Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
164
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e2463c588b3cb72821887f6/balung-kukang
Gerimis masih setia membasahi kota yang di sebut oleh kebanyakan orang sebagai metropolitan. Samar-samar terdengar suara lirih, namun sangat jelas di balik pintu kamar rumah keluarga Sastrowardoyo. Gadis berusia 20 tahun sedang terbaring tak berdaya di atas ranjang, hanya mata dan gerakan bibir lemahnya yang berucap. "Nenek ... sakit .. sakit .. sakit .. Nek." Air matanya telah lama tumpah seir
Lapor Hansip
19-01-2020 21:12

BALUNG KUKANG (the origin)

Past Hot Thread
"BALUNG KUKANG (the origin)"

By Diva & Deva

BALUNG KUKANG

Selamat membaca ...
Diubah oleh mahadev4
profile-picture
profile-picture
profile-picture
angghia dan 28 lainnya memberi reputasi
27
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 7 dari 8
BALUNG KUKANG
07-02-2020 18:39
belum update nech...lanjut donk
0 0
0
BALUNG KUKANG
18-02-2020 09:37
rekomen dibaca, lanjut mak
0 0
0
BALUNG KUKANG
18-02-2020 22:16
seru juga habis marathon...
lanjut gan...
salam teko etan...
tonggone water smell good...
0 0
0
BALUNG KUKANG
19-02-2020 06:32

DARAH TERAKHIR - CHAPTER 3

BALUNG KUKANG

Luna terus berlari di kegelapan malam sampai matanya terasa rabun, tubuh Luna jatuh tak sadarkan diri.

Dua sosok manusia yang sedari tadi mengawasinya dari jauh mulai berjalan mendekati tubuh Luna yang terkapar di tanah.

"Kamu berniat menolong Keturunan Handoyo, Pricillia?" suara pria di samping gadis bernama Pricillia Madrais.

"Aku harus tahu kebenarannya, meski harus menentang Keluarga Haryo," jawab Pricillia dingin.

"Keluargamu akan bernasib sama seperti Sastrowardoyo dan keturunannya," pria di samping Pricillia mulai serius.

"Apa Paman berfikir seluruh Keluarga Sastrowardoyo telah tewas?" Pricillia mulai memandang pria di samping nya dingin.

"Aku hanya mengingatkanmu, Nduk," pria itu menunduk.

"Semula aku berfikir, diam akan membuat semuanya baik-baik saja. Tetapi apa Paman lupa? Kakek memiliki ikatan erat dengan Keluarga Sastrowardoyo sebelum Haryo datang memonopoli seluruh Kepala Keluarga," jawab Pricillia.

Mbah Man yang mengasuh Pricillia dari kecil, sangat paham dengan sifat anak asuhnya.

Pria tua jangkung ini hanya takut jika hal yang tak di inginkan terjadi pada Pricillia.

"Paman, tolong bantu angkat, karena sebentar lagi Basuki Haryo Kusumo akan datang kesini," ujar Pricillia kepada Mbah Man yang sudah di anggap sebagai pamannya sendiri.

===

Luna mulai tersadar dari pingsan, tubuhnya masih terasa nyeri akibat serangan Kumala.

"Lebih baik kau beristirahat," kata Pricillia.

Di lihatnya Luna berjalan tertatih menyusuri lorong rumah, dengan tangan menopang di dinding kayu menyanggah tubuhnya yang masih lemas.

"Cih ... Madrais ... " Luna berkata dengan nada penuh kebencian.

"Orang yang akan mati sepertimu masih bisa berkata sombong," Pricillia menanggapi dengan santai.

"Aku menolongmu tidak cuma-cuma, Jawabanmu adalah imbalannya atas pertanyaan yang akan kuajukan," lanjut Pricillia.

"Haryo tak suka dengan penolakan Sastrowardoyo atas perluasan secara sepihak, tanah Pabrik Gula di Jawa Timur. Penggusuran secara sepihak di nilai merugikan pihak lain. Haryo tak peduli akan hal itu," kata Luna sebelum Pricillia sempat memberinya pertanyaan.

"Lalu, apa keluarga Sastrowardoyo semuanya sudah mati?" tanya Pricillia mulai berdiri.

Luna menggelengkan kepalanya pelan. "Fanny masih hidup ... ."

Mbah Man menghampiri Pricillia dan Luna, dengan dua teh panas di atas nampan yang di bawanya, lalu di letakkan di meja.

"Paman, apa kematian kedua orang tuaku ada sangkut pautnya dengan Keluarga Haryo?" Pricillia bertanya pada Mbah Man yang menunduk.

Agak lama Mbah Man terdiam seperti memikirkan sesuatu.

"Sebenarnya bukan Keluarga Sastrowardoyo yang pertama kali menjadi korban kekejian Haryo.
Orang tuamu menolak keputusan Haryo atas tanah rampasan yang akan di jadikan pabrik, lalu ..."

Mbah Man tak melanjutkan perkataannya, pria tua jangkung ini nampak berfikir sebelum melanjutkan.

"Lalu apa, Paman?" Pricillia mendesak Mbah Man, terdorong rasa penasaran oleh peristiwa kematian kedua orangtuanya.

"Keluarga Madrais juga mendapat teror kematian seperti Keluarga Sastrowardoyo. Kakekmu datang menolong tapi terlambat, hanya Kamu yang tersisa dari Trah Madrais," jelas Mbah Man, nampak matanya berkaca-kaca.

"Kenapa Paman tidak pernah menceritakan semuanya?" kata Pricillia dengan deraian air mata.

"Sebelum kakekmu meninggal, Beliau berpesan agar merahasiakan ini darimu. Agar kamu aman, Nduk," jawab Mbah Man pelan.

Luna mengambil dua gelas teh di meja lalu berjalan ke arah pintu, di tuangkannya tepat di depan pintu yang tertutup.

Pricillia dan Mbah Man heran dengan kelakuan Luna barusan.

"Bisakah kalian tunda dulu obrolan masa lalu kalian?" kata Luna seraya menutup gorden rumah.

Pricillia dan Mbah Man masih heran dengan perbuatan Luna.

"Sebentar lagi Basuki, suami Kumala akan datang ke sini. Apa kalian berdua yakin lolos dari maut keluarga Haryo?" Lanjut Luna.

"Apa maksudnya? mana mungkin dia tahu rumah ini?" ucap Pricillia berkilah, karena rumah ini jauh dari keramaian Kota, hanya dia dan Mbah Man yang tahu.

"Karna kau ikut campur dalam masalah ini, Keluarga Haryo juga pasti memburumu," jawab Luna dengan tatapan sinis.

"Tapi mereka ..."

"Lawan! atau kamu juga akan bernasib sama seperti kedua orangtuamu. Matikan lampu dan duduklah dengan tenang, dan kakek, bisakah mencarikan tanah kuburan 4 genggam," kata Luna dengan wajah serius.

Mbah Man keluar lewat pintu belakang, sementara Pricillia masih terlihat kebingungan.

"Jangan pernah buka pintu depan!" Lanjut Luna sebelum bergegas ke kamar.

Tak berapa lama suara mobil berhenti di depan Rumah, lalu keluar seorang pria tambun dari mobil, di ikuti dua orang di belakang yang memegang golok.

"LUNA HANDOYO! KELUAR!!"

Teriakan dengan nada marah dari Pria tambun bernama Basuki itu mengagetkan Pricillia.

"Brakk! Braaakk! Braakk!"

Pintu di gedor dari luar, hening, tak ada sahutan dari dalam rumah.

Pricillia bersembunyi di balik dinding, matanya tetap waspada mengawasi dari dalam.

"BRAAAKK!!"

Pintu di dobrak dari luar, Pricillia yang sejak tadi telah siap mengambil ancang-ancang ketika tubuh tambun Basuki dengan sombongnya memasuki rumah.

Pricillia mundur pelan-pelan, di lihatnya Basuki yang melotot mengerikan ketika baru melangkahkan kaki ke dalam rumah.

Basuki menggejang kedua tangannya, memegangi kepala lalu menjambak rambutnya kuat-kuat.

"Hahahaha wahahaha ..."

Basuki tertawa seperti orang kesurupan, dua orang yang menemani Basuki dari tadi mencoba menghentikan kelakuan aneh Basuki dengan memegangi kedua tangannya.

Sekali Dorong tubuh kedua orang itu terpental jauh.

Sedangkan di dalam kamar Luna terus meniup boneka kain buatannya dengan asap rokok.

Memasukkan semacam kerikil kecil kedalamnya, membuat Basuki semakin kesakitan memegangi kepalanya.

Luna meletakan boneka kain di atas meja lalu memakunya keras dengan wajah bengis.

Basuki berteriak kesakitan memegangi kepala, tanpa sadar Basuki membenturkan kepala nya ke tanah.

Darah mengalir dari kepala.

"HOEEEEEKKKK...!"

Muntahan darah yang keluar dari mulut Basuki mengakhiri penderitaannya.

Pricillia yang 0mengawasi dari dalam rumah bergidik ngeri. Kedua orang yang menemani Basuki membopong tubuhnya ke dalam mobil dengan perasaan ngeri.

===

Sesuai rencana Luna, malam itu juga Pricillia dan Mbah Man bersembunyi di dekat rumah Keluarga Haryo yang tampak ramai oleh pelayat.

Di depan rumah di dirikan tarub besar, saking banyaknya pelayat malam itu.

Basuki di kenal sebagai pengusaha muda, tak heran jika yang datang melayat sangat banyak.

Mbah Man sudah bergegas menyebar tanah kuburan berserta rajah dan darah ayam putih mulus di empat penjuru rumah keluarga Haryo.

Di dalam rumah besar Keluarga Haryo, di antara banyak Pelayat nampak Kumala sedang menangisi kepergian Suaminya.

Suara lantunan Ayat Suci Al-Qur'an dari Pelayat yang mengitari Jasad Basuki terbungkus kain kafan putih terus bergema.

Di luar rumah nampak para pemuda sedang sibuk membantu keperluan untuk pemakaman Basuki malam itu, sedangkan yang lain nampak mengobrol santai.

Kematian Basuki yang terkena Santet di rahasiakan oleh pihak Keluarga.

Pricillia masih mengamati dari jauh sambil menunggu Mbah Man selesai menanam Balak secara diam-diam.

===

Jauh dari kediaman Keluarga Haryo, harum dupa dan kemenyan semerbak menjadi satu.

Luna sudah siap dengan sesajen di atas meja lengkap dengan Ayam cemani beserta paku dan 5 buah belati.

Satu persatu di tanggalkannya pakaian yang melekat di tubuhnya.

Dengan senyuman menyeringai Luna meneteskan darah ayam cemani ke tempat yang telah ia sediakan.

Mbah Man sudah memberi tanda bahwa pekerjaannya telah selesai.

Lalu mereka berdua mengawasi dari jauh.

Di langit malam cahaya kuning melesat sangat cepat ke arah rumah Keluarga Haryo lalu menghantam atap rumah, di susul ratusan bola api yang terus berdatangan.

Pricillia yang mengetahui itu mengerti bahwa Luna sudah beraksi.

Di rumah Haryo, tubuh kaku Basuki tiba-tiba bergerak lalu berdiri kaku di ikuti tawa yang keluar dari mulut pocongan Basuki.

"HA HA HA HA ... "

Para pelayat yang tadinya khusyuk membaca doa berhamburan keluar dengan teriakan ketakutan mereka masing-masing.

Tenda yang baru sore di pasang roboh terkena angin kencang yang datang secara tiba-tiba.

Para pelayat terus berlarian keluar dari dalam rumah Haryo, bahkan tak sedikit yang jatuh pingsan.

Angin kencang di sertai guncangan bangunnya pocongan Basuki, memporak-porandakan rumah Haryo.

"HOOEEEKKK ...!!"

Darah keluar dari muntahan pocongan Basuki di sertai binatang melata menyeruak keluar dari dalam mulut, Ular, Kelabang, dan lain-lain.

Sedangkan Kumala di tarik masuk ke kamar oleh Sugeng, sang Kepala Keluarga.

===

Luna telah memulai teror pembalasan dendam.

Wajahnya mulai menghitam di sertai tawa mengerikan.

"Ini baru permulaan," ucap Luna dengan tatapan menyeringai.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
padasw dan 8 lainnya memberi reputasi
9 0
9
BALUNG KUKANG
19-02-2020 08:33
ini baru permulaan...awas kentang 😁😁😅😅🙏🙏...lanjutttt
profile-picture
mahadev4 memberi reputasi
1 0
1
BALUNG KUKANG
19-02-2020 09:49
Quote:Original Posted By ariefdias
ini baru permulaan...awas kentang 😁😁😅😅🙏🙏...lanjutttt


Kentang sih gak mungkin, kalau agak lama bisa jadi. Biasa gan, urusan dunia. Nyari segenggam berlian emoticon-Ngakak
profile-picture
brigadexiii memberi reputasi
1 0
1
BALUNG KUKANG
19-02-2020 11:51

DARAH TERAKHIR - Chapter 4 end

BALUNG KUKANG

Luna semakin kalap memasukan paku serta berbagai macam benda tajam ke dalam boneka berbentuk pocong dari tanah kuburan.

Sorot mata tajamnya menjadi semerah darah.

"Dalem kalimenganaken wujud manusia sejatos adalem demi setunggal dendam ingkang badhe Kerantos," Luna mengucap sepenggal mantra dengan linangan airmata darah.

Luna meniup salah satu boneka pocongnya.

"Dendamku bakal di bayar karo getih sing pungkasan, (Dendamku akan terbalas dengan Darah Terakhir)" lanjutnya, kemudian mulai menari dengan tubuh telanjangnya.

Sementara Sugeng Haryo Kusumo nampak tegang dengan serbuan santet kiriman Luna.

Berkali-kali usaha balasan santetnya mental akibat Balak yang di tanam Mbah Man. Berkali-kali pula Sugeng nampak menyeka keringat di dahinya.

Kosentrasinya buyar tatkala Kumala jatuh tak sadarkan diri dari meditasinya.

Suara jeritan Pelayat terus bersahut-sahutan, Pocong Basuki menjadi kengerian di malam buta.

Ki Jamal selaku abdi ndalem Keluarga Haryo memerintahkan beberapa orang mengikat Pocong Basuki di pilar depan.

"DUAAAAAAARRR !!!"

Suara yang mirip letusan ban mobil mengagetkan Ki Jamal.

Beberapa saat setelah suara letusan, para Centeng Keluarga Haryo roboh dengan wajah di penuhi borok.

Ki Jamal menyadari bahwa kondisi semakin parah, segera di raihnya Bambu Kuning di balik badannya. Darah menetes dari hidung Ki Jamal di sertai kesakitan pada bagian kepalanya.

Keluarga Haryo memang kuat tapi mereka meremehkan seorang Luna.
Sugeng belum sepenuhnya bersiap akan serangan ini.

Sebelum keadaan semakin kacau, ia mencoba mengeluarkan Keris pusaka peninggalan keluarganya, dengan cepat Sugeng menancapkan di lantai.

Asap putih mulai keluar dari bilah Keris yang di tancapkannya.
Sosok makhluk tinggi besar dan berbulu hitam muncul bersamaan dengan asap yang mulai menghilang.

Sugeng menundukkan kepala memberi hormat.

"GRRRR ... GRRRRRR ...!!"

Suara dari Keris Omyang Jimbenya.
Makhluk itu terlihat murka manakala Sugeng menceritakan ketidak mampuannya melawan seorang Luna.

"GRRAAAAAAAHHHH ...!!!"

Makhluk itu mengibaskan tangan kanannya.

Luna yang terus menari Sabuk Mangir yang menjelma teror terhadap Keluarga Haryo, terpental ke dinding akibat serangan balik Parewangan (Ingon-ingon) Keluarga Haryo.

Sugeng tampak senang dan boleh bernafas lega.

Sementara Luna sudah bersiap akan serangan balik dengan toples kaca yang ia pegang.

Luna menyayat telapak tangan kirinya.

Dengan senyuman menyeringai Luna mulai memanggil Batoro Karang tanpa memikirkan akibat fatal pada dirinya.

Darah mengucur di atas toples.

Lantai bergetar di iringi guncangan yang sangat kuat.

Getaran semakin keras hingga menimbulkan keretakan di dinding.

Lantai menyeruak ke atas, bahkan bagian atap rumah sudah jebol berakibat pecahan genting berhamburan di mana-mana.

Tubuh Luna terangkat dengan kaki meronta-ronta, kedua tangannya memegangi leher.

"SOPO KOWE ... ?!!!"

Suara tanpa wujud mencengkeram leher Luna hingga terangkat.

"Dendam!! Kau ... Sang Batoro Karang, harus membalas ... dendam kepada Keluarga Haryo dan ... keturunannya!!" ucap Luna dengan mata melotot hampir kehabisan nafas.

Makhluk itu melepaskan cekikannya dan menampakkan wujud aslinya.

"HARYOOO ... ?!!!" Makhluk di hadapan Luna berkata dengan tatapan bengis kepadanya.

Sebab Luna bukanlah Majikannya, yang berhak menyuruhnya hanya keturunan Sastrowardoyo, karena Batoro Karang adalah Ingon Keluarga tersebut.

"Perjanjianmu ..." ucap Luna mengingatkan makhluk bermata merah serta bertaring panjang di hadapan nya.

"GROOOOOOAAA ... !!!"

Batoro Karang mendongak ke atas lalu terbang ke langit dengan nyala api merah memenuhi sekujur badannya.

Perjanjiannya dengan Angel Sastrowardoyo adalah DARAH TERAKHIR Keluarga Haryo, sebelum keturunan ketiga Yusuf Sastrowardoyo menjadi majikannya.

Energi Luna terkuras dan membuat sekujur tubuh menjadi lemas, karena seharusnya bukan dia yang membangkitkan Makhluk mengerikan itu.

Angin kencang dengan hawa yang sangat panas mengiringi kedatangan Makhluk berbadan api yang melesat dari langit.

"BRAAAAAAAKKKK!!!"

Suara keras hantaman Batoro Karang menghancurkan sebagian rumah Haryo.

"GRAAAAAAAAA ...!!!!"

Cakar kaki sang Batoro Karang yang berubah wujud menginjak tubuh Ingon Omyang Jimbe Keluarga Haryo.

sorot mata api yang tajam itu menatap Ingon Keluarga Haryo penuh kemurkaan, sebelum akhirnya di hunjamkannya tangan bercakar ke tubuh Ingon Keluarga Haryo.

Teriakan kesakitan wujud besar hitam bertanduk membahana setelah berkali-kali cakar tajam menusuk seluruh tubuh Omyang Jimbe, sampai akhirnya kembali menjadi wujud asap.

"GETIH PUNGKASAN TEKAN HARYO, DADI PERTONDO KAWUJUD ANGKORO MURKO KU !!! (darah terakhir Haryo menjadi wujud kemarahanku)"

Makhluk berwujud api itu berkata sebelum akhirnya membinasakan seluruh penghuni rumah Haryo.

Dari Jauh Pricillia dan Mbah Man terus-menerus mendengar suara jeritan kematian dari seluruh Keluarga Haryo.

Dendam telah terbalaskan.

Tubuh kaku Luna terlihat bersandar di dinding, dengan wajah tersenyum terukir di bibirnya.

Pricillia berdiri di hadapan makam Luna, ia mengenakan kemeja warna putih dengan kerudung berwarna hitam.

Di taburkannya bunga di gundukan tanah makam Luna.

Ia tak pernah menyangka jika Luna membangkitkan Makhluk terkutuk dengan resiko nyawanya sendiri.

Seorang perempuan bertubuh tinggi, mengenakan jilbab berwarna putih menyusuri makam, berjalan ke arah Pricillia.

"Dendam di hatinya juga mengantarkannya pada kematian," ucap perempuan yang kini sudah duduk di samping makam Luna.

"Kau ... Fanny Sastrowardoyo?"

tanya Pricillia menoleh ke arah Fanny di sampingnya, serta mulai menaburkan bunga.

"Apa dia tersenyum di saat terakhirnya?" Fanny balik bertanya.

Pricillia hanya mengangguk pelan.
"Dendam hanya akan membuat hati tak pernah tenang," kata Fanny yang lantas bangkit berdiri, lalu berbalik meninggalkan Pricillia yang masih terpakudi tempatnya.

Dari jauh Kumala Haryo Kusuma tersenyum menyeringai, memperhatikan Fanny dan Pricillia.

Di malam saat semua Keluarga Haryo mati dengan leher berlubang serta tubuh tercabik cabik, Kumala yang mengandung anak Basuki mengalami pendarahan hebat dengan janin seperti di paksa keluar.
Sebelum sempat ia di bunuh, wujud Asli Batoro Karang itu telah menghilang.

Tamat

===

"Kami mengucapkan terima kasih kepada semua Readers yang telah meluangkan waktu membaca lanjutan 'Balung Kukang' ini. Sampai jumpa di Thread kami berikutnya BALUNG KUKANG RETURN.

Namun sebelum kita masuk ke kisahnya, kita ikuti dulu Kisah Spinoff dari Balung Kukang ini sebagai selingan"

🙏
profile-picture
profile-picture
profile-picture
redbaron dan 9 lainnya memberi reputasi
10 0
10
BALUNG KUKANG
19-02-2020 12:12
tamat kayak d film aja rasanya
profile-picture
mahadev4 memberi reputasi
1 0
1
BALUNG KUKANG
19-02-2020 12:25
galak banget ini, langsung ke perang2nya
profile-picture
mahadev4 memberi reputasi
1 0
1
BALUNG KUKANG
19-02-2020 14:10
Cepet banget selesainya gan.Btw,makasih atas ceritanya yg bikin penasaran.D tunggu kelanjutannya gan...emoticon-Toastemoticon-Toast
profile-picture
mahadev4 memberi reputasi
1 0
1
BALUNG KUKANG
19-02-2020 20:02

Misteri Desa Sumber Kunci - Chapter 1

BALUNG KUKANG

===

Stasiun Pasar Senen, Jakarta.

---

Kusandarkan tubuh di pelukan Mbok Asih, Wanita tua bertubuh gemuk dengan rambut di sanggul penuh uban.

Ibuku terpaksa mengungsikan aku kerumah Mbok Asih yang sudah bekerja puluhan tahun di rumah kami.

Aku tak sama sekali tak peduli dengan lalu lalang padatnya Stasiun, jiwaku terguncang dengan pembullyan yang kualami baru-baru ini.

Sorot mata mereka yang memandangku seperti sampah, serta cemoohan mereka terhadapku.

"Dasar anak Koruptor!" atau "Cantik, tapi hasil polesan uang Haram!"

Ayahku terduga Koruptor, seluruh Harta dan aset Keluarga di sita negara.

"Teng Teng Teng Teng ..."

Mbok Asih yang sedari tadi menenangkanku dengan pelukannya mulai membisikiku pelan.

"Nduk, Keretanya sudah datang. Ayok bersiap" Aku menyeka airmata yang terus meleleh di pipiku, sedangkan Mbok Asih sudah berdiri menenteng 3 tas besar.

Tak sampai hati melihat Mbok Asih kesusahan segera kuraih ransel besar berisi pakaian gantiku.

"Sudah, ndak apa-apa. Biar Mbok saja yang bawa," ucapnya dengan penuh kelembutan, tentu saja aku masih bersikeras memaksa.

Kereta pun meluncur, menjelajahi kota-kota dan aku yang sejak tadi melihat keluar jendela, dengan lamunanku sepanjang perjalanan.

Setiba di Stasiun dengan sebutan kota Dingin ini kami menaiki angkutan umum, menuju daerah asal Mbok Asih.

Berkali-kali Mbok Asih menanyakan, apakah Aku lapar? Aku hanya menggelengkan kepala pelan, nafsu makanku seakan hilang dengan datangnya cobaan yang Tuhan berikan.

Beberapa jam kemudian kami berhenti di pertigaan jalan.

Mbok Asih nampak menghampiri seseorang dalam mobil coklat tua dengan banyak cat yang mengelupas di seluruh bodi mobil.

Mbok Asih melambai ke arahku, dengan sedikit teriakan.

Aku menghampiri dengan langkah malas, karena Aku tahu perjalanan berikutnya menuju rumah Mbok Asih pasti menaiki mobil tua dan bobrok ini. BDan benar saja, Kami menaiki mobil tua dengan bunyi 'Kriieet Krieeett' saat melaju, dan sesekali 'GRODAKK' saat melewati jalanan berlubang.

Aku mencoba bersabar dengan keadaan saat ini.

Perjalanan terus di lanjutkan, kantukku telah hilang karena telah kuhabiskan dengan tidur waktu di kereta api.

Begitu banyak perkampungan yang masih asri di sini, tak seperti di tempat tinggalku yang penuh dengan polusi.

Kami sudah memasuki jalanan berbatu dengan ladang tebu di kanan kiri bahkan sesekali melewati Hutan pinus lebat.
Rasanya bokong serta pinggangku sudah kram menaiki mobil tua ini.

Mbok Asih bercerita panjang lebar dengan si sopir.

Sedangkan Aku hanya diam membisu sepanjang perjalanan yang entah kapan sampainya. Sebuah Gapura bertuliskan "SELAMAT DATANG DI DESA SUMBER KUNCI" mencuri perhatianku.

Gapura besar dengan lumut yang menempel.

Aku ingat, Mbok Asih pernah bercerita tentang Desa asalnya.

Setelah jalan menanjak, tibalah Kami di tempat tujuan. Aku membantu Mbok Asih menurunkan barang-barang.

"Mak Asih!" suara seorang gadis seumuranku menyapa, lalu mencium tangan Mbok Asih.

"Nduk, ini Novi, Cucu Mbok di sini," Mbok Asih mengenalkan Aku pada cucu perempuannya.

"Mbak Shepia dari Kota, ya?" sapanya ramah, dengan senyuman tulus ketika tangan kami bersalaman.

Aku tersenyum saat melihat wajah polos Novi yang cerewet.

"Wes to Nov, Mbak Shepianya lelah habis perjalanan jauh, Siapin air panas sana," Mbok Asih menghentikan kecerewetan Novi.

Paklek Han dan Mbak Eni menyambut kedatanganku. Aku terpaku di depan sebuah rumah tua dengan bangunan gaya kuno, milik Mbok Asih.

Melihat bagaimana Keluarga ini menumpahkan kerinduan mereka.

Memang Mbok Asih jarang sekali pulang, sejak menjanda Mbok Asih lebih memilih menetap bersama keluargaku di Kota, dengan mengasuhku sampai dewasa seperti sekarang.

Novi adalah anak Paklek Han, ia menaruh ranselku di kamarnya, mulai sekarang aku akan tidur bersamanya, bahkan dia rela berbagi lemari pakaian bersamaku.

Setelah Mandi dengan air hangat, melepas lelah sambil duduk di geek depan rumah, Aku coba mengecek gawaiku, sama sekali tak ada tanda garis sinyal. Kucoba memutar musik kesukaanku agar hatiku terasa lebih tenang. BKeadaan yang tengah ku hadapi ini membuatku hampir depresi.

"Makan dulu, Nduk" ucap Mbok Asih lembut dengan mengelus pelan punggungku, lalu memeluk. Seiring dengan keluarnya airmataku karena tak kuasa menanggung beban yang berbalik.

"Sabar yo, Nduk," ucap Mbok Asih lagi, kali ini Beliau ikutan menangis bersamaku.

Paklek Arip dan Mbak Kum tetangga sebelah rumah, datang dengan membawa kue sagu sebagai tanda perkenalan.

Mbak Eni dan Mbak Kum menemaniku mengobrol ringan, meski mulutku jarang mengucapkan kata-kata.

===

Aku Mulai berdamai dengan keadaan sejak kedatanganku, Geek depan rumah selalu ramai di datangi tetangga Mbok Asih, kadang Mbak Kum tetangga sebelah kiri rumah atau Bu Sum dan Ratna, anaknya.

Entah sengaja untuk menghiburku atau memang keramahan mereka.

Hari-hari kulalui dengan aktivitas malas-malasan.

Setiap pagi Mbok Asih selalu membuatkan Susu coklat kesukaanku, meski aku sudah mencoba melarangnya, Mbok Asih tetap bersikeras membuatkannya.

"Mbak Shepia, besok ikut Novi nonton Kuda Lumping, ya," kata Novi saat kami sudah dalam posisi berbaring di tempat tidur.

Kecerewetan Novi memaksaku membuka suara. Novi yang tak kenal kata lelah terus berusaha mengajakku mengobrol, terkadang ia membuatku tersenyum oleh tingkah lucunya saat berbicara. Malam itu Aku dan Nopi mengobrol bermacam-macam topik.

Samar-samar dari kejauhan terdengar suara Bambu yang di pukul, semakin lama semakin dekat.

Paklek Han yang tadi sudah masuk kamar bersama Mbak Eni keluar bersamaan. Paklek Han keluar ikut arak-arakan penduduk.

Selentingan berita yang kudengar Mbak Yuli, janda pemilik warung di Kampung hanyut di sungai.

Beberapa Warga termasuk Paklek Han melewati Jalan samping rumah menuju Kebun coklat lalu menuruni jalan menyusuri sungai bebatuan.

Malam menjadi semakin panjang, banyak warga keluar rumah termasuk wanitanya, meski hanya duduk depan rumah menanti dengan harap-harap cemas kabar Mbak Yuli yang hanyut itu.

Aku dan Nopi yang juga penasaran ikut keluar rumah. Di luar rumah sudah banyak warga berkumpul dekat Mushalla di depan rumah Mbok Asih, karena jalan menuju ke rumah melewati Mushala dan rumah depan milik Pak Jainul.

"Pocooong .. !!" teriakan salah satu warga dari rumah seberang jalan.

Bu Tarmi berlari keluar ke arah Mushalla, wajahnya pucat ketakutan, di sertai keringat dingin di dahinya.

Dengan terbata-bata Bu Tarmi menceritakan penampakan Pocong di rumahnya kepada Mbak Kum dan Bu Jainul.

Merek berusaha untuk menenangkan, karena suaminya Bu Tarmi ikut pergi mencari Mbak Yuli di sungai.

"Istighfar, Bu" kata Mbak Kum, pada Bu Tarmi sambil menyodorkan gelas berisi air putih.

Belum selesai ketegangan warga mendengar cerita Bu Tarmi, kali Ini teriakan Takbir bersahut-sahutan dari warga lain.

"Allahu Akbar ...!"

Suara teriakan itu begitu riuh di malam hari membuat malam semakin mencekam.

Mbak Rury dan Ratna berlari ke arah kami.

"Masha Allah, ono opo to jane?" tanya Mbok Asih pada Mbak Rury dan Ratna setelah dekat.

"Pocong, Mbok ... Pocong ...!!" kata Mbak Rury di sertai anggukan Ratna menegaskan dengan wajah panik.

"Mbak, itu apa yang di atas genteng?" kata Novi sambil menunjuk ke atap rumah Pak Jainul.

BALUNG KUKANG

Aku dan Mbak Eni saling pandang sebelum kami berhamburan memasuki rumah.

Setelah menutup Pintu depan, Mbok Asih memelukku dan Novi di dekapannya.

'Begitu nyata ...' fikirku, sesosok tubuh berbalut kain kafan, hanya menyisakan bagian wajah hitam di bagian hidung masih ada kapas.

Jantungku berdetak cepat seperti habis lari maraton, gemetar di badanku tak berhenti.

Ku peluk erat Mbok Asih dengan badan semakin gemetaran. Airmataku tak terbendung lagi saat itu, ketakutan akan hal semacam ini baru saja aku rasakan.

Mbak Eni mengambil selimut lalu menyelimuti tubuhku.

Mbok Asih nampak cemas dengan keadaan ini, sampai akhirnya adzan subuh berkumandang, aku baru tenang.

===

Bersambung
Diubah oleh mahadev4
profile-picture
profile-picture
profile-picture
redbaron dan 7 lainnya memberi reputasi
8 0
8
BALUNG KUKANG
19-02-2020 20:10
D mulai dah ketegangannya...mantabs..bikin merinding...emoticon-2 Jempolemoticon-Takut (S)
profile-picture
mahadev4 memberi reputasi
1 0
1
BALUNG KUKANG
19-02-2020 22:15
Pocoooonggg....
profile-picture
profile-picture
borrongrappo dan mahadev4 memberi reputasi
2 0
2
BALUNG KUKANG
20-02-2020 11:40
Cepet alurnya, ga dikasih napas langsung dikasih pecege 😀😀😀😀😀 ngeriiiiii
profile-picture
mahadev4 memberi reputasi
1 0
1
BALUNG KUKANG
20-02-2020 12:10
yes baru lagi
profile-picture
mahadev4 memberi reputasi
1 0
1
BALUNG KUKANG
20-02-2020 13:17
mantap gan....
bikin mie goreng ah, sambil nunggu update
profile-picture
mahadev4 memberi reputasi
1 0
1
BALUNG KUKANG
20-02-2020 18:39
lanjutttkeeuuunnnn
profile-picture
mahadev4 memberi reputasi
1 0
1
BALUNG KUKANG
20-02-2020 23:37
omahku bantur mas. pngen nang ngliyep malehan. ancen ga tau rono aku. kaet krungu iki. suwun info e mas. emoticon-Cendol Gan
profile-picture
mahadev4 memberi reputasi
1 0
1
BALUNG KUKANG
21-02-2020 09:58
copoooooong....
permen suguuuuussss....
aaaaaaaa....
profile-picture
mahadev4 memberi reputasi
1 0
1
BALUNG KUKANG
21-02-2020 11:42
Pembukaan plot cerita dah disuguhin poci. emoticon-Ngakak (S)
profile-picture
mahadev4 memberi reputasi
1 0
1
Halaman 7 dari 8
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
you-made-me-love-more
Stories from the Heart
the-perfect-darkness
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
Stories from the Heart
percintaan-dunia-gaib
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia