Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
Pengumuman! Mau Saldo GoPay? Yuk ikutan Survei ini GanSis!
114
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e5e2669b41d3057a7241437/mengantar-bapak-pulang
"Sebentar lagi kita akan berangkat, Mbak. Saya masih memanaskan mesin dulu." "Iya, Pak. Saya tunggu." Awan kelabu pagi ini menggelayut di kota Surabaya. Dini hari tadi terdengar kabar yang menyakitkan, Bapak meninggal. Sudah hampir setahun ini, ia dirawat jalan karena kanker usus yang dideritanya. Menjelang kepergiannya, Bapak menginginkan dikuburkan di tanah kelahiran yaitu kota Semarang. "Mba
Lapor Hansip
03-03-2020 16:42

Mengantar Bapak Pulang

Past Hot Thread
Mengantar Bapak Pulang

°
°
°

"Sebentar lagi kita akan berangkat, Mbak. Saya masih memanaskan mesin dulu."

"Iya, Pak. Saya tunggu."

Awan kelabu pagi ini menggelayut di kota Surabaya. Dini hari tadi terdengar kabar yang menyakitkan, Bapak meninggal. Sudah hampir setahun ini, ia dirawat jalan karena kanker usus yang dideritanya. Menjelang kepergiannya, Bapak menginginkan dikuburkan di tanah kelahiran yaitu kota Semarang.

"Mbak, hanya sendirian? Ibu atau saudaranya tidak ikut?"

Petugas rumah sakit sekaligus tetangga yang akan mengantarkan jenasah Bapak menuju Semarang bertanya tentang keberadaan Ibu atau saudaraku. Ibu dan Ariska kemarin pulang dulu untuk menjual tanah yang akan digunakan tambahan biaya pengobatan. Namun, sayangnya Bapak meninggal tanpa ada anak atau istri yang menunggu.

"Ibu dan adik saya ada di Semarang, Pak."

Pak Mulyoto menepuk pundakku dan menyunggingkan senyuman hangat, "Mbak, yang tabah dan kuat."

"Iya, Pak. Terima kasih juga karena bapak mau mengantarkan kami."

Jika bukan karena Pak Mulyoto, kemungkinan tidak akan ada yang mau mengantarkan jenasah Bapak. Beliau juga yang mengurus administrasi rumah sakit selagi aku menunggui Bapak di ruang jenasah.

"Ayo, Mbak. Kita segera berangkat. Kasihan bapak kalau kelamaan," ujarnya mengajakku pergi.

Mobil yang kami pakai merupakan ambulance milik puskesmas. Mereka senang hati meminjamkannya pada kami. Dalam perjalanan menuju Semarang, Pak Mulyoto mengajak berbincang mengusir rasa bosan.

"Bapak orang yang ramah, ya. Padahal kami hanya kenal selama tiga bulan saja. Tiap pagi beliau akan menyapa kami sembari menyapu halaman," kenang Pak Mulyoto seraya terkekeh.

"Bapak memang seperti itu, Pak. Beliau orang yang ramah dan tidak segan membantu tetangga," kataku mengingat Bapak.

Bapak adalah orang yang paling kusayangi karena ia tidak pernah marah atau membentak jika anak-anaknya berbuat salah. Ia akan memakai kalimat yang halus dan tegas untuk menasehati kami. Beda halnya dengan Ibu yang akan memarahi kami sepanjang hari dan akan berhenti kalau Ayah menyuruh diam.

"Mbaknya berapa bersaudara? Kenal sama bapaknya, tetapi tidak pernah tanya tentang beliau."

Aku yang sedari tadi melihat arah jendela langsung menoleh dan malu karena ketahuan melamun. Pak Mulyoto hanya menyunggingkan senyumannya.

"Kami tiga bersaudara, Pak. Ada kakak lelaki dan adik perempuan."

"Wah pasti ramai sekali waktu berkumpul?"

Aku menggangguk pelan sembari melihat keadaan jalan yang ramai oleh kendaraan sebelum masuk jalan bebas hambatan. Untungnya mobil ini dilengkapi pendingin yang menyejukkan.

"Iya, Pak. Waktu berkumpul adalah hal yang menyenangkan bagi kami."

Tiap Jumat malam, Bapak selalu menyempatkan pulang ke Semarang karena ia seorang sopir bus dari Surabaya ke Semarang dan menyewa kamar di dekat tempat kerjanya. Baru tiga bulan ini saja, ia mendapatkan kenaikan kerja dan rumah kontrakkan dari atasan. Bukan lagi menjadi sopir, tetapi seorang pengawas lapangan. Saat berada di rumah, kami akan berkumpul di teras dan saling menceritakan aktifitas masing-masing.

"Sebentar lagi kita sampai, Mbak. Kalau tidak lewat jalan bebas hambatan, mungkin akan terasa lama."

Setidaknya kali ini aku beruntung bisa mengantar Bapak tanpa melewati jalan yang jauh. Tanpa sadar aku menoleh ke belakang di mana jenazah Bapak terbaring. Ada rasa tidak percaya ketika melepas kepergiannya.

"Pak, sebentar lagi kita sampai." Aku membatin sambil menghapus buliran air mata.

Ada aroma parfum milik Bapak yang tercium. Aku tahu Bapak mendengar ucapanku tadi.

"Mbak, seperti bau parfum, ya?"

Pak Mulyoto sampai mengendus bau ke depan dan ke samping. Menoleh padaku dan mengernyitkan dahi karena aku menggeleng.

"Bau ini sepertinya saya kenal. Tapi lupa di mana," sahut Pak Mulyoto pelan.

"Saya tidak mencium apa pun, Pak." Aku menyanggah ucapannya agar tidak ketahuan.

"Bapak takut?" tanyaku penasaran.

Pak Mulyoto menarik kedua bibirnya seraya menatapku penuh arti. Ia menggeleng dengan mata yang tetap fokus menyetir.

"Untuk apa takut, Mbak. Mereka tidak akan mengganggu jika kita tidak usil. Kalau mereka sampai menampakkan ke kita, mungkin saja ada hal yang ingin disampaikan."

Aku memanggutkan kepala dan mendengarkan musik lawas yang diputar Pak Mulyoto. Lagu milik Ebith mengantarkan kenangan yang tidak mudah dilupakan. Sosoknya yang penuh perhatian dan kasih sayang membuatku tidak bisa membendung rasa rindu yang pekat di hati.

"Desanya sungguh indah, ya, Mbak? Jarang saya bisa sampai ke sini. Udaranya masih bersih," ujar Pak Mulyoto memandang alam sekitar, kita berhenti sejenak menikmati udara yang sejuk. Pak Mulyoto sampai mengambil ponsel untuk memotret sawah yang hijau.

"Ada apa, Pak?" tanyaku saat melihatnya bingung.

"Oh ... tidak apa-apa. Mungkin ponsel saya sudah rusak. Ayo, Mbak, kita berangkat."

Nada bicara Pak Mulyoto terdengar gugup. Apa yang tadi dilihatnya di belakangku? Aku tidak bertanya karena wajahnya terlihat pucat pasi. Kami saling diam hingga sampai rumah.

*****

Tinggal beberapa meter lagi, aku sampai rumah. Sebelum sore akhirnya diriku bisa mengantarkan jenazah Bapak. Kulihat Ibu lari tergopoh-gopoh menyambut kedatangan kami. Bias kesedihan tergurat jelas di wajahnya. Warga banyak berdatangan untuk melihat Bapak terakhir kali.

"Maaf, Bu. Agak terlambat dari perkiraan saya sebelumnya," kata Pak Mulyoto menyalami Ibu dan Bang Rana.

"Tidak apa-apa, Pak. Kami maklum karena tidak ada yang mengurus di sana. Kami yang malah mengucapkan terima kasih karena bapak sudi mengurus semuanya," jawab Ibu dengan wajah sembab.

"Bukan hanya saya---"

"Ada ada, Pak?"

Pak Mulyoto tercekat melihat kedatangan saudara kembarku--Ariska. Wajah dan tubuh kami bak pinang dibelah dua, yang membedakan hanya potongan rambut saja. Aku lebih memilih memanjangkan rambut.

Ibu menoleh ke belakang dan menyadari keterkejutan Pak Mulyoto yang masih diam terpaku.

"Dia anak saya, Pak. Namanya Ariska."

"Namanya bukan Arisma?"tanya Pak Mulyoto gugup.

"Arisma dan Ariska kembar. Namun, Arisma sudah tidak bersama kami lagi," ucap Ibu dengan suara parau.

Pak Mulyoto tambah terkejut dan menoleh padaku, ia berjalan mundur ke belakang.

"Kenapa, Pak?" Bang Rana sampai memegang punggungnya menahan agar tidak jatuh.

"Bukankah Arisma anaknya Ibu yang menjemput jenazah Bapak?"

Mereka saling pandang dan memahami situasinya. Ibu menangis histeris sampai ditenangkan oleh Ariska. Aku hanya bisa menatap penuh sedih.

"Makanya itu, Pak. Kami di sini merasa bingung. Bagaimana Bapak tahu rumah kami? Waktu saya telepon di rumah sakit, mereka mengatakan jika bapak sudah berangkat sejak pagi seorang diri," urai Bang Rana memperjelas keadaan.

"Lalu yang saya sering temui di rumah kontrakkan itu siapa?"

"Arisma sudah meninggal tiga bulan lalu akibat sakit, Pak. Yang bapak temui itu kembarannya."

Pak Mulyoto dirangkul Bang Rana menuju rumah untuk ditenangkan. Aku tidak bisa meminta maaf padanya, perasaan bersalah menyelimuti karena sudah membuatnya takut.

Seharusnya Bang Rana yang menjemput Bapak pagi tadi. Namun, aku yang pergi menggantikannya. Setidaknya aku beruntung bisa melihat Bapak terakhir kali dan mengantarkannya pulang.

"Ayo, Nak. Kita pergi sekarang. Ini bukan tempat kita dan terima kasih sudah menunggu bapak selama tiga bulan." Aku menerima uluran tangan Bapak dan pergi melewati warga yang mengangkut keranda.

=Tamat=

Surabaya, 03 Maret 2020


Index Kumpulan Cerita Horor

1. Nasehat seorang ibu akan selalu menjadi lagu terindah untuk sang anak. Namun, apakah seorang anak mau mendengarkan nasehat sang ibu?

https://www.kaskus.co.id/show_post/5...cb953aca2e80c3

2. Ada kutukan yang mengerikan terjadi di sebuah rumah. Kutukan yang akan mengubah pemiliknya menjadi menyeramkan.

https://www.kaskus.co.id/show_post/5...cb9546f261a448

3. Siapa yang tidak ingin memiliki putri kecil lucu dan suka bicara. Namun, kalau ia suka bicara sendiri dan menatap dinding kosong. Apa yang dilakukan sang orang tua? Temukan jawabannya di cerita ini.

https://www.kaskus.co.id/show_post/5...27681e3e0adc71

4. Lagu balonku memang disukai anak-anak dan sering dijadikan lagu favorit mereka. Akan tetapi bagaimana jadinya jika lagu tersebut menjadi lagu menakutkan bagi Hans?

https://www.kaskus.co.id/show_post/5...7e93348d3e4e69

5. Apa yang terjadi di sebuah supermaket itu? Dengar-dengar ada hal yang tak terduga. Penasaran? Yuk ... dibaca dan diberi komen

https://www.kaskus.co.id/show_post/5...c99118c04c22fa


Nantikan kelanjutan cerita horor dari saya lainnya.
Diubah oleh monicamey
profile-picture
profile-picture
profile-picture
indrag057 dan 45 lainnya memberi reputasi
44
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 3
Mengantar Bapak Pulang
02-03-2020 19:22

Nasehat Ibu

Pria itu masih sama seperti yang dulu. Seseorang yang aku kenal sejak belasan tahun silam tetap dengan sikapnya yang pemarah. Kali ini aku mendengar dia berteriak kencang bagaikan petir kepada istrinya. Perkataannya yang mengeluarkan umpatan seketika cocok dengan sifatnya yang tak bisa diubah. Berulangkali sang ibu menasehati tetap saja kelakuannya membuat warga resah. Aku ingin menolong wanita yang kini menjadi istrinya, tetapi hal itu bukanlah hakku untuk turut campur.

"Kau masih senang mengintip keributan mereka, Seruni?"

Pertanyaan ibu dengan suara beliau yang keras cukup membuatku terkejut.

"Dan ibu selalu senang mengejutkan Seruni dengan suara ibu," gerutuku yang masih terkejut.

"Kau saja yang tak mendengar kedatangan ibu." Ibu berucap sambil duduk di kursi kayu ruang tamu.

"Seruni terlalu fokus memperhatikan mereka, Bu." Aku berkilah sembari turut duduk di samping ibu.

"Setiap hari mereka bertengkar. Ibu dan tetangga sampai bosan mendengarnya."

"Apa tetangga tidak melaporkan kekerasan rumah tangga tersebut, Bu?" tanyaku seraya menatap ibu yang sedang melihat hampa rumah di depan.

"Semua sudah dilakukan, Nak. Namun, uang membuat bungkam mulut-mulut pelapor." Ibu mendesah berat.

"Lukman tidak pernah berubah, ya, Bu?"

Aku berdiri melihat lagi rumah di depan kami. Maklum jarak rumah kami dengan tetangga terbilang cukup dekat sehingga memungkinkan untuk mendengar suara keributan atau teriakan para ibu kepada anaknya di sore hari.

"Apa kau menyesal dengan keputusan yang kamu ambil dulu, Nak?"

Aku bisa menangkap maksud pertanyaan ibu dengan tersenyum kepada beliau dan menggeleng. Aku bersyukur dengan keputusan yang kuambil belasan tahun silam. Mata ini masih memandang rumah Lukman yang ada di depan dari balik jendela dengan tirai tipis. Suara gaduh dan umpatan kotor sudah tak terdengar lagi.

Tepat saat itu juga, aku melihatnya. Dia melangkah keluar dengan tatapan kejamnya. Mata kami saling beradu. Aku dan Lukman saling terdiam sejenak. Dia melihatku sekilas dengan mimik wajah terlihat bingung dan pergi melesat begitu saja.

"Selesai melempar benda dan memukul Mina, dia akan pergi begitu saja tanpa perasaan bersalah," ujar ibu yang juga melihat Lukman.

Aku hanya bisa menatap iba dengan yang dialami Mina selama ini.

"Kau tahu, Nak? Ibu bersyukur kamu tidak jadi menikah dengannya meski saat itu kamu sempat mengakhiri hidupmu."

Aku melihat wajah ibu dan tubuh beliau yang sudah ringkih dimakan usia. Benar kata ibu, andai saat ini aku bersamanya kemungkinan besar yang berada di posisi Mina sekarang adalah tubuh ini.

Lukman Yunas Wijanto adalah pria idaman gadis desa dan anak aparat setempat. Dia memiliki wajah tampan, tubuh atletis dan kaya, tetapi sayang sifatnya buruk. Pemabuk dan malas. Usia tujuh belas tahun hatiku jatuh cinta dengan pria penyuka minuman beralkohol itu. Gayung bersambut dengan sukacita. Cintaku diterima oleh Lukman. Gadis manapun akan iri dengan kedekatan kami.

"Nduk, putuskan hubunganmu dengan Lukman sekarang." Bapak berpesan kepadaku sebelum bapak berpulang ke rumah Allah.

"Seruni cinta sama Lukman, Pak. Seruni tidak mau putus." Aku marah kepada bapak waktu itu.

"Dia bukan lelaki yang baik dan bisa menjaga kehormatanmu, Nak." Ibu juga ikut bicara dengan keras.

"Seruni bisa menjaga diri, kok, Bu." Aku membela diri tak terima dengan perkataan bapak dan ibu.

"Bapak akan mengijinkanmu menikah setelah bapak meninggal dan kamu tidak berhak tinggal lagi di rumah ini," ucap Bapak dengan nada emosi.

Aku terhenyak mendengar perkataan bapak. Aku yang masih usia belia harus pergi dari rumah jika masih bersikeras ingin menikah dengan Lukman. Nyaliku ciut seketika.

Namun, sekali lagi cinta mengalahkan segalanya. Aku menentang bapak dan ibu dengan melakukan bunuh diri. Untung Allah menyelamatkan nyawa ini.

"Ini peringatan terakhir bapak. Jika kamu masih ingin bersama lelaki bejat itu maka angkat kaki dari rumah bapak," usir bapak mengacungkan jarinya ke arah depan rumah.

Aku tidak mau diusir oleh bapak karena gejolak mudaku terlalu takut untuk melangkah keluar bersama lelaki yang tak direstui kedua orang tua.

Mana ada orang yang mau mempekerjakan diriku yang masih duduk di bangku sekolah dan uang jajan minta kepada bapak. Saat aku meminta putus dengannya meski hati ini berat, Lukman dengan mudahnya mengatakan kalimat yang membuatku terluka.

"Aku masih bisa cari cewek lain. Untuk apa menunggu kamu?"

Jika mengingat hal itu aku tak pernah menyesalinya. Justru bangga kepada diri sendiri sudah bisa mengambil sebuah jalan yang indah pada akhirnya.

"Dulu bukannya ibu dan bapak tidak menyukai hubunganmu dengan Lukman, Nak. Jika saja dia pria yang baik maka kami akan merestui kalian. Ingat apa yang terlihat di mata belum tentu baik di hati."

Dua bulan setelah aku memutuskan tali cinta kami, Lukman dipaksa menikahi Mina karena ketahuan hamil sebelum menikah. Mina sahabatku harus menanggung akibatnya dan melahirkan anak di usia yang muda bahkan sebelum lulus sekolah.

"Seruni tidak tahu apa yang akan terjadi jika Seruni bersamanya sekarang, Bu."

"Kami sebagai orang tua hanya menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Ibu hanya ingin kamu menikah dengan pria yang bisa menjaga kamu dan menjadi Imam dalam rumah tanggamu." Ibu mulai bernarasi panjang memberi nasehat.

Netraku kembali memandang arah depan dan melihat Mina keluar membawa tas. Mina menangis dengan wajah lebam. Aku memperhatikan sahabat lama itu dari balik jendela. Mina tidak mau menemuiku hingga kini karena masa lalu. Mata kami saling menatap dalam kebisuan. Mina menjatuhkan tasnya, mulutnya membentuk tanda O dan mata yang membulat memperhatikan aku serta ibu dari balik jendela rumah.

"Sudah lama Mina tidak melihat ibu," ucap ibu tiba-tiba.

Aku bisa memastikan jika Mina sekarang ketakutan. Dia mengambil tasnya yang terjatuh dan belari sekencangnya.

"Makanya ibu tidak suka melihat dari balik jendela, Nak."

"Tidak apa-apa, Bu. Mereka hanya takut saja," ujarku sambil mengambil tas yang aku letakkan di atas meja.

"Jangan terlalu sering ke rumah ini, Nak. Urusi suami dan anak-anakmu."

"Ah, ibu. Seruni selalu ingin mendengar nasehat ibu dan bapak. Benar begitu, kan, Pak?" Aku melirik bapak yang duduk di kursi goyangnya sejak tadi dan tidak mau ikut berbicara.

"Kamu akan membuat orang ketakutan jika melihat kamu berbicara sendiri. Jadi jangan pernah ke sini lagi, ya, Nduk?" Bapak tersenyum hangat sebelum bunyi klakson mobil suamiku berada di depan.

"Seruni akan mengunjungi kalian bulan depan," kataku sambil menutup pintu dan menguncinya.

"Sudah selesai bicara dengan bapak dan ibu, Yang?"

Aku melihat senyuman manis suami yang berada di dalam mobil. Sebuah senyuman tulus dan cinta yang ditujukan kepadaku. Istrinya yang dapat bercakap dan melihat makhluk tak kasat mata.

Tamat

Surabaya, 02 April 2020
Diubah oleh monicamey
profile-picture
profile-picture
nataliahana dan trifatoyah memberi reputasi
2 0
2
Mengantar Bapak Pulang
05-03-2020 10:29
nice story emoticon-Big Grinemoticon-Big Grinemoticon-Big Grin
profile-picture
monicamey memberi reputasi
1 0
1
Mengantar Bapak Pulang
05-03-2020 10:46
ngeri
profile-picture
monicamey memberi reputasi
1 0
1
Mengantar Bapak Pulang
05-03-2020 11:18
ngeri juga ini, seperti menunjukan jalan pulang, emoticon-Takut (S)
profile-picture
profile-picture
monicamey dan cg122 memberi reputasi
2 0
2
Post ini sudah di merge/move
Mengantar Bapak Pulang
05-03-2020 13:48
Keren! TS nya pinter banget membawa kita larut dlm cerita dan gak sadar kalau ternyata yg mengantar juga sudah almarhum. Dan baru ketahuan pada akhir cerita.
Lanjutkan,sis! emoticon-Toast
profile-picture
profile-picture
monicamey dan elangbiru00 memberi reputasi
2 0
2
Mengantar Bapak Pulang
05-03-2020 14:11
wow! plot twistnya manis sekali. sukaaaaaak
profile-picture
monicamey memberi reputasi
1 0
1
Mengantar Bapak Pulang
05-03-2020 16:32
wow cerita yang bagus...
profile-picture
monicamey memberi reputasi
1 0
1
Mengantar Bapak Pulang
05-03-2020 16:39
ceritanya keren nih nice emoticon-Big Kiss
profile-picture
monicamey memberi reputasi
1 0
1
Mengantar Bapak Pulang
05-03-2020 21:34
keren sangat
profile-picture
monicamey memberi reputasi
1 0
1
Mengantar Bapak Pulang
05-03-2020 21:39

Kutukan

"Jangan pernah ke kamar Kakek. Ingat pesan Kakek!"

Aku dan saudara lain tidak pernah diperbolehkan oleh Nenek untuk masuk ke kamar beliau. Aku sebagai anak kecil memiliki rasa penasaran yang kuat untuk mengetahui penyebabnya. Namun, selalu saja ketahuan.

"Ista, kalau kamu sampai masuk ke kamar Kakek lagi. Nanti Kakek hukum kamu!"

Sejak saat itu aku dan lainnya tidak berani lagi mengetahui isi kamar Kakek jika berlibur di rumah desa. Kami mengganggap mungkin saja ada rahasia yang tersembunyi di sana yang tidak boleh kami ketahui.

"Suatu hari nanti, aku akan masuk ke kamar Kakek," sahut Nina sepupuku waktu itu.

Kini hampir 10 tahun aku tak pernah ke rumah Kakek akibat pertengkaran Ayah dengan beliau yang tak pernah aku ketahui. Beberapa minggu lalu, Ayah mendapat telepon jika Kakek meninggal tertabrak mobil.

"Sudah lama Non Ista tidak ke sini, ya?" Bi Tari yang sudah lama ikut Kakek menyambut kedatanganku di depan pintu.

"Iya, Bi. Sejak Ayah dan Kakek bertengkar."

Rumah ini tak pernah berubah sejak kami tinggalkan. Furniture kesayangan Kakek masih tertata rapi.

"Bi, kamarnya Kakek sudah dibersihkan?"

Bahkan saat Kakek meninggal, kamar ini tak boleh dibuka siapapun. Aneh, bukan?

"Ada apa, Bi?" Bi Tari hanya terdiam tanpa mau menatapku.

"Biar seperti itu saja, Non. Kata Tuan sebelum meninggal. Jangan pernah masuk lagi ke kamarnya," ucap Bi Tari pelan.

"Bibi benar-benar tidak masuk kamar itu sejak Kakek meninggal?" tanyaku penasaran.

Bibi hanya menggeleng dan memberi ulasan senyum yang sulit aku artikan.

"Apa yang Non Ista cari di dalam sana? Bibi sarankan jangan sekali-kali masuk, ya, Non."

Bi Tari tidak mau melanjutkan pembicaraan ini. Jujur, aku adalah orang yang penasaran. Apakah Kakek menyimpan hartanya di sana?

*****

Malam hari di rumah sebesar ini hanya bersama Bi Tari dan suaminya sungguh membuat merinding. Andai Ayah dan Paman Husein tidak menyuruhku mengambil sertifikat rumah ini maka aku akan menolak mentah-mentah. Jika di pagi hari rumah ini terlihat indah karena langsung menghadap gunung, akan tetapi akan sangat menyeramkan jika malam datang.

Rumah ini memang menjadi rumah yang besar di antara rumah penduduk lainnya. Listrik dan air mengalir lancar sehingga tak heran jika kerap kali penduduk meminta air kepada Kakek jika tak ada pasokan air. Kakek dengan senang hati akan memberikannya dengan gratis.

"Non, bibi tinggal dulu ke dapur, ya. Non Ista makan saja dengan santai."

Aku hanya menggangguk saja tanpa memperhatikan Bi Tari.

"Bagaimana caranya aku bisa masuk ke sana? Padahal sertifikat itu ada di kamar Kakek."

Semakin dewasa, aku semakin penasaran rahasia kamar itu. Mungkinkah ada rahasia yang sangat berharga yang tidak boleh diketahui keluarga? Mungkinkah Ayah bertengkar dengan Kakek masalah warisan? Ah, bingung jadinya.

Ketika aku menuju dapur untuk menaruh piring kotor, tanpa sengaja ada pembicaraan antara Bi Tari dan suaminya. Aku menguping dari balik tembok.

"Pak, ibu takut Non Ista masuk kamar itu."

"Ibu sudah mengunci rapat pintu itu, 'kan?"

"Sudah, Pak. Ibu tidak ingin ada yang membuka kamar Tuan. Ibu takut."

"Kata orang pintar itu selama kamar terkunci dari luar. Maka tidak usah takut, Bu."

Memangnya ada apa di sana? Malam ini aku akan masuk ke kamar Kakek bagaimanapun caranya.

*****

Suasana di malam hari cukup mencekam yang disertai suara burung hantu. Tanpa pikir panjang lagi aku memutuskan mencongkel gembok yang merantai kamar kakek. Aku tak tahu kunci itu disimpan di mana oleh Bi Tari. Akhirnya benda kecil ini dapat membukanya.

"Ya ampun gelap sekali." Kunyalakan saklar lampu di dekat pintu masuk. Aroma tak sedap langsung menyusup di penciumanku.

Mulutku ternganga melihat kamar ini. Banyak sekali benda-benda mistik dan juga boneka Jailungkung. Untuk apa kakek menyimpan ini semua?

"Untuk apa kakek dan nenek menggunakan ini? Apakah ini rahasia yang tak boleh kami ketahui?"

Aku masih tercengang melihat semua hal yang ada di kamar ini. Ada sesajen dan kemenyan yang diletakkan di meja kecil. Aku hendak mengambil boneka yang terbuat dari batok kelapa ketika ada suara geraman.

"Akhirnya ada yang datang untuk menghantarkan jiwanya?" Suara berat di belakang membuatku terperanjat.

Sosok besar dan hitam dengan mata merah menyalak penuh amarah.

"Siapa kamu?" Rasanya gigiku ikut bergemetar.

"Kakekmu tidak bisa menepati janjinya. Kau tahu anak manis? Kutukan yang aku berikan kepada kakekmu akan kuserahkan kembali kepada keturunannya."

"Apa maksudmu?" kataku tergagap dan tanpa sadar terjerembab oleh kaki sendiri ketika hendak belari.

"Janji yang selama ini dia harus jalankan."

Aku tak dapat memahami perkataannya karena terlalu takut. Tubuhku serasa diangkat oleh sosok yang tak tampak. Udara di kamar ini sangat dingin dan berkabut.

Aku berusaha berontak, akan tetapi tak bisa. Serasa ada beberapa tangan yang memegangku lalu menaruh tubuh ini di atas tempat tidur. Makhluk yang menyeramkan itu menghampiri dengan mengelus wajahku dengan kukunya yang runcing. Saat wajahnya berada dekat, aku bisa merasakan bau busuk yang disekujur tubuhnya.

"Apa yang kau inginkan?" Aku menangis karena baunya membuat perut ini ingin mengeluarkan isinya.

"Kau akan menjadi serupa dengan kakekmu mulai sekarang."

"Aku tidak tahu apapun mengenai perjanjian itu," ujarku yang masih ketakutan. Untuk saat ini tidak ada yang mendengarkan suara kerasku.

Makhluk itu tak menunjukkan ekspresi kasihan terhadapku yang mulai berkeringat dingin.

"Janji itu sudah turun temurun. Sebelumnya adalah kakek buyutmu."

Apakah kekayaan ini berasal dari makluk ini?

Ketika tangannya menyentuh kulitku, terasa panas dan gatal menjalar dengan tiba-tiba. Entah dari mana asalnya kemudian tubuhku dipenuhi oleh bulu binatang dan suaraku berubah.

"Kekayaan keluarga Suryadi akan terus bertambah jika kutukan itu melekat pada dirimu, Nak. Itulah yang dilakukan oleh keturunan kakekmu sebelumnya.

Aku memandangi jemariku yang hitam dan berbulu. Wajah yang selalu kubanggakan menjadi buruk rupa. Suaraku berubah menjadi geraman.

"Kakekmu dulu seperti ini tiap bulan purnama. Itulah kutukan yang harus aku berikan kepada manusia yang serakah akan uang."

"Sayangnya nenekmu meninggal kemudian disusul oleh kematian kakekmu yang tragis. Kau tahu mengapa kakekmu meninggal?"

Aku menggeleng.

"Itu karena dia tidak mau menjadi seperti nenekmu. Dia itu egois sekali. Minta kekayaan, tetapi perjanjiannya tak dia laksanakan."

Apakah kakek mengadakan perjanjian dengan iblis agar bisa kaya? Itukah rahasia Kakek dan Nenek selama ini?

"Nah, sekarang giliranmu Nona Manis. Kutukan itu akan terus melekat dirimu selamanya. Kau bisa melepaskan kutukan itu tapi ada syaratnya. Keturunan Suryadi akan mati di tanganku semuanya. Kau mau itu terjadi?"

Aku menggeleng kuat. Terbayang kebahagian keluargaku di pelupuk mata. Aku tak ingin Ayah, Ibu maupun saudaraku lainnya mati di tangan makhluk ini. Biarlah aku berkorban.

Aku memohon kepadanya dengan menangis agar makhluk dan rahasia ini tetap tersimpan tanpa diketahui keluargaku lainnya.

"Kurasa jawabannya adalah iya. Benar, bukan?"

Aku menggangguk.

"Hanya selama bulan purnama saja kau akan menjadi seperti ini dan jangan lupa nyalakan dupa dan lilin itu agar tidak ada yang tahu perubahan wujudmu."

Ketika selesai bicara, makhluk itu menghilang ditelan asap. Semua benda terlempar ke segala arah. Boneka itu bergoyang dengan sendirinya. Kursi goyang milik Nenek berputar. Kemudian ada suara tertawa yang menakutkan. Semua itu membuatku takut.

"Non Ista ...!"

Aku mendengar teriakan Bi Tari melihatku berubah wujud menjadi makhluk yang menyeramkan. Inilah sebuah rahasia yang disembunyikan Kakek dan Nenek.

=Selesai=

Surabaya, 05 Maret 2020
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Mengantar Bapak Pulang
05-03-2020 21:57
Ending yg tak terduga emoticon-Jempol
profile-picture
monicamey memberi reputasi
1 0
1
Mengantar Bapak Pulang
06-03-2020 02:51
jadi yang nulis ini cerita siapa :v
profile-picture
monicamey memberi reputasi
1 0
1
Mengantar Bapak Pulang
06-03-2020 07:11
bisa sampai terbayangkan situasinya,,,,,, dua jempolemoticon-thumbsupemoticon-thumbsup
profile-picture
monicamey memberi reputasi
1 0
1
Mengantar Bapak Pulang
06-03-2020 08:53
Quote:Original Posted By jiyanq
Keren! TS nya pinter banget membawa kita larut dlm cerita dan gak sadar kalau ternyata yg mengantar juga sudah almarhum. Dan baru ketahuan pada akhir cerita.
Lanjutkan,sis! emoticon-Toast


Setuju emoticon-Kiss
profile-picture
profile-picture
monicamey dan jiyanq memberi reputasi
2 0
2
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Mengantar Bapak Pulang
06-03-2020 09:05
Quote:Original Posted By jiyanq
Kayaknya kl bikin cerita bersambung boleh tuh..


Bener beud emoticon-Malu
profile-picture
profile-picture
monicamey dan jiyanq memberi reputasi
2 0
2
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Mengantar Bapak Pulang
06-03-2020 14:31
liat gambarnya aja udah serem
profile-picture
monicamey memberi reputasi
1 0
1
Mengantar Bapak Pulang
06-03-2020 17:46

Putri Kecil Kami

Mohon saran dan kritiknya...

°
°
°


Akhir-akhir ini putri kecilku bertingkah aneh. Itu menurutku dan istri. Di usia yang memasuki empat tahun, ia memiliki banyak pertanyaan yang terkadang membuat kami tak mampu menjawabnya. Namun, bukan masalah itu yang kami risaukan. Aku maupun istri senang memiliki anak yang suka bicara dan banyak pertanyaan, tetapi Aima bukanlah gadis kecil yang biasa. Hal yang membuat ibunya khawatir sekaligus takut ketika Aima berbicara sendiri sambil menghadap dinding.

"Aima bicara sama siapa?" Aku yang kebetulan berada di rumah saat itu merasa bingung.

"Teman, Yah," jawabnya santai sambil nyengir.

"Mana temannya? Kok Ayah tidak lihat?" tanyaku lagi.

"Yang bisa lihat cuma Aima. Ayah dan Ibu tidak bisa," sambungnya dengan wajah kesal.

Aku hanya bisa geleng-geleng kepala dan menyimak pembicaraan Aima dengan sesuatu yang tidak tampak. Dari perkataan Aima yang kutangkap, ia memanggil 'temannya' dengan sebutan Pak Le. Kurasa temannya sudah tua.

"Ayah, ini tidak sopan,"omel Aima tiba-tiba.

Aku mengernyitkan dahi mendengar ocehannya. Anak sekecil Aima mengomel bahkan menggerutu padaku.

"Memangnya Ayah kenapa?" tanyaku berhati-hati seraya menutup koran yang sedari tadi pura-pura kubaca.

"Jangan menguping pembicaraan Aima dan Pak Le."

Astaga ini anak semakin membuatku pusing. Bagaimana bisa ia mengetahui kalau aku sengaja mendengar pembicaraan mereka?

"Ayah tidak menguping, Aima. Ayah lagi baca koran," sanggahku membela diri.

"Aima mau pindah tempat saja,"ucapnya berdiri lalu berlari menuju kamar.

Aima berlari dengan tangan kanannya yang melayang serasa menggandeng seseorang. Akan tetapi, aku tidak bisa melihat.

"Nah, kamu bisa lihat sendiri, 'kan, Mas?" celetuk Padma--istriku yang baru selesai masak.

Aku menghembuskan napas seraya mengacak rambut karena tidak tahu lagi yang harus kami perbuat pada Aima. Selama ini kami mengganggap Aima sedang belajar bahasa dengan kosa kata baru yang ia pelajari dari sekolah.

"Sejak kita pindah di rumah ini, Aima semakin aneh dan kadang bermain lompat tali di tengah malam. Lompat talinya bahkan bergerak sendiri, Mas. Aku jadi takut kalau kamu pulang malam terus," kata Padma gelisah.

"Aku akan memanggil Pak Umar nanti malam, Dek. Mungkin saja beliau bisa membantu."

Pak Umar merupakan ketua RT juga guru mengaji di sekitar komplek perumahan ini. Aku dan istri sudah berusaha semampu kami untuk mengatasi masalah ini, tetapi malah tidak bisa. Memang selama ini mereka tidak menampakkan wujudnya di hadapanku atau Padma, hanya berupa benda yang melayang sendiri atau seseorang yang menyapu di teras. Meski begitu tetap saja itu menakutkan bagi manusia seperti kami. Hal berbeda ditunjukkan Aima yang begitu berani di tengah malam mengintip melalui jendela siapa gerangan yang menyapu atau bersiul.

"Oh ... itu Pak Di. Dia sedang bersiul sambil menyapu, Yah," katanya santai sambil menenangkan kami terutama ibunya yang sudah pucat.

Siapa lagi temannya itu? Aima selalu menyebut temannya dengan Pak atau Bu. Bahkan jika kuingat lagi ada enam penghuni yang tidak tampak tinggal bersama kami saat ini.

"Tenang, Yah, Bu. Mereka tidak mengganggu. Mereka menjaga kita dari makhluk jelek."

Aku kurang memahami perkataan Aima mengenai makhluk jelek itu. Aku akan menanyainya nanti setelah bertemu Pak Umar. Sayangnya, Pak Umar ada acara ceramah di kota lain sehingga mau tidak mau aku harus menunggu hingga lusa.

*****

Keadaan yang tidak memungkinkan di rumah membuatku harus cuti selama dua hari. Kemarin Padma histeris saat melihat Aima bergelantungan di lampu gantung. Penerangan di rumah ini memang dirancang seperti lampu di jaman Belanda yang menggantung. Mana mungkin anak sekecil itu bisa naik atau memanjat. Anehnya lagi menurut Padma, Aima malah tidak takut dan seakan-akan ada sebuah kekuatan yang menurunkannya hingga ke lantai dengan pelan.

"Aima, siapa yang menaikkan Aima di sana?"

Aku segera pulang saat itu saat menerima telepon dari Padma. Sampai di rumah, kuhampiri Aima di kasurnya sambil memeluk boneka.

"Ada makhluk jelek, Yah. Dia menerbangkan Aima. Untung Pak Le dan Bu Jum datang lalu menurunkan Aima,"jawabnya antusias.

Oke ... sepertinya masalah ini semakin serius saja dan harus ditangani. Besok Pak Umar sudah kembali ketika kukabari jika ada hal yang aneh di rumah ini atau Aima. Ah ... entahlah aku ingin segera masalah segera tuntas.

Malam ini aku dibangunkan oleh Padma dengan wajah pucat dan tubuh yang gemetar sambil menunjukkan lemari. Di sana terdengar ocehan Aima dengan gelak tawa seperti ada yang menggodanya. Aku beranjak dari kasur dengan pelan dan berdiri tepat di depan lemari yang tertutup.

"Kenapa Aima tidak boleh beritahu Ayah, Pak Le?"

Tidak ada jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan Aima. Sekali lagi Aima berkata dengan pelan.

"Oh ... jadi begitu Bu Jum? Nanti Ayah bakal tahu sama kalian?"

Aku terdiam sejenak. Memangnya aku mengenal teman-temannya Aima? Tetapi siapa mereka?

"Mas, keluarkan Aima dari sana. Aku takut ada sesuatu," bisik Padma ketakutan.

"Aima, keluar, yuk!" Aku membuka pintu lemari dan mendapati Aima yang tersenyum manis ke arah kami.

"Ayah pasti menguping lagi, ya?"

"Iya deh. Ayah mengaku memang menguping," kataku sambil menggendong menuju kasur.

"Itu tidak sopan, Yah. Memangnya Ayah tidak tahu kalau menguping itu tidak sopan?" Aku merasa tersindir oleh perkataan Aima. Saking pandainya bicara, ia bahkan terkadang seperti orang dewasa.

"Iya Ayah minta maaf," timpalku dan merebahkan Aima agar tidur kembali.

"Kata Bu Jum ..."

"Aima sudah, ya. Ini sudah malam. Besok saja ceritanya," tegur Padma menyuruh Aima diam.

"Aish ... Ibu ini ya. Aima mau bicara kok dipotong," protesnya memanyunkan bibir.

Kami sama-sama dibuat bingung oleh tingkah Aima malam ini. Kami menyuruhnya tidur, tetapi saat aku atau ibunya sudah mulai mengantuk. Ia menutup pintu kamar sambil mengucapkan kalimat yang membuat Padma memelukku dari belakang.

"Tolong jaga kami malam ini, ya."

*****

Siang ini sepulangnya sekolah, Aima menunjukkan gelagat aneh. Ia mondar mandir di hadapanku saat diriku menonton berita. Jika Aima seperti itu maka ia ingin bertanya sesuatu.

"Aima mau menanyakan sesuatu?" Aku memanggilnya dan menyuruh duduk sofa agar ia bisa bercerita denganku.

"Yah, kata Ibu guru tadi tiap hewan punya rumah?"

Oh ... jadi ia membahas pelajaran di sekolahnya. Untunglah bukan temannya yang ia bahas sekarang.

"Iya. Tiap hewan yang diciptakan Allah memiliki rumah. Mau hewan kecil atau besar."

"Tapi Yah ..." Ia menatapku dengan bingung. Apa penjelasanku kurang dimengerti olehnya?

"Ada apa, Aima? Kan sudah dijelaskan sama Ibu guru dan Ayah," ungkit Padma yang baru saja selesai mandi.

"Kalau setiap hewan punya rumah. Mengapa dia masih tinggal di sini? Ini 'kan rumahnya Aima."

Aku dan Padma saling pandang menanggapi pertanyaan Aima. Siapa yang dimaksud Aima?"

"Maksud Aima?" tanyaku pelan.

"Itu loh. Ada orang bertanduk mirip hewan, tapi tubuhnya seperti kita sedang duduk di meja makan," jelas Aima secara gamblang.

Namun, aku tidak melihat apapun di sana. Kursinya kosong dan hanya menyisakan deru napas Padma yang sesak. Di saat seperti ini asma Padma kambuh. Di saat bersamaan muncul geraman yang menakutkan, lampu gantung bergoyang dan hembusan kencang menerpa kami. Tanpa pikir panjang lagi, aku menggendong Padma yang diikuti Aima berlari menuju rumah Pak Umar.

*****

Pak Umar beserta tetangga lainnya bergegas mendatangi rumahku sedangkan Padma berada di rumah Pak RW. Si Aima bersikeras untuk ikut karena ada sesuatu yang ingin ia tunjukkan.

"Sejak kapan anakmu seperti ini, Handoko?" tanya Pak Umar sebelum kami membuka pintu rumahku.

"Sejak kita pindah tiga bulan lalu, Pak."

"Sepertinya makhluk itu sudah lama berada di rumahmu," kata Pak Umar tegas.

Ketika pintu rumahku terbuka, kami dibuat tercengang oleh keadaan yang ada. Kursi maupun meja berada di atas, foto pernikahan terbalik dan ada suara musik yang aku tidak tahu dari mana datangnya.

"Ya Allah ini apa?" Salah satu warga terkejut mendapati suasana dalam rumah begitu dingin padahal udara sedang panasnya.

Kami berenam segera melantunkan doa untuk mengusir dinginnya udara yang menusuk tulang. Aima yang berada dalam gendonganku turut berdoa walau agak terbata-bata. Keadaan seperti ini malah membuatku bangga padanya. Ia tidak pernah takut apapun.

"Ayah, itu Pak Le!" tunjuk Aima mengarah ke dapur.

Kami serempak menoleh dan mendapati sesosok pria paruh baya dengan sorban putih yang warnanya sama dengan pakaian yang dikenakan. Kami tercengang melihat penampakan yang terpampang jelas.

"Kami sudah membersihkan tempat ini. Makhluk itu tidak akan mengganggu kalian lagi, Dimas."

Dimas? Nama itu panggilan kesayangan Kakek di masa kecil dulu. Sebenarnya siapa sosok itu?

"Apa anda Bapak Lekman Supriyanto?"

Dari perkataan Pak Umar, kemungkinan besar beliau mengenal sosok yang memegang tasbih itu karena pria tua itu tersenyum dan menggangguk.

"Alhamdulilah ..." Warga serempak berujar mengucap syukur.

Aku menjadi bingung dengan situasi ini. Apa warga mengenalnya? Aima merosot dari gendonganku dan berjalan ke arah pria tua tersebut.

"Ini Pak Le, Ayah. Pak Le itu saudaranya Kakek Pram. Ayah sudah ingat?" Dengan lugasnya Aima mengatakan hal itu.

Seingatku dulu Kakek memang memiliki adik, tetapi beliau meninggal di tanah Mekkah. Jadi selama ini yang menjadi teman Aima adalah Kakek Pri?

"Di sini kami akan melindungi keluargamu, Dimas."

Di saat itulah mata kami melihat pemandangan yang tidak mungkin bisa dilupakan. Kakek Pri beserta dengan seorang ibu tua dan pria bertopi hitam berdiri di depan kami.

"Makhluk berkepala hewan itu menginginkan anak dalam kandungan istrimu. Namun, sekarang kamu tidak perlu cemas lagi. Ada kami di sini yang selalu melindungi kalian."

Seketika letupan bagai kembang api keluar dan menyisakan asap yang mengelilingi dapur. Saat mata kami membuka, ternyata mereka sudah tidak ada lagi. Warga mengucap syukur karena tidak ada yang terluka.

Lalu bagaimana selanjutnya dengan kisah hidup kami? Gangguan dari makhluk itu sudah tidak ada, tetapi hal yang luar biasa adalah anak keduaku memiliki kemampuan yang sama dengan Aima. Jadi aku dan Padma harus bisa membiasakan diri menerima keadaan anak kami.

=Tamat=

Surabaya, 06 Maret 2020

Ada yang mengalami kisah di atas? Itu adalah kisah dari anak teman saya. Ceritakan pengalamanmu di kolom komentar, GanSizt...
0 0
0
Mengantar Bapak Pulang
06-03-2020 18:54
itulah gan, Alloh menunjukan kekuasaannya dgn berbagai cara.

kita hanya mampu sujud dan sukur.
0 0
0
Mengantar Bapak Pulang
06-03-2020 21:39
Wahh emoticon-Takut
0 0
0
Halaman 1 dari 3
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
pengantin-berdarah
Stories from the Heart
dendam-arwah-dari-masa-lalu
Stories from the Heart
perahu-tanpa-layar
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
Stories from the Heart
istri-dari-neraka
Stories from the Heart
kumpulan-pengalaman-horor-brina
Stories from the Heart
klinik-aborsi
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia