Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
1061
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e4fcf409a972e05b10e0324/tulah-jasadnya-mati-dendamnya-beranak-pinak--based-on-true-story
Namanya Mas Adil (nama disamarkan), kawan dekat dari kakak salah satu admin The Dark Tales yang dulu pernah aktif berkegiatan sebagai relawan di salah satu organisasi sosial kemanusiaan yang lumayan gede dan punya anggota/relawan yang tersebar di kota-kota di pulau Jawa. Dan dari Mas Adil inilah cerita itu pertama kali kita denger. Cerita tentang pengalaman beliau waktu masih aktif di organisasi y
Lapor Hansip
21-02-2020 19:38

TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story

Past Hot Thread
Salam kenal semuanya, agan-agan kaskuser dan para penghuni forum SFTH...

Perkenalkan, kami adalah empat orang anonim yang berdasar pada kesamaan minat, memutuskan untuk membuat akun yang kemudian kami namai THE DARK TALES.

Dan kehadiran kami di forum ini, adalah untuk menceritakan kisah-kisah gelap kepada agan-agan semua. Kisah-kisah gelap yang kami dengar, catat dan tulis ulang sebelum disajikan kepada agan-agan.

Semua cerita yang akan kami persembahkan nanti, ditulis berdasarkan penuturan narasumber dengan metode indepth interview atau wawancara mendalam yang kemudian kami tambahi, kurangi atau samarkan demi kenyamanan narasumber dan keamanan bersama.

Tanpa banyak berbasa-basi lagi, kami akan segera sajikan thread perdana kami.

Selamat menikmati... 


Quote:
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story

Kisah ini berdasarkan kejadian nyata, berdasarkan penuturan beberapa narasumber dan literasi tambahan. Beberapa penyamaran, penambahan dan pengurangan mengenai lokasi, nama tokoh dan alur cerita kami lakukan untuk kepentingan privasi dan keamanan.





Diubah oleh the.darktales
profile-picture
profile-picture
profile-picture
irawant.750 dan 122 lainnya memberi reputasi
107
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
22-02-2020 15:23

BAGIAN 1

Quote:
Akhir Juli, di tahun yang tidak bisa disebutkan pastinya.

Adil masih mengingatnya dengan baik, bagaimana sore itu dia duduk terpaku di depan komputer di salah satu sudut rumah kontrakan berukuran 9x16 meter yang dua tahun terakhir ini disebutnya sebagai kantor.

Di luar hujan baru saja reda, tapi niat untuk segera pulang ke rumah sebelum hujan turun lagi itu belum juga datang. Tak peduli walau satu persatu rekannya mulai berkemas dan pulang ke rumah masing-masing.

Karena bagi Adil, tempat ini sudah seperti rumah kedua baginya. Tak ada yang lebih membahagiakan dibanding dengan berkutat dengan arsip-arsip kegiatan *** (Nama organisasi kemanusiaan, The Dark Tales tidak mendapat ijin untuk menyebutkannya) yang berderet di layar monitor seperti ini. Mensortir apa saja yang sudah, sedang dan akan dilakukan. Minggu ini masih ada dua kegiatan yang harus diselesaikan, belum lagi minggu berikutnya. Lalu tentang laporan kegiatan minggu lalu yang harus segera dikirimkan ke Pusat.

Adil menjatuhkan punggungnya ke sandaran kursi sambil mendesah berat. Dia lelah, tapi tak pernah menyesali pilihannya untuk menjadi relawan di tempat ini. Berkontribusi untuk kemanusiaan dan sosial. Terjun ke pemukiman kumuh di Kota sampai ke pelosok-pelosok desa yang membutuhkan bantuan, merupakan kepuasan batin tersendiri bagi Adil. Apalagi dia masih muda dan lajang. Uang masih belum menjadi prioritas utama.

Sampai akhirnya ponsel yang sejak tadi tergeletak di meja dan nyaris Adil lupakan keberadaannya, berdering dengan begitu kencang. Membuatnya nyaris terlonjak kaget dan membuyarkan fokusnya pada layar monitor. Dengan cepat dia raih ponsel itu, takut itu datang dari kantor pusat atau panggilan darurat lain.

Tapi hanya ada deret nomor yang tertampil di sana. Entah milik siapa, tapi yang jelas nomor itu tak tersimpan di buku teleponnya.

Adil sempat ragu untuk mengangkat. Apalagi dia teringat dua bulan lalu, ketika dia dan tim memberikan bantuan tandon air di salah satu desa di daerah Pantai Utara yang berakhir kisruh karena bersinggungan dengan atmosfir pemilihan kepala desa yang sedang panas-panasnya. Masalah memang sudah selesai, tapi bukan tak mungkin preman-preman bayaran itu masih berusaha mengincarnya.

Ah, itu cuma paranoid tak beralasan! Adil nekat mengangkat telepon dan mendekatkannya ke telinga.

"Halo, leres niki kalihan Mas Adil... (Halo, benar ini dengan Mas Adil?)"

Suara di seberang begitu lembut. Seorang perempuan muda, tapi terdengar asing bagi Adil.

"Ngapunten (Maaf) Mas, saya Dea. Saya dapet nomor Mas Adil dari Mas Febri. Kebetulan dia kating saya di Kampus."

Ah! Sekarang jelas sudah bagi Adil. Si penelepon yang mengaku bernama Dea ini adalah adik tingkat Febri, adik laki-lakinya, di kampus. Tapi dia masih penasaran, untuk apa anak ini sampai repot-repot meminta nomor Adil dan meneleponnya.

"Kata Mas Febri, Mas Adil aktif di *** (Organisasi Kemanusiaan terkait) ya Mas? Saya bisa minta tolong?"

Entah karena apa, tapi saat itu juga Adil langsung merasa tertarik. Mungkin karena Dea menyebut nama organisasinya, membuat Adil berpikir bahwa ini mungkin tentang kegiatan amal atau sejenisnya.

"Oh, nggih. Ada apa, ya?"

"Jadi begini, Mas..." Ada jeda sejenak. Tapi terdengar cukup jelas di telepon bahwa Dea sepertinya sedang berbincang dengan orang lain di sana. Tapi entah apa yang mereka bicarakan. Seperti sedang berunding.

"Sekarang ini saya lagi menjalani program KKN di daerah G**********. Sudah berjalan dua minggu dari satu bulan. Awalnya semua berjalan lancar. Tapi kok sekarang ada masalah di salah satu desa tempat kami menjalankan proker. Terus saya berunding dengan teman satu tim KKN, dan saya pikir Mas Adil bisa bantu kami..."

KKN? Apa hubungannya dengan organisasiku? Adil kebingungan. Apalagi lokasi KKN anak ini ada di daerah G**********. Jaraknya bisa memakan tiga jam perjalanan jauhnya dari sini. Tapi Adil kepalang dibuat penasaran.

"Masalahe opo? (Masalahnya apa?)"

"Sebenernya aku ndak yakin, Mas..." Dea terdengar ragu.

"Tapi menurut Mas Adil, apa normal di jaman sekarang masih ada orang gila yang dipasung dan ditaruh di kandang kambing? Apalagi seorang perempuan."

Adil merasa dirinya tersengat seketika. Adrenalinnya naik ke ubun-ubun dengan begitu kilat. Rasa keadilan dan kemanusiaannya seakan dilukai, dan itu membuat darahnya bergejolak.

"Ora normal! Sama sekali ora normal kui. Wis bener kamu menelepon kesini! Sekarang kamu kasih tahu nama desanya apa, nanti aku minta back up relawan-relawan yang ada di G********** untuk bantu evakuasi." Spontan Adil berujar.

"Nggih, Mas. Nuwun. Nama Desanya Srigati (bukan nama sebenarnya), Kecamatan *****, Kabupaten G**********."


Quote:
Dea menutup telepon dan menaruhnya kembali ke dalam kantong celana jeans.

Dia sedikit menggerutu kesal sebelum memutar tubuh ke belakang. Ke arah sesosok pria berkacamata dengan rambut hitam lurus yang disisir ke samping dengan rapi, yang sedari tadi berdiri seperti orang bodoh di belakangnya itu.

"Kakaknya Mas Febri nyanggupin. Terus piye?"

Dea bertanya, cenderung sedikit menuntut kepada kawan yang memakai almamater yang sama dengan yang dipakainya saat ini. Matanya mendelik tajam.

Pria itu tampak terbata-bata menjawab. Seakan dia sedang dihakimi oleh Dea. "Piye apane, De? (Gimana apanya, De?)"

"Piye apane ndasmu, Gil! (Gimana apanya kepalamu, Gil!)”

Dea tampak tak mampu lagi menahan emosinya. Bahkan dia mengacungkan jari telunjuknya ke arah dada Gilang, nama pria itu. Ketua tim KKN sekaligus mahasiswa yang paling dekat dengan Dea karena kebetulan mereka berasal dari Jurusan yang sama. “Ini semua gara-gara kamu!”

"Sabar De, sabar. Kita lagi di pinggir jalan besar ini!"

Walaupun terbakar amarah, omongan Gilang barusan sedikit menyadarkan Dea. Mereka berdua kini sedang berada di pinggir taman alun-alun Kabupaten. Dia menyernyitkan mata, mengamati sekeliling. Benar saja! Omongan nada tingginya barusan, ternyata menarik perhatian beberapa orang yang berada di sekitar mereka.

Dea menarik nafas panjang-panjang. Berusaha menenangkankan hatinya yang sedang kacau balau. "Kok bisa kamu bilang kamu ndak mau disalahin? Sekarang siapa yang pertama usul buat masukin Srigati ke dalam proker? Siapa yang pertama punya inisiatif nekat datang kesana sembunyi-sembunyi walau sudah jelas dilarang sama Pak Kades??"

"Aku bakal tanggung jawab De, oke? Yang penting sekarang kamu tenang dulu, terus kita balik."

Dea melirik ke motor matic milik Gilang yang diparkir tak jauh dari tempat mereka berdiri. Membuatnya teringat teman-temannya yang lain yang kini sedang menunggu mereka kembali. Teman-teman yang berfikir bahwa Dea dan Gilang sedang pergi ke Kabupaten untuk membeli beberapa kebutuhan proker yang masih kurang. Padahal nyatanya, mereka berdua pergi jauh-jauh kesini hanya untuk meminta bantuan kepada siapapun yang bisa memberi mereka bantuan. Dea jadi merasa bersalah dan itu membuatnya marahnya kian menjadi-jadi kepada Gilang.

"Sopo wae sing ngerti soal Srigati selain kamu dan aku?" Dea bertanya dengan dingin. Bahkan dia tak memandang Gilang.

"Cuma aku dan kamu. ..aku yakin cuma aku dan kamu!”

Dea menghela nafas dalam-dalam. Berusaha menahan kesabaran. "Oke, yang sudah terlanjur mau diapain lagi. Tapi sekali ini aja, jawab aku dengan jujur, Gil..."

Dea mendekatkan tubuhnya ke Gilang. Berusaha mengintimidasi. "Apa niatmu sebenernya dengan memasukkan Srigati ke dalam proker?"

"Aku ndak punya niat apa-apa, De..."

Tapi jawaban itu malah membuat benteng kesabaran Dea runtuh seluruhnya. "Asu!! Ojo ngapusi aku!! (Anjing , jangan nipu aku!!) Kamu udah tahu Srigati bahkan sebelum kita berangkat KKN kan?!"

Gilang sepertinya tak mampu lagi menyembunyikannya dari siapapun, khususnya kepada Dea. Posisinya sekarang jelas terdesak. Dan suka atau tidak, dalam hati Gilang mengakui bahwa ini semua sudah terlampau jauh. Tak ada pilihan lain selain mengaku.

"Aku nemu jurnal lawas di perpustakaan kampus, De. Jurnal tahun 1976 yang ngebahas soal Srigati. Tentang pertanian dan tanah yang ada di sana.”

Dea menyernyitkan dahi. Tak paham lagi apa yang ada di pikiran Gilang. “Bahkan kita bukan mahasiswa pertanian, Gil! Apa yang kamu cari di sana, heh?? Tentang apa jurnal itu?!”

“Tentang...” Gilang seperti menahan diri untuk tidak menangis.

Quote:
“Tentang paradoks tanah di sana. Bagaimana pada masa-masa paceklik mereka masih bisa panen jagung, ubi dan singkong, sedangkan desa-desa di sekitarnya mengalami kelaparan dan kesulitan air. Bahkan yang aku dengar, ada sawah yang...”


"Wis, ra usah kakean cangkem! (Udah, jangan kebanyakan mulut!) Sekarang ayo balik dan tunjukin ke aku jurnal itu!!"

Gilang menurut saja ketika Dea menggiringnya menuju motor.

"Kowe pancen asu, Gil..." Tutupnya sebelum motor melaju meninggalkan alun-alun Kabupaten.
Diubah oleh the.darktales
profile-picture
profile-picture
profile-picture
luwisaputra dan 44 lainnya memberi reputasi
45 0
45
Lihat 9 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 9 balasan
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
21-02-2020 19:52

PROLOG

Quote:Namanya Mas Adil (bukan nama sebenarnya), seseorang yang dulu pernah aktif berkegiatan sebagai relawan di salah satu organisasi sosial kemanusiaan yang lumayan gede dan punya anggota/relawan yang tersebar di kota-kota di pulau Jawa.

Dan dari Mas Adil inilah cerita itu pertama kali kita denger. Cerita tentang pengalaman beliau waktu masih aktif di organisasi yang bersangkutan. Ngerasa tertarik, kita mutusin buat nelusurin lebih dalem lagi cerita dari Mas Adil yang emang beliau akuin sendiri enggaklah lengkap jika hanya mendengar dari sudut pandangnya saja.

Lalu, dengan bantuan beliau, kita dipertemukan sama narsum-narsum lain yang bersinggungan langsung dengan kejadian yang terjadi pada waktu itu. Nyaris sebulan kita mendengar banyak cerita dari banyak sudut pandang. Kami kemudian mencoba merangkainya, menemukan banyak kontradiksi dan tabrakan antara satu versi dengan versi yang lain, yang kemudian kami susun ulang agar lebih mudah dinikmati dan tentu saja, tanpa menghilangkan esensi dari cerita aslinya.

Dan setelah semuanya tersusun, kami sendiri terperangah; kisah ini beneran GILA! Bahkan mungkin, lebih horor dari cerita setan manapun. Karen di sini, seperti yang pernah Mas Adil ucapkan pada kami semua...


Quote:
"Manusia kadang lebih setan daripada setan itu sendiri!"



Quote:Berikut adalah rekaan peta lokasi tempat-tempat yang dijadiin latar belakang cerita di Thread ini gan. Tujuannya untuk mempermudah imajinasi agan-agan semua dalam menikmati cerita ini.

Dan gak lupa kita tegasin, bahwa peta ini cuma rekaan semata. Nama desa, batas dan bentuk geografis sudah kita ganti dan samarkan. Tapi bisa kita pastikan bahwa kemiripan dengan lokasi asli mencapai 60%.

Denah Lokasi

Diubah oleh the.darktales
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tantinial26 dan 37 lainnya memberi reputasi
38 0
38
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
24-12-2020 21:01

BAGIAN 6

Halo agan-agan semuanya, menepati janji ane maka malam Jumat ini akan ada apdetan baru dari trit ane ini. Dan berhubung apdet kali ini molor lumayan lama, maka ane bikin agak panjang dan detail. Semoga bisa dinikmati.

Sebelum kita mulai, ane mau nitip pesen nih biar trit kita ini tambah rame, silakan share trit ini jika agan-agan merasa kalau cerita yang ane tuturkan ini cukup menarik dan layak untuk dinikmati bersama-sama.

Oh iya, ane ampe nyaris lupa buat ngucapin selamat Malam Jumat dan Selamat hari raya Natal bagi yang merayakan...


Quote:
"BEDHESSS...!! CEPET DIGACAR!!”

Teriakan Pak Gunardi itu setidaknya memiliku dua arti bagi Sarmin; pertama bahwa dia memang harus menangkap dua penguntit itu bagaimanpun caranya. Yang kedua adalah, ada sesuatu yang gawat baru saja terjadi.

Karena seingatnya, Pak Gunardi nyaris tak pernah memerintah orang dengan nada dan amarah sebesar ini. Dia, sebagai kepala dusun, dikenal sebagai sosok yang kharismatik, ngayomi dan kebapakan layaknya seorang pamong. Bahkan Pak Gunardi selalu memanggil Sarmin dengan kata ganti seperti 'Le', 'Cah Bagus' atau 'Nang' seperti ia memanggil anak lelakinya sendiri.

Tapi malam ini, untuk pertama kalinya, Sarmin dihardik dengan sebutan bedhes. Monyet. Telinga dan hatinya langsung panas di waktu bersamaan. Andai saja orang lain yang memanggilnya seperti itu, Sarmin tak terlalu ambil pikir. Dia bisa langsung menghajar orang itu sampai mampus, dengan lengan kekar nan legam yang terbentuk karena pekerjaan kerasnya keluar masuk hutan dan kadang membawa sebalok kayu jati seorang diri.

Tapi kali ini, Pak Gunardi-lah yang melakukannya. Seorang lelaki yang begitu dihormati, bukan cuma oleh Sarmin semata, tapi juga oleh nyaris semua orang Srigati. Termasuk juga bapak dan ibunya.

"Pak Gunardi kui pahlawan dusun e dewe, Sar. Priyayine kui wis ngelakoni opo wae dinggo nyelametake Srigati soko balak..." (Lek Gunardi itu pahlawan desa. Beliaunya sudah melakukan apa saja untuk menyelamatkan Srigati dari bala bencana...)

Tutur sang ibu pada suatu hari. Jadi sejak saat itu, di kepala Sarmin sudah tertanam bahwa Pak Gunardi adalah seseorang yang harus dan pantas untuk diberi hormat. Beliau adalah seorang priyayi, kepala dusun dan pahlawan Srigati. Walau sejujurnya, Sarmin juga tak tahu apa yang telah dilakukan Pak Gunardi sampai semua orang tua menyebutnya pahlawan.

"Sarmin, ngopo meneng wae?! Cepet Gunardi kae disusul!!" (Sarmin, kenapa diam saja?! Cepet susul Gunardi!!)

Suara itu membuyarkan lamunan Sarmin. Kali ini bukan dari mulut Pak Gunardi, tapi dari sesosok figur kakek sepuh dengan blangkon hitam dan pakaian Surjan serta tongkat teken kayu yang dia kenal dengan panggilan Mbah Gondo. Seorang kakek yang tadi siang dia jemput di rumahnya dan dia antar ke rumah Pak Gunardi. Seorang yang sudah dianggap sesepuh di desa ini...

Kakek-kakek ini, ah...walaupun hidup bersama di satu Dusun, Sarmin tak pernah benar-benar mengenalnya. Mbah Gondo penuh dengan misteri. Ada yang bilang dia hanyalah seorang sesepuh, ada juga yang bilang dia adalah dukun. Sakti mandraguna dan bisa bicara dengan arwah-arwah yang sudah mati. Tapi semua itu hanyalah omongan orang. Satu-satunya yang bisa Sarmin pastikan kebenarannya hanyalah, Mbah Gondo bisa membuat orang seterhormat Pak Gunardi sampai harus sedikit membungkukkan badan dan menundukkan pandangan setiap kali berbicara dengannya.

"CEPET!!"

Perintah Mbah Gondo yang kedua kali membuat Sarmin segera bereaksi. Dia naik ke sepeda motornya dan kemudian menyalakan mesin.

"Cah gemblung, kok malah numpak motor?!" (Orang gila, kok malah naik motor?!)

"Ben cepet Mbah!!" (Biar cepet, Mbah!!)

Gas langsung ditarik sekencangnya, kembali ke perempatan desa dan berbelok ke arah kebun jagung. Kali ini Sarmin benar-benar harus menangkap siapapun penguntit yang telah menyaksikan apa yang seharusnya tidak mereka saksikan. Tak peduli entah mereka maling, bocah-bocah kampung sebelah yang main dan nyasar sampai kesini...

...atau bahkan anak-anak kota yang sudah beberapa minggu terakhir ini ia dengar sedang melakukan KKN di Jatiasih.

Intinya, mereka telah mengusik ketentraman Dusun tercintanya. Dusun yang selama ini begitu tenang, damai dan sekaligus menyimpan rahasia-rahasia yang harus dijaga dari orang-orang asing.

Terutama lagi, tentang rahasia kandang kambing itu. Tentang apa...

...dan siapa yang tersimpan di dalam sana.


Quote:
Enam tahun lalu,

Pada satu malam paling kelam yang tak akan pernah bisa Sarmin lupakan sampai kapanpun, pintu rumahnya digedor-gedor oleh seseorang dari luar. Kala itu sudah lewat tengah malam, Sarmin yang setengah tertidur di atas tikar di ruang tengah, nyaris terlompat kaget mendengar ribut-ribut di luar sana.

Rasa kantuknya hilang tak tersisa. Langsung ia bangkit dan berlari ke arah pintu depan. Di belakang, bapak dan ibunya menyusul, juga dengan setengah berlari dan wajah yang tampak sangat panik.

Pintu semakin keras dan semakin sering digedor, seakan siapapun yang ada di sana juga tak kalah panik dan terburu-buru. Tangan Sarmin langsung menggeser balok kayu penahan pintu dan membukanya dengan segera. Bersamaan, sosok yang begitu familiar segera menghambur masuk ke dalam. Keringat membasahi seluruh tubuhnya, nafasnya pun tersengal-sengal.

Namanya Mardi, tetangga sebelah sekaligus teman sebaya Sarmin. Nyaris saja dia melayangkan pukulan ke wajah si brengsek itu sebagai pelampiasan rasa kesalnya. Namun niat itu tertahan ketika dia mendengar kabar yang dibawa Mardi.

"Sepurane, Sar...iki enek rajapati! Lek Kasnyoto karo bojone pejah..." (Maaf sekali, Sar...ini ada kabar duka! Lek Kasnyoto dan istrinya meninggal...)

Mardi kemudian menoleh ke belakang, seakan memberi tahu Sarmin bahwa di luar sana, keaadan sudah ramai riuh oleh para warga Dusun yang berkumpul membentuk beberapa titik di berbagai sudut jalan. Suara kentongan bertalu-talu, dipukul sekali demi sekali. Menyebarkan tanda rajapati; yang berarti bahwa ada seseorang yang baru saja mati.

Sarmin langsung keluar dari rumah diikuti oleh Mardi dan kedua orang tuanya. Bergabung dengan warga yang kemudian bergerak berbondong-bondong menuju rumah Lek Kasnyoto yang letaknya berada di ujung barat Dusun. Beberapa dari mereka membawa obor di tangan untuk penerangan, karena memang pada saat itu listrik belum masuk di Srigati.

Di sepanjang perjalanan, Sarmin berkutat dengan isi kepalanya sendiri. Pikirannya dipenuhi prasangka-prasangka buruk. Ini pasti bukan kejadian biasa! Selain karena yang meninggal adalah sepasang suami istri sekaligus, tadi sore dia masih melihat Lek Kasnyoto berjalan dengan goloknya dan keluar dari kebun. Bahkan mereka berdua masih sempat bertegur sapa.

Orang itu terlihat benar-benar sehat dan bugar seperti biasanya. Tidak tampak sakit sama sekali.

Iring-iringan warga akhirnya berhenti tepat di depan rumah Lek Kasnyoto, dimana di sana Pak Gunardi, Mbah Gondo dan seorang lelaki yang tidak dikenal sudah berdiri di depan pintu yang separuh terbuka. Wajah ketiganya kelihatan begitu tegang. Apalagi ketika melihat semua orang sudah berkumpul di tempat ini.

"Wonten nopo niki, Pak Gunardi?" (Ada apa ini, Pak Gunardi?)

Salah seorang warga melempar pertanyaan, yang diikuti riuh rendah suara yang lainnya. Mbah Gondo lantas membisikkan sesuatu di telinga Pak Gunardi, yang dibalas dengan sebuah anggukan kecil.

"Sabar, bapak-bapak dan ibu-ibu!" Pak Gunardi mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Semua orang, seperti biasa dan seharusnya, menuruti perintahnya. "Tetangga kita, Lek Kasnyoto dan istrinya telah meninggal dunia malam ini..."

Keriuhan kembali terjadi, para warga saling bicara satu sama lain. Bahkan beberapa orang berusaha untuk mendekat ke dalam, sebelum Pak Gunardi menahan langkah mereka untuk masuk lebih jauh lagi.

"Sepurane (mohon maaf), tapi demi keamanan dan kenyaman semuanya, saya tidak bisa mengijinkan semua orang untuk masuk!"

Pak Gunardi kemudian melirik ke arah beberapa orang, dan salah satunya adalah Sarmin. "Mardi, Bowo, Mas Husni sama Sarmin! Kalian ikut saya masuk. Yang lain tunggu di luar!"

Sarmin sebenarnya ragu. Tapi, dia tahu dia tak punya pilihan lain. Apalagi disitu ada Mbah Gondo juga. Dua orang paling disegani di Srigati sudah memberi perintah. Sarmin lantas maju ke depan bersama tiga nama lainnya yang tadi dipanggil. Bahkan Sarmin tidak bertanya sepatah katapun ketika Pak Gunardi memimpin mereka untuk masuk ke dalam rumah. Menyusuri ruang tengah menuju arah dapur yang ada di bagian paling belakang.

Dan di saat kakinya menginjak lantai tanah dapur Lek Kasnyoto, Sarmin langsung menyesali keputusan untuk menuruti perintah Pak Gunardi. Matanya terbelalak dan perutnya seketika bergejolak, ketika dia mendapati jasad Lek Kasnyoto dan istrinya tergeletak di tanah, tepat di samping pawon yang masih tampak berkobar apinya.

Sarmin masih belum yakin dengan penglihatannya. Dia kemudian mendekat, maju dua langkah ke arah jenazah. Dan di bawah temaram lampu sentir yang di gantung di langit-langit, jelas terlihat bahwa sepasang tubuh tak bernyawa itu...

...terbujur tanpa kepala.

"Ayo, maju!" Pak Gunardi berbisik, tapi tak ada satupun dari mereka berempat yang melangkah satu jengkalpun. Begitupun Sarmin, yang nyalinya langsung menciut melihat bagaimana naasnya kondisi kedua suami istri itu.

Tapi malam ini, nasib sial memang sedang menjadi milik Sarmin. Posisinya yang berada paling depan dan paling dekat dengan Pak Gunardi, membuatnya jadi orang pertama yang menjadi sasaran untuk ditarik lengannya dan dipaksa untuk maju ke depan oleh Kepala Dusun itu..

"Sarmin, buka dandangnya!" Pak Gunardi menunjuk ke arah dandang tanah liat, di atas pawon yang masih menyala.

Sarmin menurut, dia hanya ingin semuanya cepat selesai. Tangannya cepat bergerak membuka tutup dandang tersebut.

Dan di dalam sana, Sarmin menemukan bagian yang hilang dari jasad Lek Kasnyoto dan istrinya; dua buah kepala dengan kulit yang mulai mengelupas, tampak mengambang di air mendidih. Di detik itu juga, Sarmin menjatuhkan tutup dandang dan memuntahkan keluar sayur lodeh dan ikan asin yang ia santap tadi sore.

Pak Gunardi tidak peduli. Jarinya langsung menunjuk ke satu arah. Ke sudut dapur yang gelap dan tak terkena cahaya lampu sentir.

"Bocah iki sing mateni Lek Kasnyoto karo bojone!" (Anak ini yang membunuh Lek Kasnyoto dan istrinya)

Sesosok anak perempuan, seumuran Sarmin dan Mardi, meringkuk bersandar di tembok bambu dapur, dengan rambut acak-acakan dan tubuhnya telanjang bulat tanpa sehelai benangpun. Pandangannya kosong jauh ke depan, dan mulutnya terkatup rapat. Sedang tepat di sampingnya, sebilah golok yang tadi sore Sarmin lihat dipakai Lek Kasnyoto untuk membabat rumput, tergeletak di bawah simbahan darah segar berwarna merah.

Sarmin mengenalnya. Dia sangat mengenalnya.

Itu adalah Yuli, putri tunggal Lek Kasnyoto dan istrinya.

"Yuli edane soyo ndadi! Iki bahaya, dadi awakedewe ora nduwe pilihan lain!" (Yuli gilanya semakin menjadi! Ini berbahaya, jadi kita tidak punya pilihan lain!)

Pak Gunardi memandang Sarmin dan tiga orang lainnya, satu persatu. Seakan berusaha meyakinkan mereka bahwa hanya inilah satu-satunya cara...

"Saiki ayo Yuli digowo menyang gubuk bekas kandang wedhus cedak alas Jati kae. Aku wegah njipuk resiko, Bocah iki kudu dipasung! mergane yen deweke tego ngelakoni iki nyang wong tuane dewe, sesuk-sesuk iso awakedewe sing dibabat sirahe nganggo golok!"

(Ayo, Yuli dibawa ke gubuk bekas kandang kambing dekat hutan Jati. Aku tidak mau ambil resiko, anak ini harus dipasung! Karena kalau dia tega melakukan ini ke orang tuanya, besok-besok bisa kita yang dipenggal kepalanya pakai golok!)

Tenaga Sarmin sudah terlanjur habis. Lututnya kehilangan daya topang, dan terjatuh ke lantai tanah. Yang bisa dia lakukan hanyalah memandang Yuli, yang ternyata juga balas memandangnya. Mulutnya bergetar ketika ia mendesis...

"Aku luwe..." (Aku lapar...)


Quote:
"Dulu Yuli ndak seperti ini..." Entah mengapa hati Sarmin rasanya seperti diiris-iris, ketika ia melihat tubuh perempuan itu diarak warga menuju gubuk bekas kandang sapi milik salah seorang warga yang letaknya berada di batas wilayah antara Srigati dengan hutan jati.

Tapi dia tidak ingat sejak kapan Yuli mulai kehilangan kewarasan. Yang pasti, ketika masih bocah, Yuli tak ada bedanya dengan dirinya, Mardi dan anak-anak dusun yang lain. Mereka bermain bersama-sama dengan riang gembira. Petak umpet, gobak sodor dan apapun yang membahagiakan mereka sampai senja tiba dan para ibu datang bersama sebatang rotan untuk memaksa anak-anaknya yang bandel itu untuk segera pulang pulang.

Tapi menurut Mardi, sejak Yuli pergi merantau ketika umurnya menginjak enam belas dan kembali pulang ke Srigati setahun kemudian, dia tak pernah lagi keluar dari rumah. Beberapa warga sempat bertanya kepada Lek Kasnyoto maupun istrinya, tapi keduanya kompak memasang wajah tersinggung dan tak memberikan sepatah katapun tentang apa yang sebenarnya terjadi kepada putri semata wayangnya itu.

Beberapa dugaan kemudian mulai muncul dari mulut para warga. Ada yang bilang kalau dia hamil, sebagian lainnya bilang kalau dia menjadi gila. Dugaan yang kedua kemudian menguat ketika beberapa warga mengaku memergoki Yuli berkeliaran di sekitar rumahnya sendiri dan berkelakuan seperti orang yang tidak waras.

Bahkan Mardi sendiri sampai bersumpah-sumpah di depan Sarmin. Dia mengaku melihat dengan mata kepalanya sendiri, Yuli berada dalam posisi berjongkok seperti orang sedang buang air besar di kebun singkong di belakang rumahnya sendiri. Rambutnya acak-acakan tidak karuan, dan tubuhnya telanjang bulat tanpa sehelai benangpun menutupi.

Mardi nyaris mendekat, bermaksud memastikan bahwa dia tidak salah lihat. Tapi apa yang dia saksikan berikutnya, langsung membuat nyali dan keberaniannya runtuh tak bersisa.

Walau saat itu gelap, tapi Mardi berani memastikan bahwa masih dalam keadaan jongkok, tangan kanan Yuli seperti meraup sesuatu dari pantatnya sendiri, sebelum ia memasukkan (entah cairan apa yang ada di tangannya kala itu, Mardi tak mau tahu) ke dalam mulut. Yuli kemudian mengunyah dengan lahap, menelan, lalu berdiri dan menari-nari sambil berdendang gembira dengan dihujani cahaya pucat rembulan.

"Yuli mangan taine dewe!" (Yuli makan kotorannya sendiri!)

Mardi memang pemuda brengsek yang sok petentang petenteng dan hobi berkelahi. Tapi Sarmin tahu, temannya itu bukanlah seorang pembohong.

Yang kemudian membuat Sarmin semakin yakin bahwa Yuli benar-benar gila adalah, beberapa hari setelah dia mendengar cerita Mardi tersebut, Lek Kasnyoto pulang ke rumah bersama Mbah Gondo di sore hari. Timbul dugaan bahwa Mbah Gondo bertandang kesana atas permintaan Lek Kasnyoto demi kesembuhan putri semata wayangnya itu. Hingga malam menjelang, Mbah Gondo baru keluar dari rumah Yuli. Dan sejak saat itu Sarmin tak pernah lagi mendengar cerita warga tentang Yuli. Dia benar-benar tak pernah lagi keluar dari rumahnya.

Sampai malam ini...

Sampai di malam paling laknat ini...

Yuli mencapai puncak kegilaannya. Dia menggorok kepala kedua orang tuanya dan merebusnya di dalam dandang berisi air mendidih.

"Dulu Yuli adalah adalah gadis dan teman yang manis..." Sarmin kembali membatin. Sarmin kembali mencoba memutar memorinya ke belakang. Ke masa-masa dimana semuanya masih begitu indah dan riang. "Dia dulu suka menirukan suara kambing dengan cara yang lucu dan semua orang tertawa melihatnya."

Dan kini, di depan matanya, sahabat masa kecilnya itu digelandang, diludahi, dihujani caci maki, dan dipaksa masuk ke dalam kandang kambing yang bau tainya menyengat minta ampun. Air matanya jatuh berlinang tanpa ia sendiri sadari, ketika kedua kaki Yuli ditarik paksa saling menjauh satu sama lain, dan dimasukkan ke dua buah lubang di kedua sisi ujung kayu besar yang digunakan sebagai alat pasung.

Tapi Yuli tidak memberontak, dia tidak memberi perlawanan. Dia hanya diam, menatap kosong jauh ke depan.

"Mulai sekarang, ndak ada yang boleh mendekat ke tempat ini kecuali atas seijin saya dan Mbah Gondo, demi keamanan dusun kita bersama!" Pak Gunardi mengeluarkan maklumat. Semua warga mengangguk setuju.

Dengan lengannya yang kekar, Sarmin menghapus air matanya sendiri. Dia menatap tajam ke arah Pak Gunardi, Mbah Gondo dan satu lelaki asing yang sedari tadi tidak bicara sepatah katapun.

Mungkin memang sudah saatnya menerima kenyataan bahwa Yuli yang dulu tak lagi sama dengan Yuli yang sekarang. Bukan hanya tidak waras, kini ia juga adalah seorang pembunuh. Seorang yang tega membabat leher bapak dan ibunya sendiri.

Pintu gubuk ditutup perlahan. Dan sebelum rantai besi yang dipasang melingkari gubuk ini dikunci oleh Pak Gunardi, Sarmin masih sempat melihat wajah Yuli.

Dia menatap Sarmin untuk kedua kalinya. Tapi sekarang, sepasang mata itu bukanlah milik Yuli lagi. Sepasang mata itu kini sepenuhnya berwarna putih. Bibirnya perlahan menyunggingkan senyum mengerikan, sebelum akhirnya kembali bergerak seperti berusaha mengucapkan sesuatu. Sesuatu yang tak bersuara namun ajaibnya mampu menggema di balik dada Sarmin.

"Sarmin, aku luwe..."
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kаskus dan 28 lainnya memberi reputasi
29 0
29
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
05-01-2021 00:11

BAGIAN 8

Quote:
Kegelapan genap runtuh di Srigati. Malam merangkak perlahan, diiringi suara lolongan anjing yang menggema memenuhi udara. Hawa dinginnya menggerus nyali, kesunyiannya menegakkan bulu roma.

Lalu, di antara rapatnya pepohonan jati yang berdiri tegak bak raksasa malam, seberkas sinar redup memancar menjadi satu-satunya pelita di tengah kegelapan yang maha. Sinar yang berasal dari lima batang obor yang diletakkan berjejer di depan sebuah rumah kayu berbentuk limasan. Pintu tengahnya terbuka lebar, menandakan bahwa ada kehidupan di dalam sana.

Sarmin duduk bersila di ruang tengah, tepat di belakang punggung Pak Gunardi. Sedang di hadapan mereka, berjarak sekitar empat langkah kaki, seorang kakek tua dengan surjan dan blangkon ikat kesayangannya tampak juga ikut bersila. Menghadap beberapa sesajen berbungkus daun pisang yang diletakkan di atas tampah bambu. Dia adalah Mbah Gondo, dan rumah limasan yang letaknya di tengah huta jati ini adalah tempat tinggalnya.

"Awakmu wedi, le?" (Dirimu takut, nak?)

Suara kakek itu terdengar berat, tebal dan bergetar. Tapi setiap kata yang meluncur dari mulutnya seakan tak ubahnya mantra yang memiliki daya magis. Membuat siapapun yang mendengarnya kehilangan nyali. Tak terkecuali Sarmin, yang butuh beberapa detik untuk menjawab pertanyaan itu.

"Mboten, Mbah."

Mbah Gondo tersenyum kecil. Sepertinya dia tahu Sarmin berbohong. Dia berbohong bahwa dia tidak takut. Bahkan sekarang, dia menyesal kenapa harus namanya yang ditunjuk oleh Pak Gunardi untuk ikut menemani masuk ke dalam hutan menuju tempat ini.

Ini semua gara-gara kejadian tadi siang, ketika dia sengaja sowan seorang diri ke rumah Pak Gunardi. Semenjak peristiwa tiga hari kemarin, Sarmin sudah membulatkan tekad untuk mencari siapapun yang menguntit di balik kebun jagung itu. Dia akan mencarinya sampai ketemu dan membawanya ke hadapan Pak Gunardi sendiri untuk diberi hukuman.

Sarmin berharap dengan begitu, Pak Gunardi akan memandangnya sebagai seorang pemuda Srigati yang sedikit lebih berguna daripada sekadar tukang antar kesana kemari. Sarmin tahu dia bisa berbuat lebih. Dia bisa menyelidiki dan menyeret si tukang intip itu seorang diri.

Tapi yang mengejutkan, kepala dusun itu malah memberikan larangan tegas.

"Ora usah repot-repot, Sar. Opo maneh yen kudu pethakilan menyang Jatiasih. Aku wis ngerti sopo bocahe, Simbah sing ngandani. Mending, saiki kowe mulih. Mengko bengi bali mrene meneh. Melu aku menyang griyane Simbah. Yo, cah bagus?" (Tidak usah repot-repot, Sar. Apalagi kalau harus pergi ke Jatiasih. Aku sudah tahu siapa pelakunya, Simbah yang memberitahu. Mending sekarang kamu pulang, nanti malam balik sini lagi. Ikut aku ke rumahnya Simbah.)

Sarmin terhenyak dari duduknya. Dia tidak siap dengan tawaran itu. Pun, dari pengalamannya yang sudah-sudah, tawaran dari Pak Gunardi bukanlah sesuatu yang bisa ditolak. Memang benar sebelumnya dia sering mendapat perintah untuk menjemput Mbah Gondo, tapi itu hanya sebatas dia menunggu di pinggir jalan tanah setapak yang membelah kedalaman hutan. Terkadang Mbah Gondo sudah menunggu di sana, terkadang Sarmin menghabiskan sebatang rokok sambil duduk di atas jok motornya sebelum sang kakek tua itu tampak berjalan terbungkuk dengan tongkat kayu menuju ke arahnya.

Dia belum pernah sekalipun menginjakkan kaki menyusuri jalan setapak itu. Dan Sarmin juga tidak ingin. Menunggu dan melihat Mbah Gondo muncul dari lebatnya hutan saja kadang ia merinding, apalagi harus ke rumahnya malam-malam.

Tapi kamu ikut tahu kejadian di kandang kambing tiga hari lalu. Ucapan Pak Gunardi berikutnya itu membuat semuanya jelas. Sarmin, mau tak mau, berani tak berani, harus ikut karena dia sudah dianggap terlibat dalam urusan itu.

Dan di sinilah ia berada malam ini. Duduk bersila sambil memegangi senternya dengan tangan gemetaran. Dia memilih menundukkan pandangan, hanya supaya dia tak harus beradu mata dengan Mbah Gondo lagi.

"Gun, dawuhku wingi wis mbok lakoni?" (Gun, perintahku kemarin sudah kamu jalankan?)

Pertanyaan berikutnya meluncur, tapi untungnya tidak ditujukan kepada Sarmin.

"Sampun Mbah! Kenthus, Mardi kaliyan Geyong sampun kulo perintahi jogo kandang." (Sudah, Mbah! Kenthus, Mardi dan Geyong sudah saya suruh menjaga kandang.)

"Saiki, wenehno pesenanku..." (Sekarang, berikan pesananku...)

Kali ini, Sarmin tak bisa menahan diri untuk tidak melihat apa yang sedang terjadi, ketika telinganya mendengar sebuah suara yang tidak asing di telinga.

Meoooong. Entah darimana datangnya, tapi kini seekor kucing kecil berwarna hitam tampak melingkar manis di dalam genggaman tangan Pak Gunardi. Sarmin menelan ludah. Bagaimana dia bisa tidak tahu kalau Pak Gunardi membawa seekor kucing padahal sejak dari dusun sampai masuk hutan, Sarmin selalu berada di sampingnya??

Pak Gunardi kemudian menyerahkan kucing hitam itu ke arah Mbah Gondo, yang dengan segera menerimanya dengan satu tangan saja. Mata Sarmin kemudian menoleh ke arah tangan yang satunya. Dan di sanalah dia melihat, sebatang pisau runcing tergenggap erat seakan siap untuk diayunkan.

"Bengi iki aku bakal nyeyuwun menyang Gusti Agung Sri Bendugeni, kanggo ngirim pesen menyang bocah-bocah laknat kae. Gun, bakaren menyane!" (Malam ini, aku akan memohon kepada Gusti Agung Sri Bendugeni, untuk mengirim pesan kepada anak-anak laknat itu. Gun, bakar kemenyannya!)

Pak Gunardi maju. Dia turuti perintah Mbah Gondo dan dalam sekejap, bau kemenyan memenuhi ruangan. Nyaris bersamaan, Mbah Gondo mengangkat tinggi-tinggi kucing hitam yang mulai memberontak itu sedangkan tangan satunya mendekatkan ujung pisau tepat ke arah perut sang kucing.

Sarmin sudah tidak sanggup, dia berusaha bangkit tapi tangan Pak Gunardi buru-buru mencekalnya. "Jangan lari! Jangan sekarang! Simbah sedang mengirimkan pesan ke anak-anak kota itu!"

Malam kian mencekam. Pisau diayunkan dengan sangat cepat. Membelah perut kucing hitam menjadi dua bagian. Darah membanjiri sesajen di atas tampah bambu. Si kucing berteriak sekali, sebelum akhirnya meregang nyawa untuk selamanya.

Kemudian, pisau diletakkan. Jari-jari Mbah Gondo masuk, menarik keluar semua isi perut si kucing. Usus, hati, jantung. Semuanya terberai keluar, sebelum Mbah Gondo melakukan sesuatu yang tak akan pernah Sarmin lupakan seumur hidupnya. Dia memasukkan isi perut si kucing yang masih kemerahan itu ke dalam mulutnya.

Quote:
NIYAT INGSUN AMATEK AJIKU AJI BENDUGENI. GELAP SONGO GELAP SEWU RUH LAN JASADKU. DEMIT ALAS DEMIT GUNUNG ONO NING MBURIKU. BENDARAKU SANG GUSTI AGUNG SRI RATU BENDUGENI. INGSUN NYUWUN...



Quote:
Ada dua alasan kenapa Rafael mengurungkan niat untuk melayangkan bogem mentah ke wajah culun Gilang, ketika ia melihat ketua kelompok KKN-nya itu melangkah masuk ke dalam rumah tanpa terlihat merasa bersalah sama sekali;

Pertama, lengannya terlanjur ditahan oleh Iwan. Dan yang kedua adalah, dua orang asing yang sebelumnya tak pernah ia kenal tampak datang bersama Gilang dan Dea. Keduanya lelaki dan perempuan, kelihatan beberapa tahun lebih dewasa daripada mereka. Yang perempuan, berambut panjang dikuncir kuda dan berkacamata, tampak panik dan berkali-kali menengok ke arah dalam rumah. Sedang yang lelaki, rambutnya ikal panjang dan mukanya tampak lusuh, memandangi Rafael dan Iwan serta Simon yang berdiri tepat di belakangnya secara bergantian.

"Bro, ngopo jam semene kok isih ning njobo?" (Bro, kenapa jam segini kok masih di luar?)

Pertanyaan Gilang barusan kembali menyulut emosi Rafael. Si brengsek ini bertanya dengan begitu entengnya, tanpa tahu kekacauan apa yang barusan terjadi di rumah ini.

Sarah ditemukan pingsan di kebun pisang belakang, dekat dengan kamar mandi. Awalnya, tak ada satupun dari mereka yang menyadari bahwa cewek itu sudah hilang dari ruang tengah. Tempat terakhir mereka melihat Sarah sibuk berkutat dengan laporan perkembangan proker KKN mereka.

Rafael sibuk mengobrol kesana kemari dengan Iwan dan Simon di teras depan, sampai akhirnya suara Poppy yang berisik memanggil Sarah, menarik perhatian mereka. Awalnya Rafael tidak terlalu peduli. Toh, memang begitu tabiat Poppy dan Sarah setiap harinya. Berisik minta ampun. Tapi ketika Poppy memanggil nama Sarah sampai empat kali dan tak ada jawaban sama sekali, ia mulai merasa ada yang tidak beres.

Benar saja. Sarah tidak ditemukan dimanapun. Tidak di kamar ataupun di dapur.

"Mosok bocahe ning kamar mandi mburi omah dewean? Cah jirih koyo ngono?" (Masa anaknya ke kamar mandi belakang rumah sendirian? Anak penakut kayak gitu?)

Celetuk Poppy, ketika mereka menyadari bahwa satu-satunya tempat yang belum mereka periksa adalah kamar mandi yang letaknya di tengah kebun pisang. Tapi kenyataannya, tinggal tempat itulah kemungkinan terakhir Sarah berada. Mereka berempat lalu berjalan bersama-sama menerobos kegelapan, sambil berharap cemas bahwa keajaiban memang terjadi; Sarah tiba-tiba jadi seorang pemberani dan dia memang pergi ke kamar mandi sendirian.

Harapan itu, walaupun tipis kemungkinan, tapi sangat berarti. Karena kalau Sarah juga tidak ada di sana, masalahnya akan menjadi lebih besar. Mereka tidak tahu lagi harus mencari kemana.

Lalu, senter yang dipegang erat oleh Rafael menyorot sesosok tubuh perempuan yang tergeletak di tanah dan tampaknya ia tak sadarkan diri.

"Saraaah!!" Poppy yang berteriak lebih dulu, yang langsung ditarik mundur oleh Simon. Ini sudah larut malam dan tentunya tidak ada yang ingin menarik perhatian warga Jatiasih dengan sebuah kasus yang mereka pikir masih bisa ditangani sendiri.

Rafael mengambil inisiatif untuk maju. Membalik tubuh mungil Sarah dan menepuk pipinya tiga kali. Tapi tak ada respon.

"Iwan, Simon! Iki Sarah pingsan. Ayo digotong mlebu bareng-bareng. Tapi ojo do rame, ndak malah ngundang wong kampung mrene!" (Ini Sarah pingsan. Ayo digotong masuk bareng-bareng. Tapi enggak usah berisik, ntar malah ngundang orang kampung kesini semua)

Tak sulit membawa tubuh Sarah yang kerempeng itu dan menidurkannya di dalam kamar. Tapi yang jadi masalah adalah, bagaimana bisa dia pingsan di tempat itu? Pergi kesana sendirian di jam semalam ini saja sudah tak masuk akal...

Apalagi Simon sempat berbisik padanya, sesaat setelah mereka memastikan Sarah dijaga oleh Poppy di dalam kamar dan mereka beranjak keluar menuju ruang tengah.

"Kowe mau mambu koyo ambu wedhus ora El, pas ngangkat Sarah soko mburi omah?" (Kamu tadi nyium kayak bau kambing gak El, pas ngangkat Sarah dari belakang rumah?)

Rafael tidak memberi jawaban, walaupun sebenarnya dia juga mencium bau yang sama. Bau kambing yang cukup menusuk hidung. Bukan! Bukan dari badan Sarah. Tapi seakan bau kambing itu bercampur di udara. Tapi entah darimana datangnya, karena sepengetahuannya tidak ada kandang kambing di sekitar rumah markas kelompok KKN mereka.

Lalu tak lama setelah itu, Gilang datang bersama Dea dan dua orang asing yang kehadirannya justru membuat keadaan makin tidak nyaman. Rasanya seperti Rafael ingin meluapkan segala amarahnya kepada Gilang tapi terhalang oleh keberadaan mereka berdua.

"Dek, semuanya baik-baik aja kan?"

Rafael nyaris terlonjak kaget ketika dia baru menyadari bahwa si perempuan asing itu kini sudah berdiri tepat di depannya. Bicara dengan logat Jakarta yang kental, membuatnya kian merasa tidak nyaman. Dia mundur beberapa langkah, tapi tetap berada di posisi menahan mereka agar tidak masuk ke dalam.

Kamu siapa?

Pertanyaan itu sudah sampai kerongkongan, namun urung terucap ketika sebuah teriakan terdengar dari dalam rumah. Teriakan histeris yang penuh ketakutan. Semua yang ada di situ langsung memandang ke arah dalam, dimana di sana Poppy tampak tersungkur di ruang tengah dan pandangannya terus mengarah ke dalam kamar.

Rafael ingat, perempuan Jakarta itulah yang pertama kali berlari masuk disusul oleh yang lain. Rafael ada di posisi paling belakang, menyusul dan berniat ikut masuk ke dalam kamar. Tapi langkahnya terhenti tepat di depan pintu. Apa yang dilihatnya di dalam sana, seketika membuat kedua lututnya lemas tak berdaya.

Dia tak pernah merasa seketakutan ini. Seumur hidupnya, dia tak pernah seketakutan ini.

Di dalam kamar, Sarah berdiri. Kedua kakinya melayang beberapa senti dari ranjang. Melawan gravitasi! Kedua jari telunjuknya menunjuk tajam ke dua orang di antara mereka, dengan sebuah senyum lebar yang begitu menakutkan. Lalu bau kambing itu...bau kambing yang tadi sempat Rafael cium di kebun pisang, kembali hadir menusuk dinding-dinding hidungnya. Bahkan kali ini baunya lebih kuat! Sangat menyengat!

Dengan nafas tersengal karena rasa takut, Rafael mencoba mengikuti kemana arah kedua telunjuk Sarah itu tertuju.

Dea dan Gilang! Sarah menunjuk tepat ke arah dada Dea dan Gilang.

"Cah bagus karo cah ayu wis mulih, to? HAHAHAHAHA!!" (Anak ganteng dan anak cantik sudah pulang, ya? HAHAHAHAHA!!)

Itu bukan suara Sarah! Bahkan Rafael merasa itu bukan suara dari dunia ini! Itu seperti suara dari neraka!!

"OJO PISAN-PISAN MANEH WANI GOLEK PERKORO KARO AKU, BOCAH ASU!!!" (Jangan sekali-kali lagi berani cari perkara denganku, anak anjing!!!)

Sebuah teriakan panjang, lalu Sarah terhempas dengan kencang ke atas ranjang. Diam, sunyi...kemudian dia nampak menangis. Lirih, menyayat hati...

"Tulung, cah...Tulungono aku..." (Tolong, tolong aku...)
profile-picture
profile-picture
profile-picture
luwisaputra dan 27 lainnya memberi reputasi
28 0
28
Lihat 8 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 8 balasan
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
13-01-2021 22:07

BAGIAN 10

Quote:
Kurang dari 48 jam setelah Sarah dijemput pulang oleh keluarganya, sebuah bus terlihat memasuki gerbang desa Jatiasih. Lajunya tampak perlahan-lahan saja. Karena selain jalanannya yang sempit, lubang yang banyak terdapat di sana-sini terlihat cukup merepotkan sang ahli kemudi.

Beberapa warga yang kebetulan sedang berada di luar rumah tampak nyalang menatap kendaraan besar itu, sambil sesekali saling berbisik satu dengan yang lain. Bukan karena mereka tidak pernah melihat sebuah bus sebelumnya, tapi lebih kepada tulisan yang terpampang jelas di sisi kanan dan kirinya.

UNIVERSITAS S***********.

Jadi benar rumor yang beredar, bahwa setelah kejadian itu kegiatan para mahasiswa di desa mereka akan dihentikan di tengah jalan? Ditambah lagi, untuk apa sebuah bus milik kampus datang kemari kalau bukan untuk menjemput anak-anak itu dari rumah Yusup?

Beberapa bocah-bocah yang kegirangan, beberapa dari mereka tidak memakai baju, berlari-lari membuntuti Bus itu sambil terus berteriak memanggil-manggil sang sopir agar berhenti dan ikut membawa mereka masuk ke dalam. Tapi sang sopir tidak terlalu peduli, dia hanya sekilas melirik kaca spion kemudian tersenyum sendiri. Bocah-bocah kampung ini seakan mengingatkan pada masa kecilnya sendiri waktu di desa dulu. Hanya bedanya, dulu yang dia kejar adalah delman yang ditarik seekor kuda.

"Di depan itu ya, pak? Rumah yang halamannya luas, ada pohon belimbing di depan..." Ucap seorang perempuan paruh baya berkacamata di belakang sana. Namanya Ibu Nur, seorang dosen senior dan salah satu penumpang bis ini. Tapi Ibu Nur tidak sendirian. Bersamanya, duduk dua orang lain di kursi belakang sopir. Yang satu adalah seorang Wakil Dekan dan satu lagi ketua panitia KKN dari Rektorat.

"Nggih, bu..." Pak Sopir mengangguk. Dia masih hafal betul jalan desa ini dan rumah yang akan mereka tuju. Baru dua minggu yang lalu dia mengantarkan rombongan itu berangkat dari kampus mereka di Kota S. Bedanya, hari itu hanya Bu Nur saja yang ikut mendampingi. Katanya, karena memang Ibu Nur-lah yang didapuk menjadi pembimbing KKN mereka. Dan menurut cerita Ibu Nur juga, mereka akan berada di desa ini selama dua bulan masa pengabdian.

Tapi kenapa sekarang Pak Sopir harus datang kembali sebelum dua bulan? Dan kenapa kali ini, Wakil Dekan dan orang Rektorat sampai harus ikut duduk di belakang? Masalah sebesar apa yang sudah mereka buat, sampai membuat ketiga orang di belakang nyaris tak saling bicara dan terus memasang wajah muram sepanjang perjalanan?

Rumah yang menjadi tujuan Bus ini sudah terlihat oleh pandangan. Pak Sopir melepas pedal gas dan menginjak rem dengan halus. Bus makin melambat, dan berhenti tepat di depan halaman rumah.

"Bapak parkir di lapangan bola di depan situ, ya? Seperti kemarin pas berangkat. Saya dengan yang lain turun dulu menjemput anak-anak." Perintah Ibu Nur sambil bersiap turun dari Bus.

Pak Sopir kembali mengangguk. Tapi diam-diam, matanya melirik ke arah rumah. Anak-anak mahasiswa itu duduk berjejer di teras depan, dengan deretan tas ransel yang tergeletak di sekitar mereka. Yang membuat heran adalah, wajah mereka juga terlihat muram. Bahkan jauh lebih muram daripada wajah Ibu Nur sendiri. Hingga kemudian, Pak Sopir menyadari sesuatu. Dia masih mengingatnya dengan jelas kalau dulu dia berangkat bersama tujuh mahasiswa.

Tapi kali ini, Pak Sopir menghitung ulang, dan yang dia temukan hanya tinggal lima anak yang menunggu jemputan.

Dua orang hilang, satu orang perempuan yang dia dengar sudah dijemput oleh keluarganya tempo hari dan...

...seorang lagi adalah anak lelaki berkacamata yang dua minggu lalu duduk tepat di samping kursi kemudi.


Quote:
Dea duduk agak terpisah dari yang lain. Bukan karena dia menjaga jarak, tapi sebaliknya karena anak-anak yang lain yang seakan tak mau duduk dekat-dekat dengannya. Sebuah tas pinggang dipangku dan dipeluknya dengan erat, seakan dia menjaga sebuah barang berharga di dalamnya.

Dan sambil meletakkan dagu di atas tas itu, Dea memandang kedatangan Bu Nur dengan penuh ketenangan. Tidak ada yang mengejutkan dengan ini semua, karena ia sudah menduga semua ini akan terjadi. Apalagi tepat setelah Sarah dijemput oleh keluarganya, Pak Kusno langsung datang menghampiri mereka. Memberitahukan sesuatu dengan roman muka tegas dan dingin, bahwa beliau sudah menghubungi pihak kampus dan menyarankan agar anak-anak segera dijemput.

"Karena berbagai pertimbangan, saya sebagai kepala desa memutuskan bahwa kami sudah tidak memerlukan bantuan adik-adik mahasiswa ini lagi di desa ini. Saya mewakili warga desa lain mohon maaf dan terima kasih atas semuanya..."

Bagi yang lain, pengusiran dengan cara seperti itu jelas terasa menyakitkan hati. Siapa juga yang mau program KKN yang sudah disusun dan direncanakan sedemikian rupa, malah gagal total seperti ini. Tapi bagi Dea, semakin cepat mereka meninggalkan Jatiasih maka semakin baik pula baginya. Bukan karena takut, tapi dia sudah punya rencana sendiri. Dan rencana itu akan lebih efektif jika ia sudah kembali ke rumahnya tercinta.

"Bu Nuuuuuurrrr!!" Teriakan histeris yang terdengar lebay di telinga itu meluncur tiba-tiba dari mulut Poppy, yang langsung menghampiri Ibu Nur di depan teras. Dea sedikit melirik. Ibu Nur tampaknya juga tidak terlalu tertarik dengan drama yang disajikan Poppy. Mata beliau malah memandang ke arah lain. Ke arahnya, seakan bertanya sesuatu yang Dea tidak tahu itu tentang apa.

"Bu Nur, kemarin habis Sarah dijemput bapaknya, Gilang pamit ke Semani terus ndak balik-balik lagi!" Poppy belum menyerah untuk mencari perhatian. Kini dia berusaha sok memberikan informasi penting, dengan linangan air mata dan suara yang tersengal. Bodoh, pikir Dea. Semua orang di sini juga sudah tahu kemana si baik itu kabur.

"Gilang sudah sampai di rumah. Tadi pagi kakaknya menelepon, mengabari kalau Gilang pulang dengan naik bus."

Dea tersenyum sambil menggelengkan kepala. Heran bukan karena Gilang sebegitu pengecutnya dengan kabur terlebih dulu. Tapi Dea hanya tak habis pikir, bagaimana dia bisa nekat pergi tanpa mencoba mencari jurnal miliknya itu terlebih dulu. Apa Gilang sudah tidak peduli? Atau memang dia terlalu takut untuk sekadar menanyakan kepada Dea?

Dan yang kemudian membuat senyum Dea makin lebar adalah ketika ia mendengar sebuah desisan penuh dendam dan amarah yang berasal dari orang yang duduk tepat di sampingnya; Rafael.

"Tak goleki tenan, tak antemi nganti mati tenan!!" (Aku beneran bakal cari, aku beneran bakal pukulin sampai mati!!)

Dan sepertinya, Rafael tidak main-main dengan ucapannya. Gilang jelas berada dalam masalah besar. Tapi Dea sudah tak peduli. Dia anggap persahabatannya dengan Gilang telah berakhir hari ini. Pandangannya kemudian teralih jauh ke depan, ke ujung barat sana di mana sinar sang surya menguningkan langit Jatiasih dengan begitu anggunnya.

Dea memejamkan mata. Mencoba meresapi sore terakhirnya di Jatiasih. Rasanya hangat...hangat sekali.

"Sekarang kita pulang. Besok semuanya menghadap Pak Rusdi di gedung rektorat. Iwan, kamu panggil Pak Sopir untuk putar balik kesini." Perintah Ibu Nur, yang langsung disambut Iwan dengan beranjak cepat menuju lapangan di sebelah utara rumah ini tanpa berucap sepatah katapun.

Bus datang semenit kemudian. Dengan penuh keyakinan, Dea menapaki halaman depan rumah ini dan di saat tubuhnya masuk ke dalam Bus dia menyadari bahwa kisahnya dengan Jatiasih telah selesai. Sudah cukup semua kenangan buruk yang didapatkan di tempat ini. Tapi untuk urusan mencari jawaban tentang dusun laknat itu...

...Dea baru akan memulai petualangannya. Dan petualangan baru itu akan dia mulai dengan sebuah nama; Wahyu Dewanggara.

Roda-roda Bus perlahan mulai berputar ke depan. Membawa semua anak-anak KKN meninggalkan desa. Dan sebelum rumah markas kelompok mereka hilang dari pandang, Dea menyempatkan menoleh kesana sekali lagi. Di jendela, tampak bayangan dua orang yang menatap kepergian mereka dari kejauhan.

Mas Adil dan Mbak Melia...

Hehehehe, mereka baru akan mulai. Bisik Dea dalam hati.


Quote:
"Teh opo kopi, le?" (Teh apa kopi, nak?)

Sarmin sebenarnya lebih memilih opsi yang kedua, karena secangkir kopi hitam yang diseduh dengan air mendidih selalu bisa mengusir rasa lelah yang sekarang sudah mulai terasa di tubuhnya. Tapi Sarmin tahu sopan santun, dia tahu dengan siapa dia sedang berbicara dan dimana posisinya berada. Jadi alih-alih berkata jujur, Sarmin hanya tersenyum segan menanggapi tawaran Pak Gunardi.

"Mboten usah, Pak. Kulo mung sekedap mawon, saestu..." (Tidak usah, Pak. Saya cuma sebentar saja...)

Ucapnya sambil mengambil duduk di teras depan rumah Sang Kepala Dusun. Tapi sepertinya sang tuan rumah tak terlalu memedulikan basa basi itu. Sambil menarik ikatan sarungnya lebih erat, Pak Gunardi ikut mengambil duduk di samping Sarmin kemudian menoleh dalam rumah.

"Astri, tulung digawekne kopi loro! Sing siji ora nganggo gula!!" (Astri, tolong dibuatkan kopi dua! Yang satu tidak pakai gula!!)

Sarmin sedikit terkejut ketika Pak Gunardi memanggil nama itu. Astria? Dia di rumah? Sejak kapan?

"Lagi tekan mau esuk bocahe. Sengojo tak dawuhi mulih." (Baru sampai tadi pagi anaknya. Memang sengaja aku suruh pulang.)

Pak Gunardi menjawab seakan ia tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Sarmin. Membuatnya jadi malu sendiri. Wajahnya memerah, yang berusaha dia tutupi dengan buru-buru mengutarakan apa maksud kedatangannya.

"Dados ngeten, Pak. Dinten niki wau tiyang-tiyang KKN dijemput wangsul sedoyo. Kulo angsal kabar yen wonten bus kampus mlebet menyang Jatiasih." (Jadi begini, Pak. Hari ini tadi, anak-anak KKN dijemput pulang semua. Saya dapat kabar kalau ada bus kampus masuk ke Jatiasih.)

Pak Gunardi diam sejenak. Matanya menerawang jauh ke depan. Seakan sedang mempertimbangkan sesuatu.

"Yakin, kabeh wis mulih?" (Yakin, semua sudah pulang?)

"Nggih, Pak. Kulo yakin." (Iya, Pak. Saya yakin.)

Pak Gunardi terlihat ingin melanjutkan pembicaraan, tapi terlanjur terpotong ketika seorang perempuan muda -mungkin beberapa tahun lebih muda dibandingkan Sarmin, tampak berjalan keluar sambil membawa nampan berisi dua gelas kopi.

Tanpa bisa dibendung lagi, kini Sarmin sepenuhnya tenggelam dalam keanggunan yang terpampang nyata di hadapannya. Astria, putri tunggal Pak Gunardi ini, sekarang telah tumbuh dewasa dan terlihat semakin ayu saja. Rambut pendek seleher itu begitu lurus, hitam berkilauan. Kulitnya halus bak pualam dan aroma tubuh yang sempat mampir ke hidung Sarmin itu benar-benar bisa membunuh kesadaran lelaki manapun.

Nampan berisi dua gelas kopi itu diletakkan di atas meja. Dan...duh Gusti!! Melihat bagaimana cara Astria menarik rambutnya ke belakang telinga sambil melemparkan lengkungan senyum manis kepadanya, membuat jantung Sarmin berdetak ugal-ugalan. Ini adalah pemandangan paling indah yang pernah ia lihat sepanjang hayatnya.

"Sarmin!" Sentakan itu seketika mengembalikan Sarmin ke kesadaran. Dia langsung salah tingkah sendiri. Matanya langsung terarah ke Pak Gunardi, walau sembunyi-sembunyi dia masih melirik ke arah Astri yang kemudian hilang masuk kembali ke dalam rumah.

"Rungokno, aku wegah kecolongan meneh koyo wingi. Saiki tulung dikabarne menyang kabeh wong dusun kabeh..." (Dengar, aku tidak mau kecolongan lagi seperti kemarin. Sekarang tolong dikabarkan kepada semua warga dusun...)

Sarmin berusaha keras mengais kembali kewarasannya yang sempat berantakan gara-gara Astria. Dia mencoba fokus, mendengarkan dengan seksama apa yang menjadi perintah dari Pak Gunardi.

Besok, akan diadakan kerja bakti untuk membuat pembatas jalan dari bambu yang di pasang melintang menutupi jalur masuk ke Srigati. Baik di sebelah utara maupun selatan. Setelah itu akan dilaksanakan ronda. Pak Gunardi butuh sepuluh orang bersiap setiap malam; dua orang di tapal masuk utara, dua di tapal masuk selatan, tiga berada di pos dan berkeliling tiap satu jam sekali dan tiga sisanya berjaga di sekitar kandang kambing. Semua yang mendapat jatah ronda diwajibkan membawa golok atau celurit milik pribadi. Akan lebih baik jika diasah terlebih dulu sore harinya.

Sarmin hanya mengangguk, walau dia masih belum mengerti kenapa keamanan harus diperketat padahal sumber masalah sudah pergi jauh dari tempat mereka. Tapi kalimat Pak Gunardi berikutnya, mungkin sedikit banyak menjawab semua pertanyaan yang ada di benak Sarmin. Baik itu tentang keamanan dusun, atau tentang kepulangan Astria yang bisa dibilang mendadak ini;

"Le, menurutmu piye yen Gelar Pendem dimajukne wae dadi sasi ngarep? Aku kok rodo samar yen kudu ngenteni telung sasi meneh." (Nak, menurutmu bagaimana kalau Gelar Pendem dimajukan saja jadi bulan depan? Sejujurnya aku agak khawatir kalau harus menunggu tiga bulan lagi.)
profile-picture
profile-picture
profile-picture
YossudarsoBoy92 dan 26 lainnya memberi reputasi
27 0
27
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 5 balasan
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
21-01-2021 19:46

BAGIAN 11

Quote:
Satu jam sebelum bapak menghubungi dan meminta untuk pulang, Astria masih duduk di ruang kerjanya. Jari-jari dan matanya tak lepas dari laptop, dengan latar belakang gedung-gedung beton dan langit mendung Ibukota yang terbingkai indah dari balik jendela. Beberapa map berwarna kuning tertumpuk di sudut meja, isinya berkas laporan yang belum sempat diperiksa dan ditandatangani. Sedang di sisi yang lain, terpampang sebuah tanda berbentuk persegi panjang dengan tulisan yang terukir dengan jelas; Astria Nur Wardani. Marketing Supervisor.

Umurnya masih 27. Lulus kuliah baru tiga tahun lalu. Tapi Astria sadar, mau secerdas apapun, posisi yang ia tempati saat ini jelas terlalu cepat untuk ia raih. Orang-orang di kantor, terutama para karyawan senior, sering berbisik di belakang. Mungkin menduga-duga, apa yang telah perempuan muda ini korbankan atau jalan pintas apa yang ditempuh sehingga ia mampu melompati piramida jenjang karir dalam waktu yang teramat singkat. Tak jarang pula, Astria menerima pandangan sinis setiap ia tanpa sengaja berada dalam satu lift dengan karyawan-karyawan yang lain. Tapi Astria tak bergeming. Dia sadar dia punya otoritas, dan di posisi seperti sekarang, Astria tahu bahwa ia tak akan mudah digoyang oleh siapapun.

Ini bukan pertarungan yang seimbang. Mereka hanya bisa untuk bergunjing di belakang, sedangkan aku mampu membuat mereka kehilangan pekerjaan dengan mudah. Batin Astria sambil menyunggingkan senyuman tipis.

Lalu kemudian ponsel yang tergeletak di meja dekat laptop itu berdering kencang. Astria mendengarnya, tapi ia lebih memilih untuk mengetik dua kalimat terakhir dari laporan bulanan itu terlebih dahulu, sebelum akhirnya menoleh dan menemukan nama bapaknya tertera di layar ponsel. Seketika, wajah mulusnya berubah menjadi tegang. Matanya menyernyit, dan otaknya berusaha menebak-nebak. Bapak tidak pernah menelepon di jam kerja seperti ini, kecuali ada hal penting yang ingin dibicarakan.

Buru-buru ia raih ponselnya dan menekan tombol terima sebelum dering itu berhenti berbunyi.

"Halo...Bapak?" Astria tampak ragu untuk berucap. Karena di saat bersamaan, firasatnya berkata ada sesuatu yang tidak beres. Apalagi yang ia dengar pertama dari seberang sana bukanlah sebuah kalimat, tapi hembusan nafas berat.

"Halo nduk, lagi sibuk ya?"

Kali ini giliran Astria yang menghela nafas berat. Dia melirik tumpukan map di meja yang mulai menggunung, tapi tidak sopan rasanya jika ia harus berkata jujur bahwa kesibukan di kantor memang sedang menggila beberapa hari terakhir.

"Mboten, Pak. Bapak pripun wonten griyo? Sehat?" (Enggak, Pak. Bapak sendiri gimana di rumah? Sehat?)

"Sehat kok, nduk..." Ada jeda tercipta di sana. Beberapa detik saja, sebelum bapak melanjutkan kalimatnya. "Mung ono masalah sithik ning ngomah." (Cuma ada sedikit masalah di rumah.)

Ada beberapa kemungkinan buruk yang langsung terlintas di kepala Astria. Tapi diantara kemungkinan-kemungkinan itu, ia memilih menanyakan yang paling buruk terlebih dahulu. Dengan harapan bahwa ia akan langsung mendapat jawaban /bukan/.

"Soal Yuli?"

Sayangnya, bapak memberikan jawaban yang sebaliknya.

"Iya."

Punggung Astria langsung terhempas ke senderan kursi. Matanya kosong seketika dan semua tumpukan pekerjaan ini terlupakan dalam sekejap mata. Bahkan kini, dia kehabisan kalimat untuk diucapkan.

"Awakmu bali mulih seg iso ora, nduk? Secepatnya..." (Dirimu pulang dulu bisa enggak, nak? Secepatnya...)

Suara itu jadi terdengar begitu jauh sekarang. Astria butuh beberapa waktu untuk mencerna semuanya, walau ia paham betul apa yang dimaksud oleh bapak dengan permintaan itu. "Gelar Pendem mau bapak percepat? Memang Yuli sudah siap?"

"Wis iso kok, nduk. Tapi kan awakmu kudu mulih disik. Ketemu mbah Gondo disik." (Sudah bisa kok, nak. Tapi kan dirimu harus pulang dulu. Ketemu Mbah Gondo dulu.)

Astria masih diselimuti keraguan. Pekerjaannya menumpuk, pencapaian timnya masih jauh dari target perusahaan. Tidak mungkin dia pergi meninggalkan kantor dalam keadaan seperti ini. Tapi seakan mengetahui isi hati putri semata wayangnya itu, Bapak langsung memberi Astria jawaban atas keresahannya.

"Yen soal gawean, kowe ora usah khawatir. Bapak wis telepon Pak Hendardi..." (Kalau soal kerjaan, kamu enggak usah khawatir. Bapak udah telepon Pak Hendardi...)

Tapi kalimat itu tak pernah selesai. Pintu ruangan tiba-tiba dibuka dari luar, dan sosok yang berdiri di sana itulah yang membuat Astria refleks memutus sambungan telepon dan langsung berdiri dari duduknya.

"Pak Hendardi..." Hanya itu yang terucap dari mulut Astria, ketika ia melihat pria tegap dengan rambut beruban itu berjalan pelan memasuki ruangan. Langkahnya mantap tanpa keraguan, sorot matanya yang mulai dipenuhi keriput itu tajam. Seakan terlalu banyak hal yang tersimpan dan tergambar di dalam sana.

Dialah yang bernama Hendardi. Presiden Direktur dari Bahtera Finance, perusahaan tempatnya saat ini bekerja.

"Duduk saja, Astria." Yang disebut namanya menurut. Dia duduk tepat setelah Pak Hendardi duduk terlebih dahulu di seberang meja. "Pak Gunardi baru saja telepon kamu, ya? Katanya ada masalah di Srigati."

Senyum hangat itu berkembang di bibir Pak Hendardi, walaupun jelas terlihat ada rasa gelisah yang terlalu kentara dari gestur tubuhnya.

"Kamu pulang saja. Biar nanti aku suruh Denny buat gantiin tugas kamu untuk sementara waktu."

"Tapi, pak..."

"Jangan membantah, Astria! Pulanglah, dan jangan lupa sampaikan salam hormatku untuk Bapakmu dan Mbah Gondo."


Quote:
Mas Supri, seperti warga dusun yang lain, tentu lebih memilih untuk mendapat bagian di tapal masuk desa, tidak masalah mau di sebelah selatan maupun utara. Atau kalau bisa malah di pos ronda saja, walaupun setiap satu jam sekali harus berkeliling dari ujung dusun ke ujung lainnya.

Dia ada di baris kedua ketika semua warga dikumpulkan di depan rumah Pak Gunardi siang tadi, untuk mendengarkan pembagian jatah ronda yang mendadak saja digalakkan kembali. Entah apa alasannya. Ada yang bilang karena akhir-akhir ini sedang ramai maling dan rampok di mana-mana, ada juga yang memberi duga bahwa ini ada hubungannya dengan peristiwa yang terjadi di kandang kambing beberapa hari lampau. Tapi ketika Sarmin, yang hari itu ditunjuk sebagai juru bicara, menyebut bahwa ada empat titik yang harus dijaga oleh para warga -termasuk kandang kambing-, gugur sudahlah dugaan yang pertama tadi.

"Aku wegah yen kudu jogo ning omahe Yuli..." (Aku enggak mau kalau jaga di rumahnya Yuli...)

Bisik salah seorang warga yang duduk bersila tepat di samping Mas Supri, menyebut satu tempat yang tentu saja merujuk pada kandang kambing yang letaknya tepat di pinggir hutan jati itu. Mas Supri hanya tersenyum kecil. Dalam hati dia merutuk, siapa juga yang mau dapat jatah jaga di sana?

Tapi bukan Mas Supri namanya jika tidak tinggi bicara. Harga diri dan gengsi harus dipertahankan. Dia tak mau disebut pengecut. Apalagi kalau sedang nongkrong bersama di ladang atau warung kopi, Mas Supri sering menjadikan tempat itu sebagai bahan guyonan untuk ditertawakan bersama-sama. Seakan dia tak ada takutnya sama sekali.

"Lha ngopo kok kudu wedi, ki?" (Emangnya kenapa kok harus takut?)

Namun yang tidak disangka Mas Supri adalah karma yang kemudian bergerak sekencang angin di musim pancaroba. Melibas habis kesombongan Mas Supri tak lebih dari dua detik setelah sesumbar itu keluar dari kerongkongannya.

"Dados, jatah ronda wonten omahe Yuli kangge malem sepisan nggih meniko Tarto, Agus....lan Mas Supri!" (Jadi, jatah ronda di rumah Yuli untuk malam yang pertama yaitu Tarto, Agus...dan Mas Supri!)

Modaaarrr!! Mas Supri memejamkan mata dalam-dalam sambil berharap ini hanya sekadar mimpi belaka. Tapi suara Sarmin tadi rasanya terlalu lantang dan jelas, selantang dan sejelas sebuah kenyataan.

Kemudian terdengar sebuah bisikan lirih bercampur tawa yang ditahan, tepat dari arah sampingnya.

"Yuli ki yen bengi sok bengok-bengok, opo meneh panggonane cedhak alas sing dudu lumrahe panggonan manungso. Sampeyan lak ora wedi to?" (Hati-hati lho, Mas. Yuli tuh kalau malam suka teriak-teriak, apalagi tempatnya dekat hutan yang bukan lumrahnya tempat manusia. Kamu enggak takut, kan?)

Seketika, hati Mas Supri menjadi panas. Tiga perasaan sekaligus sedang bergolak di balik dadanya; marah karena merasa dilecehkan, malu karena sudah terlanjur sesumbar...dan takut membayangkan sengeri apa menghabiskan malam di kandang kambing pinggir hutan dengan perempuan gila yang dipasung di dalamnya.

Tapi tak ada yang bisa Mas Supri lakukan. Tidak mungkin dia mengamuk di tempat ini. Lebih tidak mungkin lagi kalau mau menyalahkan Sarmin atau Pak Gunardi. Dia bukan siapa-siapa di antara mereka semua. Bahkan Mas Supri bukan orang asli Srigati. Istrinyalah yang lahir dan besar di dusun ini.

Jadi dia memilih untuk diam dan memandang ke belakang. Ke arah barisan para perempuan, dimana di sana istrinya tampak menundukkan kepala usai mendengar nama suaminya disebut. Sepasang mata Mas Supri makin memerah. Dadanya makin panas tidak karuan.

Kini jelas sudah, dimana dia harus melampiaskan semuanya.

Dan benar saja, seusainya acara kumpul warga selesai, Mas Supri langsung mengamuk tepat setelah pintu rumah mereka ditutup dari dalam. Dengan kedua lengan kekar yang genap legam akibat sengatan matahari itu, Mas Supri menjambak rambut istrisnya dan melemparkannya ke lantai tanah.

Sang istri, yang badannya kecil kurus itu sama sekali tidak memberi perlawanan dalam bentuk apapun. Tak juga dia mencoba lari keluar rumah. Yang bisa diharapkannya adalah amarah suaminya cepat mereda. Kedua lengan kecilnya itu digunakannya untuk menutupi area kepala, sekadar untuk berjaga andai amukan sang suami sampai mengenai kepala dan dia mati karenanya.

Alih-alih merasa iba, melihat tubuh istrinya tersungkur dan meringkuk di atas lantai seperti itu malah membuat semangat Mas Supri kian berkobar-kobar. Dia mengambil ancang-ancang, dan mengayunkan sebuah tendangan tepat ke perut. Sang istri merintih kesakitan, tanpa melepaskan kedua lengan dari kepalanya.

Mas Supri makin menjadi. Bergantian, kaki kanan dan kiri menyepak dan menginjak seluruh bagian tubuh wanita yang dinikahinya setahun tahun lalu itu. Dada, punggung, paha, kaki, wajah...semuanya dapat bagian yang rata dan sama kerasnya.

"Wedokan gathel!! Goro-goro rabi karo kowe aku kudu pindah ning dusun kene! Asu kowe!!" (Perempuan tai! Gara-gara menikahi kamu aku harus pindah ke dusun ini! Anjing kamu!!)

Mas Supri terus berteriak sembari terus memperlakukan sang istri layaknya sebutir bola sepak. Dia sepenuhnya gelap mata, suara malang yang terus meminta ampun itupun tak mampu menghentikan luapan emosinya.

"Asu! Asu! Asuuu!!" (Anjing! Anjing! Anjiiing!!)

Tubuh istrinya berkali-kali terhempas ke belakang, dan Mas Supri baru berhenti ketika ia sadar bahwa sebentar lagi malam akan datang. Dia teringat masih harus mengasah celurit dan mandi sebelum bersiap berangkat untuk melaksanakan sesuatu yang sama sekali tak ingin dia laksanakan.

"Ojo mati kowe, Jum! Ora usah nambah-nambahi masalahku!!" (Jangan mati kamu, Jum! Tidak usah menambah masalahku!!)

Ucap Mas Supri dengan terengah-engah, sambil meludah ke arah sang istri yang meringkuk tak berdaya di hadapannya sebelum ia berlalu ke halaman belakang rumah. Mengasah celurit dan berharap emosinya bisa sedikit mereda.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mefriction dan 25 lainnya memberi reputasi
26 0
26
Lihat 5 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 5 balasan
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
29-12-2020 19:15

BAGIAN 7

Mumpung ane ada waktu luang buat edit tulisan, jadi ane majuin aja update-nya jadi malam ini. Soalnya kalau besok takut gak kekejar waktunya gan.

Selamat membaca, enjoy...

Quote:
"Opo ora iso diganti panggon liyane to nduk? Kabupaten G********** kui adoh, tur okeh alase. Neg iso sing cedhak omah ngono wae pengene Ibu ki!" (Apa enggak bisa diganti tempat yang lain sih, nak? Kabupaten G********** itu jauh dan banyak hutannya. Kalau bisa malah yang deket rumah kita saja pengennya ibu tuh!)

Dea masih ingat jelas bagaimana sang ibu langsung bereaksi, ketika dia memberi kabar tentang dimana dia akan melaksanakan program KKN-nya lewat sebuah pesan singkat. Begitupun ayahnya, yang bahkan langsung menelepon lima menit kemudian. Berusaha merayu Dea agar mencari kelompok lain atau mengajukan ulang lokasi KKN.

Tapi Dea tahu dia bukan pengambil keputusan. Suaranya tak cukup dominan di kelompoknya sendiri. Sudah ada Gilang di sana, sebagai ketua yang sejak awal sudah mengatur semuanya. Dea bahkan baru masuk kelompok itu setelah Gilang menawarinya. Dia adalah anggota terakhir yang masuk, menggenapi kelompok KKN Jatiasih yang awalnya enam menjadi tujuh orang.

Lagipula, akan terdengar sangat konyol kalau dia mengusulkan pergantian lokasi hanya karena ayah dan ibunya khawatir. Dan pada akhirnya, alih-alih mengusulkan, Dea bahkan tak menceritakan peringatan dari kedua orang tuanya itu kepada siapapun. Tidak kepada Gilang, tidak pula kepada yang lainnya.

Sampai di hari keberangkatan, Dea yang baru melangkah masuk ke dalam bus travel sewaan yang akan membawanya dan enam anak yang lain, menerima sebuah pesan singkat. Lagi-lagi dari sang Ibu.

"Mau bengi, ono manuk gagak tibo ning latar ngarepan omah. Awakmu sing ngati-ati yo, nduk? Bapak karo Ibu ndongakne Dea terus soko ngomah..." (Semalam ada burung gagak yang tiba-tiba jatuh dan mati di halaman depan rumah. Hati-hati ya, nak? Bapak dan Ibu selalu mendoakan Dea dari rumah...)

Entah mengapa, Dea jadi kepikiran tentang firasat ibunya. Sekeras apapun dia menolak dan berusaha berpikir positif, hatinya seakan susah sekali ditenangkan. Di sepanjang perjalanan, dia lebih banyak diam. Memandang kosong ke luar jendela bus travel sambil berkutat dengan isi pikirannya sendiri.

Tapi insting seorang ibu memang jarang salahnya. Benar saja, Dea yang awalnya berpikir bahwa KKN di Jatiasih ini akan menyenangkan sambil sekaligus hitung-hitung liburan, berubah menjadi kacau balau. Dia terjebak dalam masalah pelik yang bahkan bukan karena perbuatannya sendiri. Atas dasar persahabatan yang telah terjalin dengan sedemikian erat, dia mau-mau saja menuruti ajakan Gilang untuk pergi ke Dusun terlaknat itu. Sebuah keputusan yang kemudian membuatnya sadar, bahwa Gilang sudah berubah. Anak ini punya agenda sendiri, sebuah rencana rahasia yang hanya Tuhan dan Gilang yang tahu.

Sebuah jurnal, dan kenyataan bahwa Gilang sudah tahu Srigati sebelumnya; adalah dua hal yang sudah lebih dari cukup untuk dijadikan dasar atas prasangka buruk Dea. Atau jangan jangan...malah Gilang sudah tahu tentang Dusun Srigati jauh sebelum KKN ini dimulai.

Tapi kini, Dea tahu dimana dia harus mencari jawaban atas semua pertanyaannya. Tentang Srigati dan tentang apa yang sebenarnya Gilang cari di tempat itu. Jurnal itu, pasti ada di suatu tempat di markas KKN mereka. Gilang pasti membawanya kemari.

"Masih untung kalian bisa lolos dari kejaran orang-orang Dusun sana!"

Suara Mbak Melia kemudian menyadarkan Dea dari lamunan. Menariknya kembali ke saat ini, dimana dia, Gilang, Mas Adil dan Mbak Melia duduk melingkar di atas sebuah tikar di sebuah warung kopi dekat gerbang masuk Desa Jatiasih.

"Iya, bener. Dadi saiki, kita tinggal mikir gimana caranya evakuasi gadis yang dipasung itu keluar dari Srigati." Giliran Mas Adil yang ikut berdiskusi. Mengingatkan kembali tujuan awalnya kenapa dia dan Mbak Melia datang jauh-jauh ke tempat ini.

"Tapi kita mesti ekstra hati-hati. Aku yakin mas-mas yang kemarin ngejar saya sama Gilang itu, pasti disuruh Pak Gunardi buat nyariin kita dan lagipula..."

Dea tak meneruskan kalimatnya hingga selesai, ketika dia melihat Mbak Melia tiba-tiba bangkit dari duduknya dengan wajah yang tiba-tiba berubah tegang. Dia pandangi Dea dan Gilang silih berganti, seakan dia baru menyadari sesuatu dari ucapan Dea barusan.

"Siapa anak KKN lain yang tahu soal ini??"

Dea dan Gilang menggeleng bersamaan. "Ndak ada, Mbak..."

"Dimana kalian tinggal di Jatiasih selama KKN??"

"Di rumah kosong milik warga Jatiasih yang pergi merantau. Kenapa sih, mbak?"

"Kita harus cepet-cepet kesana sekarang!"


Quote:

Quote:"Gilang ki pancen asu, kok! Ketua lho padahal, tapi ora ono tanggung jawabe. Gaweane ngilang terus!" (Gilang emang brengsek! Dia padahal ketua, tapi gak punya tanggung jawab. Kerjaannya ngilang mulu!)

"Iyo, bener! Nganti ditakonke Pak Kusno. Sedino iki mau nganti pindo lho takon nyang aku..." (Bener! Sampai ditanyain Pak Kusno. Sehari ini tadi sampai dua kali beliau nanya ke aku...)

"Alaaaah, kalian berdua ki sok ra ngerti. Saiki pikiren, bocahe ngalor ngidul karo sopo? Karo Dea, to! Masuk akal opo ora, mengingat Dea kui soko fakultas liyo. Mlebu kelompok kita yo keri dewe, itupun aku krungu-krungu sing ngajak yo si monyet Gilang kae!" (Alah, kalian berdua tuh sok enggak tahu. Sekarang pikir deh, anaknya kesana kemari sama siapa? Sama Dea, kan! Masuk akal enggak, mengingat Dea tuh anak fakultas lain. Masuk kelompok kita juga paling belakangan, itupun aku denger-denger yang ngajak ya si monyet Gilang itu!)

"Nah, aku paham saiki! Maksudmu Gilang enek opo-opo to karo Dea? Masuk akal banget, sih!" (Nah, paham aku sekarang! Maksudmu Gilang ada apa-apa kan sama Dea?)

"Yo wis bar iki, yen bocah loro kui teko kene langsung disidang wae! Saiki proker okeh sing terbengkalai, aku rapopo yen Gilang karo Dea ditendang terus ketuane ganti Sarah..." (Yaudah habis ini, kalau mereka berdua balik kesini langsung disidang aja! Sekarang proker kita banyak yang terbengkalai, aku enggak masalah kalau Gilang sama Dea ditendang terus ketuanya diganti Sarah...)

"Iyo, mending wong limo tapi produktif daripada wong pitu tapi enek skandal!" (Iya, mending berlima tapi produktif daripada bertujuh tapi ada skandal!)

Sambil mencoba menulis laporan perkembangan program kerja KKN kelompok di ruang tengah, Sarah mencuri dengar obrolan tiga orang cowok di teras depan; Rafael, Iwan dan Simon. Mereka ini benar-benar seperti ibu-ibu yang sedang asyik ghibah di tukang sayur pagi-pagi. Sarah jadi dibuat geli sendiri. Cowok kalau sudah gabut dan ketemu sama partner ngobrol yang pas, ngegosipnya bisa lebih parah daripada para cewe.

Tapi mungkin mereka benar juga, dan rasa jengkel mereka sangat beralasan. Gilang, yang seharusnya mengatur semua kegiatan KKN, malah semakin jarang terlihat di rumah ini. Di rumah kosong yang dijadikan markas kelompok KKN mereka. Bahkan Pak Kusno, kepala desa Jatiasih yang sudah berbaik hati mau menerima mereka dan menjadi tour guide di hari pertama, sampai menanyakan eksistensi Gilang sebagai nama yang paling bertanggung jawab atas kelompok ini.

Itu jelas sudah sangat parah. Bahkan Sarah sempat tertarik ikut menimbrung bersama di teras depan. Tapi ketika mendengar namanya disebut, muka Sarah langsung berubah masam. Males banget jadi ketua, batinnya ikut-ikutan sebal. Dan makin sebal lagi ketika matanya menatap lembaran kertas penuh dengan tulisan tangan yang berserak di tikar yang digelar di atas lantai tanah rumah ini. Laporan perkembangan Proker...ditulis oleh Sarah. Sebuah pekerjaan yang harusnya dikerjakan oleh dia yang bergelar Sang Ketua Kelompok Kuliah Kerja Nyata.

Tapi dimana si pemilik gelar sekarang? Sedang sibuk dengan hal lain atau malah berada di suatu tempat? Melakukan hal yang iya-iya sama mahasiswi asing bernama Dea itu? Sarah menghela nafas berat. Yang dia tahu, di antara mereka bertujuh cuma dirinya yang bisa diandalkan untuk memback-up semua kebutuhan kelompok.

Gilang dan Dea tidak jelas dimana rimbanya.

Tiga cowok di depan itu; Rafael, Iwan dan Simon, tidak terlalu pintar dan lebih banyak bicara.

Oh ya, masih ada satu lagi!

Namanya Poppy...

Sarah menoleh ke belakang, dimana tepat di sana ada sebuah pintu kayu dari sebuah kamar yang biasa dipakai tidur anak-anak perempuan. Di sanalah Poppy berada. Si tukang mengeluh itu sudah tidur pulas sejak selepas adzan Isya tadi.

Sudahlah, memang harus aku sendiri yang menyelesaikan ini semua. Sarah membatin sambil bangkit dari duduknya. Berniat buang air kecil dulu sebelum lanjut menulis. Dan di saat itulah, dia baru sadar bahwa ini sudah nyaris jam sepuluh malam dan apa yang disebut dengan kamar kecil di desa ini adalah bangunan dua kali dua meter yang dikelilingi tembok bambu dan letaknya terpisah dari rumah utama. Tepat berada di antara rimbunnya kebun pisang halaman belakang.

Sambil tetap terpaku di tempatnya berdiri, Sarah membuat perhitungan. Dari ruang tengah ini, dia harus melewati dapur yang pintu keluarnya ada di pojokan. Dari pintu keluar itu, Sarah harus melangkah melewati kebun pisang yang gelap dan rapat sebelum sampai ke tempat tujuan.

"Haduh..." Sarah menepuk jidatnya sendiri. "Mau kencing wae susahnya setengah mati!"

Dia memang handal dan cekatan dalam menyelesaikan nyaris semua masalah; kecuali masalah tentang betapa ciut nyalinya sendiri. Jangankan dengan setan, berhadapan dengan suara yang agak keras saja Sarah menyerah. Pernah sekali, dia dibentak oleh dosennya. Kedua lutut Sarah langsung lemas dan dia merasa bahwa lebih baik dia pingsan saat itu juga.

Pacarnya pernah bilang kalau semua itu berasal dari sifatnya yang overthinking. Imajinasinya terlalu besar, sampai-sampai dia membayangkan sesuatu yang sebenarnya belum tentu ada atau terjadi. Semua itu kemudian membuatnya menjadi pengecut yang terkadang kehilangan keberanian bahkan sebelum mencobanya terlebih dulu.

Persis seperti sekarang. Sarah berdiri terdiam sambil memandangi jalan menuju dapur yang hanya berjarak lima langkah. Bahkan dapur itu juga tidak terlalu gelap. Sinar dari lampu sentir sudah cukup untuk menerangi langkahnya agar tidak tersandung sesuatu.

Tapi bagaimana kalau yang tersandung kakinya itu adalah...kepala orang??

Bagaimana kalau dipojokan dapur ada putih-putih berdiri dan menunggu kedatangannya?? Belum lagi di kebun pisang belakang rumah. Di sana lebih parah, Sarah tak akan tahu ada apa di balik rindang dan rapatnya pohon-pohon itu. Apalagi dia pernah mendengar sebuah mitos bahwa pohon pisang adalah tempat bercokolnya sesuatu yang dia kenal bernama...

...POCONG.

"Arep nguyuh to, Sar?" (Mau kencing ya, Sar?)

Suara itu membuat Sarah nyaris terjengkal jatuh karena kaget, andai lengannya tidak ditarik oleh si pemilik suara. Sarah langsung menoleh, dan tanpa dia sadari mulutnya mengumpat.

"Asu! Ngopo sih kowe, Pop?!" (4njing! Ngapain sih kamu, Pop?!)

Poppy, si pemilik suara hanya tertawa geli melihat tingkah Sarah yang kelihatan sekali seperti orang ketakutan.

"Lha kowe domblong koyo wong kesambet ngono kok! Kudune aku sing wedi malahan. Wis yuk, barengan wae. Aku yo rodo wedi neg ameh nguyuh dewean!" (Kamu sih bengong kayak orang kesambet! Harsunya tuh aku yang takut sama kamu. Yaudah yuk, barengan aja. Aku juga agak takut kalau mau ke belakang sendirian!)

Sarah menyambutnya dengan suka cita. Di hatinya, setidaknya malam ini Poppy sedikit lebih berguna daripada Gilang, Dea atau tiga orang cowok di depan sana yang sampai sekarang masih saja mengobrol kesana kemari itu.

"Yuk!"

Mereka berdua kemudian melangkah bersama sambil mengobrol kesana kemari, setidaknya untuk mengalihkan perhatian agar Sarah tidak tertarik untuk menoleh ke sudut-sudut yang tidak perlu untuk ditoleh.

"Cah-cah kae mau durung podo turu, to? Bahas opo sih?" (Anak-anak tadi belum tidur, ya? Bahas apaan sih?)

Poppy sepertinya juga mendengar obrolan itu. Tapi memang kalau dari dalam kamar, suara yang ada di teras depan tidak terlalu jelas terdengar.

"Bahas Gilang sama Dea yang ilang-ilangan itu lho, Pop..."

Poppy tertawa kecil. "Emang wong loro kae kurang ajar kok..." (Emang anak dua itu kurang ajar kok...)

"Ya emang kurang ajar, liat tuh aku harus lembur ngerjain kerjaannya si Gilang!"

Mereka berdua sukses keluar dari dapur tanpa kendala sama sekali. Dan kini Sarah bersiap menghadapi rintangan kedua; kebun jagung yang gelap dan rimbun. Segera ia raih senter di kantong celana dan mengarahkan cahayanya ke depan sana.

"Ayo gandengan aja, Sar. Peteng banget iki..." (Ayo gandengan aja Sar. Gelap banget ini...)

Poppy mendekatkan tubuhnya dan mereka benar-benar bergandengan. Mirip seperti dua orang yang menghindari hujan di bawah satu buah payung kecil. Langkah-langkah panjang cepat diambil, sambil berusaha menitik fokuskan pandangan ke depan dan menghindari untuk menoleh ke kanan kiri.

Sebentar lagi Sarah dan Poppy akan sampai ke tujuan. Sinar cahaya senter itu menabrak dinding bambu kamar kecil yang letaknya ada di tengah-tengah kebun pisang.

"Tapi kowe ngerti ora Sar, Gilang karo Dea kui ora mung kurang ajar mergo sering ninggal kowe..." (Tapi kamu tahu enggak Sar, Gilang sama Dea itu kurang ajarnya enggak cuma karena sering meninggalkan kamu...)

Ucapan Poppy barusan, membuat langkah Sarah terhenti tiba-tiba. Poppy? Apa dia tahu sesuatu?

"Maksudmu apa, Pop?"

Bersamaan, dari arah dalam rumah terdengar jelas suara seseorang memanggil nama Sarah. Suara itu bahkan jelas terdengar di tengah sunyinya Desa Jatiasih di malam hari seperti ini.

"Saaaar!! Kamu dimana? temenin kencing yuk!!"

Sarah menoleh ke arah sana. Dia jelas mengenal siapa yang sedang mencari-carinya itu. Itu suara Poppy...dari dalam rumah.

Sarah masih berusaha mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi, tapi entah kenapa tangan kanannya yang memegang senter refleks mengarah ke Poppy yang satunya. Poppy yang tadi tiba-tiba saja ada di belakangnya. Poppy yang tadi mengajaknya untuk ke belakang bersama-sama. Poppy yang tadi mengobrol dengannya di sepanjang jalan menuju kebun pisang ini.

Poppy yang ini, berdiri tepat satu jengkal di depan dadanya.

TAPI DIA BUKAN LAGI POPPY! POPPY TIDAK TERSENYUM SELEBAR INI, HINGGA KEDUA UJUNG BIBIRNYA NYARIS MENYENTUH TELINGA! MATA POPPY JUGA TIDAK SEPENUHNYA PUTIH! BAU BADAN POPPY YANG INI SEPERTI BAU KOTORAN KAMBING YANG BEGITU MENYENGAT INDERA PENCIUMANNYA!!

DIA, YANG BERADA SATU JENGKAL DI DEPAN DADA SARAH INI BUKAN POPPY YANG IA KENAL!!

"Sarah ning ndi sih, cah?" (Sarah dimana sih, bro?)

Suara Poppy kembali terdengar dari dalam sana. Tapi Sarah tak bisa berteriak minta tolong. Dia tidak bisa berlari. Lututnya lemas. Tubuhnya bergetar hebat sekali. Tapi, yang paling menjengkelkan, dia juga tak bisa pingsan. Dia terjebak. Dia terpaku di atas tanah tempatnya berdiri. Bahkan ketika makhluk ini mendekat dan berbisik lirih di telinganya, Sarah tak mampu berbuat apapun.

"Omongo kancamu loro kae, ojo wani-wani maneh ngidak lemah keratonku!!" (Bilang ke kedua temanmu itu, jangan berani-berani lagi menginjak tanah kerajaanku!!)

Lalu semuanya berubah menjadi gelap...
Diubah oleh the.darktales
profile-picture
profile-picture
profile-picture
luwisaputra dan 25 lainnya memberi reputasi
26 0
26
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
16-12-2020 00:34

BAGIAN 4

Bagian keempat dari trit ini cukup menguras pikiran. Bahkan mungkin adalah tulisan paling beresiko yang akan kita tulis. Sempat beberapa kali kami berdua berdiskusi dan berdebat, apakah perlu bagian ini kita tuliskan, mengingat kita akan mendeskripsikan bentuk dan karakteristik desa terkait yang menjadi inti dari cerita TULAH.

Pada akhirnya, kami berdua sepakat tetap menulis Bagian ini dengan tetap menyamarkan nama lokasi, tapi kemiripan antara deskripsi di cerita dengan aslinya mencapai 70%. Kami mohon kebijaksanaan agan-agan semuanya, jika nanti ada yang merasa familiar dengan desa yang dimaksud mohon kebijaksanaannya untuk tetap menjaga rahasia demi kenyamanan bersama dan kelangsungan trit ini.


Quote:
"Dari alun-alun Kabupaten, nanti Mas Adil ambil jalur ke Selatan. Luruuuus aja terus sekitar 10 Km. Sampai ketemu perempatan Semani, nanti Mas Adil belok ke kiri, lurus sampai ketemu gapura desa Jatiasih. Kita ketemu di depan gapura, aja Mas. Nuwun."

Berbekal pesan BBM sesingkat dan sepadat itu dari Dea, Adil berangkat dari kota tempat tinggalnya. Nekat memaksa motor 4-tak yang entah kapan terakhir diganti oli itu menebas jarak 68 kilometer. Lebih nekatnya lagi, dia membawa seorang perempuan yang sejak tadi tak bicara sepatah katapun kecuali...

"Jangan besar kepala, lo! Gue ikut cuma buat lihat kondisi korban."

Tegas Melia dengan ketus, ketika tadi Adil menjemputnya di depan rumah kost mantan pacarnya itu.

Dan yang selanjutnya terjadi adalah sebuah perjalanan panjang penuh kebisuan menuju jauh ke selatan. Si penumpang tak jua bicara, Adilpun jadi segan untuk membuka satu bahan obrolan. Mau menyuruh Melia pegangan karena jalan yang dilewati bergelombang, takut kurang ajar. Mau menawari makan siang, takut dianggap melakukan manuver pendekatan. Semuanya jadi serba salah.

Jadi daripada dia kena semprot lagi, Adil lebih pilih menikmati pemandangan di sepanjang jalan sambil sesekali membiarkan pikirannya melayang. Menebak-nebak, masalah apa lagi yang akan dihadapinya nanti. Seorang perempuan yang diduga memiliki gangguan jiwa, dipasung di sebuah kandang kambing.

Kenapa?

Apakah keluarganya tak punya cukup biaya? Ataukan perangkat desanya kurang tanggap untuk segera menghubungi pihak-pihak terkait yang setidaknya bisa membawa si perempuan ke tempat dengan penanganan yang lebih layak?

Tapi bukan itu! Bukan itu yang paling mengganggu Adil. Penolakan dari Eko-lah yang masih menjadi tanda tanya. Adil sangat mengenal Eko. Anak itu adalah sosok yang selalu berada di garda paling depan di organisasi, setiap kali mendengar ada yang membutuhkan bantuan. 10 tahun saling kenal, saling bahu membahu dalam kegiatan kemanusiaan, dan baru sekali ini Eko memberinya penolakan.

Bukan karena kasusnya, bukan pula karena kesibukannya...

...tapi karena dia mendengar nama desanya.

Srigati.

Ada apa dengan desa itu?

"Belok kiri, Heyyy!!"

Teriakan Melia yang dibarengi dengan pukulan keras di punggungnya, membuat Adil kembali ke kesadaran dan kini motor yang dikemudikannya telah berada tepat di depan sebuah perempatan dengan sebuah papan penunjuk arah yang berdiri di sisi kiri.

JATIASIH 8 KM LAGI.

Dengan segera, Adil langsung membelokkan arah sepeda motornya ke kiri tanpa memedulikan Melia di belakang yang terus-terusan menggumam dengan sebal.

Jika berdasar pada BBM Dea, maka Adil tinggal mengikuti jalan ini saja sampai ketemu dengan gapura Desa Jatiasih. Tapi, semakin jauh mereka meninggalkan perempatan Semani, rumah pemukiman warga tampak semakin jarang pula. Walaupun jalanan masih cukup ramai oleh lalu lalang, tapi Adil tidak dapat memungkiri kalau ada sesuatu yang menganggu perasaannya. Ada banyak hal yang berputar-putar di kepala, dan satu-satunya cara agar semua itu hilang adalah segera sampai ke Jatiasih dan bertemu dengan teman adiknya yang bernama Dea itu.

Mungkin separuh perjalanan sudah mereka lalui, pemukiman warga semakin jarang terlihat. Begitupun jalanan yang awalnya diaspal halus, kini mulai bergelombang dan banyak lubang di sana-sini.

"Dil..." Melia berbisik. "Perasaan gue kok ga enak, ya?"

Harusnya Adil bahagia, karena di sepanjang perjalanan dari kota S***** sampai sekarang, baru sekali ini Melia berbicara dengan nada yang tidak ketus. Tapi tidak, Adil malah dibuat makin dibuat cemas karenanya.

"Apaan sih, Mel?" Hanya itu yang bisa Adil katakan untuk berusaha menenangkan mantan kekasihnya itu. Tanpa mengakui bahwa perasaan dan firasat tidak enak itu juga Adil rasakan, bahkan sudah sejak sebelum mereka berdua berangkat hari ini.

Dari kejauhan, gerbang desa yang mungkin menjadi titik pertemuan itu mulai terlihat. Dan semakin dekat, Adil makin yakin bahwa mereka berdua telah sampai di tujuan.

"SELAMAT DATANG DI DESA JATIASIH"

Tulisan itu terukir melengkung di atas gapura, dan tepat di bawahnya berdiri dua orang anak muda seumuran adiknya Adil yang dari gestur mereka, tampak sama cemasnya. Tangan keduanya dimasukkan ke dalam saku almamater dan ketika motor Adil mendekat, mereka segera berlari menghampiri mereka.

Tapi belum juga mesin motor dimatikan, Melia lebih dulu melompat turun dan menghampiri gadis muda itu. Seakan dia sedang berlomba agar tidak didahului oleh Adil.

"Dea? Saya Melia, temennya Adil. Jadi, dimana gadis yang dipasung itu? Bisa kita kesana sekarang?"

Dea hanya diam. Pria yang sejak tadi diam di belakang, kemudian maju ke depan. Bicara dengan nada yang cukup jelas kepada Melia dan Adil.

"Saya Gilang, mbak! Ketua tim KKN. Yang jelas, kita ndak bisa kesana sekarang! Kita harus cari jalan memutar lewat hutan buat bisa masuk ke dusun itu..."

"Maksudnya?" Adil turun dari motor dan mendekat ke arah mereka bertiga.

"Maksudnya..." Giliran Dea yang menjawab. "Kita harus masuk ke Srigati dengan sembunyi-sembunyi!"

"Tapi sebaiknya, mas Adil dan mbak Melia dengar dulu cerita kami. Ada banyak yang harus mas Adil dan mbak Melia ketahui. Tentang Srigati dan tentang kesalahan yang kami berdua lakukan!"


Quote:
Dusun ini terkurung hutan jati yang teramat luas. Begitu terpencil, terkucil dan terisolasi. Entah, Dea tidak tahu, apakah Srigati benar-benar terisolasi, atau sebenarnya...

...dusun inilah yang mengisolasi diri dari dunia luar.

Bahkan ketika motor Gilang berhenti tepat di depan gerbang masuknya, Dea seakan tak percaya kalau masih ada pemukiman penduduk di tengah hutan Jati. Apalagi dengan jalan sempit berbatu seperti itu sebagai satu-satunya jalan akses untuk keluar-masuk, Dea tak bisa membayangkan bagaimana kala hujan turun. Bagaimana warganya beraktifitas atau setidak-tidaknya menjalankan roda perekonomian mereka.

Tarikan gas Gilang sedikit mengendor ketika motor mereka masuk melewati gerbang desa yang tampak begitu lapuk dan seakan sama sekali tak terawat. Cat warna merahnya sudah mengelupas di sana-sini, dan bahkan bentuknya tak lagi tegap berdiri. Sudah tampak sedikit miring dan bahkan sepertinya, hanya butuh sedikit hembusan angin untuk membuatnya roboh.

"Iki dewe arep nyandi, Gil?" (Ini kita mau kemana, Gil?)

Dea mulai cemas. Ketakutannya pada deretan pohon jati yang ranggas tadi memang sudah berlalu, namun kini digantikan dengan perasaan yang lain. Rasa terancam. Entah mengapa, Srigati seakan membuatnya merasa terancam. Membuat hatinya terus berdegup kencang.

"Kowe meneng wae. Mengko, yen ora ditakoni ora usah ngomong opo-opo!" (Kamu diam saja. Nanti, kalau tidak ditanyai enggak usah ngomong apa-apa!)

Motor terus melaju. Gerbang desa makin jauh tertinggal di belakang. Dea mencoba mengalihkan rasa cemasnya, dengan memasang mata dan memperhatikan pemandangan di sekitarnya. Dan ini yang dia ingat;

Tepat setelah masuk melewati gerbang desa, jalanan tanah langsung berganti dengan jalan yang diplester dengan semen. Hamparan kebun jagung terhampar di kanan kiri, tapi tak kelihatan satupun warga yang nampak berkebun atau mengurus kebun jagung mereka. Benar-benar sunyi, hening dan hanya deru suara motor Gilang yang terdengar.

Sekitar 200 meter di depan, rumah pertama mulai terlihat yang kemudian disusul dengan deretan rumah-rumah lainnya. Sebagian besar dari deretan itu dipisahkan oleh sebidang tanah yang sebagian ditanami pohon pisang dan sebagian lain dibangun kandang-kandang hewan dari gedheg atau anyaman bambu.

Dan tepat saat itulah, Dea dibuat terperangah. Dusun ini, yang awalnya dia anggap terpencil dan terkurung hutan, ternyata memiliki deretan rumah-rumah yang bahkan lebih bagus dan lebih layak daripada di Jatiasih yang relatif lebih dekat dengan jalan besar. Nyaris semua rumah sudah ditembok, bahkan beberapa memiliki halaman depan yang cukup untuk memarkir dua buah mobil sekaligus.

Hanya saja...

...setiap Dea menganggukkan kepala kepada setiap warga yang didapatinya sedang duduk di teras rumah mereka atau yang sedang berjalan, bukan sambutan ramah yang ia dapat. Melainkan pandangan tajam menyelidik. Seakan kedatangan mereka berdua tak diinginkan di tempat ini.

Dea mencoba tak peduli. Dia memutuskan berhenti bersikap ramah dan mengalihkan pandangannya lurus ke depan. Dimana di depan sana, ada sebuah perempatan. Gilang, yang masih belum diketahui mau kemana, bersiap berbelok ke arah kiri. Mata Dea nyalang. Benae-benar dipandanginya perempatan itu.

Jika lurus, deretan rumah warga masih mereka temui dan entah berujung dimana. Sedangkan jika berbelok ke kanan, jalanan semen langsung berganti dengan jalan tanah, dan masuk kembali ke arah hutan Jati. Dan tepat di batas antara jalan semen dan jalan tanah itu, Dea mendapati sebuah bangunan yang tak lagi utuh. Sepertinya bekas terbakar -- atau dibakar.

Motor mereka kini sepenuhnya berbelok ke kiri, tapi pandangan Dea masih tertahan di batas antara pemukiman dan hutan Jati yang sedemikian lebatnya. Perhatiannya tersedot sepenuhnya di satu titik; dimana bekas bangunan itu berdiri.

Bahkan ketika Dea berhenti menoleh ke belakang, perasaan yang aneh itu terus mengganggu perasaannya. Desa ini sepertinya tidak beres, batinnya sendiri.

Kini, Gilang benar-benar menghentikan laju motornya. Tepat di depan sebuah rumah joglo yang sepertinya merupakan rumah paling besar di seluruh Srigati. Dea hanya melongo ketika Gilang mematikan mesin dan menoleh kepadanya.

"Ayo turun! Kita sudah sampai di rumah Kepala dusun..."

Sedang tepat di depan pintu rumah itu, seorang pria paruh baya dengan peci hitam di kepala dan kemeja putih membalut tubuhnya, berdiri dengan kedua tangan terlipat di punggung. Dia menganggukkan kepala sambil mengulaskan senyum ramah di balik kumisnya yang tebal.

Seakan, orang itu sudah menunggu kedatangan mereka berdua.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kаskus dan 21 lainnya memberi reputasi
22 0
22
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
11-01-2021 00:02

BAGIAN 9

Quote:
Matahari perlahan terbit di kaki langit timur Jatiasih. Sinarnya jatuh ke setiap sudut, menyelinap di antara pohon-pohon yang menjulang, menghantarkan kehangatan yang merasuk hingga ke sanubari yang paling dalam.

Di jalanan desa, tampak beberapa warga mulai berlalu lalang. Bersiap menjalankan aktifitas seperti biasa. Beberapa ibu-ibu paruh baya berjalan saling beriringan sambil menggendong tenggok bambu di punggung masing-masing, sepertinya mereka akan mengumpulkan rumput di kebun atau hutan untuk santapan sapi atau kambing. Langkahnya serempak menyusuri rumput berembun, sambil saling khusyuk berbincang satu sama lain.

Awalnya tak jelas apa yang menjadi bahan obrolan mereka. Namun dari mimik wajah yang terlihat, sepertinya para ibu itu tampak sedikit cemas atau ketakutan. Nada bicaranya nyaris berbisik, sesekali menggelengkan kepala dan mendecakkan lidah seakan tak percaya. Tapi semakin jarak mereka dekat, tak ayal semakin jelas pula suara mereka. Semakin terang pula apa yang sedang sembunyi-sembunyi dibicarakan.

"Jare bojoku, mau bengi enek bocah KKN sing kesurupan!"
(Kata suamiku, semalem ada anak KKN yang kesurupan!)

"Tenante lho, Yu? Soko ngendi bojomu krungu?"
(Beneran lho, Mbak? Dari mana suamimu denger?)

"Iyo, Yu Sarni ki! Ojo-ojo bojomu mung goroh..."
(Iya, Mbak Sarni ini! Jangan-jangan suamimu cuma ngibul...)

"Lho, mau bengi pora podho krungu suoro bengok-bengok soko omahe Yusup to? Sak bubare ditinggal merantau kan omah kui kosong, terus menyang Pak Polo dinggo tinggal bocah-bocah KKN kui!"
(Lho, semalem apa kalian enggak denger suara teriak-teriak dari rumahnya Yusup? Setelah ditinggal merantau rumah itu kan kosong, terus sama Pak Kepala Desa dipakai buat tinggal anak-anak KKN itu!)

"Aku yo krungu, Yu! Mau bengi sekitar jam sewelas..."
(Aku denger, Mbak! Tadi malem sekitar jam sebelas...)

"Lho to! Bojoku ora goroh, enak wae! Mau bengi Pak Kusno moro menyang ngomah, pas banget bar suoro mbengok kui. Priyayine nggoleki bojoku, njaluk tulung kon ngancani merikso menyang omahe Yusup..."
(Tuh, kan! Suamiku enggak ngibul, enak aja! Semalem Pak Kusno datang ke rumah, pas banget setelah suara teriak itu. Orangnya nyari suamiku, minta tolong buat nemenin periksa ke rumahnya Yusup...)

"Trus, trus piye Yu?!"
(Trus, trus gimana Mbak?!)

"Bojoku mulih jam siji bengi, tekan ngomah njaluk ngombe. Sak kendhi entek diombe dewe. Raine pucet, tak takoni mung meneng wae. Tak pekso, yen ora gelem cerito ora bakal tak jatah nganti seminggu. Yo wis, sidane wonge bloko. Enek cah KKN siji, wedok sing jenenge Sarah opo sopo ngono...kesurupan! Terus to, cah-cah KKN kui nyobo ngapusi Pak Kusno. Jare kenek penyakit opo ngono aku ra ngerti jenenge. Rumangsane awakedewe ki wong ndeso trus iso diapusi opo piye?"
(Suamiku pulang jam satu malam, sampai rumah minta minum. Satu botol habis diminum sendiri. Mukanya pucat, aku tanya dia diam saja. Terus aku ancam, kalau gak mau cerita enggak aku kasih jatah satu minggu. Yaudah, akhirnya dia jujur. Ada anak KKN satu, perempuan yang namanya Sarah atau siapa gitu...kesurupan! Terus kan, anak-anak KKN itu coba bohongin Pak Kusno. Katanya kena penyakit apa gitu aku enggak tahu namanya. Mereka kira kita ini orang kampung terus bisa dibohongin gitu?)

"Tenane, Yu?!"
(Beneran, Mbak?!)

"Lho, takono bojoku dewe yen ora ngandel!! Eh, tapi ojo ding. Mau bengi wis wanti-wanti, pokokke penging cerito menyang sopo-sopo..."
(Lho, tanya suamiku sendiri kalau enggak percaya!! Eh tapi jangan sih. Tadi malem sudah diperingatkan, pokoknya aku enggak boleh cerita ke siapa-siapa...)

"Lho?! Lha iki kok sampeyan malah cerito nyang awakedewe, Yu?!"
(Lho?! Ini kok kamu malah cerita ke kita-kita, Mbak?!)

"Hehehehe, keceplosan..."


Quote:
Mereka semua duduk melingkar di ruang tengah, kecuali Poppy dan Dea yang sedang menjaga Sarah di dalam kamar.

Gilang yang terus menundukkan kepala seperti seorang terdakwa; Rafael yang tatapan intimidatifnya masih saja terarah kepada Gilang; Iwan dan Simon yang masih berusaha mencerna rentetan peristiwa semalam yang mereka rasa terlalu cepat dan membingungkan; serta Adil dan Melia yang duduk agak mundur ke tepian tikar, seakan sadar bahwa keberadaan mereka masih belum bisa diterima sepenuhnya oleh anak-anak ini.

Sarah pingsan di kebun pisang, Gilang dan Dea datang membawa sepasang orang asing, kemudian Sarah tiba-tiba menjerit sekerasnya dan -entah bagaimana- kakinya melayang beberapa senti dari atas ranjang, terus berteriak dan memaki dalam suara yang mereka semua tahu...bukan suara Sarah yang mereka kenal.

Tapi semalam, masalah tak selesai sampai di situ; Pak Kusno dan empat warga lainnya tiba-tiba datang menyambangi markas mereka, berkata bahwa terdengar suara teriakan yang diyakini berasal dari rumah ini. Untung kepala desa itu bisa ditenangkan, dikelabuhi bahwa Sarah punya phobia terhadap kecoa dan itulah yang membuatnya berteriak seperti kesetanan kemudian pingsan.

Pak Kusno kemudian masuk, menengok Sarah yang masih tak sadarkan diri di dalam kamar, kemudian menganggukkan kepala kepada empat warga lainnya. Memberi kode bahwa semuanya baik-baik saja.

"Oalah, penyakit orang kota itu aneh-aneh saja. Pokoknya adik-adik jaga diri baik-baik. Saya pamit dulu, nggih?" Pesannya singkat sebelum berlalu meninggalkan rumah markas KKN.

Setelah itu, inilah yang terjadi. Mereka duduk di ruang tengah. Sama-sama diam, sama-sama pusing, sama-sama tak bisa tidur. Terlalu banyak pertanyaan yang berputar di kepala, tapi di sisi lain takut salah jika mencoba bertanya.

Namun dalam kebekuan itu...

...ada beberapa yang mulai memikirkan agenda pribadi mereka masing-masing.

Quote:Melia membenci kenyataan bahwa hanya dengan bertatapan mata dengan Adil saja, dia sudah paham apa yang ingin cowok keras kepala ini maksudkan. Mungkin benar kata orang, memutus ikatan perasaan tak semudah memutus sebuah sebuah status hubungan.

Melia sempat berpikir untuk move on setelah dia putus dari Adil tiga bulan lalu. Tapi bagaimana bisa, jika dirinya saja masih sangat hafal gestur tubuh dan arti tatapan mata pria ini seperti sekarang??

Fokus, Mel. Kita jauh-jauh datang kesini karena kita punya tujuan. Kurang lebih itulah yang coba Adil ucapkan padanya. Tujuan. Ya, tujuan! Dia rela naik motor sejauh ini, dibonceng oleh Adil dan terjebak dalam situasi canggung selama berjam-jam, karena dia punya satu misi yang harus dilakukan.

Otak Melia kemudian mulai bekerja. Informasi tentang perempuan yang dipasung itu sudah cukup mereka dapatkan dari cerita Gilang kemarin sore. Lokasinyapun sudah cukup jelas dan detail. Hanya saja masalahnya sekarang adalah situasi di sekitaran kandang kambing, tempat dimana Gilang dan Dea melihat perempuan itu dipasung.

Mengingat keributan yang ditimbulkan dua anak itu kemarin, pasti kandang kambing itu kini dijaga ketat oleh warga Srigati. Mereka jelas tak mau kecolongan lagi untuk kedua kalinya. Melia sangat yakin akan hal itu, seyakin ia mempercayai bahwa kejadian ajaib dan di luar nalar yang menimpa Sarah semalam ada hubungannya dengan apa yang telah dilakukan Gilang dan Dea.

Lalu, bagaimana caranya datang kesana dan mengevakuasi si perempuan malang itu tanpa menimbulkan keributan lain? Dan kenapa juga, seakan warga di sana begitu menjaga perempuan itu dengan sangat ketat dan begitu tak terima jika ada orang lain yang tahu tentang keberadaan perempuan itu?

Tapi belum juga Melia mendapatkan jawaban, tangannya lebih dulu ditarik oleh Adil dengan tiba-tiba. Dia dibawa mantan pacarnya itu keluar hingga ke halaman depan.

"Mel, kita jangan buang-buang waktu..." Bisik Adil sambil melirik ke arah rumah. Khawatir kalau ada yang mencoba menguping.

"Heh, lo kira gue juga mau lama-lama di sini?! Tapi pikir deh, gimana caranya kita kesana tanpa ketahuan?! Evakuasi tuh enggak sebentar Dil, dan gue yakin setelah peristiwa kemarin tempat itu pasti dijaga sama warga sana. Bahkan mungkin lebih dari dua orang!"

Melia berharap Adil akan tutup mulut dan ikut bingung setelah mendengarkan paparannya. Tapi sebaliknya, dia malah menyunggingkan senyum dan mendekatkan bibirnya ke telinga Melia.

"Aku ada ide! dengerin..."

Quote:Gilang hanya sekilas melirik, ketika Mas Adil menarik tangan Mbak Melia keluar rumah. Dia tak mau berlama-lama mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk, takut kalau dia harus berpapasan pandang dengan Rafael yang sepertinya tinggal menunggu kesempatan untuk memaki atau bahkan memberinya satu bogem mentah.

Jadi untuk menghindari hal itu, Gilang memandang tikar tempatnya duduk. Kembali menenggelamkan diri dalam pikirannya sendiri.

Gila, ini gila! Hanya itu yang ada di kepala Gilang. Tak dia sangka bahwa akibatnya akan jadi sejauh ini! Andai dia tahu orang-orang Srigati bakal main ilmu hitam seperti ini, tentu Gilang tidak akan berkeras untuk masuk ke sana. Malam ini Sarah yang dikirimi pesan untuk disampaikan kepadanya dan Dea, lalu besok apalagi? Lalu besok siapa lagi? Rafael, Simon, Iwan, Dea, Poppy atau malah dirinya sendiri??

Sudah cukup! Di detik ini juga, Gilang memutuskan untuk berhenti bertindak lebih jauh. Dia tak mau lagi menuruti obsesinya akan Srigati dan rahasia-rahasia yang tersimpan di tempat terlaknat itu.

Kini yang harus dipikirkan adalah bagaimana caranya menghindari masalah yang lebih besar. Dan Gilang tak menemukan pilihan lain kecuali segera pergi dari tempat ini. Semuanya sudah menjadi kacau, bahkan terlampau kacau untuk bisa diperbaiki. Dan yang jauh lebih penting dari itu semua adalah sebuah kesadaran bahwa bisa saja nyawanya terancam jika dia tak segera mengambil langkah seribu. Gilang tak mau kena tulah dan mati di tempat terpencil ini.

Rencana kemudian tersusun dengan teramat cepat di kepala.

Dia tak perlu membawa semua barangnya. Itu terlalu mencurigakan. Cukup satu tas kecil, dan tentu saja jurnal tentang Srigati yang ia simpan di dalam kamar. Gilang bisa beralasan untuk mencari sinyal ke Semani. Dari kecamatan itu, ada bus kecil yang akan membawanya ke terminal kota. Dan di sana dia bisa langsung pulang ke rumah. Setelah itu, Gilang berencana untuk memesan tiket pesawat. Pergi menyusul ibunya ke Bali untuk beberapa saat.

Ya! Hanya itu rencana terbaik yang dia punya! Toh, sepengetahuannya, santet atau teluh tak akan bisa menyeberang lautan. Dia akan aman di sana, nyawanya akan terselamatkan.

Harapan itu kemudian muncul dan mulai terkembang di hati Gilang. Dia benarkan kacamata dan bangkit dari duduknya. Melangkah tenang menuju kamar, sambil berharap tak ada satupun dari kawan-kawannya yang mencurigai.

Tapi pada kenyatannya, ada hal lain yang membuat rencana Gilang berantakan. Karena sesampainya di dalam kamar, ia menemukan tasnya sudah terbuka lebar. Hatinya tiba-tiba berdegup kencang sekali. Segera ia raih tas itu dan mencari sesuatu di dalamnya.

JURNAL ITU...JURNAL TENTANG SRIGATI ITU...TAK ADA DI TEMPATNYA!!

Quote:"Aku wegah mulih, Pop. Aku rapopo kok! Tenan..." (Aku enggak mau pulang, Pop. Aku enggak apa-apa kok! Beneran...)

Dea ingin membantah ucapan lemah Sarah barusan. Tapi dia memilih diam. Selain karena bukan dia yang diajak bicara, Dea sadar bahwa dua cewek ini sama sekali tak menyukainya.

Bahkan sejak awal dia diperkenalkan oleh Gilang sebagai penggenap kelompok KKN, Sarah dan Poppy sudah menunjukkan sikap yang tak bersahabat. Mereka bicara seperlunya, menyapa seperlunya dan bahkan rasanya mereka tak pernah membicarakan hal lain kepada Dea kecuali tentang perkara proker KKN. Tak jarang pula, Dea merasa Poppy dan Sarah sengaja memamerkan keakraban tanpa berniat mengajaknya untuk turut berbagi canda dan cerita.

Kamu adalah rekan KKN kami, tapi bukan sahabat kami. Kamu adalah orang asing, yang setelah KKN ini selesai, kami tak punya lagi kewajiban untuk menyapa atau berbicara denganmu.

Kurang lebih seperti itulah yang Dea tangkap dari sikap keduanya.

Tiga hari pertama, semuanya terasa berat bagi Dea. Dia merasa dikucilkan, dirundung dan diasingkan. Maka dari itu, dia jadi lebih dekat dengan Gilang karena hanya pria itulah yang dia kenal dengan baik. Bahkan walaupun Gilang berubah menjadi begitu menyebalkan dan sekarang menjerumuskannya dalam masalah besar, Dea tak pernah bisa benar-benar lepas darinya.

Tapi kini, dia sudah tak peduli lagi dengan Poppy dan Sarah. Dia tak peduli lagi dengan Gilang. Bahkan, dia tak peduli lagi dengan kelompok KKN ini. Toh sejak peristiwa semalam, program KKN mereka tidak akan pernah selesai. Dea sadar Kelompok ini akan karam. Dua bulan masa pengabdian tak akan bisa mereka selesaikan.

Karena walaupun Sarah menolak, dia akan tetap pulang hari ini juga. Dia hanya tidak tahu, bahwa semuanya sudah sepakat untuk mengabari keluarganya. Selepas Subuh tadi, Simon diberi mandat untuk pergi ke Kecamatan Semani (tempat terdekat untuk mendapatkan sinyal telepon) dan menghubungi ayah Sarah yang langsung berinisiatif untuk membawa anaknya pulang.

Kelompok ini sudah jelas akan selesai. Beritanya akan segera menyebar. Cepat atau lambat, Kampus akan mendengar peristiwa ini dan mereka semua akan ditarik dari Jatiasih. Tapi Dea tak mau pulang dengan tangan hampa. Dia tak mau pergi dari tempat ini tanpa menemukan jawaban atas semua pertanyaannya. Dan langkah pertama dari sebuah rencana besar miliknya sudah berhasil dijalankan...

Dea melirik ke arah ranjang yang ditiduri Sarah. Di bawah kasur itu, dia sembunyikan jurnal milik Gilang yang sempat ia curi dari dalam tas si brengsek itu. Dia memanfaatkan situasi ketika semalam semua orang fokus untuk menenangkan dan meyakinkan Pak Kusno, bahwa semuanya baik-baik saja.

Dea menyelinap masuk ke kamar para cowok, dan membongkar tas milik Gilang. Di dalam tas itu bertumpuk beberapa buku dan kertas, tapi tak sulit bagi Dea untuk mendapatkan apa yang dia cari. Sebuah dokumen lawas yang kertasnya mulai menguning, tak terlalu tebal mungkin hanya sebelas halaman, tapi di sampul depan jelas tertulis:

ANALISIS LAHAN PERTANIAN DI DUSUN SRIGATI: ANTARA ANOMALI TANAH DAN KEPERCAYAAN MASYARAKAT LOKAL
DITULIS OLEH WAHYU DEWANGGARA
1976



Quote:
Kusno tidak bisa dibodohi.

Di detik dia menengok kondisi Sarah di dalam kamar, dia langsung tahu bahwa anak-anak KKN ini sudah berbuat sesuatu yang melanggar batas. Bahkan ketika salah seorang dari mereka yang bernama Rafael itu bilang bahwa Sarah memiliki phobia terhadap kecoa, Kusno hanya tersenyum dan mengiyakan, kemudian pergi dari rumah itu.

Kusno memilih berpura-pura bodoh seperti yang dikira anak-anak kota itu tentang orang desa pada umumnya. Tapi yang tak pernah diceritakan Kusno kepada mereka adalah, dia seorang diploma. Dia paham apa itu phobia, dan dia paham bahwa Sarah tidak mungkin menjerit-jerit kemudian pingsan seperti itu karena melihat kecoa melintas di kakinya.

"Bocah kui kesurupan. Sesuk awan aku ameh sowan menyang daleme Kyai Masrun. Tapi tak peseni kowe kabeh, ojo cerito marang sopo-sopo disik. Termasuk bojo karo anakmu. Paham?" (Anak itu kesurupan. Besok siang aku mau datang ke rumahnya Kyai Masrun. Tapi aku pesan ke kalian semua, jangan cerita ke siapa-siapa dulu. Termasuk istri dan anakmu. Paham?)

Pesan tegas Kusno kepada empat orang warga yang dia ajak menemaninya ke markas anak-anak KKN itu semalam. Keempatnya mengangguk patuh, kemudian pulang ke rumah masing-masing.

Tapi Kusno sendiri tak bisa memejamkan mata sampai pagi tiba. Dalam hatinya, dia berharap apa yang telah dilakukan oleh anak-anak itu tidak sefatal yang ia duga. Ia tak sabar menunggu siang hari tiba, dan selepas adzan Dhuhur berkumandang, segera ia keluarkan motornya dan berlalu menuju rumah Kyai Masrun. Tak ia pedulikan ocehan sang istri yang sedari pagi terus mendesaknya untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada anak-anak KKN itu.

Kyai Masrun sendiri bukanlah orang Jatiasih. Pemuka agama sepuh yang sudah dianggap Kusno sebagai guru spiritualnya itu tinggal di desa lain yang jaraknya sekitar lima kilometer.

"Kulo mboten pengin damel warga kulo resah, Kyai. Mulane niku kulo sowan mriki dewean mawon." (Saya tidak ingin membuat warga saya resah, Kyai. Makanya saya datang kesini sendirian.)

Kusno langsung membuka pembicaraan dengan nada resah yang tak bisa ia tutupi, sesampainya ia di kediaman Kyai Masrun. Tapi Sang Kyai yang terkenal dengan ilmu makrifatnya itu hanya tersenyum lembut. Seakan beliau sudah tahu apa masalah yang dibawa Kusno bahkan sebelum ia menceritakannya.

"Awakmu ora usah khawatir, Kus. Insyaallah kowe lan kabeh wargamu bakal aman dalam lindungan Gusti Allah, selama kowe isih menegakkan Sholat dan memakmurkan Masjid." (Dirimu tidak usah khawatir, Kus. Insyaallah kamu dan semua wargamu bakal aman dalam lindungan Allah, selama kamu masih menegakkan Sholat dan memakmurkan Masjid.)

Tapi jawaban itu belum memuaskan Kusno.

"Ngapunten Pak Kyai. Masalah nopo ingkang didamel kalih anak-anak KKN meniko?" (Tapi maaf Pak Kyai. Masalah apa yang dibuat oleh anak-anak KKN itu?)

Senyum di bibir Kyai Masrun hilang seketika. Matanya berubah tajam, memandang ke arah luar.

"Kate mbiyen kowe wis tak omongi. Adoh-adoh soko Gondo karo pengikute. Wong-wong Srigati kae wis keblinger. Enek bocah siji soko anak-anak KKN kui sing gawe masalah ning kandang setan. Dewe'e ngelanggar bates." (Sejak dulu kam sudah saya pesan. Jauh-jauh dari Gondo dan pengikutnya. Orang-orang Srigati itu sudah keblinger. Ada satu anak dari kelompok KKN itu yang buat masalah di kandang setan. Dirinya melanggar batas.)

Selesai sudah! Kemungkinan terburuk yang tak pernah Kusno harapkan ternyata benar-benar terjadi. Selama ini dia selalu menjaga jarak dengan semua hal yang berhubungan dengan Srigati. Tapi sekarang, anak-anak muda dari kota yang dia harapkan bisa ikut membangun desanya yang tercinta, malah menjadi pelanggar batas yang selama ini dia rawat dengan sekuat tenaga.

Kusno kecewa. Dia sangat kecewa.

"Awakmu ora usah melu-melu, Kus. Tapi yen kowe enek niat bantu mereka, carane mung siji. Usir mereka soko Jatiasih." (Dirimu tidak usah ikut-ikut, Kus. Tapi kalau kamu ada niat membantu mereka, caranya cuma satu; usir mereka dari Jatiasih.)
profile-picture
profile-picture
profile-picture
YossudarsoBoy92 dan 20 lainnya memberi reputasi
21 0
21
TULAH (Jasadnya Mati, Dendamnya Beranak Pinak) ~~ Based on True Story
11-12-2020 20:16

BAGIAN 3

Terimakasih agan-agan semua yang udah mau kembali gelar tenda di trit kami yang sempat mandeg lebih dari setahun ya kayaknya hehehhehee...

Dan malam ini kami, The Darktales, mempersembahkan Bagian 3 dari trit TULAH ini. Selamat menikmati!!


Quote:
Terakhir kali Dea merasakan ketakutan seperti ini adalah ketika dia berumur sepuluh tahun. Lift yang membawanya beserta bapak dan ibunya ke lantai tiga sebuah pusat perbelanjaan, tiba-tiba kehilangan daya tarik dan macet di tengah jalan. Suatu kejadian yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidup, tentang bagaimana sensasi terkurung di ruangan sempit selama lebih dari dua jam. Gelap, pengap dan merasa terancam. Bahkan untuk bernafaspun, rasanya Dea kesulitan.

Dan kini, trauma 12 tahun lalu itu mendatanginya lagi. Kali ini, bukan di lift atau ruangan sempit lainnya. Tapi di atas motor Gilang yang melaju kencang di atas jalan tanah berbatu yang membelah hutan jati. Hutan jati, yang di kemudian hari mereka berdua kenal memiliki nama hutan Randuwangi.

Sensasinya sama. Dea merasa terkurung di tempat ini. Pohon-pohon jati yang meranggas ini seperti memiliki sepasang mata yang menatap tajam kepada dia dan Gilang. Seakan mengawasi keberadaan dua anak muda asing yang datang kesini tanpa permisi. Pun, dengan cara Gilang mengemudikan sepeda motornya seperti orang gila. Tak peduli bagaimana parahnya jalan yang kini mereka lewati, Gilang seperti hanya tahu cara menarik gas dan motor yang terus melompat-lompat tidak stabil. Semakin membuat Dea merasa tidak nyaman.

Tapi lidahnya sudah terlampau kelu untuk memaki dan tangannya benar-benar seperti enggan digerakkan untuk memukul kepala Gilang. Rasa cekam sudah terlanjur menguasai dirinya. Membuatnya kehilangan segala daya. Bahkan dia tak mampu berbuat apa-apa ketika dia sadar bahwa Gilang sudah berbohong soal jarak dua kilometer yang ia katakan kemarin malam. Dea merasa ini bahkan sudah lebih dari tiga kilometer dan belum terlihat tanda-tanda deretan pohon jati ini akan berakhir. Bahkan gerbang dusun Srigati yang diceritakan oleh Gilang tadi, belum juga terlihat oleh pandangan mata.

"Gil..." Hanya itu yang keluar dari mulut Dea. Itupun dengan gemetar dan lebih seperti bisikan. Tenggelam dalam deru motor Gilang yang makin ugal-ugalan.

Tapi diluar dugaan Dea, ternyata Gilang mendengar panggilan itu. "Sabar, to! Dikit lagi...ini kita udah bener kok jalannya!"

Tidak! Dea berteriak dalam hati. Ini tidak benar! Bahkan semakin jauh mereka masuk ke dalam hutan, Dea semakin yakin bahwa apa yang sedang mereka lakukan ini adalah sesuatu yang salah. Apalagi sejak masuk tadi, tak sekalipun mereka berpapasan atau berbarengan dengan motor lain. Tak satupun, walau hanya sekadar orang mencari rumput.

Tetiba, Dea merasa rindu akan suasana markas KKN mereka di Jatiasih. Saat ini dia merasa tersesat, ketakutan, dan takut tak bisa lagi kembali. Tubuhnya lemas, dan makin lemas. Nyaris saja dia kehilangan kesadaran sepenuhnya, andai Gilang tak memanggil namanya...

"De, Dea! Itu dusunnya...kita udah sampai!"

Motor perlahan-lahan berhenti. Dengan sisa tenaganya yang nyaris dihabisi oleh rasa takut dan trauma, Dea mendongakkan kepala dan memandang ke depan. Sebuah gapura besar dengan bentuk khas Jawa menjadi pembatas antara hutan jati dengan kebun jagung -yang pastinya- adalah milik warga. Di kejauhan, tampak panorama deretan rumah-rumah dan asap mengepul di jauh sana.

Di sini benar-benar masih ada sebuah dusun?? Dea bahkan tak percaya pada apa yang kini terhampar di depan matanya.

"Kita sudah sampai Srigati, De!"



Quote:
Adil sadar dia tak bisa pergi ke Srigati seorang diri. Dia perlu untuk melihat keadaan di sana, setidaknya untuk kunjungan pertama. Penolakan yang diberikan Eko membuatnya terus berpikir; apa yang salah dengan desa itu, sampai seseorang yang ia kenal punya jiwa sosial dan simpati tinggi seperti Eko memutuskan untuk tidak mau ikut campur dan mengabaikan kenyataan bahwa di sana ada seseorang -perempuan- yang butuh bantuan?

Kalau aku nekat pergi kesana sendirian dan ternyata desa itu adalah kampung begal, sama saja aku bunuh diri! Pikir Adil.

Dia bisa saja menjadi seperti Eko. Memilih abai dan tidak peduli. Toh, proyek kegiatannya bulan ini saja sudah begitu padat. Tapi entah mengapa, telepon dari Dea kemarin membuatnya sampai tak bisa tidur.

Bagaimana seorang perempuan yang membutuhkan bantuan atas penyakit jiwanya, malah dipasung kedua kakinya di kandang kambing? Manusia-manusia macam apa yang tega melakukan dan membiarkan sesuatu yang bagi Adil tidak beradab itu terjadi? Pertanyaan-pertanyaan itu seakan menjelma menjadi hantu yang menggentayanginya semalam suntuk.

Adil harus kesana, untuk kemanusiaan. Dia sudah memutuskan. Tapi dia juga tak mau gegabah. Adil harus mencari satu teman dari sini, orang yang multifungsi; tak cuma bisa menjadi teman, tapi juga kemampuan dan pengetahuan yang berguna di sana nanti.

Dan alasan itulah yang lalu membawanya ke sini, pagi ini. Di lobi gedung fakultas Psikologi sebuah kampus ternama di kota ini. Hanya dengan ditemani ponsel digenggaman dan tas pinggang warna coklat andalannya, Adil menunggu di ruang tunggu. Sesekali dia melongokkan kepala ke arah pintu masuk. Kakinya terus bergerak-gerak, menandakan perasaan tak sabar dan resah yang campur aduk menjadi satu.

Lima belas menit berlalu, suara tapak sepatu di lantai keramik terdengar menggema di seluruh ruangan lobi. Adil bangkit dari duduknya, dan melihat apakah itu orang yang sejak tadi ia nantikan kedatangannya.

"Mel?" Seru Adil dengan rasa bahagia yang membuncah begitu saja. Si pemilik nama, seorang wanita muda berumur 27 tahun dengan rambut hitam lurus berponi lempar, langsung menghentikan langkah. Sepasang mata indah yang terbingkai lensa minus satu itu langsung melemparkan tatapan menyelidik ke arah Adil.

"Adil..."

Merasa disambut dengan baik, Adil langsung mengambil inisiatif untuk mendekat. Tapi sepertinya, ia terlalu cepat menyimpulkan. Gadis Ibukota yang dulu pernah sangat dekat dengannya itu malah mengambil satu langkah mundur.

"Ngapain lo ke sini?"

"Eh, anu..." Adil jelas salah tingkah. "Semalem aku wis nyoba BBM dan telepon kamu. Tapi enggak ada jawaban. Kamu masih jadi asisten Dosen di sini?"

Melia melipat kedua tangannya di dada sambil menyeringai. "Emang sengaja enggak gue bales. Dan gue lagi males banget nih buat basa-basi."

Adil kemudian merenungi kembali pilihannya semalam; apakah meminta bantuan kepada mantan pacar (yang putusnya pun tidak dengan cara baik-baik) adalah pilihan bijak? Tapi, tak ada nama lain di pikirannya kecuali Melia. Sekeras apapun dia mencari, hanya nama -dan wajah- itu yang ada di kepalanya. Entah karena Adil tahu bahwa Melia memiliki kapasitas, perhatian dan empati yang sama tingginya dalam masalah kejiwaan...

...atau sebenarnya, ini hanya memang sebatas perkara rindu yang belum selesai.

Tapi apapun itu, Adil tahu kalau Melia saat ini adalah seorang asisten dosen psikologi di kampus ini. Dia butuh Melia untuk dibawanya ke Srigati.

"Terserah kalau lo ngelamun dan berdiri di sini sampai nanti malem, tapi maaf...gue ada kelas dan gue sedang buru-buru. Permisi!"

Brengsek! Bahkan aroma parfum yang merasuk ke hidung Adil ketika tubuh Melia berlalu melewatinya masih sama seperti dua bulan yang lalu. Aroma parfum penuh nostalgia yang sekaligus menyeretnya kembali ke kenyataan. Buru-buru dia memutar badan dan setengah berteriak, mencoba menghentikan Melia yang sosoknya nyaris hilang dari pandangan.

"Kosek, to! (Bentar, dong!) Ada kasus pemasungan, korbannya perempuan!!" Berhasil. Langkah Melia terhenti seketika.

"Aku butuh bantuanmu Mel..."
Diubah oleh the.darktales
profile-picture
profile-picture
profile-picture
luwisaputra dan 20 lainnya memberi reputasi
21 0
21
Lihat 6 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 6 balasan
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
lebih-dari-sekedar-no-absen
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
Heart to Heart
rindu
B-Log Personal
aldebaran
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia