Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
12
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e45249b09b5ca3fe9289cab/ular-berkepala-tikus
"Saya terima nikah dan ka--" "Ka-mu! Bagaimana bisa kamu ingin menikahi gadis lain sementara aku sedang hamil anakmu?! Di mana otakmu?!" seru Ivy, mata sipitnya menatap galak ke wajah Evan yang tersentak kaget. Orang-orang langsung memperhatikannya. Ivy menarik napas dalam. Diusapnya keringat dingin di wajah. Dadanya berdebar keras. Dalam hati ia bertanya, apa wajahku sudah terlihat sangat marah
Lapor Hansip
13-02-2020 17:27

ULAR BERKEPALA TIKUS

Past Hot Thread
icon-verified-thread
Part 1
ULAR BERKEPALA TIKUS


"Saya terima nikah dan ka--"

"Ka-mu! Bagaimana bisa kamu ingin menikahi gadis lain sementara aku sedang hamil anakmu?! Di mana otakmu?!" seru Ivy, mata sipitnya menatap galak ke wajah Evan yang tersentak kaget. Orang-orang langsung memperhatikannya.

Ivy menarik napas dalam. Diusapnya keringat dingin di wajah. Dadanya berdebar keras. Dalam hati ia bertanya, apa wajahku sudah terlihat sangat marah?

Sang calon mempelai wanita, Lestari, refleks mengangkat wajah. Mata bulat beningnya menatap Ivy dengan pandangan tak percaya. Di sampingnya, perempuan paruh baya berwajah mirip, terlihat terkejut. Keningnya mengerut, mata tuanya menatap calon menantu dan Ivy bergantian.

Urungkan, tidak. Urungkan, tidak. Batin Ivy berkecamuk. Sungguh, sebenarnya dari hati nurani yang paling dalam, ia tak tega pada si calon mempelai wanita. Pasti, sakit hatinya. Buktinya, wajah dewasa itu kini terlihat seperti akan menangis. Ivy langsung mengalihkan pandang saat tatapannya berbenturan dengan gadis itu. Lalu, Ivy menggeleng mencoba menepis keraguan hatinya.

Sambil memasang wajah marah, Ivy bergerak mendekat, lalu menggeretakkan gigi. Tatapan gadis tinggi ramping berambut pirang sepinggang itu terus terpaku ke wajah Evan yang terlihat bingung. Sangat wajar, jika lelaki itu kebingungan. Evan sama sekali tak mengenalnya. Lebih tepatnya, ia dan lelaki itu tak saling mengenal.

Orang-orang di belakang pasangan yang hendak melangsungkan ijab kabul itu, kini mulai berbisik-bisik. Tari yang tampak cantik dengan kebaya yang melekat pas di tubuh moleknya menoleh, menatap calon suaminya dengan wajah curiga. Matanya dipenuhi kaca-kaca yang siap meluncur kapan saja.

Dengan tubuh sedikit gemetar, Ivy menyaruk kakinya mendekati pasangan itu. Jantungnya bertalu kencang saat ia berkata dengan wajah sinis. "Apa kamu lupa yang telah kita lakukan di hotel malam itu? Aku sekarang hamil. Hamil!" hardiknya.

"Aku ... tak mengenalnya, sungguh," ucap Evan saat lelaki paruh baya yang duduk terhalang meja kecil di depannya, menepis tangannya. Lelaki itu, mirip sekali dengan Tari.

"Kamu siapa? Aku tak mengenalmu," tanya Evan lirih. Ia memandang Ivy dengan wajah bingung.

Ivy menarik napas dalam, berusaha tak terlihat gugup meski dadanya kian bergemuruh. Jelas, lelaki itu merasa asing padanya. Akan tetapi, ia tidak karena sering melihat foto Evan di dompet sang sahabat.

Ia tak pernah lupa saat dua tahun lalu, Liana terisak di pelukannya, begitu meratapi hubungannya bersama sang kekasih yang harus kandas di tengah jalan. Saking sedihnya, Liana sampai tak berselera makan, membuat tubuh indahnya menjadi kurus kering.

Hampir 5 bulan sahabatnya terpuruk dalam kepedihan. Mungkin adalah kebetulan, saat secara tak sengaja ketika ia hendak ke taman, di depan halaman rumah ia melihat foto besar yang begitu familier. Ternyata, Evan. Ia memang tak mengenalnya, tapi ia sering melihat fotonya. Tak jarang, Liana mengirimkan fotonya bersama Evan saat ia sedang kuliah di luar negeri.

Sekarang, saatnya membalaskan sakit hati Liana. Malang benar nasib gadis itu karena Evan tiba-tiba memutuskannya, dengan gampang berkata hatinya telah berpindah pada gadis lain. Mungkin, Liana akan senang saat mendengar apa yang ia lakukan sekarang. Membalaskan sakit hatinya.

"Jangan pura-pura." Ivy berkata dengan suara bergetar. Sekilas, ia menatap calon mempelai wanita yang terus membisu, wajah itu telah berubah pucat dengan air mata mengalir perlahan di pipi. Sang ibu menggenggam tangannya erat.

Ivy menarik napas, ketegangannya membaur dengan rasa gugup karena semua tatapan ingin tahu, kini mendarat di wajahnya. Lalu ke Evan.

Tenangkan diri, Ivy. Ini demi Liana yang telah begitu baik padamu. Katanya dalam hati.

"Setelah membuatku hamil, apa kamu sungguh ingin kabur? Ingat, kita melakukannya di hotel dan itu berkali-kali." Suara Ivy nyaris menyerupai bisikan. Ia tahu itu hanyalah fitnah. Besar dosanya.

"Apa yang dikatakannya benar?" Tari menoleh, menatap tajam calon suaminya. Napasnya terlihat naik turun. Wajahnya sembab.

"Bohong. Aku bahkan tak mengenalnya," sahut Evan cepat. Lelaki tinggi berkulit putih itu memberi Ivy pandangan geram. Ia berdiri, tanpa membuang waktu segera mencengkeram pergelangan tangan Ivy sampai gadis itu meringis kesakitan.

"Katakan siapa yang menyuruhmu! Aku tak mengenalmu jadi bagaimana mungkin bisa menghamilimu?!" Ia menatap ke arah perut ramping lawan bicaranya sambil tersenyum merendahkan.

"Kamu keterlaluan! Kita sampai di sini saja!" Tari berdiri dari duduknya, lantas berlari sambil mengusap air mata. Orang-orang langsung heboh. Sang ibu cepat mengejar sambil berseru memanggil. "Tunggu, sayang! Tungguu!"

Ivy menarik napas dalam. Sepertinya, sudah cukup. Lelaki ini pasti sudah merasa sangat malu. Ia menatap keluar, merasa bersalah pada Tari. Sungguh, tak ada maksud menyakiti gadis itu.

"Dasar gadis gila!"

Ivy tersentak, memandang ngeri pada wajah Evan yang menatapnya sinis. Tangan lelaki itu terkepal. Sebagian para undangan terdiam menyaksikan. Tampak begitu ingin tahu.

Sebaiknya lekas pergi, kata Ivy dalam hati. Ia mundur selangkah lalu berkata, "Tak apa jika kamu tak mau menikahiku. Kamu hanya perlu ... bertanggungjawab. Berikan aku uang setiap bulan, dan berikan kehidupan yang layak pada anak kita kelak." Hanya alasan. Ia tak butuh uang karena telah memiliki harta yang melimpah. Ia hanya ingin melihat Evan merasakan sakit seperti yang dirasakan Liana dulu. Hanya itu.

"Jika kamu memang lebih mencintainya, aku rela. Selamat tinggal." Ia membalikkan badan dan bergegas keluar dengan jantung bertabuh kencang. Ia berharap, lelaki itu tak menuntut karena telah mempermalukannya.

Ivy tersenyum riang saat mencapai ambang pintu. Ketegangan yang sejak tadi mengimpit dadanya, perlahan mencair. Namun, saat hendak melangkah keluar, sebuah tangan menyambar keras pergelangan tangannya, lalu dengan sekali sentakan memutar tubuhnya sehingga mereka kini bertatapan.

"Walau aku sangat membencimu karena ucapanmu yang ngawur, tapi bertanggung jawablah, Jalang!"

Apa ia akan membawaku ke kantor polisi? Pikir Ivy dalam hati. Ia menggeleng lalu memberontak mencoba melepaskan diri.

"Ayo menikah."

Mata gadis berkulit putih itu melebar. Menikah? Ivy menatap sekeliling, semua orang sedang menatapnya.

Bagaimana mungkin menikah dengan lelaki asing? Ia kembali memberontak. Namun, karena cengkeraman Evan begitu kuat, akhirnya ia memilih memegangi kepala, mengernyit seolah sedang menahan sakit, kemudian melemaskan tubuh. Pura-pura pingsan. Seketika, terdengar teriakan.

"Rias dia. Saat dia bangun, kami akan menikah!" Suara lelaki yang baru ia permalukan, terdengar lantang memenuhi ruangan. Jantung Ivy berdetak kencang. Menikah? Bagaimana ini?


#Judul bakal berkaitan dengan isi. Semoga menghibur.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
alva610 dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
ULAR BERKEPALA TIKUS
13-02-2020 17:56
lanjutttt
0 0
0
ULAR BERKEPALA TIKUS
13-02-2020 18:53
lanjot gan, menarik nih
0 0
0
ULAR BERKEPALA TIKUS
17-02-2020 15:13
huah..
0 0
0
ULAR BERKEPALA TIKUS
17-02-2020 15:59
kirain beneran ada binatang ular kepala tikus emoticon-Salah Kamar
0 0
0
ULAR BERKEPALA TIKUS
17-02-2020 17:21
Seru nih lanjut gan
profile-picture
uusDK memberi reputasi
1 0
1
ULAR BERKEPALA TIKUS
17-02-2020 18:48
Wanjaaay nih cerita, lanjuttt kan !
0 0
0
ULAR BERKEPALA TIKUS
17-02-2020 18:55
Hehe,..seruu,.lanjut kah
0 0
0
ULAR BERKEPALA TIKUS
17-02-2020 20:39
seremmmm... ninggalin kunai dulu, nanti saya kesini lagi.
emoticon-Gregetan
0 0
0
ULAR BERKEPALA TIKUS
18-02-2020 01:03
jejak duluemoticon-Ngakak (S)
0 0
0
ULAR BERKEPALA TIKUS
18-02-2020 15:55
Quote:Original Posted By braysagala
kirain beneran ada binatang ular kepala tikus emoticon-Salah Kamar


wkwkwk sama gaan.... kirain cerita mistis gituuu tapi ternyata hanya perumpamaan.... tetep kereenn ceritanya...
0 0
0
ULAR BERKEPALA TIKUS
18-02-2020 21:03
lanjoooottt
0 0
0
ULAR BERKEPALA TIKUS
01-03-2020 17:42

Ular Berkepala Tikus

Part 2

Evan melangkah cepat menuju kamar tamu lalu membanting gadis dalam gendongannya yang terus pura-pura pingsan ke ranjang. Ivy ingin membuka mata, tapi begitu takut.

Memang sebaiknya Ivy terus memejamkan mata. Karena dengan begitu, ia tak harus menyaksikan Evan yang terus menatapnya bak harimau mengintai mangsa. Senyum sinis terus terukir di bibir lelaki itu.

Evan menyentak napas. Menikah dengan perempuan asing? Ia menatap gadis yang tampak terlelap itu dengan pandangan merendahkan lalu menghantamkan tangannya yang terkepal ke dinding. Tangannya berdenyar sakit, namun tak ia pedulikan. Napasnya naik turun menahan letupan amarah. Jantung mengentak kuat seolah hendak meledak.

Siapa sebenarnya gadis itu? Apa suruhan seseorang? Ia memerhatikan Ivy cukup lama.

Sepintas, terlihat seperti gadis berkelas. Tetapi tak mungkin. Mana mungkin gadis berkelas dengan tak tahu malu mengacau? Pasti gadis ini suruhan seseorang. Pasti. Pikir Evan sambil terus memerhatikan tubuh Ivy. Cantik dan lansing, tapi berhati busuk, sayang sekali.

Menikah. Menikahinya.

Teringat ucapannya tadi, Evan menyentak napas, berharap rasa panas yang mendekam di dada segera sirna. Menikah dengan gadis asing, jelas itu ide tergila yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya. Namun, ia tak punya solusi lain selain melakukannya.

Apa kata kolega ayah juga teman-teman kantor jika ia membisu saja? Pasti, ia akan dicap sebagai lelaki pengecut. Soal Tari, ia akan memikirkannya nanti.

"Lihat saja, apa yang akan kulakukan padamu setelah para tamu pergi. Dasar Jalang!" umpatnya dengan pandangan berapi-api, lalu keluar sambil menyentak pintu.

Dengan langkah panjang, Evan menuju ruang tamu yang dihias bunga warna-warni di mana para undangan langsung menoleh menatapnya, sebagian berbisik-bisik.

"Van, gak sangka kebiasaan jelekmu belum hilang, masih suka jajan di luar."

Evan menggeretakkan gigi. Ia tak suka tuduhan semacam itu, namun tak mencoba untuk meralat. Toh mencoba membela diri pun percuma, orang pasti tak akan percaya padanya.

"Aku waktu itu melakukannya dalam keadaan mabuk, jadi aku tak sadar. Jangan pulang dulu, saksikan aku menikahinya."

Teman-temanya langsung menganggukkan kepala. Ada pula yang tersenyum mencibir. Sungguh, ia tak suka pandangan merendahkan yang kini dihujamkan sebagian orang padanya. Biasanya, orang selalu menatap penuh rasa simpati. Muda, kaya, berbakat. Tapi, gara-gara gadis terkutuk itu ....

Evan mengepalkan tangan, menahan semburan rasa kesal yang menerjang dadanya. Dalam hati, ia berjanji akan membuat gadis itu menyesali tindakannya.

***

"Lihat saja, apa yang akan kulakukan padamu setelah para tamu pergi. Dasar jalang!"

Ivy merasakan keringat bergulir dari dahi saat mendengar umpatan itu dan tersentak saat mendengar bunyi pintu dibanting. Tubuhnya sedikit bergetar. Dada bergemuruh hebat. Keringat dingin semakin membasahi wajah.

Ivy perlahan bangkit dari ranjang kemudian mengendap-endap menuju pintu, menguaknya sedikit. Aman. Namun, baru saja ia menghela napas lega dan siap melangkah pergi, seseorang tiba-tiba menyentuh tangannya. Jantung Ivy mengentak cepat. Ia menahan napas lalu perlahan, membalikkan badan.

Seorang wanita paruh baya berwajah ramah tersenyum padanya. "Mari ikut saya, anda harus segera dirias."

Dirias? Ya Tuhan ... apa ia benar-benar harus menikah dengan lelaki asing?

Ivy memandang wanita di hadapannya yang menatapnya memohon, dan karena tak tega, akhirnya Ivy menurut.

***

"Lebih baik segera pergi," gumam Ivy setelah wanita yang tadi meriasnya pamit sebentar untuk menerima panggilan telepon.

Dengan ekspresi cuek yang dibuat-buat, Ivy melenggang santai keluar dari pintu kamar. Dadanya berdebar hebat dan tubuh terasa panas dingin. Ivy terus melangkah melewati ruangan di mana meja panjang bertaplak putih dengan piring-piring besar berisi makanan enak di atasnya ditata sedemikian rupa. Ia melewati ruang tamu di mana beberapa orang yang tengah berbincang langsung terdiam memandangnya, dan akhirnya tiba di depan pintu keluar.

"Akhirnya ...." Ivy menggumam senang setibanya di teras. Tak ingin menyia-nyiakan waktu lagi, segera ia melangkah cepat menuju halaman di mana mobilnya di parkir.

Tangan Ivy bergerak ke bawah. Mata sipitnya langsung membelalak menyadari tak lagi mengenakan kaus serta celana panjang, melainkan gaun pengantin panjang menyapu lantai. Kunci mobilnya, pasti ada di dalam kamar. Ia semakin was-was saat beberapa wanita yang sedang bergosip di halaman tiba-tiba menatapnya. Salah satunya kemudian mendekat ke arahnya dengan langkah anggun.

"Kamu hamil dengannya, Mbak? Kukira, kakakku lelaki baik-baik."

"Aku ...." Ivy menyahut gugup. Tak guna meladeni wanita tak dikenal ini. Ia memandang ke sana kemari dengan gelisah, takut lelaki itu tiba-tiba muncul.

Ah, persetan dengan mobilnya. Lebih baik, segera pergi. Urusan mobil nanti tinggal telepon bengkel langganan atau tinggal beli yang baru.

Tanpa menjawab pertanyaan gadis berwajah kekanakan z yang terus menatapnya dengan pandangan menyelidik, Ivy segera membalikkan badan, berlari cepat ke tepi jalan. Tangannya langsung melambai pada angkot yang mendekat.

Namun, sebelum angkot itu berhenti, lelaki yang begitu menakutkan baginya bergegas menghampiri. Di telapak tangan lelaki itu yang telurur, ada benda hitam yang amat Ivy butuhkan.

"Terus saja, Paak!" Evan setengah berteriak saat angkot perlahan berhenti. Sang supir mengumpat lalu melajukan angkotnya.

"Kamu akan mendapatkan ini setelah kita menikah," ucap Evan sambil membidikkan tatapan sinis pada Ivy yang langsung menunduk ketakutan. Sayang sekali, cantik tapi hatinya busuk. Kata Evan dalam hati.

Duuh, bagaimana inii, gumam Ivy. Tubuhnya kembali panas dingin. Mana mungkin ia harus menikah dengan lelaki asing? Kalaupun harus menikah, seharusnya dengan Reyhan, lelaki yang 6 tahun ini menjadi pacarnya. Bukan lelaki mengerikan ini.

"Berapa nomer orang tuamu?"

Ivy memandang Evan. "Buat apa?" tanyanya dengan wajah ketakutan.

Evan tersenyum sinis. "Tentu saja untuk menyaksikan pernikahan kita!"

Oooh, Tuhan ... tolong bangunkan aku dari mimpi. Doa Ivy dalam hati. Gadis malang itu hanya bisa pasrah saat lelaki yang tak dikenalnya menariknya ke dalam rumah untuk melaksanakan ijab kabul.

"Siapa namamu?" Evan menatap Ivy tajam. Tatapan tak suka kentara sekali di wajahnya.

"Aku ...."

"Siapa namamu?!" Evan setengah membentak.

"Ivy Swastika Maharani." Tak punya pilihan, akhirnya ia menyebutkan nama. Ia menoleh terkejut saat terdengar seruan di ambang pintu. Orang-orang langsung menoleh ke sumber suara dengan wajah ingin tahu.

"Dasar anak tak tahu diuntung!"

Plak!

Ivy memegangi pipinya. Ia menunduk, sama sekali tak berani menatap sang ayah. Sementara di samping ayahnya, ibu tirinya hanya terdiam. Tetapi, sekilas Ivy melihat tatapan mengejek perempuan yang sangat dibencinya itu.

"Yaah, aku bisa jelaskan. Sebenarnya ... sebenarnya ...."

"Langsung dimulai saja ijab kabulnya," ucap ayah Ivy sambil duduk.

Ivy terisak. Yaa Tuhaan ... mimpi apa aku semalam?
profile-picture
ariefdias memberi reputasi
1 0
1
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
you-made-me-love-more
Stories from the Heart
the-perfect-darkness
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
Stories from the Heart
Heart to Heart
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia