Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
117
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5dca8159337f93523d6b4c24/cinta-sepekan
Ponselku berdering tanda notifikasi muncul, kuintip ponselku yang sedari tadi tergeletak diatas ranjang. Ada sebuah pesan "Assalamu'alaikum, aku Zahir duda, punya anak kembar, ingin mencari pendamping yang serius aja. Jika berkenan aku mau perkenalan, jika tidak abaikan pesan ini."
Lapor Hansip
12-11-2019 16:54

Cinta Sepekan

Past Hot Thread
Cinta Sepekan
Image: ganet

Quote:kutatap foto dua wajah polos anak kecil itu, dengan perasaan bercampur aduk, aku hanya bisa memandangi. akhirnya kita belum berjodoh, walaupun hanya sepekan tapi tak bisa bohong bahwa hati ini sudah kuberikan kepadanya


****


Ponselku berdering tanda notifikasi muncul, kuintip ponselku yang sedari tadi tergeletak diatas ranjang. Ada sebuah pesan

"Assalamu'alaikum, aku Zahir duda, punya anak kembar, ingin mencari pendamping yang serius aja. Jika berkenan aku mau berkenalan, jika tidak abaikan pesan ini."

Seketika mataku terbelalak memandangi layar ponsel, rasa curiga bercampur aduk langsung saja aku menghampiri mbk iparku yang masih asyik memasak sambil mendendangkan lagu dangdut dibarengi tarian yang entah dia ciptakan sendiri atau justru plagiat tapi gagal total. pokoknya yang ada melihat atraksi komedi bukan melihat diva sedang menyanyi.

"mbk Imah... ini pasti ulah mbk Imah" sambil menyodorkan ponsel yang kubawa tadi

"Apa sih nduk?" matanya menyipit melihat dengan seksama ponselku.

"Alhamdulillah akhirnya usaha mbk gak sia-sia ada yang mau ngajakin kamu serius itu nduk, udah cepetan dibalas, jangan kelamaan, nanti keduluan yang lainnya, mbk udah gak sabar dapat adik ipar ini. Kamu udah kelamaan menjomblo umurmu udah pangkat 3 lho".

"Jadi, beneran ini ulah mbk Imah? Mbk...." belum sempat aku bicara mbk Fatimah udah memotong pembicaraanku.

"Nduk kali ini dengarkan mbk!" Wajah serius mbk Fatimah yang jarang aku lihat selama ini

"Nduk apa salahnya dicoba dulu, kenalan kan belum tentu langsung suruh menikah hari ini juga to, kalo gak cocok juga bisa mundur, siapa tahu ini memang jodoh yang dikirim Allah buat kamu, tentang statusnya duda atau perjaka itu gak masalah yang penting pertama agamanya". Jelas mbk Fatimah, aku lalu dia. Tanpa kata apapun aku melangkah gontai menuju kamarku.

Kupandangi chat dari nomor tak bernama itu, dalam hati berkata "Zahir, okeylah aku akan coba mengenalnya." Aku mengikuti saran mbk Imah.

Ku balas chat itu "Wa'alaikumsalam, maaf saya lama balesnya jujur saya terkejut mendapat chat darimu. Kalau memang berkenan silakan berkenalan dulu tak apa-apa. Tujuanku juga serius mencari pendamping hidup". Isi chat tersebut sangat kaku.

Selang beberapa detik ponsel berbunyi, dia membalasnya lagi "Terimakasih, boleh saya telpon kamu?"

Aku berfikir agak lama akhirnya kumengiyakan. Tak lama ponsel berdering tanda panggilan masuk. Rasa gemetar tanganku meraih ponsel.

"Assalamualaikum, ini Ranum ya?." Suara serak dan sedikit berat terdengar merdu membawaku pada lamunan

"Wa....wa'alaikumsalam, iya benar, kamu eh gmn aku panggilnya?"

"Panggil Zahir biar lebih akrab, lagian kita kayaknya masih sebaya, umurku 28 tahun, kamu?"

"Apa? Aku, em...aku sudah 31 tahun." Aku agak malu menyebutkan umur karena usiaku dibilang sudah kadaluwarsa.

"Oh jadi kita selisih 3 tahun ya?"

"Iya, tapi aku lebih tua dari kamu? bagaimana?"

"Gak masalah buatku, yang penting mau aku ajak ibadah dan dalam hal kebaikan"


Lama kami terdiam saling menunggu satu sama lain membuka obrolan lagi, tapi tetap saja hening. Lalu dia kemudian mulai berbicara lagi

"Ranum, aku orang to the point aja ya, niat aku serius sama kamu, aku tidak mau pacaran aku maunya langsung menikah aja."

"Apa?"aku agak gugup karena Zahir tidak suka basa basi

" tapi apa kamu sudah yakin memilih aku, kamu kan belum kenal aku seperti apa?"

"Inshaa Allah aku yakin, jadi kamu siapnya kapan nanti aku akan ketempatmu untuk melamarmu."

" Tapi, kamukan belum tahu tentangku, misalnya saja biodataku."

"Aku sudah tahu kok, kan sudah dapat bio datamu, nama,alamat, nama ayah, cita citamu, semua aku tahu dari biro jodoh online"

"hah??" Aku kaget seingatku aku tidak pernah mengikuti ajang biro jodoh, aku berpikir keras jangan-jangan waktu itu, yah aku ingat waktu itu mbk Imah memintaku menulis biodata selengkap-lengkapnya alasannya untuk mencarikanku pekerjaan, oh ternyata mbk Imah dibalik semua ini.

"Halo, kamu masih dengar suara aku?"

"Iiya...ya aku dengar kok!"

"Ya sudah nanti disambung lagi, aku mau tugas dulu."

"Tunggu sebentar!, aku mau tanya kamu duda karena bercerai atau istri meninggal?"

"Istri aku meninggal waktu melahirkan si kembar, oh ya aku kirim foto anak-anakku ya."

Aku memandangi ponsel ku buka chat di wa, aku menerima foto anak kecil mungil dengan bola mata bulat, cantik sekali.

"Ya aku udah lihat anak-anak, anak-anak sekarang sama siapa kalau kamu kerja?"

"kalau aku kerja sama pengasuhnya, okey udah dulu ya nanti disambung lagi, assalamualaikum."
Ia mengakiri salam dan aku membalas salam itu seketika itu tlp mati. Aku masih terpaku sambil menggenggam ponselku.

Ke esokan harinya, pagi-pagi aku sudah mendapat wa darinya , "assalamualaikum, kamu lagi ngapain?".

Entah kenapa hati ini mulai berdebar membaca pesan itu, lalu kubalasnya.

****


Selama empat hari berurut-turut, kami hanya ngobrol lewat pesan saja. Tapi itu sudah cukup membuat aku bahagia, dan aku sudah mulai menyukainya. Ya...aku sudah jatuh cinta.

Hari kelima, aku memandangi ponsel berharap dapat pesan darinya, tapi tidak. Rasa kangen mulai muncul dengan tiba-tiba. Tapi tetap saja aku tidak berani menulis pesan terlebih dahulu.

Hari keenam, aku bercerita kepada mbk iImah tentang Zahir dan sejauh mana kami merencanakan pernikahan yang dibilang dadakan. Belum bertemu, aku sudah mantap, yang kutahu hanya namanya dan nama kedua anaknya selebihnya aku tidak tahu apapun.

Mbak imah menyarankan. aku untuk bicara ke Bapak, tapi sebelm itu mbk Imah memintaku untuk menanyakan identitasnya lengkap karena hanya itu yang bisa mdnjadi gambaran dan acuan.

Hari ketujuh, sudah dua hari kami tidak komunikasi, akhirnya aku memberanikan diri untuk langsung meneleponnya. Panghilan siara aktif telepon berdering namun tiba tiba panggilan ditolak. Aku penasaran aku ulangi panggilan telpon lagi. Tapi tetap saja ditolak.

Aku mulai khawatir selang beberapa detik wa darinya

"Hmm"

"Kamu lagi ngapain, kok telponku gak diangkat?"

" Aku lagi nyantai, wa aja ya, aku lagi gak pengen terima telpon"

"Lho kenapa, aku mau bicara kan lebih enak bicara langsung dari pada nulis pesan."


Ada perasaan aneh yang aku pun tidak bisa menggambarkannya. Aku mulai tidak yakin bahwa Zahir ini bener-benar serius.

"Oh ya anak-anak mana?" Ku mulai menanyakan anaknya lewat chat

"Dah tidur"

"Fotoin ya, aku mau lihat mereka"

"Ah ribet."


"Lho kok gitu, aku hanya minta foto, aku pengen lihat, aku memang suka sama anak-anak. Ayolah fotoin, oh ya mana biodata kamu? Kok gak kamu kasih sih?" bujukku

" kamu ini belum menikah sudah minta ini itu."

"Apa?" Aku terkejut dengan balasanya itu.
"Lho aku minta apa to? Kan katanya kamu serius sama aku, aku cuma minta biodata dan fotoin anakmu. Kok kamu bilangnya begitu,

"Akhir bulan ini kan aku ketempatmu nanti tahu sendiri to."


"Lho ya gak gitulah, aku kan belum bilang sama bapakku, makanya aku minta biodata sama kamu, la terus apa yang harus kuceritakan sama bpk, aku aja hanya kenal namamu tak lebih dari itu."

"kamu itu ribet ya"

"okey kalau emang kamu gak mau kasih data ke aku, aku tak mundur aja dari perkenalan kita, apalagi kamu bilang aku suka minta hal-hal yang aneh, menurutku itu wajar lho. Aku malah ada kesan curiga sama kamu."

" Jadi kamu mundur berarti selama ini modusin aku, kamu php aku ya?."

"Mana ada aku serius kok, justru aku itu ragu sama kamu".

" ya udah gak usah wa aku lagi, bye...".


Seketika nomorku sudah diblokir, dan aku mencoba menulis pesan terakhir entah itu terkirim atau tidak

" aku minta maaf, selama ini aku percaya sama kamu, sudah kugantungkan harapan kepadamu, dan ada ruang kosong yang aku khususkan untuk kau tempati di hatiku, tapi seketika kamu telah menghancurkannya. Biarlah Allah nanti yang menjelaskan bahwa selama ini aku tidak penah mempermainkanmu, wakaupun cuma sepekan tapi tetap saja kamu punya tempat terindah disini wassalamu'aikum".


Lanjut
Part2-Bukan Cinta Sepekan

Part 3-Gelisah

Part 4- Gejolak

Part 5 Maaf

Part 6 Chef Al bag. 1

Part 7 Chef Al Bag. 2

Part 8 Chef Al Bag. 3

Part 9 Tulisan di Bangku Sekolah
Diubah oleh Enisutri
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Indriaandrian dan 19 lainnya memberi reputasi
20
Halaman 1 dari 6
Cinta Sepekan
12-11-2019 16:54

Part 2-Bukan Cinta Sepekan

Cinta Sepekan

Quote:Kertosono, 20 April 2009

Untuk Ranum

Assalamualaikum,
Ranum ... sebelumnya aku minta maaf, sebenarnya aku bisa langsung memberi tahumu tanpa harus meninggalkan surat untukmu, tapi, entah kenapa setiap aku ingin mengatakan rasanya tak mampu, dan aku makin bersalah kepadamu.


Ranum ... saat kamu terima surat ini, aku tidak bisa lagi menatapmu, aku pergi untuk mencari orang tua kandungku, sembari aku meneruskan cita-citaku untuk menjadi ahli forensik, mungkin kepergianku ini terlalu mendadak dan tidak ada ucapan selamat tinggal, karena aku tak akan pernah mengucapkan selamat tinggal kepadamu.

Ranum...tetaplah menjadi gadis yang ceria, jangan bersedih mengingatku, kita hanya dipisahkan oleh benua, tapi sebenarnya kita sehati.

Ranum ... aku mencintaimu, entah sejak kapan rasa ini mendiami qalbuku, bukannya aku tidak berani mengatakannya, tapi aku tidak ingin cinta ini ternoda saat kita bersama, yang aku inginkan adalah segera menghalalkanmu, kuharap kamu mau menungguku, setelah semua urusanku selesai inshaa Allah aku akan kembali ke Indonesia secepatnya.

Dari Sahabatmu

Abid


Kuremas surat itu, tanpa aku sadar cairan bening mulai mengalir membasahi pipiku.

"Kamu jahat Abid, berarti selama ini aku tak kau anggap sahabatmu, tak pernah kamu ceritakan masalahmu kepadaku,"kataku dengan rasa sedih.

Tiba-tiba aku dikejutkan suara panggilan
"Nduk, nduk, Kamu dimana?"
" Aku di kamar Mbk?" Sambil kuseka mataku menghilangkan jejaknya. Dari balik pintu muncul sosok wanita yang bertubuh subur, dengan tinggi kira-kira 159 cm, ialah Mbk Imah, istri Kak Farhan, Kakak Ipar yang seperti ibu, dan sahabatku. Ya aku memang sudah tidak mempunyai ibu, ibuku meninggal waktu aku duduk di bangku SMP, beliau sakit diabetes.

"Nduk, Kamu gak berangkat kuliah to?"tanya Mbak Imah.

"Iya mbk ini mau siap-siap." Aku mengemasi buku dan peralatan tulis kumasukkan kedalam tas ranselku.

"Oh ya nduk, Mbk pengen tanya, Mbk dengar dari tetangga, temenmu itu siapa namanya ... emang ..."

"Abid mbk"jawabku meneruskan kata-kata Mbak Imah.

"Yap betul, kata tetangga yang tadi ngrumpi pas beli sayurnya Paklek Kodir, dia keluar negeri dapat beasiswa, terus yang paling heboh dia itu bukan anak kandungnya Pak Salam, ada yang bilang anaknya orang bule gitu, tapi kalo dilihat dari postur tubuhnya tinggi putih hidungnya mancung beuh jan cakepnya nduk.... emang kamu gak naksir sama dia nduk?" Pertanyaan yang membuat aku sontak kaget.

"Apa? Em ... enggaklah mbk!, mana ada dia kan sahabatku mbk."bantahku.

"Kamu ini nduk-nduk payah ... kapan punya pasangan dari semenjak kematian Lana waktu kamu duduk dibangku SMA sampe kuliah apa masih belum bisa membuka hati, masa sih gak ada yang nyantol sama sekali?".

Aku memandangi Mbak Imah yang berlalu meninggalkan kamarku menuju ruang tengah. Kukemasi buku dan peralatan tulis lalu kumasukkan kedalam tas ransel. Dengan segera aku meraih ponsel untuk meminta konfirmasi kepada Abid, kutekan nomor yang sudah hafal diluar kepala.

"Nomor yang anda tuju sedang berada diluar jangkauan" kata si Mbak Operator.

Mungkin dia masih di rumahnya, bergegas aku menuju kerumahnya dengan berlari. Rumah kami memang tidak begitu jauh.

Didepan rumah Abid aku mengetuk pintu dan mengucap salam.

"Assalamualaikum."

Pintu terbuka, kulihat laki-laki berumur 68 tahun dengan kumis tipis dan rambutnya yang mulai memutih ialah Pak Salam

" eh, nduk Ranum, mari masuk."kata Pak Salam memepersilakan masuk.


Aku memasuk kedalam rumah, Pak Salam mempersilahkan aku duduk.

"Ngapunten pak, Abid ada Pak?"tanyaku kepada Pak Salam.

"Lho, apa Abid tidak pamitan sama Kamu nduk? dia sudah berangkat kemaren."jawab Pak Salam.

"Kemana Pak? dia hanya meninggalkan surat Pak."tanyaku.

" Abit dapat beasiswa untuk riset ke Australia, oh ya nduk, dia sudah bercerita belum, kalau sebenarnya dia itu bukan anak kandung Bapak?" Aku mengangguk perlahan.

"Dulu waktu Bapak sering plesir keluar negeri, Bapak tak sengaja bertemu anak itu. Di negara Palestinalah kami bertemu. Waktu itu, Bapak sedang menuju jalur Gaza tapi, karena serangan dadakan dari tentara Israel, Bapak dan rombongan aktivis lainnya menghentikan perjalanan, kami berhenti pada sebuah rumah kecil, dan tak sengaja mendengar isak tangis seorang anak, ia memanggil-manggil ibu dan Bapaknya, anak itu tak lain adalah Abid."Pak Salam menceritakan panjang lebar.

"Bapak lalu mengampiri dan menggendongnya, mengajaknya ikut kerombongan kami, kira-kira waktu Bapak temukan umur 2 tahun, disana, Bapak berusaha mencari keberadaan orang tuanya, dikabarkan ibu dan Adiknya menjadi korban serangan israel, sedangkan ayahnya ikut berjuang menjadi tetara Palestina, namun, tak pernah kami menjumpai Bapak kandungnya Abid."kata Pak Salam.

"Nama asli sebenarnya bukanlah Abid, namanya adalah Shaiqh Abdul Hakim bin Abdullah. Singkat cerita, Bapak adopsi Abid dan membawanya ke Indonesia,"

" Walaupun Bapak membawanya pulang ke tanah air, Bapak tetap berusaha mencari informasi tentang orang tua kandung Abid melalui kolega Bapak yang ada di Palestina, setelah 25 tahun kami mendapat kabar bahwa Bapak kandungnya masih hidup, dan itu salah satu alasan Abid tertarik dengan ilmu forensik".

****


Tahunpun berganti tak pernah sekalipun aku mendapat kabar dari Abid, bahkan Pak Salam pun juga tidak mendapat kabar darinya.

Nomor telponnya masih aku simpan dan sesekali aku menghubunginya. Namun jawabannya lain "Maaf nomor yang Anda ketik tidak terdaftar" suara operator berkali-mengingatkanku.

" Abid 9 tahun aku menunggu kabarmu, dalam suratmu Kau bilang secepatnya akan pulang ke Indonesia, tapi, Kamu bohong Abid, setidaknya kabari aku, Aku menunggu hal yang tak pasti, kini usiaku sudah 31 tahun, orang mencemooh aku karena aku tidak segera mendapat pasangan.
"Haruskah aku melupakanmu dan membuka hati yang sudah lama aku tutup demi menunggu kedatanganmu".


bersambung



home
Diubah oleh Enisutri
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Indriaandrian dan 7 lainnya memberi reputasi
8 0
8
Lihat 1 balasan
Cinta Sepekan
12-11-2019 16:56
setidaknya ranum telah jujur pada dirinya kalau ia memang menyukai Zahir, tapi mumgkin sifat Zahir yang tetlalu tertutup membuatnya mundur
profile-picture
Cahayahalimah memberi reputasi
1 0
1
Cinta Sepekan
12-11-2019 16:57
bagaimana ya kalau cerita ini dilanjutin jadi cerbung?
0 0
0
Cinta Sepekan
12-11-2019 16:58

Part 3-Gelisah

Cinta Sepekan

Sudah hampir sepekan setelah Zahir memblokir nomorku, aku masih terus memikirkannya. Tanpa ia tahu, berkali-kali aku coba menghubungi tapi tidak bisa. Mungkin nomornya juga sudah ia ganti.

Setiap aku melihat kelayar ponsel, disitu aku masih menyempatkan membuka pesan-pesan yang ia kirim, aku baca satu persatu.

"Ah.... mungkin dia sudah melupakanku, mungkin dia juga tidak serius waktu itu, atau mungkin dia sudah mendapat jodoh yang baru?" banyak pertanyaan didalam hatiku.

Kadang aku benci dengan diriku sendiri yang plin-plan, aku juga tidak memahami apa yang sebenarnya aku rasakan. Yang jelas, aku ingin sekali saja mendengar suaranya. Dan yang terpenting yaitu aku harus meminta maaf kepadanya.

"Ya... aku harus minta maaf kepadanya, mungkin ini yang mengganjal dihatiku sepekan ini".[/I] Aku bicara sendiri.

****


Malam itu, rasa kantukku tidak tertahan, kutengok jam dinding yang tepasang disebelah barat kamarku.

"Masih jam 8.00, kok aku ngantuk banget ya ..." gumaku dalam hati, sambil menguap aku merebahkan tubuhku diatas kasur.

"Tok ...tok ...!" suara pintu kamar diketuk.

"Nduk, nduk ranum!" suara yang tidak asing ditelingaku, siapa lagi kalo buka Mbak Imah.

"Iyaa mbk," sambil mengucek mata yang sudah mulai memerah. Aku menuju kepintu kubuka kunci pintu dan kutarik handel pintu

"Ada apa Mbak?" tanyaku kepada Mbak Imah

"Ya Allah! kok kamu kusut banget? sana cepetan ganti baju, Mbk, Mas, sama Bapak mau jalan. Ayok ikut!" ajak Mbak Imah.

"Apa Mbk? jalan? aku gak ikutan Mbk. Aku ngantuk banget. Tadi di sekolah ada anak yang minta gendong, dia nangis terus, aku gendong sampe habis jam pelajaran," kataku menjelaskan alasan aku tidak bisa ikut ajakan Mbak Imah.

"Jadi, kamu beneran gak mau ikut nih?"aku menggeleng.

"Gak nyesel gak ikut lihat pameran? Ini malam terakhir lho ...,"

"Gak mbk, mataku gak bisa kompromi ini,"

Dari sudut ruang tengah keluar sosok yang berumuran 60 tahun dengan baju lengan panjang batik, melempar senyum sambil menghampiriku dan mbk imah.

"Nduk kok belum siap-siap?"tanya Bapak kepadaku.

"Ngapunten Pak, Ranum tidak bisa ikut, Ranum capek banget Pak,"kataku menjelaskan kepada Bapak.

"Yowes istirahat di rumah aja. Bapak tak jalan-jalan, Masmu sama Mbkmu ini yang maksa Bapak ikut". Sambil melirik Mbk Imah.

"Nduk! Mbk sama Bapak berangkat dulu ya, jangan lupa dikunci semua jendela dan pintu, Mbk bawa sudah bawa kunci cadangan,"kata Mbk Imah.

Tak lama Mas Farhan muncul juga. Mereka bertiga menuju ke pintu keluar. Aku mengikuti dari belakang. Setelah mereka keluar, aku lalu mengunci pintu. Aku cek kembali jendela yang belum terkunci, kemudian menuju ke kamar.

Aku lalu menuju ke tempat paling nyaman yaitu kamar. Karena rasa kantukku yang tidak tertahan, tak perlu waktu lama untuk terlelap tidur.

****


"Zahir, kamu Zahir kah?" Aku melihat Zahir sedang duduk di ruang tunggu Stasiun Kertosono.

" Ranum?"Ia menoleh kearahku.

Aku mengangguk sambil melepas senyum, rasa tak percaya kalau Zahir datang menemuiku. Kuulurkan tangan untuk bersalaman, sebentar ia menatap, lalu menjabat tanganku. Aku pun duduk disebelahnya.

"Kenapa Kamu gak kasih kabar kalau mau kesini?"tanyaku penasaran.

"Kalo aku bilang, gak surprize dong!"jawab Zahir.

"Kukira Kamu benar-benar marah padaku?"Zahir hanya membalas dengan senyuman.

"Zahir maafkan atas sikapku, sepekan yang lalu, ucapanku mungkin menyinggungmu, Aku tak bermaksud menipumu, jujur aku sangat menyesal karena ego dan ketidak percayaanku padamu, itu yang membuat aku tiba-tiba mengambil keputusan, maafkan aku Zahir,"ucapku dengan mata berkaca-kaca.

"Sudahlah, jangan diingat lagi, aku memakluminya,"Zahir menenangkanku.

"Jadi, sekarang rencanamu apa?"tanyaku

"Ya ... aku akan melamarmu?"jawab Zahir singkat.

"Apa? Sekarang?"Jantungku berdetak kencang, tiba-tiba aku merasakan hal aneh, aku gemetar, tak percaya dengan kata-kata Zahir.

"Ayo kerumahmu, aku mau menemui Bapakmu dan minta restu."sambil mengulurkan tangannya.

Kuangkat tanganku yang masih gemetar dan menyambut tangannya, namun secepat kilat tanganku disambar oleh seseorang. Ia menarikku menjauh dari Zahir.

Aku menoleh, melihat sosok laki-laki yang tiba- tiba datang dan memegang pergelangan tangan kananku, tapi wajahnya tidak jelas karena terkena sorot lampu yang menyilaukan.

Ia masih mencengkram pergelangan tanganku dengan kuat, aku meronta.

"Lepaskan tanganku!, kamu siapa?" berulangkali aku mencoba melepaskan gengaman itu, malah justru lebih kuat.

Aku menoleh kearah Zahir, aku panggil dia.

"Zahir ...! Zahir ...! tolong aku, tolong aku!" Aku ditarik dan dibawanya dengan paksa melangkah menjauhi tempat Zahir berdiri. Aku dan Zahir semakin jauh, aku melambaikan tangan kiriku kearah Zahir. Terlihat disana Zahir hanya terpaku. memandangku. Semakin jauh, jauh dan jauh. Tiba-tiba wajah Zahir tak kulihat lagi.

"Zaaa ... hiir ...!". Teriakku.

bersambung

home
Diubah oleh Enisutri
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Indriaandrian dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Cinta Sepekan
12-11-2019 16:59
silahkan krisannya ya gansis, ini pertama kali ane bikin cerpen. jadi mohon maaf jika kurang menarik
profile-picture
corongalam memberi reputasi
1 0
1
Cinta Sepekan
14-11-2019 18:49
Wah. Cerita seru, selamat hot tread
0 0
0
Cinta Sepekan
14-11-2019 18:49
Lanjutin juga bagus.
Izin bangun tenda.
emoticon-nyantai
profile-picture
profile-picture
Richy211 dan Enisutri memberi reputasi
2 0
2
Cinta Sepekan
14-11-2019 18:52
Quote:Original Posted By Enisutri
silahkan krisannya ya gansis, ini pertama kali ane bikin cerpen. jadi mohon maaf jika kurang menarik


Coba dibaca ulang lagi ya, masih ada tulisan yang disingkat seperti tlp seharusnya teleponemoticon-Blue Guy Cendol (L)emoticon-Blue Guy Cendol (L)
profile-picture
Enisutri memberi reputasi
1 0
1
Cinta Sepekan
14-11-2019 18:54
Quote:Original Posted By erina79purba
Coba dibaca ulang lagi ya, masih ada tulisan yang disingkat seperti tlp seharusnya teleponemoticon-Blue Guy Cendol (L)emoticon-Blue Guy Cendol (L)


Iya ester makasih sarannya. Itu juga banyak yang typo
profile-picture
erina79purba memberi reputasi
1 0
1
Cinta Sepekan
14-11-2019 18:56
Quote:Original Posted By Enisutri
Iya ester makasih sarannya. Itu juga banyak yang typo


Masih bisa kali diperbaikiemoticon-I Love Indonesia
profile-picture
Enisutri memberi reputasi
1 0
1
Cinta Sepekan
14-11-2019 18:56
Quote:Original Posted By indahmami
Lanjutin juga bagus.
Izin bangun tenda.
:nyantai


Iya secepatnya tak lanjutin, ranumnya masih jomblo soalnya.
profile-picture
indahmami memberi reputasi
1 0
1
Cinta Sepekan
14-11-2019 18:57

Part 4- Gejolak

Sontak aku langsung terbangun, dengan nafas yang masih terengah-engah. Ku atur nafasku perlahan. Dan aku mulai mengingat kembali mimpi tadi, dari awal aku ingat, mimpi bertemu Zahir, tanpa sadar aku senyum-senyum sendiri.

Rasa kangen yang selama sepekan mulai terobati walau hanya dengan memimpikannya.

Entah perasaan macam apa ini, aneh jika dilogika. Tapi ini sangat menggangu pola tidur dan pola makanku.
"Semua ini gara-gara Zahir" Aku menyalahkan dia atas perasaanku.

Aku mencoba lagi mengingat mimpi tadi malam, dan ya aku ingat semua, awalnya aku memang bertemu Zahir, tapi setelah itu ada sosok yang memisahkan aku dengannya. Aku tambah penasaran dengan sosok itu.

"Nduk... nduk... sudah bangun kah?" Terdengar suara panggilan dari luar pintu kamarku.

" Sudah mbk!"

"sudah sholat?"

"belum mbk," sambil beranjak dari tempat tidur membuka pintu kamar.

"Nanti kalo, sudah selesai, bantui mbk ya...?"

"Iya mbakku yang bawel!"

Aku lalu menuju kekamar mandi. Untuk wudhu kemudian sholat. Setelah itu membantu mbk Imah menyiapkan sarapan.

****


"Bu guru....bu guru... gambar Puput bagus kan bu....?" Seorang anak kecil mengguncang guncang pundakku, sontak aku tersadar dari lamunan.

"Hah... mana coba ibu guru lihat?"

"Ini bu.." puput memperlihatkan hasil gambaranku.

"Wah! hebat puput ya, gambarannya bagus, mewarnainya gak keluar garis pinter murid ibu satu ini" sambil kucubit manja pipi puput, dia begitu senang sekali.

Hari ini terasa hari yang panjang dari biasanya. Masih saja mimpi semalam menggangu pikiranku. Aku mencoba melupakan tapi tetap saja mengganjal dipikiranku. Aku hanya ingin memastikan perasaanku terhadap Zahir. Aku ingin sekali menghubunginya tapi tetap tidak bisa. Aku terus mencari cara.

"Astagfirullah... kok gak kepikiran ya,, kan nomor yang diblokir cm nomor yang aku pakai saat ini. aku bisa pake nomor lain dong untuk menghubunginya. Ya allah...... Ranum kamu ini telat banget mikirnya" aku berbicara sendiri.

Jam mengajar sudah selesai. Aku lalu bergegas pulang, eh bukan pulang tapi mampir dulu ke counter untuk membeli nomor baru.

"Mbk, cari apa?" Tanya si penjual kepadaku

"Cari kartu perdana sm***fr**"

"Ini silahkan dipilih" ia menunjukkan jajaran kartu tersebut di dalam etalase.

"Mbk yang belakangnya 93 mbk"

"Yang ini? " menunjukkan ke kartu dengan nomor yang aku maksud.

Aku mengangguk. Mbk si penjual lalu mengambilkannya untukku.

" ini gak perlu daftar ya mbk langsung aktif bisa dipakai buat telpon, sms, dan ada bonus paket datanya juga. Kebetulan kartu yang mbk pilih ini lagi promo".

"Okey mbk".

Aku lalu membeli kartu tersebut. Kemudian aku bergegas mpulang kerumah.

***

Sampai dirumah aku langsung menuju kekamar, ku ambil kartu yang aku beli tadi dari tas ku. Masih ku pandangi kartu perdana itu, dengan perasaan ragu-ragu.

"pantas gak sih aku menghubunginya terlebih dahulu?"
Aku masih ragu dan takut. Tapi bagaimana lagi aku ingin memastikan agar semuanya jelas. Dan tak lagi berlarut-larut.

Aku lalu memasang kartu tersebut kedalam ponselku. Kubuka beranda pertama layar ponsel, masih berfikir sejenak. Akhirnya mulai mengetik nomor yang tetnyata sudah aku hafal sebelumnya.

Bunyi panggilanku terdengar dari ponselku, tanda nomor tersebut aktif.

................

"Zahir aku mohon angat telponku..." aku berbicara didalam hati.

...............

" hallo... hallo.... assalamualaikum ini siapa ya?"

bersambung

home
Diubah oleh Enisutri
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Indriaandrian dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Cinta Sepekan
14-11-2019 19:22
PUEBI-nya juga dicek lagi ya, misalnya kalimat langsung itu setelah tanda (") ngga ada spasi dan pakai huruf kapital. Juga pemakaian koma dan huruf kapital masih kurang tepat, misalnya: "Nduk kali ini dengarkan mbk!" ini harusnya "Nduk, kali ini dengarkan Mbak!"
profile-picture
profile-picture
sriwijayapuisis dan Enisutri memberi reputasi
2 0
2
Cinta Sepekan
14-11-2019 19:45
Menarik
profile-picture
Enisutri memberi reputasi
1 0
1
Cinta Sepekan
14-11-2019 20:00
aaaaaaaaak apiiiik.. lanjut mbaak.🙊
profile-picture
Enisutri memberi reputasi
1 0
1
Cinta Sepekan
14-11-2019 20:32
seru ceritanyaaaa, kok udahan kelarnya ? emoticon-Bingung (S)



Quote:ID PENGEPUL BATA emoticon-Bata (S)
profile-picture
profile-picture
Dejavu15 dan Enisutri memberi reputasi
0 2
-2
Cinta Sepekan
14-11-2019 21:39
Quote:Original Posted By Enisutri
Iya secepatnya tak lanjutin, ranumnya masih jomblo soalnya.


Ditunggu kelanjutan'y mb.
emoticon-Shakehand2
profile-picture
Enisutri memberi reputasi
1 0
1
Cinta Sepekan
15-11-2019 02:48
Quote:Original Posted By colongan.id
seru ceritanyaaaa, kok udahan kelarnya ? emoticon-Bingung (S)


Insha allah dilanjutin lagi
0 0
0
Cinta Sepekan
15-11-2019 02:51

Part 5 Maaf

“Halo ... halo ... assalamualaikum, dengan siapa saya berbicara?” suara Zahir yang terdengar masih sama seperti awal ia meneleponku.

“Halo ... maaf ini siapa?”kembali Zahir menegaskan pertanyaannya.

Aku masih terdiam, jantungku berdetak cepat, dan aku mulai merasa gemetar. Tapi, aku beranikan untuk berbicara kepadanya.

“Za ... zahir, ini aku Ranum,” jawabku sedikit gugup.

“...........” tak ada jawaban darinya, tapi panggilan ini masih aktif, berarti ia masih mendengarkanku.

“Maaf, aku ganggu waktu kamu, aku cuma ingin bilang maaf,”

“...............” tetap tidak ada jawaban darinya.

“Halo, Zahir, kamu masih mendengarku kan?aaa ... ku bingung bagaimana aku menjelaskan kepadamu, aku sangat menyesal karena tidak mempercayaimu,”

“Lalu ...?” ia mulai merespon.

Aku terdiam sejenak berpikir, dia menunggu jawabanku. Kami masih terdiam untuk beberapa menit.

“Aku, cuma mau jelasin kalau Aku tidak ada maksud mempermainkanmu waktu itu , “

“Udah itu aja, “ jawabnya ketus.

“Aku tahu Kamu marah, tapi setidaknya dengarkan dulu, aku menghubungimu karena, aku ingin meluruskan kesalahpahaman kita, itu yang mengganjal dipikiranku, aku benar-benar tidak mengharapkan apa-apa, toh, kita kenal dengan cara baik-baik, kenapa kita berpisah dengan cara yang tidak baik? waktu itu, aku memang egois, tidak menerima alasanmu, tolong ... maafkan aku Zahir,”

“Okey, aku maafin kamu, tapi bukan berarti kita bisa berhubungan lagi ya, sekarang, aku udah menjalani proses perkenalan lagi dengan yang lain, karena waktu itu kamu mundur, jadi aku cari yang lain.”jawab Zahir dengan nada sedikit tinggi.

“Iya, memang ini semua salahku,” jawabku menyetujuinya.

“Ada yang perlu dibicarakan lagi?”

“Tidak ada,”jawabku singkat.

“Emm ... aku lagi banyak kerjaan ini.” kata Zahir.

Aku tahu itu adalah kode dimana Zahir ingin segera menyudahi panggilanku.

“Iya, sekali lagi maaf, aku ganggu waktumu, assalamualaikum,”

“ Waalaikumsalam,” jawab Zahir sembari menutup telpon dariku.

Aku mengenggam ponselku dengan erat, aku tidak berpura-pura kalau aku baik-baik saja. Itu terbukti dengan air mata yang membasahi pipiku. Saat ini aku memang sedang patah hati.

“ Ranum, semua sudah berakhir, jangan disesali, dia bukan jodohmu,” Aku menghibur diri sendiri. Aku menangis meluapkan semua perasaan yang telah bertumpuk selama beberapa pekan ini.

***

Pagi ini aku bangun. Seperti biasa, Mbak Imah masuk ke kamarku. Dia melihat mataku yang sembab.

“Nduk, kenapa? Kamu sakit ya?” sambil memegang keningku untuk memastikan apakah aku deman.

“Aku nggak sakit Mbak, cuma ...”

Aku ceritakan semua kepada Mbak Imah, tentang Zahir, tentang mimpiku, tentang aku menghubunginya dan tentang perasaanku, dibarengi dengan isak tangis. Setelah menceritakan semuanya kepada Mbk Imah, pikiranku lumayan plong. Kini aku memulai aktifitasku seperti biasa, pola makan dan tidur pun kembali normal. Nama Zahir kini hanya menjadi cinta sepekan untukku.

***

Ponselku berdering, tanda pesan WA masuk. Pesan itu dari Kepala Sekolahku

“Bu Ranum, Ibu terpilih menjadi salah satu peserta seminar di Jakarta mewakili IGTKI sekabupaten Kertosono. Selama kurang lebih satu minggu. Untuk biaya akomodasi, hotel dan komsumsi sudah ditanggung pihak penyelenggara. Selebihnya apa yang harus ibu persiapkan, kita bicarakan besok di sekolah. Pekan ini ibu bersiap untuk berangkat”

“Hah ... seminar? di Jakarta? aku kan belum pernah kesana,”

***

Minggu pagi, kami sekeluarga bisa kumpul bersama di meja makan. Ini adalah momen langka. Sebab, Mas Farhan yang selalu absen, kali ini Mas Farhan libur, jadi kami bisa makan bersama.

“Tumben hari ini kita bisa kumpul makan bersama,” kata Bapak membuka obrolan.

“Iya Pak, Mas Farhan itu yang jarang bisa kumpul, lembur terus!” Aku melirik Mas Farhan dan dia hanya tersenyum pasrah.

“Tapi, ini masih belum lengkap lho ...” sela Mbak Imah. Semua memandang kearah Mbak Imah, mencari jawaban.

“Lho, masa Hana dilupakan?” lanjut Mbak Imah menjawab rasa penasaran kami.

“Oh, iya ya ...” Aku, Bapak dan Mas Farhan hampir serentak menjawab.

Hana adalah anak perempuan semata wayang Mas Farhan dan Mbk Imah, sejak SD, ia sudah mondok di Jombang. Dia masuk pondok bukan karena paksaan dari orang tuanya. Tapi karena kemauan anaknya sendiri.

Kami berbincang ngalor-ngidul, sambil menikmati masakan Mbak Imah dengan menu sabel tumbang, peyek rebon dan tempe goreng.

Setelah selesai makan, aku membicarakan soal seminar dengan Bapakku. Dan aku diizinkan Bapak pergi ke Jakarta untuk mengikuti seminar tersebut.

***
“Ada yang ketinggalan gak?” tanya mas Farhan kepadaku.

“Gak mas,” sambil aku cek semua barang bawaanku.

Bapak, Mas Farhan dan Mbak Imah mengantarku menuju ke bandara Juanda, Surabaya. Jadwal penerbanganku jam 12 siang. Kami sampai sekitar pukul 10.00. Aku berpamitan dengan Bapak, Mas dan Mbak Imah. Suasana haru nampak jelas. Walau hanya sepekan mengikuti seminar itu, tapi ini pertama kalinya aku berada jauh dari keluarga.

Pukul 11.00, aku memasuki ruang yang aku sebut dengan ruang detector, tas, ponsel, jam tangan diperiksa oleh petugas bandara. Barang bawaanku tidak banyak hanya koper kecil dan tas ransel. Setelah itu, check in dan menunggu diruang tunggu.

Pesawat akan lepas landas, pramugari memberikan pengarahan untuk menonaktifkan posel, memakai sabuk pengaman, membuka tutup jendela, dan melipat meja. Kurang lebih 2 jam perjalanan dari Surabaya ke Jakarta, sepanjang jalan aku tak berani tidur dan tak putus berdoa. Ini pertama kali pula aku naik pesawat. Karena itu, aku gugup.

Pesawat telah landing di bandara Soekarno-Hatta Cengkareng. Aku menapakkan kaki di kota baru, rasanya tak percaya aku pergi sampai sejauh ini, entah ada cerita apa lagi yang menantiku sepekan disini.

Bersambung

home
Diubah oleh Enisutri
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Indriaandrian dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Cinta Sepekan
15-11-2019 02:52

Part 6 Chef Al Bag.1

Aku sudah berada didepan meja resepsionis, dari belakang ada yang menepuk pundakku. Lalu aku menoleh.

“Hai, kamu Ranum ya?” sapa seorang gadis dengan tinggi badan 160 cm, berkulit putih bermata sipit, dan yang paling menarik mempunyai lesung pipit sebelah kanan, cantik sekali.

Aku masih saja bengong sebab aku belum mengenalnya.

“Eh, iya hampir lupa, kamu kan belum kenal aku, aku April temen sekamarmu,” sambil mengulurkan tangan dan tersenyum padaku.

Aku menyambut uluran tangannya, kami berbincang-bincang sambil menuju ke kamar.

“Lho mana barang bawaanmu, Pril?” tanyaku heran karena dia hanya membawa tas slempang tanpa ada koper atau tas besar.

“Rumahku deket kok, jadi, aku malas bawa baju ganti,” ucap April sambil merebahkan tubuhnya di ranjang.

Aku melihat sekeliling sudut kamar hotel, mengenali tempat yang baru pertama kali aku singgahi. Pemilihan furniture simple tapi elegant. Pokonya buat aku hotel ini bersih, nyaman dan rapi.

“Hotelnya bagus ya, Pril, apa aku bisa tidur ya? ditempat yang sebagus ini,” kataku dengan polos.

April tersenyum, lagi-lagi senyum April manis sekali.

“Ini belum seberapa bagusnya, kamu nanti akan terpesona sama kepala chefnya,” ucap April sembari bangun mendekatiku dan memandang mataku dengan tajam. Aku mengerutkan kening pertanda belum paham maksud April.

***

Aku, April dan 8 peserta lain berkumpul di ruang meeting, ruang itu memiliki meja panjang berbentuk U. Di atas meja, disediakan laptop untuk setiap peserta.
Seminar ini memang tidak banyak pesertanya. Karena hanya dipilih 10 orang secara acak mewakili provinsi masing-masing.

Di meja depan kami telah berdiri tutor dan penyelenggara seminar. Mereka berkenalan.

“Ranum, lihat yang pakai jacket chef itu, ganteng gak?” sambil menggoyangkan badanku.

Aku mengarahkan pandangan mataku ke seseorang yang duduk paling pojok. Tidak dipungkiri memang tampan. Dari poster tubuhnya yang ideal nampak dia sangat menyukai olahraga. Pantas saja April selalu membicarakannya. Mungkin dia suka dengan laki-laki tersebut.

“Gimana, ganteng kan?” April mengulangi pertanyaannya.

“Iya, memang ganteng,” jawabku polos.

“Kamu nanti pasti meleleh kalo udah liat dia masak, beuh ... pokoknya, ”April terus nyerocos membanggakan chef yang aku tidak tau namanya itu.

Tiba giliran si Master Chefnya yang kenalan.
Ia mulai berkenalan dengan memberi salam, menyebutkan namanya Ruroluni Al-Ghazali, susah bener namanya disebutin. Yang jelas nama panggilannya adalah Al. Ia yang mengepalai resto di hotel tersebut, jadi, selama sepekan ini dialah yang akan menghidangkan makanan untuk para peserta seminar.

Setelah semua pihak penyelenggara berkenalan, tibalah kami pada materi pertama. Semua peserta serius mendengarkan.

***

“Ranum, ikut aku yuk!” ajak April, dan dengan sigap langsung menggandeng tanganku.

“Eh ... tunggu, mau kemana kita?” tanyaku penasaran.

“Udah ikut aja deh, nanti tahu sendiri,”
Aku menuruti ajakan April yang sebenarnya itu memaksa banget.

Tiba kami di depan pintu bertuliskan Kichen Room II dan dibawahnya ada tulisan Selain karyawan dilarang masuk.

“Pril tunggu, kita kan buka karyawan, itu ada peringatannya,” Aku menunjukkan tulisan yang menempel di pintu.

“Udah ikut aja, percaya deh sama aku,” Kata April mengabaikan peringatanku.

“”Gak, ah, aku takut ketahuan, Pril, ayok balik lagi ke kamar aja,” Aku menolak ajakan April.

April tetap tidak menggubris omonganku, dia membuka pintu tersebut. Kemungkinan langsung menarik tanganku dengan tiba-tiba.

Kami telah berada di ruangan yang disebut dengan dapur. Ya dapurnya para chef yang kayak di televisi. Ada kompor yang berjajar dan berhadapan, didepannya ada rak untuk menaruh berbagai friying pan, yang biasa aku sebut wajan teflon.

Aku melihat perabotan yang ada di dapur tersebut. Aku tertuju pada satu set pisau, yang ukurannya berbeda-beda, karena penasaran aku mencabut satu pisau dari tempatnya, pisaunya kecil tapi berat untuk ukuran pisau dapur, aku mengamatinya dengan seksama.

“Ini pasti tajam banget ya, kalo buat motong daging, beda sama pisau yang di rumah,” Gumaku dalam hati.

Aku pun sempat membayangkan mengiris daging dengan pisau tersebut. Aku masih terpesona dengan pisau yang ada digenggamanku, masih saja aku perhatikan detailnya. Ternyata ada sebuah ukiran nama pada pisau tersebut, “Al” nama yang tidak asing.

Aku lalu memanggil April yang dari tadi mengotak-atik kompor.

“Pril, ini punyanya chef yang tadi di ruang meeting itu kah?” tanyaku kepada April sambil mengacungkan pisau yang aku pegang.

“Oh, iya, itu barang kesayangannya, diibaratkan seperti nyawanya,” April menjelaskan.

“Oh, gitu ya ...” sambil ku pandangi kembali pisau tersebut.

“Kok kamu tahu banyak sih tentang Chef Al?” tanyaku penasaran.

“Udah, nanti kamu tau sendiri kok jawabannya,” ucap April masih sambil menotak-atik kompor, dan kelihatannya dia ingin menyalakannya tapi tidak bisa.

Kami dikejutkan dengan suara pintu yang terbuka.

“cekreeekkkkk.....” pintu dibuka.

Aku dan April kaget, sehingga pisau yang tadinya aku pegang jatuh ke lantai, untung saja tidak mengenai kakiku.

Sosok laki-laki dengan perawakan tinggi sudah berada didepanku. Seketika jantungku seperti copot, nafas seperti berhenti, badanku bergetar, rasa takut melebihi ketemu sama hantu, ini nyata ketemu sama orang namanya tertulis pada pisau tadi.

Bersambung

Home
Diubah oleh Enisutri
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tinwin.f7 dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Halaman 1 dari 6
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
surat-terbuka-untuk-mama
Stories from the Heart
kasih-tak-semampai
Stories from the Heart
3-gadis-di-seberang-pantai
Stories from the Heart
pertarungan-melawan-tulisan
icon-jualbeli
Jual Beli
Copyright © 2019, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia