Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
589
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e331ccf6df2315601629ac1/rumah-warisan-atas-bukit
Malam ini, aku mengumpulkan keluarga ayahku, untuk membicarakan masalah harta waris, yang belum lama ini diberikan padaku. Kupandangi wajah ibu tiriku dan dua anak gadisnya. Yang tertua bernama Kirana Harum Sari dan si bungsu Melati Suci. Mereka terlihat tertunduk dan pasrah dengan keputusanku, terutama ibu Hanum, yang sejak kepulangannya dari penjara, hanya diam dan tak banyak bicara. ehmm..aku b
Lapor Hansip
31-01-2020 01:13

RUMAH WARISAN ATAS BUKIT

Past Hot Thread
prolog


*********

RULES

- Ikuti perarturan SFTH

- Agan2 dan Sista bebas berkomentar, memberikan kritik dan saran yang membangun.

- Selama Kisah ini Ditulis, mohon untuk berkomentar seputar cerita.

- Dilarang meng-copas atau meng copy segala bentuk di dalam cerita ini tanpa seizin penulis


index






































Diubah oleh agusmulyanti
profile-picture
profile-picture
profile-picture
theoscus dan 56 lainnya memberi reputasi
55
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 28
RUMAH WARISAN ATAS BUKIT
31-01-2020 02:10

Part - 1

Malam ini, gue mengumpulkan keluarga ayah, untuk membicarakan masalah harta waris, yang belum lama ini diberikan ke gue. Gue pandangi wajah ibu tiri gue dan dua anak gadisnya. Yang tertua bernama Kirana Harum Sari dan si bungsu Melati Suci.
Mereka terlihat tertunduk dan pasrah dengan keputusan gue, terutama ibu Hanum, yang sejak kepulangannya dari penjara, hanya diam dan tak banyak bicara.
ehmm..gue berdehem untuk menghilanglan kekakuan suasana, sebelum akhirnya gue bicara.

"Ibu Hanum, mbak Kirana dan Melati, aku mendapatkan warisan berupa dua buah rumah dari ayah ganjar."

Ibu Hanum sedikit terkejut dan menatap gue sambil bertanya.

"Dua nak Linggar?. Nak Linggar mungkin salah baca, atau mungkin papap salah ketik, karena setahu ibu, papap hanya punya rumah besar ini."

"Betul bu Hanum, ini ada sertifikatnya," ujar gue sambil menyodorkan serifikat atas nama ayah.

Bu Hanum memperhatikan sertifikat itu, begitu juga dengan Kirana dan Melati, sesaat kemudian terlihat ia mengerutkan dahinya yang sudah dipenuhi garis-garis ketuaan, sambil bergumam..

"Koq mamih gak tau ya, papap punya rumah lagi, bener-bener keterlaluan papap kalian."
"Iya mih, aku dan Melati juga gak tau, karena, papap gak pernah ngajak kita kesana."

Gue menangkap gurat kekecewaan diwajah mereka. Mereka wajar merasa kecewa, karena masalah sebesar ini, mereka tidak diberi tahu.

"Ibu Hanum tenanglah !, aku sangat menghargai ibu, sebagai istri ayah. Jadi meski ayah mewariskan semuanya untukku, aku tidak akan mengambil semua rumah itu, aku akan membaginya dengan ibu. Rumah ini dan semua isinya, aku serahkan untuk Ibu Hanum, mbak Kirana dan Melati. Aku tau rumah ini punya banyak kenangan untuk kalian, jadi aku ikhlas bu."

Ibu Hanum menatap gue dengan wajah seolah tak percaya, lalu ia memeluk kedua putrinya sambil menangis, mereka bertiga saling bertangisan. Dengan langkah tertatih, ia melangkah ke arah gue, dipeluknya tubuh gue erat-erat dengan tubuh gempalnya sambil menangis.

"Terimakasih nak, terimakasih. Ternyata kamu memang benar-benar anak yang baik. Padahal pada saat ayahmu menuliskan akan mewariskan rumah ini kepada kamu, ibu begitu marah lalu memukulnya hingga ayah kamu meninggal. Ibu betul-betul minta maaf nak, ibu ini gak pantes jadi ibu tiri kamu nak, ibu jahattt...plak....plak...plak," ujarnya sambil memukul-mukul wajahnya.

Gue raih tangannya dan mencoba menenangkannya.

"Tenanglah bu Hanum, yang sudah, ya sudah, gak usah difikirin lagi, yang penting ibu sudah tau kesalahan ibu, dan mau bertobat. InsyaAllah, Allah akan memaafkan ibu, begitu juga ayah."

*******

Malam telah semakin larut, semuanya sudah kembali ke kamar masing-masing. Gue pun sudah kembali pulang ke rumah.
Bi Inah membuatkan wedang hangat dan setangkup roti untuknya.

"Wah..bi Inah nih juara banget kalau soal bikin wedang, ini uweenakk tenan bi," ujar gue sambil memejamkan mata.

"Ah..den Linggar bisa saja. Ayo cepat diminum den !, nanti keburu dingin. Oh iya den besok jadi kita pergi ke rumah warisan aden, yang dimana itu ? lali aku."

"Diatas bukit bi. Jadi lah, besok kita berangkat agak pagian saja bi, takut macet. Ajak bi Narti, mas Tono dan Parjo juga, biar bisa bantu bersih-bersih."
"Baik den, nanti bibi kasih tau semua."
"Ya wes, aku ke kamar dulu ya, mau istirahat, capek bi," ujar gue sambil berjalan meninggalkannya.

******

tring...tring...tring

Gue lihat WA masuk, dari Ayu. Ayu adalah pacar gue. Sesudah berkali kali gue gagal menjalin kasih dengan wanita karena dendam Lidia, akhirnya gue menemukan tambatan hati yang cantik dan shalihah.

"Mas..mas lagi apa?, koq gak telfon aku."
"Mas..aku kangeen."
"Mas...ya mas udah tidur ya. Ya sudah met bobo mas..night."

Gue tersenyum membaca WA darinya, tapi malam ini, gue gak ingin membalas WA nya, gue begitu lelah dan ingin segera tidur. Gue pejamkan mata, dan sesaat kemudian dinginnya malam telah membuai gue, hanyut dalam mimpi.
Diubah oleh agusmulyanti
profile-picture
profile-picture
profile-picture
black392 dan 15 lainnya memberi reputasi
16 0
16
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
RUMAH WARISAN ATAS BUKIT
31-01-2020 03:27
Amankan dulu gan, kayaknya seru
Lanjut update gan
Dis @adorazoelev buruan sini emoticon-Malu
profile-picture
profile-picture
agusmulyanti dan adorazoelev memberi reputasi
2 0
2
RUMAH WARISAN ATAS BUKIT
31-01-2020 06:18
Quote:Original Posted By Reagle
Amankan dulu gan, kayaknya seru
Lanjut update gan
Dis @adorazoelev buruan sini emoticon-Malu

Wah cepet bgt bang rey udah disini ajaemoticon-Malu
profile-picture
Reagle memberi reputasi
1 0
1
RUMAH WARISAN ATAS BUKIT
31-01-2020 11:45

Part - 2

Kokok ayam jantan dan ketukan di pintu, membangunkan tidur gue yang teramat lelap. Gue lihat jam weker di meja sebelah tempat tidur gue, jam 04 lewat 11 menit.

woahh, kuregangkan tubuh gue perlahan

"Mas...mas Linggar !, bangun mas !, diajak subuhan ke Masjid sama mas Tono."
"Iya bi Narti, tunggu sebentar aku mandi dulu."
"Iya mas."

Suara langkah kaki bi Narti terlihat menjauh dari kamar gue. Gue bergegas mandi dan mengambil air wudhu. Gue pakai baju terbaik yang gue punya dan tak lupa membubuhi tubuh gue dengan sedikit parfum. Gue langkahkan kaki gue keluar kamar dan gue dapati mas Tono dan Parjo yang dengan setia telah menunggu gue

"Lama ya mas nunggunya ?."
"Nggak apa-apa mas Linggar, wong subuhannya juga masih sepuluh menit lagi."
"Yuk kita berangkat," ajak gue sambil meminta bi Narti menutup pintu.

Angin pagi bertiup perlahan, dingin yang menusuk tak lagi gue hiraukan, karena gue ngerasa hari ini begitu istimewa, ya...tentu saja, karena hari ini gue akan melihat rumah baru gue, rumah yang nantinya akan gue tempati dengan keluarga kecil gue...hmm.

*******

Gue berjalan cepat saat melewati rumpun bambu. Mas Tono dan Parjo yang menguntit dibelakang gue, tergopoh gopoh mengikuti langkah gue. Entah mengapa, meski kematian Lidia telah disempurnakan, dikuburkan dan didoakan dengan layak, tapi jujur saja masih ada rasa was-was yang kerap kali muncul dalam benak gue.
Peristiwa demi peristiwa menakutkan yang telah menimpa gue, membuat gue gak bisa melupakan begitu saja peristiwa itu.
Tepat ketika adzan subuh berkumandang, gue, mas Tono dan Parjo, sampai di pelataran masjid.

"Alhamdulillah, kita tiba tepat waktu ya mas," ujar gue

Mas Tono dan Parjo yang masih terengah-engah mengangguk berbarengan, dan tanpa menunggu aba-aba dari gue, mereka langsung masuk, dan menyalami jamaah lain. Suasana begitu tenang dan damai buat gue, jika sudah berkumpul seperti ini.
Saat gue sedang merapikan sendal, tanpa sengaja gue melihat sosok di kejauhan yang sedang menatap gue dengan tajam, diantara pepohonan pisang, dan pekatnya pagi.

"Koq gue seperti kenal sama wajah itu ya."

Tapi tatkala netra gue melihat lebih jelas, sosok itu sudah menghilang dan hanya terlihat lembaran daun pisang yang bergoyang-goyang tertiup angin.
Kegalauan gue buyar oleh satu tepukan di pundak.

"Ada apa nak Linggar, ayo! kita jamaah," ujar pak Karyo tetangga sebelah rumahku.
"Baik pak."

Gue pun mengambil posisi di sebelah mas Tono.

******

Mas Tono tertawa kegelak-gelak saat melihat Parjo yang memakai sendal dengan jenis berbeda.

"Wes..gak usah tertawa terus mas, seneng ya liat aku menderita?," sungut Parjo.
"Engga Jo, kamu itu koq apes banget ya..hahahaha, bisa ketuker sendal butut kayak gitu. Makanya Jo, rajin-rajin sodakoh, ben berkah hidupmu," gurau mas Tono.

Parjo tak menghiraukan gurauan mas Tono, ia terus melangkah dengan muka cemberut. Tiba-tiba saat melintas di pepohonan bambu, entah darimana datangnya, sebuah motor melintas dengan kecepatan tinggi. Mas Tono yang sedang menggoda Parjo, tak kuasa menghindar, hingga ia masuk ke dalam parit, yang masih terisi air sisa hujan semalam.

Ja**uk, aseeem, muo**r kon !," maki mas Tono dengan baju basah kuyup.
Cepat cepat gue bantu mas Tono naik dari parit. Perasaan gue sontak mengaitkannya dengan apa yang gue lihat subuh tadi di masjid. Sementara Parjo yang tadi cemberut, sekarang terlihat tertawa terpingkal-pingkal.

huahahahahaha...hahahahaha...hahahahahaha

"Mas Tono, kowe kayak tikus kecebur, uweleek tenan. Makane ojo ngerasani uwong, nah!!, ketulah kan...karma iku jenenge...hehehehehe...hehehehehe," ujar Parjo sambil terus tertawa.

Gue tak menghiraukan perseteruan mereka, gue masih mengaitkan wajah yang gue lihat di rerimbunan pohon pisang dengan pengendara motor yang hadir dan hilang secara tiba-tiba.

"Siapa ya orang itu ?, kenapa wajahnya seperti gak asing buat gue ya."

Tiba-tiba mas Tono nyeletuk sambil mengumpat.

"Tuh orang kayak si Dika aja, naik motor seenaknya. Awas aja ntar kalau ketemu tak gebukin."
"Wush...jangan ngomong sembarangan mas, tar kalau kedengeran rohnya si Dika, bisa berabe," ujar Parjo sambil berjalan cepat. Mas Tono yang tadi bersungut-sungut, menutup mulutnya rapat-rapat dan bergegas mengikuti langkah Parjo.
Gue sendiri terhenyak saat mas Tono, menyebut nama Dika.

"Iya benar, sosok itu mirip Dika. Mungkinkah roh Dika gentayangan ?," gumam gue.
"Kenapa mas Linggar ?," tanya mas Tono.
"Ah enggak, enggak apa-apa mas," ujar gue cepat, tidak mau membuat mas Tono dan Parjo bertambah takut.

*******

Dihalaman rumah terlihat bi Narti sedang menjemur baju. Ia terkejut saat melihat tubuh suaminya basah kuyup.

"Loh mas kenapa ?, koq basah semua ?, ada apa toh ?," ujarnya sambil membantu suaminya membuka baju koko.
"Nanti saja aku ceritain bu, aku mau mandi dulu, gatel nih."
"Yo wes, tak siapin baju ganti kalo gitu."

Lalu ia melangkah kearah gue.

"Mas ! Sarapan dulu, sudah disiapkan bi Inah."
"Iya bi..terimakasih."

Gue terus menuju ruang makan, harum sayur asem dan tempe goreng sudah membuat cacing-cacing di perut gue bernyanyi-nyanyi.
Diubah oleh agusmulyanti
profile-picture
profile-picture
profile-picture
black392 dan 15 lainnya memberi reputasi
16 0
16
RUMAH WARISAN ATAS BUKIT
31-01-2020 11:52
Quote:Original Posted By Reagle
Amankan dulu gan, kayaknya seru
Lanjut update gan
Dis @adorazoelev buruan sini emoticon-Malu


Silahkan gan..
profile-picture
Reagle memberi reputasi
1 0
1
RUMAH WARISAN ATAS BUKIT
31-01-2020 13:16

Part - 3

Mas Tono, memacu mobilku dengan kecepatan sedang, karena gue melarangnya mengemudi dengan cepat. Udara dan pemandangan yang indah sangat sayang jika harus dilewatkan begitu saja. Gue ambil kamera dan mulai membidik semua tempat yang gue anggap indah dan bagus.
Ciiiiit.....ciiittttt, tiba-tiba mas Tono mengerem kendaraan dengan mendadak. Gue yang sedang fokus memoto hampir saja tersuruk ke kaca, untung saja gue memakai sabuk pengaman.

"Kenapa mas Tono ?, koq ngerem mendadak."
"Iya nih, kenapa to mas, wong gak ada apa-apa juga," ujar bi Narti sewot.
"Aku ngelihat ada perempuan melintas tadi mas, pake baju merah. Makanya aku langsung ngerem."

Gue turun dari mobil dan mulai memeriksa kedepan mobil. Gue perhatikan sekitar mobil, gak ada siapapun dan apapun itu. Hhhhh.... gue tarik nafas perlahan.

"Pertanda apa ini ?," gumam gue, sambil menghampiri mas Tono yang juga sedang mengawasi sekitar.
"Gak ada apa-apa mas, wes gantian, biar aku yang nyetir, mungkin mas Tono sedang ngantuk."

Mas Tono mengangguk, sambil menyerahkan kunci mobil ketangan gue. Lalu ia melangkah ke arah tempat duduk yang gue tempati tadi, tapi kulihat matanya terus memperhatikan sekeliling mobil. Gue tau apa yang dilihat mas Tono, pasti benar, tapi untuk menghalau rasa takut di diri gue, gue mengunci rapat-rapat fikiran negatif itu.
Gue setel lagu dari Scorpion, dan hentakannya membuat bi Inah yang sejak tadi tertidur, terbangun dan terlihat bingung.

"Udah sampe Ti ?," ujarnya sambil bertanya ke bi Narti.
"Belum bi Inah, masih jauh, tidur saja lagi."

Gue memandang wajah bi Inah yang sedang bingung kewat kaca spion, terlihat lucu dan membuat gue harus tersenyum.

********

Menjelang tengah hari, akhirnya perjalanan kami sampai di sebuah rumah besar dengan cat berwarna putih, dan pekarangan yang sangat luas. Bunga-bunga warna warni bermekaran menghiasi setiap sudut taman.

"Subhanallah...bagus banget bi Inah," jerit bi Narti.
"Iyo Ti, kayak yang ada di film-film ya," ujar bi Inah dengan tak kalah serunya.

Seorang lelaki paruh baya berlari membuka pintu.

Krakkkk.....krakkk

Suara pintu gerbang berderak dibuka olehnya. Lalu dengan tergopoh-gopoh ia menghampiri mobil.

"Ini pasti den Linggar ya. Saya Asep, den, yang ditugasi bapak untuk menjaga rumah ini," ujar mang Asep memperkenalkan diri.

Gue mengangguk. Tak lama kemudian mang Asep membawa gue berkeliling melihat lihat seluruh sudut rumah.
Gue terkejut saat melihat fhoto gue, ibu dan pak Ganjar menghiasi dinding ruang tamu.

"Itu dibuat bapak, empat bulan sebelum kematian bapak den," suara mang Asep membuyarkan lamunan gue.
Gue diam dan terus berkeliling. Hingga tiba disebuah kamar besar yang terkunci.

"Ini kamar siapa mang, koq dikunci." Itu kamar bapak den, saya gak berani buka, karena waktu bapak masih ada, bapak melarang saya untuk masuk ke kamar itu."
"Kuncinya ada mang ?," tanya gue setengah memaksa.

Mang Asep berlari meninggalkan gue dan kembali dengan sebuah kunci ditangannya.
Cepat-cepat kunci gue masukan dalam rumahnya, dan mulai membuka..

Kreatttt...kreatttt, suara pintu yang lama tak terbuka terdengar berderit. Udara di dalam kamar itu sangat pengap. Gue coba menghidupkan lampu lewat saklar, tapi ternyata lampunya putus. Sebuah tempat tidur besar terlihat bertengger ditengah-tengah kamar, dan sebuah lemari terbuat dari jati menghiasi sudut ruangan. Pandangan gue tertuju pada sebuah kursi dengan laci besar dibawahnya. Gue coba untuk membuka laci itu..

"Gak ada kuncinya den, dan itu cuma hiasan saja," ujar mang Asep dengan nada yang sedikit aneh di telinga gue.
"Oh...," gumam gue.

Aku meninggalkan ruangan itu, dan beralih ke ruangan lain.

"Mang Asep merapikan rumah ini sendiri ?," tanya gue
"Enggak den, ada beberapa orang yang datang membantu, tapi mereka kalau sore pulang."
"Trus mamang tinggal dimana?,"
"Saya di paviliun kecil itu den."
"Gak takut mang sendiri ?."
"Nggak den, udah biasa."

Gue gak melanjutkan pertanyaan gue, karena bi Inah dan bi Narti sudah menyiapkan makan siang, dan menyuruh gue untuk segera makan.

"Den Linggar, makan dulu, sudah siang. Ayo mang Asep kita makan sama-sama," ajak bi Inah.

Gue duduk di meja yang sangat besar seorang diri, sementara mas Tono, bi Narti, bi Inah, Parjo dan mang Asep makan ngeriung di lantai. Meski gue memaksa mereka untuk duduk di meja makan, dan makan sama-sama gue, mereka menolak dengan berbagai alasan, jadi terpaksa gue yang mengalah dan ikut bergabung dengan mereka. Menikmati kebersamaan dengan mereka adalah sesuatu yang gak bisa, gue ceritain dengan kata-kata.
Diubah oleh agusmulyanti
profile-picture
profile-picture
profile-picture
black392 dan 15 lainnya memberi reputasi
16 0
16
RUMAH WARISAN ATAS BUKIT
31-01-2020 15:51

Part - 4

Hari sudah mendekati senja, tatkala gue memutuskan untuk kembali pulang. Hingga ketika mobil mulai dihidupkan, tiba-tiba mang Asep berlari ke arah gue.

"Den!...den Linggar !, maaf den."
"Ada apa mang."
"Anu den, sepertinya aden dan rombongan gak bisa pulang sekarang."
"Loh, memang kenapa mang ?."
"Anu den, tebing yang ke arah rumah ini longsor, jadi jalannya gak bisa dilalui."
"Wah koq bisa sih, padahal gak hujan. Emang sering ya mang longsor kayak gini ?."
"Gak pernah den, baru kali ini. Mamang juga gak ngerti kenapa."

Gue bingung dan gak nyangka, kalau bisa ketemu masalah kayak gini.

"Ada jalan alternatif lain gak mang, untuk keluar dari sini ?."
"Ada den, tapi butuh waktu berhari hari, karena harus melewati bukit itu. Udah gitu jalannya terjal dan berbahaya."

Akhirnya gue dan semua yang ada dalam mobil turun, dan kembali kedalam rumah.

********

Gue diem gak bisa ngomong apa-apa, fikiran gue buntu. Gue langkahkan kaki ke halaman samping yang dipenuhi bunga-bunga, tiba-tiba layar gawai gue berdering...VC dari Ayu.

"Hallo....sayang."
"Hallo mas. Mas kamu dimana ? Koq WA aku gak dibalas sih?. Besok kamu datang kan?."
"Aku gak bisa pulang sayang, aku terjebak di rumah baru yang ada diatas bukit. Tanahnya longsor."
"Mas..siapa perempuan yang sama2 kamu itu, kamu selingkuh ya mas, kamu jahat mas...huhuhu...huhuhu, aku benci sama kamu mas...huhuhuhu....huhuhuhuhu."
"Perempuan mana sayang, aku sendiri."
"Kamu gak usah bohong mas, udah ketangkep basah, masih mau ngelak. Udah jelas-jelas dia ada dibelakang kamu...huhuhuhu...aku benci kamu mas, kita putusss."..

tuttttt.....tuttttt.....tutttt, Ayu memutuskan pembicaraannya bersamaan dengan putusnya hubungan kami.

Gue memandang sekeliling gue, gak ada siapa-siapa, kenapa Ayu bisa bilang gue sama cewek. Gue coba menghubungi dia sekali lagi, sayang sinyal di tempat ini sangat buruk, hingga berkali kali gue coba, tetep gak bisa....Fuck...ja**uk

Bi Inah yang memperhatikan gue dari dalam rumah, berlari mendekat sambil membawa jacket.

"Kenapa den?, ada masalah?," tanyanya sambil menyodorkan jacket ke arah gue

Gue gak pernah bisa menyembunyikan masalah sekecil apapun dari bi inah. Perempuan paruh baya ini, emang sedari kecil udah nemenin gue, semenjak gue baru lahir, hingga gue sebesar ini.
Gue duduk di bangku taman, gue minta bi Inah duduk di sebelah gue.

"Bi..sebenarnya aku ini dikutuk atau apa sih ?."
"Loh..koq aden bicara begitu, gak baik den. Ada masalah apa den ?, apa ada kaitannya sama mbak Ayu ?."

Gue mengangguk, lalu gue ceritain masalahnya, hingga dia mutusin gue.

"Aku gak tau bi, kenapa dia bilang aku selingkuh, karena dia lihat dibelakang aku ada cewek cantik, kan konyol bi, padahal jelas-jelas aku lagi sendiri. Ya Allah."

Bi Inah menghela nafas panjang. Lalu dengan lembut ia berkata.

"Den...kalau mbak Ayu itu jodoh aden, pasti ia akan kembali ke aden, tapi kalau tidak, berdoa saja, agar Allah mendekatkan aden dengan wanita yang lebih baik. Percayalah den, suatu saat aden akan mendapatkan seorang istri yang cantik dan shalihah. Bibi selalu berdoa untuk aden. Ayo kita masuk den, kabut sudah mulai turun."

Gue berjalan mengikuti langkah bi Inah, entah kenapa, setelah berbicara dengan bi Inah, dada gue rasanya lebih plong.

********

Kabut semakin malam semakin tebal. Mas Tono dan Parjo membawa kayu bakar untuk ditempatkan di perapian. Udara di rumah inipun semakin malam semakin dingin.
Bi Narti dan bi Inah, menyiapkan makan malam di depan perapian, karena gue mau semua bisa makan malam bersama sama.

*******

Bi Narti merapikan piring dan gelas kotor serta sibuk mencucinya. Sementara bi Inah membereskan lauk pauk sisa makan.

awwww....., tiba-tiba terdengar suara bi Narti berteriak. Bi Inah berlari diikuti mas Tono dan Parjo. Gue yang sedang berada di beranda, mendengar keributan itu.

"Ada apa ini ?."
"Itu mas Linggar, Narti katanya kakinya seperti ada yang narik, waktu sedang mencuci piring."
"Betul itu bi ?."
"Iya mas Linggar...hiyyy, saya takut banget mas," ujar bi Narti, masih dengan raut ketakutan

Gue jongkok di tempat yang ditunjukan bi Narti, dan memperhatikan dengan seksama, gak ada yang aneh.

"Mungkin bibi kecapekan kali, yasudah sesudah shalat isya, kita semua istirahat saja."
"Iya den."

Usai shalat Isya berjamaah, gue langsung menuju kamar besar disebelah kamar ayah. Sedang bi Narti dan bi Inah, tidur di kamar dekat ruang makan, sementara mas Tono dan Parjo tidur di kamar atas berseberangan dengan paviliun tempat mang Asep tinggal.

Jangan lupa gan n sist emoticon-Rate 5 Star dan emoticon-Cendol Gan
Diubah oleh agusmulyanti
profile-picture
profile-picture
profile-picture
black392 dan 28 lainnya memberi reputasi
29 0
29
RUMAH WARISAN ATAS BUKIT
31-01-2020 17:53
ada cerita baru nih...

pantengin dimarih ahhh
profile-picture
agusmulyanti memberi reputasi
1 0
1
RUMAH WARISAN ATAS BUKIT
31-01-2020 18:03
Quote:Original Posted By jokopenceng
ada cerita baru nih...

pantengin dimarih ahhh


Silahkan gan..emoticon-Jempol
0 0
0
RUMAH WARISAN ATAS BUKIT
31-01-2020 19:24

Part - 5

Gue gak tau sudah berapa lama gue tertidur, hingga rungu gue menangkap sebuah suara tangisan dan pukulan di dinding yang semakin lama semakin keras. Gue bergerak bangkit dan berharap ini cuma mimpi. Gue singkap tirai jendela, diluar cuaca begitu buruk dan hujan turun sangat deras diselingi suara petir yang bergemuruh. Suara tangisan dan pukulan tak lagi terdengar.

"Alhamdulillah, ternyata cuma mimpi," gumam gue sambil bernafas lega.

Rasa haus yang tiba-tiba menyerang tenggorokan gue, memaksa gue untuk berjalan ke luar kamar, dan melangkahkan kaki ke dapur. Untuk sampai ke dapur gue harus melewati kamar ayah dan mushala. Saat kaki gue melintas di depan mushala, netra gue menangkap bayangan sosok seorang gadis yang tengah menangis di kegelapan.

huhuhuhu...huhuhuhu....huhuhuhu

"Siapa gadis itu ?, kenapa malam-malam menangis di tempat yang gelap ?."

Dengan sedikit keberanian, gue melangkah kearah suara tangisan itu, dan perlahan gue mencoba menghidupkan lampu mushala, tapi enggak tau kenapa, lampu di ruangan itu gak mau menyala.

"Koq gak hidup ?, gimana sih mang Asep ini, lampu mati koq gak diganti," gumam gue.

Suara tangisan yang menyayat hati itu masih terdengar, dan tanpa sengaja karena gelap, tangan gue menyentuh vas bunga yang ada di atas buffet...pranggg....., vas bunga itu hancur berkeping-keping.
Suara vas bunga yang jatuh membangunkan seisi rumah. Mas Tono dan Parjo yang tidur di lantai dua, dengan cepat berlari sambil memegang tongkat, mereka mengira ada pencuri yang masuk ke dalam rumah. Tongkat itu nyaris saja menghantam badan gue, untunglah disaat bersamaan bi Inah menyalakan lampu ruang makan.

"Eits...ini aku mas Tono."
"Ya ampun mas Linggar, lagi apa disitu ?, hampir saja tongkat saya menghantam mas Linggar."
"Aku tadi haus mas, lalu aku mau ke dapur, tapi karena gelap, tanganku nyenggol vas bunga ini, hancur deh. Maaf ya, aku udah ganggu tidur kalian."
"Enggak koq den, bi Inah emang mau tahajud, hampir saja kelewat, untung aden bangun," ujar bi Inah sambil tangannya bergerak hendak menyapu lantai, membersihkan pecahan vas bunga.
Ternyata tangan bi Narti lebih cepat meraih gagang sapu dan mulai menyapu.

"Biar.. Narti saja yang bersihin bi. Bi Inah shalat saja."

Bi Inah mengangguk sambil terus melangkah mengambil air wudhu.

"Mas Linggar mau kopi ?, biar bibi buatin ya. Mas Tono sama Parjo mau juga ?." tanya bi Narti.

Gue, mas Tono dan Parjo serempak mengangguk, dan menunggu kopi panas di meja makan.

"Oh iya mas Tono, besok tolong lam....",

Belum selesai gue ngomong, tiba-tiba gue ngeliat bi Ijah menghidupkan lampu mushala, dan nyala.

"Loh..kenapa tadi gak nyala ya ?, koq sekarang bisa nyala."
Mas Tono yang mendengar gue gak melanjutkan ucapan gue, langsung bertanya.

"Tadi mas Linggar mau nyuruh apa ?, koq gak diterusin."
"Gak apa-apa mas, gak jadi, ternyata aku lupa, kalo jalan yang kearah pulang sedang longsor. Tadinya aku mau mas Tono bersihin mobil, sebelum berangkat."
"Oh gitu."

Bi Narti muncul dari dapur dengan kopi panas dan roti bakar.

"Hmm...kelihatannya enak nih bi."
"Ya enaklah mas, siapa dulu yang buat, istriku," goda mas Tono.
"Uhuyyyy, rayuan gombal..hehehehe," timpal Parjo.

Gue merasa bersyukur, karena gue dikelilingi oleh orang-orang baik, yang selalu ada, disaat gue lagi dalam masalah.
Hujan masih terus turun dalam gelap malam, dan deru angin terdengar berderak-derak menghembus pepohonan.

"Hujannya besar banget ya mas ?."
"Iya mas Linggar, sampe-sampe saya seperti ngedenger ada orang yang memukul-mukul tembok."
"Maksud mas Tono apa ?," tanya gue menyelidik.
"Tadi waktu saya tidur, saya seperti mendengar pukulan di tembok, tapi setelah saya dengarkan ternyata, itu hanya suara angin yang meniup pohon-pohon, bikin horor aja," ujar mas Tono sambil tersenyum.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
black392 dan 16 lainnya memberi reputasi
17 0
17
RUMAH WARISAN ATAS BUKIT
31-01-2020 19:48
Ini ada cerita masa lalu jg ya gan
Cerita mantan linggar yg dulu
Lanjut gan updatenya emoticon-Toast
profile-picture
agusmulyanti memberi reputasi
1 0
1
RUMAH WARISAN ATAS BUKIT
31-01-2020 19:51
Quote:Original Posted By Reagle
Ini ada cerita masa lalu jg ya gan
Cerita mantan linggar yg dulu
Lanjut gan updatenya emoticon-Toast


Aasiyaapp gan
profile-picture
Reagle memberi reputasi
1 0
1
RUMAH WARISAN ATAS BUKIT
31-01-2020 23:00
mantap ..


udah ada lanjutane linggar tah.....
profile-picture
profile-picture
gandhiendhie dan agusmulyanti memberi reputasi
2 0
2
RUMAH WARISAN ATAS BUKIT
01-02-2020 00:04
Izin baca gan , btw cerita sebelumnya juga nya apa gan?
0 0
0
RUMAH WARISAN ATAS BUKIT
01-02-2020 01:13
Quote:Original Posted By ekonurwonogiri
mantap ..


udah ada lanjutane linggar tah.....


Iya gan
0 0
0
RUMAH WARISAN ATAS BUKIT
01-02-2020 01:13
Quote:Original Posted By sempakloreng
Izin baca gan , btw cerita sebelumnya juga nya apa gan?


Panggilan tengah malam gan
profile-picture
black392 memberi reputasi
1 0
1
RUMAH WARISAN ATAS BUKIT
01-02-2020 01:20
Quote:Original Posted By agusmulyanti


Iya gan


siaap ditunggu klanjutannya ndan....
profile-picture
agusmulyanti memberi reputasi
1 0
1
RUMAH WARISAN ATAS BUKIT
01-02-2020 10:12

Part - 6

Gue gak habis fikir sama mang Asep, semenjak gue dan pasukan gue dateng ke rumah ini, dia seperti orang yang ketakutan, wajahnya jelas banget menggambarkan rasa takut yang teramat dalam, meski dia berusaha nutupin itu semua dari gue. Seperti siang ini ketika gue dateng ke paviliun tempat dia tinggal selama ini, gue nemuin dia sedang melakukan semacam ritual yang gue gak ngerti apa maksudnya. Dan yang bikin gue tambah bingung, di ruang depan ada fhoto seorang gadis cantik, kayaknya umurnya sebaya dengan gue, pas gue tanya, dia cuma bilang itu pacarnya. Gue gak mau mikir negatif sama dia, toh jaman sekarangkan banyak hal-hal aneh dalam hubungan manusia, jadi kalo mang Asep pacaran dengan cewek seumuran gue, itu mah hal yang lumrah.

Sedang asiik memperhatikan fhoto ceweknya mang Asep, tiba-tiba gawaiku berdering...Anto.

"Hallo..."
"Hai Linggar, lu dimana ?, bos tanyain lu nih."

"Aduh To, gue gak bisa pulang. Lu inget gak cerita gue, tentang rumah warisan dari bokap gue, itu To, yang ada di atas bukit, inget gak ?,"

"Oh..rumah yang waktu itu lu liatin fhotonya ke gua ya. Anjiiir....tuh rumah bagus banget men, lu gak mau ?, udah hibahin ke gua aja..he..he..he."

"Dasar kuya !, bukan itu maksud gue. Kemarin gue dateng ke rumah itu sama pasukan gue, nah pas gue mau balik, eh tuh tanah yang kearah rumah gue longsor, jadi gue dan pasukan gue kejebak disini men, gue gak bisa balik. To..tolong lu bilang ke pak bos, gue masih gak bisa masuk, dan gak tau kapan gue bisa balik."

"Oh gitu, yaudah deh tar gua bilangin pak bos, gua bikin ijin cuti ajalah buat lu."

"Makasih ya To, gue utang budi sama lu."

"Sama-sama men. Yo wes gua kerja dulu ya, gua kan harus handle kerjaan lu."

"Ya To, sekali lagi thanks ya...met kerja...bye."

********

Ditengah derasnya hujan, netra gue menangkap sosok mang Asep sedang mendorong sepeda.

"Mang Asep mau kemana tuh, koq bawa sepeda hujan-hujan gini, makin aneh aja tuh orang."

Gue bergerak hendak kembali ke ruamah utama, ketika gue dengar suara orang seperti memanggilku.

"Linggar......Linggar...Linggar."

Netra gue mencari kesana kemari, gue gak ngelihat seorangpun disana. Bulu kuduk gue seketika meremang, entahlah, udara ruang paviliun yang seharusnya dingin karena hujan, tiba-tiba terasa panas dan pengap.

"Apa ini ?, koq kaya bau bunga melati ?."

Gue hafal banget sama bau itu, karena beberapa bulan yang lalu, saat penyempurnaan jasad Lidia, pemakaman Dika dan ayah Ganjar, bunga inilah yang menghiasi keranda mereka. Gue yakin banget dan percaya kalau saat ini, pasti sedang ada roh seseorang yang sedang ngeliatin gue...hiyyyy.
Bergegas gue tinggalin paviliun mang Asep dan kembali ke rumah Utama.

********

Bi Inah dengan tergopoh-gopoh membawakan gue handuk kecil dan secangkir teh jahe hangat. Ia pun tak lupa membawakan gue baju ganti.
Ia masih sama seperti dulu, saat gue masih kecil, kalo gue kehujanan dan basah kuyup, maka ia akan segera membuatkan gue teh jahe hangat, ya seperti saat ini.

"Kenapa hujan-hujanan toh den, nanti kalo sakit bagaimana ?, disinikan jauh dari rumah sakit."

"Iya bi..aku tadi dari tempat mang Asep. Oh iya bi, aku mau tanya, bener gak sih, kalo kita nyium bau kembang melati, tandanya ada roh yang ngikutin kita."

Bi Inah mengerutkan dahinya sebelum menjawab.

"Aden nyium bau bunga itu lagi ?."
"Enggak bi, ha..ha..ha, cuma tanya, bibi khawatir banget."

Gue lihat bi Inah menarik nafas lega dan tersenyum.

"Enggak den, bibi takut aja, soalnya kata orang-orang tua dulu, jika kita nyium bau bunga melati seperti itu, tandanya kita sedang diikuti ghoib. Syukurlah kalo aden cuma nanya," ujar bi Inah sambil tersenyum.

Tak lama kemudian bi Inah pamit kebelakang, mau nyuci baju katanya. Kembali aku sendiri di ruang besar ini. Mas Tono dan Parjo kulihat sedang membantu bi Narti memilah kayu untuk perapian nanti malam. Tanpa perapian bisa-bisa kita semua beku disini, karena kalau malam udaranya sangat dingin.

*********

Sedang asiknya gue membaca buku, tiba-tiba gue mendengar sedikit keributan dibelakang, tak lama kemudian mas Tono datang dan menyodorkan sesuatu ke tangan gue.

"Ini den."
"Apa itu mas ?."
"Sepertinya kalung mas, tapi putus. Sudah kita cari tapi gak ketemu putusannya mas."
"Kalung siapa ini ya ?."

Gue amati kalung itu.

"Waw !! Berlian ini mas. Udah dicari disudut-sudut belum mas Tono ?."
"Udah mas, bahkan bi Inah juga ikut nyari. Yang pake kalung itu mesti orangnya cantik mas, tapi siapa ya ?, kan disini gak ada perempuan," ujar bi Narti mencoba menganalisa.

Gue setuju apa kata bi Narti, cewek yang pake kalung ini pasti cantik dan berkelas, kelihatan dari pilihan kalungnya. Tapi siapa ?
Diubah oleh agusmulyanti
profile-picture
profile-picture
profile-picture
black392 dan 17 lainnya memberi reputasi
18 0
18
RUMAH WARISAN ATAS BUKIT
01-02-2020 16:30

Part - 7

Gue masih asik dengan gawai, saat seseorang mengetuk pintu kamar.

tok...tok...tok

"Siapa ?."

Tak ada sahutan diluar sana. Gue cuek aja, mungkin kuping gue salah denger, gue terus asik dengan game pokemon, hingga akhirnya, ketukan itu terdengar lagi.

"Siapa sih..?, malam-malam gini masih ngetuk pintu," gumam gue setengah jengkel
"Oh bi Inah, ada apa bi ?."

Bi Inah diam dan tak menjawab. Tubuhnya malah berbalik dan melangkah pergi.

"Bi !..bi Inah, mau kemana ?,"

Bi Inah tak menjawab, tapi terus melanglah ke luar rumah. Karena khawatir gue mengikuti langkah bi Inah, yang menurut gue terlalu cepat dari biasanya, bahkan gue aja yang ngikutin dia, sampai ngos-ngosan. Bi Inah terus berjalan menembus gelapnya malam, hingga akhirnya gue kehilangan jejak.

"Loh bi Inah kemana ya ?,koq hilang ?, bi !!, bi Inah !!, haduh kemana nih gue harus nyari bi Inah, baiknya gue ke tempat mang Asep aja, biar gue suruh dia nyari bi Inah."

gak....gak....gak

Suara burung gagak hitam, sontak membuat jantung gue berdetak cepat. Gue mempercepat langkah gue, tapi gue heran, koq gue gak sampe-sampe, malah muter-muter ditempat yang sama. Saat gue dalam kebingungan, lamat-lamat rungu gue, seperti mendengar suara orang yang tengah menangis. Tangisannya terdengar sangat memilukan.
Gue coba mendekati arah suara itu, yang semakin lama, semakin jelas terdengar. Ternyata suara itu berasal dari tangisan seorang cewek berbaju merah di kursi taman.

"Haii....kenapa kamu menangis."
"Cewek itu diam, wajahnya terlihat sangat pucat seperti tanpa darah, tapi jujur cewek itu sangat cantik, dan gue seperti pernah melihatnya."
"Nama gue Linggar," ujar gue sambil mengulurkan tangan.

Gadis itu menyambut uluran tangan gue, ya ampun tangannya dingin banget kaya es.

"Kamu kedinginan ya, nih pakai mantel aku,"

Gadis itu mengangguk. Gue membantunya memakai mantel dan saat itu gue melihat ada luka di lehernya.

"Leher kamu kenapa ?."

Saat gue tanya masalah ini, cewek itu kembali menangis, bahkan kali ini bahunya sampai berguncang. Gue mencoba menenangkannya, sampai akhirnya tangisnya terhenti.

"Kalau kamu gak mau cerita, gak apa-apa, aku hanya khawatir, takut kamu sakit."

Cewek itu tetap terdiam, tapi kali ini dia tak lagi menangis. Saat gue mencoba menanyakan asal usulnya, tiba tiba, sinar senter menerpa wajahku.

"Mas Linggar ?, itu bener mas Linggar ?."
"Iya mas Parjo, ada apa ?."
"Ya ampun mas, kita semua panik nyariin mas kesana kemari, taunya mas ada disini. Mas Linggar lagi ngapain disini ?, udaranya dingin loh mas, koq mantelnya malah dilepas ?."
"Iya..so...," gue terkejut saat gue menoleh, cewek itu sudah tidak ada lagi.
"Loh..kemana dia ?."
"Dia siapa mas ?, aku lihat mas Linggar dari tadi duduk sendiri. Mungkin mas kefikiran mbak Ayu kali ya," ujar mas Parjo menggoda.

Gue betul-betul bingung, jelas-jelas gue tadi menjabat tangan cewek itu, kenapa mas Parjo bilang gue duduk sendiri.

"Udah mas, ayo kita masuk !, dingin nih."

Gue akhirnya ngikutin langkah mas Parjo dan berjalan ke rumah utama. Sesampai disana, gue melihat bi Inah yang langsung berlari menghampiri gue.

"Den Linggar dari mana ?, tadi kita semua khawatir, karena den Linggar gak ada dikamar ?, ayo masuk den, udara sangat dingin."

"Bi Inah, tadi aku tuh ngikutin bi Inah. Bi Inah mau kemana tadi ?, aku ikutin jalannya cepet banget."

"Bi Inah, gak kemana-mana den, tuh tanya Narti, dari tadi kita dikamar, betul kan Ti."
"Iya den, bi Inah sama saya dari tadi," timpal bi Narti.

Gue semakin bingung dan terpaksa gue mengunci mulut gue rapat-rapat, agar semua orang gak semakin panik.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
black392 dan 16 lainnya memberi reputasi
17 0
17
RUMAH WARISAN ATAS BUKIT
01-02-2020 17:21
presensi....:keeppostin
emoticon-Hansip
profile-picture
profile-picture
hannyharini dan agusmulyanti memberi reputasi
2 0
2
Halaman 1 dari 28
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
seorang-ayah-yang-jauh
Stories from the Heart
jurnal-mimpi
Stories from the Heart
surat-surat-lovembers
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
ketakutan
Stories from the Heart
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia