News
Batal
KATEGORI
link has been copied
99
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e7f6b592637720201745be1/sempat-beda-data-anies-paling-banyak-tertular-corona-usia-20-40-tahun
Sempat Beda Data, Anies: Paling Banyak Tertular Corona Usia 20-40 Tahun Suara.com - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengaku pandemi virus corona atau Covid-19 bukan persoalan enteng. Pandemi tersebut membuat masyarakat berhadapan dengan situasi rumit. Apalagi Anies mengaku, telah melakukan monitoring mengenai penyebaran covid-19 yang kian masif mengancam warga dunia, sejak kemunculannya di Wuh
Lapor Hansip
28-03-2020 22:20

Sempat Beda Data, Anies: Paling Banyak Tertular Corona Usia 20-40 Tahun

icon-verified-thread
Sempat Beda Data, Anies: Paling Banyak Tertular Corona Usia 20-40 Tahun

Sempat Beda Data, Anies: Paling Banyak Tertular Corona Usia 20-40 Tahun

Suara.com - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengaku pandemi virus corona atau Covid-19 bukan persoalan enteng. Pandemi tersebut membuat masyarakat berhadapan dengan situasi rumit.

Apalagi Anies mengaku, telah melakukan monitoring mengenai penyebaran covid-19 yang kian masif mengancam warga dunia, sejak kemunculannya di Wuhan, China.

Hal itu disampaikan Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu dalam podcast unggahan kanal YouTube Deddy Corbuzier, Sabtu (28/3/2020).

"Kita ini punya tantangan besar, yang saya harus sampaikan apa adanya bahwa ini nggak gampang, panjang dan kita yang sudah monitoring dari awal tahu persis apa yang terjadi di negara lain," ucap Anies.

Ia lantas mengatakan, penyebaran Covid-19 di negara lain yang terdampak mestinya dijadikan pelajaran bagi pemerintah Indonesia. Sebab, virus mematikan tersebut tak pandang bulu menyerang siapapun.

"Jangan anggap Indonesia beda, kita sama-sama manusia. Virus nggak kenal sosial, ekonomi, bisa menyerang siapa saja," tambahnya.

Anies kemudian mengungkap kekhawatirannya akan reaksi kawula muda dalam menanggapi penyebaran Covid-19. Ia menyebut, sejatinya anak muda paling rentan terinfeksi virus corona.

"Teman-teman muda harus sadar bahwa, tingkat penularan tertinggi itu ada di mereka yang usianya 20-40 tahun, itu yang paling tinggi, di seluruh dunia datanya seperti itu," kata Anies.

Namun, ia mengaku temuan tersebut sempat berbeda dengan data yang disajikan pemerintah.

Deddy Corbuzier kemudian memotong pembicaraan Anies dan bertanya,"Karena nggak ke-data Pak?".

Anies pun menjawab, "Persis".

"Di mana-mana anak muda yang paling banyak pergi-pergi, paling banyak berinteraksi, paling banyak tertular," imbuhnya.

Dengan melihat kondisi tersebut, Anies pun mengimbau anak-anak muda untuk lebih sadar akan keselamatan diri. Sebab, mereka memiliki kontribusi penting dalam memerangi penularan Covid-19.

"Pada waktu itu, saya minta bantuan jangkauin anak-anak muda, karena pada waktu itu kita merasa ini adalah satu masalah yang harus dikerjakan seluruh masyarakat dan pemerintah," ucap Anies, memungkasi.
sumber

============

Hmmmmm......
Gw ambil sepenggal kata-kata dari Bapak Gubernur ya...

"Jangan anggap Indonesia beda, kita sama-sama manusia. Virus nggak kenal sosial, ekonomi, bisa menyerang siapa saja," tambahnya.

Paham sampai sini? Oh belum ya? Ok, gw copas lagi.

"Jangan anggap Indonesia beda, kita sama-sama manusia. Virus nggak kenal sosial, ekonomi, bisa menyerang siapa saja," tambahnya.

Dan gw tambahin menurut versi gw sendiri.

"Jangan anggap Indonesia beda, kita sama-sama manusia. Virus nggak kenal sosial, ekonomi, agama, bahkan ideologi, bisa menyerang siapa saja."

Tapi Indonesia tetap beda.
Ketika wabah melanda negeri seberang sana, sebagian masyarakat kita bersuka cita. Menganggap bahwa itu adalah azab bagi negeri seberang. Dan Indonesia jelas tak akan tersentuh azab itu, sebab Indonesia tidak menyakiti suku Uyghur. Bahkan ada sebagian diantara kita yang selalu membawa isu Uyghur dan Palestina untuk sekedar mencari sesuap nasi.

Dan kekonyolan itu ditambah dengan narasi-narasi agama, tentang hukuman Tuhan, tentang pengobatan, dan lain-lain.

Sudah? Belum ternyata.
Kekonyolan itu makin menjadi-jadi ketika beberapa pejabat negeri ini melontarkan candaan. Hanya candaan. Tetapi itu jadi senjata mematikan. Dipakai berulang-ulang, terus menerus. Dan masalah yang tadinya adalah masalah kesehatan, bergeser menjadi masalah sosial, dan terakhir jadi komoditas politik.

Berhenti? Belum.
Yang tadinya serangan itu menyasar ke lapisan kedua, kini bergeser ke lapisan pertama. Mulailah babak baru penanganan Covid-19 ini semarak. Bukan karena bahu membahu mengatasi wabah, tapi menjadi ajang saling serang. Yang mendukung langkah pemerintah dianggap buzzer. Yang melawan pemerintah dianggap pahlawan. Dan ketika ada pemimpin wilayah yang mulai kelihatan gelagatnya mencari panggung, maka gantian dia diserang. Anehnya para pendukungnya tak mau dianggap buzzer. Maunya dianggap pahlawan.

Tololnya, para petinggi negeri ini lupa bahwa sekecil apapun candaan, bisa menjadi sebuah pembenaran bagi mereka yang jelas membenci pemerintah. Akhirnya serangan itu seperti terkoordinir, satu suara, massif.

Lalu benarkah Covid-19 rentan menyerang pada rentang usia 20 hingga 40 tahun seperti klaim Anies? Nyatanya salah.
Tingkat kematian terbesar akibat Covid-19 ada di rentang usia 45 hingga 65 tahun keatas. Kenapa bisa begini? Jawabannya mudah. Karena rentang usia tersebut adalah masa dimana imunitas tubuh menurun. Sistem imun tubuh tidak sekuat kala berusia muda, sehingga ketika Covid-19 menyerang, ditambah lagi dengan penyakit yang banyak terdapat pada rentang usia 45 hingga 65 tahun keatas, akibatnya akan fatal. Tapi tak apa-apa. Itu versi Anies. Jikalau beda, sudah biasa.

Benarkah Anies sudah memonitoring wabah ini sejak awal?
Oh, untuk jawaban yang satu ini gw gak perlu menjawab.
Lihat aja sebaran kasus Covid-19 di jakarta, berapa yang suspect, berapa yang mati.

Satu yang gw kritisi.
Tak ada yang berani menuding bahwa beberapa pemuka agama, bahkan mungkin para ustadz kampung, ikut bertanggungjawab atas narasi mereka soal Corona, sehingga masyarakat yang terbiasa hanya bisa mengamini kata-kata mereka, abai pada keselamatan jiwa mereka dan keluarganya.

Ini termasuk mantan Jenderal yang seruannya koplak beberapa waktu lalu, meskipun pada akhirnya dia memberi penjelasan dan pembelaan, tetapi tetap saja pembelaannya koplak.

Mungkin Anies dimata pendukungnya adalah manusia yang sempurna. Jadi gw disini cuma mau nitip pertanyaan kepada para pendukungnya agar bisa diteruskan ke Anies.

Pertanyaannya :
Berapa sih sebenarnya alat Rapid test yang diterima Pemprov DKI Jakarta?
100 unit? 100.000 unit?
Lantas berapa sih masyarakat Jakarta yang sudah ditest sampai hari ini?
Mengingat penularan Covid-19 menurut penelitian tidak harus terjadi dari suspect yang sakit parah, dan penderita juga tidak selalu memiliki gejala umum terkana virus ini, lantas bagaimana mau membendung penyebaran jika rapid test hanya dilakukan pada orang-orang tertentu tanpa dilakukan acak?

Mungkin pendukung Anies ada yang mau bantu jawab.


====

Banyak yang ngamuk tapi gak bisa bedain kata-kata Anies.
Ini gw kasih penegasan lagi.
Gak usah cemen nyerang personal, soal mati, semua yang post disini bisa tiba-tiba mati kena Corona. Betul?

Quote:

Udah gw bahas.
Gw ulangin lagi ya.
Anies bilang, usia 20-40 rentan TERTULAR.
TERTULAR.
BUKAN MENULARI.

Paham ya sampai sini.

Kalau Anies bilang usia 20-40 rentan menulari, pasti gw diam. Gw dukung alibi dia. Karena usia segitu banyak bergerak.

Kalau dia bilang rentan tertular, lantas usia 40-65 keatas yang pada mati itu kenapa?
TERTULAR bukan?

Artinya argumen Anies salah besar.
Semua usia rentan TERTULAR, TETAPI usia 20-40 rentan menulari karena Covid-19 bisa menular tanpa si carier sakit dahulu.
Dan yang usia 40-65 justru yang rentan tertular karena imunitas mereka rendah.

Baca baik-baik judulnya :

Sempat Beda Data, Anies: Paling Banyak Tertular Corona Usia 20-40 Tahun

TERTULAR.

BUKAN MENULARI.

Jadi, siapa yang minim literasi?

Diubah oleh n4z1
profile-picture
profile-picture
profile-picture
4iinch dan 15 lainnya memberi reputasi
14
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 4
Sempat Beda Data, Anies: Paling Banyak Tertular Corona Usia 20-40 Tahun
28-03-2020 22:25
Karena gak kedata pak?
Persis

Sok tahu atau memang maha tahu emoticon-Big Grin

Data di wuhan 80% lebih justru umur 50+ lho
Di Itali pun begitu.....
Dan ini in line ma data yg di dalam negeri....
Diubah oleh xrm
profile-picture
profile-picture
profile-picture
muhamad.hanif.2 dan 9 lainnya memberi reputasi
10 0
10
Lihat 2 balasan
Memuat data ..
Sempat Beda Data, Anies: Paling Banyak Tertular Corona Usia 20-40 Tahun
28-03-2020 22:28
masa sih nggk beda2in ekonomi?
kata pak jubir satgas yg kena orkay...
emoticon-Cool

anis mw beda doang y?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rizaradri dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Sempat Beda Data, Anies: Paling Banyak Tertular Corona Usia 20-40 Tahun
28-03-2020 22:28
Covid tetap lebih rentan menyerang usia yg disebut kan tadi karena lebih aktif aktifitas ke mana2

Rentan terserang dan mortality rate itu hal yang berbeda

+banyak usia muda tidak menunjukkan symptoms, bisa jadi silent carriers
Diubah oleh rickreckt
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rizaradri dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Lihat 6 balasan
Memuat data ..
Sempat Beda Data, Anies: Paling Banyak Tertular Corona Usia 20-40 Tahun
28-03-2020 22:30
Gelar tiker dulu..

Sempat Beda Data, Anies: Paling Banyak Tertular Corona Usia 20-40 Tahun
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rizaradri dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Sempat Beda Data, Anies: Paling Banyak Tertular Corona Usia 20-40 Tahun
28-03-2020 22:33
ambil datanya dari yg kena efek kejut kmrn kah emoticon-Big Grin
profile-picture
profile-picture
profile-picture
gembalatitid13 dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Sempat Beda Data, Anies: Paling Banyak Tertular Corona Usia 20-40 Tahun
28-03-2020 22:34
Quote:Original Posted By n4z1
Sempat Beda Data, Anies: Paling Banyak Tertular Corona Usia 20-40 Tahun

Sempat Beda Data, Anies: Paling Banyak Tertular Corona Usia 20-40 Tahun

Suara.com - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengaku pandemi virus corona atau Covid-19 bukan persoalan enteng. Pandemi tersebut membuat masyarakat berhadapan dengan situasi rumit.

Apalagi Anies mengaku, telah melakukan monitoring mengenai penyebaran covid-19 yang kian masif mengancam warga dunia, sejak kemunculannya di Wuhan, China.

Hal itu disampaikan Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu dalam podcast unggahan kanal YouTube Deddy Corbuzier, Sabtu (28/3/2020).

"Kita ini punya tantangan besar, yang saya harus sampaikan apa adanya bahwa ini nggak gampang, panjang dan kita yang sudah monitoring dari awal tahu persis apa yang terjadi di negara lain," ucap Anies.

Ia lantas mengatakan, penyebaran Covid-19 di negara lain yang terdampak mestinya dijadikan pelajaran bagi pemerintah Indonesia. Sebab, virus mematikan tersebut tak pandang bulu menyerang siapapun.

"Jangan anggap Indonesia beda, kita sama-sama manusia. Virus nggak kenal sosial, ekonomi, bisa menyerang siapa saja," tambahnya.

Anies kemudian mengungkap kekhawatirannya akan reaksi kawula muda dalam menanggapi penyebaran Covid-19. Ia menyebut, sejatinya anak muda paling rentan terinfeksi virus corona.

"Teman-teman muda harus sadar bahwa, tingkat penularan tertinggi itu ada di mereka yang usianya 20-40 tahun, itu yang paling tinggi, di seluruh dunia datanya seperti itu," kata Anies.

Namun, ia mengaku temuan tersebut sempat berbeda dengan data yang disajikan pemerintah.

Deddy Corbuzier kemudian memotong pembicaraan Anies dan bertanya,"Karena nggak ke-data Pak?".

Anies pun menjawab, "Persis".

"Di mana-mana anak muda yang paling banyak pergi-pergi, paling banyak berinteraksi, paling banyak tertular," imbuhnya.

Dengan melihat kondisi tersebut, Anies pun mengimbau anak-anak muda untuk lebih sadar akan keselamatan diri. Sebab, mereka memiliki kontribusi penting dalam memerangi penularan Covid-19.

"Pada waktu itu, saya minta bantuan jangkauin anak-anak muda, karena pada waktu itu kita merasa ini adalah satu masalah yang harus dikerjakan seluruh masyarakat dan pemerintah," ucap Anies, memungkasi.
sumber

============

Hmmmmm......
Gw ambil sepenggal kata-kata dari Bapak Gubernur ya...

"Jangan anggap Indonesia beda, kita sama-sama manusia. Virus nggak kenal sosial, ekonomi, bisa menyerang siapa saja," tambahnya.

Paham sampai sini? Oh belum ya? Ok, gw copas lagi.

"Jangan anggap Indonesia beda, kita sama-sama manusia. Virus nggak kenal sosial, ekonomi, bisa menyerang siapa saja," tambahnya.

Dan gw tambahin menurut versi gw sendiri.

"Jangan anggap Indonesia beda, kita sama-sama manusia. Virus nggak kenal sosial, ekonomi, agama, bahkan ideologi, bisa menyerang siapa saja."

Tapi Indonesia tetap beda.
Ketika wabah melanda negeri seberang sana, sebagian masyarakat kita bersuka cita. Menganggap bahwa itu adalah azab bagi negeri seberang. Dan Indonesia jelas tak akan tersentuh azab itu, sebab Indonesia tidak menyakiti suku Uyghur. Bahkan ada sebagian diantara kita yang selalu membawa isu Uyghur dan Palestina untuk sekedar mencari sesuap nasi.

Dan kekonyolan itu ditambah dengan narasi-narasi agama, tentang hukuman Tuhan, tentang pengobatan, dan lain-lain.

Sudah? Belum ternyata.
Kekonyolan itu makin menjadi-jadi ketika beberapa pejabat negeri ini melontarkan candaan. Hanya candaan. Tetapi itu jadi senjata mematikan. Dipakai berulang-ulang, terus menerus. Dan masalah yang tadinya adalah masalah kesehatan, bergeser menjadi masalah sosial, dan terakhir jadi komoditas politik.

Berhenti? Belum.
Yang tadinya serangan itu menyasar ke lapisan kedua, kini bergeser ke lapisan pertama. Mulailah babak baru penanganan Covid-19 ini semarak. Bukan karena bahu membahu mengatasi wabah, tapi menjadi ajang saling serang. Yang mendukung langkah pemerintah dianggap buzzer. Yang melawan pemerintah dianggap pahlawan. Dan ketika ada pemimpin wilayah yang mulai kelihatan gelagatnya mencari panggung, maka gantian dia diserang. Anehnya para pendukungnya tak mau dianggap buzzer. Maunya dianggap pahlawan.

Tololnya, para petinggi negeri ini lupa bahwa sekecil apapun candaan, bisa menjadi sebuah pembenaran bagi mereka yang jelas membenci pemerintah. Akhirnya serangan itu seperti terkoordinir, satu suara, massif.

Lalu benarkah Covid-19 rentan menyerang pada rentang usia 20 hingga 40 tahun seperti klaim Anies? Nyatanya salah.
Tingkat kematian terbesar akibat Covid-19 ada di rentang usia 45 hingga 65 tahun keatas. Kenapa bisa begini? Jawabannya mudah. Karena rentang usia tersebut adalah masa dimana imunitas tubuh menurun. Sistem imun tubuh tidak sekuat kala berusia muda, sehingga ketika Covid-19 menyerang, ditambah lagi dengan penyakit yang banyak terdapat pada rentang usia 45 hingga 65 tahun keatas, akibatnya akan fatal. Tapi tak apa-apa. Itu versi Anies. Jikalau beda, sudah biasa.

Benarkah Anies sudah memonitoring wabah ini sejak awal?
Oh, untuk jawaban yang satu ini gw gak perlu menjawab.
Lihat aja sebaran kasus Covid-19 di jakarta, berapa yang suspect, berapa yang mati.

Satu yang gw kritisi.
Tak ada yang berani menuding bahwa beberapa pemuka agama, bahkan mungkin para ustadz kampung, ikut bertanggungjawab atas narasi mereka soal Corona, sehingga masyarakat yang terbiasa hanya bisa mengamini kata-kata mereka, abai pada keselamatan jiwa mereka dan keluarganya.

Ini termasuk mantan Jenderal yang seruannya koplak beberapa waktu lalu, meskipun pada akhirnya dia memberi penjelasan dan pembelaan, tetapi tetap saja pembelaannya koplak.

Mungkin Anies dimata pendukungnya adalah manusia yang sempurna. Jadi gw disini cuma mau nitip pertanyaan kepada para pendukungnya agar bisa diteruskan ke Anies.

Pertanyaannya :
Berapa sih sebenarnya alat Rapid test yang diterima Pemprov DKI Jakarta?
100 unit? 100.000 unit?
Lantas berapa sih masyarakat Jakarta yang sudah ditest sampai hari ini?
Mengingat penularan Covid-19 menurut penelitian tidak harus terjadi dari suspect yang sakit parah, dan penderita juga tidak selalu memiliki gejala umum terkana virus ini, lantas bagaimana mau membendung penyebaran jika rapid test hanya dilakukan pada orang-orang tertentu tanpa dilakukan acak?

Mungkin pendukung Anies ada yang mau bantu jawab.



Masih framing aja bre ya? Dah gak perlu bre.
Komen lu aja banyak yg fail....

Gak ada yg bilang anti pemerintah itu pahlawan

Si anus ngomong umur 20-40 rawan menyebarkan karna mobilitasnya tinggi.

Kondisi gini gak usah twolwol masih framing aja. Pemerintah gagal mengantisipasi dr awal. Ok lah gak masalah kita semua udah tau. Tapi gak usah di politisir, pake framing segala.

Lu manusia apa kwontol bre? Pakai hati nurani.

Gue gak peduli anis yg hebat atau pemerintah pusat yg hebat. Yang gue perduliin merekabharus jujur dan terbuka. Dah jangan kek kwontol kek kmaren nyepelekan covid-19.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
muhamad.hanif.2 dan 8 lainnya memberi reputasi
8 1
7
Lihat 2 balasan
Memuat data ..
Sempat Beda Data, Anies: Paling Banyak Tertular Corona Usia 20-40 Tahun
28-03-2020 22:39
data yg benar itu yg bagaimana ?

wabah ini aja cuma dagelan WHO emoticon-Ngakak

makin lihat data makin umur kalan pendek

mau selamat ? cukup matikan tivi dan tinggalkan medsos.

emoticon-Recommended Seller



Quote:Original Posted By barak51

COVID19 PANDEMIC IS WORLD WAR III

Pertanyaannya adalah "does covid19 pandemic really exist ?"
apakah pandemi covid19 benar ada ?

lihat ini dahulu..
seorang peneliti di Eropa mensurvey tingkat kecerdasan 2 sekolah. Hasilnya sekolah A memiliki tingkat kecerdasan 50% dan sekolah B 30%. Namun sebelum hasil itu diumumkan peneliti melakukan sebuah eksperimen, dg cara merekayasa (mengedit) persentase sekolah B menjadi 80%. Setahun kemudian benar2 terjadi tingkat kecerdasan sekolah B melesat jauh di atas 50% melebihi sekolah A.

Di atas tadi adalah ttg keajaiban sebuah Angka. Cara kerja angka dalam mempengaruhi pola pikir manusia.

Seandainya wabah demam berdarah ditata sedemikian rupa jumlah penderitanya, jumlah korbannya, jumlah daerah rawannya ke dalam bentuk angka *yg dipertontokan dan di update* setiap detik, menit, waktu di televisi dan sosmed. Yakin saja, orang akan berburu bubuk abate. Harga angkak pun melonjak karena diborong. Bahkan anda akan menegur tetangga anda yg membiarkan genangan di rumahnya.

Fear, ketakutan dan panik...itu yg ditanamkan oleh media.

Hari ini kita ketakutan setiap hari hanya dengan melihat angka setiap hari di broadcast tv dan sosmed. Masuk akal ?

Kita melihat angka seolah2 seperti melihat ajal kita di depan mata. Kita ketakutan. Masuk akal ?

ITS ONLY A F*CKiN NUMBER !

mari berpikir kritis, bayangkan hari ini tidak ada media apa pun di dunia. (balik ke jaman dulu). ketika ada pandemi seperti covid19 akan seperti apa kehidupan kita. apakah akan sehoror hari ini ? besar kemungkinan tidak sedramatis sekarang dan hidup akan terus berjalan seperti hari2 biasanya. Ada orang yg mati karena covid19, akan dianggap seperti kematian biasa. Kematian sehari2. Toh kita sudah paham setiap hari ada orang yg mati baik ada isu wabah ataupun tidak.

Mulai melihat perbedaannya ?

Sekarang kita lihat bagaimana struktur isu Covid19. Selalu akan menyebutkan ini setiap hari

ada data Positif (tertular)
ada data Negatif (sembuh)
ada data Kematian

Ketika kita akan menebar FEAR, caranya adalah kita harus mengkatrol data yg berpotensi mempengaruhi psikologi publik dan sulit dikonfirmasi dan paling lemah faktanya. Data yg manakah itu ?

Yap Data POSITIF. Data orang2 yg terjangkit covid19. Maka jangan heran. data positif selalu melonjak melebihi data Kematian. Angkanya bombastis Kenapa ? karena data kematian yang diumumkan itu layaknya data kematian sehari-hari. Tetapi angka positif penderita covid19 inilah yg merupakan angka psikologis seperti contoh peneliti sekolah tadi

Angka ini tidak dapat dikonfirmasi
Angka ini rawan rekayasa
Angka ini tidak jelas faktanya
Angka inilah FEAR. Karena anda takut maka anda langsung percaya. karena angka ini dikaitkan dg keselamatan jiwa kita.

Siapa yg berani mengkonfirnasi kalau keluar rumah saja takut ?

Sebuah jalan tol akan kita anggap aman dan kita berani ngebut. Tetapi kita akan melaju pelan di jalan yg sama saat kita melihat papan dipinggir jalan yg isinya angka kematian dan kecelakaan di jalan tersebut meskipun data itu bohong.

Ini yg disebut efek PLACEBO. atau sugesti. Pikiran kita dikendalikan oleh materi yg direkayasa. Kita akan benar2 menderita covid19 dan mati karena kita percaya

Mengapa direkayasa ? WELCOME TO WORLD WAR 3

Sebuah perang dunia (lagi) dalam sebuah konteks yang cerdas, yaitu *teknologi informasi*. Bukan lagi teknologi primitif seperti senjata, alat perang. Semua dunia merasakan isu covid19. Media massa bahkan melabeli dengan PANDEMI. (wabah global)

Di mulai dari memanasnya perang dagang antara Barat-Eropa vs Tiongkok. Dominasi lapak ekonomi oleh Tiongkok menggerus pendapatan Barat dan Eropa. Amerika dan Eropa menuju defisit ? Bangkrut ?

Ketika kita sudah tersudut, maka pernyataan menyerah (menyatakan negara bangkrut) adalah pilihan paling buruk. Pilihan yg lebih baik dari itu ? Kembali ke Nol alias RESTART.

Isu pandemi covid19 - Work From Home - Stay home and safe - LOCKDOWN

Yes Lockdown ! itu adalah cara paling tepat untuk mengatakan "Negara Bangkrut" tanpa perlu pusing memikirkan tanggung jawabnya kepada rakyat. Karena rakyat sedang fokus memikirkan keselamatan jiwanya di rumah masing2 dan tercerai berai. Negara tidak perlu repot2 melakukan jam malam, karena anda sudah melakukannya sendiri.

Tidak ada protest, tidak ada demo, tidak ada pemberontakan. Good way to exit.

Dikala masyarakat dunia "dibungkam" isu covid19 para protokoler mulai bekerja merestrukturisasi sistem-sistem di dalam negara tanpa gangguan. Struktur ekonomi, struktur dagang dan segala sesuatunya dirombak mumpung MOMENTUMNYA tepat. Karena tidak akan datang dua kali.
Kapan lagi anda bisa melihat tawaf di ka'bah berhenti, vatikan kosong. orang libur jumatan dan ibadah ? efek yg luar biasa

Tidak kah anda lihat...
Harga minyak dunia diobral ?
Mekanisme pasar modal berubah ?
Konsep pariwisata hancur lebur ?
Anggaran negara meluncur menuju nol ?

SHIFTING sedang terjadi
format dan tren baru dunia akan hadir dan kita masih belum paham seperti apa wujudnya. Hanya Tuhan dan para protokoler yang tahu


Sialnya, ketika restrukturasi berjalan. Orang2 setiap hari mati karena menelan pil sugesti dan fear covid19.

Ingat selalu ini, setiap restrukturisasi akan selalu memakan korban, entah jiwa atau bukan. Perang Dunia I dan II sesungguhnya adalah sebuah RESTRUKTURISASI global. Dan korbannya selalu jiwa.


Dan Pandemi Covid19 adalah Perang Dunia III. Dengan teknologi dan mesin perang tercanggihnya yaitu Teknologi Informasi (media massa, medsos, data dan statistik)
Dengan WHO sebagai panglima perang tertingginya yg me-rudal setiap negara dengan data2. Dan setiap statementnya adalah maklumat perang.

Sasarannya adalah Tiongkok. Meskipun Tiongkok pulih dari wabah yg so-called Covid19. Tetapi di masa depan citra Tiongkok sudah hancur dan akan dikenal sebagai "negeri pusat wabah" yg memicu trauma warga dunia. Kesepakatan2 dagang dg Tiongkok akan dikaji ulang. Dan produk2 Tiongkok akan menanggung beban citra buruk yg traumatis.

Beginilah ongkosnya untuk menghancurkan sebuah negara raksasa setara Tiongkok.


Pertanyaannya sekarang adalah.
Dapatkan anda menghentikan Perang Dunia III ini ?
Jangan bermimpi, bahkan untuk keluar rumah dan bertemu orang lain saja anda takut mati kena pandemi hahaha

Jawabannya adalah ini :
Tidak banyak yg bisa kita lakukan untuk menghentikan perang ini. Setidaknya yang bisa kita lakukan adalah JANGAN MATI.
Jangan mati karena sugesti peluru2 informasi yg ditembakan secara beruntun ke diri kita. Yakinkan diri anda bahwa sebenarnya tidak ada apa2, tidak ada covid19 dibalik semua omong kosong ini.

Tidak ada yg perlu dicemaskan
Tidak ada yg perlu dikhawatirkan
Tidak ada yg perlu ditakutkan

Jangan cemas
Jangan khawatir
Jangan takut

Berpikirlah di luar cara dunia berpikir hari ini.
Tinggalkan mental ala sinetron yg melihat tv langsung nangis.
Keluarlah dari papan permainan ini.
Dengan begitu anda akan merasa hidup !

Anda merasa hidup di tengah kebanyakan orang takut kematian. Nikmat seperti apa lagi yg anda cari di tengah dunia yg sedang krisis global bergoncang hebat dan berperang ini.

Jadilah PENYINTAS !


profile-picture
profile-picture
rg13th dan viniest memberi reputasi
0 2
-2
Sempat Beda Data, Anies: Paling Banyak Tertular Corona Usia 20-40 Tahun
28-03-2020 22:40
Tanpa data yg pasti, apa yg d sebut anies baru hipotesa...

Dan masy ga usah silang pendapat harusnya....

Lev Gubernur kalo ngomong mestiny pake data yg akurat, yang terukur, jgn perkiraan begitu...

Entah udangny apa tapi udah biasa denger anies kalo ngomong ada batunya...

emoticon-Big Grin
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rizaradri dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Sempat Beda Data, Anies: Paling Banyak Tertular Corona Usia 20-40 Tahun
28-03-2020 22:41
bener kan tebakan ane. baru di puji dikit langsung dah berulah idiot lagih

udah nyandu kegoblogan kayaknya si anus ini

gabener banget dah
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rizaradri dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Sempat Beda Data, Anies: Paling Banyak Tertular Corona Usia 20-40 Tahun
28-03-2020 22:41
Quote:Original Posted By rickreckt
Covid tetap lebih rentan menyerang usia yg disebut kan tadi karena lebih aktif aktifitas ke mana2

Rentan terserang dan mortality rate itu hal yang berbeda

+banyak usia muda tidak menunjukkan symptoms, bisa jadi silent carriers


baru komen ke 3 udah di skak ster bre emoticon-Big Grin..


Btw lu mau nganggep Dessi, abu janda yang slalu puja2 pemerintah bukan buzzer tapi pahlawan negara juga gapapa kok zi,, ngga ada yg ngelarang..emoticon-Big Grin


____
Edit, tambahan
Sempat Beda Data, Anies: Paling Banyak Tertular Corona Usia 20-40 Tahun
Diubah oleh satriagujis4
profile-picture
profile-picture
agusdwikarna dan galuhsuda memberi reputasi
1 1
0
Sempat Beda Data, Anies: Paling Banyak Tertular Corona Usia 20-40 Tahun
28-03-2020 22:42
udah tua masih aja ngomong g jelas
mending nenangin diri biar g stres biar dan g ngedrop
emoticon-Traveller
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rizaradri dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Sempat Beda Data, Anies: Paling Banyak Tertular Corona Usia 20-40 Tahun
28-03-2020 22:42
Sempat Beda Data, Anies: Paling Banyak Tertular Corona Usia 20-40 Tahun
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rizaradri dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Sempat Beda Data, Anies: Paling Banyak Tertular Corona Usia 20-40 Tahun
28-03-2020 22:43
emoticon-Ngakak
profile-picture
37sanchi memberi reputasi
1 0
1
Sempat Beda Data, Anies: Paling Banyak Tertular Corona Usia 20-40 Tahun
28-03-2020 22:46
Quote:Original Posted By rickreckt
Covid tetap lebih rentan menyerang usia yg disebut kan tadi karena lebih aktif aktifitas ke mana2

Rentan terserang dan mortality rate itu hal yang berbeda

+banyak usia muda tidak menunjukkan symptoms, bisa jadi silent carriers


Bener gan
0 0
0
Sempat Beda Data, Anies: Paling Banyak Tertular Corona Usia 20-40 Tahun
28-03-2020 22:47
Quote:Original Posted By n4z1
Bilangin juga ke kawanan kont0l pendukung Anies.

Sekarang waktunya kerjasama ngelawan wabah.

Gak usah serang sana serang sini.

Eh lu gak termasuk kawanan kont0l itu kan?


Kayaknya sekarang ini yg kritisi pemerintah bukan cuma dari kadrun tapi hampir semua merata

Penyebabnya ya karena banyak blunder yg dilakukan pemerintah, termasuk respon yg lambat

Sampai sekarang PP yg ditunggu mengenai karantina aja gak keluar, imbasnya kepala daerah inisiatif lockdown sendiri2

Namun yg dilakukan kepala daerah bahkan kepala desa yg lockdown masing-masing cukup gw apresiasi

Intinya masyarakat lebih takut virusnya daripada lockdown itu sendiri emoticon-Cool
Diubah oleh MUF0REVER
profile-picture
profile-picture
profile-picture
doombringer2211 dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Sempat Beda Data, Anies: Paling Banyak Tertular Corona Usia 20-40 Tahun
28-03-2020 22:47
Quote:Original Posted By n4z1

============

Hmmmmm......

Lalu benarkah Covid-19 rentan menyerang pada rentang usia 20 hingga 40 tahun seperti klaim Anies? Nyatanya salah.
Tingkat kematian terbesar akibat Covid-19 ada di rentang usia 45 hingga 65 tahun keatas. Kenapa bisa begini? Jawabannya mudah. Karena rentang usia tersebut adalah masa dimana imunitas tubuh menurun. Sistem imun tubuh tidak sekuat kala berusia muda, sehingga ketika Covid-19 menyerang, ditambah lagi dengan penyakit yang banyak terdapat pada rentang usia 45 hingga 65 tahun keatas, akibatnya akan fatal. Tapi tak apa-apa. Itu versi Anies. Jikalau beda, sudah biasa.
Bisa bedain antara terserang penyakit dengan yg meninggal akibat terserang penyakit? Clear ya, data ga bohonh

Benarkah Anies sudah memonitoring wabah ini sejak awal?
Oh, untuk jawaban yang satu ini gw gak perlu menjawab.
Lihat aja sebaran kasus Covid-19 di jakarta, berapa yang suspect, berapa yang mati.

Jadi salah anies? Lucu, dia diawal dia yg keras bicara covid malah dibully dibantah istana. Dengerin tuh podcast menit ke 7an, dia udah bikin rapat sama imigrasi dan BIN minta data warga yg baru pulang dari China, dan ga ada data. Dia sama kamil minta supaya daerah bisa test swab, supaya hasil cepat daerah bisa segera bertindak ditolak pusat (setelah smakin banyak baru boleh sama pusat).

Satu yang gw kritisi.
Tak ada yang berani menuding bahwa beberapa pemuka agama, bahkan mungkin para ustadz kampung, ikut bertanggungjawab atas narasi mereka soal Corona, sehingga masyarakat yang terbiasa hanya bisa mengamini kata-kata mereka, abai pada keselamatan jiwa mereka dan keluarganya.
Apa kata2 Ustadz itu? Kalau mau salah2an ya pmerintah lah. Dia yg punya kuasa, punya kemampuan menjaga wilayah. Kenapa ustadz kampung disalahin? Are you drunk?

Ini termasuk mantan Jenderal yang seruannya koplak beberapa waktu lalu, meskipun pada akhirnya dia memberi penjelasan dan pembelaan, tetapi tetap saja pembelaannya koplak.
Lu cuma berani nyorot yg terjadi setelah virus masuk, pencegahan pusat yg nihil ga lu sorot?

Mungkin Anies dimata pendukungnya adalah manusia yang sempurna. Jadi gw disini cuma mau nitip pertanyaan kepada para pendukungnya agar bisa diteruskan ke Anies.

Pertanyaannya :
Berapa sih sebenarnya alat Rapid test yang diterima Pemprov DKI Jakarta?
100 unit? 100.000 unit?
Lantas berapa sih masyarakat Jakarta yang sudah ditest sampai hari ini?
Mengingat penularan Covid-19 menurut penelitian tidak harus terjadi dari suspect yang sakit parah, dan penderita juga tidak selalu memiliki gejala umum terkana virus ini, lantas bagaimana mau membendung penyebaran jika rapid test hanya dilakukan pada orang-orang tertentu tanpa dilakukan acak?

Mungkin pendukung Anies ada yang mau bantu jawab.
[/center]
SOP melakukan rapid test ada ga dari pusat? Itu mestinya pusat yg buat, daerah tinggal melaksanakan


Diubah oleh verstappen
0 0
0
Lihat 2 balasan
Memuat data ..
Sempat Beda Data, Anies: Paling Banyak Tertular Corona Usia 20-40 Tahun
28-03-2020 22:49
Apapun itulah, udh menyebar, dah nanggung, jaga kondisi ama sadar diri aja bre emoticon-Embarrassment
0 0
0
Sempat Beda Data, Anies: Paling Banyak Tertular Corona Usia 20-40 Tahun
28-03-2020 23:04
Quote:Original Posted By sir_bayou
Tanpa data yg pasti, apa yg d sebut anies baru hipotesa...

Dan masy ga usah silang pendapat harusnya....

Lev Gubernur kalo ngomong mestiny pake data yg akurat, yang terukur, jgn perkiraan begitu...

Entah udangny apa tapi udah biasa denger anies kalo ngomong ada batunya...

emoticon-Big Grin


Bukannya gabener emang suka asal cuap tanpa data yg akurat

Udah gak heran

Tapi yg diungkapkan mungkin benar, soalnya sebagai carrier kadang gak menunjukkan gejala apalagi yg rapid test juga gak keseluruhan
0 0
0
Sempat Beda Data, Anies: Paling Banyak Tertular Corona Usia 20-40 Tahun
28-03-2020 23:05
Kasihan TS udah NGEBACOD BANYAK tapi GOBLOKNYA KEBANGETAN

BACOD GOBLOK
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rizaldi.sarpin dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Sempat Beda Data, Anies: Paling Banyak Tertular Corona Usia 20-40 Tahun
28-03-2020 23:12
ts gak berimbang dah gitu aja🤣
profile-picture
profile-picture
rizaldi.sarpin dan galuhsuda memberi reputasi
1 1
0
Lihat 3 balasan
Memuat data ..
Halaman 1 dari 4
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia