Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
232
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5dca8159337f93523d6b4c24/cinta-sepekan
Ponselku berdering tanda notifikasi muncul, kuintip ponselku yang sedari tadi tergeletak diatas ranjang. Ada sebuah pesan "Assalamu'alaikum, aku Zahir duda, punya anak kembar, ingin mencari pendamping yang serius aja. Jika berkenan aku mau perkenalan, jika tidak abaikan pesan ini."
Lapor Hansip
12-11-2019 16:54

Cinta Sepekan

Past Hot Thread
icon-verified-thread
Cinta Sepekan
Image: ganet

Quote:kutatap foto dua wajah polos anak kecil itu, dengan perasaan bercampur aduk, aku hanya bisa memandangi. akhirnya kita belum berjodoh, walaupun hanya sepekan tapi tak bisa bohong bahwa hati ini sudah kuberikan kepadanya


****


Ponselku berdering tanda notifikasi muncul, kuintip ponselku yang sedari tadi tergeletak diatas ranjang. Ada sebuah pesan

"Assalamu'alaikum, aku Zahir duda, punya anak kembar, ingin mencari pendamping yang serius aja. Jika berkenan aku mau berkenalan, jika tidak abaikan pesan ini."

Seketika mataku terbelalak memandangi layar ponsel, rasa curiga bercampur aduk langsung saja aku menghampiri mbk iparku yang masih asyik memasak sambil mendendangkan lagu dangdut dibarengi tarian yang entah dia ciptakan sendiri atau justru plagiat tapi gagal total. pokoknya yang ada melihat atraksi komedi bukan melihat diva sedang menyanyi.

"mbk Imah... ini pasti ulah mbk Imah" sambil menyodorkan ponsel yang kubawa tadi

"Apa sih nduk?" matanya menyipit melihat dengan seksama ponselku.

"Alhamdulillah akhirnya usaha mbk gak sia-sia ada yang mau ngajakin kamu serius itu nduk, udah cepetan dibalas, jangan kelamaan, nanti keduluan yang lainnya, mbk udah gak sabar dapat adik ipar ini. Kamu udah kelamaan menjomblo umurmu udah pangkat 3 lho".

"Jadi, beneran ini ulah mbk Imah? Mbk...." belum sempat aku bicara mbk Fatimah udah memotong pembicaraanku.

"Nduk kali ini dengarkan mbk!" Wajah serius mbk Fatimah yang jarang aku lihat selama ini

"Nduk apa salahnya dicoba dulu, kenalan kan belum tentu langsung suruh menikah hari ini juga to, kalo gak cocok juga bisa mundur, siapa tahu ini memang jodoh yang dikirim Allah buat kamu, tentang statusnya duda atau perjaka itu gak masalah yang penting pertama agamanya". Jelas mbk Fatimah, aku lalu dia. Tanpa kata apapun aku melangkah gontai menuju kamarku.

Kupandangi chat dari nomor tak bernama itu, dalam hati berkata "Zahir, okeylah aku akan coba mengenalnya." Aku mengikuti saran mbk Imah.

Ku balas chat itu "Wa'alaikumsalam, maaf saya lama balesnya jujur saya terkejut mendapat chat darimu. Kalau memang berkenan silakan berkenalan dulu tak apa-apa. Tujuanku juga serius mencari pendamping hidup". Isi chat tersebut sangat kaku.

Selang beberapa detik ponsel berbunyi, dia membalasnya lagi "Terimakasih, boleh saya telpon kamu?"

Aku berfikir agak lama akhirnya kumengiyakan. Tak lama ponsel berdering tanda panggilan masuk. Rasa gemetar tanganku meraih ponsel.

"Assalamualaikum, ini Ranum ya?." Suara serak dan sedikit berat terdengar merdu membawaku pada lamunan

"Wa....wa'alaikumsalam, iya benar, kamu eh gmn aku panggilnya?"

"Panggil Zahir biar lebih akrab, lagian kita kayaknya masih sebaya, umurku 28 tahun, kamu?"

"Apa? Aku, em...aku sudah 31 tahun." Aku agak malu menyebutkan umur karena usiaku dibilang sudah kadaluwarsa.

"Oh jadi kita selisih 3 tahun ya?"

"Iya, tapi aku lebih tua dari kamu? bagaimana?"

"Gak masalah buatku, yang penting mau aku ajak ibadah dan dalam hal kebaikan"


Lama kami terdiam saling menunggu satu sama lain membuka obrolan lagi, tapi tetap saja hening. Lalu dia kemudian mulai berbicara lagi

"Ranum, aku orang to the point aja ya, niat aku serius sama kamu, aku tidak mau pacaran aku maunya langsung menikah aja."

"Apa?"aku agak gugup karena Zahir tidak suka basa basi

" tapi apa kamu sudah yakin memilih aku, kamu kan belum kenal aku seperti apa?"

"Inshaa Allah aku yakin, jadi kamu siapnya kapan nanti aku akan ketempatmu untuk melamarmu."

" Tapi, kamukan belum tahu tentangku, misalnya saja biodataku."

"Aku sudah tahu kok, kan sudah dapat bio datamu, nama,alamat, nama ayah, cita citamu, semua aku tahu dari biro jodoh online"

"hah??" Aku kaget seingatku aku tidak pernah mengikuti ajang biro jodoh, aku berpikir keras jangan-jangan waktu itu, yah aku ingat waktu itu mbk Imah memintaku menulis biodata selengkap-lengkapnya alasannya untuk mencarikanku pekerjaan, oh ternyata mbk Imah dibalik semua ini.

"Halo, kamu masih dengar suara aku?"

"Iiya...ya aku dengar kok!"

"Ya sudah nanti disambung lagi, aku mau tugas dulu."

"Tunggu sebentar!, aku mau tanya kamu duda karena bercerai atau istri meninggal?"

"Istri aku meninggal waktu melahirkan si kembar, oh ya aku kirim foto anak-anakku ya."

Aku memandangi ponsel ku buka chat di wa, aku menerima foto anak kecil mungil dengan bola mata bulat, cantik sekali.

"Ya aku udah lihat anak-anak, anak-anak sekarang sama siapa kalau kamu kerja?"

"kalau aku kerja sama pengasuhnya, okey udah dulu ya nanti disambung lagi, assalamualaikum."
Ia mengakiri salam dan aku membalas salam itu seketika itu tlp mati. Aku masih terpaku sambil menggenggam ponselku.

Ke esokan harinya, pagi-pagi aku sudah mendapat wa darinya , "assalamualaikum, kamu lagi ngapain?".

Entah kenapa hati ini mulai berdebar membaca pesan itu, lalu kubalasnya.

****


Selama empat hari berurut-turut, kami hanya ngobrol lewat pesan saja. Tapi itu sudah cukup membuat aku bahagia, dan aku sudah mulai menyukainya. Ya...aku sudah jatuh cinta.

Hari kelima, aku memandangi ponsel berharap dapat pesan darinya, tapi tidak. Rasa kangen mulai muncul dengan tiba-tiba. Tapi tetap saja aku tidak berani menulis pesan terlebih dahulu.

Hari keenam, aku bercerita kepada mbk iImah tentang Zahir dan sejauh mana kami merencanakan pernikahan yang dibilang dadakan. Belum bertemu, aku sudah mantap, yang kutahu hanya namanya dan nama kedua anaknya selebihnya aku tidak tahu apapun.

Mbak imah menyarankan. aku untuk bicara ke Bapak, tapi sebelm itu mbk Imah memintaku untuk menanyakan identitasnya lengkap karena hanya itu yang bisa mdnjadi gambaran dan acuan.

Hari ketujuh, sudah dua hari kami tidak komunikasi, akhirnya aku memberanikan diri untuk langsung meneleponnya. Panghilan siara aktif telepon berdering namun tiba tiba panggilan ditolak. Aku penasaran aku ulangi panggilan telpon lagi. Tapi tetap saja ditolak.

Aku mulai khawatir selang beberapa detik wa darinya

"Hmm"

"Kamu lagi ngapain, kok telponku gak diangkat?"

" Aku lagi nyantai, wa aja ya, aku lagi gak pengen terima telpon"

"Lho kenapa, aku mau bicara kan lebih enak bicara langsung dari pada nulis pesan."


Ada perasaan aneh yang aku pun tidak bisa menggambarkannya. Aku mulai tidak yakin bahwa Zahir ini bener-benar serius.

"Oh ya anak-anak mana?" Ku mulai menanyakan anaknya lewat chat

"Dah tidur"

"Fotoin ya, aku mau lihat mereka"

"Ah ribet."


"Lho kok gitu, aku hanya minta foto, aku pengen lihat, aku memang suka sama anak-anak. Ayolah fotoin, oh ya mana biodata kamu? Kok gak kamu kasih sih?" bujukku

" kamu ini belum menikah sudah minta ini itu."

"Apa?" Aku terkejut dengan balasanya itu.
"Lho aku minta apa to? Kan katanya kamu serius sama aku, aku cuma minta biodata dan fotoin anakmu. Kok kamu bilangnya begitu,

"Akhir bulan ini kan aku ketempatmu nanti tahu sendiri to."


"Lho ya gak gitulah, aku kan belum bilang sama bapakku, makanya aku minta biodata sama kamu, la terus apa yang harus kuceritakan sama bpk, aku aja hanya kenal namamu tak lebih dari itu."

"kamu itu ribet ya"

"okey kalau emang kamu gak mau kasih data ke aku, aku tak mundur aja dari perkenalan kita, apalagi kamu bilang aku suka minta hal-hal yang aneh, menurutku itu wajar lho. Aku malah ada kesan curiga sama kamu."

" Jadi kamu mundur berarti selama ini modusin aku, kamu php aku ya?."

"Mana ada aku serius kok, justru aku itu ragu sama kamu".

" ya udah gak usah wa aku lagi, bye...".


Seketika nomorku sudah diblokir, dan aku mencoba menulis pesan terakhir entah itu terkirim atau tidak

" aku minta maaf, selama ini aku percaya sama kamu, sudah kugantungkan harapan kepadamu, dan ada ruang kosong yang aku khususkan untuk kau tempati di hatiku, tapi seketika kamu telah menghancurkannya. Biarlah Allah nanti yang menjelaskan bahwa selama ini aku tidak penah mempermainkanmu, wakaupun cuma sepekan tapi tetap saja kamu punya tempat terindah disini wassalamu'aikum".


Lanjut
Part2-Bukan Cinta Sepekan

Part 3-Gelisah

Part 4- Gejolak

Part 5 Maaf

Part 6 Chef Al bag. 1

Part 7 Chef Al Bag. 2

Part 8 Chef Al Bag. 3

Part 9 Tulisan di Bangku Sekolah

Part 10 Lamaran

Part 11 Keputusan

Part 12 Lelah

Part 13 Jodoh Pilihan Bapak

Part 14 Rasa

Part 15 Seluruh Cinta

Part 16 Bahtera Bag.1

Part 17 Bahtera bag 2

Part 18 Bahtera bag.3

Part 19 Cemburu
Diubah oleh Enisutri
profile-picture
profile-picture
profile-picture
nofivinovie dan 25 lainnya memberi reputasi
26
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Cinta Sepekan
12-11-2019 16:54

Part 2-Bukan Cinta Sepekan

Cinta Sepekan

Quote:Kertosono, 20 April 2009

Untuk Ranum

Assalamualaikum,
Ranum ... sebelumnya aku minta maaf, sebenarnya aku bisa langsung memberi tahumu tanpa harus meninggalkan surat untukmu, tapi, entah kenapa setiap aku ingin mengatakan rasanya tak mampu, dan aku makin bersalah kepadamu.


Ranum ... saat kamu terima surat ini, aku tidak bisa lagi menatapmu, aku pergi untuk mencari orang tua kandungku, sembari aku meneruskan cita-citaku untuk menjadi ahli forensik, mungkin kepergianku ini terlalu mendadak dan tidak ada ucapan selamat tinggal, karena aku tak akan pernah mengucapkan selamat tinggal kepadamu.

Ranum...tetaplah menjadi gadis yang ceria, jangan bersedih mengingatku, kita hanya dipisahkan oleh benua, tapi sebenarnya kita sehati.

Ranum ... aku mencintaimu, entah sejak kapan rasa ini mendiami qalbuku, bukannya aku tidak berani mengatakannya, tapi aku tidak ingin cinta ini ternoda saat kita bersama, yang aku inginkan adalah segera menghalalkanmu, kuharap kamu mau menungguku, setelah semua urusanku selesai inshaa Allah aku akan kembali ke Indonesia secepatnya.

Dari Sahabatmu

Abid


Kuremas surat itu, tanpa aku sadar cairan bening mulai mengalir membasahi pipiku.

"Kamu jahat Abid, berarti selama ini aku tak kau anggap sahabatmu, tak pernah kamu ceritakan masalahmu kepadaku,"kataku dengan rasa sedih.

Tiba-tiba aku dikejutkan suara panggilan
"Nduk, nduk, Kamu dimana?"
" Aku di kamar Mbk?" Sambil kuseka mataku menghilangkan jejaknya. Dari balik pintu muncul sosok wanita yang bertubuh subur, dengan tinggi kira-kira 159 cm, ialah Mbk Imah, istri Kak Farhan, Kakak Ipar yang seperti ibu, dan sahabatku. Ya aku memang sudah tidak mempunyai ibu, ibuku meninggal waktu aku duduk di bangku SMP, beliau sakit diabetes.

"Nduk, Kamu gak berangkat kuliah to?"tanya Mbak Imah.

"Iya mbk ini mau siap-siap." Aku mengemasi buku dan peralatan tulis kumasukkan kedalam tas ranselku.

"Oh ya nduk, Mbk pengen tanya, Mbk dengar dari tetangga, temenmu itu siapa namanya ... emang ..."

"Abid mbk"jawabku meneruskan kata-kata Mbak Imah.

"Yap betul, kata tetangga yang tadi ngrumpi pas beli sayurnya Paklek Kodir, dia keluar negeri dapat beasiswa, terus yang paling heboh dia itu bukan anak kandungnya Pak Salam, ada yang bilang anaknya orang bule gitu, tapi kalo dilihat dari postur tubuhnya tinggi putih hidungnya mancung beuh jan cakepnya nduk.... emang kamu gak naksir sama dia nduk?" Pertanyaan yang membuat aku sontak kaget.

"Apa? Em ... enggaklah mbk!, mana ada dia kan sahabatku mbk."bantahku.

"Kamu ini nduk-nduk payah ... kapan punya pasangan dari semenjak kematian Lana waktu kamu duduk dibangku SMA sampe kuliah apa masih belum bisa membuka hati, masa sih gak ada yang nyantol sama sekali?".

Aku memandangi Mbak Imah yang berlalu meninggalkan kamarku menuju ruang tengah. Kukemasi buku dan peralatan tulis lalu kumasukkan kedalam tas ransel. Dengan segera aku meraih ponsel untuk meminta konfirmasi kepada Abid, kutekan nomor yang sudah hafal diluar kepala.

"Nomor yang anda tuju sedang berada diluar jangkauan" kata si Mbak Operator.

Mungkin dia masih di rumahnya, bergegas aku menuju kerumahnya dengan berlari. Rumah kami memang tidak begitu jauh.

Didepan rumah Abid aku mengetuk pintu dan mengucap salam.

"Assalamualaikum."

Pintu terbuka, kulihat laki-laki berumur 68 tahun dengan kumis tipis dan rambutnya yang mulai memutih ialah Pak Salam

" eh, nduk Ranum, mari masuk."kata Pak Salam memepersilakan masuk.


Aku memasuk kedalam rumah, Pak Salam mempersilahkan aku duduk.

"Ngapunten pak, Abid ada Pak?"tanyaku kepada Pak Salam.

"Lho, apa Abid tidak pamitan sama Kamu nduk? dia sudah berangkat kemaren."jawab Pak Salam.

"Kemana Pak? dia hanya meninggalkan surat Pak."tanyaku.

" Abit dapat beasiswa untuk riset ke Australia, oh ya nduk, dia sudah bercerita belum, kalau sebenarnya dia itu bukan anak kandung Bapak?" Aku mengangguk perlahan.

"Dulu waktu Bapak sering plesir keluar negeri, Bapak tak sengaja bertemu anak itu. Di negara Palestinalah kami bertemu. Waktu itu, Bapak sedang menuju jalur Gaza tapi, karena serangan dadakan dari tentara Israel, Bapak dan rombongan aktivis lainnya menghentikan perjalanan, kami berhenti pada sebuah rumah kecil, dan tak sengaja mendengar isak tangis seorang anak, ia memanggil-manggil ibu dan Bapaknya, anak itu tak lain adalah Abid."Pak Salam menceritakan panjang lebar.

"Bapak lalu mengampiri dan menggendongnya, mengajaknya ikut kerombongan kami, kira-kira waktu Bapak temukan umur 2 tahun, disana, Bapak berusaha mencari keberadaan orang tuanya, dikabarkan ibu dan Adiknya menjadi korban serangan israel, sedangkan ayahnya ikut berjuang menjadi tetara Palestina, namun, tak pernah kami menjumpai Bapak kandungnya Abid."kata Pak Salam.

"Nama asli sebenarnya bukanlah Abid, namanya adalah Shaiqh Abdul Hakim bin Abdullah. Singkat cerita, Bapak adopsi Abid dan membawanya ke Indonesia,"

" Walaupun Bapak membawanya pulang ke tanah air, Bapak tetap berusaha mencari informasi tentang orang tua kandung Abid melalui kolega Bapak yang ada di Palestina, setelah 25 tahun kami mendapat kabar bahwa Bapak kandungnya masih hidup, dan itu salah satu alasan Abid tertarik dengan ilmu forensik".

****


Tahunpun berganti tak pernah sekalipun aku mendapat kabar dari Abid, bahkan Pak Salam pun juga tidak mendapat kabar darinya.

Nomor telponnya masih aku simpan dan sesekali aku menghubunginya. Namun jawabannya lain "Maaf nomor yang Anda ketik tidak terdaftar" suara operator berkali-mengingatkanku.

" Abid 9 tahun aku menunggu kabarmu, dalam suratmu Kau bilang secepatnya akan pulang ke Indonesia, tapi, Kamu bohong Abid, setidaknya kabari aku, Aku menunggu hal yang tak pasti, kini usiaku sudah 31 tahun, orang mencemooh aku karena aku tidak segera mendapat pasangan.
"Haruskah aku melupakanmu dan membuka hati yang sudah lama aku tutup demi menunggu kedatanganmu".


bersambung



home
Diubah oleh Enisutri
profile-picture
profile-picture
profile-picture
trifatoyah dan 11 lainnya memberi reputasi
12 0
12
Lihat 1 balasan
Cinta Sepekan
12-11-2019 16:58

Part 3-Gelisah

Cinta Sepekan

Sudah hampir sepekan setelah Zahir memblokir nomorku, aku masih terus memikirkannya. Tanpa ia tahu, berkali-kali aku coba menghubungi tapi tidak bisa. Mungkin nomornya juga sudah ia ganti.

Setiap aku melihat kelayar ponsel, disitu aku masih menyempatkan membuka pesan-pesan yang ia kirim, aku baca satu persatu.

"Ah.... mungkin dia sudah melupakanku, mungkin dia juga tidak serius waktu itu, atau mungkin dia sudah mendapat jodoh yang baru?" banyak pertanyaan didalam hatiku.

Kadang aku benci dengan diriku sendiri yang plin-plan, aku juga tidak memahami apa yang sebenarnya aku rasakan. Yang jelas, aku ingin sekali saja mendengar suaranya. Dan yang terpenting yaitu aku harus meminta maaf kepadanya.

"Ya... aku harus minta maaf kepadanya, mungkin ini yang mengganjal dihatiku sepekan ini".[/I] Aku bicara sendiri.

****


Malam itu, rasa kantukku tidak tertahan, kutengok jam dinding yang tepasang disebelah barat kamarku.

"Masih jam 8.00, kok aku ngantuk banget ya ..." gumaku dalam hati, sambil menguap aku merebahkan tubuhku diatas kasur.

"Tok ...tok ...!" suara pintu kamar diketuk.

"Nduk, nduk ranum!" suara yang tidak asing ditelingaku, siapa lagi kalo buka Mbak Imah.

"Iyaa mbk," sambil mengucek mata yang sudah mulai memerah. Aku menuju kepintu kubuka kunci pintu dan kutarik handel pintu

"Ada apa Mbak?" tanyaku kepada Mbak Imah

"Ya Allah! kok kamu kusut banget? sana cepetan ganti baju, Mbk, Mas, sama Bapak mau jalan. Ayok ikut!" ajak Mbak Imah.

"Apa Mbk? jalan? aku gak ikutan Mbk. Aku ngantuk banget. Tadi di sekolah ada anak yang minta gendong, dia nangis terus, aku gendong sampe habis jam pelajaran," kataku menjelaskan alasan aku tidak bisa ikut ajakan Mbak Imah.

"Jadi, kamu beneran gak mau ikut nih?"aku menggeleng.

"Gak nyesel gak ikut lihat pameran? Ini malam terakhir lho ...,"

"Gak mbk, mataku gak bisa kompromi ini,"

Dari sudut ruang tengah keluar sosok yang berumuran 60 tahun dengan baju lengan panjang batik, melempar senyum sambil menghampiriku dan mbk imah.

"Nduk kok belum siap-siap?"tanya Bapak kepadaku.

"Ngapunten Pak, Ranum tidak bisa ikut, Ranum capek banget Pak,"kataku menjelaskan kepada Bapak.

"Yowes istirahat di rumah aja. Bapak tak jalan-jalan, Masmu sama Mbkmu ini yang maksa Bapak ikut". Sambil melirik Mbk Imah.

"Nduk! Mbk sama Bapak berangkat dulu ya, jangan lupa dikunci semua jendela dan pintu, Mbk bawa sudah bawa kunci cadangan,"kata Mbk Imah.

Tak lama Mas Farhan muncul juga. Mereka bertiga menuju ke pintu keluar. Aku mengikuti dari belakang. Setelah mereka keluar, aku lalu mengunci pintu. Aku cek kembali jendela yang belum terkunci, kemudian menuju ke kamar.

Aku lalu menuju ke tempat paling nyaman yaitu kamar. Karena rasa kantukku yang tidak tertahan, tak perlu waktu lama untuk terlelap tidur.

****


"Zahir, kamu Zahir kah?" Aku melihat Zahir sedang duduk di ruang tunggu Stasiun Kertosono.

" Ranum?"Ia menoleh kearahku.

Aku mengangguk sambil melepas senyum, rasa tak percaya kalau Zahir datang menemuiku. Kuulurkan tangan untuk bersalaman, sebentar ia menatap, lalu menjabat tanganku. Aku pun duduk disebelahnya.

"Kenapa Kamu gak kasih kabar kalau mau kesini?"tanyaku penasaran.

"Kalo aku bilang, gak surprize dong!"jawab Zahir.

"Kukira Kamu benar-benar marah padaku?"Zahir hanya membalas dengan senyuman.

"Zahir maafkan atas sikapku, sepekan yang lalu, ucapanku mungkin menyinggungmu, Aku tak bermaksud menipumu, jujur aku sangat menyesal karena ego dan ketidak percayaanku padamu, itu yang membuat aku tiba-tiba mengambil keputusan, maafkan aku Zahir,"ucapku dengan mata berkaca-kaca.

"Sudahlah, jangan diingat lagi, aku memakluminya,"Zahir menenangkanku.

"Jadi, sekarang rencanamu apa?"tanyaku

"Ya ... aku akan melamarmu?"jawab Zahir singkat.

"Apa? Sekarang?"Jantungku berdetak kencang, tiba-tiba aku merasakan hal aneh, aku gemetar, tak percaya dengan kata-kata Zahir.

"Ayo kerumahmu, aku mau menemui Bapakmu dan minta restu."sambil mengulurkan tangannya.

Kuangkat tanganku yang masih gemetar dan menyambut tangannya, namun secepat kilat tanganku disambar oleh seseorang. Ia menarikku menjauh dari Zahir.

Aku menoleh, melihat sosok laki-laki yang tiba- tiba datang dan memegang pergelangan tangan kananku, tapi wajahnya tidak jelas karena terkena sorot lampu yang menyilaukan.

Ia masih mencengkram pergelangan tanganku dengan kuat, aku meronta.

"Lepaskan tanganku!, kamu siapa?" berulangkali aku mencoba melepaskan gengaman itu, malah justru lebih kuat.

Aku menoleh kearah Zahir, aku panggil dia.

"Zahir ...! Zahir ...! tolong aku, tolong aku!" Aku ditarik dan dibawanya dengan paksa melangkah menjauhi tempat Zahir berdiri. Aku dan Zahir semakin jauh, aku melambaikan tangan kiriku kearah Zahir. Terlihat disana Zahir hanya terpaku. memandangku. Semakin jauh, jauh dan jauh. Tiba-tiba wajah Zahir tak kulihat lagi.

"Zaaa ... hiir ...!". Teriakku.

bersambung

home
Diubah oleh Enisutri
profile-picture
profile-picture
profile-picture
nofivinovie dan 9 lainnya memberi reputasi
10 0
10
Cinta Sepekan
15-11-2019 02:51

Part 5 Maaf

“Halo ... halo ... assalamualaikum, dengan siapa saya berbicara?” suara Zahir yang terdengar masih sama seperti awal ia meneleponku.

“Halo ... maaf ini siapa?”kembali Zahir menegaskan pertanyaannya.

Aku masih terdiam, jantungku berdetak cepat, dan aku mulai merasa gemetar. Tapi, aku beranikan untuk berbicara kepadanya.

“Za ... zahir, ini aku Ranum,” jawabku sedikit gugup.

“...........” tak ada jawaban darinya, tapi panggilan ini masih aktif, berarti ia masih mendengarkanku.

“Maaf, aku ganggu waktu kamu, aku cuma ingin bilang maaf,”

“...............” tetap tidak ada jawaban darinya.

“Halo, Zahir, kamu masih mendengarku kan?aaa ... ku bingung bagaimana aku menjelaskan kepadamu, aku sangat menyesal karena tidak mempercayaimu,”

“Lalu ...?” ia mulai merespon.

Aku terdiam sejenak berpikir, dia menunggu jawabanku. Kami masih terdiam untuk beberapa menit.

“Aku, cuma mau jelasin kalau Aku tidak ada maksud mempermainkanmu waktu itu , “

“Udah itu aja, “ jawabnya ketus.

“Aku tahu Kamu marah, tapi setidaknya dengarkan dulu, aku menghubungimu karena, aku ingin meluruskan kesalahpahaman kita, itu yang mengganjal dipikiranku, aku benar-benar tidak mengharapkan apa-apa, toh, kita kenal dengan cara baik-baik, kenapa kita berpisah dengan cara yang tidak baik? waktu itu, aku memang egois, tidak menerima alasanmu, tolong ... maafkan aku Zahir,”

“Okey, aku maafin kamu, tapi bukan berarti kita bisa berhubungan lagi ya, sekarang, aku udah menjalani proses perkenalan lagi dengan yang lain, karena waktu itu kamu mundur, jadi aku cari yang lain.”jawab Zahir dengan nada sedikit tinggi.

“Iya, memang ini semua salahku,” jawabku menyetujuinya.

“Ada yang perlu dibicarakan lagi?”

“Tidak ada,”jawabku singkat.

“Emm ... aku lagi banyak kerjaan ini.” kata Zahir.

Aku tahu itu adalah kode dimana Zahir ingin segera menyudahi panggilanku.

“Iya, sekali lagi maaf, aku ganggu waktumu, assalamualaikum,”

“ Waalaikumsalam,” jawab Zahir sembari menutup telpon dariku.

Aku mengenggam ponselku dengan erat, aku tidak berpura-pura kalau aku baik-baik saja. Itu terbukti dengan air mata yang membasahi pipiku. Saat ini aku memang sedang patah hati.

“ Ranum, semua sudah berakhir, jangan disesali, dia bukan jodohmu,” Aku menghibur diri sendiri. Aku menangis meluapkan semua perasaan yang telah bertumpuk selama beberapa pekan ini.

***

Pagi ini aku bangun. Seperti biasa, Mbak Imah masuk ke kamarku. Dia melihat mataku yang sembab.

“Nduk, kenapa? Kamu sakit ya?” sambil memegang keningku untuk memastikan apakah aku deman.

“Aku nggak sakit Mbak, cuma ...”

Aku ceritakan semua kepada Mbak Imah, tentang Zahir, tentang mimpiku, tentang aku menghubunginya dan tentang perasaanku, dibarengi dengan isak tangis. Setelah menceritakan semuanya kepada Mbk Imah, pikiranku lumayan plong. Kini aku memulai aktifitasku seperti biasa, pola makan dan tidur pun kembali normal. Nama Zahir kini hanya menjadi cinta sepekan untukku.

***

Ponselku berdering, tanda pesan WA masuk. Pesan itu dari Kepala Sekolahku

“Bu Ranum, Ibu terpilih menjadi salah satu peserta seminar di Jakarta mewakili IGTKI sekabupaten Kertosono. Selama kurang lebih satu minggu. Untuk biaya akomodasi, hotel dan komsumsi sudah ditanggung pihak penyelenggara. Selebihnya apa yang harus ibu persiapkan, kita bicarakan besok di sekolah. Pekan ini ibu bersiap untuk berangkat”

“Hah ... seminar? di Jakarta? aku kan belum pernah kesana,”

***

Minggu pagi, kami sekeluarga bisa kumpul bersama di meja makan. Ini adalah momen langka. Sebab, Mas Farhan yang selalu absen, kali ini Mas Farhan libur, jadi kami bisa makan bersama.

“Tumben hari ini kita bisa kumpul makan bersama,” kata Bapak membuka obrolan.

“Iya Pak, Mas Farhan itu yang jarang bisa kumpul, lembur terus!” Aku melirik Mas Farhan dan dia hanya tersenyum pasrah.

“Tapi, ini masih belum lengkap lho ...” sela Mbak Imah. Semua memandang kearah Mbak Imah, mencari jawaban.

“Lho, masa Hana dilupakan?” lanjut Mbak Imah menjawab rasa penasaran kami.

“Oh, iya ya ...” Aku, Bapak dan Mas Farhan hampir serentak menjawab.

Hana adalah anak perempuan semata wayang Mas Farhan dan Mbk Imah, sejak SD, ia sudah mondok di Jombang. Dia masuk pondok bukan karena paksaan dari orang tuanya. Tapi karena kemauan anaknya sendiri.

Kami berbincang ngalor-ngidul, sambil menikmati masakan Mbak Imah dengan menu sabel tumbang, peyek rebon dan tempe goreng.

Setelah selesai makan, aku membicarakan soal seminar dengan Bapakku. Dan aku diizinkan Bapak pergi ke Jakarta untuk mengikuti seminar tersebut.

***
“Ada yang ketinggalan gak?” tanya mas Farhan kepadaku.

“Gak mas,” sambil aku cek semua barang bawaanku.

Bapak, Mas Farhan dan Mbak Imah mengantarku menuju ke bandara Juanda, Surabaya. Jadwal penerbanganku jam 12 siang. Kami sampai sekitar pukul 10.00. Aku berpamitan dengan Bapak, Mas dan Mbak Imah. Suasana haru nampak jelas. Walau hanya sepekan mengikuti seminar itu, tapi ini pertama kalinya aku berada jauh dari keluarga.

Pukul 11.00, aku memasuki ruang yang aku sebut dengan ruang detector, tas, ponsel, jam tangan diperiksa oleh petugas bandara. Barang bawaanku tidak banyak hanya koper kecil dan tas ransel. Setelah itu, check in dan menunggu diruang tunggu.

Pesawat akan lepas landas, pramugari memberikan pengarahan untuk menonaktifkan posel, memakai sabuk pengaman, membuka tutup jendela, dan melipat meja. Kurang lebih 2 jam perjalanan dari Surabaya ke Jakarta, sepanjang jalan aku tak berani tidur dan tak putus berdoa. Ini pertama kali pula aku naik pesawat. Karena itu, aku gugup.

Pesawat telah landing di bandara Soekarno-Hatta Cengkareng. Aku menapakkan kaki di kota baru, rasanya tak percaya aku pergi sampai sejauh ini, entah ada cerita apa lagi yang menantiku sepekan disini.

Bersambung

home
Diubah oleh Enisutri
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bekticahyopurno dan 8 lainnya memberi reputasi
9 0
9
Cinta Sepekan
14-11-2019 18:57

Part 4- Gejolak

Cinta Sepekan
Sumberemoticon-Stick Out Tongueinterest

Sontak aku langsung terbangun, dengan nafas yang masih terengah-engah. Ku atur nafasku perlahan. Dan aku mulai mengingat kembali mimpi tadi, dari awal aku ingat, mimpi bertemu Zahir, tanpa sadar aku senyum-senyum sendiri.

Rasa kangen yang selama sepekan mulai terobati walau hanya dengan memimpikannya.

Entah perasaan macam apa ini, aneh jika dilogika. Tapi ini sangat menggangu pola tidur dan pola makanku.
"Semua ini gara-gara Zahir" Aku menyalahkan dia atas perasaanku.

Aku mencoba lagi mengingat mimpi tadi malam, dan ya aku ingat semua, awalnya aku memang bertemu Zahir, tapi setelah itu ada sosok yang memisahkan aku dengannya. Aku tambah penasaran dengan sosok itu.

"Nduk... nduk... sudah bangun kah?" Terdengar suara panggilan dari luar pintu kamarku.

" Sudah mbk!"

"sudah sholat?"

"belum mbk," sambil beranjak dari tempat tidur membuka pintu kamar.

"Nanti kalo, sudah selesai, bantui mbk ya...?"

"Iya mbakku yang bawel!"

Aku lalu menuju kekamar mandi. Untuk wudhu kemudian sholat. Setelah itu membantu mbk Imah menyiapkan sarapan.

****


"Bu guru....bu guru... gambar Puput bagus kan bu....?" Seorang anak kecil mengguncang guncang pundakku, sontak aku tersadar dari lamunan.

"Hah... mana coba ibu guru lihat?"

"Ini bu.." puput memperlihatkan hasil gambaranku.

"Wah! hebat puput ya, gambarannya bagus, mewarnainya gak keluar garis pinter murid ibu satu ini" sambil kucubit manja pipi puput, dia begitu senang sekali.

Hari ini terasa hari yang panjang dari biasanya. Masih saja mimpi semalam menggangu pikiranku. Aku mencoba melupakan tapi tetap saja mengganjal dipikiranku. Aku hanya ingin memastikan perasaanku terhadap Zahir. Aku ingin sekali menghubunginya tapi tetap tidak bisa. Aku terus mencari cara.

"Astagfirullah... kok gak kepikiran ya,, kan nomor yang diblokir cm nomor yang aku pakai saat ini. aku bisa pake nomor lain dong untuk menghubunginya. Ya allah...... Ranum kamu ini telat banget mikirnya" aku berbicara sendiri.

Jam mengajar sudah selesai. Aku lalu bergegas pulang, eh bukan pulang tapi mampir dulu ke counter untuk membeli nomor baru.

"Mbk, cari apa?" Tanya si penjual kepadaku

"Cari kartu perdana sm***fr**"

"Ini silahkan dipilih" ia menunjukkan jajaran kartu tersebut di dalam etalase.

"Mbk yang belakangnya 93 mbk"

"Yang ini? " menunjukkan ke kartu dengan nomor yang aku maksud.

Aku mengangguk. Mbk si penjual lalu mengambilkannya untukku.

" ini gak perlu daftar ya mbk langsung aktif bisa dipakai buat telpon, sms, dan ada bonus paket datanya juga. Kebetulan kartu yang mbk pilih ini lagi promo".

"Okey mbk".

Aku lalu membeli kartu tersebut. Kemudian aku bergegas mpulang kerumah.

***

Sampai dirumah aku langsung menuju kekamar, ku ambil kartu yang aku beli tadi dari tas ku. Masih ku pandangi kartu perdana itu, dengan perasaan ragu-ragu.

"pantas gak sih aku menghubunginya terlebih dahulu?"
Aku masih ragu dan takut. Tapi bagaimana lagi aku ingin memastikan agar semuanya jelas. Dan tak lagi berlarut-larut.

Aku lalu memasang kartu tersebut kedalam ponselku. Kubuka beranda pertama layar ponsel, masih berfikir sejenak. Akhirnya mulai mengetik nomor yang tetnyata sudah aku hafal sebelumnya.

Bunyi panggilanku terdengar dari ponselku, tanda nomor tersebut aktif.

................

"Zahir aku mohon angat telponku..." aku berbicara didalam hati.

...............

" hallo... hallo.... assalamualaikum ini siapa ya?"

bersambung

home
Diubah oleh Enisutri
profile-picture
profile-picture
profile-picture
nofivinovie dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Cinta Sepekan
16-01-2020 02:34

Part 18 Bahtera Bag.3

Taksi dari bandara Soekarno-Hatta membawa aku dan Abid menuju perumahan di Cibubur. Aku sempat tertidur menyandar pundak suamiku. Satu jam berlalu, aku membuka mata.


“Mas, kita sudah sampaikah?” kataku dengan kepala yang masih menyandar dipundaknya


“Belum dek, masih lama, soalnya macet, banyak jalan yang ditutup karena banjir,” kata Abid menjelaskan.


Kamu tidur aja lagi, nanti kalo sudah sampai Mas bangunin kamu” kata Abid seraya membelai kepalaku.

***


3 jam perjalanan, kami sampai di perumahan Cibubur. Rumah yang telah disediakan untuk kami tempati.
Rumah tipe 72 bergaya minimalis, dengan cat tebok putih, serta cat cokelat pada pintu dan kusen, yang baru selesai dibangun, kamilah penghuni pertama rumah tersebut.


Aku dan Abid hanya membawa beberapa baju dalam satu koper, tidak ada barang lain yang kami bawa. Karena, semua perlengkapan dan perabot sudah disediakan. Abid mengambil kunci yang berada bawah pot bunga, sebelumnya, atasan Abid telah memberi tahunya lewat ponsel.


Kami masuk kedalam rumah, kulihat ruang tamu yang tidak terlalu luas. Disana terdapat sofa warna abu-abu dan gorden dengan perpaduan warna hijau dan abu-abu. Ruang tamu di sekat dengan lemari partisi sebagai pembatas ruang tamu dan ruang tengah. Diruang tengah ada sebuah sofa panjang menghadap ke dinding sebelah utara, di dinding menempel sebuah televisi ukuran 32 inch, dibawah televisi ada meja kecil sebagai pemanis ruangan tersebut.


“Dek, kamu laper?” tanya Abid sambil mengangkat koper yang akan dibawanya menuju kamar.


Aku membalas dengan anggukan. Kemudian Abid menuju dapur, ia membuka kulkas. Namun ia tidak dapat menemukan apapun yang bisa dimakan. Terlihat dari isyarat tangan dan bahunya yang diangkat.
Aku hanya tersenyum kepada Abid.


Dek, Mas keluar dulu, cari makanan, kamu tunggu sebentar, berani kan aku tinggal sendiri?” tanya Abid sambil mengampiriku.


“Iya berani, tapi jangan lama -lama Mas ya,” kataku.


Abid berpamitan ia keluar untuk mencari makanan. Hampir 30 menitan Abid keluar dan belum ada tanda-tanda kembali. Aku mulai cemas, bolak-balik kuintip dari jendela. Sambil sesekali melirik jam tanganku.


“Mas Abid kok lama banget ya, mana ponselnya lupa gak dibawa lagi,” kataku sambil mondar-mandir.


Tok ... tok ... “suara pintu diketuk, dengan cepat aku buka pintu itu.


“Mas Abid, kok ... “ aku berhenti meneruskan kata-kataku. Terlihat didepanku seorang wanita cantik bersama seorang laki-laki, mereka kira-kira seumuranku.


“Assalamualaikum,” sapa wanita itu sambil tersenyum.


“Wa’alaikumsalam, cari siapa ya?” tanyaku kepada wanita yang memakai gamis warna magenta.


“Ini Mbak Ranum, istrinya Mas Abid?” tanya wanita itu.


“Iya betul, maaf kalian siapa ya?” tanyaku masih curiga sebab mereka bertamu sudah hampir jam 11 malam.


“Saya Intan, dan ini Mas Ilyas suami saya, temannya Mas Abid,” kata wanita yang mengaku namanya Intan.


Aku masih diam, dan tidak mempersilahkan mereka masuk karena aku takut jika mereka berbohong.


“Mbak, maaf ya, mungkin Mbak kurang nyaman atas kedatangan kami, kami hanya ingin memberikan ini Mbak,” kata wanita itu sambil menyodorkan rantang.


“Tadi saya sengaja masak banyak, karena kata Mas Idris kalian mau datang,” ujarnya lagi.


“Oh ya ... Abidnya ada Mbak?” Tanya Ilyas yang sedari tadi diam saja.


“Mas Abid lagi keluar sebentar,” kataku masih berdiri didepan pintu. Aku masih bingung mempersilakan masuk atau tidak.


“Ya sudah, kalau begitu kami pulang dulu, tolong sampaikan salamku kepada Abid,”kata Idris sambil memberikan isyarat kepada istrinya untuk menyerahkan rantang yang ia bawa. Aku menerima pemberian mereka.


“Terima kasih ya Mas, Mbak, jadi merepotkan,” kataku sambil tersenyum.


“Iya gak apa-apa Mbak, oh ya, kalo Mbak lagi gak repot, main saja ke rumah kami, dua rumah dari sini, itu yang pagarnya warna biru,” kata Intan sambil menunjukan letak rumahnya. Aku ikut melihat rumah yang ditunjukkan Intan kepadaku. Sambil aku mengangguk tanda mengerti. Mereka kemudian berpamitan. Tanpa curiga lagi akupun mengajak mereka untuk masuk ke dalam rumah.


“Eemm ... tunggu, masuk aja dulu, kita sama-sama tunggu Mas Abid datang,” kataku kepada mereka.


Mereka berdua saling berpandangan.


“Betul tidak apa-apa kami masuk?” tanya Idris memastikan.


“Iya, tidak apa-apa, mari silahkan masuk,”


“Maaf Mas, Mbak, di anggurin, soalnya Mas Abid masih keluar beli air minum.


“Iya Mbak, gak usah repot-repot,”kata Intan sambil tersenyum.


Intan dan Ilyas adalah sosok yang ramah, mereka adalah pasangan suami istri yang menurut aku serasi sekali, cantik dan tampan, tak perlu digaambarkan, sosok Intan mempunyai inerbeuty yang menjadi daya tarik tersendiri. Sedangkan Idris terlihat dewasa dan berwibawa.


****


Selang beberapa menit, Abid datang.
Assalamualaikum,” terdengar salam dari luar.


Wa’alaikumsalam,” jawab kami serentak.


Aku menghampiri sumber suara itu.


“Mas, Abid,” aku menyambutnya dibalik pintu.


“Mas, ada tamu,” kataku sambil melirik kedalam ruang tamu.


“Siapa?” tanya Abid heran.


“Katanya temen Mas,” jawabku.


Abid penasaran, ia masuk kedalam. Raut mukanya berubah menjadi sumringah.


“Ilyas,” pekik Abid sambil menyalami dan merangkulnya.


Dek, ini Ilyas dan istrinya, Ilyas ini adalah sahabat Mas, kami ketemu waktu di Palestina,” kata Abid sambil tersenyum, terpancar sorot kegembiraan di matanya.


Abid mulai mengobrol dengan Ilyas, sedangkan aku mengajak Mbak Intan ke ruang tengah, agar kami lebih leluasa untuk berbincang-bincang tanpa memnganggu mereka.


“Mbak kita di ruang tengah aja yuk,” ajakku sambil membawa beberapa bungkus snack yang dibeli Abid di luar.


“Okey,” jawab Intan. Kami menuju ruang tengah dan duduk di sofa sambil menyalakan televisi.


***


“Mbak, kita itu senasib ya Mbak, menunggu orang yang kita cintai sampai 9 tahun lamanya,” kata Mbak Intan memulai pembicaraan.


“Apa? Mbak juga menunggu Mas Ilyas selama itu juga,” tanyaku memastikan.


“Iya, bedanya Cuma aku idah nikah sama Mas Ilyas dan Mbak belum, apalagi aku waktu ditinggal Mas Ilyas sedang hamil besar Mbak,”katanya sambil menunduk.


“Jadi Mbak juga menunggu Mas Ilyas selama itu?” tanyaku memastikan.


Intan mengangguk sambil menatap kearahku.


“Sebenarnya aku sempat putus asa Mbak, sebab selama itu Mas Ilyas tidak ada kabar sama sekali,” kata Intan sambil melihat ke arah suaminya yang berada di ruang tamu.


“Lalu? Bagaimana Mbak bisa bertahan selama itu?” tanyaku ingin tahu.


“Setiap kali aku putus asa aku mengingat kata terakhir sebelum Mas Ilyas pergi, kalau dia berjanji akan kembali secepatnya,” kata Intan dengan mata berkaca-kaca.


“Oh, ya Mas Ilyas juga cerita tentang Mas Abid, kalo dia berusaha untuk tetap hidup demi kembali ke Indonesia, dan menikani Mbak,” kata Intan.


“Maksudnya?” aku masih belum paham dengan apa yang dikatakan Intan.


“Lho apa Mas Abid gak cerita sama Mbak?” Intan balik bertanya kepadaku. Aku menggeleng kepala.


“Mbak, tolong ceritakan apa yang Mbak tahu tentang Abid,” pintaku sambil memegang tangan Intan.


Intan kemudian menceritakan kepadaku apa yang ia ketahui tentang Abid, dari awal Abid mencari orang tuanya hingga dia menjadi tawanan tentara Israel, sungguh diluar dugaanku, beberapa kali ia terkena peluru, ia tetap bertahan untuk menempati janjinya kepadaku. Tak terasa aku meneteskan air mata, begitu besar perjuangannya.
Aku meneteskan air mata kemudian kupandangi Abid dari balik lemari partisi.



Dek Intan, ayok sudah malem, kita pulang,”ajak Ilyas seraya berdiri, dengan segera kuusap air mataku agar Abid tidak mengetahuinya.


“Iya Mas,” jawab Intan yang masih duduk sebelahku diruang tengah.


“Mbak, aku pulang dulu ya, nanti kita sambung lagi, Mbak Main aja ke rumah, kita nanti bisa cerita-cerita lagi,” kata Intan sambil beranjak dari tempat duduknya.


“Iya Mbak, makasih ya,” kataku sambil membarengi Intan berjalan menuju ruang tamu.


Mereka berdua berpamitan. Aku lalu menutup dan mengunci pintu rumah.


“Dek, maaf tadi Mas lama ya? Soalnya Mas muter-muter cari makanan gak ada, cuma dapet mie instan, air mineral sama beberapa snack saja,” kata Abid.


“Gak apa-apa, sayang, lagian Mbak Intan sudah bawain makanan buat kita,” kataku sambil mendekati Abid dan memeluknya.


“Lho, ini Kamu, kok tumben bilang sayang, kenapa?” kata Abid sedikit kikuk, karena tiba-tiba aku merangkulnya.


“Emangnya gak boleh bilang sayang sama suami sendiri?” tanyaku sambil memandang wajah Abid.


“Boleh sih,” kata Abid tersipu malu.


“Sih? Kok ada kata sih, berrarti bisa gak bisa iya dong,” jawabku sambil cemberut.


Abid kemudian tersenyum, dan cuuup sebuah ciuman mendarat di keningku. Aku kaget dengan respon Abid yang tiba-tiba melayangkan ciuman.


“Ih, nakal deh, mau cium, gak bilang-bilang dulu,” dengan cepat aku melepas pelukanku, kini aku yang tersipu malu. Abid tertawa sambil menjulurkan lidahnya.


“Ya sudah, aku siapin dulu makanannya ya Mas,” kataku sambil beranjak untuk mengambil piring di dapur. Abid lalu duduk di kursi sambil makan bebarapa snack.
Aku kembali dengan beberapa peratan makanan, kuambilkan makan untuk suamiku terlebih dahulu.


“Segini Mas, nasinya?” tanyaku sambil memperlihatkan nasi yang kuambilkan.


“Iya,” jawab Abid singkat.


“Wah kayaknya Mbak Intan sengaja masak enak buat kita, lihat mas menunya, rendang, orak arik tempe sama sup,” kataku sambil menunjukkan beberapa menu yang ada di rantang tersebut.


“Iya bener katamu Dek, Alhamdulillah rejeki” ujar Abid seraya menerima piring yang berisi nasi dan sayur sambil tersenyum.
Abid kemudian menyantap makanan itu. Aku tak berhenti memandanginya.


“Mas, maafin aku ya, aku baru sadar kalau pengorbananmu cukup besar untukku, aku hanya Mas suruh menunggu, tapi, aku sempat melupakanmu, bahkan pernah menghadirkan Zahir, Al dan Lendra dihatiku,” kataku dalam hati.


“Lho, kok malah diam aja, ayo dimakan!” kata Abid membuyarkan lamunanku.


“Eh, iya,” jawabku, sambil menyendok makanan yang ada dipiring.



Bersambung.

Home
Diubah oleh Enisutri
profile-picture
profile-picture
profile-picture
NovellaHikmiHas dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Cinta Sepekan
15-11-2019 15:25

Part 7 Chef Al Bag.2

Cinta Sepekan
Sumber: Pinterest

Chef Al menatapku dengan tajam, aku tidak berkutik sama sekali. Ia kemudian memandang kebawah, melihat pisau yang jatuh tepat disebelah kaki kiriku. Aku tambah panik dan takut, tubuhku mematung dan tidak bisa bergerak. Ingin rasanya lari dari tempat itu tapi tidak bisa.

Chef Al, kemudian duduk jongkok, mengambil pisau itu. Sekarang pisau itu sudah ada digenggamannya. Tadinya aku pikir ia akan mengacungkan pisau itu kepadaku, tapi ternyata tidak. Ia mengembalikan Pisau itu kedalam wadahnya.


“Kamu, tidak apa-apa kan?” tanya Chef Al padaku.

“Aaaaa ... kkkķu ... , maaaa ... aaf ...” suaraku terputus-putus karena aku ketakutan.

“Kak, jangan bikin temanku ketakutan gitu , dong!” sela April, membuatku tambah terkejut.

“Hah, kakak?” Aku langsung mengalihkan pandanganku kearah April memastikan perkataan April barusan.

“Ranum, kenapa sih kamu bengong gitu? Aneh banget,” tanya April yang tidak paham dengan suasana yang kualami.


Lalu Chef Al melangkah mendekati adiknya itu. Ia kemudian menjewer telinga adiknya.


“Dasar, centil, ngapain kamu disini, mau obrak-abrik dapur Kakak lagi ya? Kemarin satu unit kompor penggorengan Kakak rusak, sekarang apa lagi ini,” nada suara Chef tidak terlihat marah kepada adiknya.

“Aduh, Kak, lepasin dong, sakit ini, aku kan malu sama Ranum,” kata April
Chef Al melepaskan tangannya dari telinga adiknya itu.

Aku mulai bisa menggerakkan tubuhku yang sedari tadi kaku seperti patung.

“Kak, kenali ini Ranum, dan Ranum kenalkan ini Kakakku yang paling tampan sedunia” sambil mengedipkan matanya kearahku. Aku jadi tambah gerogi. Sebab ingat waktu di meeting tadi aku mengakui kalau Chef Al yang ternyata kakaknya si April ini tampan.
Chef Al lalu mengulurkan tangannya, dengan ragu-ragu aku menjabat tangannya.


“Ranum,” kataku singkat.

“Al,” jawabnya lebih singkat lagi.

“Pril, cepat kembali ke hotel, ini sudah waktunya makan malam, rombongamu akan makan malam di resto Kakak. jangan mentang-mentang kamu pemilik hotel, seenaknya saja kesana-kemari. Ini kan kamu lagi ikut seminar jadi bersikaplah profesional,” penjelasan Chef Al tambah membuatku terkejut kembali. Jadi, April-lah yang punya hotel ini, dan kakaknya yang punya resto.


Aku dan April menuju resto tempat para peserta berkumpul. Disana sudah dihidangkan berbagai masakan nusantara yang lidahku masih bisa menerimanya. Seketika perutku menjadi lapar. Aku dan April ikut bergabung dengan peserta lain menyantap makanan yang dihidangkan.

***

Ponselku berdering, kuambil ponsel yang aku letakkan diatas meja.

“ Halo, assalamu’alaikum,” ucapku

“Wa’alaikumsalam, nduk, gimana kabarnya? Mbak Imah kangen banget baru dua malam gak lihat kamu rasanya kok beda ya,” tutur Mbak imah.

“Sama Mbak, Ranum juga kangen ocehan Mbk Imah tiap pagi, oh, ya kabar Bapak gimana Mbk? Sehat kan?” tanyaku kepada Mbak Imah.

“Sehat, alhamdulillah, Bapak itu kangen sama kamu, kemaren tak lihat Bapak ambil bingkai fotomu terus dibawa ke kamar Bapak,” kata Mbak Imah menceritakan kabar Bapakku.

“Ya Allah mbk, aku kangen banget sama Bapak, pengen ngomong sama Bapak, tapi jadwal hari ini masih padat, salamin sama Bapak ya Mbak, anak wedoknya ini kangen,” ucapku dengan mata berkaca-kaca.

“Iya nduk, ya sudah Mbak udah lega dengar kabarmu, jaga diri baik-baik, ya nduk,” ucap Mbk Imah.

“Iya Mbk, tolong jagain Bapak ya mbk,” ucapku seraya memberi salam dan menutup telepon dari Mbak Imah.


April keluar dari kamar mandi. Sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk.


“Habis ditelpon siapa?” tanya April sambil mendekatiku.

“Mbk Iparku, tanya kabarku, yuk dah jam 07.00, nanti kita telat lho materinya,”

“iya, bentar lagi, oh ya kita kan hari ini materi bikin bento untuk bekal anak sekolah,” ucap April sambil tersenyum yang aku rasa ada maksudnya.

“Ngapa senyam-senyum? Aneh kamu ya,”

“Kamu pura-pura gak tahu, atau memang gak tahu beneran sih!, coba lihat jadwal hari ini materi bikin bento oleh Chef terganteng sedunia yaitu Chef Al” sambil memainkan alisnya.

“Iya, iya aku tahu, yuk turun sekarang,” ajakku


Aku dan April turun kebawah menuju resto, disanalah kami mendapat materi membuat bento. Chef Al mulai mempraktikkan cara membuatnya, yang paling mempesona Chef Al ini sangat detail menjelaskan kandungan protein, karbohidrat yang harus seimbang pada sekotak bento. Bukan hanya itu saja, Chef Al kalau lagi masak, keren banget.

Aku dan April menyelesaikan tugas kelompok menghias bento, dan alhamdulllah kami dapat peringkat ke-3. Untuk merayakan keberhasilan kami April akan mengajakku makan diluar nanti malem. Katanya tempatnya istimewa bersama orang istimewa juga.

***

“Ranum, sudah siap,” tanya April.

“Bentar ya, aku masih pake jilbab,” kataku kepada April.

Penampilanku memang beda dengan April, aku hanya memakai jilbab segi empat dan pakean yang casual, sedangkan April dia memakai gaun yang feminim tapi sopan, dia tidak menggunakan jilbab rambutnya di curly pokoknya cantik banget. Aku sangat suka sama April anaknya humble, tidak sombong, bahkan tak ada satupun yang tahu kalau dia adalah pemilik hotel tersebut.

Kami keluar dari kamar hotel, sebenarnya aku tidak tahu mau diajak makan malam dimana, bayanganku sih makan di lesehan dengan menu ayam bakar sambel terasi lalapan, pasti enak banget. Karena dihotel aku gak nemu lalapan. Tapi kalau dilihat dari pakaiannya April mungkin agak terlalu berlebihan untuk sekedar makan di lesehan.

April mengambil mobilnya yang terparkir di halaman depan hotel, aku lalu masuk mobilnya. Mobil kemudian melaju, kira kira 15 menit kami sampai sebuah tempat, bukan sebuah lesehan tapi sebuah tempat yang megah, apalagi kalo bukan Restoran ala italiano

“Ayo, dah sampai kita, aku laper banget ini,” ajak April.


Aku mengikuti April dari belakang, April pun kemudian menggandeng tanganku memasuki temppat itu. Seumur-umur baru ini aku masuk ke tempat beginian.


“Eh, itu Kakak Num,” kata April mengagetkanku, kukira aku Cuma makan berdua dengan April.


Chef Al melambaikan tangan tanda merespon April yang tersenyum padanya. Aku dan April menuju meja Chef Al, sebelum duduk Chef Al menyalami, dan mempersilahkan duduk.

April duduk Sebelah Chef Al, dan aku duduk diseberang menghadap Chef Al. Aku agak gerogi dan merasa kurang nyaman.


“Yuk, Kak, pesen makanan,” kata April antusias tidak sabar untuk makan.


Chef Al memanggil pelayan. Pelayan memberikan buku daftar menu kepadaku, April, dan Chef Al. Aku, masih membolak balik daftar menu yang tertulis di buku menu tersembut. Demi Allah aku asing dengan nama makanan yang tertera antara lain fettucin alfredo, linguine alle vongole, Ravioly with tomato sous, abalone and mushroom omeltte, Ricotto and Parmigiana.


“Ranum, kamu mau pesan apa?” tanya April.

“Em aku ngikut kamu aja deh,” jawabku, karena aku tidak tahu sama sekali makanan yang nantinya akan disajikan.

“Kak Al apa?” tanya April kepada Chef Al.

“Samain aja.” jawabnya singkat.


Akhirnya April memesan makanan yang bernama Linguine alle vongole. Kami Ngobrol-ngobrol bertiga seraya menunggu pesanan datang. Beberapa menit makanan itu sudah siap tersaji di meja. Bentuknya seperti mie gepeng, sebut saja pasta dimasak dengan minyak zaitun dicampur cumi, kerang hijau, dengan irisan daun peterseli, Diberi saos tomat serta parutan keju.

Ini saat yang menegangkan bagiku makan makanan yang belum pernah sama sekali aku makan. Dalam hati aku berkata “Ranum semoga perut kamu bisa terima ini, jangan sampe malu-maluin, ini makanan mahal Ranum,” kataku dalam hati.

Sebelum aku menyuap suapan pertama aku melihat Chef Al dan April menikmatinya, sepertinya enak. Suapan pertama masuk ke mulutku, makanan itu masih aku biarkan dimulut tanpa aku kunyah. Kemudian pelan-pelan aku kunyah dan merasakan dengan indera perasaku, agak aneh memang, lidahku tidak bisa mendeteksi rasa makanan itu enak atau tidak.

Cepat-cepat aku telan makanan itu tanpa membayangkan yang aneh-aneh. Sampai pada suapan kelima, dan apa yang terjadi perutku mulai menunjukkan tanda-tanda demo, aku menahannya tapi, aku tidak kuat juga. Aku minta izin ke kamar kecil.


“Uuueeeek ... uueek ...” aku memuntahkan seluruh makanan yang aku makan tadi, walaupun sudah keluar semua tapi tetap saja aku masih mual dan terus muntah-muntah.

“Ranum, kamu ini benar-benar ndeso banget ya, malu-maluin aja, aduh, bagaimana kalo sampe mereka tahu, bukannya aku tidak menghargai makanan tapi perutku ini tak bisa kompromi,” Aku bicara sendiri.


Tanpa aku sadari Chef Al yang sedari tadi menungguku diluar pintu kamar mandi mendengar ucapanku.

Bersambung

Home
Diubah oleh Enisutri
profile-picture
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Lihat 1 balasan
Cinta Sepekan
21-12-2019 15:44

Part 13 Jodoh Pilihan Bapak

Qobiltu nikahaha wa tajwiijahaa bilmahrilmadzkuur ....


Suara qobul yang diucapkan seorang laki-laki dengan pengeras suara seketika membuat hatiku berdetak kencang. Semua menyaksikan dan mendengarkan akad nikahku dengan seorang laki-laki yang belum kulihat wajahnya.


Aku masih berada di kamar rias, dengan berbalut kebaya putih, jilbab putih dan aksesoris dari bunga melati. Aku diminta Bapak untuk menunggu di sana sampai ijab qobul selesai.


Anganku kembali terbayang seminggu yang lalu saat bapak tiba-tiba mengatakan kepadaku bahwa, beliau sudah menjodohkanku dengan seseorang, dan selama seminggu itu aku dituntut untuk siap menikah.


Jujur aku merasa takut, bagaimana tidak, bapak tak memberi tahuku siapa calon suami yang akan menikahiku nantinya. Beliau hanya berkata bahwa dia telah memilihkan calon yang tepat di mana beliau bisa menyerahkan tanggung jawab atas diriku kepada calon suamiku itu.


Aku hanya bisa pasrah dan menuruti apa perkataan bapak, walaupun banyak pertanyaan yang menggunung di pikiraanku, namun aku berusaha menepiskannya.


Sempat aku mencari informasi lewat Mbak Imah dan Mas Farhan, tapi, mereka berdua seakan sudah disumpah untuk tidak memberitahuku perihal itu.


***


Hari pertama, bapak, Mas Farhan dan Mbak Imah sudah disibukkan dengan memilihkan undangan pernikahanku.
“Ini yang menikah siapa, yang sibuk siapa? Padahal jika pada umumnya yang sibuk memilih undangan ialah calon pengantinnya, tapi ... bagaimana lagi? Calon pengantin laki-lakinya saja rahasia,” ujarku dalam hati.


Mungkin kehidupanku ini bisa dibilang seperti zaman Siti Nurbaya, yang dijodohkan dengan Datuk Maringgi. Masih mending Siti Nurbaya, tahu siapa yang dijodohkan dengannya. Kalau aku? Pikiran itu terus mengangguku.


Persiapan pernikahanku sudah hampir 80%, aku tidak andil di dalamnya. Tugasku hanya duduk manis mengikuti apa saran bapak, mbak, dan masku. Dari mulai fitting baju kebaya pun mereka yang pilihkan, ya, seperti memakai jasa wedding organizer, pokoknya aku terima beres.



***


Sehari sebelum menikah, pikiranku makin was-was. Ada suatu ketakutan yang menghantui. Aku beranikan untuk berbicara dengan bapak.


“Pak, Ranum ingin bicara sebentar,” kataku meminta ijin kepada bapak yang sedang mengawasi pemasangan dekorasi.


“Iya, nduk,” kata bapak menghampiri dan mengajakku masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa dekat bapak, aku masih takut untuk mengatakan sesuatu.


“Nduk, sepertinya ada yang kamu pikirkan?” tanya bapak membuka pembicaraan.


“Pak, Ranum belum siap menikah!" kataku sambil tertunduk dan tidak berani menatap mata bapak, takut bapak marah.

Bapak langsung merangkulku, kedua tangan beliau memegang pipiku. Aku pun menatap bapak, terlihat bapak tersenyum dan tidak marah ataupun sedih.


“Ranum, Bapak sangat menyayangimu nduk, Bapak tahu pasti kamu bingung dengan pernikahan yang terkesan mendadak ini, apalagi Bapak merahasiakan siapa calon suamimu, tapi percayalah nduk, Inshaa Allah, pilihan Bapak ini baik untukmu. Nanti setelah resmi menikah, kamu akan tahu alasan Bapak merahasiakan semua ini.” kata Bapak dengan suara yang lembut.


“Sekarang, tenangkan hatimu nduk, dibersihkan pikiran yang negatif, kalau masih ada keraguan ambil air wudhu lalu sholat,” kata bapak memberi saran.


Aku menuruti perkataan bapak. Aku ke belakang untuk mengambil air wudhu lalu sholat hajad, dalam doaku aku minta kepada Allah untuk diberi kemudahan.


Malam sebelum hari pernikahanku, saudara-saudara bapak datang. Rumahku menjadi tempat silaturahmi keluarga yang mungkin sudah lama tak bertemu. Aku berdiri bersandar di pintu sambil memandangi mereka, melihat semua gembira, aku tersenyum. Mungkin ini berkah dari pernikahanku. Ya sudah, apa boleh buat jalani saja.


“Nduk, ayuk gabung sini,” kata Bulek Anis adiknya bapak.


“Ya, Bulek,” jawabku, sambil berjalan kearah bulek dan saudara lainnya yang sedang bercengkrama.


“Cie ... cie ... calon pengantin yang nunggu-nunggu biar cepet pagi,” ceteletuk sepupuku Rifka.


“Apaan sih kamu,” kataku agak sedikit malu, dan kuhampiri dia serta kucubit pinggangnya.


“Aduh, Mbak Ranum ini, sakit lho,” kata Rifka


Malam itu terasa panjang, jujur aku susah tidur, bukan menanti hari yang kuimpikan tapi perasaan takut yang masih menghantui pikiran.


***


Lamunanku buyar setelah Mbak Imah, menepuk pundakku.


“Nduk, saatnya kamu keluar, menemui suamimu,” kata Mbak Imah.


“I ... ya, Mbak,” kataku agak sedikit kaget.
Aku berdiri dari tempat duduk, keluar kamar dengan digandeng Mbak Imah. Denyut jantung semakin keras, suhu tubuh menjadi dingin.


“Nduk, jangan gugup,” bisik Mbak Imah.


Aku menuju keruang di mana tempat ijab qobul berlangsung. Kulihat punggung seorang laki-laki dengan jas hitam dan peci hitam duduk bersila menghadap mudin. Semua orang tampak menatapku yang berjalan kearahnya, kecuali dia. Aku diarahkan Mbak Imah untuk duduk di sampingnya, aku semakin gemetar.


Aku sudah duduk di dekatnya, menunduk dan tidak berani menoleh kearah laki-laki yang berada di sampingku, walaupun, rasa penasaran ingin melihat wajahnya.


“Dek Ranum, bagaimana kabarmu?” bisiknya.

Suara itu tidak asing di telinga, langsung saja aku menoleh kearahnya.


“Abid?” kataku kaget.


Bersambung

Home
Diubah oleh Enisutri
profile-picture
profile-picture
profile-picture
lumut66 dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Lihat 1 balasan
Cinta Sepekan
17-11-2019 10:11

Part 8 Chef Al Bag. 3

Cinta Sepekan
Sumber: Pinterest

Setelah aku memuntahkan semua makanan yang masuk kedalam perutku, aku keluar dari toilet, kubuka pintu toilet dan Chef Al sudah berada didekat pintu toilet.


“Chef,”sapaku agak gugup.
Dia membalas dengan senyum, lalu mengacungkan tasku yang telah dia bawakan.

“Ayo, aku antar pulang ke hotel,” kata Chef Al.

“April, dimana Chef?”tanyaku sambil mencari-cari keberadaan April.

“Dia tadi dapat telpon penting dari Hotel, jadi dia pulang duluan, dan berpesan padaku untuk mengantarmu,” jawab Chef Al.

“Oh, ya, kamu tunggu di lobi ya, aku ambil mobil dulu,”kata Chef.

“Iya Chef, “kataku menurutinya.

“Satu lagi, jangan panggil Chef, panggil saja Al,” pintanya.

“Baiklah, Chef Al, emm ...Al,” kataku agak sedikit kaku dan canggung.



Mobil Chef Al melaju menyusuri jalan ibu kota, lama kami dalam keheningan, karena canggung. Akhirnya mobil itu berhenti didepan warung makan yang berderet di pinggir jalan. Dia lalu membukakan pintu mobil untukku.


“Ayo, turun,” ajak Chef Al.

Aku menuruti ajakkan Chef Al, aku memberanikan diri untuk bertanya kepadanya.


“Kita mau ngapain kesini?” tanyaku.
“Makan,”sambil tersenyum.

“Lho, tadi kan kita sudah makan?” tanyaku bingung.

“ Sudah, ikut aja,”jawab Chef Al sambil berjalan menuju salah satu warung lesehan, aku mengikutinya. Kami duduk berhadapan.

“Ranum, kamu mau makan apa?” tanya Chef Al.

“Aku sudah kenyang,” jawabku berbohong.
“Sudah, jangan bohong, aku tau kok,” sambil tersenyum tanda dia tahu sesuatu.

Aku menyadari kalau sebenarnya Chef Al tahu aku memuntahkan semua makanan. Wajahku berubah merah karena malu.


“Maa ..af,” jawabku pasrah.

“Sudah, gak apa-apa kok, aku paham, dulu aku juga seperti kamu pertama kalinya makan makanan yang asing,” jawab Chef Al.

“Beneran itu?” tanyaku tidak percaya.

“Iya betulan, aku malah langsung reaksi pada saat makan,” sambil menahan tawanya.

“Oh ya, mau makan apa?” tanya Chef Al.

“Terserah aja deh, aku nurut,” kataku.

“Yakin? Nanti dimuntahin lagi,” ledeknya sambil tersenyum.

“Gak lah,” jawabku spontan.

Chef Al memesan 2 porsi ayam bakar. Kami mulai ngobrol dengan santai, Chef Al memang bisa mencairkan suasana. Dia juga humoris, hampir setiap percakapan kami selalu dibarengi dengan tawa.

“Ranum, sudah lama aku gak pernah makan di tempat seperti ini,” kata Chef Al sambil menyantap makanan.

“Lho, kenapa? Apa memang kamu gak terbiasa makan di tempat seperti ini,” tanyaku penasaran.

“Enggak sih, Cuma gak ada yang mau diajak ketempat seperti ini, teman-temanku seringnya ngajakin ke resto kalo enggak ke cafe, ya aku nurut aja, termasuk adikku sendiri itu seleranya makanan western” Kata Chef Al.


Kami menikmati makanan malam part 2, setelah merasa kenyang aku diantar Chef Al ke hotel. Sampai didepan hotel aku turun dari mobil Chef Al.


“Terima kasih makan malam dan tumpangannya Al,” kataku.

“Ya, sama-sama, kapan-kapan kita makan malam lagi ya, kamu belum pernah nyobain makanan jepang,” ledeknya sambil tersenyum.

“Emm ... mulai lagi ya, udah tau aku gak bisa makan makanan yang aneh-aneh,” jawabku dengan muka cemberut.


Chef Al seakan meledekku, aku jadi tambah malu. Kemudian kami berpisah malam itu.

****

Aku membuka kamar dengan keycard, pintu terbuka, April tiba-tiba sudah berada didepan pintu dan membuatku kaget. Ia mulai mengintrogasiku.


“Dari mana kok baru balik jam segini?”tanya April sambil menunjukkan jam ditanganya.

“Aaaaku ... aku mampir dulu,”jawabku sedikit terbata-bata.

“Mampir kemana? gitu ya, sekarang udah kenal sama Kakakku, diam-diam pergi berduaan,”kata April sedikit dengan nada tinggi.

“Bukan begitu, lagian kamu ninggalin aku sendiri disana,”kataku membela diri.

“Aku kan ada telpon penting tadi, lagian aku udah bilang Kak Al, suruh cepet ngantar kamu pulang, tapi, kalian malah asyik berduaan, kemana coba?” tanya April lagi.

“Sebenarnya kami tadi makan lagi, Pril?”kataku dengan nada pasrah.

“Apa? Makan?” tanya April tak percaya.


Aku menceritakan semua kejadian di restoran tadi sampai aku dan Chef Al makan di lesehan. Seketika tawa April meledak, sampai terpingkal-pingkal. Walaupun aku jadi bahan canda April aku senang dia tersenyum bahagia. Karena aku tahu bagaimana cerita April sebenarnya, Chef Al yang bercerita kepadaku. Biarlah itu menjadi rahasia yang tidak aku ceritakan disini. Yang jelas impian April adalah mendirikan rumah singgah untuk anak-anak putus sekolah, mudah-mudahan bisa terlaksana. Itu sebabnya April mengikuti seminar seperti ini.


****


Chef Al sering mengajakku makan malam berdua tanpa April, karena April jarang bisa bergabung demi urusan kerjaan. Kami sudah tidak canggung lagi. Malam itu kami menikmati pemandangan dipinggiran kota.


“Ranum, terima kasih sudah menjadi temanku,” katanya mengawali obrolan yang serius.

“iya, sama-sama, aku senang bisa kenal akrab denganmu dan April,”

“Andai saja,” Chef Al tidak meneruskan kata-katanya.

“Andai apa?” tanyaku penasaran.


“Ranum,”sambil menatapku dengan serius.

“Aku mencintaimu,”kata Chef Al.


Seketika waktu seperti berhenti, pikiranku kosong, rasa tak percaya kata-kata itu keluar dari mulut Chef Al, Chef Al yang sangat perfect segalanya, wanita mana yang tak tergila-gila dengannya.


“Ranum, tenanglah aku tidak akan meminta jawabanmu, aku hanya ingin kamu tahu perasaanku, sebelum kamu pulang ke kotamu, andai saja, aku belum dijodohkan dengan Velly,”.

“Velly?” tanyaku penasaran.

“Dia tunanganku, kami dijodohkan 3 tahun yang lalu, sebenarnya aku tidak tahu perasaanku terhadapnya, memang dia wanita yang baik dan sopan, aku tahu dia sangat mencintaiku, tapi aku tidak merasakan perasaan yang sama seperti saat ini,” kata Chef Al.

“Aku boleh bertanya kepadamu?” tanya Chef Al.

“Apa?”kataku merespon Chef Al.

“Kamu pilih mencintai apa dicintai?” tanya Chef Al.

Aku berpikir sejenak, sebelum aku menjawab pertanyaan itu.

“Lebih baik dicintai dari pada mencintai,” jawabku.

“Kenapa?” tanya Chef Al penasaran.

“Aku punya pengalaman yang berkali-kali gagal dalam hal cinta, pada saat aku mencintai seseorang dsitu aku ditinggalkan, dan sekarang untuk membuka hati saja aku kesulitan, maka dari itu aku lebih memilih dicintai, sebab orang yang mencintai kita akan berusaha menjaga kita dengan baik, menghujani kita dengan banyak cinta,”jawabku.

“Iya betul, itulah pilihanku saat ini, tapi aku mohon kejujuranku ini jangan sampai membebanimu, aku sudah mengatakan apa yang harus aku katakan, walaupun aku tahu tak bisa bersamamu tapi itu sudah membuatku bahagia dengan berterus terang kepadamu,”kata Chef Al.

“Sejak kapan kamu menyukaiku?”tanyaku kepada Chef Al.

“Entahlah, mungkin sejak pertemuan pertama kita di dapur, atau mungkin pada waktu kita pertama kali makan di lesehan itu,”


Aku Cuma bisa mendengarkan penjelasan Chef Al dan tidak bisa berkata apapun, aku memang mengagumi Chef Al, tapi perasaan ini beda, tidak seperti perasaanku kepada Abid atau pun Zahir.


***

Hari dimana aku harus pulang ke kota kelahiranku, aku memeluk erat April yang selama sepekan ini menjadi sahabat baikku, aku terharu begitu pula dengannya. Aku berpamitan dengannya, tapi tak kulihat Chef Al sedari tadi. Aku diam-diam mencarinya namun tidak aku temukan.

“Ranum,” sesaat panggilan dari April itu mengagetkanku.

“Iya Pril, ada apa?” tanyaku sambil menoleh ke arahnya.

“Ini ada titipan dari Kakakku,” dengan meyodorkan kotak persegi dibungkus dengan kertas warna silver.

“Apa ini,”tanyaku kepada April.

“Pesan Kakak suruh buka jika sudah sampai rumahmu,”kata April menjelaskan.

“Baiklah, oh, ya Pril tolong sampaikan terima kasihku kepada Kakakmu,” kataku lagi.


Taksi warna biru sudah menungguku, aku lalu memeluk April sekali lagi dan melambaikan tangan, kemudian masuk kedalam taksi menuju bandara.


Bersambung

Home
Diubah oleh Enisutri
profile-picture
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Cinta Sepekan
15-11-2019 02:52

Part 6 Chef Al Bag.1

Cinta Sepekan
Sumber: Pinterest

Aku sudah berada didepan meja resepsionis, dari belakang ada yang menepuk pundakku. Lalu aku menoleh.

“Hai, kamu Ranum ya?” sapa seorang gadis dengan tinggi badan 160 cm, berkulit putih bermata sipit, dan yang paling menarik mempunyai lesung pipit sebelah kanan, cantik sekali.

Aku masih saja bengong sebab aku belum mengenalnya.

“Eh, iya hampir lupa, kamu kan belum kenal aku, aku April temen sekamarmu,” sambil mengulurkan tangan dan tersenyum padaku.

Aku menyambut uluran tangannya, kami berbincang-bincang sambil menuju ke kamar.

“Lho mana barang bawaanmu, Pril?” tanyaku heran karena dia hanya membawa tas slempang tanpa ada koper atau tas besar.

“Rumahku deket kok, jadi, aku malas bawa baju ganti,” ucap April sambil merebahkan tubuhnya di ranjang.

Aku melihat sekeliling sudut kamar hotel, mengenali tempat yang baru pertama kali aku singgahi. Pemilihan furniture simple tapi elegant. Pokonya buat aku hotel ini bersih, nyaman dan rapi.

“Hotelnya bagus ya, Pril, apa aku bisa tidur ya? ditempat yang sebagus ini,” kataku dengan polos.

April tersenyum, lagi-lagi senyum April manis sekali.

“Ini belum seberapa bagusnya, kamu nanti akan terpesona sama kepala chefnya,” ucap April sembari bangun mendekatiku dan memandang mataku dengan tajam. Aku mengerutkan kening pertanda belum paham maksud April.

***

Aku, April dan 8 peserta lain berkumpul di ruang meeting, ruang itu memiliki meja panjang berbentuk U. Di atas meja, disediakan laptop untuk setiap peserta.
Seminar ini memang tidak banyak pesertanya. Karena hanya dipilih 10 orang secara acak mewakili provinsi masing-masing.

Di meja depan kami telah berdiri tutor dan penyelenggara seminar. Mereka berkenalan.

“Ranum, lihat yang pakai jacket chef itu, ganteng gak?” sambil menggoyangkan badanku.

Aku mengarahkan pandangan mataku ke seseorang yang duduk paling pojok. Tidak dipungkiri memang tampan. Dari poster tubuhnya yang ideal nampak dia sangat menyukai olahraga. Pantas saja April selalu membicarakannya. Mungkin dia suka dengan laki-laki tersebut.

“Gimana, ganteng kan?” April mengulangi pertanyaannya.

“Iya, memang ganteng,” jawabku polos.

“Kamu nanti pasti meleleh kalo udah liat dia masak, beuh ... pokoknya, ”April terus nyerocos membanggakan chef yang aku tidak tau namanya itu.

Tiba giliran si Master Chefnya yang kenalan.
Ia mulai berkenalan dengan memberi salam, menyebutkan namanya Ruroluni Al-Ghazali, susah bener namanya disebutin. Yang jelas nama panggilannya adalah Al. Ia yang mengepalai resto di hotel tersebut, jadi, selama sepekan ini dialah yang akan menghidangkan makanan untuk para peserta seminar.

Setelah semua pihak penyelenggara berkenalan, tibalah kami pada materi pertama. Semua peserta serius mendengarkan.

***

“Ranum, ikut aku yuk!” ajak April, dan dengan sigap langsung menggandeng tanganku.

“Eh ... tunggu, mau kemana kita?” tanyaku penasaran.

“Udah ikut aja deh, nanti tahu sendiri,”
Aku menuruti ajakan April yang sebenarnya itu memaksa banget.

Tiba kami di depan pintu bertuliskan Kichen Room II dan dibawahnya ada tulisan Selain karyawan dilarang masuk.

“Pril tunggu, kita kan buka karyawan, itu ada peringatannya,” Aku menunjukkan tulisan yang menempel di pintu.

“Udah ikut aja, percaya deh sama aku,” Kata April mengabaikan peringatanku.

“”Gak, ah, aku takut ketahuan, Pril, ayok balik lagi ke kamar aja,” Aku menolak ajakan April.

April tetap tidak menggubris omonganku, dia membuka pintu tersebut. Kemungkinan langsung menarik tanganku dengan tiba-tiba.

Kami telah berada di ruangan yang disebut dengan dapur. Ya dapurnya para chef yang kayak di televisi. Ada kompor yang berjajar dan berhadapan, didepannya ada rak untuk menaruh berbagai friying pan, yang biasa aku sebut wajan teflon.

Aku melihat perabotan yang ada di dapur tersebut. Aku tertuju pada satu set pisau, yang ukurannya berbeda-beda, karena penasaran aku mencabut satu pisau dari tempatnya, pisaunya kecil tapi berat untuk ukuran pisau dapur, aku mengamatinya dengan seksama.

“Ini pasti tajam banget ya, kalo buat motong daging, beda sama pisau yang di rumah,” Gumaku dalam hati.

Aku pun sempat membayangkan mengiris daging dengan pisau tersebut. Aku masih terpesona dengan pisau yang ada digenggamanku, masih saja aku perhatikan detailnya. Ternyata ada sebuah ukiran nama pada pisau tersebut, “Al” nama yang tidak asing.

Aku lalu memanggil April yang dari tadi mengotak-atik kompor.

“Pril, ini punyanya chef yang tadi di ruang meeting itu kah?” tanyaku kepada April sambil mengacungkan pisau yang aku pegang.

“Oh, iya, itu barang kesayangannya, diibaratkan seperti nyawanya,” April menjelaskan.

“Oh, gitu ya ...” sambil ku pandangi kembali pisau tersebut.

“Kok kamu tahu banyak sih tentang Chef Al?” tanyaku penasaran.

“Udah, nanti kamu tau sendiri kok jawabannya,” ucap April masih sambil menotak-atik kompor, dan kelihatannya dia ingin menyalakannya tapi tidak bisa.

Kami dikejutkan dengan suara pintu yang terbuka.

“cekreeekkkkk.....” pintu dibuka.

Aku dan April kaget, sehingga pisau yang tadinya aku pegang jatuh ke lantai, untung saja tidak mengenai kakiku.

Sosok laki-laki dengan perawakan tinggi sudah berada didepanku. Seketika jantungku seperti copot, nafas seperti berhenti, badanku bergetar, rasa takut melebihi ketemu sama hantu, ini nyata ketemu sama orang namanya tertulis pada pisau tadi.

Bersambung

Home
Diubah oleh Enisutri
profile-picture
profile-picture
profile-picture
embunsuci dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Cinta Sepekan
24-11-2019 22:53

Part 11 Keputusan

Aku dan Lendra sering berhubungan lewat telpon dan chat, tapi jujur perasaanku biasa saja dengan Lendra, dia, aku anggap seperti teman biasa bukan sebagai calon suami aku.


Mungkin ini masih permulaan, semua butuh proses. witing tresno jalaran soko kulino mungkin Bisa jadi seperti pepatah tersebut.


***


Hari ini aku masih mengajar di kelas tiba-tiba ponselku berdering tanda panggilan masuk.


“Assalamualaikum, iya Mas Len, ada apa?” kataku membuka percakapan.


“Wa’alaikumsalam, ini aku dapat undangan untuk peresmian rumah sakit, hari Minggu besok, kamu bisa kan tenenin aku?” tanya Lendra.


“Besok ya? Inshaa Allah, jam berapa?” tanyaku.


“Jam 8 pagi, nanti aku jemput, kamu siap-siap, oh ya kamu punya high heel kan?” tanya Lendra.


“High heel? Iya aku ada” kataku.


“Nanti pakai ya, sekalian kamu tahu kan apa kostum yang cocok buat acara seperti itu,”


“Iya Mas,” Lendra menyudahi telponnya.


“high heel? Bisa gak ya aku pake itu,” kataku dalam hati.


Sampai di rumah, aku lalu masuk ke kamarku, aku mencari sepatu yang aku maksud, tapi tidak ketemu. Tanpa aku tahu Mbak Imah masuk kamarku.


“Cari apa sih, nduk?” tanya Mbak Imah penasaran.


“Itu lho Mbak Imah, sepatu high heel-ku,” kataku masih sambil mencarinya.


“Apaan itu? Tanya Mbak Imah lagi


“Sepatu berhak tinggi, Mbak.” kataku


“Oalah sepatu jinjit to? Buat apa? Tumben kamu nyariin?” tanya Mbak Imah.


“ Minggu besok, Lendra ngajakin aku dateng keperesmian gedung rumah sakit, jadi aku suruh pake pakean yang gak biasa Mbak,”


“Gak biasa gimana? Apa gak sama aja kalo kita kondangan?” tanya Mbak Imah


“Iya Mbak, hampir sama kok,” jawabku.


“Kalau begitu, pake aja gamis yang kamu beli kemaren itu,” ucap Mbak Imah.

“Mbak Imah, ini buka acara pengajian Mbak, masa disuruh pake gamis sih? Ini lebih ke pakaian formal Mbak,” aku menatap Mbak Imah yang masih kurang mengerti.


“Nah, akhirnya ketemu juga,” kataku sambil memegang sebuah kotak sepatu. Aku mulai mencoba sepatu itu, agak sempit sih menurutku, mungkin karena aku hampir tak pernah memakainya. Sepatu itu hanya aku pakai sekali waktu wisudaku.


***


Minggu pagi, sekitar pukul 08.00, aku sudah dijemput Lendra, aku berpamitan sama Bapak, Mas Farhan dan Mbak Imah, begitu pula Lendra. Sejauh ini hubunganku dengan Lendra baik-baik saja. Mudah-mudahan sampai kedepannya seperti itu.


Mobil Lendra melaju, sampailah di depan gedung aku turun dan menunggu Lendra yang memarkir mobil. Sepatu yang aku pakai kurang nyaman. Aku berjalan pelan-pelan karena berhati-hati takut aku keseleo.


Lendra menghampiriku dan memintaku untuk menggandengnya. Awalnya aku kikuk, tapi ya sudahlah aku coba, langkah Lendra lebar jadi aku keteteran mengimbanginya. Aku dan Lendra masuk ke dalam gedung.


Sudah banyak orang yang ada didalam gedung, semua laki-laki memakai setelan jas lengkap dengan dasi, ya seperti yang dipakai Lendra, dan perempuannya banyak memakai gaun gelamor, ada juga yang memakai pakaian formal sepertiku. Tak ku sangka acara pembukaan semewah itu, ada berbagai macam makanan yang dihidangkan, dan juga tak ketinggalan iringan musik band ternama menggema didalam gedung.


“Ayuk, Ranum, kita ambil makan,” ajak Lendra.


Aku mengikutinya, kali ini jalanku agak sedikit pincang karena sepatuku sudah mulai membuat kakiku lecet, menyiksa sekali.


Aku mengambil sepiring makanan, aku masih bingung karena di gedung itu tidak ada kursi sama sekali.


“Ayo, dimakan Ranum, jangan diem aja,” ajak Lendra.


“Sambil berdiri?” kataku menyakinkan.


“Ya, iya dong, namanya juga pesta gedung, mana ada kursi,” kata Lendra sedikit tinggi nada suaranya.


Aku melirik disekitarku, semua melakukan hal yang sama yaitu makan sambil berdiri. Pemandaangan yang baru pertama kali aku lihat.


Tiba pada acara penyerahan kunci kepada direktur utama rumah sakit, nama Lendra dipanggil, ia maju kedepan untuk menyerahkan kunci tersebut. Lendra adalah pemegang tender pembangunan rumah sakit itu. Aku juga baru tahu setelah diumumkan.


Acara telah selesai, tapi Lendra masih asyik ngobrol dengan teman-temannya, anggap saja aku dicuekin. Akhirnya aku memutuskan untuk ke toilet saja. Sebelum aku masuk toilet, terdengar beberapa perempuan bercakap-cakap, aku tadinya tidak begitu memperhatikan tapi setelah mereka menyebutkan nama Lendra, aku penasaran.


“Mas Lendra keren ya, masih muda tapi dia sudah jadi kontraktor sukses,” kata salah seorang wanita itu.


“Iya betul, eh tadi kalian lihat tidak perempuan yang sama mas Lendra?”


“Oh yang gandeng Mas Lendra tadi to?”


“ya ampun penampilannya, jomplang banget sama Mas Lendra ya, aku tuh memperhatikan dari sepatu, baju dan kerudungnya merk pasaran semua, dia juga gak bawa tas sama sekali, kok pede banget ya dia? Jadi bukan berasa pasangan tapi pantesnya pe****tu,”.



Aku hanya mematung didepan pintu toilet setelah mendengar percakapan mereka. Rasanya aku pengen masuk terus aku omelin mereka yang menghinaku, tapi, aku urungkan, karena takutnya membuat malu Lendra. Kuputuskan untuk balik lagi ke ruangan sambil menahan kekesalan.



“Dari mana kamu?” tanya Lendra.


“Aku habis dari toilet, bisa kita pulang sekarang Mas?” kataku mengajaknya pulang.


“Waduh, teman-temanku ngajak party ini, belum acara puncak,” kata Lendra.


“Tolong Mas, antar aku pulang dulu,” kataku memohon.


“Maaf Arum, kamu naik taksi aja ya, ini aku kasih uang buat bayar taksi.” Sambil menyodorkan uang 100 ribu rupiah.
Aku geram sekali, kutarik tangan Lendra, kuajak dia keluar gedung.


“Ranum, apaan sih kamu, malu dilihat orang,” kata Lendra.


“Kenapa mesti malu, kamu juga sebenarnya malukan ngajak aku kesini kan?, aku nyesel ikut kamu kesini, aku sudah berusaha mengikuti apa maumu, ini lihat aku harus merubah penampilanku demi kamu, harus pakai sepatu model begini,” aku mencopot salah satu sepatuku dan mengacungkan ke arah Lendra, dan terlihat kakiku berdarah karena lecet.


“Banyak perempuan didalam sana menghina penampilanku, bajuku sepatuku gak bermerk, jadi, semuanya ngangep merk itu penting kah?” kataku mulai marah.


“Harusnya kamu gak boleh marah dong, mereka mengatakan yang sebenarnya,” kata Lendra dengan nada tinggi mengimbangi kemarahanku.


“Oh jadi, kamu juga sama saja, menghormati orang karena apa yang pakai mahal semua, okey kalau begitu, sekarang sudah terjawab semuanya, dari awal ada yang mengganjal dalam pikiranku tentang kamu, syukur aku cepet sadar, dan mulai sekarang aku mundur dari perjodohan ini, satu lagi, aku masih punya uang buat bayar taksi,” kuraih tangan Lendra dan uang itu aku taruh ditelapak tangannya sambil berlalu meninggalkannya.


Aku berjalan pincang di pinggir trotoar, akhirnya aku lepas semua sepatu dan berjalan tanpa alas kaki. Rasanya sakit dan perih. Untung saja taksi segera datang.


Sampai dirumah aku masuk ke kamar dengan perlahan agar Mbak Imah atau Bapak yang sedang tidur siang tidak terbangun, dan melihat keadaanku yang menyedihkan.

Aku mengunci kamar dan menangis.


***


Tiga hari setelah insiden itu, aku tidak lagi menghubungi Lendra, begitu pula sebaliknya. Namun, keluargaku belum tahu kalau aku telah memutuskan perjodohan ini.


Malam hari sekitar pukul 20.00 ada suara mobil yang berhenti di halaman rumahku. Aku intip dari kaca, aku terkejut, orang tua Lendra datang ke rumah.


Aku membukakan pintu, dan mempersilahkan orang tua Lendra masuk. Jantungku berdetak kencang, aku mengira orang tua Lendra sudah tahu aku telah memutuskan perjodohan ini. Tapi, ternyata tidak.


“Oh, ya nak Ranum, Bapak ada kah?” tanya Pak johan


“Maaf pak, Bapak lagi keluar tadi dapat undangan manaqipan di desa sebelah,” kataku


“Ya sudah kami bicara sama kamu saja ya nak Ranum,” kata pak John dan aku mengangguk pelan.


“Kemarin Bapak sama Ibu sudah bicara sama Lendra, tentang rencana pernikahan kamu dan Lendra, katanya kamu minta untuk segera melangsungkan akhir bulan ini,”


“Apa? Mas Lendra bilang begitukah pak?” tanyaku terkejut.


“Iya, kok nak Ranum kelihatannya kaget,” kata Pak Johan dibarengi dengan senyuman.


Belum sempat aku menjelaskan Pak Johan sudah memototong pembicaraan.


“Langsung saja kalau begitu nak Ranum, kami kesini ini juga atas usulan Lendra juga, tadinya mau Lendra sendiri yang kesini, tapi dia ada proyek jadi tidak bisa kesini.


Aku makin penasaran dengan apa yang direncanakan Lendra melalui orang tuanya, aku mendengarkan dengan seksama penjelasan Pak Johan.


Kemudian Pak Johan mengeluarkan beberapa lembar kertas yang penuh dengan tulisan entah isinya apa aku tidak paham.


“Nak Ranum, ini kami bermaksud memberikan kebijakan kepada nak Ranum, semuanya sudah tertulis disini, Lendra yang menulisnya, kami sudah membacanya juga, dan kami menyetujuinya juga,” kata Pak Johan.


“Maaf Pak, ini apa ya? Tanyaku bingung.


“Ini adalah perjanjian pranikah nak Ranum, antara lain mengatur pembagian warisan, karena Lendra asetnya banyak jadi harus bikin seperti ini nak Ranum, kalau keluarga kami sudah biasa menggunakan ini, biar nanti kalau ada apa-apa ada bukti hitam diatas putih,” tutur Pak Johan


Seketika nafasku sesak, mendengar penjelasan Pak Johan tentang perjanjian pranikah.


“Nak Ranum, boleh baca dulu, nanti terus tanda tangan,”


Aku hanya diam memandangi kertas yang ditaruh di atas meja, aku tidak bergerak
sama sekali.


“Nak Ranum, ayo tanda tangani,” kata Pak Johan sambil menyodorkan pulpen.


“Maaf Pak, saya tidak bisa menandatangani surat perjanjian pranikah, bagi saya menikah itu adalah ibadah, bukan suatu perjanjian. Perjanjian pranikah hanya digunakan untuk antisipasi jika nanti tidak ada kecocokan. Jadi, intinya membuat perjanjian pranikah sama saja tidak percaya dengan ikatan pernikahan. Saya menganggap ikatan pernikahan adalah suci, suami maupun istri tahu apa hak dan kewajibannya,” ucapku tegas namun batin menangis.


Bersambung

Home
Diubah oleh Enisutri
profile-picture
profile-picture
profile-picture
djrahayu dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 3 balasan
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
kenangan-yang-abadi
Stories from the Heart
150-hari-mencintaimu
Stories from the Heart
cerita-di-kobessahkopi
Stories from the Heart
inilah-jalan-spiritualku
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Heart to Heart
Stories from the Heart
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia