Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
18
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e549f76f0bdb2686c7e6857/kumpulan-cerpen-jejak-yang-tak-pernah-hilang-cerita-keenam-belas
Bagaimana jika hari ini adalah hari terakhirmu hidup di dunia. Apa yang akan kau lakukan. Apakah kau akan merasa takut? Mungkin saja kau akan meninggalkan kehidupan ini dengan tenang. Jika semua hal yang ingin kau lakukan telah terlaksana. Namun bagaimana jika masih ada ingin yang tertinggal. Apa kau akan pergi dengan perasaan lega? *** Chia masih termenung memandang potret dirinya
Lapor Hansip
25-02-2020 11:15

[Kumpulan Cerpen] Jejak yang Tak Pernah Hilang (Cerita Keenam Belas)

Past Hot Thread
icon-verified-thread
Kumpulan Cerpen Sebelumnya


Memburu Waktu




       Bagaimana jika hari ini adalah hari terakhirmu hidup di dunia. Apa yang akan kau lakukan. Apakah kau akan merasa takut?

       Mungkin saja kau akan meninggalkan kehidupan ini dengan tenang. Jika semua hal yang ingin kau lakukan telah terlaksana. Namun bagaimana jika masih ada ingin yang tertinggal. Apa kau akan pergi dengan perasaan lega?

***

     Chia masih termenung memandang potret dirinya dengan Chania saudara kembarnya. Sejak chania pergi untuk selamanya beberapa bulan yang lalu. Ia seperti merasa, Chania belum benar-benar pergi. 

       Setiap malam, saat matahari mulai terbenam. Chia selalu merasakan kehadiran Chania di dekatnya. Dimulai dengan semerbak harum mewangi parfumnya. Lalu benar-benar terasa ada sosok Chania tak jauh dari dirinya. 

***

      Dan perasaan itu. Terus saja berlanjut. Sesekali Chia berani bertanya, “Chania, apa itu kamu?” namun tak ada jawaban. Angin bertiup lembut di telinga Chia. Dia merasa Jadi merinding. Dan bergegas keluar dari kamar.

       Hingga suatu minggu, Chia berniat untuk merapikan kamar Chania. Dia akan menyortir barang milik Chania yang mana yang masih bisa dipakai.

       Setiap sudut kamar Chania diperhatikan. Kamar ini akan dikosongkan. Chia akan menjadikan bekas kamar Chania ini sebagai perpustakaan mini.

        Sampailah Chia membereskan lemari pakaian Chania. Di lemari itu Chia menemukan sebuah kotak kardus. Entah apa isinya. Chia pun penasaran dan mengambil kotak itu. Membawanya ke kamarnya sendiri. 

          Chia langsung membuka kotak kardus itu. Seperti membuka kotak harta karun. Ia mendapati banyak barang-barang pribadi Chania. Salah satunya….

***

        Siang ini, chia bolos kuliah. Ia akan menuju kampus Chania. Meskipun kembar, Chia dan Chania jelas memiliki kepribadian yang berbeda. Chia lebih feminim dibandingkan Chania yang sedikit tomboy. 

           Chania senang otomotif, maka dari itu ia kuliah di fakultas yang berhubungan dengan hobinya itu. Sedangkan Chia, dia lebih memilih masuk di universitas khusus seni. 

           Ini pertama kalinya chia mendatangi kampus kembarannya. Mereka tidak kembar identik. Maka dari itu kehadiran Chia tidak mengejutkan siapa pun. Dia merasa beruntung.

          Apalagi kedatangannya ke kampus Chania ini, memiliki misi yang tak mudah. Namun sebelum itu, dia harus menemukan seseorang yang bernama Chikal. Siapa dia? Sedikit banyaknya Chia sudah mengetahui. Chia membaca buku harian Chania.

           Iya, di kotak kardus itu. Ia menemukan banyak hal yang berhubungan dengan Chikal. Chia jadi berpikir. Apakah perasaannya tentang kehadiran Chania, ada hubungannya dengan sosok Chikal. Karena di akhir-akhir halaman diary Chania. Di sana tertulis jika Chania menyukai Chikal. Namun dia tidak tahu apakah chikal juga masih memiliki perasaan yang sama atau tidak. 

           Dengan berbekal selembar foto sosok Chikal. Chia pun menemukan lelaki itu. Ia sedang duduk sendiri di sudut taman kampus. Dengan penuh keberanian, chia pun melangkah mendekati Chikal.

“Hey, apa benar kamu Chikal!” 

Yang dipanggil namanya langsung menoleh dan mengerutkan dahi. Dia pasti tidak mengenal siapa Chia. 

“Iya, aku chikal, kamu siapa ya?”

“Kenalin, aku Chia, saudara kembar Chania!”

Wajah Chikal tiba-tiba berubah. Ada kesedihan di sana. 

“Chania, dia yang menyuruhmu datang menemuiku?”

Giliran Chia yang mengerutkan dahi. Apakah Chikal tidak tahu kalau Chania sudah meninggal. 

               Chia duduk di dekat Chikal. Ia mencoba menerka apa yang sebenarnya terjadi antara mereka berdua. Tetapi sebagai saudara kembar Chania, Chia merasa, ada yang ingin diketahui oleh Chania dari Chikal. Soal perasaan. Tapi kenapa dari pertanyaan Chikal tadi, meski terdengar sedih namun ada kemarahan di sana. 

“Aku hanya ingin membantunya!” ucap Chia akhirnya. Dia mengurungkan untuk memberitahukan yang sebenarnya. Dia ingin memahami dulu apa yang sebenarnya telah terjadi. 

“Dia perempuan paling aneh yang pernah aku kenal! “

“Aneh, apanya?”

“Ya aneh aja, tapi karena itulah kita jadi dekat!”

“Seberapa dekat kalian berdua?”

Tiba-tiba saja, Chikal tertawa.

“Lebih tepatnya sich, aku yang sering ngikutin dia, dianya sich kayaknya risih.” jelas chikal setelah tawanya reda.

“Kok kamu bisa mikir gitu?”

“Ya, dia selalu cuek sama aku, terakhir kali aku ketemu sama dia, dia belum memberiku jawaban apa-apa! “

“Memang nya kamu bertanya apa sama Chania?”

“Aku melamarnya!”

           Chia terkejut. Kenapa soal seserius ini Chania tidak pernah cerita padanya. Chania hanya selalu bilang, ia dengan penyakitnya merasa tidak pantas menerima cinta yang tulus dari siapapun. Ya ampun, ternyata itu adalah petunjuk tentang Chikal sebenarnya. Hanya saja Chia tidak memahami nya.

***

      Pertemuan pertama chia dengan Chikal tidak berakhir dimana pun. Chia masih memikirkan apa yang sebenarnya ingin Chania lakukan. 

        Malam itu, kedatangan Chania dirasakan lagi oleh chia. Sambil membaca-baca buku harian milik Chania. Chia mencoba berbicara pada Chania, jika dia benar-benar ada di sekitarnya.

“Chan, apa chikal itu orang yang kamu cintai, kalau kamu emang ada di sini, tolong beri aku jawaban, biar aku bisa bantu kamu. Aku ingin kamu pergi dengan tenang!” 

           Seketika angin berhembus lembut. Padahal jendela kamar tertutup rapat. Membuat chia sedikit merinding. Tapi ini Chania, saudara nya sendiri. Dia harus membantu Chania, agar dapat beristirahat dengan tenang untuk selamanya.

“Chikal ternyata belum tahu jika kamu sudah pergi, tapi aku akan memberitahunya nanti, apakah kamu ingin aku memberikan buku harianmu ini padanya?”

Angin lembut pun kembali berembus.

“Aku anggap itu jawaban iya darimu Chan, aku sangat menyayangimu dan aku ingin urusanmu di dunia ini selesai!”

***

        Dan Chia pun mengajak Chikal untuk bertemu lagi. Tapi kali ini tidak di kampus. Chia mengajak Chikal bertemu di cafe. Cafe yang menjadi tempat pertemuan terakhir antara chikal dan Chania.

         Awalnya, Chikal menolak. Tapi Chia memaksanya. 

“Ada apa sih?” pertanyaan pembuka Chikal saat Chia datang di cafe agak terlambat.

“Maaf-maaf, udah nunggu lama ya?”

“Langsung saja, sebenarnya ada apa, aku pikir saudara kembarmu juga akan ikut?!”

          Ah chikal, andai kamu tahu…

“Aku cuma mau ngasihin ini ke kamu!” sambil chia memberikan buku harian milik Chania.

“Ini kan buku harian Chania?”

“Oh, kamu tahu?”

“Kemana-mana dia selalu membawanya, dia bilang, setiap hari itu harus diabadikan. Salah satunya dengan cara menulisnya di buku harian ini. Lalu kenapa diberikan padaku? Ia itu paling tidak suka aku memegangnya!”

“Justru sekarang, dia sangat ingin kamu menyimpannya!”

           Chikal memegang buku itu, mengusapnya perlahan. 

“Dimana dia sebenarnya Chia, aku merindukannya!” pengakuan itu pun akhirnya meluncur juga dari mulut Chikal.

“Aku akan nganterin kamu ke tempatnya. Tapi sebelum itu, kamu baca dulu tiga halaman terakhir buku itu ya!”

Dengan wajah heran, Chikal pun membuka buku harian itu dan langsung menuju ke tiga halaman terakhirnya.

            Cukup lama, dengan khusyuk Chikal membaca tulisan Chania itu. Hingga selesai, Chikal mengangkat kepalanya. Terpancar, ada senang di sana.

“Aku harus bertemu dengan Chania, Chia!”

“Iya, aku anterin kamu, tapi sebelumnya, kamu harus janji sama aku. Setelah itu kamu jangan membenci Chania!”

“Aku selalu mencintainya Chia!”

***

      Dan Chia telah membantu Chania memburu waktu terakhirnya. Sebelum ia benar-benar pergi. Menyampaikan pesan pada orang yang Chania cinta.

        Sekotak kardus berisi kisah Chania dan Chikal akhirnya sudah berada di tangan yang tepat. Hari itu, Chania membawa Chikal menuju rumahnya. Masuk ke kamar Chania. Dan memberitahukan yang sebenarnya.

         Air mata itu jatuh di sana. Seraya memeluk segala kenangan itu. Chikal meyakinkan pada dirinya sendiri jika Chania pun memiliki perasaan yang sama dengan dirinya. 

“Chania, beristirahatlah kau dengan tenang. Aku akan menyimpan baik-baik semua kenangan kita berdua!” sambil Chikal mencium foto Chania. Itu adalah foto dirinya dan Chania. Foto yang diambil selalu dengan cara memaksa. Tetapi di sana selalu ada senyum tulus dari Chania, yang kadang tidak Chikal sadari.


Selesai



Cerita Ketujuh Belas

Cerita Kedelapan Belas

Cerita Kesembilan Belas

Cerita Kedua Puluh

Cerita Kedua Puluh Satu

Cerita Kedua Puluh Dua

Cerita Kedua Puluh Tiga

Cerita Kedua Puluh Empat

Cerita Kedua Puluh Lima

Cerita Kedua Puluh Enam

Cerita Kedua Puluh Tujuh

Cerita Kedua Puluh Delapan

Cerita Kedua Puluh Sembilan

Cerita Ketiga Puluh [Selesai]


@agityunita
Diubah oleh agityunita
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pengobatan17 dan 6 lainnya memberi reputasi
7
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
[Kumpulan Cerpen] Jejak yang Tak Pernah Hilang (Cerita Keenam Belas)
26-02-2020 11:45

Cerita Ketujuh Belas

Memori Secangkir Teh Hangat




      Ini hujan pertama setelah beberapa bulan kemarau. Tanah yang kering sedikit demi sedikit basah. Menimbulkan aroma yang khas. Yang membuat tenang. Apalagi jika dinikmati bersama secangkir teh hangat.

        Dan di sinilah semua bermula. Sebuah cerita yang teramat singkat namun membekas di hati. Seseorang yang tiba-tiba datang. Mengisi ruang yang kosong. Untuk kemudian ia menghilang.

         Hujan seakan menghapus jejaknya. Yang tertinggal hanya rindu. Dan hangatnya secangkir teh.

***

     Seorang wanita berhijab merah muda dengan gamis senada, berlari kecil memasuki sebuah cafe karena di luar gerimis. 

     Cafe terlihat penuh, sepertinya semua orang berteduh di sini. Sambil menghangatkan badan. Memesan minuman hangat dan meminumnya pelan-pelan. Sambil menunggu hujan reda. 

      Wanita berhijab yang baru saja datang tadi segera mencari apakah masih ada bangku kosong yang tersisa. Setelah pandangan berkeliling mencari, di sudut dekat jendela masih tersisa satu meja dengan bangku berhadapan. Sepertinya tidak ada yang ingin duduk di sana. 

      Wanita itu segera menuju ke meja tersebut. Dan saat akan duduk, seseorang pun akan duduk di bangku hadapannya. 

“Hmm, penuh ya?” ucap lelaki itu dengan santai nya.

       Wanita itu pun sedikit mundur dari kursi yang akan ia duduki.

“Hey, mau kemana?” tanya lelaki itu pada wanita tersebut.

Yang ditanya jadi salah tingkah, 

“Hmm, mau pesan minuman!” jawab wanita itu akhirnya. Setelah ia mencari ternyata sudah tidak ada bangku kosong. Sepertinya dia tetap harus duduk di hadapan lelaki itu. Karena untuk pergi pun, hujannya semakin deras 

        Dengan cepat, lelaki tersebut memanggil pelayan cafe,

“Tuh mbak, dia mau pesan katanya?” sambil pandangannya dialihkan ke wanita yang sekarang duduk di hadapannya. 

“Oh, mau pesan apa mbak?”

“Saya teh hangat aja satu, jangan lupa pakai serai ya!”

“Saya juga teh hangat satu, jangan lupa kayu manisnya!” 

***

     Dan itu adalah pertemuan pertama mereka. Asha dan Derma. Dua orang yang sama-sama menyukai hujan dan secangkir teh hangat. Mereka tak banyak berbincang awalnya. Hanya saling mencuri-curi pandang sesaat. Lalu kembali memandang keluar jendela. Melihat lukisan terindah. Saat garis-garis air itu jatuh ke bumi.

          “Hujan. Kita akan tertahan lama di sini jika menunggunya reda. Aku sich senang, karena di hadapanku ada yang juga indah!”

Kata-kata Derma itu mampu membuat Asha memalingkan wajahnya. 

“Kamu bicara denganku?” tanyanya serius.

Derma membalasnya dengan tertawa.

Asha jadi salah tingkah. Dan memilih meminum Teh nya.

“Kenapa suka teh serai? Oh, iya aku bertanya padamu!” 

“Oh, ya karena biar enak aja di badan!”

“Hmm, kamu mau tahu Kenapa aku suka teh dengan kayu manis!”

“Gak!” jawab Asha dengan wajah polosnya.

Membuat Derma tertawa lagi dan kali ini Asha pun ikut tersenyum karena juga merasa lucu sendiri. 

         Jawaban Asha tidak ada maksud menyinggung atau apa pun. Itu memang jawaban dari hatinya. Dia merasa tidak perlu mengetahui tentang apapun dari lelaki di hadapannya. Mereka tidak saling kenal. 

“Kenalin, aku Derma. Pengangguran sibuk!”

“Kok bisa?”

Derma malah tertawa lagi.

“Namamu unik!”

Aku Asha , unik dari mananya?” 

Derma kembali tertawa mendengar jawaban Asha. Polos sekali pikir Derma. 

       Asha hanya tidak pandai berpura-pura. Dia hanya menjadi dirinya sendiri yang tidak serba ingin tahu jika itu tidak berkaitan dengan dirinya. 

        Dan Derma memandang itu sebagai sebuah keistimewaan. Di cafe favoritnya ini, ia pernah kehilangan cintanya. Cinta yang penuh pura-pura meski ia tulus dengan sepenuh hati. Dan kali ini bertemu Asha yang menurutnya berbeda, adalah pengobat sepi hatinya.

***

       Dan hujan belum juga mau berhenti. Asha mulai sibuk menghubungi orang rumah. Siapa tahu ada yang bisa menjemputnya, karena ia ingin segera pulang.

“Kenapa?” tanya Derma yang melihat Asha gelisah.

“Oh, gak apa-apa!”

“Kamu mau pulang?”

“Iya!” 

“Hmm, andai Aku bisa mengantarmu!”

“Eh, gak perlu, aku bisa pulang sendiri kok!” Asha cepat-cepat menanggapi ucapan Derma itu.

“Haha, aku belum selesai bicara, maksudku itu, andai Aku bisa mengantarmu tapi sayang tidak bisa, karena aku hanya punya motor. Dan aku gak mau kamu kehujanan!”

“Kamu lagi ngegombalin aku?” 

Derma jelas tertawa lagi mendengar pertanyaan Asha itu. 

“ih, siapa yang sedang ngegombal. Aku serius!”

              Asha teringat pada pemilik senyum yang tak kalah manisnya dengan Derma. Namun senyum manisnya itu telah menenggelamkannya dalam kepahitan. Maka sejak itu hatinya tertutup untuk siapa pun. Dan bertemu Derma, ini kali pertamanya ia dapat kembali tersenyum. Dimana sebelumnya ia tenggelam dalam sedih yang memilukan. 

***

      Mereka kembali meneguk secangkir teh kesukaannya masing-masing. Dan kembali tenggelam menatap hujan yang tak kunjung usai. 

“Aku sering berada di sini, tapi aku tidak sering melihatmu?”

Aku memang baru pertama ke sini, karena hujan jadi aku berteduh di sini!”

“Oh, pantesan gak pernah lihat!” 

“Kamu sendiri, sering kemari?”

“Iya, lama-lama aku bisa jadi penunggu cafe ini!” Derma tertawa

Diikuti senyum malu-malu Asha.

           Setiap kali mendengar dan melihat Derma tertawa, pintu rapat itu perlahan terbuka. Entah ada kekuatan apa, namun Asha merasakan getaran yang tidak biasa. Asha merasa, Derma sesuatu yang istimewa. Yang dikirim Tuhan, sebagai penghibur hatinya.

           Derma merasa beruntung, di hari terakhirnya menghabiskan waktu di sini. Tuhan memberikan jawaban atas segala pintanya. Sebuah permintaan terakhir yang sederhana.

Jika hari ini adalah hari terakhirku di sini. Izinkan aku bertemu dengan seseorang yang tulus dan membuatku percaya., bahwa tak semua wanita itu hanya mampu mempermainkan perasaan lelakinya.

***

       Dan hujan mulai berangsur reda.

“Sepertinya hujan sudah berhenti, aku permisi pulang duluan!”

“Hmm, baiklah, terima kasih kamu sudah mau menemaniku. Menikmati secangkir teh dan hujan!”

“Oh, aku juga terima kasih!” Asha merasa tak ingin pergi kemana pun. Entah apa yang menahannya. Tapi ia harus pulang.

“Pulanglah, semoga kamu tidak melupakan aku, karena aku juga tidak akan pernah melupakanmu. Segala yang terjadi dalam hidupmu anggaplah seperti hujan. Ia akan berhenti pada waktunya. Senyummu manis, tetaplah seperti itu!”

          Pertemuan singkat ini, telah meninggalkan kesan yang mendalam. Setelah rasanya Derma mampu membuka pintu hati yang telah tertutup rapat. Kini ia seperti menguasai isinya. Tapi Asha harus pulang. Besok ia kemari lagi, untuk memastikan perasaannya. 

***

       Namun hari esok itu tak akan pernah ada. Hujan yang reda telah membawa serta keberadaan Derma. Tinggalah sendiri Asha bertanya-tanya dalam hati, sambil meneguk segelas teh serai hangat. Di sudut yang sama, di tempat duduk yang sama. Namun tanpa Hujan dan Derma.

         Meskipun begitu, Derma tak akan terlupakan. Karena pertemuan singkat itu telah meninggalkan memori yang hangat. Sehangat secangkir teh. 


Selesai
profile-picture
Surobledhek746 memberi reputasi
1 0
1
[Kumpulan Cerpen] Jejak yang Tak Pernah Hilang (Cerita Keenam Belas)
27-02-2020 09:47
Kisah Lama



        Perempuan itu bernama Sita. Sudah setahun ia harus melakukan konsultasi dengan seorang psikiater. Ada apa dengannya?

        Di ruang serba putih itu, ia ingin menghilangkan segala kenangan buruknya. Masa lalunya. Kisah lama yang telah mengubah dirinya.

        Bukan perubahan yang menyenangkan. Sita yang dahulu begitu ceria, berubah menjadi pemurung dan tertutup. Dia seperti membangun benteng yang tinggi untuk melindungi dirinya.

          Matanya memancarkan luka yang tak terobati. Sudah banyak psikiater yang berusaha mengobatinya. Tetapi tak satupun yang mampu menghilangkan traumanya.

           Sita kini telah berusia 25 tahun. Segala sakit dan luka itu telah menimpanya saat ia 20 tahun. Dan waktu 5 tahun tak juga meredakan rasa takutnya.

***

     Dia adalah Aditya. Lelaki yang terlihat baik hati yang telah menanam benih cinta dalam hati Sita. Aditya yang datang dan menetap dalam hati Sita selama kurang lebih tiga tahun. Masa-masa yang indah bagi Sita.

      Ya, bersama Aditya, Sita seperti menemukan sosok teman, sahabat, kakak, bahkan ayah. Mereka berkenalan karena diperkenalkan oleh seorang kawan. Sita yang saat itu memang tidak sedang memiliki hubungan spesial dengan siapapun. Akhirnya membuka hati untuk mengenal lebih jauh sosok seorang Aditya.

      Setiap hari mereka selalu berhubungan. Yang awalnya hanya lewat pesan singkat. Mereka pun berjanji untuk bertemu. Pertemuan pertama mereka, dilakukan Aditya saat menjemput kedatangan sita Dari Surabaya. Saat itu, sita yang kuliah di sana tengah mendapatkan libur. Dan itu dipergunakan sita, untuk pulang kampung. Sekaligus untuk bertemu dengan Aditya.

        Dan hubungan itu pun terus berlanjut. Hingga akhirnya Aditya meminta Sita menjadi kekasihnya. Sesuatu yang memang juga dinantikan oleh Sita. Mereka pun menjadi pasangan yang seakan tak terpisahkan.

***

      Setahun, segalanya terasa masih indah. Aditya selalu ada dimanapun saat Sita ada. Sita merasa sebagai wanita paling beruntung telah memiliki seorang Aditya. 

        Memasuki tahun kedua. Sifat asli Aditya mulai terlihat. Sedikit-sedikit memang. Sita belum menyadarinya. Dia masih merasa apa yang dilakukan Aditya adalah wajar.

        Aditya pencemburu. Sita dilarang memiliki teman laki-laki. Padahal di kampusnya Sita termasuk mahasiswi yang aktif, mana Mungkin ia tidak berinteraksi dengan kawan lelakinya.

        Aditya posesif. Dia memang memperlakukan Sita seperti ratu. Tapi ratu dalam sangkar. Ia terkekang. Meski awalnya sita tak begitu merasakannya.

           Aditya ternyata kasar. Di awal-awal, kekasaran itu tidak begitu terlihat. Namun lambat laun, semuanya jelas sudah. Aditya tidak hanya kasar pada fisik tetapi juga kata-kata. Meskipun setelah itu, ia akan berlutut di hadapan Sita untuk meminta maaf. Dan karena melihat Aditya yang begitu merasa menyesal, maka sita selalu memberinya maaf. Untuk kemudian esok diulang lagi.

           Hingga akhirnya, Sita sudah merasa tidak sanggup lagi menghadapi segala sifat buruk itu. Sita pun memutuskan untuk berbicara dengan Aditya. Dia merasa semua sikap aditya padanya sudah keterlaluan. 

“Dit, kita harus bicara!” ajak Sita suatu sore saat Aditya menjemputnya kuliah.

“Bicara aja sayang ada apa?” 

            Entahlah, jika tidak sedang emosi seperti itu, Aditya begitu baik dan lembut. Awalnya Sita akan mengurungkan niatnya. Tetapi jika ingat perlakuan Aditya pada dirinya, Sita mengumpulkan keberaniannya untuk mengungkapkan isi hatinya.

“Sepertinya, aku  sudah tidak bisa meneruskan hubungan kita ini Dit!”

Seketika mobil yang mereka kendarai direm mendadak oleh Aditya. Membuat Sita kaget dan menjadi merasa takut.

“Maksud kamu, kita putus?”

“Iya Dit!”

“Kenapa, kamu sudah ada pacar baru, siapa?”

“Gak Dit, aku gak punya pacar baru, aku hanya, merasa sudah tidak sanggup bersamamu lagi!”

“Kenapa?” 

Aditya mencengkram tangan Sita.

“Sakit Dit!”

            Dan yang terjadi setelah itu adalah hal yang sama sekali tidak ingin Sita ingat. Di tahun ketiga cinta yang terasa indah itu berubah menjadi yang paling Sita benci. Meskipun saat itu Aditya tidak berhasil memuaskan nafsu dan amarahnya. Namun ketakutan dalam diri Sita tak kunjung hilang.

            Sejak hari yang sungguh tak baik itu, Sita menjadi seorang yang pendiam dan selalu murung. Ia tidak lagi berangkat kuliah. Selama sebulan Sita menyimpan semuanya sendiri. Namun segala rasa tertekan itu membuat Sita hampir terganggu jiwanya. Sang ibu yang khawatir segera membawa sita ke psikiater.

***

      Dan di sinilah ia sekarang. Ruang putih yang akan membuatnya menceritakan segala yang dirasakannya. Sang ibu jadi paham apa yang telah terjadi pada putri kesayangannya itu. Bahwa mahkota jiwanya hampir saja terenggut oleh orang yang selama ini malah paling ia percaya, bisa menjaga putrinya. 

          Namun sayang, sudah berganti-ganti psikiater. Keceriaan Sita tak kunjung kembali. Bahkan sempat suatu waktu, Sita mencoba bunuh diri. Dia mencoba melukai pergelangan tangannya di kamar mandi. Untung saja segera tertolong.

***

      Aditya terkadang masih suka mencari tahu bagaimana keadaan Sita. Terkadang ia mengirim pesan dengan kata-kata yang begitu manis. Tetapi juga sering mengirim pesan dengan kata-kata kasar dan ancaman. Yang membuat trauma dalam diri Sita tak kunjung menghilang.

           Ketika semua kisah lama itu menetap dalam ingatan. Dokter Indralah  yang menolong Sita untuk tetap bertahan. Psikiater yang menjadi harapan terakhir sang ibu. Melupakan sudah pasti tidak akan mungkin bisa. Tetapi menerima, seharusnya bisa menjadi pilihan. Dan melanjutkan langkah dengan lebih ringan.

***

“Kejadian itu sudah lama berlalu!” ucap Dokter Indra pada Sita.

“Iya dok dan seharusnya sudah sejak lama juga saya bisa berdamai dengannya!” 

“Iya Sita, kamu masih muda, masih banyak hal yang seharusnya bisa kamu kerjakan. Anggaplah kisah cintamu yang lalu sebagai sebuah peringatan. Bahwa kamu harus lebih berhati-hati lagi jika esok lusa mendapatkan pengganti.”

               Setahun berlalu, dan kejiwaan sita semakin stabil. Aditya yang dulu masih sering meneror pun sudah tak terdengar kabarnya lagi. Kehidupan Sita pun berangsur berjalan seperti semula. Kuliah yang terbengkalai, ia lanjutkan.

            Namun untuk soal hati. Sita masih ingin menutupnya rapat. Hingga yang terbaiklah yang akan menghuninya. Kisah lama itu, akan menjadi pengalaman pertama dan sekaligus semoga yang terakhir.

             Sita siap memperbaiki segalanya. Tanpa tekanan. Yang ada hanya sebuah penerimaan.


Selesai
profile-picture
Surobledhek746 memberi reputasi
1 0
1
[Kumpulan Cerpen] Jejak yang Tak Pernah Hilang (Cerita Keenam Belas)
27-02-2020 11:41
mantab. lanjutkan. semangat
profile-picture
agityunita memberi reputasi
1 0
1
[Kumpulan Cerpen] Jejak yang Tak Pernah Hilang (Cerita Keenam Belas)
28-02-2020 07:19
Secuil Kisah di Kota Kembang




         Jika sebuah pertemuan adalah awal dari tumbuh nya rasa. Sepertinya tidak berlaku bagi pasangan ini. Pasangan yang kembali dipertemukan oleh waktu. Setelah sekian lama terpaksa saling mengabaikan. 

         Mereka yang terpaksa menangguhkan rasa. Kembali terjebak dalam nostalgia yang sengaja dilupakan. Namun waktu tak pernah benar-benar menghapus cerita mereka. Maka angin sejuk kota kembang, membawa semuanya kembali.

***

      Seorang gadis berhijab panjang dan bergamis serasi sedang memperhatikan jadwal keberangkatannya di karcis yang ia pegang. Dengan menaiki kereta api ia akan menuju ke Bandung. Kota yang sudah beberapa tahun ini selalu ia hindari untuk didatangi.

        Namun kali ini, keinginan sang ibu yang mengharuskan gadis yang bernama Kalya itu pulang. Sebuah kata yang selama ini selalu ditolak untuk dipenuhi.

          Dari Yogyakarta, tempatnya kini menuntut ilmu. Kalya menuju ke Bandung dengan jadwal keberangkatan pukul enam pagi. Sebuah perjalanan yang juga pernah ia tempuh dulu namun dengan arah sebaliknya. Pergi untuk meninggalkan rasa yang dibiarkan begitu saja.

           Dan kini ia akan kembali berdiri di sana. Seakan membuka buku lama yang sudah usang. Akankah setiap hurufnya masih bisa terbaca.

***

     Seorang lelaki berkacamata, berlari di koridor fakultas teknik. Ia seorang asisten dosen paling muda Di kampus nya. Dan hari ini jadwalnya begitu padat.

      Dialah Dafiq. Seseorang yang akan menjadi bagian penting dari cerita ini, setelah Kalya. Dialah yang menjadi alasan Kalya untuk tak pernah lagi menginjakkan kakinya di kota kembang ini.

      Padahal dalam hati Dafiq, Kalya tidak pernah tergantikan. Dia tetap menjadi ratu di hatinya. Namun sayang, perasaan itu hanya miliknya sendiri. Karena Kalya lebih memilih pergi daripada memelihara perasaannya.

***

     Seminggu berlalu, 

Sejak kedatangan Kalya Di bandung, ia memutuskan untuk tidak pergi kemanapun. Namun pertahanannya jebol juga, setelah Anggun sahabatnya memaksanya untuk jalan-jalan keluar. 

        Entahlah apa yang membuat Kalya enggan melihat terlalu lama setiap sudut kota Bandung. Apakah karena hatinya yang tak karuan itu, hingga ia memilih untuk bersembunyi saja. Padahal saat anggun mengajaknya ke salah satu taman yang juga menjadi tempat favoritnya dulu. Tiba-tiba hatinya begitu rindu.

“Kal, kita tunggu yang lain di sini aja ya, kamu kan bilang gak akan lama di Bandung, Jadi ya aku ajak aja anak-anak buat reunian sekalian!”

“Anak-anak? Siapa aja?”

“Ya semua teman geng kitalah!”

“Dafiq?” nama yang dihindari untuk diucapkan, akhirnya meluncur juga dari bibirnya. 

“Kemarin sih dia bilang dia lagi sibuk, jadi gak janji, bisa datang atau gak!”

“Ooh!”

           Apa kamu marah padaku?

Hingga akhir acara selesai. Dafiq memang tidak datang. Mungkin benar ia sedang sibuk.

***

      Dafiq menerima pesan dari Anggun, dimana anggun memberitahukan padanya jika Kalya datang ke Bandung. Sungguh senang hati Dafiq sekaligus juga takut, jika Kalya masih tidak mau bertemu dengan dirinya.

      Kejadian masa lalu membuatnya memilih untuk mengurungkan rasa ingin melihat wajah sang pemilik hati. Namun hati, jelas tak dapat berbohong. Meski ia memutuskan untuk tidak bergabung dengan kawan-kawannya yang lain. Ia masih bisa mengobati kerinduannya meski hanya memandang wajah Kalya dari kejauhan.

        Dan di sana. Di tempat yang sama dengan Kalya dan kawan-kawannya, Dafiq berdiri agak jauh. Memandang dari kejauhan sosok seorang Kalya yang sangat dirindukan. Wajah yang tetap cantik dengan senyumnya yang manis. Berbalut hijab yang anggun. Membuat Kalya terlihat lebih dewasa.

      Dan cukup dengan begitu Dafiq sudah merasa senang. Kalya tidak perlu tahu, kalau sampai hari ini, dirinya masih menunggu. Menunggu Kalya menjawab semua perasaannya.

***

      Setelah pertemuan dari kejauhan itu. Entah mengapa Dafiq ingin sekali bertatap muka langsung dengan Kalya. Namun Untuk mengajaknya secara sengaja, Dafiq takut ditolak sekali lagi. 

      Akhirnya, karena selama Kalya di Yogyakarta, dafiq sering datang ke rumahnya untuk sekedar menengok keadaan ibunya Kalya. Maka alasan itu lah yang akan dia pakai hati ini. Menengok keadaan ibu dan memandang wajah manis itu

      Dafiq pun sampai di rumah Kalya. Seperti biasa, ia membawa roti keju kesukaan ibunya Kalya. 

“Assalamualaikum, bu!” sapa Dafiq kapa ibunya Kalya yang sedang duduk-duduk di bangku yang ada di teras rumahnya.

“Waalaikumsalam, Dafiq, udah lama banget kamu gak nengokin ibu!”

“Iya bu, maaf, jadwal kampus padat!”

“Iya-iya, ibu paham, yuk masuk, ada Kalya lho!”

“Oh, Kalya sedang pulang bu!”

“Iya, mumpung lagi libur, dan itu juga kalau gak ibu paksa, dia gak mau banget pulang!”

“Siapa bu?” suara Kalya dari dapur bertanya. Seraya segera melangkahkan kakinya ke ruang tamu. 

Namun langkahnya terhenti, saat melihat si tamu dan ibunya sudah duduk di meja makan. Dafiq.

***

“Apa kabar?” tanya Dafiq pada Kalya.

Akhirnya setelah diperintah Untuk menemani dafiq mengobrol. Kalya pun mau. Dan mereka sekarang berada di halaman belakang rumah.

“Baik, kamu?” ada rasa canggung yang tidak bisa disembunyikan oleh Kalya. Tapi ia tetap berusaha bersikap tenang.

“Aku juga baik, udah lama ya kita gak ketemu!”

“Iya”

“Aku kangen kamu Kal!” Dafiq tidak ingin berpura-pura lagi. Perasaan itu tidak pernah berubah.

Kalya pun sedikit tersentak. Namun berpura-pura untuk tenang.

“Apa kamu gak kangen sama aku?” tanya Dafiq lagi.

“Biasa aja!” ah, Kalya berbohong lagi. Padahal rasa kangennya pada Dafiq itu sama besarnya dengan yang dimiliki Dafiq padanya. 

“Oh gitu ya, haha, ternyata aku masih sendiri saja merasakan ini semua!”

“Maafin aku!”

“Kamu Gak salah Kal, aku yang masih ngotot berharap kamu terima aku. Dan kali ini aku bukan sekedar ingin menjadikanmu pacar. Tapi lebih dari itu. Aku ingin kamu menjadi istriku!”

Kalya tak dapat berkata apa-apa. Karena keegoisannya sendiri, ia mengabaikan seseorang yang memiliki cinta yang besar untuk dirinya. 

“Maafin aku!” hanya kata maaf yang dapat Kalya ucapkan.

Ya, dia memang benar-benar merasa bersalah. 

“Baiklah, kamu itu selalu aku maafkan, tapi kali ini jawab dengan jujur pertanyaanku, apakah sedikitpun kamu tidak pernah mencintaiku?”

Lagi-lagi Kalya terkejut, langsung ditembak pertanyaan macam seperti itu. 

Dalam hatinya berkata, dia sebenarnya juga sangat ingin menjadi istri dari Dafiq. Tetapi entahlah.

“Hmm, baiklah aku pulang dulu, aku pikir diammu ini adalah jawaban, tunggu aku datang lagi kesini bersama kedua orang tuaku!”

***

        Dan Bandung selalu menjadi tempat istimewa bagi Kalya. Cerita yang tak pernah bisa ia tamatkan itupun akhirnya usai sudah. Ia menemukan hentiannya pada sebuah acara pernikahan yang begitu sakral. 

         Ya setelah obrolan singkat itu. Dafiq kembali sesuai dengan janjinya. Dan ibu Kalya menerima lamaran Dafiq dengan senang hati. Begitu pun dengan Kalya, meski berusaha untuk tidak menampakkan rasa bahagia nya.

           Jika Pertemuan adalah awal dari segala rasa. Namun kali ini, bagi kalya dan Dafiq, pertemuan adalah waktunya merayakan cinta. Yang Telah lama terabaikan.


Selesai
0 0
0
[Kumpulan Cerpen] Jejak yang Tak Pernah Hilang (Cerita Keenam Belas)
29-02-2020 15:33
Jejak yang Tak Pernah Hilang



       Dia adalah bayanganmu. Menghantui sepiku. Kemanapun aku berlari. Kau selalu mengikuti. 

       Kau yang memintaku menjadi milikmu. Namun sayang, aku membiarkanmu pergi meninggalkanku. Kau yang selalu menganggapku berarti. Namun aku yang memutuskan untuk menjauhi.

        Dan bayangan dirimu seakan terus mengikutiku. Jejakmu tak pernah benar-benar terhapus dari ingatan. Kenangan tentang dirimu seakan abadi dalam kenang.

***

     Aku mencintainya. Dia pun mencintaiku. Tetapi dirinya adalah milik orang lain. 

      Aku terlambat menjawab rasanya, hingga ia berpikir aku tak memiliki rasa apapun. Dan saat orang lain itu lebih dulu membuka hatinya. Aku mulai memikirkannya.

        Sungguh sesak rasanya. Melihatnya bersama yang lain. Mengapa perasaan ini harus tumbuh, disaat segalanya bukan untukku lagi. Haruskah Aku berlaku tak baik?

***

     Satu waktu, kami bertemu secara tak sengaja. Jika kau ingin tahu bagaimana wajahku saat bisa berbincang dengannya. Sudah seperti kepiting rebus. 

      Aku pasti salah tingkah. Senyumnya lebih membuatku tak berdaya. Ah, apa sikapku ini terbaca olehnya?

“Sudah lama kita gak ngobrol kayak gini ya.” ucap Garvi akhirnya.

“Iya!” hanya kata singkat itu yang mampu keluar dari mulutku.

“Kamu sepertinya tidak senang bertemu denganku?”

Ah pertanyaan macam apa itu?

Aku sangat senang bisa berdua saja denganmu. Tanpa pengganggu. Namun sayang, aku tak dapat membawamu pulang. Mengantongi namamu saja, mungkin tak boleh. 

“Kamu sedang sibuk apa?”

Pertanyaan yang diajukan, seperti alunan lagu yang melenakanku. Aku begitu hanyut pada rasa yang sudah kupikirkan tingkat kesalahan nya.

        Akhirnya kami  hanya saling diam. Tangannya menggenggam jemariku. Sungguh Tak ingin aku lepaskan. Bolehkah aku berkata sesuatu? Aku mencintaimu.

        Kami masih menikmati diam kami masing-masing. 

“Aku akan menikahinya!”

Aku seperti tiba-tiba tersedak. Seakan memakan sesuatu yang membuat luka tenggorokanku.

“Tapi aku tidak yakin, aku masih ingin memastikan sesuatu kepada seseorang!”

Ah, siapakah orang itu? Apakah aku masuk ke dalam barisan mereka siapapun dia.

           Dan kami kembali dalam diam. Kini pikiranku begitu penuh. Ingin aku utarakan padanya. Bagaimana perasaanku. Namun entahlah, kata-kata seperti tercekat. Aku hanya mampu termenung. Dan tak terasa, ada bening hangat yang mengambang di mata. 

Dengan cepat aku menghapusnya. Aku Tak ingin dia tahu. Namun sepertinya terlambat.

“Kau kenapa?”

Ah, apa benar dia begitu sangat mengkhawatirkanku. Lihatlah, betapa aku masih sangat menginginkan dirinya.

Aku hanya menggeleng kan kepala. Berharap dia memahami apa yang sedang menggangguku. 

“Aku berharap kamu mau datang di acara  pernikahanku!”

Ingin aku berteriak di telinga nya. Biar aku saja yang menjadi pengantinmu. Namun aku hanya bisa membalasnya dengan senyuman yang hampa.

        Dan pertemuan tak disengaja itu, tak berakhir dimana pun. Bahkan mungkin setelah ini, aku sama sekali tak dapat melihat sosoknya lagi.

***

     Dan hari pernikahan itu pun tiba. Ya, aku jelas tak akan datang ke sana. Apa kau pikir aku akan tega membunuh diriku sendiri.

      Aku memilih berdiam diri di taman ini. Menatap wajahnya yang terpampang di layar laptopku. Ini foto kemarin yang kuambil diam-diam.

“Apa kau mencintaiku?” 

Suara itu…

      Dia berdiri tepat di belakangku. Menatap ke arah laptopku dengan senyumnya yang khas. Aku harus jawab apa? Dan kenapa Dia kemari? Bukankah seharusnya dia menikah? Lalu mengapa dia menanyakan pertanyaan yang akan selalu sulit untuk aku jawab.

“Ah, Malika, sampai kapan kau akan mendiamkanku seperti ini, jika kau tak mencintaiku, mengapa kau selalu menangis untukku, mengapa pula hanya dengan memandang gambar wajahku, senyummu semanis itu?”

         Apa aku semudah itu untuk ditebak. Padahal aku menyembunyikan semua perasaan itu sudah dengan serapi mungkin. Mana mungkin semudah itu ia membacanya? Membaca?

Ah aku lupa, dia pasti memang sudah membacanya. 

        Dia pernah memperbaiki laptopku yang rusak. Dan aku lupa menghapus semua tulisanku yang berhubungan dengannya. Pantas saja setelah memperbaiki laptop itu, wajahnya tambah sumringah. Namun sekarang entahlah. 

         Aku masih bertahan dengan diamku. Aku tidak ingin melukai siapapun meski itu adalah rivalku sendiri. Aku ingin mendapatkan cinta secara baik, tanpa harus merebutnya dari orang lain. Jika Garvi adalah jodohku, maka ia pasti akan kembali padaku. Tidak tahu kapan. Namun aku merasa yakin untuk itu.

“Baiklah, kau yang membiarkanku hidup dengan wanita lain, jika suatu saat aku tak mampu bersamanya lagi, biarkan aku kembali ke sini!”

       Garvi pun pergi. Ia akan melangsungkan akad pernikahannya. Dan Malika, tenggelam dalam tangisnya sendiri. Merasa bersalah jika Garvi tak mencintai istrinya sepenuh hati. Karena hati Garvi sudah lama direbut oleh nya.

***

        Dan kehidupan setelah itu harus tetap berjalan meski hati tetap tertinggal di tempat yang sama. Entah sampai kapan aku mampu bertahan. Karena jejaknya benar-benar tak pernah pergi. Entah itu dari hatiku bahkan dari sekedar pikirku.

        Hingga satu waktu, kita dipertemukan lagi. Dia terlihat semakin tampan dan dewasa. Dalam hati bertanya, apa dia bahagia dengan pernikahan nya. Aku tak tahu, apakah pertanyaanku itu terlalu jahat untuk aku lontarkan. Tetapi melihat senyumnya tetap menawan, aku berharap ia mendapatkan kebahagiaan meski tidak bersamaku.

“Malika!”

Setelah sekian lama. Aku kembali mendengar suaranya memanggil namaku. 

“Garvi!” 

Entah mengapa, Aku seperti tidak mau melewatkan momen ini. Jika ini adalah pertemuanku dengannya yang terakhir kali, Aku ingin meninggalkan kesan yang indah.

“Aku Rindu!”

Dan pengakuan tulus itu meluncur begitu saja dari mulut Garvi. 

“Aku juga!” 

Seperti inginku. Aku tak mau melewatkan sedikitpun, apa saja yang berhubungan dengan Garvi kali ini.

“Bagaimana pernikahanmu?”

Dan aku menjadi begitu berani untuk menanyakan hal tersebut padanha

padanya. Aku ingin memastikan saja, tidak lebih.

“Aku selalu mencoba membahagiakannya, hingga akhir waktunya!”

***

        Dan sejak itu, memang tak pernah bisa benar-benar hilang. Dia seperti petunjuk, untukku menapaki jalan yang sama sekali lagi. Meski harus menunggu beberapa tahun lamanya. Hingga aku menemukan bahagia, selamanya.



Selesai
0 0
0
[Kumpulan Cerpen] Jejak yang Tak Pernah Hilang (Cerita Keenam Belas)
01-03-2020 07:55
Musim Dingin di Yogyakarta




        Ini Hari pertama aku berada di Kota pelajar, Yogyakarta. Sebuah kota yang baru saja menawarkanku rasa nyaman. Entahlah, aku sendiri bingung. Kenapa aku memilih untuk melanjutkan kuliah di sini. Padahal di kota asalku Jakarta, aku diterima di universitas yang lumayan bagus.

         Namun entahlah, apa yang mendorongku untuk tetap memilih kuliah di sini. Seakan ada magnet Yang menarikku. Meskipun aku tahu apa alasan persis dari ini semua. Tetapi aku tidak mau berharap terlalu lebih. 

         Ada nama yang sengaja kukejar hingga ke sini. Tapi aku tidak tahu, apa dia masih mengingatku. Atau sebenarnya, kita memang tidak saling mengenal. Menyedihkan sekali jika memang benar seperti itu. 

***

     Mencari seseorang, di tengah kota yang luas. Benar kata pepatah, seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Namun dorongan kuat dalam hatiku tak pernah surut. Maka Aku putuskan untuk mencarinya.

       Dia yang kukenal sejak aku masih kecil. Sejak kami masih sama-sama senang bermain sepanjang hari. Dan dia adalah teman bermainku.

       Lalu, kenapa aku harus mencarinya hingga ke sini? Sebut saja, aku sedang kehilangan sosoknya. Lebih tepatnya, aku memang tidak pernah berhasil mendapatkan hatinya.

         Kami berkawan hingga sama-sama SMA. Masa-masa yang kata sebagian orang adalah yang paling indah. Tapi biasa saja buatku. Karena di masa itu tiba-tiba dia menghilang.

        Lalu bagaimana aku tahu, dia ada di Yogyakarta? Tiba-tiba, namanya tercantum di sebuah kotak besar yang diantarkan Pak Pos ke rumahku. Dan disitu, ada surat singkat yang menyatakan jika sekarang dia sedang ada di Yogyakarta. 

          Kotak besar itu berisi jaketnya yang selalu aku taksir, ingin Aku pinjam, Tapi tak pernah ia berikan. Katanya, itu jaket laki-laki, tak pantas aku memakainya. Dan tiba-tiba dia sengaja mengirimkan jaket kesayangannya itu padaku sebagai hadiah ulang tahun. Aku jadi merasa penasaran.

           Maka di sinilah aku sekarang. Menuntut ilmu, sambil berniat mencarinya. Dan aku memutuskan masuk di universitas yang sama dengannya. Berharap kita dapat bertemu tanpa aku harus bersusah payah mencarinya.

           Namun sudah sebulan aku di sini, batang hidungnya tak kunjung terlihat. Aku tak tahu dia mengambil jurusan apa. Meski aku tahu ia ingin menjadi apa. Tapi aku tak berani bertanya pada orang-orang yang ada di kampus. Entahlah, aku merasa tak yakin.

*** 

      Dan hari ini, aku sengaja pergi ke kampus  menggunakan jaket miliknya, yang ia berikan padaku. Ya, aku sedang memancingnya untuk keluar. Dan berkata, norak banget sih! Dengan nada bicaranya yang khas. 

      Tapi sampai waktunya aku pulang, dia gak muncul juga. Aku curiga dia bohong soal kuliahnya di sini.

“Hey, kamu Shima?” seseorang yang belum kukenal menegurku di kantin

“Iya, ada apa?”

“Aku cuma mau sampaikan pesan, dari yang punya jaket yang kau pakai itu!”

“Alif?” dia melihatku…

“Iya, jangan norak katanya!”

Aku terbengong-bengong namun terasa senang di hati. Dia benar ada disini dan selalu memperhatikanku. Tapi ada kesalnya juga, kenapa tak keluar menemuiku. Dia malah asyik bersembunyi tapi sempat-sempatnya meledekku.

Belum aku bicara apa-apa, si pembawa pesan sudah pergi tanpa pamit. Aku memanggil nya tapi tak ia dengar.

           Padahal aku ingin bertanya, ia sedang ada dimana? Kuliah jurusan apa? Atau kalau perlu aku akan menanyakan nomor telepon dan alamat rumahnya. 

           Aku jadi berpikir, apa yang menyebabkan ia tak mau bertemu denganku. Mengapa ia harus menyampaikan kata-kata khasnya itu, pada orang lain. Yang rasanya sangat berbeda, tidak seperti jika dia yang mengucapkan. Lalu kenapa Alif? Apa kesalahanku padamu?

***

       Hari ini aku berniat benar-benar untuk mencari Alif. Aku ingat, ia sangat senang main basket. Mungkin aku akan menemukan nya di sana. Di Lapangan Basket. 

       Namun aku tak menemukan sosoknya di sana. Dengan rasa kecewa aku pun memilih untuk mengisi perutku yang keroncongan di kantin. Sambil terus berpikir, kemana lagi aku harus mencarinya.

“Hey, shima, nich ada titipan!”

Laki-laki Yang kemarin,

“Titipan, dari Siapa? Jangan bilang dari Alif, dia dimana sih?”

“Iya ini emang dari dia, tapi kamu gak bakal nemuin dia di sini!”

“Maksudmu?”

Lali-laki itu pergi, meninggalkan bungkusan yang ia bawa di atas meja.

             Dan itu adalah susu coklat kesukaanku. Tapi aku tetap gak terima jika harus berhenti mencarinya. Dia pikir aku semudah itu dia sogok. Namun tetap aku merasa aneh. Kenapa laki-laki itu bisa berkata kalau aku tidak akan menemukan Alif di sini. Lalu dimana?

***

        Sudah hampir tiga bulan aku kuliah dan kepadatan tugas mulai menyita perhatian. Aku tak lagi rajin dan ngotot untuk menemukan Alif. Aku pikir, jika dia masih menganggapku sahabatnya, dia pasti akan muncul. Dan aku akan sangat merasa senang.

         Meskipun, saat aku bilang jika dia masih menganggapku sahabat aku merasa tak terima. Sudah lama perasaan ini berubah padanya. Ditambah dia memberikan jaket kesayangannya padaku. Aku menginginkan jalinan hubungan lebih dari sekedar sahabat. Aku menyukai Alif. 

        Dan Alif memang tidak ada di kampus itu. Dia memang kuliah di sana. Namun banyak yang bilang dia sedang cuti panjang. Lalu, kemana dia sebenarnya? 

***

       Hingga akhirnya, kenyataan pahit itu pun harus aku saksikan sendiri. 

Satu waktu, aku nekat mengikuti laki-laki yang selalu menitipkan pesan Alif padaku.

        Yang akhirnya aku tahu, nama laki-laki itu adalah Arman. Ia sahabat dekat Alif. Termasuk tentangku, ia banyak diceritakan oleh Alif.

          Dan sekarang, aku mengikuti Arman masuk ke rumah sakit. Aku pikir, dia ada keperluan menjenguk keluarga sebelum bertemu dengan Alif. Namun ternyata, yang dia temui adalah…

“Alif!” suaraku terlalu keras sebagai seorang yang mengikuti diam-diam.

“Shima, ngapain kamu di sini? Kamu ngikutin aku ya?”

“Alif kenapa?” aku mengabaikan pertanyaan Arman demi melihat Alif yang ada di ruang perawatan intensif. Aku Hanya bisa melihatnya dari kaca besar pembatas ruangan.

“Dia koma, dia terjatuh saat mendaki, dia ingin menghadiahimu bunga edelweis, cukup satu saja katanya, karena dia tahu, apa yang dia lakukan itu tidak benar, tapi dia bilang, dia ingin memberimu sesuatu yang spesial!”

Alif, mengapa kau melakukan itu semua. Aku tak pernah meminta kau memberiku apapun. Aku hanya ingin melihatmu. Selalu dalam keadaan sehat.

            Dan aku pun memutuskan untuk masuk ke ruangan itu. Alif, wajahnya memang selalu sedingin itu. Namun kali ini, aku merasa ia tengah membeku.

“Alif, ini aku Shima, kamu bangun ya Lif, aku kangen banget sama kamu!” aku berusaha untuk tidak meneteskan air mata.

“Alif, lihat dech, jaket punyamu selalu aku pake, makasih ya, akhirnya kamu kasihin ini ke aku, aku suka banget!”

          Aku terus menggenggam tangan Alif. Berharap dengan kehadiranku bisa membantunya untuk segera sadarkan diri.       

 ***

       Seketika, Yogyakarta seperti dilanda musim dingin. Si wajah dingin itu, pada akhirnya tak pernah menatap wajahku lagi. Entahlah, seketika aku ikut membeku bersama tubuh kakunya. 

“Shima, surat dari Alif, bersamaan dengan jaket itu sudah kamu baca kan?” tanya Arman padaku

“Sudah, kenapa?”

“Tapi kamu kok ke Yogyakarta nya lama banget ya?”

“Maksudnya?”

              Dan surat itu tak pernah terbaca olehku. Dia terselip begitu saja tertinggal di kotak besar itu. Aku menelepon ke rumah dan menanyakan perihal itu pada ibu. Ibuku pun membantu mencarikan surat itu. Dan aku memintanya untuk juga membacakan.

          Dan angin dingin, seperti benar-benar  menusuk hatiku. Itu adalah surat Alif tentang ungkapan perasaannya padaku. Disana dia pun meminta aku untuk datang ke Yogyakarta, memberikan jawaban padanya. Apakah aku bersedia menjadi pasangan hidupnya.

            Tak terasa, aku meneteskan air mata. Suara ibuku Di ujung telepon sana tak lagi kudengar. Aku merasa lemas seketika. Ternyata Alif, sama sekali tak pernah pergi meninggalkanku. Ia hanya mencari waktu yang tepat, untuk mengatakan semuanya padaku. 

         Oh Alif…


Selesai
0 0
0
[Kumpulan Cerpen] Jejak yang Tak Pernah Hilang (Cerita Keenam Belas)
02-03-2020 08:48
30 Tahun Mencari Cinta




       Perkara cinta, apakah selalu serumit itu? Sejauh kaki melangkah, mencari sesuatu yang bernama cinta sejati itu seperti tak ada usainya. Apakah harus menghabiskan seumur hidup untuk belajar mengerti dan memahami.

        Dan Anika adalah wanita itu. Wanita yang merasa perjalanannya dalam mencari cinta sejati itu begitu berliku. 

***

      Sepuluh tahun pertama Anika… 

Ia terlahir di keluarga yang bahagia. Anika adalah anak ketiga dari tiga bersaudara. Bungsu yang tidak dimanja tetapi tetap tak pernah kekurangan kasih sayang. 

       Anika adalah seorang anak yang ceria. Dia memang bukan anak yang super pintar. Tetapi ia adalah anak yang rajin belajar. Nilai-nilai di sekolahnya sejak Taman Kanak-kanak hingga Sekolah Menengah Atas tidak pernah mengecewakan ayah dan ibunya.

       Meskipun Anika tergolong anak yang tertutup. Namun dalam pertemanan, Anika dapat memposisikan dirinya menjadi kawan yang baik. Meski memang, hingga ia dewasa tidak banyak sahabat yang ia punya. Hanya ada Lana, Vio, dan Pratiwi. Mereka sudah bukan lagi sekedar teman untuk Anika. Mereka adalah saudara terbaik.

          Masa Kana-kanak Anika, seperti anak-anak kecil pada umumnya. Lebih banyak diisi dengan kegiatan bermain. Di usianya yang kelima tahun, ia bersekolah di Taman Kanak-kanak dekat tempat tinggalnya. Sang ibu yang dulu juga bekerja sebagai pengasuh anak tetangga, selalu mengantarkan Anika ke sekolah.

          Anika yang pendiam pun, mulai pandai bergaul. Hingga ia masuk ke sekolah dasar. Dan dari sanalah Persahabatannya dengan Lana, Vio, dan Pratiwi dimulai. Mereka menjadi akrab dengan segala perbedaan yang dimiliki. Sesekali bertengkar dan bermusuhan untuk kemudian kembali akur dan bermain bersama lagi. 

         Anika menjadi tempat cerita favorit Sahabat-sahabatnya itu. Sungguh, sepuluh tahun kehidupannya yang luar biasa. Meskipun, di penghujung waktu. Ia harus merasakan kehilangan yang begitu menyakitkan. Sang Ayah harus pergi untuk selamanya. 

        Kedekatan Anika dengan sang ayah sudah bukan rahasia lagi. Ayahlah sosok segalanya bagi Anika. Dan kepergian itu, untuk kemudian mengubah secara drastis sifat Anika.

***

      Sepuluh Tahun Kedua Anika…

Tanpa sosok ayah. Anikah harus mampu menjalani masa-masa transisinya seorang diri. Masa remaja yang seharusnya perlu adanya sosok seorang ayah, mampu ia lewati, meski dengan kekuatan yang besar.

       Anika berubah menjadi pribadi yang introver. Tak banyak yang mengetahui apa yang ada di dalam pikiran dan hatinya. Apalagi, di saat remajanya, dia mulai mengenal sesuatu yang namanya cinta. Ia sebut cinta pertama.

      Anika ingin sekali menceritakan semua rasa itu pada sang ayah. Ia butuh masukan tentang semua hal yang masih terlalu baru untuknya itu. Jatuh pada cinta, ia harus bagaimana?

Maka cinta pertama nya, hanya berakhir pada diam dan rahasia. Berbeda dengan Lana yang selalu dengan terbuka bercerita pada Anika tentang siapa yang sedang ia suka. Anika memilih tertutup dan menyimpannya seorang diri.

      Hingga ia jatuh berkali-kali pada cinta yang lainnya. Dimana dalam hidup Anika, ia hanya memiliki satu tipe pria idaman yaitu sang Ayah. Maka ia seakan berkelana mencari sosok yang menyerupai sang Ayah. Meski dalam perjalanannya, ia hanya menuai banyak luka daripada cinta sejati yang diharapkan. 

        Semakin ia mencari, semakin ia tersesat. Dan di ujung jalan ketidak tahuannya. Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang menolongnya tepat waktu. Allah mengirimkan sosok baik Hati yang kemudian mempersunting Anika menjadi istrinya.

        Dialah Marwan. Seorang laki-laki yang memperistri Anika disaat ia berusia  24 tahun. Dimana saat itu, dalam hati Anika masih dipenuhi oleh nama orang lain. Dan pelajaran untuk mencintai pun dimulai. 

        Anika berusaha untuk menjadi istri yang baik bagi Marwan. Melupakan bahwa Marwan bukan tipe pria idamannya. Dia percaya, cinta itu akan terlahir dengan sendirinya karena terbiasa. 

       Hingga usia pernikahannya menginjak keenam tahun. Anika masih berusaha menjadi istri yang terbaik bagi Marwan.

***

       Dan pencarian cinta bagi Anika ternyata tak pernah usai, di sepuluh tahun ke tiga nya… Ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatannya untuk dapat mendekatkan diri pada Allah. Anika menyesali segala kesalahan masa lampaunya. Yang pasti sangat berpengaruh pada apa yang ia tuai saat ini dan nanti. 

        Anika berusaha untuk mengubah dirinya menjadi lebih baik. Meskipun godaan selalu saja datang menghadang. Seperti misalnya, di saat kejenuhan datang melanda cinta kasih Anika dan Marwan. Orang ketiga itu pernah hadir dan menggoda hati Anika. 

         Anika yang saat itu merasa putus asa terhadap hubungannya dengan marwan, merasa ia butuh kawan untuk bercerita. Dan laki-laki yang tidak lain cinta lama bagi Anika itu, hadir di saat yang tepat.

         Sungguh, jika Allah tidak menyelamatkan Anika. Mungkin ia akan kehilangan pernikahannya dengan Marwan. Dan mungkin pencarian cinta nya selama tiga puluh tahun hidupnya akan terbuang begitu saja. Percuma.

***

        Anika kini hidup sebagai seorang wanita yang lebih memilih mengisi harinya untuk dekat dengan Sang Maha Pencipta. Ia percaya, cinta sejati yang selama ini ia cari sebenarnya adalah cinta dari Tuhannya.

        Karena cinta manusia, bisa saja esok berkurang atau mungkin menghilang. Tetapi Cintanya Allah, selama kita selalu menjalani segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya, maka cinta itu malah akan semakin bertambah.

        Tiga puluh tahun mencari cinta seorang Anika, penuh air mata dan amarah. Mungkin kini saatnya ia merasakan bahagia. Tetap menjadikan sang ayah sosok yang paling ia cintai, namun hidupnya bersama Marwan kini adalah yang utama. 

        Kerinduan akan kehadiran seorang buah hati pun menjadi pencarian cinta selanjutnya. Tak lagi ia merasa semua itu adalah beban. Ia percaya, Allah telah mempersiapkan yang terbaik untuk dirinya 

***

      Tiga puluh tahun mencari cinta seorang Anika, masa kanak-kanak yang begitu bahagia, penuh dengan canda tawa. Meskipun di saat itu ada kehilangan yang harus ia rasakan, namun itulah yang menjadikannya wanita berhati kuat.

       Tiga puluh tahun mencari cinta seorang Anika, masa-masa remaja yang ia habiskan untuk pencarian jati diri. Jatuh dari satu hati ke hati yang lain. Hampir kehilangan makna dari cinta itu sendiri, namun ia tak menyerah begitu saja. Hingga akhirnya Allah menyelamatkannya dan melabuhkan hatinya, pada bahtera yang tepat.

        Tiga puluh tahun mencari cinta seorang Anika, berakhir pada dekapan cinta sejati sang Maha Pencipta. Ia akan percaya, setelah ini, masih akan ia lalui sepuluh tahun-sepuluh tahun berikutnya. Dan Anika yakin, dengan kekuatan dari Allah, ia dapat melalui semua rintangan dalam hidupnya.


Selesai
0 0
0
[Kumpulan Cerpen] Jejak yang Tak Pernah Hilang (Cerita Keenam Belas)
02-03-2020 11:19
Cerpennya bagus banget ya emoticon-Jempol

Tolong bantuin rate dan sharenya dong
profile-picture
agityunita memberi reputasi
1 0
1
[Kumpulan Cerpen] Jejak yang Tak Pernah Hilang (Cerita Keenam Belas)
03-03-2020 13:22
Februari yang Basah




      Jika Hujan pernah membawakan kepada kita sebuah luka. Apakah selamanya kita akan menghindari rintiknya. Dan kehilangan lebih banyak kesempatan.

***

     Hira memilih menerobos hujan daripada terlambat sekolah. Alhasil, sampai di kelas, ia basah kuyup. Seluruh mata teman sekelas memandangnya, bibir mereka menahan tawa.

“Apa? Aneh?” sewot Hira.

Memecahkan tawa kawan-kawannya. 

      Hira memang terkenal anak yang supel dan humoris. Semua kawan menyukainya. Hira baik sekali apalagi soal PR. Dia akan senang hati meminjamkan pada teman yang tidak mengerjakannya.

       Saat pelajaran akan dimulai, handphone milik Hira bergetar, ada pesan yang masuk, itu dari Trian. Iya, Trian adalah pacar dari Hira. Baru beberapa bulan saja memang mereka jadian. Tetapi mereka sudah lama saling mengenal.  

        Trian menanyakan, apakah benar jika tadi pagi Hira datang dengan basah kuyup. Hira tidak tahu harus membalas apa pada Trian. Karena Hira tahu, Trian Pasti akan marah jika tahu ia hujan-hujanan tadi pagi 

         Entah kenapa, Trian sangat tidak menyukai hujan. Dia akan menghindari untuk pergi kemana pun dan tetap berada di dalam ruangan. Daripada harus menikmati rintikan hujan. 

        Hira akhirnya memilih untuk tidak membalas apa pun. Dia berencana akan menemui Trian waktu istirahat. 


Waktu istirahat pun tiba…

        Hira pun keluar kelas. Segera menuju kelas Trian. Tapi baru saja kakinya melangkah keluar, Trian sudah ada di depan kelas Hira. Hira kaget dan berteriak.

“Trian!”

“Kenapa? Kamu mau kemana?”

“Hmm… ya mau ke kelas kamu, eh kamu udah duluan ke sini?”

“Jadi gimana? Kenapa SMS dariku gak dibales?”

“Hmm, itu, aku sengaja, aku mau ngomong langsung ke kamu!”

“Oh, terus jawabannya?”

“iya, tadi itu pagi-pagi udah hujan deras kan, jadi ya terpaksa aku hujan-hujanan!”

Dengan polosnya Hira menjelaskan pada Trian.

Rona wajah Trian langsung berubah dan pergi meninggalkan Hira. 

“Hey, Trian!”

Trian tidak menghiraukan panggilan Hira.

*** 

     Dulu, aku sama sepertimu. Sangat menyukai hujan. Aku senang berhujan-hujanan. Aku senang menikmati hujan. Gemericiknya selalu membuatku tenang. 

      Namun semua itu tiba-tiba saja sirna. Hujan seakan merenggut kebahagiaanku. Entahlah, mungkin aku hanya butuh sesuatu yang bisa aku salahkan. Agar aku tidak harus menyalahkan diriku sendiri. 

      Saat itu Ibu harus menjemputku di tengah hujan. Karena pandangannya yang terbatas kecelakaan itu pun tak dapat terhindarkan. Dan seketika itu ibu pergi untuk selamanya.

       Maka sejak hari itu, aku tidak menyukainya lagi. Aku takut untuk menembus hujan. Aku tidak mau lagi basah kuyup karenanya.

       Begitu juga denganmu, aku tidak mau terjadi sesuatu menimpamu. Hanya karena kau selalu memaksakan diri untuk melewati hujan. Tanpa menunggunya reda terlebih dahulu.

***

“Trian, maafin aku ya!” ucap Hira, setelah beberapa hari Trian tak mau bicara dengannya.

Kali ini pun sebenarnya Trian masih mendiamkan Hira. Tapi Hira merasa tak enak. 

“Trian, ayolah, mau sampai kapan kamu cuek sama aku kayak gini?” rayu Hira terus.

           Trian tetap bergeming. Meski dalam hati sebenarnya Trian sudah memaafkan Hira. Hanya saja, ia senang melihat wajah panik Hira. Cara merayukan agar tidak marah, membuatnya semakin jatuh hati.

“Iya-iya, aku maafin, tapi jangan diulangi lagi ya, aku tuh gak mau kamu kenapa-kenapa!”

“Iya Trian, tapi kamu juga gak bisa terus-terusan gak suka hujan kayak gitu?!”

“Maksudmu?” tanya Trian merasa heran.

“Aku mulai ngerasa kamu berlebihan soal hujan!”

“Hira, kamu tahu kan kenapa aku gak suka hujan?”

“Iya aku tahu Trian, tapi kita hidup di negara yang cuma punya dua musim, kamu tidak bisa menghindari salah satu nya, kamu gak bisa beraktifitas hanya di musim panas saja!”

           Trian diam, dia mulai mencium hal tidak baik untuk keberlangsungan hubungannya dengan Hura. Sepertinya kekurangannya yang tidak menyukai hujan, sudah menjadi hal yang kurang nyaman bagi Hira.

           Trian menyukai Hira karena dia berpikir, Hira adalah perempuan yang berbeda. Dia yakin hira bisa menerima dirinya apa adanya. 

***

      Februari beberapa tahun kemudian…

Hujan kembali hadir. Seorang pria yang sudah terlihat lebih dewasa, sedang Berdiri di tepi jendela. Ia masih tidak mau keluar untuk menerobos hujan. Meskipun ini sudah waktunya ia untuk berangkat kuliah.

       Tetapi dia mulai berani untuk menikmatinya lagi. Meskipun hanya di balik jendela. Tak ada lagi tawa seseorang yang mau menemaninya. Sejak hari itu, hira memilih pergi meninggalkannya. Baginya Februari menjadi bulan yang basah untuk yang kedua kalinya.

        Basah oleh gemericik hujan. Dan basah oleh air mata dalam hatinya. Ia tidak mungkin menangis. Air mata yang keluar dari netranya, sudah terkuras habis sejak Februari yang juga menjadi bulan kehilangannya.

       Ia memilih untuk menunggu hujan hingga reda. Menunda banyak aktifitas. Dan berpikir apakah ia akan seperti ini terus. Dan apakah yang telah ia lakukan ini adalah sebuah kesalahan. Apakah tidak bisa berdamai dengan hujan adalah suatu kekurangan yang memalukan.

        Dan hujan pun reda…

Trian bergegas menuju kampusnya. Sudah sepi. Kelasnya sudah selesai. 

Dan seketika, hujan kembali turun. Trian yang berdiri di tepi lapangan basket pun, sedikit demi sedikit terkena tetesannya. 

         Sakit. Hujannya berukuran besar-besar jika masih turun satu per satu. Hingga ia menjadi deras. Sensasi rasanya pun berubah, tidak lagi terasa sakit. Ah, ada yang tiba-tiba kembali. Ingatan tentangnya dan hujan saat ia masih kecil. Saat ibunya belum pergi. Saat ia masih senang berhujan-hujanan.

         Jika selama ini dia menghindari kuyup karenanya. Kini ia membiarkan hujan membasahi sekujur tubuhnya. Menjernihkan pikirannya. Bahwa hujan dan kesedihan adalah dua hal yang berbeda. Bahwa hujan dan ketakutan adalah hal yang tak sama. 

        Dan Februari nya yang tetap basah. Tak seharusnya ia kenang karena basahnya air mata. Seharusnya, meskipun di bulan yang sama ia kehilangan orang-orang yang ia kasihi. Pasti Tuhan akan segera menggantinya, dengan yang lebih baik.

“Hey, kamu kenapa hujan-hujanan?” ucap seorang perempuan bertubuh mungil, membawa payung dan memayungi Trian.

Trian pun terkejut, rintikan hujan yang sedang ia nikmati, tersekat oleh payung yang kini melindunginya.

“Siapa kamu?” tanya Trian sedikit ketus, tak berubah.

“Oh, aku, kenalin, aku Rinai!”

***

       Dan Februari yang basah, tak selamanya menyajikan kesedihan. Di tempat yang baru. Di waktu yang telah jauh berlari. Trian pun menemukan tambatan hati terbaiknya. Meninggalkan cerita tentang hujan yang memilukan. Tak ada kesedihan apalagi ketakutan. Yang ada hanya kebahagiaan.


Selesai
0 0
0
[Kumpulan Cerpen] Jejak yang Tak Pernah Hilang (Cerita Keenam Belas)
03-03-2020 13:26
Quote:Original Posted By Feraldi.Noval
Cerpennya bagus banget ya emoticon-Jempol

Tolong bantuin rate dan sharenya dong




Terima kasih emoticon-Shakehand2
0 0
0
[Kumpulan Cerpen] Jejak yang Tak Pernah Hilang (Cerita Keenam Belas)
04-03-2020 11:02
Sebuah Nama Sebuah Cerita


       Setiap orang pasti pernah menyimpan nama seseorang yang begitu berpengaruh dalam hidupnya. Entah itu mendatangkan kesedihan atau menghadirkan kebahagiaan.

       Tetapi namanya telah mengukir sebuah cerita. Hingga tidak mungkin begitu saja dihapus dari ingatan. Ia akan abadi. Mungkin dalam tulisanku ini atau mungkin dalam kenangan.

***

     Selama delapan bulan, ingatan Oditi terpenjara pada masa lalu. Dia terkena amnesia yang diakibatkan oleh kecelakaan yang menimpanya. 

      Sebelum kecelakaan itu terjadi, Oditi telah merencanakan pernikahannya dengan seorang pria bernama Attar. Namun setelah kecelakaan itu terjadi, Oditi tidak lagi mengingat siapa Attar. 

       Yang dia ingat malah sebuah nama, yang datang dari masa lalunya. Masa terakhir yang tersisa dalam ingatannya. Sebuah nama yang memiliki cerita panjang. Cerita yang tak diketahui oleh Attar sebelumnya.

***

“Kamu datang lagi?”

“Aku akan selalu datang untukmu Oditi!”

“Tapi aku tidak mengenalmu!”

“Aku, Attar!”

Aku adalah kekasihmu. Ucap Attar dalam hati.

       Attar memang selalu mengunjungi Oditi. Meski Oditi pun selalu mengusirnya pergi. Jika lelah, Oditi hanya akan mendiamkannya. 

“Lalu siapa yang sebenarnya kau tunggu?”

“Abizar, dia kekasihku. Kemarin aku baru saja marah padanya karena terlambat datang, sepertinya dia masih merasa tak enak padaku!”

       Abizar, nama cinta lama itu.

***

“Demi kesembuhan Oditi, ada baiknya kita mencari Abizar, kita minta tolong padanya untuk sedikit demi sedikit menjelaskan pada Oditi bahwa hubungan Mereka sudah lama berakhir!”

“Tapi bu, bagaimana kalau Oditi dan Abizar kembali saling mencintai?”

“Gak mungkin, biarpun ibu sudah lama tidak bertemu Abizar, tetapi ibu cukup mengenal nya!”

 Keputusan macam apa itu? Attar tentu saja tidak menginginkan sesuatu terjadi pada Oditi dan hubungannya.

        Bahkan dimana Abizar pun, Attar tidak tahu. Namun Attar percaya, tanpa harus menghadirkan sosok Abizar. Oditi pasti akan sembuh. 

***

      Attar kembali datang lagi dan datang lagi. Dia berusaha untuk mengingatkan Oditi pada dirinya. Namun Oditi tak kunjung mengingat nya.

“Baiklah, kita bisa mulai dari awal lagi, anggap saja aku kawan barumu, dan kamu bisa bercerita apa saja padaku!” ucap Attar dengan penuh rasa putus asa.

        Sepertinya memang tidak ada pilihan lain, selain ia harus mengikuti segala alur ceritanya. Apakah dapat kembali seperti dulu atau hati Oditi etap terjebak pada masa lalu?

“Abizar itu, cinta pertamaku. Aku bahagia saat dia beberapa bulan yang lalu menyatakan perasaannya padaku!”

“Apa kamu benar-benar ingin bertemu dengan dia?”

“Tentu saja. Aku yakin, sebentar lagi dia pasti datang!”

 ***

       Dan di satu kesempatan, Attar membawa Oditi keluar rumah. Ia akan menunjukkan tempat pertama kali mengatakan perasaannya pada Oditi.

“Kamu ingat tempat ini?”

Oditi menggelengkan kepala. Namun pandangannya terus berkeliling memperhatikan.

         Attar pun menunjukkan foto mereka berdua.

“Kapan kita berfoto bersama?”

“Oditi, aku ini calon suamimu, saat ini kamu mungkin memang sedang lupa padaku, tetapi aku akan membantumu untuk mengingatnya!”

Bukannya menerima, semua yang dilihatnya itu  membuat Oditi marah. Dia segera minta diantar pulang. Dengan perasaan yang sedih, Attar pun mengantarkan Oditi pulang.

        Namun setibanya di rumah…

“Abizar!”

Ya, di dalam rumah Oditi sudah ada seorang lelaki yang sedang berbincang dengan Tante Rina. Dan Oditi langsung mengenali lelaki itu sebagai Abizar.

        Melihat pemandangan itu, hati Attar tentu saja sangat pedih. Hingga ia memutuskan untuk segera pulang saja.

***

       Dan tanpa disadari cinta lama itu pun kembali tumbuh. Abizar yang awalnya hanya diperintahkan untuk memulihkan ingatan Oditi pun, seperti nya sudah hanyut terlalu dalam. Ternyata cinta mereka memanglah belum usai. 

          Dahulu mereka berpisah karena jarak yang jauh. Saat itu Abizar harus meneruskan pendidikannya keluar negeri. Dan itu membuat hubungan mereka renggang. Hingga akhirnya hubungan mereka pun usai dengan sendirinya. Namun tidak dengan perasaan mereka. 

        Ternyata jauh di dalam hati Oditi, Abizar masihlah sosok yang ia cinta. Terbukti ternyata, hanya ingatan tentang Abizarlah yang masih tersisa di pikiran Oditi.

***

      Dari kejauhan Attar terus memperhatikan mereka, entah apa yang harus dia lakukan. Bagaimana dengan nasib hubungannya bersama Oditi? 

Akankah berakhir dengan cara seperti ini.

        Sebenar nya, Attar hanya menginginkan kesembuhan untuk Oditi. Jika pada akhirnya, meskipun ingatan Oditi kembali dan Abizar tetap menjadi pilihan Oditi. Ia akan merelakannya. Karena kebahagiaan Oditi lebih penting dari apa pun.


Beberapa bulan kemudian ….


          Dengan terapi yang tak henti dan pendampingan dari Abizar, sedikit demi sedikit, oditi pun sembuh. Ia mulai bisa mengingat tentang dirinya sendiri di masa ini. Termasuk tentang Attar.

          Namun soal perasaan, sepertinya tak bisa kembali seperti dulu. Karena dulu pun, ini lah yang sebenarnya. Bahwa hati Oditi tetap dipenuhi oleh kenangannya bersama abizar. Bahwa perasaannya pada Attar, sebenarnya biasa saja. 

          Maka Oditi pun berniat menyelesaikan semuanya.

“Attar!” panggil Oditi yang sedikit mengejutkan Attar setelah berbulan-bulan memilih untuk tidak pernah menjenguk Oditi lagi.

“Oditi, kamu ingat aku?”

“Iya, sedikit-sedikit aku sudah mulai mengingat banyak hal, termasuk kamu, maafkan aku kemarin-kemarin aku kasar sama kamu!”

“Tidak apa-apa Oditi, yang terpenting kamu sehat kembali! “

“Aku ke sini, ingin membicarakan sesuatu denganmu!”

“Apa?”

***

            Dan perasaan Attar sudah dapat membacanya. Seperti apa yang pernah ia ikrar kan. Jika hubungannya dengan oditi harus berakhir, ia ikhlas. Asalkan Oditi bahagia.

        Dan hubungan Attar dengan Oditi pun berakhir. Selesai dengan cara yang baik-baik. Meski luka tak bisa terelakkan.

        Oditi pun akan melanjutkan kisahnya bersama Abizar. Seseorang yang nama dan cerita tentangnya tak pernah pergi dari hati dan pikiran Oditi.


Selesai
0 0
0
[Kumpulan Cerpen] Jejak yang Tak Pernah Hilang (Cerita Keenam Belas)
06-03-2020 00:38
Malaikat Kecil




        Suatu pagi di tahun yang lalu. Lahirlah seorang anak perempuan yang  terlihat sehat dan begitu menggemaskan. Siapa sangka, di dalam tubuh mungilnya ia mengidap penyakit yang akan membawanya pada perjalanan tidur yang panjang. Dan membawa cerita baru untuk ayah dan ibunya.

***

     Dialah Shena. Seorang gadis kecil, anak dari pasangan Arif dan Nia. Shena adalah buah hati yang dinanti oleh pasangan ini selama hampir sepuluh tahun usia pernikahan.

      Maka kelahiran Shena, benar-benar menjadi kebahagiaan yang tak terhingga. Meskipun ternyata, Allah senang sekali menguji ketabahan umatnya. Maka di balik kebahagiaan yang sedang mereka rasakan, ada ujian yang menanti untuk mereka lewati. Akankah mereka mampu?

***

       Shena kecil adalah bayi yang sehat. Asi eksklusif bahkan hingga dua tahun, mampu diberikan oleh sang ibu. Namun di tahun ketiga usianya, keceriaannya mulai berkurang. Terasa ada yang berubah dalam perkembangan fisiknya.

        Shena kecil ternyata memiliki kelainan di jantungnya. Dan setelah didiagnosa oleh dokter, ternyata penyakit yang Shena derita itu termasuk penyakit yang langka. Dan waktu mengetahuinya sudah terlambat.

        Dan kesedihan langsung mengubah kebahagiaan yang dirasakan oleh Arif dan Nia. Malaikat kecil mereka kini terlihat begitu lemah.

***

“Mas, sudah satu bulan Shena dirawat di rumah sakit, dan tabungan kita sudah semakin berkurang!”

Arif hanya diam. Pikirannya pun dipenuhi oleh hal yang sama. Dia sudah tidak mungkin lagi meminta diberi pinjaman dari tempatnya bekerja.

         Apalagi meminta bantuan keluarganya, sepertinya tidak akan mungkin. Arif mulai merasa putus asa. Sedangkan ia merasa sudah tidak tahu harus melakukan apa pun.

“Mas!” panggil Nia, membuyarkan segala pikiran kusut Arif.

“Iya sayang, ada apa?”

“Sepertinya kita memang harus meminta pertolongan keluargamu Mas, hanya bantuan dari mereka yang bisa menyelamatkan Shena!”

“Allah yang menyelamatkan Shena!”

“Iya aku tahu mas, tapi kan kita diwajibkan untuk berusaha!”

“Kamu menyuruhku untuk meminta bantuan ke keluargaku, itu sama saja meminta kita untuk berpisah!”

***

       Arif dan Ani adalah sepasang anak manusia yang saling mencinta. Mereka dipertemukan dalam keadaan yang tidak cukup baik. Ani hanya seorang wanita yang selama usianya, ia habiskan di panti asuhan.

         Sedangkan Arif, dilahirkan di keluarga yang cukup berada. Maka perbedaan itulah, yang awalnya mempersulit keberlangsungan hubungan mereka. Bahkan sampai mereka berada di jenjang pernikahan pun, restu orang tua arif tak pernah dikantongi.

            Lalu jika sekarang, saat mereka sedang mengalami kesulitan kemudian menghubungi keluarga Arif. Maka pernikahan mereka pun akan ikut menjadi taruhannya.

***

      Dan keadaan Shena semakin mengkhawatirkan saja. Pemindahan berobat ke luar negeri pun menjadi wacana yang disarankan oleh para dokter. Namun lagi-lagi karena terbentur biaya yang besar, Arif dan Ani tidak dapat langsung merealisasikan rencana tersebut.

“Bagaimana ini mas, keadaan Shena semakin mengkhawatirkan saja, aku cemas!” ucap Ani pada suaminya yang juga tak kalah khawatirnya. 

“Aku juga sayang!”

“Aku mau melakukan apapun demi kesembuhan Shena, Mas.”

“Sekalipun mengorbankan pernikahan kita?”

Ani tak menjawab. Hatinya jadi tak karuan. Sambil menatap wajah Shena yang tertidur. Dia membayangkan kemungkinan apa yang bisa saja terjadi. Tak terasa air matanya jatuh tepat di tangan mungil Shena.

           Shena mungil menatap wajah ibunya. 

“Bu, bu… !” ucap Shena memanggil ibunya.

“Shena sayang!”

***

       Dan hari itu, adalah hari terakhir Shena dapat menatap dan memanggil Ani. Karena setelahnya keadaan Shena semakin menurun. Ia mengalami koma.

***

      Arif berdiri di depan sebuah rumah mewah, rumah yang sudah lama sekali tak ia datangi. Ia tak pernah pulang.

“Assalamualaikum!” ucap Arif seraya mengetuk pintu rumah tersebut.

Lama sekali menunggu pintu rumah itu terbuka.

“Arif!” panggil seseorang dari lantai atas rumah, yang ternyata adalah Sang Ibu.

          Bergegas Ibu Ning menuju pintu rumahnya untuk menemui anak lelaki satu-satunya. 

“Arif, akhirnya kamu pulang juga, ibu kangen!”

“Ibu, maafin Arif, baru bisa pulang!”

“Bagaimana kabarmu, kamu sendiri? Mana cucu ibu?”

          Arif agak terkejut, sang ibu menanyakan Shena. Padahal ia ingat sekali, dulu saat Shena lahir, Sang Ibu tidak bersedia menggendongnya. Semoga ini awal yang baik pikir Arif 

“Shena sedang sakit bu, dia koma di rumah sakit!”

“Ya Allah, sakit apa dia, kenapa kamu baru memberitahu ibu sekarang, lalu istrimu?”

“Ani?”

“Iyalah, memangnya kamu punya istri berapa? Bagaimana kabarnya?”

          Dulu bahkan menyebut nama Ani saja, sang ibu menolaknya. Benar-benar kenyataan ini memunculkan harapan menyenangkan dalam hati Arif.

         Setelah berbincang sejenak. Arif dan ibunya menuju rumah sakit. Dalam perjalanan, ibunya menceritakan banyak hal kenapa Dirinya berubah. Dia yakin Arif merasa heran atas sikapnya. 

        Ternyata selama Arif tak pernah datang mengunjungi sang ibu. Ada yang rajin memberikan Ibu Ning sarapan setiap pagi. Entah dari mana. Sekali waktu, ibu Ning memergoki siapa yang telah begitu baik selalu membuatkan sarapan untuk dirinya. 

        Dia adalah Ani. Menantunya sendiri. Yang selama pernikahan nya tak pernah ia restui. Ibu Ning tidak berani menghadapi Ani. Dia merasa malu. Maka dia hanya menyambut kedatangan Ani setiap pagi dari balik jendela rumahnya. 

          Namun sudah lama sekali, Ani tidak datang lagi. Ternyata itu dikarenakan kondisi cucunya yang sedang sakit. Ibu Ning merasa menyesal sekali. Telah melakukan hal yang tidak baik pada menantunya itu. 

***

       Meskipun pada akhirnya, Shena tidak jadi dibawa ke luar negeri karena masih koma, namun keadaannya semakin stabil. Karena itu Ibu Ning meminta Shena dipindahkan ke rumah sakit yang lebih memadai perlengkapan medisnya. 

        Shena memang masih tertidur. Namun keadaannya tidak lagi mengkhawatirkan.

“Bu, Terima kasih!” Ani mendekati Ibu Ning yang sedang memperhatikan cucunya dari balik jendela.

“Terima kasih untuk apa, Shena itu cucu ibu satu-satunya, ibu tidak mau terjadi apa-apa sama dia!”

“Iya bu, sekali lagi Ani ucapin terima kasih, maafin Ani juga, kalau selama ini Ani belum bisa menjadi menantu yang baik untuk ibu!”

“Kamu nyindir saya ya?”

“Oh, tidak bu, Ani bicara apa adanya tentang diri Ani sendiri, tidak bermaksud apa-apa!”

“Ani-ani, kamu itu ya, tidak berubah, , wajahmu jadi tegang seperti itu, bagiku kamu itu menantu yang terbaik. Gak ada tuh yang mau nganterin mertua galaknya sarapan setiap pagi, kecuali kamu!”

“Ibu?”

“Iya, ibu tahu, maafkan ibu ya, setelah itu, ibu sadar, sikap ibu padamu dan Arif itu hanya emosi sesaat. Terpengaruh oleh omongan orang. Padahal kamu adalah yang terbaik!”

           Menantu dan mertua itu pun untuk pertama kalinya berpelukan penuh dengan kasih sayang. Arif memperhatikan mereka dengan penuh rasa haru.

***

       Keadaan Shena pun semakin hari semakin membaik. Selang beberapa hari, Shena pun sadar dari komanya. 

Setelah Shena sudah dapat dibawa pulang, Ibu Ning meminta mereka untuk tinggal bersamanya. 

***

        Di balik segala kesulitan dan kesedihan pasti Allah mempersiapkan kemudahan dan kebahagiaan. Shena memang malaikat kecil bagi keluarga Ani dan Arif. Dia mampu bertahan di tengah masa kritisnya. Dan membawa mereka kembali dalam pelukan ibu yang sudah lama tak mereka rasakan. 

        Shena tumbuh menjadi balita yang ceria. Ani dengan segala keluguannya selalu melakukan apa pun yang bisa ia lakukan dengan sebaik mungkin. Begitupun Arif, dengan keadaan keluarganya yang lebih baik, ia menjadi lebih bersemangat lagi dalam memenuhi kewajibannya sebagai kepala keluarga.

         Shena, malaikat kecil Arif dan Ani yang selalu mengantarkan mereka pada segala kebaikan. Meski jalannya harus terjal berliku, tetapi semangat yang tak pernah berkurang, membuat seluruh usaha tidaklah tersia-sia.


Selesai
0 0
0
[Kumpulan Cerpen] Jejak yang Tak Pernah Hilang (Cerita Keenam Belas)
07-03-2020 05:39
Pulang




      Ada rindu yang tertahan. Ketika kau telah jauh melangkah. Entah mengapa kata pulang menjadi sesuatu yang paling didambakan. Namun apakah jalan pulang itu akan semulus jalan saat kau pergi? Akankah ia menjadi ujung kebahagiaan atau malah sebaliknya?

***

     Setelah lima tahun memutuskan untuk pergi dari segala hiruk pikuk perasaannya sendiri. Devan akhirnya memutuskan untuk pulang. Pulang pada hati yang dia harap masih setia menunggunya.

        Tetapi ada rasa tidak yakin dalam hatinya. Akankah ada seseorang yang mau sesetia itu. Menunggu dirinya dalam ketidakpastian. Apakah keputusan untuk pulang ini sudah tepat.

Akankah ia temukan wajah yang masih sama. 

          Wajah yang selalu ceria, meski hanya dipandang olehnya dari jarak yang jauh. Dia akan jadi salah tingkah. Dan wajahnya memerah. 

           Devan sangat merindukan Aisha. Tempat pulang yang pernah ia tinggalkan. Sehari sebelum janji suci itu terucap. Dia memilih untuk menundanya. Entah apa yang membuatnya memutuskan hal bodoh itu. Tetapi ada ketidakyakinan yang membuatnya memutuskan untuk pergi sejenak.

          Kepergian tanpa air mata memang, tetapi dalam hati seseorang tidak ada yang dapat menebak. Aisha berkata akan menunggu Devan. Tetapi seiring berjalannya waktu, soal hati itu dirasa begitu pelik.

***

      Devan akhirnya sampai juga. Di kota ia memulai segalanya. Memperjuangkan sebuah nama. Untuk juga kemudian ia tinggalkan. 

       Kini ia kembali, dengan sejuta keberanian. Dan setumpuk harapan. Masihkah nama itu akan menjadi miliknya.

        Devan berdiri di depan sebuah rumah. Memberanikan diri untuk mengetuk pintunya sambil memanggil nama anak si pemilik rumah. Tak ada yang menyahut, namun terdengar seseorang sedang membuka kunci pintu.

“Devan?!”

***

       Tempat pulang yang masih sama. Seperti saat dulu ia tinggalkan. Cantik dan tatapan yang teduh. 

“Apa kabar?” tanya devan terdengar begitu basa-basi sekali.

“Menurutmu?” jawab Aisha dengan pertanyaan lagi.

“Maafkan aku, aku baru bisa pulang hari ini, apa kau masih Aisha-ku?”

          Aisha tak menjawab. Ia lebih asyik memainkan ujung jilbabnya yang panjang. Membuat Devan merasa sepertinya dia sudah terlambat. Aisha yang dia kenal selalu terbuka padanya. Jika ya, dia akan berkata dengan lantang. Namun kali ini Aisha memilih untuk membenamkan pandangannya, jauh lebih dalam. Hingga terdengar isak.

“Aisha, kamu menangis?”

“Aku senang kamu pulang!’

“Lalu kenapa kamu malah sedih?”

“Kenapa kamu baru pulang sekarang? Kenapa tidak seminggu yang lalu, kenapa tidak sebulan yang lalu atau setahun yang lalu, dua tahun, tiga tahun. Kenapa? Apakah hidup bersamaku begitu sulit bagimu?”

“Maafkan aku, Sha!”

“Maaf, apakah dengan kata maaf semuanya akan kembali seperti semula?”

“Aku akan membayar semua kesalahanku padamu, Sha, aku akan menikahimu!”

“Menikah? Setelah bertahun-tahun kamu pergi, apa kamu pikir aku masih sendiri dan tetap menunggumu?”

          Pertanyaan Aisha itu membuat Devan menyesal atas apa yang sudah ia perbuat dahulu. Dia tidak yakin apakah Aisha masih mau menjadi tempat pulangnya. Sorot mata teduh itu berubah menjadi begitu menyedihkan. Ada luka yang tak kunjung sembuh yang terpancar di sana. 

          Devan tak sampai hati bertanya lebih lanjut perihal status Aisha saat ini. Karena dalam hatinya dia masih berharap untuk dapat meminang Aisha. Dia memilih untuk pergi. Devan berpikir, mungkin kedatangannya yang tiba-tiba membuat Aisha terkejut. Esok dia akan kembali lagi. Dan bertanya dengan penuh keberanian.

***

      Aisha sedang membaca buku di teras rumahnya. Sejak Devan kembali, Aisha jadi jarang ke luar rumah. Ia memilih untuk merenung dan memikirkan soal hatinya sendiri. Apakah luka di hatinya sudah pulih? Apakah ia sudah dapat memaafkan Devan? Dan apakah ia akan bersedia melanjutkan hubungannya dengan Devan.

        Ponsel Aisha berbunyi, ada pesan yang masuk.

“Assalamualaikum Aisha, malam nanti saya mau datang ke rumahmu!”

        Pesan singkat itu datang dari Zaky. Seseorang yang belum lama ini dikenalkan oleh guru mengaji Aisha. Mereka sedang dijodohkan. Dan sepertinya Zaky cukup serius menanggapi perkenalan itu. Dan ini adalah kedatangannya yang ketiga. 

        Jika Zaky datang, mereka tidak pernah saling mengobrol. Zaky akan lebih memilih untuk berlama-lama mengobrol dengan Ayah Aisha. Namun malam ini, di dalam pesan yang Zaky kirim, dia meminta izin untuk bisa bertemu dengan Aisha juga.

         Hati Aisha menjadi tak karuan. Dipenuhi oleh banyak pertanyaan, hati Aisha menjadi deg-degan. Apa yang akan Zaky bicarakan dengannya. Tiba-tiba Aisha teringat pada Devan. Devan telah pulang. Namun Aisha tidak tahu, apakah hatinya masih saja menunggu.

Karena sejak ia mengenal Zaky, dia merasa benar-benar menjadi seorang wanita.

***

      Dan malam itu…

Devan datang ke rumah Aisha lebih awal. Namun sama sekali tak berani untuk lebih mendekat apalagi mengetuk pintu rumahnya. Devan hanya mampu memandang rumah Aisha dari kejauhan.

        Dan dari kejuahan itu, Devan melihat kedatangan Zaky. Dalam pikirannya, Devan bertanya-tanya. Siapa lelaki itu? Ada urusan apa ia mendatangi rumah Aisha. Tanpa sadar, Devan melangkah mendekati rumah Aisha. Rasa penasarannya telah memberikannya kekuatan dan keberanian.

        Devan mengendap-endap seperti maling. Berusaha agar dirinya tidak terlihat. Namun tetap ingin mengetahui siapa laki-laki yang datang ke rumah Aisha.

         Lelaki itu adalah Zaky. Kedatangannya disambut oleh orang tua Aisha. Tidak lama kemudian, Aisha ke luar dari dalam rumah sambil membawa minuman. Orang tuanya pun meninggalkan mereka berdua di teras.

          Dengan kekhawatiran yang sudah memuncak. Devan pun memberanikan diri keluar dari persembunyiannya.

“Assallamualaikum!”

“Waalaikumsalam, Devan?” 

Aisha sedikit terkejut dengan kedatangan Devan. Namun ia berusaha untuk tetap tenang. 

         Kini di hadapan Aisha, sudah duduk dua laki-laki yang memiliki maksud padanya. Sesekali Devan dan Zaky bertemu pandang. Mereka telah berkenalan, saling menjabat tangan. Berusaha untuk seramah mungkin. Namun aroma persaingan tercium begitu tajam.

“Jadi apa maksudmu mengajakku bicara Zaky?” Aisha memecah keheningan dengan bertanya pada Zaky terlebih dahulu.

“Aku ingin melamarmu!” jawab Zaky dengan kesungguhan.

Yang terkejut bukan hanya Aisha tetapi juga Devan. 

Ada penyesalan begitu dalam yang Devan rasakan. 

“Kamu?” Aisha memalingkan pandangannya pada Devan yang duduk bersebelahan dengan  Zaky.

“Aku hanya ingin pulang pada hati yang dulu setia menantiku!” ucap Devan dengan nada keputusasaan.

“Aku Aisha, Aisha yang baru. Aisha yang tidak lagi pernah menangis jika ia mengingat kejadian lima tahun yang lalu!” 

***

        Bahwa pulang ternyata tak selalu harus mengetuk pintu yang sama. Bisa saja rumah itu sudah tergadai oleh waktu. Dan bukan milik kita lagi.

         Sejak hari itu, Devan memutuskan untuk menjauh. Jawaban Aisha malam itu telah menjadi jawaban bahwa Devan tak lagi punya tempat di hati Aisha. 

Dan waktu yang tidak pernah dapat diputar lagi itu, telah menjadi pelajaran berharga bagi seorang Devan.

        Aisha pun dengan hati ikhlas menerima pinangan Zaky. Sejak malam itu, sejak kepulangan Devan. Sejak dia mengetahui maksud kedatangan Devan. Hati kecilnya memang menahan rindu yang begitu dalam.

       Namun apakah ia akan hidup bersama orang yang pernah meninggalkan nya? Meskipun Devan datang dengan penuh rasa penyesalan. Namun ada yang tak akan pernah benar-benar berubah. Kenangan dan luka yang tertinggal. Akan terus menghantui jika Aisha kembali menerima Devan.

        


Selesai
0 0
0
[Kumpulan Cerpen] Jejak yang Tak Pernah Hilang (Cerita Keenam Belas)
09-03-2020 09:43
Jangan Panggil Namaku Lagi



Farzan


           Pesan singkat itu lagi. Hanya menyebut namanya saja. Ketika pesan itu dibalas ia tak kembali membalasnya. Nomor telepon itu pun tak dapat dihubungi.

 Lalu siapa yang telah mengirim pesan itu padanya?

***

      Handphone Farzan berbunyi. Ini masih pagi. Namun selalu begitu, pesan singkat itu sudah seperti alarm bagi Farzan. Awalnya dia merasa terganggu. Tetapi hingga hari ini ia tak kunjung mengetahui siapa yang telah mengirim pesan itu padanya. Maka ia biarkan saja.

        Saat ia membuka pesan yang masuk, tertera pesan yang sama. Hanya terbaca namanya.

Farzan

***

     Farzan adalah seorang fotografer di sebuah harian kota. Dia senang berjalan menyusuri kota. Mengambil gambar setiap sudut indahnya. 

       Namun akhir-akhir ini, setiap langkahnya seakan ada yang memperhatikan. Entah siapa. 

       Farzan sendiri adalah seorang pemuda yang masih sendiri. Belum memiliki pasangan, teman dekat saja tak punya. Namun Farzan memang pernah menaruh hati pada seorang gadis.

       Namun sayang, karena kurangnya berani ia menyatakan perasaannya. Sang gadis kini telah dimiliki oleh orang lain. Dan sejak itu, Farzan selalu bersikap dingin pada perempuan.

        Farzan tidak mau terjebak pada perasaan yang sama. Maka sejak saat itu ia bertekad akan mengubah pribadinya menjadi lebih baik lagi. Namun perubahan itu membuat Farzan memiliki banyak penggemar. Salah satunya, penggemar misterius yang akhir-akhir ini sering mengirim pesan padanya. 

      Kemana Farzan pergi seperti sedang ada yang memperhatikan. Pesan-pesan yang ia terima setiap hari, setiap waktu meski hanya berisi huruf-huruf yang menyusun namanya. Farzan merasa seperti sedang ada yang sedang mempermainkannya.

***

      Hari ini, Farzan tidak pergi kemana pun. Ia memilih berdiam diri di kantor nya. Memeriksa hasil jepretannya. Memilih mana yang pas untuk diterbitkan.

       Satu foto, dua foto, tiga foto, hingga ratusan. Begitu banyak ia telah mengabadikan keindahan. Namun tiba-tiba, terasa ada yang aneh. 

        Dari beberapa foto keramaian, Farzan seperti melihat seseorang. Seseorang yang secara tidak sengaja telah menjadi objeknya.

         Farzan memperhatikan wajah itu dengan seksama. Dia seperti mengenalnya. Seseorang dari masa lalu.

***

       Perempuan itu melihat farzan beberapa waktu lalu. Dan setelahnya, ia mengecek kontaknya apakah masih aktif. Dan ternyata setiap pesan yang dia tulis selalu terkirim. 

        Dialah Adiva. Seorang perempuan yang pernah menjadi model untuk setiap foto Farzan. Beberapa tahun yang lalu, saat Farzan masih menjadi fotografer amatir. 

        Dan kini setelah tahun-tahun berlalu. Setelah pertengkaran hebat itu tak pernah terselesaikan. Adiva secara tidak sengaja telah menjadi objek foto Farzan lagi.

***

       Farzan meyakini, wanita itu adalah seseorang yang pernah ia kenal. Seseorang yang pernah mengkhianati kepercayaannya. Seseorang yang dulu pernah dicintai secara sembunyi-sembunyi. 

        Namun cinta itu telah hancur berantakan. Yang tertinggal adalah amarah. Meskipun waktu telah berhasil meredakannya. Tetapi melihat wajahnya lagi, seperti merobek luka lama yang sudah mulai mengering. Kenapa ia harus kembali.

       Dalam hati farzan, ada keinginan untuk bertemu dengan Adiva. Berbicara langsung agar tak lagi mengganggunya. Tetapi rindu ternyata tak dapat dibohongi. Ia tetap ada di dalam hati terkecil Farzan. Sisa-sisa rasa cintanya yang dulu pernah terasa begitu indah. 

         Farzan kembali ke tempat dimana secara tidak sengaja kameranya menangkap gambar wajah manis itu. Berharap Adiva masih mengikutinya. Sama seperti pesan-pesan misterius itu. Entah mengapa farzan semakin yakin jika pesan-pesan tak bernama itu dikirim oleh seorang Adiva. 

        Satu jam, dua jam, tak terlihat batang hidungnya. 


Farzan, apa kau masih marah padaku? 


Tiba-tiba pesan singkat misterius itu datang lagi. Semakin yakin Farzan jika itu Adiva yang mengirimnya. Pertanyaan itu hanya bisa ditanyakan olehnya.


Tidak, aku sudah tidak marah padamu. Keluarlah, aku ingin bicara denganmu!


            Sosok manis itu pun terlihat di kejauhan. Dengan kursi roda. Farzan mengerutkan dahi. Apa benar itu Adiva? Apa yang telah terjadi padanya?

“Farzan!”

“Adiva?”

“Jangan kaget gitu ah lihatnya!” Adiva mencairkan suasana yang kaku.

“Kamu kenapa?”

“Aku? Gak apa-apa kok! Kamu apa kabar? Ah, aku tahu, kamu sekarang sudah jadi fotografer profesional, selamat ya!”

“Kakimu kenapa?” Farzan tak menghiraukan ucapan selamat dari Adiva.

“Aku kecelakaan setahun yang lalu, sebenarnya kakiku sudah tidak apa-apa, hanya saja masih sering lelah kalau terlalu kama berdiri!”

            Adiva pun berdiri, dan melangkah perlahan mendekati Farzan. Ya, Adiva memang masih bisa berjalan namun dengan agak terpincang-pincang.

“Apa kabar, Farzan?”

“Aku baik!”

“Beberapa hari lalu, aku gak sengaja lihat kamu di sini, maaf jika aku mengganggumu dengan pesan-pesan ku itu!”

“Iya, itu sangat menggangguku, jadi aku berharap, kamu berhenti melakukannya!”

“Farzan, apa kamu masih marah sama aku?”

“Gak, aku udah gak peduli sama masa lalu!”

“Tapi, apa kita gak bisa kayak dulu lagi?”

“Kayak dulu? Bagian yang mana yang mau kau ulang, apa saat kau mengkhianatiku?”

“Farzan.”

***

        Saat itu, Farzan dan Adiva adalah fotografer dan modelnya. Sekali waktu, mereka akan mengadakan pameran foto. Segalanya telah dipersiapkan dengan sangat matang. Namun sayang, Adiva yang saat itu sedang tergila-gila dengan seorang fotografer lain, mencurangi pameran Farzan tersebut. 

        Semua foto dan ide konsep ia curi dan memberikannya pada yang sedang ia idolakan. Ya, nyatanya Adiva pun hanya sedang dimanfaatkan. Namun Farzan yang saat itu begitu marah memilih pergi keluar kota. Dan membangun karirnya dari awal lagi. Tanpa adiva. 

         Dan Adiva merasa telah kehilangan segalanya. Telah lama ia mencari dimana Farzan berada. Namun tak kunjung ketemu. Hingga akhirnya dia berhenti mencari dan berpasrah jika Tuhan masih mengizinkan ia meminta maaf. Maka mereka akan dipertemukan. 

         Dan di sinilah mereka sekarang. Bertemu lagi, dengan ingatan yang masih kental. Mungkin maaf memang sudah lebih mendamaikan, namun untuk kembali dekat sikap Farzan seakan sudah mengisyaratkan. Dia tidak menginginkannya.

***

       Sejak hari itu, Adiva tak lagi mengirimkan pesan pada Farzan. 

Ada rasa kehilangan dalam hati Farzan, haruskan ia menarik kembali semua kata-katanya. Meminta adiva tetap berada di dekatnya. 

        Namun mungkin ini yang terbaik. Tak ada lagi yang memanggil namanya, telah membuatnya ke masa kembali untuk melupakan. Tidak mudah. Namun dulu ia bisa melakukannya, maka sekarang pun akan demikian.



Selesai
0 0
0
[Kumpulan Cerpen] Jejak yang Tak Pernah Hilang (Cerita Keenam Belas)
10-03-2020 12:05
Bercerita Pada Bidadari



       Gelap.

       Aku takut

       Aku ada dimana?


       Cahaya terang menyilaukan pandangannya. Ia menyipitkan matanya karena cahaya yang terlalu menyilaukan.

       Pemandangannya begitu indah. Bunga-bunga sedang bermekaran. Warna-warninya begitu memanjakan mata. Lelaki ini belum pernah menemukan tempat seindah ini. 

        Lalu dia duduk di bawah sebuah pohon rindang. Sambil pandangannya terus melihat ke sekeliling. Dalam hati dan pikirannya masih penuh dengan pertanyaan yang sama. Dia ada dimana?

***

      Angin sepoi-sepoi yang dirasa telah membuatnya mengantuk. Namun tidurnya terganggu karena sentuhan seseorang yang membelai rambutnya. 

“Siapa kamu?” tanya lelaki itu seraya berdiri dan melangkah menjauh. 

“Kamu Radhika?”

“Darimana kamu tahu namaku? Aku tidak mengenalmu!”

“Kamu tidak perlu tahu siapa aku, tetapi yang pasti, aku akan menemanimu di sini!”

“Memangnya ini dimana?”

“Menurutmu?”

“Aku tidak tahu, maka aku bertanya, kamu malah balik tanya!”

         Gadis itu tertawa pelan. Radhika melangkahkan kakinya satu per satu untuk pergi dari hadapan perempuan itu.

“Hey, mau kemana? Kamu hanya akan tersesat jika memaksakan diri!”

          Radhika pun mengurungkan niatnya untuk pergi. Dia kembali duduk. Dia tidak mendekati perempuan itu. Dia merasa tidak mengenalnya.

“Kenapa kau ada di sini?” tanya perempuan itu pada Radhika.

Radhika hanya menggelengkan kepala.

“Apa kau tidak ingat sama sekali, sebelum kemari kau pergi kemana?”

Radhika mencoba mengingatnya. Namun tak menemukan jawaban apa pun.

***

“Apa kau mempunyai kekasih?”

         Perempuan itu berhasil membuat Radhika menoleh padanya. 

“Punya, namanya Inara, kami sudah menjalin hubungan selama hampir lima tahun!”

“Apa kau sangat mencintainya?” tanya perempuan itu lagi.

“Pertanyaan aneh macam apa itu, ya jelaslah aku sangat mencintainya!”

“Aku pikir tidak?” sanggah perempuan itu.

“Kenapa?”

“Buktinya sekarang kau berada di sini bersamaku?” dengan senyum manisnya, perempuan itu menggoda Radhika.

“Kalau begitu, pergilah, atau biar aku yang pergi!”

“Sayangnya tempat ini milikku, kau tidak akan pernah dapat pergi kemana pun!”

        Radhika mengerutkan dahi. Mencoba mencerna atas pengakuan perempuan itu. Bagaimana mungkin tempat seindah ini hanya dimiliki oleh seorang saja. 

“Tidak perlu heran begitu, baiklah, mari ikut denganku, kita bisa mengobrol lebih nyaman di sana!”

          Dalam hati Radhika menolak, namun kakinya tidak. Dia mengikuti kemana perempuan itu pergi. Hingga sampailah mereka pada sungai yang berair begitu jernih. Udara yang bertambah segar, dan pemandangan yang begitu indah. 

          Perempuan itu mengajak Radhika duduk di kursi yang berada di tepian sungai. 

“Aku ingin menanyakan sesuatu padamu sekali lagi!”

“Apa?” jawab Radhika pura-pura kesal.

“Bagaimana jika hari ini adalah hari terakhirmu berada di dunia ini, apa yang akan kau lakukan bersama kekasihmu itu?”

             Tiba-tiba, kepala Radhika terasa begitu berat. Seakan ada sesuatu yang menimpanya. Sekelebat ingatan datang. Ia melihat dirinya sendiri, yang sedang bersiap-siap menuju ke suatu tempat. Dengan menggunakan jas hitam rapi. Namun perjalanan itu harus terhenti.

             Radhika berteriak, sambil memegangi kepalanya yang sakit.

“Aku sedang berada dimana? Kau siapa?”

“Jawablah pertanyaanku dahulu, setelah ini kau akan tahu, kau berada dimana dan siapa aku?!”

“Aku akan menikahi Inara, karena aku memang akan melakukannya, tapi kenapa aku malah terdampar di sini, seharusnya aku berada di samping Inara!”

“Berarti kau tidak boleh lama-lama di sini!”

“Apa aku boleh pergi dari sini?”

“Pergilah, kembalilah pada tempatmu, karena memang belum waktunya kau berada di sini!”

               Cahaya yang menyilaukan itu pun kembali datang. Sungguh menyilaukan. Untuk kemudian kembali gelap.

***

      Tubuh yang kaku dan dingin itu akhirnya bergerak. Seakan ruhnya kembali dari pengembaraan yang panjang. Perlahan mata Radhika terbuka. Nafasnya terasa begitu lega. Dadanya terasa begitu ringan.  Ada mukjizat yang Allah berikan.

“Alhamdulillah, Pasien Radhika sudah sadar!”

       Kabar baik yang dibawa oleh dokter pun tentu saja menjadi kegembiraan tak terhingga bagi keluarga Radhika, termasuk Inara, calon istri Radhika.

Satu per satu keluarga diperkenankan menemui Radhika. 

        Yang terakhir giliran Inara. Perlahan dia melangkah. Pakaian kebayanya masih membalut tubuhnya dengan cantik. Namun isak belum benar-benar berhenti. 

“Sayang!” panggil Radhika dengan lirih.

“Sayang, alhamdulillah kamu udah sadar, aku takut… !”

“Jangan takut, ada aku!”

“Aku takut, kamu kenapa-kenapa, aku tunggu kamu, tapi kamu tidak kunjung datang!” tangis Inara kembali pecah.

“Aku baik-baik saja sayang, aku malah merasa sudah sehat, tadi aku seperti bertemu seseorang, dia mengingatkanku untuk segera kembali!”

        Inara pun memeluk Radhika dengan erat. Kini tangisnya adalah tangis kebahagiaan. Tak henti ia mengucapkan rasa syukur atas kebaikan Allah pada Radhika dan dirinya.

***

       Radhika berkata pada dirinya sendiri, mungkin saat dia koma tadi, dia telah mendatangi pintu surga. Mungkin kah perempuan itu bidadari? Namun siapa pun dia, Radhika merasa bersyukur, Allah masih mengizinkan dirinya untuk kembali ke dunia.

        Radhika pun sembuh dengan cepat. Dan pernikahan yang tertunda itu pun akhirnya segera dilanjutkan. Inara sangat terlihat bahagia. Hampir saja ia kehilangan orang yang sangat ia cintai. Namun Allah masih berkehendak, kebahagiaan tetap milik mereka berdua. 

       Obrolan singkat itu, tidak akan pernah Radhika lupakan. Itu juga sebagai pengingat dirinya bahwa, ternyata ia mudah sekali tergoda. Seharusnya ia berteguh hati menggenggam erat yang telah ia pilih. Bersama Inara, Radhika merasa yakin, kehidupannya akan semakin baik lagi.


Selesai
0 0
0
[Kumpulan Cerpen] Jejak yang Tak Pernah Hilang (Cerita Keenam Belas)
12-03-2020 08:42
Senandung di Bawah Pohon Kers




        Aku ingin seperti pohon. Berada di tempat yang sama. Meskipun kau telah jauh pergi. Namun saat kau kembali, aku masih berada di sini. Kau masih akan melihatku setia menanti.

***

     Sepuluh tahun yang lalu, cinta pertama itu menyinggahi hatiku. Di sini di bawah pohon rindang tempat kita sering menghabiskan waktu sore bersama. Untuk pertama kalinya, aku merasa tak biasa. Padahal senyummu selalu kunikmati. 

       Sepertinya aku bosan jika hanya menjadi sekedar sahabatmu. Namun kau tak pernah bisa membaca itu semua. Karena kini kau tak lagi sering mengunjungi pohon ini. Kau hanya datang ketika hatimu sedang mendung.

        Dan aku, akan tetap berada di sini. Seperti pohon kersen ini. Meneduhkan hatimu, mengadulah apa saja padaku. Seperti biasanya aku akan menjadi pendengar yang baik.

         Jika kau meminta saran dariku, aku akan memberikan dengan senang hati. Karena seperti kasih dan sayangku padamu. Tanpa kau pinta, semua itu akan selalu untukmu.

***

“Danial, turunlah, kau bukan anak kecil lagi!” suruh Kamila yang geram melihat Danial asyik memanjat dan memetik buah kersen.

“Sebentar Mil, lihat pada merah nich buah kersennya, kamu mau?”

“Tidak, aku gak doyan!”

“Uh, dulu kamu paling suka?”

“Itu kan dulu, waktu aku masih kecil, sekarang aku sudah tujuh belas tahun, Dan!” 

       Kamila pun pergi dengan wajah kesal. Meninggalkan Danial yang belum turun dari pohon. Dari atas pohon, Danial melihat punggung Kamila yang semakin menjauh dan hilang. 

Kau telah berubah, gumam Danial.

***

     Sejak hari itu, Danial lebih sering menghabiskan sore seorang diri. Di bawah pohon kersen. Sepertinya Kamila sudah benar-benar tak mau lagi menghabiskan waktu di tempat ini. Tempat yang dulu menjadi favorit mereka berdua.

      Suatu malam, Danial berencana untuk ke rumah Kamila. Hanya sekedar menyapa dan menanyakan kabar. Meskipun sebenarnya, hatinya dipenuhi oleh rindu. 

       Tetapi belum sampai ia di depan pintu rumah kamila, langkahnya harus terhenti. Di teras rumah kamila, terlihat kamila sedang asyik mengobrol dengan teman laki-lakinya. Entah siapa, Danial tidak mengenalnya.

       Danial pun mengurungkan niatnya untuk mendatangi rumah Kamila. Mungkin saja laki-laki itu adalah pacar Kamila. Jadi, karena itulah dia tidak mau berlama-lama menghabiskan waktu dengan Danial.

***

       Beberapa minggu kemudian…

Seperti biasa, Danial bertengger diatas pohon kersen untuk menghabiskan sorenya. Sambil membaca buku yang baru saja dia pinjam di perpustakaan kota.

         Dari kejauhan, terlihat Kamila yang berjalan cepat menuju pohon kers. Wajahnya terlihat begitu sendu. Matanya sembab, sudah berapa lama ia menangis?

Pemandangan itu secara otomatis membuat Danial ingin tahu, dan langsung meluncur turun dari pohon. 

“Hey, kamu kenapa?” tanya danial saat Kamila sudah berada di hadapannya.

“Aku sedang sedih, aku kesal!” jawab Kamila dengan ketus.

“Siapa yang sudah membuatmu merasakan semua hal itu?”

“Aku marah pada Raja, dia sudah mempermainkan perasaanku!”

“Raja? Siapa dia?”

            Pertanyaan Danial itu membuat isak Kamila berhenti. Dia baru sadar, jika dia belum menceritakan apapun pada Danial. Tapi sekarang dia malah datang dengan mengeluh. Pantas saja Danial merasa bingung.

“Jadi, siapa Raja itu?”

“Dia itu, suka padaku Dan, dia memintaku menjadi pacarnya beberapa minggu yang lalu, tetapi aku belum menjawab apa pun, aku pikir, aku harus mengenalnya terlebih dahulu, dan ternyata dia hanya mempermainkan perasaanku saja!”

“Sebentar, tadi kamu bilang kamu belum menerimanya, harusnya kamu senang dong tahu jeleknya dia duluan sebelum kalian jadian?”

               Kamila diam. Ya, apa yang dikatakan danial itu memang benar. Dia hanya terbawa perasaan saja. Jadi uring-uringan sendiri. Kamila pun tersenyum. Menyandarkan kepalanya di pundak Danial.

“Kamu bener Dan, aku cuma kebawa emosi aja, maaf ya, aku ke sini cuma marah-marah aja!”

“Kamu boleh ke sini kapanpun, sedih, marah, apalagi bahagia, aku bakal nemenin kamu terus!”

“Terima kasih ya Dan, kamu memang sahabat aku yang paling baik!”

                Bolehkah aku meminta lebih, Mil, gumam Danial di dalam hati.

 Tak mungkin ia mengucapkan nya. Menjadi tempat yang membuat Kamila merasa nyaman saja, ia sudah merasa senang.

***

        Beberapa tahun kemudian…

Karena kesibukan masing-masing, ritual menghabiskan waktu sore di bawah pohon kers pun semakin berkurang. Mungkin hanya danial yang masih sering berdiam diri di sana jika lelah dengan segala tugas kampusnya yang terus menumpuk.

         Bicara dengan Kamila pun sudah jarang. Mereka hanya saling menyapa melalui pesan singkat. Jika sudah terlalu rindu, Danial yang akan memaksakan diri untuk menelepon Kamila. Mendengar suaranya saja, ia sudah merasa senang. Rindunya terobati. 

        Beberapa hari lagi, adalah ulang tahun Kamila. Danial sudah mempersiapkan pesta kejutan di bawah pohon kersen yang sudah ia rancang begitu cantik. Dia yakin Kamila pasti menyukainya. 

         Dan hari ulang tahun kamila pun tiba, pagi sekali danial mengirim pesan pada kamila. Memberitahukan untuk datang ke pohon kersen, nanti malam. 

Danial kembali memeriksa segala persiapan yang sudah ia lakukan jauh-jauh hari itu. Sebenarnya ini bukan kali pertamanya Danial memberi kejutan pada Kamila. Tetapi dengan rasa yang baru, Danial merasa begitu salah tingkah. Dia benar-benar sedang jatuh cinta pada sahabat nya sendiri.

        Malam pun tiba…

Danial sudah menunggu Kamila. Di pesan tadi pagi, Kamila mengiyakan, akan datang. Jadi Danial pikir, dia tidak perlu menanyakan lagi. Dia percaya, Kamila pasti datang. Dia tidak mungkin mengecewakan sahabatnya itu.

             Namun waktu terus bergulir. Pukul delapan malam sudah terlewat dua jam yang lalu. Tapi Danial masih berpikiran positif, mungkin Kamila masih sibuk merayakan hari lahirnya itu dengan keluarganya. Danial masih menahan diri untuk tidak menanyakan apa pun pada Kamila.

            Hingga tengah malam, Kamila tak kunjung datang. Danial pun memutuskan untuk pulang saja. Dengan hati kecewa, ia meninggalkan tempat itu. Dia tak ingin bertanya pada Kamila, dia takut terbawa emosi dan marah pada Kamila. Besok saja.

***

       Dengan berlari, Kamila menuju tempat pohon kersen itu berada. Masih ada sisa-sisa lilin dan lampu warna-warni yang terpasang. Ada sekotak kue kesukaannya, yang sepertinya jadi tak enak untuk dimakan. Ada kotak besar lainnya yang membuat Kamila merasa semakin bersalah.

        Danial telah mempersiapkan itu semua untuk dirinya. Tapi dia tak datang tanpa memberi kabar. 

Maafkan aku, Danial, ucap Kamila lirih hampir menangis. 

“Mil, sedang apa?” suara Danial mengejutkan Kamila.

“Dan, Danial, maafin aku!”

“Untuk apa?” jawab Danial ringan. Sambil membereskan semua yang telah ia persiapkan untuk Kamila. Dengan sikap biasanya Danial itu, membuat Kamila semakin merasa bersalah.

          Sebelum menuju ke pohon kersen ini, Danial sebenarnya mendatangi rumah Kamila terlebih dahulu. Namun kata ibunya, Kamila sudah kemari.  Danial pun memberanikan diri bertanya pada ibunya Kamila, perihal ketidakdatangan Kamila semalam. 

            Sang ibu menceritakan jika Kamila memang pulang sampai larut, setelah dijemput oleh teman lelakinya sekitar pukul tujuh malam. Dan Kamila lupa untuk memberitahukan hal itu pada Danial.

“Hey, mau kemana?” tanya kamila yang melihat danial akan pergi meninggalkan nya.

“Pulanglah, aku ke sini hanya membereskan ini semua!”

“Bukankah, kotak besar itu hadiah untukku? Kenapa kau bawa lagi, aku kan sudah minta maaf, kenapa kau masih marah?!”

“Dari tadi aku tidak bicara apa-apa Mil, kenapa kamu bilang aku marah, dan soal kotak besar itu, jika kau masih mau, ambillah, itu memang hadiah untukmu, aku pulang dulu, aku harus pergi ke Malaysia nanti sore, beasiswaku di sana diterima, aku pamit!”

              Kamila malah menangis. Membuat Danial menghentikan langkahnya.

“Hey, kenapa nangis?”

“Kamu jahat, kamu mau ninggalin aku kan?”

“Ninggalin kamu gimana? Aku itu mau sekolah Mil, kamu baik-baik di sini!”

              Kamila memeluk erat tubuh Danial yang lebih tinggi darinya. Danial berusaha bersikap sebiasa mungkin. Dia tidak mau merobohkan pertahanan yang sudah dia bangun semalaman. Dan untuk seterusnya.

***

              Bahwa kisah tentang  rasa cinta yang tumbuh lebat bersama dengan semakin kokohnya pohon kers adalah hanya milik Danial sendiri. Bahkan kepergiannya pun bukan hal yang paling menyedihkan yang dihadapi Kamila. Hatinya sendirilah yang merasa terluka.

              Satu waktu, jika ada keberanian lebih dalam dirinya, dia akan menyatakan perasaannya pada Kamila. Dan mungkin dia harus mempersiapkan diri patah hati untuk kesekian kalinya.

             Hadiah boneka dari Danial lah wakilnya kini. Dan Kamila tak akan pernah tahu seberapa besar rasa cinta yang dimiliki oleh Danial untuknya.


Selesai
0 0
0
[Kumpulan Cerpen] Jejak yang Tak Pernah Hilang (Cerita Keenam Belas)
14-03-2020 11:44
hei sist, keren keren nih cerpennya, saat bacanya kek terlempar ke suatu tempat dimana merasa diri sendiri yang ada di dalam cerita cerita itu.

jika masih ada lagi, jangan lupa di share ya.......

Makasih untuk cerpen yang sudah sista share
emoticon-Cendol Gan
emoticon-Shakehand2 emoticon-Salam Kenal emoticon-Recommended Seller
0 0
0
[Kumpulan Cerpen] Jejak yang Tak Pernah Hilang (Cerita Keenam Belas)
15-03-2020 08:04
Drama Romantika




        Dan inilah hidup. Dengan berbagai drama yang ada di dalamnya. Romantika yang tersaji terkadang menguras seluruh energi. Entah apakah kita sebagai pelaku atau hanya sekedar sebagai penonton setia. 

         Inilah drama romantika yang berisi sebuah perjalanan. Diwakili oleh nama-nama yang pernah merasakan. Memerankan sebuah karakter yang terkadang berbeda dengan pribadi kita.

***

      Romantika seorang Havika …

Diawali oleh sebuah cinta pertama. Cinta monyet yang menjadi cerita sepanjang hidupnya.

      Cinta yang abadi dalam diam dan rahasia. Havika pandai menyembunyikan perasaannya sendiri. Dia sudah terlatih untuk menahan perih. Dan menutupinya dengan senyuman yang termanis. 

        Maka romantika cinta pertamanya hanya berakhir pada sajak-sajak usang. Tak ada yang tahu. Bahkan si dia yang dicintai.

        Mereka pernah saling beradu pandang. Tetapi hanya sampai di situ. Tanpa kata. Mereka pernah saling melempar senyum. Tetapi Hanya itu. Namun mampu membuat sepanjang hari Havika bagai berbunga-bunga.

           Dan ini adalah bagian drama yang akan selalu berada di kotaknya. Tak akan pernah terganti.

***

      Setelah cerita cinta pertama terpaksa harus diselesaikan. Perjalanan cinta yang baru telah menyambut Havika. Sebuah cinta di masa SMA yang penuh dengan drama.

       Sebuah perkenalan yang singkat. Membawa hatinya pada penantian yang tak pernah berujung. Jikalau pun menemukan ujungnya, cinta itu telah melenakan Havika.

        Mereka sering menghabiskan waktu bersama. Namun kisah ini pun akhirnya menemukan kata usai. Cinta yang dikira akan menggantikan posisi si cinta pertama, ternyata harus kandas sebelum ia benar-benar merasakan indahnya. 

***

     Untuk kemudian, Havika terjebak di masa-masa mencari.

Dia memang bukan wanita yang ingin sendiri. Pergi satu, ia selalu ingin cepat menemukan penggantinya. 

       Hingga akhirnya, dia kehilangan makna dari cinta itu sendiri. Segala nya terasa hambar. Tertutup oleh sebuah nafsu ingin selalu ditemani. 

         Sekali waktu, cinta itu dirasa begitu perih. Kisah tentangnya tak ingin ia ingat lagi. Padahal awalnya ia begitu memuja cinta itu. Seakan terhipnotis dan lupa diri.

        Cinta itu berakhir dengan kebencian. Dia yang yang dulu dicintai pun menghilang bagaikan ditelan bumi. Meninggalkan segala kedukaan.

         Dan sejak hari menyedihkan itu, Havika jadi tak percaya lagi. Apa cinta sejati itu benar adanya. Dia berpikir segalanya hanyalah tipu daya. Tak ada yang benar-benar tulus.

***

     Romantika kehidupan Havika pun tak berakhir sampai di situ. Masih soal cinta. Masih soal rasa yang rumit. 

Kembali dia merasakan cinta dalam diam. Sungguh pelik jika sudah memendam rasa.

      Lelaki yang membuat Havika jatuh hati itu, Eros namanya. 

Mereka sudah kenal cukup lama. Namun perasaan itu baru saja tumbuh. Sadar yang terlambat. 

       Eros sudah dimiliki orang lain. Tetapi bukankah ada pepatah yang mengatakan, sebelum janur kuning melengkung dia belum jadi milik siapa pun.

      Maka Havika ingin mengatakan, soal hatinya pada Eros. Hanya sekedar agar ia tahu. Karena Havika tak ingin merasakan penyesalan yang sama. Saat perasaan tersembunyi nya tak pernah terkatakan.

***

     Eros adalah romantika yang berbeda bagi havika. Bersama Eros dia merasa bisa menjadi dirinya sendiri. Eros memberikan rasa bahagia yang tulus. Eros bisa menjadi siapa saja yang dibutuhkan oleh havika.

     Eros adalah teman yang baik. Eros adalah sahabat yang setia. Sekali waktu Eros juga bisa menjadi sosok ayah yang bijak bagi Havika. Dan kini Havika ingin Eros menjadi kekasih hatinya. 

      Eros selalu membela Havika. Selalu menyayangi Havika sepenuh hati. Jika pada akhirnya yang bernama cinta itu tumbuh. Semoga bukan Havika yang salah atau terlalu percaya diri. 

      Karena ternyata, hati Eros malah terpaut pada yang lain. Havika merasa sedih. Terasa seperti dikhianati. Namun tak ada hak dia merasa seperti itu. Karena nyatanya perasaan Eros padanya memang tak sebesar yang ia punya.

***

“Kamu kemana saja?” tanya Eros saat secara sengaja menjemput Havika di kampusnya.

“Aku? Ada aja!” jawab havika sekenanya. 

“Kamu seperti sedang menghindariku?” 

Havika mengerutkan dahi, rasanya pertanyaan itu seharusnya dia yang mengucapkan. 

“Kenapa wajahmu seperti itu?” tanya Eros lagi.

“Gak kenapa-kenapa kok, aku cuma heran sama kamu, kamu bisa bilang kayak gitu, padahal yang ngilang itu kamu!”

Eros tertawa, 

“Aku gak kemana-mana kok, aku selalu perhatiin kamu, dan selama aku gak g ada, kamu terlihat baik-baik saja!”

“Hatiku yang gak baik-baik saja, kalau kamu tiba-tiba gak ada!” jawab Havika akhirnya. 

         Giliran Eros yang mengerutkan dahi. Ada apa dengan Havika-nya. 

“Aku sayang sama kamu Ros, sayang yang lebih dari sekedar teman atau sahabat!”

         Eros mencoba mendengarkan dengan seksama. Belum saatnya untuk berkomentar. Wanita di depannya ini seperti akan mengeluarkan banyak hal yang telah lama ia pendam. 

“Kamu menceritakan kamu sudah jadian, ingin aku marah, kenapa kamu melakukan itu padaku, ah ternyata aku hanya mencintaimu seorang diri!”

          Eros masih memperhatikan. Dia membiarkan segala beban Havika luruh. 

“Tapi gak apa-apa, aku senang jika kamu bahagia!” 

Isak Havika pun pecah.

Ia merasa sudah terlalu banyak bicara. Dia malu pada dirinya sendiri. 

“Aku pulang sendiri saja!” 

         Dengan masih menangis, Havika pun pamit untuk pergi saja. Tapi Eros menghalangi langkahnya. 

“Eros, aku mau pulang!”

“Aku yang antar, aku ke sini kan karena memang mau jemput kamu!”

“Aku pulang sendiri saja!”

“Vika, apa kamu tidak mau mendengar jawabanku?”

“Jawaban apa? Aku tidak bertanya apa-apa kan padamu?”

“Iya aku tahu, tapi paling tidak, apa kamu tidak ingin tahu, bagaimana perasaanku?”

“Kamu sudah memiliki kekasih, apa penting nya aku tahu bagaimana perasaanmu!”

***

       Terkadang, ada banyak romantika yang tak kita pahami akan kemana alurnya. Havika memilih untuk tidak mengetahui apapun tentang perasaan Eros. Padahal Eros ingin sekali mengatakan perasaan dan kenyataan yang sebenarnya. Bahwa, ia pun sangat menyayangi dan mencintai Havika. Bahwa pengakuannya telah memiliki kekasih hanyalah caranya agar ia mengetahui apa ada di dalam hati Havika.

        Dan rencana Eros pun berhasil. Namun ia tidak menyangka, jika havika malah menjadi jauh darinya. Sejak hari itu, ia tak lagi bisa menghubungi Havika.

***

      Apa rencana Tuhan sebenarnya? Setelah Havika memiliki keberanian untuk mengungkapkan segala perkara soal hati. Tapi kenapa tak ada sedikit kesabaran dalam hatinya. Padahal jika ia sedikit saja mau menunggu, kebahagiaanlah yang akan ia raih kini. 

           Bahwa ternyata, terkadang meskipun telah melewati berbagai romantika hidup. Selalu ada yang tersisa, seperti sebuah rasa takut dan tidak percaya diri.

Apa yang manusia rencanakan tak selalu terwujud. Karena segalanya telah diatur oleh Tuhan. 

         Begitupun soal kisah cinta seorang Havika dan Eros. Jika hari kemarin mereka tak bersatu karena kesalahpahaman, maka harus ada yang berani membenahi. Keyakinan dalam hati Eros lah yang mengantarkan kebahagiaan itu di pangkuan Havika. 

          Eros datang melamar Havika. Dan mereka pun mengakhiri segala romantika yang begitu pelik di atas pelaminan. Menempuh kehidupan yang baru. Tanpa drama yang tak berarti.


Selesai
0 0
0
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
you-made-me-love-more
Stories from the Heart
the-perfect-darkness
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia