Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
589
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e331ccf6df2315601629ac1/rumah-warisan-atas-bukit
Malam ini, aku mengumpulkan keluarga ayahku, untuk membicarakan masalah harta waris, yang belum lama ini diberikan padaku. Kupandangi wajah ibu tiriku dan dua anak gadisnya. Yang tertua bernama Kirana Harum Sari dan si bungsu Melati Suci. Mereka terlihat tertunduk dan pasrah dengan keputusanku, terutama ibu Hanum, yang sejak kepulangannya dari penjara, hanya diam dan tak banyak bicara. ehmm..aku b
Lapor Hansip
31-01-2020 01:13

RUMAH WARISAN ATAS BUKIT

Past Hot Thread
prolog


*********

RULES

- Ikuti perarturan SFTH

- Agan2 dan Sista bebas berkomentar, memberikan kritik dan saran yang membangun.

- Selama Kisah ini Ditulis, mohon untuk berkomentar seputar cerita.

- Dilarang meng-copas atau meng copy segala bentuk di dalam cerita ini tanpa seizin penulis


index






































Diubah oleh agusmulyanti
profile-picture
profile-picture
profile-picture
theoscus dan 56 lainnya memberi reputasi
55
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
RUMAH WARISAN ATAS BUKIT
31-01-2020 15:51

Part - 4

Hari sudah mendekati senja, tatkala gue memutuskan untuk kembali pulang. Hingga ketika mobil mulai dihidupkan, tiba-tiba mang Asep berlari ke arah gue.

"Den!...den Linggar !, maaf den."
"Ada apa mang."
"Anu den, sepertinya aden dan rombongan gak bisa pulang sekarang."
"Loh, memang kenapa mang ?."
"Anu den, tebing yang ke arah rumah ini longsor, jadi jalannya gak bisa dilalui."
"Wah koq bisa sih, padahal gak hujan. Emang sering ya mang longsor kayak gini ?."
"Gak pernah den, baru kali ini. Mamang juga gak ngerti kenapa."

Gue bingung dan gak nyangka, kalau bisa ketemu masalah kayak gini.

"Ada jalan alternatif lain gak mang, untuk keluar dari sini ?."
"Ada den, tapi butuh waktu berhari hari, karena harus melewati bukit itu. Udah gitu jalannya terjal dan berbahaya."

Akhirnya gue dan semua yang ada dalam mobil turun, dan kembali kedalam rumah.

********

Gue diem gak bisa ngomong apa-apa, fikiran gue buntu. Gue langkahkan kaki ke halaman samping yang dipenuhi bunga-bunga, tiba-tiba layar gawai gue berdering...VC dari Ayu.

"Hallo....sayang."
"Hallo mas. Mas kamu dimana ? Koq WA aku gak dibalas sih?. Besok kamu datang kan?."
"Aku gak bisa pulang sayang, aku terjebak di rumah baru yang ada diatas bukit. Tanahnya longsor."
"Mas..siapa perempuan yang sama2 kamu itu, kamu selingkuh ya mas, kamu jahat mas...huhuhu...huhuhu, aku benci sama kamu mas...huhuhuhu....huhuhuhuhu."
"Perempuan mana sayang, aku sendiri."
"Kamu gak usah bohong mas, udah ketangkep basah, masih mau ngelak. Udah jelas-jelas dia ada dibelakang kamu...huhuhuhu...aku benci kamu mas, kita putusss."..

tuttttt.....tuttttt.....tutttt, Ayu memutuskan pembicaraannya bersamaan dengan putusnya hubungan kami.

Gue memandang sekeliling gue, gak ada siapa-siapa, kenapa Ayu bisa bilang gue sama cewek. Gue coba menghubungi dia sekali lagi, sayang sinyal di tempat ini sangat buruk, hingga berkali kali gue coba, tetep gak bisa....Fuck...ja**uk

Bi Inah yang memperhatikan gue dari dalam rumah, berlari mendekat sambil membawa jacket.

"Kenapa den?, ada masalah?," tanyanya sambil menyodorkan jacket ke arah gue

Gue gak pernah bisa menyembunyikan masalah sekecil apapun dari bi inah. Perempuan paruh baya ini, emang sedari kecil udah nemenin gue, semenjak gue baru lahir, hingga gue sebesar ini.
Gue duduk di bangku taman, gue minta bi Inah duduk di sebelah gue.

"Bi..sebenarnya aku ini dikutuk atau apa sih ?."
"Loh..koq aden bicara begitu, gak baik den. Ada masalah apa den ?, apa ada kaitannya sama mbak Ayu ?."

Gue mengangguk, lalu gue ceritain masalahnya, hingga dia mutusin gue.

"Aku gak tau bi, kenapa dia bilang aku selingkuh, karena dia lihat dibelakang aku ada cewek cantik, kan konyol bi, padahal jelas-jelas aku lagi sendiri. Ya Allah."

Bi Inah menghela nafas panjang. Lalu dengan lembut ia berkata.

"Den...kalau mbak Ayu itu jodoh aden, pasti ia akan kembali ke aden, tapi kalau tidak, berdoa saja, agar Allah mendekatkan aden dengan wanita yang lebih baik. Percayalah den, suatu saat aden akan mendapatkan seorang istri yang cantik dan shalihah. Bibi selalu berdoa untuk aden. Ayo kita masuk den, kabut sudah mulai turun."

Gue berjalan mengikuti langkah bi Inah, entah kenapa, setelah berbicara dengan bi Inah, dada gue rasanya lebih plong.

********

Kabut semakin malam semakin tebal. Mas Tono dan Parjo membawa kayu bakar untuk ditempatkan di perapian. Udara di rumah inipun semakin malam semakin dingin.
Bi Narti dan bi Inah, menyiapkan makan malam di depan perapian, karena gue mau semua bisa makan malam bersama sama.

*******

Bi Narti merapikan piring dan gelas kotor serta sibuk mencucinya. Sementara bi Inah membereskan lauk pauk sisa makan.

awwww....., tiba-tiba terdengar suara bi Narti berteriak. Bi Inah berlari diikuti mas Tono dan Parjo. Gue yang sedang berada di beranda, mendengar keributan itu.

"Ada apa ini ?."
"Itu mas Linggar, Narti katanya kakinya seperti ada yang narik, waktu sedang mencuci piring."
"Betul itu bi ?."
"Iya mas Linggar...hiyyy, saya takut banget mas," ujar bi Narti, masih dengan raut ketakutan

Gue jongkok di tempat yang ditunjukan bi Narti, dan memperhatikan dengan seksama, gak ada yang aneh.

"Mungkin bibi kecapekan kali, yasudah sesudah shalat isya, kita semua istirahat saja."
"Iya den."

Usai shalat Isya berjamaah, gue langsung menuju kamar besar disebelah kamar ayah. Sedang bi Narti dan bi Inah, tidur di kamar dekat ruang makan, sementara mas Tono dan Parjo tidur di kamar atas berseberangan dengan paviliun tempat mang Asep tinggal.

Jangan lupa gan n sist emoticon-Rate 5 Star dan emoticon-Cendol Gan
Diubah oleh agusmulyanti
profile-picture
profile-picture
profile-picture
black392 dan 28 lainnya memberi reputasi
29 0
29
RUMAH WARISAN ATAS BUKIT
04-02-2020 18:30

Part - 19

teet....teett...teett

Gawai gue berdering nyaring, saat gue tengah memandangi langit malam...bu Hanum.

"Assalamualaikum," suara bu Hanum terdengar gak terlalu jelas.
"Waalaikumusallam,"
"Bagaimana kabar nak Linggar ?, betah disana ?, ada gangguan nggak nak ?."
"Alhamdulillah bu, dibetah-betahin bu, soalnya jalannya masih belum diperbaiki. Gangguan apa ya bu ?,"
"Ya mungkin ada hantu atau apalah."
"Koq ibu bilang gitu sih."
"Nggak nak, soalnya rumah itukan sudah lama ndak ditempati, kosong, jadi kan bisa saja ada mahluk ghoib yang tinggal disana."
"Oh..gitu ya bu."
"Oh iya mang Asep masih jaga disana kan ?."
"Loh koq bu Hanum tau, yang jaga namanya mang Asep. Kan kata ibu, ibu gak tau tentang rumah ini."
"Kan kamu yang bilang, pasti kamu lupa ya."
"Yasudah ya, jaga diri kamu, ibu mau tidur dulu."

tuut...tuttt, telpon terputus.

Sumpah gue bingung, darimana bu Hanum tau, kalau mang Asep yang jaga di rumah ini, katanya dia gak ngerti tentang rumah ini. Trus dia juga tanya tentang ghoib. Gue terus berfikir, seinget gue, gue gak pernah cerita tentang keadaan rumah ini, karena gue juga baru tau, setelah gue sampe disini. Sebenernya bu Hanum tau tidak sih tentang rumah ini, koq kayaknya dia ngerti banget.

"Den..tidur den sudah malam."

Suara bi Inah mengejutkanku.

"Iya bi, masih belum ngantuk. Oh iya bi, bagaimana keadaan Fatimah ?," ujarku khawatir.
"Gak apa-apa den. Eh den, bibi seneng loh, kalau aden sama neng Fatimah, serasi, kayak Tomy dan yulet."
"Romeo dan Juliet bi..haha..haha, bukan, Tomy dan Yelet," ujarku sambil tertawa.
"Ya itu den, pokokke serasi, seng lanang guanteng, wedhone uwayuu...tenan den."
"Ah bibi bisa aja, tapi entahlah apa bisa terwujud ya bi, aku koq jadi gak yakin."
"Den gak boleh ngomong gitu, minta sama gusti Allah, mudah-mudahan di qobul. Aamiin."
"Aamiin bi."

Gue berjalan masuk, disusul bi Inah, yang langsung mengunci pintu.
Suasana dalam ruang tamu sepi, saat aku keluar dari kamar, hendak mengambil minum, kulihat mas Parjo sedang menonton TV.

"Weh, belom tidur mas ?, tumben berani sendiri," ujar gue, sambil terus berlalu mengambil air. Saat gue kembali mas Parjo masih duduk bersandar di depan TV.

"Barca ya mas ?, lawan mana nih ?," tanya gue, sambil duduk di dekatnya.
"Yailah...pantesan aja gak nyaut, tidur ternyata," ujar gue sambil mematikan TV.

Gue tinggalkan mas Parjo yang masih duduk bersandar di depan TV.

********

Malam ini berlalu dengan damai, mungkin ghoibnya capek kali seharian bikin rusuh rumah gue.
Gue bangun saat bi Inah membangunkanku untuk shalat subuh. Gue bergegas mandi dan menuju mushala. Kyai dan santrinya sudah ada disana begitu juga mas Parjo dan mas Tono.
Seusai shalat subuh, disaat kami menikmati kopi panas, gue nyeletuk kearah mas Parjo.

"Mas, semalem nonton TV gak dimatiin, malah tidur."
"Nonton TV, siapa yang nonton TV mas Linggar, wong aku masuk angin habis dikerik mas Tono, aku tidur. Tuh tanya saja sama mas Fajar," ujar mas Parjo, sambil menunjuk santri kyai Hasan.
Fajar yang ditunjuk mas Parjo, mengangguk membenarkan. Lah trus yang tadi malam gue ajak ngomong siapa ?.

Kyai Hasan berdehem.

"Ehm..ada yang coba ganggu nak Linggar ya, untung semalam sudah sedikit saya pagari, jadi gak sampai ganggu banget."

Gue diem, gak memberikan reaksi. Ada rasa khawatir menyelinap dalam dada gue. Gangguan ghoib yang membawa gue dalam belenggu ketakutan.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
black392 dan 21 lainnya memberi reputasi
22 0
22
RUMAH WARISAN ATAS BUKIT
08-02-2020 16:22

Part - 31

Gue berdiri diberanda. Malam ini gue jujur saja merasa takut. Gak kepikir dalam benak gue, seandainya orang-orang yang berada dekat dengan gue, mengalami kejadian yang bisa merenggut nyawa mereka.
Sebuah tepukan dibahu, membuat gue tersentak.

"Belum tidur nak Linggar ?."
"Oh..kyai. Belum kyai."
"Apa yang sedang nak Linggar pikirkan."
"Entahlah kyai, saya sedang bingung."
"Ada apa ?, mau berbagi cerita dengan saya," ujar kyai Hasan sambil tersenyum dan menyandarkan badannya dikursi.

"Kyai, apa kyai percaya kalau orang yang sudah meninggal dalam keadaan tidak wajar, terbunuh atau bunuh diri misalnya, ruhnya akan menjadi arwah penasaran?," tanya gue sambil mendaratkan pantat gue disebelah kyai Hasan.

Kyai Hasan menatap gue lekat-lekat, lalu beliau tersenyum

“Kenapa nak Linggar bertanya seperti itu, apa nak Linggar selama ini sering melihat kejadian-kejadian atau fenomena ganjil dari mahluk-mahluk ghoib ?."

Gue mengangguk perlahan, lalu tanpa terasa gue menangis, gue seperti sedang melepaskan himpitan berat yang menindih dada gue.

“Hmm...nak Linggar menangislah, gak apa-apa, sesekali laki-laki sejati juga perlu untuk menangis. Mengenai pertanyaan nak Linggar, kalau jasad itu dimakamkan secara sempurna, saya rasa orang itu tidak akan mengganggu, karena dia sudah sibuk urusannya dengan siksa kubur."

Gue mengngguk-angguk.

"Lalu siapa yang muncul itu ?, itu adalah syaiton. Syaiton itu banyak sekali tipu dayanya nak, ia akan menyerupai orang yang sudah meninggal untuk memperdayai dan menakut-nakuti kita, hingga akhirnya kita melakukan hal-hal yang bersifat syirik dan menyekutukan Allah, karena itu memang yang mereka mau."

"Kalau orang yang belum dimakamkan dengan baik, mungkin hal itu bisa terjadi. Walahu'a'lam, hanya Allah yang Maha Tau. Dahulu sekali pernah terjadi sebuah peristiwa pembunuhan terhadap sebuah keluarga, karena perebutan harta, akibanya seluruh anggota keluarga menjadi korban dan meninggal. Mayatnya dibuang disuatu tempat. Setelahnya, dirumah itu sering sekali terjadi kejadian kejadian yang tidak masuk akal, dan di luar nalar manusia, mulai dari terdengarnya suara jeritan dan tangisan, hingga penampakan sosok sosok yang dibunuh itu dalam tampilan sosok yang menyeramkan. Hingga kini rumah itu dibiarkan kosong. Media yang kosong, lembab dan dingin akan menjadi tempat tinggal yang nyaman buat mereka."

Aku menarik nafas dalam-dalam.

"Nak Linggar jangan takut, tapi juga jangan sombong. Kita pasrahkan saja semua pada Allah, sambil kita terus ikhtiar."

*********

Malam semakin larut, kyai Hasan mengajak aku masuk ke dalam. Saat aku hendak menutup pintu, bayangan seorang wanita melintas dihadapanku.

"Astaghfirullah."

Kyai Hasan berbalik menghampiriku.

"Ada apa nak ?."
"Gak ada apa-apa kyai."

Kyai Hasan masuk ke kamar tamu. Sebelum masuk beliau mengingatkan gue untuk berwudhu. Gue mengangguk mengiyakan.

Cklek..., kreeek, handle pintu berderit saat gue buka....masih gelap. Ternyata dari tadi gue belum menyalakan lampu. Saat jemari tangan gue menyentuh saklar, gue merasakan satu sentuhan di tangan gue, sesuatu yang sangat dingin. Jantung gue saat itu seperti orang yang habis berlari ratusan kilometer, berdegup kencang, gue di tarik kesuatu tempat, dibenturkan, hingga gue merasakan cairan hangat mengalir di kepala gue.

Kyai Hasan yang mendengar keributan itu, berlari mendekat dan mendapati tubuh gue terbaring dilantai, dengan luka menganga di kepala. Saat lampu dinyalakan, gue melihat jendela dalam keadaan terbuka. Kyai Hasan menghampiri jendela kamar dan melompat, beliau tak melihat seorangpun disana. Lama beliau menyusuri taman, tapi beliau tak menemukan seorangpun disana. Beliau kembali dengan tangan hampa. Beliau menolong gue yang masih terbaring lemah. Mbak Karina, Melati dan Fatimah tersentak melihat keadaan gue, mereka membalut luka gue, sambil memaki orang yang sudah menganiaya gue.
Diubah oleh agusmulyanti
profile-picture
profile-picture
profile-picture
black392 dan 19 lainnya memberi reputasi
20 0
20
RUMAH WARISAN ATAS BUKIT
06-02-2020 17:41

Part - 25

Pagi-pagi sekali, gue melihat kyai Hasan, sudah rapi, dan bersiap-siap untuk pergi. Begitu halnya dengan Fatimah dan dua santrinya.
Mata Fatimah, terlihat sembab, sepertinya dia habis menangis.

"Loh..kyai mau kemana ?, bukankah kyai sudah berjanji, akan kembali setelah saya kembali ke kota."
"Maaf nak Linggar, barusan saya dapat telpon, kemarin ada beberapa santri dan santriwati yang kerasukan. Saya khawatir hari ini akan terjadi lagi, sementara disana, tidak ada saya."
"Oh begitu kyai. Kalau memang seperti itu, saya gak bisa menahan kyai. Terimakasih kyai sudah menolong saya. Oh iya kyai, ini ada sedikit bantuan untuk pondok."

Pandangan gue, tertuju pada Fatimah.

"Fatimah, mas minta maaf belum bisa memenuhi apa yang Allah perintahkan, menyegerakan menghalalkan Fatimah, tapi mas janji, begitu masalah ini selesai, mas akan datang untuk janji suci pernikahan. Apa Fatimah mau menunggu mas ?."

Fatimah gak menjawab pertanyaan gue, matanya berkaca-kaca, ia mengalihkan pandangannya dari gue, akhirnya dengan suara parau, ia menjawab.

"Mas...aku tidak bisa berjanji, meski ada rasa yang tak bisa aku hindari, tapi saat abi menerima pinangan seseorang, aku tak akan bisa menolaknya, aku gak sanggup menyakiti hati abi."

Fatimah mengucapkan kata-kata itu sambil terisak, membuat gue menjadi orang yang merasa paling bersalah. Gua mengangguk sambil tersenyum.

"Tunggulah..aku akan datang, aku janji."

Dengan berat hati, akhirnya Fatimah pamit pulang bersama abinya.

"Fatimah !!, hati-hati ya, tunggu aku."

Fatimah terus berjalan tanpa berpaling. Kyai Hasan, berjalan perlahan. Sampai di pintu gerbang, terlihat kyai Hasan diam sejenak, mulutnya bergerak-gerak membaca doa, entah apa yang sedang dilakukannya. Tapi gue yakin, apapun itu, kyai pasti berusaha ngelindungin gue.

*********

Mbak Karina datang menghampiri gue.

"Dek....mbak mau tanya, kotak panjang dibawah kursi ayah itu isinya apa ya. Semalem mbak gak bisa tidur, mbak seperti mendengar suara rintihan dan ketukan, tapi karena mbak ngantuk ya mbak biarin aja."

"Aku juga nggak tau mbak, kemarin waktu aku dateng, aku mau buka laci itu, tapi ternyata kuncinya gak ada. Aku juga mendengar suara ketukan dan rintihan, sama seperti yang mbak Karina denger, bahkan lebih hebat lagi."

"Ish...serrem banget dek, aku gak mau ah tidur di kamar ayah."
"Yaudah mbak, nanti malam mbak tidur di kamar aku aja, biar aku yang tidur di kamar ayah."

Karina mengangguk.

"Udah yu kita makan dulu, mbak lapar nih. Dek...woiii, waduh mbak dikacangin. Lagi mikir apa sih dek ?, mbak tau pasti lagi mikirin cewek cantik berhijab."
"Fatimah namanya mbak."
"Itu dia, mbak suka, anaknya baik pintar masak dan sopan, mbak setuju deh kalo kamu sama dia."
"Kemarin aku sudah mau nikah dengan dia, tapi semuanya berantakan gara-gara bi Narti kesurupan, hingga mas Tono terluka."

Kronologisnya gue ceritain, mbak Kirana dengan antusias mendengarkan.

"Gila...serem banget dek. Mbak jadi takut. Kamu yang sabar ya dek mudah-mudahan semua cepet berlalu. Aamiin."
"Aamiin."

Gue dan mbak Kirana, berjalan menuju meja makan, setelah berkali kali bi Inah memanggil kami.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
black392 dan 19 lainnya memberi reputasi
20 0
20
RUMAH WARISAN ATAS BUKIT
14-02-2020 11:11

Part - 39

Malam sehabis hujan, menyisakan titik-titik air di dedaunan.
Gue gak berani membuka mata, saat wajah gue merasakan desahan nafas yang teramat keras. Suara rintihan dan erangan seolah sahut menyahut, membuat gue tak tahan, hingga akhirnya...aakkkhhhh...huhuhu...huhuhu

"Gue penyebab semua ini !!, gara-gara gue, mereka semua mati," runtuk gue, melepaskan sesak yang menghimpit dada.
"Mas...jangan bicara seperti itu !, gak baik mas," mas Tono menepuk bahu gue.
"Mas gak salah, memang jalannya harus begitu."

"Aku sama sekali gak nyangka mas, kalau Anto itu adalah tunangan Lidia. Lidia gak pernah cerita kalau dia sudah punya tunangan."

"Nah..itu berartikan bukan mas yang salah."

"Tapi buat Anto, itu adalah kesalahan saya mas, dia dendam pada saya. Dia terus mengikuti saya dan mempelajari semua hal tentang saya."

Gue diam, saat mas Tono, duduk disebelah gue, lalu dengan hati-hati ia mulai bicara.

"Maafkan saya juga mas. Saya selama ini tidak pernah cerita tentang Parjo, itu karena dia yang meminta. Dia meminta saya merahasiakan, kalau dia adalah mantan suami mbak Hanum. Saya..sama sekali gak nyangka, kalau dia juga menyimpan dendam dengan pak Ganjar dan mas Linggar, karena selama ini dia baik banget mas, tapi ternyata, kebaikannya cuma pura-pura, untuk menutupi rencananya."

"Ya..semua sudah terjadi mas. Oh ya mas Tono, sebenernya gimana sih ceritanya bapak sampai nikah dengan bu Hanum."

Gini ceritanya mas....

"Bu Hanum itu kembang desa mas, penampilannya selalu sexy. Dan itulah yang membuat Parjo masuk dalam jeratannya, hingga akhirnya mereka menikah, dan mempunyai seorang anak... mbak Kirana itu. Padahal usia mereka saat itu masih sangat muda, baru kira-kira 16 dan 17 tahun."

"Trus kapan ia menikah dengan ayah."

"Ceritanya panjang mas. Beberapa tahun setelah menikah dengan Parjo dan punya anak, Parjo usahanya bangkrut, karena bu Hanum itu suka shopping mas. Dan setelah Parjo bangkrut, ia berhubungan dengan seorang laki-laki tanpa nikah, hingga hamil dan melahirkan mbak Melati. Gak sampe disitu mas, bu Hanum lalu tertarik dengan seorang laki-laki pendatang, yang usahanya sedang maju pesat. Kabarnya laki-laki itu sudah punya istri dan anak. Tapi ya itu tadi, karena bu Hanum itu memang type perempuan penggoda, mereka akhirnya berhubungan. Bu Hanum minta cerai dari Parjo. Parjo ngotot gak mau menceraikan bu Hanum, dan mendatangi laki-laki itu, tapi yang ada pak Parjo, malah di siksa dan dipermalukan. Itulah mungkin dendam yang selama ini tersemai di hati Parjo."

"Dan laki-laki itu adalah ayah Ganjar."

"Iya mas, betul."
"Lalu Dika itu anak siapa ?."
"Dika itu anak yatim piatu, yang diasuh pak Ganjar mas. Tapi karena salah didik, ya gak karu-karuan gitu, sukanya mabuk-mabukan dan berjudi."

Gue mengangguk dan mulai memahami duduk perkara sebenarnya. Pak Parjo atau Parjo, laki-laki yang selama ini menyimpan dendam dengan keluarga gue, bertemu dengan Anto. Mereka bersepakat melenyapkan gue dan keluarga pak Ganjar, setelah itu mereka akan mengambil seluruh harta milik pak Ganjar dan membaginya.

"Tapi apa hubungannya dengan Ratih, Rania dan mang Asep," gumam gue.

************

Mang Asep adalah pemuda tampan, penjaga rumah milik pak Ganjar yang ada di atas bukit. Di rumah itu, tinggal istri simpanan pak Ganjar, yang bernama Ratih. Hubungan diam-diam itu akhirnya tercium juga oleh Hanum.

Saat ia mendatangi rumah tersebut, ia bertemu dengan mang Asep, jiwa petualangnya muncul, ia menggoda mang Asep dengan tubuh sexynya. Hingga akhirnya mang Asep jatuh dalam pelukannya. Padahal pada saat itu mang Aseppun sedang menjalin asmara dengan Ratih, istri simpanan pak Ganjar.

**********

Hubungan cinta mereka bersemi, saat Ratih kesepian, karena pak Ganjar yang jarang datang. Hingga akhirnya saat mereka tengah bermesraan, Hanum datang. Api cemburu membakarnya, ia lalu mencekik Hanum hingga tewas, dan memasukan jasadnya kedalam kamar rahasia.

********

Kematian Ratih menyulut dendam dihati Rania, Rania adalah kembaran Ratih, yang juga menaruh hati pada mang Asep. Hingga disaat yang tepat, ia berhasil menakut-nakuti Hanum, dan membuatnya jatuh dalam parit, dengan lempeng besi yang sudah ia dan mang Asep siapkan.

********

Parjo yang melihat Hanum meninggal, marah dan menghabisi keduanya dengan racun. Parjo mengerti kematian Hanum atas suruhan Anto kepada mang Asep. Untuk itulah ia akhirnya merubah haluan sendiri, ia tadinya tidak berniat menghabisi Melati, tapi karena Melati mengetahui kejahatannya, terpaksa semua ia habisi, termasuk Linggar.

*******

Untunglah Linggar berhasil lolos dari jerat kematian. Anto yang mengetahui Linggar sekarat, berniat menuntaskannya. Sayang rencananya berantakan, karena terpergok suster, hingga akhirnya berakhir di jeruji besi.

***********

T A M A T
Diubah oleh agusmulyanti
profile-picture
profile-picture
profile-picture
a9r7a dan 18 lainnya memberi reputasi
19 0
19
RUMAH WARISAN ATAS BUKIT
11-02-2020 15:24

Part - 36

Hujan masih turun dengan derasnya, disertai kilatan petir yang sambung menyambung. Gue merasa malam ini adalah malam terakhir gue, semua impian yang selama ini terbentang indah, sepertinya harus pupus dan hanya menjadi sepenggal cerita dari orang-orang yang tau tentang kehidupan dan cinta gue. Gue pejamkan mata, dan coba merasakan indahnya hari-hari yang sudah gue lewati, sebelum lempeng baja itu, menuntaskan hidup gue dalam beberapa detik ke depan. Gue dengar langkah itu semakin dekat, kian dekat dan bertambah dekat. Nafas hidup gue seakan sudah harus berakhir...Laa ilaa haillallah, gue terus melafalkan tahlil.
Gue bisa merasakan hembusan nafas kebencian dari laki-laki itu, dan tawa kemenangan dari bibirnya...hahahah....hahahaha.....hahahaha, tamat sudah riwayatmu tuan muda...hahahaha....hahahaha...hahahaha.

Gue semakin kuat melafalkan tahlil, satu hentakan, dan gue akan menjadi jasad tanpa nyawa. Hingga akhirnya satu teriakan, dibarengi dengan jatuhnya benda logam yang sangat keras....tranggggg....brakkk membuat gue harus membuka mata, "Fatimah !!," gue melihat perempuan itu menghunuskan goloknya kearah laki-laki yang kini sudah tergeletak dilantai. Fatimah berpaling ke arah gue, disaat itulah laki-laki itu berkelit dan kembali berdiri. Tangannya dengan sigap meraih pisau dan ...

"Fatimah !! awasss!!."

Fatimah tak sempat mengelak, pisau itu menggores lengan Fatimah, darah bersimbah mengenai wajah gue. Dengan sekuat tenaga, gue bangkit berdiri, meski dengan terhuyung gue coba mendekati tubuh Fatimah.

"Menjauhlah mas...!, awass !...mass!!"

Gue gak menghiraukan teriakan Fatimah, hingga satu tebasan membuat gue roboh bersimbah darah.

aaakkkhhhh......

"Mas ...mas Linggar !!, kurang ajar...bi**ab, kau melukai calon suamiku."

Gue masih bisa mendengar teriakan Fatimah.

hiyaaaa..mati kau penjahat laknat, kukirim kau ke neraka. Bersamaan dengan teriakan Fatimah, gue merasakan adanya tubuh yang terhempas jatuh. Fatimah berlari mendekati gue, dipeluknya tubuh gue yang bersimbah darah.

Mas Linggar!! Mas ...bangun mas !, tolonggg !!

Gue pandangi wajah manis Fatimah yang sedang menangis.

"Aku mencintaimu Fatimah, aku sungguh mencintaimu."
"Bertahanlah mas, bertahanlah untuk aku, aku mohon."

Gue gak bisa merasakan apa-apa lagi, saat itu gue merasa mungkin malaikat maut sudah datang menjemput gue. Tak lama gue melihat ada cahaya menerobos masuk. Kyai Hasan, mas Tono dan bi Narti masuk dengan tergopoh gopoh.

"Ya Allah. Den Linggar... bangun den !, ini bibi den , bangun den!!..huhuhu..huhuhu."

Sesudah itu gue gak merasakan apa-apa lagi.

**********

Gue membuaka mata, gue melihat sekeliling gue didominasi warna putih.

"Aduhhhh

"Dimana aku ?, apa aku sudah mati ?,"
"Mas !, ya Allah mas Linggar sudah sadar. Alhamdulillah..alhamdulillah ya Allah."
"Abi...!!."

Gue lihat Fatimah berlari memanggil abinya. Tak lama kemudian, muncul kyai Hasan disusul mas Tono, bi Ijah dan bi Narti.
Diubah oleh agusmulyanti
profile-picture
profile-picture
profile-picture
black392 dan 18 lainnya memberi reputasi
19 0
19
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
RUMAH WARISAN ATAS BUKIT
07-02-2020 01:11

Part - 27

Mbak Karina memandang wajahku.

"Dek, meski kamu bukan adikku, dan awalnya aku benci sama kamu, tapi melihat penderitaan yang kamu alami, mbak sangat sedih. Mbak gak tahan lihat kamu terus menerus dalam masalah."

Gue hanya diam.

"Kamu itu baik dek, bahkan teramat baik, mengapa Allah memberi begitu berat cobaan hidup buat kamu."

Gue menarik nafas.

"Entahlah mbak, mungkin Allah ingin aku semakin kuat. InsyaAllah aku kuat mbak."

*********

"Sudah bangun bi ?," kulihat mbak Karina menyapa seseorang saat aku tengah tertunduk. Tapi yang disapa tak menjawab.

Gue menengadahkan kepala.

"Siapa mbak ?,"
"Bi Narti, sudah bangun, mungkin mau ke kamar mandi, disapa diam saja," ujar mbak Karina.
"Oh..," ujar gue ringan.

cklek...krekk, pintu kamar dibuka orang. Bi Narti keluar bersama bi Inah.

"Itu bi Narti. Trus yang mbak sapa tadi siapa," gumam mbak Karina bingung.

Gue dan mbak Karina saling berpandangan. Lalu dengan penasaran gue berjalan ke belakang. Di dapur gue lihat seorang wanita sedang berdiri membelakangi gue. Dengan menekan rasa takut gue berjalan mendekat, hingga akhirnya...aaakkkhhh, gue berbalik arah, saat wanita itu menoleh dan menyeringai ke arah gue.

Mbak Karina, Melati, bi Inah dan bi Narti, tak berani menyusul gue, mereka berteriak-teriak histeris, memanggil mas Tono dan Parjo.

Mas Tono yang mendengar keributan dibawah berlari.

"Ada apa bu, kenapa berteriak-teriak.:
"Den Linggar mas, den Linggar di dapur."

Mas Tono mengambil tongkat, dan berlari ke dapur. Dilihatnya tubuh gue yang menggigil ketakutan.

"Mas...mas Linggar !, mas Linggar nggak apa-apa ?, ya Allah, kenapa badan mas Linggar dingin sekali."
"Bu !, kemari bu, bantu bapak, bawa mas Linggar ke kamar." teriak mas Tono.

Melihat keadaan gue, semua panik. Mas Tono memapah tubuh gue, dan membawanya ke kamar.
Dia mengambil air rebusan bidara yang diberikan kyai Hasan, lalu dengan membaca bismillah, mas Tono membaluri air itu, keseluruh tubuh gue. Tubuh gue yang semula dingin, berubah menjadi panas. Gue berteriak tanpa kendali.

panas....panass....panass

Mas Tono, meminta mbak Karina dan Melati mengaji, juga meminta yang lain berdzikir.
Tak berapa lama, gue dengar alunan ayat suci, membuat ubuh gue semakin hilang kendali..

hhrrrrr.....panasss.....pergi kalian

Mas Tono, dengan berbekal ilmu dari kakeknya, mencoba menolong gue, mengeluarkan mahluk halus yang menyusup dalam tubuh gue.

"Istighfar mas...astaghfirullah...astaghfirullah."

hoarrrr.....hrrrrrrr, panasss....aakkkhhhh

Gue terus meronta, hingga akhirnya mas Tono, berhasil mengeluarkan penyusup yang masuk ke dalam tubuh gue. Gue merasakan tubuh gue seperti tak bisa digerakan, lemes dan letih yang teramat sangat.
Akhirnya setelah beberapa lama, guepun tertidur. Melihat kondisi gue yang seperti ini, akhirnya mereka memutuskan menjaga gue secara bergantian.
Diubah oleh agusmulyanti
profile-picture
profile-picture
profile-picture
black392 dan 17 lainnya memberi reputasi
18 0
18
RUMAH WARISAN ATAS BUKIT
06-02-2020 08:20

Part - 23

Mas Tono dan mas Parjo lari tergopoh-gopoh, menghampiri gue, yang sedang asik bertukar fikiran dengan kyai Hasan.

"Den...den.Linggar !,"
"Ada apa sih mas, koq sampai ngos-ngosan gitu."
"Ada mayat den, di jalan setapak, dekat hotel yang mau ke arah kota. Serem den, mayatnya nancep di patok besi, di parit. Katanya sih perempuan den, setengah tua, tapi masih bohay, badannya gempal. Namanya kalau gak salah Hanum den."

"Hanum ?," kenapa fikiran gue langsung tertuju ke ibu tiri gue. Sejenak gue terdiam, perasaan gue gak enak.

"Mas Tono, tolong antar saya ke sana ya."
"Ketempat mayat itu den?."
"Iya mas, saya mau lihat, perasaan saya koq gak enak ya mas."
"Baik den, ayo !, saya ambil motor dulu ya. Oh iya mang Asep kemana ya mas."
"Nggak tau den, saya belum lihat dari pagi."

Dengan dibonceng mas Tono, gue berangkat ke TKP. Sesampai di sana, jenazah baru diangkat dan hendak dimasukan kedalam kantong jenazah. Gue menerobos kerumunan orang, hingga ketika gue sampai di depan, gue lihat sosok yang seperti tak asing buat gue, gue hendak mendekati jenazah tersebut, tapi dihalang-halangi aparat. Namun gue melihat ada tanda di tangannya yang gue yakini, jenazah itu adalah bu Hanum.

"Pak tolong saya, saya mau lihat jenazah wanita itu."

Aparat polisi akhirnya memperkenankan gue, untuk melihat jenazah yang sudah dimasukan dalam kantong. Betapa terkejutnya gue, tatkala gue lihat yang terbaring kaku disana, itu benar bu Hanum.

"Bu Hanum !, ya Allah ...ini ibu tiri saya , kenapa bisa sampai begini pak?."
"Kami belum tau pak, karena kami baru tiba di lokasi, setelah mendapat laporan dari warga."
"Boleh, saya bawa jenazah ibu tiri saya pak."
"Boleh pak, tapi setelah kami melakukan otopsi terhadap jenazah ibu tiri bapak."

Aku menyetujui permintaan pak polisi. Setelah menjalani otopsi, akhirnya jenazah bu Hanum, dapat gue bawa pulang. Meski bu Hanum cuma ibu tiri gue, gue berkewajiban mengurus pemakamannya dengan baik. Sampai hari pemakaman, sosok mang Asep belum juga kelihatan, entah orang itu pergi kemana.

*******

Mbak Karina dan Melati, akhirnya sampai juga di rumah atas bukit, dengan motor tumpangan dari kampung sebelah, karena akses jalan ke rumah atas bukit, masih belum bisa dilalui kendaraan roda empat, akan tetapi mereka tidak bisa bertemu dengan jenazah ibu mereka, karena kondisi jenazah yang sudah membusuk.

"Mbak Karina, kenapa ibu pergi kemari aku gak tau ?."
"Aku juga gak ngerti dik, siangnya ibu tuh, telponan dengan seseorang, kayaknya ceria banget, tapi mbak gak tau yang diomonginnya. Trus gak lama pamit pergi, ada urusan katanya, sesudahnya, mbak gak ngerti lagi."

Melati masih menangis sesenggukan, gue usap kepalanya dan coba menghiburnya, disaat itulah gue melihat mang Asep masuk pekarangan rumah, wajahnya terlihat kuyu.

"Mang...mang Asep!, sini mang."

Mang Asep berjalan ke arah gue.

"Mamang darimana sih, koq ngilang gitu aja, gak pamit."
"Ponakkan mamang meninggal den. Kemarin mamang mau pamit, tapi karena aden sedang banyak masalah, mamang gak enak den. Maafin mamang. Oh iya den, koq ada bendera kuning di depan, siapa yang meninggal ?."
"Ibu tiri saya mang, bu Hanum."
"Bu Hanum?..kenapa den?, ya Allah, bu Hanum orang baik," ujar mang Asep.

Gue menjelaskan kronologi kejadiannya.

" Jadi sampai sekarang belum ketahuan den, penyebab kematian bu Hanum ?."
"Belum mang, mudah-mudahan saja cepat terungkap."
"Aamiin...mamang pamit dulu ya den, mau istirahat, dari kemarin gak tidur."

Mang Asep langsung ngeloyor pergi, separuh berlari ia memasuki paviliun. Asap dupa kembali tercium, membuat mbak Kirana dan Melati, mengucapkan sumpah serapah.

"Wanjiir ..siapa sih yang bakar-bakar kayak gini, kampungan banget."
"Iya..amin-amit deh mbak, norak banget."

Mereka terus mengomel, hingga gue harus menenangkan mereka. Gue suruh mereka istirahat di kamar ayah, sesudah mereka menuntaskan sarapan pagi mereka.
Diubah oleh agusmulyanti
profile-picture
profile-picture
profile-picture
black392 dan 17 lainnya memberi reputasi
18 0
18
RUMAH WARISAN ATAS BUKIT
05-02-2020 02:28

Part - 20

Gue berjalan menyusuri taman bunga entahlah gue hari ini hanya ingin sendiri. Perkataan bu Hanum tadi malam, membuat gue terus berfikir, apa maksud dari perkataannya itu. Hal itulah yang membuat gue tambah penasaran dan ingin tau, sejauh mana bu Hanum mengenal tempat ini.

Mang Asep sedang membersihkan kandang burung, saat gue datang ke paviliun. Dia sedikit terkejut, tapi dia berusaha untuk menutupinya.

"Burung apa ini mang ?."
"Burung Jalak den."
"Bagus kicauannya mang ?."
"Bagus den...hehe."
"Ibu sering kesini dulu mang ?," tanya gue lagi, tanpa menyebut nama Hanum.
"Sering den, sebelum..."
"Sebelum apa mang ?."
"Maaf den, air mamang matang, mamang kedapur dulu," ujar mang Asep, seperti menghindar.

Lama gue nunggu mang Asep kembali, tapi mang Asep gak juga muncul. Kucoba menyusulnya ke dalam.

"Mang !, mang Asep !," panggilku perlahan, tak ada jawaban.

Saat gue masuk ke ruang tamu, tanpa sengaja netra gue menangkap sekelebat bayangan dalam kamar. Gue berjalan mendekat, dan dari celah pintu yang terbuka, gue lihat mang Asep sedang berbicara dengan seseorang, entah dengan siapa.

"Iya...iya, saya akan minta tolong ki Anom, nanti."

Gue dengan cepat berbalik ke luar, saat gue lihat mang Asep menutup telpon dan berjalan mendekati pintu. Gue jongkok dekat burung jalak, seolah tengah memperhatikan burung kesayangan mang Asep. Dia sedikit terkejut karena gue masih belum pergi.

"Loh Aden masih disini ?,"
"Iya mang, saya lagi perhatiin burung ini, bagus. Kapan-kapan saya mau beli juga buat ditaruh di rumah ibu."
"Bu Hanum kan gak suka burung den, dia itu sukanya sama kucing. Dia suka marah kalau kesini lihat saya ngurus burung."
"Oh iya ya, saya koq lupa, kalau ibu gak suka burung."
"Yasudah saya balik dulu mang, bi Inah nanti nyariin lagi."

Gue tinggalin mang Asep yang sedang asik dengan burungnya. Otak gue disesaki berbagai pertanyaan yang membuat gue terus berfikir.

********

Kyai Hasan meminta gue untuk duduk, saat gue melintas.

"Nak Linggar, kemarilah."
"Ada apa kyai," ujar gue, sambil duduk dihadapannya."
"Begini nak, besok saya harus pulang, karena saya sudah lama ninggalin pesantren, kasian santri-santri disana, gak ada yang bimbing."
"Fatimah juga ikut pulang kyai."
"Iya nak, gak baik buat kalian jika tinggal dalam satu atap, tanpa pengawasan, bisa jadi fitnah nantinya."

Gue diam, hati gue resah. Kyai Hasan menatap gue dalam-dalam.

"Ada apa nak, bicaralah."
"Kyai, saya tidak tau harus memulai dari mana, saya khawatir sekali kyai, sepertinya ada seseorang yang tidak menghendaki kehadiran saya disini dan dia ingin saya celaka."

Kyai Hasan mengerutkan keningnya, lalu dengan bijak beliau berkata..

"Baiklah nak, saya akan tunda kepulangan saya, sampai nak Linggar kembali ke kota."
"Betul kyai ?, alhamdulillah ya Allah."

Seperti anak-anak yang mendapatkan mainan, gue senang bukan main, gue cium tangan kyai Hasan berulang-ulang, gue peluk tubuhnya dengan erat.
Kyai Hasan menepuk bahu gue dengan hangat sambil tersenyum.

******

"Bi...mas Linggar, kesukaannya apa bi ?."
"Oh..den Linggar itu, suka banget sama sayur asem, goreng tempe sama ikan teri balado Bisa nambah berkali-kali dia kalau sudah makan dengan lauk itu neng."
"Boleh Imah yang masak hari ini bi ?."
"Boleh..boleh banget neng."

Lalu Fatimah memasak dengan cekatan, bi Inah dan bi Narti yang ikut membantu, merasa kagum dengan kecantikan dan kepintaran gadis itu memasak.
Tidak berapa lama, semua makanan sudah siap dan di sajikan. Gue yang mencium aroma masakan kesukaan gue langsung datang ke meja makan, sambil mengajak kyai Hasan.

"Ayo kyai kita makan, kelihatannya bi Inah masak enak nih."

Kami makan bersama-sama, tanpa mang Asep tentunya, karena dia tak pernah mau, makan satu meja dengan kami. Gue makan dengan lahap, karena masakan hari ini benar-benar enak.

"Bi, masakan bibi hari ini enak banget, terutama sayur asemnya, lain dari yang biasa bibi masak, lebih enak, pokoknya top deh ," ujar gue seusai menyantap makanan.

"Bukan bibi yang masak den."
"Trus siapa bi ?, bi Narti ?, wah bibi berarti ada saingan ya..hehehe."
"Bukan den, bukan bi Narti juga, tapi neng Fatimah."

Gue menatap ke arah Fatimah, yang kelihatan malu-malu karena dipuji.

"Fatimah ?,"
"Iya den, neng Fatimah."
"Fatimah, terimakasih ya, sudah masak makanan kesukaan saya."

Fatimah mengangguk sambil tersenyum malu. Disaat seperti itu, Fatimah terlihat sangat cantik dan rupawan. Gue gak bisa menutupi rasa cinta yang semakin bersemi di hati gue. Ya Tuhan, tolong mudahkan jalan aku untuk menikahinya, doa gue dalam hati
Diubah oleh agusmulyanti
profile-picture
profile-picture
profile-picture
black392 dan 17 lainnya memberi reputasi
18 0
18
RUMAH WARISAN ATAS BUKIT
03-02-2020 11:01

Part - 12

Gue duduk disebelah kyai Hasan, sambil meluruskan kaki gue yang nyeri dan kram, sehabis jatuh tadi. Hari mulai gelap dan halimun dingin yang teramat pekat disertai hujan deras yang turun dengan tiba-tiba, memaksa kami untuk berhenti dan mencari tempat berlindung.

"Sepertinya disebelah sana ada rumah kyai. Kita ijin berteduh saja sebentar," ujarku refleks.

Kyai Hasan mengangguk, dan mengajak semua santri untuk berteduh di rumah itu. Saat kami memasuki halamannya, rumah itu begitu sunyi, seperti tak berpenghuni, tetapi sebuah lampu teplok terlihat berpendar terang dalam bilik.

"Assalamualaikum...spada...punten."

Tak ada sahutan, hingga akhirnya muncul seorang wanita tua, bungkuk dan berambut putih dari balik pintu.

"Maaf nek, kami numpang berteduh, kami kehujanan," ujar gue sambil mencium tangan nenek tua itu.

"hihihihi.....hihihihihi....hihihi, silahkan, istirahatlah sesuka kalian, bermalamlah, karena malam ini akan sangat panjang..hihihihi....hihihihi...hihihihi, lalu nenek itu berjalan masuk sambil terus tertawa."

Sumpah buluk kuduk gue langsung berdiri, ketika nenek tua itu ketawa, tawanya serem banget, kayak tawa kuntilanak atau tawa nenek-nenek di film cerita horor. Gue menghampiri kyai Hasan yang terlihat diam sambil memejamkan mata.

"Kita harus hati-hati. Fatimah, kamu beritahu semua agar hati-hati."
"Baik Abi."

Gue gak ngerti apa yang ada di fikiran kyai Hasan, ada apa ini ?, kenapa semua harus hati-hati ?.

Kyai Hasan meminta santrinya shalat bergantian. Hingga tiba giliranku berwudhu. Keinginan buang air, memaksa gue mencari tempat untuk menuntaskan hajat gue. Hingga akhirnya gue melihat sebuah WC di sudut bilik. Aku mendorong pintunya dan memulai aktivitas alami yang tak bisa gue tunda. Saat gue hampir selesai bersuci, gue dikejutkan dengan sesuatu yang menyentuh kepala gue, makin lama makin terasa, panjang dan menjuntai. Gue refleks menoleh keatas aarrkkgghhh, gue berteriak sekuat tenaga, saat gue lihat yang ada diatas gue adalah rambut seorang wanita yang tak terlihat wajahnya. Gue mencoba membuka pintu dengan sekuat tenaga, tapi pintu itu tak bisa terbuka, bergerakpun tidak, hingga akhirnya..braakkk

Sebuah hentakan telah membuat pintu itu terbuka.

"Cepat keluar nak !," teriak kyai Hasan.

Gue berlari dan merapikan celana gue yang masih belum gue seletingin. Sementara kyai Hasan, berusaha menghalau ghoib wanita dengan membaca ayat-ayat suci. Gue terus berlari, dan brukk, tubuh gue menabrak Fatimah yang sedang berdiri mengawasi santri yang sedang shalat.

"Ma..ma..maaf Fatimah."
"Akang kenapa?, Abi dari tadi ngikutin akang, takut akang kenapa-napa, makanya Imah yang jaga disini."
"Aku diganggu hantu wanita Imah, rambutnya panjang banget...hiyyy, serem banget."
"Akang sudah shalat ?,"

Gue menggeleng, masih dengan nafas senin kamis.

"Ya udah, kalau gitu akang shalat dulu, nanti maghribnya keburu habis."

Gue mengangguk dan mulai menjalankan shalat.

Fatimah mengawasi gue, gue sebenernya malu, koq malah gue yang dijaga, bukan gue yang jaga dia. Tak lama berselang kyai Hasan datang.

"Bagaimana Abi ?,"
"Pertarungan sudah dimulai neng. Nenek tadi adalah kuntilanak yang tadi mengganggu nak Linggar."
"Terus gimana bi?."
"Kita harus tinggalkan tempat ini, sekarang juga, karena kalau tidak, akan ada hal-hal buruk yang lebih menyeramkan lagi."

Gue yang mendengarkan percakapan kyai Hasan dan Fatimah, memang merasakan hal ganjil saat memasuki pekarangan rumah ini, seperti ada berpasang-pasang mata yang mengawasi gue dan temen-temen.

"Ayo semua, kita berangkat." teriak kyai Hasan.
"Dengan hujan yang demikian besar kyai."
"Kyai Hasan mengangguk."

Akhirnya kami berjalan diderasnya hujan dan gelapnya malam. Dinginnya air hujan, seperti meremukan tulang-tulang gue, badan gue seperti membeku dan menggigil, hingga tiba-tiba

awass...berhentii semua !!

Sebuah teriakan keras, membuat kami menghentikan perjalanan. Seseorang berlari dibelakang kami, di derasnya hujan dan digelapnya malam, dengan cepat.

"Abi..," Fatimah berteriak dengan nada kaget.

Lalu yang didepan itu siapa ?

Fatimah dan para santri bingung, kyai Hasan ada dua. Saat tubuh yang berlari, telah sampai, Fatimah surut kebelakang.

"Siapa kamu ?, mengapa kamu menyerupai abiku."
"Aku abimu Fatimah."
"Lalu yang didepan sana ?."

Fatimah dan seseorang yang mengaku kyai Hasan menghampiri kyai Hasan yang sedang berjalan bersama gue.

"Kang Linggar !, kang berhenti." ujar Fatimah, sambil menarik tangan gue.

Kyai Hasan yang tadi berjalan bersama gue, diam dan tak bergetak.

"Siapa kamu ?," terdengar suara Kyai Hasan yang baru datang, membentak dengan keras.

Wajah itu menoleh sambil menjawab.

"Aku kyai Hasan....hahaha...hahaha...hahaha."

Wajah yang teramat menyeramkan, dengan taring dan mata merah menyala, terus tertawa. Kyai Hasan mengeluarkan jurusnya sambil membaca ayat-ayat suci, sebelum akhirnya mahluk itu hilang dan berteriak dengan suara keras..aaarrrkghhhh
Diubah oleh agusmulyanti
profile-picture
profile-picture
profile-picture
black392 dan 17 lainnya memberi reputasi
18 0
18
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
egality
Stories from the Heart
bully-crime---thriller
Stories from the Heart
hello-good-bye-bae
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
Stories from the Heart
kumpulan-cerita-seram
Stories from the Heart
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia