Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
99
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5dc9f8768d9b17619f50ecb7/cinta-pada-pelukan-pertama
Putri, gadis 17 tahun, mencintai Diyar, seorang pria yang berumur lebih dewasa, cinta tulus, penuh derai air mata, di mana kita akan paham, jika jodoh hanya Tuhan yang bisa melukiskan takdirnya. kisah itu terjadi ketika Diyar secara tak sengaja memberikannya pelukan pelukan.
Lapor Hansip
12-11-2019 07:10

Cinta Pada Pelukan Pertama

Past Hot Thread
Cinta Pada Pelukan Pertama

Prololog!

Putri, gadis 17 tahun, mencintai Diyar, seorang pria yang berumur lebih dewasa, cinta tulus, penuh derai air mata, di mana kita akan paham, jika jodoh hanya Tuhan yang bisa melukiskan takdirnya. kisah itu terjadi ketika Diyar secara tak sengaja memberikannya pelukan pelukan.

Ketulusan, pengorbanan, makna dari cinta sejati tersaji manis di sini.

Dalam kisah manis "Cinta Pada Pelukan Pertama"


🌸 🌸 🌸

"De, main dong kerumah, istri abang baru lahiran." Bang Zainal kakak angkatku sewaktu di asrama.

"Kapan kapan ya bang, minta no HP aja deh nanti kalau ada waktu luang ade usahain mampir." kataku dengan tak enak hati.

"Eh iya ada salam dari kak diyar,tadi sebelum berangkat bilang kalau ketemu putri minta di salamin. "

Deg jantungku berdetak cepat ketika bang zainal menyebut nama Diyar.

Lamunanaku melambung ke sepuluh tahun yang lalu.saat untuk pertama kalinya aku merasakan jatuh cinta,ya cinta pada pelukan pertama.

Bang Diyar adalah kakak pertama dari bang zainal dan rosma adik perempuan bang zainal yg semasa SMA sekelas denganku.

Saat itu semua keluarga bang zainal bilang kalau kak diyar itu punya kelainan.karna tak pernah ngomongin perempuan sampai dia lulus dari UI, apalagi punya pacar. itu juga yang membuat aku plus teman segenk waktu di asrama penasaran seperti apa sosok cowok yang di kabarkan suka sesama jenis itu.

Dalam bayanganku bang Diyar itu pasti kemayu, atau agak agak melambay gitu.

Hingga suatu malam saat libur semester aku menginap di rumah bang Zainal karna aku dan Rosma teman akrab. ibunya pun sayang banget sama aku,bahkan sempat bilang aku bakalan di jodohin sama bang Zainal.

Malam itu baru menunjukan pukul 19,00 WIB
Dengan hanya menggunakan tanktop plus celana ketat pendek aku tiduran di kasur sambil baca majalah remaja pavoritku saat itu.
Tiba tiba ada yg menindihku sambil berkata.

"De, tuh oleh oleh Jogja dah abang beliin, tapi Abang kangen boleh peluk ya?"

Aku kaget setengah mati karna selain kakak lelaki ku aku tak pernah dipeluk sama orang lain.

"Lagian siapa suruh pulang gak ngasih kabar dulu." katanya sambil terus memeluku dari belakang.

Karna susah bernafas maka dengan sekuat tenaga aku melepaskan diri dari pelukannya.

"Maaf bang, aku Putri bukan Rosma."kataku pelan sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhku. mata bang Diyar terbelalak, kaget campur malu nampak jelas di wajahnya.

"Maaf ya, aku kira kamu Rosma," katanya mengulurkan tangan.

"Kenalin aku Diyar abangnya Rosma."

Aku menerima uluran tangannya,kami berjabat tangan lama sekali.

"Eh mana Rosmanya?".

"Mandi bang." kataku pelan.

"Ya udah kalau gitu abang keluar dulu ya. maaf yg tadi jangan di masukin hati."

Bang Diyar pun keluar kamar, tinggal aku yang tak habis pikir. masa iya cowok ganteng, cool kayak bang diyar belum punya pacar.

Hilanglah sudah prasangkaku tentang sosok kemayu itu, yang ada Diyar yang memeluku tadi bertubuh atletis, manis plus mata hitam dan senyum yg memamerkan gigi putihnya makin menambah kesan betapa menawannya sosok yang kutau kurang normal itu.

Sepanjang malam itu aku tak bisa tidur, entahlah aku tak bisa melupakan pelukan bang diyar tadi.

"Ngelamun deh..! Udah ketemu Rosma belum?"

"Eh iya lupa , belum bang, Rosmanya di mana ya?"

hatiku bersyukur karna bang Zainal mengalihkan pembicaraan.

emoticon-Sundul Up

Insya Allah lanjut part selanjutnya hari ini, di sakeb ya sis, gan, biar mimin cemungut nulisnya emoticon-Peluk
Diubah oleh shopia2005
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rirandara dan 10 lainnya memberi reputasi
11
Halaman 1 dari 5
Cinta Pada Pelukan Pertama
12-11-2019 08:42

Cinta Pada Pelukan Pertama

Cinta Pada Pelukan Pertama

Hari itu aku bicara banyak dengan Rosma,kami melepas rindu setelah sekian tahun tidak bertemu.

Sahabat karib SMA-ku, teman saat senang dan saat susah, hingga jarak yang mengharuskan kami berpisah, ya Rosma pindah ke Jogja untuk kuliah dan aku memilih Universitas swasta di jakarta.

Ngobrol ngalor ngidul hingga ahirnya aku harus mendengar kalau bang Diyar masih sendiri dan sekarang menetap di jakarta.


🌸 🌸 🌸

"Bang diyar sekarang ada di jakarta put, Dia buka usaha cafe plus toko buku di sampingnya, mampirlah kalau senggang."

"Insya Allah ya Ros, boleh minta alamatnya?"

"Nanti aku WA ya no nya,please put tolong kasih motivasi abangku itu agar mau segera melepas lajangnya, keluarga sudah menyerah entah apa yang dia cari, secara kalau dari ekonomi bang Diyar itu sudah lebih dari cukup put." Rosma menatapku penuh permohonan.

"Aku coba ya kalau mas Irwan mengizinkan."

Sepanjang perjalanan pulang memori dalam otaku memutar kembali sepuluh tahun yg lalu saat indah masa remaja dimana cinta pertama begitu dipuja.

Rasanya masih kemarin aku ddibonceng di motornya, jalan-jalan dan nonton film romantis.


🌸 🌸 🌸

"Put jemputan kamu dah nunggu di depan gerbang" Atika berteriak.

"Siapa yang jemput, orang aku mau pulang bareng Rosma"

"Ya udah lihat aja dulu mungkin itu sodara lu".
Aku bergegas ke depan asrama dengan menyeret koper besarku. Mataku terbelalak melihat siapa yang di atas motor .

"Bang Diyar." aku hampir berteriak saking kagetnya.

"Hush... berisik sini, ayo pulang abang anter." bang Diyar tersenyum manis.

"Boleh bilang dulu kan ke bang Zainal soalnya kita dah janji mo pulang bareng nih"

"Siiipp!" bang Diyar mengangkat jempolnya.

Setengah berlari aku masuk kembali ke asrama sekedar pamit ke guru-guru dan bang zainal serta Rosma yang pasti kaget dengan rencana dadakanku.


🌸 🌸 🌸

"Ayo pulang." kataku terengah-engah.

"Beres kan yang? Zain sama Rosma gak curiga kan kalau abang yang jemput kamu?"

Aku menggeleng, bang Diyar mencubit daguku gemas, aku membalas dengan mencubit pinggangnya.

"Ayo naik jangan lupa megang yang kenceng biar ga jatuh." Katanya sambil melingkarkan tanganku ke pinggangnya dan aku menuruti kemauannya.

"Kita makan dulu ya"

"Boleh" aku menjawab pendek.

"Mau makan apa yang?"

"Baso aja yuk"

"Ok madam"

Sekali lagi aku mencubit pinggangnya dan dia membalasnya dengan berzigzag ria di jalanan.
Saat itu aku ingin waktu berhenti berputar agar kebersamaan kami tak kan berahir.seandainya bang Diyar mengizinkanku berbagi cerita pada orang lain betapa inginnya aku curhat tentang rasaku ini pada Rosma juga teman -teman di sekolah dan asrama.betapa bangga nya aku bisa meluluhakn hati pria sekeren bang Diyar.

"Put abang harap tidak ada yang tau ya tentang hubungan kita ini,apalagi keluarga putri juga keluarga abang hususnya zain dan Rosma"

"Kalau keceplosan gimana?" Aku nyengir.

"Ya jangan sampe keceplosan,jadi bicara harus hati-hati"

"Kenapa sih bang orang lain gak boleh tau, padahal justru mereka harus tau kalau selama ini bang diyar itu cowok normal,upss"aku menutup mulutku.

Bang Diyar tersenyum.

"Emang selama ini kamu ngira abang gak normal gitu? mau nyoba abang normal apa nggak?" bang Diyar mengedipkan matanya, genit.

"Amit amit deh"

Bang diyar tertawa ngakak sumpah hampir setahun kami jalan bareng baru kali ini aku melihatnya tertawa lepas banget.

"Sekolah aja yang rajin nanti kalau dah lulus abang lamar deh"

"Janji ya."

"Widiiih ngarep banget ya,kayaknya dah ngebet pengen nikah nih,hahaa" kembali bang Diyar tertawa.

"Ayo terus aja ketawa,paling enak ngetawain orang"aku cemberut,padahal aku malu setengah mati.

"Ya Maaf ,tapi kalau cemberut tambah manis deh"

Kali ini bukan lagi cubitan tapi pukulanku mendarat di dadanya, dan untuk meredakan amarahku biasanya bang Diyar menariku kedalam pelukannya. Dan itulah saat yang tak pernah kulupakan, pelukan bang Diyar selalu mengingatkanku pada awal kedekatan kami.
Bersambung ya guys...!

🌸 🌸 🌸 🌸

emoticon-Peluk

Bersambung ya gaess, jangan lupa tinggalkan jejak, di cendolin biar lebih joss, maklum kemarau.

emoticon-Sundul Up
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rirandara dan 10 lainnya memberi reputasi
11 0
11
Cinta Pada Pelukan Pertama
12-11-2019 08:58
Cinta Pada Pelukan Pertama

Juli 2007 aku lulus SMA,tak ada perayaan seperti anak sekolah pada umumnya,karna bagi kami anak asrama kelulusan adalah hal yang menyedihkan.Bagaimana tidak,aku harus berpisah dengan orang-orang yang menyayangiku, teman, sahabat of course bang Zainal yang sudah menganggapku seperti adik kandungnya.

Setelah lulus aku dan Rosma tak pernah bertemu lagi. Hanya lewat gadget kami berkomunikasi itupun terbatas dengan kesibukan masing masing.apalagi aku sibuk dengan organisasi yang aku geluti di kampus, begitu juga dengan Rosma.

Setelah kuliah hubunganku dengan bang Diyar makin dekat walaupun harus di tempuh dengan LDR.Dan untuk memudahkan aku berkomunikasi bang Diyar membelikanku handphone BB model baru yg lagi trend saat itu.

Dia suka saat aku mengirimkan photoku yang menggunakan hijab.

"Tambah kece cais abang" katanya,
Dia juga mendukung aktivitasku di kampus karna dia juga seorang aktivis waktu kuliah di UI dulu.

Hingga pada suatu hari saat aku mulai menginjak semester 5 tiba tiba Abah mengajaku bicara serius tentang pernikahan.
Bagaikan di sambar petir ketika Abah menyodorkan photo seorang pria yg terpaut lima tahun lebih tua dariku.

"Ini calon suamimu nak, anak seorang kiyai besar di Cirebon"

Aku terhenyak tak ada kata yg bisa ku ungkapkan hanya dada yg sesak dan air mata yg tak tertahan.

"Kamu sudah dewasa, Abah hanya ingin kamu bahagia di sisa ahir umur abah ini hanya satu keinginan abah banyak orang yg mendoakan disaat abah meninggal nanti,dan Irwan lah lelaki yang abah pikir pantas untuk mendampingi hidupmu. Irwan sudah bekerja, keturunannya jelas, punya masa depan, apalagi yang kamu tunggu!" Abah bicara panjang lebar dan aku hanya menunduk mendengar semua perkataanya dengan menahan agar tangisku tak pecah di hadapannya.

"Minggu depan kalian bisa bertemu" kata abah mengahiri penbicaraan malam itu.


🌸 🌸 🌸

Setelah pertemuan dengan Mas Irwan aku gelisah bagaimana tidak disatu sisi aku tak mencintainya,tapi aku juga tak tega jika harus menolak keinginan orang tuaku hususnya abah yg sudah memasuki usia senja.

Keinginan yang sederhana dari seorang kakek tua hanya ingin banyak yang mengingat dan mendoakannya disaat ajal menjemputnya nanti. Dan itu ada pada Mas irwan,ya mas irwan adalah anak dari seorang kiyai besar punya banyak santri yang abah anggap bisa mendoakan dan membacakannya ayat-ayat suci alqur'an pada saat kematiannya.

Namun hatiku berontak bagaimana dengan hubunganku dan bang Diyar, apa yang harus kujelaskan padanya.

Satu bulan berlalu setelah pertemuanku dengan mas Irwan, dilema makin mendera hingga pada ahirnya aku memutuskan untuk menemui bang Diyar, akan kuungkapkan segalanya kalau perlu aku akan menyeretnya untuk menemui keluargaku dan menjelaskan tentang hubungan kami selama ini.


🌸 🌸 🌸 🌸

Dengan bekal alamat yang di berikan bang diyar aku bertekad untuk mendatanginya. Tanpa memberitahukannya terlebih dahulu.
Dengan menumpangi pesawat domestik aku tiba di bandara Ngurah Rai,aku melanjutkan perjalanan dengan taksi agar lebih cepat menemukan alamat yg kucari.

Taksi mebawaku ke depan sebuah rumah di perumahan yang lumayan elit,sebuah mobil honda dan motor besar terparkir manis di depannya.

Setelah membayar harga taksi sesuai argo aku melangkah ke depan gerbang rumah bernomor 85 ini.

Kupencet bel yg terdapat di pintu gerbang. Seorang pria berumur 50 an tergopoh menyambutku.

"Mau ketemu siapa, dek?" katanya dengan logat kental khas Bali.

"Saya dari jakarta mau ketemu bang Diyar,ini alamatnya"kataku menyodorkan secarik kertas berisiskan alamat bang diyar.

"Oh betul ini dek, cuma kalau di sini tidak ada mas diyar, adanya mas Iyang sama mas Jo,tapi masuk dulu nanti saya panggilkan kebetulan dua-duanya ada di rumah."

"Terima kasih." kataku sambil mengikuti pria itu masuk kedalam rumah.

"Tunggu disini ya dek, saya panggil mas nya dulu."

Aku mengangguk tak berapa lama aku mendengar langkah kaki menuruni tangga.jantungku berdebar bagaimana kalau alamat ini palsu.

"Putri" suara pria yang kukenal dan kuridukan terdengar samar di telingaku.

Aku berbalik dan nampak di hadapanku sosok yg sangat kurindukan, menghias mimpiku siang dan malam kini berdiri tegak persis di hadapanku.

"Bang Diyar! " Aku menghambur dalam peluknya, tangisku pecah rindu, haru, senang semuanya jadi satu.

Bang Diyar mengusap pipiku.

"Stttt udah ketemu kan g usah nangis,hebat ya sekarang bsa jalan sendiri ke bali"katanya sambil menuntunku duduk di sofa.

"Padahal tadi di pesawat takut."

Bang Diyar mencolek hidungku.

Aku menggengam tangannya erat. Bang Diyar menatapku

"Kenapa ?kangen banget ya?"

"Emang abang nggak?" kataku ketus.

"Haha...kangen emang bisa ilang klo di omongin?"

"Dasar egois"

"Gak berubah ya kamu Non dari SMA sampe jadi mahasiswi tetap aja ngambekan,cengeng, manja, manyun mulu tiap ketemu." katanya menatapku.

"Gak ada baiknya dong"tukasku

"Baiknya ada tapi cuma dikit. "bang Diyar tersenyum menggodaku.

"Minum dong, Bang aus nih."

"Sampe lupa kalo Nona cantik blom di kasih minum"

Bang Diyar menghidangkan segelas es jeruk yg sekali kutenggak langsung habis.

"Gila nih cewek ga ada manis manisnya ya."

Aku mendelik siap mendaratkan pukulan ke dadanya. Tapi dengan sigap bang Diyar menangkap tanganku. Lalu menariku kedalam peluknya, berbisik mesra ditelingaku "i miss you more honey."

Kemesraan itu terhenti ketika derap langkah terdengar menuruni tangga.

"Eh yang cewek lo?" seorang pria sepantar bang diyar muncul dihadapan kami.

"Bukan, nih ade gue dari jakarta."

"Oh... oke yang gue keluar dulu.mbak Irene dah calling tadi."


"Oke bro."

Kulihat sekilas mas Jo memgedipkan matanya padaku.aku membalaskannya dengan senyuman.

Baru saja bang Diyar hendak memeluku lagi tiba tiba perutku berbunyi.
Kami tertawa bareng.

"Lapar non?"

"Heeh"

"Ya udah mandi dulu sana, kita makan di luar."

"Ok yang...tapi awas jangan ngintip loh!"

"Haha...ngintip segala kalo minat masuk aja sekalian, yang lagi mandi juga iklas kan?".

Kulempar bantal sofa ke muka bang Diyar Mahluk itu hanya tergelak dan menangkap bantal yang kulemparkan.

Setelah mandi aku berdandan sebisaku agar terlihat beda saat jalan bareng bang Diyar. Akan aku ungkapkan malam ini semuanya tentang rencana Aba yang menjodohkanku dengan mas Irwan.


🌸 🌸 🌸

Masih bersambung...
emoticon-Sundul

Cinta Pada Pelukan Pertama

All pict by: Shopia Baequni

Yuk cendolin lagi gan!
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rirandara dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Cinta Pada Pelukan Pertama
13-11-2019 22:04
wah😍 ada di mari juga Mak Shophie
profile-picture
shopia2005 memberi reputasi
1 0
1
Cinta Pada Pelukan Pertama
13-11-2019 23:28
Hayukkkk mariii ditunggu atuh apdetannya..., Xixixiixixiixi...
profile-picture
shopia2005 memberi reputasi
1 0
1
Cinta Pada Pelukan Pertama
13-11-2019 23:57
enakk nih buat bersandarr dsinii
profile-picture
shopia2005 memberi reputasi
1 0
1
Cinta Pada Pelukan Pertama
14-11-2019 06:45
Terima kasih 😍
0 0
0
Cinta Pada Pelukan Pertama
14-11-2019 06:58
Cinta Pada Pelukan Pertama


Sepintas kutatap wajahku di cermin,lumayan pikirku setelan hitam plus hijab biru muda terlihat pas di badanku.Ya hitam kupilih karna warna kesukaan bang Diyar.

Kuoleskan lipstik warna nude di bibir yang banyak orang bilang seksi padahal aku dulu paling malu kalau ngomongin bibir,waktu SD aku sering di panggil si Dower eh setelah dewasa justru terbalik orang orang justru beranggapan bibir kayak gini tuh seksi.

Tak sabar rasanya menunggu reaksi sang Arjuna dengan penampilanku ini.Dan baru saja aku hendak membuka pintu terdengar suara bang Diyar persis di baliknya.

"Non masih lama dandannya?"

"Udah bang"kataku sambil mbuka pintu
Pintu pun terbuka mata bang diyar menatapku penuh kekaguman.

"Aiiih cais abang kece banget,sumpah non dada abang ser seran nih" bang diyar menuntunku keluar kamar.

"Alah udah ah laper nih, rayuan abang gak bikin perut putri kenyang" kataku mengalihkan pembicaraan padahal aku senang melihat reaksi bang Diyar dengan penampilanku ini.

"Ya elah put, cewek kalau di puji tuh biasa bilang makasih,thank you or apalah apalah gitu put,lah ini?"

Aku tertawa seprti biasa bang Diyar mencolek daguku gemas.

Rasanya seperti ratu takkala dia membukakan pintu mobil dan mempersilahkan aku naik.
Sesekali kulirik pria di sebelahku yang serius mengemudi.

Di umurnya yg menginjak 35an. bang Diyar masih nampak menawan, bahu dan dadanya terlihar kekar di balut kemeja hitam yang bikin dia tambah macho.

Bentuk rahangnya yg tegas serta garis bibir yang lebih cocok jadi bibirku itu semakin menambah nilai plus untuknya.

Tiba tiba bang diyar menoleh ke arahku yang asyik menatapnya.

"Sampe segitunya Non lihatin abang nepsong ya?"

Pede banget sih jadi orang, cuma lihat dikit doang emang gak boleh?"

"Lihat boleh pegang juga boleh"

"Apa yang boleh di pegang?"kataku menantang.

"Apa aja terserah yang mau megang"bang diyar mengangkat bahunya.

Kami tertawa bersama, seandainya yang kuasa bertanya saat itu "doa apa yang ingin ku kabulkan wahai anak adam?"

Maka akan kujawab jangan hentikan kebersamaan ini, biarkan kami tetap seperti ini untuk selamanya.

Tiba tiba mataku berair ketika selintas wajah mas Irwan hadir di hadapanku,untungnya sang arjuna serius mengemudi hingga tak melihat perubahan wajahku itu.


🌸 🌸 🌸

beres makan malam bang Diyar mengajaku duduk di pantai,tak pernah terbayangkan sebelumnya aku bisa berada di sini bersamanya.

"Non kita duduk dulu ya, blom ngantuk kan?"tanyanya dan aku menggeleng.

"Abang tanya serius,ada apa sih sampe putri jauh jauh datang ke Bali?"

Aku terdiam entah harus mulai dari mana.

"Gak bisa di omongin lewat telpon ya?"
Bang Diyar menggenggam tanganku.
Aku mengangguk

"Wah kalau gitu masalah serius dong" sekali lagi aku mengangguk.

Ku tarik nafas dan menghembuskannya perlahan, kukumpulkan keberanianku untuk bicara serius malam ini, toh ini tujuan Utamaku datang ke Bali.

"Abang sayang kan sama aku?"

Pria manis itu tertawa.

"Pertanyaan konyol, Non."

"Ini serius bang" aku menatapnya,bang diyar balik menatapku .

"Terus kalau kayak gini apa namanya? Benci?"bang diyar menariku mendekat mengusap kepalaku dengan penuh perasaan,mencium jemariku penuh kelembutan.

"Bukan kayak gini aja bang,putri dah dewasa sekarang Putri butuh kepastian" kataku.
Bang Diyar terdiam sesekali di hisap rokok kretek di tangannya.Dan menghembuskan asapnya ke atas.

"Abah sudah menjodohkan putri bang"ahirnya kalimat itu meluncur dari bibirku. Dengan sisa ketenangan yg kumiliki kujelaskan segalanya pada lelaki pujaanku malam itu.
Keinginan abah serta sosok menantu pujaaanya.

"Oh itu masalahnya?" bang Diyar menghela nafas,wajahnya mulai nampak tegang.walau ditutupinya dengan menghisap rokok kretek yang tak berhenti di sulutnya.
Aku mengangguk.

"Terus putri maunya gimana?"ucapnya datar

"Ko aku sih?abang dong kan abang itu laki laki."

"Iya abang sekedar tanya putri mau abang kayak gimana?"

"Kita kimpoi lari aja yuk"ajaku polos bang diyar tergelak.

"Hahhaha ...Non kimpoi diam aja susah apalagi kimpoi lari"katanya memencet hidungku.

"Serius bang"

"Abang dua rius malah"

Sontak kutarik tangannya dan ku gigit jarinya."
"Aw ...non kalo mau gigit pilih tempat yg enakan dikit"katanya sambil nunjuk ke arah bibir.

"Maunya"aku cemberut.

"Abang mau ya dateng ke rumah,trus bilang sama abah tentang hubungan kita"tanyaku penuh harap.

Bang Diyar terdim,matanya menatap lurus kedepan.

"Ayolah bang, Putri cape kayak gini terus, hubungan kita ini serba ga jelas"kataku mulai terisak.

"Yakin jika abang datang kerumah abah bakal nerima lamaran abang" kali ini matanya langsung menatapku lekat.

"Nyoba apa salahnya bang"

"Siapa Abang jika haru di bandingkan dengan mas Irwanmu, dia PNS, sholeh, pekerjaanya terhormat, keturunan ulama, kaya, pinter. lalu abang siapa Put, cuma seorang sarjana Ekonomi gagal, kerja nyambi jadi guide, setiap hari bergaul dengan bule yang setengah telanjang." mata bang Diyar menerawang jauh
tangisku pecah,kugigit ujung hijabku,sakit rasanya mendengar kata mas Irwanmu dari mulut pria yang kucintai.

"Abang malu sendiri Non"

"Tapi abah bukan ortu yg matre ko bang"

"Masalahnya bukan matre atau tidak non,kebahagian seorang anak adalah adalah impian semua orang tua.wajar jika abah punya impian itu"

"Lalu abang rela kalau Putri nikah sama orang lain?"

"Siapa lelaki yg rela perempuan yg dicintainya dinikahi laki laki lain,cuma lelaki bego Non"

"Ya dan lelaki bego itu abang,jika saja putri tau ahir dari hubungan kita hanya seperti ini, Putri nyesel ketemu abang"suaraku parau.

Melihatku histeris bang Diyar mulai panik.

"Sabar put sabar!"

"Sabar kata abang, Putri kenyang makan sabar,tiga tahun bukan waktu yg sebentar bang,tiga tahun putri nunggu kepastian dari abang"teriakku orang orang mulai memperhatikan kami,tapi aku tak perduli,harus malam ini kutuntaskan semua rasa yang selama ini kupendam.

"Kalau cuma sekedar main main abang gak bakalan bertahan sampe tiga tahun put"

"Itu yang bikin putri kecewa, abang harus nunggu tiga tahun untuk nyakitin perasaan putri"

Aku berdiri kuraih tas yang tergeletak di bangku,setengah berlari aku menjauhi pria yang sesungguhnya sangat ku cinta.

Tak kuhiraukan lagi teriakannya memanggil namaku,percuma bicara pada lelaki pengecut seperti dia.dasar banci kaleng rutukku dalam hati.

susah payah ahirnya kutemukan juga taksi yang membawaku kembali kerumah bang diyar,tekadku sudah bulat malam ini juga aku harus balik kembali ke jakarta.

🌸🌸🌸

Sesampainya di rumah dengan cepat aku masuk kamar kumasukan pakaianku kembali kedalam koper.

Air mataku tak berhenti mengalir.Tiba- tiba pintu di buka dengam keras "brak"

Wajah bang diyar nampak tegang.

"Mau kemana kamu?"

"Pulang "kataku dalam isak

"Pulang kemana?"bang Diyar menarik tanganku.

""Kemana saja asal putri bisa pergi dari sini jauh dari lelaki pengecut kayak abang",ku tarik tanganku dari genggamannya.

"Jangan konyol kamu,ini tengah malam,besok abang antar ke bandara"

"Ga usah putri bisa sendiri,"

"Dasar keras kepala"

Dari pada abang keras hati"

"Jangan -jangan bener kata orang kalau abang memang seorang gay"kataku tak sadar mungkin bawaan emosi yang membludak.

"Putri!" bang Diyar membentakku,matanya merah menahan marah, tangannya terangkat hendak menamparku.

Aku mundur takut dengan raut wajah pria yang berdiri yang berdiri tegak di hadapanku.

"Kamu mau abang membuktikan kejantanan abang" Bang Diyar mendekat kearahku,tiba tiba aku merasa takut melihat tingkahnya.

"Abang mau apa?"tanyaku parau.

Bukannya menjawab dia malah menariku ketepat tidur ,menjambak hijab yg kupakai.Di bantingnya tubuhku Ke atas kasur,seperti kesetanan bang diyar tak memperdulikan teriakan dan rontaan ku yang berusaha lepas dari himpitannya,sedangkan bang Diyar malah semakin bernafsu menciumi wajah leher dan bibirku.

Nafasku tersenggal dan dengan segenap tenaga yg tersisa kugigit lengannya hingga berdarah.

Aku terlepas dari cengkramannya, kulihat sekilas darah mengucur dari lengannya yang ku gigit tadi.

Aku beranjak ke sudut kamar,kutarik selimut untuk menutupi tubuhku yang setengah terbuka.

Pria itu berjalan terhuyung meninggalkaku dalam kepiluan yang tiada tara .

**bersambung

Jangan lupa Disakeb ya, Agan ganteng n sista cantik!

emoticon-Big Kiss
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rirandara dan 7 lainnya memberi reputasi
8 0
8
Cinta Pada Pelukan Pertama
14-11-2019 07:00
0 0
0
Cinta Pada Pelukan Pertama
14-11-2019 07:10
Cinta Pada Pelukan Pertama

Dengan tanpa menoleh lagi ke belakang kutinggalkan rumah bang diyar dengan sejuta luka, luka yang entah bisa terobati atau tidak nantinya.
Kubulatkan tekadku kali ini untuk menerima perjodohanku dan mas Irwan toh lelaki yang kucintaipun sudah tak bisa kuandalkan lagi.

***

Dari bandara Sukarno hatta kulanjutkan perjalan menuju rumah orangtuaku untuk segera meminta mereka meempercepat pernikan ku dan mas Irwan.

Sesuai dengan prediksiku selain gembira mereka juga terkejut mengapa aku yang selama ini tak begitu respon dengan adanya perjodohan kami hari ini juatru sebaliknya. Terutama ibuku, perasaan seorang ibu memang lebih peka di banding ayah, berkali kali ibu bertanya ada apa denganku tapi aku hanya diam. Wanita penuh kelembutan itu menyerah pada kekeras kepalaan putri bungsunya.

Pernikahan pun dilangsungkan dengan cukup meriah, keluarga besar mas Irwan semuanya hadir untuk menyaksikan resepsi pernikahan kami, dari akad hingga pesta yang diadakan di sebuah gedung yang kami sewa.

Dari situ juga aku tau jika keluarga itu penganut poligami, bagaimana tidak mas Irwan adalah anak bungsu dan laki laki satu satunya dari istri pertama ayahnya. Ya ayah mertuaku ternyata mempunyai tiga istri dan ibu mertuaku adalah istri yang pertama. Namun keluarga itu tampak akrab, saling menghormati dan saling menjaga.
Sungguh situasi yang sulit untuk kupahami, mas Irwan memiliki 23 sodara kandung dari 3 orang ibu yang berbeda.

Betapa rona kebahagian terpancar dari raut wajah Abah ketika aku selesai akad, beliau mengusap lembut kepalaku dan bergumam

"Irwan adalah laki laki hasil isthikhoroh abah
nak, insya Alloh dia yang terbaik dari semua lelaki baik yang kau kenal selama ini". Aku mengangguk.

Kedatangan keluarga bang Diyar di ahir acara mau tidak mau mengingatkan ku kembali pada sosoknya, apalagi saat bang Zainal menyodorkan dua buah bingkisan padaku.

"De nih dari Rosma, katanya maaf g bisa datang, dah coba nelpon no Ade g da yang aktif."

"Iya Bang, Ade ganti no HP." Memang semenjak insiden Bali aku mengganti no sim cardku.

"Yang ini dari bang Diyar, titip salam juga."
Entahlah ketika nama itu di sebut hatiku bergemuruh, keringat mulai keluar dari pori pori kulitku.

"Bang Diyar pindah ke singapura Dek, keluarga pun hanya di kasih tau lewat telpon."

Tenggorokan ku tercekat, kutahan rasa aneh yang mulai mengaliri tubuhku.

Bang Zainal pamit, setelah mengucapkan kata semoga bahagia, dan aku hanya mengangguk. kulirik bingkisan kecil pemberian bang Diyar entah... betapa aku ingin segera usai pesta ini untuk segera membukanya.

**
Mas Irwan terbaring lemah di tempat tidur, mungkin karna kelelahan karna perjalan dan acara pernikahan kami, dia hanya berkata.

"De mas istirahat dulu ya!"

Aku mengangguk, setalah kurasa mas Irwan tertidur pulas dengan perlahan ku buka laci dimana aku menyimpan bingkisan kecil dari bang Diyar.

Dengan hati yang berdebar tak karuan kubuka bingkisan itu, nampak kotak cincin berwarna merah di dalamnya. Tanganku bergetar menyentuh kotak itu, dengan perlahan aku membukanya sebuah cincin berukiran awalan namaku berkilau tertimpa cahaya lampu kamar, aku memegangnya.

Tiba-tiba air mataku menetes perlahan, nampak sepucuk surat di lipat rapi dibawahnya.
Dengan perlahan aku membukanya. tulisan tangan yang sangat rapi memenuhi kertas itu. Aku membacanya perlahan.

Teruntuk Bidadari yang tak bisa kumiliki

Assalamualaikum

Sebelumnya abang mohon maaf atas apa yang pernah abang lakukan malam itu, walau abang sendiri tak yakin Putri akan memaafkanya.
Ketika putri membca tulisan ini, abang mungkin sudah pergi jauh, dan mungkin putripun sudah menikah dengan pria itu.

Abang masih tak percaya put jika kata- kata itu keluar dari mulut putri, perempuan yang abang sayangi, abang cintai, perempuan yang abang harap bisa membimbing hidup abang ke jalan yang lebih baik lagi. Rasanya sakit put, abang tak perduli jika seluruh orang di dunia berkata jika abang gay, homo atau pria tidak normal.

Abang tak perduli put, abang sudah biasa mendengarnya, tapi rasanya sakit ketika itu di ucapkan oleh seseorang yang abang cintai.
Putri ingin kekujuran abang bukan? Abang mencintai kamu Put jauh lebih besar dari cinta Putri untuk abang, jika saat itu putri ingin kita kimpoi lari abang lebih menginginkanya.

Tapi abang berfikir jika kita melakukannya, apa yg akan terjadi dengan keluarga kita. Khusunya keluarga putri, mereka akan sangat kecewa, apalagi kondisi abah yang sudah selemah itu. Abang ingin disisa umurnya putri bisa mengabdi padanya walau harus mengorban hati dan rasa yang kita miliki selama ini.

Abang sadar diri put, ketika keluarga abang berbicara jika jodoh putri itu minimal seorang ust, sedangkan abang siapa? iqro juga abang gak sampe khatam Put!

Ibarat burung abang hanyalah gagak hitam, jangankan kehadirannya, suaranya pun dianggap membawa bencana. Sedangkan Irwan dia ibarat garuda yang gagah, Garuda itu lambang kegagahan, kebijaksanaan dan kebesaran.

Abang selalu berdoa jika di dunia kamu tak bisa abang miliki semoga nanti yang kuasa menyatukan kita di surganya. Abang berharap
Jika Irwan hanya punya satu rusuk untukmu semua sisa tulang rusuk itu tercipta dari tulang rusuk abang.

Selamat menempuh hidup baru, semoga bahagia, jadilah istri sholehah, abang selalu berdoa untuk kebahagian Putri.

Oh iya, jangan lupa di pake cincinnya, cincin itu abang beli jauh sebelum Putri datang ke Bali. Tadinya untuk kado ultah Putri, sekarang anggap itu kado pernikahan dari abang. Agar putri tak melupakan abang juga agar putri sadar sesuatu yang kita cintai tak selamanya harus kita miliki.

Salam sayang.

Wassalam.
Diyar, si pemilik cinta abadi untukmu


🌸 🌸 🌸 🌸

Cinta Pada Pelukan Pertama

All pict by: Shopia Baequni

emoticon-Big Kiss

Bersambung lagi ya..
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rirandara dan 7 lainnya memberi reputasi
8 0
8
Lihat 1 balasan
Cinta Pada Pelukan Pertama
14-11-2019 08:22
uuch mkin betahh aku nya dsinii . πŸ‘πŸ‘πŸ’œπŸ’œ
profile-picture
shopia2005 memberi reputasi
1 0
1
Cinta Pada Pelukan Pertama
14-11-2019 08:27
@dewimariaa makasih kakak
profile-picture
dewimariaa memberi reputasi
1 0
1
Cinta Pada Pelukan Pertama
14-11-2019 10:34
Kasih tak sampai nihh....
emoticon-Turut Berduka
profile-picture
shopia2005 memberi reputasi
1 0
1
Cinta Pada Pelukan Pertama
Lapor Hansip
14-11-2019 10:41
Balasan post shopia2005
ditunggu kelanjutannya..keren tlisannya
profile-picture
shopia2005 memberi reputasi
1 0
1
Cinta Pada Pelukan Pertama
14-11-2019 11:34
@medina12 iya, hehe
0 0
0
Cinta Pada Pelukan Pertama
14-11-2019 17:16

Mencoba Menerima Apa Adanya

Tanganku bergetar,tubuhku lemas sekan tulang yang menopangnya mendadak rapuh,aku terkulai tak berdaya.

Kucium cincin yang kini melingkar indah di jari manisku, menggeser posisi cincin pemberian dari mas Irwan. Entahlah aku merasa pria pujaanku itu ada di sampingku, mengusap airmata yang terus mengalir, serta menarik tubuhku untuk rebah di dadanya yang bidang.
Ku raih bantal untuk membekap wajahku agar mas Irwan tak mendengar isak tangisku.

"Maafkan putri bang. "ucapku lirih sesaat sebelum aku rebah disamping mas Irwan.

**
Seminggu setelah pernikahan, mas irwan memboyongku ke jakarta, karna dia harus masuk kantor dan kembali beraktivitas.
"Maafkan mas ya de, mas tak bisa mengajakmu berbulan madu" katanya setelah kami tiba di depan sebuah rumah besar bercat putih.

"Ini rumah mas dan sekarang jadi rumahmu juga,dari itu mas menyerahkan tanggung jawab mengurusnya pada ade, jika ade ingin merenovasi rumah ini lagi, atau ingin mengganti perabotan yang ada di dalamnya terserah, karna ini milik ade."

Aku hanya mengangguk, berusaha untuk tersenyum, mas irwan mengecup keningku dengan lembut.

Satu bulan berlalu, namun bayang wajah bang diyar tak sedikitpun beranjak dari mataku, kearah mana aku menatap senyumnya terus membayangiku. Bahkan saat di tempat tidur sekalipun.

Dan mas Irwan tak pernah memaksaku untuk memenuhi keinginannya bahkan satu bulan ini kami tak pernah berhubungan layaknya suami istri. Mungkin dia tau jika aku tak mencintainya, terkadang akupun merasa bersalah namun rasa belum mampu menerima tak bisa aku paksakan, mas irwan sepertinya memahami semuanya. Dia menjadi sosok suami yang ekstra sabar dalam menghadapi sikapku.

"De jika kamu bosan cobalah ngobrol sama mbak Aisyah, mbak ku itu jago masak loh, mungkin kalian bisa tuker resep masakan." Mas Irwan mungkin menyinggungku karna tak pernah memasak menu yang enak untuknya.

"Udah mas tadi mbak aisyah nelpon."

"Oh trus kalian ngomongin apa?"

"Nggak mas mbak aisyah cuma ngundang kita untuk mengjadiri pembukaan rumah makan yang mereka buka di Bandung"

"Tanggal berapa tuh, klo bentrok sama hari kerja kayaknya mas ga bisa tuh."

"Katanya tgl 17 minggu ini"

"Yah mas ada tugas keluar kota seminggu ke depan, tapi ade bisa kan gantiin mas ngehadirin acara itu."

Aku mengangguk mas Irwan tampak senang.
"Makasih ya dek." katanya mengusap kepalaku.

Sebelum berangkat keluar kota mas Irwan memberikan kejutan yang tak pernah kuduga sebelumnya. Ya dia membelikan ku sebuah mobil sedan keluaran terbaru yang harganya lumayan mahal.

"De ini hadiah pernikahan kita, plus sopirnya"katanya menunjuk seoang lelaki berumur 45an
Aku hany bengong melihat semua itu, rasanya lidahku kelu tak bisa berkata apapun.

"Kok bengong dek, kenapa sopirnnya ketuaan ya? abisnya mas takut kalo masih muda nanti naksir lagi sama istri mas yang manis ini. " mas irwan merengkuh pundaku.

Aku menunduk malu.

"Ayo tes drive. "katanya mengajakku masuk ke mobil dan langsung menstaternya, mobilpun melaju perlahan, kami berkeliling komplek perumahan bersama. Hal yang baru kulakukan setelah hampir 2 bulan jadi istrinya.

Malam itu aku menghadiri acara yang di adakan oleh mas iman dan mbak Aisyah, ya mbak aisyah adalah istri dari mas iman kakak mas irwan yang ke tiga dari istri kedua ayah mertuaku.

Hebatnya mas Iman pun memiliki 2 orang istri yang selalu hidup berdampingan, bahkan bisnis kuliner yang mereka geluti sekarangpun itu adalah hasil kerjasama antara keduanya.mbak Aisyah dan mbak Winda istri kedua mas iman.

Setelah acara selesai kami ngobrol layaknya keluarga besar, mas iman memintaku untuk tidak sungkan di acara itu, dia juga bicara panjang lebar tentang mas Irwan katanya mas Irwan menceritakan dengan gamblang bagai mana rumah tangga kami selama ini. Aku kaget, takut dan khawatir, dengan sikap yang akan dilakukan oleh keluarga besar mereka jika mereka tahu apa yang selama ini kulakukan terhadap adik kesayangan mereka.

"Makasih ya, de Putri sudah bisa menjadi istri yang baik untik adik kami, kami sadar betapa irwan sangat menyayangi de Putri, itu terlihat dari sikap dan matanya saat menceritakan rumah tangga kalian yang bahagia."

Aku tertegun sama sekali tak menyangka jika mas iman akan bicara seperti itu, mungkinkah mereka sedang menjebaku saat ini.

" Irwan harapan kami, kebanggaan kami, ketika ada wanita yang bisa membuat adik kami bahagia maka kami pun harus membahagiakan perempuan itu". Mas iman menepuk nepuk pundaku, maka bergantian lah semua keluarga itu menyalami dan memeluku dengan hangat.

"Kata irwan dek putri pintar masak makanya dia makan terus.wajar kalo sekarang badanya melar" mas iman menambah pujiannya.

"Wah aku ada saingan dong. " mbak Aisyah menimpali.

Maka mereka tertawa bahagia.
Setelah pesta usai aku pulang kerumah, malam itu aku menangis, betapa bodohnya aku, selama ini hatiku tertutup oleh harapan untuk kembali bersama dengan pria yang entah dimana rimbanya. Sedangkan dia suami yang mencintaiku apa adanya tak ku anggap dan tak kuperdulikan.

Malam itu aku berharap mas irwan segera pulang. Akan kupersembahkan sesuatu yang selama ini jadi haknya dengan rasa ikhlas sebagai seorang istri.

Bersambung
emoticon-Kiss
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rirandara dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Cinta Pada Pelukan Pertama
14-11-2019 20:45
bagusss kak! stiap kali diupdate kok akuu jd baperr juga yak πŸ˜₯ tapii sukakk πŸ˜πŸ˜πŸ’œ
profile-picture
shopia2005 memberi reputasi
1 0
1
Cinta Pada Pelukan Pertama
15-11-2019 07:21

Sebuah Impian Baru

Cinta Pada Pelukan Pertama

Hari ini aku menata rumah sebisaku, bahkan Mbok Asih, sang ART di rumah kami sampe heran dibuatnya, aku yang biasanya tak peduli pada keadaan sekeliling sekarang begitu berubah.

Tingkahku yang aneh lebih membuatnya heran lagi, aku yang terlihat sumringah, senyum sendiri seolah-olah tengah jatuh cinta, ya benar, aku jatuh cinta pada suamiku sendiri. Untuk yang pertama kalinya.

Yang lebih menggembirakan mas Irwan menelpon jika dia akan pulang cepet hari ini. Aku melonjak gembira.

"Cepat pulang, Mas, aku tak sabar menunggumu." hampir saja kalimat itu meluncur dari mulutku, sebelum mas Irwan menutup telpon.

Aku lemas, terduduk di sofa, setelah seharian beraktifitas, menunggu kedatangan Arjunaku.

Bel berbunyi, aku bergegas membuka pintu, mas Irwan berdiri di sana, aku langsung mencium tangan dan meraih tas yang dibawanya.

Deguban jantungku tak menentu, seolah laksana gadis yang akan bertemu kekasih barunya.

Laki-laki itu terlihat bingung dengan perubahanku hari ini. Namun, dia bersikap biasa.

"Mas, mau mandi apa mau makan dulu? Tanyaku.


"Mas mau mandi dulu, Dek, badan mas terasa lengket." jawabnya.

Cepat kupersiapkan segalanya. Mata mas Irwan semakin terbelalak saat melihat kondisi kamar yang tak biasa, aroma terapi menyeruak di sana.

Dia tersenyum menatapku. Ada binar bahagia di mata hitamnya.

Malam itu aku menemaninya makan malam, sungguh kebahagiaan yang tak bisa kulukiskan.

Mas Irwan memuji masakanku, ya soto ayam keaukaannya mendapat nilai yang memuaskan malam itu.

"Ah, masakanmu enak semuanya, Dek! Mas gak nyangka kamu sepintar ini." ujarnya.

"Mas bisa aja, aku belajar dari mbak Aisyah." jawabku malu-malu.


"Mas beruntung mendapatkanmu, Sayang." matanya lekat menatapku. Aku memalingkan wajah yang memerah.

Aku mendahului mas Irwan masuk kamar, seolah mengerti mas Irwan pun mengikutiku, dadaku semakin tak karuan. Aku benar-benar salah tingkah.

"Dek, maaf ya, mas sering banget ninggalin kamu."

"Tidak apa-apa mas, aku baik-baik saja kok, mas tenang aja kerjanya." jawabku asal.

Mas Irwan menatap wajahku. Aku tak bisa lagi berpaling.

"Mas mau dipijit?" aku mengalihkan perhatiannya.

"Emang adek bisa mijit?"

"Bisa dong,"

"Masa?"

"Iya."

Sepi lagi!

Ah, kami kehabisan bahan obrolan.

"Ya udah, tolong pijat leher mas ya." pintanya.

Untuk pertama kalinya kami bersentuhan, kulit leher mas Irwan terasa hangat.

Mas Irwan meraih tanganku, lalu menciumnya perlahan. Aku tersipu. Ada kehangatan yang menjalari tubuhku.

"Sini tidur di samping mas." tubuhku diraihnya, aku tak menolak.

Ini haknya sebagai suami, aku akan memberikan semua untukmu mas.

Perlahan mas Irwan memeluk tubuhku, mencium dahi lalu mengusap bibirku. Wajah kami begitu dekat. Hingga napasnya serasa menyapu pipiku.

Aku memejamkan mata, hingga sebuah kecupan mendarat di bibirku. Hangat dan manis. Aku mendesah pelan.

Kelembutannya saat menyentuh bagian tubuhku membuatku melayang, aroma tubuhnya yang cukup mempesona membuat gairah kewanitaanku bangkit.

Cumbuan, serta rengkuhan hangatnya membuat anganku terpukau, hanya desah dan lenguhan yang bisa kukeluarkan sebagai tanda kau pun menikmati Cumbuannya malam ini.

Mas Irwan begitu, napasnya yang memburu membuatku tau jika sia sebenarnya menginginkan semua ini dariku. Pada kesempatan ini dia menumpahkan segalanya padaku. Mencium, bahkan sesekali menggigit area sensitif tubuhku. Aku menggelinjang, dan Mas Irwan semakin bersemangat.

Malam itu kami menunaikan apa yang seharusnya terjadi pada pasangan suami istri. Aku bahagia dan bersyukur sekali.

Akhirnya kami terkapar dalam kepuasan tiada tara, walaupun harus berlumur peluh.

"Terima kasih, Sayang." bisiknya.

Aku mengangguk, dia mengecup dahiku.


🌸 🌸 🌸


Kebahagiaan kami semakin sempurna saat aku melahirkan anak pertama, seorang bayi perempuan cantik yang kami beri nama Airin.


Ditengah kebahagiaan itu Abah harus menghadap yang maha kuasa, tentu saja ini jadi ujian terberat dalam hidupku. Harus kehilangan sosok ayah sebaik abah.

Namun, Allah mengganti dengan sebuah kebahagiaan yang lain. Di usia airin yang masih Balita kami kembali dikaruniai seorang anak laki-laki yang tampan.

Dzikra, bayi itu kuberi nama. Seorang bayi yang lahir ditengah kesedihanku kehilangan seseorang ayah.

Umi mertuaku sering berkata jika perempuan yang sering melahirkan akan banyak didoakan, dan melahirkan adalah suatu kesempurnaan dan kenikmatan tersendiri. Aku ingin seperti umi.

Dan aku pun menolak tawaran mas Irwan untuk punya pengasuh anak, bagiku merawat kedua anakku adalah hal yang paling menyenangkan.

Mas Irwan sangat kagum padaku. Juga dengan keluarga besarnya, bagi mereka aku adalah menantu terhebat.


🌸 🌸 🌸

Tahun berlalu, Dzikra kini berusia hampir tiga tahun, sedangkan Airin kini berumur lima tahun.

Mas Irwan sering mengeluh pusing, dan mual, aku memintanya untuk cek kesehatan tapi dia mengacuhkannya.

Aneh memang, Mas Irwan alergi sekali dengan rumah sakit, katanya dia phobia jarum suntik dan aroma medikal.

Aku hanya tersenyum dibuatnya.

"Mas, besok kita ketemu dokter Arif ya, plis jangan nolak lagi." pintaku.

Dia tersenyum lalu mengangguk.

"Jangan bohong ya." rajukku.

"Oke sayang." jawabnya mencium dahiku, aktivitas rutin sebelum dia berangkat kerja.


🌸 🌸 🌸

"Mas, kayaknya rambut mas rontok deh." kupunguti helaian rambut yang tercecer di lantai.

"Masa sih?" dia terlihat cuek.

"Ini apa." kusodorkan rambut itu padanya.


"Itu biasa sayang, rambut mas emang rapuh, jadi ga usah dipikirin ya." pintanya bergegas berangkat ke kantor.

Dia selalu begitu kalau diajak membicarakan hal yang berbau kesehatan.

Aku menarik napas berat.

Mengurus dua buah hati yang masih Balita bukan hal yang mudah, waktuku habis tersita untuk Airin dan Dzikra. Tak ada lagi waktu untuk merawat diri, tapi untungnya mas Irwan selalu menganggapku perempuan cantik.

Kembali Mas Irwan menawarkan solusi untuk punya pengasuh anak.

"Nggak lah mas, aku ngeri kalau anakku diasuh orang lain, di tv beritanya serem seren tuh." jawabku.

Hingga pada suatu hari dia membawa seorang perempuan cantik dan sopan. Risma namanya.

Dia sepupu jauh yang akan tinggal di rumah kami tentu saja atas ijinku.

"Tuh kan Ris, mbak ini orang baik."

Risma tersenyum padaku, sikapnya benar-benar sopan dan memikat, selain dari parasnya yang ayu.

Akhirnya Risma tinggal di rumah kami,
Dan aku tak mempermasalahkan semuanya, Risma baik dia sopan, pinter dan pandai merawat anak-anak disamping tugasnya sebagai dosen di sebuah universitas swasta di Jakarta.


Dia membantuku merawat anak-anak dengan tulus, penuh kasih sayang, aku tau dari tatap matanya.

Tak terasa lima bulan sudah Risma tinggal di rumah kami, dan itu sangat menyenangkan. Kami bahu membahu memberikan yang terbaik untuk Airin dan Dzikra.

Risma pandai mengajarkan ilmu pengetahuan pada kedua anakku.

Seandainya Bang Diyar ada, Risma cocok jadi istrinya. Saat kukemukakan itu padanya pipi Risma bersemu merah.

"Mbak bisa aja." ujarnya.

Libur semester pertama Risma pamit pulang ke Jawa, tentu saja kami berat melepasnya. Apalagi kedua anakku, mereka tak mau lepas dari Risma.

Dzikra meronta tak mau lepas dari gendongan Risma, kami berpelukan seakan mau berpisah lama.

Tangis pun pecah!

Ah, aku sangat kehilangan wanita itu.


🌸 🌸 🌸

"Dek, kamu setuju nggak kalau mas Irwan menikah lagi?" tanya mbak Aisyah.

Aku terkekeh geli.

"Ya nggak lah mbak, aku gak mau dipoligami, lagian mana berani mas Irwan kimpoi lagi, bisa abis burungnya kupotong." ujarku, sambil tertawa.

"Tapi keturunan kami semuanya poligami loh dek."

"Aku ga peduli, silahkan aja asal mas Irwan nggak gitu."

"Mudah-mudahan ya, semoga Irwan tak tertarik untuk menduakanmu." mbak Aisyah menepuk bahuku.

"Aamiin, Mbak."

🌸 🌸 🌸

Aku tak pernah terpengaruh oleh omongan siapa pun perihal poligami, bagiku mas Irwan adalah milikku tak akan kuberikan oada orang lain.
Dan aku percaya jika mas Irwan pun begitu, dia sangat mencintaiku.

Hingga kubaca sebuah pesan yang masuk di ponsel suamiku itu.

"Mas, jika memang kau mau menikahiku, mintalah restu dari Mbak Putri".
Cinta Pada Pelukan Pertama

emoticon-Big Kiss

Pict by: Shopia Baequni
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rirandara dan 7 lainnya memberi reputasi
8 0
8
Cinta Pada Pelukan Pertama
15-11-2019 10:05
Dicendolin lagi gaess!
profile-picture
liaaa376 memberi reputasi
1 0
1
Cinta Pada Pelukan Pertama
15-11-2019 17:16
Okehhhh dearrrr....
emoticon-Cendol Ganemoticon-Cendol Gan
emoticon-Big Kiss
profile-picture
shopia2005 memberi reputasi
1 0
1
Cinta Pada Pelukan Pertama
15-11-2019 18:36
Mau donk kasi condel 10 x biar tread ini hott!! Bisa ga ya ? πŸ˜‚πŸ˜‚
profile-picture
shopia2005 memberi reputasi
1 0
1
Halaman 1 dari 5
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
black-eye-cp3
Stories from the Heart
black-eye2
Stories from the Heart
teror-hantu-dewi
Stories from the Heart
penghuni-lain-di-rumah-kost
icon-jualbeli
Jual Beli
Copyright Β© 2019, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia