Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
25
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e515abd0577a9493d391702/cderita-anak-bungsu--love-vs-family
Dulu waktu kecil sewaktu TK, ane sering pergi bareng ibu ane ke beberapa tempat seperti pasar, toko bahan, atau tempat makan. Dan salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah tentang ane anak ke berapa. Saat pertanyaan itu muncul, ibu ane selalu punya jawaban yang hampir sama. TKP Toko Bahan Quote: Tante : "Beli bahan juga ya bu?" Ibu : "Iya bu, mau buat gamis." Tante : "Oh… dijahitin dimana
Lapor Hansip
22-02-2020 23:45

C[d]erita Anak Bungsu ( Love vs Family )

Past Hot Thread
C[d]erita Anak Bungsu ( Love vs Family )

Hallo agan-agan kaskus. emoticon-Blue Guy Peace

Masih sama ane Bayu. Kali ini ane mau cerita kelanjutan autobiografi ane sebagai anak bungsu atau bontot. Sebelumnya cerita ini adalah lanjutan dari cerita sebelumnya "Suara tak bersua" yang ceritanya tentang masa kecil ane dan asal-usul kemampuan mata batin yang ane miliki.

Namun setelah banyak pertimbangan, ane memutuskan untuk melanjutkan cerita selanjutnya dengan judul baru karena topiknya mungkin aga berubah yang sebelumnya tentang supra natural sekarang lebih ke masalah keluarga.

Oke tanpa lama-lama, kita langsung aja ke cerita ane gan. Sekali lagi semoga cerita ini bermanfaat dan mohon maaf jika ada kesalahan. Ane terbuka buat agan-agan, silahkan kasih masukan selama masukannya baik ane berusaha untuk update agar lebih baik.



Part 1 : Bukan Keluarga Cemara


Dulu waktu kecil sewaktu TK, ane sering pergi bareng ibu ane ke beberapa tempat seperti pasar, toko bahan, atau tempat makan. Dan salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah tentang ane anak ke berapa. Saat pertanyaan itu muncul, ibu ane selalu punya jawaban yang hampir sama.

TKP Toko Bahan


Quote:Tante : "Beli bahan juga ya bu?"
Ibu : "Iya bu, mau buat gamis."
Tante : "Oh… dijahitin dimana bu biasanya?"
Ibu : "Bukan bu, ini untuk pelanggan saya. Saya penjahitnya dan ada pesenan gamis."
Tante : "Oh gitu. Eh ini anaknya ibu ya? Yang keberapa bu?"
Ibu : "Oh ini anak saya yang terakhir bu yang nomor 4."
Tante : "Wah, banyak ya anaknya. Yang gede umurnya berapa sekarang?"
Ibu : "Yang pertama dan kedua udah SMA, dan yang ketiga udah SMP. Iya dulu rencananya cuman pengen punya tiga aja, tapi ternyata kebobolan."



Karena dulu ane masih kecil, ane masih gk paham dengan obrolan itu. Namun belakangan ini sejak ada masalah keluarga, ane jadi keinget dengan kejadian itu. Sampe akhirnya ane punya pikiran


Quote:"Apa ane sebenarnya anak yang gk direncanain ya?"


---------------

Posisi ane di rumah adalah sebagai anak terakhir dari 4 bersaudara. Kakak pertama ane bernama Lana, kedua bernama Irfan, dan ketiga bernama Mila. Jarak umur ane sangat jauh dengan kakak-kakak ane. Kakak pertama, kedua dan ketiga masing-masing hanya berjarak 2 tahun tapi jarak antara kakak pertama dan ane adalah 10 tahun. Alhasil ane dulu gk terlalu deket dengan kakak pertama dan kedua. Ane dulu deket sama kakak ketiga, kak Mila. Mungkin karena kak Mila perempuan jadi lebih bisa mengayomi.

Seinget ane dulu, kak Lana dan kak Irfan gk terlalu akur terutama sewaktu SMA. Kebetulan mereka masuk di SMA yang sama, jadi kak Lana kelas 3 dan kak Irfan kelas 1. Ketika itu kita cuman punya satu motor vespa ndog. Vespa ini jadi rebutan kedua kakak ane. Biasanya ribut pas sore hari atau pas weekend di mana masing-masing punya acara sendiri-sendiri.

Yang ane gk suka dari keduanya adalah, ketika sedang ribut mereka pasti saling mengancam saling "bacok" atau bahkan pernah saling umpat hingga mencancam akan saling "bunuh". Ketika keributan ini terjadi, bahkan ibu ane gk berkutik cuman bisa menangis di dalam rumah.

Padahal menurut cerita ibu ane, mereka berdua sangat akur sewaktu kecil terutama sewaktu SD. Mereka sering berangkat sekolah bareng dengan sepeda bmx kecil.

----------

Sedari kecil ane lebih seneng main dengan kak mila. Dari main dakon, masak-masakan, sampe petak umpet main bareng kak mila dan temen-temen ceweknya.
Ane milih kak mila bukan karena alasan. Tiap kali ane main sama kak Irfan, ane pasti dikerjain atau dibuat "kalah-kalahan". Dan anehnya ketika ane nangis sebel sama sifatnya kak Irfan, justru ane yang dimarahin sama ibu.

Seinget ane sewaktu SD, kak Irfan sama kak mila diem-dieman selama bertahun-tahun. Dulu ane gk sadar sebelumnya. Tapi pas masuk SMP ane baru ngeh kalo mereka gk saling ngobrol atau bahkan sapa selama itu. Bahkan ketika lebaran saling sungkem, kak Irfan lebih milih gk ngikut sungkem buat menghindari kak mila. Dan sekali lagi, ibu ane gk berani negur kak Irfan dan hanya berani negur kak mila. Meskipun kak mila kadang-kadang masih berinisiatif buat memulai obrolan atau sekadar manggilin kak Irfan, tapi gk pernah berhasil menyelesaikan masalah diantara mereka.

Setelah aga gede ane kemudian tanya sama ayah kenapa mereka saling diem-dieman.


Quote:Ane : "Yah, itu kenapa sih kok kak Irfan sama kak mila gk saling sapa?"
Ayah : "Itu kak Irfan marah sama kak mila. Dikiranya ayah sama ibu lebih sayang sama kak mila."
Ane : "Lho kenapa emangnya?"
Ayah : "Jadi pas mereka masih kecil, kamu belum ada, kak Irfan itu sering sakit-sakitan. Berobat selama berbulan-bulan gk sembuh-sembuh. Akhirnya ayah sama ibu tanya ke orang pinter. Katanya kalo mau sembuh kak Irfan harus ganti nama.
Ane : "Oh berarti dulu kak Irfan pernah ganti nama ya?"
Ayah : "Iya, Irfan itu nama barunya. Dan setelah ganti nama udah sembuh dan gak sakit-sakitan. Tapi karena sering sakit itu bapak gk pernah minta tolong sama kak Irfan karena kuatir nanti kumat lagi. Jadi bapak dulu seringnya kalo minta tolong pasti nyuruh kak mila kayak buat beli rokok. Katanya gara-gara itu kak Irfan cemburu, ngiranya ayah lebih perhatian sama kak mila."



Setelah kak Irfan lulus SMA, dia memutuskan untuk merantau di Jakarta. Sempet kuliah di BS* tapi cuman 1 tahun gk lanjut lagi. Dulu sih katanya dikejar-kejar cewek dan gk betah akhirnya mutusin gk lanjut kuliah. (Ya memang perawakannya tipikal ganteng) Setelah itu dia kerja jadi penjaga warnet sekitar 2 tahun. Setelah ditawarin kuliah lagi di Kudus, akhirnya dia pulang dan lanjut kuliah. Sejak pulang dari merantau ini, tiba-tiba aja kak Irfan dan kak mila mulai saling sapa. Mungkin karena mereka satu kampus.

------

Dulu sewaktu ane baru masuk SMP, ane mulai paham masalah duit. Tapi yang buat ane bingung adalah tentang kondisi ekonomi keluarga ane. Ane selalu kepikiran bahwa keluarga ane itu adalah keluarga yang termasuk menengah kebawah atau kekurangan.

Alasan bahwa ane punya pikiran ini adalah ibu ane. Seinget ane dari kecil sampe SMA, ibu ane jadi penjahit buat mencukupi kebutuhan keluarga sendirian. Dari minta uang saku dan uang sekolah semuanya minta ke ibu. Sejak ane SD, ayah ane mulai jarang pulang dan puncaknya adalah setelah ane masuk SMP dimana ayah bisa gk pulang sampai berbulan-bulan dan gk ada kabar sama sekali.

Bahkan sampe SMA ane selalu bingung ketika isi biodata yang ada bagian pekerjaan ayah karena ane gk tau pekerjaannya saat itu. Dulu pernah kerja sebagai kondektur PO Bus jurusan Jakarta – Kudus namun kena PHK karena katanya bangkrut. Setelah itu ane gk tau lagi. Pernah suatu ketika tanya ke ibu katanya bantu sodara jualan di pasar Induk.

Namun ane kadang bingung karena ibu dan sodara-sodara ane pernah cerita kalo dulu sewaktu ane kecil belum sekolah, ayah punya beberapa motor dari Binter Merzy dan 2 Vespa. Tapi ketika ane SD, ane cuman inget punya motor Supra X lawas, itu pun cuman 1 buat rebutan.

Pernah juga setelah beberapa lama gk pulang, tiba-tiba ayah ane bawa mobil pas ane kelas 4 atau 4 SD. Mobil yang dibawa waktu itu adalah Kijang LGX. Namun tak selang lama, mobilnya ganti jadi Kijang Super. Tapi sebelum ane lulus SD, tiba-tiba lagi udah gk ada lagi tuh mobil.

Karena itulah ane bingung, sebenarnya keluarga ane keluarga yang bener-bener kekurangan atau engga. Masalah mobil inipun baru kebongkar setelah 15 tahun berlalu.
-----
Ya, inilah keluarga ane yang ternyata Bukan Keluarga Cemara. Ane baru tahu sisi kelam keluarga ane sendiri yang bikin ane syok dan terjawab sudah pertanyaan-pertanyaan semasa ane kecil. Tiap masalah sewaktu ane kecil terjawab dengan sendirinya setelah ane dewasa, lebih tepatnya setelah menikah.


INDEX 
Part 1 : Bukan Keluarga Cemara
Part 2 : Hutang dan Sekolah
Part 3 : Orang Dalem
Part 4 : "Namaku Puspa''
Part 5 : Menghindar
Part 6 : Pilihan Pertama
Part 7 : Kenapa Bungsu?
Part 8 : Dewasa Muda Kanak Tua
Part 9 : Bukan masa indah
Part 10 : Anak Kemaren Sore
Part 11 : Merah Putih tak Selalu Putih

UPDATE Maret

Part 12 : Bertepuk Sebelah Tangan
Part 13 : Karma Monyet
Part 14 : Perebutan
Diubah oleh ributbinribet
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pengobatan17 dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 2
C[d]erita Anak Bungsu ( Love vs Family )
23-02-2020 01:02

Part 2 : Hutang dan Sekolah

Selama ini, dari berbagai orang tua yang ane kenal pasti punya keinginan agar anaknya hidup lebih baik dari orang tuanya. Ane kenal beberapa orang yang pekerjaannya macem-macem seperti pembatu, petani, tukang becak, dan penjual angkringan yang kepingin banget anaknya bisa sekolah tinggi agar bisa hidup lebih baik.

Tapi kayaknya hal ini gk berlaku buat ayah ane. Gk ada sedikitpun usahanya buat nyekolahin anak-anaknya ke jenjang yang lebih tinggi. Dimulai dari kak Lana, anak tertua di keluarga ane sampe ane sendiri ngalamin gimana cueknya ayah tentang masalah pendidikan anak-anaknya.

-------

Dari cerita ibuku, katanya ini kak Lana dulu orang yang pinter secara akademis. Namun ketika kelas 1 atau kelas 2 (Sebelum penjurusan IPA/IPS, ane lupa tepatnya), kakak ane mengalami kecelakaan. Suatu hari pada sore hari, ibu ane dapat kabar kalo kakak ane mengalami kecelakaan.

Ketika itu ane mungkin masih baru masuk SD. Seinget ane, kak lana kecelakaan karena ditabrak bus dari belakang. Waktu itu dia boncengan sama temennya. Temennya meninggal di tempat sedangkan kak lana mengalami gagar otak. Karena ane masih kecil, ane gk tau seberapa parah gagar otaknya. Namun sempat di operasi dan opname di ICU karena koma. Setelah beberapa minggu kak lana sadar dan mulai pulih lagi sampai akhirnya sembuh dan diperbolehkan untuk pulang.

Namun setelah sembuh, sepertinya ada efek samping dari kecelakaan itu. Nilai-nilai di sekolahnya anjlok dan akhirnya harus masuk IPS. Meskipun bisa lulus SMA tepat waktu, namun nilai ujiannya tidak terlalu tinggi. Mau gk mau pilihan kuliah juga terbatas terutama untuk negeri. Dulu sih katanya pengen masuk pelayaran, tapi karena jurusannya IPS alhasil gk bisa daftar. Belum lagi dengan nilai nem yang rendah.

Ane gk tau diskusi detailnya, tapi yang jelas akhirnya kak lana kuliah di UMS yang notabene bukan negeri dan butuh biaya yang tidak sedikit. Namun ane samar-samar punya ingatan bahwa sebenarnya ayah ane gk setuju buat kak lana kuliah di sana. Yang kekeh punya keinginan buat kuliah adalah ibu. Jadi dengan usaha ibu ane bertekad buat kuliahin anaknya apapun jalannya.

Dan bener aja, ibu ane banting tulang buat biaya kuliah kak lana. Bahkan sampe pinjam uang ke sodara-sodara. Tapi sodara yang di minta pinjaman adalah sodara ayah ane. Ibu ane dapet pinjaman dari salah satu sodara yang baik. Kenapa ane sebutnya baik? Karena sodara ane ini minjemin duit tapi pesen baju juga ke ibu. Ya paling enggak dengan begitu ibu terbantu karena ibaratnya pesenan bajunya bisa dibayar di depan. Dengan cara gali lubang dan tutup lubang seperti inilah cara ibu bertahan agar tetep bisa makan namun juga tetep biasa nguliahin anaknya.

-----

Tentang kak Irfan, ane agak gk tau ceritanya. Setau ane dia setelah lulu SMA langsung ke Jakarta buat kuliah komputer di BS*. Tapi ya seperti yang ane jelasin sebelumnya, kuliahnya cuman 1 tahun. Ketika ditanya ibu gara-garanya karena cewek. Entah alasan ini bener atau enggak, tapi sewaktu itu kak Irfan sama ayah tinggal di tempat budhe (kakaknya ayah) dimana katanya waktu itu ayah ane bantu jualan di pasar induk Jakarta di kios milih suaminya budhe.

Kalo kecurigaan ane sekarang, alasan sebenarnya kak Irfan mungkin karena biaya. Dengan sifat ayah seperti itu, ane curiga kalo ayah ane cuek sama kuliahnya kak Irfan. Mungkin karena ini kak Irfan akhirnya memutuskan untuk cari kerja dan kebetulan dapet jadi operator wartel. Di sini dia sempet dapet lumayan gajinya dan sering ngirimin ibu juga. Dulu ane juga pernah di beliin PS1 karena tau ane suka banget main game.

Sewaktu kak Irfan kerja, kak mila akhirnya lulus SMA.

Quote:Ibu : "Mbak mau kuliah di mana?"
Mila : "Enggak usah kuliah lah bu. Aku pengen kerja aja bantu ibu."
Ibu : "Lah kok gk kuliah? Itu Kak Lana sama Kak Irfan kan udah kuliah, masak kamu gk kuliah sih? Gk mau kuliah di Semarang tho coba yang negeri?"
Mila : "Enggak ah bu, jauh nanti dari rumah."
Ibu : "Ya udah kuliah di sini aja ya di U*K? Kan deket rumah."
Mila : "Enggak ah bu, pengen kerja aja."
Ibu : "Eh harus kuliah. Gpp kuliah disana. Jangan khawatir soal biaya, nanti biar ibu yang cari. Nanti kamu juba bisa bantu-bantu ibu kayak biasanya."


Karena tau kondisi keluarga, kak mila waktu itu sempet gk mau kuliah. Udah ditawarin ibu juga untuk kuliah di negeri. Kampus paling deket dari sini yaitu di Semarang. Tapi kak mila gk mau, katanya jauh. Kak mila waktu itu pengennya cari kerja aja buat bantu ibu. Tapi ibu gk mau nyerah sampe akhirnya ditawarin kuliah di U*K. Ya bujuk rayu ibu katanya deket rumah, nanti juga bisa sambil bantu-bantu jahit ibu juga.

Ya, selama ini memang kak mila yang bantu ibu jahit. Bahkan kak mila kadang juga ikut begadang nemenin ibu jahit baju. Ya secara gk langsung justru kak mila inilah yang bantu kuliah kak lana waktu itu.

Mungkin karena pengalaman dengan kak Lana, kali ini ibu gk ada obrolan dengan ayah tentang kuliah kak mila. Sepertinya memang ayah gk ada keinginan buat nguliahin anak-anaknya.

Bahkan ketika wartel tempat kak Irfan tutup, ibu anelah yang nawarin buat pulang dan kuliah juga di sini. Sempet gk mau tapi akhirnya mau buat pulang dan kuliah lagi. Karena masuknya telat 1 tahun, kak Irfan jadi adek angkatan kak mila.

-------

Karena kondisi itu, ane jadi punya keinginan buat dapet beasiswa buat kuliah besok. Entah kenapa sewaktu SMP ane punya mimpi yang kuat kepengen kuliah gratis kalo gk di Jogja atau di Solo. Tapi sebelum itu ane harus lulus SMA dulu. Karena pengen dapet beasiswa, ane kepengen masuk SMA Negeri biar lebih gampang daftar kuliah.

Waktu itu ane pengen masuk SMA 1 Bae, salah satu SMA favorit di sini. Namun Tante Retno menawarkan beasiswa ke ibu ane. Jadi kalo ane mau masuk di sekolahnya, nanti ane bakal gratis spp selama 3 tahun. Dan nanti juga bakal dapet uang saku juga. (cerita lengkapnya ada di trit sebelumnya di sini). Ya karena ane pengen bantu ibu, akhirnya ane terima sekolah di SMA tersebut, meskipun bukan SMA favorit. Ya paling enggak ane bisa bantu meringankan beban ibu.

Selama sekolah di SMA ini, ibu ane ditawari beberapa pengadakan seperti dasi dan jas lab. Ya lumayan lah bisa buat tambah-tambah. Bahkan sewaktu ane kelas 1 dan awal kelas 2, ibu ane dapet jatah buat ngisi nasi bungkus di kantin sekolah. Ya karena lobi-lobi tante Retno sih sebenarnya. Waktu itu apapun ibu lakuin buat bisa dapet tambahan untuk keperluan rumah sama sekolah buat anak-anaknya.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
TaraAnggara dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
C[d]erita Anak Bungsu ( Love vs Family )
23-02-2020 02:19

Part 3 : Orang Dalem

Dari kecil ane paling seneng banget main game. Namun apa daya, karena kondisi ekonomi keluarga ane, ane gk bisa beli sendiri. Dulu itu sewaktu ane SD lagi booming PS 1. Karena ane suka main, jadi ya ane sering nyisihin uang jajan tapi kadang nakal juga ambil duit ibu di kotak benang buat main PS 1 di rental.

Tiap kali mau ke rental PS, ane pasti boong ke ibu ngomongnya main. Tapi akhirnya ketauan juga kalo main ke rental PS. Sempet beberapa kali ane ketahuan, atau lebih tepatnya dijemput di suruh pulang. Tapi ketika jemput, ibu ane gk marah malah biasa aja. "Dek yuk pulang." Cuman satu kalimat tapi bikin ane takut deg degkan karena udah ekspektasi bakal dimarahin. Karena ibu gk marah, justru nambah bikin ane takut waktu itu.

Kak Irfan tau kalo ane seneng banget main PS. Karena itu pas dia kerja, ane dibeliin PS 1 baru pas ane kelas 1 SMP. Ane masih inget banget waktu itu gimana girangnya ane punya PS sendiri. Ada dua hal yang bikin ane seneng banget. Yang pertama karena ane seneng main PS dan yang kedua karena PS ini merupakan barang pertama yang dibeliin khusus buat ane sendiri.

Sebagai anak bungsu, ane dari dulu cuman dapet barang-barang bekas milik kakak-kakak ane. Dari mulai celana, baju, tas, bahkan sepeda. Pas masuk SMP, ane pernah minta sepeda. Tapi bukannya dibeliin baru, yang ada malah sepedanya kak Irfan dulu sepeda federal di cat lagi biar keliatan kayak sepeda baru. Ane masih inget banget kalo sepedanya di cat ulang dan dikasih stiker merek "Polig*n".

Karena ane dapat barang baru, PS 1 bikin ane kegirangan banget. Akhirnya ane gk perlu ke rental lagi. Selama setahun, ane udah punya banyak CD game ps 1 kayak Final Fantasy, Harvest Moon, Yu Gi Oh, Grand Tourismo, dan banyak lagi. Game favorit ane game-game rpg kek final fantasy gitu yang ada ceritanya. Tapi karena pake bahasa Inggris, ane harus main sambil bawa kamus. Tapi akhirnya ini ada sisi positifnya juga, ane jadi bisa lancar bahasa Inggris.

Ketika masuk ke kelas 2 SMP, ane gk bisa bebas lagi main PS. Kak Lana udah lulus kuliahnya di UMS dan balik pulang. Tapi bukannya cari kerja, malah dia senengnya main PS. Dari pagi udah main PS. Nanti siang pas ane pulang sekolah, dia juga masih main PS. Di suruh cari kerja cuman iya iya doank. Ane gk pernah liat dia dapet panggilan wawancara sekalipun sejak lulus kuliah. Boro-boro interview, ane gk liat dia pernah nyiapin berkas atau ngirim berkas lamaran. Kerjaanya main Racing Lagoon, game balapan mobil yang bisa di modif.

Karena udah beberapa bulan nganggur, akhirnya ibu turun tangan bantuan cari kerja.

Quote:Ibu : "Mas kemarin udah tak tanyain om Farhan buat cariin kamu kerjaan. Ini katanya ada kerjaan jadi admin di Ind*f**d Jepara."
Lana : "Iya bu."
Ibu : "Ya udah, besok kamu siap-siap pergi ke kantornya di Keling. Bawa ijazahnya jangan sampe telat."


Akhirnya jurus KKN pun muncul. Ibu ane minta bantuan sodara buat cariin kerjaan di tempat kerjanya. Akhirnya dapet jadi admin kalo gk salah. Om Farhan ini sebenarnya sodara jauh tapi sering main ke rumah. Kerjaannya jadi sales produk-produk dari Ind*f**d jadi sering keliling buat nawarin.

Tapi sejak kak Lana dapet kerja, om Farhan jadi jarang main lagi. Sampe beberapa bulan akhirnya main ke rumah siang-siang. Tapi kali ini raut wajahnya gk kayak biasanya, agak sedikit capek dan ada masalah. Kemudian om Farhan dan Ibu ngobrol di ruang tamu. Mereka ngobrolin kak lana.

Quote:Farhan : "Bulek, maaf sebelumnya. Saya cuman mau meneruskan pesan dari atasnya mas Lana."
Ibu : "Iya mas ada apa ya?"
Farhan : "Begini bulek, mas Lana itu sebenarnya dapet SP. Gara-garanya sering berangkat telat. Sebenernya saya gk enak sama bulek tapi gk enak juga sama atasannya karena yang bawa masuk saya."
Ibu : "Waduh kok sampe begitu. Lah Lana kok gk pernah cerita. Padahal setiap pagi udah tak bangunan tak suru cepet-cepet berangkat soalnya tempatnya jauh. Duh maaf ya om, nanti saya kasih tau ke Lana biar gk telat-telat lagi kerjanya."

Sejak saat itu ane paham kenapa om Farhan jarang main kesini lagi. Kemungkinan besar gara-gara kak lana yang kerjanya gk beres. Jadinya bikin om Farhan sebel. Kira-kira gimana kalo agan sendiri bawah sodara kerja, tapi kerjaannya gk beres. Pasti agan juga kan yang kena semprot sama bos.

Sejak saat itu ibu nyuruh kak Lana buat tinggal di kos atau mes deket kantor biar gk telat. Tapi entah kenapa setiap tahun kak lana pasti di pindah dari Jepara, Kudus, dan Demak. Gk ada setahun pasti di pindah di tempat baru. Entah karena memang regulasinya atau ada masalah lain.

Yang pasti sejak saat itu, om Farhan gk pernah lagi main kerumah selama beberapa tahun. Bahkan ketika lebaran gk pernah juga. Dugaan ane saat itu pasti ada yang gak beres.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
TaraAnggara dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
C[d]erita Anak Bungsu ( Love vs Family )
23-02-2020 03:48

Part 4 : Namaku Puspa

Kebetulan ane masuk di SMP yang termasuk dalam 3 besar SMP favorit. SMP ini dulu sama seperti SMP Kak Mila. Memang sebagai SMP favorit, ada banyak desas-desus miring seperti bisa gampang dapet kursi, asalkan mau memberi sumbangan. Sedangkan ane cuman anak penjahit.

Karena saat itu keluarga ane kondisi ekonominya pas pasan, ya cuman dengan modal NEM ane daftar di SMP ini. Sistem penerimaannya dulu adalah sistem ranking. Ketika pertama daftar, rangking ane berada di tengah-tengah. Tapi semakin hari ranking itu di perbaharui. Sampe pada hari akhir ane masuk di lembar terakhir daftar ranking. Ya, meskipun termasuk di posisi kasta terbawah pada akhirnya ane bisa masuk di SMP favorit ini.

Setelah MOS, ane dapat di kelas 1E. Kayaknya dulu kelas ini diurutkan berdasar rangking. Jadi kelas 1A adalah anak-anak yang rankingnya teratas dan begitu seterusnya. Kelas terakhir adalah kelas 1F, jadi paling enggak ane gk masuk di kelas terbawah. Tapi di kelas ini ada beberapa anak konglomerat. Bahkan salah satunya ngomong sendiri kalo dia bisa masuk karena udah nyumbang 10 biji komputer buat lab. Biasanya anak-anak orang kaya gampang diamati karena mereka sering males-malesan di kelas dan senengnya nongkrong di parkiran belakang sekolah. Motor adalah indikasi lain dimana dia termasuk anak orang kaya atau enggak, karena masih banyak yang pake sepeda kala itu.

Sewaktu kelas 1, ane punya temen deket namanya Nana. Dia ini merupakan anak dari pemilik travel umroh dan haji yang terkenal di kota ane. Oleh karena itu dia udah sering haji meskipun baru kelas 1 SMP. Bahkan temen-temen deketnya panggilnya adalah "kaji". Tapi ane pernah punya pengalaman gk enak ketika bertemu pacarnya.

Dulu itu sewaktu SMP, ane sering minder sama sepeda ane gan. Jadi kalo berangkat sekolah ane seringnya parkir di belakang sekolah di rumahnya warga gitu. Ntar kalo pulang bayar gopek biasanya. Tapi selain malu juga karena biar cepet karena setelah parkir bisa lewat pintu belakang langsung masuk kelas. Kalo parkir di sekolah, dari gerbang sekolah sepeda harus dituntun agak jauh ke tempat parkir. Nah suatu ketika, pas ane pulang sekolah pergilah ane ke parkiran ambil sepeda. Di sini ane ketemu Nana sama pacarnya.

Quote:Nana : "Eh bay kenapa sepedanya?"
Ane : "Ini operannya rusak agak kendor." (Sambil beneran operan sepeda)
Pacar Nana : "Eh kamu kenal sama dia?"
Nana : "Iya kenal. Temen sekelasku. Emang kenapa?"
Pacar Nana : "Kamu temenan sama orang bawa sepeda gitu? Ngapain sih?"


Denger gitu rasanya sakit ati juga. Ternyata orang dipandang dari kepunyaannya. Sejak saat itu Nana mulai jaga jarak sama ane. Kelas dua kita sekelas lagi, tapi gk sedeket dulu pas masih kelas 1. Sebenernya gk ada rasa suka sih, cuman aneh aja waktu itu pertemanan jadi renggang gara-gara masalah materi.

Dari sejak itu ane mulai pilih-pilih temen dan "gebetan". Ane seneng milih temen-temen yang ibaratnya sekasta lah, kasta anak-anak bawa sepeda atau yang naik angkot. Sebenernya ada juga sih anak-anak yang bawa sepeda tapi "dianggap". Itu karena mereka anak gaul, pinter, atau anak osis. Sama di kelas 2, ane juga masuk di kelas E, jadi ya gk ada peningkatan. Masih dianggap remeh juga sama guru kadang-kadang.

-------

Masuk kelas 3 ane kaget karena ternyata ane masuk di kelas 3A. Di sini ane ketemu beberapa anak-anak "gaul" dan "pinter" yang lain. Entah apa di acak, atau memang ane masuk kelas unggulan. Di sini ane bertemu anak baru semua yang sebagian besar kutu buku. Untungnya ane ketemu sama Dion. Dia anaknya pendiem tapi karena suka dan punya PS jadinya kita nyambung.

Ane sama dion waktu itu duduk di bangku paling belakang ujung kiri. Di depan ane duduk cewek namanya Nurma dan Puspa. Dua-duanya keliatan cerewet banget dan sepertinya udah kenal sebelumnya. Mereka berdua inilah yang pertama ngajak kenalan ane sama dion waktu itu.

Quote:Nurma : "Eh, eh namamu siapa? Dari kelas apa dulu?"
Ane : "Bayu, dulu di kelas 2E."
Dion : "Dion, dulu dari kelas 2D."
Puspa : "Oh, tak kira kalian dulu sekelas. Kenalin aku Puspa."
Nurma : "Aku nurma."

Nurma ini orangnya mirip-mirip seperti Chinese pake kacamata full frame dengan potongan rambut ala-ala dora. Sedangkan nurma ini perawakannya sedikit pendek tapi berisi imut-imut. Gk tau kenapa ane agak kesemsem sama dia. Kayaknya ini pertama kali ane mulai tau tipe cewek apa yang ane suka. Gk terlalu tinggi, pake kacamata, dan manis.

Tapi karena pengalaman dulu sama Nana, ane agak jaga jarak sama mereka. Takutnya nanti bakal kejadian kayak gitu lagi. Tapi suatu ketika ane jadi tambah naksir sama Puspa. Gara-garanya sepele, ternyata dia kalo berangkat sekolah naik angkot. Gk tau kenapa ane jadi punya gambaran pengen cari cewek yang paling enggak kondisi ekonominya sama gk terlalu timpang.

Sering banget ketika sedang pelajaran, ane sering curi-curi pandang ke puspa. Sampe akhirnya salah satu temen ane namanya Andri mulai curiga.

Quote:Andri : "Eh bay. Kamu naksir Puspa ya? Hahahaha….. "
Ane : "Eh enggak ya. Sok tau kamu."(sambil salah tingkah)
Andri : "Halah, ngaku aja. Aku tau kok kamu sering liatin puspa. Hahahaha….. Tapi kamu telah bay dia udah punya pacar.:
Ane : "Hah? Beneran dia udah punya pacar?"
Andri : "Idih, katanya gk naksir giliran tau udah punya pacar kayak kecewa gitu. Hahahaha beneran mah ini naksir. Iya dia itu udah punya pacar namanya, Lesma anak kelas B itu.

----- Jam istirahat

Andri : "Eh bay, itu tu si Lesma rivalmu. Jangan cemburu ya itu gebetanmu diajak makan bareng."


Yah pupus deh rasanya. Baru juga naksir sama cewek, eh ternyata udah punya pacar.
profile-picture
profile-picture
g.gowang. dan xksal memberi reputasi
2 0
2
C[d]erita Anak Bungsu ( Love vs Family )
23-02-2020 09:37
Ibunya kuat banget ya..emoticon-Mewek
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
C[d]erita Anak Bungsu ( Love vs Family )
23-02-2020 15:03

Part 5 : Menghindar

Ketika akhir kelas 2 SMP, kak Irfan udah balik lagi ke kudus buat lanjut kuliah. Sejak balik, dia kadang sering jemput ane pulang sekolah terumata ketika ane udah masuk kelas 3. Perawakan ane dulu ketika SMP memang terbilang pendek dan agak gendut. Nah entah dari mana ane dapat ide buat olahraga dengan berangkat ke sekolah jalan kaki biar agak kurusan. Tapi selain alasan itu, ane juga sebenarnya udah mulai malu bawa sepeda. Mungkin karena masih bocah, jadi ane ngrasa kaya bawa sepeda kaya orang gk punya. Ditambah lagi itu sepeda udah mulai bermasalah kayak rante lepas lah, operan gk beres, jadinya males juga bawa sepeda.

Ketika ane dijemput, biasanya ane nunggu di gerbang sekolah. Di situ banyak anak-anak yang nunggu jemputan juga. Suatu ketika, pas kak Irfan jemput, salah satu temen ane liat. Dan besoknya jadi bahan perbincangan.

Quote:Andri : "Eh bay, kemarin itu yang jemput kamu itu siapa?"
Ane : " Itu kakakku. Emang kenapa?"
Andri : "Dia keren lho kayak Dimas Beck. Kemaren tuh pada ditanyain sama anak-anak."
(Puspa ternyata curi dengar)
Puspa : "Eh itu kemarin kakakmu ya. Ganteng banget sih. Kenalin donk kapan-kapan."
Ane : "Haha (senyum palsu) iya."


Gara-gara topic tentang kakak ane, ane jadi deket sama puspa. Secara di duduk di depan ane. Dia sering tanya-tanya tentang keluarga sama rumah ane. Ya ane jawab seadanya. Tapi di sini ane juga tanya tentang Puspa.

Quote:Ane : "Eh pus, rumahmu di mana tho?"
Puspa : "Sana tuh ujung timur?"
Ane : "Ujung timur mana?"
Puspa : "Ke arah kota P*ti deket pom bensi Hadipolo."
Ane : "Oh jauh banget (12 km). Lah kamu kalo sekolah naik apa?"
Puspa : "Biasanya sih naik angkot sekali, nyampe gang depan rumah."
Ane : "Ohh… gitu."


Gk tau kenapa, ane jadi tambah seneng sama si Puspa. Menurut ane karena ini sekolah Favorit, jarang nemuin cewek yang mau naik angkot. Bahkan ada beberapa yang dijemput pake mobil. Saking elitnya sekolah ini, dulu pernah ada kakak kelas ane yang anak dari perusahaan rokok, pulang pergi sekolah udah bawah mobil Opel Blazer.

Gk tau ya, tapi ane tuh seneng kalo kenal cewek yang struggle gitu. Mungkin ada juga sih cewek yang dari keluarga berada, tapi kayaknya karena ane minder jadi jaga jarak aja kalo temenan sama anak-anak cewek atau cowok yang berada.

--------

Sejak saat itu ane, dion, nurma dan puspa jadi akrab. Kita sering ngobrol dan becanda bareng ya karena duduknya depan belakang sih. Tapi semuanya itu gk bertahan lama karena ane yang terlalu amatir kalo masalah cinta-cintaan.

Pernah suatu ketika pas kelas bahasa Inggris, kita dapet materi tentang perkenalan diri pake bahasa Inggris. Materinya ini kita disuruh jawab pertanyaan sederhana seperti ini.

What is your name?
Where do you live?
What is your favourite food?
What is your favourite subject?
How do you come to school?
Do you like anyone of your classmate?
(Apakah ada yang kamu suka di temen sekalasmu?)

Karena ane udah lumayan bisa bahasa Inggris, jadi gk terlalu sulit jawab pertanyaan itu di depan kelas. Pas jawab pertanyaan terakhir, karena ane memang seneng puspa, ane jawab aja "Yes, there is someone that I like." Tapi ketika ane jawab pertanyaan terakhir, sekelas langsung ceng cengin ane. Pak guru sempet penasaran dan tanya namanya, tapi karena ane malu ane diem aja. Ternyata puspa juga penasaran. Pas ane duduk langsung ditanyain.

Quote:Puspa : "Eh bay, siapa tuh yang kamu taksir?"
Ane : "Ada deh, mau tau aja."
Puspa : "Yah, pelit banget sih. Kasih tau sih. Janji deh gk bakal tak bocorin."
Ane : "Gk ah, gk mau."


Sebenernya ane bingung gimana cara ngasih taunya, karena yang ane suka itu si puspa sendiri. Ane takut nanti dikiranya kenapa-kenapa. Tapi eh tapi, si puspa penasaran banget sampe-sampe tiap minggu pasti tanya siapa orang yang ane taksir. Bahkan sampe 2 bulan masih aja nanya masalah ini. Akhirnya ane luluh juga, tapi ane mau cari cara buat kasih tau secara gk langsung.

Saat itu, di sekolah ane ada pengadaan papan informasi kelas. Di papan informasi ini ada informasi lengkap, semua siswa, alamat, nomor telpon, rumah, dan wali kelas. Di salah satu kolom itu ternyata ada nomor induk siswa. Di sini ane nemu cara gimana caranya buat kasih tau puspa. Ane mutusin ane mau kasih tau nomor induknya dia. Ane yakin karena ini masih baru, jadi dia mesti liat papan informasi ini. Ane punya rencana mau kasih dia setelah pulang sekolah. Jadi pas dia liat papan informasi bisa ane tinggal pulang. Ane malu kalo di tau langsung, jadilah ane pake cara konyol ini.

Quote:Puspa : "Bay, kasih tau sih siapa cewek yang kamu taksir. Kamu pelit banget deh. Kan aku jadi penasaran."
Ane : "Iya ya, tak kasih tau. Tapi nanti ya pas pulang sekolah."
Puspa : "Ok, janji ya. Tak tungu nanti jawabannya."
------- Bel pelajaran terakhir------
Puspa : "Bay bay, siapa nih orangnya?"
Ane : "Kamu cari aja, nomor induknya 070145."


Tanpa pikir panjang langsung aja tuh dia lari ke papan informasi kelas. Ane yang malu, langsung ngacir pulang sekolah. Gk tau gimana dia responya, pokoknya ane tinggal aja. Sebenernya ane gk mau kasih tau karena dia udah punya pacar. Tapi mau gimana lagi, dia kekeh banget pengen tau.

--------

Besoknya ane berangkat sekolah seperti biasa. Waktu itu tempat duduknya digilir dimana tiap hari geser ke depan, kalo tiap minggu geser ke samping. Karena dulu pertama ane milih tempat duduk di belakang puspa, jadi sampe sekarang posisi duduknya tetep sama.

Waktu itu ane berangkat agak pagian. Yang datang baru beberapa orang. Nurma sama puspa juga belom dateng. Sampe jam 7 kurang 10 menit, semua anak pada dateng. Nurma juga udah dateng, tapi si puspa belum dateng. Baru sekitar hampir jam 7, puspa baru dateng.

Tapi ketika dateng dia agak aneh, gk kayak biasanya. Bukan hanya puspa, tapi nurma juga diem aja gk kayak biasanya. Akhirnya sampe seharian itu ane gk ngobrol sama sekali dengan nurma atau puspa. Di sini ane mulai nyesel, kalo jadinya begini harusnya kemarin ane gk kasih tau itu NIM. Sejak hari itu Puspa mulai menghindar. Dia mulai jarang ngobrol sama ane. Bahkan besoknya ternyata nurma sama puspa tukeran tempet duduk sama temen cewek lain. Al hasil kita kini gk sebelahan lagi duduknya. Dan sejak itu, puspa bener-bener menghindar sama ane bahkan sampe ujian nasional.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
muridoemar dan 2 lainnya memberi reputasi
2 1
1
C[d]erita Anak Bungsu ( Love vs Family )
25-02-2020 00:59

Part 6 : Pilihan Pertama

Entah bisa dikatakan sebagai patah hati atau engga. Sejak ane kasih tau puspa kalau dia adalah cewek yang ane suka, kita bener-bener gk pernah ngobrol sama sekali. Seinget ane, kita gk pernah tegus sapa sampe ujian nasional. Entah bisa dibilang "ditolak" atau enggak, tapi itu pengalaman pertama ane merasakan pupus sudah perasaan cinta monyet ini.

Tapi pada dasarnya, ane udah gk begitu kaget. Secara ane sadar betul bagaimana tampilan ane. Pendek, berisi, gelap, yang intinya ane menganggap ane gk menarik bagi cewek-cewek seumuran ane. Tapi ane bisa dengan mudah melupakan itu semua karena ane masih punya Play Station.

Kecintaan ane sama game bener-bener gk bisa dipisahkan. Bahkan ane cuman ambil ekskul wajib yaitu Pramuka, biar ane bisa main tiap hari. Tidak sampai disitu, hampir tiap minggu ane pasti beli kaset PS baru (bajakan). Sampe kelas 3 SMP, ane udah punya koleksi kaset PS sampai satu dvd case. Karena saking banyaknya, ane sampe lupa game apa aja yang udah ane mainin.

Tapi tentu saja, hal ini menjadi masalah ketika mendekati ujian. Ane sering banget dimarahin ibu karena sering main PS, padahal mau ujian nasional.

Quote:Ibu : "Dek, kamu tu mau ujian nasional kenapa malah main PS trus?"
Ane : "Iya bu, nanti bentar lagi."
Ibu : "Ah, kamu tu kalo dibilangin iya iya aja."


Percakapan itu sering terjadi ketika hari-hari menjelang ujian. Ane tahu kalo sebenarnya ibu pengen marah, tapi gk berani karena itu PS dibeliin sama kak Irfan. Sejak sedari kecil, ibu ane paling gk berani marah kalo berhubungan sama kak Irfan. Dulu ketika ane SD sering banget ane berantem sama kak Irfan karena di isengin. Tapi yang dimarahin justru ane, padahal jelas-jelas yang iseng adalah kak Irfan.

Karena ane sebel, ane pernah tanya ke ibu kenapa ane yang selalu dimarahin ketika kita lagi berantem. Dan jawabnya adalah :

"Kamu itu masih kecil, jadi masih bisa dikasih tahu. Kalo kakak-kakakmu itu udah gede-gede dan udah gk bisa dikasih tahu lagi. Makanya yang kecil harus ngalah."

---------

Oke balik ke Ujian Nasional sewaktu SMP. Di sini ane mulai nakal dengan kemampuan indigo ane. Sejak kelas 2 tepatnya, ane mulai sadar kalo kemampuan clairvoyance yang ane miliki bisa dipake buat ujian. Kalo istilah ane adalah "ngintip jawaban". Namun sayangnya, ane cuman bisa ngintip jawaban-jawaban yang ada di pilihan ganda.

Pertama ane bisa pake cara ini ketika ada ulangan, tapi malam sebelumnya ane gk belajar karena main PS. Hasilnya ane bener-bener gk tau sama sekali jawaban di soal ulangan yang ada di depan. Karena pasrah, akhirnya ane cuman bisa tiduran. Tapi anehnya, ketika ane merem justru, di depan mata ane seolah-olah ane lihat itu ada beberapa jawaban di soal ujian menyala terang. (Jaman dulu kalo ane ujian jawaban langsung di silang di lembar soalnya).


Sejak saat itu, ane bener-bener tercengang dan bisa dapet nilai 8-9 dengan mudah. Meskpun bisa ngintip, ane belum pernah sama sekali bisa dapet nilai 10. Ane kira karena alasan inilah, jadi ane bisa naik dari kelas 2E ke kelas 3A.

Gk ada yang tahu tentang kemampuan ini, bahkan ibu ane. Tapi efek sampingnya, ane jadi malas belajar. Ketika ujian nasional pun, ane cuman "pura-pura" belajar biar gk dimarahin sama ibu.

Dan tentu saja, ketika ujian nasional ane gk grogi sekalipun. Ya, memang ane lebih serius belajarnya ketika malam sebelum ujian. Itupun untuk sekadar latihan-latihan soal. Hasilnya ane cukup puas. Bahasa Inggris ane dapet 9, bahasa Indoensia dapet 8,5 dan matematika dapat 9.

-------

Saat hari terakhir ujian, ane beraniin buat nyapa puspa lagi. Pikir ane, dari pada menyesal ane pengen bisa ngobrol lagi sama puspa sebelum kita lulus.

Quote:Ane : "Hei puspa, gimana tadi soal matematikanya? Kamu bisa ngerjain gk tadi?"
Puspa : "Eh…. Iya bisa kok. Lumayan tapi ada beberapa yang agak susah. Kamu sendiri gimana tadi?"
Ane : "Bisa sih. Tapi gk tau dapet berapa. Semoga sih lulus ya, semoga kita lulus bareng-bareng."
Puspa : "Iya, amin. Eh aku duluan ya, udah ditungguin sama nurma."


Kira-kira begitu obrolan singkat ane sama puspa setelah berbulan-bulan gk saling sapa. Ane agak terkejut, ternyata dia masih biasa kayak dulu. Entah ane yang kepedean apa memang dia pinter nyembunyiinnya.

Setelah ujian selesai, kita anak-anak kelas 3 masuk masa class meeting. Ini masanya kita gk jelas, cuman masuk aja di sekolah tapi gk ada pelajaran. Sampe suatu hari, si andri nyeletuk dan cerita tentang puspa.

Quote:Andri : "Eh bay, tau gk itu katanya si Puspa putus lho sama pacarnya."
Ane : "Serisan? Beneran gk nih?"
Andri : "Iya beneran. Temen sekelasku itu temen sekelasnya pacarnya puspa dulu. Jadi dia tau kalo mereka udah putus. Kayaknya beberapa hari yang lalu sempet berantem di lorong sekolah dan katanya udah putus. Hehe… kesempatan tuh buat deketin puspa lagi."
Ane : "Hahaha… bisa ae kamu."


Denger cerita Andri ane jadi pengen coba deketin puspa. Sejak saat itu, ane mulai tanya-tanya rencana dia mau lanjut ke sekolah mana. Karena ane gk punya bayangan, ane berencana mau daftar Sma yang sama.

Besoknya ane sama temen-temen ane pada duduk-duduk di lapangan. Kemudian sekelebat ane liat puspa lagi duduk di depan kantor TU sambil bawa beberapa brosur sambil bawa helm. Si andri ternyata liat puspa juga dan ngejekin kalo si puspa kaya pentol korek. Karena orangnya yang kecil dan pake helm yang gede.
Tanpa pikir panjang langsung aja ane samperin. Trus mulai deh rencana ane SKSD lagi.

Quote:Ane : "Eh, pus itu brosur SMA ya?"
Puspa : "Iya brosur SMA 1."
Ane : "Kamu rencana mau masuk sana ya?"
Puspa : "Gk tau sih, baru cari-cari aja yang cocok. Kalo kamu mau lanjut kemana?"
Ane : "Gk tau juga belum ada gambaran sih. Eh boleh minta brosurnya gk? Buat tak baca-baca di rumah nanti?"
Puspa : "Boleh-boleh. Ini. Aku duluan ya, udah ditunggui bapakku mau cari brosur di sekolah lain."


Wah SMA 1 nih. Berarti targetku harus masuk SMA ini buat bisa satu sekolah lagi sama puspa.

-------

Setelah nilai un keluar, ternyata nilaiku masuk di kategori tinggi. Jadi sebenarnya gk terlalu sulit untuk pilih SMA. Tapi ternyata kelulusanku telah ditunggu oleh salah satu tanteku yaitu tante Retno. Dia merupakan seorang guru di salah satu Sekolah Swasta berbasis Islam di kota ini, sebut saja SMA M.

SMA M ini pada beberapa tahun yang lalu sempat menjadi salah satu sekolah swasta favorit. Namun seiring dengan berjalannya waktu, pengelolaan sekolah ini sepertinya kurang bagus. Hasilnya kini sekolah tersebut menjadi sekolah swasta yang lebih bersifat sebagai pilihan terakhir bagi lulusan SMP yang tidak di terima di SMA negeri.

Untuk menarik banyak siswa, SMA M ini memiliki beberapa strategi yang salah satunya adalah memberikan beasiswa pada siswa-siswi yang memiliki prestasi baik itu akademis atau non akademis. Seperti setiap guru berusaha untuk mendapatkan murid yang memiliki prestasi, salah satunya tante Retno.

Quote:Ibu : "Dek, ini kan tante Retno ngejar di SMA M. Nah di sana itu ada program beasiswa. Nek kamu mau sekolah di sana nanti kamu gratis 3 tahun. Gimana mau gk?"
Ane : "Tapi, adek mau masuk ke sekolah SMA 1 bu. Kan nilaiku tinggi, lagian sekolahnya juga deket jadi bisa jalan kaki kalo sekolah. Kalo SMA M kan jauh bu."
Ibu : "Nanti kan duit sppmu bisa ditabung, bisa dipake buat kamu lulus."
Tante : "Iya dek, nanti juga kamu bisa dapet uang saku juga kalo ikut lomba-lomba gitu. Nanti kalo mau, biar tante aja yang daftarin."


Pupus sudah keinginan masuk SMA 1. Ane harus ngalah untuk masalah ini pilih sekolah ini. Sebenernya ada beberapa alasan lain sih kenapa ane pilih SMA 1. Yang pertama sebenarnya karena ane pengen satu sekolah sama puspa. Alasan kedua memang karena jarak sekolah yang deket, paling jalan 10 menit sampe. Dan yang terakhir adalah karena SMA 1 ini merupakan sma favorit. Tapi tentu saja ane gk ngomong kalo ane mau masuk SMA ini karena ngejar cewek. Hahaha….. malu juga sama ibu.

Ane juga inget pesen ibu

"Kamu itu masih kecil, jadi masih bisa dikasih tahu. Kalo kakak-kakakmu itu udah gede-gede dan udah gk bisa dikasih tahu lagi. Makanya yang kecil harus ngalah."


Quote:Ane : "Iya deh bu, adek mau sekolah di SMA M."
Tante : "Ya udah, besok hari senin kamu dateng ke sekolah ya bawa ijazah sama akta. Nanti ketemu sama tante biar tante yang daftarin."


Alasan utama ane akhirnya mau sekolah di SMA M adalah karena duit. Ane tau betul kalo ibu ane sedang banyak kebutuhan karena saat ane lulus SMP, ibu harus cari duit buat nguliahin kak Mila dan kak Irfan. Ane juga tahu betul kalo duit spp ditabung itu hanya sebuah rayuan karena pada dasarnya memang belum atau bahkan gk ada.

Ane tahu betul kondisi ekonomi keluarga ane sedang mepet karena sama seperti biasa, ayah ane gk jelas keberadaannya. Dari SD hingga lulus SMP, cuman ibu yang ambil rapot, ikut rapat orang tua wali di sekolah, dan ambil hasil kelulusan buat ane. Ane sendiri gk tau keberadaan ayah saat itu. Bahkan saat diskusi pilih sekolah cuman ada ane, ibu, tante sama budhe yang tinggal di sebelah rumah.

Sebenernya ayah ane sempet pulang ketika ane kelas 2. Ayah ane pulang dengan bawa mobil pickup entah punya siapa. Waktu itu ayah pengen buka usaha jualan buah di mobil pickup. Ambil buah dari tengkulak, kemudian di jual di sekitaran kota pantura Jawa Tengah bagian timur. Waktu itu ayah dibantu sama kak Irfan buat jualan. Hampir selama seminggu mereka jualan di pinggir jalan, jualan buah rambutan kalo gk salah. Kalo mandi biasanya mampir di pop bensin. Kalo jualan habis, biasanya berangkat lagi dan langsung di jual. Akan tetapi gk ada dua bulan, ayah sama kak Irfan sering pulang dengan buah yang gk laku. Akhirnya gk diterusin lagi jualan model begini. Dan selepas itu, gk tau lagi ayah kemana sama mobil pickupnya. Gk pernah pulang sampe beberapa bulan lagi.
profile-picture
profile-picture
g.gowang. dan xksal memberi reputasi
2 0
2
C[d]erita Anak Bungsu ( Love vs Family )
25-02-2020 16:06

Part 7 : Kenapa “Bungsu”?

Kalo kebanyakan paradigm anak-anak bungsu adalah yang paling dimanja, paling enak, dan paling segala di keluarga, hal ini gk berlaku di keluarga ane. Jangankan dimanja, ane gk pernah sama sekali dapet barang-barang ane sendiri seperti baju, celana pendek, celana panjang, tas, dan sepeda. Semua baju-baju ane baik itu baju biasa atau baju kemeja sebagian besar ane dapet bekas punya kakak-kakak ane. Iya semua kakak ane, baik kakak laki-laki atau kakak perempuan. Udah hal biasa ane kadang pake baju kaos dan celana ¾ dari kak mila. Karena desain bajunya unisex, jadi gk terlalu keliatan kalo itu baju cewek.

Bukannya ane gk mau minta baju baru, tapi ane punya pengalaman buruk tentang minta sesuatu sama orang tua terutama ibu. Ketika ane kelas 5 SD, itu jaman-jamanya lagi heboh sepeda BMX di kalangan ane. Ane yang waktu itu gk punya sepeda, otomatis pengen dibeliin sepeda karena dari kelas 1 sampe kelas 4 ane pulang pergi jalan kaki.

Quote:Ane : “Bu, adek pengen sepeda BMX bu. Kayak yang di tipi-tipi itu.”
Ibu : “Gk usah. Sekolahnya deket aja beli sepeda.”
Ane : “Tapi adek pengen bu kan ane gk punya sepeda sendiri. Itu kak Irfan sama kak mila punya sepeda sendiri, masak adek gk punya?”
Ibu : “Pokoknya engga ya engga. Ibu gk ada duit.” Kata ibu dengan nada keras


Ketika itu ane langsung nangis lari ke rumah tante ane yang ada di sebelah rumah. Dari kecil ane kalo dimarahin ibu selalu kabur ke rumah tante. Tapi waktu itu di rumah tante gk ada orang, cuman tante tapi lagi keluar. Ane langsung masuk ke salah satu kamarnya dan nangis sejadinya.

“Ibu gk adil. Ibu gk adil. Kak Lana dibeliin motor, kak Irfan dibeliin sepeda, kak mila juga punya sepeda. Kenapa gk boleh minta sepeda. Rasangan pengen mati aja kalo begini.”

Ane inget banget waktu itu. Sebenarnya bukan masalah sepele gk dikasih sepeda, tapi rasanya waktu itu ibu gk adil sama ane. Ane gk pernah dikasih sesuatu atau dibeliin barang baru, pasti disuruh pake barang lungsuran dari kakak-kakak ane. Dan sejak itu pulan ane udah gk berani dan gk mau lagi minta sesuatu dari ibu.

--------

Setelah kejadian itu, ane udah pasrah gk dibeliin sepeda. Udah mulai biasa gk kepengen lagi. Tapi tiba-tiba suatu hari ane di ajak kak Irfan.

Quote:Irfan : “Dek yuk ke pasar, cari-cari sepeda.”
Ane : “Hah? Sepeada apaan kak?”
Ifan : “Sepeda BMX, katanya kamu pengen dibeliin sepeda BMX?”
Ane : “Lah kata ibu gk boleh kok.”
Irfan : “Udah tenang aja, kita kepasar cari sepeda BMX buat kamu.”
Ane : “Tapi nanti kalo ibu marah gimana?”


Tanpa bales pertanyan ane, kita berdua naik motor pergi ke pasar sepeda yang ada di kota ane. Setelah pilih-pilih, akhirnya ane pilih sepeda bmx silver dengan jok yang ada lis hitam dan merah. Waktu itu ane seneng tapi masih takut. Takut kalo dimarahin sama ibu ketika pulang.

Setelah bayar itu sepeda, kita berdua balik. Kak Irfan naik motor, ane bawa sepedanya langsung pulang. Sampe rumah ternyata aman-aman aja. Ternyata ibu gk marah.

Kejadian selisih paham seperti ini gk cuman sekali antara ane sama ibu ane. Kejadian kedua adalah ketika ane masuk kelas 3 SMP. Di situ ane mulai minta sama ibu buat belajar naik motor. Tapi ibu ane gk ngijinin. Maunya ane baru boleh bawa motor kaloh udah masuk SMA. Tapi sama kayak kasus sepeda BMX, kak irfa gk setuju. Tiap kali ane dijemput setelah pulang sekolah, ane disuruh boncengan pulang. Ane sempet takut jatoh dan dimarahin kalo ibu tau. Tapi kak Irfan dengan santainya ngomong, “Tenang aja ada kak Irfan kok.”

Ya udahlah, sejak saat itu ane sering pulang bawa motor ketika dijemput. Pertama pulang bawa motor, ibu sempet kaget tapi gk berani ngomong apa-apa. Ya enggak nglarang atau marah. Cuman diem dan kaget pas pertama aja.

Dari situ ane paham kalo bahkan sampe ane SMP ibu tetep aja gk berani marahin kakak-kakak ane. Ane merasa gk adil. Apa-apa yang dilakuin sama kakak-kakak ane terasa bebas terserah. Tapi giliran ane pengen sesuatu pasti ada aja alasannya.
profile-picture
profile-picture
g.gowang. dan xksal memberi reputasi
2 0
2
C[d]erita Anak Bungsu ( Love vs Family )
26-02-2020 11:40

Part 8 : Dewasa Muda, Kanak Tua

Meksipun ibu ane gk pernah ngeluh masalah uang, ane bener-bener tahu gimana kondisi keuangan ibu. Ane mulai lebih peka setelah lulus SMP. Alasan terbesar ane mau masuk sekolah swasta memang bener-bener karena uang. Hampir tiap hari ibu pasti jahit baju hingga hampir pagi. Kadang beberapa kali ibu gk tidur sama sekali kalo ada baju yang segera diambil.
Tapi kalo ibu bener-bener capek, pasti ketiduran di mesin jahit. Gambaran seperti ini sering ane temuin, bahkan sampe sekarang.

Ibu biasanya nunggu pagi sekalian setelah nyiapin sarapan buat anak-anaknya, baru tidur sampe siang. Karena itulah ane jadi gk tega kalo harus masuk sekolah favorit yang pastinya butuh biaya yang gk sedikit.

Tapi anehnya justru kakak ane paling tua, sama sekali gk peka dengan kondisi ibu. Setelah dicariin kerja, kak Lana yang udah hampir 3 tahun kerja gk pernah sama sekali kasih uang ke ibu. Kadang kalo ibu capek jahit malem, sering ngeluh kak Lana yang gk pernah peka sama kebutuhan rumah kayak beras yang abis atau keperluan mandi seperti sabun atau sampo yang abis.

Quote:“Kakakmu itu lho. Udah kerja bertahun-tahun gk ada sisanya sama sekali. Eh mbok ya sadar kalo berasnya abis, samponya abis bantu-bantu ibu kan bisa.”


Kira-kira begitu keluhan ibu ketika jengkel sama kak lana. Tapi anehnya, ketika ngomong langsung ke orangnya, gk berani ngomong kenceng kayak begitu. Kayak seolah-olah, ibu gk berani marah.

Quote:Ibu : “Mas, kamu kan udah jadi pegawai tetap. Sekarang dapet berapa gajinya?”
Lana : “Ya segitulah bu rata-rata.”
Ibu : “Trus sekarang punya tabungan berapa? Udah kerja 3 tahun masak gk sisa duit hasil kerja?”
Lana : “Ya abis bu buat makan tiap hari sama beli bensin.”


Sejak kerja itu, kak lana mulai muncul tabiat aslinya yaitu “PELIT”. Mungkin turunan dari ayah ane yang jarang kasih nafkah ke ibu dan anak-anaknya. Udah sering di sindir sama ibu tapi ane gk pernah liat sekalipun dia bantu kebutuhan rumah. Pernah suatu kali dia beliin ane baju buat lebaran, tapi itupun setelah ibu nyuruh dengan sedikit terpaksa.

-------

Sifat kak Lana ini sebenarnya beda jauh sama kak Irfan dulu ketika dia masih kerja di Jakarta jaga wartel. Tiap bulan sekali pasti dia telpon di rumah nanyain kabar sama nanyain kiriman uangnya udah sampe atau belum. Ane gk tau berapa jumlahnya tapi, ane denger obrolan kak Irfan sama ibu tentang kiriman uangnya.
Waktu itu ibu sempet muji-muji kak Irfan.

Quote:“Kak Irfan itu memang keras orangnya, tapi gk pelit sama orang tua.”


Celetukan ibu ini seolah curahan hatinya di mana bandingin sama kak lana sama kak Irfan. Kak lana memang pelit suara tapi juga pelit duit.

Tapi setelah kak Irfan pulang dan kuliah lagi, sifatnya mulai berubah apalagi setelah punya pacar. Tiap kuliah pasti pulang malem. Kalo ditanyain sama ibu jawabnya sibuk ngerjain tugas kuliah.

Quote:Setting : Malam hari setelah kak irfan pulang
Irfan : “Assalamualaikum.”
Ibu : “Waalaikumsalam. Dari mana kak kok baru pulang?”
Irfan : “Ngerjain tugas.”
Ibu : “Tugas apa kok sampe malem dan tiap hari sih kak?”
Irfan : “Ya tugas kuliah. Tugasku kuliah banyak.”


Kak lana juga denger percakapan itu. Dan besoknya dia ngobrol sama ibu.

Quote:Lana : “Paling si Irfan itu pacaran bu pulang malem.”
Ibu : “Masak sih? Lah katanya ngerjain tugas.”
Lana : “Gk ada tugas tiap hari dan dikerjain sampe malem begitu. Aku dulu juga pernah kuliah, gk pernah tuh dapet tugas sampe harus pulang malem-malem. Bohon dia.”


Yang bikin kak Lana sebel sama perilakunya kak Irfan pulang malem adalah pulangnya gk kira-kira dan hampir tiap hari terutama hari kerja. Dia bisa pulang seenaknya jam 11, atau bahkan sampe jam 3. Ketika kak Irfan pulang pasti harus ketuk-ketuk pintu dulu dan yang bukain pasti kak lana karena dia seringnya tidur di ruang tengah depan tv. Karena itu dia sering kebangun dan merasa kalo jadi tidurnya gk nyenyak. Jadinya kalo berangkat sering ngantuk karena kalo udah kebangun jadi susah tidurnya.

Ane pun juga ane dengan sifatnya kak Irfan, dulu yang perhatian sama ibu tapi sejak kuliah malah jadi gk karuan. Pernah sekali ane tanya, kenapa dia sering pulang malem dan ternyata jawabannya berbeda.

Quote:Ane : “Kak kenapa tho kok seneng pulang malem.”
Irfan : “Aku tu bosen di rumah gk ada apa-apa. Pengen cari kegiatan di luar. Lagian pas dulu aku di Jakarta pulang jam segini tu biasa gk malem-malem banget.”


Ane cuman bisa diem denger jawabannya. Mana yang bener, apakah ngerjain tugas atau memang dia seneng main.

---------

Dari itu ane bener-bener sebel sama kakak laki ane. Semuanya gk ada yang paham sama sekali kondisi keluarga. Mereka asik sendiri dengan aktivitas masing-masing tapi masih tinggal dan makan sama ibu. Kak Lana yang udah kerja tapi gk tau uangnya kemana. Yang ane tau dia sering utak-atik motor hampir tiap hari. Mungkin duitnya abis buat beli sparepart atau aksesoris motor. Satunya tiap hari pulang malem keluyuran gk jelas kemana.

Untungnya masih ada kak Mila. Meskipun dia kuliah di kampus yang sama dengan kak Irfan, gk pernah dia balik malem. Paling pulang sore kalo itu ada kelas sore, tapi itupun gk setiap hari. Sejak kak Mila masih di bangku SMA, dia udah sering bantuan ibu buat baju. Sampe kuliahpun juga masih bantu buat baju. Dia gk ikut kegiatan apapun di kampusnya karena seringnya bantu kerjaan ibu dan bantu kerjaan di rumah.

Kegiatan rumah kek nyapu, nyuci piring, dan nyuci baju dibantu sama kak Mila. Asal agan tahu aja ya gan, kakak-kakak ane semua tuh gk ada yang mau nyuci baju sendiri. Jadilah baju-baju mereka dicuciin sama ibu atau kak mila, meskipun satunya udah kerja dan satunya udah kuliah. Sebernya ane juga sih masih dicuciin juga, tapi ane kadang dimintain tolong buat ngangkatin baju ke depan dan bantu jemur baju juga. Ya paling engga ane masih mau lah bantu-bantu dikit.

Selama ane masuk di SMA M, tante Retno jadi sering main ke rumah. Biasanya pesen baju ke ibu atau minta dibuatin proyekan seragam. Tante retno memang tau kondisi keluarga ane, di mana ibu berusaha nyukupin kebutuhan keluarga “sendirian”. Nah suatu hari nawarin proyekan baru di sekolah.

Quote:Tante : “Mbak bisa masak nasi bungkus gk?”
Ibu : “Nasi bungkus gimana tante?”
Tante : “Itu lho nasi bungkus yang dijual di kantin-kantin sekolah. Dibungkus kecil-kecil paling 2 atau 3 ribuan.”
Ibu : “Oh kalo begitu mah bisa.”
Tante : “Bisa ya? Jadi begini di sekolah kan biasanya ada yang nyetok nasi bungkus. Tapi sekarang gk jualan lagi. Mbak kalo mau bisa buat nasi bungkus bisa di jual di sana. Gimana mau gk? Kalo mau nanti tak uruske biar bisa dijual di sana.”
Ibu : “Boleh-boleh mbak. Lumayan nanti bisa buat tambah-tambah.”


Nah sejak itulah kegiatan ibu jadi tambah lagi. Tiap sore belanja di pasar beli sayur, bihun, tahu sama tempe. Nanti besok subuhnya di masak. Kemudian paginya dibungkusin satu-satu. Diantara ke 4 anaknya, gk ada yang bantu kecuali kak Mila. Kebetulan kak Mila cuman ambil D3 jadi pas ane kelas 1 SMA dia udah tinggal TA gk terlalu banyak kuliah.

Biasanya ane sarapan juga dari lauk nasi bungkus itu juga. Kemudian nasi siap di bawa sekitar jam 8 setelah selesai dibungkus semuanya. Dan yang bawa juga ibu dianterin sama kak mila. Kadang sepulang dari nganterin nasi, kak mila sering cerita digodain sama anak-anak di sini. Kayak ditanyain “Cantik-cantik kok jualan nasi sih mbak?”, “Rumahnya di mana mbak?” ya khas anak-anak SMA. Biasanya yang berani begitu pas di kantin kelas 2 dan 3. Kalo di kanti anak-anak kelas 1 mah belum ada yang berani, masih lugu-lugu.

Dari situlah ane sadar gk selama orang tua itu dewasa sedangkan orang yang lebih muda itu masih seperti anak-anak.
Diubah oleh ributbinribet
profile-picture
profile-picture
g.gowang. dan xksal memberi reputasi
2 0
2
C[d]erita Anak Bungsu ( Love vs Family )
27-02-2020 21:33

Part 9 : Bukan Masa Indah

Mungkin bagi sebagian besar orang, masa SMA adalah masa indah. Tapi hal ini keknya gk berlaku buat ane. Beda sama kakak-kakak ane pada saat mereka SMA, ketika ane SMA cuman ada motor 2 di rumah, 1 dipake buat kak lana kerja dan 1 dipake buat berempat (ibu, kak Irfan, kak mila sama ane). Tentu sajalah ane gk bakal kebagian, secara waktu itu kak Irfan sama kak mila masih kuliah. Ibu bahkan kalo pergi ke pasar atau ke toko bahan pake sepeda.

Sedangkan ane pilihannya cuman 2, mau berangkat naik sepeda apa naik angkot. Kadang kalo pagi bisa dianterin, tapi yang cuman bisa nganterin kak mila karena dia yang bisa dan mau ngater ane sekolah. Kalo naik sepeda kayaknya gk mungkin karena jaraknya terlalu jauh dan sepedanya juga gk mendukung karena udah gk nyaman banyak yang rusak. Jadilah ane kadang dianter atau kadang naik angkot.
Kalo naik angkot sebenarnya cuman cukup naik sekali aja. Tinggal jalan sekitar 100 meter ke luar gank, ntar naik angkot bisa langsung turun depan sekolah. Tapi kalo pulang harus naik 2 kali. Kadang kalo uang saku udah abis, yang mau gk mau setengah perjalanannya ane jalan kaki ke rumah. Kalo jalan sih sekitar 20 menit jaraknya sekitar 2km. Kalo pulang jalan mesti ketauan sama ibu karena ngos-ngosan.

Quote:Ane : “Assalamualaikum”
Ibu : “Waalaikumsalam. Kok baru pulang?”
Ane : “Iya tadi nunggu angkotnya lama.”
Ibu : “Lah itu kenapa ngos-ngosan bajunya basah keringetan? Pulangnya jalan ya?”
Ane : “Hehe… Iya bu.”
Ibu : “Kenapa gk sekalian naik 2 kali aja?”
Ane : “Abisnya lama sih angkot merah, jadinya sampe matahari jalan aja dari pada capek nunggu. Lagian itung-itung olahraga.”


Alasan paling ampuh buat bohon sama ibu kenapa ane pulang jalan kaki, karena nunggu angkot lama atau alesan pengen sehat. Padahal gk punya duit.

------

Jangankan minta motor, ane sendiri waktu itu gk berani minta tas atau seragam baru. Masuk SMA pertama dulu seragam ane dibuatin sendiri sama ibu, dan tas yang ane pake juga tas selempang punya kak mila. Tapi waktu itu ane bener-bener pengen punya HP sendiri. Gk enak rasanya kalo tiap kali sms pinjam hp kak lana. Ketika kelas 3 dulu ane sempet nabung hampir setahun. Akhirnya ketika ane masuk SMA, barulah punya duit cukup buat beli hp. Dulu sih gk muluk-muluk, asal hpnya berwarna sama undah poliponik. Akhirnya ane ngajak kak Lana buat nganterin beli HP.

Quote:Ane : “Kak anterin beli hp donk.”
Lana : “Beli HP? Emangnya kamu punya duit berapa?”
Ane : “Punya 700 ribu.”
Lana : “Ya udah ayok.”
Jalanlah kita berdua naik motor di salah satu counter hp deket alun-alun
Lana : “Mau hp merek apa?”
Ane : “Apa ya? Bingung nih, yang penting udah berwarna sama poliponik.”
Lana : “Ya udah sana pilih-pilih aja dulu.”
Ane : “Kak ini aja deh yang LG. Kayaknya bagus deh.”
Lana : “Oh ya udah coba di liat dulu, kalo cocok ya beli aja.”


Setelah di coba akhirnya ane memutuskan beli itu hp LG seri KG275. Cuman kayaknya ane berkhayalnya ketinggian deh. Maksud ane ngajak kak lana selain dianter, siapa tahu juga ditambahin berapa gitu buat dapet yang bagus kek Samsung. Eh ternyata ya bener-bener cuman nganter. Emang bener PELITNYA kebangeten.

-----

Baru 1 bulan masuk SMA, udah ada aja duit yang harus dikeluarkan. Pagi itu wali kelas ane Bu Nana memberikan pengumuman.

Quote:Bu Nana : “Assalamualaikum, selamat pagi.”
Anak Kelas : “Waalaikumsalam, selamat pagi bu.”
Bu Nana : “Oh ya sebelum kelas dimulai, ibu ada pengumuman. Karena besok kelas XI ada study tour, nanti bagi yang mau ikut bisa mulai menabung untuk biaya study tournya. Nanti bisa ambil kartu tabungan di kantor Tata Usaha."
Ane : "Bu, mau tanya kalo misal gk ikut study tour berarti kita gk perlu nabung kan?"
Bu Nana : "Sebenernya gk wajib. Tapi kalo bisa ikut nabung aja, siapa tahu nanti bisa ikut."


Melihat kondisi ekonomi di rumah, kayaknya gk mungkin deh kalo ane minta uang tambahan. Ibu udah kembang kempis nyari duit sendirian, gk tega rasanya kalo harus minta lagi cuman buat jalan-jalan.

Selama kelas 1, ane bisa dapet tambahan uang saku karena sering ikut Olimpiade. Entah karena ane memang dianggap pinter atau karena ane keponakan dari salah satu guru di sini, jadi kalo ada Olimpiade ane selalu aja didaftarin langsung. Karena di SMA ini jumlah anak-anak yang "pinter" terbatas, jadi setiap yang pinter harus mau ikut lomba atau Olimpiade. Pernah waktu itu ane harus ikut 2 olimpiade sekaligus, Matematika sama TIK. Karena dapet uang saku, ane seneng-seneng aja. Tapi itu latihannya yang bikin capek, seminggu bisa 4 kali pas jam terakhir.

Gk hanya Olimpiade, ekstra kulikuler di sekolah ane dulu kekurangan anggota. Ane masih inget banget waktu itu sempet dikejar-kejar pembina PMR sama Pramuka. Tapi akhirnya ane ambil pilihan di Pramuka karena sebagian besar temen-temen cowok ane sekelas ikut Pramuka. Kalo PMR biasanya yang ikut anak-anak cewek.

-------

Karena sekolah ini merupakan sekolah berbasis agama swasta, jadi SMA ane punya gerakan kepanduan sendiri yang sering disebut sebagai HW. Yang paling mencolok dari gerakan kepanduan ini adalah warna seragamnya. Jika Pramuka berwana coklat, seragam HW ini memiliki atasan warna hijau lumut dan bawahan hijau dongker. Selain itu materi yang diajarkan mirip atau relatif sama dengan Pramuka.

Pada semester 1, semua anak-anak diwajibkan untuk ikut latihan HW. Kalo gk salah hari latihan setiap hari sabtu. Namun pada semester 2, terserah kita mau tetep ikut HW atau pindah ke ekskul yang lain. Pada semester 2 ini pada awalnya ada sekitar 4 kelas yang gabung. Tapi setelah jalan 2 bulan, akhirnya tinggal sekitar 4 regu yang masih aktif.

Denger-denger sebelumnya kepanduan HW di sekolah ane udah mati selama beberapa tahun. Namun sejak ada pembina baru setahun lalu, HW di sini mulai berkembang lagi. Tahun lalu sekolah ane mulai lagi ikut aktif kegiatan Pramuka nasional seperti jamboree dari tingkat kabupaten hingga tingkat provinsi.

Ane paling suka waktu itu sama pembinanya karena orangnya yang supel dan aktif. Namanya pak Nanta. Umurnya kurang lebih sama dengan kak Lana. Dia di sini sebenarnya guru BP, tapi dapet tugas untuk jadi pembina HW. Dan ketika ane masuk, ini adalah tahun kedua Pak Nanta jadi pembina. Salah satu yang membuat ane betah dan kuat adalah Pak Nanta. Entah kenapa yang dulu ane gk terlalu berminat di Pramuka, kini jadi seneng ikut kegiatan lapangan. Ane serasa dapet temen baru dan sosok ayah yang jadi "pembimbing" ane selama SMA.
profile-picture
g.gowang. memberi reputasi
1 0
1
C[d]erita Anak Bungsu ( Love vs Family )
27-02-2020 22:38
ijin gelar tiker dan mantengin tritnya ya gan emoticon-Nyepi
---
Keep update gan emoticon-Angkat Beer
Diubah oleh g.gowang.
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
C[d]erita Anak Bungsu ( Love vs Family )
27-02-2020 23:16
keep update gan , tetap semangat menjalani hidup yang bar bar emoticon-Cendol Gan emoticon-Ngakak
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
C[d]erita Anak Bungsu ( Love vs Family )
28-02-2020 09:31

Part 10 : Anak Kemaren Sore

Salah satu alasan ane pengen punya HP sejak SMP adalah karena cewek. Pas ane SMP, banyak banget temen-temen ane yang udah bawah hp kek N-Gage, 6600, 7610, dan masih banyak macemnya. Padahal dirumah cuman ada 1 hp 3315, itupun dibawah sama Kak Lana buat kuliah. Alhasil, ane termasuk anak kasta bawah yang agak dipandang sebelah mata sama anak-anak populer. Dulu juga puspa waktu itu punya HP karena dia kadang dijemput bapaknya pas pulang sekolah. Tapi karena ane gk ada HP, jadi gk bisa deh PDKT.


Tahun 2007 waktu itu belum ada medsos kek facebook, whatsapp, dan kawan-kawannya. Paling mentog ke warnet main Friendster. Cara paling ampuh buat PDKT ya cuman lewat sms. Biasanya kalo lagi ngincer cewek, pasti nyari nomor yang sama operatornya biar lebih murah, sukur-sukur dapet gratisan. Karena itulah ketika SMA, ane ngebet banget punya HP sendiri.

-------

Ketika ane masuk SMA ini, ane sempet kecewa karena gk bisa satu sekolah sama Puspa. Tapi karena itu juga ane paham pepatah "masih banyak ikan di lautan." Ane gk nyangka ternyata di SMA ini juga ada beberapa cewek yang cakep. Dan hampir semuanya adalah lulusan dari beberapa SMP di luar kota, perbatasan antara Kudus, Demak, Jepara. Daerah perbatasan ini memang letaknya aga jauh dari kota, tak jarang ada beberapa lulusan SMP di sana lebih memilih sekolah di SMA ini.

Salah satu alasan ane mau ikut HW ini adalah karena ane salah satu cewek yang ane taksir juga ikut HW. Sebut saja namanya Lira. Lira ini merupakan salah satu anak perantauan dari luar kota yang sekolah di sini dan juga ikut mondok. Ya memang yayasan ini selain punya sekolah, juga ada pondok namun khusus untuk cewek. Ya waktu awal-awal biasa lah gan kita SMSan, entah pura-pura tanya tugas atau pr. Hubungan ane waktu itu lumayan deket karena dulu ane masuk panitia buat hias kelas baru. Waktu pertama masuk kelas 1, sempet ada pemilihan ketua kelas. Kandidatnya adalah ane, lira dan galih. Tapi ane gk masuk, Galih jadi ketua kelas dan Lira jadi wakilnya. Sedangkan ane cuman jadi sie keamanan. Tugas pertama kami setelah struktur organisasi kelas dibentuk adalah hias kelas. Sejak saat itulah hubungan ane tambah deket.

-----

Sejak ane punya HP sendiri, ane sering SMSan sama Lira. Gk mesti tiap malem sih, tapi mungkin sektitar 2 hari sekali.

Quote:Ane : “Assalamualaikum. Lira besok perlengkapan buat hias kelas apa aja yang perlu tak bawa?”
Lira : “Waalaikumsalam. Besok kamu bawa aja kuas cat sama tempatnya. Tadi sih udah aku sms si Galih buat beli catnya.”
Ane : “Ok. Jadi kita mulai abis sekolah ya? Tapi nanti kalo gk selesai gimana, bisa lanjut hari minggu?”
Lira : “Iya habis sekolah aja. Kalo bisa sih sabtu itu selesai tapi kalo belum ya terpaksa hari minggu lagi.”
Ane : “Tapi kamu aja yang ngajak anak-anak. Kale aku nanti gk mau, kan aku cuman sie keamanan.”
Ibu : “Dek makan dulu, itu udah ibu beliin sop.”


SMSan ane tinggal buat makan. HP ane taroh di atas meja di ruang tamu.
Skip…skip….
Setelah makan, ane mau lanjut tuh SMSan sama Lira, belum masuk ke PDKT soalnya masih pembukaan.

Tapi pas ane balik ke ruang tamu, hpnya gk ada. Ane cari muter-muter serumah gk ketemu di kamar ane, ruang tv, meja makan, dapur. Tinggal satu ruangan yang belum, kamar kak Irfan.

Quote:Ane : “Lho kak, HP ku kok ada di sini?”
Irfan : “Iya, tadi tak pinjam.”
Ane : “Pinjem buat apa?”
Irfan : “Pinjem aja masa gk boleh sih, pelit banget.”
Ane : (sambil cek hp) “Ini kenapa SMA baru dibuka semua? Ngapain sih buka-buka sms segala? INI TUH PRIVASI.”
Irfan : “EH DASAR BOCAH KEMAREN SORE. BARU PUNYA HP AJA SEGALA GAYANYA SELANGIT. PAKE NGOMONG PRIVASI-PRIVASI SEGALA. EMANG TAU PRIVASI APAAN? ANAK KECIL AJA SOK-SOKAN.”


baik banget deh kalo ane inget. Malah ane kena semprot. Ibu ane yang denger cuman diem aja kayak gk terjadi apa-apa. Udah gk beliin HP sok-sokan minjem segala. Gedek banget kalo inget rasanya. Kayak-kayaknya ane gk pantes buat sekadar ngomong “privasi” karena ane "anak kecil".

Beberapa kali ane sempet debat sama kak Irfan gara-gara masalah sepele yang ujung-ujungnya di marah-marah gk jelas gitu. Tapi tiap kali marah, ibu pun gk berani negor dia.

Pernah suatu kali ane, ibu sama kak Irfan lagi ngobrolin suatu masalah. Masalah ini berhubungan sama ibu ane yang dulu kadang gk enak kalo ngasih harga jasa jahit kemahalan.

Quote:Ane : “Bu, mbok ya ongkos jaitnya itu agak dinaikin. Biar ibu dapet tambahan.”
Ibu : “Ibu tuh bingung dek, nek tak kasih harga tinggi nanti khawatir pelanggan komplain kemahalan.”
Ane : “Lah ibu apa gk capek nanti jahitnya banyak dapetnya sedikit.”
Kak irfan langsung motong.
Irfan : “Kalo mikir tuh pake logika. Nanti kalo mahal-mahal malah pada pindah ke penjahit lain.”
Di sini ane mulai emosi karena kak Irfan bawa-bawa logika.
Ane : “Lah aku mikir gk pake lokiga kok. Aku mikir pake perasaan kasian ibu kerja capek-capek dapetnya sedikit.”
Irfan : “EH DASAR ANAK KECIL DIKASIH TAU MALAH NANTANG. KAMU TUH TAU APA? ORANG MIKIR ITU YA HARUSE PAKE PIKIRAN PAKE LOGIKA.”


Mungkin karena ane udah mulai dewasa masuk SMA, ane sering sebrang pendapat sama kak Irfan. Kak Irfan juga sejak kuliah jadi lebih individualis, beda banget ketika dia dulu kerja merantau di Jakarta. Hampir kalo ada saran yang ane berikan jika gk cocok sama pendapat dia, pasti dibantahnya keras-keras. Entah itu masalah sepele atau masalah penting.
Diubah oleh ributbinribet
profile-picture
g.gowang. memberi reputasi
1 0
1
Post ini telah dihapus oleh KS06
C[d]erita Anak Bungsu ( Love vs Family )
29-02-2020 23:51
ikut ndeprok di mari gans


🙏🙏🙏
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
C[d]erita Anak Bungsu ( Love vs Family )
02-03-2020 00:22
ijin bangun kosan gan kyknya bakal rame emoticon-Big Grin
sekalian gembok dah emoticon-Ngakak (S)
0 0
0
C[d]erita Anak Bungsu ( Love vs Family )
02-03-2020 02:18
Ninggal jejak ah.. enak bahasa penulisannya. Kyknya kita beda 3 tahunan deh..

"Cari cewek yg seoperator" wkwkwk
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
C[d]erita Anak Bungsu ( Love vs Family )
02-03-2020 11:20
Bagus banget ceritanya emoticon-2 Jempol

Tolong bantuin rate dan sharenya dong
0 0
0
C[d]erita Anak Bungsu ( Love vs Family )
02-03-2020 13:25

Part 11 : Merah Putih tak Selalu Putih

Pada suatu hari di bulan Juni, ada pengumuman dari interkom sekolah bahwa seluruh anak-anak HW yang masih aktif disuruh kumpul di lapangan. Di kelas ane sendiri yang masih aktif HW tinggal 2 orang, ane sama Lutfi. Setelah itu kami langsung minta ijin ke guru yang sedang mengajar untuk turun menuju lapangan. Ketika sampe di depan kantor, ane liat ada Cewek dan Cowok pake setelan rapi. Mereka sedang ngobrol sama Ferdi dan ada seorang guru. Ketika ane lewat, samar-samar ane denger kalo mereka panitia seleksi dan si Cewek dulu adalah alumni dari SMA M ini.

Quote:Pak Nanta : “Assalamualaiakum, selamat pagi anak-anak. Hari ini kita kedatangan tamu dari Kodim kudus. Tahun ini kita mendapatkan jatah untuk menjadi Paskibra Kabupaten. Nanti kita akan melakukan seleksi untuk menentukan siapa saja nantinya yang akan menjadi perwakilan SMA kita.”
Ane : “Pak mau tanya, nanti yang dikirim jadi perwakilan berapa ya? Kemudian Proses seleksinya apa saja ya pak?”
Pak Nanta : “Pak Komandan, mungkin bisa dijelaskan untuk lebih detailnya, silahkan?”
Komandan : “Selamat pagi. Baik untuk jumlah perwakilan untuk SMA M adalah 2 orang. Untuk seleksinya nanti kita akan coba melakukan PBB secara bersama-sama. Ya kurang lebih hampir sama seperti latihan Pramuka. Jelas ya, bisa kita mulai selesksinya.”


Saat itu kurang lebih ada sekitar 18 orang yang ikut seleksi. Untung masih jam ke-2 jadi gk terlalu panas. Tapi sialnya ane gk bawa topi, jadi deh kepanasan. Tapi ane tetep semangat pengen lolos karena ane pernah dikasih tau sama tante Retno kalo mau kuliah gratis, sertifikat seperti ini sangat membantu. Sebenernya sebelumnya di bulan maret ane pernah ikut seleksi Paskibraka, tapi gagal karena nilai seni dan bakat yang kurang. Karena itu ane berusaha sebagus dan serapi mungkin selama seleksi.

Setelah 30 menit dapet aba-aba langsung dari komandan untuk PBB, akhirnya proses seleksi selesai.

Quote:Komandan : “Istirahat di tempat, grak!”
Komandan ; “Baik adek-adek, proses seleksi sudah selesai. Kami sudah menilai kemampuan adek-adek semua. Hasilnya nanti akan disampaikan oleh pak Nanta. Pak Nanta saya persilahkan.”
Pak Nanta : “Baik anak-anak. Hasil seleksi akan saya sampaikan setelah dilakukan penilaian oleh bapak-bapak dari Kodim. Bagi yang belum lolos jangan berkecil hati, karena nanti yang belum lolos akan tetap menjadi pasukan pengibar bendera di sekolah. Bagi yang lolos, saya harap untuk bersungguh-sungguh karena nanti akan dilatih langsung oleh Kodim selama 2 bulan.
Pak Nanta : “Untuk yang lolos mewakili sekolah kita sebagai Paskibra Kabupaten adalah Lutfi dan Bayu. Untuk kalian berdua mulai disiapkan fisiknya karena akan ikut pelatihan minggu depan.”


-------

Pagi ini hari senin adalah hari pertama ane sama lutfi mau berangkat ke Kodim. Untuk hari pertama ini kami harus ke sekolah dulu minta surat ijin dari sekolah. Karena mulai besok, kita berdua akan langsung ke kodim untuk latihan. Jadi biar gk dikira bolos sama guru-guru lain. Tapi ada yang aneh di pagi itu. Di surat disposisi ada 3 nama anak yang ijin, padalah jelas-jelas kemarin cuman 2 orang yang diseleksi.

Quote:Ane : “Fi, ini kok ada nama Ferdi di sini?”
Lutfi : “Iya ya. Bukannya kemarin cuman 2 orang yang diseleksi?”
Selang beberapa saat Ferdi datang menghapiri
Ferdi : “Hey, surat ijinnya udah belum ya? Kita nanti bisa telat dateng ke kodim.”
Ane : “Udah ini tinggal nunggu tanda tangan aja, nanti dibawa sama guru piket.”


Sejak hari pertama, kita udah mulai curiga gimana ceritanya si Ferdi bisa ikut kepilih. Padahal dia ini gk aktif ikut HW. Dia cuman aktif pada semester 1 karena wajib dari sekolah. Tapi sejak semester 2 dia gk pernah ikut HW. Nah, gimana ceritanya dia bisa nimbrung ketika seleksi Paskibra Kabupaten.

-----

Karena gk sekelas, ane sama lutfi gk terlalu deket sama Ferdi. Ketambahan juga si Ferdi ini orangnya sombong banget, kayak gayanya selangit. Karena itu ane sama lutfi jarang ngobrol atau bahkan duduk sebelahan sama dia pas latihan. Tapi anehnya, dia malah sering ngobrol bareng panitia. Panitia ini adalah alumni paskibra yang bantu proses latihan. Mereka bantu-bantu seperti konsumsi dan nyiapin materi untuk materi kelas pendidikan kewarganegaraan. Tapi akhirnya titik terang mulai muncul.

Quote:Lutfi : “Bay, balik yuk ke sekolah. Baru jam 10 nih. Lumayah dapet 2 jam terakhir biar gk ketinggalan.”
Ane : “Iya sih. Kita terlalu banyak ketinggalan pelajaran. Nanti malah susah belajarnya.”
Ane : “Ferdi, kamu mau balik ke sekolah gk? Kalo mau yok balik bareng.”
Ferdi : “Enggak ah. Ini masih nungguin kakakku?”
Ane : “Eh, kakak? Mana kakakmu?”
Ferdi : “Noh yang pake baju item, masih pada rapat panitia.”
Ane : “Oh. Ok. Kita duluan ya.”


Wah ternyata, dia adiknya salah satu panitia Paskibra Kabupaten. Cewek yang ditunjuk Ferdi ternyata sama dengan cewek yang dateng ke sekolah pas seleksi. Waktu itu Ferdi cuman ngobrol sama mereka dan gk ikut seleksi. Karena ini ane jadi curiga kalo Ferdi ini bisa masuk karena punya kenalan panitianya jadi bisa dengan gampang tambah namanya dia jadi salah satu anggota paskib. Ane gk nyangka bahkan dalam event yang formal seperti ini bisa aja diselipin unsur-unsur nepotisme.
Diubah oleh ributbinribet
0 0
0
C[d]erita Anak Bungsu ( Love vs Family )
03-03-2020 23:21

Part 12 : Bertepuk Sebelah Tangan


Hari itu ketua kelas, wakil, dan beberapa seksi kelas datang untuk mendekor kelas pada hari minggu. Setelah semuanya selesai, kita semua akhirnya pulang. Karena ane masih seksi perlengkapan, ane pulang belakangan. Saat keluar menuju gerbang sekolah, ane liat Lira sedang jalan sendirian masih di lapangan. Wah ini waktu yang pas untuk …..

Quote:Ane : "Lira, tunggu donk. Aku mau ngomong sebentar."
Lira : "Kenapa bay? Mau ngomong apa?"
Ane : "ehm….. m….. kamu…."
Lira : "Kenapa? Aku kenapa?"
Ane : "Kamu mau gk jadi pacarku?"


Ane masih inget betul, kita baru kenal sekitar 1 bulan, tapi ane udah berani nembak cewek. PDKT juga seadanya, paling ngobrolin tentang dekorasi kelas. Gk pernah juga ngajak makan atau jalan, secara dia anak merupakan anak pondok yang tinggal di asrama. Entah kenapa waktu itu ane berani untuk nembak.

Quote:Lira : "Apa..? Pacar?"
Ane : "Iya, gimana? Kamu mau gk?"
Lira : "Ehm… Gimana ya. Sebenernya ibuku gk mau aku pacaran sedini ini."
Ane : "Oh gitu. Ya udah deh gpp."
Lira : "Maaf ya bay."
Ane : "Iya gpp. Aku duluan ya."


Masih inget betul ane jawaban Lira waktu itu "Ibuku gk mau pacaran sedini ini." Karena ane pikir itu alasan yang masuk akal, jadi ane terima aja jawaban itu. Tapi karena ane udah ngomong, rasanya jadi lebih lega dan gk salting lagi di kelas. Jadi lebih biasa di kelas karena udah gk caper untuk gebetan.
Karena itu juga ane jadi lebih fokus ikut HW. Setiap kegiatan bisa ane lakukan dengan sepenuh hati. Gk ada harapan agar kelihatan keren di depan Lira. Sejak saat itu ane jadi paham maksud pak Lana. Ketika pertama memberikan pembinaan di HW selalu punya pesan.

"Jangan membuat keluarga kecil dalam keluarga besar."

-----

Setelah dua bulan berselang, tiba-tiba sekelas heboh. Kalo gk salah hari itu adalah hari senin pagi. Veri yang merupakan temen deket ane langsung memberi kabar ke ane. Dia satu-satu orang yang tau ane pernah ditolak sama Lira.

Quote:Veri : "Eh bay, tau gk kalo Lira jadian?"
Ane : "Apa? Jadian? Wah becanda kamu?
Veri : "Beneran serius. Suwer."
Ane : "Gk mungkinlah ver. Dia katanya gk boleh pacaran sama ibunya, katanya masih kecil."
Veri : "Dasar kamu mah yang gk pengalaman. Itu bisa-bisanya dia aja. Itu dia kemarin minggu ditembak sama Romi?"
Ane : "Beneran sama Romi? Berarti pasangan ketua sama wakil donk."
Veri : "Iya beneran, ngapain juga bohong."


Tak berselang lama, Romi dan Lira masuk kelas hampir bersamaan dan sekelas langsung "ciyeeee……" Sepertinya info dari veri memang bener. Respon anak-anak sekelas gk bisa dibohongin.
Sejak saat itu ane jadi sebel banget sama Lira. Ane yang terlalu polos percaya sama orang. Ternyata oh ternyata. Ane mulai paham kenapa dia lebih milih Romi. Romi ini merupakan salah satu anak yang dulu lulus dari SMP nomor 1 di kota ane. Posisinya mirip kayak ane yang lulus dari SMP favorit tapi nomor 2. Tapi bedanya di masuk ke SMA ini karena bapaknya adalah wakil kepala sekolah, sedangkan ane cuman lewat tante ane. Belum lagi dia bawanya motor Suz*ki Th*und*r. Ah, jauhlah sama ane yang cuman dianter, kadang naik sepeda, kadang naik angkot juga.
0 0
0
C[d]erita Anak Bungsu ( Love vs Family )
09-03-2020 16:32

Part 13 : Karma Monyet?

Sejak jadian sama Romi, Lira jadi gk terlalu serius dengan HW. Di sisi lain, ane sama lutfi jadi pentolan HW di sekolah. Dari mulai jamboree, persami, hingga Paskibra semuanya kita jabanin. Ane sama Lutfi pasti jadi anggota wajib dalam setiap kegiatan HW yang ada.

Setelah ujian kenaikan kelas, banyak waktu kosong seperti class meeting dan musim libur. Tapi khusus ane sama lutfi gk bisa ikut keduanya karena harus latihan Paskibra kabupaten jauh-jauh haris sebelumnya. Alhasil, kita jarang ketemu temen sekelas hampir selama 2 bulan. Kita gk tau info-info terbaru apa aja yang terjadi disekolah.

Sampai suatu hari …..

Quote:Veri : “Eh bay, bay tau gk kalo si Lira udah putus lho sama Romi.”
Ane : “Oh ya? Kok bisa. Emang kenapa putusnya?”
Veri : “Tau tuh kenapa. Tapi itu gara-gara mereka putus jadi ribut bapaknya Romi sama pengurus pondok.”
Ane : “Lah kok bisa?”
Veri : “kata anak-anak sih Romi ngadu ke bapaknya. Trus bapaknya gk terima gitu. Bapaknya maksa-maksa pengurus pondok buat ngeluarin Lira dari pondok.”
Ane : “Wah seru nih. Hahahaha…”


Karena cerita dari Veri ini, ane baru tau ada masalah ini. Dulu ane pikir Lira mau terima Romi jadi pacarnya karena anaknya wakil kepala sekolah. Eh sekarang giliran putus jadi tambah masalah gara-gara dia anaknya wakil kepala sekolah. Emang dunia itu berputar.

Ane masih inget Lira putus ketika setelah ujian kenaikan kelas. Karena tidak terlalu banyak kelas, akhirnya dedas desus itu menyebar dengan luas dimana wakil kepala sekolah berseteru dengan pengurus pondok. Bahkan ada beberapa temen HW yang sempet nanya ke ane tentang masalah itu karena mereka beda kelas. Tapi karena ane udah sibuk dengan latihan paskib, ane jadi gk terlalu banyak tau.

--------

17 Agustus 2008

Setelah lebih dari sebulan latihan, akhirnya hari H datang. Ane sama Lutfi udah siap di alun-alun simpang 7 sejak jam 6 pagi. Semua SKPD dari kota dan beberapa perwakilan sekolah mulai berdatangan pada jam 6.30. Anak-anak HW inti dan beberapa perwakilan dari SMA ane juga datang ikut upacara 17 Agustus di alun-alun kota.

Ane gk nyangka akhirnya bisa punya prestasi yang bisa membanggakan buat ayah ibu dan sekolah. Ya meskipun ane gagal seleksi paskibraka, paling enggak bisa ikut paskibra kabupaten jadi sedikit obat. Banyak orang tua anak-anak paskib yang ikut nonton upacara. Termasuk ibu ane yang juga pagi jam 7 udah ke alun-alun sama kak Mila. Ah rasanya bahagia banget liat ibu sama kak mila dada-dada dari samping ketika pasukan jalan keluar dari Pendopo kabupaten menuju ke alun-alun. Tapi sebelumnya kita semua udah di briefing kalo selama upacara kita harus “poker face”. Kita gk dibolehin nyapa atau ngomong. Paling maksimal hanya boleh senyum.

--------

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, selepas upacara nanti akan ada lomba Defile antar sekolah. Setiap sekolah terdapat perwakilan 1 kelompok untuk defile. Mereka akan melakukan defile di depan bupati yang panggungnya sudah di siapkan di salah satu sisi alun-alun. Pasukan defile nantinya akan jalan melewati panggung tersebut dan memberi hormat.

Karena upacara mengibarkan selesai, kami anak-anak paskib boleh bubar. Ane langsung aja nyamperin ibu sama kak mila yang udah ada di depan Toko Buku Hasan Putra di sebrang alun-alun. Sebelumnya ane sama ibu udah janjian ketemuan di sini setelah upacara. Ane bisa liat jelas senengnya ibu ane. Mungkin bahagia ibu karena ini kali pertama ada anaknya yang punya prestasi membanggakan jadi paskib.

Tapi tak lama berselang ane dipanggil sama lutfi di sebrang lapangan.

Quote:Lutfi : “Bay bay, sini bentar ini temen-temen mau pada foto nih.”


Dari sebrang ane liat ada Pak Nanta dan beberapa anak-anak perwakilan SMA buat upacara. Dan segeralah ane ke lapangan lagi buat foto bareng. Setelah ane naik nyebrang jalan, ane liat ternyata Lira juga ikut.

Quote:Pak Nanta : “Bayu, Lutfi sini foto dulu. Wah keren nih anak bapak. Tinggi-tinggi gede dan item-item. Hahaha. Alhadulillah sukses ya upacaranya.”
Ane : “Hehehe… Iya pak. Alhamdulillah berkat doa bapak juga.”
Pak Nanta ; “Lutfi sini foto dulu bertiga. Fia, minta tolong di fotoin ya.”
Fia : “Iya pak.”


….Cekrek…. Foto bertiga udah jadi. Dan….

Quote:Lira : “Bayu, Lutfi minta foto donk. Pengen ikut foto juga.”
Pak Nanta : “Ayuk sini, foto juga semuanya yang mau foto.”


Foto satu frame dengan Lira pun akhirnya terjadi. Sejak selesai upacara ini ada yang aneh sama lira. Dia mulai aktif ngajak ngobrol ane sama lutfi. Beda banget ketika dulu dia masih pacaran sama Romi. Sejak saat itu pun lira jadi lebih “friendly” sama ane dan bayu di sekolah juga. Kadang sering makan bareng juga di kantin. Ane gk tau sih kenapa Lira jadi lebih aktif begini, apakah memang karena dia habis putus atau karena ane yang jadi anak paskib waktu itu.

Tapi bagaikan kerbau di cocok hidung, ane mau aja dideketin sama Lira. Kita jadi lebih sering komunikasi kayak kelas 1 dulu. Rasa-rasanya udah ilang perasaan sebel ane sama Lira yang dulu katanya gk boleh pacaran tapi ternyata mau nerima Romi.
0 0
0
Halaman 1 dari 2
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
part-5-akdam-aku-dan-kamu
Stories from the Heart
everytime
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Personal
Stories from the Heart
koin-nasib-fontana-di-trevi
Stories from the Heart
jodoh-pilihan
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia