Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
105
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5dc7bde30577a936ad7660e8/amor-nico-dente
PROLOG “Lo itu kayak batu berjalan. Keras kepala jadi orang!” -Kayla Sidharta- “Kamu itu dingin, kayak gunung es. Cuek dan enggak pernah peka sama aku!” -Selvi Yuniar- “Lo itu cerewet, tapi gue suka sama perhatian lo.” -Ayara Naradhipa- “Terserah kalian nilai gue kayak gimana. Semua yang kalian omongin enggak pernah gue pikirin. Karena kalian ngomong juga enggak pernah dipikir-pikir.
Lapor Hansip
10-11-2019 14:36

Company's Doormats

icon-verified-thread
Amor Único Dente


PROLOG


“Lo itu kayak batu berjalan. Keras kepala jadi orang!”
-Kayla Sidharta-

“Kamu itu dingin, kayak gunung es. Cuek dan enggak pernah peka sama aku!”
-Selvi Yuniar-

“Lo itu cerewet, tapi gue suka sama perhatian lo.”
-Ayara Naradhipa-

“Terserah kalian nilai gue kayak gimana. Semua yang kalian omongin enggak pernah gue pikirin. Karena kalian ngomong juga enggak pernah dipikir-pikir.”
-Reinaldo Kenzie Abizar-

Mungkin itu yang selalu dirasakan oleh Kenzie ketika bertemu dengan ketiga gadis itu. Pria kelahiran Surabaya 28 tahun silam itu sekarang berdomisili di Jakarta. Selama 6 tahun bekerja di perusahaan Pembiayaan, karir Kenzie meningkat pesat. Ia saat ini menjabat sebagai SH (Section Head) sejak 1 tahun yang lalu.

Meski memiliki tubuh jangkung–walau kurang ideal–untuk parameter seorang pria, bagi sebagian kaum hawa banyak yang terpana setiap kali melihat batang hidung mancungnya yang mirip paruh rajawali itu. Bahkan rahang tajam dan kumis tipisnya melengkapi wajah tampannya. Namun, menurut Kenzie sendiri tidak ada yang menarik darinya. Coba saja tilik kulitnya yang sawo matang dan kusam itu. Rambutnya yang ikal bergelombang tidak tertata rapi. Bahkan Alis tebalnya menandakan bahwa sikapnya sangat dingin dan keras kepala kepada orang lain.

Kenzie tidak pernah menganggap dirinya sempurna. Karena masih banyak kekurangan dan keteledoran yang ia lakukan dalam hal apapun. Banyak wanita yang hilir-mudik dalam hidupnya. Bukan karena ia playboy, tapi karena sikap dingin dan tidak bisa romantis–seperti pria pada umumnya—membuat banyak gadis kecewa.

Tentu lah setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Dan Kenzie menyadari akan hal itu. Soal percintaan, ia bukan gagal, hanya kurang beruntung dan belum menemukan pasangan yang bisa mengerti tentang dirinya. Itulah mengapa semenjak pindah ke Jakarta, ia memutuskan untuk bersikap apatis kepada wanita, yang pertanda memiliki perasaan dengannya. Semua itu dilakukan demi kebaikan dirinya dan wanita yang mendekatinya.


Amor Único Dente


PRAKATA

Selamat datang di cerita baru saya. Cerita “Amor Único Dente” adalah kisah tentang seorang pria bernama Reinaldo Kenzie yang sedang berkarir di dunia kerja yang sedang dilanda oleh masalah dengan perusahaannya. Namun ia mencoba untuk menyelesaikan secara baik agar tidak ada pegawai yang dirugikan. Dalam cerita ini juga ada kisah percintaan yang unik dan lucu. Saya akan memberikan sajian berbau humor namun akan membuat kalian baper. Tunggu saja kalau tidak percaya. emoticon-Big Grin

Cerita ini juga masih tahap pembuatan. Jadi kalian akan menemukan banyak sekali typo dan diksi yang kurang tepat disini. Tapi saya berjanji, setelah tamat, cerita ini akan saya revisi ulang. Dan jika cerita ini masih terlalu melempem, tolong di maafkan ya, karena saya hanya penulis amatiran. Do’akan agar saya bisa memiliki banyak ide liar untuk selalu menyajikan dan update cerita yang menyegarkan buat kalian.

Tak lupa cacian dan makian saya tunggu di komentar. Secara tidak langsung, hinaan itu adalah bukti bahwa kalian sangat peduli dan perhatian dengan kesalahan sekecil apapun yang telah saya buat. Satu pembaca bagi saya sangatlah penting. Apalagi ribuan pembaca. Hihihi

Jangan tanyakan kapan update ya, karena saya tidak pasti ada waktu luangnya. Tapi saya akan mengusahakan tidak terlalu lama untuk menamatkan cerita ini. Insha Allah.

Selamat membaca kawan-kawanku yang mengagumkan diluar sana. Salam literasi, salam titik dua kurung tutup dari kami. emoticon-Smilie

Tertanda,


TuffinkS
Diubah oleh tuffinks
profile-picture
profile-picture
profile-picture
.nona. dan 9 lainnya memberi reputasi
10
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 5
Amor Único Dente
10-11-2019 14:36

Amor Único Dente

Identitas Novel


Cerita ini hanyalah fiktif. Apabila ada kesamaan nama tokoh, latar, atau alur cerita, itu hanya kebetulan belaka.


INDEKS!!


Bab 1: Pertemuan 'Rahasia'
Bab 2: Alphamaria
Bab 3: Briefing
Bab 4: Spesies Gay?
Bab 5: Skakmat!
Bab 6: Gue Enggak Homo!
Bab 7: New Record Achievement
Bab 8: Cemburu
Bab 9: Kerabat Lama
Bab 10: Mimpi Buruk
Bab 11: Ronde Kedua
Bab 12: Dasar Labil
Bab 13: Meeting Martabak dan Sebuah Kejutan
Bab 14: Maaf
Bab 15: Keset Perusahaan!
Diubah oleh tuffinks
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tariganna dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Amor Único Dente
10-11-2019 14:36

Pertemuan ‘Rahasia’

Rinai hujan mengetuk jendela kamar indekost. Disertai petir menyambar seenaknya di atas awan, seorang pria duduk tenang di dalam kamar. Ia nikmati kopi hitam yang tinggal satu kali tegukan . Di hari cuti ini, seharusnya ada acara yang ditemuinya, sebelum nanti malam ada meeting mendadak dari Bapak BM (Branch Manager). Beberapa saat kemudian ponselnya berdering. Masuk panggilan dari seseorang. Pria itu mengangkat panggilan tersebut. Berbincang hangat mengenai pertemuan hari ini—akan diadakan dimana nanti. Sedikit basa-basi macam mulut makelar freelance, ia membuka percakapan dalam obrolan.

Sepakat, pria itu hari ini akan bertemu dengan beberapa koleganya di dekat pusat kota. Menggunakan mobil fasilitas kantor, segera ia menuju ke tempat pertemuan yang telah disepakati. Maklum, ia hanyalah anak kampung yang sedang bekerja di perusahaan orang. Meskipun sudah sekelas kepala divisi, ia tidak pernah malu dengan tugas—yang sebenarnya bukan job desk-nya. Ia tetaplah karyawan biasa, Notabene hanya ‘keset perusahaan’.

Reinaldo Kenzie Abizar, seorang pemimpin yang keras kepala namun juga bijaksana. Keras kepala terhadap beberapa wanita yang mendekat “hanya banyak maunya”. Meski tidak semua wanita ia perlakukan seperti itu. Tapi sudah banyak wanita yang hatinya tersakiti karena sikapnya itu. “Yang baper siapa, yang disalahkan siapa. Bodoh amat, lah,” ujarnya setiap kali ditanya oleh sahabatnya.

Di sisi lain, Kenzie juga bijaksana sebagai seorang pemimpin. Ia selalu melindungi bawahannya jika ada tekanan dari atasan. Selalu menerima cercaan dan makian dari BM (Branch Manager), ACM (Area Coordinator Manager), dan bahkan H.O (Head Office) sekalipun. Ia mafhum, tugas anak buahnya di lapangan jauh lebih berat dari dirinya yang hanya duduk: hampir 8 jam di dalam ruangan ber-AC. Menatap layar komputer dan terkadang memantau hasil laporan dari ponselnya untuk menganalisis para nasabah yang hilir-mudik mengajukan utang-piutang.

Kenzie juga pernah menjadi bawahan seperti anak buahnya sekarang. Maka dari itu, ia lebih paham dengan kondisi di lapangan daripada orang-orang yang sudah memiliki jabatan di atasnya–hanya bisa mencerca–tanpa melihat kondisi di lapangan. Seperti kacang lupa kulit, mereka lupa dengan keadaannya dulu ketika masih di lapangan. Hanya bisa ngomel dan wajib target!

Cara kerja Kenzie lebih manusiawi daripada pemimpin lain di cabang ini. Ia lebih mementingkan kebersamaan. Entah itu jabatan paling bawah sampai paling tinggi, ia tetap memanusiakan manusia. Selama beberapa bulan terakhir, memang cabang mereka sedang banyak masalah. Tiga bulan berturut-turut tidak mencapai target. Orderan menurun, NBO (New Booking Order) tidak terbayarkan tepat waktu. Pembayaran nasabah telat, dan banyak problem internal lain dalam perusahaan ini.

Di saat para petinggi perusahaan sedang kalang kabut dan panik menghadapi situasi yang akan membuat nama cabangnya buruk, Kenzie dengan santai menanggapi semuanya. Ini hanya soal waktu. Alam belum memihak kita, katanya. Namun, Kenzie juga sebenarnya lebih panik dari mereka. Hanya saja ia memilih diam memikirkan dan mencari solusi untuk memecahkan masalah. Tidak terlalu berlebihan menanggapi masalah seperti apa yang akan menimpa cabangnya di kemudian hari. Bukankah manusia akan lebih jernih pikirannya jika mereka lebih tenang sedikit dalam menghadapi masalah?

Selama 6 tahun bekerja di bidang pembiayaan, Kenzie belajar banyak hal. Bahwa, manusia bastard itu tidak hanya di kalangan pejabat negara saja, tetapi juga kelas ke bawah dan swasta masih banyak berkeliaran di setiap sudut kota. Memang, manusia tidak pernah luput dengan yang namanya uang. Hanya hati dan pikiran jernih yang tidak dapat dibutakan. Pantas saja negeri ini masih berkembang, orang-orangnya masih kerdil dalam pemikiran, apalagi soal uang. Tak mengapa, itu semua sudah anugerah dari Tuhan. Inilah keunikan manusia di negeri ini.

-oOo-

Dua jam kian berlalu cepat. Jarum pendek menunjuk pukul lima tepat. Pertemuan rahasia Kenzie dengan koleganya telah berjalan dengan lancar. Mereka setuju dengan usulan Kenzie—meski terbilang ngawur dan melanggar SOP (Standar Operational Prosedur) perusahaan. Kenzie tidak terlalu memperdulikan dengan aturan-aturan yang mengikatnya. Selagi itu tidak merugikan pihak perusahaan maupun nasabahnya, tidak masalah baginya. Karena selama ini juga masih banyak kecurangan dari pegawai lain yang di bilang ‘transparan’ telah ketahuan secara terang-terangan, tapi tetap saja mereka aman.

Itulah mengapa Kenzie tidak terlalu memperdulikan aturan yang menurutnya terlalu lebay. Karena ia tahu, petinggi perusahaan suka membuat aturan, tapi terkadang mereka sendiri yang melanggar aturan. Menggelikan bukan? Jabatan terkadang suka menina bobokan keadaan. Tapi ya, sudahlah. Angin telah berlalu. Mereka tetap tak menghiraukan kritik dan saran yang disampaikan oleh para staf bawahannya, termasuk Kenzie. Biarlah mereka melahap api dunianya sendiri. Toh, nantinya juga hidup mereka akan ditanggung sendiri.

Telepon Kenzie berdering kesekian kalinya dari seseorang sejak beberapa menit yang lalu. Tertera nama, Erman Chris–Branch Manager–tempat Kenzie bekerja. Ia abaikan saja ponselnya menari di atas meja café. Salah satu kolega yang sudah akrab dengan Kenzie menilik panggilan itu. “Bardak, lagi cari kamu, tuh,” ujarnya menyeringai. Nama sebutan yang sudah populer di kalangan anak buah Kenzie menyebut nama managernya dengan sebutan, ‘Bardak’.

“Darimana Pak Ufo tahu nama panggilan itu?” tanya Kenzie mengernyitkan dahi.

“Saya sudah dengar banyak dari anak buahmu. Buruan angkat, sebelum ancaman datang.”

“Tak usah, sebentar lagi saya juga akan menemui beliau.”

Memang Kenzie dikenal paling ramah di antara pemimpin di cabang itu. Keramahannya membuat banyak orang baru mudah untuk mengakrabi layaknya kawan sebaya. Banyak nasabah lamanya dulu–saat Kenzie masih menjadi pegawai lapangan–kini kembali lagi ketika ia memegang kendali di kursi kepala divisi kredit. Kejujuran yang dipegang dari awal sampai sekarang masih tetap menjadi prinsip utamanya.

Kenzie dan Erman, selalu berbeda pendapat. Namun apalah daya, Kenzie adalah salah satu bawahan Erman. Mau tak mau ia harus tunduk dengannya. “Kau ini anak buahku. Hanya keset disini. Jadi, apapun keputusanku sudah mutlak!” kata managernya setiap kali mereka beradu argumen. Erman memang hebat dalam bersilat lidah, tetapi tidak saat menghadapi Kenzie. Ia selalu gaguk dalam menjawab—ketika Kenzie mematahkan setiap pendapatnya yang tidak masuk akal. Sebenarnya, banyak pegawai lain yang tidak setuju dengan keputusan Erman, tapi mereka takut untuk mengutarakan. Takut diberi SP (Surat Peringatan), takut jadi bulan-bulanan kemarahan Erman, takut tidak dinaikan jabatan, dan lain sebagainya.

Bagi Kenzie itu sangatlah basi. “Kita ini sama-sama manusia dan karyawan di sini. Kita duduk sama rendah. Berdiri sama tinggi. Jangan pernah takut jika memang ada yang tidak beres,” ujar Kenzie selalu menyemangati rekan-rekan kerjanya saat menghadapi pemimpin yang salah.

-oOo-

Setelah pertemuan singkat itu, Kenzie segera bergegas ke kantor guna mengikuti meeting dadakan. Harusnya, ia saat ini bisa berlibur di hari cutinya. Tapi selalu saja terganggu dengan adanya meeting dadakan. Ia mafhum, belakangan ini cabangnya sedang banyak masalah. Pasti lah banyak tuntutan pekerjaan yang lebih berat.

Pertemuan diadakan di lantai tiga ruangan khusus meeting atasan. Tema yang akan dibahas menurut chat dari grup yang Kenzie baca adalah “Achievement of This Month”. Sudah hal yang lumrah setiap pertengahan bulan seperti ini membahas tentang pencapaian target bulanan.

Kenzie memasuki kantor dan menyapa beberapa karyawan yang tak kunjung pulang. Seharusnya mereka sudah pulang 2 jam yang lalu. Sepertinya mereka takut pulang karena ada Bapak BM di atas. Apa hubungannya? Ya, itulah tabiat pegawai disini. Apabila ada atasan sedang berkunjung, mereka lebih suka berlama-lama di kantor. Ada dua kemungkinan. Pertama, cari muka; agar terlihat totalitas saat bekerja. Kedua, karena takut jika mereka pulang lebih dulu akan di bilang kerjanya tidak profesional.

Seperti Bapak BM bilang, “Jika kalian pulang lebih awal, itu memang hak kalian. Tapi tidak bisakah kalian meluangkan waktu satu-dua jam untuk berkumpul di kantor dan membahas tentang apa yang kalian lakukan hari ini? Menceritakan apa yang sudah kalian dapat hari ini kepada rekan-rekan kalian? Loyalitas itu penting.” Apa yang mereka lakukan di sini? Yang ada bicara sendiri-sendiri dan menunggu waktu pulang tanpa ada masukan dari atasan.

Bagi Kenzie tak perlu seperti itu. Cukup mereka catat apa yang mereka lakukan hari ini, dan tulis pada note atau buku catatan beserta tanggal. Lalu diadakan setiap satu minggu sekali untuk berkumpul bersama dan makan-makan serta menceritakan apa yang telah mereka kerjakan selama satu minggu. Dengan begitu, pimpinan bisa mencatat garis besarnya mana yang kurang dan perlu ada tambahan. Dengan begitu mereka bisa bebas bercerita apa yang telah mereka kerjakan selama satu minggu. Dan mereka juga akan merasa tidak ada jarak yang membatasi antara anak buah dan pimpinan. Bukankah itu lebih menarik daripada nongkrong di lantai bawah dan ngobrol tidak jelas tanpa ada pantauan dari atasan?


Next Alphamaria
Diubah oleh tuffinks
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tariganna dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Amor Único Dente
10-11-2019 14:37

Alphamaria

“Serius lo bilang gitu ke Pak Erman, semalem?”

Kenzie mengangguk mantap. Ia tersenyum memandangi raut wajah berlipat dari seorang gadis berusia 26 tahun itu. Ayara Naradhipa, atau akrab dipanggil Bu Ara, dia adalah salah satu CA (Coordinator Analyst) wanita dalam perusahaan ini. Ia juga sahabat Kenzie, atau sebutan kerennya friendzone. Serta kerabat kerja selama 2 tahun terakhir ini. Bagaimana mungkin wanita itu tidak kaget mendengar ide liar Kenzie?

Saat meeting semalam, Kenzie berani nekat dengan mengatakan bahwa 6 bulan kedepan cabang ini akan mencapai target secara berturut-turut. Punishment-nya; jika tidak bisa mencapai target, maka ia akan siap mengundurkan diri dari perusahaan ini. Lalu, jika hanya selama 5 bulan dan 1 bulan kemudian cabang ini tidak mencapai target, maka tetap akan dianggap gagal. Karena seperti ketentuan awal, ia harus mencapai target selama 6 bulan secara berturut-turut. Bukan permintaan dari atasan, tapi keinginan sendiri dari Kenzie. Ia bosan melihat managernya memarahi bawahannya yang terbilang berlebihan.

Tidak hanya itu, Erman juga sering melakukan PHK (Putus Hubungan Kerja) secara sepihak. Hanya kesalahan sedikit saja, jika mood dari bosnya itu sedang tidak kondusif, besok nama mereka tinggal alamat. Sifat keras kepala dari Erman banyak dibenci oleh staf bawahannya. Tidak cocok dengan argumennya, SP satu. Tidak setuju dengan aturannya, pecat. Benar-benar bos bengis.

“Lo gila, Ken. Sama aja lo pertaruhkan nyawa di perusahaan ini.”

“Memangnya, hidup gue hanya di satu perusahaan ini doang? Memangnya, di luar sana enggak ada perusahaan lain yang lebih membutuhkan gue?” Kenzie menepuk pundak Ara. “Gue begitu lantaran cinta sama staf yang ada di sini.” Lantas berujung masuk ke ruangannya.

“Iiish …, cinta apaan? Songong banget lo jadi orang,” decak Ara sebal.

Kenzie hanya terkekeh mendengar ucapan gadis itu. Sesaat Kenzie tersadar karena sepagi ini ia tak sempat untuk sarapan. Perut keroncongannya memanggil untuk minta diisi sesuap nasi atau roti. Sebuah hal yang cukup krusial namun jadi kebiasaan. Apalagi sebagai pria single yang hidup di kamar indekost untuk memilih mencari makan diluar.

Kenzie kembali keluar dari ruangan. Ia terkesiap ketika melihat Ara masih saja berada dibalik pintu ruangannya dengan tangan berlipat. “Kenapa lo masih disini?” tanya Kenzie mengernyitkan wajah.

“Lah, lo ngapain keluar lagi?”

“Terserah gue,” jawab Kenzie datar buru-buru berjalan menuruni anak tangga.

“Kenapa enggak naik lift aja sih?” Ara mengikuti langkah pria itu dengan tergesah.

Kenzie terhenti sejenak. Ia membalikkan badannya seraya berkata, “Kenapa lo jadi ngurusin hidup gue sih? Mau turun pakai tangga, mau pakai lift. Suka-suka gue, lah.”

“Lo mau kemana?”

Kenzie tetap diam dan terus berjalan tidak menghiraukan kicauan Ara. Selama 2 tahun lamanya, gadis itu memang orang yang paling ribet di antara staf wanita lainnya. Sudah jelas, Ara paling dekat dengan Kenzie.

“LO MAU KEMANA?!”

Suasana kantor yang sebelumnya riuh dengan kesibukan esok pagi mendadak lengang seketika. Hanya suara mesin print yang paling dominan dan terdengar jelas. Beberapa sorot mata memandangi mereka berdua di ruang paling bawah. Kenzie hanya melambai kepada seluruh staf, mengisyaratkan untuk melanjutkan kembali aktivitas masing-masing. Ia merapikan kerah kemeja dan dasinya lalu berjalan kembali.

“Lo mau kemana Bapak Kenzie yang tampan?” tanya gadis itu sekali lagi. Ara benar-benar penasaran dan sepertinya takut jika bosnya melakukan tindakan aneh lagi.

Kenzie menghela nafas. Ia menyerah. “Ayara, kenapa sih, akhir-akhir ini lo jadi ribet sama gue?”

“Gue takut lo kenapa-kenapa Bapak ganteng.”

“Kenapa-kenapa gimana?”

“Gue enggak mau lo nekat lagi Bapak ganteng.”

“Nekat? Emang lo kira gue mau ngapain?”

Bahu ujung kiri-kanan Ara terangkat sedikit. “Entah. Gue pokoknya enggak mau, sahabat ganteng gue kenapa-kenapa.”

Tatapan Kenzie berubah sinis. “Lo bisa hapus kata menjijikkan itu, nggak?”

“Kan emang lo paling ganteng di sini.”

Kenzie hanya melengos dan berjalan lagi menuju pintu kantor paling depan.

“Eh, lo belum jawab pertanyaan gue,” decak Ara sebal.

“Alphamaria,” jawab Kenzie singkat.

Mata Ara membulat sempurna, ia mempercepat langkahnya menghampiri Kenzie. “Lo mau samperin kasir nenek lampir itu?”

“Gue mau makan.”

“Makan apa?”

“Indomie dikasih shampo,” jawab Kenzie asal.

“Iiish …, lebih enak pakai rinso, tau.”

Kenzie menepuk jidat dan menggeleng kepalanya. Sepertinya, ia salah mengajak ngobrol lawan bicaranya. Ara lebih ngaco darinya.

“Gue ikut ya,” cengir Ara.

“Hmm.” Singkat dan dingin seperti biasanya.

Alphamaria adalah toko ritel yang berada di sebelah kantor mereka. Ia sering berkunjung ke tempat itu ketika sedang ingin mencari makanan dan minuman instan. Namun sebulan ini, Kenzie sedikit kesal dengan ulah kasir pindahan yang menurutnya tidak memiliki sopan santun. Sudah hal yang biasa bagi Kenzie menasehati orang lain saat bekerja. Bukan menggurui, lebih tepatnya ia memberikan empati kepada pegawai yang menurutnya itu kurang baik. Contohnya saat di toko Alphamaria. Pernah suatu ketika kejadian dalam rak toko ada beberapa barang display yang expired. Kenzie memberi tahu secara diam-diam tanpa ada pelanggan lain yang mendengar. Ia memberitahukan kepada mereka agar lebih teliti lagi dan tidak kelolosan saat melakukan pengecekan masa kadaluarsa.

Namun, nasihat itu tidak berlaku pada kasir judes—paling tidak disukai oleh Ara. Kayla Sidharta, menurut name tag yang tertera di dada kanan seragamnya. Kenzie pernah satu kali memperingatkan kepada sang kasir soal pelayanan kepada pelanggan, karena ia sering diperlakukan dengan kasar oleh sang kasir. Bukannya nasihat itu diterima, yang ada Kenzie disemprot dengan cuitan yang melengking di telinga. Bukan hanya Kenzie, Ara juga menjadi musuh bebuyutan kasir itu. Namun sepertinya, Kenzie menyadari 2 kesalahannya. Pertama, mungkin karena sikapnya yang sok menggurui saat itu. Atau mungkin karena kejadian beberapa bulan yang lalu—salah pengaduan layanan customer.

Lalu, masalah dengan Ara? Sepertinya kasir itu tidak terima karena pernah dikatakan jelek di depan banyak pelanggan. Kenzie baru menyadari, bahwa pelayanan itu hanya berlaku untuknya dan Ara. Tidak dengan pelanggan lainnya. Sang kasir sangat ramah dengan pelanggan lain yang datang di sana. Bahkan banyak lelaki ‘hidung belang’ yang suka menggodanya karena kecantikan dan parasnya yang indah itu. Apalagi mata sayunya yang mampu membakar relung jiwa para kaum Adam.

-oOo-

“Lo lagi, lo lagi. Bosen gue lihat kalian kemari.” Seloroh ucapan salah satu pegawai di toko membuat Ara berdecal kesal. Siapa lagi kalau bukan Kayla. Namun Kenzie tidak memperdulikan. Ia tetap masuk berujung mencari makanan yang bisa disantap secara instan pagi ini. Setidaknya bisa menjanggal perutnya sampai siang nanti.

“Bukannya ngasih salam sapaan ke kita. Eh, malah ngomel,” sahut Ara tak terima. “Lo harusnya seneng kita belanja di sini.”

“Bagus deh. Pelanggan pertama pagi ini: Di datangi oleh dua orang aneh. Satu kayak batu berjalan yang keras kepala. Satunya lagi kayak keluarga Jalak, sebangsa Beo!” ucap Kayla sembari berlipat tangan di area kasir.

“Lo itu Nenek lampir!”

“Apa lo bilang? Gue cantik kayak begini di bilang nenek lampir.”

“Hah? Cantik? Hellooo ..., ngaca sana. Masih jauh di bawah gue!”

Braakk!!

Barang belanjaan dari keranjang mendarat diatas meja kasir—tempat Ara dan Kayla bertengkar. “Berapa semuanya?” ujar si pemilik keranjang.

“Bisa sedikit sopan nggak? Ngagetin gue aja.”

“Cepetan total. Banyak bacot!”

Salah satu pegawai lain keluar dari dalam gudang. Ia berlari kecil mendatangi sumber kegaduhan itu. Sepertinya dia pimpinan shift di toko tersebut.

“Kayla!” Pimpinan shift itu menatap tajam anak buahnya. “Cepet kasiri. Kamu itu lagi-lagi bikin masalah.”

“Ba …, baik, Pak Raka.” Sang kasir segera mengetikkan PLU (Price Look Up-unit) pada setiap barang belanjaan mereka. Ia memang sengaja tidak menggunakan mesin scan agar bisa berlama-lama memandang wajah pria di depan kasir itu.

“Eh, bentar. Gue belum ambil apa-apa udah mau dibayar,” ujar Ara sembari berlari menuju lorong rak mengambil minuman dan cemilan.

“Iya udah buruan.” Kenzie memilih tak banyak bicara. Ia lapar, hanya ingin makan. Apalagi sepagi ini ia sudah berhadapan dengan 2 wanita planet yang aneh, cerewet, dan judes. Meskipun keduanya cantik, tapi tetap saja aneh kayak alien.

“Cepetan, Beo. Lama banget lo kalau belanja, pantesan jomblo. Mana ada cowok mau deket sama lo yang lelet kayak gitu.” Beberapa kali sang kasir mencuri pandang ke arah Kenzie. Namun Kenzie tetaplah Kenzie, pria dingin dan cuek dengan orang asing.

“Bawel amat lo Nenek lampir, sialan. Pantes toko lo sepi.” Ara berjalan dari ujung lorong rak gondola, mendekati area kasir.

“Dilihat dari belanjaan ini, kayaknya lo belum sarapan pagi ini ya? Kasihan,” celetuk Kayla tanpa basa-basi kepada pria yang ada di depan area kasirnya.

“Sok perhatian lo,” sahut Ara.

“Gue tanya sama dia. Bukan sama lo!” Kayla tak kalah garang. “Lo belum sarapan?” Ia melirik sekali lagi wajah Kenzie.

“Tadi denger kata pimpinan lo apa enggak?” jawab Kenzie juga tak mau banyak basa-basi.

“Iiish, iya, iya. Dasar batu. Keras kepala banget lo jadi cowok. Gue cuma tanya doang di sewotin.”

Kenzie memilih diam tidak menghiraukan. Memperpanjang pun percuma, karena tidak akan ada habisnya melawan kaum hawa yang modelnya seperti alarm emergency ini.


Next Briefing
Back to Indeks
Diubah oleh tuffinks
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tariganna dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Amor Único Dente
10-11-2019 15:44

Briefing

“Sssttt, Pak …, Pak Raka …,” desis Kayla dari area kasir.

“Hmm?”

“Lama-lama, cowok itu terlihat makin ganteng banget ya, Pak.” Pimpinan shift itu mengedarkan pandangan. Mungkin yang Kayla maksud, 2 orang pelanggan yang baru saja keluar dari tokonya.

“Tapi kayaknya Burung Beo itu pacarnya,” imbuh Kayla dengan bibir sedikit manyun.

Raka–pimpinan shift–memiringkan salah satu ujung bibirnya. “Kamu itu suka tapi berlagak judes di depan dia. Kalau suka ya suka aja, enggak usah pura-pura.”

Kayla hanya diam. Masih menikmati pemandangan indah yang semakin menjauhi tokonya.

“Woy! Ngelamun terossss,” sergah salah satu pegawai lain yang baru saja selesai menyapu halaman depan toko.

Kayla terperanjat dari lamunannya. “Apaan sih.”

“Mereka enggak pacaran kok. Cewek itu, kayaknya cuma temen kerjanya doang.”

“Lo tahu darimana?” tanya Kayla.

“Kan kerjanya di samping toko kita.”

“Kalau itu gue tau, Yud. Masak cuma dengan bukti itu bisa ngeyakinin kalau mereka enggak pacaran,” desis Kayla sebal.

“Oh iya, satu lagi. Gue kan juga satu tempat kost sama Bang Kenzie.” Wahyudi, salah satu pramuniaga toko tersebut memang satu tempat kost dengan pria batu itu. Namun, mereka tidak terlalu dekat karena kesibukan masing-masing. Meski begitu, Wahyudi tahu betul bahwa Kenzie tidak memiliki pacar ataupun gebetan.

“Hah? Masa? Dimana kostnya?”

“Hmmm …,” Wahyudi mengelus-elus dagunya dengan satu jari telunjuk. Pandangannya ke atas seolah mempertimbangkan sesuatu. “Oke, gue kasih tahu. Tapi ada satu syarat,” sambungnya.

“Apa?”

“Lo harus nginep di kost gue satu malam. Mau?”

Plaakk!

“DASAR OTAK MESUM!”

Wahyudi meringis kesakitan. Pipinya memanas terkena tamparan yang cukup renyah dari Kayla. “Bercanda gue. Kasar amat,” ujarnya sambil mengelus pipinya. “Nanti gue kasih tahu. Gue mau bersih-bersih gudang dulu.”

“Sorry, gue barusan juga bercanda,” cengir Kayla. Yes. Kena lo batu berjalan yang ganteng, benaknya membatin pria itu.

Sementara di sisi lain, kedua anak manusia itu sedang menuju kembali ke arah kantornya. Ara tak henti-hentinya mengumpat dengan berbagai macam nama hewan yang ada di bumi. Karena perkataan kasir toko tadi yang membuatnya benar-benar naik pitam. Kenzie hanya terkekeh dan mengacak-acak rambut sahabatnya yang lucu itu.

“Pak Kenzie kemana saja? Lama sekali,” tanya seseorang yang baru saja keluar dari lift. Dude Lesyto, atau akrab dipanggil Lestyo, namun juga kerap kali dipanggil, Bung, karena nama awalannya. Ia juga salah satu staf yang selevel dengan Ara. Pemegang posisi CA di bawah kendali Kenzie.

“Sorry, tadi ada pertandingan ayam betina di samping kantor.”

Mata Lestyo itu terbelalak. “Yang benar, Pak?”

Kenzie mengangguk dengan senyuman aneh. “Kalau kamu enggak percaya, tanya saja sama dia.” Kepalanya bergerak sedikit ke kanan—menunjuk arah Ayara. Gadis itu hanya berlipat tangan dengan bibir manyun. Sementara Lestyo menahan tawa, seolah mengerti apa yang Kenzie maksudkan. Sudah hal yang lumrah beberapa hari belakangan ini. Ketika Ara sedang berbelanja di Alphamaria dan bertemu kasir itu, pasti sekembalinya belanja ia selalu cemberut.

“Teman-teman lapangan sudah kumpul di atas. Bisa kita mulai sekarang, Pak Ken?” ujar Lestyo itu.

“Siapa yang suruh briefing diatas? Di Aula saja. Sambil makan-makan cemilan.”

Lestyo menelan salivanya berat. “Tapi, Pak Ken. Kalau ada Pak Erman nanti gimana?”

“Sudahlah, enggak perlu khawatir. Kalau di ruang atas, mereka terlalu tegang. Kalau di tempat Aula, kan, mereka bisa sedikit tenang. Ngemil makanan sambil minum kopi dan ngerokok.”

“Tapi kan, Pak Kenzie enggak ngerokok?”

“Pak Lestyo tahu dari siapa kalau dia enggak ngerokok. Kalau di luar dia ngebes,” sahut Ara.

Kenzie hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sementara Lestyo menahan tawa untuk kedua kalinya.

“Baiklah, kalau begitu. Pak Kenzie dan Bu Ara tunggu di ruang Aula saja. Saya akan panggil teman-teman pindah briefing ke lantai bawah.” Kenzie hanya menjentikkan jempolnya dan berujung berjalan menuju ruang Aula bersama Ara.

-oOo-

Setelah penjelasan panjang kali lebar tentang briefing yang telah Kenzie sampaikan, para anak buahnya dipersilahkan untuk menikmati beberapa cemilan ringan yang telah dibeli oleh Kenzie tadi pagi. Seperti biasa, kopi hitam menemani jalannya briefing setiap pagi. Memang beberapa bulan ini mereka sangat jarang untuk melakukan briefing setiap seminggu sekali. Karena kesibukan dari Kenzie yang harus turun tangan ke lapangan menangani beberapa masalah.

Beberapa minggu ini, briefing selalu diisi oleh Erman untuk menggantikan tugas Kenzie sementara. Beda Kenzie beda halnya Erman. Ia terlalu menekankan kepada anak buahnya untuk target, target, target dan target. Tidak mau tahu caranya seperti apa. Begitu bodoh menurut Kenzie, jika seorang pemimpin hanya bisa memaksakan kaki tangannya untuk bergerak, sedangkan otak dan tubuh lainnya bermalas-malasan. Cara Kenzie lebih bisa mengerti keadaan.

“Sambil menikmati cemilan, mari kita bicara ringan tentang kendala di lapangan,” ujar Kenzie memecah riuh dari anak buahnya—yang mengobrol sendiri-sendiri di dalam ruangan. Lengang, itulah suasana yang mendominasi saat ini. Namun tidak tegang, mereka memperhatikan Kenzie dengan senyum lebar.

“Oh iya, Pak Ken.” Seseorang memecah hening. “Saya semalam di telepon oleh salah satu nasabah yang bermasalah. Katanya, dia sudah ada uang untuk bayar angsuran. Nanti sore akan saya ambil uangnya,” paparnya.

Kenzie manggut-manggut bangga melihat gerak cepat dari anak buahnya itu.

“Orderan saya kemarin terlalu banyak, Pak Ken. Jadi ada dua nasabah yang belum sempat di visit. Nanti kalau sepi order saya kunjungi langsung ke rumahnya.” Anak buah lainnya bercerita.

“Pak …, Pak …,” Dari sudut lain ada yang mengangkat tangan tak kalah antusias.

“Ada apa. Kamu Faruq, bukan?” seru Kenzie bertanya.

“Betul, Pak Ken,” balas anak buahnya. “Saya mau tanya. Kalau ada nasabah yang masih kredit, terus mau mengajukan lagi bagaimana?”

“Sudah kamu cek record pembayarannya bagus atau tidak?”

“Sudah, Pak.”

“Hasilnya?”

“Bagus dan nol denda, Pak.”

“Mantul. Jangan sia-siakan. Segera follow up secepatnya,” ujar Kenzie sambil menjentikkan kedua jempolnya.

“86. Segera dilaksanakan, Pak Ken.”

Semua ruangan riuh dengan tertawa. Kemudian masih banyak lagi cerita dari teman-teman yang ada di lapangan. Tanpa disuruh, tanpa meminta, mereka saling menyadari tugas dan tanggung jawab masing-masing. Dengan tenang dan santai seperti kerabat dekat, mereka saling bertukar cerita tentang berbagai kendala di lapangan. Kenzie tidak pernah membatasi antara bawahan dan atasan. Meski sopan santun dan rasa hormat tetap dijunjung tinggi. Tapi di luar itu semua, mereka sama. Sama-sama manusia yang harus di manusiakan. Duduk sama rendah. Berdiri sama tinggi. Apa yang perlu disombongkan?


-oOo-

Next Spesies Gay?
Back to Indeks
Diubah oleh tuffinks
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tariganna dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Amor Único Dente
11-11-2019 09:44
menarik ceritanya mnurut ane, lanjutkan yaa gan, klo udh free di RL di update yaa emoticon-2 Jempol
profile-picture
profile-picture
Rapunzel.icious dan tuffinks memberi reputasi
2 0
2
Amor Único Dente
11-11-2019 10:04
Quote:Original Posted By tidhy010709
menarik ceritanya mnurut ane, lanjutkan yaa gan, klo udh free di RL di update yaa emoticon-2 Jempol


Terima kasih.
Siap, Insha Allah ya. Kalo ada waktu pasti saya update secepatnya
profile-picture
profile-picture
Rapunzel.icious dan tidhy010709 memberi reputasi
2 0
2
Amor Único Dente
12-11-2019 05:09
Gan, ane kurang suka sama mulusnya kenzie. Malah cakepan Harera

Edited: nah, sekarang cuco cyin mulusnya 🤤🤤🤤
Diubah oleh Rapunzel.icious
profile-picture
tuffinks memberi reputasi
1 0
1
Amor Único Dente
12-11-2019 12:52
Quote:Original Posted By Rapunzel.icious
Gan, ane kurang suka sama mulusnya kenzie. Malah cakepan Harera


Maaf kalau mengecewakan pembaca soal mulustrasinya.
Kenzie sengaja tidak di tampakkan agar menjadi rahasia saja.
Yang terpenting isi ceritanya, buka mulusnya emoticon-Winkemoticon-Winkemoticon-Wink

Edited:
Sekarang cakepan siapa? Kenzie apa tetep Harera? emoticon-Embarrassment
Diubah oleh tuffinks
profile-picture
Rapunzel.icious memberi reputasi
1 0
1
Amor Único Dente
12-11-2019 21:10
Lama tak mampir ke SFTH, hampir setahun mungkin. Selain karena saya punya hutang cerita yang belum selesai dan entah kapan akan dilanjut emoticon-Hammer juga karena terlalu banyak cerita horor yang bikin ngeri emoticon-Takut (S)

Sekarang mampir lagi kesini karena nyantol sama judul cerita agan, penasaran langsung klik dan mulai menikmati cerita. Tiga chapter pertama saya suka, kecuali pada bagian mulustrasi. Menurut saya ilustrasi para tokoh hanya akan memdangkalkan imajinasi.

Lanjut gan, saya akan menjadi penghuni tetap thread ini emoticon-Nyepi
profile-picture
tuffinks memberi reputasi
1 0
1
Amor Único Dente
12-11-2019 21:51
Quote:Original Posted By greynimation
Lama tak mampir ke SFTH, hampir setahun mungkin. Selain karena saya punya hutang cerita yang belum selesai dan entah kapan akan dilanjut emoticon-Hammer juga karena terlalu banyak cerita horor yang bikin ngeri emoticon-Takut (S)

Sekarang mampir lagi kesini karena nyantol sama judul cerita agan, penasaran langsung klik dan mulai menikmati cerita. Tiga chapter pertama saya suka, kecuali pada bagian mulustrasi. Menurut saya ilustrasi para tokoh hanya akan memdangkalkan imajinasi.

Lanjut gan, saya akan menjadi penghuni tetap thread ini emoticon-Nyepi


Hihihi. Sebenernya enggak ingin pasang mulus dulu sih.
Cuman udah terlanjut yaudah biar pembaca terimajinasi. Wkwkwk

Makasih buat kritik dan sarannya gan.
Di tunggu cerita ente yg belum kelar. Semangat nulisnya. Hehehe
profile-picture
Rapunzel.icious memberi reputasi
1 0
1
Amor Único Dente
13-11-2019 13:53

Spesies Gay?

“Selamat malam, Pak tampan. Kok belum pulang, sih?” Suara yang sudah khas dan hampir setiap harinya mengganggu kehidupan Kenzie saat pulang ataupun jam istirahat kerja. Siapa lagi kalau bukan Selvi Yuniar. Salah satu staf Head DC (Desk Collection)—pemilik paras paling gemulai, kulit cerah, kenyal dan wajah bening bercahaya seperti iklan ‘body lotion’.

“Pak tampan …, pulang yuk.” Tanpa permisi, gadis itu duduk di atas meja kerja Kenzie.

“Cih.” Kenzie mematikan laptop dan komputernya lantas berujung keluar dari ruangan.

“Iiih …, kok Selvi di tinggal, sih.” Selvi berdecak sebal dan menghentakkan kakinya beberapa kali di atas lantai.

Ara yang melihat kejadian itu geleng-geleng menahan tawa. Sudah hal yang lumrah menjadi tontonan beberapa bulan terakhir ini—ketika Selvi pindah dari cabang Tangerang ke DKI. Hampir setiap hari nempel Kenzie terus. Namun, Kenzie sama sekali tidak tertarik dengan gadis itu. Selvi memang cantik, dan paling cantik di antara staf wanita di perusahaan ini. Jika dibandingkan dengan Ara, mungkin perbandingannya 11 untuk Ara dan 12 untuk Selvi.

Namun yang membedakan, sikap Selvi terlalu berlebihan. Kenzie sudah mengetahui jauh-jauh hari tentang wanita centil itu. Dia mendekati lelaki yang memiliki jabatan tinggi di perusahaan. Visinya; bisa dipromosikan dan naik jabatan dengan cepat. Misinya; mengorek habis uang dari lelaki yang berhasil ia dekati. Kenyataannya; itu semua tidak akan berhasil di hadapan seorang Reinaldo Kenzie Abizar.

“Selvi pengen pulang sama, Pak tampan.” Ia berjalan cepat menyusul Kenzie yang sudah memasuki lift.

“Wah, kita berdua sekarang di dalam lift. Selvi pejam mata deh, pura-pura enggak tahu apa yang dilakuin sama Pak tampan.”

“Geser otak lo, mesum terus pikirannya!” ketus Kenzie.

Gadis itu menoleh kearahnya. Semakin mendekat dan sangat dekat. Kenzie menelan salivanya beberapa kali. “Lo ngapain sih!”

Senyum gadis itu semakin mengembang ketika tatapannya hanya berjarak beberapa senti dengan wajah Kenzie. “Selvi cuma ingin lihat wajah Pak Kenzie dari dekat. Ternyata benar, ganteng banget,” decaknya kagum dengan mata berbinar.

Kenzie menghela nafas panjang. Ia lebih memilih tidak menghiraukan Gadis gila di sampingnya itu. Sejurus kemudian, mereka telah sampai pada lantai paling bawah. Pintu lift terbuka, keduanya terkesiap. Mereka berdua kaget melihat di depan pintu lift sudah ada Bapak BM–Erman Chris–sedang melipat tangan di atas dada.

“Bagus ya, kerjamu baru satu tahun jadi Section Head sudah kayak gini?” ujar Erman yang sudah jelas tertuju kepada Kenzie.

“Kayak gini bagaimana maksud Bapak? Bukannya Pak Erman juga baru 6 bulan kemarin naik Branch Manager, ya?”

Ucapan Kenzie barusan justru membuat Erman semakin tersulut emosi. “Berani lawan ucapan saya? Kamu kerja belum becus, sudah berani pacaran sama Selvi!”

Kenzie mengangkat alisnya sebelah. Pertanda tak mengerti. Namun, detik berikutnya ia menyadari alur pembahasan yang di maksud oleh Erman. Kenzie tersenyum penuh arti. “Oh, jadi Pak Erman cemburu?”

Erman semakin gelagapan setelah mendengar ucapan Kenzie. “Awas kalau kamu enggak target sampai akhir bulan ini. Ingat janji kamu.” Tiba-tiba ia mengalihkan topik pembicaraan.

“Kita lihat nanti. Semoga Pak Erman juga masih ingat dengan perjanjian kita,” jawab Kenzie datar.

“Oke, kita lihat nanti.” Mata Erman tak henti-hentinya memandang gadis body lotion itu. Ia menelan salivanya, memandang tubuh sang gadis. Kerongkongannya terasa sangat haus dan ingin segera menyelam dalam kolam susu.

“Selvi, kamu pulang sama saya, ya,” ajak Erman.

“Ehmm …, anu, Pak. Saya, sama Pak Kenzie mau …, anu ….”

“Sudah, jangan anu-anu. Nanti saya ajak makan ke restoran paling anu di sini. Dan belanja di tempat paling anu.”

Selvi mengernyitkan wajahnya. “Maksudnya gimana, Pak?”

Erman mendeham. “Ya, maksudnya restoran paling enak. Sama belanja di mall paling besar di sini.”

Mata Selvi membulat sempurna mendengar itu. “Asiiik …, iya deh, Selvi mau. Dadah, Pak Kenzie.”

Tanpa basa-basi, Erman tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Tangan Selvi segera ditarik olehnya dan bergandengan keluar dari halaman gedung kantor.

Cih. Dasar bedebah. Satu mata duitan, yang satu lagi mata keranjang. Semoga istri lo di rumah selalu sabar, Man, Erman, batin Kenzie menggeleng kepalanya.

“Mau makan malam, Pak tampan?”

Kenzie terkesiap untuk yang kedua kalinya mendengar panggilan dari balik punggungnya. Ternyata itu Ayara yang baru saja keluar dari lift.

“Udah gue bilang. Jangan panggil dengan sebutan itu,” pinta Kenzie memelas.

“Kenapa, sih. Emang lo paling ganteng di sini. Untung aja kita sahabatan. Kalau enggak ….” Kedua sudut bibir Ara mengembang. Namun detik berikutnya, bibirnya kembali cemberut. “Kok lo enggak tanya sih?”

“Tanya apa?”

“Ya, tanya kalau enggak, gue bakal gimana ke elo.”

“Kalau enggak, gue bakal gimana ke elo?”

Ara mendengus kesal. “Kalau lo yang nanya, harusnya pertanyaannya jadi gini …,” Ia mencontohkan agar pria di depannya itu benar-benar paham. “Kalau enggak, lo bakal gimana ke elo? Gitu,” jelasnya.

Kenzie manggut-manggut mengerti. “Oke, oke. Kita ulangi lagi.”

“Udah ah, males gue. Emang bener, lo kayak batu berjalan, dingin kayak gunung es!” Ara berjalan cepat keluar dari gedung kantor.

Kenzie kembali menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Lo jadi makan nggak?” Ia mempercepat langkahnya, mensejajarkan dengan langkah Ara.

“Hmm,” jawab Ara singkat.

“Oke, tunggu. Gue ambil mobil di parkiran.”

-oOo-

Mereka berdua menuju tempat makan yang sederhana. Hanya di pinggiran kota. Bukan tidak mampu untuk pergi ke restoran, tapi warung sederhana itu sudah menjadi langganan mereka berdua. Ayara juga bukan asli orang Jakarta. Dia orang Malang yang kemudian pindah ke Jakarta karena mutasi pekerjaan. Sebagai sesama perantau dan penduduk indekost, mereka harus saling menghemat pengeluaran untuk hidup di kota orang.

“Ken …,” panggil Ara memecah hening.

“Hmm.”

“Lo enggak ada pikiran buat married?”

Uhukk uhukk!!

Kenzie mengakhiri makan malamnya. Ia cepat-cepat mengambil minum karena tersedak mendengar pertanyaan dari Ara. “Kenapa tiba-tiba lo tanya gitu?” tanyanya sembari mengusap mulutnya dengan tisu.

“Lo udah mapan banget. Karir bagus. Gaji, tabungan, udah ada. Umur, udah pas, lah. Fisik? Selama gue kenal sama lo, enggak ada cewek yang enggak tergila-gila sama lo,” jelas Ara panjang lebar.

Kenzie mendengarkan dengan khidmat, sembari melihat satu dua motor yang lewat.

“Apalagi yang lo cari?” imbuh Ara.

Kenzie terdiam lama. Cukup lama.

“Ken?”

“Hmm,” jawab Kenzie singkat. Ia mengambil minuman yang ada di atas meja dan menghabiskannya.

“Lo bukan spesies Gay, kan?”

Byooorrr!!

Ara tertawa lepas melihat ekspresi Kenzie memuntahkan air minumnya dan melotot ke arahnya.

“Gila lo! Enggak lah,” ketus Kenzie.

Ara masih tertawa sambil mengusap bulir air bening pada bagian ekor matanya. “Abisnya selama 2 tahun ini, gue enggak pernah tau lo kencan sama cewek. Lo tolak terus mereka.”

Kenzie hanya diam. Ia fokus mengusap air yang telah dimuntahkan di atas meja. Sesaat kemudian ia tersenyum jahat. “Lo pengen bukti kalau gue bukan Gay?”

Ara hanya mengangguk karena sedang minum es teh yang tinggal separuh gelas.

Kenzie mendekati telinga Ara dan membisikkan sesuatu. Detik berikutnya, Ara terperanjat dan tersedak karena mendengar perkataan Kenzie.

“Gila lo! Enggak mau gue!” bentak Ara kesal.

Kenzie terkekeh. “Makanya, jangan asal ngomong mulut lo.”

“Udah-udah, anterin gue pulang sekarang.” Ara malu dan canggung mendengar ucapan Kenzie barusan.

“Baiklah. Humor malam ini cukup,” ujar Kenzie puas. Mereka berdua berdiri dan beranjak pulang.


-oOo-

Next Skakmat!
Back to Indeks
Diubah oleh tuffinks
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tariganna dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Amor Único Dente
13-11-2019 16:14
Quote:Original Posted By tuffinks
Maaf kalau mengecewakan pembaca soal mulustrasinya.
Kenzie sengaja tidak di tampakkan agar menjadi rahasia saja.
Yang terpenting isi ceritanya, buka mulusnya emoticon-Winkemoticon-Winkemoticon-Wink

Edited:
Sekarang cakepan siapa? Kenzie apa tetep Harera? emoticon-Embarrassment


Erman. Karena ku suka om om
emoticon-Malu :goyang

Mulusnya Kayla bikin aku pengen pake lipstick warna peach dan potong poni.
emoticon-Kiss
profile-picture
tuffinks memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Amor Único Dente
13-11-2019 20:43
Quote:Original Posted By tuffinks
Wkwkwk, dasar kamu ya.
Yaudah, selamat berkencan dengan om om emoticon-Genit

Hihihi, gaperlu. Aku suka kamu yg natural aja. Jadi diri sendiri, enggak perlu jadi Kayla Sidharta. emoticon-Peluk


Kamu mau gak jadi om om nya aku?
🤣🤣🤣🤣🤣

Yaudah aku jadi Ayara ajah~
profile-picture
tuffinks memberi reputasi
1 0
1
Amor Único Dente
13-11-2019 21:29
Quote:Original Posted By Rapunzel.icious
Kamu mau gak jadi om om nya aku?
🤣🤣🤣🤣🤣

Yaudah aku jadi Ayara ajah~


Waaah. Aku belum om om. Aku jadi diri aku sendiri aja ah~ 😌😌😌

Iyaudah jadi apa aja gapapa deh. emoticon-Wink
profile-picture
Rapunzel.icious memberi reputasi
1 0
1
Amor Único Dente
14-11-2019 19:44
Ini boleh komen serius gak gan? Soalnya kalo ane udah mulai suka sama cerita suka rese sendiri. Hehehe...

komen yang gak usah dibuka
profile-picture
tuffinks memberi reputasi
1 0
1
Amor Único Dente
14-11-2019 19:55
Quote:Original Posted By greynimation
Ini boleh komen serius gak gan? Soalnya kalo ane udah mulai suka sama cerita suka rese sendiri. Hehehe...

komen yang gak usah dibuka


Hehehe, gpp gan. Saya malah berterima kasih banyak karna ada masukan dari pembaca.
1 pembaca bagi saya sangat berarti untuk karya saya kedepan.

Sebelumnya cerita ini juga ada yg komentar seperti ini gan. Tapi coba kita lanjut aja sampe tamat. Kalaupun klise, dan berkesan seperti mary sue, maka akan saya perbaiki lagi ceritanya.
Mohon maaf jika nanti di pertengahan chapter terasa membosankan dan itu² aja. Saya masih penulis amatir dan masukan seperti ini akan menjadi nutrisi bagi saya kedepannya.
Terima kasih sekali lagi karena memberikan masukkan pada cerita ini. emoticon-Nyepi
profile-picture
Rapunzel.icious memberi reputasi
1 0
1
Amor Único Dente
15-11-2019 15:37

Skakmat!

Di senin pagi yang cukup cerah. Seperti biasa, aktivitas ibukota membuat polusi udara kemana-mana. Macet adalah cuci mata setiap harinya. Kenzie harus berangkat lebih awal karena akan ada do'a pagi dan laporan selama satu minggu kemarin. Setiba di kantor, Kenzie tertegun cukup lama melihat semua karyawan sudah banyak yang datang di lantai bawah. Ini baru pukul 7, bukankah terlalu pagi?

Sesaat ia tersadar, ternyata tadi benar dugaannya saat memarkirkan mobilnya di belakang kantor. Gawat. Nopol itu, batinnya. Mana mungkin ia lupa. Bahkan hampir semua pegawai di sini hafal dengan nomor polisi mobil di parkiran tadi. Ia segera berjalan lebih cepat memasuki lantai paling atas gedung kantor.

“Jam berapa ini?” tanya seseorang sudah duduk di dalam ruangan Kenzie.

Kenzie menilik arlojinya. “Pukul 7 lebih 5 menit, Pak.”

“Eh, berani jawab lagi!” sahutnya. “Kau tidak melihat grup cabang semalam? Saya sudah bilang besok ada Bapak Handoko di cabang kita, harusnya datang lebih pagi!” imbuhnya dengan wajah seperti gunung berapi.

Kenzie memilih untuk diam tak menjawab. Sepertinya memang benar. Ia semalam tidak melihat chat di grup cabang. Tapi, tidak bisakah orang di depannya ini bicara lebih lembut lagi? Mendengar suaranya saja sudah melebihi toa masjid.

“Kamu denger saya bicara apa enggak? Malah melamun,” ujar pria di depannya yang memiliki tubuh sedikit tambun itu.

“Sudah,” sahut seseorang di sampingnya. “Hanya masalah seperti itu tidak perlu dipermasalahkan, Pak Erman.” Beliau adalah Bapak Handoko–Area Coordinator Manager–pemegang wilayah Jakarta bagian II. Usianya yang sebentar lagi menginjak kepala 5 itu tidak nampak banyak kerut di wajahnya. Mungkin karena irit marah dan banyak bercanda membuatnya terlihat segar setiap harinya.

“Tapi, Pak Handoko. Orang seperti ini tidak bisa dipertahankan di perusahaan bonafide se–”

“Cukup,” sahut Pak Handoko memotong kembali. “Sepertinya kamu berlebihan menilai anak buah. Lagipula, saya tidak suka terlalu dijamu berlebihan,” sambungnya sambil terkekeh.

“Ba …, baik, Pak. Maafkan saya.”

Kenzie hanya diam. Dingin seperti biasanya. Meski dalam hatinya ingin sekali tertawa melihat managernya di sentil oleh Bapak ACM.

Ingatlah, bahwa di atas langit masih ada Hotman Paris. Jadi, jangan pernah sombong dengan jabatanmu saat ini.

“Saya dengar dari Pak Erman, kamu berani bertaruh target 6 bulan berturut-turut di cabang ini. Dengan konsekuensi kalau tidak target kamu resign. Apa benar begitu?”

“Betul, Pak,” jawab Kenzie singkat. Kenzie tetaplah Kenzie. Mau pimpinan setinggi apapun ia tetap saja dingin.

“Kenapa kamu lakukan itu?”

Kenzie menatap tajam wajah Erman sangat lekat. “Jadi, Pak Erman tidak menjelaskan apa alasannya?” Kenzie berbalik tanya.

“Dia hanya cerita soal itu saja,” balas Pak Handoko.

“Begini, Pak,” sahut Erman memotong sebelum Kenzie menjelaskan. “Pak Kenzie melakukan itu karena sadar. Kalau misalkan dia tidak bisa memenuhi target lagi, berarti sudah tidak produktif di sini.”

Pak Handoko manggut-manggut mengerti. “Kalau begitu, buktikan bahwa kamu masih produktif, Pak Ken.”

Kenzie hanya mengangguk sekali. Tangannya mengepal. Rahangnya semakin mengeras mendengar lidah bedebah Erman. Padahal kenyataannya bukan seperti itu. Dasar Jipan, jilat pantat, batinnya.

“Baiklah, sekarang kita ke ruang Aula. Do’a pagi sebentar lagi di mulai, kan?”

“Baik, Pak Handoko,” jawab Kenzie dan Erman kompak.

“Saya mau lihat perubahan apa yang sudah dilakukan di cabang ini,” ujar Pak Handoko sembari keluar dari ruangan.
“Bos,” panggil Kenzie menatap tajam managernya—saat Pak Handoko sudah dipastikan keluar dari ruangannya.
Erman berhenti sejenak. “Saya masih ingat. Sori, tadi saya poles ceritanya sedikit lebih menarik.” Bibir Erman terangkat sebelah. lantas kembali berjalan menuju ruang Aula.

-oOo-

Selesai pelaksanaan do’a pagi dan laporan mingguan, pukul 10 Bapak Kawil berpamitan. Maklum, petinggi perusahaan pasti sangat padat agendanya.

“Tadi perubahan yang cukup signifikan dibanding bulan kemarin. Saya yakin bulan ini, cabang kalian bisa mencapai target,” ujar Bapak Handoko kepada kedua bawahannya—Erman dan Kenzie di ruangan Section Head.

“Pak Kenzie, tadi trobosan kamu sangat bagus. Anak muda yang memiliki banyak inovasi seperti kamu sangat dibutuhkan di perusahaan ini. Bagaimana, Pak Erman?”

“Eee …, iya, Pak. Strategi Pak Kenzie memang luar biasa,” sanjung Erman, meski dengan terpaksa.

“Saya yakin cabang ini bisa target secara terus menerus kalau seperti ini. Saya permisi dulu. Bulan depan saya ke sini lagi. Selamat bekerja.” Pak Handoko menepuk bahu Kenzie dan berujung keluar dari ruangan. Erman juga beranjak keluar tanpa permisi.

Kenzie kembali duduk di kursi ruangannya. Ia sandarkan kepalanya. Hari ini cukup melelahkan. Mendengar ceramah dari ACM dan BM-nya sekaligus di pagi hari. Sesaat ia melirik sebuah bingkisan makanan di atas mejanya, entah dari siapa. Kenzie membuka makanan itu ada seutas tulisan. “Selamat bekerja, semangat!” Ia tersenyum membaca tulisan itu.

Tok! Tok! Tok!

Terdengar seseorang mengetuk pintu di ruangan Kenzie. “Masuk,” serunya.

“Selamat siang, Pak Ken. Mau setor laporan,” ujar seseorang yang baru masuk dalam ruangan Kenzie.

“Iya, silahkan. Taruh saja di atas meja sana.” Kenzie membuka laptopnya. Ada yang harus ia cek di minggu terakhir bulan ini. Namun pada detik berikutnya, kepalanya bergeser sedikit, melihat staf tadi yang masih saja belum beranjak keluar dari ruangan. “Ada apa lagi?” tanya Kenzie.

Staf itu menggeleng gugup. “Emm …, enggak ada, Pak. Saya hanya ingin melihat wajah Pak Kenzie saja.”

Ya Tuhan, kenapa belakangan ini banyak gadis gila yang hamba temui, batinnya.

Ia menghela nafas. “Ingat suami kamu di rumah. Udah, kembali bekerja.”

“Ba …, baik, Pak. Bapak semangat ya kerjanya.”

“Hm.”

Staf itu kemudian buru-buru permisi dengan rasa malu dan canggung.

DrrttDrrtt

Ponsel Kenzie bergetar di atas meja. Dua notifikasi chat masuk dari seseorang. Ia berujung membukanya.

From: 0821…. (Tidak dikenal)
“Pak tampan, temenin cari makan. Ini nomor Selvi. Di save, yaa ….”

From: 0821.… (Tidak dikenal)
“Pak tampan enggak cemburu kan gara-gara Selvi keluar sama Pak Erman kemarin?”

Kenzie menutup kembali ponselnya. Ia enggan membalas chat yang tidak begitu penting. Ada hal yang harus segera ia bereskan sebelum akhir bulan ini. Hasil dari pertemuan dengan koleganya tempo lalu harus segera terlaksana. Jika tidak, kemungkinan kecil ia bisa mencapai target bulan ini. Bahkan juga kemungkinan besar ia gagal dengan perjanjian target 6 bulan yang telah ia sepakati bersama seluruh atasan di cabang ini.

-oOo-

Mentari mulai menguning. Masih saja tidak ada kabar dari satupun koleganya. Harusnya ada pertemuan lagi hari ini. Kenzie memaklumi, sepertinya mereka masih sibuk dengan kegiatan masing-masing.

Beberapa saat kemudian ponselnya berdering. Salah satu orang yang ia tunggu akhirnya berujung memberi kabar. Malam ini akan diadakan pertemuan lagi bersama beberapa kolega eksternalnya. “Baik, Pak Ufo. Sebelum pukul 7 malam saya akan kesana. Terima kasih.” Kenzie menutup perbincangan singkatnya lalu berujung keluar ruangan.

“Pak tampan!!” Lagi-lagi gelombang suara itu melengking di gendang telinga Kenzie. Ia menghela nafas berat melihat seorang gadis berlari menuju kearahnya. Sepertinya, hari ini menjadi semakin buruk setelah kedatangan ACM dan BM-nya. Sekarang ada lagi satu perusuh yang sedang menuju kemari.

“Pak tampan jahat. Kenapa enggak bales chatnya Selvi?”

“Enggak penting,” jawab Kenzie singkat sembari berjalan menuju anak tangga.

“Naik lift aja. Biar bisa berduaan lagi sama Selvi,” ajak sang gadis sambil menarik mesra tangan Kenzie.

“Nggak!”

“Ayo dong, Pak tampan.”

“ENGGAK!” bentak Kenzie sambil mengibaskan tangannya. Gadis itu terperosot jatuh ke tangga karena dorongan Kenzie yang terlalu kuat. Ia mengaduh kesakitan. Kenzie sebenarnya tidak ada maksud untuk menyakiti gadis itu. Dia hanya risih jika diperlakukan seperti ini di depan umum.

Kenzie berujung lari dan menolong sang gadis. “Lo enggak apa-apa, kan?” tanyanya khawatir.

Menyadari hal itu, Selvi justru semakin memainkan dramanya. Ia meringis kesakitan dan menangis, sembari mengelus lutut dan mata kakinya yang terbentur dinding tangga.

“Sori, Sel. Gue enggak ada maksud buat–”

“Bisa minta tolong?” sahut Selvi memotong.

“Apa?”

“Gendong Selvi, ya.”

Kenzie mengernyitkan dahinya. “Manja banget lo!”

“Pak tampan enggak kasihan sama Selvi?”

“Lagian kan, lo yang pegang-pegang gue.”

“Tapi kan Selvi enggak mau berujung kayak gini.”

Selvi kembali mendekatkan wajahnya ke arah Kenzie. “Gendong ya, Pak tampan. Selvi enggak bisa jalan.”

Kenzie menelan salivanya berat. Untuk selera para kaum adam, memang gadis ini di luar rata-rata kecantikannya. Sedingin apapun sikap Kenzie, ia tetap saja normal seperti lelaki pada umumnya. Tubuhnya memang elok, sangat memancing syahwat. Dan jika dipandang lama-lama, akan terbesit pikiran yang tidak-tidak.

“Gue papah aja, ya,” tawar Kenzie.

“Enggak mau. Gendong punggung atau depan pokoknya.”

Kenzie kembali berdiri. “Ya udah kalau enggak mau.”

“Tunggu …,” Ia tidak mau membuang kesempatan emas ini. Kapan lagi bisa bermesraan dengan si pria batu setampan Kenzie. “Iya, Selvi mau.”

Dengan penuh keterpaksaan, Kenzie perlahan menarik tangan gadis itu menuju lehernya, kemudian dengan bebas tangannya yang lain merangkul bagian pinggang sang gadis.


-oOo-

Next Gue Enggak Homo!
Back to Indeks
Diubah oleh tuffinks
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tariganna dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Amor Único Dente
16-11-2019 12:51

Gue Enggak Homo!

“Nyaman banget dipapah Pak tampan. Padahal udah sore, tapi bau tubuhnya masih harum.”

“Pak tampan sering-sering giniin Selvi, ya. Kalau bisa gendong sekalian. Selvi mau kok.”

“Pak tampan jangan marah karena kemarin Selvi keluar sama Pak Erman. Selvi enggak suka Pak Erman, kok. Selvi suka sama Pak tampan.”

“Lo bisa diem nggak?!” ketus Kenzie.

“Iiiih. Pak tampan kasar banget sih, sama Selvi.”

Kenzie memilih diam. Dalam hatinya ingin sekali mengumpat. Kenapa hal kekanakan seperti ini terjadi padanya. Terlebih saat ia melewati koridor gedung kantor paling bawah. Banyak sorot mata memandanginya. Ada beberapa staf yang berani bertanya secara terang-terangan tentang hubungan mereka berdua. Ada pula yang memilih untuk menahan tawanya melihat kedua atasannya bermesraan di kantor. Bermesraan bagaimana? Bagi Kenzie, ini adalah neraka baginya.

“Mana mobil lo?” Kenzie mengedarkan pandangan di parkiran belakang gedung kantor.

Gadis itu tersenyum penuh arti. “Selvi tadi enggak bawa mobil.”

“Ya udah kalau gitu. Alamat rumah lo mana?” Kenzie membuka ponsel dan menilik sesekali jarum pendek pada arlojinya.

“Pak tampan mau anterin Selvi pulang? Asiiik ….”

“Gue mau pesan ojek online, buat anterin lo.” Senyum mengembang Selvi berganti manyun kedepan. Harapannya pupus begitu saja.

“Saya antar ya, Sel. Sambil cari makan malam dulu,” sahut seseorang dibalik punggung mereka berdua.

“Pak Erman,” ujar Selvi sedikit gugup. Sekali lagi, managernya ini begitu liar. Ia sepertinya sudah lupa dengan status di KTP-nya—menikah dan telah memiliki 1 buah hati. Melihat gadis secantik Selvi, mana mungkin ia sia-siakan begitu saja. Coba saja tilik tubuhnya yang memiliki paras gemulai itu, rambut panjang nan lurus yang dibiarkan tergerai, membuat siapapun tak tahan untuk dibawanya pulang.

“Pasti kamu ingin makan di hotel kemarin lagi, kan? Ayo pulang.” Erman menarik tangan sang gadis. Gadis itu pun hanya mengamininya dengan pasrah.

Kenzie hanya memicingkan bibir sebelahnya—melihat kepergian mereka. Dalam hatinya sangat senang karena dijauhkan dari wanita yang akan merusak pertemuannya dengan beberapa koleganya malam ini.

-oOo-

Pukul 7 tepat mereka berkumpul di tempat. Kenzie datang bersama Ufo–kolega terdekatnya–yang paling dipercaya. Kemudian mereka mulai membicarakan tentang program yang diadakan oleh Kenzie. Walaupun terbilang nekat, bagi Kenzie ini sama halnya dengan ‘gambling’. Memberi taruhan. Kalah menang ia sudah siap resikonya. Menurut para kolegannya ini sangat berbahaya, ia mengkhawatirkan karir Kenzie kedepannya jika gagal. Namun, Kenzie yakin bahwa keempat orang hebatnya ini bisa melakukan itu.

Rencana Kenzie adalah, keempat kolega terpercaya itu diajak untuk bekerja sama mencari nasabah baru yang bisa dipercaya. Mereka disuruh untuk menawarkan pinjaman dengan bunga paling kecil. Tidak mengacu pada bunga yang tertera dari perusahaan. Bagaimana bisa? Bisa saja. Dia mengorbankan gaji insentif dan reward hasil pencapaian setiap bulannya. Jadi, Kenzie akan membantu membayar angsuran setiap nasabah barunya dengan memberikan cash back setelah acc pengajuan. Namun, uang cash back ini tidak bisa diambil. Uang ini secara langsung terbayarkan pada akhir bulan pelunasan pinjaman nanti.

Secara garis besarnya, Kenzie tidak menerima gaji insentif yang telah dihasilkan dari target setiap bulannya itu. Ia akan menyumbangkan secara penuh kepada setiap nasabahnya. Dengan catatan: nasabah harus benar-benar bisa dipercaya dan tidak memiliki record buruk pada perusahaan pembiayaan lainnya. Pun pengajuan hanya maksimal 12 bulan, tidak bisa di atasnya. Jika keempat koleganya berhasil melakukan, maka bonus khusus dari Kenzie juga akan diberikan. Semuanya sudah dipersiapkan dengan baik oleh Kenzie.

Perbincangan mereka berlangsung sampai pukul 10 malam. bagi Kenzie tidak perlu memakan waktu yang lama. Yang terpenting adalah eksekusi dan gerak cepat di lapangan. Tidak hanya itu, sebelumnya Kenzie juga sudah menggerakkan seluruh staf bawahannya untuk lebih maksimal lagi. “Jika ada kendala, kita selesaikan bersama. Jangan malu bercerita kalau ada masalah.” Itulah perkataan saat briefing tempo hari kepada anak buahnya.

Pertemuan singkat itu akhirnya sampai juga pada puncaknya. Mereka semua berdiri permisi, begitupun Kenzie yang juga harus mengantarkan Ufo pulang kembali. Saat perjalanan, Kenzie mampir di mini market dekat kantornya. Ia kehabisan stok mie instant. Bagi Kenzie, Indomie sudah menjadi santapan sehari-hari ketika pertengahan bulan seperti ini. Hemat? Iya. Ada planning di tahun depan yang harus terealisasi. Dan wajib terwujud!

Toko ritel yang masih buka di sekitar sana hanya toko Alphamaria saja. Mobil Kenzie menepi di halaman parkir toko.

“Selamat Da ….” Sapaan dari pegawai toko tersebut terhenti ketika mengatahui siapa pelanggan yang datang ke tokonya.

“Lo lagi. Tumben enggak sama si Beo?” imbuh pegawai itu bertanya kepada Kenzie dan Ufo yang baru saja masuk toko. Siapa lagi kalau bukan Kayla Sidharta, si kasir judes.

“Woy, ditanya malah nyelonong.” Kayla berdecak sebal.

“Ken, siapa dia? Kamu kenal?” Ufo mempercepat langkahnya mendekati Kenzie yang tengah memasuki lorong rak.

Kenzie hanya menggeleng tak peduli. Ia fokus pada barisan rak display barang yang akan ia beli.

“Cantik banget, Ken. Bahenol,” lanjut Ufo sembari mencuri pandang kasir itu dari sela-sela lorong.

“Ken, kenalin saya dong.”

Kenzie menoleh dengan wajah berlipat. “Pak Ufo kan, sudah punya istri,” ujarnya datar.

“Nambah satu lagi boleh, lah.”

Kenzie hanya menggeleng dan tersenyum kecil dari ujung bibirnya.

“Kayaknya dia bagus jadi istri kedua saya,” celetuk Ufo.

“Istri saya mah, jauh sama dia. Body-nya, Ken. Mirip artis korea. Kayak pemain ‘bikini bottom’.”

“Mulus banget kulitnya. Bibirnya kayak silet. Mau dong disayat sama bibir tipis itu.” Ufo masih menggumam dengan halusinasinya. Sepertinya, lelaki hidung belang itu tidak menyadari apa yang sedang Kenzie lakukan di sebelahnya.

“Gimana, Ken. Pasti kamu setuju, dia jadi istri kedua saya?” Ufo menoleh kearah Kenzie. Suasana lengang beberapa detik. Pada detik berikutnya, Ufo tersentak. “Kamu ngapain?” Mata Ufo melotot melihat rekaman suara sedang berjalan dari ponsel Kenzie yang tengah ia pegang.

Kenzie tersenyum jahat. “Makanya, punya mata dan mulut dijaga. Sekali lagi Pak Ufo berani selingkuh, awas. Saya setorkan ini ke istri Pak Ufo, loh.” Meski ia tidak akan pernah melakukan hal seperti itu. Hanya menakuti Ufo agar tidak mengulangi kebiasaan buruknya.

Ufo hanya menggaruk kepala bagian belakang yang tidak gatal. Ia menyadari sudah berkali-kali ketahuan Kenzie bermain wanita. Namun, akhir-akhir ini ia sudah mulai sadar dengan ucapan Kenzie—yang hampir setiap kali bertemu ia menasehatinya. Sedikit demi sedikit, Ufo mulai meninggalkan kebiasaan buruknya itu. Memang benar, harta, tahta, wanita itu selalu menggoda.

“Tumben lo cuma sedikit belanjanya?” tanya Kayla kepada kedua pelanggan yang baru sampai di area kasir.

Kenzie hanya bergeming. Pun Ufo, namun matanya tak berkedip melihat kasir di depannya itu. Menurut Ufo begitu sempurna untuk seorang gadis perawan. Sebaliknya dengan Kayla yang memandang pria itu dengan sinis.

“Temen-temen lo banyak yang aneh, ya,” ujar Kayla sembari memasukkan barang belanjaannya yang sudah ter-scan ke dalam kantong plastik. Kenzie tetap cuek tidak menanggapinya.

“Total belanjanya Sembilan puluh tujuh ribu. Mau dibayar cash, debit, kartu kredit, atau pakai hati?”

Kenzie mengeluarkan uang 100 ribu. “Udah, kembaliannya ambil aja.”

“Songong banget. Kembalian tiga ribu enggak lo ambil.”

“Itu buat tutup mulut lo biar enggak banyak bacot.” Kenzie dan Ufo berujung keluar dari toko itu.

Kasir itu mengumpat dan menyumpahi Kenzie. “Demi resep krabby patty Tuan Krab, lo pasti bakal jatuh cinta sama gue, Babe.”

“Udah di bilang, lo sama gue aja, Kay.” Seseorang menepuk bahu Kayla. Kebetulan hari ini Kayla satu shift lagi dengan Wahyudi. Salah satu Pramuniaga toko Alphamaria. Wahyudi lagi, Wahyudi lagi.

“Ogah. Lo mupeng.”

“Apaan itu mupeng?”

“Muka pengen!”

Pria itu dibuat diam dan kalah telak karena skakmat dari ucapan Kayla barusan.

Sementara itu, Ufo masih membicarakan tentang kasir toko Alphamaria. Menanyakan tentang alamat rumah dan sebagainya kepada Kenzie. Ia mana tahu tentang asal muasal makhluk astral itu? Kenal saja tidak, apalagi alamat rumahnya.

“Kasir tadi seksi loh, Ken. Kayaknya suka tuh sama kamu,” ujar Ufo sembari melihat detik hitung mundur, lampu merah dari kaca mobil. Kenzie hanya diam tidak menghiraukan ucapan pria 35 tahunan itu. Tidak bisakah sekali saja saat bertemu ia tak membahas gadis?

“Jangan sok cuek gitu jadi cowok. Nanti jodoh kamu mati dalam kandungan, loh.”

“Naudzubillah. Jangan sampai lah, Pak.”

“Gitu dong, akhirnya buka mulut.” Ufo terkekeh melihat sahabatnya menanggapi serius ucapannya. “Jangan-jangan kamu ….”

Kepala Kenzie berputar 90 derajat ke kiri—dengan cepat memandang pria di sebelahnya.

“Homo.”

Tiiinn …. Tiiinn ….

Suara klakson dibelakang menekan dengan membabi buta melihat APILL baru berpindah warna hijau. Sebagian pengendara lainnya mengumpat setelah menyalip mobil Kenzie. Tidak bisakah mereka sabar sedikit? batin Kenzie kesal.

“Hm?” tanya Ufo mengulang.

“Apa?”

“Jangan-jangan kamu homo.”

Tiiiiiinnnnn ….

“GOBLOK!!” Mulut Kenzie lepas begitu saja melihat anak muda mengendarai motor sedang memotong jalan seenak udelnya. Ufo tertawa puas mendengar sumpah serapah yang diucapkan sahabatnya itu.

“Saya enggak homo, Pak. Saya masih normal. Hanya saja belum ada yang cocok buat saya,” jelas Kenzie.

Ufo manggut-manggut sembari cekikikan. “Baiklah. Kalau begitu, buktikan kejantananmu, Kawan.” Lantas ia menepuk bahu kiri Kenzie.


-oOo-

Next New Record Achievement
Back to Indeks
Diubah oleh tuffinks
profile-picture
profile-picture
profile-picture
i4munited dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Amor Único Dente
16-11-2019 14:26
Quote:Ingatlah, bahwa di atas langit masih ada Hotman Paris. Jadi, jangan pernah sombong dengan jabatanmu saat ini.


Ngakak baca ini. Diatas langit masih ada om Hotman Paris emoticon-Wakaka


Quote:“Istri saya mah, jauh sama dia. Body-nya, Ken. Mirip artis korea. Kayak pemain 'bikini bottom'.”


Pemain bikini bottom gimana ini gan?
Pemain adegan hot ya? emoticon-kisssing


*minta bata dong
Diubah oleh Dejavu15
profile-picture
Rapunzel.icious memberi reputasi
0 1
-1
Amor Único Dente
17-11-2019 16:15
Sudah ada 2 update-an ternyata emoticon-thumbsup

Tapi cerita masih intro doang, belum ada tanda-tanda romansa Kenzie akan bagaimana. Lanjut gan.
profile-picture
tuffinks memberi reputasi
1 0
1
Halaman 1 dari 5
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
seorang-ayah-yang-jauh
Stories from the Heart
jurnal-mimpi
Stories from the Heart
surat-surat-lovembers
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
ketakutan
Stories from the Heart
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia