Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
317
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5dca8159337f93523d6b4c24/cinta-sepekan
Ponselku berdering tanda notifikasi muncul, kuintip ponselku yang sedari tadi tergeletak diatas ranjang. Ada sebuah pesan "Assalamu'alaikum, aku Zahir duda, punya anak kembar, ingin mencari pendamping yang serius aja. Jika berkenan aku mau perkenalan, jika tidak abaikan pesan ini."
Lapor Hansip
12-11-2019 16:54

Cinta Sepekan

Past Hot Thread
icon-verified-thread
Cinta Sepekan

Quote:Foto dua wajah polos anak kecil itu kutatap, dengan perasaan bercampur aduk, aku hanya bisa memandangi. akhirnya kita belum berjodoh, walaupun hanya sepekan tapi tak bisa bohong bahwa hati ini sudah kuberikan kepadanya


****


Ponselku berdering tanda notifikasi muncul, kuintip ponselku yang sedari tadi tergeletak diatas ranjang. Ada sebuah pesan

"Assalamu'alaikum, aku Zahir duda, punya anak kembar, ingin mencari pendamping yang serius aja. Jika berkenan aku mau berkenalan, jika tidak abaikan pesan ini."

Seketika mataku terbelalak memandangi layar ponsel, rasa curiga bercampur aduk langsung saja aku menghampiri mbk iparku yang masih asyik memasak sambil mendendangkan lagu dangdut dibarengi tarian yang entah dia ciptakan sendiri atau justru plagiat tapi gagal total. pokoknya yang ada melihat atraksi komedi bukan melihat diva sedang menyanyi.

"mbk Imah... ini pasti ulah mbk Imah" sambil menyodorkan ponsel yang kubawa tadi

"Apa sih nduk?" matanya menyipit melihat dengan seksama ponselku.

"Alhamdulillah akhirnya usaha mbk gak sia-sia ada yang mau ngajakin kamu serius itu nduk, udah cepetan dibalas, jangan kelamaan, nanti keduluan yang lainnya, mbk udah gak sabar dapat adik ipar ini. Kamu udah kelamaan menjomblo umurmu udah pangkat 3 lho".

"Jadi, beneran ini ulah mbk Imah? Mbk...." belum sempat aku bicara mbk Fatimah udah memotong pembicaraanku.

"Nduk kali ini dengarkan mbk!" Wajah serius mbk Fatimah yang jarang aku lihat selama ini

"Nduk apa salahnya dicoba dulu, kenalan kan belum tentu langsung suruh menikah hari ini juga to, kalo gak cocok juga bisa mundur, siapa tahu ini memang jodoh yang dikirim Allah buat kamu, tentang statusnya duda atau perjaka itu gak masalah yang penting pertama agamanya". Jelas mbk Fatimah, aku lalu dia. Tanpa kata apapun aku melangkah gontai menuju kamarku.

Kupandangi chat dari nomor tak bernama itu, dalam hati berkata "Zahir, okeylah aku akan coba mengenalnya." Aku mengikuti saran mbk Imah.

Ku balas chat itu "Wa'alaikumsalam, maaf saya lama balesnya jujur saya terkejut mendapat chat darimu. Kalau memang berkenan silakan berkenalan dulu tak apa-apa. Tujuanku juga serius mencari pendamping hidup". Isi chat tersebut sangat kaku.

Selang beberapa detik ponsel berbunyi, dia membalasnya lagi "Terimakasih, boleh saya telpon kamu?"

Aku berfikir agak lama akhirnya kumengiyakan. Tak lama ponsel berdering tanda panggilan masuk. Rasa gemetar tanganku meraih ponsel.

"Assalamualaikum, ini Ranum ya?." Suara serak dan sedikit berat terdengar merdu membawaku pada lamunan

"Wa....wa'alaikumsalam, iya benar, kamu eh gmn aku panggilnya?"

"Panggil Zahir biar lebih akrab, lagian kita kayaknya masih sebaya, umurku 28 tahun, kamu?"

"Apa? Aku, em...aku sudah 31 tahun." Aku agak malu menyebutkan umur karena usiaku dibilang sudah kadaluwarsa.

"Oh jadi kita selisih 3 tahun ya?"

"Iya, tapi aku lebih tua dari kamu? bagaimana?"

"Gak masalah buatku, yang penting mau aku ajak ibadah dan dalam hal kebaikan"


Lama kami terdiam saling menunggu satu sama lain membuka obrolan lagi, tapi tetap saja hening. Lalu dia kemudian mulai berbicara lagi

"Ranum, aku orang to the point aja ya, niat aku serius sama kamu, aku tidak mau pacaran aku maunya langsung menikah aja."

"Apa?"aku agak gugup karena Zahir tidak suka basa basi

" tapi apa kamu sudah yakin memilih aku, kamu kan belum kenal aku seperti apa?"

"Inshaa Allah aku yakin, jadi kamu siapnya kapan nanti aku akan ketempatmu untuk melamarmu."

" Tapi, kamukan belum tahu tentangku, misalnya saja biodataku."

"Aku sudah tahu kok, kan sudah dapat bio datamu, nama,alamat, nama ayah, cita citamu, semua aku tahu dari biro jodoh online"

"hah??" Aku kaget seingatku aku tidak pernah mengikuti ajang biro jodoh, aku berpikir keras jangan-jangan waktu itu, yah aku ingat waktu itu mbk Imah memintaku menulis biodata selengkap-lengkapnya alasannya untuk mencarikanku pekerjaan, oh ternyata mbk Imah dibalik semua ini.

"Halo, kamu masih dengar suara aku?"

"Iiya...ya aku dengar kok!"

"Ya sudah nanti disambung lagi, aku mau tugas dulu."

"Tunggu sebentar!, aku mau tanya kamu duda karena bercerai atau istri meninggal?"

"Istri aku meninggal waktu melahirkan si kembar, oh ya aku kirim foto anak-anakku ya."

Aku memandangi ponsel ku buka chat di wa, aku menerima foto anak kecil mungil dengan bola mata bulat, cantik sekali.

"Ya aku udah lihat anak-anak, anak-anak sekarang sama siapa kalau kamu kerja?"

"kalau aku kerja sama pengasuhnya, okey udah dulu ya nanti disambung lagi, assalamualaikum."
Ia mengakiri salam dan aku membalas salam itu seketika itu tlp mati. Aku masih terpaku sambil menggenggam ponselku.

Ke esokan harinya, pagi-pagi aku sudah mendapat wa darinya , "assalamualaikum, kamu lagi ngapain?".

Entah kenapa hati ini mulai berdebar membaca pesan itu, lalu kubalasnya.

****


Selama empat hari berurut-turut, kami hanya ngobrol lewat pesan saja. Tapi itu sudah cukup membuat aku bahagia, dan aku sudah mulai menyukainya. Ya...aku sudah jatuh cinta.

Hari kelima, aku memandangi ponsel berharap dapat pesan darinya, tapi tidak. Rasa kangen mulai muncul dengan tiba-tiba. Tapi tetap saja aku tidak berani menulis pesan terlebih dahulu.

Hari keenam, aku bercerita kepada mbk iImah tentang Zahir dan sejauh mana kami merencanakan pernikahan yang dibilang dadakan. Belum bertemu, aku sudah mantap, yang kutahu hanya namanya dan nama kedua anaknya selebihnya aku tidak tahu apapun.

Mbak imah menyarankan. aku untuk bicara ke Bapak, tapi sebelm itu mbk Imah memintaku untuk menanyakan identitasnya lengkap karena hanya itu yang bisa mdnjadi gambaran dan acuan.

Hari ketujuh, sudah dua hari kami tidak komunikasi, akhirnya aku memberanikan diri untuk langsung meneleponnya. Panghilan siara aktif telepon berdering namun tiba tiba panggilan ditolak. Aku penasaran aku ulangi panggilan telpon lagi. Tapi tetap saja ditolak.

Aku mulai khawatir selang beberapa detik wa darinya

"Hmm"

"Kamu lagi ngapain, kok telponku gak diangkat?"

" Aku lagi nyantai, wa aja ya, aku lagi gak pengen terima telpon"

"Lho kenapa, aku mau bicara kan lebih enak bicara langsung dari pada nulis pesan."


Ada perasaan aneh yang aku pun tidak bisa menggambarkannya. Aku mulai tidak yakin bahwa Zahir ini bener-benar serius.

"Oh ya anak-anak mana?" Ku mulai menanyakan anaknya lewat chat

"Dah tidur"

"Fotoin ya, aku mau lihat mereka"

"Ah ribet."


"Lho kok gitu, aku hanya minta foto, aku pengen lihat, aku memang suka sama anak-anak. Ayolah fotoin, oh ya mana biodata kamu? Kok gak kamu kasih sih?" bujukku

" kamu ini belum menikah sudah minta ini itu."

"Apa?" Aku terkejut dengan balasanya itu.
"Lho aku minta apa to? Kan katanya kamu serius sama aku, aku cuma minta biodata dan fotoin anakmu. Kok kamu bilangnya begitu,

"Akhir bulan ini kan aku ketempatmu nanti tahu sendiri to."


"Lho ya gak gitulah, aku kan belum bilang sama bapakku, makanya aku minta biodata sama kamu, la terus apa yang harus kuceritakan sama bpk, aku aja hanya kenal namamu tak lebih dari itu."

"kamu itu ribet ya"

"okey kalau emang kamu gak mau kasih data ke aku, aku tak mundur aja dari perkenalan kita, apalagi kamu bilang aku suka minta hal-hal yang aneh, menurutku itu wajar lho. Aku malah ada kesan curiga sama kamu."

" Jadi kamu mundur berarti selama ini modusin aku, kamu php aku ya?."

"Mana ada aku serius kok, justru aku itu ragu sama kamu".

" ya udah gak usah wa aku lagi, bye...".


Seketika nomorku sudah diblokir, dan aku mencoba menulis pesan terakhir entah itu terkirim atau tidak

" aku minta maaf, selama ini aku percaya sama kamu, sudah kugantungkan harapan kepadamu, dan ada ruang kosong yang aku khususkan untuk kau tempati di hatiku, tapi seketika kamu telah menghancurkannya. Biarlah Allah nanti yang menjelaskan bahwa selama ini aku tidak penah mempermainkanmu, wakaupun cuma sepekan tapi tetap saja kamu punya tempat terindah disini wassalamu'aikum".


Quote:Lanjutan Kisahnya

Part2-Bukan Cinta Sepekan

Part 3-Gelisah

Part 4- Gejolak

Part 5 Maaf

Part 6 Chef Al bag. 1

Part 7 Chef Al Bag. 2

Part 8 Chef Al Bag. 3

Part 9 Tulisan di Bangku Sekolah

Part 10 Lamaran

Part 11 Keputusan

Part 12 Lelah

Part 13 Jodoh Pilihan Bapak

Part 14 Rasa

Part 15 Seluruh Cinta

Part 16 Bahtera Bag.1

Part 17 Bahtera bag 2

Part 18 Bahtera bag.3

Part 19 Cemburu

Part 20 Aku dan Kamu

Part 21 Cinta Kita

Part 22 Aku dan Kamu

Part 23 Terpuruk
Diubah oleh Enisutri
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jiyanq dan 27 lainnya memberi reputasi
28
Tampilkan isi Thread
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 12 dari 16
Cinta Sepekan
22-01-2020 01:39
Hiikkkss, terharu pakek banget
profile-picture
Enisutri memberi reputasi
1 0
1
Cinta Sepekan
22-01-2020 05:22
Quote:Original Posted By NovellaHikmiHas
Hiikkkss, terharu pakek banget

makasih sis udah mampir emoticon-Peluk
😊😊
Diubah oleh Enisutri
0 0
0
Cinta Sepekan
23-01-2020 03:13

Part 19 Cemburu

Cinta Sepekan
Sumber: pinterest

“Dek, nanti Mas pulangnya sore, oh ya, kalo Kamu bosen dirumah selama Mas tinggal, Kamu boleh kok main kerumah Ilyas, istrinya Ilyas pasti senang kalo Kamu main kesana,” kata Abid sambil mengikat tali sepatunya.


“Iya Mas, nanti kalo sudah beresan aku tak kerumah Mbk Intan, sekalian mau mengembalikan rantannya,” kataku sambil memegangi tas punggung Abid.


Abid meminta tas punggungnya, kemudian beranjak menunu ke pintu. Aku mengantarnya sampai pintu.


“Mas Berangkat dulu ya, assalamuallaikum” kata Abid sambil mengecup keningku, aku membalas dengan anggukan.


Wa'alaikumsalam, Tunggu dulu Mas,” kataku menghentikan Abid yang hendak beranjak.

“Ada apa?” tanya Abid penasaran.


Aku mendekati Abid yang tubuhnya lebih tinggi dari ku, kudekatkan mulutku ke telinganya seraya berbisik.


“Mas, aku sudah selesai,” kataku. Tapi ternyata Abid tidak paham dengan kodeku.

“Apanya yang selesai?” tanya Abid makin bingung.

“Ih ... Mas ini masak gak ngerti sih,” tukasku dengan sedikit kesal. Abid makin bingung, wajah polosnya membuat aku tahu kalau diaa benar-benar tidak mengerti ucapanku.

“Aku sudah selesai datang bulannya,” kataku dengan muka yang memerah tanda malu.


Owh ... jadi ... nanti malem ....” belum selesai Abid meneruskan kalimatnya aku memberi tanda dengan menaruh telunjukku di bibir. Abid paham kode alamku, dia tersenyum sambil mengedipkan mata dan berlalu.


Aku nenatap punggung suamiku sampai iya tidak terlihat diujung jalan. Aku berbalik sambil tersenyum sendiri, membayangkan nanti malam.


***


Assalamualaikum,” salamku sambil mengetuk pintu rumah Intan.


“Wa’alaikumsalam,” jawab Intan dari dalam rumah.


Pintu warna biru terbuka, aku disambut dengan senyum manis Intan.

“Eeehh .. Mbak Ranum, aymasuk,” ajak Intan.

Aku masuk, kedalam rumah Intan, kemudian, mataku langsung tertuju pada lukisan siluet Ilyas dan Intan yang diambil dari samping yang terpanjang di dinding ruang tamunya. Aku mendekati lukisan itu, tertera tanggal pernikahan mereka. 23 Agustus 2008.


“Bagus sekali Lukisan ini Mbak,” kataku dengan mata masih mengamati lukisan itu.


“Iya, itu lukisan dari Paman aku, beliau perupa, dan itu kado pernikahanku,” jawab Intan sambil tersenyum.


“Mbak, yuuk hari ini bikin camilan, sambil ngobrol-ngobrol, gimana?” tawar Intan sambil memandangku berharap aku segera menyetujuinya.


Akhirnya aku menyetujui ajakannya. Aku digandeng Intan menuju dapur.


****


Aku sudah berada di rumah menunggu kepulangan Abid. Sambil menyiapkan makanan.


Kriiing ... kriing ...
Ponselku yang berada di kamar berdering. Aku berlari menuju kamar untuk mengambilnya. Ada panggilan dari Abid.


“Assalamualaikum,” ucap Abid dari ujung telpon

“Wa’alaikumsalam,” jawabku.

“Dek, Kamu siap-siap ya, ini kita dapet undangan makan malam atasan Mas,” kata Abid lagi.

“Dimana tempatnya Mas?” tanyaku penasaran.

“Pokoknya nanti kamu tahu deh, tempatnya istimewa di resto ternama.

“Okey, terus kita naik apa dong Mas kesana kita kan gak ada kendaraan?” tanyaku lagi.
“Naik mobil, tadi Mas disuruh bawa mobilnya Pak Firman atasan Mas,”

“Ya udah aku siap siap ya?”

“Dandan yang cantik, ya sayang, wahahaha,” tawa Abid terdengar meledek.

“Ih ... Mas ini malah ngetawain sih, dasar gak romantis,” jawabku.

“Gitu aja ngambekan, eemuuuaah ... ,”terdengar suara kecupan di balik ponsel. Aku tersipu.

“Halo ... Dek!, masih denger Mas kan? Jangan pingsan dong? Mas kan belum sampe rumah,”

“Ah ... Mas ini, ya udah aku tak siap-siap dulu”

“Tunggu ada yang lupa,” kata Abid tiba-tiba.

“Apa yang lupa Mas?” tanyaku penasaran.

“Masa Mas gak dikasih sih? ?Mas tadi udah ngasikan?” aku paham apa yang diminta Abid.

“Gak, dirapel di rumah aja,” kataku.

“Bener ya? ” jawab Abid sambil menutup telponnya.


***


Abid membawa mobil dengan santai menyusuri jalan kota Jakarta, gemerlap lampu hias di jalan menambah apik suasana. Kami saling ngobrol dan bercanda, sesekali Abid mengengam tanganku. Iya kami seperti orang pacaran. Perjalanan itu moment yang romantis, sebab aAbid sama sekali tidak menjahiliku begitu pun denganku.


“Yuuk turun kita sudah sampai,” kata Abid. Aku sedikit kaget karena tak mengira sudah sampai. Pintu mobil kubuka, perlahan aku turun. Kemudian menutup pintu. Aku berbalik, dan kaget dengan tempat yang kami tuju. Aku berjalan mengandeng Abid menuju pintu masuk.


Kami telah berada didalam resto tersebut, Abid mengaajakku duduk di meja paling pojok sebelah kanan ruangan itu. Aku menurutinya. Kami berdua menuju ke meja tersebut tiba-tiba suara yang kukenal menyapaku.


“Ranum,” terdengar panggilan dari arah belakangku. Seketika aku menoleh dan mencari sumber suara begitu pula dengan Abid.

Aku kaget sosok yang tidak asing bagiku telah berdiri didepanku.


“Al ...!?” kataku sedikit terkejut


“Hei Ranum,” Chef Al bergegas menghampiriku.


“Jadi ini benar Kamu aku tak salah orang?” kata Chef Al dengan mata berbinar.

“Gimana kabarmu?” tanya Chef Al lagi.

“Baik,” jawabku dengan menahan gugup.

“Aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi,” terlihat senyum mengembang di bibir Chef Al.

“Al, kenalkan ini suamiku,” kataku sambil menoleh kearah Abid yang sedari tadi diam.

“Oh ... ya maaf, aku sampe lupa, kenalkan aku Al” Chef Al mengulurkan tangannya kemudian Abid menjabat tangannya.

“Kita sudah lama tidak ketemu, boleh kan ngobrol-ngobrol sebentar?” tanya Chef Al sambil melirik Abid meminta persetujuan. Aku hanya diam menunggu persetujuan suamiku. Akhirnya Abid mengangguk namun tak ada sepatah kata pun keluar dari mulut Abid.


Aku, Abid dan Chef Al sedang duduk dalam satu meja. Chef Al mempersilakan kami memesan makanan, dan mulai mengobrol. Tapi didalam obrolan itu aku merasa Abid kurang nyaman atas kedatangan Chef Al. Teebukti dari sedikitnya ia bicara.


“Chef , maaf kami butuh bantuan Anda, “ seorang asisten dapur menghampiri meja kami. Chef Al mengangguk.


“Maaf ya Ranum, Mas Abid saya permisi dulu, nanti kita ngobrol lagi, okey?” kata Chef Al sambil merilikku. Aku agak kikuk dan kurang nyaman dengan itu. Swbeb kulirik Abid sedari tadi pasang muka masam.
Chef Al beranjak pergi meninggalkan kami. Aku dan Abid masih terdiam . Akhirnya Abid buka suara.


“Kita makan dulu Dek,” kata Abid kepadaku. Aku pun mengangguk dan menikmati makanan yang tersedia didepan kami.


Selera makanku mendadak hilang karena selama kami berdua menikmati Abid tidak bicara apapun dia asyik menikmati makanannya.

“Yuuk kita pulang,” ajak Abid.


“Tapi kan acaranyanya belum selesai Mas,” kataku sedikit bingung karena tiba-tiba Abid mengajak pulang.


Abid beranjak dari duduknya dan memberi isyarat, dengan segera aku merapikan diri bahkan aku belum sempat minum.


“Aku minum dulu Mas” dengan cepat aku meraih gelas yang berisi jus lemon. Abid berbalik arah dan mulai berjalan keluar.

“Mas tungguin aku,” pintaku sambil buru-buru mengejarnya.

Bersambung

Home
Diubah oleh Enisutri
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jiyanq dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Cinta Sepekan
23-01-2020 13:07
“Mas, aku sudah selesai,” kataku. Tapi ternyata Abid tidak paham dengan kodeku, padahal aku sudah kedip-kedip manjah 15xemoticon-Genit

“Apanya yang selesai?” tanya Abid makin bingung sambil garuk-garuk plafon.emoticon-Belo

“Ih ... Mas ini masak gak ngerti sih,” tukasku dengan sedikit kesal. Abid makin bingung, wajah polosnya membuat aku gemes ingin cokot lehernyaemoticon-Malu

“Aku sudah selesai datang bulannya,” kataku dengan muka yang memerah sambil kedip-kedip terooooos... tanpa hentiemoticon-Genit

"Yaudah, yuukk,"emoticon-Genit


"Hayuukk,"emoticon-Genitemoticon-Genit





Tiba-tiba... semuanya gelap. emoticon-Genitemoticon-Genit
profile-picture
Enisutri memberi reputasi
1 0
1
Cinta Sepekan
23-01-2020 23:29
Quote:Original Posted By robin.finck
“Mas, aku sudah selesai,” kataku. Tapi ternyata Abid tidak paham dengan kodeku, padahal aku sudah kedip-kedip manjah 15xemoticon-Genit

“Apanya yang selesai?” tanya Abid makin bingung sambil garuk-garuk plafon.emoticon-Belo

“Ih ... Mas ini masak gak ngerti sih,” tukasku dengan sedikit kesal. Abid makin bingung, wajah polosnya membuat aku gemes ingin cokot lehernyaemoticon-Malu

“Aku sudah selesai datang bulannya,” kataku dengan muka yang memerah sambil kedip-kedip terooooos... tanpa hentiemoticon-Genit

"Yaudah, yuukk,"emoticon-Genit


"Hayuukk,"emoticon-Genitemoticon-Genit





Tiba-tiba... semuanya gelap. emoticon-Genitemoticon-Genit



Kamu siapa? Kenapa bisa seperti ini? Kenalan dulu yuuk ....emoticon-Shakehand2
0 0
0
Cinta Sepekan
23-01-2020 23:32
Quote:Original Posted By Enisutri
Kamu siapa? Kenapa bisa seperti ini? Kenalan dulu yuuk ....emoticon-Shakehand2


Tanyakan saja pada sang rembulanemoticon-Maluemoticon-Malu


Tos aja deh..emoticon-Belo

Tos..emoticon-Genit
profile-picture
Enisutri memberi reputasi
1 0
1
Cinta Sepekan
23-01-2020 23:34
Quote:Original Posted By robin.finck
Tanyakan saja pada sang rembulanemoticon-Maluemoticon-Malu


Tos aja deh..emoticon-Belo

Tos..emoticon-Genit


Ogahlah, tau tau minta tos aja, pan ane belum setujuin itu dialog kamretos nya. Ijin dulu napa
profile-picture
robin.finck memberi reputasi
1 0
1
Cinta Sepekan
23-01-2020 23:36
Quote:Original Posted By Enisutri
Ogahlah, tau tau minta tos aja, pan ane belum setujuin itu dialog kamretos nya. Ijin dulu napa


Galak,emoticon-Malu

Yaudah, aku ijin nih..


Eni, boleh gak aku bikin dialog kampretos di trit kamuuhh??emoticon-Genitemoticon-Genit
profile-picture
Enisutri memberi reputasi
1 0
1
Cinta Sepekan
23-01-2020 23:37
Quote:Original Posted By robin.finck
Galak,emoticon-Malu

Yaudah, aku ijin nih..


Eni, boleh gak aku bikin dialog kampretos di trit kamuuhh??emoticon-Genitemoticon-Genit


Akan aku jawab 3x 24 jam, gak sekarang makanya kudu sabar okey. emoticon-2 Jempol
profile-picture
robin.finck memberi reputasi
1 0
1
Cinta Sepekan
23-01-2020 23:41
Quote:Original Posted By Enisutri
Akan aku jawab 3x 24 jam, gak sekarang makanya kudu sabar okey. emoticon-2 Jempol


Eh terserah aku dong, ini kan forum bukan sosmed ... mana bisa kamu larang orang komen d lapak kamu.. kamu hapus post aku aja gabisa kanemoticon-Maluemoticon-Malu


emoticon-Ngakakemoticon-Ngakak

Hayoo..mw jawab apa cobaemoticon-Bettyemoticon-Betty
profile-picture
Enisutri memberi reputasi
1 0
1
Cinta Sepekan
23-01-2020 23:42
Quote:Original Posted By robin.finck
Eh terserah aku dong, ini kan forum bukan sosmed ... mana bisa kamu larang orang komen d lapak kamu.. kamu hapus post aku aja gabisa kanemoticon-Maluemoticon-Malu


emoticon-Ngakakemoticon-Ngakak

Hayoo..mw jawab apa cobaemoticon-Bettyemoticon-Betty


Bisa kok, seret ketrit pelaporan. emoticon-Stick Out Tongueemoticon-Stick Out Tongue

Kenapa sih reader satu ini ngeselin banget. emoticon-Nohope
profile-picture
robin.finck memberi reputasi
1 0
1
Cinta Sepekan
23-01-2020 23:49
Quote:Original Posted By Enisutri
Bisa kok, seret ketrit pelaporan. emoticon-Stick Out Tongueemoticon-Stick Out Tongue

Kenapa sih reader satu ini ngeselin banget. emoticon-Nohope



Laporin aja.. emang aku takut apa, emoticon-Belo

Aku lebih takut kehilanganmuhemoticon-Maluemoticon-Malu


Udah ah, aku mau nangkep anaconda dulu di depan rumahemoticon-Genit
profile-picture
Enisutri memberi reputasi
1 0
1
Cinta Sepekan
23-01-2020 23:50
Quote:Original Posted By robin.finck
Laporin aja.. emang aku takut apa, emoticon-Belo

Aku lebih takut kehilanganmuhemoticon-Maluemoticon-Malu


Udah ah, aku mau nangkep anaconda dulu di depan rumahemoticon-Genit


Yakin bisa nangkep anaconda? Ini tengah malem lho, apa gak takut sama yang mbk mbk di bawah pohon emoticon-Takut
profile-picture
robin.finck memberi reputasi
1 0
1
Cinta Sepekan
24-01-2020 00:23
Quote:Original Posted By Enisutri
Yakin bisa nangkep anaconda? Ini tengah malem lho, apa gak takut sama yang mbk mbk di bawah pohon emoticon-Takut


Takut lahemoticon-Takut

Anaconda yang itu maksudnyaemoticon-Malu
profile-picture
Enisutri memberi reputasi
1 0
1
Cinta Sepekan
13-02-2020 16:07

Part 20 Aku Dan Kamu

Cinta Sepekan

“Mas, tungguin aku” pintaku sambil mengejar Abid yang sudah beranjak mendahuluiku.


Disepanjang perjalanan Abid tidak berkata apapun, dia hanya fokus pada jalan ibu kota saat berkendara. Aku sesekali menoleh kearahnya, kulihat dia masih menatap lurus jalan. Akupun tak berani membuka obrolan. Kami saling diam, hanya suara mesin mobil yang terdengar. Benar-benar berbeda dari perjalanan kami pada waktu berangkat tadi.


Sesampainya di rumah. Abid memarkir mobil di halaman. Aku turun dan berjalan menuju pintu. Kuambil kunci di dalam tas, kuputar anak kunci 2 kali ke arah kanan. Pintu terbuka. Aku masuk dan duduk di sofa ruang tamu menunggu Abid.


Beberapa saat Abid masuk. Aku menghentikan langkahnya dengan suara panggilanku.

“Mas!”. Abid berhenti dan menoleh ke arahku.

“Bisa kita bicara sebentar?” pintaku sambil menatap tajam mata Abid.

Abid masih berdiam diri, lama dia berfikir, akhirnya dia melangkah menghampiri dan duduk disebelahku.

“Mas, ada apa? Kenapa mas tadi buru-buru pulang dan diam saja saat di mobil?” aku menatapnya dengan serius.

Abid masih diam, pun tak ada kata-kata yang ingin ia ucapkan.

“Kalau Mas diam mana bisa aku tahu Mas, ingat kitakan suami istri jika ada sesuatu hal tolong kita bicarakan baik-baik,”

“ Dek, tolong jawab jujur, ada hubungan apa kamu sama si Chef itu?” tanya Abid dengan nada kesal.

“Astagfirulloh Mas, aku sama dia cuma teman aja, gak lebih,” kataku menanggapi.
“Masa sih? Mas rasa lebih dari itu,” kata Abid sambil melengos.

“Darimana Mas beranggapan seperti itu?” tanyaku sambil menyentuh pundak Abid dengaan lembut.

“Dari cara dia memandang Kamu, Dek,” Abid menoleh ke arahku terlihat jelas dimata Abid rasa cemburu.

“Jangan bilang dia ada hubungannya dengan pisau yang Kamu simpan di kamarmu?” tanya Abid sambil mengerutkan alisnya.

“Oh ... itu, iya ada hubungannya, tapi ... enggak seperti yang Mas pikirkan,” tukasku
“Jadi, benar?” Abid menghelas nafas dan menghembuskan dengan cepat sehingga terlihat bahunya bergerak.

“Dengerin dulu Mas, aku akan ceritakan semuanya, agar Mas nggak salah paham lagi sama aku,”kataku tetap memandang wajah Abid.


“Awalnya aku tidak sengaja kenal sama Chef Al, pada waktu aku mengikuti seminar, dan kebetulan aku satu kamar dengan adiknya. Gak lama kok, cuma seminggu kami berkenalan, waktu hari terakhir seminarku, dia ... “ aku berhenti sejenak.

“Dia kenapa?” tanya Abid tak sabar.

“Dia mengungkapkan perasaannya sama aku Mas,” kataku dengan nada pelan dan hati-hati.

“Jadi, benarkan dugaanku,” Abid mulai meninggikan suaranya.

“Mas, dia cuma mengungkapkan perasaannya aja kok gak lebih, Chef Al juga sudah bertunangan dengan seseorang dan mungkin sekarang mereka udah menikah, aku juga gak ada perasaan apa-apa sama dia cuma sekedar kagum aja.” kataku menjelaskan.


“Kalau kamu bener-bener gak ada perasaan sama dia, kenapa waktu itu aku mau pakai pisau nggak boleh? Sampe kamu marah sama aku” cerca Abid.


“Mas cemburu sama pisau?” tanyaku sambil tersenyum kecil melihat kecemburuan Abid.

“Gak lucu tau,” kata Abid sewot.

“ Maaf mas, aku melarang mas pakai pisau itu, sebab aku berniat mengembalikan pisau itu pada Chef Al Mas,” kataku menjelaskan.

“Udah deh Mas, sekarang jangan ngambekan lagi ya, aku udah cerita apa adanya, masa gak percaya sama aku sih,”jawabku dengan muka cemberut.

“ Ya sudah aku ke kamar dulu ya Mas, mau ganti baju” kataku sambil beranjak dari posisi duduk.

“Tunggu!” kata Abid sambil meraih tangan kananku.

Aku menatap mata Abid berharap sudah tidak ada lagi salah paham diantara kami.

“Aku belum percaya sepenuhnya sama kamu, sebelum ...” Abid tidak meneruskan perkataannya.

“Sebelum, apa?” tanyaku penasaran.
Abid kemudian berdiri, dengan muka serius dia mulai berbicara.


“Sebelum kita menghabiskan malam ini berdua saja,” kata abid yaang masih menatapku dengan tatapan yang tajam.


Mendengar kata-kata Abid, aku tersipu malu, tapi aku berusaha menutupinya. Aku manfaatkan momen itu untuk menggodanya.


“Emmm ... gimana ya? Aku gak bisa janji deh! Kataku dengan memasang muka serius agar Abid tidak curiga.

“Dek, apa Kamu lupa yang tadi pagi?” Kata Abid Polos.

Ingin sekali aku tertawa, tapi aku tahan. Agar Abid tidak curiga.

“Yang mana, aku lupa?” tanyaku serius.

“Beneran? Kamu nggak inget obrolan kita tadi pagi?" tanya Abid memastikan.


Aku menggeleng kepala, dan berbalik, menyembunyikan senyumku dan bergegas menuju depan pintu kamar.


Aku memegang handle pintu dan berhenti sejenak. Ku lihat Abid belum beranjak dari posisinya.


“Lho, kok masih disitu aja sih Mas? Jadi nggak? Sebelum aku berubah fikiran lho?” kataku sambil memandang kearah Abid.


Kulihat Abid mulai berfikir menebak maksud dari kata-kataku, dengan sedikit berlari ia menghampiriku. Dia memandangku dengan senyum bahagia sambil menganggukkan kepala mengisyaratkan sesuatu. Aku paham dengan isyaratnya. Kubalas dengan senyum sambil mengedipkan sebelah mataku.


Bersambung

Home
Diubah oleh Enisutri
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jiyanq dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Cinta Sepekan
13-02-2020 22:34
mampir baca-baca...
profile-picture
Enisutri memberi reputasi
1 0
1
Cinta Sepekan
13-02-2020 23:45
Quote:Original Posted By hugomaran
mampir baca-baca...


Okey makasih udah mampir semoga betah yaa ...emoticon-2 Jempol
profile-picture
hugomaran memberi reputasi
1 0
1
Cinta Sepekan
14-02-2020 00:41
“Lho, kok masih disitu aja sih Mas? Jadi nggak? Sebelum aku berubah fikiran lho?” kataku sambil memandang genit kearah Abid sambil berbicara pelan agak mendesah dikit biar abid gemes gituemoticon-Genitemoticon-Genit


"Woooyaaadoong" jawab abid girang sambil loncat menabrak tubuhku.emoticon-Genit

Aku terjatuh terjengkang karena kerasnya benturanemoticon-Mad

Tiba2 ..semuanya gelapemoticon-Busa
profile-picture
Enisutri memberi reputasi
1 0
1
Cinta Sepekan
14-02-2020 00:43
Quote:Original Posted By robin.finck
“Lho, kok masih disitu aja sih Mas? Jadi nggak? Sebelum aku berubah fikiran lho?” kataku sambil memandang genit kearah Abid sambil berbicara pelan agak mendesah dikit biar abid gemes gituemoticon-Genitemoticon-Genit


"Woooyaaadoong" jawab abid girang sambil loncat menabrak tubuhku.emoticon-Genit

Aku terjatuh terjengkang karena kerasnya benturanemoticon-Mad

Tiba2 ..semuanya gelapemoticon-Busa


Mulai dwh dialog kamretosnya ... itu mah terlalu nafsu sih ... hawehemoticon-Hammer2
profile-picture
robin.finck memberi reputasi
1 0
1
Cinta Sepekan
14-02-2020 00:51
Quote:Original Posted By Enisutri
Mulai dwh dialog kamretosnya ... itu mah terlalu nafsu sih ... hawehemoticon-Hammer2


Emang gak boleh..

Oke fine,
Aku pergi nih.. sembunyi di bawah kolong meja..

jangan cari aku...emoticon-Mewek
profile-picture
Enisutri memberi reputasi
1 0
1
Halaman 12 dari 16
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
surat-itu-dari-quotmamaquot
Stories from the Heart
he-is-my-beloved-stepbro
Stories from the Heart
pamer-calon-bojo
Stories from the Heart
partitur-partitur-sri
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia