Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
7
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e25b8554601cf5f2f784830/gadis-waktu-itu
Foto: pixnio.com Gadis Waktu Itu sebuah cerpen oleh kulitkacang10 Hiruk pikuk kota di pagi hari sudah akrab Iqbal jalani. Hari-harinya selalu dimulai dengan situasi yang sama selama dua belas tahun ia bersekolah dan kini, hal yang sama pun terjadi di masa Iqbal berkuliah. Ia selalu bertanya-tanya, kapan keadaan ini bisa berubah? Dia sudah lelah dengan polusi dan kemacetan. Setelah selesai membayar
Lapor Hansip
20-01-2020 21:25

Gadis Waktu Itu

icon-verified-thread

Gadis Waktu Itu
Foto: pixnio.com

Gadis Waktu Itu
sebuah cerpen oleh kulitkacang10

Hiruk pikuk kota di pagi hari sudah akrab Iqbal jalani. Hari-harinya selalu dimulai dengan situasi yang sama selama dua belas tahun ia bersekolah dan kini, hal yang sama pun terjadi di masa Iqbal berkuliah. Ia selalu bertanya-tanya, kapan keadaan ini bisa berubah? Dia sudah lelah dengan polusi dan kemacetan.

Setelah selesai membayar ongkos angkutan kota dan turun tepat di halte pemberhentian transportasi umum, Iqbal melanjutkan kembali perjalanannya menuju kampus dengan berjalan kaki. Sambil terus membayangkan dirinya bisa berangkat kuliah menggunakan motor pribadi, Iqbal berjalan seraya menenteng buku Mekanika Tanah yang sempat ia baca di dalam angkutan umum selama perjalanannya menuju kampus. Hari ini, ia akan menghadapi ujian mengenai materi konsolidasi tanah dan atas alasan itu ia berangkat lebih pagi dari biasanya.

“Kalau jalan pakai mata dong Mas!”

“Mba sendiri kenapa jalan sambil main hape?”

Di trotoar jalan, tepat ketika Iqbal hendak menyeberang jalan, ia melihat seorang lelaki muda terlibat keributan dengan seorang perempuan berpakaian modis. Tampak mereka saling beradu argumen hanya karena bertabrakan ketika berjalan berlawanan. Keributan mereka berdua sempat mengundang perhatian orang-orang sekitar hingga akhirnya perselisihan dapat diakhiri walau keduanya masih terlihat sinis.

Iqbal sendiri tidak begitu tertarik dengan perselisihan yang terjadi.

Ia kemudian melanjutkan kembali perjalanannya menuju kampus yang hanya berjarak beberapa meter lagi. Iqbal ingin cepat tiba di kelas karena ia ingin memanfaatkan waktu yang ada untuk menghafal materi sebelum ujian dimulai.

Setibanya di kampus, Iqbal bingung dengan sesuatu yang dilihatnya.

“Siapa itu?”

Sebelumnya ia mengira bahwa dirinya adalah orang pertama yang tiba di kelas, akan tetapi pikirannya ternyata salah. Sambil menyipitkan mata memandang ke dalam kelas lewat kaca kecil di pintu, Iqbal melihat seseorang di dalam kelas. Gadis tersebut menyembunyikan wajahnya dengan kedua belah tangannya seraya sesekali menggosok matanya dengan punggung tangan kanannya.

Loh, ada apa?” Iqbal berkata dalam hati.

Gadis tersebut terus mengusap air matanya yang berjatuhan. Isak tangisnya bahkan dapat terdengar jelas oleh Iqbal di luar kelas.

Sebagai mahasiswa baru, Iqbal memang tidak begitu banyak memiliki teman di kampus barunya ini. Bahkan, ia pun belum begitu akrab dengan teman-teman sekelasnya sendiri. Iqbal memang tipe orang yang sulit bergaul dengan orang baru namun bukan berarti dia tidak bisa mengenali wajah-wajah kawan sekelasnya. Iqbal merasa belum pernah sama sekali melihat gadis itu.

Tiba-tiba saja, gadis itu berdiri dari kursinya di deretan belakang kelas.

Iqbal sedikit terkejut ketika melihat dia mulai menjatuhkan buku-buku yang berserakan di atas meja dengan kasar. Sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangan, gadis itu kemudian berlari ke arah Iqbal. Tampaknya gadis itu hendak keluar kelas.

Iqbal melangkah mundur dan membiarkan gadis berambut pendek tersebut keluar seraya terus menatapnya dengan tatapan bingung.

Di dalam kelas, Iqbal memperhatikan buku-buku yang berantakan di lantai. Ia meraih satu buku catatan dari lantai dan menatapnya sejenak, buku itu kusut dan sedikit lembab. Ketika Iqbal membuka buku catatan itu, segalanya menjadi jelas. Pada saat itulah Iqbal mengetahui alasan gadis itu menangis.

Anak haram, pelacur, murahan, kata-kata semacam itulah yang menghiasi hampir seluruh halaman di buku catatan itu. Bukan hanya buku catatan yang Iqbal genggam saja, bahkan di semua buku yang gadis itu miliki terdapat banyak sekali kata-kata serupa. Tampaknya buku-buku itu adalah kesedihan terbesar yang gadis itu miliki.

“Anak haram! Dasar hina.” Iqbal membaca salah satu kalimat yang tertulis di buku catatan itu.

Iqbal merasa tergerak, dirinya yang biasanya jelas tidak akan begitu peduli, tetapi kali ini berbeda. Orang itu butuh pertolongan.

Sambil membawa buku catatan yang dipungutnya, Iqbal berlari menyusul gadis itu. Dia belum lama pergi meninggalkan kelas dan itu kesempatan bagi Iqbal untuk menjangkaunya. Iqbal khawatir dia akan melakukan sesuatu yang berbahaya, setidaknya itulah yang dirinya pikirkan.

Ketika mengikuti arah lari yang sebelumnya sempat Iqbal lihat, gadis itu tidak ditemui di mana-mana. Iqbal sedikit menghela napasnya yang memburu akibat berlari sambil mencoba memikirkan berbagai kemungkinan tempat yang gadis itu datangi. Iqbal telah mencari di berbagai tempat namun tidak membuahkan hasil.

Sekilas Iqbal melihat sesuatu.

Seraya menumpukan kedua tangannya pada lutut, Iqbal menatap tangga besi tua memutar yang terletak tidak jauh dari tempatnya beristirahat. Tanpa pikir panjang, Iqbal segera menaiki tangga itu menuju rooftop. Iqbal yakin dia berada di tempat itu karena hanya rooftop yang belum Iqbal datangi.

Dan benar, di tempat itulah gadis itu berada.

Seraya mencoba menahan isak tangisnya, satu kaki gadis itu sudah berada di ujung bangunan. Dan ketika Iqbal berhasil menaiki seluruh anak tangga menuju rooftop, semuanya sudah terlambat. Gadis itu menjatuhkan diri sambil memandangi kedatangan Iqbal.

Iqbal tidak bisa melakukan apa pun. Dan sekilas, gadis itu sudah hilang dari pandangannya. Iqbal terkejut dengan apa yang dilihatnya barusan. Dengan kondisi badan yang bergetar, ia coba datangi tempat gadis itu melompat.

“Hah?!” Iqbal mundur beberapa langkah seraya menutup mulutnya.

Logikanya memberontak, tapi ia yakin dengan penglihatannya. Iqbal tidak bisa berkata-kata. Tanpa terasa, ia menjatuhkan buku catatan yang dibawanya. Iqbal tidak menyangka ketika ia melihat ke bawah, dia tidak menemukan gadis itu. Dia hilang.

Iqbal tidak pernah bisa melupakan kejadian yang dilihatnya di atas gedung itu. Waktu berlalu cepat dan ia masih bertanya-tanya tentang kejadian itu. Iqbal tidak menemukan jawabannya sebelum tanpa sengaja, ia menemukan sesuatu yang menarik di rak buku perpustakaan kampus.

Ketika Iqbal menarik buku itu dari rak, kondisinya sudah cukup parah. Terdapat sobekan sana sini dan bahkan, buku itu tidak memiliki sampul depan. Iqbal menemukan buku itu di bagian belakang rak buku, tersembunyi di antara buku-buku yang berderet di rak buku kategori sejarah. Tampaknya buku itu sengaja disembunyikan dan dibiarkan berada di tempat itu sampai seseorang menemukannya.

Dan, orang yang beruntung menemukannya adalah Iqbal.

Pada mulanya tidak ada bagian yang membuat Iqbal tertarik untuk membaca buku kusam itu. Akan tetapi, setelah tidak sengaja Iqbal membaca daftar isi buku itu sekilas, semuanya berubah. Ada sesuatu yang buku itu simpan dan Iqbal ingin mengetahuinya.

Tangannya bergetar ketika mencoba membuka halaman yang ia tuju. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Sesuatu itu terletak di pertengahan buku.

Kali ini intuisinya benar. Iqbal mencoba mencerna informasi yang tertera di buku itu dengan seksama. Memang, ia bukan orang yang bisa menyembunyikan keterkejutannya. Itu terbukti ketika Iqbal tertegun melihat sesuatu yang tercetak di halaman itu.

“Kayla Annisa.” Iqbal membaca nama yang tertulis.

Sumber keterkejutan Iqbal berada pada foto yang terpampang bersamaan dengan nama yang ia baca. Foto itu, tidak salah lagi, adalah gambar yang bisa menjawab semua pertanyaan Iqbal selama ini. Jelas, di halaman kusam itu, tercetak foto gadis yang Iqbal temui waktu itu. Gadis misterius yang gagal Iqbal selamatkan. Gadis misterius yang memutuskan untuk melompat dari gedung kelas waktu itu.

Semua itu belum merupakan hidangan utama yang bisa buku itu tawarkan pada Iqbal. Judul besar yang tertera di halaman itu sepertinya merupakan kejutan lain yang dipersiapkan selain nama dan foto.

“Kasus Bunuh Diri Akibat Depresi”

Iqbal membaca perlahan beberapa informasi yang ada di buku itu. Semuanya mengarah pada suatu kesimpulan yang Iqbal sendiri sulit ucapkan.

“Kejadian kasus ini...” Iqbal tercekat, ia menggantung kata-katanya sendiri. “Terjadi tepat tujuh tahun yang lalu.” Lanjut Iqbal bergumam pelan.

Iqbal menahan napas beberapa saat. Informasi yang baru saja diterimanya masih sulit untuk dicerna.

Ia penasaran.

Iqbal kemudian membalikkan buku itu untuk membaca sinopsisnya. Ia mendapati bahwa buku tersebut merupakan penelitian seorang alumni kampus yang menyukai misteri. Target penelitiannya adalah kasus-kasus yang terjadi di kampus tempat Iqbal berkuliah pada rentang dua puluh tahun terakhir. Lebih spesifik lagi, ia mencari kasus-kasus misterius yang tidak pernah terselesaikan secara resmi.

Setelah membaca itu, timbul pertanyaan mendasar yang begitu mengganggu Iqbal namun tetap harus ia keluarkan. Pertanyaan itu adalah: siapa gadis yang ia temui seminggu lalu? Atau lebih tepatnya, apa yang ia lihat seminggu yang lalu?

profile-picture
profile-picture
jiyanq dan Reagle memberi reputasi
2
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Gadis Waktu Itu
20-01-2020 21:46
amankan
0 0
0
Gadis Waktu Itu
20-01-2020 23:23
Horor, misteri
Lanjut gan
profile-picture
kulitkacang10 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 2 balasan
Gadis Waktu Itu
Lapor Hansip
20-01-2020 23:23
Balasan post Reagle
Quote:Original Posted By Reagle
Horor, misteri
Lanjut gan


thanks ganemoticon-Toast
profile-picture
Reagle memberi reputasi
1 0
1
Gadis Waktu Itu
Lapor Hansip
20-01-2020 23:47
Balasan post kulitkacang10
@kulitkacang10 ok gan moga bukan gadis kentang emoticon-Ngakak emoticon-Toast
0 0
0
Gadis Waktu Itu
21-01-2020 14:07
Selamat Tinggal Masa Lalu

sebuah cerpen oleh kulitkacang10


“Happy Birthday, Kei.”
Di bawah pohon rindang tua, Dimas dan Iqbal berdiri menghadap sesuatu. Mereka merasakan aliran kenangan kembali membanjiri. Tanpa sebab yang pasti, tempat itu selalu dapat menyihir mereka untuk datang kembali. Memaksa Dimas dan Iqbal menciptakan kenangan baru seraya menumpuk kenangan lama.

Satu tahun yang lalu, mereka berdua mendirikan tembok di bawah pohon itu. Monumen kecil setinggi setengah meter itu sudah tampak kusam dan catnya banyak yang telah mengelupas. Dimas berusaha untuk menghilangkan debu pada monumen tembok itu dengan mengusapnya. Saat sedang sibuk mengusap, Dimas merasakan tekstur yang berbeda di pertengahan tembok. Tekstur itu memanjang horizontal membentuk sebuah kata.

Keisya.

Iqbal kini berjongkok dengan menumpukan satu lututnya pada tanah. Ia kemudian meletakkan karangan bunga yang mereka bawa di dekat tembok kecil itu. Kebetulan hari ini adalah hari ulang tahun Keisya dan bertepatan pula dengan peringatan dua tahun kematian Keisya. Monumen itu dibuat untuk mengenangnya.

Tempat itu, markas mereka bertiga, memiliki seribu satu kenangan. Mereka bersahabat, saling berbagi cerita, saling melemparkan gurauan, dan saling menguatkan diri di tempat sederhana itu. Tetapi di antara semua hal itu, dua di antara mereka saling mencintai.

“Dim, lo baik-baik aja kan?”

Iqbal merasa harus menanyakan itu karena sebelumnya Dimas sangat emosional menyangkut segala hal tentang Keisya. Dimas sangat kehilangan Keisya, baik sebagai sahabat maupun pasangan terbaik untuknya.

Iqbal sendiri selalu mendukung mereka berdua.

Walau sebelumnya Iqbal pernah memiliki rasa yang sama pada Keisya, pada akhirnya Keisya lebih memilih Dimas dan Iqbal sadar akan hal itu. Sempat terjadi pertengkaran antara Iqbal dan Dimas namun semuanya dapat diakhiri dengan baik. Rasa persahabatan mereka berhasil membuat keadaan damai seperti semula.

Setelah kejadian itu, Iqbal menyadari satu hal. Ia merasa bahwa perasaannya pada Keisya nyatanya hanya perasaan sayang sebagai sahabat, bukan pasangan. Fakta itu membuat Iqbal yakin untuk merekonstruksi kembali hati dan perasaannya untuk orang lain selain Keisya.

“Gue ingin move on.”

Iqbal yang sedang sibuk membersihkan daun-daun kering di sekitar monumen sedikit terkejut ketika Dimas mengeluarkan kalimat itu.
“Siapa yang mampu buat lo move on?”

Dimas tersenyum kecil tak menjawab.

Dia tenggelam pada pikirannya sendiri. Dimas kini sedang mencoba untuk menggali kembali ingatannya, mencari momen-momen krusial yang sekarang berhasil mengubah dirinya. Menyeretnya keluar dari kotak pandora yang memainkan kenangan lama bersama Keisya.

Kemudian pikirannya tiba pada rangkaian peristiwa antara dirinya dengan orang baru. Tentu bukan perkara mudah untuk Dimas membuka hati. Akan tetapi, usaha keras berhasil meruntuhkan kerasnya hati Dimas.

“Ke kantin yuk?”

Ingatan Dimas tertuju pada satu orang yang selalu mengganggunya. Waktu itu, sudah satu tahun lebih Dimas lulus dari SMA dan sudah satu tahun pula Keisya pergi. Dimas masih sulit untuk menerima orang lain. Semua orang yang telah mencoba berakhir sia-sia kecuali satu orang, Naura.

“Ayo dong.” Naura menarik lengan Dimas.

“Sorry.”

Dimas tetap kukuh untuk menolak ajakan Naura. Tetapi, usaha Naura tidak berhenti sampai situ saja. Setibanya dari kantin, ia membawa dua bungkus nasi rendang lengkap dengan minumnya. Naura berjalan ke arah Dimas.

“Kalau begitu, kita makan di sini.” Ujar Naura sambil menarik kursi mendekat menuju meja Dimas.

Kejadian semacam itu sering sekali terjadi. Dimas yang dingin dan kaku tak menghalangi Naura untuk selalu berinteraksi dengannya. Seratus kali Dimas menolak, seratus satu kali Naura tetap mencoba. Naura memang seorang pejuang.

“Gue yakin dia orang yang pantang nyerah.” Ucap Iqbal seraya membantu Dimas membersihkan monumen Keisya.

“Gue akui dia memang hebat.” Jawab Dimas.

Dimas kemudian mulai menceritakan tentang Naura.

Naura adalah orang yang periang, supel, dan juga terkenal. Di kampus Dimas, Naura adalah primadona para lelaki. Biarpun begitu, dari semua laki-laki yang tertarik dengannya, Naura malah memilih Dimas yang sama sekali tidak pernah meliriknya. Bahkan, Naura selalu menunggu Dimas saat selesai kuliah untuk memintanya pulang bersama namun lagi-lagi tak membuahkan hasil.

“Hari ini boleh kan?” Naura menunjuk jok belakang motor Dimas.

Dimas melirik jok belakang lewat kaca spionnya. “Maaf ada urusan penting. Lo pulang sama yang lain aja.”

Naura selalu gagal untuk pulang bersama Dimas. Hampir setiap hari Naura menunggu di tempat yang sama namun Dimas tak pernah sekalipun luluh. Hingga suatu ketika terjadilah peristiwa itu. Dimas menceritakan pada Iqbal dengan seksama.

“Serius lo?” Iqbal kaget dengan cerita Dimas.

“Iya.” Dimas menghela napas. “Gue merasa bersalah.”

Di hari yang sendu pada waktu itu, ternyata hujan turun cukup deras. Kebetulan hari itu Dimas tidak membawa motor karena sedang berada di bengkel. Dan saat hujan mereda, Dimas melihat dia. Sambil berjalan membawa payung, Dimas melihat Naura basah kuyup. Naura berjalan sempoyongan dengan badan yang menggigil.

Dimas segera berlari menghampiri Naura. Namun saat Dimas berhasil menggapai Naura, ketika itu pula Naura roboh tak sadarkan diri. Dimas panik karena badan Naura panas sekali dan langsung memesan taksi untuk mengantarnya pulang. Di apartemen Naura, tak ada yang merawatnya karena ia tinggal sendiri. Sehingga untuk beberapa waktu, Dimas yang menjaga Naura.

Beberapa hari kemudian, barulah Dimas mengetahui bahwa waktu itu Naura menunggunya namun Dimas tak kunjung datang.

“Kenapa? Kenapa sampai sebegitunya?” Dimas bertanya seraya menatap Naura.

“Gue ingin lo tau, lo itu ga sendirian!” Ujar Naura sedikit emosional.

Ketika itu Naura bercerita bahwa ia mengetahui tentang Keisya karena gosip begitu cepat menyebar. Naura ingin membuat Dimas move on dan melanjutkan kehidupannya. Selama ini, waktu Dimas seperti terhenti dan terus terjebak dengan masa lalunya bersama Keisya. Dimas juga selalu sendiri dan sulit menerima orang lain.

“Kenapa gue?”

“Karena lo juga pernah buat gue sadar.” Naura bergetar, ia menahan diri untuk tidak menangis.

Ingatan Dimas melayang. Ia kembali ke momen saat pertama kali bertemu Naura. Waktu itu mereka masih merupakan mahasiswa baru dan belum kenal satu sama lain. Dimas menyelamatkan Naura dari kejaran mantan kekasihnya yang agresif dan hendak bermain fisik pada Naura.

“Jangan memukul rata semua laki-laki.” Ujar Dimas seraya menyerahkan air mineral pada Naura yang waktu itu sedang terduduk menangis.

“Segelintir orang aja yang agresif, sisanya enggak.”

Naura masih menangis. Ia lalu meminum air mineral pemberian Dimas.

“Laki-laki tulus mustahil buat pasangannya menderita apalagi main fisik.”

Kata-kata itu selalu diingat oleh Naura.

Sejak kejadian itu, pemikiran Naura tentang lelaki perlahan mulai berubah. Ia tidak lagi menganggap bahwa semua lelaki jahat dan ingin memanfaatkannya saja. Dia yakin lelaki tulus akan datang padanya suatu hari. Dan kini, Naura percaya orang itu Dimas.

“Gue sekarang mulai ngerti arti kata-kata Kei dulu.” Dimas yang telah selesai membersihkan monumen itu kemudian berdiri.

“Kata-kata Kei?”

“Lihat sekeliling, there are some things that are for you to deserve.” Ujar Dimas. “Dulu Kei pernah bilang itu.”

Iqbal mengangguk paham. Ia lalu berdiri dan menatap monumen Keisya. Pemandangannya sudah lebih baik dari sebelumnya walau cat yang mengelupas masih belum sempat diperbaiki. Biar begitu, sekarang tembok kecil itu jadi lebih bersih.

Dimas yang berada di samping Iqbal menoleh ke belakang. Ia menatap lekat-lekat ke arah tempat mobilnya dan mobil Iqbal terparkir. Di sana, berdiri seseorang yang tersenyum ke arahnya seraya memegang payung di tangan kanannya.

“Gue ingin hidup bareng dia.”

Orang yang berdiri sambil memayungi dirinya adalah Naura. Ia datang bersama Dimas menuju tempat itu untuk menyusul Iqbal yang telah tiba terlebih dahulu. Naura ada di situ untuk menghormati Keisya sebagai orang yang berharga bagi Dimas.

Dimas melangkah menuju tempat Naura.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba Dimas menghentikan langkahnya. Ia ingin menatap sekali lagi tempat kenangannya bersama Iqbal dan Keisya. Ketika ia berbalik, Dimas berkata dalam hati sambil memejamkan mata sejenak menghadap pohon rindang tua itu.

“Selamat tinggal masa lalu.”
0 0
0
Gadis Waktu Itu
21-01-2020 14:08
emoticon-Peace emoticon-Peace
0 0
0
Gadis Waktu Itu
25-01-2020 16:45
Misterius,tandai.
0 0
0
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
one-lunch-man
Stories from the Heart
cinta-terakhir-true-love
Stories from the Heart
jerat-iblis-cerbung-part-2
Stories from the Heart
sekeping-hati-anita
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
senja-di-penghujung-kisah
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia