Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
16
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e488684365c4f3c5c58e2c4/misteri-gaun-kematian
INDEX PROLOG CHAPTER 1 CHAPTER 2 CHAPTER 3 CHAPTER 4 CHAPTER 5 CHAPTER 6 CHAPTER 7 CHAPTER 8 CHAPTER 9 PROLOG Setelah bel sekolah berbunyi seluruh siswa SMK Cendana mulai berhamburan keluar kelas. Begitu juga dengan Rinai, ia dengan cepat membereskan buku-bukunya yang tergeletak di atas meja, lalu berlari tergopoh-gopoh menuju parkiran sekolah.  Rinai menciutkan matanya menerawang jauh. Di parkir
Lapor Hansip
16-02-2020 07:02

MISTERI GAUN KEMATIAN

icon-verified-thread
MISTERI GAUN KEMATIAN


Quote:
INDEX


















PROLOG



Setelah bel sekolah berbunyi seluruh siswa SMK Cendana mulai berhamburan keluar kelas. Begitu juga dengan Rinai, ia dengan cepat membereskan buku-bukunya yang tergeletak di atas meja, lalu berlari tergopoh-gopoh menuju parkiran sekolah. 

Rinai menciutkan matanya menerawang jauh. Di parkiran ia sudah melihat Zeo duduk di atas motor. Ia yakin kalau Zeo pasti sudah keluar dari tadi. Rinai berjalan menuruni setiap anak tangga sampai tiba di lantai dasar. Langsung saja ia berjalan ke arah motor Zeo. Sebuah motor vixion berwarna hitam.

"Lama lo ya! Kayak keong"

"Ya elah ini gue juga udah lari kali dari lantai dua sampai parkiran"

Rinai mengenakan helm berwarna biru yang barusan saja diberikan Zeo padanya. Ingar bingar kendaraan memenuhi jalanan kota. Zeo begitu lihai dalam hal salib menyalib. Begitu juga soal cinta. Zeo dan Rinai baru menjalin hubungan lima bulan lamanya. Masih seumur jagung. Dulu Rinai sedang dekat dengan Fathan, namun  kurang gercep (gerak cepat) untuk mendapatkan Rinai akhirnya Zeo lebih dulu menyatakan perasaannya ke Rinai. Sebenarnya Zeo lebih dulu kenal dengan Rinai ketimbang Fathan, jadi jelas Zeo nggak mau kalah buat ngejar perhatian dan cinta Rinai. Akhirnya, mereka sama-sama saling suka karena kekonyolan mereka masing-masing.

Beberapa saat, motor Zeo berhenti di depan sebuah rumah berlantai dua dengan desain rumah minimalis. Rinai melepaskan helmnya. Kemudian berjalan lurus tanpa melirik ke kiri atau ke kanan pandangannya hanya lurus ke depan.

"Nai, udah sampek nih, sesuai aplikasi"

Tak ada balasan sahutan dari Rinai. Zeo akhirnya menoleh ke belakang jok motornya namun tidak ada Rinai di belakangnya. Zeo melihat kalau Rinai sudah berjalan masuk ke dalam rumah.

"Buset dah! Yang gue bonceng tadi orang bukan ya? Cepet amat ngilangnya udah jalan ke sana aja dia"

"Hey Nai. Tega lo ninggalin, gue kira kita masuk bareng"

Rinai masuk ke sebuah ruangan mewah di susul oleh Zeo di belakangnya. Matanya berpendar mencari Kak Aleta.

Krreekk..

Suara decitan pintu. Spontan Rinai menoleh ke belakang. Wanita yang dipanggilnya Kak Aleta baru saja melintas tepat di depan. Matanya menatap kosong berjalan ke dapur. Seperti sebuah raga tanpa jiwa tak ada kehidupan.

"Mbak! Ini di sini ada kita loh" kata Zeo menegur wanita itu. "Hey, mbak! Mbak!" tetap tak ada balasan dari teguran Zeo barusan.

Rinai berjalan mengikuti Kak Aleta. Rinai tahu kalau Kak Aleta sedang dalam pengaruh aura jahat pemilik gaun yang ia kenakan di badannya. Siapa sangka di dapur Kak Aleta mencari sebuah pisau. Rinai yang melihatnya langsung panik.

"Hei, siapapun kamu cepat keluar dari badan Kak Aleta!"

Ternyata jiwa pemilik gaun yang sudah menguasai raga Kak Aleta. Aleta mengarahkan kedua tangannya ke lehernya sendiri. Rinai masih terus berusaha mencegah sosok pemegang nyawa gaun berwarna merah itu.

"Heh tau apa kamu anak kecil! Sekarang pergi menjauh. Tubuh ini akan menjadi milikku selanjutnya" ucapnya yang kemudian tertawa terbahak-bahak.

Tangan Kak Aleta menggenggam erat pisau dapur yang tajam. Semua itu di luar kendali Kak Aleta karena tubuhnya sekarang sudah masuk ke dalam kendali Nyai Warsih. Tangan itu melayangkan pisau ke salah satu bagian tubuh Kak Aleta.

"Tidaaakkk! Hentikaannn!" teriak Rinai berharap teriakannya itu bisa mengubah sesuatu tapi sudah terlambat.

Jlep!

Sosok misterius pemilik gaun telah mengiasai Aleta dengan cepat pisau itu menghujang tubuhnya tepat di jantungnya. Seketika tubuh Aleta ambruk, dengan kondisi mata terbelalak.

"Kak Aleta!" teriak Rinai.

Semua sudah terlambat Rinai tidak berhasil menyelamatkan nyawa wanita itu. Penyesalan itu kian dirasakan Rinai, saat ia tahu semuanya tapi belum mampu mencegahnya. Gaun indah itu sekarang sudah berlumuran darah. Darah anak gadis yang tak bersalah dan hanya menjadi korban Nyai Warsih, si pemegang nyawa gaun kematian. 


~Bersambung... 


Diubah oleh syrmey
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tien212700 dan 9 lainnya memberi reputasi
10
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
MISTERI GAUN KEMATIAN
16-02-2020 10:03
lanjuttttt5tttttt
0 0
0
MISTERI GAUN KEMATIAN
17-02-2020 01:02
MISTERI GAUN KEMATIAN
0 0
0
MISTERI GAUN KEMATIAN
17-02-2020 12:41
lanjutttt
0 0
0
MISTERI GAUN KEMATIAN
20-02-2020 15:55

MISTERI GAUN KEMATIAN

CHAPTER 1




Rinai masih berada di dalam taksi dengan ekpresi muka cemberut di sepanjang perjalanan perempuan berwajah mungil itu menggerutu pada Bu Fhifi. Bagaimana tidak, janji ibunya untuk pergi berlibur dua hari ke Bali dibatalkan karena ayahnya ada meetingmendadak di Bandung.

"Rinai ayo turun! Kamu mau di dalam taksi terus?" tanya Bu Fhifi dengan nada sedikit kesal karena Rinai bertingkah seperti anak kecil.

"Biarin" ketus Rinai.

"Oh gitu ya berani membantah Mama ya! Pak bawa aja anak itu, nanti turunkan dia di kuburan jeruk purut" gertak Ibu Rinai.

"Ih jangan dong Ma!"

"Kenapa kamu takut?"

Rinak tak menjawab ia masih cemberut. "Sekarang kamu mau ikut mama, apa ikut Mamang sopir taksi?"

"Iya iya" Rinai akhirnya menurut dan mengalah dengan keinginan mamanya.

Dengan perasaan malas Rinai menjejakkan kaki ke tanah. Ia berjalan sambil menghentak-hentakkan kaki berharap ibunya, mau mengirimnya kembali pulang ke rumah. Sekarang, tatapan mata Rinai tertuju pada rumah tua. Rinai tak menyangka rumah itu begitu suram, seperti tak ada kehidupan. Ibu Fhifi bilang ini adalah rumah angkat ibunya waktu dulu. Sewaktu berusia 5 tahun ibu Fhifi di asuh oleh Nenek Kosasi.

Tanah merah di halaman rumah tua itu masih terlihat basah. Di beberapa bagiannya membentuk kubangan air, jalanan begitu becek karena hujan baru saja mengguyur wilayah ini. Aiko yang berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya membuat banyak cipratan air kotor di celananya. Tanah kuning juga terlihat tebal menempel di snikers Rinai.

"Ih Mama kenapa ke sini sih! Becek!" gerutu Rinai.

"Kamu diam aja. Jangan sok kota deh"

Rinai memang memiliki wajah yang imut dan mungil, banyak yang menyangka kalau dirinya itu masih anak SMP padahal sekarang dia sudah kelas dua SMA. Rinai merupakan anak tunggal di keluarga itu. Ayah Rinai kerap memanjakan putrinya dengan membelikan dia barang-barang mewah. Ketimbang Ibunya, Rinai lebih dengan dengan sang ayah, karena ibu Fhifi keras, cerewet sedangkan ayah Rinai lembut dan penyayang tapi bukan berarti ibu Fhifi tidak penyayang. Mereka memiliki cara masing-masing dalam mendidik anak mereka. Ibu Fhifi ingin anaknya tumbuh mandiri, peduli sesama, dan bertanggungjawab.

Sekarang, Rinai sudah berdiri tepat di depan pintu. Ibu Fhifi mulai mengetok-ngetok pintu yang terbuat dari kayu yang terlihat sedikit bolong-bolong. Tak berselang lama setelah ketukan berakhir. Pintu mulai terbuka dan menampakkan seorang nenek tua renta, tubuhnya sudah bungkuk di tangan kananya memengang sebuah tongkat kayu. Tidak ada raut senyum di mukanya menyambut ibu anak itu.

"Ma, kita pulang ajalah! Itu nenek kayaknya nggak suka liat kita ke sini deh!" bisik Rinai pada ibunya.

"Hustt.. Nenek memang begitu"

Rinai diam sejenak lalu menganggukkan kepalanya pelan.

"Silahkan masuk" ucap nenek

"Iya nek" balas Rinai.

Rinai dan Bu Fhifi masuk melalui pintu yang terbuka mengikuti nenek Kosasi. Entah karena pengaruh cuaca di luar yang agak mendung atau karena belum ada satu pun lampu yang dinyalakan dalam rumah, ruangan dalam rumah begitu gelap dan suram. Siapa pun mereka yang masuk ke dalamnya, seperti tak akan bisa ke luar lagi.

Rinai sudah tiba di ruang utama. Ia melihat ruang tamu dengan sofa yang mulai usang, terlihat sekali kalau sofa itu sudah lama. Cat di rangka kursi sudah memudar. Batalan kursi sebagian sudah bolong-bolong. Dengan perlahan Rinai duduk di sofa itu, menunggu Ibunya menyiapkan kamar untuk mereka.

Di sudut ruangan lainnya, ada lemari hias dengan TV di atasnya, entah TV itu masih bisa menyala atau tidak Rinai belum tahu.

"Oke Rinai kamar kamu sudah siap" kata Ibu Fhifi.

Kamar Rinai masih terlihat remang-remang, meskipun sudah ada pelita yang menempel di dinding kayu rumah tua itu.

Rinai sudah berbaring di atas ranjang usai makan malam. Ia merasakan tubuhnya sudah mulai lelah namun mata Rinai belum mau terpejam. Tas ranselnya juga belum dibereskan, masih tergeletak di samping tempat tidur. Ia berusaha meraih tas totebag untuk mengambil handphonenya, Rinai berusaha menghubungi teman-temannya menanyakan liburan mereka masing-masing. Namun niat Rinai seperti harus tertunda beberapa hari ini untuk mengakses sosial media karena tidak ada koneksi jaringan di rumah itu.

"Wah, Mama nih memang benar-benar ya, tega bawa Rinai ke sini. Serasa balik lagi ke beradaban dulu ini mah" celetuknya.

Suara jangkrik dari luar memecah kesunyian malam ini. Rinai bangkit dari ranjangnya, ia merasa merasa haus. Dengan perlahan kaki Rinai berjalan menyusuri bagian rumah hingga menuju dapur. Rinai menggapai ceret kecil berisikan air dan menuangnya dalam gelas. Setelah merasa puas ia kembali lagi ke kamar.

Saat kembali menuju kamar langkah Rinai sontak terhenti pada sebuah foto besar. Di foto itu ia melihat Nenek Kosasih bersama seorang Kakek, 'Oh mungkin ini ya suami Nenek tadi' ucapnya lirih.

Rinai menatap lekat-lekat foto itu. Tangannya yang halus  mencoba menyentuh foto dengan pelan. Baru Rinai hendak mendaratkan tangannya, tiba-tiba foto yang semula tangan Kakek memegang tangan Nenek Kosasih tiba-tiba berpindah. Sontak saja itu membuat Rinai terkejut. Mata Rinai mengerjap-ngerjap beberapa kali, mendadak ia pusing, ia mendapatkan bayangan masa lalu kedua kakek nenek itu.

Uhuk.. Uhuk..

Terdengar suara batuk-batuk dari dalam kamar Nenek. Suara batuk orang tua penyakitan. Tak berselang lama suara hentakan tongkat terdengar. Tanpa komando, Rinai langsung tiarap di bawah kursi. Takut ketahuan.





~Bersambung ...
Diubah oleh syrmey
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan ariefdias memberi reputasi
2 0
2
MISTERI GAUN KEMATIAN
23-02-2020 22:55
nice post
0 0
0
MISTERI GAUN KEMATIAN
25-02-2020 22:30
lanjutttt dunkkk
0 0
0
MISTERI GAUN KEMATIAN
01-03-2020 06:49

MISTERI GAUN KEMATIAN

CHAPTER 2


Dddrrrttt...

Ponsel Bu Fhifi bergetar, juga menyala. Bu Fhifi terbangun, lalu mengambil ponsel itu dengan malas dan menerima panggilan. Jam dinding masih berdetak jarum panjangnya menunjuk angka dua. 'Jam dua malam siapa sih yang menelepon?' ujarnya pelan.

Bu Fhifi mulai menekan layar ponselnya

"Halo" sapa Bu Fhifi malas.

"Maaf apa benar ini dengan keluarga Bian Sudarto Wiyata?" tanya pemilik suara dari ponsel itu.

Bu Fhifi mengucek-ngucek matanya. Ia belum sepenuhnya tersadar dari tidurnya. Mata masih sedikit terpejam. Kelopak mata itu masih lengket, belum enggan terbuka.

"Iya, saya istrinya"

"Kami pihak kepolisian ingin menyampaikan bahwa saudara Bian Sudarto Wijaya telah mengalami kecelakaan di jalan tol Jagorawi dan sekarang sedang dilarikan ke rumah sakit terdekat. Kami harap ibu sebagai bagian dari keluarga bisa segera datang melihat suami anda. Terima kasih. Selamat malam"

Seketika kedua mata Bu Fhifi terbuka lebar. Rasa kantung yang bergelayut dipelupuk mata sirna sekehitika. Dadanya sedikit terasa sesak. Berita yang barusan ia dengar seperti petir yang menggelegar di tengah malam.

Setelah panggilan itu, Bu Fhifi langsung saja menarik kopernya kembali mengemas-ngemas barangnya dimasukkan ke dalam koper. Mukenah yang masih tergantung di dinding kamar juga ia jejalkan di antara pakaian-pakaiannya. Setelah semuanya selesai ia pergi menuju kamar Rinai.

Rinai masih bergulat dengan bantal guling dan selimutnya. Hawa dingin yang menyelimuti malam itu membuat siapapun betah untuk berlama-lama di atas kasur.

"Nai! Nai! Bangun sayang!"

Tubuh Rinai belum menunjukkan reaksi yang berarti ia hanya menggerakkan sedikit badannya lalu terlelap kembali.

"Nai! Bangun dong sayang" Bu Fhifi terus mengguncang-guncang tubuh anaknya.

"Apa Ma? Masih malam ini! Nai masih ngantuk" ucapnya dengan suara yang sedikit tertahan karena kepalanya ia sembunyikan dibalik bantal guling.

"Kamu beresin barang-barang kamu sekarang karena kita akan pulang hari ini" kata Bu Fhifi serak.

Mendengar ucapan itu, Rinai langsung terbangun lalu mendongakkan kepalanya menatap ke arah Bu Fhifi.

"Yang benar Bu?" tanya Rinai semangat.

"Iya. Kamu cepat cuci muka, beresin kamar dan baju-baju kamar setelah itu kita siap-siap berangkat"

"Yeay. Akhirnya pulang juga" ucap Rinai begitu senang. Ia tidak betah jika harus berlama-lama di sini, karena bosan. Di balik keriangan Rinai, ia belum tahu kalau Ayahnya baru saja mengalami kecelakaan.

Namun, ada secuil pertanyaan di kepala Rinai mengapa harus sekarang juga, bukannya masih ada waktu di siang hari atau sore hari mereka pulang.

"Ma, kok buru-buru amat ya? Kan bisa siang tuh kita berangkatnya"

"Alah kamu nanya begitu lagi, bukan kamu nggak suka di sini dan mau cepet-cepet pulang"

"Iya sih Ma, cuman Nai heran aja gitu" kata Rinai sembari menggaruk kepalanya.

"Nai Ayah baru saja kecelakaan di tol Jagorawi dan sekarang di perjalanan menuju rumah sakit. Perasaan Mama sekarang khawatir bercampur aduk. Mama harap Ayah nggak apa-apa" kata Bu Fhifi penuh harap.

Seperti sebuah dentuman keras, ayah yang selalu menyayangi dirinya tanpa batas sekarang sedang tertimpa musibah. Sepersekian detik buliran bening jatuh menyentuh pipinya yang mulus. Rinai terdiam sesaat lalu mengusap matanya. Sejauh ini ia belum tahu bagaimana keadaan ayahnya.

Ibundanya dengan sabar mengusap kepala Rinai. Mencoba menabahkan hati anaknya. "Nii, sekarang kamu cuci muka terus beresin barang-barangnya sayang" kata Bu Fhifi dengan nada pelan.

Hati Rinai merasa senang karena bisa pulang dan tak perlu hidup bersusah payah seperti tinggal di beradaban dunia lain. Namun sisi lain hati terasa perih kala mendengar Ayahnya kecelakaan.

Perlahan ia bangkit dari ranjang menuju kamar mandi, membersihkan badan dan lanjut membereskan beberapa baju yang dibawanya untuk dua hari tinggal di rumah Nenek Kosasi. Beruntung Rinai belum mengeluarkan banyak baju dari dalam tasnya sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk mengemas barang-barang.

Sementara Rinai bersiap-siap, Bu Fhifi menemui Nenek Kosasi untuk meminta izin pulang lebih dulu karena suaminya kecelakaan.

Uhuk.. Uhuk

Dari luar terdengar suara batuknya Nenek Kosasi

Bu Fhifi menyentuh lembut lengan Nenek Kosasi, "Bu"

Bu Kosasi terjaga dari tidurnya, perlahan bangkit dengan susah payah menopang tubuhnya yang tua.

"Kenapa Fi?"

"Bu aku harus pulang lebih awal, karena suamiku kecelakaan Bu"

Nenek Kosasi bergeming. Ia berjalan turun dari ranjang menuju almari pakaian, almari itu terlihat sederhana dan tidak memiliki pintu. Tangan Nenek Kosasi terus meraba-raba di tengah cahaya yang minim. Tangannya meraup sebuah kain berwarna merah. Lalu memberikannya pada anak angkatnya.

"Ambillah ini untukmu" ujar Nenek Kosasih nadanya seperti tersengkal.

Tangan Bu Fhifi menyambutnya. "Apa ini Bu?"

"Itu gaun"

Tidak ada penjelasan panjang dari Nenek Kosasih tentang alasannya memberikan baju nan bagus itu. Bu Fhifi enggan bertanya banyak karena yang sekarang ada dipikirannya akan keadaan suaminya.



~Bersambung...
Diubah oleh syrmey
profile-picture
pulaukapok memberi reputasi
1 0
1
MISTERI GAUN KEMATIAN
26-03-2020 06:20

MISTERI GAUN KEMATIAM

CHAPTER 3


Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Bu Fhifi dan Rinai masih berdiri menunggu staf rumah sakit mencari data pasien korban kecelakaan bernama Bian Sudarto Wijaya.

"Bian Sudarto Wijaya sekarang sedang dirawat intensif di ruang Anggrek nomor 103"

"Baik, terima kasih Pak"

Keduanya langsung berjalan beringan dengan perasaan harap-harap cemas dengan kondisi sosok kepala keluarga yang kerap disapa Bian itu. Mereka masih berjalan menyusuri koridor rumah sakit mencari-cari ruangan anggrek. Butuh waktu sekitar hampir lima menit baru mereka berhasil menemukan ruangan yang dituju.

Di ruangan itu, Rinai mendapati ayahnya tergolek lemah tak berdaya. Masih belum sadarkan diri. Beberapa alat medis terpasang ditubuhnya. Begitu juga monitor, alat pendeteksi jantung yang masih menyala menampilkan grafik tekanan jantung pasien.

Rinai menangis tersedu sambil memeluk ayahnya. "Ayah cepat sembuh, biar kita bisa jalan bareng ke Bali Yah!" ucapnya sedikit tersendat.

Ibu Fhifi hanya bisa berdoa dan menabahkan putri semata wayangnya yang begitu sedih dan terpukul.

"Sudahlah Nai, sekarang yang ayah perlukan adalah doa dari kita semua supaya ayah segera diberi kesehatan dan bisa berkumpul lagi bersama kita" kata Bu Fhifi sambil mengelus punggung Rinai.

"Iya Ma. Nai janji akan jadi anak baik, selalu mendoakan ayah supaya lekas pulih" nadanya tersendat karena menangis. "Nai juga janji gak akan minta yang aneh-aneh dan ngerecokin orang tua mulu"

Ibu Fhifi menahan senyum mendengar janji yang Rinai ucapkan. "Ayah dengar itu janji anakmu. Hem, dasar ada-ada saja kelakuan putri kita"

Wanita berumur 38 tahun itu menyadari kalau anaknya sudah remaja, sudah sebijaknya juga ia bersikap dewasa diumurnya yang sudah menginjak 17 tahun. Bu Fhifi sebenarnya sangat mengkhawatirkan pergaulan Rinai. Ia berpikir bisa jadi seorang anak bersikap manja dan bertingkah di luar kendali selain datang dari didikan di keluarga juga dari lingkungan sepergaulannya. Tapi Bu Fhifi tidak mau lepas kontrol, ia akan tetap terus memonitor anaknya.

***


Matahari semangkin naik, memancarkan hawa panas ke segala penjuru bumi. Rinai memegang perutnya yang mulai lapar di tambah panas yang cukup terik bisa membuat tubuh dehidrasi.

Rinai pergi meninggalkan ruangan bernomor 108 untuk ke kantin mencari makan dan minuman dingin pelepas dahaga.

Dddrrrtt....

Handphone yang dipegangnya bergetar ada sebuah pesan dari masuk WhatsApp. Pesan itu dari Zeo. Rinai terus berjalan sambil memainkan handphonenya mencoba membaca isi pesan itu. Namun, belum sempat pesan itu dikirim.

Tak disangka BRUKKK...

Dirinya baru saja bertabrakan dengan seseorang tanpa sengaja. Membuat laki-laki seumuran dengannya itu marah. Bagaimana tidak bubur yang baru dibelinya jatuh terjempas dan berceceran di lantai yang putih.

"Astaga, lo jangan pake mata dong!" maki laki-laki itu sambil melotot.

"Heh! Lo nggak usah ngegas dong! DASAR..... "

Aiko tidak melanjutkan ucapannya. Di saat dirinya marah, ia teringat kembali janji yang diucapkannya di depan tubuh ayahnya yang terbaring lemah.

"DASAR apa? Hah! Mau ngomong kotor lo yah" tekanya.

"Gu-gue minta maaf. Gue yang salah karena udah nabrak lo tadi" kata Rinai berusaha menurunkan egonya.

"Nah, gitu dong! Kalau salah ya ngaku salah aja"

"Iya-iya"

"Jangan iya iya aja lo, ganti nih makanan gue. Ini gue beliin buat makan siang kami"

"Iya gue ganti. Ini juga mau ke kantin. Eh, tapi lo jangan ngegas mulu dong. Pekak tau telinga gue dengernya! Emang lo nggak haus siang-siang gini teriak-teriakan.

"Oke deh. Gue juga maaflah kalau gitu. Sekarang ayok ke kantin" ucapnya dengan nada suara sedikit menurun dari sebelumnya.

"Kantin di sini emang di mana?" tanya Rinai.

"Udah. Ikut gue aja" Rinai membuntuti ke mana pun laki-laki itu pergi demi mengganti makanan yang ia jatuhkan tadi.

Kaki Rinai sudah letih mengikuti langkah cepat laki-laki di depannya. Ia kira tempat makan yang dimaksudnya dekat dari rumah sakit, ternyata lumayan jauh. Mereka berdua berjalan keluar area rumah sakit kemudian menyebrang untuk menuju ke seberang jalan demi mencapai tempat makan itu.

Dalam hati sebenarnya dia menggerutu, dan mengutuk laki-laki tadi. Di tengah terik panas matahari Rinai harus berjalan sekitar 200 meter. Rinai melihat kalau laki-laki itu sudah berbelok ke sebuah tempat makan di pinggir jalan raya.

"Pak bubur ayamnya dua di bungkus ya" terdengar suara itu dari tempat Rinai duduk.

Sembari duduk dan memilih menu makanan sembari juga ia memijit kakinya yang pegal-pegal setelah berjalan jauh.

"Pak pesen ayam bakar ya"

Pria itu kini duduk di samping Rinaindengan muka datar.

"Heh! Lo sebenarnya ngajakin makan apa ngajak gue marathon? Sumpah ini pegel banget kaki gue" Rinai terus mengoceh sembari memijit kakinya.

"Ye, di sini yang enak tau. Emang lo mau makan mahal tapi nggak enak"

Rinai mengeleng-geleng

"Di sini itu udah terkenal enak dan harganya juga terjangkau. Makannya gue ajak lo ke sini"

"Ya kali, jalan jauh amat. Entar pulang gue pake Ojek Online lah"

Pria itu mengeleng-geleng dalam hatinya baru kali ini ia bertemu dengan wanita sebawel ini.

"Ngomong-ngomong itu yang sakit siapa lo?"

"Itu adek gue" jelasnya singkat. "Kalau lo sendiri?"

"Ayah gue kecelakaan semalam, dan sekarang masih belum siuman"

Rinai menatap lamat-lamat muka lelaki di depannya. Ia melihat aura biru meliputi tubuhnya. 'Dia anak baik' pikirnya.

"Mas buburnya sudah siap" suara itu seketika mengaburkan lamunan Rinai yang sedari tadi melihat laki-laki yang belum diketahui namanya.

"Ini Pak, bubur ini yang bayar cewek ini" sambil menunjuk ke arah Rinai.

Rinaintak menjawab hanya memasang senyum yang ditampilkan dengan keterpaksaan.

"Gue balik ya, soalnya nyokap gue sendiri di sana" berusaha memberi pengertian.

"Keluarga lo yang lain?"

"Gue cuman punya abang, dan sekarang dia lagi kerja. Jadi gue lah yang nungguin nyokap"

"Ouh" Rinai mengangguk paham.

Laki-laki itu berjalan meninggalkan Rinai makan sedirian di tempat makan yang terbilang biasa namun cukup membuat nyaman pengunjungnya untuk menikmati makanan, karena penyajiannya yang bersih juga rapi.

Ada satu hal yang Rinai lupa. Lupa menanyakan nama laki-laki yang barusan ditabraknya. Rinai sedikit berdiri kemudian mengangkat tangannya ke udara. "Hei, nama lo siapa?" teriak Rinainkencang sampai semua pengunjung memutar bola matanya melihat ke arah Rinai.

Tidak sia-sia, laki-laki itu berhenti dan melihat ke arah Rinai. "Gue Fathan" setelah itu ia mengancungkan jempol ke atas kemudian berjalan kembali.

Rinai juga membalasnya dengan acungan jempol ke atas. Lalu, duduk kembali melanjutkan makannya.






~Bersambung...
profile-picture
pulaukapok memberi reputasi
1 0
1
MISTERI GAUN KEMATIAN
26-03-2020 07:14

MISTERI GAUN KEMATIAN

CHAPTER 4



Di bawah pohon mangga yang rimbun dengan semilir angin yang berhembus lembut. Membuat Rinai betah berlama-lama duduk di bawah pohon sambil membaca novel yang sengaja disimpannya di tas. Kebetulan hari ini sejuk, matahari agak sedikit redup tertutup oleh gumpalan-gumapalan awal tipis. Yang jelas tidak seterik panas kemarin.

Rinai merasa angin bertiup semangkin kencang membuat ranting-ranting pohon mangga bergoyang hebat karena merasa takut ranting itu akan jatuh menimpanya, sesegera mungkin ia menyingkirkan badannya.

Braaakkk!

Tepat sekali, baru saja ia pergi tiba-tiba ranting yang berukuran lumayan besar jatuh tepat di tempat Rinai duduk. "Hampir saja" mengelus dadanya.

Rinai mengucek-ngucek matanya, marasakan ada butira halus yang barusan masuk ke dalam. Matanya membuka kembali. Dari kejauhan ia melihat sesosok laki-laki yang tak asing baginya. Iya, adalah laki-laki yang ia ditemui kemarin. Rinai menciutkan matanya untuk memastikan kebenaran itu, entah dia salah orang.

"Fat... Fat... Fat siapa?" Rinai mencoba mengingat-ngingatnya kembali.

"Fathan. Iya dia Fathan"

Fathan terlihat baru saja keluar dari ruangan ICU dengan kondisi mata sembab dan sedikit gelisah.

Rinai mencoba berjalan ke arah Fathan. Ia merasa sedikit simpati, dengan orang yang baru dikenalnya itu.

"Fathan!" teriak Rinai.

Fathan hanya bereaksi seadanya. "Hai, lo lagi" ucapnya lemas, tidak teriak-teriak seperti kemarin.

"Maaf nih, kalau boleh tahu lo kenapa ya Than?" Aiko sedikit ragu.

"Adik gue belum siuman juga. Dia sudah koma dua hari" ucapnya lemah.

"Ya ampun" sambil celingak-celinguk ke arah ruangan ICU. "Lo jangan sedih-sedih lah"

"Gimana nggak sedih. Gue cuman punya mereka aja.  Ayah dan Ibu gue udah cerai. Dulu gue ikut dengan Ayah gue tapi sekarang nggak ada, jadi gue cuma bertiga aja di rumah. Mereka satu-satunya yang gue milikin sekarang" kali ini Fathan mulai terbuka akan kehidupan keluarganya. Rinai yang mendengar cerita itu, turut merasa iba.

"Hm, ayah lo gimana kabarnya?" tanya Fathan.

"Alhamdulillah sudah siuman"

"Syukurlah"

Rinainmendehem, "Fathan gue boleh masuk nggak liatin adek lo?"

"Boleh kok. Ayo!"

Fathan dan Rinai bangkit dari duduknya menuju ruangan ICU. Ada banyak alat medis yang terpasang di badan perempuan itu.

"Namanya siapa Than?"

"Keyza. Dia duduk di kelas 2 sekolah menengah pertama sekarang"

Anak yang bernama Keyza itu, mukanya pucat pasi dan bibirnya terlihat kering. Tangan Rinai sekarang mendarat di tangan adik Fathan, ia menggenggam tangan yang lemah itu.

Mata Rinai sedikit mengerjap dan kepalanya mulai pusing. Ia mendapat subuah tayangan kilas balik, tayangan itu seperti sebuah puzzle yang teracak.

"Fathan gue boleh ngomong sesuatu?"

Fathan mengangguk.

"Sebenarnya sukma Keyza sedang terperangkap dalam sebuah tempat. Ia berusaha keluar namun sulit karena sukmanya terkunci"

Fathan menatap heran ke arah Rinai. "Lo punya kemampuan yang tak biasa itu?"

"E-he. Tapi terserah lo mau percaya atau enggak, tapi kebanyakan orang sih nggak percaya dan bilang kalau gue halu"

Fathan diam sejenak "Terus bagaimana supaya sukma Keyza bisa balik lagi ke raganya semula?"

"Lo percaya dengan ucapan gue?"

"E-he gue percaya kok" sahutnya yakin.

Rinai mencoba melihat vision itu kembali. Ada sebuah buku yang biasa Keyza gunakan untuk menulis.

"Key, apa lo pernah liat Keyza sering menulis di sebuah buku sejenis diary lah kira-kira"

Amar mencoba menggali memori ingatannya dalam-dalam. "Oh iya. Pernah suatu malam gue liat Keyza duduk di dalam kamar sambil menulis. Tapi aku nggak tau persis ia sedang menulis di buku diary atau buku tulis pelajaran sekolahnya"

"Hem, gimana sih lo sama adik sendiri nggak ada perhatiannya"

"Bukannya gitu. Gue juga punya kesibukan kali Nai." decaknya.

"Mendingan sekarang kita cari buku itu sebelum adik lo benar-benar menjadi penghuni abadi buku diary itu"

Dengan langkah segera mereka keluar dari rumah sakit mencari kendaraan untuk bisa segera sampai ke rumah Fathan. Padahal matahari mulai menguning, tanda hari akan beranjak menjadi malam. Namun, perempuan itu tak peduli. Demi nyawa seseorang dan janjinya pada sang ayah, akan merubah sikapnya menjadi lebih baik.


~Bersambung...
profile-picture
pulaukapok memberi reputasi
1 0
1
MISTERI GAUN KEMATIAN
27-03-2020 16:23

MISTERI GAUN KEMATIAN

CHAPTER 5



Allahu akbar... Allahu akbar

Suara adzan magrib berkumandang dari cerobong pengeras suara masjid. Keduanya barusan sampai di rumah kontrakkan milik Fathan. Belum ada seberkas cahayapun, berarti belum ada seorangpun yang singgah rumah itu hanya untuk beristirahat atau pulang makan malam.

Tangan tangan meraba-raba sakelar yang berada di dekat pintu. Cahaya lampu pijar sebesar 15 watt menerangi rumah itu. Pandangan Rinai langsung menyapu seluruh ruangan. Tidak ada barang mewah di dalamnya, beberapa sisi terlihat kosong, hanya ada sebuah televisi dan juga speaker besar di sampingnya. Tidak tahu kenapa hati Rinai tiba-tiba terenyuh, ia seperti merasakan kepiluan yang amat dari dalam rumah itu.

"Ayo masuk masuk" ajak Fathan.

"Abang lo belum pulang?"

"Biasanya abang gue pulang tengah malam" kata Fathan dengan berjalan terus menuju ke kamar Keyza.

"Kamar Keyza di sana" Fathan menunjuk pintu ke dua. Fathan menyakini kalau pintu kamar pertama adalah kamar abangnya.

Ia berjalan memasuki kamar Fathan yang dindingnya di cat berwarna hijau di dinding sebelah kanan terpasang sebuah lampu tumblr yang sengaja dibentuk menyerupai hati.

Mereka membagi tugas. Rinai mencari buku itu di meja belajar sementara Fathan di tas dan juga lemari pakaian Keyza. Ia membuka dan mengecek satu persatu buku-buku yang tertumpuk di atas meja belajar Keyza. Namun tidak ada. Begitu juga Fathan, yang memeriksa tas sekolah Keyza tetap saja tidak ada. Sekarang, ia beralih ke sebuah lemari pakaian, entah-entah Keyza menyembunyikannya di sana. Tangannya meraba-raba kesetiap selipan baju. Namun, hasilnya nihil juga.

"Fathan gimana ketemu gak?"

"Nggak Nai. Lo gimana?"

"Belum juga"

Ia duduk di kasur tempat tidur Keyza sedang berpikir kemana Keyza menyembunyikan buku diarynya.

"Kira-kira selain di kamar, Keyza sering main ke mana ya? "

"Nggak, adik juga jarang main ke luar cuma sesekali doang"

"Oh iya" Fathan mengingat sesuatu.

"Apa?" Rinai langsung melihat ke arah Fathan dengan mata membulat, ingin segera mendengar ujaran yang keluar dari mulut Fathan.

"Liza!  Iya Liza! Mungkin Liza tau tentang Keyza dan buku itu"

"Liza!" ucap Rinai juga. "Di mana rumahnya?"

"Deket kok cuman jarak tujuh rumah dari sini"

"Ya udah kita meluncur sekarang ke TKP" ucapnya bak detektif handal.

Mereka menyusuri jalanan demi jalanan setelah itu masuk ke perkarangan rumah. Mereka di sambut dengan suara gongongan anjing yang menyalak-nyalak, muka anjing itu terlihat sangar. Tapi mudah-mudahan bersahabat.

Husst...huusstt
Suara Fathan mengusir anjing itu supaya menjauh. Gonggongan anjing yang menyalak-nyalak membuat Rinai ketakutan untuk melanjutkan langkahnya menuju rumah Liza.

"Gimana kalau ikatan anjing itu lepas dan dia mengigit kita?" Rinai bergidik ngeri, sambil bersembunyi dibalik tubuh Fathan yang kurus.

"Lariiiii" Fathan mencoba membuat Rinai ketakutan dengan berlari menjauhi Rinai.

Melihat Fathan berlari, membuat insting Rinai juga berpikir untuk segera berlari juga mengejar Fathan yang sudah lebih dulu sampai ke teras rumah Liza.

"Tega lho yah" Rinai memukul bahu Fathan.

Tok...tok...tok

"Permisi!  Tante!  Liza!"

Suara kenop pintu mulai diputar dari dalam rumah.

"Iya ada apa?"

"Tante ada Liza" tanyannya dengan sopan dan lembut

"Ada. Sebentar ya"

Keduanya menunggu dan tak berselang lama Liza keluar juga.

"Ada apa Bang?"

"Liza Abang Fathan mau tanya nih, kamu apa pernah liat Keyza nulis-nulis gitu di buku atau sejenis buku diary"

Liza diam, mungkin mencoba mengingat sesuatu.

"Waktu itu kita ke gudang belakang sekolah buat ngambil barang alat perlengkapan dekorasi acara pensi kakak kelas, terus gue liat Keyza menggapai suatu benda di atas lemari pas aku liat ternyata itu buku kayak udah lama gitu... Iya mirip buku diary lah pokoknya. Tapi Liza udah suruh dia balikin buku itu, eh dia kekeuh kalau mau bawa pulang diary itu karena menurut Keyza buku itu bagus dan pasti sudah tidak punya tuan lagi. Buktinya dia berada di gudang. Gitu tuh bang waktu itu" terang Liza dengan panjang lebar.

"Kira-kira Liza tau di mana buku itu disimpan Keyza?" kini giliran Rinai yang bertanya.

Liza menggeleng-gelengkan kepalanya, pertanda kalau dia tidak tahu di mana keberadaan buku yang dimaksud. "Ya udah kalau gitu. Makasih ya Liza"

"Iya Kak"

"Liza abang pamit dululah kalau gitu"

Mereka memutar balik badannya pergi meninggalkan rumah Liza. Di jalan keduanya masih berusaha berpikir keras dan berkompromi satu sama lain.

"Rinai, apa kita ke sekolah Keyza aja, kita ke gudang sekolah yang dimaksud Liza"

"Ide yang bagus tuh, tapi jangan malam ini juga"

"Ye, siapa yang ngajak malam ini. Lagian badan gue udah capek nih mau istirahat" jawabnya ketus.

"Oke-oke"

"Besok lo temuin gue di sekolah SMK Cendana. Gue mungkin nggak ke rumah sakit besok karena jadwal gue penuh dengan eskul sampe jam empat"

Keduanya berpisah tepat dipersimpangan jalan. Rinai pergi mencari ojek online untuk pulang ke rumah sementara Fathan balik ke rumah sakit menunggui adiknya yang koma.



~Bersambung ...
Diubah oleh syrmey
profile-picture
pulaukapok memberi reputasi
1 0
1
MISTERI GAUN KEMATIAN
27-03-2020 20:36
Ditunggu apdetannya gan....emoticon-2 Jempol
0 0
0
MISTERI GAUN KEMATIAN
28-03-2020 09:25

MISTERI GAUN KEMATIAN

CHAPTER 6


Hari ini suara di lapangan begitu riuh seluruh murid kelas dua sedang latihan untuk persiapan pensi di acara kakak tingkat mereka. Beberapa dari mereka membantu menata bunga-bunga untuk menghiasi acara panggung hiburan, beberapa lagi sibuk menyusun kursi untuk penonton.

Guru-guru SMP Pelita hanya melibatkan murid-murid kelas dua saja dalam mempersiapkan acara ini dibantu dengan Anggota Osis juga. Sedangkan siswa kelas satu tidak, namun mereka tetap diharapkan bisa memeriahkan acara di hari H pelaksanaan pensi.

"Hey, hey kalian" orang yang dipanggil itu hanya menatap bingung

"Kita?" tanya mereka

"Nama kalian siapa?"

"Gue Liza kak"

"Dan gue Keyza"

"Keyza dan Liza tolong kamu ambil beberapa kardus bekas yang ada di gudang untuk hiasan miniatur air di atas pangung" pinta laki-laki yang tak lain kakak kelas mereka.

"Oh iya Kak"

Keyza dan Liza berjalan menuju gudang di belakang sekolah. Gudang itu jarang terjamah tangan-tangan siswa di sana hanya sesekali saja dimasuki jika memang ada keperluan. Gudang itu adalah gudang yang paling tua di sekolah Pelita. Sementara gedung baru letaknya dekat perpustakaan sekolah.

Kreekk...

Bau apek langsung menyeringai saat gudang di buka. Pintunya juga penuh dengan debu, di beberapa dindingnya berisi coretan-coretan tidak jelas serta bentuk seperti cakaran ada di dinding gudang.

"Kotor banget ya" keluh Keyza sambil masuk ke dalam gudang.

"Iya Key, di mana ya kardus-kardusnya? Masak kita harus mengobrak-abrik setiap tumpukan ini" Liza lihat tumpukan besi-besi berkarat, perlengkapan olahraga yang sudah rusak.

Keyza menatap seluruh isi gudang, ada buku-buku usang dan lama juga di sana. Ia melangkah perlahan suara decitan barang yang Keyza injak terdengar.

"Mana sih barang itu?" Liza mengigit bibir bawahnya. "Key, lo kemana? Bantuin dong"

Keyza tetap melanjutkan langkahnya, tiba-tiba matanya menangkap sesuatu. Ada sebuah berangkas berdebu di atas lemari, warna berangkas itu tidak terlalu jelas karena tertutup debu tebal. Keyza terus berjinjit untuk menggapainya.

Berangkas itu sudah berada di tangannya. Keyza menaruhnya di atas meja kayu yang satu kakinya sudah patah karena di makan rayap. Dengan rasa penasaran Keyza berusaha membuka kotak dengan pelan dan perlahan.

"Hah! Hanya sebuah buku" ucap Keyza tak percaya, ia kita berangkas itu isinya sesuatu yang penting dan berharga, uang atau emas misalnya.

Hufftt...hufftt

Keyza meniup debu yang menutupi buku, sebagian ujungnya sedikit robek namun masih bisa di pakai.

Srek...srek

Lembar demi lembar Keyza buka.

Dear deary

Hari ini tanggal 8 November 1995, gue merasa sedih banget karena ibu gue jarang banget pulang untuk sekedar jengukin anaknya. Gue pingin Bapak dan ibu gue kumpul lagi kayak dulu.

~Elsa

"Diary doang nih ternyata"

Keyza terus membuka diary itu sampai habis, ternyata baru sebagian buku diary itu terisi. Masih ada beberapa lembar lagi. "Diary ini juga nggak buruk-buruk amat" ucapnya.

"Diary gue bawa pulang ah, unik soalnya dan masih bisa gue pakai" pikirnya

Dua menit kemudian, terdengar suara Liza.

"Key lo ngapain?"

"Ng... Ngak kok!" dengan terbata-bata. Karena takut ketahuan Keyza menyembunyikan diary itu di balik tubuhnya.

"Lo nyembunyiin apa?" Liza sepertinya menyadari tingkah Keyza yang menyembuyikan buku di belakangnya.

"Ngaku deh" Liza mendesak Keyza.

Keyza yang merasa dirinya sudah tertangkap basah akhirnya mengeluarkan buku di balik punggungnya.

"Buku doang kok, lagian nggak ke pake lagi. Jadi gue ambil"

"Key, mending lo balikin deh tuh buku. Lo jangan ambil barang sembarangan, apalagi yang bukan milik kita" saran Liza ke Keyza. "Gue denger gosip-gosip di gudang ini ada makhluk berkuku panjang sering menampakan diri. Makannya gudang ini sekarang jarang dipakai"

Mendengar ucapan liza, Keyza hanya menaik turunkan pundaknya seperti tak percaya dengan takayul.

"Lo percaya yang kayak begitu, syirik lho ntar jadinya"

Liza menarik napas dalam-dalam, "Terserah lo deh, kalau udah ngomongin masalah begituan gue angkat tangan.

"Ayo buruan! Gue nggak betah lama-lama di sini! Bisa-bisa bengek" Liza berjalan duluan meninggalkan Keyza.

Melihat Liza sudah berjalan jauh Keyza langsung menggambil buku dan menyembunyikan di balik jaketnya.




~Bersambung ...
Diubah oleh syrmey
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan banditos69 memberi reputasi
2 0
2
MISTERI GAUN KEMATIAN
13-04-2020 08:30

MISTERI GAUN KEMATIAN

CHAPTER 7



Keyza duduk sambil bertopang dagu. Ada banyak hal yang ia pikirkan, dan dia benci keadaannya saat ini. Rumah sudah seperti neraka membuat Keyza tidak betah. Dulu, kehidupan keluarga ini baik-baik saja seperti layaknya keluarga lainnya. Namun lambat laun semua beruba 180 derajat. Ibu Keyza kerap perang mulut dengan suaminya, tiada hari tanpa mereka bertengkar. Keyza sering melihat di depan matanya sendiri bagaimana Ayahnya menampar bahkan memukul Ibunya.

Keyza menutup kuping dengan kedua tangannya tak sanggup mendengar jeritan-jeritan ibunya. Ia berlari masuk ke kamar. Lalu duduk dengan posisi tangan mendekap kedua lututnya dengan erat. Ia teringat buku diary yang temukan di gudang belakang sekolah.

Srek...srek

Diary itu telah sampai di bagia kertas yang berwarna putih. Keyza mulai menuliskan keluh kesah atas kejadian-kejadian hari ini.

Dear Diary

Gue benci hidup gue saat ini! gue ingin keadaan itu balik ke semula lagi, di mana nyokap dan bokap gue hidup rukun dan damai. Andai permintaan gue ini bisa terkabul gue pingin besok pas gue bangun tidur ada ayah dan ibu yang nungguin gue sarapan sebelum berangkat sekolah. Seperti dulu!

~Keyza


Baginya menulis segala apa yang menjadi uneg-uneg selama ini cukup membuat Keyza sedikit lega. Ketimbang menceritakan kehidupan keluarga ke teman atau orang lainnya yang belum tentu bisa memegang omongannya kalau dia tidak akan membeberkan tentang kehidupan keluarga Keyza yang hampir broken home.

***


Kringg...

Jam beker yang berada di nakas terus berdering, dengan tangan mungilnya dia menggapai jam beker di nakas dengan keadaan mata masih terpejam. Dengan rasa malas Keyza membuka matanya.

"Pukul 6.45 pagi! Mampus gue baru bangun" mata Keyza langsung melotot dan melonjak kaget.

Keyza langsung berlari menuju kaar mandi. Alangkah terkejutnya Keyza saat mendapati Ibu dan Ayahnya sedang duduk di meja makan. Di lihatnya Ibu sedang menyiapkan sarapan pagi sementara Ayah sedang menyeruput kopi buatan istrinya. Karena kurang yakin, Keyza datang dan mendekat ke arah mereka. Ia menyentuh dan memijit-mijit tangan ayah dan juga ibunya, demi membuktikan bahwa apa yang disaksikannya itu bukan hasil imajinasi.

"Kamu kenapa sih Key?" tanya Ibu dengan heran.

"Tau tuh Keyza bukannya mandi," sahut Amar yang juga duduk bersama mereka.

"Nggak mimpi" bisik Keyza lirih.

"Mimpi apa? makannya kalau udah bangun tidur langsung mandi, emangnya kamu nggak mau berangkat sekolah?" kata Ayah Keyza.

"Astaga" Keyza baru ingat kalau dia harus segera mandi lau bersiap berangkat ke sekolah supaya tidak terlambat.

Burrr....Burrr

Terdengar suara air dari kamar mandi. Keyza mandi dengan tergesa-gesa hingga tak sampai 15 menit ia keluar dari kamar mandi kemudian berjalan menuju kamar. Sambil menyisir rambutnya yang basah usai terguyur air tadi sewaktu mandi, pikirannya selalu tertuju ke ayah ibunya yang hari ini tidak terlihat seperti biasa, mereka begitu akur hari ini seperti tak pernah terjadi apa-apa.

"Keyza ayo buruan makan!ntar telat kamu! teriak Ibu Keyza dari luar kamar memanggil Keyza.

"Iya Bu. Sebentar lagi" sahutnya. Dengan semangat dan senyum sumringah Keyza keluar kamar menuju meja makan.

"Nah, ayo makan!" ucap Ibu sembari menuang susu ke gelas Keyza.

"Eh, kok ..." Keyza diam sebentar sambil menatap ayah dan ibunya.

"Kamu kenapa? kok liatin kita begitu?"

Keyza tersenyum, "Keyza sangat senang Bu kita bisa makan bareng lagi. Ibu udah nggak marahan sama ayah?" tanya Keyza polos.

Tangan Ibu merangkul bahu ayah. "Kita udah baikkan ya Yah. Kita udah lupain semuanya."

Tanpa sengaja mata Keyza melirik ke arah jam dinding. "Astaga Bu! 5 menit lagi gerbang sekolah tutup dan sekarang Keyza harus segera berangkat Bu"

"Assalamu'alaikum" Keyza mencium tangan ayah dan ibunya juga Amar. Kemudian berlari kencang sekuat tenaga supaya bisa sampai tepat waktu sebelum gerbang sekolah ditutup.

Sepeda Keyza sudah siap untuk mengantar tuannya agar segera sampai tujuan. Ia mengayuh pedal sepeda sambil berdiri supaya sepeda itu bisa melaju kencang. Sekarang sepeda yang membawa Keyza sudah berbelok ke tikungan jalan.

Kriitt...kriitt

Pintu gerbang sekolah sudah ditutup Pak Herdi, satpam sekolahnya Keyza.

"Eitss... Pak buka dong Pak!"

"Kamu udah telat" ketus pak Herdi

"Ya elah Pak, tiga menit doang telat"

"Tetap aja kamu telat ya kan? kamu tunggu aja di luar gerbang sampai Bapak Ahsan datang untuk mendata siapa-siapa saja yang telat dan mereka harus menerima konsekuensinya seperti biasa"

Sepuluh menit kemudian ...

Suara Pak Ahsan menggelegar sampai keluar gerbang, membuat siswa yang berada di luar gerbang sekolah langsung berdiri.

"Semua yang telat berbaris yang rapi! cepattt!" bentak Pak Ahsan, guru BP yang paling galak di sekolah.

"Aduh! Mampus dah gua"



~Bersambung ...
profile-picture
pulaukapok memberi reputasi
1 0
1
MISTERI GAUN KEMATIAN
13-04-2020 08:39

MISTERI GAUN KEMATIAN

CHAPTER 8


Keyza merasakan kantuk yang teramat amat sangat. Matanya ingin segera terpejam apalagi didukung oleh hawa dingin yang menusuk. Malam ini hujan begitu deras disertai gemuruh petir bersahutan. Angin malam berhembus lebih kencang sampai terdengar atap yang terbuat dari seng itu berdecit-decit seakan ingin terlepas dari atap rumah.

Lampu pijar terlihat masih menyala di meja belajar Keyza itu tandanya dia masih belum tidur padahal jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Tangan Keyza masih terus menulis berharap tulisannya ini bisa segera selesai.

53. SAYA BERJANJI TIDAK AKAN TELAT LAGI!JIKA SAYA TEAT LAGI MAKA SAYA AKAN SIAP MENERIMA KONSEKUENSI DI SKORS SELAMA TIGA HARI

54. SAYA BERJANJI TIDAK AKAN TELAT LAGI! JIKA SAYA TEAT LAGI MAKA SAYA AKAN SIAP MENERIMA KONSEKUENSI DI SKORS SELAMA TIGA HARI

55. SAYA BERJANJI TIDAK AKAN TELAT LAGI! JIKA SAYA TEAT LAGI MAKA SAYA AKAN SIAP MENERIMA KONSEKUENSI DI SKORS SELAMA TIGA HARI


"Baru 55 nomor" keluhnya. "Gue udah ngantuk banget lagi! Cepat selesai dong" gerutu Keyza tak sabar. Di balik itu semua ia seperti memikirkan sesuatu yang bisa ia lakukan untuk menghilangkan kepenatannya menulis. Sebuah benda pun terlintas di pikirannya.

"Buku Diary!" ucapnya teringat pada buku usang itu. Keyza mengambil buku diarynya yang disimpan di bawah tumpukan baju-baju di almari pakaian.

Srekk...srek...

Keyza membuka lembar putih yang masih kosong berikutnya.

Dear Diary

Gue kesal banget hari ini dihukum disuruh buat kalimat kayak gini "SAYA BERJANJI TIDAK AKAN TELAT LAGI!JIKA SAYA TEAT LAGI MAKA SAYA AKAN SIAP MENERIMA KONSEKUENSI DI SKORS SELAMA TIGA HARI" sampai seratus kali, dan gue baru 55 kalimat, jari gue rasa keriting. Andai harapan gue ini bisa terkabul seperti kemarin. Gue mau besok pas gue bangun pagi tulisan ini udah genap 100 kalimat.

~Keyza.


Rasa kantuk sudah semangkin mengantui mata Keyza, ia menaruh kembali diary lusuhnya kemudian berjalan menuju kasurnya yang empuk. Dengan semangat Keyza menghempaskan badannya yang kecil ke kasur. Seketika Keyza terlelap, tak memperdulikan hukuman dari Pak Ahsan yang menginginkan tulisan itu harus selesai besok pagi. Jika tulisan itu belum juga selesai maka Pak Ahsan mengancam menambahnya dua kali lipat. Suara dengkuran Keyza sedikit demi sedikit mulai terdengar, sepertinya ia benar-benar sudah tenggelam bersama mimpi indahnya malam itu.

***


Kukuruyuuuukkk ....

Suara ayam jago itu begitu nyaring, sepertinya ia tahu kalau Keyza sedang kena hukuman karena bangun kesiangan sehingga kali ini ia berkokok lebih pagi supaya tuannya tidak bangun kesiangan lagi.

Badan Keyza mulai menggeliat, ia mengangkat tangannya ke udara sesekali mulutnya menguap. Keyza melihat buku tulisnya tergeletak di atas meja. Dia baru tersadar kalau dirinya harus menyelesaikan tulisan yang diperintahkan Pak Ahsan.

"Astaga! Mati gue!" Keyza langsung buru-buru meraih buku tulisnya untuk melanjutkan tugasnya semalam yang belum selesai.

"Hah! gue nggak salah liat" Keyza hanya bisa terperanjat tak percaya kalimat itu sekarang sudah genap 100 kalimat.

Keyza mengingat sesuatu tentang buku diary yang semalam barusan dia isi. 'Ini sungguh ajaib! setiap apa yang tertulis di buku diary ini langsung terkabul' pikirnya sembari mengangkat tinggi-tinggi buku diary yang awalnya tergeletak di meja belajar. Sekarang, Keyza tak perlu panik dan bersusah payah untuk melanjutkan lagi kalimat itu karena sudah selesai yang sekarang Keyza lakukan adalah bersiap-siap untuk mandi.

Senyum sumringah terpancar saat Keyza keluar dari kamarnya. "Heh! Lo kayaknya happy banget! habis jadian ya!" tebak Amar, yang sedari tadi sudah siap untuk berangkat ke sekolah juga.

"Abang kepo aja!" Keyza memeletkan lidahnya ke Amar.

"Uuu... dasar bocah" balas Amar.





~Bersambung ...
profile-picture
pulaukapok memberi reputasi
1 0
1
MISTERI GAUN KEMATIAN
13-04-2020 08:49

MISTERI GAUN KEMATIAN

CHAPTER 9



Entah mengapa tiba-tiba di tempat tinggal Keyza seluruh warga terlihat begitu sibuk. Ada yang berlarian ke sana-kemari, ada yang berteriak-teriak, malam ini suasana begitu riuh. Keyza terus berjalan dengan pasti menyusuri jalanan yang mengarah ke perkampungannya.

"Tolong! tolong!" semangkin Keyza mendekat menuju rumahnya, semangkin dia mendengar teriakan-teriakan bahkan jeritan-jeritan seperti orang tercekik.

Saat itu juga Amar, abang Keyza melintas di dekatnya.

"Abang! Abang mau kemana lari-larian?" Keyza begitu heran dengan perilaku warga ditempatnya tinggal.

"Abang mau panggil ustad di kampung sebelah Key. Kamu hati-hati dan banyak berdoa supaya kamu terhindar dari wabah yang menimpa kampung kita" ucapan Amar semangkin membuat Keyza bingung.

Keyza masih terus bertanya-tanya akan maksud ucapan abangnya itu.

"Wa-wabah apa sih Bang?"

Belum sempat Amar menjawab pertanyaan Keyza, dia sudah berlari pergi menjauh menuju kampung sebelah untuk mencari pertolongan ustad atau orang pintar lainnya. Rasa penasaran yang terus melanda membuat Keyza semangkin yakin bahwa ada sesuatu yang tidak beres ditempatnya tinggal saat ini.

Tepat di depannya berdiri saat ini, ia melihat bagaimana orang-orang mengguling-gulingkan tubuhnya ke tanah seperti orang kesurupan. Namun, yang membuat Keyza bergidik ngeri adalah sekujur tubuhnya dipenuhi bisul-bisul yang menjijikan. Bisul-bisul itu mengeluarkan nanah yang menimbulkan bau anyir.

Begitu juga dengan warga lain yang terkena wabah itu, tubuhnya merasakan rasa gatal yang teramat hebat lalu menggaruknya. Yang anehnya, saat bagian yang gatal itu digaruk bagian itu akan berubah menjadi warna hijau lalu membentuk bisul yang aneh, mengeluarkan bau tidak sedap.

Arrrrrggghhhhh!

Keyza mendengar suara erangan itu dari berbagai sisi.

Sekitar dua puluh menit Amar kembali dengan membawa orang pintar untuk menyelamatkan warga yang terlanjur terserang wabah misterius itu. Keyza sebenarnya ingin turut membantu mereka, tapi dia bingung harus melakukan apa.

"Gue yakin orang pintar itu nggak akan bisa nanganin satu per satu warga di sini dan gue juga harus bantu mereka! Tapi dengan cara apa ya?"

Keyza masih berusaha mencari pertolongan untuk membantu warganya. Ia mencoba merapalkan doa-doa yang dia hapal seperti surah-surah pendek tapi sepertinya itu tidak membawa perubahan yang berarti. Keyza mondar-mandir ke sana-kemari memikirkan cara lainnya.

"Gue ingat! Diary itu pasti bisa membantu warga di sini!" seru Keyza. Tanpa membuang waktu Keyza berlari kembali masuk ke dalam kamar dan mengambil diary itu. Dengan segera Keyza berlari kembali ke kamar dan mengambil diary itu.

Dia menuliskan kembali permintaannya di diary lusuh miliknya.

Srek..srek

Lembaran itu sudah sampai di lembaran terakhir tapi Keyza tak memperdulikannya, dia tetap menulis.

Dear Diary

Malam ini seluruh warga terkena wabah yang aneh sekaligus mengerikan, gue minta supaya seluruh warga bisa pulih seperti sedia kala tanpa ada korban jiwa.


~Keyza

Setelah permintaan itu ditulis di dalam diary, tiba-tiba saja Keyza mendapati lembaran diary yang tadinya berwarna putih sekarang berubah warna menjadi merah, dan mengeluarkan cairan merah layaknya darah manusia.

Aaaaaaaa....

Keyza yang kaget refleks melempar diary itu menjauh darinya. Tiba-tiba saja gumpalan asap hitam keluar dari diary yang tergeletak di lantai. Lama-lama gumpalan asap berwarna hitam membentuk menyerupai manusia, mukanya tidak berbentuk.

"Si-siapa kamu!" tanyanya gemetar.

"Aku adalah pemilik diary ini" jawabnya sambil mendekat ke arah Keyza.

"Diary ini bukan diary biasa, tapi diary ini bisa mengabulkan semua permintaan penulisnya, sebagian lembarnya sengaja dikosongkan supaya ada orang-orang selanjutnya yang bisa mengisi sisa kertas lembaran yang kosong. Jika orang tersebut sudah sampai pada lembar terakhir ia akan menjadi penunggu selanjutnya diary ini. Korban selanjutnya adalah kamu Keyza, aku akan mengambil sukmamu untuk menjadi penunggu diary ini."

"Tidak! gue nggak mau!" teriak Keyza sembari terus berjalan mundur menjauhi sosok gumpalan asap berwarna hitam.

Semua sudah terlamabat. Tiba-tiba tubuh Keyza dikelilingi cahaya berwarna hitam. Tubuhnya sekarang membentuk titik-titik cahaya yang bergerak masuk ke dalam diary. Setelah sukma Keyza masuk seluruhnya, lembaran itu berubah menjadi putih kembali dan segala apa yang Keyza tulis selama ini hilang begitu saja. Buku diary lusuh itu telah kembali ke tempat semula, sementara jasad Keyza tergeletak di bawah lantai tak sadarkan diri.

Seluruh warga sudah kembali beraktivitas seperti sedia kala seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu. Amar yang baru pulang dari menjemput abangnya melonjak kaget mendapati Keyza tergeletak di lantai.


~Bersambung ...
profile-picture
pulaukapok memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
cerita-horor--imah-leuweung
Stories from the Heart
ayahku-membunuhku
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
Heart to Heart
rindu
B-Log Personal
aldebaran
B-Log Collections
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia