Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
278
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e815d4910d2950d5925d63f/setengah-hijrah
Bab1 (Kandas) Menjadi mahasiswi tingkat akhir, aktivis kampus yang mencintai dunia fotografi dan juga musik. Ia cukup dikenal oleh penduduk kampus, baik teman-teman maupun dosen karena aktifnya dalam setiap kegiatan di kampus. Ia memiliki semuanya. Paras yang cantik, tinggi semampai, berkulit putih bersih. Hanya satu kekurangannya, rambutnya tergerai panjang, Ia belum mengenakan hijab, dan masih
Lapor Hansip
30-03-2020 09:45

Setengah Hijrah

Past Hot Thread
icon-verified-thread
Bab1 (Kandas)

Menjadi mahasiswi tingkat akhir, aktivis kampus yang mencintai dunia fotografi dan juga musik. Ia cukup dikenal oleh penduduk kampus, baik teman-teman maupun dosen karena aktifnya dalam setiap kegiatan di kampus.

Ia memiliki semuanya. Paras yang cantik, tinggi semampai, berkulit putih bersih. Hanya satu kekurangannya, rambutnya tergerai panjang, Ia belum mengenakan hijab, dan masih kerap kali memakai pakaian yang cukup ketat. Ia seorang gadis yang cerdas juga kritis, memiliki ambisi yang kuat dalam setiap tujuan.

Memiliki seorang kekasih yang cukup populer di kampus. Nando, seorang vokalis band, yang juga merupakan presiden Badan Eksekutif Mahasiswa.

Semua orang mengenal mereka, sejoli yang dianggap begitu sempurna. Mereka memiliki segalanya.

"Yang," sapa Nando. Saat mereka sedang makan siang di sebuah restoran cepat saji di pusat kota.

"Iya, Yang."

"Aku mau ngomong sesuatu, tapi jangan marah," ucapnya ragu, sambil mengaduk-aduk kopi arabika favoritnya.

"Kenapa?" tanya Lisa sambil mengubah posisi duduknya yang sebelumnya bersisian kini menghadap Nando.

"Emm, nggak jadi, deh."

"Kenapa?"

"Gak apa, Sayang."

Lisa mendengus kesal.
"Oh iya, nanti malem bisa anterin aku?"

"Mau kemana?"

"Belanja."

"Maaf, aku nggak bisa," tolaknya.

"Kenapa? Mau nganter Mama lagi? Sakit perut lagi? Futsal? Atau ...." Lisa menggantung kata-katanya, membuat Nando menjadi salah tingkah.

"Atau apa? Kamu jangan mikir yang aneh-aneh, deh," ujar Nando makin gugup.

"Emm ... kemaren aku liat ada cowok mirip kamu, lagi sama cewek keluar dari Mall. Ya ... cuma mirip, sayangnya mirip banget."

"Kamu apaan, sih," ujar Nando makin salah tingkah.

"Jujur sama aku! Apa ada cewek lain selain aku?" Lisa mulai geram.

"Apa sih, Yang. Kamu tuh jadi orang curigaan terus, lama-lama aku ga kuat, aku juga butuh kebebasan."

"Bebas?" Lisa tertawa.

"Bebas jalan sama cewek baru kamu?" timpal Lisa.

"Udah lah, Yang. Aku capek."

"Ya udah. Putus aja. Biar kamu bisa jalan sama selingkuhan kamu itu."

"Oke, kalo itu mau kamu."

Lisa tak menyangka, jika ancamannya justru menjadi boomerang baginya. Maksud hati ingin Nando sadar dengan memberikan ancaman, dan memberikan penjelasan serta meminta maaf. Namun tak disangka, justru Nando menyetujui untuk berpisah dengan Lisa.

***

Lisa patah hati. Ia tak datang ke kampus, memilih untuk menangis di kamar kost, melampiaskan segala luka dalam hatinya. Memutar lagu mellow nan sedih, berharap merasa memiliki teman senasib, nasib patah hati.

Tari, teman sekamar Lisa mencoba membujuk, namun gagal. Tari belum mengetahui, mengapa Lisa bisa seperti ini. Lisa adalah gadis yang ceria, tak pernah bermuram durja, dan selalu terbuka jika memiliki masalah. Namun kali ini, Lisa terlihat berbeda. Tari hanya bisa menduga, bahwa sahabatnya sedang memiliki masalah yang cukup pelik.

"Lis ... lo kenapa, sih? Berantem ya, sama Nando?"

"Lis, makan dong ... entar sakit, gimana?"

"Lis ... udah dong nangisnya, cerita sama gue, lo kenapa?"

Pertanyaan serupa lainnya masih belum membuat Lisa mau membuka mulutnya untuk bercerita. Dari sorot mata Lisa, banyak hal yang Ia simpan, namun entah dari mana harus memulai untuk menceritakan.

"Ini ada nasi kotak. Entar kalo laper lo makan, ya? Gue taro sini," ujar Tari meletakkan nasi kotak d atasi nakas, lalu meninggalkan Lisa.

Tari merasa khawatir, karena Lisa sudah hampir dua hari tidak makan, hanya minum air putih saja.

Sedangkan Lisa merasakan lambungnya mulai perih, Ia baru menyadari bahwa sudah hampir dua hari tidak makan. Ia melirik nasi kotak, memerhatikan sekeliling, Tari sudah tak ada. Dibukanya nasi kotak, ada dua potong ayam bakar bagian dada dan paha, sambal juga lalapan, sangat menggugah selera, juga dua cup jus mangga juga jus alpukat. Tari memang paling paham dengan makanan favoritnya.

Lisa menikmati hidangan dengan sangat lahap, bahkan disuapan terkahir, Ia sampai menjilat jemarinya sampai bersih. Dua cup jus juga sudah habis.

Tari tersenyum simpul melihat tingkah sahabatnya itu, sedari tadi Ia menahan tawa, memerhatikan Lisa dari balik jendela tanpa Lisa sadari.

"Ehem ... laper apa doyan, Bu?" goda Tari tiba-tiba masuk kamar. Membuat Lisa tersedak karena kaget.

"Uhuuuk ... uhuuk ... uhuuk ...." Disodorkan segelas air putih pada Lisa.

"Lo ngagetin aja sih, Tar. Kalo gue kenapa-kenapa gimana coba?"

"Sorry ... tapi 'kan lo nggak kenapa-kenapa," ujar Tari terkekeh.

"Rese', lo."

"Udah kenyang? Bisa cerita dong?"

Ia hanya bisa membuang napas kasar, lalu memandang Tari dengan tatapan nanar.

"Taaarr ...." Ia kembali menangis, semakin Tari bertanya, maka semakin menjadi tangisnya.

Lisa larut dalam tangisnya, masih dalam pelukan Tari, ditumpahkan semua rasa sakit. Tari membiarkannya menangis, lalu mengusap punggungnya, menenangkannya, meski tangisnya tak kunjung reda.

"Udah dong, Lis. Jangan nangis aja, nggak capek satu jam nangis?"

"Tar ... Gue pegel, nih," ujar Tari meringis

Lisa merenggangkan pelukannya, mengerucutkan bibirnya.

"Ah ... lo mah, 'kan lagi enak-enaknya nangis," ujar Lisa.

"Ya pegel gue, Lis. Lo berat sih, capek nahan badan lo, hehehe," serunya diriingi tawanya yang berderai.

"Lo kenapa, sih? Cerita, dong," bujuk Tari.

"Sa-sakit, Tar," ujarnya terisak.

"Kenapa? Cerita dulu sama gue. Mau ke dokter?"

"Gu-gue pu-putus. Huuuaaaa ...." Tangisnya makin menjadi.

***
Setengah Hijrah
Diubah oleh novikikirizkia
profile-picture
profile-picture
profile-picture
NadarNadz dan 45 lainnya memberi reputasi
46
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 8
Setengah Hijrah
30-03-2020 09:48
Diubah oleh novikikirizkia
profile-picture
profile-picture
profile-picture
adediana dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Setengah Hijrah
30-03-2020 09:48
Hijrahlah karena Allah
profile-picture
profile-picture
profile-picture
adediana dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Setengah Hijrah
30-03-2020 19:40
emoticon-Turut Berdukaemoticon-Turut Berdukaemoticon-Turut Berduka
profile-picture
profile-picture
profile-picture
adediana dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Setengah Hijrah
30-03-2020 21:51
Quote:Original Posted By thomasshelby โ–บ
emoticon-Turut Berdukaemoticon-Turut Berdukaemoticon-Turut Berduka


emoticon-No Hope
profile-picture
profile-picture
profile-picture
adediana dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Setengah Hijrah
31-03-2020 10:04

Setengah Hijrah (#2 Sebuah Fakta)

BAB 2 (Sebuah Fakta)

Patah hati ternyata cukup menguras energi. Putus dengan Nando membuat luka yang cukup dalam. Lisa hampir seperti orang gila, mungkin rasa cintanya terlalu dalam, atau hanya terbiasa melakukan apapun bersamanya? Atau karena takut pamornya di kampus menjadi turun?

Cukup sudah hampir dua minggu ini seperti zombie, skripsi yang terbengkalai. Wajah yang kuyu, berat badan turun lima kilogram. Sungguh menyedihkan.

Minggu pagi Ia putuskan untuk jogging, menikmati udara segar di pagi hari. Barangkali menemukan semangat baru untuk melanjutkan hidup dan menyatukan kembali puing-puing hati yang runtuh karena Nando.

Sayang sekali, Tari tidak bisa menemaninya jogging karena masih mengantuk, selepas subuh dia kembali meringkuk dengan bantal dan selimut. Berlari santai sambil menikmati udara segar di pagi hari cukup menyenangkan, terasa lebih nyaman.

Hamparan rumput hijau di sekeliling taman, juga bunga-bunga yang mulai bermekaran, di pinggir jalan, terdapat beberapa gerobak etalase dorong, penjual makanan dan minuman. Hari libur memang biasanya pengunjung taman lebih ramai. Ada yang berolahraga atau pun hanya bersantai di bawah pohon rindang.

Taman ini sering di sebut Taman Cinta, padahal nama aslinya adalah Taman Tjikini. Mungkin karena sering menjadi objek untuk bersantai para pasangan ataupun keluarga, sehingga lebih di kenal dengan Taman Cinta.

Sudah hampir satu jam, Lisa mengelilingi taman cinta, Ia memutuskan untuk beristirahat sejenak dengan meminum air putih yang dibawanya dalam botol. Meluruskan kaki yang lumayan pegal karena sudah lama tidak berolahraga.

"Uhhuuuk ... uhuuuk ... uhhuukk ...."

Ia tersedak, saat sepasang netranya menatap dua anak manusia sedang berolahraga dengan santainya. Begitu akrab, selayaknya sepasang kekasih.

Nando ... dan seorang wanita yang dilihatnya saat keluar dari Mall beberapa waktu lalu. Benar dugaannya, Nando memiliki wanita lain.

Krucuuk ... krucukk ....

Disiramnya Nando dengan air dalam botol minumnya saat sedang asyik bercengkrama dengan wanita itu.

"Woy ... apaan sih," ujarnya kesal sambil mengibaskan rambut dan pakaian yang basah. Lalu menoleh ke arahku.

"Li-lisa ... ngapain di sini?" timpalnya.

"Lagi nonton pelakor sama tukang selingkuh."

Lisa pergi meninggalkan mereka, dilemparkannya botol minumnya ke arah wanita itu dan berlalu.

Tak dihiraukannya Nando menjelaskan siapa wanita itu. Lisa segera berlari, menjauh. Ternyata Ia berlari cukup jauh, sampai Ia tak lagi mampu melangkah, napasnya tersengal, dan tak mampu membendung air matanya.

Ia menangis di pinggir jalan, di bawah pohon rindang. Begitu sesak Ia mengatur napasnya, Ia pun menangis sampai mata terlihat begitu berat untuk dibuka.

Menangis membuatnya lelah dan juga kehabisan energi. Lapar dan dahaga menyerang secara bersamaan. Ada rasa sesal telah membuang air minum untuk menyiram Nando tadi. Namun, ada rasa lega di balik rasa sesal karena dahaga.

Ia melangkahkan kaki dengan gontai. Jalanan cukup sepi, Ia menyebrang jalan menuju kost.

Ciiiiitttt ....

Suara rem motor berdecit.

"Allahuakbar ... astaghfirullah."

"Aarrgghhh ...." Ia berteriak ketika sebuah motor melaju cukup kencang ke arahnya.

Bruuugg ....

Pengendara itu terjatuh, Ia terkilir saat mencoba untuk menghindar.

"Mbak, jalan hati-hati, dong." Pengendara motor itu memakinya. Sementara ada seorang gadis yang menolongnya berdiri.

"Mas-nya yang bawa motor ngebut banget. Udah kayak jalan punya sendiri aja," katanya membela diri.

"Udah-udah ... yang penting nggak ada korban. Lain kali bisa sama-sama lebih hati-hati." Gadis itu melerai Lisa dan pengendara motor yang sama-sama tak mau mengalah.

Sumpah serapah keluar begitu saja dari mulut Lisa. Gadis itu menariknya, dan meminta pria itu untuk pergi meninggalkan mereka. Syukurlah motor itu tidak jatuh menimpanya, hanya kaki terkilir dan teramat sakit untuk digerakkan. Gadis memapahnya untuk menepi, duduk di kursi pinggir jalan.

Lisa terpaksa menurutinya, duduk di kursi besi berwarna hitam. Dihembuskannya napas dengan kasar. Sesekali menghentak-hentakkan kakinya yang tak sakit ke paving. Mengacak rambut, terlihat begitu frustasi. Kepala seperti berdenyut, Ia memijat pelipisnya pelan.

.

Lima belas menit kemudian.

.

"Mbak, ini minum dulu." Disodorkannya sebotol air mineral.

"Nggak perlu, makasih udah nolongin gue, sekarang boleh pergi," balasku.

"Nggak apa-apa, Mbak. Ini diminum, Mbak, tadi saya liat Mbak kurang sehat, lesu banget," ujarnya lembut.

"Udah deh, tinggalin gue," kataku sambil mengalihkan pandangan. "Oh iya, terima kasih banyak, tolong tinggalin saya di sini sendirian," sambungnya, berusaha seformal mungkin.

Ia hanya tersenyum manis, tak memaksaku lagi.

"Dulu, saya pernah merasa kecewa, sangat ... sangat kecewa. Seakan dunia akan berakhir, seakan kekuatan yang dibangun selama ini runtuh. Pernah ingin mengakhiri hidup. Tapi ...." Gadis itu menggantung kalimatnya.

Kalimatnya membuat Lisa penasaran, pandangannya menerawang, dilihatnya sesekali gadis itu mengusap ujung netranya.

"Tapi, orang yang menyayangi saya dengan tulus pasti akan sangat terpukul, sedangkan yang telah menghancurkan hati saya bisa saja tidak bersedih sedikit pun. Jadi, saya berpikir, bagaimana agar fokus pada sesuatu yang saya cintai juga mencintai saya."

"Kadang hidup tak selalu seperti rencana kita, tapi percayalah, dari satu hal yang Allah ambil, akan Allah ganti dengan yang jauh lebih baik."

Ia menoleh, lalu tersenyum pada Lisa. Senyum yang begitu tulus.

"Satu yang perlu kita ingat sebagai hambaNya, apa yang kita cintai belum tentu Allah cinta. Cintai dan bencilah sesuatu sekedarnya, sesuai porsinya, agar tak kecewa pada akhirnya."

Hening.

Ia tak lagi melanjutkan kata-katanya. Tapi bisa dibaca dari ekspresinya, Ia mengerti apa yang sedang Lisa rasakan, dan pernah merasakan kekecewaan yang lebih dalam.

"Saya pergi dulu, kalau butuh bantuan, hubungi saya, ya." Ia berlalu sambil meletakkan secarik kertas di dekat botol air mineral.

Nurani Mahira.

Seorang gadis yang lembut, mengenakan pakaian serba panjang juga lebar, hijabnya menjuntai sampai paha.

Lisa hanya membiarkannya berlalu begitu saja. Mungkin dia malaikat yang Allah kirim, yang menjelma sebagai manusia untuk menasihati Lisa. Ucapannya benar, seakan tahu apa yang sedang Lisa pikirkan.

***
Diubah oleh novikikirizkia
profile-picture
profile-picture
profile-picture
adediana dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Setengah Hijrah
31-03-2020 10:52
Bab 3 (Desir Cinta)

Dua Minggu berlalu. Lisa merasa sudah cukup terpuruk karena patah hati, saatnya melanjutkan hidup, putus cinta tak menjadikan dunia ini berakhir.

Lisa berjalan santai memasuki area kampus, kembali menyentuh skripsi yang sempat ditinggalkan begitu saja karena rasa cinta yang biadab itu. Setelah merasa lebih baik, baru disadari, selama beberapa waktu lalu, Ia seperti orang gila, juga orang bodoh. Masih banyak laki-laki yang lebih baik dari seorang Nando.

Puk ....

Seseorang datang menghampiri dengan senyum yang sangat manis. Tanpa persetujuannya Ia duduk di depannya.

"Hai ... kita ketemu lagi, ya," sapanya sambil menepuk bahu Lisa.

Lisa mendongakkan kepala, mencoba mengingat-ingat siapa gadis di depannya ini. Lisa menautkan ke dua alis.

"Saya Nura. Gimana kakinya? Udah enakan?" Ia mengenalkan diri kembali, mungkin membaca ekspresi Lisa yang keheranan.

"Oh ... iya. Udah, kok." jawabnya singkat.

Gadis itu tersenyum setelah mengucap syukur. Sebenarnya Ia gadis yang baik, tapi entah mengapa Lisa tidak tertarik untuk mengenalnya lebih dekat. Meski yang dirasakan Ia mencoba untuk mendekatinya. Mungkin karena berbedanya gaya busana mereka berdua. Nura anggun dengan pakaian syar'i-nya, hijab menjuntai menutup sampai paha. Sedangkan Lisa dengan gaya casual-nya dan belum mengenakan hijab.

"Oh iya, nama kamu siapa? Sampe lupa belom kenalan," sapanya sambil mengulurkan tangannya.

Dengan malas, Lisa pun meraih uluran tangannya.

"Lisa."

"Salam kenal, ya, Lisa. Emm ... boleh pake bahasa aku-kamu, nggak? Kayaknya kalo pake saya, rasanya formal banget, ya, pake aku-kamu aja, ya, boleh 'kan?"

"Aduh, Mbak. Gue nggak bisa aku-aku kamu-kamu gitu, kayak orang pacaran aja, deh." jawab Lisa ketus.

"Gak apa-apa, biar romantis, jadi nambah akrab," jawabnya dengan terkekeh.

"Dih, lo mau apa si, Mbak?"

"Ihh ... Mbak-mbak aja, panggil Nura aja, ya?" pintanya riang.

Lisa hanya memutar bola matanya, entah kenapa Nura bisa sok akrab dengannya. Ia begitu riang, nasihatnya yang terkesan seperti ceramah hanya masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri.

"Nah, gimana?" tanyanya tiba-tiba mengangetkan Lisa.

"Hah? Gimana apanya?"

"Tadi 'kan udah aku jelasin panjang lebar, katanya iya, jadi besok aku jemput, ya?"

"Eh ... apaan, main jemput-jemput. Mau ke mana?"

"Ya ampun, Mbak. Katanya mau ikut kajian?"

"Kajian apaan, si?"

Dengan semangat yang tak pernah padam, Nura kembali menjelaskan tentang ajakannya untuk kajian. Sungguh cukup mengganggu kehadiran Nura saat ini, bagaimanapun Nura adalah orang asing, orang baru bagiku. Akhirnya, mood-ku untuk merevisi skripsi seketika rusak karena ocehannya yang kunjung usai.

"Oke ... oke ... cukup, Nura. Gue ikut, please ... lo pergi dulu, ya?" pinta Lisa yang mulai frustasi mendengar ceramahnya.

"Really?" Mata Nura terbelalak mendengar jawaban Lisa. Terlihat ekspresi yang begitu senang dari binar matanya.

"Yess ... bagi nomornya, dong?" sambungnya.

"Buat apa?"

"Buat ngehubungin kamu, dong. Dari kemaren aku tunggu kamu nggak ngabarin," pintanya seraya memberikan gawainya dan memaksa Lisa menuliskan nomor telepon. Untuk memastikan, Ia langsung mengecek nomor itu.

"Oke, nyambung. Save, ya. Nura. Aku pergi dulu, ya. Sore aku jemput." Nura berlalu meninggalkan Lisa yang hatinya berkecamuk.

***

Telepon berdering berkali-kali, dari sebuah nomor baru yang tak dikenal. Serta sederet pesan WhatsApp masuk dari nomor yang sama. Dengan malas Lisa meraih gawai, membuka pesan yang yang begitu banyak.

[Lisa, ini Nura. Shareloc, ya.]

Iya baru ingat, kalau tadi sengaja tidak menyimpan nomor Nura di gawainya.

[Lis, angkat dong.]

[Ayok berangkat, udah mau sore.]

Dan sederet pesan lainnya, yang sungguh, Lisa merasa malas sekali membacanya. Iya meng-iya-kan ajakan Nura semata-mata karena ingin Nura segera pergi meninggalkannya.

Telepon kembali berdering.

"Assalamualaikum, Lisa. Di mana? Udah siap belom? Ayok kajian, jadi 'kan?" serunya tanpa sempat Lisa berkata apa pun.

"Apaan, sih. Berisik banget yah lo ini," jawab Lisa ketus.

"Salamnya dijawab dulu, dong."

"Iya, iya. Waalaikum salam."

"Yuk, berangkat."

"Nggak, ah. Gue nggak ikut kajian, lagi males." Ditutupnya telepon meskipun Nura masih terus membujuk.

Direbahkannya kembali badan di atas ranjang. Ingin memejamkan mata, meringkuk dan memeluk erat guling kesayangan.

Tok ... tok ...

Pintu diketuk, setelah setengah jam meringkuk dengan nyamannya.

Dengan langkah gontai dan setengah sadar, dibukanya pintu dengan malas.

"Assalamualaikum, Lisa. Hai ...."

Nura.

Entah siapa gadis ini, setelah pertemuan pertama Ia hadir sebagai sosok yang begitu dewasa, bijak juga anggun. Namun dipertemuan ke dua kami, Ia hadir sebagai sosok yang ceria juga super bawel.

"Dari mana tau kost-an, gue?"

"Nanya dong, abis ditanya nggak di jawab-jawab, sih."

Sungguh, Lisa merasa lelah mendengar ceramahnya untuk membujuknya datang ke kajian yang disebutkannya tadi pagi. Lisa memutuskan untuk mengikutinya kali ini. Tak ada pilihan lain. Gadis ini tidak bisa diremehkan.

***

"Gimana, asyik 'kan kajiannya?" tanyanya seusai kajian.

"Hmmm."

"Pekan depan ikut lagi, ya?" ajaknya.

Tak dihiraukan ajakannya, dialihkannya pandangan dengan asal. Tanpa sengaja netraknya bertemu dengan sepasang netra yang teduh. Untuk sepersekian detik tatapan mereka bertemu, sampai akhirnya pria itu membuang pandangannya ke arah lain.

"Hei ... yuk pulang. Malah ngelamun." Nura menggandeng tangan Lisa menuju parkiran.

"Itu tadi siapa, sih?" tanya Lisa menunjuk pria tang dilihatnya.

Nura menoleh, melihat ke arah yang ditunjuk Lisa. Sayangnya sudah tak ada siapapun.

"Yang mana, sih?" tanyanya.

Masih diedarkannya pandangan ke sekeliling, mencoba mencari sosok pria itu. Namun, tak lagi ditemukan. Ada desir dalam hati yang hangat menjalar. Sementara Nura hanya memperhatikan.

***

Di sayap serambi masjid, seorang pemuda memperhatikan dua gadis belia sedang bercengkrama. Satu gadis cantik dengan gaya casual-nya, dan satu gadis yang anggun dengan gamis dan hijabnya yang menjuntai.

Sepersekian detik memperhatikan mereka, lalu membuang pandangan ke arah lain. Sempat tersenyum simpul, lalu kembali duduk dan membuka sebuah akun dengan tulisan-tulisan syahdunya.

Hanif Hudzaifa. Pernah mengenyam pendidikan di kampus ini beberapa tahun yang lalu, dan kini aktif sebagai pengisi kajian di akhir pekan.

"Lagi ngapain, Akh? Senyum-senyum sendiri," sapa seseorang dari arah berlawanan. Tanpa disadarinya sudah duduk di depannya.

Seseorang itu menatap dengan pandangan penuh tanya, memperhatikan gelagat Hanif yang mulai salah tingkah.

***
profile-picture
profile-picture
profile-picture
adediana dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Setengah Hijrah
01-04-2020 22:02
mana goreng pisangnya sist ๐Ÿ˜…
profile-picture
profile-picture
profile-picture
adediana dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Setengah Hijrah
01-04-2020 22:07
Quote:Original Posted By laylasyah โ–บ
mana goreng pisangnya sist ๐Ÿ˜…


Ini ada pisang gorengnya mak, masih anget ๐ŸŒ
profile-picture
profile-picture
profile-picture
adediana dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Setengah Hijrah
01-04-2020 22:10
ya udah aku nitip sendal ya ๐Ÿ˜…
profile-picture
profile-picture
profile-picture
adediana dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Setengah Hijrah
01-04-2020 22:20

Setebgah Hihrah Bab 4 (Keputusan)

Bab 4 (Keputusan)

Lisa merebahkan diri di atas rerumputan halaman kost, mungkin seperti pemeran film india yang menunggu kekasih datang. Sejak pertemuan itu, wajah pria itu terus terbayang-bayang. Hati jadi resah dibuatnya.

Dihitungnya bintang di langit. Mencoba memilih dengan mengikuti hitungan banyaknya bintang.

"Iya ... enggak ... iya ... enggak ...."

Begitu seterusnya sampai Ia frustasi sendiri. Entah mengapa, bayangan pria yang dilihatnya saat kajian pekan lalu selalu terbayang. Sempat Ia tanyakan pada Nura. Mengapa beberapa pria yang ikut kajian berpenampilan berbeda. Mereka lebih terlihat seperti santri-santri pesantren atau pondok dibandingkan mahasiswa. Tak ada yang salah, hanya saja terlihat berbeda. Pakaiannya sopan juga rapi. Tapi, Ia menangkap ada aura yang berbeda. Sikapnya begitu sopan, orang menyebutnya akhlak mulia.

Pada umumnya, mahasiswa pria di kampus ini begitu fashionable. Di mana mereka banyak mengenakan jeans, berkemeja rapi, terkadang kaus berkerah. Tapi entah mengapa, segelintir pria-pria itu nampak memiliki aura yang berbeda, meskipun mengenakan pakaian yang sama.

Kebanyakan dari pria-pria itu mengenakan kemeja semi koko, dengan celana di atas mata kaki. Entahlah, apa yang membuat berbeda, yang jelas mereka ... oh tidak, pria itu terlihat begitu memesona.

Menurut Nura, pria-pria yang bergabung di UKM Assalam, sejenis Rohis, memang begitu, mereka tidak berpacaran, sangat menjaga jarak dengan lawan jenis, memiliki kebiasaan menghabiskan waktu kosong di Masjid, dan masih banyak kebiasaan lainnya yang baru diketahuinya akhir-akhir ini. Untuk beberapa Fakultas, cukup ramai dari kalangan mereka yang nampak seperti santri di kampus ini.

"Kami yang bergabung di Assalam memang belum tentu baik, Lis. Tapi setidaknya kami saling mengingatkan dalam kebaikan."

Begitulah jawabannya saat Ia menanyakan banyak hal tentang Assalam. Mungkin Ia yang terlalu naif, sampai menganggap mereka cukup aneh. Mengapa harus berpakaian serba besar juga panjang, terlihat seperti Ibu-ibu. Toh, mereka masih muda, tak mengapalah jika masih mengenakan pakaiannya yang fashionable ala anak muda sekarang.

Juga tentang mereka yang tak ingin berpacaran. Mengapa? Bukankah itu cara untuk saling mengenal? Bagaimana bisa menikah dengan seseorang yang baru dikenal? Bagaimana jika mereka bukan orang yang baik? Lagi dan lagi, Nura dengan tenang menjawab semua tanyanya dengan sabar.

"Kamu lucu, ya, Lis." Ia terkekeh dengan serentetan pertanyaan Lisa. "Yang jelas, untuk jenjang pernikahan, ada langkah-langkah yang harus dijalani, perkenalan dengan pasangan juga ada aturannya, nanti ada masanya kamu paham." Dengan sabar dan tetap tersenyum Ia menjelaskan dengan gamblang.

Dengan berbagai asumsi. Berarti pria itu termasuk salah satu golongan dari mereka yang tidak berpacaran. Lisa mulai pesimis untuk mengenalnya lebih jauh. Entah mengapa, ada rasa penasaran yang begitu hebat di dalam sana, di dalam hati.

Selama beberapa hari memerhatikan pria itu, pesonanya mampu mengaduk-aduk hati. Namun, mau ditaruh mana harga dirinya kalau sampai pria itu menolak? Seorang Ralisa Mutiara ditolak. Tak sanggup Ia membayangkan ejekan demi ejekan yang ditujukan padanya jika itu terjadi.

Terlalu sibuk memikirkan pria yang baru ketahui bernama Hanif Hudzaifa, sampai Ia lupa kalau beberapa waktu lalu seperti orang gila karena putus cinta dengan Nando.

***

Sepulang kuliah, Lisa langsung pulang, segera merebahkan diri di kamar kos. Rasanya kepalanya berdenyut cukup hebat. Tari mengantarkan pulang seusai jam kuliah.

"Mau gue anter ke dokter nggak, Lis?" tanya Tari menawarkan.

"Nggak usah deh, gue masuk angin aja kayaknya, semalem tidur kemaleman, gue ketiduran di taman," ujarnya.

"What? Bisa-bisanya? Untuk nggak ada ular apa dikeroyok semut," pekik Tari.

"Iihh ... ngomongnya jelek banget."

Tari berceramah cukup panjang, karena Lisa memiliki kebiasaan yang mudah saja terpejam di mana pun jika sudah terlalu lelah. Bahkan bisa tertidur meskipun duduk. Cukup buruk memang, terkadang Lisa pun tertidur saat di jam kuliah.

"By the way, lo sekarang lengket gitu sama ukhti-ukhti Assalam itu, ya, Lis," ujar Tari.

"Nura namanya," sahutnya.

"Nah iya, itu deh pokoknya. Lama nggak liat lo hunting foto, eh ... taunya rajin kajian. Istilahnya tuh ya, lo dapet hidayah. Eh ... jemput hidayah tepatnya," sambung Tari.

"Apaan sih, kayak ustazah aja deh, bahas hidayah segala," sungutnya.

"Meskipun gue suka lo yang dulu, tapi gue nggak masalah sih dengan lo yang sekarang, 'kan gue jadi nggak ada saingan, hahaha."

"Sialan, lo." Ditimpuknya lengan Tari dengan buku.

"Satu sih, pesen gue, lo jangan main-main sama sesuatu, lo harus tau tujuan lo apa, melenceng dikit aja, hasilnya nggak bagus."

Entah sejak kapan, Tari yang dikenalnya tiba-tiba berubah menjadi sebijak tadi. Ia yang biasanya super santai dalam hal apa pun, dan penganut kalimat 'liat nanti aja', tiba-tiba menasihati orang lain untuk memikirkan dan mempertimbangkan sesuatu agar kedepannya menjadi lebih baik.

Meski diakuinya, Tari benar. Setelah berhitung dengan jutaan bintang semalam, mengadakan rapat besar untuk suatu perubahan. Akhirnya pilihan jatuh pada kata 'iya'. Setelah berdebat panjang dengan berbagai asumsi dan kekhawatiran, akhirnya palu diketuk, tanda bahwa keputusan sudah di ambil.

Setelah memantapkan hati, Ia meminta Nura untuk membantunya melakukan sesuatu. Sengaja Ia tak memberi tahu Tari, toh Tari sama saja dengannya, sama-sama tidak paham.

***

Hari ini akan menjadi hari yang bersejarah, bisa jadi akan menjadi tranding topic setelah kabar putusnya dengan Nando dan kabar perselingkuhannya yang masih sesekali mencuat di media sosial. Setelah memastikan semua sempurna, Lisa bergegas untuk berangkat ke kampus.

"Li-lisa? Eh ... ini lo bu-bukan, sih?" tanya Tari tergagap seakan melihat sesuatu yang aneh.

Lisa hanya mematung, membiarkan Tari berimajinasi dengan liarnya. Membiarkannya menerka dengan berbagai prasangka. Ia menyipitkan netranya, memandang Lisa dari ujung kepala sampai ujung kaki.

"Lis ... gue nggak percaya ini Lisa, lo ... lo kenapa?"

***

Sebagai sahabat baik Lisa, Tari merasa aneh dengan perubahan Lisa yang cukup mendadak. Terlebih perubahannya yang cukup drastis. Untuk menjawab semuanya, Ia menemui Nura.

"Eh ... Tari, Tari temennya Lisa, 'kan? sapanya saat bertemu di cafe suatu sore.

"Iya, Nura, ya?"

Perbincangan cukup panjang, bercerita tentang Lisa dengan gamblang. Tari sudah mengenal Lisa sejak lama, sudah pasti jauh lebih mengenal Lisa.

"Ra, jangan pengaruhi Lisa yang macem-macem, dia itu sahabat Gue, cukup aneh buat Gue, dia berubah drastis banget."

"Pengaruh? Soal apa?" Nura merasa ada sesuatu yang salah.

"Jangan ajarin sesuatu yang nggak bener, ntar lo ajarin dia aliran-aliran yang ... sesat, mungkin."

Nura terbelalak, tak menyangka dengan kalimat yang diucapkan Tari, sejauh itu Tari menilainya. Yang Nura tahu, Lisa mengenakan pakaian syar'i karena keinginannya sendiri, bahkan Ia pun kaget saat Lisa memintanya untuk membeli beberapa pakaian dan hijab baru beberapa waktu lalu.

Yang menyakitkan bukan tentang itu, tapi bagaimana dituduh mengajarkan dan mengajak pada aliran sesat. Sesat? Apanya?

"Maaf, Tari. Tidak ada ilmu sesat seperti yang kamu tuduhkan, mengenakan pakaian yang tertutup juga hijab sampai menutup dada adalah anjuran dari agama Islam."

Nura mencoba tetap tenang, kaena Ia menyadari, Tari bukan bermaksud mencaci, mungkin karena belum memahami, atau lebih tepatnya belum mau menerima kebenaran, bahwa perintah Allah untuk menutup aurat bagi muslimah itu wajib.

"Inget pesen Gue," ancam Tari.

Tari memberikan ancaman bagi Nura, jika apa yang dimintanya tidak dilakukan. Nura hanya beristighfar, mengelus dada. Mencoba mengatur napas agar lebih normal, menahan amarah cukup membuat napasnya terasa berat.

***

Sejak pertemuan itu, Tari selalu bersama Lisa, kemanapun. Tak sedikitpun memberi celah untuk bertemu dengan Nura.

"Tar, temenin ketemu Nura sebentar, yuk," pinta Lisa.

"Mau ngapain?"

"Gue mau balikin hijabnya, kemaren pas keujanan pake hijab dia."

"Oh ... kemaren gue ketemu dia, dia nanyain jilbabnya tuh, mau dipake tapi belum dibalikin juga," terang Tari.

"Loh, kok gitu? Kemaren waktu ditanya katanya santai aja ga perlu buru-buru?"

Lisa nampak heran, sedikit terkejut dan merasa tak enak karena belum mengembalikan hijab Nura yang ternyata sudah ditunggu.

"Nggak tau juga, lo pinjemnya kelamaan kali, Lis."

***
profile-picture
profile-picture
profile-picture
melastdee dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Setengah Hijrah
01-04-2020 22:21
Quote:Original Posted By laylasyah โ–บ
ya udah aku nitip sendal ya ๐Ÿ˜…


Taro di rak aja ya ๐Ÿ˜Œ
profile-picture
profile-picture
profile-picture
lenitan dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Setengah Hijrah
01-04-2020 22:36
ok nanti aku ambil lagi ok
profile-picture
profile-picture
novikikirizkia dan nurulnadlifa memberi reputasi
2 0
2
Setengah Hijrah
02-04-2020 05:58
Quote:Original Posted By novikikirizkia โ–บ
Jika hijrah karena manusia, maka setelah mendapatkan yang di inginkan, akar hijrah akan goyah


Betul aku setuju sekali, banyak teman-temanku yang hijra karena bmau menikah dengan calon suami setelah nikah berjalan waktu ujian datang menghampiri apalagi ujiannya suami selingkuh, langsung down dan balik murtad lagi.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
adediana dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Setengah Hijrah
02-04-2020 06:01
Quote:Original Posted By novikikirizkia โ–บ
Hijrahlah karena Allah


Beda dengan hijra karena Allah, hati, iman memang sudah dipersiapkan ikhlas dengan semua ketentuan NYA, dan tidak tergoyahkan. emoticon-Peluk
profile-picture
profile-picture
profile-picture
adediana dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Setengah Hijrah
02-04-2020 07:23
Lanjuuuuut emoticon-Big Grin
profile-picture
profile-picture
profile-picture
nurulnadlifa dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Setengah Hijrah
02-04-2020 10:21
Aku datang ngasih emoticon-Cendol Gan byk titip pancinya dulu nanti kembali hp buat pts anak gadis... Semangat yah
profile-picture
profile-picture
profile-picture
adediana dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Setengah Hijrah
02-04-2020 12:42
Quote:Original Posted By lenitan โ–บ
Beda dengan hijra karena Allah, hati, iman memang sudah dipersiapkan ikhlas dengan semua ketentuan NYA, dan tidak tergoyahkan. emoticon-Peluk


Subhanalloh ... semoga istiqomah Mbak Leniemoticon-Big Kiss
profile-picture
profile-picture
profile-picture
nurulnadlifa dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Setengah Hijrah
02-04-2020 13:02
Quote:Original Posted By laylasyah โ–บ
ok nanti aku ambil lagi ok


Siap mamak emoticon-Big Kiss
profile-picture
profile-picture
profile-picture
nurulnadlifa dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Setengah Hijrah
02-04-2020 13:12
Quote:Original Posted By lenitan โ–บ
Betul aku setuju sekali, banyak teman-temanku yang hijra karena bmau menikah dengan calon suami setelah nikah berjalan waktu ujian datang menghampiri apalagi ujiannya suami selingkuh, langsung down dan balik murtad lagi.


Ya Allah, klo cuma karena nikah mah ya dapetnya sampe nikah aja, klo mau sama2 memperbaiki, mudah2an Allah kasih jalan buat keduanya
profile-picture
profile-picture
nurulnadlifa dan adediana memberi reputasi
2 0
2
Halaman 1 dari 8
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
the-story-of-roy
Stories from the Heart
rahasia-hati-true-story
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
typo-bikin-malu
Stories from the Heart
live-laugh--love
Stories from the Heart
sesuatu-tentang-mimpi
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia