Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
32
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5df16ad4a2d1956d4620e1b0/bunga-di-pinggir-jalan
Azalea menengadah. Merasakan setetes demi setetes air shower yang menerpa tepat di dahi. Kemudian, mengalir diantara kedua mata bulatnya, hidung, dan dagu. Seluruh inderanya serasa diterpa, disadarkan, dan disucikan. Tak jauh beda seperti malam-malam sebelumnya. Hanya saja, kali ini tak ada lagi tangis yang mengiringi rasa dingin di sekujur tubuh. Kaki jenjang nan halusnya melangkah perlahan menu
Lapor Hansip
12-12-2019 05:16

Bunga di Pinggir Jalan

Past Hot Thread
Bunga di Pinggir Jalan


Bunga di Pinggir Jalan
Oleh : Rieka Kartieka

Azalea menengadah. Merasakan setetes demi setetes air shower yang menerpa tepat di dahi. Kemudian, mengalir diantara kedua mata bulatnya, hidung, dan dagu. Seluruh inderanya serasa diterpa, disadarkan, dan disucikan. Tak jauh beda seperti malam-malam sebelumnya. Hanya saja, kali ini tak ada lagi tangis yang mengiringi rasa dingin di sekujur tubuh.

Kaki jenjang nan halusnya melangkah perlahan menuju lemari pakaian besar berwarna putih. Dengan hati-hati Azalea menggeser pintu lemari. Ia tak ingin membangunkan manusia lain yang tengah kelelahan di ranjangnya. Sayang, usaha itu sia-sia. Dengan sergap, pria berkumis itu terduduk walau setengah sadar.

"Sudah mandi?"

"Hmm ...." Azalea mengeratkan handuk hitam yang menutupi bagian dada hingga lutut. Tiba-tiba merasa malu.

*****

"Tolong buatkan aku kopi seperti biasa, ya," pinta Arsya yang masih tertutup seprai biru muda, ketika Azalea tengah mengenakan pakaian.

Azalea melihat betapa berantakan ranjangnya. Entah kemana selimut yang sebelumnya terletak rapi. Mungkin terdesak oleh dua tubuh manusia yang saling beradu lima belas menit yang lalu.

Setelah mengenakan pakaian baby doll berlengan dan bercelana panjang, Azalea pun menuju dapur yang tak jauh dari kamar. Dapur mungil bernuansa putih dengan beberapa tanaman rambat aquatik adalah tempat favoritnya. Di situ ia bisa duduk berlama-lama sendiri. Memikirkan apapun yang terpikirkan.

Dua cangkir kopi susu sasetan telah terhidang. Dari cangkir miliknya terlihat kepulan asap yang meliuk ke atas lalu menghilang. Sesekali Azalea meniup asap itu, lalu tersenyum. Seperti anak kecil yang baru menemukan mainan baru.

"Mana kopiku?" Suara berat dan parau Arsya yang telah berpakaian rapi seperti semula mengagetkan Azalea.

Usia Arsya memang tak muda lagi, hampir 40 tahun. Namun, ia memiliki kharisma sendiri. Tubuhnya yang tinggi tegap dan masih terjaga, seakan menyamarkan usia sesungguhnya. Hidung mancung dengan kulit putih, adalah salah satu hal yang memperlihatkan ia seorang peranakan bule. Sedangkan bola mata dan rambut hitam itu, mengidentifikasikan jika ia memiliki genetik Indonesia.

"Tidak terlalu panas, seperti biasa." Azalea menunjuk pada cangkir putih dengan semburat merah dibagian bawah. Dan seperti biasa, Arsya langsung menandaskan tanpa sisa.

"Kopinya enak. Terima kasih." Arsya mengecup kening Azalea buru-buru lalu menyambar tas dan kunci mobil yang tergeletak di atas meja makan.

"Tunggu!" Azalea segera membuntuti Arsya dan membersihkan noda merah di kemeja putih yang membungkus tubuh Arsya sempurna.

"Untung cuma sedikit." Lesung pipi kecil itu membuat dada Azalea bergetar. Bukan karena cinta dan rindu yang membuncah seperti biasa, tapi lebih pada takut kehilangan.

***

"Menikahlah denganku." Arsya menggenggam erat tangan Azalea.

Azalea menelisik dalam pada mata tajam pria yang dicintainya sejak kecil itu. Entah sebuah kebetulan atau memang suratan takdir, setelah lima belas tahun, Azalea dapat bertemu kembali.

"Aku tahu, kamu masih menyimpan rasa yang sama seperti dulu." Arsya terus mendesak Azalea. Hingga angin pantai terasa lebih tajam menerpa kedua pipinya yang mulai kemerahan.

Azalea memalingkan muka. Melihat pada pasir putih Pantai Drini yang membentang diantara karang putih. Di sana tampak dua anak kecil berlarian mengejar ombak hingga bibir pantai. Kemudian, lari menjauh karena gulungan ombak kembali menyisir kaki-kaki kecil mereka. Riuh tawa dua bocah itu mengingatkan Azalea akan tingkahnya bersama Arsya ketika masih di bangku SD. Kala itu, Azalea hanyalah seorang bocah 6 tahun yang sudah mulai berani menitipkan hati pada anak laki-laki kelas 5 SD. Kurang ajar memang Azalea kecil. Ia selalu lupa jika Arsya adalah anak majikan orang tuanya.

"Azalea." Genggaman Arsya semakin kencang. Menyadarkan Azalea ada sebuah benda yang terasa risih di antara jemarinya.

"Kamu sudah bertunangan, Sya." Azalea tersenyum memperlihatkan deretan gigi dengan gingsul kecil di kanan atas. Kemudian mengatup cepat, seiring mata yang melirik pada cincin putih di jari manis Arsya.

"Aku akan tetap menikahimu," ujar Arsya tanpa ragu saat itu. Saat cinta masih di awang-awang dan mengalahkan segala logika.

Dan ....

Di sinilah Azalea kini. Berada pada sebuah 'sangkar emas' yang telah memberikan segalanya. Tiga tahun sudah Azalea menempati apartemen mewah di ibu kota. Sebuah tempat persembunyian sempurna bagi mereka yang tak ingin terganggu privasinya.

Tiga tahun sudah Azalea menjadi seorang wanita yang mengisi hati Arsya. Tiga tahun sudah foto pernikahan sederhana itu tergantung di tembok kamar nuansa modern minimalis kesukaannya. Tiga tahun sudah hidupnya dipenuhi kebahagiaan yang semakin lama semakin terpupuk sempurna. Tiga tahun sudah ... Azalea bisa benar-benar memiliki cinta dalam hidupnya

Sayang, Azalea bukanlah wanita satu-satunya.

*****

Dua minggu lalu.

Pipi Azalea tak henti berkedut. Rasa panas pun semakin lama semakin terasa. Di hadapannya, ada seorang wanita anggun yang tengah mengatur napas. Matanya bengkak dan merah, seperti orang yang habis menangis semalaman. Namun, tatapnya tenang dan tajam.

Azalea tak mengira jika wanita ini berani datang ke apartemennya untuk memberikan sebuah tamparan. Ingin sekali ia membalas lebih keras di pipi putih nan glowing itu. Atau mungkin memberikan sebuah jambakan pada rambutnya yang lurus dan halus. Namun, Azalea harus tampak lebih elegan. Ia hanya diam dan menatap lurus pada wanita dengan tinggi tak jauh berbeda.

"Murahan!" Wanita itu menggeram. Bibirnya bergetar menahan seluruh amarah yang terpendam.

Azalea menghela napas. Ia mundur selangkah. Bukan, bukan karena takut. Namun, untuk menjaga janin yang ada di dalam kandungannya.

"Masuk, Mbak Tamara," ajak Azalea.

"Jadi, kamu tahu namaku?" Tamara keheranan.

"Tentu. Mas Arsya cerita semuanya." Penuh percaya diri, Azalea mendongakkan kepala. Ia merasa memiliki posisi lebih tinggi dibanding Tamara, walaupun ia hanyalah yang kedua.

Tentu saja, karena Arsya lebih mencintainya. Karena ia adalah cinta pertama Arsya. Dan Tamara dinikahi Arsya hanya sebuah perjodohan semata. Bukan karena cinta.

"Kamu, jangan berharap lebih pada Arsya," ancam Tamara. Tangan kanannya menggenggam tas wanita branded dengan kencang. Seakan ingin ia 'hadiahkan' ke kepala Azalea sekali hantam.

"Mungkin kalimat itu berlaku untukmu, Mbak Tamara." Ujung bibir sebelah kiri Azalea tertarik ke atas.

"Maksudmu?" Tamara heran.

"Maaf, saya sudah hamil tiga minggu." Azalea mengusap lembut perutnya.

"Bohong ...." Tamara merasa limbung, ia segera berpegangan pada gagang pintu untuk menstabilkan tubuhnya kembali. "Lagipula, jika benar pun aku yakin, Mama mas Arsya tidak akan menerimanya."

"Kamu salah. Mama sudah tahu. Bahkan beliau hadir dipernikahan kami." Azalea benar-benar merasa di atas angin.

Tamara merasakan pening yang teramat sangat. Ia belum siap menerima kenyataan di luar dugaan. Sepatu high heels merah yang dikenakan serasa tak ada gunanya. Penampilan mumpuni yang disiapkan untuk menghadapi wanita kedua milik suaminya seakan bukan senjata yang ampuh. Ternyata Azalea tak hanya cantik dan berani, tapi ia juga telah mengandung anak suaminya.

Ya, anak adalah kekurangan dari kehidupan rumah tangganya. Sudah lima tahun ia dan Arsya menanti tangis seorang bayi, tapi tak kunjung datang. Tamara selalu meminta kesabaran dan kebesaran hati Arsya. Mengingat memang ada masalah dalam rahimnya.

Namun, apalah daya. Arsya adalah anak tunggal yang harus memiliki penerus. Segala harapan besar kedua orang tua ada di pundaknya. Termasuk keberlangsungan usaha keluarga yang tak mungkin diberikan pada orang lain.

"Azalea, kamu ... tak lebih sebagai bunga di pinggir jalan. Kau cantik namun tak berharga," ceracau Tamara.

Azalea tersentak. Ia merasa ucapan Tamara tak sekadar racauan. Namun, lemparan keras yang menusuk hingga ke dalam hatinya.

****

"Jadi, kamu hamil?"

"Iya." Azalea menyodorkan secangkir kopi hitam panas. Lelaki itu pun menyeruput pelan-pelan. Ada sedikit noda hitam di ujung kumis tipisnya.

"Dan petualangan kita berakhir di sini, Sayang?" Badan tegap itu bergeser mendekati Azalea. Namun, Azalea segera berdiri mendekati laci kecil di bawah cermin besar bulat yang terletak di ruang tamunya.

"Di dalam amplop ini ada selembar cek sebesar yang kamu mau." Azalea melemparkan amplop potih berukuran besar kepangkuan Ryan.

"Azalea ... Azalea .... Untung saja aku mempertemukan kamu dengan Arsya lagi di kota itu. Jika tidak cinta lama tak akan bersemi kembali," ujar Ryan sambil menyesap amplop putih tak beraroma itu.

"Jika kami berjodoh, tak ada kamu pun, kami pasti bertemu." Azalea berdiri menatap cermin.

"Tapi, tanpa aku, sang tangan kanan terpercaya suamimu ini, mama Arsya tidak akan dapat diyakinkan agar anaknya menikah denganmu. Dasar, orang kaya hanya memikirkan keberlangsungan tahtanya saja." Ryan mengembuskan napas dengan berat.

"Mereka hanya mau darah dagingnya saja yang menyetir roda kepemimpinan. Padahal, tak lebih seperti boneka. Parahnya lagi ... ternyata ... yang mandul itu anaknya. Bukan Tamara." Ryan terbahak puas.

"Diam, Ryan! Enyah sekarang juga dari kami berdua. Dan ... jangan pernah menanyakan anak yang ada di dalam kandunganku ini." Napas Azalea memburu. Dadanya bergemuruh hebat. Ingin rasanya Ryan ia lempar ke luar dari apartemennya seperti secuil sampah.

"Kamu cantik, Azalea. Walaupun tak kau bayar, aku pasti menikmatinya. Bisa kukatakan untuk urusan wanita Arsya memiliki selera tinggi, tapi ternyata kamu licik. Sebetulnya, sayang sekali jika bos dan sahabatku itu jatuh ketanganmu. Tapi, apalah daya. Cinta memang buta." Ryan menyentuh rambut sebahu Azalea perlahan. Azalea pun melengos.

"Pergi, Ryan. Jangan kamu khawatirkan anak ini. Dia akan mendapatkan apa yang selalu kamu inginkan." Azalea menatap tajam pada Ryan.

"Semoga ... kamu bisa menjadi azalea yang benar-benar memberikan kesejukan pada Arsya, karena dia sangat mencintaimu. Jangan hanya menjadi azalea yang teronggok di pinggir jalan," bisik Ryan seraya mengecup pipi Azalea, kemudian berlalu.


--selesai--
Yogyakarta, 11 Desember 2019


#ceritarieka
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tuffinks dan 10 lainnya memberi reputasi
11
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 2
Bunga di Pinggir Jalan
12-12-2019 06:33
Ciamik๐Ÿ˜๐Ÿ˜
profile-picture
Novianti686 memberi reputasi
1 0
1
Bunga di Pinggir Jalan
12-12-2019 07:18
Keceeee
0 0
0
Bunga di Pinggir Jalan
12-12-2019 07:22
hehehe. aku masih kagok main ginian. ๐Ÿ˜† ajarin ya
0 0
0
Bunga di Pinggir Jalan
12-12-2019 09:13
Bagus nih..ditunggu keseruan berikutnya.
0 0
0
Bunga di Pinggir Jalan
12-12-2019 09:22
terima kasih banyak atensinya. ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š
0 0
0
Bunga di Pinggir Jalan
12-12-2019 12:36
Ceritanya bagus mbak, keren deh. besok lagi paj wan komentar sendiri dulu
0 0
0
Bunga di Pinggir Jalan
12-12-2019 13:13
kece .... Alurnya tak tertebak.
0 0
0
Bunga di Pinggir Jalan
12-12-2019 13:16
Quote:Original Posted By trifatoyah โ–บ
Ceritanya bagus mbak, keren deh. besok lagi paj wan komentar sendiri dulu


Makasih mbak Tei Fatoya. Seneng jenengan mampir ke sini ๐Ÿ˜Š
profile-picture
trifatoyah memberi reputasi
1 0
1
Bunga di Pinggir Jalan
12-12-2019 13:18
Quote:Original Posted By tityann โ–บ
kece .... Alurnya tak tertebak.


Makasih, Mba Tityann. Sudah sudi mampir dan menikmati. ๐Ÿ˜Š
profile-picture
tityann memberi reputasi
1 0
1
Bunga di Pinggir Jalan
12-12-2019 13:22
Quote:Original Posted By riekartieka โ–บ
Makasih mbak Tei Fatoya. Seneng jenengan mampir ke sini ๐Ÿ˜Š


Sama-sama mbak, kumpulan cerpen jadikan satu di sini. Makanya kenapa paje wan harus dikomentari sendiri. Itu nanti buat naruh link semua cerpen. Kalau cerbung baru bisa kirim lagi di SFTH,
0 0
0
Bunga di Pinggir Jalan
12-12-2019 13:24
Quote:Original Posted By riekartieka โ–บ
Makasih, Mba Tityann. Sudah sudi mampir dan menikmati. ๐Ÿ˜Š


Sama-sama, Mbak.emoticon-Blue Guy Smile (S)
0 0
0
Bunga di Pinggir Jalan
12-12-2019 13:24
Quote:Original Posted By trifatoyah โ–บ
Sama-sama mbak, kumpulan cerpen jadikan satu di sini. Makanya kenapa paje wan harus dikomentari sendiri. Itu nanti buat naruh link semua cerpen. Kalau cerbung baru bisa kirim lagi di SFTH,


Begitu .... Baik. Lagi coba belajar dikit-dikit. Hal yang baru ini.
profile-picture
trifatoyah memberi reputasi
1 0
1
Bunga di Pinggir Jalan
12-12-2019 13:35
Quote:Original Posted By riekartieka โ–บ
Begitu .... Baik. Lagi coba belajar dikit-dikit. Hal yang baru ini.


Oke semangat! Bisa mampir di Thread ku mbak. Ada kumpulan cerpen dan cerbung juga. Tentang kuliner juga banyak๐Ÿ˜ƒ
0 0
0
Bunga di Pinggir Jalan
13-12-2019 00:51
Bunga di Pinggir Jalan

emoticon-Kaskus Radio
0 0
0
Bunga di Pinggir Jalan
13-12-2019 04:07
huwaaa kereen laaah
0 0
0
Bunga di Pinggir Jalan
13-12-2019 04:42
Quote:Original Posted By triokadrunidiot โ–บ
Bunga di Pinggir Jalan

emoticon-Kaskus Radio


Waaaa .... Iya bener ๐Ÿ˜†
0 0
0
Bunga di Pinggir Jalan
13-12-2019 04:43
Quote:Original Posted By trifatoyah โ–บ
Oke semangat! Bisa mampir di Thread ku mbak. Ada kumpulan cerpen dan cerbung juga. Tentang kuliner juga banyak๐Ÿ˜ƒ


Siap, mbak e ... Pasti tak mampir.
0 0
0
Bunga di Pinggir Jalan
13-12-2019 04:44
Quote:Original Posted By RetnoQr3n โ–บ
huwaaa kereen laaah


๐Ÿ˜ Makasih udah mampir, lo ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜.
0 0
0
Bunga di Pinggir Jalan
14-12-2019 01:17
Quote:Original Posted By riekartieka โ–บ
Bunga di Pinggir Jalan


Bunga di Pinggir Jalan
Oleh : Rieka Kartieka

Azalea menengadah. Merasakan setetes demi setetes air shower yang menerpa tepat di dahi. Kemudian, mengalir diantara kedua mata bulatnya, hidung, dan dagu. Seluruh inderanya serasa diterpa, disadarkan, dan disucikan. Tak jauh beda seperti malam-malam sebelumnya. Hanya saja, kali ini tak ada lagi tangis yang mengiringi rasa dingin di sekujur tubuh.

Kaki jenjang nan halusnya melangkah perlahan menuju lemari pakaian besar berwarna putih. Dengan hati-hati Azalea menggeser pintu lemari. Ia tak ingin membangunkan manusia lain yang tengah kelelahan di ranjangnya. Sayang, usaha itu sia-sia. Dengan sergap, pria berkumis itu terduduk walau setengah sadar.

"Sudah mandi?"

"Hmm ...." Azalea mengeratkan handuk hitam yang menutupi bagian dada hingga lutut. Tiba-tiba merasa malu.

*****

"Tolong buatkan aku kopi seperti biasa, ya," pinta Arsya yang masih tertutup seprai biru muda, ketika Azalea tengah mengenakan pakaian.

Azalea melihat betapa berantakan ranjangnya. Entah kemana selimut yang sebelumnya terletak rapi. Mungkin terdesak oleh dua tubuh manusia yang saling beradu lima belas menit yang lalu.

Setelah mengenakan pakaian baby doll berlengan dan bercelana panjang, Azalea pun menuju dapur yang tak jauh dari kamar. Dapur mungil bernuansa putih dengan beberapa tanaman rambat aquatik adalah tempat favoritnya. Di situ ia bisa duduk berlama-lama sendiri. Memikirkan apapun yang terpikirkan.

Dua cangkir kopi susu sasetan telah terhidang. Dari cangkir miliknya terlihat kepulan asap yang meliuk ke atas lalu menghilang. Sesekali Azalea meniup asap itu, lalu tersenyum. Seperti anak kecil yang baru menemukan mainan baru.

"Mana kopiku?" Suara berat dan parau Arsya yang telah berpakaian rapi seperti semula mengagetkan Azalea.

Usia Arsya memang tak muda lagi, hampir 40 tahun. Namun, ia memiliki kharisma sendiri. Tubuhnya yang tinggi tegap dan masih terjaga, seakan menyamarkan usia sesungguhnya. Hidung mancung dengan kulit putih, adalah salah satu hal yang memperlihatkan ia seorang peranakan bule. Sedangkan bola mata dan rambut hitam itu, mengidentifikasikan jika ia memiliki genetik Indonesia.

"Tidak terlalu panas, seperti biasa." Azalea menunjuk pada cangkir putih dengan semburat merah dibagian bawah. Dan seperti biasa, Arsya langsung menandaskan tanpa sisa.

"Kopinya enak. Terima kasih." Arsya mengecup kening Azalea buru-buru lalu menyambar tas dan kunci mobil yang tergeletak di atas meja makan.

"Tunggu!" Azalea segera membuntuti Arsya dan membersihkan noda merah di kemeja putih yang membungkus tubuh Arsya sempurna.

"Untung cuma sedikit." Lesung pipi kecil itu membuat dada Azalea bergetar. Bukan karena cinta dan rindu yang membuncah seperti biasa, tapi lebih pada takut kehilangan.

***

"Menikahlah denganku." Arsya menggenggam erat tangan Azalea.

Azalea menelisik dalam pada mata tajam pria yang dicintainya sejak kecil itu. Entah sebuah kebetulan atau memang suratan takdir, setelah lima belas tahun, Azalea dapat bertemu kembali.

"Aku tahu, kamu masih menyimpan rasa yang sama seperti dulu." Arsya terus mendesak Azalea. Hingga angin pantai terasa lebih tajam menerpa kedua pipinya yang mulai kemerahan.

Azalea memalingkan muka. Melihat pada pasir putih Pantai Drini yang membentang diantara karang putih. Di sana tampak dua anak kecil berlarian mengejar ombak hingga bibir pantai. Kemudian, lari menjauh karena gulungan ombak kembali menyisir kaki-kaki kecil mereka. Riuh tawa dua bocah itu mengingatkan Azalea akan tingkahnya bersama Arsya ketika masih di bangku SD. Kala itu, Azalea hanyalah seorang bocah 6 tahun yang sudah mulai berani menitipkan hati pada anak laki-laki kelas 5 SD. Kurang ajar memang Azalea kecil. Ia selalu lupa jika Arsya adalah anak majikan orang tuanya.

"Azalea." Genggaman Arsya semakin kencang. Menyadarkan Azalea ada sebuah benda yang terasa risih di antara jemarinya.

"Kamu sudah bertunangan, Sya." Azalea tersenyum memperlihatkan deretan gigi dengan gingsul kecil di kanan atas. Kemudian mengatup cepat, seiring mata yang melirik pada cincin putih di jari manis Arsya.

"Aku akan tetap menikahimu," ujar Arsya tanpa ragu saat itu. Saat cinta masih di awang-awang dan mengalahkan segala logika.

Dan ....

Di sinilah Azalea kini. Berada pada sebuah 'sangkar emas' yang telah memberikan segalanya. Tiga tahun sudah Azalea menempati apartemen mewah di ibu kota. Sebuah tempat persembunyian sempurna bagi mereka yang tak ingin terganggu privasinya.

Tiga tahun sudah Azalea menjadi seorang wanita yang mengisi hati Arsya. Tiga tahun sudah foto pernikahan sederhana itu tergantung di tembok kamar nuansa modern minimalis kesukaannya. Tiga tahun sudah hidupnya dipenuhi kebahagiaan yang semakin lama semakin terpupuk sempurna. Tiga tahun sudah ... Azalea bisa benar-benar memiliki cinta dalam hidupnya

Sayang, Azalea bukanlah wanita satu-satunya.

*****

Dua minggu lalu.

Pipi Azalea tak henti berkedut. Rasa panas pun semakin lama semakin terasa. Di hadapannya, ada seorang wanita anggun yang tengah mengatur napas. Matanya bengkak dan merah, seperti orang yang habis menangis semalaman. Namun, tatapnya tenang dan tajam.

Azalea tak mengira jika wanita ini berani datang ke apartemennya untuk memberikan sebuah tamparan. Ingin sekali ia membalas lebih keras di pipi putih nan glowing itu. Atau mungkin memberikan sebuah jambakan pada rambutnya yang lurus dan halus. Namun, Azalea harus tampak lebih elegan. Ia hanya diam dan menatap lurus pada wanita dengan tinggi tak jauh berbeda.

"Murahan!" Wanita itu menggeram. Bibirnya bergetar menahan seluruh amarah yang terpendam.

Azalea menghela napas. Ia mundur selangkah. Bukan, bukan karena takut. Namun, untuk menjaga janin yang ada di dalam kandungannya.

"Masuk, Mbak Tamara," ajak Azalea.

"Jadi, kamu tahu namaku?" Tamara keheranan.

"Tentu. Mas Arsya cerita semuanya." Penuh percaya diri, Azalea mendongakkan kepala. Ia merasa memiliki posisi lebih tinggi dibanding Tamara, walaupun ia hanyalah yang kedua.

Tentu saja, karena Arsya lebih mencintainya. Karena ia adalah cinta pertama Arsya. Dan Tamara dinikahi Arsya hanya sebuah perjodohan semata. Bukan karena cinta.

"Kamu, jangan berharap lebih pada Arsya," ancam Tamara. Tangan kanannya menggenggam tas wanita branded dengan kencang. Seakan ingin ia 'hadiahkan' ke kepala Azalea sekali hantam.

"Mungkin kalimat itu berlaku untukmu, Mbak Tamara." Ujung bibir sebelah kiri Azalea tertarik ke atas.

"Maksudmu?" Tamara heran.

"Maaf, saya sudah hamil tiga minggu." Azalea mengusap lembut perutnya.

"Bohong ...." Tamara merasa limbung, ia segera berpegangan pada gagang pintu untuk menstabilkan tubuhnya kembali. "Lagipula, jika benar pun aku yakin, Mama mas Arsya tidak akan menerimanya."

"Kamu salah. Mama sudah tahu. Bahkan beliau hadir dipernikahan kami." Azalea benar-benar merasa di atas angin.

Tamara merasakan pening yang teramat sangat. Ia belum siap menerima kenyataan di luar dugaan. Sepatu high heels merah yang dikenakan serasa tak ada gunanya. Penampilan mumpuni yang disiapkan untuk menghadapi wanita kedua milik suaminya seakan bukan senjata yang ampuh. Ternyata Azalea tak hanya cantik dan berani, tapi ia juga telah mengandung anak suaminya.

Ya, anak adalah kekurangan dari kehidupan rumah tangganya. Sudah lima tahun ia dan Arsya menanti tangis seorang bayi, tapi tak kunjung datang. Tamara selalu meminta kesabaran dan kebesaran hati Arsya. Mengingat memang ada masalah dalam rahimnya.

Namun, apalah daya. Arsya adalah anak tunggal yang harus memiliki penerus. Segala harapan besar kedua orang tua ada di pundaknya. Termasuk keberlangsungan usaha keluarga yang tak mungkin diberikan pada orang lain.

"Azalea, kamu ... tak lebih sebagai bunga di pinggir jalan. Kau cantik namun tak berharga," ceracau Tamara.

Azalea tersentak. Ia merasa ucapan Tamara tak sekadar racauan. Namun, lemparan keras yang menusuk hingga ke dalam hatinya.

****

"Jadi, kamu hamil?"

"Iya." Azalea menyodorkan secangkir kopi hitam panas. Lelaki itu pun menyeruput pelan-pelan. Ada sedikit noda hitam di ujung kumis tipisnya.

"Dan petualangan kita berakhir di sini, Sayang?" Badan tegap itu bergeser mendekati Azalea. Namun, Azalea segera berdiri mendekati laci kecil di bawah cermin besar bulat yang terletak di ruang tamunya.

"Di dalam amplop ini ada selembar cek sebesar yang kamu mau." Azalea melemparkan amplop potih berukuran besar kepangkuan Ryan.

"Azalea ... Azalea .... Untung saja aku mempertemukan kamu dengan Arsya lagi di kota itu. Jika tidak cinta lama tak akan bersemi kembali," ujar Ryan sambil menyesap amplop putih tak beraroma itu.

"Jika kami berjodoh, tak ada kamu pun, kami pasti bertemu." Azalea berdiri menatap cermin.

"Tapi, tanpa aku, sang tangan kanan terpercaya suamimu ini, mama Arsya tidak akan dapat diyakinkan agar anaknya menikah denganmu. Dasar, orang kaya hanya memikirkan keberlangsungan tahtanya saja." Ryan mengembuskan napas dengan berat.

"Mereka hanya mau darah dagingnya saja yang menyetir roda kepemimpinan. Padahal, tak lebih seperti boneka. Parahnya lagi ... ternyata ... yang mandul itu anaknya. Bukan Tamara." Ryan terbahak puas.

"Diam, Ryan! Enyah sekarang juga dari kami berdua. Dan ... jangan pernah menanyakan anak yang ada di dalam kandunganku ini." Napas Azalea memburu. Dadanya bergemuruh hebat. Ingin rasanya Ryan ia lempar ke luar dari apartemennya seperti secuil sampah.

"Kamu cantik, Azalea. Walaupun tak kau bayar, aku pasti menikmatinya. Bisa kukatakan untuk urusan wanita Arsya memiliki selera tinggi, tapi ternyata kamu licik. Sebetulnya, sayang sekali jika bos dan sahabatku itu jatuh ketanganmu. Tapi, apalah daya. Cinta memang buta." Ryan menyentuh rambut sebahu Azalea perlahan. Azalea pun melengos.

"Pergi, Ryan. Jangan kamu khawatirkan anak ini. Dia akan mendapatkan apa yang selalu kamu inginkan." Azalea menatap tajam pada Ryan.

"Semoga ... kamu bisa menjadi azalea yang benar-benar memberikan kesejukan pada Arsya, karena dia sangat mencintaimu. Jangan hanya menjadi azalea yang teronggok di pinggir jalan," bisik Ryan seraya mengecup pipi Azalea, kemudian berlalu.


--selesai--
Yogyakarta, 11 Desember 2019


#ceritarieka

Mantul..
profile-picture
riekartieka memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Bunga di Pinggir Jalan
14-12-2019 04:29
Quote:Original Posted By lillahbillah96 โ–บ
Mantul..


Terima kasih
0 0
0
Halaman 1 dari 2
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
kenangan-yang-abadi
Stories from the Heart
150-hari-mencintaimu
Stories from the Heart
cerita-di-kobessahkopi
Stories from the Heart
inilah-jalan-spiritualku
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Heart to Heart
Stories from the Heart
Copyright ยฉ 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia