Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
218
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5dca8159337f93523d6b4c24/cinta-sepekan
Ponselku berdering tanda notifikasi muncul, kuintip ponselku yang sedari tadi tergeletak diatas ranjang. Ada sebuah pesan "Assalamu'alaikum, aku Zahir duda, punya anak kembar, ingin mencari pendamping yang serius aja. Jika berkenan aku mau perkenalan, jika tidak abaikan pesan ini."
Lapor Hansip
12-11-2019 16:54

Cinta Sepekan

Past Hot Thread
icon-verified-thread
Cinta Sepekan
Image: ganet

Quote:kutatap foto dua wajah polos anak kecil itu, dengan perasaan bercampur aduk, aku hanya bisa memandangi. akhirnya kita belum berjodoh, walaupun hanya sepekan tapi tak bisa bohong bahwa hati ini sudah kuberikan kepadanya


****


Ponselku berdering tanda notifikasi muncul, kuintip ponselku yang sedari tadi tergeletak diatas ranjang. Ada sebuah pesan

"Assalamu'alaikum, aku Zahir duda, punya anak kembar, ingin mencari pendamping yang serius aja. Jika berkenan aku mau berkenalan, jika tidak abaikan pesan ini."

Seketika mataku terbelalak memandangi layar ponsel, rasa curiga bercampur aduk langsung saja aku menghampiri mbk iparku yang masih asyik memasak sambil mendendangkan lagu dangdut dibarengi tarian yang entah dia ciptakan sendiri atau justru plagiat tapi gagal total. pokoknya yang ada melihat atraksi komedi bukan melihat diva sedang menyanyi.

"mbk Imah... ini pasti ulah mbk Imah" sambil menyodorkan ponsel yang kubawa tadi

"Apa sih nduk?" matanya menyipit melihat dengan seksama ponselku.

"Alhamdulillah akhirnya usaha mbk gak sia-sia ada yang mau ngajakin kamu serius itu nduk, udah cepetan dibalas, jangan kelamaan, nanti keduluan yang lainnya, mbk udah gak sabar dapat adik ipar ini. Kamu udah kelamaan menjomblo umurmu udah pangkat 3 lho".

"Jadi, beneran ini ulah mbk Imah? Mbk...." belum sempat aku bicara mbk Fatimah udah memotong pembicaraanku.

"Nduk kali ini dengarkan mbk!" Wajah serius mbk Fatimah yang jarang aku lihat selama ini

"Nduk apa salahnya dicoba dulu, kenalan kan belum tentu langsung suruh menikah hari ini juga to, kalo gak cocok juga bisa mundur, siapa tahu ini memang jodoh yang dikirim Allah buat kamu, tentang statusnya duda atau perjaka itu gak masalah yang penting pertama agamanya". Jelas mbk Fatimah, aku lalu dia. Tanpa kata apapun aku melangkah gontai menuju kamarku.

Kupandangi chat dari nomor tak bernama itu, dalam hati berkata "Zahir, okeylah aku akan coba mengenalnya." Aku mengikuti saran mbk Imah.

Ku balas chat itu "Wa'alaikumsalam, maaf saya lama balesnya jujur saya terkejut mendapat chat darimu. Kalau memang berkenan silakan berkenalan dulu tak apa-apa. Tujuanku juga serius mencari pendamping hidup". Isi chat tersebut sangat kaku.

Selang beberapa detik ponsel berbunyi, dia membalasnya lagi "Terimakasih, boleh saya telpon kamu?"

Aku berfikir agak lama akhirnya kumengiyakan. Tak lama ponsel berdering tanda panggilan masuk. Rasa gemetar tanganku meraih ponsel.

"Assalamualaikum, ini Ranum ya?." Suara serak dan sedikit berat terdengar merdu membawaku pada lamunan

"Wa....wa'alaikumsalam, iya benar, kamu eh gmn aku panggilnya?"

"Panggil Zahir biar lebih akrab, lagian kita kayaknya masih sebaya, umurku 28 tahun, kamu?"

"Apa? Aku, em...aku sudah 31 tahun." Aku agak malu menyebutkan umur karena usiaku dibilang sudah kadaluwarsa.

"Oh jadi kita selisih 3 tahun ya?"

"Iya, tapi aku lebih tua dari kamu? bagaimana?"

"Gak masalah buatku, yang penting mau aku ajak ibadah dan dalam hal kebaikan"


Lama kami terdiam saling menunggu satu sama lain membuka obrolan lagi, tapi tetap saja hening. Lalu dia kemudian mulai berbicara lagi

"Ranum, aku orang to the point aja ya, niat aku serius sama kamu, aku tidak mau pacaran aku maunya langsung menikah aja."

"Apa?"aku agak gugup karena Zahir tidak suka basa basi

" tapi apa kamu sudah yakin memilih aku, kamu kan belum kenal aku seperti apa?"

"Inshaa Allah aku yakin, jadi kamu siapnya kapan nanti aku akan ketempatmu untuk melamarmu."

" Tapi, kamukan belum tahu tentangku, misalnya saja biodataku."

"Aku sudah tahu kok, kan sudah dapat bio datamu, nama,alamat, nama ayah, cita citamu, semua aku tahu dari biro jodoh online"

"hah??" Aku kaget seingatku aku tidak pernah mengikuti ajang biro jodoh, aku berpikir keras jangan-jangan waktu itu, yah aku ingat waktu itu mbk Imah memintaku menulis biodata selengkap-lengkapnya alasannya untuk mencarikanku pekerjaan, oh ternyata mbk Imah dibalik semua ini.

"Halo, kamu masih dengar suara aku?"

"Iiya...ya aku dengar kok!"

"Ya sudah nanti disambung lagi, aku mau tugas dulu."

"Tunggu sebentar!, aku mau tanya kamu duda karena bercerai atau istri meninggal?"

"Istri aku meninggal waktu melahirkan si kembar, oh ya aku kirim foto anak-anakku ya."

Aku memandangi ponsel ku buka chat di wa, aku menerima foto anak kecil mungil dengan bola mata bulat, cantik sekali.

"Ya aku udah lihat anak-anak, anak-anak sekarang sama siapa kalau kamu kerja?"

"kalau aku kerja sama pengasuhnya, okey udah dulu ya nanti disambung lagi, assalamualaikum."
Ia mengakiri salam dan aku membalas salam itu seketika itu tlp mati. Aku masih terpaku sambil menggenggam ponselku.

Ke esokan harinya, pagi-pagi aku sudah mendapat wa darinya , "assalamualaikum, kamu lagi ngapain?".

Entah kenapa hati ini mulai berdebar membaca pesan itu, lalu kubalasnya.

****


Selama empat hari berurut-turut, kami hanya ngobrol lewat pesan saja. Tapi itu sudah cukup membuat aku bahagia, dan aku sudah mulai menyukainya. Ya...aku sudah jatuh cinta.

Hari kelima, aku memandangi ponsel berharap dapat pesan darinya, tapi tidak. Rasa kangen mulai muncul dengan tiba-tiba. Tapi tetap saja aku tidak berani menulis pesan terlebih dahulu.

Hari keenam, aku bercerita kepada mbk iImah tentang Zahir dan sejauh mana kami merencanakan pernikahan yang dibilang dadakan. Belum bertemu, aku sudah mantap, yang kutahu hanya namanya dan nama kedua anaknya selebihnya aku tidak tahu apapun.

Mbak imah menyarankan. aku untuk bicara ke Bapak, tapi sebelm itu mbk Imah memintaku untuk menanyakan identitasnya lengkap karena hanya itu yang bisa mdnjadi gambaran dan acuan.

Hari ketujuh, sudah dua hari kami tidak komunikasi, akhirnya aku memberanikan diri untuk langsung meneleponnya. Panghilan siara aktif telepon berdering namun tiba tiba panggilan ditolak. Aku penasaran aku ulangi panggilan telpon lagi. Tapi tetap saja ditolak.

Aku mulai khawatir selang beberapa detik wa darinya

"Hmm"

"Kamu lagi ngapain, kok telponku gak diangkat?"

" Aku lagi nyantai, wa aja ya, aku lagi gak pengen terima telpon"

"Lho kenapa, aku mau bicara kan lebih enak bicara langsung dari pada nulis pesan."


Ada perasaan aneh yang aku pun tidak bisa menggambarkannya. Aku mulai tidak yakin bahwa Zahir ini bener-benar serius.

"Oh ya anak-anak mana?" Ku mulai menanyakan anaknya lewat chat

"Dah tidur"

"Fotoin ya, aku mau lihat mereka"

"Ah ribet."


"Lho kok gitu, aku hanya minta foto, aku pengen lihat, aku memang suka sama anak-anak. Ayolah fotoin, oh ya mana biodata kamu? Kok gak kamu kasih sih?" bujukku

" kamu ini belum menikah sudah minta ini itu."

"Apa?" Aku terkejut dengan balasanya itu.
"Lho aku minta apa to? Kan katanya kamu serius sama aku, aku cuma minta biodata dan fotoin anakmu. Kok kamu bilangnya begitu,

"Akhir bulan ini kan aku ketempatmu nanti tahu sendiri to."


"Lho ya gak gitulah, aku kan belum bilang sama bapakku, makanya aku minta biodata sama kamu, la terus apa yang harus kuceritakan sama bpk, aku aja hanya kenal namamu tak lebih dari itu."

"kamu itu ribet ya"

"okey kalau emang kamu gak mau kasih data ke aku, aku tak mundur aja dari perkenalan kita, apalagi kamu bilang aku suka minta hal-hal yang aneh, menurutku itu wajar lho. Aku malah ada kesan curiga sama kamu."

" Jadi kamu mundur berarti selama ini modusin aku, kamu php aku ya?."

"Mana ada aku serius kok, justru aku itu ragu sama kamu".

" ya udah gak usah wa aku lagi, bye...".


Seketika nomorku sudah diblokir, dan aku mencoba menulis pesan terakhir entah itu terkirim atau tidak

" aku minta maaf, selama ini aku percaya sama kamu, sudah kugantungkan harapan kepadamu, dan ada ruang kosong yang aku khususkan untuk kau tempati di hatiku, tapi seketika kamu telah menghancurkannya. Biarlah Allah nanti yang menjelaskan bahwa selama ini aku tidak penah mempermainkanmu, wakaupun cuma sepekan tapi tetap saja kamu punya tempat terindah disini wassalamu'aikum".


Lanjut
Part2-Bukan Cinta Sepekan

Part 3-Gelisah

Part 4- Gejolak

Part 5 Maaf

Part 6 Chef Al bag. 1

Part 7 Chef Al Bag. 2

Part 8 Chef Al Bag. 3

Part 9 Tulisan di Bangku Sekolah

Part 10 Lamaran

Part 11 Keputusan

Part 12 Lelah

Part 13 Jodoh Pilihan Bapak

Part 14 Rasa

Part 15 Seluruh Cinta

Part 16 Bahtera Bag.1

Part 17 Bahtera bag 2

Part 18 Bahtera bag.3
Diubah oleh Enisutri
profile-picture
profile-picture
profile-picture
nofivinovie dan 25 lainnya memberi reputasi
26
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 11
Cinta Sepekan
18-01-2020 00:56
Quote:Original Posted By bekticahyopurno
Tiap part atau cerita baru, kasih thumbail, jadi pas dibagikan ada gambarnya.


Okey makasih bang bekti, nanti aku edit n berikutnya aku ksh thumbnail. emoticon-2 Jempol
0 0
0
Cinta Sepekan
17-01-2020 22:46
Quote:Original Posted By Enisutri
silahkan krisannya ya gansis, ini pertama kali ane bikin cerpen. jadi mohon maaf jika kurang menarik


Tiap part atau cerita baru, kasih thumbail, jadi pas dibagikan ada gambarnya.
profile-picture
Enisutri memberi reputasi
1 0
1
Cinta Sepekan
17-01-2020 09:55
Quote:Original Posted By Enisutri
Kenal dong mbk, yang dari medan kan?
Ya gpp dicicil kalo udah longgar aja, emoticon-Peluk


Okey Siib. Tengkyu emoticon-Kissemoticon-Kiss
profile-picture
profile-picture
bekticahyopurno dan Enisutri memberi reputasi
2 0
2
Cinta Sepekan
17-01-2020 08:51
Quote:Original Posted By Enisutri
Yuuk lah kalo begitu tosnya pake apa ini emoticon-Toast


Terserah, apa aja boleemoticon-Maluemoticon-Malu
profile-picture
Enisutri memberi reputasi
1 0
1
Cinta Sepekan
17-01-2020 08:47
Quote:Original Posted By corongalam
Wah kita sama, emoticon-Maluemoticon-Malu
Tos emoticon-Genit


Yuuk lah kalo begitu tosnya pake apa ini emoticon-Toast
profile-picture
corongalam memberi reputasi
1 0
1
Cinta Sepekan
17-01-2020 08:46
Quote:Original Posted By Enisutri
Baik juga mas emoticon-Bettyemoticon-Betty


Wah kita sama, emoticon-Maluemoticon-Malu
Tos emoticon-Genit
profile-picture
Enisutri memberi reputasi
1 0
1
Cinta Sepekan
17-01-2020 08:45
Quote:Original Posted By corongalam
Kabarku baek kok, emoticon-Maluemoticon-Malu

Kamu gmn?emoticon-Malu


Baik juga mas emoticon-Bettyemoticon-Betty
profile-picture
corongalam memberi reputasi
1 0
1
Cinta Sepekan
17-01-2020 08:40
Quote:Original Posted By Enisutri
Eh mas Corong Alam, apa kabar? Makasih udah mampir yaa, mau minum apa? Adanya cuma cendol, mau kah? emoticon-Toast

Eeit deh, pean nunggu adegan ehm ehm?emoticon-Wkwkwk


Kabarku baek kok, emoticon-Maluemoticon-Malu

Kamu gmn?emoticon-Malu
profile-picture
Enisutri memberi reputasi
1 0
1
Cinta Sepekan
17-01-2020 02:47
Quote:Original Posted By embunsuci
Eh. Kenal yaemoticon-Ngakak oke samisami.
Belum semua ane baca. Seru. Nanti2 lagi deh. emoticon-Big Kissemoticon-Kiss


Kenal dong mbk, yang dari medan kan?
Ya gpp dicicil kalo udah longgar aja, emoticon-Peluk
profile-picture
embunsuci memberi reputasi
1 0
1
Cinta Sepekan
17-01-2020 02:45
Quote:Original Posted By corongalam
Tambah rapi aja, part ini keren deh, emoticon-Maluemoticon-Malu


Kirain ada adegan ehm gituemoticon-Genitemoticon-Genit


Eh mas Corong Alam, apa kabar? Makasih udah mampir yaa, mau minum apa? Adanya cuma cendol, mau kah? emoticon-Toast

Eeit deh, pean nunggu adegan ehm ehm?emoticon-Wkwkwk
profile-picture
corongalam memberi reputasi
1 0
1
Cinta Sepekan
16-01-2020 14:17
Quote:Original Posted By Enisutri
Mbak airah makasih udah mampir emoticon-Peluk


Eh. Kenal yaemoticon-Ngakak oke samisami.
Belum semua ane baca. Seru. Nanti2 lagi deh. emoticon-Big Kissemoticon-Kiss
profile-picture
Enisutri memberi reputasi
1 0
1
Cinta Sepekan
16-01-2020 10:22
Tambah rapi aja, part ini keren deh, emoticon-Maluemoticon-Malu


Kirain ada adegan ehm gituemoticon-Genitemoticon-Genit
profile-picture
Enisutri memberi reputasi
1 0
1
Cinta Sepekan
16-01-2020 02:40
Quote:Original Posted By embunsuci
Nitip. Part 10.emm


Mbak airah makasih udah mampir emoticon-Peluk
profile-picture
profile-picture
bekticahyopurno dan embunsuci memberi reputasi
2 0
2
Cinta Sepekan
16-01-2020 02:34

Part 18 Bahtera Bag.3

Taksi dari bandara Soekarno-Hatta membawa aku dan Abid menuju perumahan di Cibubur. Aku sempat tertidur menyandar pundak suamiku. Satu jam berlalu, aku membuka mata.


“Mas, kita sudah sampaikah?” kataku dengan kepala yang masih menyandar dipundaknya


“Belum dek, masih lama, soalnya macet, banyak jalan yang ditutup karena banjir,” kata Abid menjelaskan.


Kamu tidur aja lagi, nanti kalo sudah sampai Mas bangunin kamu” kata Abid seraya membelai kepalaku.

***


3 jam perjalanan, kami sampai di perumahan Cibubur. Rumah yang telah disediakan untuk kami tempati.
Rumah tipe 72 bergaya minimalis, dengan cat tebok putih, serta cat cokelat pada pintu dan kusen, yang baru selesai dibangun, kamilah penghuni pertama rumah tersebut.


Aku dan Abid hanya membawa beberapa baju dalam satu koper, tidak ada barang lain yang kami bawa. Karena, semua perlengkapan dan perabot sudah disediakan. Abid mengambil kunci yang berada bawah pot bunga, sebelumnya, atasan Abid telah memberi tahunya lewat ponsel.


Kami masuk kedalam rumah, kulihat ruang tamu yang tidak terlalu luas. Disana terdapat sofa warna abu-abu dan gorden dengan perpaduan warna hijau dan abu-abu. Ruang tamu di sekat dengan lemari partisi sebagai pembatas ruang tamu dan ruang tengah. Diruang tengah ada sebuah sofa panjang menghadap ke dinding sebelah utara, di dinding menempel sebuah televisi ukuran 32 inch, dibawah televisi ada meja kecil sebagai pemanis ruangan tersebut.


“Dek, kamu laper?” tanya Abid sambil mengangkat koper yang akan dibawanya menuju kamar.


Aku membalas dengan anggukan. Kemudian Abid menuju dapur, ia membuka kulkas. Namun ia tidak dapat menemukan apapun yang bisa dimakan. Terlihat dari isyarat tangan dan bahunya yang diangkat.
Aku hanya tersenyum kepada Abid.


Dek, Mas keluar dulu, cari makanan, kamu tunggu sebentar, berani kan aku tinggal sendiri?” tanya Abid sambil mengampiriku.


“Iya berani, tapi jangan lama -lama Mas ya,” kataku.


Abid berpamitan ia keluar untuk mencari makanan. Hampir 30 menitan Abid keluar dan belum ada tanda-tanda kembali. Aku mulai cemas, bolak-balik kuintip dari jendela. Sambil sesekali melirik jam tanganku.


“Mas Abid kok lama banget ya, mana ponselnya lupa gak dibawa lagi,” kataku sambil mondar-mandir.


Tok ... tok ... “suara pintu diketuk, dengan cepat aku buka pintu itu.


“Mas Abid, kok ... “ aku berhenti meneruskan kata-kataku. Terlihat didepanku seorang wanita cantik bersama seorang laki-laki, mereka kira-kira seumuranku.


“Assalamualaikum,” sapa wanita itu sambil tersenyum.


“Wa’alaikumsalam, cari siapa ya?” tanyaku kepada wanita yang memakai gamis warna magenta.


“Ini Mbak Ranum, istrinya Mas Abid?” tanya wanita itu.


“Iya betul, maaf kalian siapa ya?” tanyaku masih curiga sebab mereka bertamu sudah hampir jam 11 malam.


“Saya Intan, dan ini Mas Ilyas suami saya, temannya Mas Abid,” kata wanita yang mengaku namanya Intan.


Aku masih diam, dan tidak mempersilahkan mereka masuk karena aku takut jika mereka berbohong.


“Mbak, maaf ya, mungkin Mbak kurang nyaman atas kedatangan kami, kami hanya ingin memberikan ini Mbak,” kata wanita itu sambil menyodorkan rantang.


“Tadi saya sengaja masak banyak, karena kata Mas Idris kalian mau datang,” ujarnya lagi.


“Oh ya ... Abidnya ada Mbak?” Tanya Ilyas yang sedari tadi diam saja.


“Mas Abid lagi keluar sebentar,” kataku masih berdiri didepan pintu. Aku masih bingung mempersilakan masuk atau tidak.


“Ya sudah, kalau begitu kami pulang dulu, tolong sampaikan salamku kepada Abid,”kata Idris sambil memberikan isyarat kepada istrinya untuk menyerahkan rantang yang ia bawa. Aku menerima pemberian mereka.


“Terima kasih ya Mas, Mbak, jadi merepotkan,” kataku sambil tersenyum.


“Iya gak apa-apa Mbak, oh ya, kalo Mbak lagi gak repot, main saja ke rumah kami, dua rumah dari sini, itu yang pagarnya warna biru,” kata Intan sambil menunjukan letak rumahnya. Aku ikut melihat rumah yang ditunjukkan Intan kepadaku. Sambil aku mengangguk tanda mengerti. Mereka kemudian berpamitan. Tanpa curiga lagi akupun mengajak mereka untuk masuk ke dalam rumah.


“Eemm ... tunggu, masuk aja dulu, kita sama-sama tunggu Mas Abid datang,” kataku kepada mereka.


Mereka berdua saling berpandangan.


“Betul tidak apa-apa kami masuk?” tanya Idris memastikan.


“Iya, tidak apa-apa, mari silahkan masuk,”


“Maaf Mas, Mbak, di anggurin, soalnya Mas Abid masih keluar beli air minum.


“Iya Mbak, gak usah repot-repot,”kata Intan sambil tersenyum.


Intan dan Ilyas adalah sosok yang ramah, mereka adalah pasangan suami istri yang menurut aku serasi sekali, cantik dan tampan, tak perlu digaambarkan, sosok Intan mempunyai inerbeuty yang menjadi daya tarik tersendiri. Sedangkan Idris terlihat dewasa dan berwibawa.


****


Selang beberapa menit, Abid datang.
Assalamualaikum,” terdengar salam dari luar.


Wa’alaikumsalam,” jawab kami serentak.


Aku menghampiri sumber suara itu.


“Mas, Abid,” aku menyambutnya dibalik pintu.


“Mas, ada tamu,” kataku sambil melirik kedalam ruang tamu.


“Siapa?” tanya Abid heran.


“Katanya temen Mas,” jawabku.


Abid penasaran, ia masuk kedalam. Raut mukanya berubah menjadi sumringah.


“Ilyas,” pekik Abid sambil menyalami dan merangkulnya.


Dek, ini Ilyas dan istrinya, Ilyas ini adalah sahabat Mas, kami ketemu waktu di Palestina,” kata Abid sambil tersenyum, terpancar sorot kegembiraan di matanya.


Abid mulai mengobrol dengan Ilyas, sedangkan aku mengajak Mbak Intan ke ruang tengah, agar kami lebih leluasa untuk berbincang-bincang tanpa memnganggu mereka.


“Mbak kita di ruang tengah aja yuk,” ajakku sambil membawa beberapa bungkus snack yang dibeli Abid di luar.


“Okey,” jawab Intan. Kami menuju ruang tengah dan duduk di sofa sambil menyalakan televisi.


***


“Mbak, kita itu senasib ya Mbak, menunggu orang yang kita cintai sampai 9 tahun lamanya,” kata Mbak Intan memulai pembicaraan.


“Apa? Mbak juga menunggu Mas Ilyas selama itu juga,” tanyaku memastikan.


“Iya, bedanya Cuma aku idah nikah sama Mas Ilyas dan Mbak belum, apalagi aku waktu ditinggal Mas Ilyas sedang hamil besar Mbak,”katanya sambil menunduk.


“Jadi Mbak juga menunggu Mas Ilyas selama itu?” tanyaku memastikan.


Intan mengangguk sambil menatap kearahku.


“Sebenarnya aku sempat putus asa Mbak, sebab selama itu Mas Ilyas tidak ada kabar sama sekali,” kata Intan sambil melihat ke arah suaminya yang berada di ruang tamu.


“Lalu? Bagaimana Mbak bisa bertahan selama itu?” tanyaku ingin tahu.


“Setiap kali aku putus asa aku mengingat kata terakhir sebelum Mas Ilyas pergi, kalau dia berjanji akan kembali secepatnya,” kata Intan dengan mata berkaca-kaca.


“Oh, ya Mas Ilyas juga cerita tentang Mas Abid, kalo dia berusaha untuk tetap hidup demi kembali ke Indonesia, dan menikani Mbak,” kata Intan.


“Maksudnya?” aku masih belum paham dengan apa yang dikatakan Intan.


“Lho apa Mas Abid gak cerita sama Mbak?” Intan balik bertanya kepadaku. Aku menggeleng kepala.


“Mbak, tolong ceritakan apa yang Mbak tahu tentang Abid,” pintaku sambil memegang tangan Intan.


Intan kemudian menceritakan kepadaku apa yang ia ketahui tentang Abid, dari awal Abid mencari orang tuanya hingga dia menjadi tawanan tentara Israel, sungguh diluar dugaanku, beberapa kali ia terkena peluru, ia tetap bertahan untuk menempati janjinya kepadaku. Tak terasa aku meneteskan air mata, begitu besar perjuangannya.
Aku meneteskan air mata kemudian kupandangi Abid dari balik lemari partisi.



Dek Intan, ayok sudah malem, kita pulang,”ajak Ilyas seraya berdiri, dengan segera kuusap air mataku agar Abid tidak mengetahuinya.


“Iya Mas,” jawab Intan yang masih duduk sebelahku diruang tengah.


“Mbak, aku pulang dulu ya, nanti kita sambung lagi, Mbak Main aja ke rumah, kita nanti bisa cerita-cerita lagi,” kata Intan sambil beranjak dari tempat duduknya.


“Iya Mbak, makasih ya,” kataku sambil membarengi Intan berjalan menuju ruang tamu.


Mereka berdua berpamitan. Aku lalu menutup dan mengunci pintu rumah.


“Dek, maaf tadi Mas lama ya? Soalnya Mas muter-muter cari makanan gak ada, cuma dapet mie instan, air mineral sama beberapa snack saja,” kata Abid.


“Gak apa-apa, sayang, lagian Mbak Intan sudah bawain makanan buat kita,” kataku sambil mendekati Abid dan memeluknya.


“Lho, ini Kamu, kok tumben bilang sayang, kenapa?” kata Abid sedikit kikuk, karena tiba-tiba aku merangkulnya.


“Emangnya gak boleh bilang sayang sama suami sendiri?” tanyaku sambil memandang wajah Abid.


“Boleh sih,” kata Abid tersipu malu.


“Sih? Kok ada kata sih, berrarti bisa gak bisa iya dong,” jawabku sambil cemberut.


Abid kemudian tersenyum, dan cuuup sebuah ciuman mendarat di keningku. Aku kaget dengan respon Abid yang tiba-tiba melayangkan ciuman.


“Ih, nakal deh, mau cium, gak bilang-bilang dulu,” dengan cepat aku melepas pelukanku, kini aku yang tersipu malu. Abid tertawa sambil menjulurkan lidahnya.


“Ya sudah, aku siapin dulu makanannya ya Mas,” kataku sambil beranjak untuk mengambil piring di dapur. Abid lalu duduk di kursi sambil makan bebarapa snack.
Aku kembali dengan beberapa peratan makanan, kuambilkan makan untuk suamiku terlebih dahulu.


“Segini Mas, nasinya?” tanyaku sambil memperlihatkan nasi yang kuambilkan.


“Iya,” jawab Abid singkat.


“Wah kayaknya Mbak Intan sengaja masak enak buat kita, lihat mas menunya, rendang, orak arik tempe sama sup,” kataku sambil menunjukkan beberapa menu yang ada di rantang tersebut.


“Iya bener katamu Dek, Alhamdulillah rejeki” ujar Abid seraya menerima piring yang berisi nasi dan sayur sambil tersenyum.
Abid kemudian menyantap makanan itu. Aku tak berhenti memandanginya.


“Mas, maafin aku ya, aku baru sadar kalau pengorbananmu cukup besar untukku, aku hanya Mas suruh menunggu, tapi, aku sempat melupakanmu, bahkan pernah menghadirkan Zahir, Al dan Lendra dihatiku,” kataku dalam hati.


“Lho, kok malah diam aja, ayo dimakan!” kata Abid membuyarkan lamunanku.


“Eh, iya,” jawabku, sambil menyendok makanan yang ada dipiring.



Bersambung.

Home
Diubah oleh Enisutri
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bekticahyopurno dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Cinta Sepekan
15-01-2020 23:01
Nitip. Part 10.emm
profile-picture
Enisutri memberi reputasi
1 0
1
Cinta Sepekan
07-01-2020 03:06
Quote:Original Posted By falestari
Narasi malam pertama nya agak gimana gituh ya mbak,, coba mbak baca cerpen "diorama sepasang albana" bagus tuh mbak penulisnya nyeritain malam pertama nya..


Okey, nanti aku baca deh , makasih banyak sarannya, dan masih udah mampir ke lapak ane, jangan bosen kasih krisan yaaemoticon-Kiss
profile-picture
falestari memberi reputasi
1 0
1
Cinta Sepekan
07-01-2020 03:03
Quote:Original Posted By falestari
Aseeekk punya boneka hidup.. emoticon-Smilie.. bisa dipeluk, ditonjok, ditendang,, wkwkwk tpi sayang gak bisa ditaruh di kaki jadi bantal kaki,,


Jangan ditonjok dong kasihan sisemoticon-Peluk dipeluk dielus-elus disayang dong emoticon-Ngakak
profile-picture
falestari memberi reputasi
1 0
1
Cinta Sepekan
Lapor Hansip
06-01-2020 14:46
Balasan post Enisutri
Narasi malam pertama nya agak gimana gituh ya mbak,, coba mbak baca cerpen "diorama sepasang albana" bagus tuh mbak penulisnya nyeritain malam pertama nya..
profile-picture
Enisutri memberi reputasi
1 0
1
Cinta Sepekan
Lapor Hansip
06-01-2020 14:24
Balasan post Enisutri
Aseeekk punya boneka hidup.. emoticon-Smilie.. bisa dipeluk, ditonjok, ditendang,, wkwkwk tpi sayang gak bisa ditaruh di kaki jadi bantal kaki,,
profile-picture
Enisutri memberi reputasi
1 0
1
Cinta Sepekan
05-01-2020 12:01
Quote:Original Posted By tinwin.f7
pisaunya dibawa g?


Woyadong
0 0
0
Halaman 1 dari 11
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
illusi
Stories from the Heart
the-piece-of-life
Stories from the Heart
cinta-di-dinding-biru
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Heart to Heart
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia