Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
125
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5dd084e126377241656d4ccd/gelora-sma
Namanya Harry, seorang Cowok bertubuh sedang, malah cenderung agak kurus, namun karna kelincahannya memainkan bola basket membuatnya terpilih sebagai kapten tim basket di SMA tempat Lea bernaung mencari ilmu.
Lapor Hansip
17-11-2019 06:23

GELORA SMA

Past Hot Thread
GELORA SMA

Prolog!

Lea, Dan Hari Remaja yang harus merasakan dahsyatnya rasa cinta, mereka tak bisa menolak ketika di dekap rasa luar biasa yang dihadirkan olehnya.

Cinta membuat dua remaja itu, menangis, tertawa, berduka dan bahagia.

Liku panjang, kisah cinta rumit mau tak mau harus dijalaninya, ketika mereka memilih untuk melakoni peran sebagai orang yang tengah jatuh cinta.

Ikuti Romansa remaja manis Lea dan Hari hanya di sini.

Dalam GELORA SMA karya terbaruku.

Selamat membaca, gaess, di sini kamu bakal bertemu banyak quotes manis yang bisa bikin baper!
emoticon-Kiss

Yuk langsung kita garap part satunya.

#Cinta Segi Tiga
1

Namanya Harry, seorang Cowok bertubuh sedang, malah cenderung agak kurus, namun karna kelincahannya memainkan bola basket membuatnya terpilih sebagai kapten tim basket di SMA tempat Lea bernaung mencari ilmu.

Wajah tampan itu sering banget nampang di mading, seiring keberhasilannya membawa tim basket sekolah meraih berbagai kejuaraan.

Dari sanalah Lea mengenalnya, karna hampir setiap siswi berharap bisa menjadi kekasih dari lelaki ramah yang memiliki senyum menawan itu. Namun Lea tak pernah berharap banyak, sebagai gadis yatim piatu yang masuk ke sekolah dengan modal separuh beasiswa dari pihak sekolah asal dan surat keterangan tidak mampu dari kelurahan, membuatnya sadar diri jika dia bukanlah tipe perempuan incaran Harry.

Hingga takdir berkata lain, saat Harry terluka Lea lah yang bertugas untuk merawatnya, dan untuk pertama kalinya Lea bertatap muka secara langsung dengan pemilik rupa menawan yang fotonya sering terpampang di mading mingguan sekolah.

Pak Isman selaku guru olah raga dan petugas kebersihan sekolah membopong tubuhnya keruang UKS, lalu meminta Lea untuk merawatnya, termasuk mengoles kaki Harry dengan minyak urut hangat

“Kak, Bisa kakinya diangkat sedikit?” Tanya Lea dengan tangan bergetar
Tanpa menjawab pula Harry langsung mengangkat kakinya dengan wajah mengernyit menahan sakit

“Tahan sedikit ya, kak.” Lea memijit Kaki Harry dengan pelan dan hati-hati, seperti yang biasa Nenek lakukan saat dia terkilir dulu.

Harry menatap wajah gadis yang terlihat serius memijit kakinya, rasanya dia tak pernah melihat gadis itu sebelumnya. Pijitan lembutnya terasa begitu nyaman hingga rasa sakit akibat terkilir yang tadi begitu menyengat kini mulai berkurang.

“Bapak kamu tukang pijit ya?” Tanya Harry

“Bukan, Kak.” Lea menjawab pelan

“Oh, kirain.”

“Sakit Kak?”

“Tidak, Enak malah. Makanya aku kira kamu anak tukang pijit.” Harry berusaha tersenyum

“Aku oles antiseptik dulu yak, Kak, maaf kalau agak perih lukanya.”

Harry mengangguk, dia menatap sekilas betapa cekatannya gadis itu membungkus lukanya dengan perban.

“Sudah Kak.” Jawab Lea, sambil mengemasi kotak P3K milik UKS.
Dengan tergesa pula dia beranjak keluar ruangan UKS

“Eh, nanti dulu, nama Kamu siapa?” Kini mata hitam itu menatap wajah Lea lekat

“Lea, Kak.” Jawabnya dengan bibir bergetar, gadis itu mengakui pesona cowok itu seakan menghipnotis setiap mata yang menatapnya

“Kelas berapa?” Lagi wajah Harry mengernyit, walau dia berusaha untuk tersenyum

“Aku kelas sepuluh IPA, Kak.” Lea menunduk malu

“Anak IPA ya, Apa kamu Katlea yang menang lomba Artikel sains itu ya?”
Lea mengangguk

“Keren, kenalin aku Harry.” Cowok tampan itu mengulurkan tangan

Lea menerimanya, merekapun berjabat tangan erat, mata elang Harry seakan menguliti kulit Lea, hingga gadis itu hanya menunduk tak berani mengangkat wajahnya.

“Terima kasih, Dek.” Harry menepuk bahu Lea lembut, dia mencoba untuk berdiri namun karna kurang seimbang cowok itu hampir terjerembab, namun refleks Lea membantunya untuk kembali duduk.

“Hati-hati, Kak.”

“Iya, maaf ngerepotin kamu nih. Bisa tolong ambilkan Tas Kakak disana, Dek.” Telunjuk Harry mengarah pada ransel kecil di atas meja, dengan tergopoh Lea meraihnya dan menyerahkan pada Cowok itu.

Lalu dengan cekatan tangannya menyentuh layar ponsel bermerk itu, Lea hanya mendengar jika dia memanggil beberapa teman untuk menjemputnya.

Tak berapa lama dua orang siswa datang dan langsung berbincang dengan Harry, sedangkan Lea hanya menjadi pendengar saja, walau hatinya mulai resah, dia merasa begitu tak berarti di hadapan tiga cowok berwajah tampan yang kini tengah asyik ngobrol, sesekali mereka tergelak ketika Harry menceritakan peristiwa hingga dia dibawa ke ruang UKS ini.

“Konyol banget kamu, Har, jatuh dilapangan saja sampe begitu parah.”

“Kakiku ngebentur tiang besi, bro.” Ujar Harry meringis.

“Untung ada Lea yang lagi piket, jadi ada yang ngobatin.” Harry melirik kearah Lea yang terus menunduk

“Pantesan aja lo betah di sini, ada ceweknya.”

“Apaan sih Lo, orang gue ngak bisa berdiri, makanya gue manggil loe-loe pada biar bantu gue keluar dari sini.” Harry mengelak

“Iyalah, lagian mana berani loe selingkuh dari Marsya, bisa digorok loe sama cewek itu.” lalu ketiganya terbahak

“Lea, makasih udah bantu kakak, lain kali kita ketemu lagi ya, Kakak janji traktir kamu.” Harry menoleh pada Lea, dan gadis itu membalasnya dengan tersenyum kikuk

“Cie…! Kakak gitu loh!” Ujar seorang Cowok bertubuh paling tegap berkulit putih

“Iyalah, dia kelas sepuluh, jadi adek kelas kita dong,” Ujar Harry

“Kak, jangan lupa perbannya nanti sore ganti ya.” Ucap Lea berusaha tenang.

“Siap Nona manis.” Jawab Harry cepat

Seketika wajah Lea memerah bak kepiting rebus

Lalu ketiga pemuda berpenampilan sangat keren itu keluar dari ruang UKS, untuk terakhir kalinya Lea masih menangkap tatapan mata tajam Harry yang begitu menggodanya, membuat debaran di dada Lea menjadi tak menentu. Dia menatap kepergian ketiganya hingga hilang dari pandangan

Sejak saat itu Lea benar-benar tak bisa melupakan pertemuan pertamanya dengan Cowok idola di sekolah itu, tatapan teduh, senyum ramah dan sikapnya yang sopan membuat Lea sadar jika Harry benar-benar memiliki sejuta pesona yang bisa mebuat siapa saja bertekuk dihadapannya.

Tanpa diketahui siapapun Lea mulai mencari tahu tentang diri Harry, bagaimana kehidupannya, siapa pacar dan teman-temannya. Lea mulai mengintip akun-akun media sosial milik cowok tampan itu, dan gadis itu harus menyadari jika dia ibarat pungguk merindukan bulan, kehidupan mewah Harry serta cantiknya Marsya membuat Lea tak berani bermimpi lebih jauh lagi.

“Biarlah rasa ini tumbuh tanpa terarah, mungkin suatu saat ada langkah yang akan menuntunku untuk bisa sekedar kembali bertegur sapa denganmu.”

Catatan manis itu perlahan ditulis Lea di bawah sebuah nama yang diwarnai dengan stabilo biru. Harry.

***

“Lea!” Sebuah suara yang begitu ia rindukan kini terdengar jelas memanggilnya

Dengan cepat dia pun menoleh, lalu Lea terpana ketika Cowok tampan itu berdiri di sebrang jalan dengan memegang sebuah helm.

“Kakak.” Teriaknya tanpa sadar

Harry tersenyum lalu melambaikan tangan padanya untuk menyebrang, Lea pun mengikuti perintahnya, setelah mereka dekat dengan cepat Harry menarik tangan Lea menuju sebuah motor Ninja merah milik Harry.

“Naik.” Suara Harry bernada perintah, sejenak Lea ragu, namun Lagi Harry menarik tubuhnya agar segera naik, dengan agak sungkan Lea pun naik dan Harry memberinya sebuah helm untuk dipakainya.

“Sudah kan?” tanyanya

“Iya.” Jawab Lea

Cowok itu menghidupkan mesin motor dan melajukannya dengan kecepatan tinggi, Lea memejamkan matanya karna merasa takut, seolah menyadari jika Lea ketakutan Harry memelankan laju kendaraannya lalu dia melingkarkan tangan gadis itu di pinggangnya, awalnya Lea merasa risih, namun apalah daya ketenangan pria itu meluluhkan rasa ragu dan khawatirnya.

Perlahan Lea memeluk pinggang kokoh itu, lalu menempelkan wajahnya di punggung dengan aroma yang membuatnya terlena seakan tak ingin masa itu berlalu.

Di sebuah café mereka berhenti, Harry mengajaknya untuk mampir disana, tanpa memberi kesempatan pada Lea untuk berkata, Harry menuntunnya ke sebuah meja bernomor 21.

“Minum apa, Dek?”

“Terserah Kakak.” Lea menjawabnya kaku
Harry tersenyum melihat tingkah kikuk Lea, apalagi dengan pipi yang merona, gadis sederhana ini lumayan manis, pikir Harry.

“Oke, kakak pesan Capuchino lho, jangan protes ya.” Ujar Harry terkekeh mencoba mencairkan suasana
Untuk pertama kalinya Harry melihat gadis hitam manis itu tersenyum tipis

“Sering nongkrong di sini ya, Kak?” Tanya Lea, karna dia merasa para pelayan disana begitu mengenal Harry

“Enggak juga, paling malam minggu bareng Erik sama Juna.”

“Mereka yang jemput kakak di ruang UKS dulu ya?”

“Heeh, kenapa, naksir?” Mata Harry menatap wajah Lea

“Nggak kok Cuma nanya aja.” Tukas Lea cepat.

“Naksir juga boleh, kita masih pada jomblo kok.” Tukas Harry cepat

“Jomblo? Lalu Marsya siapanya kakak?” Tanya Lea polos

“Marsya, Emang tau? Stalking akun apa googling nih?” Pancing Harry membuat Lea terpojok

“Enggak juga, Tapi anak-anak banyak yang bilang kakak sama Kak Marsya pacaran.” Lea menunduk memainkan Tissue

“Itu gosip Lea, jangan percaya.”

Dan obrolan mereka terhenti ketika pesanan datang, Harry mempersilahkan Lea untuk segera menikmati apa yang tadi dipesannya. Untuk yang kesekian kali Harry memperhatikan sosok sederhana di depannya itu, wajah tanpa make up, tas sekolah yang sudah tak baru lagi namun terkesan rapi dan bersih menunjukan jika gadis dihadapannya itu seseorang yang suka akan kebersihan.

Sikap hati-hati Lea yang justru terkesan anggun membuat Harry menyadari ada daya pikat tersendiri dari gadis pemilik gingsul ini.

Lea menyeruput capuchino di cangkir kecil yang di sodorkan Harry, rasanya begitu enak, lagi gadis pemalu itu meneguknya kini dengan porsi agak banyak untuk lebih meresapi rasanya, dia tak sadar jika kelakuannya diperhatikan oleh Harry yang terus tersenyum melihat tingkahnya.

“Boleh dihabisin kan, Kak?” Mata bulatnya menatap Harry
Cowok itu mengangguk

“Lagian sayang kalo nggak dihabisin, kan harganya mahal.” Lea meneguk habis capuchino miliknya.

“Hebat kamu, Dek.” Harry menepuk pipi Lea gemas, baru kali ini dia melihat gadis yang tidak jaim saat bersamanya, sikap Lea yang sederhana dan apa adanya membuatnya nyaman berada disisi gadis itu. Mereka pun berbincang akrab, sedikit demi sedikit sikap ramah Harry membuat Lea cepat bisa beradaptasi dengannya

“Kakak antar kamu pulang ya?”

“Tapi rumahku jauh, Kak, masuk gang kecil.”

“Nggak apa-apa, nggak lewatin jurang juga kan?” Seloroh Harry, Lea tertawa kecil

Setelah membayar semua yang mereka pesan keduanya pun kembali melanjutkan perjalanan, kini cowok itu lebih tenang dalam membawa kendarannya

Dengan memakan waktu sekitar 40 menit, tibalah mereka di sebuah rumah yang terbilang sederhana, di depannya berdiri sebuah warung nasi yang lumayan ramai, seorang wanita yang cukup terbilang tua menyambut kedatangan mereka.

“Sore amat, Le? Nenek sampe khawatir.” Tanyanya pada Lea, lalu menatap ke arah Harry yang masih mengenakan helm

“Tadi ada keperluan dulu, Nek.” Lea mencium tangan Sang Nenek, dan Harry mengikuti apa yang di lakukan Lea.

“Kakak mampir dulu kan?” Tanya Lea.

“Nggak Le, sudah sore juga nih, lain kali aja ya.” Harry melirik sebuah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.

Lea pun mengangguk, Harry berpamitan pada Nenek Lea yang terlihat begitu ramah padanya

“Kenapa tidak masuk dulu, Nak? Apa karna rumah kami jelek ya?” Wanita tua itu menatap Harry

“Bukan begitu, Nek. Aku ada janji mau ke bengkel sama teman-teman sore ini.” Jawab Harry dengan tak enak hati

“Ya sudah hati-hati di jalan.” Ucapnya, Harry kembali mencium tangan wanita tua itu dengan penuh hormat, satu hal yang tidak pernah dilakukannya pada siapapun termasuk pada kedua orang tuanya.

“Lea, Kakak pamit ya.”

“Hati-hati Kak.”

Harry mengangguk,

Lea menatap punggung Harry yang melaju kencang dengan motornya, ada rasa yang seakan turut dibawa oleh cowok ramah itu.

Malam itu Harry tiba-tiba terus teringat pada Lea, dia tak menyangka jika rumah Lea terbilang cukup jauh dari sekolah, kembali terbayang saat Lea bercerita jika dia harus dua kali naik angkutan umum untuk sampe ke sekolah.

“Kalau lagi punya uang sih aku pake ojek, Kak, biar cepet nyampe, tapi nggak tiap hari juga sih, kan ojek harganya mahal.”

Lagi perkataan Lea terngiang ditelinganya, baru kali ini Harry merasa jika ternyata uang sangatlah begitu berarti, padahal saat ditanya berapa ongkos ojek kesekolah Lea menjawab 30 ribu rupiah, sebuah nominal yang tidak berarti baginya, tapi bagi Lea seolah nilai rupiah sebesar itu sangatlah istimewa.

“Itu bisa untuk tiga hari kalau naik angkot, Kak.” Dengan kerjapan bola mata yang indah Lea mengucapkannya, dan itu membuat mata Harry seakan tak berhenti ingin terus menatap wajah oval di depannya.

Terbukti malam ini Harry tak bisa memejamkan mata, wajah manis Lea terus menari dalam pikiran kosongnya
Hingga akhirnya pemuda berumur hampir 18 tahun itu terlelap dibuai mimpi indah bersama gadis yang tak pernah dia kenal sebelumnya.

***

“Kamu biasa, tapi itu bisa membuatmu jadi luar biasa.

Kamu sederhana, itu membuatku menyadari jika sederhana bisa berubah jadi istimewa

Kamu apa adanya, tapi itu membuatku mencari ada apa dalam dirimu hingga membuatku terpana”

Untukmu yang diam-diam hadir dalam mimpiku.

Sontak para siswi histeris ketika membaca quote yang ditulis cowok yang yang selama ini mereka gandrungi.

Ya, Harry sukses membuat para gadis bertanya-tanya tentang siapa sosok di quote yang dia tulis di mading sekolah pagi ini.

GELORA SMA


Bersambung.
Dikrisan juga ya!
profile-picture
profile-picture
profile-picture
asepdeni343 dan 7 lainnya memberi reputasi
8
Halaman 1 dari 7
GELORA SMA
17-11-2019 06:27
Hai selamat pagi agan dan sista, yuk mampir di sini.
0 0
0
GELORA SMA
17-11-2019 21:01
Bangun tenda ahh



emoticon-Ngacir
profile-picture
shopia2005 memberi reputasi
1 0
1
GELORA SMA
17-11-2019 21:07
Quote:Original Posted By njir
Bangun tenda ahh



emoticon-Ngacir


Bolehemoticon-Big Kiss
0 0
0
GELORA SMA
17-11-2019 21:13
titip helm gann
profile-picture
shopia2005 memberi reputasi
1 0
1
GELORA SMA
17-11-2019 21:15
Quote:Original Posted By dimasadira104
titip helm gann


Asal ga titip hati emoticon-Menang
profile-picture
dimasadira104 memberi reputasi
1 0
1
GELORA SMA
17-11-2019 21:16
Quote:Original Posted By shopia2005
Asal ga titip hati emoticon-Menang


Titip hati di kamu wkwk emoticon-Ngakak
profile-picture
shopia2005 memberi reputasi
1 0
1
GELORA SMA
17-11-2019 21:22
Quote:Original Posted By dimasadira104
Titip hati di kamu wkwk emoticon-Ngakak


Hati aku panas, bakal bikin kamu kehausanemoticon-Ngakak
profile-picture
dimasadira104 memberi reputasi
1 0
1
GELORA SMA
17-11-2019 21:22
Quote:Original Posted By shopia2005
Hati aku panas, bakal bikin kamu kehausanemoticon-Ngakak


Yaudah aku jualan minuman disana emoticon-Ngakak
profile-picture
shopia2005 memberi reputasi
1 0
1
GELORA SMA
18-11-2019 01:38
Eh ht nih trit kamu,
Ijin baca aja deh,
emoticon-Maluemoticon-Malu
profile-picture
shopia2005 memberi reputasi
1 0
1
GELORA SMA
18-11-2019 05:22

Sadar Diri

GELORA SMA

Dua remaja itu kini menjadi lebih dekat, ada saja cara Harry untuk bisa ngobrol dengan Lea, mulai dari BBM, WA, dan media sosial yang lain, walaupun di sekolah mereka jarang bertemu, hanya sesekali Harry menemuinya di kelas, saat dia tau jika Lea jarang menghabiskan waktu istirahat di kantin bersama teman-temannya. Gadis itu hanya diam di kelas membaca buku yang dipinjamnya dari perpustakaan.

Pantas saja gadis manis ini namanya bertengger di urutan 5 besar siswi peraih nilai tertinggi, hobinya saja megangin buku, sesekali tangan Lea mencoret-coret catatan kecil yang selalu diselipkan disakunya. Saat Harry membaca catatan itu justru dia hanya menemukan rumus-rumus yang justru membuat kepalanya pusing tujuh keliling.

Harry kadang tak memahami cara berpikir Lea yang menurutnya terlalu dewasa untuk remaja seusianya, di saat gadis seumurannya suka bermedsos ria dengan selfi dan chating, justru Lea lebih suka membuka situs-situs resep masakan lalu mengajarkan pada Sang Nenek untuk menambah daftar menu warung makan mereka.

Ketika Harry memprotesnya, Gadis itu hanya mengulum senyum, yang menjengkelkan lagi gadis itu kadang mematikan data selulernya hanya untuk mengakali kuota internet agar tak terlalu boros. Hingga pesan yang dikirim Harry terbaca tak sesuai dengan waktu yang diharapkannya.

“Katlea, mahluk langka yang diciptakan Tuhan dengan kadar manis yang luar biasa.”

Harry mulai berani menulis nama indah itu di buku harian miliknya, bahkan tak sadar kadang Harry menulis nama Lea di buku catatan yang di bawanya kesekolah.


🌸 🌸 🌸 🌸

Mata Harry terus menelusuri nama-nama para peserta event kemping awal tahun yang menjadi rutinitas sekolah, kini daerah puncak menjadi sasarannya. Namun setelah sekian lama mecari dia tak menemukan nama Katlea tertera di sana.

“Apa dia Nggak ikut acaranya?” Harry menggumam sendiri

“Woi…! Udah stress loe ngemeng sendiri?” Erik menjitak kepala Harry

“Sakit, Bego.” Harry mengusap kepalanya

“Abisnya gue takut loe kesurupan, Har.” Erik tergelak

“Elo tuh yang kesurupan, kebanyakan nonton bokep.” Hari menjotos perut Erik

“Geli, Bro!” kini Erik terkekeh hingga tubuh tegapnya berguncang

“Btw elo nyari siapa sih Har, Si Marsya udah jelas ngikut, dia kan panitia?” Tanya Erik mulai penasaran

“Kepo loe kek akun Lambe turah aja.” Harry bergegas menjauhi Erik, namun Cowok tampan itu justru mengejarnya.

“Jujur dong Har, kamu nyari cewek tukang pijit itu kan?”

“Mulutmu lemes banget sih, mau tukang pijit kek, tukang cukur kek bukan urusan elo tau!” Jawab Harry sengit

“Cie marah dia, artinya dugaan gue bener dong.”

“Rik, Gue mohon, bisa enggak mulut loe kali ini nggak ember?”

“Oke, Har.” Erik memberi isyarat nengunci mulutnya.

Dengan malas, dia duduk di pojokan lalu tangannya mulai sibuk menyentuh keypad ponsel pintarnya

[Lea, kenapa nggak ikut kemah?]

[Memangnya kenapa?]

Lea malah balik nanya

[Aku cari nama kamu tapi tidak ada di papan pengumuman, Dek]

Harry membalas dengan penuh rasa penasaran

[Maaf, Kak. Bayarannya mahal, Nenek sedang tidak punya uang, lagian aku juga kurang suka acara kek begitu]

Harry tertegun membaca balasan chat dari Lea, padahal ini acara yang banyak ditunggu oleh para siswa, mereka rela mengorbankan apa saja asal bisa mengikuti kemping awal tahun ini

[Pulang sekolah kita ketemu di tempat kemarin ya, Kakak menunggu kamu di sana]

Akhirnya Harry mengirimkan pesan yang terakhir. Lalu menutup chatnya dengan gadis itu. Dan Lea tidak membalasnya

***

Lea membolak-balikan buku catatannya dengan gelisah, Alika, teman sebangkunya menjadi heran

“Kenapa sih Le, kamu kok gelisah banget?”

“Enggak apa-apa Al, aku kurang enak badan hari ini.” Jawab Lea sambil mengusap keringat di dahinya

“Kenapa nggak ijin aja, Le?” Alika memberi saran

“Enggak usah Al, bentar lagi juga pulang.”

Benar saja tak berapa lama bel terdengar dan itu pertanda jam pelajaran harus segera diakhiri
Lea bergegas keluar kelas setelah Bu Dahlia menutup pelajaran dan keluar ruangan, hatinya berdetak tak karuan saat matanya kembali membaca pesan via WA yang dikirim oleh Harry.

Namun langkahnya terhenti saat matanya menatap sosok yang dirindukannya tengah berbicara serius dengan seorang gadis cantik yang berseragam sama dengannya.

Nampaknya mereka begitu akrab, sesekali si Gadis menggelayut manja di bahu Harry, dan Cowok itu sama sekali tak menghindarinya. Mereka pun terlihat begitu serasi, Marsya yang cantik dan pintar sebanding dengan Harry

Ada rasa perih menjalari hati Lea, dadanya menjadi sesak, Sigap gadis manis itu berbalik arah, matanya tak kuat menyaksikan pemandangan yang membuat matanya panas. Dia mencoba menahan luapan rasa yang kini dirasakannya. Dengan memahami keadaan jika dia bukanlah siapa-siapa bagi seorang Harry.

“Siapa kamu, Le? Jangan bilang kamu merasa punya hubungan karna akhir-akhir ini Harry sering mengajakmu bicara.” Lea bergumam sendiri, mencoba menepis rasa cemburu yang membuat hatinya sakit.

Tapi semuanya sia-sia, rendah diri semakin memojokan hatinya

Perlahan dia merogoh saku, untuk melihat berapa sisa uang yang kini di milikinya.

Sial, uangnya tidak cukup untuk memanggil ojek yang biasa nongkrong tak jauh dari gerbang sekolah, akhirnya Lea memilih angkot walau jarak yang ditempuh akan terasa lebih lama

Rasanya perjalanan kali ini terasa lebih lama, betapa inginnya Lea cepat bisa merebahkan tubuhnya di atas ranjang, untuk sekedar menghilangkan rasa sakit di hatinya.

Siapa kamu Le, hingga kamu harus cemburu pada Marsya, apa hanya karna pria itu pernah mengantarkanmu pulang? Dalam batin Lea berkecamuk sejuta tanya yang tak membutuhkan jawaban

Setibanya di rumah, Lea pun tak bisa menutupi hatinya yang sedang galau hingga menimbulkan pertanyaan dalam benak Neneknya.

Melihat rona wajah cucunya yang kusut, wanita tua itu tak berani bertanya banyak, dia membiarkan cucu kesayangannya itu langsung masuk kamar tanpa bicara apapun lagi padanya.

Hingga petang Lea sama sekali tak keluar dari kamarnya, kecuali setelah terdengar ketukan di pintu kamar dan suara lembut Sang Nenek yang memintanya untuk makan.

“Le, makan lah dulu sayang, tadi Nenek nyisain pepes tahu kesukaan kamu, nak.”

“Iya, Nek nanti Lea makan, perut Lea agak mules hari ini.” Jawab Lea beralasan

“Makanya kamu harus makan, biar nggak masuk angin.” Jelas Nenek

Dan Lea tak bisa menolak apa yang diucapkan oleh neneknya, baginya wanita tua itu adalah segalanya, dengan malas Lea beranjak menuju meja makan dan menyantap hidangan yang sudah dihangatkan oleh sang Nenek tercinta

“Lea, kamu kenapa, Sayang?”

“Lea baik-baik saja, Nek.”

“Tapi wajahmu menunjukan jika kamu sedang tidak baik-baik saja,” Tebak Nenek

“Nenek sotoy banget hari ini.” Lea mencoba tersenyum

“Bahasa apa lagi itu, Le?”

“Itu bahasa gaul, Nek.” Lea mulai melupakan kesedihannya

“Gaul kok bisa merubah bahasa, Le.”

“Makanya Nenek gaul dong!”

“Lah, pan Nenek tiap hari juga gaul, Le, tukang Ojeg, Supir-supir langganan warung Nenek itu kan teman nenek bergaul.” Jawab Nenek, menambah nasi ke piring Lea

“Pergaulan remaja sama mereka mah atuh beda, Nek.”

“Iya, Nenek juga kurang paham kalau denger kamu sama Alika ngobrol di Telpon.”

“Hayo Nenek nguping ya?” Lea menunjuk wajah Nenek yang tersenyum malu

“Cuma iseng doang, Kepo sedikit.”

“Tuh Nenek udah ketularan bahasa gaul sekarang.”

Mereka tertawa, ya Nenek berusaha menghibur cucu kesayangannya, walau hati wanita tua itu mulai khawatir, siapa yang akan menjaga Lea jika Tuhan memanggilnya nanti.

“Yu, tidak kah kau tergerak untuk melihat buah hatimu sekarang?” Batin Nenek tua itu berbisik

***

Harry melirik jam tangan berkali-kali, kepalanya serasa mau copot karna tak berhenti menatap sebrang jalan mencari sosok gadis yang ditunggunya.

“Kemana Kamu, Le?” Bisiknya

Hampir dua jam Harry tetap duduk di atas motornya, sesekali di menyentuh layar ponsel untuk menghubungi Lea, tapi nomor gadis itu ternyata tidak aktif. Bingung, marah, kecewa serta kesal memenuhi rongga dada pemuda tanggung itu, mukanya terlihat memerah namun dia tak bisa berbuat apa-apa.

“Harry, tumben masih betah di sekolah jam segini.” Juna menepuk pundak Harry

“Ini mau pulang.” Harry mulai menstarter motor besarnya

“Loe nggak ikut rapat panitia kemah awal tahun, Har, kan Elo di pilih jadi ketua sama Pak Krisna?”

“Enggak minat, bilang saja ke Marsya gue ngundurin diri jadi ketua.” Jawabnya, langsung kabur meninggalkan Juna yang bengong menatap kepergiannya

Harry memasuki pelataran rumah yang luas, besar, dan mewah dengan gaya Eropa modern, suara motornya meraung memecah kesunyian.

Dia menaruh benda mahal itu sembarangan lalu bergegas membuka pintu tanpa menutupnya kembali

Seorang wanita setengah baya tergopoh menyambutnya.

“Den, mau Mbok siapkan makan sekarang?” Mbok Narti menjajari langkah Harry

“Jangan Mbok, Aku Cuma mandi doang kok, langsung pergi lagi.” Jawab Harry, beranjak menaiki tangga

“Den, kata Nyonya Elsa malam ini ada acara makan malam di hotel Papanya Aden.”

“Cie, Si Mbok mulai jadi juru bicara Nenek Sihir itu ya?” Harry menunjuk wajah Mbok Narti sambil tertawa, sedangkan wanita setengah baya itu gelagapan

“Siapa yang kau sebut Nenek sihir itu, Harry?” Seorang wanita muda berparas cantik tiba-tiba muncul dihadapan mereka, Mbok Narti buru-buru pergi.

Harry melengos menghindari tatapan tajam wanita bergaya elegan itu.

“Papamu yang mengirimkan pesan, jika malam ini kita akan makan malam bersama keluarga kliennya.”

“Sudahlah, Tante. Jangan bujuk aku dengan mengatas namakan Papa. Kalaupun Papa yang mau aku hadir disana, kenapa dia tidak bicara langsung padaku?” Tanya Hari, ketus.

“Lah, gimana Papamu mau bicara sedangkan kamu terus menghindarinya?” Kini Tante Elsa balik menatap Harry

“Asal Tante tau, aku tidak suka Tante ikut campur masalah aku dan Papa.”

“Harry, aku berhak ikut campur, karna sekarang aku adalah Mamamu.”

“Mama? Bukan Tante, mamaku sudah mati.” Tanpa menoleh lagi Harry berlalu meninggalkan wanita yang tertegun mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan Harry, kelopak mata indahnya digenangi air yang perlahan merembes turun di pipi mulusnya.

Sedangkan Harry bergegas membersihkan tubuhnya, ditengah kekesalannya hari ini, niatnya untuk menemui Lea sudah bulat. Dia akan mencoba untuk membujuk gadis itu agar ikut acara kemah awal tahun bersamanya. Jika tidak, maka dialah yang akan mengundurkan diri untuk mundur dari jabatan sebagai ketua.


🌸 🌸 🌸

“Le, ada tamu tuh.” Suara lembut Nenek terdengar di balik pintu kamar Lea

“Siapa, Nek?”

“Itu, pemuda yang tempo hari nganter kamu pulang.”

Deg, jantung Lea berdetak kencang, wajah Harry tiba-tiba melintas lagi, tangan gadis itu mulai berkeringat.

“Bilang sama dia kalau Lea sudah tidur, Nek.” Jawab Lea sekenanya

“Lea, dia mendengar suaramu.” Suara Nenek agak pelan dari sebelumnya

Lea tersentak, tanpa berkata lagi dia segera membuka pintu kamar, matanya menatap Nenek yang mematung di depan pintu dan Harry tengah duduk di kursi yang berada persis di depan kamarnya.
Sontak saja wajah Lea memerah karna menahan malu.

“Kalian ngobrol saja ya, Nenek masih ada pekerjaan.” Kata Nenek sambil berjalan menuju dapur, Harry mengangguk sopan, sikapnya berbeda sekali dengan saat berhadapan dengan Tante Elsa, Mama tirinya.

“Mau bohongnya?” Tanya Harry tersenyum, mencoba mencairkan suasana yang agak membingungkan awalnya.
Lea merasa ditelanjangi malam itu

“Ada apa?” Lea berusaha tenang, lalu duduk di samping Harry

“Kamu kemana, Dek? Seharian aku nungguin kamu.” Tanya Harry, matanya menatap gadis yang mengenakan piyama sederhana, rambutnya diikat asal, wajahnya terlihat sembab, dengan kedua mata yang masih memerah.

Hati Harry dipenuhi tanda Tanya, apa yang membuat gadis ini menangis? Apa dia ingin pergi kemah tapi Nenek melarangnya? Atau ada hal lain yang membuat Lea bersedih.

“Maaf Kak, tadi aku buru-buru pulang, perutku sakit.” Jawab Lea, mencoba menutupi hal sebenarnya

“Kenapa ponselmu malah non aktif, Dek?” Cecar Harry, penasaran

“Lowbat, Kak.”

“Kakak khawatir, Dek, makanya maksain mampir malam ini.”

“Maaf, Kak ngerepotin jadinya. Eh iya lupa, mau minum apa?” Lea, berbasa-basi.

“Apa aja, Dek. Air putih juga boleh.” Jawab Harry, Matanya menatap wajah sembab Lea

“Aku buatin teh hangat ya, Kak, Mau?” Tanya Lea, Jengah dengan tatapan Harry dan pemuda itu mengangguk senang.

“Sebentar ya, Kak.” Lea buru-buru berlalu, dia mulai risih dengan tatapan Harry yang seolah menyelidik keadaan sebenarnya. Bisa-bisa dia gede kepala kalau tau jika Lea pulang karna cemburu melihatnya dan Marsya tadi siang.
Tak berapa lama Lea kembali dengan dua gelas teh manis hangat.

“Diminum, Kak.” Lea mempersilahkan Harry

Harry mengangguk, perlahan di teguknya teh manis itu, dahinya mengernyit rasanya persis seperti buatan Mbok Narti, takaran gulanya sesuai selera yang dia suka.

“Kenapa kak?” Tanya Lea, khawatir dengan ekspresi yang ditujukan cowok tampan itu

“Enak, sama banget kek buatan Si Mbok di rumah.” Jawab Harry dengan wajah cerah
Lea cemberut

“Kok, gitu sih mukanya? Nggak suka ya di samain kek pembantu Kakak?”

Lea tak menjawab. Padahal dalam hati dia mau mengiyakannya.

“Mbok Narti bagi kakak bukan pembantu, Dek, dia yang merawat Kakak dari kecil, Rasanya sudah seperti ibu sendiri, umurnya sih sebaya kek Nenek kamu.” Harry seolah mengerti isi hati Lea.

“Eh, iya, hampir lupa deh sama tujuan awal kakak kesini.” Harry memperbaiki letak duduknya, kini dia menghadap ke arah Lea

“Apa sih?” Lea mengerutkan dahi

“Kamu ikut kemah ya, Dek.” Ujar Harry penuh harap

“Maaf, Kak, aku nggak bisa ikut, daftar acara itu lumayan mahal, dari pada ikut kemah mendingan untuk daftar ekskul yang lain, “Jawab Lea, menunduk serba salah

“Soal biayanya jangan dipikirin ya, Dek, biar Kakak yang urus.” Tawar Harry

“Nggak usah Kak, aku serius kurang minat acara kemah kek begitu, lumayan waktu tiga hari bisa bantuin Nenek di warung.” Jawab Lea tegas

Harry mengalah, dia tak bisa lagi membujuk gadis manis itu, semakin dia meminta Lea semakin kukuh dengan pendiriannya.

“Jangan pancing aku untuk bergantung pada Kakak, nanti kalau Kakak pergi aku bisa jatuh.” Jawab Lea sebagai kata-kata terakhir dalam menjawab permohonan Harry malam itu.

“Eh sudah malam, Dek, Kakak pamit dulu ya.” Harry bangkit

“Iya, Kak. Nanti aku panggil Nenek dulu ya,”

“Jangan, Dek, kasian Nenek biar istirahat, sampaikan saja salam kakak untuknya.”

Lea mengantar Harry keluar rumah, namun sesampainya di depan pintu, Harry menghentikan langkahnya.

“Lea.” Panggilnya, menatap Lea dengan wajah agak bingung

“Iya, Kak.” Jawab Lea.

“Tidak, sepertinya Kakak lupa mau ngomong apa?” Harry melanjutkan langkahnya menuju motor di halaman rumah Lea. Sebelum mengenakan helm kembali dia menoleh kearah Lea.

“Lea.”

Lea tersenyum melihat tingkah cowok menawan yang seolah kehilangan akal, dan nampak sangat kebingungan.

“Ada apa sih. Kak?” Lea mendekat kearah Harry

“Lea, boleh kakak ngomong sesuatu sama kamu?” Tangan Harry mengetuk-ngetuk helm yang di pegangnya, Lea hanya mengangguk

“Lea, Apa kamu sudah punya pacar?” Mata Elang itu menatap lekat wajah Lea yang di penuhi semburat merah jambu

“Belum, Kak.” Suara Lea terdengar pelan

“Le, Kamu mau kan Jadi pacar Kakak?” tiba-tiba tangan Harry telah menggenggam erat jemari Lea yang berkeringat.
Lea menunduk, ingin rasanya dia berteriak mengatakan iya, tapi tiba-tiba wajah Marsya yang cantik hadir dipelupuk matanya.

“Gimana, dek? Kamu menerimanya kan?” Tanya Harry tak sabar.

emoticon-Kiss

“Maaf, Kak, aku tak bisa menjawabnya sekarang.” Lea berusahaa menahan gejoak hatinya yang terus memaksa agar dia menerima cinta Harry malam itu juga

“Oke, Kakak akan tunggu jawaban kamu, kalau bisa secepatnya ya.” Harry meremas jemari dingin itu penuh kelembutan

Lea mengangguk.

“Istirahatlah, Sayang. Kakak pamit ya,” dan Harry mengecup punggung tanga Lea mesra, meninggalkan gemuruh menggelora di dada gadis belia yang baru pertama dilanda jatuh cinta.

Lea mematung menatap kepergian Harry yang hilang di telan pekat malam, gadis itu masih tak percaya jika pemuda dengan sejuta pesona itu baru saja menyatakan isi hati padanya.

Lea mencubit lengannya sendiri, memastikan jika semuanya bukan mimpi di siang hari, dan dia merasakan sakit pertanda semua ini adalah nyata.

“Kau datang mengetuk pintu hati ini, namun aku ragu untuk membukanya.
Aku takut jika kau hanya sekedar singgah tak bermaksud untuk menetap dan memilikinya.”

Lagi catatan kecil itu ditulis Lea di bawah nama Harry yang kini diwarnai dengan stabilo abu-abu.

Bersambung

GELORA SMA


Selamat pagi agan dan sista selamat beraktivitas ditemani kisah kisah manis dari mimin!
emoticon-Big Kiss

Semangat emoticon-Gregetan
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rita08048 dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
GELORA SMA
18-11-2019 06:06
Quote:Original Posted By dimasadira104
Yaudah aku jualan minuman disana emoticon-Ngakak


Jangan lupa bayar uang keamanan
0 0
0
GELORA SMA
18-11-2019 06:08
Quote:Original Posted By corongalam
Eh ht nih trit kamu,
Ijin baca aja deh,
emoticon-Maluemoticon-Malu


Boleh kak! Jangan lupa kasih es krim yaemoticon-Kiss
profile-picture
corongalam memberi reputasi
1 0
1
GELORA SMA
18-11-2019 06:26
Quote:Original Posted By shopia2005
Boleh kak! Jangan lupa kasih es krim yaemoticon-Kiss


Apa aja bole deh buat kamuemoticon-Maluemoticon-Malu
profile-picture
shopia2005 memberi reputasi
1 0
1
GELORA SMA
18-11-2019 06:35
Quote:Original Posted By corongalam
Apa aja bole deh buat kamuemoticon-Maluemoticon-Malu


Thankiuh emoticon-Peluk
profile-picture
corongalam memberi reputasi
1 0
1
GELORA SMA
18-11-2019 06:44
Quote:Original Posted By shopia2005
Thankiuh emoticon-Peluk


Ur wcemoticon-Malu

Udah aku baca, wah bagus banget ceritanya, bikin aku terkesan emoticon-Maluemoticon-Malu
0 0
0
GELORA SMA
18-11-2019 06:46
Quote:Original Posted By corongalam
Ur wcemoticon-Malu

Udah aku baca, wah bagus banget ceritanya, bikin aku terkesan emoticon-Maluemoticon-Malu


Siap pantengin ya kak: ngakak
profile-picture
corongalam memberi reputasi
1 0
1
GELORA SMA
18-11-2019 06:49
Quote:Original Posted By shopia2005
Siap pantengin ya kak: ngakak


Oohhh, iya dong aku pantengin terusemoticon-Maluemoticon-Malu

Trit kmu yang satunya kok belum ada updatenya yakemoticon-Beloemoticon-Belo
profile-picture
shopia2005 memberi reputasi
1 0
1
GELORA SMA
18-11-2019 06:50
Quote:Original Posted By corongalam
Oohhh, iya dong aku pantengin terusemoticon-Maluemoticon-Malu

Trit kmu yang satunya kok belum ada updatenya yakemoticon-Beloemoticon-Belo


Yang mana kak?
profile-picture
profile-picture
julyanto09 dan corongalam memberi reputasi
1 1
0
GELORA SMA
18-11-2019 07:01
Quote:Original Posted By shopia2005
Yang mana kak?


Cinta pada pelukan pertama,emoticon-Belo

Eh btw cerita yg ini fiksi apa real, jgn2 real nihemoticon-Genit
profile-picture
shopia2005 memberi reputasi
1 0
1
GELORA SMA
18-11-2019 07:03
Quote:Original Posted By corongalam
Cinta pada pelukan pertama,emoticon-Belo

Eh btw cerita yg ini fiksi apa real, jgn2 real nihemoticon-Genit


Udah aku post barusan, itu fiksi keles
😁 😁 emoticon-Ngakak
profile-picture
corongalam memberi reputasi
1 0
1
Halaman 1 dari 7
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
black-eye-cp3
Stories from the Heart
black-eye2
Stories from the Heart
teror-hantu-dewi
Stories from the Heart
penghuni-lain-di-rumah-kost
icon-jualbeli
Jual Beli
Copyright © 2019, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia