Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
213
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e11db4fa2d1957b5b433fd0/mereaksikan-kamu-dan-aku-menjadi-kita
Elok berjalan di bawah rindangnya pepohonan menuju kantin, tepatnya kantin kedua yang berada di tengah-tengah kantin lain. Ini merupakan kantin favorit karena sejak awal angkatannya lebih akrab dengan ibu kantin baik hati itu daripada dengan yang lain. Cewek itu berusaha menatap lurus ke depan ketika melewati sekumpulan cowok yang asik berkelakar. Namun ekor matanya tak kuasa menahan gerak untuk
Lapor Hansip
05-01-2020 19:49

Reaksi Hati

Past Hot Thread
icon-verified-thread
Bereaksi

Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
Gambar by : IztaLorie
Edit : Ibis Paint


Elok berjalan di bawah rindangnya pepohonan menuju kantin, tepatnya kantin kedua yang berada di tengah-tengah kantin lain. Ini merupakan kantin favorit karena sejak awal angkatannya lebih akrab dengan ibu kantin baik hati itu daripada dengan yang lain.

Cewek itu berusaha menatap lurus ke depan ketika melewati sekumpulan cowok yang asik berkelakar. Namun ekor matanya tak kuasa menahan gerak untuk menangkap segala aktivitas cowok bernama Elang.

Elok duduk di kursi belakang Elang. Sekedar untuk dapat menatap punggungnya sambil menikmati makan siang.

Rindu berjalan tergesa-gesa menghampiri Elok, memanggil namanya dua kali tapi cewek itu tetap bergeming seolah berada di dimensi lain.

Rindu menarik garis khayalan dari manik mata sewarna madu itu menuju ke depannya dan taulah apa yang membuat sahabatnya itu tiba-tiba menjadi tuli akan panggilan.

Dia menarik cepat tisu yang ada di tengah meja kayu, mengelapkan di bibir Elok dengan kasar. "Lap dulu air liurmu yang banjir ini."

Menghempaskan diri dengan kesal ke bangku yang berada di seberang Elok. Elok memberikan tatapan protes. Untung itu sahabatnya kalau nggak pasti sudah dihabisi.

"Ngapain sih? Aku kan baru makan, nggak ada air liur yang menetes seperti orang kelaparan yang belum makan tiga hari." Elok mengelap mulut menggunakan tisu yang direbut dari tangan Rindu. Menunjukkan pada cewek itu kalau tidak ada satu tetes air liur pun yang menempel pada permukaan tisu.

"Nggak salah kok kalau mengagumi ciptaaan Tuhan yang demikian memikat. Nggak usah malu mengakui kalau sedari tadi kamu lihatin Elang terus." Rindu memiringkan kepala lalu mengerling.

Elok menyibukkan diri dengan mengaduk kuah soto untuk mencari daging sapi yang sebenarnya tidak ada karena sudah dimakan semua. Apakah dia terlalu ceroboh sampai perasaannya terlihat begitu jelas.

Sudah dua tahun ini dia berusaha mengekang rasa sukanya dengan berpura-pura tidak mengenali Elang. Mereka bahkan tidak pernah berbicara satu kali pun. Ajaibnya, tidak ada yang menyadari keganjilan itu.

Kesedihan kembali merayapi Elok. Sungguh dirinya tak layak untuk berada di dekat Elang sejak kejadian naas ketika mereka lulus SD.

Kalau bukan karena sifat manjanya pasti sekarang Elang masih bisa bersama-sama dengan mamanya. Elok mendesah, memaksa menyuapkan nasi soto ke dalam mulut kecilnya.

Elok menutup wajah dengan kedua tangan, mengingat kembali kejadian itu membuat hatinya sedih. Betapa pengecutnya karena sampai sekarang tidak berani meminta maaf pada Elang. Menelan sendiri rasa bersalah itu.

"Jadi begini." Elang bangkit lalu memutari meja. Menekankan kedua tangan di atas meja, tubuhnya condong ke depan hingga semua teman-teman mengikuti.

Elang mengangkat dagu sebentar agar matanya bisa menatap pemandangan yang tadinya tidak bisa dilihat. Dahi berkerut ketika melihat objek pemandangan malah sedang menutup mata dengan tangan. Sedang sedihkah dia? Apakah kembali memikirkan masa lalu.

Elang kembali menunduk, melanjutkan percakapan yang tertunda. Namun otaknya memikirkan hal lain. Dia ingin kembali bisa dekat dengan Elok. Namun sejak awal mereka bertemu di kampus, cewek itu seperti menghindar.

Rindu menyentuh lengan Elok. "Kamu kenapa?"

Elok menyingkirkan tangan yang menutup wajah, menggeleng lemah. "Nggak papa," ujarnya sambil tersenyum lemah.

"Makannya sudah selesai kan? Sekarang sudah hampir waktunya praktik." Rindu berdiri setelah melihat jam tangan.

Elok juga ikut berdiri, berlari kecil mengejar Rindu yang sudah pergi duluan.

"Eh, maaf," kata Elok setelah tidak sengaja menabrak Elang yang tiba-tiba berhenti.

Elok tidak memperhatikan secarik senyum yang coba disembunyikan Elang karena bisa mendengar suaranya kembali.

Praktik kali ini ada di lantai tiga. Elok menyesuaikan napas ketika memasuki ruangan. Terkesiap ketika melihat Elang sudah terlebih dahulu sampai. Pasti dia lewat tangga yang satunya.

Elok mencoba mengabaikan fakta bahwa Elang sama sekali tidak terengah-engah seperti dirinya sendiri. Pasti cowok itu sering berolahraga.

Elok berjalan melewati meja Elang untuk menuju mejanya sendiri yang hanya selisih satu bangku.

Fahmi tersenyum lebar sambil melambaikan tangan. Dengan tidak sabar menarik tangan Elok hingga cewek itu terduduk di bangkunya.

Cowok itu membantu Elok mempersiapkan box yang berisi perlengkapan praktik. Elok hanya bisa tersenyum menerima perhatian itu. Elok menyadari perasaan Fahmi, tapi apa daya hatinya sudah tertambat ke orang lain.

"Sudah siap dengan pretest? Jangan sampai kamu tidak boleh mengikuti praktek karena nilai yang kurang." Fahmi mengerling sebelum menyiapkan perlengkapannya sendiri.

Dosen dan juga asisten sudah memasuki ruang laboratorium, tapi Elani masih belum kelihatan. Waktu teori tadi dia juga tidak kelihatan. Elok melirik bangku yang berada di samping.

"Sebelum memulai pretest, saya ada sedikit pengumuman. Elani sudah mengajukan surat berhenti kuliah. Elok, kamu pindah di sebelah Elang. Kalian jadi partner. Yang lain silakan bergeser satu bangku." Bu Weni mengawasi mahasiswa yang mulai mengemasi perlengkapan untuk pindah.

Elok memberesi perlengkapan dengan berat hati. Dua tahun ini sudah berusaha keras menghindari cowok satu itu. Lalu apa yang harus dilakukannya sekarang. Apa harus mulai minta maaf. Ini terlalu berat baginya.

Elang melirik Elok yang terlihat lesu. Berbanding terbalik dengan dirinya. Rasanya ingin bersorak keras-keras untuk menyerukan kegembiraannya.

Bola lampu di otak Elang menyala. Ini saatnya dia bertindak agar Elok kembali mau berbicara lagi dengannya. Ini akan menyenangkan, benak Elang tertawa bahagia.

"Jangan dikira aku mau menjadi partnermu," bisik Elang untuk Elok gusar.

Mata Elok membelalak hingga terlihat begitu bulat. Ini pertama kalinya Elang bicara padanya. Nada bicara itu membuat Elok merinding. Apakah cowok itu masih begitu marah.

"Jangan sampai menyusahkan." Peringatan kedua yang diucapkan oleh Elang menyulut emosi.

Elok bersedekap dengan dagu terangkat. "Siapa juga yang mau berpartner dengan cowok kaya kamu. Masih lebih baik Fahmi kemana-mana."

Kata-kata itu sukses mengalihkan dunia Elang karena saat ini cowok itu memandang Elok dengan tatapan membunuh. Elok tidak tahu kalau itu benar-benar menyinggung harga dirinya.

Pretest sudah usai, waktunya membuka telinga lebar-lebar untuk mendengar bu Weni memangggil nama mahasiswa. Kalau sampai namanya tidak dipanggil saat praktikum dimulai itu tandanya nilai terlalu rendah, tidak boleh ikut dan harus keluar dari laboratium.

Elok tersenyum ketika namanya dipanggil setelah Elang. Dia berderap maju untuk mengambil kunci laci. Masing-masing mahasiswa memiliki laci yang berisi set peralatan untuk praktikum. Harus bertanggung jawab dengan kebersihan dan kelengkapannya.

"Lho kok kuncinya macet," gerutu Elok sambil terus berusaha memutar ke kanan, tapi terasa berat.

Sebuah kunci diletakkan di meja Elok. Dia mendongak untuk memandang Fahmi yang tersenyum geli.

"Lok, kamu ambil kunci yang salah." Fahmi mengulurkan tangan untuk meminta kunci nomor lima.

Elok menepuk jidat pelan karena menyadari kesalahannya. Nyengir malu-malu, ini karena terbiasa mengambil kunci nomor lima padahal sekarang sudah duduk di nomor empat.

"Ceroboh."

Elok pura-pura tidak mendengar ejekan Elang itu. Mengeluarkan perlengkapan dari dalam laci lalu menata berurutan di atas meja. Sekarang tinggal mengambil mikroskop saja. Dia melangkah menuju rak penyimpanan mikroskop.

"Jangan salah lagi." Elang berjalan sambil memberi peringatan.

Elok meringis, untung diingatkan. Nyaris saja salah ambil mikroskop lagi.

Elok mengeluh dalam hati. Baru beberapa menit mereka menjadi partner tapi sudah mendengar kata-kata yang bikin bad mood. Tau gitu lebih baik tidak ikut praktik saja. Eh, sayang juga kalau harus mengulang semester gara-gara selalu tidak ikut praktik. Mereka kan sekarang jadi partner.

Anggap saja berpartner dengan cowok paling tampan di tingkat tiga. Eh, tunggu dulu, bukannya predikat itu disematkan pada Elang. Elok mendesah sebal.

Elang melirik cewek yang duduk di sampingnya. Cara ini rupanya cukup berhasil. Cewek itu pasti tidak tahan untuk menjawab setiap celaan yang terlontar dari mulutnya. Elok nggak bakal diam saja kalau terus dihina. Rupanya cewek masa kecilnya masih belum berubah banyak.

"Hari ini kita akan praktek hitung eosinofil. Di sini siapa yang punya alergi?" Bu Weni menunggu jawaban dari yang lain.

"Elok saja, Bu." Elang menunjuk Elok disertai dengan serigai liciknya.

"Memangnya Elok punya alergi apa?" Bu Weni mendekati meja mereka sambil membawa perlengkapan untuk mengambil sampel darah berupa vial yang berisi antikoagulan, spuit, alkohol swab, dan torniquet.

"Bukan alergi tapi cacingan. Lihat saja badannya yang kurus." Elang memandang Elok dari sudut mata hingga muncul kesan merendahkan.

"Ya sudah kalau begitu. Elang, kamu ambil darah Elok sebanyak 6 cc," perintah bu Weni.

Elok bergidik ngeri melihat serigai Elang. Ya ampun, 6 cc darah. Spontan menutup lengan kanan dengan memakai tangan kiri. Ini bukan mimpi kan? Semoga Elang bisa lancar mengambil darah.

"Ini tidak sakit kok." Elang memainkan alis sambil mengacungkan spuit 6 cc. Dalam hati menertawakan wajah panik Elok.

Elok menarik tangan saat Elang menggegam mantap. Elang melotot, dengan pandangan mengancam kembali menarik kembali lengan Elok agar posisinya pas. "Tenang aja."

Kata-kata dari Elang tidak membuatnya semakin santai malah makin tegang. Elok mengintip dari sela-sela telapak tangan yang harusnya digunakan untuk menutup wajah. Biasanya sih selalu berani kalau diambil darah. Namun kali ini plebotomisnya adalah Elang. Gimana kalau dia sengaja menusuk dua, tiga, atau bahkan empat kali untuk mengambil darah.

"Nggak sakit kan?" Elang menarik spuit dari lengan Elok dengan mulus.

Elok menggeleng lemah karena pikiran buruknya tidak terbukti. Bahkan tidak terasa sakit seperti kalau diambil oleh Fahmi. Dia meraih vial-vial yang sudah diisi Elang dengan darah, menutup dan mencampurnya dengan anti koagulan lalu membagikan ke pasangan-pasangan lain.


Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
Sumber : atlm.web.id


Semua langsung berkonsentrasi untuk memulai praktikum sedangkan Elok baru saja mulai karena harus membagi vial terlebih dahulu.

Elang mengangkat tangan tanda dia sudah menemukan sel eosinofil. Bu Weni mendekat untuk melihat kamar hitung lalu memberikan tanda tangan di buku laporan. Elang menghitung jumlah Eosinofil yang ditemukan lalu segera mengumpulkan buku itu.

"Cepat seperti biasa." Bu Weni memuji Elang yang pertama kali menyelesaikan praktikum.

Keringat dingin mulai membasahi telapak tangan Elok yang masih berkutat dengan mikroskop. Mencari sosok eosinofil yang berbentuk seperti kacamata.

"Lima menit lagi. Segera bersihkan peralatan!" Suara Bu Weni membuat Elok semakin gugup.

Elang sudah selesai membereskan meja, malah duduk diam sambil terus memandangi. Enggan untuk membantu biar cewek itu semakin kesal.

Fahmi yang terakhir mengangkat tangan. Setelah memberi tanda tangan, Bu Weni menghampiri Elok untuk mengecek mikroskop dan memang tidak menemukan apa pun.

"Fahmi, tolong pinjamkan bilik hitungmu buat Elok," pinta bu Weni.

"Kamu cacingan ya? Sampai-sampai aku dapat banyak eosinofil. Minum obat cacingan biar gemukan sedikit," ejek Elang, tapi cewek itu masih berpura-pura tidak mendengar.

Elang tahu apa yang bisa membuat cewek itu bereaksi. "Jangan-jangan kamu punya asma. Ngik ... ngik ... ngik...." Elang memegang dada lalu berpura-pura menarik napas dengan kepayahan.

"Nggak lucu," gerutu Elok, membuang muka.

"Kalau begitu pasti alergi." Elang mencondongkan badan sambil menunjuk muka Elok.

Elok mengabaikan ucapan itu. Menyibukkan diri untuk mengemasi tas agar tidak perlu melihat wajahnya.

"Alergi kan?" Elang mengulangi pertanyaan lalu menyikut cewek itu.

Elok memberikan tatapan peringatan. Elang semakin merasa kegirangan. Wajah cewek itu malah jadi semakin menarik. Mungkin ini bisa dijadikan senjata untuk membuat cewek itu terus berbicara padanya.

Fahmi menghampiri. "Elok, ayo keluar."

Elok dan Fahmi berjalan bersisian. Mereka memang kompak sebagai partner karena sudah dari tingkat satu bersama. Sayangnya sekarang mereka terpisah.

Hampir saja Elok duduk di sebelah Fahmi. Namun cowok itu tersenyum geli sambil menunjuk kursi sebelah Elang. Elok menghembuskan napas kasar. Perubahan ini benar-benar membuatnya kacau. Capek hati dan capek pikiran kalau terus berada di dekat Elang.

"Cacingan, asma, alergi?" ejek Elang dengan nada riang.

Elok merasa heran, tumben-tumbenan cowok satu ini banyak bicara. Biasanya tampak cool. Ini sangat menyebalkan.

"Iya, aku punya alergi," ujar Elok ketus. Pada akhirnya memang harus menghadapi cowok itu.

Elang menyunggingkan senyum penuh kemenangan. Mendekati agar dapat mendengar lebih jelas. "Aku benar kan? Kamu alergi apa?" Dia memainkan alis demi melihat wajah Elok yang semakin memerah.

"Uhuk, uhuk, alergi kamu." Elok pura-pura batuk untuk menggoda. "Alergi dekat-dekat sama manusia bernama Elang." Kilat jail muncul dari manik sewarna madu.





Kalau suka sama thread satu ini tolong bantu share ya. Biar lebih banyak yang baca dan Lori semakin semangat nulisnya. Selamat membaca lanjutannya.


Btw, Lori kan ada rencana cetak cerita ini lewat event Samudera Printing Nah, Samudera Printing ini ngadain Giveaway lho. Yuk ikutan. Kali aja kamu yang menang.

Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
Diubah oleh IztaLorie
profile-picture
profile-picture
profile-picture
cyb3r_thu6 dan 57 lainnya memberi reputasi
56
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
05-01-2020 19:51
Diubah oleh IztaLorie
profile-picture
profile-picture
profile-picture
betiatina dan 8 lainnya memberi reputasi
9 0
9
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
08-02-2020 20:09
Quote:Original Posted By qoni77
Sebelumnya kayak dah baca thread ini

Elok nian, Gan


Quote:Original Posted By embunsuci
Malarindu tropikangen. Wkwkwk


Quote:Original Posted By embunsuci
No. 9 nanti lagi yaa


Quote:Original Posted By tinwin.f7
duh, serasa muda lagi baca cerita ini .... emoticon-Ngakak


Quote:Original Posted By suciasdhan
Keren 😍 jadi ingat pelajaran Kimia


Quote:Original Posted By NiningMeu
mampir dulu ntar malem baru baca


Quote:Original Posted By betiatina
keren keren ceritanya ya


Quote:Original Posted By novaarlisanty
nice story, n pic, betewe ditunggu lanjutannya kaka 🙏


Quote:Original Posted By leacataleya
Judulnya bikin mupeng, kak


Quote:Original Posted By Enisutri
maaf sis belum bisa fokus baca aku rate sama cendol dulu aje yee. tar ane mampir, soalnya kalo baca ane butuh penghayatan, ceilee 🤣🤣


Quote:Original Posted By ayya83
belum semua part masuk cicil ya. semangaaat


Quote:Original Posted By rifada23
malarindu tropikangen 😂
Mantap, Kak
Ditunggu keseruan lanjutannya


Quote:Original Posted By wiispica
Seru, nih..nitip jejak dulu sis


Quote:Original Posted By embunsuci
Singgah lagi. Jadi ingat teman fb ane deh. Bagus dan Elok.


Quote:Original Posted By Tetysheba
keren ceritanya, lanjut Sis


Quote:Original Posted By Tetysheba
Mbak satu ini, tiap malam aja gentayangan nya 😀


Quote:Original Posted By NiningMeu
Sekarang siang wkwkwkwk


Quote:Original Posted By jiyanq
Tumben lama banget updetnya? Elang-Elok nya keasikan kencan? emoticon-Malu


Quote:Original Posted By bekticahyopurno
Tengok krisan ane di group di bbb STORY ya. Okey sementara itu dulu.


Terima kasih yang sudah mampir. Mohon maaf belum bisa cepat-cepat update. Ternyata kesibukan datang lebih awal dari jadwal. Padahal rencananya mau selesain dulu sebelum ada rangkaian kegiatan.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Ninaahmad dan 7 lainnya memberi reputasi
8 0
8
Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
15-01-2020 19:28

Reaksi Hati

Beda Golongan

Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
Gambar by : IztaLorie
Edit : Ibis Paint




Elang menggertakkan gigi ketika melihat tubuh Elok gemetaran ketika hendak menyeberang jalan. Sampai tiga kali warna hijau menyala, tapi cewek itu masih ragu untuk melangkah.

Itu membuat Elang melangkah lebih cepat hingga bisa berada di sisi Elok ketika warna lampu lalu lintas bergulir menjadi hijau. Meraih tangan cewek itu tanpa melihat kesamping.

Amarah meliputinya, bukan marah pada Elok, tapi pada kejadian masa kecil yang sudah merenggut kebahagiaan mereka. Elang bahkan melupakan keberadaan Elok yang tangannya terus digenggem erat.

Elang melepaskan genggaman tangan lalu duduk di bangku belakang supir sedangkan Elok memilih terus masuk dan duduk di bagian pojok belakang yang berseberangan dengan Elang.

Mereka duduk diam walau hanya berdua saja di bangku penumpang. Perjalanan dalam waktu lima belas menit itu tetap hening sampai di tempat tujuan.

"Kiri," seru Elang ketika mendekati gang Kenari, tempat tinggal Elok.

Elok yang sedari tadi melamun jadi tersadar lalu buru-buru turun tanpa mengatakan sesuatu pada Elang.

"Gang Nuri," kata Elang ketika mereka sudah mulai menjauh.

"Gimana sih Mase ini. Gang Nuri kan tempatnya sebelum gang Kenari. Kenapa tadi diam saja waktu kita lewat?" protes supir angkot yang merasa dipermainkan.

Elang menggaruk kepala lalu berpura-pura tertawa malu. "Maaf, Pak. Saya hanya ingin memastikan kalau pacar saya selamat sampai rumah."

Terpaksa mengarang cerita agar suasana tidak semakin keruh. Mengingat dia belum sampai di rumah, jangan sampai diturunkan di sini dan harus jalan jauh untuk sampai ke rumah.

"Pacar kok duduknya jauh-jauhan, diam-diaman. Pasti baru marahan ya?" goda supir angkot sambil terkekeh.

"Iya, Pak. Maaf ya."

Angkot itu akhirnya memutar di gang berikutnya agar bisa sampai di gang Nuri. "Jangan terlalu lama yang marahan. Nanti ceweknya disamber orang."

Elang hanya bisa tertawa pelan lalu melambai ketika angkot kembali berjalan. Wajahnya kembali datar tanpa senyum ketika mengingat kembali gemetaran yang dialami oleh Elok.

...

"Rasanya pengen jitak Hera deh. Gemes banget. Dia tahu kalau kamu takut nyebrang sendiri. Eh, malah ditinggalin. Udah gitu pake boong kalau jalan ma aku." Rindu menggebrak meja ketika mendengar cerita Elok.

"Sudah, Rin. Yang penting aku bisa nyebrang dengan selamat," ujar Elok untuk menenangkan.

"Gimana ceritanya kamu bisa nyebrang? Nggak karena digotong ramai-ramai karena pingsan kan? Aku ingat pas telat nemuin kamu waktu itu. Kamu gemetaran sambil nangis di tengah perempatan sampai-sampai supir-supir kompakan ngeluarin sumpah serapah dan klakson." Rindu bergidik ngeri mengingat hari naas itu.

Pipi Elok memerah tanpa bisa ditahan membuat Rindu menggangkat alis. "Jangan bilang kalau ada cowok tampan yang membantumu?"

Elok tersipu ketika mengingat kejadian kemarin ketika Elang tiba-tiba menggenggam tangannya dan membawanya menyeberang jalan bak seorang pangeran pemberani. Sayangnya kenyataan tidak seindah yang dibayangkan.

Dunia kembali seperti semula saat suara klakson menyadarkan dari lamunan. Elang memang memegang tangan Elok tapi sama sekali tidak tersenyum, wajah datarnya menatap lurus ke depan. Sepanjang jalan Elang hanya diam sambil memandang pemandangan diluar angkot.

"Ya ampun, Lok. Elang sweet banget ya sampai mau nolong kamu. Udah deh, Lok. Jangan kelamaan memendam rasa. Ntar doi balikan ma Jesi kamu nangis bombai."

Perkataan Rindu membuat hati Elok bimbang. Pantaskah dia berjuang buat Elang? Mengingat saingannya sekelas Jesi yang seperti foto model. Lagi pula keadaan diantara mereka tidak begitu bagus.

"Aku pengen jadi pacar Elang tapi malu-maluin nggak ya, kalau aku yang pedekate?" Elok tertawa malu-malu ketika menyerukan yang selama ini ada di dalam hati.

"Semangat dong. Aku dukung kamu." Rindu meremas tangan Elok.

"Ini sotonya, Mbak." Suara dari ibu penjual membuat senyum mereka merekah karena sudah sangat kelaparan.

Tangan Elok mencoba menggapai tempat sambal yang letaknya agak jauh ke sisi satunya. Berhubung tidak sampai, dia harus berdiri untuk mencapainya. Namun tempat sambal itu sudah berpindah tempat di samping mangkuknya tanpa dia perlu berdiri.

"Terima ka ... sih," kata Elok dengan tergagap karena saat menoleh ternyata Elang yang sudah membantunya. Tubuhnya langsung menegang.

"Su ... sudah dari tadi, Lang?" Elok nyaris tidak bisa bernapas hingga membuat wajahnya terlihat pucat pasi, begitu pula dengan Rindu.

"Nggak, baru saja duduk."

Jawaban Elang membuat Elok dan Rindu diam-diam bernapas lega. Semoga saja dia tidak mendengar apa-apa. Jangan sampai pernyataannya tadi terdengar, bisa sangat memalukan.

Elang mengambilkan lepek yang berisi jeruk nipis sekaligus piring sate. Tumben banget Elang baik kaya gini.

"Kalian nggak lagi pura-pura mesra supaya aku cemburu kan?" tanya Fahmi sambil memainkan alis. Tanpa ijin dia duduk di seberang Elang.

"Kamu cemburu denganku? Kamu naksir Elang?" Elok menutup kedua mulut dengan telapak tangan, pura-pura terkejut.

"Kamu gay? Sungguh tak kusangka." Lanjut Rindu dengan gerakan mendramatisir yang lebay.

Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
Sumber : dokpri


"Jangan kebanyakan baca Trapped by Love nya Chriztpie. Otakmu jadi aneh gini. Nggak semua cowok ganteng itu gay. Kalau aku jelas masih normal." Elang mengetok dahi Elok dengan sendok yang masih bersih.

Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
Sumber : dokpri


Elok mengelus bagian yang terkena sendok sambil memajukan bibirnya lima senti agar terlihat seperti orang yang merajuk. Tiba-tiba dia menyadari sesuatu. "Chriztpie ga nulis kalau semua cowok ganteng itu gay. Eh, btw kok kamu tahu aku suka baca TBL?" Segera saja memutar tubuh menghadap Elang sambil berharap kalau Elang mengetahui hal itu karena perhatian dengannya.

"Fahmi yang cerita." Elang menggerakkan dagu menunjuk Fahmi.

Mata Elok dengan cepat beralih memandang Fahmi, yang ditatap malah garuk-garuk kepala sambil senyum-senyum nggak jelas.

"Aku sering lihat kamu share adegan di TBL. Iseng-iseng ikut baca biar ada bahan obrolan sama kamu."

Elok terpukul, kenyataan memang tidak seindah angan-angan. Kirain Elang beneran seniat itu buat pedekate sampai cari info sana sini, ternyata  yang kegeeran.

"Lang, kamu kok makan di sini sih? Aku nyariin kamu ke kantin." Jesi menarik salah satu kursi dan bergabung di meja mereka. Dia dengan tidak tahu malu duduk mepet-mepet Elang.

"Memangnya kenapa kalau makan di sini?"

"Kan nggak higienis," ucap Jesi sambil matanya melirik ke sana kemari untuk memastikan meja bersih.

Soto pesanan Elang dan Fahmi datang juga. Elang tanpa basa-basi memakannya tanpa menghiraukan Jesi memperhatikan dengan penasaran.

"Enak ya? Mau incip juga dong," katanya dengan manja.

Jesi sudah mencondongkan tubuh sambil membuka mulut minta disuapi tapi Elang masih menyendok untuk dirinya sendiri membuat Elok yang melihat kejadian itu terpaksa menahan tawa agar nasi yang ada di mulut tidak menyembur.

"Uhuk ... uhuk." Mata Elok memerah, ternyata menahan tawa itu bukan tindakan yang bagus ketika sedang makan. Buktinya, dia tetap tersedak.

Elang menyodorkan gelas es teh yang langsung saja disambar Elok. Hal berikutnya bukan membuat reda batuk-batuknya malah semakin hebat, kali ini karena kaget dengan ulah Elang menepuk-nepuk pelan punggungnya. Ya, Tuhan cobaan apa lagi ini. Elang bikin Elok terharu.

Jesi yang terbakar cemburu mengambil sendok dan memakan soto Elang. "Enak juga, Lang. Kita makan berdua ya. Sini aku suapi."

Jesi menyodorkan sendok yang berisi nasi serta kuah soto pada Elang tapi dengan santainya cowok itu malah menarik tangan Elok yang hendak menyuap nasi ke mulutnya sendiri dan mengalihkan jalurnya hingga masuk ke mulut Elang.

Mulut Elok yang sudah terbuka malah makin terbuka lebar. Kesempatan itu dipakai Elang buat menyuapkan nasi ke mulut lalu memegang dagu Elok, mendorongnya ke atas hingga mulut cewek itu menutup.

Elok baper beneran jadinya. Nggak apa-apa kalau dimanfaatin buat bikin Jesi cemburu. Yang jelas dia bahagia banget. Perlakuan Elang bikin mereka terlihat seperti orang yang sedang pacaran.

Rindu dan Fahmi memandang dengan mulut membuka yang tak kalah lebar, tapi Elang masih melanjutkan aksi makan bergantian hingga nasi soto yang ada di mangkok Elok habis.

"Buruan. Kita tugas persiapan." Elang berdiri dan melangkah buat membayar semua soto mereka.

Langkahnya yang lebar membuat Elok harus berlari untuk mengejar. Dia sudah tidak memperdulikan Jesi yang menatap dengan pandangan marah. Masa bodoh, kali ini Elang memilihnya daripada Jesi. Elok diam-diam tersenyum.

Elang juga diam-diam tersenyum. Rasanya menyenangkan kalau menjadi pacar pura-puranya Elok. Apa dia harus membuat ini jadi beneran, bukan sekadar pura-pura.

Asisten dosen menyerahkan menyerahkan nampan berisi reagen golongan darah yang diterima Elang dengan berat hati. Bibirnya menipis ketika mengingat secuil kenangan tentang golongan darah.

Elang terus menunduk ketika menata reagen-reagen itu di masing-masing meja. Sebenarnya dia bisa merasakan tatapan Elok yang terus menerus tertuju padanya. Dia tidak ingin dikasihani, apa lagi oleh Elok.

"Tusuk saja! Jangan lama-lama melamun!" Suara Elang yang sedikit keras membuat Elok berjingkat kaget. Tangannya refleks bergerak menusukkan lancet ke ujung jari Elang tanpa menyadari kalau terlalu banyak memakai tenaga hingga menyebabkan luka tusukan itu menjadi lebih dalam dari seharusnya.

"Pelan napa? Sakit!" Elang meringis menahan sakit.

"Maaa ... maaf. Kamu ngagetin sih." Elok meringis ketika memijat lembut jari Elang untuk mengeluarkan darah. Sepertinya dia bertindak ekstra hati-hati agar tidak dibentak gara-gara terlalu kasar.

Elang tersenyum kecil melihat wajah Elok yang menahan cemas. Mulai sekarang bakal lebih mudah memandang wajahnya dalam jarak sedekat ini.

Dia bahkan bisa memperhatikan betapa lentik bulu mata cewek itu. Rasanya tidak akan bosan kalau berada dalam posisi ini dalam waktu yang lama.

Telapak tangan Elang dibalik hingga darah mengarah ke bawah dan menempel pada kertas golongan darah. Elok dengan sigap menutup luka Elang dengan kapas bersih.

Elang menekan ujung jari tengah dengan ibu jari agar perdarahan berhenti. Merasakan hatinya yang semakin tidak karuan ketika melihat Elok meneteskan reagen Anti-A, Anti-B, dan Anti-D.

Menunggu darah-darah itu ber-aglutinasi hingga membentuk gumpalan-gumpalan yang menunjukkan golongan darahnya.

Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
Sumber : www.galena.co.id

Sebenarnya Elok juga ikut cemas ketika darah-darah itu mulai bereaksi. Memang baru dia mengecek golongan darah Elang tapi sudah sangat tahu hasil akhirnya. Disetiap kolom terlihat aglutinasi, bisa dipastikan kalau golongan darah Elang adalah AB dengan rhesus positif.

Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
Sumber : www.galena.co.id

Sekarang gantian Elang yang mengambil sampel, tapi Elok sama sekali tidak merasakan nyeri ketika ujung lancet menembus kulit hingga terlihat darah. Matanya hanya terpaku pada ekspresi wajah Elang yang mengeras.

Mereka sudah menyelesaikan praktikum dan tinggal menunggu buku praktik dikembalikan. Elok membereskan perlengkapan dengan cepat lalu kembali memperhatikan Elang. Cowok itu mengepalkan tangan dengan erat membuat Elok bertindak tanpa berpikir panjang untuk menggengam tangannya.

Kepalan tangannya perlahan mengendur, tapi ekspresi wajah Elang yang semula terkejut malah kembali mengeras.

"Aku tidak butuh dikasihani," ujar Elang sambil menarik tangannya.

Elok tersenyum lemah. "Aku tahu. Aku hanya ingin menggegam tanganmu saja."

Nggak kebayang betapa merah muka Elok ketika Elang kembali memandangnya dengan tatapan bingung.

Elok berdehem beberapa kali sebelum melepaskan tangannya. Semoga saja Elang tidak mengira sedang dimodusin karena kali ini niat Elok murni untuk menghiburnya.

Mereka tetap berada di dalam ruang praktik untuk membereskan perlengkapan ketika sudah selesai. Elok mendesah ketika tak mendapati Elang ketika dia selesai mengembalikan kunci kulkas reagen pada penjaga Lab.

Itu membuat Elok menuruni tangga dengan langkah gontai. Kelompok lain sudah selesai praktek. Hera sudah pulang duluan, Elang juga. Bagaimana caranya pulang kali ini. Dia masih belum berani menyeberang perempatan sendiri. Kemarin ada Elang tapi hari ini Elok sempat melihat motornya di parkiran.

Wangi Elang terhidu oleh Elok membuatnya merinding. Apa lagi ini sudah sangat sore, langit juga sudah menggelap. Dia menyaris teriak saat merasakan ada yang memeluk dari belakang. Namun hembusan napas hangat dan juga aroma yang makin kuat membuatnya menarik kesimpulan.

"Lang, lepas. Nggak enak kalau ada yang lihat. Besok Jesi bisa nyakar-nyakar aku." Elok bergerak-gerak sambil mencoba melepas tangan Elang yang melingkar di perut. Sesuatu yang susah untuk dilakukan karena cowok itu menggenggam lengannya sendiri dengan erat hingga sulit dilepaskan.

"Golongan darahku AB. Kami beda golongan. Aku bukan anak Ayah." Suara Elang membuat mata Elok berkaca-kaca.

Elok tahu itu bagaimana sakitnya hati Elang. Memang tidak mungkin kalau ayah bergolongan darah O sedangkan ibu bergolongan darah A bisa menghasilkan anak bergolongan darah AB. Elok sudah mengetahui kenyataan itu sejak pertama kali mereka melakukan praktik golongan darah sejak mereka di semester 1.

Isak tangis tertahan membuat Elok memejamkan mata. Dia harus menahan tangis ini dan bersikap kuat agar bisa menghibur Elang.

...

Catatan :
Aglutinasi dalam kedokteran dan zoologi adalah penggumpalan dalam suatu cairan akibat pemberian suatu bahan ke dalamnya. Kata berasal dari bahasa Latin agglutinare, yang berarti "untuk menempel pada". Contoh aglutinasi adalah peristiwa penggumpalan protein dalam darah sebagai reaksi atas pemberian suatu antigen.
Sumber : https://id.m.wikipedia.org/wiki/Aglu...nasi_(biologi)


Indeks cerita dapat di klik di sini.


Kalau suka sama thread satu ini tolong bantu share ya. Biar lebih banyak yang baca dan Lori semakin semangat nulisnya. Selamat membaca lanjutannya.




Btw, Lori kan ada rencana cetak cerita ini lewat event Samudera Printing. Nah, Samudera Printing ini ngadain Giveaway lho. Yuk ikutan. Kali aja kamu yang menang.


Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
Diubah oleh IztaLorie
profile-picture
profile-picture
profile-picture
69banditos dan 7 lainnya memberi reputasi
8 0
8
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
17-01-2020 16:48

Reaksi Hati

Diajak Taruhan

Part Sebelumnya

Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
Gambar by : IztaLorie
Edit : Ibis Paint


Hampir saja Elok terlena dengan pelukan Elang karena ini terasa begitu hangat, tapi suara berisik dari ruang sebelah membuat Elang melepaskannya. Elok tentu saja paham atas tindakan itu, tapi kenapa seperti ada bagian yang hilang dalam hati. Sebuah lubang seketika tercipta.



"Ikut aku." Elang menarik tangan Elok dan menuruni tangga dengan cepat.

"Pelan napa, Lang? Dari tadi naik turun tangga cepat-cepat. Ngos-ngosan nih," tawarnya yang nggak digubris, Elang malah semakin mempercepat langkahnya.

"Pakai." Elang menyodorkan helm pada Elok.

"Tumben bawa helm dobel?" Helm berwarna baby pink dengan gambar hello kitty tentu saja bukan helm sembarangan. Pasti ini milik orang yang spesial. Apakah ini dulu milik Jesi. Elok masih menimang dan mengamati helm itu karena curiga tingkat berat. Cuma sekadar curiga, bukan menjurus ke cemburu. Elok bahkan berusaha mengingkari perasaannya.

"Tadi abis nganterin Winnie."

"Oooooo," ucap Elok dengan meragukan. Tentu saja cowok itu tidak akan mengaku kalau ini milik mantan. Bisa-bisanya bawa-bawa nama sepupunya yang masih SMP.

"Cepat naik!" bentak Elang dengan tidak sabaran.

Helm itu sudah direbut paksa Elang dan langsung memakaikannya di kepala Elok. Meski pun begitu masih terasa ada kelembutan dan juga perhatian dari caranya memastikan kalau helm terpasang dengan aman dan nyaman.

Elok sudah langsung memaafkan bentakan cowok itu. Semua ini pasti karena Elang masih dalam kondisi labil karena emosi dan kesedihan.

Tanpa harus disuruh, Elok segera saja naik motor agar tidak lagi dibentak. Sejujurnya sekarang dia malah bingung bagaimana harus bersikap. Apa tidak masalah kalau memeluk Elang dari belakang.

"Pegangan."

"Pegangan? Kamu nggak mau ngebuuuuuutttt ... kan?" Elang sudah tancap gas, tidak menunggu kata-kata Elok sampai selesai. Itu membuat Elok mengambil keputusan dengan cepat untuk mencengkeram tas Elang.

"Lang, kalau mau mati jangan ngajak-ngajak dong." Elang membelok dengan cepat sampai-sampai Elok memejam karena takut kalau terjadi kecelakaan. Selama ini Elang tidak  pernah terlihat mengendarai motor dengan kecepatan gila-gilaan seperti saat ini.

Elang membelokkan motor di warung bakso lalu parkir dengan kecepatan yang sama gilanya membuat Elok melompat turun segera setelah Elang turun. Kembali ngos-ngosan karena menyamakan langkah dengan Elang.

Kenapa sih Elang buru-buru seperti dikejar maling saja. Buset, jangan-jangan Elang lupa sudah mengajak Elok ke sini, makanya ngeluyur sendirian tanpa mau menunggu.

"Lang, mau cerita nggak?"

Elang menghembuskan napas dengan kasar, sejujurnya ini masih topik tabu untuknya. Namun Elang curiga kalau sebenarnya Elok sudah mengetahuinya.

Terasa kehangatan yang menyebar dari tangan yang digenggam oleh Elok  hingga ke hati Elang.

"Sekuat-kuatnya orang pasti butuh orang lain untuk bersandar. Kamu bisa percaya sama aku."

Ketulusan yang terpancar dari mata sewarna tanah liat membuat Elang memutuskan untuk membagi luka hati.

"Kamu sudah tahu ceritanya kan?" Elang menerawang menatap penjual bakso yang sedang sibuk membuat pesanan. Warung bakso ini ramai sekali tapi mereka masih dapat tempat kosong di pojokan.

"Tapi aku tidak tahu gimana perasaanmu yang sebenarnya. Selama ini kamu pintar sekali menutupinya dengan topeng sedingin es."

Perhatian Elok mau tak mau membuat Elang tersenyum dalam hati. Ini membuktikan kalau Elok selalu mengamati dirinya sejak awal kuliah atau itu ilusi yang ingin dipikirkan olehnya agar merasa lebih dicintai. Mungkin saja yang kedua adalah hal yang sebenarnya terjadi.

Elang menunduk, menata keberanian agar tidak kembali terbawa suasana dan kembali menangis. Seorang laki-laki sampai menangis di depan perempuan merupakan kejadian yang memalukan. Kalau sampai dua kali, entah bakal ditaruh di mana muka Elang nantinya.

"Ayah sangat menyayangiku meski aku bukan anak kandungnya. Itu membuatku merasa tidak enak padanya. Pasti dia melihat wajah orang yang menghamili ibu saat melihatku, membuatku merasa terhina. Aku tidak habis pikir mengapa ibu tega mengkhianati orang sebaik ayah."

"Itu bukan salahmu. Ayahmu sangat menyayangimu, mungkin dia masih mencintai ibumu sampai sekarang dan kamu adalah satu-satunya orang yang bisa mengobati kerinduannya. Matamu hitam seperti ibumu. Ekspresi wajahmu saat berpikir sangat mirip dengan beliau. Kalau kamu tidak yakin dengan perkataanku, tanyakan langsung pada ayahmu. Berdamailah dengan masa lalu. Ini bukan salahmu."

Elang diam, tidak mau berbicara lagi dan malah sibuk dengan hpnya membuat Elok manyun. Dia juga nggak mau kalah, dari pada dicuekin mending main  Hay Day saja pikirnya. Saking asiknya bermain sampai tidak sadar kalau baksonya sudah datang.

Tiba-tiba Elok mendapatkan sebuah ide. Iseng-iseng memutar tubuh hingga duduk membelakangi Elang, mumpung objek aksinya masih sibuk dengan hp pasti tidak bakal menyadari apa yang dilakukan oleh Elok yaitu memotret dirinya sendiri dengan latar belakang Elang.

Elok tersenyum puas melihat hasil fotonya. Meski pun wajah Elang tidak begitu jelas tapi kalau foto ini terpampang di instagram pasti banyak yang mengenali.

"Kok belum dishare di Ig atau Fb?" Elang mendongak untuk menatap Elok dengan pandangan menantang.

Ups, rupanya ulahnya sudah ketahuan. "Iseng kok. Aku hapus deh."

Elang memiringkan kepala, pandangannya menunjukkan kalau tidak bakal semudah itu dibohongi. Dia lalu meraih hp yang tergeletak di atas meja.

"Lang, aku bisa hapus sendiri kok." Elok berdiri, berusaha merebut kembali hp miliknya. Namun Elang lebih gesit sehingga bisa menepis setiap serangan hanya dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanan digunakan untuk membuka aplikasi di hp.

"Nih." Elang mengembalikannya setelah selesai mengutak-atik.

Cemas melanda Elok ketika mengecek galeri. Apakah foto Elang yang lain bakal ditemukan juga, foto yang selalu diambil diam-diam. Dia memejam erat-erat, membuka mata dengan lebar setengah cm untuk mengintip. Mata itu kini terbuka lebar hingga membulat karena foto itu masih ada. Bahkan foto yang lain juga masih utuh.

Sebentar kemudian suara notifikasi terdengar bersahut-sahutan membuat Elok hampir melempar hp-nya karena terkejut. Rupanya itu bukan satu-satunya cobaan yang harus diterima karena Elok lebih kaget setelah menemukan foto Elang di ig-nya, lengkap dengan komentar dari teman-teman mereka.


Dinda Omg itu Elang kan? Tambah ckep aja. Clbk nih

Jesi Pasti hanya setingan saja

Hera Sirik ya Jesi?

Rindu Kapan jadian kok CLBK sih, Dinda?

Dinda Cinta lm blm klar, hahaha

Jesi Kamu ngarep cintanya Elang ya, Elok? Siap-siap patah hati.

Hera Iri tuh si Jesi

Fahmi Wah, aku cemburu!

Rindu Cemburu sama Elok? Km hombreng, Fahmi? hehehe

Fahmi Hati-hati dengan jarimu, Rindu.


"Puas?" Layar hp Elok dihadapkan ke depan wajah Elang, tapi cowok itu malah terkekeh.

"Kamu yang mulai duluan."

"Kan udah mau dihapus," rajuk Elok sambil menutup wajah. Tidak bisa membayangkan apa yang bakal terjadi besok di kampus. Dia bahkan tidak berani membuka whatsapp yang dari tadi terus memanggil untuk dikunjungi.

"Btw, dulu kamu naksir aku ya?" goda Elang dengan memainkan alis. Rasanya semua masalah jadi hilang kalau lihat pipi cewek itu yang menggelembung dengan menggemaskan saat merajuk. Membuat Elang jadi ketagihan menggoda Elok.

"Kata siapa?" Mata Elok tertuju pada mangkuk bakso agar Elang tidak bisa membaca matanya. Dia termasuk tukang bohong yang payah. Rindu saja selalu bisa menangkap kebohongannya.

"Komen Dinda tuh." Elang menunjukkan tulisan Dinda.

"Ih, geer." Elok menjulurkan lidah tepat saat Elang mengambil foto.

Suara notifikasi kembali terdengar. Jantung Elok berdebar lebih kencang saat membuka halaman facebook. Sekarang apa lagi.

Sebuah foto dirinya yang sedang menjulurkan lidah, lengkap dengan keterangan yang berbunyi : Bikin gemes - bersama dengan Elok di akun fb Elang membuat dirinya menerima berbagai komentar dari banyak orang yang bahkan tidak dikenalnya.


Jesi 😱😱Jangan bilang kalau hp Elang dibajak Elok?

Fahmi Aku juga gemes 😍

Kilat Dedek emeshnya Elang, ntar kalau sudah bosan dengan Elang tinggal hubungi aku 😉

Reno cute, emg bikin gemes

Lasmi cute apaan, kerempeng mana keren. Lebih mending aku dong yang semok ini.

Rindu Sumpah demi apa, kamu beneran kencan ma Elang????

Hera Nunggu traktiran nih

Prih Gemes pengen cium

Kirana Uh, masih cantikan aku kelez

Jesi Jangan berani dekati Elang , Kirana

Kirana Apa urusanmu? Cuma mantan ini

Isti Baru tahu kalau Elang juga bisa seiseng ini sama kamu, Elok

Raditya Hai, cewek. Kamu bukan pacar Elang kan? Pacaran sama aku aja. Lupain Elang.

Kilat Woi Raditya, antri sesuai urutan dong. Jangan main nyelonong.


Elok bahkan tidak berani membaca komentar-komentar di bawahnya. Baru satu menit tapi yang komentar sudah puluhan. Ternyata Elang terkenal juga. Fansnya pasti banyak, mengingat cewek-cewek berkomentar jelek tentang dirinya.

"Ayo pulang." Elang menutupi layar hp dan memaksanya berdiri.

...

Pagi-pagi Elok sudah diculik ketika hendak ke kantin. Beruntung tidak ada gudang di kampus hingga dia tidak harus khawatir kalau disekap di tempat favorit para penculik.

Padahal Elok sudah sangat lapar dan ingin segera sampai di kantin. Dasar Elang kurang kerjaan. Dia malah dibawa ke tangga yang menuju ruang laboratorium. Apa mereka nggak bisa bicara baik-baik di kantin sambil sarapan gitu.

"Ya, ampun Elang. Bikin takut saja," Elok memukul bahu Elang sebagai wujud rasa kesalnya.

"Nih, roti selai. Dimakan." Elang mengeluarkan setangkup roti dari dalam tempat bekalnya. Sebuah senyuman tersungging dengan manis saat Elok ragu-ragu menerima roti itu.

"Tumben bawa bekal?" Namun roti lapis selai strawberry ini terlihat menggoda. Elok mengigit dalam gigitan kecil untuk mencicipi.

"Udah dimakan saja. Enak kok, atau mau kusuapi?"

Tawaran Elang sukses membuat Elok tersedak, tapi Elang dengan sigap memberikan minum dan menepuk punggung sebelum berdiri dan pergi. "Ke kelas duluan ya. Makannya dihabiskan."

Beberapa saat kemudian Elok yang sudah menghabiskan bekal menyusul Elang untuk masuk kelas. Hampir saja dia duduk di sebelah Elang tapi melihat ekspresi datarnya membuat cewek itu memutuskan untuk duduk di belakang dengan Rindu dan Hera. Lagian siapa dirinya sampai bisa duduk di dekat Elang selama kelas teori.

Sepanjang hari Elang sama sekali tidak mengajak Elok berbicara, memandang wajahnya pun tidak. Sepertinya dia dalam mode bunglon. Tadi pagi lumer seperti es krim yang mencair, sekarang seperti es balok.

Karena perubahan sikap Elang, Elok jadi meminta mas Bagus untuk menjemput. Lagian kan nggak mungkin mengharapkan Elang untuk terus menerus mengantar pulang setiap hari, kejadian kemarin dan kemarinnya lagi hanya kebetulan saja. Hera juga sudah mulai pulang sendiri karena janjian dengan pacarnya, sedangkan Rindu memiliki jadwal praktikum yang berbeda dengannya.

Selesai praktek Elok buru-buru menuruni tangga menuju lantai satu. Kasihan kalau Mas Bagus menunggu terlalu lama. Kaki Elok hampir menyentuh anak tangga terakhir saat tubuhnya didorong hingga membentur dinding.

"Aku mau bicara." Jesi memegangi tangan Elok dengan erat dan setengah menyeretnya menuju taman belakang.

"Lepasin. Aku harus segera pulang."

"Aku mau ngajak kamu taruhan. Kalau dalam seminggu, Elang balikan lagi sama aku. Kamu harus jauh-jauh dari Elang." Jesi mendorong Elok hingga tersungkur di bangku semen yang ada di taman.

Dagu Jesi terangkat tinggi untuk mengintimidasi Elok yang berada di posisi lebih rendah.

Namun Elok menolak untuk kalah, karena dia bukan pengecut. "Gimana harus jauh-jauh. Kami sekarang kan partner."

"Kamu tahu maksudku. Jangan pura-pura bodoh!" bentak Jesi sambil menunjuk muka Elok dengan telunjuknya yang montok.

"Urusan hati bukan untuk menjadi bahan taruhan." Elok berdiri lalu menepuk celana kremnya agar bersih dari debu, sekaligus untuk menyiratkan dia tidak menganggap ucapan Jesi masuk akal.

"Huh, aku bahkan berani bertaruh kalau kedekatan kalian selama ini hanya untuk membuatku cemburu. Elang sengaja dekati kamu agar aku cemburu dan mau jadian lagi dengannya."

"Terserah apa katamu. Aku tidak peduli." Elok membentangkan lima jari kanan di depan muka Jesi. Menegaskan agar cewek itu berhenti bicara omong kosong.

"Kamu bodoh atau pura-pura bodoh? Sampai-sampai tidak sadar kalau dipermainkan?" ejek Jesi.

"Terserahlah. Aku pulang." Elok gantian mendorong Jesi agar menyingkir dari jalannya lalu memilih berlari kencang agar cepat terbebas dari cewek halu macam Jesi itu.

Bagus mematikan panggilan saat melihat Elok berlari mendekati. Matanya berkaca-kaca dan wajahnya memerah. Namun Bagus tidak menunjukkan ke khawatirannya. Ini bukan tempat untuk mencari tahu masalah yang sudah dihadapi oleh adiknya. Alih-alih bertanya apakah Elok ada masalah, dia malah bertanya dengan ketus. "Kok lama."

"Ayo pulang, Mas." Suara Elok bergetar menahan tangis.

Mau tak mau ucapan halu Jesi meresap dan mengendap dalam pikirannya. Apakah benar kalau dia hanya dimanfaatkan saja? Bukannya kemarin dia sempat berkata dalam hati kalau tidak masalah dijadikan pelampiasan agar Jesi cemburu.

Elok merasa bodoh sekarang karena sempat memikirkan hal itu. Seharusnya harga dirinya tidak mengizinkan untuk diinjak-injak sekejam ini. Hati bukan untuk dipermainkan.

"Menangislah kalau kamu memang ingin menangis. Kembali tersenyum saat sudah sampai rumah. Jangan sampai mereka tahu kalau kamu bersedih. Kamu tidak ingin membuat mereka bersedih juga kan?"

Perkataan Bagus membuat Elok memaksakan diri untuk berhenti menangis karena tidak ingin orang tua yang sangat dicintainya ikut bersedih.

...

Indeks cerita dapat di klik di sini.


Kalau suka sama thread satu ini tolong bantu share ya. Biar lebih banyak yang baca dan Lori semakin semangat nulisnya. Selamat membaca lanjutannya.




Btw, Lori kan ada rencana cetak cerita ini lewat event Samudera Printing. Nah, Samudera Printing ini ngadain Giveaway lho. Yuk ikutan. Kali aja kamu yang menang.


Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
Diubah oleh IztaLorie
profile-picture
profile-picture
profile-picture
69banditos dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
24-01-2020 15:44

Reaksi Hati

Salah Paham

Part Sebelumnya
Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
Gambar by : IztaLorie
Edit : Ibis Paint


Sungguh sulit mempertahankan wajah serius ketika melihat mulut Elok yang membuka lebar karena ucapannya tentang malarindu tropikangen tadi.

Ingin rasanya menutup mulut itu dengan bibirnya sendiri, tapi Elang yakin bakal kena bogem mentah dari dua orang sekaligus. Elok adalah orang pertama sedangkan yang kedua tentu saja Bagus.

Elang bersyukur memiliki Bagus sebagai sahabat karena cowok itu tak pernah absen menyampaikan kabar tentang Elok selama cewek itu menjauh darinya.

Dahi Elok berkerut ketika kesadarannya sudah kembali dan juga mulutnya sudah terkatup rapat.

"Biasanya kalau dengar dari Fahmi rasanya nggak ada yang aneh. Sekarang dengar dari kamu, kenapa jadi merinding disko gini." Elok mengelus kedua lengan bergantian.

Kedua tangan Elang mengepal dengan kencang. Kenapa selalu ada Fahmi diantara mereka. Cowok itu serius dengan perasaannya pada Elok atau hanya ingin membuatnya gusar saja. Musuh yang berkedok sebagai sahabat.

"Ini bukan aksi balas dendam kan?"

...

Mohon maaf harus dipotong sampai sini. Cerita ini dalam tahap revisi untuk buku cetak. Silakan kunjungi instagram Galeri_lori untuk informasi selanjutnya. Terima kasih sudah setia membaca Reaksi Hati.

...



...

Indeks cerita dapat di klik di sini.


Kalau suka sama thread satu ini tolong bantu share ya. Biar lebih banyak yang baca dan Lori semakin semangat nulisnya. Selamat membaca lanjutannya.




Btw, Lori kan ada rencana cetak cerita ini lewat event Samudera Printing. Nah, Samudera Printing ini ngadain Giveaway lho. Yuk ikutan. Kali aja kamu yang menang.


Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
Diubah oleh IztaLorie
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rifada23 dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
20-01-2020 20:54

Reaksi Hati

Malarindu Tropikangen

Part Sebelumnya
Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
Gambar by : IztaLorie
Edit : Ibis Paint


Pada akhirnya Elok memakan soto Elang. Suasana terasa sunyi karena Fahmi tak lagi berkomentar. Rindu dan Hera saling berbisik-bisik.

Suasana ini terasa tidak nyaman hingga membuat Elok cepat-cepat menyelesaikan makan lalu menyenggol bahu Hera. "Cabut, yuk."

Fahmi dan Elang juga mengikuti mereka sedangkan Jesi masih duduk dengan muka kusut. Masa bodoh yang penting bisa jauh-jauh dari Jesi. Dari tadi senyumnya terlihat mengejek.

Tangan Elok berpegangan pada besi di sepanjang dinding pembatas tangga ketika merasakan tubuhnya limbung. Rasa sakit kepala yang begitu menusuk membuat Elok memilih untuk bersandar pada tembok.

"Kamu kenapa?" tanya Fahmi.

"Mi, hari ini jadwalmu dan Hera untuk persiapan kan? Buruan." Elang mendorong bahu Fahmi hingga nyaris terjungkal.

"Eh, iya. Ayo, Mi." Hera menarik tangan Fahmi dan berlari menaiki tangga. Fahmi mengulurkan tangan ke belakang, tak rela meninggalkan Elok.

"Buruan. Jalan kaya siput." Elang mendahului naik tangga.

Elok mendongak, melihat langkah yang lain. Hera dan Fahmi sudah hampir sampai lantai tiga, Elang juga sudah di pertengahan antara lantai dua dan lantai tiga. Mata berkunang-kunang membuat Elok menunduk melihat anak tangga. Duduk di situ pasti terasa lebih baik, tapi ini sudah hampir waktunya praktikum. Perlahan-lahan mulai melangkah lagi dengan menahan dorongan untuk duduk dan bersandar.

"Lok, buruan!" Elang sudah kembali berteriak membuat Elok mau tak mau harus melangkah.

Keringat membasahi wajah saat akhirnya bisa sampai di lantai empat. Ini pertama kalinya merasa tersiksa karena naik tangga. Elok membersihkan wajah memakai tisu. Nggak mungkin dong ikut praktikum dalam kondisi yang kacau seperti ini.

"Masuk yuk, Lok." Ambar melingkarkan tangan di lengan dan menyeretnya masuk.

"Lok, lenganmu kok panas begini." Ambar melepaskan tangan.

"Kamu sakit?" Fahmi mendekat, tangannya terulur hendak menyentuh dahi Elok, tapi hanya menggantung di udara karena Elang sudah menariknya.

"Buruan duduk."

Elok hampir-hampir tidak yakin kalau mendapatkan hasil pretest yang baik dan boleh ikut praktikum. Dia malah berharap dapat nilai jelek saja terus disuruh pulang. Rasa sakit yang tak tertahankan membuatnya letakkan kepala di meja praktikum setelah menggeser mikroskop mendekati lampu yang menjadi sumber cahaya.

Hampir saja tertidur saat merasakan tepukan di pundak karena Fahmi. "Ini preparatnya." Dia menyerahkan dua buah preparat padaku.

"Topik pembahasan kita kali ini adalah Demam rimba (jungle fever ) atau disebut juga Malaria tropika disebabkan oleh Plasmodium falciparum yg merupakan penyebab sebagian besar kematian akibat malaria karena parasit ini dapat menghalangi jalan darah ke otak, menyebabkan koma, mengigau, serta kematian.

...

Mohon maaf harus dipotong sampai sini. Cerita ini dalam tahap revisi untuk buku cetak. Silakan kunjungi instagram Galeri_lori untuk informasi selanjutnya. Terima kasih sudah setia membaca Reaksi Hati.

...



Indeks cerita dapat di klik di sini.


Kalau suka sama thread satu ini tolong bantu share ya. Biar lebih banyak yang baca dan Lori semakin semangat nulisnya. Selamat membaca lanjutannya.




Btw, Lori kan ada rencana cetak cerita ini lewat event Samudera Printing. Nah, Samudera Printing ini ngadain Giveaway lho. Yuk ikutan. Kali aja kamu yang menang.


Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
Diubah oleh IztaLorie
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rifada23 dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
20-01-2020 08:50

Reaksi Hati

Eksperimen 2

Part Sebelumnya
Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
Gambar by : IztaLorie
Edit : Ibis Paint


Di thread kali ini Lori akan banyak memakai istilah-istilah yang mungkin jarang diketahui. Kalau Lori kelupaan memberi keterangan, minta tolong ditanyakan saja ya.


...

Elang melepaskan tangan dengan tiba-tiba lalu berdiri dan memasukkan tangan ke saku celana. "Berhubung Rindu dan Hera sudah kembali jadi aku pergi dulu ya."

Rasanya separuh jiwa Elok dibawa pergi oleh Elang saat melihat punggungnya menjauh. Dia pun bertopang dagu mengagumi ciptaan Tuhan yang luar biasa lumer hari ini.

"Harusnya kamu bilang makasih sama kita-kita." Perkataan Rindu yang diucapkan tepat di telinga membuat separuh jiwa Elok yang tadinya ikut pergi bersama dengan Elang jadi dipaksa masuk lagi. Seperti terkena hempasan ombak, begitu mengejutkan.

"Makasih sudah meninggalkanku di sini dan terjebak dalam situasi yang tidak enak karena Jesi, Fahmi, dan Elang," ujar Elok dengan sinis. Hilang sudah binar ceria di matanya dan digantikan dengan kilatan-kilatan amarah yang mulai memercik.

"Harusnya kamu berterima kasih karena kami menyelamatkanmu dari situasi memalukan jika tiba-tiba Elang menciummu. Bayangkan! ini kampus lho, tapi kalian berani-beraninya bermesraan di sini." Hera duduk lalu bertopang dagu menatap dengan ekspresi jahil.

"Cium? Cium apaan? Ngaco deh ah," protes Elok untuk menutupi rasa malu karena mereka pasti sudah melihat kejadian tadi.

"Terus, kesimpulannya apa?" Lebih baik mengalihkan perhatian biar Elok tidak terus menerus digoda.

"Gini, Lok. Kami tadi memang sengaja meninggalkanmu agar tercipta kesempatan untuk mereaksikan Jesi, Elang, dan kamu. Anehnya kami sama sekali tidak melihat Jesi di sekeliling kalian." Rindu ikut duduk.

"Memang aneh karena tadi Jesi habis nyamperin aku trus pergi sama Elang. Masa sih nggak ada? Jangan-jangan kalian kurang teliti yang mengamati?"

"Lok, kita ini analis. Seorang analis yang baik adalah orang yang teliti dan kami analis yang baik, kami teliti. Kami melihat ke segala arah dan memastikan kalau Jesi memang tidak ada." Hera memberi penjelasan yang masuk akal.

...

Mohon maaf harus dipotong sampai sini. Cerita ini dalam tahap revisi untuk buku cetak. Silakan kunjungi instagram Galeri_lori untuk informasi selanjutnya. Terima kasih sudah setia membaca Reaksi Hati.

...


...

Catatan :

ka·ta·li·sa·tor n 1. katalis; 2. seseorang atau sesuatu yang menyebabkan terjadinya perubahan dan menimbulkan kejadian baru atau mempercepat suatu peristiwa

...

Indeks cerita dapat di klik di sini.


Kalau suka sama thread satu ini tolong bantu share ya. Biar lebih banyak yang baca dan Lori semakin semangat nulisnya. Selamat membaca lanjutannya.




Btw, Lori kan ada rencana cetak cerita ini lewat event Samudera Printing. Nah, Samudera Printing ini ngadain Giveaway lho. Yuk ikutan. Kali aja kamu yang menang.


Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
Diubah oleh IztaLorie
profile-picture
profile-picture
profile-picture
69banditos dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
10-01-2020 01:24

Reaksi Hati

Kembali Seperti Semula



Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
Gambar by : IztaLorie
Edit : Ibis Paint


Elok membentur-benturkan kepala dengan pelan di atas meja. Menyesali kedatangannya yang terlalu pagi. Padahal kemarin sudah merencanakan untuk menghindari Elang sampai ingin dapat nilai jelek, eh sekarang malah tidak sabar ingin segera bertemu.

Gagasan penebusan dosa yang muncul ketika membuka mata pagi ini membuatnya berpikir kalau mungkin ini cara yang dipakai Tuhan untuk memberinya kesempatan meminta maaf pada Elang. Berharap kalau datang lebih pagi bakalan bisa berduaan dengan cowok itu.

Namun permohonannya tidak terkabul. Sudah banyak yang datang, terutama cewek-cewek yang rela membuat keributan demi bisa duduk di dekat Elang.

Sebuah buku ditaruh dalam kondisi terbuka dan berdiri untuk menyembunyikan wajah Elok yang muram. Bagaimana caranya agar bisa berbicara jujur pada Elang?

Tiba-tiba udara dingin dari AC bagian depan kelas menerpa rambut Elok. Rupanya itu adalah ulah usil Hera yang mengambil tameng buku miliknya.

"Cie, cie yang partnernya baru." Hera menghempaskan diri ke bangku terdekat, menarik bangku itu hingga berhimpit dengan bangkunya.

Elok mengangkat kepala sejenak lalu kembali menempelkannya pada permukaan meja.

Membenturkan bahunya Elok menjadi salah satu cara untuk mendapatkan perhatiannya. "Aku lihat si Elang bisa lumer sama kamu. Kamu apain?" Hera menunjuk Elang yang melintas di depan kelas.

"Biasa aja. Eh gimana kabar gebetanmu yang baru?" Elok mengeluarkan jurus andalan untuk mengalihkan perhatian cewek itu dari Elang.

"Biasa aja. Ehm, Lok. Gimana kalau sekarang aku gebet Elang aja? Sepertinya sudah jinak." Hera memandang Elang dengan penuh harap.

"Coba aja kalau berani," ujar Elok dengan masa bodoh.

"Siapa takut." Hera berdiri seketika dan melangkahkan kaki langsingnya untuk mendekati Elang.

Siapa pun tahu tentang reputasi Hera sebagai sang penggoda. Tidak ada cewek waras yang menyarankan Hera untuk menggoda cowok yang ditaksirnya. Elok pasti sudah gila saat ini.

Rindu melenggang mendekat lalu berhenti tepat di depan Elok yang tengah kembali membenturkan kepala. Memutar tubuhnya setengah putaran hingga bisa menatap ke depan kelas dengan jelas. Rindu meletakkan tangan di pinggang, menumpukan beban tubuh pada kaki kanan lalu menunjuk ke depan dengan wajah tidak percaya. Berkata-kata dengan lambat untuk menekankan tiap kata yang terucap. "Apa yang dilakukan Hera di sana?"

"Hanya mengajak ngobrol Elang," jawab Elok sambil menyibukkan diri dengan mengeluarkan buku catatan untuk teori kimia amami dengan harapan sahabatnya tidak bisa membaca matanya.

Rasa khawatir membuat Rindu meraih tangan Elok untuk mendapatkan perhatian. "Kamu tahu kan kalau aku tidak suka kedekatan diantara kalian. Aku takut kalau dia akan merebut Elang darimu."

"Sejak dulu sampai sekarang pun, Elang bukan milikku." Elok tersenyum getir.

"Aku sangat mengenalmu dan aku tahu kalau kamu berbohong. Wajahmu sepolos buku harian yang terbuka sehingga dapat membaca dengan jelas." Rindu mengelus telapak tangan Elok dengan penuh sayang.

"Hai, kalian seperti lesbi saja." Hera yang tiba-tiba duduk di samping Elok begitu mengejutkan hingga Rindu melepaskan genggaman tangan.

"Gimana ... gimana?" tanya Elok. Memoles suara agar terdengar antusias padahal dalam hati was-was. Kalau sampai Elang jatuh ke tangan Hera, terus gimana nasib hubungan yang baru dirancang untuk diperbaiki.

"Beku. Cuek banget kaya biasa." Hera mengeluhkan sikap Elang.

Diam-diam Elok merasa lega karena cowok itu sudah kembali seperti semula. Tipe yang cuek dan sulit didekati oleh para cewek. Entah apa yang terjadi kemarin hingga Elang banyak bicara walau pun yang keluar dari mulutnya adalah ejekan.

"Eh, siapa itu?" tanya Hera dengan hebohnya.

"Cantik." Pujian itu lolos dari bibir Elok tanpa bisa difilter.

Cewek berkulit putih mulus bak model itu menghampiri Elang. Dia menarik kursi agar lebih dekat.

Detak jantung Elok berubah menjadi semakin cepat karena cemburu yang coba ditekan agar tidak tersembur keluar. Elok mengumpat dalam hati. Tidak seharusnya segugup ini hanya karena Elang didekati oleh cewek yang begitu menarik.

"Bukannya itu Jesi? Mantannya Elang? Masih cantik kamu kok dari pada dia." Rindu menepuk-nepuk pundak Elok.

Elok menghargai niat baik sahabatnya tapi tetap saja rasa tidak enak menyentak hati ketika mendengar kata mantan. Naif sekali karena sempat mengira Elang belum pernah berpacaran.

"Dengar-dengar Jesi ingin balikan lagi." Rindu melupakan perasaan Elok dengan cara mulai bergosip dengan Hera.

"Mau ke mana, Lok? Kelas sudah mau mulai nih." Hera berteriak kencang karena menyadari Elok melangkah meninggalkan mereka.

Siapa coba yang tidak gerah kalau mendengar tentang mantan yang terlalu cantik dan kata balikan digabungkan dalam satu percakapan.

Elok masih sempat melirik kedua sejoli waktu melewati mereka. Jesi menggengam tangan kanan Elang memang terlihat begitu bersinar. Bagaimana dia dapat menandinginya.

Namun ekspresi Elang yang datar seperti biasanya mau tak mau membuat Elok keheranan. Apa seperti ini gaya berpacaran mereka. Jesi yang lebih agresif sedang Elang biasa-biasa saja.

"Mau kemana, Lok?" Fahmi merentangkan kedua tangan untuk mencegat di depan pintu.

"Cari minum. Panas banget nih." Elok mengibaskan tangan di depan muka.

Rasa dingin menyerang pipi yang bersentuhan dengan plastik berisi es teh membuat Elok menjerit lalu mendorongnya menjauh.

"Minum ini saja. Tenang, belum kuminum kok." Fahmi kembali mengulurkan plastik es itu.

"Makasih." Sebenarnya cuaca tidak sepanas itu hingga butuh es tapi Elok tetap menyedot dengan penuh semangat.

Tanpa permisi Fahmi menarik Elok hingga sampai di depan Elang membuat cewek itu kembali mengumpat dalam hati. Elok mengigit-gigit serotan berpura-pura cuek saja padahal sebenarnya sangat gugup.

"Eh, esku tuh," protes Elok nggak terima ketika Elang menarik paksa plastik es lalu menyedot hingga habis seolah-olah itu miliknya.

"Dari pada buat mainan, lebih baik kuminum saja. Haus."

"Ih, Elang kok gitu sih. Itu tadi kan bekasnya mbak-mbak ini. Kalau masih haus, Jesi beliin minum ya? Elang mau minum apa?" tanya Jesi dengan centilnya.

"Es jeruk," sambar Fahmi sambil tersenyum tanpa dosa.

"Nggak nawarin kamu," sahut Jesi judes.

"Es jeruk dua. Satunya buat Fahmi." Fahmi tersenyum penuh kemenangan. Dia bahkan masih sempat memainkan alis untuk menggoda Jesi.

"Tunggu di sini. Biar Jesi belikan." Jesi segera melesat pergi ketika mendengar pesan Elang.

"Dia tidak pernah menuruti permintaanku, tapi kalau kamu yang ngomong pasti langsung dipenuhi." Nada bicara Fahmi terdengar sinis.

Dahi Elok berkerut ketika mendengarnya. Apakah Fahmi iri? Atau jangan-jangan cemburu karena Jesi lebih memperhatikan Elang? Elok menutup pikiran itu karena ini bukan urusannya.

Tanpa berpamitan, Elok kembali ke barisan belakang. Tidak ada gunanya terus berada di dekat mereka.

Rindu dan Hera sudah senyum-senyum nggak jelas. "Apa? Udah nggak usah mikir macem-macem. Aku jadi kambing congek kok," ujar Elok ketus sebelum diintrograsi mereka.

Dosen sudah memulai materi saat Jesi melenggang memasuki kelas. "Apa yang kamu lakukan di sini? Masuk ke kelasmu sendiri!"

Elok, Rindu, dan Hera terkikik dengan kompak karena melihat Jesi yang pucat pasi disemprot sama dosen.

"Rasain. Suruh siapa keganjenan,"  ejek Hera.

Teori kimia amami usai sudah. Ini saatnya mereka menuju laboratorium untuk mengikuti praktikum.

Berjalan bersisian dan membicarakan bahan praktik membuat Elok lupa akan Jesi. Anehnya wajah Hera jadi semakin berseri-seri ketika semakin dekat dengan lab parasitologi.

Kali ini Elok duduk di tempat yang tepat agar tidak lagi ditertawakan oleh Elang dan juga Fahmi. Tempat duduk di lab parasitologi berbeda dengan lab hematologi. Mereka duduk berhadapan dengan yang lain dan dipisahkan dengan meja persegi panjang untuk delapan orang. Ini memungkinkan buat Elok untuk memandangi wajah Hera yang makin bersinar.

Rupanya Fahmi juga menyadari perubahan Hera hingga ikut-ikutan memandanginya.

"Hera kenapa?" tanya Fahmi ketika tak juga menemukan jawaban.

Elok hanya bisa angkat bahu melihat kelakuan ganjil cewek itu. Bahkan sekarang senyuman dari mata turun ke bibir dan semakin lebar.

Hati Elok serasa dipukul dengan palu hingga berdentam ketika menyadari arti dari senyuman itu. Jenis senyuman aku senang karena bisa dekat-dekat dengan Elang. Itulah arti sebenarnya. Senyuman yang sering diperlihatkan oleh mayoritas cewek di kampus.

"Hai, Lang. Sekarang kita jadi partner ya," sapa Hera centil sambil memamerkan bulu-bulu mata lentik yang bergerak naik turun untuk menggoda.

Kedipan itu membuat Elok dan Fahmi mengerutkan dahi. Kelihatan banget kalau Hera mencoba menarik perhatian Elang.

Fahmi mencondongkan badan mendekat. "Hera kesambet setannya Elang ya?" bisiknya.

"Iya kali," jawab Elok singkat untuk memunculkan kesan masa bodoh.

Perut Elok bergejolak karena sepanjang praktik, Hera selalu mengambil kesempatan untuk mendekati Elang. Hal ini memungkinkan karena praktikum parasitologi mengharuskan kami untuk terus bergerak dari meja ke meja untuk melihat preparat yang diletakkan di masing-masing mikroskop yang tersebar.

Cukup sudah, Elang sudah tidak tahan lagi dengan tingkah Hera yang tiba-tiba terus menempel padanya. "Mi, tolong urus partnermu ini." Elang mendorong Hera menjauhinya lalu menarik Elok hingga terhuyung jatuh di pelukannya. Segera saja pipi cewek itu merona seperti tomat yang sudah matang.

Bibir Hera menipis karena merasa dihina Elang dengan penolakan. Fahmi menyentuh lengan Hera, mengingatkan agar kembali bergerak untuk melihat preparat lain, tapi malah menepis tangan Fahmi.

Elang melepaskan pegangannya. "Berjalan di belakangku."

Mengekor tepat di belakang Elang membuat Elok semakin tidak enak hati karena merasakan pandangan tajam dari teman-teman cewek yang sudah melihat kejadian itu.

Elok mulai mencondongkan badan untuk melihat preparat yang sudah dilihat Elang. Memang tidak wajib berurutan tapi Elang tetap bersikeras agar Elok tidak jauh-jauh darinya.

"Lang, ini keterangannya apa ya?"

Elok dan Fahmi langsung mendongak kaget ketika mendengar suara Hera. Cewek itu masih berani bertanya setelah kejadian tadi. Elok bahkan sempat berpikir kalau Hera bakalan mendiamkan Elang. Gigih juga perjuangannya. Apa Elok harus bersikap seperti itu dalam merebut hati Elang? Itu berarti harus bersaing dengan sahabat sendiri. Namun pikiran itu membuatnya merasa bersalah hingga menggelengkan kepala beberapa kali untuk mengusir pikiran itu jauh-jauh.

"Tanya Fahmi saja. Diakan partnermu," jawab Elang sambil mempertahankan ekspresi datarnya.

"Ah Elang, nggak asik nih." Hera mencebik.

Namun Elang tidak peduli dengan pendapat cewek itu. Semoga saja dia marah besar dan muak dengan tingkah laku Elang hingga mau angkat kaki jauh-jauh.

"Udah selesai, Lok?" tanya Fahmi yang melihatku bengong sambil menatap halaman buku.

Aku menggeleng lemah. Masih tersisa tiga bagian lagi yang belum kutandai. Tadi tidak fokus karena insiden Hera didorong Elang.

"Mana yang nggak ngerti?" Fahmi mencondongkan badan mendekati Elok.

Ini tidak boleh dibiarkan terjadi. Seharusnya Elok bertanya padanya, bukan pada Fahmi. Gelombang kecemburuan mulai menyerang.

Melihat gelagat Elok yang hendak mendorong buku mendekati Fahmi membuat Elang makin geram. Dia menggerakkan telapak tangannya untuk menahan buku. Hal itu membuatnya mendapatkan tatapan protes.

Tanpa bicara, Elang menyodorkan bukunya untuk dicontek. Sementara itu terjadi dia malah memilih mengalihkan pandangan ke arah lain. Bukankah itu tampak keren?

"Tinggal tiga bagian saja. Lebih baik aku tanya Fahmi." Bukannya menerima kebaikan hati Elang, cewek itu malah mengembalikan buku Elang kembali ke tempat semula.

Ini membuat Elang gemas. "Mana yang kurang?" Elang memberikan tatapan tajam hingga membuat kesan mengerikan.

"In ... ini, ini, dan ini," ujar Elok dengan terbata-bata.

Elang tertegun karena sikap yang ditunjukkan sudah membuat Elok mengkerut ketakutan. Segera saja mengubah ekspresi wajahnya menjadi lebih ramah dan menggunakan nada lembut saat menerangkan.

Benar-benar tidak bisa dimengerti. Bagaimana bisa orang berubah sikap dengan begitu cepat. Elok tertawa dalam hati ketika memikirkan kalau cowok itu lebih cocok dipanggil bunglon dari pada elang. Sikapnya berubah dengan cepat disetiap kondisi.

Praktek hari ini berakhir sudah. Elok melambaikan tangan pada Rindu ketika melewati lab mikrobiologi. Mempercepat langkah agar segera sampai ke lantai dasar. Rasanya sudah tak sabar ingin segera sampai rumah.

Hera berlari kecil mendekati Elok lalu menyentuh bahunya agar cewek itu berbalik menghadapinya. "Lok, sorry. Hari ini aku tidak bisa pulang sama kamu. Aku ada janji dengan Rindu. Kamu pulang sendiri nggak papa kan?" Hera mengatupkan dua telapak tangan untuk meminta maaf. Hera memasang wajah menyesal membuat Elok mengangguk dengan segera.

"Nggak papa kok, Hera. Aku pulang duluan ya."" Elok memaksakan diri tersenyum lalu melambai sekilas sebelum berbalik.

Gemerincing kunci motor terdengar ketika Fahmi menangkap kunci yang dilemparkan Elang. "Wah, hari ini aku yang didepan? Tumben kamu mengizinkan aku mengendarai motor kesayanganmu?"

"Bawa saja, besok jangan lupa dikembalikan. Aku mau naik angkutan umum saja. Suntuk banget nih." Elang sudah tidak sabar untuk berlari ketika melihat Elok berjalan sendirian.

Elang tidak mempedulikan Fahmi yang masih menanyakan keseriusannya dalam menyerahkan motor. Yang dipedulikan sekarang hanya cewek yang saat ini mulai mengjang dari pandangan karena sudah membelok ke kiri setelah melewati pintu gerbang.

Ternyata tidak butuh waktu lama untuk menyusulnya karena Elok berjalan demikian lambat sampai siput saja terasa lebih cepat dibandingkan langkah cewek yang mulai kemarin kembali mengganggu pikirannya.

Langkah Elok terasa berat dan ragu-ragu. Tangannya bahkan sudah mulai berkeringat dingin ketika sampai di perempatan besar. Dirinya merasa menciut sedemikian cepat hingga jarak yang harus diseberangi semakin lama semakin tampak lebar.

Napas mulai tidak teratur ketika memutuskan untuk mengangkat kaki melewati jalan itu. Namun keraguan menyergap Elok. Dirinya masih belum berani menyeberang hingga lampu kembali berubah warna.

Elok menoleh ke kanan dan ke kiri, terpaku melihat jalanan yang ramai sekali. Bis-bis besar melaju dengan kencang membuat nyalinya semakin ciut.

Syukurlah ada sosok yang berdiri di seberangnya jadi Elok ada teman untuk menyeberang. Orang itu adalah Elang. Tangan kanan Elok terulur dengan ragu-ragu hendak meraih jemari tangan Elang tapi tangan itu berhenti di udara. Apa Elang akan marah kalau tiba-tiba Elok menggandengnya? Menyadari hal itu membuat Elok menurunkan kembali tangannya.

Mata cewek itu membulat ketika merasakan gengaman membuatnya memandang kedua tangan yang saling bertautan. Jalanan seolah menghilang karena mendapati Elang tersenyum saat mengangkat tangan mereka. Ketakutan Elok seketika sirna. Warna-warni bunga tiba-tiba muncul di benak Elok. Ini terasa seperti tengah berduaan di tengah taman yang begitu indah. Rasanya tidak ingin segera sampai diujung dan melepaskan tangannya.

...

Indeks cerita dapat di klik di sini.


Kalau suka sama thread satu ini tolong bantu share ya. Biar lebih banyak yang baca dan Lori semakin semangat nulisnya. Selamat membaca lanjutannya.




Btw, Lori kan ada rencana cetak cerita ini lewat event Samudera Printing. Nah, Samudera Printing ini ngadain Giveaway lho. Yuk ikutan. Kali aja kamu yang menang.

Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
Diubah oleh IztaLorie
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rifada23 dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
30-01-2020 23:57

Reaksi Hati

Kencan Sesaat



Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
Gambar by : IztaLorie
Edit : Ibis Paint


"Hmm," deheman pura-pura yang dipaksakan oleh Bagus terdengar sinis membuat Elok berusaha melepas genggaman tangan Elang, tapi malah dipererat.

"Hai, Gus." Elang melemparkan cengiran polos tak bersalah.

"Buruan pulang! Aku sudah kepanasan menunggu di sini." Bagus menyerahkan helm pada Elok.

Elang malah mendorong helm itu kembali ke Bagus. "Biar aku yang antar Elok pulang. Kami mau jalan-jalan dulu."

Bagus menatap Elang,wajahnya menyiratkan rasa tidak suka. Elok jadi nggak enak hati. Dia paham betul kalau kakaknya pasti menyesal sudah datang sia-sia.

"Elok! Syukurlah kamu baik-baik saja." Rindu berlari mendekat. Napasnya masih belum teratur.

"Lebih baik Mas Bagus antar Rindu saja." Sebuah ide melintas di kepala Elok hingga dia mendorong Rindu ke arah Mas Bagus. Rindu yang tidak siap terhuyung-huyung hampir jatuh, tetapi Mas Bagus dengan sigap menahannya. Mereka berdua bertatapan dalam diam.

"Ehm, kami pergi dulu ya." Sekarang gantian Elok yang menggunakan deheman pura-pura itu lalu menarik Elang agar mengikutinya lari menjauh.

"Elokkk! Tega bener!" Teriakan Rindu malah membuat Elok tersenyum lebar.

"Sudah, nggak usah banyak protes. ayo naik!" Mas Bagus memang cowok bertanggung jawab, Elok bangga akan hal itu. Dia tidak akan membiarkan Rindu pulang sendiri meski mereka saling bermusuhan.

"Kamu sengaja kan? Apa tujuanmu?" Elang tak memandang Elok ketika bertanya. Perhatiannya terpusat pada jalan yang hendak dilalui.

"Kata orang antara benci dan cinta itu memiliki batasan yang sangat tipis. Siapa tahu mereka berjodoh, seperti kita." Elok mengayunkan tangan lebih tinggi seperti seorang anak kecil yang berjalan bersama ayahnya.

Elang tersenyum. "Semoga saja. Bagaimana kalau kita makan di warung selat Mbak Lies?"



Tentu saja Elok menyetujuinya. Bagaimana bisa menolak makanan enak, apalagi kalau ditemani oleh orang yang dicintai. Makan akan terasa lebih nikmat.

Mereka berjalan kaki dengan santai untuk menikmati kebersaman, lagi pula warung ini terletak di kampung dekat kampus jadi mudah dicapai tanpa naik motor.

Warung ini ramai seperti biasa, tapi mereka masih mendapat tempat di pojokan. Elok memesan selat galantin sedangkan Elang selat bistik. Kesukaan mereka memang tidak sama, tapi itu tidak jadi masalah selama hati mereka selalu terpaut satu sama lain.



Warung ini dulunya hanya sebuah rumah biasa, sekarang menggunakan dua rumah yang berhadapan untuk menampung pembeli. Ruangannya dihiasi dengan berbagai keramik membuatnya terlihat unik.

"Kira-kira Rindu sampai di rumah dengan selamat nggak ya?"

Elang terkekeh."Bukannya terbalik? Aku lebih mencemaskan kondisi Bagus. Dia dianiaya selama perjalanan atau nggak."

...

Mohon maaf harus dipotong sampai sini. Cerita ini dalam tahap revisi untuk buku cetak. Silakan kunjungi instagram Galeri_lori untuk informasi selanjutnya. Terima kasih sudah setia membaca Reaksi Hati.

...



...



Indeks cerita dapat di klik di sini.


Kalau suka sama thread satu ini tolong bantu share ya. Biar lebih banyak yang baca dan Lori semakin semangat nulisnya. Selamat membaca lanjutannya.


Btw, Lori kan ada rencana cetak cerita ini lewat event Samudera Printing. Nah, Samudera Printing ini ngadain Giveaway lho. Yuk ikutan. Kali aja kamu yang menang.


Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
Diubah oleh IztaLorie
profile-picture
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
26-01-2020 12:55

Reaksi Hati

Tentang Kita

Part Sebelumnya
Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
Gambar by : IztaLorie
Edit : Ibis Paint


"Kita?" tanya Elok dengan bodohnya. "Iya, kita." Elang melepaskan genggaman tangan lalu ikut duduk di ranjang tepat di sebelahnya.

"Sebentar, sebentar, sebelum membahas tentang kita. Aku mau buat pengakuan dulu. Aku mau minta maaf karena ulah manjaku minta es krim di toko pinggir jalan raya sudah membuat ibumu meninggal. Kalau saja aku tidak senakal itu dengan terus merengek, pasti beliau saat ini masih hidup. Kecelakaan itu tidak akan terjadi. Ini alasan utama aku menjauhimu. Karena terlalu pengecut untuk meminta maaf."

Air mata meleleh membasahi pipi mulus Elok. Elang menangkup pipi Elok dengan kedua tangan lalu menghapus air mata itu menggunakan ibu jari.

"Aku tidak pernah menyalahkanmu, itu sudah merupakan takdir Tuhan. Bodohnya aku sampai tidak menyadari kalau kamu begitu terpukul dan mengalami duka sedalam diriku jadi aku juga tak mengacuhkanmu. Apa ini alasan kamu ketakutan kalau menyeberang jalan raya?"

"Kamu tahu?"

"Bagaimana bisa tidak mengetahuinya. Badanmu gemetar dan ragu untuk melangkah. Kalau aku tidak menggandengmu, apa yang akan terjadi?"

Elok tersenyum kecut. "Mungkin akan pingsan lagi."

"Lagi? Maksudnya kemarin itu bukan yang pertama kalinya? Lalu bagaimana caramu pulang selama ini?"

...

Mohon maaf harus dipotong sampai sini. Cerita ini dalam tahap revisi untuk buku cetak. Silakan kunjungi instagram Galeri_lori untuk informasi selanjutnya. Terima kasih sudah setia membaca Reaksi Hati.

...



Catatan :
Ose : adalah alat untuk memindahkan kultur dari satu media ke media lain.
Inkubasi : proses memelihara kultur bakteri dalam suhu tertentu selama jangka waktu tertentu untuk memantau pertumbuhan bakteri
Akfar : Akademi Farmasi

...

Indeks cerita dapat di klik di sini.


Kalau suka sama thread satu ini tolong bantu share ya. Biar lebih banyak yang baca dan Lori semakin semangat nulisnya. Selamat membaca lanjutannya.




Btw, Lori kan ada rencana cetak cerita ini lewat event Samudera Printing. Nah, Samudera Printing ini ngadain Giveaway lho. Yuk ikutan. Kali aja kamu yang menang.


Mereaksikan Kamu dan Aku Menjadi Kita
Diubah oleh IztaLorie
profile-picture
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
sfth-hitam-season-2
Stories from the Heart
misteri-gunung-kemukus
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia