Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
81
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e7eddee349d0f49ff4ce531/cerbung-akim-hayatim-my-love-my-life
Part 1. Di Bawah Langit Istanbul Kupandangi seraut wajah beriris mata cokelat dengan alisnya yang tebal di layar ponsel. Sorot mata yang tajam namun teduh seolah menjanjikan perlindungan. Akan tetapi sama sekali aku tak pernah membayangkan jika punya pacar atau suami berjambang seperti yang sedang kutatap ini. Geli dan aneh saja rasanya. "Pokoknya lo gak bakalan nyesel kalo udah ketemu dia.&q
Lapor Hansip
28-03-2020 12:17

[Cerbung] Aşkim, Hayatim (My Love, My Life)

icon-verified-thread
[Cerbung] Aşkim, Hayatim (My Love, My Life)

Part 1. Di Bawah Langit Istanbul


Kupandangi seraut wajah beriris mata cokelat dengan alisnya yang tebal di layar ponsel. Sorot mata yang tajam namun teduh seolah menjanjikan perlindungan. Akan tetapi sama sekali aku tak pernah membayangkan jika punya pacar atau suami berjambang seperti yang sedang kutatap ini. Geli dan aneh saja rasanya.

"Pokoknya lo gak bakalan nyesel kalo udah ketemu dia." Dengan antusias Ayla mempromosikan lelaki yang akan dikenalkannya kepadaku.

"Ah, terang aja karena dia masih saudara lo!"

"Gue berani taruhan, lo bakalan jatuh cinta sama dia."

"Gak semudah itu, Ndut!"

"Gue kasih tantangan buat lo kalo prediksi gue bener."

"Apaan? Traktir makan?"

"Nggak! Lo seneng liat badan gue tambah melar, ya? Gue tantang lo naik balon udara di Cappadocia!"

"Anjrit! Gila, lo ya? Lo kan tau gue takut ketinggian!"

Kulempar sendal bulu kelinciku ke tubuh Ayla yang gempal. Ayla berlari meninggalkanku sambil tertawa.


Setiba di tanah Istanbul, aku tinggal bersama kakakku dan istrinya. Mereka sudah dua tahun hidup di pusat sejarah peradaban Islam di dunia ini. Kak Fahri memang bekerja sebagai pengajar bahasa Inggris di salah satu Primary School. Sebenarnya aku ingin kos, namun kakakku tak mengizinkan. Ia khawatir bila aku jauh darinya.

***

Segera kulipat mukena setelah salat Magrib di Masjid  Ortakoy.  Aku tak mau telat. Sengaja kupilih masjid ini karena lokasinya tak jauh dari kafe tempat janjian bertemu. Kutinggalkan masjid tua peninggalan sejarah masa kejayaan Sultan Abdul Majid bernuansa pink itu. Bergegas menuju gerbang masjid, tak lupa kusempatkan berswafoto. Agenda wajib yang tak bisa kulewatkan begitu saja dalam perjalananku di negeri ini. Tanpa meng-edit dulu, dengan penuh percaya diri segera kuunggah ke akun Instagramku.

Tatapanku liar mencari sosok  yang akan menemuiku, sesuai dengan pesan  yang  kuterima dari WhatsApp tadi siang. Ciri-ciri fisik yang sudah digambarkan belum tertangkap pandanganku. Hmm, tampaknya ia belum datang.

Di kafe tepi laut yang lumayan ramai dikunjungi, aku duduk menghadap lautan. Panorama malam dengan semarak cahaya lampu dari Bosphorus Bridge, jembatan penghubung benua Asia dan Eropa yang membelah wilayah Turki itu sungguh menakjubkan. Belum pernah kunikmati pemandangan malam seindah ini.

Udara dingin dan angin pantai sesekali mengibaskan ujung hijab yang menerpa wajahku. Kunjunganku kali ini tepat di penghujung musim dingin, sehingga tubuhku sedikit menggigil diserta gigi menggemeletuk. Mantel tebal pun tak cukup membuatku merasa hangat. Aku belum terbiasa dengan perubahan cuaca di negeri orang.

Segelas mungil Cay, teh Turki beraroma khas berada dalam genggaman mengalirkan hangatnya ke tubuhku. Sepotong simit, roti berbentuk donat besar kupesan sekadar pengganjal perut.

Aku penasaran dengan usaha Ayla untuk mengenalkan familinya yang berada di negeri para sufi ini. Ingin tahu saja seberapa keren ia seperti yang Ayl bilang. Kalau lihat di foto profil WhatsApp-nya sih lumayan. Senyum dan tatapannya itu yang mungkin menarik. Ah, Ayl-ku ada saja ulahnya sama adik iparnya ini. Aku tahu Ayl ingin aku segera mendapat jodoh. Ia juga tak mau aku larut dalam kesedihan karena baru saja putus dengan Haikal. Padahal aku justru merasa terbebas setelah meninggalkannya.

Kulirik jam digital di ponsel sudah lewat angka 7.00 PM. Untuk membuang rasa jenuh, kubuka Instagramku. Oh, ternyata sudah banyak komentar  follower yang rata-rata sahabatku di Jakarta. Kubaca satu persatu komentar konyol mereka, lalu kubalas sambil tertawa geli.

Iyi akşamlar.” Terdengar suara berat menyapa dalam bahasa Turki, cukup mengagetkanku. Kuangkat wajah dari layar ponsel.

Iyi akşamlar, selamat malam!” balasku terkesima menatap seraut wajah tampan  di hadapanku.

”Nazhira?” tanyanya. Kuanggukan kepalaku.

“Emir?” Aku balik bertanya. Ia tersenyum lalu mengulurkan tangannya untuk bersalaman.

“Sudah lama menunggu?” tanyanya dengan aksen Indonesianya yang kaku. “Maaf, agak macet di perjalanan.”

“Nggak apa-apa, aku belum lama juga kok,” jawabku sambil mempersilakan duduk.

        Sejenak kami terdiam, sedikit grogi dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Ya Tuhan, ternyata ia lebih keren dari foto yang kulihat di WA-nya. Tanpa sadar aku senyum-senyum sendiri. Tak sia-sia usaha kakak iparku kali ini.

“Umm ... aku mau pesan minuman, barangkali Nazhira mau nambah, bisa sekalian kupesankan.” Tawaran Emir berhasil memecah kebekuan  diantara kami.

“Oh enggak, terima kasih, ini sudah cukup,” jawabku gugup. "Oya, panggil aku Naz aja."

       Kuperhatikan dari sudut mata ketika ia menyesap kopi Turki pesanannya. Sekilas wajahnya mengingatkanku pada aktor terkenal Turki Sukru Özyildiz ketika berperan di drama seri Nefes Nefesi. Gagah dengan jambang tipisnya. Matanya itu ....

“Ayla bilang kamu tinggal di rumahnya,  suaminya itu kakakmu, bukan?” Ia kembali membuka percakapan.

“Betul, Kak Fahri itu kakak kandungku,” jelasku. “Oya, Ayla bilang apa saja tentang diriku?”

“No, kami belum banyak bercerita. Yang kutahu, Naz kuliah di sini dan kunjungan kali ini hanya untuk registrasi. Karena Naz akan kembali ke Jakarta mempersiapan dulu keperluan. Itu saja sih. Betul, nggak?"

Fyuhh! Lega rasanya napasku. Yang kutakutkan Ayla bercerita macam-macam. Secara ia paling banyak tahu segalanya tentang aku. Ya, aku dan Ayla bersahabat sejak di bangku SMP. Kami selalu bersama kemanapun pergi, juga teman saling curhat. Sementara itu kami terpisah karena ia dipersunting Kak Fahri setelah menyelesaikan S1-nya, dan diboyong ke negeri ini. Sedangkan aku lanjut mengajar di salah satu SMA swasta di Jakarta. Kebetulan sekali aku lulus mendaftar kuliah S-2 lewat Burslari, yaitu program beasiswa yang ditawarkan pemerintah Turki. Aku tak mau sia-siakan kesempatan emas ini.

“Apa benar kamu pernah tinggal di Indonesia?” tanyaku.

“Betul, aku bahkan lahir dan tinggal di sana sampai usiaku 10 tahun. Babam dulu memimpin perusahaan batubara milik kakekku di Kalimantan. Kemudian bertemu Annem, menikah dan lahirlah aku serta adikku Aisha. Saat perusahaan mengalami kemerosotan, Babam melepasnya dan memboyong kami kembali ke Turki.” Kemudian ia melanjutkan kisah masa kecilnya saat di Indonesia.

“Pantas saja masih fasih berbahasa Indonesia,” sambungku.

“Tapi jujur saja, aku pasti lupa andai Annem tak menggunakannya lagi. Untungnya sesekali ia berbahasa Indonesia, apalagi kalau sedang marah atau ngomel-ngomel,” ceritanya sambil terbahak. Aku pun ikut tertawa mendengarnya.

      Suasana beku diantara kami mulai mencair. Ternyata ia cukup menyenangkan. Kuteguk çay-ku yang hampir habis dan  berubah dingin, sementara Emir asyik menikmati baklava.

“Simit-mu kenapa tak dihabiskan, Naz?” tanyanya melirik roti didepanku.

“Tadinya aku pengen cicipin dolma, tapi nggak ada di daftar menu, jadi terpaksa kupesan simit,” jawabku.

“Di tempat ini yang terkenal enak itu kumpir sama waffle, juga es krim,” jelas Emir. “By the way,  tahu dolma dari mana?”

“Dari drama seri yang suka kutonton,” jawabku. “Aku penggila drama Turki."

“Oya? Kamu penggemar drama Turki?Sudah nonton apa saja?"

“Lumayan banyak sih, tapi yang paling kusuka Kara Sevda sama Erkenci Kus."

"Aku heran, apa sih yang membuatmu tertarik?” tanyanya  penasaran.

“Aktornya ganteng-ganteng!” jawabku dengan spontan.

“Berarti kamu suka sama cowok Turki. Ya, kan?" Ia mulai berani menggoda.

“Iya! M-maksudku ...." Aku menahan ucapanku karena  malu. Ah Naz, ah! Andai ini siang mungkin pipiku akan jelas merona merah.

“Sudah malam.” Aku berusaha mengalihkan pembicaraan sambil menengok jam di layar ponsel.

“Ok, besok kita cari dolma kalau memang kamu penasaran,” ujarnya seraya beranjak dari kursi. “Sekarang sudah cukup malam, kuantar kamu pulang.”


       Di tempat parkir, Emir membukakan pintu mobil sport hitamnya untukku. Setelah bersandar nyaman, kutarik safe belt untuk kupasang mengikat tubuhku. Akan tetapi,  beberapa kali kutarik talinya tak juga  terulur, sepertinya macet. Melihat aku dalam kesulitan, Emir berusaha membantuku. Saat ia meraih lalu menarik gesper, lengannya tak sengaja melingkari perutku. Ia memiringkan tubuh hingga wajahnya hampir menyentuh wajahku. Di saat itu jantungku berdegup kencang. Aliran darahku seakan terhenti dan napasku tertahan seketika. Aroma tubuhnya terhirup dan embusan napasnya terasa hangat di pipiku. Aku tak berani bergerak karena jarak yang begitu dekat. Andaikan kupalingkan mukaku sedikit saja, wajah kami pasti beradu. Dari sudut mata, terlihat jelas helai demi helai rambut halus menghiasi rahang dan dagunya yang kokoh. Sempat pula kutangkap saat matanya memperhatikan wajahku agak lama. Tatapannya yang lembut seakan menjelajahi seluruh bagian di wajahku. Aku hanya bisa menelan saliva. Oh My God! Apa yang sedang terjadi dengan diriku?   Kalimat istighfar berulang-ulang kurapalkan dalam hati. 

       Setelah sabuk pengaman terpasang dengan baik, Emir mulai menghidupkan mobil. Sepanjang jalan kami terdiam, tak sepatah kata pun terucap. Mungkinkah ia sibuk dengan pikiran dan perasaannya atas kejadian beberapa saat tadi, seperti diriku?

Hanya saja di tengah perjalanan, beberapa kali dering panggilan dari ponsel Emir memecah keheningan. Anehnya Emir selalu menolak panggilan itu. Sekali lagi ponsel itu berbunyi, jiwa kepoku muncul. Penuh penasaran diam-diam kulirik nama yang tertera di layar itu. Zeyda! Sepertinya itu nama perempuan.

Kali ini Emir menjawabnya, namun dengan nada kesal. Kudengar percakapan mereka dalam bahasa Turki, ia meninggikan suaranya dengan raut wajah berubah tegang. Tampaknya ia sedang marah dengan lawan bicaranya. Lalu siapakah Zeyda? Apa hubungannya dengan Emir?

        Mengapa tiba-tiba ada rasa tak enak dalam hatiku, seperti ada rasa kecewa atau sakit? Ah, kenapa aku jadi memikirkannya? Itu bukan urusanku! Kenal juga baru saja dan ... siapa aku di hadapannya?  Tahu diri dong, Naz!

       Tiba di rumah kakakku, Emir turun lebih dulu, kemudian membukakan pintu mobil dengan santun.

“Maaf aku tak bisa ikut masuk dulu, sepertinya mereka sudah tidur,” ujarnya perlahan.

“Nggak masalah, terima kasih sudah mengantar,” jawabku.

“Sampai ketemu besok!” ujarnya “Oya, aku siap mengantarmu kemanapun kamu mau, tapi selepas kerja. Kalau weekend  aku siap menemanimu  seharian, itupun kalau kamu mau.”

“Dengan senang hati,” sambutku girang. “Itupun kalau tak merepotkanmu.”

“Enggak! Aku malah senang bisa membantumu selama di sini, dan ...  aku pun ingin mengenalmu lebih dekat.” Ia berusaha meyakinkan. Di kalimat terakhir,  suaranya merendah hampir berbisik, membuatku tergetar.

“Baiklah, besok siang kukabari. Teşekkurler!” ucapku seraya berterimakasih.

“Ok, tamam!  Iyi geceler!” Ia melambaikan tangannya sambil masuk ke mobil.

“Iyi geceler!” Kubalas lambaian tangannya.

"Assalamualaikum!” ucapnya sekali lagi sebelum mobilnya bergerak.

Waalaikumsalam!” jawabku masih berdiri menunggu sampai kendaraannya hilang dari pandangan.

       Setelah salat Isya, kurebahkan tubuh lelahku setelah seharian mengunjungi beberapa tempat di kota Istanbul. Terbayang lagi semua kejadian yang kualami saat pertemuanku dengan Emir. Aku membenamkan senyumku di bantal.
Wajah mirip Sukru Özyildiz itu masih menari-nari di pelupuk mata. Senyum dan tatapannya masih tak mau pergi.

Sambil berusaha pejamkan mata, aku berdo’a semoga semua bisa  terulang  dalam mimpiku malam ini. Ah, tak sabar rasanya menunggu pagi datang.

***


Iyi askamlar  : selamat malam
Iyi geceler  : selamat malam (larut)
Anne / Annem : Ibu/ Ibuku
Baba/ babam  : Bapak/ Bapakku
Abi  : Kakak laki-laki
Abla/ Ablacim : kakak perempuan/ Kakak perempuanku sayang
Tamam : okay
Teşekkurler : terima kasih
Diubah oleh rinafryanie
profile-picture
profile-picture
profile-picture
NadarNadz dan 40 lainnya memberi reputasi
39
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 3
[Cerbung] Aşkim, Hayatim (My Love, My Life)
28-03-2020 12:19
Diubah oleh rinafryanie
profile-picture
profile-picture
profile-picture
RetnoQr3n dan 10 lainnya memberi reputasi
11 0
11
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
[Cerbung] Aşkim, Hayatim (My Love, My Life)
28-03-2020 12:19

Part 2. Syair Sang Pujanggga Legenda

[Cerbung] Aşkim, Hayatim (My Love, My Life)

"Gimana semalem? Lo gak mau cerita, heh?" Ayla menggodaku. Sengaja tak segera kujawab, biar Ayla semakin penasaran.

"Naz!" seru Ayla sambil melotot. Aku tertawa melihat wajahnya yang merengut.

"Lo nggak salah ngenalin dia," jawabku akhirnya.

"Hah? Lo langsung jatuh cinta?" Ayla tampak kaget. "Bener kan, gue bilang apa?"

"Gila! Nggak lah!" sanggahku. "Eh tapi senyum sama tatapannya itu, Ayl ...."

"Apa? Kenapa?" Ayla tambah penasaran.

"Ada deh," sahutku menggodanya.
Kutinggalkan Ayla yang bengong menuju taman mini di halaman.

***

Pagi masih terbalut hawa dingin. Mentari belum menampakkan  sinarnya. Langit pucat payungi permukaan tanah Istanbul yang masih basah. Butiran sisa hujan semalam, masih menetes dari dedaunan. Aromanya menyeruak segar menyelusup rongga napasku.

Kusirami tanaman-tanaman kecil di pot yang tak tersentuh air hujan. Kubuang daun-daun kering serta rumput yang tumbuh liar. Sejak Ayla sibuk dengan Baby Zee, ia agak menelantarkan tanamannya. Padahal aku paling anti mengurus tanaman. Hanya saja karena tanaman ini terlihat mulai berbunga,  terpaksa kusirami. Sayang kalau sampai mati mengering. Sebenarnya aku punya alergi serbuk sari. Agak aneh memang, karena jarang-jarang orang yang punya alergi sepertiku ini. Terhirup baunya saja, mata dan hidungku langsung berair. Larinya langsung bersin-bersin. Ini gen yang diturunkan Mama, tentu saja selain kecantikan parasnya.

"Assalamualaikum, Gunaydin!" Suara dari belakang membuatku hampir terjengkang karena kaget.

"Waalaikumsalam, selamat pagi ... Emir!" jawabku gugup. Aku salah tingkah ketika sadar kepalaku tak berhijab. Sedikit pun tak mengira Emir akan  datang sepagi ini.

Emir  terpaku, matanya tak lepas  dari tubuhku. Bahkan  lebih liar menatap dari atas sampai bawah seperti terpesona. Saat itu aku ingin berlari masuk rumah dan bersembunyi karena malu. Kucoba tutupi  kepala dengan kedua tangan, namun rambut panjangku tetap  tergerai bebas di punggung.

"Emh ... silakan masuk, aku ganti pakaian dulu!" kataku sambil berlari mendahului masuk. Aku tahu ia masih terpukau di belakangku.

Saat aku turun dan sudah berpakaian rapi,  Emir sedang ditemani Kak Fahri mengobrol.

"Naz, hari ini Kakak nggak bisa temani kamu belanja oleh-oleh  buat ke Jakarta," ujar Kak Fahri. "Zee agak demam, kasian Ayl harus ngurus sendiri."

"Nggak apa-apa Abi, aku bisa antar Naz kebetulan aku free." Emir memotong pembicaraan kakakku. Eh, ia panggil Kak Fahri dengan Abi, itu kan sebutan untuk kakak laki-laki. Ah, aku lupa. Tentu saja ia memanggil dengan sebutan itu, Ayla kan kakak sepupunya.

"Lho, Baby Zee sakit apa?" tanyaku kaget. Aku menghampiri Ayla yang sedang menggendong bayinya.

"Entahlah, dari semalam panasnya tinggi," jawabnya terlihat khawatir.

"Aih, Zee sayang, jangan bikin Aunty-mu sedih  dong, besok kan Aunty pulang ke Jakarta! Cepet sembuh ya," ucapku sambil meraba dahi Zee.

"Ayl, gue mau belanja, lo mau titip apa?" tanyaku kepada Ayla.

"Nggak, gua titip lo aja," jawab Ayla tanpa kumengerti.

"Maksud lo?" Aku mengernyit.

"Titipin lo sama Emir!" seru Ayla sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Emir. Emir seakan tahu maksud Ayla, ia balas berkedip sambil tersenyum penuh arti.

"Don't worry, Ablacim!" sahut Emir.

Kucubit pinggang Ayla yang berubah lekuk. Dari pasca lahiran, Ayl belum bisa mengembalikan kelangsingannya. Perutnya pun mulai berlemak. Tapi ia masih tetap cantik.

Ketika berpamitan, Kak Fahri menahanku di pintu sebelum aku keluar.

"Ingat, Naz! Jaga diri, jaga hati!" bisiknya.

"Uh! Selalu  saja ...."  gerutuku. Melihatku bersungut, kakakku menjentikan jarinya ke ujung hidungku.

"Diingetin malah manyun,  dasar manja!" ujarnya.

Aku tahu kakakku selalu ingin menjagaku. Ia tak mau terjadi sesuatu pada diriku. Terkadang ia over protectif karena terlalu sayang, juga menjaga amanah yang dititipkan orangtua kami.

Kak Fahri juga berpesan kepada Emir untuk menjagaku. Ia menyampaikan kekhawatirannya. Emir terlihat berusaha meyakinkan, jika aku aman bersamanya.

Di mobil, Emir menyetir sambil senyum-senyum sendiri. Aku merasa  penasaran, apa yang sedang dipikirkannya.

"Dari tadi kulihat senyum-senyum terus, ada apa sih?" tanyaku. Emir melirikku sambil tetap tersenyum malah terkesan menggodaku. "Apaan, sih? Apa ada yang lucu?"

"Nggak, cuma masih kebayang aja tadi ada yang malu-malu pas aku datang," jawabnya. "Bayangan itu nggak mau hilang dari ingatanku, apa lagi saat dia ...."

Buk!

Dia menghentikan kalimatnya setelah kulempar dengan sebuah benda kecil yang ada di dashboard. Bukannya marah, ia malah tergelak.

"Cok güzel...." gumamnya.

"Hah? Kamu bilang apa?"

"You are so beautiful!"

Wajahku mulai memanas.

"Gombal!" seruku. "Dosa lho, lihatin perempuan bukan muhrim kayak gitu, banyak-banyak istighfar !"  ujarku cemberut.

"Tapi aku nggak sengaja lihat!" Emir berkilah.

"Alasan!" Aku pura-pura marah.

"Tapi bener kok, kamu cantik sekali."

Dari situ aku dan Emir semakin akrab. Suasana tak sekaku tadi malam, karena kami tak sungkan  lagi saling bercanda.
***


Besok pagi aku terbang ke Jakarta. Sebelum pulang aku hunting oleh-oleh buat sahabat dan keluargaku. Emir mengajakku belanja di Grand Bazaar, pusat belanja termegah dan tertua di negeri ini bahkan di dunia.

Tiba di Grand Bazaar, Emir langsung membawaku menyusuri lorong komplek pertokoan yang  megah dan artistik ini. Setengah kalap kumasuki tiap gerai yang menjual berbagai  souvenir. Melihat barang-barang unik dan murah, naluri perempuanku timbul. Rasanya ingin kuborong semua untuk dibawa pulang ke Indonesia. Tapi segera kutahan lapar mata ini. Hanya kupilih beberapa barang yang benar-benar diperlukan. Ingat, aku harus berhemat untuk bisa hidup dan selesaikan kuliah di sini. Aku tak mau tergantung pada orangtua juga kakakku.

Tak terasa waktu sudah memasuki  Zuhur, kudengar suara azan berkumandang. Kuajak Emir menghentikan belanjaku untuk salat dan makan siang dulu. Kami berjalan menuju masjid di area pusat perbelanjaan. Aku harus konsisten dengan niatku untuk mengerjakan salat tepat waktu, apapun kondisinya. Ini salah satu resolusiku dalam berhijrah, setelah berhijab.

Dengan terkagum-kagum, kujejakkan kaki di lantai dingin dan berkilau. Adem rasanya setelah rasa lelah melanda tubuh. Kuedarkan pandangan ke arah shaf laki-laki, namun tak tampak Emir di barisannya. Mungkin ia masih berwudu.

"Naz, berhubung jarak shaf kita terpisah jauh, selesai salat kita ketemu lagi disini." Aku menganggukan kepala sambil menerima kantung plastik untuk membungkus sepatu. Itu kalimat terakhir yang ia ucapkan sebelum terpisah.

Selesai salat, seperti biasa kupasang kamera ponselku. Kuambil gambar-gambar tiap sudut ruangan, tak lupa berswafoto diantara para turis yang juga sibuķ berfoto. Di sini aku heran karena bukan hanya orang hendak salat saja yang berkunjung ke masjid ini, tapi turis asing yang tidak salat pun ramai mengunjungi, bahkan mereka yang beribadah seolah tak  terganggu dengan aktivitas mereka.

Di tempat tadi terpisah,  Emir sudah menunggu. Melihatku berjalan ke arahnya sambil potret sana potret sini, ia menawarkan diri untuk mengambil gambarku agar terlihat seluruh badan. Beberapa kali ia ambil fotoku, lalu kami pun beberapa kali berfoto berdua.

Kami makan siang di resto, masih di kawasan Grand Bazzar. Saat kami tengah menyantap menu, telepon Emir berdering. Emir melihat pemanggilnya, lalu mengabaikan. Sampai beberapa kali, persis seperti di waktu pertama kami bertemu.

"Siapa? Kenapa nggak mau jawab?" pancingku.

"Bukan siapa-siapa, tak penting juga," jawabnya seperti tak ingin aku tahu. Justru sikapnya ini semakin membuatku merasa penasaran.

"Apa selalu seperti itu kamu menanggapi orang?"

"Maksudmu?"

"Menganggap tak penting."

"Nggak juga! Tergantung." Emir menghabiskan sisa saladnya.

Ponsel kembali berdering, nama Zeyda tampak jelas muncul di layar. Dia lagi. Ada apa sih?

"Zeyda itu siapa?" Aku memberanikan diri bertanya.

Emir tercekat menghentikan kunyahan.
"My Ex-girl, tapi sudah lama break. Aku nggak ngerti kenapa ia telepon aku terus. Padahal sudah tak ada apa-apa diantara kami. It's over," jelasnya.

"Kenapa nggak dijawab? Mungkin ada hal penting yang harus ia sampaikan." ujarku sambil mengaduk-aduk pasta bollognes, tanpa menghabiskannya. Selera makanku tiba-tiba sirna. Aku berusaha menutupi gejolak rasa di dada. Gemuruhnya hàmpir tak bisa kutahan.

Emir menjawab panggilan itu dan langsung berbicara dengan nada keras. Terlihat sekali kalau ia sedang marah.

"What happened?" Emir mengamati wajahku setelah menutup panggilan teleponnya. Sontak aku terjengah, adakah perubahan di wajahku?

"Nothing. I'm ok!" Aku menggeleng gugup. Harusnya aku yang bertanya begitu. Ada apa diantara mereka kalau memang sudah tak ada apa-apa?
Eh? Kenapa mesti aku yang merasa galau?

"Masih ada barang yang mau dicari?" Emir mengalihkan pembicaraan.

"Aku mau cari beberapa buku sastra negeri ini dalam bahasa Inggris, untuk referensi bacaanku."

"Ok, habis ini kita jalan lagi."

Kembali ke Bazaar, Emir membawaku masuk ke area gerai buku. Aku langsung mencari buku yang kuinginkan. Beberapa buku kupilih karena Emir yang merekomendasikan. Sepertinya bagus juga selera sastra yang dimilikinya.

Setelah membayar di kasir, kulihat Emir membeli sebuah buku lalu memberikannya padaku.

"Ini kuhadiahkan untukmu. Kamu pasti suka. Harus dibaca kalau nanti kita berjauhan, biar nggak kangen."

"Hah?" Aku terkesiap. Ia tertawa kecil.

"It's a joke! Nggak usah dipikirin," jawabnya santai.

Gimana nggak bisa dipikirin coba, kata-katanya membuat banyak pertanyaan sesat yang hanya berputar-putar di otakku.

Senja telah beranjak, namun kami masih ingin menikmati kebersamaan. Telepon dari Kak Fahri beberapa kali menanyakan keberadaanku. Ia pasti mengkhawatirkanku. Tapi selalu kujawab 'sebentar lagi pasti pulang' dengan berbagai alasan.

Setelah Magrib, kami masuk ke sebuah kedai minuman di tepi Selat Bosphorus, tak jauh dari tempat pertama kali bertemu.

"Di sini biasanya ada dolma, kamu masih penasaran, kan?"

Aku tertawa kecil mengiakan. Ternyata ia masih ingat janjinya semalam. Lalu ia memesan beberapa potong dolma dan kebab. Aku memesan Cay, sedangkan ia memesan minuman raki yang asing bagiku.

Setelah menu tersaji, aku menyantapnya dengan lahap. Benar juga perkiraanku saat membayangankan betapa nikmatnya makanan ini setiap kali dilihat di layar kaca. Lezat dengan aroma rempahnya yang dibalut daun anggur, khas banget. Kalau kebabnya tak jauh berbeda dengan yang sering kumakan di Jakarta.

Quote:"Jika laki-laki memberi segelas minuman ini kepada seorang gadis, lalu gadis itu bisa menghabiskannya dalam sekali tegukan, maka mereka akan berjodoh."


Emir menyodorkan segelas Raki ke hadapanku.

Aku segera menelan kebab yang masih penuh di mulut. Kuraih gelas itu lalu kuteguk sampai habis dengan terengah-engah.

"Mitos dari mana?" tanyaku sambil menyeka mulut dengan punggung tangan. "Syirik lho!"

Emit menahan tawa, lalu memberiku selembar tissu.

"Aku sendiri yang bikin mitos," jawabnya dengan santai.

"Hah?" Aku terperanjat. Jadi? Dia ngerjain? Kulempar gulungan tissu bekas menyeka mulut, tepat kena bahunya. Ia tergelak.

"Kamu juga sih! Tahu syirik, masih aja dipercaya."

"Minuman apa sih ini? Kok aku mendadak pusing," kataku memegang kepala. Pandanganku seperti berputar-putar.

"Ini raki, minuman fermentasi dari buah anggur." Jawaban Emir terdengar samar-samar di telingaku.

Setengah sadar aku dipapah Emir masuk ke mobil. Dalam pandanganku yang berbayang, kulihat raut wajah Emir tegang seperti ketakutan. Aku tak ingat apa-apa lagi karena langsung tertidur di mobil.

***

Sampai di rumah, aku dibangunkan Emir yang masih kebingungan karena kondisiku yang masih belum sadar sepenuhnya. Ia pasti tak mengira akan terjadi masalah seperti ini. Aku berusaha menenangkannya walau keadaanku masih belum stabil.

Melihat aku pulang dengan sedikit mabuk, kakakku langsung menyambut dengan muka tegang, kemudian menginterogasi Emir.

"Apa yang terjadi dengan Naz? Kau apakan dia, hah?" tanyanya panik.

"Maafkan aku, Abi. Tadi Naz kuberi raki. Aku tak tahu Naz bakalan mabuk," jawab Emir dengan rasa bersalah.

"Astaghfirullah! Kenapa kamu beri minuman haram itu? Jangan kau samakan kami dengan kebiasaan kalian di sini!" bentak Kak Fahri yang langsung marah.

Ayla langsung memapahku ke kamar. Kudengar kakakku masih meluapkan emosinya kepada Emir. Celaka! Ia tak mempercayainya lagi untuk berteman denganku dan dilarang menemui lagi.

Air mata penyesalan pun merembes. Menyesali diri kenapa mau saja ketika ditawari minuman yang belum kukenal sebelumnya. Kenapa juga Emir melakukannya? Mestinya ia yang lebih paham.

Di  Attaturk Airport, aku berpamitan kepada Kak Fahri dan Ayla. Sebelumnya aku minta maaf dan berjanji tak akan mengulangi kejadian semalam. Tiba-tiba, ponselku bergetar.  Ada pesan masuk di WhatsApp.

"Lihat ke arah 45 derajat, 20 meter dari tempatmu berdiri. Aku tak bisa mendekat, hanya bisa mengantarmu dari sini. Selamat jalan."

Aku mengedar pandangan ke arah yang ditunjuk dengan nanar. Sekitar dua puluh meter dari tempatku, Emir bersandar di sebuah pilar. Lelaki berusia 29 tahun itu tersenyum melambaikan tangannya. Kubalas senyumannya, tapi kutahan diri untuk membalas lambaian, karena takut kakaku curiga.

"Saat kau rindu, bacalah syair berjudul 'Uzaktan Seviyorum Seni' dari Cemal Sureyya. Aku pasti merindukanmu."

Aku tersenyum dan tersipu. Entahlah, aku harus bahagia atau bersedih dengan perpisahan ini.

***

Di pesawat yang menerbangkanku ke Jakarta, kubuka buku karya penyair legendaris Turki yang ditulis dalam bahasa Inggris itu.



Uzaktan Seviyorum Seni (I Love You from Afar)
By Cemal Sureyya

I love you from afar
without being able to smell your scent
to embrace your nape
to feel your face
I merely love you

from afar, I just love you
not holding your hand
without touching your heart
nor dissolving in your eyes
in spite of today’s three-day love fads
not wildly but like a man, I love you

I just love you from afar
without wiping off the two tears running down your cheeks
not joining you in your heartiest laughs
nor crooning together with you your most favorite song

from afar, I just love you
without disappointing,
not pouring out anything
without destroying
not making sad,
nor causing a cry, I love you from afar

I just love you like that from afar;
by shredding in my tongue
every word I want to tell you
I love you

I love you on a white piece of paper
while my words fall down, drop by drop


***
Diubah oleh rinafryanie
profile-picture
profile-picture
profile-picture
trifatoyah dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
[Cerbung] Aşkim, Hayatim (My Love, My Life)
28-03-2020 12:21

Part 3. Posesif

[Cerbung] Aşkim, Hayatim (My Love, My Life)

Begitu kaki menapak di tanah kelahiran, aku berdiri sambil memejam. Kuhirup dalam-dalam udara Jakarta yang seminggu ini tak mampir di paru-paruku. Walau tak sesegar Istanbul, namun aromanya membuat rindu. Inikah namanya rindu tanah air? Rindu kampung halaman? Ya. Meski ada sesuatu yang abstrak tertinggal di belahan dunia sana, tapi rasanya terbawa sampai sini. Di hati.

Tiba di rumah, pelukan Mama menyambut hangat. Papa kebetulan masih di kantor, aku belum sempat bertemu. Sambil melepas kangen, Mama langsung memintaku bercerita tentang pengalamanku, selama di Negeri Seribu Masjid itu.

Haruskah keceritakan masalahku dengan Kak Fahri, atas kejadian malam itu? Sepertinya Mama belum diberi tahu kakakku, karena tak menyinggungnya.

"Baru ditinggal seminggu aja  Mama udah kangen banget, Naz. Gimana nanti kalau dua tahun, ya?" keluh Mama sambil membongkar tas berisi oleh-oleh.

"Naz juga inget Mama terus." Aku menimpali. Kembali kupeluk perempuan yang mulai banyak kerutan di wajah cantiknya itu.

"Iya, sepi banget tanpamu, Naz! Tapi kamu nggak manja 'kan, di rumah kakakmu? Kasian Ayla. Sudah kerepotan ngurus bayi, ditambah lagi harus ngurusin adiknya yang manja," ledeknya.

"Nggaklah Ma, Naz tahu diri kok," jawabku agar tak membuatnya khawatir.

"Oya, pesanan tantemu mana?" Aku menyodorkan kantung berisi beberapa jilbab dan manisan buah kering untuk Tante Sofie, adik Mama. Juga mug teh untuk Papa.

***

Baru sehari di Jakarta, tak bisa kutahan keinginan bertemu teman-teman. Sore itu, kami sepakat untuk berkumpul di sebuah kafe daerah Kemang. Sekadar nongkrong sambil ngopi, kami melepas kangen. Tertawa dan bercerita, hingga berswafoto adalah kebiasaan kami kalau ngumpul. Kadang suka sampai lupa waktu.

Di tengah keseruan bercanda-ria, tak diduga sebelumnya, Haikal datang. Mantan kekasihku itu menghampiri meja kami. Entah dari mana ia tahu aku ada di sini. Sejenak, semua terdiam dan memperhatikannya.

"Hai, Naz! Pulang nggak bilang-bilang. Aku 'kan bisa jemput kamu di bandara."
Tanpa dipersilakan, Haikal menarik kursi ikut duduk di antara kami. Aku, Fika, Sasha, dan Zoya, hanya saling bertukar pandang. Mereka seolah tahu apa yang kupikirkan. Zoya pun tampak mengangkat bahu.

"Kenapa harus bilang? Nggak ada kewajibanku untuk melapor sama kamu," jawabku dengan ketus.

"Seenggaknya hargai aku dong, Naz," tukasnya sambil mengetuk-ngetuk kunci mobil ke meja.

"Memangnya, aku apanya kamu?" ujarku sinis.

"Naz!" Ia agak membentak dengan menegakkan kepala. Kelihatan sekali ia tak suka dengan ucapanku.

Muak rasanya harus berhadapan dengan mukanya lagi. Sikapnya tak pernah berubah. Tiga tahun  menjadi pacarnya, ternyata tak cukup untuk memahami dirinya. Sikap temperamentalnya selalu saja membingungkan. Kadang baik, manis, namun  tiba-tiba berubah jadi pemberang. Kadang cemburu buta bahkan posesif. Aku seakan terkekang dan tertekan oleh tingkahnya. Tak jarang ia berlaku kasar, selalu merendahkan, juga terlalu mengatur. Lebih-lebih dari orangtuaku sendiri.

"Kal! Lo kan sudah jadian sama Keysa, kok masih ngejar Naz, sih?" Dengan berani, Fika menegur Haikal.

"Lo nggak usah ikut campur urusan orang, Fik! Lo nggak tahu apa-apa!" Haikal tersinggung oleh omongan Fika. Memang pernah kudengar ia suka jalan dengan Keysa, teman kami juga. Tapi  sudah tak peduli apa pun yang lelaki sombong itu lakukan.

"Cuma ngingetin lo doang, Kal! Gue nggak mau sahabat gue, lo jadiin mainan." Fika, si tomboy itu tak mau kalah. Dia memang paling galak di antara sahabat-sahabatku.

Raut muka Haikal memerah menahan amarah, sementara  jemarinya semakin kuat mengepal kunci kontak dalam genggamannya. Fika berhasil memancing emosinya. Kalau sudah begitu, pasti akan ada aksi adu mulut diantara keduanya. Suasana pun berubah panas, seperti suhu tubuhku yang tiba-tiba naik saat ini.

Tiba-tiba Haikal bangkit dan menarik lenganku dengan kasar. Setengah diseret, dibawanya aku keluar menuju parkiran. Aku meronta, berusaha melepaskan cengkeraman di lenganku.

"Kamu apaan sih? Lepaskan!" seruku.

"Ikut aku!" jawabnya dengan singkat.

Ketika aku dipaksa masuk ke mobilnya, Fika mengejar. Ia menggedor-gedor kaca jendela mobil.

"Buka! Lo mau bawa ke mana si Naz, hah?" Teriakan Fika mengundang  perhatian orang-orang di sekitar. Mata mereka tertuju ke  arah kami. Saat itu aku merasa jadi tontonan gratis.

Haikal tak menghiraukan. Ia langsung menghidupkan Jeep-nya meninggalkan sahabat-sahabatku yang berlarian menyusulku ke luar kafe.

"Banci, lo!" Masih terdengar teriakan Fika memaki Haikal. Semoga saja mereka mengikutiku.

Di dalam mobil, spontan kumarahi Haikal yang  masih menekukkan mukanya.

"Maksudmu apa dengan semua ini? Di antara kita sudah nggak ada apa-apa. Kita sudah putus, Kal!"

"Itu 'kan menurutmu! Aku belum menganggap hubungan kita putus. Kamu hanya memutuskan sepihak!" bantahnya.

"Tapi ... aku sudah nggak mau sama kamu, Kal! Tingkahmu yang keterlaluan itu selalu bikin aku nggak nyaman bersamamu!" Untuk kesekian kali, kujelaskan alasan memutuskannya.

"Tapi aku masih mencintaimu! Sampai kapan pun nggak akan pernah berhenti mencintaimu!" Haikal lebih kuat menekan kata-katanya.

"Lalu Keysa? Kamu, mainin dia?" tanyaku, ingin membuatnya tersudut.

"Nggak, Naz. Aku nggak ada hubungan apa-apa dengannya. Keysa hanya temen biasa." Suaranya mulai melemah, seperti menyembunyikan rasa bersalah, atau sesuatu yang dirahasiakan.

Kuperhatikan dari sudut mata, Haikal tampak  gelisah. Ia mengusap-usap rambutnya ke belakang kepala, sementara tangan satunya tetap memegang setir. Kalau bertingkah seperti itu, biasanya ia sedang resah memikirkan sesuatu.

Ternyata aku dibawa ke kafe miliknya. Awalnya aku menolak turun, namun melihat sorot matanya yang menghunjam, kuturuti kemauannya. Aku tak mau ribut. Dengan kesal, aku mengikuti  tangan yang mencekal pergelanganku. Tanpa banyak bicara karena takut jadi perhatian orang-orang lagi. Apalagi di kafe ini sedang banyak pengunjungnya.

Haikal menarik kursi untuk kududuki,  di meja sudut ruangan. Ia pun duduk menghadapku. Lelaki yang sukses di bisnis kafe dan restoran ini menarik napas sebelum mulai bicara.

"Naz, dengarkan aku! Kumohon, please, jangan pergi lagi ...." pintanya sambil menangkup kedua telapak tangannya di dada, tanda memohon.

Aku tak menjawabnya. Kubiarkan ia berbicara sendiri. Bosan! Sudah kesekian kali ia selalu mengulang permohonan yang sama.

"Naz!" serunya. "Aku janji akan berubah. Ini semua karena aku terlalu mencintaimu."

"Maaf, Kal! Aku sudah bosen dengerin omonganmu. Dari dulu janji-janji melulu, nyatanya tetep aja nggak ada yang berubah. Aku cape!"

Aku beranjak dari kursi, namun tangan Haikal sigap mencekal lenganku.

"Kubilang jangan pergi! Aku nggak mau kamu lanjutkan kuliah di Turki. Kalau kamu tetap pergi, aku juga pergi!" cegahnya membuat aku terkesiap. Bagaimana bisa aku diikutinya? Justru aku pergi untuk menghindar darinya.

"Nggak, Kal! Lepaskan!" seruku. "Kita sudah putus!"

Aku menepiskan tangannya, namun cekalan semakin kuat, sampai terasa nyeri.

"Nggak! Aku nggak akan biarkan kamu pergi. Nggak bisa! Kamu milikku!"  Ia tetap mencegahku, sampai aku muak mendengarnya.

Haikal berdiri menghalangi jalanku. Aku mendorong tubuhnya sampai mundur dua langkah. Tiba-tiba ia memelukku. Aku meronta, tapi ia tak mau melepaskan pelukan. Tanpa sadar tanganku melayang,  menampar pipinya. Haikal tercekat. Ia renggangkan pelukan, kemudian memegang pipi yang memerah.

Sebenarnya aku sendiri tak menyangka akan melakukan itu. Tak kuasa lagi menahan ledakan emosi, segera kutinggalkan Haikal yang masih mematung. Aku tak pedulikan lagi tatapan orang-orang yang menghentikan makannya karena kaget dengan kejadian tadi.

"Tunggu!" teriak Haikal mengejarku. Aku terus berlari menuju taksi yang mangkal di seberang kafe. Namun Haikal berhasil mengejar.

"Aku nggak terima sudah dipermalukan di depan umum!" ujar Haikal dengan tersengal. Aku tahu emosinya sedang meluap-luap.

"Kamu pikir ... hanya kamu yang merasa dipermalukan seperti ini? Lalu kelakuanmu di Kafe Kemang sama teman-temanku tadi, apa itu bukan mempermalukan aku?" balasku melepaskan kekesalan. Kulambaikan tangan ke arah taksi.

Sampai di rumah, Mama menatap heran saat aku masuk dengan muka kusut. Tak menghiraukan pertanyaannya, aku masuk kamar dan langsung membenamkan muka ke dalam bantal. Kutumpahkan air mata kekesalan, sampai akhirnya tertidur.

Aku terbangun saat ponsel berbunyi tanda masuk pesan WhatsApp. Emir! Tak sabar segera kusentuh layar pintar itu.

"Merhaba! Nasilsin? Seni özluyorum."

Ah! Ia manyakan kabar dan bilang merindukanku! Hatiku berbunga, pikiranku melayang lagi ke negeri impian. Sesaat aku melupakan kejadian siang tadi.

***

"Naz! Ada tamu!" Mama memanggil sambil mengetuk pintu kamar.

"Siapa, Ma?" jawabku sambil menghentikan gerakan lincah jempolku di ruang obrolan, bersama Emir. Uh! Siapa sih? Mengganggu kebahagiaan orang saja!

Ketika pintu dibuka, Mama berdiri dengan wajah cemas. Setengah berbisik, Mama menyebut nama Haikal sebagai tamuku. Aku mendengkus kesal. Mama tersenyum seakan mengerti aku tak mau menemuinya.

Kembali ke kamar, tak lama kemudian ponsel berdering. Langsung kumatikan ketika nama Haikal tertera di layar itu. Sungguh, aku tak mau lagi mendengar suaranya.

Pintu kembali diketuk, diikuti suara lembut Mama. Kepersilakan Mama  masuk dan kubiarkan berbicara.

"Haikal minta Mama untuk mencegahmu berangkat, Naz. Ia ingin melamarmu dan berjanji untuk memperbaiki sikapnya."

Sudah kuduga. Ia pasti memanfaatkan kelembutan hati Mama. Tapi syukurlah, Mama mengerti bahwa aku sudah tak mau berhubungan dengannya lagi.

Merasa diteror oleh Haikal selama beberapa hari ini, membuatku tak betah berada di rumah sendiri, apa Iagi untuk ke luar rumah. Ia selalu datang meski tak pernah kutemui. Maka kuputuskan untuk mempercepat keberangkatanku ke Turki. Walaupun masa perkuliahan masih beberapa bulan lagi, dan aku harus menunggu sampai awal musim panas.

Namun ketika kuutarakan niatku, Mama-Papaku malah menjeda ucapanku. Ternyata ia telah menerima laporan kejadian bersama Emir dari Kak Fahri. Mati aku! Bagaimana bisa mempercepat keberangkatanku? Bahkan mungkin saja mereka membatalkan semuanya.

"Naz, Mama dan Papa sudah dengar apa yang terjadi antara kamu dengan saudaranya Ayla itu. Kakakmu khawatir kamu tak bisa jaga diri. Kamu belum mengenal orang-orang dan budaya di sana. Kami punya kekhawatiran yang sama ... Kalau masih mau melanjutkan kuliah di sana, kami hanya ingin kamu selalu mengingat nasihat orang yang menyayangimu." Tutur  kata Mama menyentuh hatiku.

"Kami tak bisa melarang, karena tahu,  kamu sudah tak nyaman berada di sini," ujar Papa dengan suara berat. "Pergilah! Kalau tidak, kamu tak akan tahu jalan pulang. Belajarlah dari kehidupan. Di sana akan kamu temui banyak hal, orang suci atau pendosa. Hati-hati dengan pilihan, salah-salah akan membuatmu tersesat."

Untaian nasihat bijak Papa menggetarkan sanubari. Tak terasa air mata mengalir di pipi. Kupeluk erat kedua pelitaku itu. Ya, belum sempat terucap semua kata-kata pun, mereka sudah mengerti apa yang ada di dasar hati putrinya.

Tak mau menunda waktu, aku berkemas. Kurapikan kelengkapan dokumen yang wajib dimiliki untuk menetap di negeri orang,  guna menghindari hal-hal tak diinginkan. Sengaja tak kuberi tahu sahabat-sahabat tentang kepergianku, agar tak sampai ke telinga Haikal. Andai ia tahu, berabe. Pasti akan mengacaukan semua rencanaku.

Akan tetapi, dugaanku salah. Di pintu bandara menuju check-in, ia sudah tegak berdiri dengan melipat kedua tangan di dadanya. Tak ada kesempatan untuk menghindar, kupanggil petugas keamanan yang bediri di depan pintu masuk. Setelah kujelaskan, dua orang petugas menghampiri Haikal. Ketika mereka sedang beradu mulut, kupergunakan kesempatan itu untuk segera masuk menerobos antrean. Tak kupedulikan omelan orang-orang yang kesal karena ulahku. Selamat! Akhirnya aku bisa  bernapas lega setelah berada di ruang tunggu keberangkatan.

Istanbul, aku datang!

*****
Diubah oleh rinafryanie
profile-picture
profile-picture
profile-picture
RetnoQr3n dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Lihat 2 balasan
Memuat data ..
[Cerbung] Aşkim, Hayatim (My Love, My Life)
28-03-2020 12:24

Part 4. Cinta dalam Sepotong Dolma

[Cerbung] Aşkim, Hayatim (My Love, My Life)

Menginjak tanah Istanbul untuk kedua kalinya, langkahku lebih terasa ringan. Seperti menuju ke tempat di mana  seseorang sedang menunggu. Ia yang menjanjikan asa menjadi nyata. Atau seperti berlari menuju seseorang yang merentangkan tangannya untuk menyambut dengan pelukan. Ada segenggam angan dan ingin, yang harus kuraih di sini. Bukan angin, tetapi masa depan, cita-cita dan cinta.

Cinta? Ah, Naz, ah! Mimpimu sudah kelewatan!

Tiba di rumah Kak Fahri, Ayla sengaja menunggu kedatanganku di depan pintu. Ia terlihat senang, namun terbersit kebingungan di wajah manisnya. Aku tahu sebabnya setelah berada di taksi tadi, kami berbalas pesan di ponsel. Ayla bilang, kakakku agak keberatan kalau aku mempercepat datang. Ia khawatir aku bergaul sembarangan lagi, dan mengulang kejadian seperti bersama Emir.

"Naz! Gue udah cemas nungguin lo. Takut lo nyasar!" Ayla memeluk erat tubuhku. Kangen juga rasanya tak bertemu si gendut ini, padahal baru terpisah seminggu yang lalu.

"Bilang aja lo udah nggak tahan memendam rindu," candaku sambil meraih keponakan mungilku dari gendongan Ayla.

"Naz ..., jadi si Haykal itu yang menyebabkan lo cepet-cepet ke sini? Gila ya, itu orang!" Ayla langsung menebak alasanku dengan tepat. Tapi ia pasti tak tahu  alasanku yang lain.

"Kak Fahri gimana? Masih marahkah sama gue?" tanyaku mengalihkan agar tak membahas Haykal berkepanjangan. Ayla hanya mengangkat bahu.

"Ia belum pulang ngajar. Tenang aja, biar nanti gue yang urus!" Ayla berusaha menenangkan. Aku percaya, Ayla pasti bisa meluluhkan kerasnya hati suaminya. Hanya ia yang bisa menaklukan dan mencairkan gunung es di hati kakakku. Semua tahu sifat Kak Fahri yang keras, namun sebetulnya lembut dan penyayang.

Aku masih ingat, dulu ia sangat dingin dan tak mudah tergoda oleh perempuan secantik apapun. Padahal banyak yang naksir sejak ia di SMA. Apalagi setelah kuliah. Pembawaannya yang kalem dan cool, sangat digilai gadis-gadis. Teman-temannya, juga teman-temanku saling berebut perhatian. Namun, tak seorang pun yang dilirik Kak Fahri. Bahkan ia masih tak acuh ketika Ayla sering ke rumah menemaniku. Ayla yang turut bermanja seperti sudah menganggapnya kakak. Ia akan marah kalau aku dan Ayla main kelewat batas waktu, atau ketika ketahuan punya pacar. Diam-diam, ternyata kakakku memendam perasaan kepada sahabatku itu. Saat Ayla wisuda, kebetulan baru putus dengan Juan, pacarnya. Kak Fahri langsung nembak dengan melamar ia jadi istrinya Tanpa pacaran atau masa penjajagan lebih dulu, sebulan kemudian langsung menghalalkan hubungannya. Tadinya aku tak yakin dengan Ayla, namun ia benar-benar menerimanya dengan kesungguhan. Jodoh memang tak lari ke mana.

***

Kak Fahri pulang selepas Magrib. Tak biasanya ia agak terlambat sampai di rumah. Karena biasanya ia sering mengimami salat di masjid dekat rumah. Kakakku memang sudah dikenal baik oleh penduduk sekitar, khususnya di majelis taklim Camie mahalessi.

Kegelisahanku semakin kentara ketika Kak Fahri masuk rumah dengan wajah ditekuk. Seperti sengaja ia tak menyapa. Aku pun jadi enggan  menghampiri. Mungkin benar, ia masih marah padaku.
Saat makan malam pun, ia masih mendiamkan diriku. Menyiksa sekali. Tak tahan disikapi seperti itu, kutinggalkan piring yang sudah terisi nasi dan lauk, menuju kamar. Tak kuhiraukan seruan Ayla memanggil namaku.

Tak lama kemudian, Ayla masuk tanpa mengetuk pintu.

"Naz, lo tu ...." Ayla tampak kebingungan mengucapkan kata-kata. Ia duduk di bibir tempat tidur.

"Gue mau cari tempat kos!" ujarku. Ayla membelalakan mata bulatnya, hingga bertambah lebar.

"Serius?"  Begitu kagetnya ia mendengar perkataanku. Aku hanya mengangkat alis. "Nggak! Nggak boleh!"

"Kenapa nggak boleh? Daripada gue nggak diakui di rumah ini?"

"Naz! Ah, lo kayak nggak tahu kakak lo aja! Kenapa sih?"

"Lo bayangin aja, Ayl ... di sana gue pergi karena menghindari orang. Di sini, gue malah nggak dianggap orang!" tegasku. "Apa perlu gue balik lagi ke sono, terus ketemu si Haykal tiap hari? Bisa gila gue, Ayl!"

Setelah berdebat panjang lebar, Ayl meninggalkan kamar. Ia sempat bilang akan berusaha membujuk suaminya, untuk segera berbaikan lagi denganku. Akan tetapi, sudah bulat keputusanku untuk pindah ke tempat kos dekat kampus. Mumpung koper dan barang-barangku belum kubongkar.

Hampir saja aku terlelap ketika pintu ada yang mengetuk. Suara kakakku memanggil namaku pelan. Aku menyuruhnya masuk tanpa bangkit dari pembaringan.

"Naz, Kakak minta maaf, nggak ada maksud untuk membencimu. Kakak sayang sama kamu, dan nggak akan biarkan kamu pindah kemana pun. Tempatmu di sini. Kamu harus ngerti posisi kakak sebagai penanggung jawab keberadaanmu di sini, juga Ayla. Nggak ada rasa marah, kalau kecewa mungkin iya disebabkan kejadian itu. Kakak nggak mau sampai terulang lagi." tutur Kak Fahri yang kemudian duduk di sampingku.

Aku terenyuh. Ya, kupikir aku jahat sudah menganggap ia seperti yang kukira. Ia sebetulnya sayang, hanya caranya saja yang aku tak suka. Aku merasa diabaikan atau disisihkan oleh sikapnya.

Perlahan aku bangun, dan langsung kupeluk sosok pengganti orangtua di tanah rantau ini.

"Maafin Naz juga, yang udah berprasangka buruk selama ini. Tapi aku tahu karena Kakak sayang sama Naz. Naz janji nggak akan kecewakan Kakak lagi. Juga keluarga." Sesalku meluruhkan kerasnya hati kakakku. Perlahan gunung es itu mulai melumer. Ia pun balas memelukku dengan erat.

"Jangan sia-siakan kepercayaan Kakak, ya Naz!" pesannya sebelum meninggalkan kamar.

***

"Naz, habis makan siap-siap ikut Kakak. Sebelum ke kantor, Kakak mau daftarin kamu ikut Tömer, kelas Bahasa Turki. Untuk ngisi waktumu. Kebetulan di tempat itu ada kenalan, jadi kamu bisa kutitipan padanya," ujar Kak Fahri saat sarapan di meja makan.

Aku langsung setuju. Gimana tidak, awal masuk perkuliahan masih tiga bulan lagi. Itu berarti harus menunggu saat musim semi tiba. Sebetulnya, untuk mahasiswa dari luar negeri, akan diberikan tömer selama satu tahun diawal perkuliahan berlangsung, dan gratis untuk penerima beasiswa. Namun, tak ada salahnya kalau aku belajar lebih dulu agar bisa lebih menguasai. Meski harus bayar mahal dengan biaya sendiri. Kalau selama masa tunggu ini aku tak beraktivitas apa-apa, betapa membosankannya hidup di negeri orang.

Kelas yang kuikuti hanya berlangsung tiga bulan. Sengaja kupilih paket program itu agar selesai sebelum saatnya fokus ke perkuliahan. Waktunya juga kuambil siang sampai sore, agar tak terburu-buru mengejar waktu. Kak Fahri juga setuju, bahkan aku diberi pinjaman sebuah skuter untuk memudahkan transfortasi. Ternyata selama ini prasangkaku salah besar. Ia justru sangat memperhatikan adiknya.

***

[Aku sudah di Istanbul.]

Pesan yang kutulis dengan singkat itu terkirim ke WA Emir. Dua tanda ceklis mulai berubah biru. Bukannya dibalas,  Emir malah langsung meneleponku.

"Merhaba. Hoş geldin, Naz! Kenapa nggak ngabarin? Kapan datang? Kapan kita bisa ketemu?"
Di seberang sana, Emir memberondong pertanyaan tanpa memberiku kesempatan  menjawabnya satu persatu. Aku tertawa mendengar cecarannya.

"Aku harus jawab yang mana dulu?" tanyaku masih terkekeh.

"Nggak usah jawab! Nanti aja kalau sudah ketemu."

"Lho ... jadi, sekarang aku harus ngomong apa?"

"Ngomongin kamu aja, Naz. Emh ... ngomongin kita maksudku."

Aku mulai menceritakan tentang masalahku dengan kakakku. Ia bilang sangat menyesal dengan perbuatannya yang telah membuatku susah. Seandainya bisa dilakukan dengan mudah, ia akan meminta maaf kepada kakakku langsung. Namun sulit untuk membuat Kak Fahri cepat memaafkan. Saat kuberi tahu bahwa aku sudah mendaftar tomer, ia tampak senang sekali.

'Syukurlah, berarti kita akan sering ketemu."

"Maksudmu?"

"Kita bisa curi waktu sepulang kamu tomer,  pas banget waktunya aku pulang kerja."

Oh My God! Ternyata apa yang ada di pikirannya, sama liciknya dengan apa yang direncanakan otakku. Kami sudah sama-sama gila!

***

Hari pertama mengikuti kelas Bahasa Turki, tak terlalu sulit untukku. Hanya sedikit perkenalan dan beberapa percakapan sehari-hari yang sederhana diawal materi. Karena sebelumnya, aku suka mempelajari sendiri melalui percakapan di drama seri yang kutonton, atau melalui  internet.

Selesai mengikuti materi pelajaran, aku bersiap untuk menemui Emir. Ia menungguku di kafe tempat pertama kali bertemu, di tepi Selat Bosphorus. Aku mematut diri dulu di toilet, membetulkan letak hijab yang sudah tak karuan, lalu memoles tipis bibirku dengan lipstik warna peach. Aneh saja rasanya tiba-tiba diserang rasa tak percaya diri begini. Aku ragu dengan diri yang apa adanya, kini ingin tampil sepurna di hadapan Emir. Aku tak mengerti.

Emir melambaikan tangannya begitu melihat aku datang. Oh, kenapa jantungku tiba-tiba berdegup kencang dan tak beraturan begini? Takut saja ketika mendekat, bunyi berdentam-dentam di dadaku terdengar jelas oleh Emir.

"Aku nggak mengira kita bisa secepat ini ketemu. Rasanya lama sekali, padahal baru seminggu kita berpisah," ucap Emir yang tak lepas menatapku. Aku jadi gugup dan salah tingkah.

"Aku kok, merasa kangen, ya?" lanjut Emir. Sementara telunjuknya sibuk mengusap-usap pelipis layaknya orang bingung.

Kini aku pun ikut bingung, entah itu pertanyaan atau pernyataan. Yang jelas, gemuruh di dadaku bertambah  kencang. Sementara itu, ia hanya tersenyum-senyum melihat rupaku yang pasti memerah.

"Oh, ya ... mau makan apa?" tanyanya kemudian. Aku meraih daftar menu di meja. Ketika telunjukku berhenti di satu nama menu, kami serentak mengucapkannya.

"Dolma!"

Kami terdiam, sesaat saling tatap, kemudian  sama-sama tergelak.

Hidangan yang kami pesan langsung habis dilahap. Beberapa potong dolma yang selama ini kuidamkan cukup membuatku puas dan menguapkan kepenasaran. Aroma rempah pada campuran nasi dengan daging serta sayuran, yang dibalut daun anggur berlumur minyak zaitun dan lemon, menguar bangkitkan selera. Namun begitu, kami tak segera beranjak. Banyak hal yang masih asyik diceritakan. Tentang banyak rasa yang terendap di isian sepotong dolma. Tentang ada satu rasa lagi yang turut tergulung daun anggur itu. Rasa yang sulit dikecap lidah, sulit dicerna lambung. Tak bisa dikatakan asin, manis, pahit, atau asam. Semua telah terbaur dengan sedirinya. Sempurna.

Tak terasa hari pun bergulir menuju petang. Namun ketika aku berniat mengajak Emir ke masjid, tiba-tiba seorang perempuan cantik menghampiri kami.

Ia mengatakan sesuatu dalam Bahasa Turki, dan menunjuk-nunjuk ke arahku. Kemudian ia tersenyum sinis  menatapku dengan iris mata birunya. Emir tampak melayani pembicaraan perempuan berambut pirang itu dengan suara tegas. Seperti sedang menyangkal, dan tak ingin berlama-lama bicara.

"Naz, kenalkan, ini Zeyda yang pernah kau tanyakan waktu itu." Aku terkejut saat Emir menepuk punggung tanganku.

"Zeyda! Ini Naz, temanku dari Indonesia." Seakan enggan, Emir mengenalkanku dalam bahasanya kepada perempuan berpakaian kurang bahan itu.

"Allah ... Allaah! Jadi, perempuan ini yang membuatmu berpaling dariku, heh?" Zeyda berucap dengan logat khas seperti di percakapan di film atau drama seri. Familiar sekali di telingaku.

"Zeyda!" Emir membentaknya hingga terdiam.

Namun begitu, Zeyda berbalik lagi  sambil mendorongkan telunjuk berkutek merahnya tepat di dadaku. Dengan menggunakan Bahasa Inggris, ia mengatakan  bahwa aku adalah perusak hubungannya dengan Emir.

Aku terkesiap. Jelas aku tak terima dikatakan seperti itu. Namun, baru saja aku membuka mulut untuk melawan, Emir bangkit kemudian menarik pergelangan tanganku menuju pintu keluar. Kami meninggalkan Zeyda yang menatap dengan geram.

Sampai di tempat parkir, Emir masih tak melepas cekalannya dari tanganku. Aku berusaha menariknya, dan ia baru tersadar.

"Maaf," Ia buru-buru melepas tanganku

"Apa betul apa yang Zeyda omongin tadi? Sepertinya ia tak suka padaku," tanyaku masih kesal.

"Lupakan! Maaf sudah membuatmu nggak nyaman," ujarnya. Raut kekecewaan kentara dari wajahnya.

☆☆☆☆☆
Diubah oleh rinafryanie
profile-picture
profile-picture
profile-picture
RetnoQr3n dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
[Cerbung] Aşkim, Hayatim (My Love, My Life)
28-03-2020 12:24

Part 5. Seni Seviyorum

[Cerbung] Aşkim, Hayatim (My Love, My Life)
Gambar ilustrasi: pixabay

Merhaba Gan, Sis ... 🙏 Karena banyak yang penasaran, ane lanjutin deh kisah bersambung ini ya! Kali ini agak beda, karena ane gunakan POV-nya si Emir. Gak apa-apa, ya, gansis ... Biar semua tau n kita bongkar perasaan dan isi hati si Ganteng ini😁😁😁

***

Seperti biasa, dari agency kularikan mobilku menuju kafe langganan. Di sana, gadis Indonesia berhijab biru telah menunggu sepulang dari kursus Bahasa Turki. Ia menyambutku dengan senyum manis diantara kedua lesung pipitnya yang menggemaskan. Aku langsung duduk memandang mata dengan binar yang selalu menggetarkan hati. Tawa kami berderai saat jemari lentik itu menyuapkan sepotong baklava ke mulutku yang langsung melahapnya.

"Tomer hari ini, apa yang sudah kamu pelajari?" tanyaku memulai percakapan.

"Emmh ... apa, ya? Lumayan banyak sih," jawab Naz. Caranya memainkan bola mata membuatku bertambah greget.

"Contohnya?" pancingku.

"Seni seviyorum,"

"Ben de seni seviyorum."

"Hah?"

"Itu tadi kamu bilang, tahu nggak artinya?"

"I love you"

"I love you too."


Menyadari baru saja kukerjai, ia langsung memukul bahuku. Suka sekali melihatnya salah tingkah dengan wajah memerah. Aku terbahak menanggapinya. Ah, gadis ini memang tak pernah membosankan jika berada di dekatnya. Seandainya ia tahu kalimat yang kuucapkan tadi adalah benar dari hatiku.

"Aku mau kerja," ujarnya tiba-tiba.

"Kerja?" Hampir tersedak karena kaget, kuhentikan tegukan ayran dari gelas. Lidahku menjilati busa yogurt dari ayran yang menempel di bibir.

Naz mengangguk dengan pasti sambil menggigit-gigit ujung sedotan.

"Bukannya mau lanjutin kuliah?" tanyaku merasa heran.

"Bosan! Kuliah kan masih lama, nggak ada salahnya kalau kuisi dengan kerja dulu," jelasnya.

"Kerja apa? Di mana?" tanyaku.

"Justru aku nanya, siapa tahu kamu ada informasi." Wajahnya memberengut manja.

"Di kantorku aja. Kebetulan lagi membutuhkan seorang copywriter." Ide itu terlintas begitu saja di kepalaku.

"Beneran? Wah ... mau banget!" sambutnya dengan mata berbinar seperti kerlip bintang.

Naz terlihat antusias menyambut tawaran pekerjaan itu. Ia setuju ketika kuberi kesempatan kerja secara freelance, agar tak mengganggu perkuliahan.

Hanya saja, kupikir kakaknya pasti tak setuju. Terang saja karena Fahri tak menyukaiku setelah kejadian itu. Oh, aku bisa bujuk Ayla untuk merayu suaminya agar mengizinkan adiknya bekerja. Ya, hanya itu cara yang keluar dari otakku. Dengan begitu, aku akan sering-sering bertemu gadis yang sudah merebut hati.

"Kakakmu, gimana?" tanyaku. Naz terdiam sejenak. Dari raut wajahnya tersirat keraguan.

"Aku bingung," keluhnya. Wajahnya berubah murung. Aku mengerti perasaanmu, Naz.

"Nanti kubicarakan dengan Ayla Abla, tenang aja!" Aku pun mencoba mencari jalan keluar.

Segera kutelepon saudara sepupu Indonesiaku itu. Kusampaikan tawaran kerja untuk Naz itu dan meminta Ayla membujuk suaminya untuk mengizinkan. Ayla pun berjanji akan berusaha meyakinkan suaminya. Aku jadi tak sabar menunggu kabar sampai esok hari.

***

Berhasil! Ayla memberi kabar membahagiakan. Tadi malam, setelah Naz menyampaikan maksudnya, ia membantu adik iparnya mendapatkan izin kakaknya.

Ayla bilang, awalnya Fahri marah dan tak setuju jika Naz berhubungan denganku, apalagi bekerja di kantorku. Namun, Naz bersikeras ingin bekerja dengan alasan mau mandiri, tak tergantung sepenuhnya kepada keluarga. Pada saat itulah Ayla meyakinkan suaminya bahwa  perusahaanku yang cocok dengan kemampuan Naz, juga bisa menyesuaikan dengan jadwal kuliahnya nanti. Akhirnya setelah mengeluarkan rayuan maut, Ayla berhasil membuat Fahri tak bisa menolak lagi. Naz juga sudah pasti sangat gembira.


Tepat di hari libur kursusnya, kubawa Naz ke agency, memperkenalkannya sebagai copywriter baru kepada seluruh karyawan. Mereka terlihat menyambut dengan baik. Ia pun kubawa ke ruangan untuk ditempati sebagai ruang kerja.

"Ini ruang kerjamu. Sebelumnya ditempati Derya, copywriter andalan kami. Sayangnya ia resign karena melahirkan." Aku mengajaknya masuk ke ruangan yang bersebelahan dengan ruang kerjaku, yang hanya dibatasi dinding kaca bertirai vitrage.

"Nyaman banget!" ucapnya sambil mengitari ruangan. She look so excited!

"Kamu suka?" tanyaku. Naz mengangguk sambil tersenyum.

"Itu ruanganmu?" Naz menunjuk ke ruangan sebelah.

"Ya. Kalau perlu apa-apa tinggal lambaikan tangan," godaku. "Oh ya, ini ada telepon bisa kamu pakai yang langsung terhubung ke ruanganku."
Kujelaskan dan mencoba menekan nomor kode ruanganku. Dari ruangan sebelah, terdengar bunyi berdering. Aku bertingkah seolah sedang berbicara di telepon untuk menggodanya.

"Hallo! Emir bey my boss! Askim, hayatim, seni cok ...."

Belum sempat selesaikan kalimat ngawur itu, bahuku jadi sasaran empuk pukulan kecil gadis bermata bulat itu.

***

Hari pertama tercatat sebagai pegawai, ia kuajak serta untuk meeting. Kebetulan ada proyek iklan cokelat dari perusahaan yang sudah lama jadi klien. Tak terlalu sulit sepertinya, hingga aku memutuskan untuk memberikan tugas ini kepada Naz. Sekalian ingin menjajal kemampuannya.

Di ruang meeting, team yang siap membantu kerjakan proyek ini sudah menunggu. Oh, satu orang lagi yang belum hadir. Ferhat, saudara sepupuku yang sama-sama mengelola perusahaan warisan kakekku ini. Ia menjabat sebagai Account Manager, yang menangani urusan klien termasuk urusan finansial.

Tak lama Ferhat datang dengan tergesa. Ia selalu tampil elegan dengan setelan blazer yang dikenakannya. Ia memang selalu tampil sempurna. Sebaliknya, aku bergaya seadanya dengan pakaian casual. Kadang kalah dibanding dengan penampilan pegawaiku. Tetapi aku lebih merasa nyaman seperti ini, merasa bebas tak terikat dengan atribut apa pun. Tapi kalau wajah dan kualitas sebagai laki-laki sejati, aku menang darinya. Yakin!

"Merhaba! Bisa langsung dimulai?" Ferhat langsung duduk dan membuka percakapan. Aku pun segera memimpin rapat.

"Oh, hampir lupa! Ferhat, kenalkan ini Naz, baru bergabung dengan perusahaan kita. Naz Hanim, ini Ferhat Bey, Account Manager." Aku perkenalkan Naz kepada Ferhat. Ia mengangguk kecil kepada Naz. Aku tak terlalu mempedulikan tatapannya yang seolah menyelidik dan tak suka kepada Naz. Mungkin karena belum saling mengenal saja, pikirku.

Setelah meeting berjalan dengan lancar, kuberikan dokumen mengenai seluk beluk cokelat beserta profil perusahaannya. Konsep yang akan dikembangkan, kuserahkan sepenuhnya kepada Naz. Ia nampak kaget dan ragu. Namun kuyakinkan ia pasti bisa mengerjakannya.

"Sengaja kuberikan kesempatan ini padamu untuk menggali kemampuanmu. Aku tahu kamu belum pengalaman, tapi kamu akan belajar banyak di sini. Buatlah draft juga slogan yang baik. Kalau iklan ini sukses, klien akan memperpanjang kontraknya dengan perusahaan kita," jelasku.

Naz menerimanya dengan ragu. Sebetulnya aku ingin tertawa melihat rautnya yang kebingungan. Di saat begini pun masih terlihat cantik, apalagi jika sedang sumringah. Rasanya ingin sekali mencubit pipi dan memijit ujung hidungnya.

"Tenang saja, ada team yang akan membantu, ada saya juga Ferhat bey." Aku berusaha membuatnya percaya diri.

"Abi!" Ferhat memanggilku dengan sebutan kakak laki-laki Turki. Aku menoleh ke arahnya. "Kenapa cari pegawai yang nggak punya pengalaman sama sekali? Dan kenapa harus orang asing?" Ferhat menyerang dengan pertanyaan dalam Bahasa Turki agar tak dipahami Naz.

"Naz itu adik suaminya Ayla. Jangan khawatir, aku sudah mengenalnya dengan baik dan ia berlatar pendidikan di bidang ini." Kujelaskan alasanku menerima gadis itu.

"Tapi kita butuh pegawai yang bekerja penuh, bukan freelance!" Ferhat mulai bersikeras mempertahankan pendapatnya.

"Tenang, aku percaya ia cerdas. Walaupun harus membagi waktunya untuk kuliah, tomer ... nggak masalah. Yang penting bisa selesaikan tugas tepat waktu, itu sudah cukup." Kembali keberi pengertian kepada pria arogan itu.

"Terserah apa maumu. Kamu yang harus tanggung jawab kalau terjadi sesuatu, Abi!" Ferhat tampak menyerah, namun sedikit mengancam. Aku tak peduli apa yang menjadi ketakutannya.

***

Setelah sepakat berapa lama waktu yang ditentukan, tiba saatnya untuk mempresentasikan rencana kerja ke hadapan klien. Namun Naz belum terlihat batang hidungnya, padahal klien sudah datang dan team sudah menunggu di ruang meeting.
Ferhat tersenyum sinis seakan menyalahkan akibat keputusanku yang tak meminta persetujuannya. Sikapnya sungguh membuatku bertambah gelisah dan muak.

Untungnya tak lama kemudian yang ditunggu pun datang. Setelah meminta maaf atas keterlambatannya, Naz mempersiapkan berkas yang akan dipresentasikan. Aku sedikit lega. Akan tetapi, ketika Naz membuka file di laptopnya, mukanya terlihat tegang. Ia terlihat mencari-cari sesuatu di komputernya. Sesekali tangannya menyeka keringat di kening. Aku heran dengan tingkahnya yang tampak gelisah. Kuhampiri dan kutanyakan masalah yang sedang ia hadapi.

"Emir bey, maafkan aku. Sepertinya file copywritingku hilang ..." ucapnya dengan gugup.

Aku terhenyak. Gimana bisa? Sudah tak punya waktu lagi untuk mengerjakan kembali dari awal. Klien sudah lama menunggu, pastinya akan sangat kecewa. Dan kontrak itu, otomatis dihentikan. Oh My God! Tak sadar aku menjambak rambutku sendiri.

"Kenapa bisa hilang, Naz? Kita nggak punya waktu lagi!" Aku menahan suaraku agar tak terdengar keras walaupun kesal. Tetapi Naz malah seperti hendak menangis. Di saat-saat seperti ini, aku bingung harus marah atau iba.

"Masih ingat nggak apa yang sudah kamu tulis?" Aku berusaha mencari solusi. Naz tertegun sejenak, lalu di luar dugaan, ia menjentikkan jemarinya seperti mendapatkan ide. Ah Naz, ulah apa lagi yang kamu lakukan hingga akan membuatku mati berdiri?

Surprise! Ini benar-benar kejutan buatku juga team yang sudah gelisah menunggu presentasi. Naz tiba-tiba berdiri, berbicara dalam Bahasa Inggris yang fasih menuturkan kata-katanya yang mengalir indah di hadapan kami. Percaya dirinya timbul begitu saja disertai bahasa tubuh yang luwes mempesona. Aku tak percaya sampai ketika tepuk tangan dari klien memberikan aplause-nya, menyadarkanku. Ia sudah sukses membawakan presentasi.

"Maaf, bisa diulang lebih jelas untuk slogannya?" pinta salah satu dari klien, membuatku berhenti bernapas menunggu jawaban Naz dengan sedikit cemas.

"Close your eyes, find the taste!"

Suaranya yang mendesah manja ketika mengucapkan kalimat itu, spontan disambut tepuk tangan puas dari klien. Good job! Bravo, Naz!

Namun, di sudut ruangan Ferhat terlihat kecewa. Ada yang aneh memang kurasakan dari sikapnya. Apa ia benar-benar tak suka dengan keberhasilan Naz? Kenapa?

Selesai presentasi yang dilanjutkan dengan menandatangani kontrak proyek iklan untuk beberapa media diantaranya iklan TV, billboard, dan beberapa platform di internet, kuajak Naz merayakannya bersama team. Malam ini aku ingin membuat mereka gembira  dengan diner.

Hanya Ferhat yang tak turut serta. Tadi langsung keluar kantor dengan alasan ada janji dengan kekasihnya. Mungkin ia baru mendapat kekasih baru lagi, karena dengan Reyyan yang kutahu sudah putus. Entah gadis mana lagi yang menjadi korban rayuan mautnya kali ini.

Kupilih meja di sudut ruangan, hanya berdua dengan Naz. Tak lupa kupesan dolma isi nasi daging sapi campur sayuran spesial untuknya. Menggairahkan sekali dengan kilapan minyak zaitun yang melumuri daun anggurnya.

"Aku heran, kok bisa kamu bawain presentasi dengan sempurna, padahal naskahmu hilang," tanyaku masih penasaran.

"Emir bey, ada yang kamu belum tahu kemampuanku yang lain." jawabnya dengan senyum yang mempermainkan perasaanku.

"Apa tuh? Jadi penasaran. By the way, jangan panggil Emir bey kalau di luar kantor. Cukup namaku saja." Aku memintanya untuk tak terlalu formal dengan gelar kehormatanku.

"Ok, Emir. Kenapa aku bisa mengatasinya? Karena otakku cukup kuat mengingat semua apa yang sudah kutulis, kubaca atau kulihat dengan detil. Aku tak pernah kesulitan untuk menghapal. Bahkan saat ujian sekolah pun seperti sedang nyontek," jelasnya, membuatku tercengang dan takjub. Baru kali ini kutemukan jenis mahluk langka seperti ini. Sudah cantik, cerdas pula. Tak menyesal sudah memilihnya jadi karyawanku dan ... oh, no! Please, Emir. Jangan bermimpi. Ia belum tentu mau jadi kekasihmu!

"Jadi ... itu semacam memori fotograpi? Bisa merekam jelas apa yang kamu lihat. It's so amazing!" Aku kembali terkagum-kagum.

"Entahlah! Aku nggak tahu itu dikatakan memori fotograpi atau bukan. Yang pasti, teori itu bulshit. Nggak ada. Aku nggak percaya!"

"Tapi aku percaya. Seorang ilmuwan İslam Turki Said Nursi juga punya memori seperti itu, bahkan Ferdinand Marcos, dan siapa lagi tuh ... aku lupa!" Kukerutkan dahiku berlagak mikir.

"Presiden pertamaku juga, Soekarno. Tapi aku nggak sehebat mereka, tokoh-tokoh dunia," timpalnya.

"Dan aku semakin terpesona padamu," gumamku. Naz tertegun menatapku dengan wajah memerah.

Di tengah menikmati lezatnya hidangan yang tersaji, ponselku berbunyi. Petugas keamanan kantorku melaporkan bahwa tadi pagi, yang masuk ke ruangan Naz hanya Ferhat. Ia bilang, Ferhat bey beberapa saat di dalam, kemudian keluar ruangan dengan terburu-buru. Aku memang menyuruh security untuk melihat rekaman CCTV. Sayangnya, kami hanya memasang kamera hanya di tiap koridor.

Aku harus menyelidiki motif apa di balik semua ini. Atau hanya karena ia tak suka kepada Naz? Lalu kenapa harus melakukan hal yang bisa merugikan perusahaan?

☆☆☆☆☆

Nantikan kisah selanjutnya yang bikin seru dan mendebarkan, kisah cinta antara Naz dan Emir.

Back İndeks : Link di sini
Diubah oleh rinafryanie
profile-picture
profile-picture
profile-picture
trifatoyah dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
[Cerbung] Aşkim, Hayatim (My Love, My Life)
28-03-2020 12:27

Part 6. Di Seberang Maden's Tower

[Cerbung] Aşkim, Hayatim (My Love, My Life)
Gambar: pixabay

Kulajukan dengan cepat skuter merah menuju Selim Harika Agency. Untung saja dosen ilmu filsafat tadi tak bertele-tele seperti sebelumnya. Pria berasal dari Qonya, Anatolia, satu kampung dengan penyair sufi Jalaluddin Rumi itu hanya memberi tugas cari referensi untuk materi yang akan datang. Kalau telat, bahan presentasi yang sedang kususun tak akan selesai hari ini. Besok tugasku untuk membawakan presentasi untuk iklan kosmetik. Juga konsep untuk iklan website yang harus diunggah malam nanti. Hari ini pasti kewalahan.

Sampai di kantor, Emir tak terlihat di ruangannya. Kemanakah lelaki yang tak henti memuji pekerjaanku itu? Mataku mulai mencari-cari. Hampir tiap berapa detik,  netra menembus dinding kaca, melirik kursi kosong di ruang sebelah. Seperti ada sesuatu yang hilang.
Namun kegelisahan ini terjawab ketika ponsel berbunyi. Pesan dari Emir yang memberitahukan bahwa ia sedang menemui klien bersama Burack dan Leyla. Kabar itu membuatku merasa tenang. Ternyata ia selalu mengingatku di saat sesibuk apa pun.

Kujeda ketikan di layar komputer ketika pintu diketuk seseorang. Tanpa kupersilakan masuk, seorang perempuan blonde dengan dandanan glamor dan busana kurang bahan, sudah berdiri di hadapanku.

"Ternyata kamu kerja di sini juga? Bener-bener niat ya, buat deketin bos?" Zeyda langsung menyerocos. Kedua lengannya bertumpu di mejaku sedangkan wajah bermake-up tebal itu sangat dekat dengan wajahku. Bau parfumnya menyeruak membuat hidungku langsung gatal dan langsung bersin-bersin. Aroma jasmine-nya mengganggu sekali.

"Hei! Nggak dengarkah kamu dengan peringatanku tempo hari? Jangan berani-berani mendekati Emir! Paham, nggak?"  Ia membentak sambil menutup layar laptopku.

Aih, naskah yang baru saja kuketik, gimana nasibnya? Tak sopan banget perempuan yang mirip Medusa ini. Rambut kriting pirangnya langsung mengingatkan pada Dewi Yunani berambut ular yang bertugas melindungi kuil di Athena.

"Maaf, saya di sini hanya kerja, bukan untuk melayani urusan nggak jelas, apalagi di luar urusan pekerjaan." sahutku kalem walau sebetulnya dalam dada ini sudah meletup-letup.

"Wow! Hebat sekali jawabanmu. Bisa-bisanya mengelak. Aku tahu tujuanmu bekerja di sini. Pasti untuk menggaet bos muda kaya raya. Tahu diri lah siapa kamu, dari mana asalmu. Perlu kamu tahu ... Emir itu hampir bertunangan denganku. Hanya saja terjadi kesalahpahaman, hubungan kami agak retak. Makanya aku sempat aborsi benih yang ditanam Emir di rahimku."

Kalimat tetakhir yang Zeyda ucapkan itu bagaikan halilintar. Napas tercekat dan lidahku kelu. Aku terdiam dalam ketidakpercayaan. Benarkah Emir melakukannya? Rasa perih di ulu hati tak bisa kutahan. Tetapi air mata yang hampir tumpah, berusaha kutahan agar tak mengalir di pipiku. Aku tak ingin terlihat hancur dan lemah di hadapan perempuan angkuh itu. Aku harus tegar seperti tak pernah terjadi apa-apa dengan perasaanku.

"Bukan urusanku! Aku tak peduli kalian sudah berbuat apa, nggak ada hubungannya denganku. Aku bukan siapa-siapa, hanya pegawai di perusahaan ini." Aku berusaha menata ucapan agar tak tampak terluka. Padahal aku merasakan sendiri getaran suara yang keluar dari mulutku.

"Kalau nggak percaya, boleh cek di klinik tempatku abortus." Ia melempar kartu nama dan praktik dokter di salah satu klinik bersalin. Aku melirik kartu nama itu sekilas lalu berlagak seolah tak peduli. "Bilang bosmu, aku kesini karena ada urusan bisnis penting. Aku terlibat juga dalam proyek iklan kosmetik ternama itu, karena agenku yang menyediakan model dan properti. Aku balik dulu, masih ada urusan yang lebih penting!"

Aku menatap daun pintu yang baru saja tertutup dengan bantingan cukup keras oleh Zeyda. Kukerjapkan mata untuk menahan genangan yang hampir tumpah. Namun tetap saja tak tertahan meski sudah kuhindari dengan beberapa kali menghela napas dalam-dalam. Kubereskan meja kerja dan kumasukkan laptop ke dalam tas. Tak ada gunanya aku bertahan di tempat ini. Rasanya tak sanggup kalau harus menyaksikan Emir dan Zeyda bersama setiap hari.

Tanpa memberi tahu siapa pun, kutinggalkan kantor yang sempat menjadi labuhan cintaku kepada pemiliknya. Cinta? Ya, aku baru saja menyemaikan benih-benihnya di padang rumput ini. Hijaunya telah memesonaku. Walau aku tak suka bunga, tapi kuncupnya sedang kunanti dengan keindahannya.

Meski Emir belum menyatakan cintanya dengan sungguh-sungguh, tetapi aku yakin dari caranya menatap, perhatian dan gestur tubuhnya, ia suka kepadaku. Aku tak butuh kata-kata untuk menyatakan. Yang kubutuhkan saat ini hanyalah kepastian dari sikapnya.
Namun setelah apa yang dikatakan Zeyda tadi, pupus sudah impianku untuk bersamanya. Sia-sia apa yang kulakukan demi mewujudkannya.

Dengan lunglai kukemudikan skuter menuju rumah. Selama perjalanan, batinku tak henti bermonolog. Rasaku berdebat antara marah, kecewa, dan memaafkan. Tak semudah membalikkan telapak tangan untuk meredam gejolak yang membuncah di dada.

Aku mencintainya, tapi tak mudah untuk memahami dan memaafkan masa lalunya. Aku belum bisa menerima kenyataan bahwa masa lalunya lebih buruk dari yang kukira. Bukan sok alim atau sok suci, tapi seburuk-buruknya masa laluku, masih bisa dibilang bersih. Harga diri dan kesucianku masih kujaga utuh. Tak berniat sedikit pun mengorbankannya demi pergaulan metropolitan. Biarlah dibilang kuno, jadul atau ketinggalan zaman, tapi ini tentang prinsip hidup. Aku bebas, tapi punya batasan. Aku liar, tapi masih terikat aturan.

***

Kuempaskan tubuhku di kasur dan membenamkan wajah basah ke bantal. Kuteriakkan tangis sejadinya ke dalam bantal yang sedikit meredam suara. Naz! Kamu belum tersakiti langsung oleh Emir. Kamu hanya kecewa. Ingat! Kejadian itu sebelum kamu mengenalnya. Tidak, aku hanya merasa dibohongi! Tetapi ... haruskah Emir menceritakan semua kisah masa lalunya tanpa kuminta? Ya! Aku ingin kejujuran.  Sepahit apapun!
Tak ada lagi laki-laki baik yang bisa kupercaya di dunia ini.

"Naz? Lo kenapa? Kok nangis?" tanya Ayla menerobos pintu kamar tanpa mengetuk dulu.

Melihatnya, kupeluk tubuh ipar cantikku itu. Di bahunya, tangisan kian menjadi. Ayla terheran dan cemas. Kuceritakan masalah yang terjadi di tempat kerja, karena tak kuasa lagi menahannya. Hanya ia yang mau mendengar, juga kadang-kadang memberi jalan keluar.

"Naz, mereka sudah lama putus. Gue tahu banget karena Emir suka cerita. Zeyda selingkuh walaupun sampai saat ini belum tahu dengan siapa. Tapi Emir sering memergoki ia teleponan sama cowok lain. Tentang aborsi itu, gue nggak yakin. Kalaupun benar, itu masa lalunya, sebelum ia kenal lo. Gue rasa, sekarang ia berubah jauh lebih baik. Apalagi setelah kenal lo." Ayla membela sepupunya itu agar aku yakin dengan kepribadian Emir.

"Gue nggak percaya lagi! Gue mau keluar kerja dan menjauh dari cowok brengsek itu!"

"Gue saranin lo buktikan dulu kebenarannya! Siapa tahu itu hanya akal-akalan si Zeyda karena cemburu sama lo."

Aku terdiam. Benar juga kata Ayla. Namum emosiku masih belum terkendali. Akal sehatku kalah dengan perasaan.

Kuraih ponsel yang sengaja di-silent mode. Puluhan panggilan tak terjawab dan puluhan pesan dari Emir memenuhi pemberitahuan aktivitas ponsel. Segera kumatikan benda pintar tapi terkadang membuat sakit. Aku tak mau melihat namanya lagi di layar itu.

"Naz! Lo makan dulu, gih! Dari tadi belum makan. Kakakmu nanyain lo karena nggak keluar kamar. Gue bilang aja lo lagi nggak enak badan." Ayla melongokkan kepalanya di pintu dengan suara berbisik keras.

Aku menggelengkan kepala dan kembali menelungkupkan wajah di bantal.

"Naz! Beneran sakit loh!"

"Bodo! Gue malah pengen mati sekalian!"

"Istighfar, Naz!"

Kemudian Ayla masuk dan menceritakan bahwa Emir meneleponnya. Emir marah kepada Zeyda saat Ayla menceritakan apa yang terjadi.

***
Aku masih tertidur ketika Kak Fahri mengetuk pintu membangunkan. Dengan malas, aku bangkit dan mengatakan hari ini tak masuk kuliah atau kerja karena kurang enak badan. Kakakku meraba  dahiku dan menyuruh siap-siap ke dokter bersamanya. Tapi aku menolak dengan alasan sudah mimum obat pusing kepala.

"Ya sudah, istirahat dulu. Itu karena kamu kecapean. Makanya nggak usah kerja dulu. Fokus kuliah aja, biar kebutuhanmu Kakak bantu."

Kusantap sedikit roti yang diantar Ayla ke kamar lumayan sebagai pengganjal perut yang dari kemari belum terisi. Kuambil selembar kertas kosong dan pulpen, lalu kutulis surat pengunduran diri dari perusaan Emir. Tak ada jalan lain untuk melupakannya. Aku harus keluar kerja agar tak bisa bertemu lagi.

Setelah meminum segelas susu almond pendamping roti, aku berangkat ke kantor untuk menyerahkan surat. Namun di perjalanan, niatku terhenti. Entahlah, enggan rasanya untuk melangkah di kantor dan harus menatap wajahnya setiap kali memandang dinding kaca itu. Aku tak ingin menemuinya.

Di persimpangan, kubelokkan motor ke lain arah menuju pantai Salacak, dekat pelabuhan Üskudar. Di sana, aku duduk di bebatuan yang menghadap ke arah  Maiden Tower. Menara yang berdiri di tengah Selat Bosphorus, di bangun pada zaman Kaisar Bizantium itu mampu menarik perhatian. Puncak menara juga misteri yang tersirat seakan membawaku berimajinasi, hingga sejenak mampu melupakan masalah. Entah kenapa aku betah berlama-lama duduk memandang bangunan tua yang sempat dijadikan lokasi shooting oleh James Bond, dalam film The World is Not Enough. Aku dan Emir beberapa kali menghabiskan waktu sampai gelap tiba di tempat ini.

Kemudian aku berdiri di atas bebatuan dan berteriak lantang ke arah lautan. Kularungkan rasa sedih dan kulepas beban kecewa ke selat yang membelah  benua Asia dan Eropa itu.

"Ya Tuhan! Mengapa Kau berikan ujian ini kepadaku? Mengapa ia membohongi di saat aku percaya dan mulai mencintainya? Mengapa?" teriakku tak peduli tatapan heran salah satu penjual simit yang tak jauh dari tempatku berdiri. Kutumpahkan air mata hingga yang tersisa hanya isakan. Setelah itu aku merasa lega, tapi tak mau segera beranjak. Aku masih ingin di sini ditemani angin laut dan burung camar.

"Naz ...."

Suara yang sangat kukenal mengagetkan lamunan. Aku tak mau menoleh. Langkah Emir semakin mendekat. Kemudian duduk di sampingku.

"Aku mencarimu. Tadi nekat ke rumah karena kucari di kampus pun kamu tak ada. Kakakmu marah dan menyalahkan aku. Aku minta maaf, Naz. Ayla sudah menceritakan semua. Tapi omongan Zeyda itu tak benar." jelasnya sambil melempar beberapa kerikil ke laut. Aku masih bergeming.

"Kuharap kamu mau memaafkan dan kembali ke kantor," lanjutnya.

Kukeluarkan surat pengunduran diri dari dalam tas, lalu kuserahkan kepadanya. Ia tertegun lalu membacanya, kemudian menggeleng-gelengkan kepala.

"Nggak, Naz! Kamu nggak boleh keluar. Aku nggak bisa kerja tanpa ada kamu di dekatku. Sehari kemarin saja sudah sangat kehilangan, apalagi kalau kamu nggak ada."

"Aku nggak mau lihat kamu lagi. Aku resign!" jawabku singkat.

"Kubilang, enggak! Kenapa nggak mau mendengar penjelasanku? Zeyda itu masa lalu. Ok! Ba--baiklah! Kuakui bahwa aku memang pernah berbuat nista bersamanya. Tapi waktu itu diluar kesadaranku. Saat mabuk aku dijebaknya dan tak ingat apa-apa. Aku bahkan sangat menyesali dan ingin melupakan kekhilafanku itu." Emir memegangi kepalanya dengan kuat. Ia tampak tertekan dengan ucapannya. Apakah betul ia menyesali perbuatannya?

"Tapi kenapa sampai melakukan abortus?" tanyaku semakin memojokkan.

"Demi Allah, aku tak tahu sampai sejauh itu Zeyda melakukannya. Aku saja masih belum yakin dengan apa yang sudah kulakukan bersamanya, Naz. Akan kubuktikan semua kebohongannya agar kita sama-sama yakin, Naz!" Emir menarik tanganku untuk bangkit dan menuntunku ke mobilnya.

"Mau kemana? Aku nggak mau pergi bersamamu!" Aku meronta dan berkali-kali menepiskan tangannya.

Dari dashboard, Emir meraih selembar kartu nama. Lalu menunjukkannya padaku.

"Ini ... ini kutemukan di mejamu kemarin. Aku yakin ini kartu dari Zeyda. Akan kubuktikan semuanya bahwa itu tak benar. Sekarang, ikut aku!" ajak Emir langsung menghidupkan mobilnya.

"Motorku?"

"Biarkan saja! Setelah ini kita ambil."

Emir membawaku ke klinik yang tertulis di kartu nama itu. Ia menemui seorang dokter kandungan yang telah mengaborsi janin yang dikandung Zeyda, darah dagingnya. Namun setelah beberapa lama mengecek data pasen atas nama Zeyda Aydin, tak diemukan sedikit pun data di pendaftaran atau rekam medis.
Emir menatapku sambil meraih jemariku.

"Naz, seandainya itu benar, kuakui aku memang salah dan khilaf sudah melakukannya dengan Zeyda. Tapi itu diluar kesadaranku. Aku dijebaknya agar ia bisa memilikiku. Tapi ia berkhianat telah selingkuh di belakangku. Aku sudah memutuskannya bahkan sampai saat ini aku belum bisa memaafkan perbuatannya. Aku membencinya, meskipun ia sekarang terlibat urusan bisnis dengan perusahaan kita. Tapi itu hanya untuk proyek kali ini saja. Setelah itu aku tak sudi lagi berhubungan dengannya."

"Bukan urusanku! Aku tak peduli."

"Tapi ini jadi urusanku! Karena aku ... aku nggak mau kehilanganmu!"

Aku tercekat. Batinku kembali berperang antara kecewa dan memaafkan. Mungkin aku bisa memaafkannya dengan mudah. Tetapi untuk kembali percaya, bukan hal yang mudah bagiku. Biarlah waktu yang akan menjawabmya.

*****

Indeks Link di sini
Diubah oleh rinafryanie
profile-picture
profile-picture
profile-picture
trifatoyah dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
[Cerbung] Aşkim, Hayatim (My Love, My Life)
28-03-2020 12:48
Bahagia rasanya apabila ada pria yang mengucapkan aku akan mengantarmu ke mana saja, dan menemanimu seharian saat weekend, how sweet, merasa sangat diutamakan dan diperhatikan 😍
profile-picture
profile-picture
profile-picture
trifatoyah dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
[Cerbung] Aşkim, Hayatim (My Love, My Life)
28-03-2020 12:57

Part 7. Yang Bersemi di Musim Semi

[Cerbung] Aşkim, Hayatim (My Love, My Life)
Gambar: Google pict


Akhir pekan di awal musim semi, sejak mentari bersuka hati menebar hangat lewat senyum sumringahnya, kuntum bunga di hati ikut bersemi. Kumbang dan kupu-kupu di taman serta semilir angin turut semaikan benih cinta antara dua hati anak manusia berlainan jenis. Ya, tepat di saat itu, aku adalah manusia paling bahagia di muka bumi ini.

Emir membawaku ke sebuah mansion yang menjadi kediamannya beserta keluarga. Di rumah besar itu aku dikenalkan kepada orangtua dan adik gadisnya. Siapa pun dan di mana pun orangnya, pasti memiliki keyakinan ketika dirinya dibawa ke tengah keluarga pasangannya. İtu berarti sudah melangkah ke jenjang yang lebih serius. Setidaknya bukan sekadar main-main. Mungkin bisa dikatakan sebagai isyarat pengakuan. Bukan lagi pernyataan.

"Anne, Baba ... ini Naz. Adik iparnya Ayla." Emir mengenalkan aku pada perempuan cantik berusia sekitar 50 tahunan dan lelaki separuh baya yang wajahnya mirip Emir.

"Merhaba, hoş geldin, kizim! Selamat datang di keluarga Murat Selim, Anakku," sambut ayahnya sambil menjabat tanganku. Senyum dan sorot matanya persis lelaki muda yang sudah berani menyandera hatiku.

"Teşekkur ederim, Amca! Terima kasih!"

"Senang sekali berkenalan denganmu, Nak! Aku bahagia bisa bertemu dengan saudara setanah air." Perempuan berambut ikal dan beruban itu tersenyum ramah sambil memeluk dan mencium kedua pipiku. Pemilik paras manis khas Sunda itu memang berasal dari Indonesia. Sangat kebetulan jika dia masih ada hubungan kerabat dengan Ayla. Meski bukan kerabat dekat, namun ketika berada di satu tempat perantauan yang sama, mereka seolah saling mengaku keluarga dekat. Karena itulah Ayla sangat dekat dengan keluarga Emir, bahkan mereka mengaku sebagai saudara sepupu. Oleh karena itu, Emir orang pertama di negeri ini yang dikenalkannya kepadaku.

"Aku juga bahagia bisa bertemu denganmu, Teyze," jawabku merasa tersanjung atas sambutan mereka. Sepertinya mereka pun tak keberatan kupanggil Amca dan Teyze, yang berarti Om dan Tante.

"Salam, Abla! Aku Aisha.Ternyata kamu lebih cantik dari foto yang kulihat. Çok güzel!" Aku terperangah mendengar perkataan adik Emir itu. Kapan dan di mana dia pernah melihat fotoku?

"Nggak usah bingung, Abi pernah menunjukkan padaku dari ponselnya."
Ah, sudah kuduga. Kulirik Emir yang terlihat sedikit malu dengan ucapan adiknya itu. Seperti biasa ia menggaruk-garuk pelipis untuk menyembunyikan kegugupannya. Entah apa saja yang ia ceritakan tentang aku pada adik semata wayangnya itu.

"Kami berterimakasih dan senang sekali kamu bergabung di perusahaan kami. Presentasimu kemarin sudah menyelamatkan kontrak dengan perusahaan cokelat itu, sehingga diperpanjang. Sangat sulit di situasi sekarang mendapatkan proyek sebesar itu. Entahlah, akhir-akhir ini perusahaan semakin sepi proyek dan merugi." Murat bay menyampaikan rasa terima kasihnya. Namun di balik itu ia mengungkapkan keresahan hatinya di setiap helaan napasnya yang tampak berat.

Pertemuan itu kami lalui dengan makan siang sambil bercakap-cakap. Canda riang Aisha membantuku menghilangkan rasa canggung. Sikap manja serta gaya bicaranya yang ceplas ceplos membuat suasana menjadi hangat.

"Abla! Tahu nggak? Abi itu setiap saat selalu tatapin foto Abla di layar ponselnya. Sepertinya kakakku sedang jatuh cinta kepadamu."

"Aisha!"

"Abi! Ngaku aja, aku senang kok kalau kamu suka sama Kak Naz."

"Sudah, Aisha! Kamu suka banget godain Abi-mu. Kasihan kan, Kakak Naz jadi merasa nggak enak!" Tante Farida menengahi perdebatan anak-anaknya. Sementara aku hanya diam dan tersipu malu. Padahal di ruang dada riuh bernyanyi dan menari-nari, mengikuti irama hati yang bergemuruh dan menghentak-hentakkan jantungku. Aneh, namun aku menikmatinya.

Sebelum pulang, kami sempatkan berfoto bersama. Aku pun tak mau melewatkan momen berharga, yaitu pertemuan pertama dengan keluarga lelaki idamanku. Beberapa foto kuambil dengan kamera ponselku. Lalu dengan bangga kuunggah di akun sosmed.
Belum satu jam aku mengunggah foto—kebetulan aku masih di perjalanan pulang—, tiba-tiba sebuah pesan masuk dari Whatsapp.

[Kamu lagi di mana? Di foto itu kamu sama siapa?]

Haikal. Dari mana ia tahu tentang foto-foto itu? Bukankah aku telah memblokir semua akun sosmednya? Hmm, pasti ia membuat lagi akun baru untuk mengikuti diriku. Diam-diam aku membalas pesan Haikal diiringi tatapan penasaran dari mata Emir.

[Aku di mana, dengan siapa, bukan urusanmu lagi!]

Dua menit kemudian datang balasan lagi dari Haikal.

[Ingat Naz. Aku nggak mau kamu dekat-dekat dengan cowok lain selain aku.]

[Mereka keluarga baruku. Maaf aku sudah nggak ada urusan denganmu.]

Setelah mengetik pesan terakhir, aku mematikan ponsel. Kulihat Emir masih melirik-lirik dengan keingintahuannya ke arahku.

"Ne?" tanyaku menatap tajam menyadari tingkah Emir yang sedikit mengganggu. "Apa?"

"Yok! Nggak apa-apa. Aku cuma heran aja dengan perubahan sikapmu tadi," jawabnya. "Mungkin harusnya aku yang tanya ada apa denganmu."

"Nggak penting sih. Hanya teman yang usil menanyakan dengan siapa aku di foto-foto itu." Ia masih menampakkan kepenasarannya. Aku sebenarnya malas menjelaskan. Tetapi setelah tahu sifat Emir yang tak mudah percaya dengan satu jawaban, terpaksa kuceritakan siapa Haikal.

"Jadi, your ex-boy masih nggak mau menyerah? Oh, i see. Ia masih mencintaimu?" Dari nada suaranya yang agak tergetar, ia seperti menahan sesuatu yang emosional dari dirinya. Entah itu marah atau cemburu.

Aku mengangguk. "Sama seperti Zeyda-mu." Kalimat itu meluncur tanpa terkontrol dari mulutku. Emir mendelik seolah tak suka dengan ucapanku, namun tak berani melanjutkan percakapan itu lagi.

Sepanjang jalan kami terdiam menghabiskan waktu yang tersisa hingga sampai ke dekat rumahku. Aku sengaja minta berhenti di ujung jalan setiap Emir mengantar pulang. Belum timbul keberanian untuk terang-terangan menunjukkan kedekatanku dengan Emir kepada kakakku Sementara ini aku cukup mencari aman dulu, kecuali Ayla tentunya.

***

Back İndeks Link di sini
Diubah oleh rinafryanie
profile-picture
profile-picture
Tetysheba dan embunsuci memberi reputasi
2 0
2
[Cerbung] Aşkim, Hayatim (My Love, My Life)
28-03-2020 16:14
ane lihat judulnya dah berasa romantis. hiks hiks. kayaknya cocok jadi film ntr
profile-picture
profile-picture
Tetysheba dan rinafryanie memberi reputasi
2 0
2
[Cerbung] Aşkim, Hayatim (My Love, My Life)
28-03-2020 19:49
Quote:Original Posted By riwidy
ane lihat judulnya dah berasa romantis. hiks hiks. kayaknya cocok jadi film ntr


Aminin aja, sis... Masih jauh. Ane masih belajar nulis cerita, sis.
Btw makasih udah nyemangatin 😘
profile-picture
Tetysheba memberi reputasi
1 0
1
[Cerbung] Aşkim, Hayatim (My Love, My Life)
31-03-2020 00:12
Quote:Original Posted By rinafryanie
Romansa dua anak manusia berlatarbelakang kehidupan berbeda. Bersetting tempat İstanbul Turki


Quote:Original Posted By rinafryanie
Cinta beserta konfliknya, perjalanan hijrah mewarnai kisah cinta bikin meleleh dan siap-siap aja baper


Quote:Original Posted By rinafryanie
nantikan kelanjutannya ya, gansist ... gak pake lama


Waah keren. Serasa baca Novel habiburrahman el shirazy. Latar belakang luar emoticon-Jempol
profile-picture
profile-picture
Tetysheba dan rinafryanie memberi reputasi
2 0
2
[Cerbung] Aşkim, Hayatim (My Love, My Life)
31-03-2020 00:55
jauh lah kalau dibandingkan beliau mah atuh, sis ...
makasih udah mampir, nantikan lanjutannya ya, tambah seru n gak disangka-sangka ceritanya ...😍😘
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan Tetysheba memberi reputasi
2 0
2
[Cerbung] Aşkim, Hayatim (My Love, My Life)
31-03-2020 08:26
asyik, baca cerita sambil bisa belajar bahasa turki, so far, menarik
profile-picture
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
[Cerbung] Aşkim, Hayatim (My Love, My Life)
31-03-2020 10:30
Quote:Original Posted By uliyatis
asyik, baca cerita sambil bisa belajar bahasa turki, so far, menarik


Ayuuuk, masih banyak lagi kosa kata yg belum keluar. Disamping bahasa, bisa sedikit tahu budaya, adat istiadat, makanan/minuman khas, juga tempat2 wisata terkenal di sana...
Nantikan kelanjutannya ya, sis
profile-picture
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
[Cerbung] Aşkim, Hayatim (My Love, My Life)
31-03-2020 10:58
siap, ngmng2 emang penggemar budaya turki ato pernah stay di sana?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
[Cerbung] Aşkim, Hayatim (My Love, My Life)
31-03-2020 13:45
Quote:Original Posted By uliyatis
siap, ngmng2 emang penggemar budaya turki ato pernah stay di sana?


Masih rahasia ... Kasih spoiler sekarang gak seru ... wkwkkw 😂😂😂
profile-picture
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
[Cerbung] Aşkim, Hayatim (My Love, My Life)
31-03-2020 13:59
Quote:Original Posted By rinafryanie
Masih rahasia ... Kasih spoiler sekarang gak seru ... wkwkkw 😂😂😂


Oke, ditunggu, tambah bikin pinisirin, semoga jawabannya melalui part selanjutnya yah?
Diubah oleh uliyatis
profile-picture
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
[Cerbung] Aşkim, Hayatim (My Love, My Life)
31-03-2020 14:36
Quote:Original Posted By uliyatis
Oke, ditunggu, tambah bikin pinisirin, semoga jawabannya melalui part selanjutnya yah?


Sudah tayang part 2-nya, sis. Silakan, semoga berkenan 😍😘
profile-picture
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
[Cerbung] Aşkim, Hayatim (My Love, My Life)
31-03-2020 14:46
mulustrasi Emir Saleem, gansis ... ganteng, ya?
mirip Sukru Özyildiz 😂
profile-picture
Tetysheba memberi reputasi
1 0
1
[Cerbung] Aşkim, Hayatim (My Love, My Life)
31-03-2020 14:51
Quote:Original Posted By rinafryanie
Sudah tayang part 2-nya, sis. Silakan, semoga berkenan 😍😘


Siap, disimak dulu, semoga masih banyak kosa kata turkinyaemoticon-2 Jempol
0 0
0
Halaman 1 dari 3
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
api-dendam-di-tanah-pringgading
Stories from the Heart
Stories from the Heart
milk--mocha
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
B-Log Personal
cipt-papatbob
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia