Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
387
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e4fcf409a972e05b10e0324/tulah-jasadnya-mati-dendamnya-beranak-pinak--based-on-true-story
Namanya Mas Adil (nama disamarkan), kawan dekat dari kakak salah satu admin The Dark Tales yang dulu pernah aktif berkegiatan sebagai relawan di salah satu organisasi sosial kemanusiaan yang lumayan gede dan punya anggota/relawan yang tersebar di kota-kota di pulau Jawa. Dan dari Mas Adil inilah cerita itu pertama kali kita denger. Cerita tentang pengalaman beliau waktu masih aktif di organisasi y
Lapor Hansip
21-02-2020 19:38

TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story

Past Hot Thread
Salam kenal semuanya, agan-agan kaskuser dan para penghuni forum SFTH...

Perkenalkan, kami adalah empat orang anonim yang berdasar pada kesamaan minat, memutuskan untuk membuat akun yang kemudian kami namai THE DARK TALES.

Dan kehadiran kami di forum ini, adalah untuk menceritakan kisah-kisah gelap kepada agan-agan semua. Kisah-kisah gelap yang kami dengar, catat dan tulis ulang sebelum disajikan kepada agan-agan.

Semua cerita yang akan kami persembahkan nanti, ditulis berdasarkan penuturan narasumber dengan metode indepth interview atau wawancara mendalam yang kemudian kami tambahi, kurangi atau samarkan demi kenyamanan narasumber dan keamanan bersama.

Tanpa banyak berbasa-basi lagi, kami akan segera sajikan thread perdana kami.

Selamat menikmati... 





Quote:Sebelum thread ini dimulai, ijinin kita buat sedikit cerita tentang gimana awal mula kita bisa bersentuhan dengan cerita ini.

Namanya Mas Adil (nama disamarkan), kawan dekat dari kakak salah satu admin The Dark Tales yang dulu pernah aktif berkegiatan sebagai relawan di salah satu organisasi sosial kemanusiaan yang lumayan gede dan punya anggota/relawan yang tersebar di kota-kota di pulau Jawa. Dan dari Mas Adil inilah cerita itu pertama kali kita denger. Cerita tentang pengalaman beliau waktu masih aktif di organisasi yang bersangkutan. Ngerasa tertarik, kita mutusin buat nelusurin lebih dalem lagi cerita dari Mas Adil yang emang beliau akuin sendiri enggaklah lengkap jika hanya mendengar dari sudut pandangnya saja.

Lalu, dengan dibantu Mas Adil, kita dipertemukan sama narsum-narsum lain yang bersinggungan langsung dengan kejadian yang terjadi pada waktu itu. Nyaris sebulan kita cuma denger-denger cerita doang, beberapa kali kita sempet coba buat ngelobi Mas Adil dan narasumber lain yang kita kenal supaya diajakin dateng langsung ke lokasi. Tapi selalu ditolak. Ada aja alesannya.

Hingga dua minggu berikutnya, Mas Adil menelepon salah satu admin dan iyain buat nganter kita ke lokasi kejadian. Yang lebih di luar dugaan lagi, kita dikasih kesempatan untuk dengerin cerita langsung dari sudut pandang warga sana dan dikasih tur singkat keliling lokasi.

Dan setelah kita denger semuanya, kesimpulan kita cuma satu; kisah ini beneran GILA! Yang ada di pikiran kita cuman kita harus tulis cerita ini dan cerita ini pulalah yang jadi penanda terbentuknya The Dark Tales.

Tapi, tentu aja, cerita ini enggak akan bisa kita share tanpa ijin dari semua pihak yang bersangkutan. Syukurnya mereka semua udah ngasih lampu ijo dengan syarat agar privasi tetap di jaga demi kebaikan bersama.

Quote:
Kisah ini berdasarkan kejadian nyata, berdasarkan penuturan beberapa narasumber, observasi yang sempat The Dark Tales lakukan di lokasi dan literasi tambahan. Beberapa penyamaran, penambahan dan pengurangan mengenai lokasi, nama tokoh dan alur cerita kami lakukan untuk kepentingan privasi dan keamanan.




TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story


INDEX

[size="4”]DENAH LOKASI CERITA[/size]



Diubah oleh the.darktales
profile-picture
profile-picture
profile-picture
iwun21 dan 77 lainnya memberi reputasi
72
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
22-02-2020 15:23

BAGIAN 2

Quote:Hujan turun untuk kedua kalinya.

Jam dinding di sudut sana menunjukkan pukul tujuh lebih lima menit.

Jari-jari Adil lincang menaik-turunkan layar ponselnya. Mencari-cari nama seseorang yang dia kenal, yang memungkinkan untuk dimintai bantuan di deretan daftar kontaknya. Jantungnya berdegup kencang akibat adrenalin yang bergejolak. Bagaimana bisa di tahun 2011 ini, masih ada orang yang memperlakukan ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) dengan cara yang tidak beradab seperti itu? Apalagi korbannya adalah seorang perempuan. Fakta itu menambah kegusaran yang dirasakan Adil.

Tak lebih dari dua menit, Adil menemukan nama yang dia cari. Seorang kawan sekaligus rekan sesama organisasi, dan kebetulan lokasi tempat tinggalnya lebih dekat dari tempat KKN Dea. Tanpa menunggu lebih lama lagi, dia segera memencet tombol PANGGIL.

"Halo, Eko? Lagi neng ngendi Ko? (Lagi dimana Ko?)"

"Halo, Adil. Piye Kabarmu, Dil? Biasa, aku masih di kota Y. Gimana, gimana?" Suara serak itu terdengar begitu ramah. Suara milik Eko, seseorang yang dia kenal ketika gathering organisasi setengah tahun lalu.

"Baik, Ko. Dadi ngene (Jadi begini) Ko, aku butuh bantuan evakuasi. Bisa? Tadi temen adikku telepon, katanya butuh bantuan evakuasi ODGJ yang dipasung. Lokasinya masih satu daerah sama tempatmu."

Eko terdengar antusias. Sama antusiasnya dengan Adil sendiri ketika pertama mendengar kabar itu dari Dea. "Boleh, boleh. Ini aku juga lagi ndak ada kegiatan. Kirimin saja nama lokasinya sama kontak temennya adikmu itu. Nanti biar aku cover."

"Namanya Dea, Ko. Nomornya nanti aku kirim lewat BBM wae. Lokasinya di Kabupaten G. Nama desanya Srigati Kecama..."

"Kosek, kosek (bentar, bentar)! Desa mana??"

Adil kaget omongannya dipotong seperti itu, apalagi dengan nada yang seperti kaget dan tak menduga. "Desa Srigati, Ko. Ngopo emangnya?"

"Sepurane, Dil. Aku ndak bisa kesana."

Dan panggilan diputus begitu saja.

Adil termangu di tempatnya duduk. Dia bingung setengah mati dan butuh waktu baginya untuk mencerna apa yang barusan terjadi. Adil mencari-cari jawaban, kenapa nada bicara Eko langsung berubah ketika mendengar nama desa itu. Apa yang salah? Apa yang membuat Eko begitu tiba-tiba keras menolak untuk memberi bantuan ketika mendengar nama desanya?

Tapi belum juga dia mendapat jawaban, ponselnya kembali berdering. Ada pesan BBM masuk. Dari Eko.

"Aku ndak mau ikut campur kalau udah menyangkut desa itu, Dil. Maaf."

BBM kedua masuk sepuluh detik kemudian.

"Lagian, ngopo kancane adikmu pecicilan tekan kono? Aku ra percoyo yen mereka mung KKN thok neng desa kui! (Lagian, kenapa teman adikmu itu pecicilan sampai ke sana? Aku tidak percaya kalau mereka cuma KKN di desa itu!) Dan saranku, kamu mending ndak usah ikut-ikut campur...”

Belum juga dia menemukan jawaban atas kebingungan-kebingungan sebelumnya, kini ada pertanyaan lain yang menghantam kepala Adil...

ADA APA SEBENARNYA DENGAN DESA ITU?



Quote:Karena memang pada awalnya, nama desa Srigati bahkan tidak disebut dalam proposal KKN mereka. Program kegiatan hanya meliputi tiga desa, dan untuk tempat tinggal dan program utama mereka dipusatkan di satu desa yang paling besar yaitu desa Jatiasih (bukan nama sebenarnya). Dua desa lain yang lebih kecil, yaitu dusun Waru dan Giriwatu (bukan nama sebenarnya) hanya mendapatkan program minor karena dua daerah itu secara lokasi dianggap sebagai desa satelit dan tak bisa dipisahkan dari Jatiasih itu sendiri.

Selain itu, ketiga desa tersebut memiliki kesamaan. Daerahnya berupa perbukitan dan pegunungan kapur yang tandus. Setiap musim kemarau datang, dapat dipastikan para warga harus bersiap menghadapi kekeringan dan kesulitan air bersih. Begitupun di bidang pertanian, tak banyak yang bisa diharapkan. Mereka hanya menggarap tanah ketika musim penghujan tiba, itupun hanya beberapa komoditas seperti jagung, ubi atau singkong. Selain itu tak ada yang bisa mereka lakukan. Para orang tua memilih mengurus ternak, yang muda nekat merantau ke kota.

Dari hasil observasi awal, ternyata sudah ada tiga kali KKN yang dilakukan di Jatiasih. Dua yang awal bahkan dari kampus yang sama dengan kampus Dea. Jadi, otomatis mereka tinggal melanjutkan program-program yang dulu sudah dijalankan. Seperti perbaikan saluran air dan pipanisasi serta edukasi tentang potensi lain yang bisa digali dan dikembangkan di daerah mereka.

Dua minggu berlalu, semuanya berjalan sesuai rencana. Warga dan Pak Kusno, Kepala Desa Jatiasih, begitu ramah dan kooperatif. Lalu hari itu tiba...

Malam dimana Gilang menarik tangan Dea. Mengajaknya menyingkir sejenak dari anak-anak yang lain. Menuju ke halaman belakang rumah salah satu warga yang mereka tumpangi. Ada yang ingin dia bicarakan kepada Dea secara pribadi, karena dia pikir cuma Dea-lah yang bisa diajak diskusi soal ini.

"Jadi begini De...di sebelah selatan desa ini ada satu Dusun. Kemarin aku ndak sengaja kesana pas jalan-jalan. Aku lihat dusun itu sepertinya lebih butuh bantuan."

Dea sedikit kaget. Baginya ini terasa begitu tiba-tiba. "Dusun apa sih, Gil? Kemarin pas diantar keliling Pak Kusno, seingatku di selatan Jatiasih cuma ada Dusun Waru dan abis itu hutan."

Gilang menelan ludah. Dia tampak ragu melanjutkan kalimat berikutnya. "Habis hutan itu, De. Kan ada jalan itu, jalan kecil yang diplester semen. Ingat, kan?"

"Maksudnya jalan masuk hutan?? Dusun itu masuk hutan??"

Gilang jadi tambah ragu. "I..Iya. Tapi ndak jauh kok. Masuknya paling dua kilometer aja. Habis itu udah ketemu sama gerbang dusunnya."

Kamu juga ngapain jalan-jalan sampai sana sih, Gil? Batin Dea. Tapi itu tak ditanyakannya langsung.

"Besok kamu lihat sendiri deh, De. Tapi berdua aja. Jangan bilang anak-anak yang lain dulu. Pak Kusno juga."

Dahi Dea berkerut. Dan sepertinya Gilang paham kalau lawan bicaranya itu curiga kepadanya.

"Ora-ora yen kowe tak perkosa! (Enggak-enggak kalau kamu aku perkosa!) Kamu tahu sendiri kan aku udah punya pacar!"

Dea menyeringai. "Tapi pacarmu ndak ada disini, kan?" Ucapnya sambil berbalik badan dan masuk kembali ke dalam rumah.


Quote:Dan entah apa yang merasuki Dea, besoknya, di sore setelah mereka kabur sembunyi-sembunyi dari kegiatan kerja bakti bersama warga Jatiasih, dia sudah duduk di jok belakang motor Gilang.

"Udah? Ayo berangkat..." Gilang menoleh ke belakang sambil melempar senyum. Tampaknya anak ini sudah siap membawanya pergi ke dusun antah berantah itu.

Dea hanya menjawab dengan anggukan kepala, dan motor Gilang melaju meninggalkan markas KKN. Walau pikiran-pikiran jelek itu masih nongkrong di kepala, tapi setidak-tidaknya Dea sudah pasang tameng untuk kemungkinan-kemungkinan terburuk. Dan terlepas dari itu, semalaman tadi Dea terus berpikir; kenapa Gilang begitu tertarik dengan dusun itu, dan kenapa tak boleh ada orang lain yang tahu? Bahkan Pak Kusno kepala desa...

Dan tak lebih dari sepuluh menit perjalanan melewati Jatiasih dan Waru, Gilang menghentikan tarikan gasnya tepat di depan sebuah hutan jati yang terakhir kali Dea lihat di hari pertama mereka datang ke Jatiasih. Ketika itu Pak Kusno mengajak seluruh anak-anak KKN berkeliling sambil memberikan penjelasan singkat tentang keterkaitan antara Jatiasih dan dua dusun di sekelilingnya. Kalau mau pengabdian di Jatiasih, maka otomatis Waru dan Giriwatu harus masuk juga dalam proker mereka. Begitu kata Pak Kusno dulu.

Dan dari apa yang masih diingat Dea, tur singkat itu berakhir di sini. Tepat di tempat dimana saat ini motor Gilang berhenti.

"Kenapa berhenti, Gil?"

Di hadapan Dea kini terbentang sebuah hutan yang dipenuhi deretan pohon-pohon jati raksasa yang nyaris semuanya meranggas. Hanya ada beberapa daun yang masih bertahan, seolah menolak gugur di tengah gersangnya tanah ini. Dahan-dahannya meliuk, menyeramkan, seakan tampak seperti figur ratusan manusia raksasa yang sedang menari. Dan di antara rapatnya deretan pohon-pohon itu, nampak satu jalan kecil yang diplester dengan semen membelah lebatnya hutan.

Memori-memori di hari pertama itu terputar kembali di kepala Dea. Bagaimana di tempat ini dulu, Pak Kusno menghentikan langkahnya. Mengehela nafas panjang sambil membenarkan posisi kopiah warna hitam yang selalu dipakainya itu. “Ini adalah batas dusun Waru. Saya harap adik-adik ini mampu memaksimalkan program kerja dan selalu ingat untuk menjaga diri dan lingkungan. Tetap fokus dan jangan aneh-aneh. Batas kalian di sebelah selatan adalah hutan ini. Jadi saya ingatkan sekali lagi...”

Butuh beberapa saat bagi Dea untuk mengingat utuh kalimat terakhir dari Pak Kusno.

“...jangan melewati batas!

Sekarang, Dea benar-benar menyesali pilihannya. Tak ada hal lain yang dia inginkan kecuali segera berbalik ke Jatiasih. Bulu kuduknya meremang. Tapi belum juga sempat ia mengutarakan niatnya, Gilang lebih dulu angkat bicara.

"Jalan aspalnya cuma sampai sini, De. Habis ini kita masuk ke dalam sana..."

"Bentar, Gil! Aku ingat Pak Kusno pernah..."

"Wis, to! (Sudahlah!)" Gilang memotong omongan Dea, dan entah kenapa Dea tak memprotes sedikitpun. Sepertinya rasa takut itu lebih menguasai dirinya. "Pokoknya nanti di sana, bilang saja kita mau memeriksa sumber air untuk dialirkan ke Waru, Giriwatu dan Jatiasih. Bicara saja seperlunya."

"Gil, aku gak mau kalau..."

Terlambat. Gilang menarik kembali gas motornya kencang-kencang. Membiarkan mereka berdua ditelan hutan Jati yang bagi Dea seakan begitu luas dan tak memiliki ujung ini.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
a.rizzky dan 29 lainnya memberi reputasi
30 0
30
Lihat 6 balasan
Memuat data ..
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
21-02-2020 19:52

BAGIAN 1

Quote:Akhir Juli, 2011.

Adil masih mengingatnya dengan baik, bagaimana sore itu dia duduk terpaku di depan komputer di salah satu sudut rumah kontrakan berukuran 9 kali 16 meter yang dua tahun terakhir ini disebutnya sebagai kantor. Di luar hujan baru saja reda, tapi niat untuk segera pulang ke rumah sebelum hujan turun lagi itu belum juga datang. Tak peduli walau satu persatu rekannya mulai berkemas dan pulang ke rumah masing-masing.

Karena bagi Adil, tempat ini sudah seperti rumah kedua baginya. Tak ada yang lebih membahagiakan dibanding dengan berkutat dengan arsip-arsip kegiatan *** (Nama organisasi kemanusiaan, The Dark Tales tidak mendapat ijin untuk menyebutkannya) yang berderet di layar monitor seperti ini. Mensortir apa saja yang sudah, sedang dan akan dilakukan. Minggu ini masih ada dua kegiatan yang harus diselesaikan, belum lagi minggu berikutnya. Lalu tentang laporan kegiatan minggu lalu yang harus segera dikirimkan ke Pusat.

Adil menjatuhkan punggungnya ke sandaran kursi sambil mendesah berat. Dia lelah, tapi tak pernah menyesali pilihannya untuk menjadi relawan di tempat ini. Berkontribusi untuk kemanusiaan dan sosial. Terjun ke pemukiman kumuh di Kota sampai ke pelosok-pelosok desa yang membutuhkan bantuan, merupakan kepuasan batin tersendiri bagi Adil. Apalagi dia masih muda dan lajang. Uang masih belum menjadi prioritas utama.

Sampai akhirnya ponsel yang sejak tadi tergeletak di meja dan nyaris Adil lupakan keberadaannya, berdering dengan begitu kencang. Membuatnya nyaris terlonjak kaget dan membuyarkan fokusnya pada layar monitor. Dengan cepat dia raih ponsel itu, takut itu datang dari kantor pusat atau panggilan darurat lain.

Tapi hanya ada deret nomor yang tertampil di sana. Entah milik siapa, tapi yang jelas nomor itu tak tersimpan di buku teleponnya.

Adil sempat ragu untuk mengangkat. Apalagi dia teringat dua bulan lalu, ketika dia dan tim memberikan bantuan tandon air di salah satu desa di daerah Pantai Utara yang berakhir kisruh karena bersinggungan dengan atmosfir pemilihan kepala desa yang sedang panas-panasnya. Masalah memang sudah selesai, tapi bukan tak mungkin preman-preman bayaran itu masih berusaha mengincarnya.

Ah, itu cuma paranoid tak beralasan! Adil nekat mengangkat telepon dan mendekatkannya ke telinga.

"Halo, leres niki kalihan Mas Adil... (Halo, benar ini dengan Mas Adil?)" Suara di seberang begitu lembut. Seorang perempuan muda, tapi terdengar asing bagi Adil. "Ngapunten (Maaf) Mas, saya Dea. Saya dapet nomor Mas Adil dari Mas Febri. Kebetulan dia kating saya di Kampus."

Ah! Sekarang jelas sudah bagi Adil. Si penelepon yang mengaku bernama Dea ini adalah adik tingkat Febri, adik laki-lakinya, di kampus. Tapi dia masih penasaran, untuk apa anak ini sampai repot-repot meminta nomor Adil dan meneleponnya.

"Kata Mas Febri, Mas Adil aktif di *** (Organisasi Kemanusiaan terkait) ya Mas? Saya bisa minta tolong?"

Entah karena apa, tapi saat itu juga Adil langsung merasa tertarik. Mungkin karena Dea menyebut nama organisasinya, membuat Adil berpikir bahwa ini mungkin tentang kegiatan amal atau sejenisnya. "Oh, nggih. Ada apa, ya?"

"Jadi begini, Mas..." Ada jeda sejenak. Tapi terdengar cukup jelas di telepon bahwa Dea sepertinya sedang berbincang dengan orang lain di sana. Tapi entah apa yang mereka bicarakan. Seperti sedang berunding. "Sekarang ini saya lagi menjalani program KKN di daerah G**********. Sudah berjalan dua minggu dari satu bulan. Awalnya semua berjalan lancar. Tapi kok sekarang ada masalah di salah satu desa tempat kami menjalankan proker. Terus saya berunding dengan teman satu tim KKN, dan saya pikir Mas Adil bisa bantu kami..."

KKN? Apa hubungannya dengan organisasiku? Adil kebingungan. Apalagi lokasi KKN anak ini ada di daerah G**********. Jaraknya bisa memakan tiga jam perjalanan jauhnya dari sini. Tapi Adil kepalang dibuat penasaran.

"Masalahe opo? (Masalahnya apa?)"

"Sebenernya aku ndak yakin, Mas..." Dea terdengar ragu. "Tapi menurut Mas Adil, apa normal di jaman sekarang masih ada orang gila yang dipasung dan ditaruh di kandang kambing? Apalagi seorang perempuan."

Adil merasa dirinya tersengat seketika. Adrenalinnya naik ke ubun-ubun dengan begitu kilat. Rasa keadilan dan kemanusiaannya seakan dilukai, dan itu membuat darahnya bergejolak.
"Ora normal! Sama sekali ora normal kui. Wis bener kamu menelepon kesini! Sekarang kamu kasih tahu nama desanya apa, nanti aku minta back up relawan-relawan yang ada di G********** untuk bantu evakuasi." Spontan Adil berujar.

"Nggih, Mas. Nuwun. Nama Desanya Srigati (bukan nama sebenarnya), Kecamatan *****, Kabupaten G**********."


Quote:Dea menutup telepon dan menaruhnya kembali ke dalam kantong celana jeans. Dia sedikit menggerutu kesal sebelum memutar tubuh ke belakang. Ke arah sesosok pria berkacamata dengan rambut hitam lurus yang disisir ke samping dengan rapi, yang sedari tadi berdiri seperti orang bodoh di belakangnya itu.

"Kakaknya Mas Febri nyanggupin. Terus piye?" Dea bertanya, cenderung sedikit menuntut kepada kawan yang memakai almamater yang sama dengan yang dipakainya saat ini. Matanya mendelik tajam.

"Piye apane, De? (Gimana apanya, De?)" Pria itu tampak terbata-bata menjawab. Seakan dia sedang dihakimi oleh Dea.

"Piye apane ndasmu, Gil! (Gimana apanya kepalamu, Gil!) Ini semua gara-gara kamu!!" Dea tampak tak mampu lagi menahan emosinya. Bahkan dia mengacungkan jari telunjuknya ke arah dada Gilang, nama pria itu. Ketua tim KKN sekaligus mahasiswa yang paling dekat dengan Dea karena kebetulan mereka berasal dari Jurusan yang sama.

Bahkan Gilang sampai harus mundur beberapa langkah sambil melindungi dadanya dengan kedua telapak tangan. Seakan takut kalau Dea akan menghajarnya saat itu juga. "Sabar De, sabar. Kita lagi di pinggir jalan besar ini!"

Walaupun terbakar amarah, omongan Gilang barusan sedikit menyadarkan Dea. Mereka berdua kini sedang berada di pinggir taman alun-alun Kabupaten. Dia menyernyitkan mata, mengamati sekeliling. Benar saja, omongan nada tingginya barusan ternyata menarik perhatian beberapa orang yang berada di sekitar mereka.

Dea menarik nafas panjang-panjang. Berusaha menenangkankan hatinya yang sedang kacau balau. "Kok bisa kamu bilang kamu ndak mau disalahin? Sekarang siapa yang pertama usul buat masukin Srigati ke dalam proker? Siapa yang pertama punya inisiatif nekat datang kesana sembunyi-sembunyi walau sudah jelas dilarang sama Pak Kades??"

"Aku bakal tanggung jawab De, oke? Yang penting sekarang kamu tenang dulu, terus kita balik."

Dea melirik ke motor matic milik Gilang yang diparkir tak jauh dari tempat mereka berdiri. Membuatnya teringat teman-temannya yang lain yang kini sedang menunggu mereka kembali. Teman-teman yang berfikir bahwa Dea dan Gilang sedang pergi ke Kabupaten untuk membeli beberapa kebutuhan proker yang masih kurang. Padahal nyatanya, mereka berdua pergi jauh-jauh kesini hanya untuk meminta bantuan kepada siapapun yang bisa memberi mereka bantuan. Dea jadi merasa bersalah dan itu membuatnya marahnya kian menjadi-jadi kepada Gilang.

"Sopo wae sing ngerti soal Srigati selain kamu dan aku?" Dea bertanya dengan dingin. Bahkan dia tak memandang Gilang.

"Cuma aku dan kamu. ..aku yakin cuma aku dan kamu!”

Dea menghela nafas dalam-dalam. Berusaha menahan kesabaran. "Oke, yang sudah terlanjur mau diapain lagi. Tapi sekali ini aja, jawab aku dengan jujur, Gil..."

Dea mendekatkan tubuhnya ke Gilang. Berusaha mengintimidasi. "Apa niatmu sebenernya dengan memasukkan Srigati ke dalam proker?"

"Aku ndak punya niat apa-apa, De..."

Tapi jawaban itu malah membuat benteng kesabaran Dea runtuh seluruhnya. "Asu!! Ojo ngapusi aku!! (Anjing , jangan nipu aku!!) Kamu udah tahu Srigati bahkan sebelum kita berangkat KKN kan?!"

Gilang sepertinya tak mampu lagi menyembunyikannya dari siapapun, khususnya kepada Dea. Posisinya sekarang jelas terdesak. Dan suka atau tidak, dalam hati Gilang mengakui bahwa ini semua sudah terlampau jauh. Tak ada pilihan lain selain mengaku. "Aku nemu jurnal lawas di perpustakaan kampus, De. Jurnal tahun 1976 yang ngebahas soal Srigati. Tentang pertanian dan tanah yang ada di sana.”

Dea menyernyitkan dahi. Tak paham lagi apa yang ada di pikiran Gilang. “Bahkan kita bukan mahasiswa pertanian, Gil! Apa yang kamu cari di sana, heh?? Tentang apa jurnal itu?!”

“Tentang...” Gilang seperti menahan diri untuk tidak menangis. “Tentang paradoks tanah di sana. Bagaimana pada masa-masa paceklik mereka masih bisa panen jagung, ubi dan singkong, sedangkan desa-desa di sekitarnya mengalami kelaparan dan kesulitan air. Bahkan yang aku dengar, ada sawah yang...”

"Wis, ra usah kakean cangkem! (Udah, jangan kebanyakan mulut!) Sekarang ayo balik dan tunjukin ke aku jurnal itu!!"

Gilang menurut saja ketika Dea menggiringnya menuju motor.

"Kowe pancen asu, Gil..." Tutupnya sebelum motor melaju meninggalkan alun-alun Kabupaten.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rendicf dan 25 lainnya memberi reputasi
26 0
26
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
27-02-2020 15:31

BAGIAN 3

Maaf agan-agan semua atas telatnya update Bagian 3 dari Thread TULAH. Ada sedikit kendala tadi malam yang jadi penyebab melesetnya jadwal posting.

Silakan dinikmati...!!


Quote:Terakhir kali Dea merasakan ketakutan seperti ini adalah ketika dia berumur sepuluh tahun. Lift yang membawanya beserta bapak dan ibunya ke lantai tiga sebuah pusat perbelanjaan, tiba-tiba kehilangan daya tarik dan macet di tengah jalan. Suatu kejadian yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidup, tentang bagaimana sensasi terkurung di ruangan sempit selama lebih dari dua jam. Gelap, pengap dan merasa terancam.

Dan kini, trauma 12 tahun lalu itu mendatanginya lagi. Kali ini, bukan di lift atau ruangan sempit lainnya. Tapi di atas motor Gilang yang melaju kencang di atas jalan tanah sempit yang berbatu, yang membelah hutan jati. Hutan jati yang di kemudian hari mereka berdua kenal memiliki nama hutan Randuwangi.

Sensasinya sama. Dea merasa terkurung di tempat ini. Pohon-pohon jati yang meranggas ini seperti memiliki sepasang mata yang menatap tajam kepada dia dan Gilang. Seakan mengawasi keberadaan dua anak muda asing yang datang kesini tanpa permisi. Pun, dengan cara Gilang mengemudikan sepeda motornya seperti orang gila. Tak peduli bagaimana parahnya jalan yang kini mereka lewati, Gilang seperti hanya tahu cara menarik gas dan motor yang terus melompat-lompat tidak stabil. Semakin membuat Dea merasa tidak nyaman.

Tapi lidahnya sudah terlampau kelu untuk memaki dan tangannya benar-benar seperti enggan digerakkan untuk memukul kepala Gilang. Rasa cekam sudah terlanjur menguasai dirinya. Membuatnya kehilangan segala daya. Bahkan dia tak mampu berbuat apa-apa ketika dia sadar bahwa Gilang sudah berbohong soal jarak dua kilometer yang ia katakan kemarin malam. Dea merasa ini bahkan sudah lebih dari tiga kilometer dan belum terlihat tanda-tanda deretan pohon jati ini akan berakhir atau gerbang dusun Srigati terlihat di ujung sana.

"Gil..." Hanya itu yang keluar dari mulut Dea. Itupun dengan gemetar dan lebih seperti bisikan. Tenggelam dalam deru motor Gilang yang makin ugal-ugalan.

Tapi diluar dugaan Dea, ternyata Gilang mendengar panggilan itu. "Sabar, to! Dikit lagi...ini kita udah bener kok jalannya!"

Tidak! Dea berteriak dalam hati. Ini tidak benar! Bahkan semakin jauh mereka masuk ke dalam hutan, Dea semakin yakin bahwa apa yang sedang mereka lakukan ini adalah sesuatu yang salah. Apalagi sejak masuk tadi, tak sekalipun mereka berpapasan atau berbarengan dengan motor lain. Tak satupun, walau hanya sekadar orang mencari rumput.

Tetiba, Dea merasa rindu akan suasana markas KKN mereka di Jatiasih. Saat ini dia merasa tersesat, ketakutan, dan takut tak bisa lagi kembali. Tubuhnya lemas, dan makin lemas. NyEko saja dia kehilangan kesadaran sepenuhnya, andai Gilang tak memanggil namanya...

"De, Dea! Itu dusunnya...kita udah sampai!"

Motor perlahan-lahan berhenti. Dengan sisa tenaganya yang nyEko dihabisi oleh rasa takut dan trauma, Dea mendongakkan kepala dan memandang ke depan. Sebuah gapura besar dengan bentuk khas Jawa menjadi pembatas antara hutan jati dengan kebun jagung -yang pastinya- adalah milik warga. Di kejauhan, tampak panorama deretan rumah-rumah dan asap mengepul di jauh sana.

Di sini benar-benar masih ada sebuah dusun?? Dea bahkan tak percaya pada apa yang kini terhampar di depan matanya.

"Kita sudah sampai Srigati, De!"


Quote:Adil sadar dia tak bisa pergi ke Srigati seorang diri. Dia perlu untuk melihat keadaan di sana, setidaknya untuk kunjungan pertama. Penolakan yang diberikan Eko membuatnya terus berpikir; apa yang salah dengan desa itu, sampai seseorang yang Adil kenal punya jiwa sosial dan simpati tinggi seperti Eko memutuskan untuk tidak mau ikut campur dan mengabaikan kenyataan bahwa di sana ada seseorang -perempuan- yang butuh bantuan?

Kalau aku nekat pergi kesana sendirian dan ternyata desa itu adalah kampung begal, sama saja aku bunuh diri, Pikir Adil. Dia bisa saja menjadi seperti Eko. Memilih abai dan tidak peduli. Toh, proyek kegiatannya bulan ini saja sudah begitu padat. Tapi entah mengapa, telepon dari Dea kemarin membuatnya sampai tak bisa tidur. Bagaimana seorang perempuan yang membutuhkan bantuan atas penyakit jiwanya, malah dipasung kedua kakinya di kandang kambing? Manusia-manusia macam apa yang tega melakukan dan membiarkan sesuatu yang bagi Adil tidak beradab itu terjadi? Pertanyaan-pertanyaan itu seakan menjelma menjadi hantu yang menggentayanginya semalam suntuk.

Adil harus kesana, untuk kemanusiaan. Dia sudah memutuskan. Tapi dia juga tak mau gegabah. Adil harus mencari satu teman dari sini, orang yang multifungsi; tak cuma bisa menjadi teman, tapi juga kemampuan dan pengetahuan yang berguna di sana nanti.

Dan alasan itulah yang lalu membawanya ke sini, pagi ini. Di lobi gedung fakultas Psikologi sebuah kampus ternama di kota ini. Hanya dengan ditemani ponsel digenggaman dan tas pinggang warna coklat andalannya, Adil menunggu di ruang tunggu. Sesekali dia melongokkan kepala ke arah pintu masuk. Kakinya terus bergerak-gerak, menandakan perasaan tak sabar dan resah yang campur aduk menjadi satu.

Lima belas menit berlalu, suara tapak sepatu di lantai keramik terdengar menggema di seluruh ruangan lobi. Adil bangkit dari duduknya, dan melihat apakah itu orang yang sejak tadi ia nantikan kedatangannya.

"Melia?" Seru Adil dengan rasa bahagia yang membuncah begitu saja. Si pemilik langkah, seorang wanita muda berumur 27 tahun dengan rambut hitam lurus berponi lempar, langsung berhenti. Sepasang mata indah yang terbingkai lensa minus satu itu langsung melemparkan tatapan menyelidik ke arah Adil.

"Adil..."

Merasa disambut dengan baik, Adil langsung mengambil inisiatif untuk mendekat. Tapi sepertinya, ia terlalu cepat menyimpulkan. Gadis Ibukota yang dulu pernah sangat dekat dengannya itu malah mengambil satu langkah mundur. "Ngapain lo ke sini?"

"Eh, anu..." Adil jelas salah tingkah. "Semalem aku wis nyoba BBM dan telepon kamu. Tapi enggak ada jawaban. Kamu masih jadi asisten Dosen di sini?"

Melia melipat kedua tangannya di dada sambil menyeringai. "Emang sengaja enggak gue bales. Dan gue lagi males banget nih buat basa-basi."

Adil kemudian merenungi kembali pilihannya semalam; apakah meminta bantuan kepada mantan pacar -yang putusnyapun tidak dengan baik-baik- adalah pilihan bijak? Tapi, tak ada nama lain di pikirannya kecuali Maria. Sekeras apapun dia mencari, hanya nama -dan wajah- itu yang ada di kepalanya. Entah karena Adil tahu bahwa Melia memiliki kapasitas, perhatian dan empati yang sama tingginya dalam masalah kejiwaan...

...atau sebenarnya, ini hanya memang sebatas perkara rindu yang belum selesai.

"Terserah kalau lo ngelamun dan berdiri di sini sampai nanti malem, tapi maaf...gue ada kelas dan gue sedang buru-buru. Permisi!"

Brengsek, bahkan aroma parfum yang merasuk ke hidung Adil ketika tubuh Melia berlalu melewatinya masih sama seperti dua bulan yang lalu. Aroma parfum penuh nostalgia yang sekaligus menyeretnya kembali ke kenyataan. Buru-buru dia memutar badan dan setengah berteriak, mencoba menghentikan Maria yang sosoknya nyaris hilang dari pandangan.

"Kosek, to! (Bentar, dong!) Ada kasus pemasungan, korbannya perempuan!!" Berhasil. Langkah Melia terhenti seketika.

"Aku butuh bantuanmu Mel..."

profile-picture
profile-picture
profile-picture
rendicf dan 17 lainnya memberi reputasi
17 1
16
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
14-03-2020 18:49
tolong gan please jangan sebar" info lokasi maupun kejadiannya. gua bodo amat mau tau info lu atau kaga, cuma pengin nih cerita lanjut. tolong kalo lu tau simpen sendiri dan kalo ada yg pengin tahu PM aja please. Karena katanya dari trit sebelah ceritanya mengandung hal yg sensitif. Jangan sampe nih cerita brenti gara-gara banyak sesuatu yg sengaja ditutupin malah terbongkar.
Please be smart reader
Diubah oleh ekarizkianto
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rifqipain dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
27-02-2020 18:26

REKAAN PETA LOKASI LATAR BELAKANG CERITA

TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story


Quote:Ini ane bikinin rekaan peta lokasi tempat-tempat yang dijadiin latar belakang cerita di Thread ini gan. Tujuannya untuk mempermudah imajinasi agan-agan semua dalam menikmati cerita ini.

Dan gak lupa ane tegasin, bahwa peta ini cuma rekaan semata. Nama desa, batas dan bentuk geografis sudah kita ganti dan samarkan. Tapi bisa kita pastikan bahwa kemiripan dengan lokasi asli mencapai 60%.

Beberapa imbuhan yang akan kita sampaikan adalah sebagai berikut:

Keterangan
.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rendicf dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
01-05-2020 13:01
jasadnya mati,dendamnya beranak pinak,threadnya tidak bergerak emoticon-Ngacir Tubrukan
profile-picture
profile-picture
profile-picture
baronfreakz dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
06-03-2020 09:28
Mod tutup trit nya aja mod , buat peraturan minim 3 hari sekali maksimal seminggu kalau enggak close aja , menuhin server doank trit kentang kyk gini emoticon-Cool
profile-picture
profile-picture
profile-picture
adorazoelev dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
28-02-2020 09:02
Quote:Original Posted By danieldnx007
Wahahaha boleh nebak gak slur kalo ini di Kec Pa**k , Kabupaten G****K**** yo?


Memang di Kabupaten G****gk***l menempati angka tertinggi jumlah penderita gangguan jiwa di Propinsi D**, diakibatkan kondisi alam dan faktor ekonomi. Karena itulah dari tahun 1995, daerah ini menjadi tujuan KKN ratusan kampus dari kota Y********a.

Pemasungan adalah tindakan yg biasa dilakukan warga terhadap orgil di sana akibat kurangnya pengetahuan dan faktor ekonomi untuk mendapatkan penanganan medis yg layak, meski di Ibukota Kabupaten Kapanewon W******i sudah ada RSJ dengan fasilitas memadai.

Praktek pemasungan banyak terjadi di Kapanewon R*****p, Pl***n, P**uk, S***n, dan T***s. Tapi untuk R*****p tahun 2004 ada KKN yg menyadarkan mereka, jadi mereka sudah meninggalkan praktek tersebut dan beralih ke Klinik Warga.

Dusun yg disebutkan TS sudah terkenal sebenarnya, dan ane tahu. Tapi biar seru, biarlah hanya terungkap Kabupatennya saja, untuk Kecamatan dan Desa nya silahkan meraba-raba, dan Srigati biarlah tetap menjadi Srigati yg misterius di sini. Merangsang imajinasi liar para pembaca untuk kepo sekepo keponya hehehe...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
adorazoelev dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
21-02-2020 21:39


Quote:Original Posted By doyanoncom
gue takut


















takut thread ini kentang permanen tanpa klimaks yang ujungnya tidak jadi crot di dalam......bayangkan rasanya gimana kalau tidak tuntas....


Kita udah dapet dan udah nyusun datanya dari awal sampe akhir gan...jadi jangan khawatir tentang kentang

profile-picture
profile-picture
profile-picture
adorazoelev dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
20-04-2020 07:19
ini kayany ada masalah ne
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rifqipain dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
milk--mocha
Stories from the Heart
bab-25--rasa-bersalah
Stories from the Heart
bintang-itu-bersinar
Stories from the Heart
sebuah-pengorbanan
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Heart to Heart
B-Log Collections
Stories from the Heart
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia