Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
213
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e11db4fa2d1957b5b433fd0/mereaksikan-kamu-dan-aku-menjadi-kita
Elok berjalan di bawah rindangnya pepohonan menuju kantin, tepatnya kantin kedua yang berada di tengah-tengah kantin lain. Ini merupakan kantin favorit karena sejak awal angkatannya lebih akrab dengan ibu kantin baik hati itu daripada dengan yang lain. Cewek itu berusaha menatap lurus ke depan ketika melewati sekumpulan cowok yang asik berkelakar. Namun ekor matanya tak kuasa menahan gerak untuk
Lapor Hansip
05-01-2020 19:49

Reaksi Hati

Past Hot Thread
icon-verified-thread
Bereaksi

Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
Gambar by : IztaLorie
Edit : Ibis Paint


Elok berjalan di bawah rindangnya pepohonan menuju kantin, tepatnya kantin kedua yang berada di tengah-tengah kantin lain. Ini merupakan kantin favorit karena sejak awal angkatannya lebih akrab dengan ibu kantin baik hati itu daripada dengan yang lain.

Cewek itu berusaha menatap lurus ke depan ketika melewati sekumpulan cowok yang asik berkelakar. Namun ekor matanya tak kuasa menahan gerak untuk menangkap segala aktivitas cowok bernama Elang.

Elok duduk di kursi belakang Elang. Sekedar untuk dapat menatap punggungnya sambil menikmati makan siang.

Rindu berjalan tergesa-gesa menghampiri Elok, memanggil namanya dua kali tapi cewek itu tetap bergeming seolah berada di dimensi lain.

Rindu menarik garis khayalan dari manik mata sewarna madu itu menuju ke depannya dan taulah apa yang membuat sahabatnya itu tiba-tiba menjadi tuli akan panggilan.

Dia menarik cepat tisu yang ada di tengah meja kayu, mengelapkan di bibir Elok dengan kasar. "Lap dulu air liurmu yang banjir ini."

Menghempaskan diri dengan kesal ke bangku yang berada di seberang Elok. Elok memberikan tatapan protes. Untung itu sahabatnya kalau nggak pasti sudah dihabisi.

"Ngapain sih? Aku kan baru makan, nggak ada air liur yang menetes seperti orang kelaparan yang belum makan tiga hari." Elok mengelap mulut menggunakan tisu yang direbut dari tangan Rindu. Menunjukkan pada cewek itu kalau tidak ada satu tetes air liur pun yang menempel pada permukaan tisu.

"Nggak salah kok kalau mengagumi ciptaaan Tuhan yang demikian memikat. Nggak usah malu mengakui kalau sedari tadi kamu lihatin Elang terus." Rindu memiringkan kepala lalu mengerling.

Elok menyibukkan diri dengan mengaduk kuah soto untuk mencari daging sapi yang sebenarnya tidak ada karena sudah dimakan semua. Apakah dia terlalu ceroboh sampai perasaannya terlihat begitu jelas.

Sudah dua tahun ini dia berusaha mengekang rasa sukanya dengan berpura-pura tidak mengenali Elang. Mereka bahkan tidak pernah berbicara satu kali pun. Ajaibnya, tidak ada yang menyadari keganjilan itu.

Kesedihan kembali merayapi Elok. Sungguh dirinya tak layak untuk berada di dekat Elang sejak kejadian naas ketika mereka lulus SD.

Kalau bukan karena sifat manjanya pasti sekarang Elang masih bisa bersama-sama dengan mamanya. Elok mendesah, memaksa menyuapkan nasi soto ke dalam mulut kecilnya.

Elok menutup wajah dengan kedua tangan, mengingat kembali kejadian itu membuat hatinya sedih. Betapa pengecutnya karena sampai sekarang tidak berani meminta maaf pada Elang. Menelan sendiri rasa bersalah itu.

"Jadi begini." Elang bangkit lalu memutari meja. Menekankan kedua tangan di atas meja, tubuhnya condong ke depan hingga semua teman-teman mengikuti.

Elang mengangkat dagu sebentar agar matanya bisa menatap pemandangan yang tadinya tidak bisa dilihat. Dahi berkerut ketika melihat objek pemandangan malah sedang menutup mata dengan tangan. Sedang sedihkah dia? Apakah kembali memikirkan masa lalu.

Elang kembali menunduk, melanjutkan percakapan yang tertunda. Namun otaknya memikirkan hal lain. Dia ingin kembali bisa dekat dengan Elok. Namun sejak awal mereka bertemu di kampus, cewek itu seperti menghindar.

Rindu menyentuh lengan Elok. "Kamu kenapa?"

Elok menyingkirkan tangan yang menutup wajah, menggeleng lemah. "Nggak papa," ujarnya sambil tersenyum lemah.

"Makannya sudah selesai kan? Sekarang sudah hampir waktunya praktik." Rindu berdiri setelah melihat jam tangan.

Elok juga ikut berdiri, berlari kecil mengejar Rindu yang sudah pergi duluan.

"Eh, maaf," kata Elok setelah tidak sengaja menabrak Elang yang tiba-tiba berhenti.

Elok tidak memperhatikan secarik senyum yang coba disembunyikan Elang karena bisa mendengar suaranya kembali.

Praktik kali ini ada di lantai tiga. Elok menyesuaikan napas ketika memasuki ruangan. Terkesiap ketika melihat Elang sudah terlebih dahulu sampai. Pasti dia lewat tangga yang satunya.

Elok mencoba mengabaikan fakta bahwa Elang sama sekali tidak terengah-engah seperti dirinya sendiri. Pasti cowok itu sering berolahraga.

Elok berjalan melewati meja Elang untuk menuju mejanya sendiri yang hanya selisih satu bangku.

Fahmi tersenyum lebar sambil melambaikan tangan. Dengan tidak sabar menarik tangan Elok hingga cewek itu terduduk di bangkunya.

Cowok itu membantu Elok mempersiapkan box yang berisi perlengkapan praktik. Elok hanya bisa tersenyum menerima perhatian itu. Elok menyadari perasaan Fahmi, tapi apa daya hatinya sudah tertambat ke orang lain.

"Sudah siap dengan pretest? Jangan sampai kamu tidak boleh mengikuti praktek karena nilai yang kurang." Fahmi mengerling sebelum menyiapkan perlengkapannya sendiri.

Dosen dan juga asisten sudah memasuki ruang laboratorium, tapi Elani masih belum kelihatan. Waktu teori tadi dia juga tidak kelihatan. Elok melirik bangku yang berada di samping.

"Sebelum memulai pretest, saya ada sedikit pengumuman. Elani sudah mengajukan surat berhenti kuliah. Elok, kamu pindah di sebelah Elang. Kalian jadi partner. Yang lain silakan bergeser satu bangku." Bu Weni mengawasi mahasiswa yang mulai mengemasi perlengkapan untuk pindah.

Elok memberesi perlengkapan dengan berat hati. Dua tahun ini sudah berusaha keras menghindari cowok satu itu. Lalu apa yang harus dilakukannya sekarang. Apa harus mulai minta maaf. Ini terlalu berat baginya.

Elang melirik Elok yang terlihat lesu. Berbanding terbalik dengan dirinya. Rasanya ingin bersorak keras-keras untuk menyerukan kegembiraannya.

Bola lampu di otak Elang menyala. Ini saatnya dia bertindak agar Elok kembali mau berbicara lagi dengannya. Ini akan menyenangkan, benak Elang tertawa bahagia.

"Jangan dikira aku mau menjadi partnermu," bisik Elang untuk Elok gusar.

Mata Elok membelalak hingga terlihat begitu bulat. Ini pertama kalinya Elang bicara padanya. Nada bicara itu membuat Elok merinding. Apakah cowok itu masih begitu marah.

"Jangan sampai menyusahkan." Peringatan kedua yang diucapkan oleh Elang menyulut emosi.

Elok bersedekap dengan dagu terangkat. "Siapa juga yang mau berpartner dengan cowok kaya kamu. Masih lebih baik Fahmi kemana-mana."

Kata-kata itu sukses mengalihkan dunia Elang karena saat ini cowok itu memandang Elok dengan tatapan membunuh. Elok tidak tahu kalau itu benar-benar menyinggung harga dirinya.

Pretest sudah usai, waktunya membuka telinga lebar-lebar untuk mendengar bu Weni memangggil nama mahasiswa. Kalau sampai namanya tidak dipanggil saat praktikum dimulai itu tandanya nilai terlalu rendah, tidak boleh ikut dan harus keluar dari laboratium.

Elok tersenyum ketika namanya dipanggil setelah Elang. Dia berderap maju untuk mengambil kunci laci. Masing-masing mahasiswa memiliki laci yang berisi set peralatan untuk praktikum. Harus bertanggung jawab dengan kebersihan dan kelengkapannya.

"Lho kok kuncinya macet," gerutu Elok sambil terus berusaha memutar ke kanan, tapi terasa berat.

Sebuah kunci diletakkan di meja Elok. Dia mendongak untuk memandang Fahmi yang tersenyum geli.

"Lok, kamu ambil kunci yang salah." Fahmi mengulurkan tangan untuk meminta kunci nomor lima.

Elok menepuk jidat pelan karena menyadari kesalahannya. Nyengir malu-malu, ini karena terbiasa mengambil kunci nomor lima padahal sekarang sudah duduk di nomor empat.

"Ceroboh."

Elok pura-pura tidak mendengar ejekan Elang itu. Mengeluarkan perlengkapan dari dalam laci lalu menata berurutan di atas meja. Sekarang tinggal mengambil mikroskop saja. Dia melangkah menuju rak penyimpanan mikroskop.

"Jangan salah lagi." Elang berjalan sambil memberi peringatan.

Elok meringis, untung diingatkan. Nyaris saja salah ambil mikroskop lagi.

Elok mengeluh dalam hati. Baru beberapa menit mereka menjadi partner tapi sudah mendengar kata-kata yang bikin bad mood. Tau gitu lebih baik tidak ikut praktik saja. Eh, sayang juga kalau harus mengulang semester gara-gara selalu tidak ikut praktik. Mereka kan sekarang jadi partner.

Anggap saja berpartner dengan cowok paling tampan di tingkat tiga. Eh, tunggu dulu, bukannya predikat itu disematkan pada Elang. Elok mendesah sebal.

Elang melirik cewek yang duduk di sampingnya. Cara ini rupanya cukup berhasil. Cewek itu pasti tidak tahan untuk menjawab setiap celaan yang terlontar dari mulutnya. Elok nggak bakal diam saja kalau terus dihina. Rupanya cewek masa kecilnya masih belum berubah banyak.

"Hari ini kita akan praktek hitung eosinofil. Di sini siapa yang punya alergi?" Bu Weni menunggu jawaban dari yang lain.

"Elok saja, Bu." Elang menunjuk Elok disertai dengan serigai liciknya.

"Memangnya Elok punya alergi apa?" Bu Weni mendekati meja mereka sambil membawa perlengkapan untuk mengambil sampel darah berupa vial yang berisi antikoagulan, spuit, alkohol swab, dan torniquet.

"Bukan alergi tapi cacingan. Lihat saja badannya yang kurus." Elang memandang Elok dari sudut mata hingga muncul kesan merendahkan.

"Ya sudah kalau begitu. Elang, kamu ambil darah Elok sebanyak 6 cc," perintah bu Weni.

Elok bergidik ngeri melihat serigai Elang. Ya ampun, 6 cc darah. Spontan menutup lengan kanan dengan memakai tangan kiri. Ini bukan mimpi kan? Semoga Elang bisa lancar mengambil darah.

"Ini tidak sakit kok." Elang memainkan alis sambil mengacungkan spuit 6 cc. Dalam hati menertawakan wajah panik Elok.

Elok menarik tangan saat Elang menggegam mantap. Elang melotot, dengan pandangan mengancam kembali menarik kembali lengan Elok agar posisinya pas. "Tenang aja."

Kata-kata dari Elang tidak membuatnya semakin santai malah makin tegang. Elok mengintip dari sela-sela telapak tangan yang harusnya digunakan untuk menutup wajah. Biasanya sih selalu berani kalau diambil darah. Namun kali ini plebotomisnya adalah Elang. Gimana kalau dia sengaja menusuk dua, tiga, atau bahkan empat kali untuk mengambil darah.

"Nggak sakit kan?" Elang menarik spuit dari lengan Elok dengan mulus.

Elok menggeleng lemah karena pikiran buruknya tidak terbukti. Bahkan tidak terasa sakit seperti kalau diambil oleh Fahmi. Dia meraih vial-vial yang sudah diisi Elang dengan darah, menutup dan mencampurnya dengan anti koagulan lalu membagikan ke pasangan-pasangan lain.


Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
Sumber : atlm.web.id


Semua langsung berkonsentrasi untuk memulai praktikum sedangkan Elok baru saja mulai karena harus membagi vial terlebih dahulu.

Elang mengangkat tangan tanda dia sudah menemukan sel eosinofil. Bu Weni mendekat untuk melihat kamar hitung lalu memberikan tanda tangan di buku laporan. Elang menghitung jumlah Eosinofil yang ditemukan lalu segera mengumpulkan buku itu.

"Cepat seperti biasa." Bu Weni memuji Elang yang pertama kali menyelesaikan praktikum.

Keringat dingin mulai membasahi telapak tangan Elok yang masih berkutat dengan mikroskop. Mencari sosok eosinofil yang berbentuk seperti kacamata.

"Lima menit lagi. Segera bersihkan peralatan!" Suara Bu Weni membuat Elok semakin gugup.

Elang sudah selesai membereskan meja, malah duduk diam sambil terus memandangi. Enggan untuk membantu biar cewek itu semakin kesal.

Fahmi yang terakhir mengangkat tangan. Setelah memberi tanda tangan, Bu Weni menghampiri Elok untuk mengecek mikroskop dan memang tidak menemukan apa pun.

"Fahmi, tolong pinjamkan bilik hitungmu buat Elok," pinta bu Weni.

"Kamu cacingan ya? Sampai-sampai aku dapat banyak eosinofil. Minum obat cacingan biar gemukan sedikit," ejek Elang, tapi cewek itu masih berpura-pura tidak mendengar.

Elang tahu apa yang bisa membuat cewek itu bereaksi. "Jangan-jangan kamu punya asma. Ngik ... ngik ... ngik...." Elang memegang dada lalu berpura-pura menarik napas dengan kepayahan.

"Nggak lucu," gerutu Elok, membuang muka.

"Kalau begitu pasti alergi." Elang mencondongkan badan sambil menunjuk muka Elok.

Elok mengabaikan ucapan itu. Menyibukkan diri untuk mengemasi tas agar tidak perlu melihat wajahnya.

"Alergi kan?" Elang mengulangi pertanyaan lalu menyikut cewek itu.

Elok memberikan tatapan peringatan. Elang semakin merasa kegirangan. Wajah cewek itu malah jadi semakin menarik. Mungkin ini bisa dijadikan senjata untuk membuat cewek itu terus berbicara padanya.

Fahmi menghampiri. "Elok, ayo keluar."

Elok dan Fahmi berjalan bersisian. Mereka memang kompak sebagai partner karena sudah dari tingkat satu bersama. Sayangnya sekarang mereka terpisah.

Hampir saja Elok duduk di sebelah Fahmi. Namun cowok itu tersenyum geli sambil menunjuk kursi sebelah Elang. Elok menghembuskan napas kasar. Perubahan ini benar-benar membuatnya kacau. Capek hati dan capek pikiran kalau terus berada di dekat Elang.

"Cacingan, asma, alergi?" ejek Elang dengan nada riang.

Elok merasa heran, tumben-tumbenan cowok satu ini banyak bicara. Biasanya tampak cool. Ini sangat menyebalkan.

"Iya, aku punya alergi," ujar Elok ketus. Pada akhirnya memang harus menghadapi cowok itu.

Elang menyunggingkan senyum penuh kemenangan. Mendekati agar dapat mendengar lebih jelas. "Aku benar kan? Kamu alergi apa?" Dia memainkan alis demi melihat wajah Elok yang semakin memerah.

"Uhuk, uhuk, alergi kamu." Elok pura-pura batuk untuk menggoda. "Alergi dekat-dekat sama manusia bernama Elang." Kilat jail muncul dari manik sewarna madu.





Kalau suka sama thread satu ini tolong bantu share ya. Biar lebih banyak yang baca dan Lori semakin semangat nulisnya. Selamat membaca lanjutannya.


Btw, Lori kan ada rencana cetak cerita ini lewat event Samudera Printing Nah, Samudera Printing ini ngadain Giveaway lho. Yuk ikutan. Kali aja kamu yang menang.

Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
Diubah oleh IztaLorie
profile-picture
profile-picture
profile-picture
cyb3r_thu6 dan 57 lainnya memberi reputasi
56
Tampilkan isi Thread
Masuk untuk memberikan balasan
Halaman 6 dari 7
Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
25-02-2020 22:14

Reaksi Hati

Elang Bucin 1



Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
Gambar by : IztaLorie
Edit : Ibis Paint


Maafkan sampai lama nggak update, update tipis-tipis dulu ya.

...

"Aku maafkan kalau kamu bisa bawa kita lebih cepat sampai ke rumahmu."

Perkataan Rindu itu membuat Bagus bergegas menuju ke sepeda. Rindu juga sudah siap membonceng.

"Yang kalah harus traktir sarapaaaannnn," teriak Rindu ketika mereka mulai melaju.

Sepeda kedua ikut melaju dengan kecepatan yang lebih besar. Elok bahkan sempat menjulurkan lidah untuk mengejek Rindu ketika Elang melewati mereka.

"Ayo, Mas Bagus. Lebih cepat." Rindu yang merasa tersaingi memberi dorongan kepada Bagus. Hal itu tidak sia-sia karena mereka kembali memimpin.

"Ayolah, Lang. Kita harus lebih cepat," pinta Elok.

Namun Elang memiringkan kepala dan sudut bibir terangkat secara singkat sebelum akhirnya berbelok ke kiri.

Elok menoleh ke belakang, tangannya terus menunjuk ke belakang. "Rumahku ke arah sana. Kenapa kita berbelok ke kiri?"

Sepeda itu terus melaju semakin kencang ke arah berlawanan dengan sepeda Bagus hingga akhirnya berhenti di pertigaan.

"Beli nasi liwet buat mereka sekalian. Kita kan bakal kalah." Elang memainkan alis.

Mulut Elok membulat lalu tersenyum. "Pintar juga kamu."

"Kali aja mereka beneran berjodoh. Kita kan harus memberi kesempatan," ujar Elang.

Sementara itu Bagus dan Rindu menunggu di teras rumah. Duduk berjauh-jauhan.

"Mereka kok lama ya, Mas?" Rindu kembali menoleh untuk memperhatikan jalan. Berharap segera melihat kedua temannya seraya memaki dalam hati karena dihadapkan pada situasi canggung.

Di seberangnya Bagus yang sedang mengipasi diri menggunakan koran tiba-tiba berdiri untuk menghampiri Rindu.

Rindu menelan ludah dengan susah payah ketika memperhatikan langkah Bagus.

...

Mohon maaf harus dipotong sampai sini. Cerita ini dalam tahap revisi untuk buku cetak. Silakan kunjungi instagram Galeri_lori untuk informasi selanjutnya. Terima kasih sudah setia membaca Reaksi Hati.

...


...





Indeks cerita dapat di klik di sini.


Kalau suka sama thread satu ini tolong bantu share ya. Biar lebih banyak yang baca dan Lori semakin semangat nulisnya. Selamat membaca lanjutannya.



Btw, Lori kan ada rencana cetak cerita ini lewat event Samudera Printing. Nah, Samudera Printing ini ngadain Giveaway lho. Yuk ikutan. Kali aja kamu yang menang.


Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
Diubah oleh IztaLorie
profile-picture
jiyanq memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
25-02-2020 23:51
kaga diksh jatah double atau triple update nih sis ? wkkwkkw
profile-picture
IztaLorie memberi reputasi
1 0
1
Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
26-02-2020 16:11
Quote:Original Posted By ningka
hadir akak

Siap

Quote:Original Posted By novaarlisanty
Mampir lagi, menunggu kisah selanjutnya, Jan pakek lama ya Kaka

Aduh maaf nggak bisa janji. Lori baru nggak bisa fokus nulis. Maaf.

Quote:Original Posted By Puspita1973
Suka kalimat closing nya. Ajib

Kilat jail muncul dari manik sewarna madu.

Berasa romantis gimana gitu ya emoticon-Malu

Quote:Original Posted By Enisutri
nanti mampir lagi masih part 1 yang aku baca.

Oke, siap sis

Quote:Original Posted By qoni77
Sip Gan

emoticon-Cendol Gan

Quote:Original Posted By novaarlisanty
hadirooh akak, lanjuuut yaa ceritanya, diriku penisiriin emoticon-Betty

Tolong sabar menunggu

Quote:Original Posted By handayani.tika
Udah banyak juga ceritanya. Hmm ntar ya, pelan-pelan dulu ane bacanya. Biar fokus
emoticon-Ngakak

Siap, sis

Quote:Original Posted By jiyanq
Ternyata jadi pacar idola kampus as a gak enaknya

Begitulah kalau banyak yang sirik dan iri

Quote:Original Posted By krisnhawan
kaga diksh jatah double atau triple update nih sis ? wkkwkkw

Waduh, ga janji ya.
profile-picture
qoni77 memberi reputasi
1 0
1
Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
26-02-2020 19:13
Quote:Original Posted By IztaLorie
Siap


Aduh maaf nggak bisa janji. Lori baru nggak bisa fokus nulis. Maaf.


Berasa romantis gimana gitu ya emoticon-Malu


Oke, siap sis


emoticon-Cendol Gan


Tolong sabar menunggu


Siap, sis


Begitulah kalau banyak yang sirik dan iri


Waduh, ga janji ya.


Done yah cendol
profile-picture
IztaLorie memberi reputasi
1 0
1
Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
26-02-2020 21:18
Quote:Original Posted By jiyanq
Selama ceritanya bagus dan penyajiannya menarik it's ok,sis. emoticon-Toast


Bener banget, ane juga jadi suka hehe
profile-picture
IztaLorie memberi reputasi
1 0
1
Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
01-03-2020 08:38
jadi ingat pelajaran kimia ya? elang dan elok, ceritanya menarik...
profile-picture
IztaLorie memberi reputasi
1 0
1
Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
03-03-2020 19:54
Singgah, singgah singgah lagi emoticon-Wow
profile-picture
IztaLorie memberi reputasi
1 0
1
Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
04-03-2020 19:36
Mampir untuk yang kesekian kalinya. emoticon-Leh Uga
profile-picture
IztaLorie memberi reputasi
1 0
1
Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
04-03-2020 20:13
Elang,Elok! Maen yuk..
profile-picture
IztaLorie memberi reputasi
1 0
1
Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
13-03-2020 16:44
Hello...
profile-picture
IztaLorie memberi reputasi
1 0
1
Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
26-03-2020 17:30

Reaksi Hati

Elang Bucin 2



Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
Gambar by : IztaLorie
Edit : Ibis Paint


...

Hai, halo. Apa kabar? Gimana perkembangan corona di daerah kalian masing-masing? Semoga saja cepat berlalu.

Buat tenaga kesehatan dan juga pekerja lain yang bekerja di kesehatan. Tetap semangat dan semoga kalian dalam lindungan Tuhan agar dapat membantu mengatasi masalah corona ini.

Tentu saja Lori berharap semuanya juga sehat-sehat saja.

Mohon maaf kalau tulisan kali ini agak nggak nyaman yang baca. Lori sedikit kesulitan menuangkan ide dalam tulisan.

...


Elang pernah merasakan berbagai warna-warni emosi di dalam hidupnya, tapi semua itu menghilang ketika ibunya meninggal. Sekarang dia bersyukur bisa merasakan berbagai emosi karena kembali dekat dengan Elok.

Namun kali ini dia tidak menyukai emosi yang diperlihatkan oleh Elok. Crystal benar-benar tahu apa yang menjadi kesukaan Elok dan merenggutnya hanya agar kekasihnya bersedih.

Lamunan Elang buyar karena gerakan Elok yang tiba-tiba berdiri lalu berlari. Cemas, itulah yang dirasakan olehnya ketika melihat air mata Elok berhenti mengalir dan matanya memancarkan tekad yang tidak dapat dimengerti.

Ternyata Elang salah mengartikan pancaran mata itu. Dikira hendak meluapkan emosi pada Crystal, ternyata Elok malah berlari ke bagian poliklinik.

Sosok yang diikuti sedang berdiri membeku melihat ke bagian dalam tempat sampah. Elang berhenti berlari lalu berjalan perlahan-lahan menghampiri.

Menepuk-nepuk pundak Elok hingga akhirnya meraih tubuh lemas itu ke dalam pelukannya. Suara isak tangis memilukan terdengar menyayat hati.

Elang membantu Elok duduk di bangku terdekat. Tidak berani berkata apa-apa, hanya menunggu tangis itu menjadi reda.

Sepuluh menit kemudian mereka sudah berjalan kembali ke ruang kuliah. Elang sungguh khawatir karena kekasihnya berjalan dengan menunduk tanpa berkata apa-apa.

Sesampainya di ruang kelas, Rindu dan Hera menghampiri Elok lalu mengajaknya duduk di tempat biasa.

Kali ini Elang memilih duduk di barisan belakang mereka agar dapat mengawasi Elok. Dia mendesah kecewa, cewek itu bahkan tidak menyadari kalau Elang berpindah tempat duduk.

Elang mengangkat kepala ketika melihat Hera dan Rindu meninggalkan Elok karena dicari oleh junior. Namun dia memutuskan tetap di tempatnya dan membiarkan Elok menenangkan diri.

Ketenangan itu tak lama karena Wendi mendatangi Elok. Terlihat Elok merogoh ransel untuk mengeluarkan amplop cokelat lalu menyerahkannya pada Wendi.

Tak berapa lama Wendi kembali menghampiri Elok bersama dengan Crystal, Jesi, dan Gandi. Wajah Wendi memerah lalu mulai mendorong bahu Elok hingga kaki kursi terangkat beberapa cm lalu kembali ke posisi semula.

Suara teriakan Wendi membuat semua mata memandang ke arah mereka.

"Uangnya sudah pas, tadi kan kamu sudah menghitungnya sebelum pergi," ujar Elok membela diri.

"Bohong! Siapa yang lihat aku menghitung uangnya? Kamu? Kamu?" Wendi mulai menunjuk satu demi satu penonton itu, tapi mereka menggeleng.

"Tidak ada saksi, kesimpulannya adalah kamu yang sudah mengambil uang untuk perayaan ulang tahun yayasan itu hingga jumlahnya tidak sesuai. Dasar..." Wendi tidak jadi meneruskan caci maki karena Gandi terus menerus mencolek dan menarik lengannya untuk menarik perhatian.

...

Mohon maaf harus dipotong sampai sini. Cerita ini dalam tahap revisi untuk buku cetak. Silakan kunjungi instagram Galeri_lori untuk informasi selanjutnya. Terima kasih sudah setia membaca Reaksi Hati.

...


...



Indeks cerita dapat di klik di sini.


Kalau suka sama thread satu ini tolong bantu share ya. Biar lebih banyak yang baca dan Lori semakin semangat nulisnya. Selamat membaca lanjutannya.


Btw, Lori kan ada rencana cetak cerita ini lewat event Samudera Printing. Nah, Samudera Printing ini ngadain Giveaway lho. Yuk ikutan. Kali aja kamu yang menang.


Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
Diubah oleh IztaLorie
profile-picture
jiyanq memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
26-03-2020 17:47
Quote:Original Posted By qoni77
Done yah cendol

emoticon-Cendol Ganemoticon-Cendol Gan terima kasih cendol nya, seger nih.

Quote:Original Posted By silwanus11
Bener banget, ane juga jadi suka hehe

Syukurlah kalau jadi suka. Udah baca sampai selesai kan?

Quote:Original Posted By uliyatis
jadi ingat pelajaran kimia ya? elang dan elok, ceritanya menarik...

Pelajaran yang asik kan? Love kimia deh 😍💖

Quote:Original Posted By sofiayuan
Singgah, singgah singgah lagi emoticon-Wow

Makasih udah rajin singgah

Quote:Original Posted By sofiayuan
Mampir untuk yang kesekian kalinya. emoticon-Leh Uga

Makasih sudah sering mampir

Quote:Original Posted By jiyanq
Elang,Elok! Maen yuk..

Jangan lah, jaga jarak dulu. Mainnya online aja biar ga kena covid19.
profile-picture
jiyanq memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
26-03-2020 17:47
Quote:Original Posted By jiyanq
Hello...


Hai, hai, helo. Apa kabar?
profile-picture
jiyanq memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
27-03-2020 07:50
Quote:Original Posted By jiyanq
Setuju! emoticon-Toast


Quote:Original Posted By jiyanq
Alhamdulillah....Selalu lebih baik setelah ada kabar dr ente,sis.


Waduh jadi tersanjung emoticon-Malu
profile-picture
jiyanq memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
27-03-2020 07:58
Quote:Original Posted By IztaLorie

Syukurlah kalau jadi suka. Udah baca sampai selesai kan?


Udah gan..
profile-picture
IztaLorie memberi reputasi
1 0
1
Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
27-03-2020 14:47
Quote:Original Posted By jiyanq
Bukan tersandung,kan? emoticon-Ngakak


emoticon-Ngakakemoticon-Ngakak kalau tersandung ntar sakit
profile-picture
jiyanq memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
27-03-2020 17:30
Quote:Original Posted By jiyanq
Iya juga ya. Kecuali kesandung cinta kaya Elang n Elok.

Btw trit yg satunya udah updet blm?


Belum. Baru nulis ga selesai-selesai nih. Gara-gara corona, semua jadwal jadi diundur. Akreditasi rumkit juga mundur, agak lumayan longgar bisa nulis. Semoga aja nggak ada kasus dan nggak jadi rumkit rujukan tempat kerjaku.
profile-picture
jiyanq memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
27-03-2020 19:13
Quote:Original Posted By jiyanq
Wow, kerja d rumkit? Semangat terus, jangan kasih kendor.. emoticon-Jempol


Terima kasih dukungannya
profile-picture
jiyanq memberi reputasi
1 0
1
Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
30-03-2020 10:31
sama-sama kak
profile-picture
IztaLorie memberi reputasi
1 0
1
Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
21-04-2020 23:42

Reaksi Hati

Elang Bucin 3



Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
Gambar by : IztaLorie
Edit : Ibis Paint

...

Hai apa kabarnya? Gimana perkembangan corona di daerah kalian? Semoga tidak semakin bertambah kasus yang positif dan semakin banyak yang sembuh.

Kalian masih setia #dirumahaja atau masih harus beraktivitas di luar? Jangan lupa selalu patuhi anjuran pemerintah agar penyebaran corona tidak semakin meluas.

Lori doakan kita semua tetap sehat sehingga pandemi ini cepat berlalu. Maaf kalau update tengah malam, sepertinya Lori kembali jadi nocturnal lagi nih. Selamat menikmati kisah Elang dan Elok.

...

"Elok!" Suara Bagus dari arah ruang tamu membuat Elok melompat bangun lalu buru-buru menjauh dengan kikuk dari Elang.

Elok tak habis pikir, bagaimana bisa cowok tercinta yang tampan itu dengan santainya menyilangkan kaki lalu mulai mengunyah bagian donat yang sudah digigitnya. Sama sekali tidak merasa gugup seperti dirinya.

"Lok, kok kamu nggak jawab sih?" protes Bagus ketika melihat Elok berdiri menghadap sudut dinding, membelakanginya.

"Eh, kamu juga ada di sini ya, Lang?" Bagus mengalihkan perhatian karena mendengar bunyi halaman buku yang dibalik.

Perlahan-lahan Elok membalikkan badan sambil menunjuk ke mulutnya yang masih asik bergoyang. "Aku masih ngunyah donat, jadi nggak bisa jawab."

Bagus mencomot sebuah donat lalu duduk di sebelah kiri Elang. "Makan donat kok lihatin dinding. Nggak pilih lihat Elang saja?"

Rasanya ingin mengubur kepala dalam tanah agar pipi memerahnya tidak terlihat jelas oleh Bagus.

"Mas cuma mau ngasih ini ke kamu. Kalau-kalau belum makan." Bagus meletakkan bungkusan ke meja makan.

Samar-samar bau ikan bakar mulai memenuhi indera penciuman Elok. Wajahnya berseri-seri lalu membungkuk untuk mencium pipi Bagus.

"Mas harus lembur malam ini, tadinya sempat cemas karena kamu sendirian, tapi sepertinya itu hal yang tak perlu karena ada Elang. Jangan lupa usir Elang pergi sebelum jam sembilan malam dan kunci pintu." Bagus menuju ke kamarnya untuk mengambil baju ganti.

Elang membuka bungkusan itu. "Bagaimana kalau kita makan dulu."

Jawaban dari Elok datang dalam wujud piring yang diletakkan tepat di depan Elang.

Elang terkekeh. "Sepiring berdua nih ceritanya?"

Kedipan yang menggemaskan dari Elok cukup untuk membalas godaan Elang. Membuat Elang harus menahan godaan untuk mencium pipi Elok untuk menyalurkan hasratnya.

...

Mohon maaf harus dipotong sampai sini. Cerita ini dalam tahap revisi untuk buku cetak. Silakan kunjungi instagram Galeri_lori untuk informasi selanjutnya. Terima kasih sudah setia membaca Reaksi Hati.

...



...

Nb :
Titrasi ialah salah satu metode kimia untuk dapat menentukan konsentrasi suatu larutan dengan cara mereaksikan sejumlah volume larutan itu terhadap sejumlah volume larutan lain yang konsentrasinya itu sudah diketahui. 

Buret adalah sebuah peralatan gelas laboratorium berbentuk silinder yang memiliki garis ukur dan sumbat keran pada bagian bawahnya. Ia digunakan untuk meneteskan sejumlah reagen cair dalam eksperimen yang memerlukan presisi, seperti pada eksperimen titrasi.



Indeks cerita dapat di klik di sini.


Kalau suka sama thread satu ini tolong bantu share ya. Biar lebih banyak yang baca dan Lori semakin semangat nulisnya. Selamat membaca lanjutannya.


Btw, Lori kan ada rencana cetak cerita ini lewat event Samudera Printing. Nah, Samudera Printing ini ngadain Giveaway lho. Yuk ikutan. Kali aja kamu yang menang.


Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
Diubah oleh IztaLorie
profile-picture
jiyanq memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Halaman 6 dari 7
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
denting-waktu-dalam-ruang-sepi
Stories from the Heart
tenung-based-on-true-story
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Heart to Heart
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia