaran kan, gue buka gallerynya, eh taunya ada foto kalian lag—"

"Stop! Nya, kamu kirim ke hp kamu juga fotonya?" tanya gue ke Anya. Anya hanya mengangguk sambil menunduk. Pipinya merah. Sepertinya dia menahan malu karena ketahuan oleh Agni.

"Elu sih kak, pake buka-buka gallery orang segala. Privasi tau!" gue ngedumel ke Agni.

"Dih, kok nyalahin gue. Salahin tuh pacar lu, kenapa nyimpen foto-foto itu di hpnya. Masih mending gue yang liat. Kalo orang lain gimana?" balas Agni tidak kalah sewot.

"Hahhhhh," gue menghela napas. "Awas aja kalo lu comel, kak, gue pites lu biar tambah pendek," ujar gue, "yaudah, gue mau ke kelas dulu ya, sebentar lagi masuk nih, gue duluan ya, kak. Anya, makasih banyak ya sarapannya. Sumpah enaak banget, ga boong deh," lanjut gue sambil mengelus rambut Anya, yang dibalas dengan senyuman olehnya.

"Semangat ya, sayang! balas Anya sambil tersenyum genit, lalu mencubit pipi gue.


Salah satu penilaian gue mengenai Anya yang awalnya sudah gue cabut, gue tarik kembali. Ternyata, Anya memang agresif. []





---
Nb: Sampe sekarang, foto itu masih ada di laptop gue. Setiap gue ganti komputer atau laptop, file yang paling pertama gue pindahin adalah foto itu emoticon-Big Grin
Diubah oleh fxckified
profile-picture
profile-picture
profile-picture
daniadi123 dan 7 lainnya memberi reputasi
8 0
8
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Halaman 1 dari 9
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
api-dendam-di-tanah-pringgading
Stories from the Heart
Stories from the Heart
milk--mocha
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
B-Log Personal
cipt-papatbob
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia