Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
553
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5debc9f89a972e534c1d578b/penghuni-lain-di-rumah-kost
Mendapat pekerjaan setelah lulus sekolah adalah dambaan semua orang, begitu pula denganku. Lulus kuliah aku langsung mendapat pekerjaan di sebuah sekolah X di Kota Apel. Kebetulan tempat kerjaku ini berada di luar kota kelahiranku. Mencari rumah kost adalah satu-satunya solusi yang masuk akal untuk bertahan hidup. Siapa sangka bahwa pencarian rumah kost ini adalah awal kehidupanku bersentuhan deng
Lapor Hansip
07-12-2019 22:49

Penghuni Lain di Rumah Kost

Past Hot Thread
Merupakan cerita horor sekuel yang langsung dialami oleh penulis. Benar atau tidak, penulis hanya menuliskan semua kejadian yang pernah penulis alami sendiri. Percaya atau tidak, penulis serahkan sepenuhnya kepada pembaca. Karena kebenaran yang sejati hanya milik-Nya semata.
Selamat membaca.

Part 1. Rumah Kost Tua

Cerita ini terjadi di tahun 2015 lalu.

Mendapat pekerjaan setelah lulus sekolah adalah dambaan semua orang, begitu pula denganku. Lulus kuliah aku langsung mendapat pekerjaan di sebuah sekolah X di Kota Apel. Kebetulan tempat kerjaku ini berada di luar kota kelahiranku. Mencari rumah kost adalah satu-satunya solusi yang masuk akal untuk bertahan hidup. Siapa sangka bahwa pencarian rumah kost ini adalah awal kehidupanku bersentuhan dengan kehidupan lain.

Waktu itu aku mendapat tawaran dari teman sejawat, bahwa di dekat tempat kerjaku ada rumah saudaranya yang kebetulan hanya ditempati dua orang wanita. Ada satu kamar kosong, dan aku diminta untuk menempatinya dengan biaya yang lebih murah, lumayan pikirku waktu itu. Rumah ini dekat dengan kampus swasta kesehatan.

Pemilik rumah adalah seorang ibu kisaran usia 45 tahun dan seorang Nenek kisaran usia 70 tahun yang kondisinya sedang sakit (tidak bisa melihat, katarak). Sedikit gambaran tentang kostku. Rumah tua dengan pohon mangga di halaman depan. Tanpa pagar dan gapura masuk rumah. Ada beberapa ruangan di rumah ini. Aku memilih kamar paling depan, dekat dengan jalan raya. Terletak di samping ruang tamu. Sebelah kamarku adalah kamar pemilik rumah beserta Nenek. Sebelah kamar Ibu ada gudang yang di dalamnya berserakan kotoran tikus, seberang gudang ada dapur kecil. Sebelah dapur ada pintu menuju kamar mandi dan tempat menjemur cucian. Semua lantai rumah masih ubin zaman dulu.

Ukuran kamarku cukup luas, 3 x 4 meter. Dengan satu lemari kayu di pojok ruangan yang bercermin oval di bagian tengahnya. Ranjang tidur dari besi seperti zaman dulu. Sebuah meja bundar juga dari besi yang permukaannya bolong-bolong kecil seperti diplong kertas dengan vas bunga kecil di atasnya. Serta sarang laba-laba yang menempel di beberapa bagian dinding. Tentu saja lantai kamar masih dari ubin.

Semenjak pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini, aku mencium aroma keganjilan yang tak dapat dijelaskan. Bangunan tua berkolaborasi dengan kesunyian mengundang rasa penasaranku untuk mengulik kehidupan di dalamnya. Sepertinya aku bisa merasakan aura itu dalam rumah ini, di kamarku.
Setelah beberes kamar dan memasukkan beberapa baju ke lemari, aku merebahkan diri di kasur kapuk sambil bermain HP. Kasur kapuk berseprei corak bunga warna merah yang melengkung di bagian tengah, seakan pernah ada seseorang yang telah lama tidur di atasnya. Selimut garis yang kerap kita temui di ranjang rumah sakit, juga terlipat rapi di sana.

Aku masih ingat waktu itu pukul 4 sore. Aku merebahkan diri sambil mendengar musik dangdut melalui headset. Tiba-tiba samar aku mendengar suara orang sedang ngobrol di luar. Pikirku mungkin Ibu sedang ngobrol dengan Nenek. Seperti sedang asyik berbincang menggunakan bahasa Indonesia. Oh ya, Ibu kostku asli Kalimantan, jadi tidak begitu lancar berbahasa Jawa.

Setelah melepas lelah, aku keluar kamar berniat ikut nimbrung dengan mereka supaya lebih akrab, sekalian mau mandi. Ketika sudah di luar, aku hanya menjumpai Nenek sedang duduk di depan TV yang tidak menyala. Aku tidak menaruh curiga waktu itu, karena pikirku Ibu sudah pergi. Ok, aku langsung mandi.

Setelah mandi aku menemui Ibu yang sedang memasak di dapur, kemudian aku iseng bertanya.

Aku: “Tadi ngborol apa Bu sama Nenek, kok seru sekali?”

Ibu: "Ngobrol apa, Dik? Kapan?”

Aku: “Barusan sih, Bu. Sebelum aku mandi.”

Ibu: “Lah! Mana mungkin wong Ibu dari tadi ke warung beli sayur ini mau dimasak. Pintu depan Ibu kunci kok. Memang Adik dengar bagaimana?”

Aku mulai curiga tapi masih bisa kusamarkan.

Aku: “Hmmm lupa deh, hehe. Mau masak apa nih, Bu? aku bantu ya."
usahaku mengalihkan pembicaraan.

Ibu: “Masak tumis saja ya, nanti buat makan malam kita.”

Aku: Oke siap!"

Kami asyik ngobrol sambil menyiapkan masakan. Tentang asalku. Mengapa aku memilih bekerja jauh dari kota asal. Mengapa Ibu kost bisa merantau ke Jawa, dan masih banyak lagi.

Sampai akhirnya Ibu kost mengatakan hal yang menjadi tanda tanya bagiku.

Ibu: “Dik, nanti kalau misal Adik mendengar atau melihat Nenek bicara sendiri, seperti ngobrol dengan seseorang begitu, jangan hiraukan ya. Jangan takut, jangan didekati. Kecuali pas ada Ibu."

Karena penasaran, aku bertanya menuntut penjelasan dari Ibu.

Aku: “Mengapa, Bu?"

Ibu: “Hmmm bagaimana ya mengatakannya. Ibu takut kalau Adik jadi tidak nyaman tinggal di sini.”

Aku: "Tidak apa-apa. Ibu cerita saja daripada aku penasaran.”

Ibu: “Nenek itu memang mata lahirnya tidak bisa lihat, tapi mata batinnya bisa.”

DEG! Jantungku seakan mau lompat dari tempatnya. Jawaban Ibu masih belum menghilangkan tanda tanya di kepalaku. Aku mengulang lagi pertanyaanku.

Aku: "Maksud Ibu bagaimana ya?”

Ibu: “Jadi Nenek itu bisa lihat yang begituan.”

Aku: “Yang begituan apa sih, Bu?”

Ibu: “Nenek bisa lihat sesuatu yang tidak bisa kita lihat pakai mata lahir, Dik.”

Aku: "Maksud Ibu hantu?”

Ibu hanya menjawab dengan anggukan.

Aku tidak membalas anggukan Ibu. Aku cukup kaget dengan pernyataan Ibu barusan. Berusaha menenangkan diri karena belum ada 24 jam aku di rumah ini, dan sudah harus mengetahui bagaimana kondisi di rumah ini.
Diubah oleh sukaskusuka
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mincli69 dan 47 lainnya memberi reputasi
44
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 28
Penghuni Lain di Rumah Kost
07-12-2019 22:52

Part 2. Dia Bicara Sendiri

Semenjak kejadian sore itu, aku jadi sering berdiam diri di kamar. Ibu bekerja menjaga toko dari pagi sampai pukul 2 siang.

Aku masih ingat waktu itu hari Minggu. Kebetulan aku tidak pulang kampung karena ada acara di tempat kerja. Waktu itu hanya ada aku dan Nenek di rumah, Ibu jaga toko seperti biasa. Mengingat cerita Ibu, aku jadi merasa ngeri jika sedang berdua saja dengan Nenek. Tapi baju kotor yang menumpuk di pojok kamar, seakan memohon kepadaku untuk segera di bebaskan dari debu dan keringat yang menempel. Terpaksa aku keluar kamar berniat mau mencuci baju. Aku membuka pintu kamar perlahan, sedetik memperhatikan sekitar. Sepi. Pintu depan terkunci dari luar. Selambu jendela tertutup sebagian, sehingga ruang tamu meremang karena cahaya yang terhalang. Aku lihat Nenek tidur di kamarnya.

Kamar Nenek lebih kecil dibanding kamarku, dengan lantai ubin, tanpa jendela, tanpa ventilasi udara, dengan lampu kuning tua menggantung seadanya. Menciptakan cahaya remang-remang yang menurutku tidak membantu penerangan, justru menciptakan suasana yang tidak nyaman. Namun apalah pengaruh untuk Nenek, karena dalam terangpun dia tidak dapat melihat. Dua ranjang besi reot yang dipisahkan meja kayu kecil, tertutup kelambu nyamuk berwarna putih pucat. Kamar itu mengingatkanku pada scene film horor terkenal yang pernah aku lihat.

Aku langsung menuju tempat cucian. Sambil mendengar musik dari HP, aku mencuci baju sambil kadang ikut bernyanyi. Oh ya, di samping rumah ada tanah kosong selebar 1 meter dan panjang 4 meter. Ada sebuah kotak dari bambu yang teronggok jadi tempat kayu bakar. Sepertinya dulu bekas kandang unggas milik tuan rumah, karena masih ada sisa kotoran dan makanan unggas di sana.
Musik dangdut favorit masih terdengar dari speaker HP-ku. Kusadari ternyata ada yang ikut bersenandung di belakangku. Ya, dari arah tanah kosong di samping rumah. Suara itu samar-samar saja kudengar. Sehingga aku harus menghentikan aktivitas mencuciku dan memfokuskan pendengaranku. Apakah benar suara itu dari samping rumah, atau suara tetangga yang lancang ikut mendengarkan laguku. Belum selesai dengan suara misterius itu, tiba-tiba aku mendengar suara Nenek berbicara seperti ada orang lain yang ia ajak bicara. Pikirku mana mungkin, bukankah hanya ada kami berdua di rumah. Atau mungkin Ibu sudah pulang?

Tak kuhiraukan dan terus mencuci baju. Namun, lama-lama obrolan Nenek makin seru bahkan seperti orang yang sedang marah. Karena penasaran, aku memutuskan untuk masuk rumah dan memeriksa kamar Nenek. Perlahan aku melangkah masuk, sedikit menguping apa yang Nenek bicarakan.
Nenek: “Aku mau tidur, kamu jangan ganggu dulu, nanti saja ngobrolnya diterusin kalau Ninik sudah pulang. Aku nggak ngerti dia naruhnya di mana.”
Kurang lebih begitu yang aku dengar. Ninik adalah nama Ibu kostku (tentu nama samaran).

Agak merinding juga mendengar Nenek bicara seperti itu. Karena aku masih meyakini bahwa memang hanya ada kami berdua saja di rumah saat ini. Tidak mungkin ada orang lain selain Ibu yang masuk, karena pintu depan terkunci.
Sampai di depan kamar Nenek, aku melihat pintu sedikit terbuka. Aku seperti mencium bau wangi, tapi wangi yang asing di penciumanku. Dengan ragu aku mengintip perlahan ke kamar Nenek. Dan benar dugaanku! Bahwa memang tidak ada siapa-siapa di sana. Nenek ngomong sendiri!

Bermodal sedikit keberanian dan lebih banyak rasa penasaran, aku nekat masuk dan mendekati Nenek. Aku pegang tangannya. Dingin. Keriput itu nyata adanya, menunjukkan bahwa beliau memang sudah lama menjalani kehidupan ini. Rambut putihnya dibiarkan terurai, dan kelopak mata yang cekung menghitam. Sejenak aku merasa iba pada kondisi Nenek yang sakit dan sedikit tidak terurus. Badan kurusnya terbalut baju daster bunga-bunga yang tak kalah menyedihkan dengan sobek dan bekas liur di sekitar lehernya.
Kudekatkan diriku berbisik di telinga Nenek.

Aku: “Nenek mau apa? Mau minum? Saya ambilkan ya?”
Nenek tidak bergeming dengan tangan meraba-raba seperti mencari sesuatu.
Aku: “Nenek cari apa? Biar saya bantu. Nenek ngomong aja.”
Nenek: Nenek cari sapu lidi, buat mukul itu. Yang ganggu saya mau tidur.”

Aku melihat sekeliling. Walau cahaya dalam kamar remang-remang, tapi aku yakin bahwa tidak ada orang lain selain aku dan Nenek di dalam kamar ini.

Aku: “Siapa yang ganggu, Nek? Di sini tidak ada siapa-siapa."

Aku menahan diri agar tidak lari. Karena di sudut mataku aku menangkap sosok yang aku yakini adalah sosok perempuan. Hanya saja tidak menampakkan wujud yang jelas, hanya berupa bayangan.

Nenek: “Itu yang di belakang pintu, dia nyanyi-nyanyi terus, berisik aku nggak bisa tidur.”

Sebenarnya aku enggan melihat ke arah yang Nenek tunjuk, karena aku tahu Nenek tidak mungkin dapat melihat. Tapi entah mengapa seakan semua badanku secara otomatis melawan perintah otak dan menuruti perintah hati yang sedang penasaran hebat.

Akhirnya aku menoleh ke arah pintu. Jelas saja jika di sana tidak ada siapa-siapa. Aku langsung teringat perkataan Ibu kemarin, bahwa mata lahir Nenek memang tidak dapat melihat, tapi mata batinnya bisa. Jadi, apakah memang di sudut pintu ada sesuatu?

Aku tidak menanggapi perkataan Nenek lagi. Aku langsung keluar kamar menuju belakang dan melanjutkan mencuci baju. Kali ini aku menambah volume suara lagu di HP jadi maksimal. Berharap tidak mendengar suara-suara aneh dari kamar Nenek atau dari manapun.

Dengan buru-buru aku menyelesaikan pekerjaanku sekenanya. Setelah selesai menjemur cucian dan memastikan semua kran air dalam kondisi mati, aku kembali ke kamarku. Manakala melewati kamar Nenek, aku masih mendengar Nenek meracau tidak jelas, seperti memarahi sesuatu, atau lebih tepatnya seseorang.

Pukul 11 siang. Lelah setelah mencuci membuat perutku berontak kelaparan. Kubuka lemari dan kuambil sebungkus mie instan sejuta umat, berharap ia menolongku sementara siang ini. Kembali aku menuju dapur dan harus melewati kamar Nenek. Kali ini aku tidak lagi mendengar suara Nenek. Aku melangkah menuju dapur dan segera merebus air untuk memasak mie.
Mulai kejadian siang itu, semakin sering aku mendengar Nenek bicara sendiri. Awalnya aku ngeri mendengarnya, tapi lama-lama aku terbiasa. Hanya saja aku penasaran dengan sosok yang ada di kamar Nenek. Yang kutahu setelah mencuri dengar dari Nenek, sosok itu suka menyanyi lagu Jawa, atau nyinden. Selebihnya, aku berusaha tak acuh dan melakukan kegiatanku seperti biasa. Rasa penasaranku kupendam dalam-dalam. Karena menurut pepatah Jawa, lebih baik simpan rasa penasaranmu terhadap hal yang kamu tidak tahu.
Sampai suatu malam, yang menurutku ini kejadian yang paling menyeramkan. Hingga aku memutuskan harus segera pindah dari rumah ini.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
andyzhu05 dan 16 lainnya memberi reputasi
17 0
17
Penghuni Lain di Rumah Kost
07-12-2019 22:54

Part 3. Ada Penghuni Sebelum Aku

Beberapa hari aku pulang hampir tengah malam karena harus mendampingi siswa kegiatan di sekolah. Alasan utama aku pulang malam tentu bukan karena pekerjaan semata, namun lebih untuk menghindari berlama-lama di rumah dan berinteraksi dengan Nenek. Beberapa hari ini Nenek masih sering bicara sendiri. Bahkan tengah malam. Seperti malam itu.

Aku pulang hampir pukul 10 malam karena ada diklat di sekolah. Aku bisa keluar masuk rumah kapan saja karena aku pegang kunci pintu rumah sendiri. Sebelum masuk, aku sejenak mengamati rumah ini dari depan. Sekilas rumah ini seperti menyimpan kengerian karena kondisinya yang merupakan bangunan tua ditambah keberadaan pohon mangga yang daunnya hampir menutup atap rumah. Yang lebih mengerikan lagi adalah, kenyataan bahwa malam ini aku harus kembali bertahan hidup di dalamnya.

Kupegang kenop pintu setelah kunci berhasil kuputar beberapa kali. Sekali lagi aku meyakinkan diriku bahwa semua akan baik-baik saja malam ini. Aku membuka pintu dan menemukan kegelapan di sana. Satu-satunya sumber cahaya adalah lampu teras yang menyeruak masuk menerangi sampai lorong dapur.

Setelah menaruh barang-barang di kamar, aku menuju kamar mandi untuk mencuci kaki sekalian buang air kecil. Setelah selesai urusan, aku langsung kembali ke kamar tanpa memperhatikan sekitar. Pintu kamar Nenek sedikit terbuka, kondisi cahaya remang-remang. Tak kuhiraukan karena kali ini rasa lelah mengalahkan rasa penasaranku.

Di kamarpun aku tidak langsung tidur. Sambil mendengar lagu di HP, kembali kubuka laptop dan kutekan beberapa tombol huruf di keyboard hingga menyusun sebuah rangkaian kegiatan sekolah. Sampai tidak terasa jam HP menunjukkan pukul 2 dini hari. Karena begadang, perutku keroncongan minta diisi. Nasib anak kost yang kelaparan tengah malam, kembali mie instanlah yang jadi penolong. Aku keluar kamar menuju dapur untuk masak mie. Ketika lewat depan kamar Nenek, pintu kamar sudah tertutup, tidak terbuka seperti tadi. Aku tak acuh dan terus berjalan menuju dapur.

Waktu itu kondisi gelap, hanya penerangan dari teras depan yang menembus ke ruang tamu sampai lorong arah dapur. Aku meraba mencari saklar lampu di dapur. KLAP! Terang langsung menguasai seluruh sisi dapur. Sekilas tercium bau anyir, seperti ada bangkai tikus. Karena tuntutan perut untuk bertahan hidup, aku cuek dan langsung ambil air dipanci untuk memasak mie.

Kriiieeettt

Sedang asyik masak di dapur, aku mendengar suara deret pintu terbuka pelan. Sedetik aku membeku dalam diam, dalam hati menerka-nerka siapa yang membuka pintu, dan pintu mana yang terbuka. Sambil aku mengingat bahwa pintu kamarku sudah tertutup. Aku diam menunggu beberapa detik, tidak ada suara, tidak ada langkah kaki. Kupikir Ibu bangun untuk ke kamar mandi atau ada perlu lain. Tapi nihil. Sampai prosesi masak mie selesai, tidak ada suara ataupun langkah kaki terdengar. Tanpa curiga aku kembali ke kamar setelah semua peralatan masak selesai kubereskan. Aku mematikan lampu dapur dan dalam sekejap ruangan kembali gelap. Sambil memicingkan mata aku berusaha fokus menyusuri jalan.

Langkahku terhenti di ruang tamu ketika sebuah objek tertangkap mata lahirku. Sesosok perempuan, rambut terurai, putihnya sudah mendominasi, memakai daster bunga-bunga, sedang duduk di depan televisi membelakangiku. Percayalah, itu Nenek! Seseorang yang sedang sakit dan tidak bisa melihat, sekarang duduk di depan televisi. Bagaimana bisa?

Aku kaget setengah mati, mungkin keningku sudah berkeringat. Tanganku seakan tak kuat memegang piring. Dalam kepalaku timbul beribu tanda tanya. Mana mungkin Nenek berjalan sendirian seperti ini. Padahal Nenek selalu dibantu Ibu kalau mau berpindah tempat. Apalagi ini kondisi gelap. Dengan menahan takut, aku berjalan mendekati Nenek. Semakin dekat, aku mendengar samar Nenek bersenandung tembang Jawa. Atau mungkin bukan Nenek. Karena suaranya lebih lembut dan lebih merdu daripada Nenek.

Aku: “Nenek ngapain malam-malam duduk di sini?"

Tanpa sadar aku meluncurkan pertanyaan sambil celingak celinguk mencari Ibu. Hal tak terduga yang membuat aku merinding adalah Nenek menjawab pertanyaanku hanya dengan senyuman sambil tangannya melambai-lambai ke arah pintu kamarnya.

Nenek: “Itu gendhuk minta ditemenin tidur di luar, di dalam panas katanya.”

Gendhuk adalah panggilan untuk anak perempuan dalam bahasa Jawa.
Kembali aku terkejut dengan jawaban Nenek. Sudah jelas bukan jika kami hanya tinggal bertiga di rumah ini. Lalu siapa yang dimaksud gendhuk oleh Nenek?

Aku: "Hah?! E...e...gendhuk siapa, Nek? Bu Ninik maksudnya?”

Nenek masih tersenyum dan melambai-lambai, senyumnya lebih ke seringai mengerikan.

Nenek: "Bukan, gendhuk yang dulu nempatin kamar kamu. Sekarang tidur di luar karena kamu sudah nempatin tempat tidurnya.”
Aku: “Gendhuk? Dulu nempatin kamar saya? Jadi ada orang lain selain kita bertiga, Nek?”
Nenek: “Dia sudah lama di sini, sebelum rumah ini ada.”

Aku langsung berpikir bahwa yang Nenek maksud bukanlah manusia, tapi sosok lain. Sosok itu.

Nenek: “Dia suka dinyanyiin tembang sebelum tidur, kamu juga mau dengar?”

Ucap Nenek sambil tersenyum, menunjukkan giginya yang mulai keropos dan menghitam. Tanpa kuduga Nenek mulai nyinden. Masih ingat kan kalau Ibu dan Nenek asli orang Kalimantan? Jadi jelas tidak masuk akal menurutku kalau Nenek bisa nyinden semerdu dan sefasih ini. Sekali lagi, atau ini bukan Nenek?
Nenek masih bersenandung seakan dia sedang menidurkan seseorang di pangkuannya, seraya tangannya membelai sesuatu yang tak kasat dimataku. Rasa laparku hilang seketika berganti kengerian yang mendadak membuat penasaran dalam benakku berubah menjadi takut yang menggila. Anehnya, aku tidak segera pergi dari tempat itu. Bukan. Bukan tidak mau, tapi tidak bisa. Kakiku seakan dipaku. Mataku seolah dipaksa untuk terus melihat peristiwa irasional di depanku. Dan telingaku terus dipaksa untuk mendengar senandung Nenek. Anehnya lagi, aku tidak melihat sosok Ibu di sini. Mungkinkah Ibu tidak mendengarnya? Atau Ibu sengaja dibuat tidak mendengarnya? Sampai akhirnya Nenek berkata.

Nenek: “Piye? Penak to suaraku? (Bagaimana? Baguskan suara Nenek?)

Ucap Nenek seraya tersenyum dan berusaha meraihku. Aku yang terkejut secara reflek menampik tangan Nenek dan membuang piringku. Sekali lagi aku dikejutkan dengan Nenek yang bisa berbicara bahasa Jawa. Aku berlari dengan tergesa membuka pintu kamar. Sebelum masuk, aku sempat melihat kembali ke arah Nenek, dan aku melihatnya. Akhirnya aku melihatnya. Sosok di dalam kamar Nenek yang selama ini aku dibuat penasaran olehnya. Dia tidur di pangkuan Nenek sambil tersenyum ke arahku. Dan Nenek masih bersenandung sambil membelai rambut sosok itu. Seakan dia adalah cucu kesayangannya. Sekujur tubuhku bergetar memanas. Kupaksa tubuhku bergerak masuk ke kamar. Sambil setengah kubanting pintu kamar, aku menyebut nama Tuhanku. Merapal semua doa yang aku bisa.
***

Alarm HP membangunkanku secara paksa. Angka 5.30 tertulis di layar depan. Entah bagaimana semalam aku tertidur. Aku berusaha melupakan kejadian semalam, namun senyuman sosok itu masih tergambar di kepalaku. Siapa dia? Apakah Ibu tahu tentang ini?

Sore, pulang kerja. Pukul 14.30.

Aku mampir ke tempat kerja Ibu. Aku berniat menceritakan semua kejadian yang aku alami selama tinggal di rumah itu. Ingin juga aku berpamitan sekalian membayar uang sewa. Aku pamit dengan alasan diminta untuk menemani teman di kost barunya yang masih sepi. Tentu saja aku berbohong. Ibu sebenarnya curiga, tapi dia enggan bertanya. Mungkin sudah tahu sebabnya. Hampir empat bulan aku bertahan di rumah itu. Dan cukup sudah, pertahananku buyar.

Pindah kost baru. Berharap mendapat ketenangan, tapi sebaliknya. Cerita di kost baru lebih seru lagi.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
andyzhu05 dan 14 lainnya memberi reputasi
15 0
15
Penghuni Lain di Rumah Kost
07-12-2019 22:57

Part 4. Kost Baru

Setelah memutuskan pindah kost, akhirnya aku menemukan kost baru yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kost lama. Hanya berkisar 500 meter. Sedikit gambaran kost baruku. Merupakan bangunan baru di kompleks perumahan. Dalam satu cluster ada 8 rumah, 4 deret kiri dan 4 deret kanan. Rumah ini terletak di deret kanan dan terletak paling ujung berbatasan langsung dengan kebun. Desain rumahnya seperti perumahan pada umumnya, hanya dimodifikasi sedemikian rupa sehingga menjadi lebih banyak ruang kamar.

Halaman depan terdapat taman kecil di pojok rumah, dengan lampu taman berbentuk bulat dan tiang yang panjang. Terdapat pohon mangga yang sengaja dibonsai. Rumah ini dikelilingi tembok semen dan ditutup pagar besi warna hitam setinggi orang dewasa.

Dari 5 kamar yang disewakan, hanya tersisa 2 kamar kosong. 2 kamar ini ada di bangunan rumah utama, sedangkan 3 kamar yang lain ada di bagian belakang dekat dapur. Toilet ada 3, 1 di rumah utama, 2 di belakang dekat dapur. Antara rumah utama dan bagian belakang terpisah pintu kaca transparan.

3 kamar yang sudah terisi tadi dihuni oleh 6 mahasiswa baru. 3 orang dari Lombok, 2 dari Banyuwangi, dan 1 dari Blitar. Khusus kamar belakang, diisi 2 orang dengan tempat tidur susun. Nantinya akan ada part yang akan aku ceritakan, membahas tentang 1 anak Lombok dan 1 anak Banyuwangi, yang menjadi awal masalah di kost baruku. Namanya Dewi dan Rina (samaran).
Setelah berkeliling, aku memutuskan untuk mengambil kamar paling depan. Kebetulan kamar ini ukurannya lebih besar dibanding yang lain. Ukurannya mirip seperti kamar kostku sebelumnya, 3 x 4 meter. Kamarku langsung menghadap ke halaman depan. Sebelah kanan kamar ada garasi mobil yang muat menampung 5 sampai 6 sepeda motor. Sebelah kiri berbatasan dengan tembok rumah tetangga yang masih belum berpenghuni.

Setelah deal, aku membayar uang muka dan memindahkan semua barang dari kost lama. Tak butuh waktu lama untuk memindahkan barang-barangku. Selain jarak yang dekat, aku juga dibantu teman lelakiku.

Aku ingat waktu itu hari Sabtu. Ibu kost dan keluarga menginap di kost karena memang kalau malam minggu mereka agenda tidur di kost. Selanjutnya, aku akan memanggil Ibu In. Bu In punya rumah sendiri di luar kota, jadi selain Sabtu dan Minggu, mereka akan kembali ke rumah. Itu artinya hanya sisa kami bertujuh di kost.

Aku tidak merasakan, lebih tepatnya belum merasakan sesuatu yang aneh di sini, karena suasana kost yang ramai dan dekat masjid. Aku juga berpikir ini bangunan baru. Malam pertama di kost kulalui dengan aman.

Setelah beberapa minggu kehidupanku di kost adem ayem, tibalah di suatu hari yang menurutku adalah hari sial. Mengapa? Karena pada akhirnya aku harus tahu kalau rumah ini lebih mengerikan dibanding kostku yang dulu.
Hari Rabu, aku masuk kerja pukul 07.00. Alarm HP berbunyi dan menunjukkan pukul 04.00 Subuh. Kudengar merdu suara azan di masjid dekat rumah. Sambil berusaha fokus mengumpulkan nyawa yg berserakan, kuraih HP di meja untuk melihat pemberitahuan barangkali ada pesan masuk. Waktu itu masih ada aplikasi BB*. Ternyata ada pesan dari teman lelakiku (selanjutnya akan kutulis dengan Mas Boy). Begini bunyi pesan darinya "Mulai sekarang harus lebih hati-hati, banyak doa, dan rajin solat". Kupikir itu adalah sebuah pesan perhatian yang wajar dari seorang teman laki-laki ke teman perempuannya. Tak kubalas pesan itu, kulempar kembali HP ke atas kasur.

Sejurus kemudian, aku bangun dari tempat tidur dan mengambil handuk. Belum sampai keluar kamar, samar-samar aku mendengar suara kran air toilet menyala dan suara gemericik air, seperti ada orang sedang mandi. Aku langsung berpikir siapa yang mandi pagi-pagi begini. Kok tumben anak-anak rajin bangun pagi. Aku mengurungkan niat untuk mandi dan kembali merebahkan tubuhku di kasur sambil main HP. Aku enggan kalau harus mandi di toilet belakang. Alasan utama adalah karena untuk menuju toilet belakang harus melewati lorong antara kamar dan taman. Di taman itu ada kolam ikan yang airnya didesain seperti air terjun kecil yang terus mengalir. Yang membuat tidak nyaman adalah adanya pohon bunga kenanga di sana.

Hampir 30 menit aku menunggu, tidak ada suara pintu toilet terbuka. Aku masih berusaha berpikir positif. Mungkin dia mandi sekalian buang hajat, jadi lama. Kuputuskan untuk kembali bermain HP sambil rebahan. Sampai akhirnya ada suara yang memanggil namaku dan mengatakan kalau dia sudah selesai mandi. Karena samar, aku tidak bisa mendengar jelas itu suara siapa. Aku keluar kamar setelah kujawab OK untuk membalasnya. Dengan tanpa berpikir aneh, aku langsung menuju toilet. Kondisi kran air masih menyala. Saat masuk toilet, aku langsung mencium bau wangi yang teramat sangat.

Selesai mandi aku hendak menjemur handuk di taman belakang. Letak toilet rumah utama lurus dengan pintu kaca. Di sinilah aku menemukan kejanggalan. Aku heran sekaligus merinding, karena pintu dalam kondisi terkunci dari dalam. YA, TERKUNCI DARI DALAM. Lalu, bagaimana caranya orang yang mandi tadi bisa masuk ke rumah? Bahkan dia sempat memanggil namaku! Sedangkan kamar ke dua masih kosong.

Tanpa pikir panjang, aku langsung berbalik masuk kamar. Aku mengetikkan pesan BB* dan mengirimkan pada Mas Boy. Aku menceritakan peristiwa yang baru saja aku alami. Ya Tuhan, bagaimana mungkin peristiwa ganjil itu kembali kualami. Mungkinkah aku sudah berpindah ke tempat yang salah?

Ting ting ting ting

Bunyi HP ku tanda pesan masuk. Dari Mas Boy.

Ma Boy: “Kan udah aku bilang, Dik. Mulai sekarang harus lebih hati-hati, harus banyak berdoa.”
Aku: "Aku nggak paham deh maksud kamu, Mas. Nanti saja kita ketemu. Kamu main ke kostku. Oke!”
Mas Boy: "Oke, pulang kerja aku mampir ke sana.”

Kupaksakan melaksanakan solat subuh walau tidak 100% fokus pada bacaan solat, karena fokusku masih teralihkan pada peristiwa yang baru saja kualami. Sampai akhirnya matahari benar-benar menunjukkan sinarnya, aku baru berani keluar dari kamar. Saat aku hendak berangkat, aku bertemu adik kost yang berasal dari Blitar, namanya Yesi. Dia sedang masak di dapur. Untuk mengusir rasa penasaranku, aku menanyakan padanya perihal seseorang yang mandi subuh tadi.

Aku: "Dik, masak apa? Nggak kuliah?"
Yesi: "Eh Mbak. Goreng telur aja nih Mbak, yang simple. Hehe."
Aku: "Eh, ngomong-ngomong siapa ya yang tadi pagi mandi di toilet depan? Kok tumben ada yang mandi subuh-subuh begitu. Biasanya juga agak siang. Apa mungkin dia masuk pagi ya?”
Yesi: "Siapa sih, Mbak?”
Aku: "Hmmm nggak tahu sih. Tadi aku dengar dari kamar aja.”
Yesi: "Setahuku mereka masuk siang semua, Mbak. Aku malah libur nggak ada jadwal kuliah."
Aku: "Oh begitu, ya sudah lanjut masaknya gih. Mbak berangkat kerja dulu. Kamu hati-hati di rumah."

Tanpa menunggu jawaban, aku langsung pergi meninggalkan adik kost yang mungkin sedang kebingungan.

Yang lebih membingungkan lagi, siapa yang tadi pagi mandi dan memanggil namaku?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
edam dan 14 lainnya memberi reputasi
15 0
15
Penghuni Lain di Rumah Kost
12-12-2019 00:56
lanjutkan ceritanya sob
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan sukaskusuka memberi reputasi
2 0
2
Lihat 1 balasan
Penghuni Lain di Rumah Kost
12-12-2019 13:13
lanjut dong
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan sukaskusuka memberi reputasi
2 0
2
Lihat 1 balasan
Penghuni Lain di Rumah Kost
12-12-2019 13:34
lanjutt emoticon-Jempol
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan sukaskusuka memberi reputasi
2 0
2
Penghuni Lain di Rumah Kost
12-12-2019 14:09
mantapp nih.... ceritanya detil, ane suka.... ikut gelar tiker sama bantal ya gan..... emoticon-2 Jempol
profile-picture
profile-picture
profile-picture
sipuputt dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Penghuni Lain di Rumah Kost
12-12-2019 16:10
Quote:Original Posted By ekonurwonogiri
lanjutkan ceritanya sob


Colek pak @ekonurwonogiri emoticon-pencet
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Penghuni Lain di Rumah Kost
12-12-2019 16:40
kost horor ya, , , jadi inget tetangga kost yg kabur (nunggak 2 bulan).


asli horor banget dah, , , emoticon-Hammer
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan sukaskusuka memberi reputasi
2 0
2
Penghuni Lain di Rumah Kost
12-12-2019 17:42
Klkkkllllanajajajh
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan sukaskusuka memberi reputasi
2 0
2
Penghuni Lain di Rumah Kost
12-12-2019 23:04
nitip sendal mba
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan sukaskusuka memberi reputasi
2 0
2
Penghuni Lain di Rumah Kost
13-12-2019 00:28
Quote:Original Posted By eni050885


Colek pak @ekonurwonogiri emoticon-pencet


mba eni.....
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan sukaskusuka memberi reputasi
2 0
2
Penghuni Lain di Rumah Kost
13-12-2019 00:49
Waduh keknya seru nih... kopi mana kopi
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan sukaskusuka memberi reputasi
2 0
2
Lihat 1 balasan
Penghuni Lain di Rumah Kost
13-12-2019 06:40
Gue demen nih, ayo lanjutttt
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan sukaskusuka memberi reputasi
2 0
2
Penghuni Lain di Rumah Kost
13-12-2019 10:37
lanjut sist... seru juga nih ceritanya
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan sukaskusuka memberi reputasi
2 0
2
Penghuni Lain di Rumah Kost
13-12-2019 10:56
seru nih cerita HOROR
di tunggu upatenya
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan sukaskusuka memberi reputasi
2 0
2
Penghuni Lain di Rumah Kost
13-12-2019 11:04
gila ceritanya merinding euy lanjutkan
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Penghuni Lain di Rumah Kost
13-12-2019 11:06

Part 5. Wujud

Masih di hari Rabu. Pulang kerja kira-kira pukul 16.00, aku tidak langsung pulang. Aku mengarahkan kemudi motorku menuju kafe tempat biasa aku dan Mas Boy nongkrong. Sambil menunggu kedatangan Mas Boy, kupesan beberapa kudapan untuk mengobati rasa lapar setelah seharian bekerja. Selang 20 menit, terdengar suara motor bebek dan beberapa kali suara klakson. Aku menoleh. Mas Boy datang.

Mas Boy: "Sudah lama, Dik?”
Aku: "Tidak Mas, baru 20 menitan. Mas mau makan sekalian?”
Mas Boy: "Tidak usah, tadi ada syukuran makan-makan di kantor, sudah kenyang .”
Aku: "Ya sudah aku terusin makan dulu ya.”

Selesai makan, Mas Boy menanyakan perihal kejadian tadi pagi. Maka kuceritakan selengkap-lengkapnya.

Mas Boy: “Jam berapa kejadiannya tadi?”
Aku: "Subuh, Mas. Kira-kira jam 4. Ketika aku mau mandi.”
Mas Boy: "Kamu lihat wujudnya?”
Aku: "Nggak. Aku hanya mendengarnya suaranya dari kamar.”
Mas Boy: "Hanya memanggil namamu kan? Tidak melakukan hal yang lain lagi?”
Aku: "Iya.”
Mas Boy: "Ya sudah, nggak apa-apa kalau hanya begitu. Itu dia hanya ingin berkenalan dan memberitahu jika dia ada. Insha Alloh tidak apa-apa. Intinya bukan kita yang memulainya. Berdoa saja, mohon perlindungan kepada Alloh SWT.”

Aku hanya terdiam mendengar Mas Boy. Bagaimana bisa dia berkata itu tidak apa-apa? Aku percaya gaib itu ada, makhluk itu juga ciptaan Sang Kuasa yang harus kita yakini sebagai bentuk kebesaran-Nya. Tapi, bukankah kita manusia dan mereka hidup berdampingan di dunia masing-masing? Tidak perlu untuk saling mengganggu dan menampakkan diri bukan?

Mas Boy: "Ya sudah Dik, ayo langsung ke kost saja. Ini sudah mau maghrib.”
Aku: “Nggak mau aku, Mas. Pasti di kost masih sepi, karena anak-anak tadi kuliah masuk siang. Pasti pulangnya malam.”
Mas Boy: "Kan ada aku. Aku temenin sampai adik kost kamu pulang.”

Setelah perdebatan yang akhirnya dimenangkan Mas Boy, kamipun pulang. Tidak perlu waktu lama untuk sampai ke kost karena tidak terlalu jauh dari kafe. 10 menit berlalu dan kami kini sudah berada di depan rumah bercat putih biru. Lampu teras yang masih padam menandakan jika tidak ada orang di rumah. Gerbang juga masih tergembok dari luar.

Aku: "Tuh kan bener kan kosongan. Balik ke kafe aja deh Mas. Masih ngeri aku ingat kejadian tadi pagi.”

Aku merengek seperti anak kecil yang tak dituruti kemauannya. Tapi Mas Boy tetap dalam pendirian. Mungkin dia juga penasaran dengan kost baruku ini. Mas Boy adalah alumni Pondok Pesantren di Kota Santri. Dia sudah akrab dengan hal gaib, karena itu dia selalu berpesan kepadaku untuk tidak takut kepada mereka. Karena kita sama-sama makhluk Alloh, justru derajat kita lebih tinggi dari mereka.

Mas Boy: "Buka gerbangnya dong, mau di luar terus sampai malam? Itu lampu juga belum dinyalain, kan tambah serem. Hiiiii."

Di saat seperti ini, Mas Boy malah melucu. Hal itu membuatku dongkol dan ingin kutinggal pergi saja dia. Mas Boy yang menangkap ekspresi takut diwajahku, justru malah tertawa terbahak.

Mas Boy: "Hahahaha ya sudah kalau aku nggak boleh masuk, aku pulang saja ya."
Aku: "Eh kok pulang? Katanya mau nemenin?"
Mas Boy: "Bagaimana masuknya kalau pintu masih digembok begini, Cantik? Mau lompat pagar? Emang kamu bisa? Kan kamu kurcaci? Hahahaha"

Menahan malu aku melangkah menuju pagar dan dengan ragu kubuka gembok. Kugeser perlahan hingga terbuka seukuran sepeda motor. Gelap. Baru saja aku membuka pagar, Mas Boy sudah berkali-kali mengucap istighfar. Tapi raut muka Mas Boy masih tenang. Aku yang kaget jadi panik melihat kelakuannya. Belum apa-apa sudah istighfar, begitu pikirku.

Aku: "Mas, ada apa?”
Mas Boy: “Nggak apa-apa, kaget aja gelap begini. Hehe."
Aku: "Jangan bohong deh, kamu lihat apa?”
Mas Boy: “Nggak ada apa-apa, Dik. Sumpah. Hahaha. Ayo masuk aja. Sebentar lagi maghrib ini.”

Semakin curiga karena aku menangkap gelagat aneh dari ekspresi Mas Boy.

Aku: "Kamu tunggu teras sini aja lah ya, nanti kalau ikut masuk dikira kita ngapa-ngapain.”
Mas Boy: "Aku tunggu di ruang tamu deh. Nemenin kamu nyalain lampu. Memang kamu berani masuk sendiri?”
Aku: "Nggak sih, hehe. Ya sudah ayo ikut masuk. Kamu tunggu di depan kamar aku aja sambil lihat televisi.”

Setelah semua lampu menyala, termasuk lampu dapur dan halaman belakang, aku masuk kamar dan mengambil peralatan untuk mandi. Mas Boy menunggu sambil nonton televisi yang acaranya pencarian bakat dan dipandu oleh Daniel Mananta.

SKIP.

Selesai mandi dan solat, kami ngobrol di teras.

Lama ngobrol sampai kira-kira pukul 8 malam, adik kost datang dua orang. Dewi dan Rina. Mereka datang bersama seseorang, ibu-ibu kisaran usia 40 tahun. Semua yang ia pakai serba hitam. Mulai dari pakaian, alas kaki, tas, bahkan sampai ikat kepala. Mengingatkanku pada jawara silat di Jawa atau Sunda. Apalah itu namanya. Dia mengangguk menyapaku sambil mengulurkan tangan. Mbak Yulis, begitu dia memperkenalkan namanya. Kujawab sapaannya sembari kusebut juga namaku. Sekalian aku memperkenalkan Mas Boy agar tidak salah paham.

Setelah basa basi, mereka izin masuk ke kamar untuk kerja tugas. Terang saja aku menaruh curiga. Tidak masuk akal bukan jika ibu-ibu usia 40 tahun adalah teman kuliah untuk anak 18 tahun? Aku juga melihat garis kecurigaan di raut Mas Boy. Kami saling pandang beberapa detik. Dan mengangkat bahu bersamaan.

Kami ngobrol di teras membahas kesibukan kerja masing-masing. Sampai tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 22.00. Kupinta Mas Boy untk pulang karena tidak enak dengan tetangga jika masih bertamu malam-malam.

Aku: "Ya sudah kamu pulang aja, Mas. Sudah malam.”
Mas Boy: “Nggak apa-apa nih aku pulang? Kamu berani?”
Aku: "Kan kata kamu tadi nggak apa-apa, bagaimana sih? Memang ada apa? Sudah ada temen kost juga."
Mas Boy: "Ya sudah aku pulang ya. Nanti setelah solat isya langsung tidur saja. Kalau tidak ada perlu tidak usah keluar kamar. Jangan tanya alasannya.”
Aku: "Iya Pak Ustaz, siap. Kamu hati-hati.”
Mas Boy: "Oke, aku pulang ya. Kamu juga hati-hati.”

Ketika aku membuka pagar, di luar sudah berdiri empat adik kost yang lain. Oh ya, kukenalkan mereka. Mega dari Banyuwangi, Yesi dari Blitar, Ida dan Ega dari Lombok.

Setelah Mas Boy pulang, aku menutup dan mengunci pagar. Sebelum masuk kamar, aku menyempatkan ngobrol dengan adik kost tadi. Mereka menggelar tikar dan mulai makan bersama di depan televisi, di depan kamarku. Pikirku, aku akan tenang tidur malam ini karena kost sudah ramai penghuni. Tidak lama aku izin masuk kamar.

Entah pukul berapa aku tertidur, tiba-tiba aku terbangun karena rasa ingin ke toilet. Kulihat layar HP menunjukkan pukul 03.00. Sedikit ragu karena aku masih teringat kejadian kemarin. Namun hasrat buang air kecil sepertinya tak dapat kutahan lama-lama. Kubuka pintu kamar, di depan televisi sudah sepi. Tersisa tikar dan beberapa bungkus camilan yang berserakan. Kuberanikan diri keluar kamar.

Setengah berlari aku menuju toilet. Setelah selesai, baru ingin kubuka pintu kamar, aku mendengar pintu kaca diketuk. Reflek aku menoleh kea rah pintu. Sunyi. Tidak ada apapun di sana. Aku belum menaruh curiga, mungkin angin. Manakala aku akan masuk kamar, aku mendengar suara ketukan itu lagi. Kali ini aku tidak hanya menoleh, perlahan aku berjalan mendekati pintu. Sejak peristiwa kemarin, pintu kaca tak pernah dikunci dari dalam.

Kuputar kenop pintu. Kini, pintu sudah terbuka. Angin dingin menerpa wajahku sampai membuatku sedikit mundur dan memicingkan mata. Harum bunga kenanga di taman langsung menyerbu menusuk penciumanku. Samar-samar aku mendengar suara orang memanggil, lebih tepatnya memanggil namaku. Dari arah belakang. Aku lihat sekeliling, kamar adik kost masih gelap dan semua pintu tertutup. Sedikit ragu aku melangkah semakin ke belakang. Dan tepat di ambang pintu dapur, di bawah sorot lampu lorong taman, aku melihatnya.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
edam dan 16 lainnya memberi reputasi
17 0
17
Penghuni Lain di Rumah Kost
13-12-2019 11:22
kayaknya bakalan seru nih. nenda dulu ah!
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan sukaskusuka memberi reputasi
2 0
2
Penghuni Lain di Rumah Kost
13-12-2019 12:43
lanjut dong
profile-picture
sukaskusuka memberi reputasi
1 0
1
Halaman 1 dari 28
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
illusi
Stories from the Heart
the-piece-of-life
Stories from the Heart
cinta-di-dinding-biru
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
secangkir-kopi
B-Log Personal
indahnya-kebersamaan
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia