Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
137
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5dc256e7a2d195548a48db1f/neraka-dalam-surga
pic : Google, edited by photoshop. *   *   *   *   * P R O L O G *   *   *   *   * Rumah, seharusnya menjadi hunian ternyaman bagi setiap manusia. Tempat pulang yang selalu dirindukan, dan menjadi tujuan terakhir pelepas penat setelah seharian beraktifitas. Namun, tidak bagi Arief Matari, seorang anak korban poligami. Memiliki ibu yang merupakan seorang istri kedua terasa tidak men
Lapor Hansip
06-11-2019 12:15

Neraka Dalam Surga

Neraka Dalam Surga
pic : Google, edited by photoshop.


*   *   *   *   *


P R O L O G
*   *   *   *   *


Rumah, seharusnya menjadi hunian ternyaman bagi setiap manusia. Tempat pulang yang selalu dirindukan, dan menjadi tujuan terakhir pelepas penat setelah seharian beraktifitas. Namun, tidak bagi Arief Matari, seorang anak korban poligami. Memiliki ibu yang merupakan seorang istri kedua terasa tidak menyenangkan bagi Arief. Setiap hari ia selalu menjadi bahan bully-an di sekolah. "Anak Pelakor" begitulah kalimat yang sering dilontarkan oleh teman-temannya, sehingga julukan tersebut melekat erat di kalangan sekolah. Tatapan sinis selalu mengarah pada remaja tersebut, pun para guru sebagian besar memandang Arief sebelah mata karena status, terutama guru dari kaum hawa.

Mereka seolah jijik dengan pemuda tersebut, bahkan tak jarang ia mendapatkan perlakuan tidak adil dari sang guru. Sering terkena hukuman bila didapati memiliki kesalahan walau hanya seujung kuku. Bully sudah menjadi makanan sehari-hari, tapi sebagai manusia biasa sebesar apapun Arief berusaha kuat dan tegar, tetap saja ada titik terendah dalam diri, memaksa pemuda tersebut untuk menyerah. Rasa muak, benci, marah, kesal, serta lelah terus saja menghantui nurani dalam menghadapi perilaku lingkungan tempat tinggal Arief.

Namun, pemuda itu terus berusaha sabar saat mendapat berbagai cibiran serta perilaku tak manusiawi dari orang-orang sekitar.

Tumbuh diantara keluarga poligami, jelas bukanlah hal yang menyenangkan. Belum lagi ketika sang ayah tiba-tiba membawa ibu baru dalam keluarga mereka--Istri Ketiga. Hal ini tak mudah diterima oleh anak tersebut terutama saat ia sedang menghadapi ujian nasional kelulusan sekolah menengah pertama.

Hati Arief Matari hancur berkeping-keping. Kenyataan pahit harus ditelan tatkala seorang wanita kembali hadir dalam keluarga mereka. Sedih, marah, kecewa, kesal, benci memenuhi benak dan hati. Sebagai seorang anak tak ada yang bisa dilakukan kecuali menerima secara lapang dada.

Hujan hadir menyapu debu-debu jalanan, menggerayangi rumput, membuat tumbuhan tak lagi gersang. Begitulah yang dirasakan Arief Matari malam ini. Menangis di bawah hujan adalah sebuah kebebasan yang luar biasa. Melegakan perasaan di setiap tetesan yang membasahi bumi tanpa seorangpun tahu, darimana asal air mengalir di pipi, langit atau ....

Menjadi anak pertama dari istri kedua sekaligus kakak bagi seorang adik yang juga bersekolah tentu tidaklah mudah. Di tambah setiap hari ia harus mendengar curhatan si ibu mengenai hubungannya dengan sang ayah semakin membuat hidup Arief terasa sulit. Pemuda itu harus berpura-pura kuat di hadapan  keluarga, meski dalam hati hancur tak berupa.

"Wahai hujan, basahilah aku malam ini! Agar segala kepedihan sirna. Tak ada lagi air mata membasahi jiwa raga. Saat sang surya mencumbu permukaan bumi, raga ini sudah mengering kembali. Wahai, langit dan bumi. Akhirnya aku masuk sekolah baru. Persetan dengan anak-anak di sekolah lama!" teriak Arief Matari lantang. Suara kerasnya tersamarkan dengan derai hujan. Ia begitu bahagia karena merasa mendapatkan kesempatan kedua.


profile-picture
profile-picture
profile-picture
S.HWijayaputra dan 38 lainnya memberi reputasi
39
Halaman 1 dari 7
Neraka Dalam Surga
06-12-2019 06:26
Quote:Original Posted By bekticahyopurno
Sinetron ikan terbang hiks hiks, boleh juga, walaupun masih terlalu telling.

Emm
tapi udah keren, mantap


Masih terlalu telling ta, Gan. emoticon-Cape d...
0 0
0
Neraka Dalam Surga
03-12-2019 21:07
Quote:Original Posted By agungdar2494
Lanjut ke Part 6

Alex semakin menjadi-jadi, tunggu aja karma nya emoticon-Mewek


Tunggu aja, nanti Ane yg kasih. Mau pedes manis? Pedes cetar atau pahit pahit? 😂
0 0
0
Neraka Dalam Surga
30-11-2019 23:23
Quote:Original Posted By feliia
Baca sist, cerbung ala sinetron ikan terbang wkwkwk


emoticon-Ngakakemoticon-Ngakakemoticon-Ngakak
profile-picture
profile-picture
UchieSuciani dan feliia memberi reputasi
2 0
2
Neraka Dalam Surga
30-11-2019 22:18
Quote:Original Posted By fitrijunita
Kudu baca dari awal ini mah


Baca sist, cerbung ala sinetron ikan terbang wkwkwk
profile-picture
UchieSuciani memberi reputasi
1 0
1
Neraka Dalam Surga
30-11-2019 22:12
Quote:Original Posted By S.e.m.e.d.i
Waduuuhhh kog doyaann satu dua masih kurang? Bbbrrrrr

Katanya pemilik tambang kog gak bisa belikan rumah istrinya satu satu ha ha

Gak pinter. Pelit


Mungkin tabunganya udh tipis gan, abis buat modal nikahan wkwkw
Diubah oleh feliia
profile-picture
UchieSuciani memberi reputasi
1 0
1
Neraka Dalam Surga
Lapor Hansip
30-11-2019 14:18
Balasan post ndsteam
Waduuuhhh kog doyaann satu dua masih kurang? Bbbrrrrr

Katanya pemilik tambang kog gak bisa belikan rumah istrinya satu satu ha ha

Gak pinter. Pelit
profile-picture
profile-picture
sriwijayapuisis dan UchieSuciani memberi reputasi
2 0
2
Neraka Dalam Surga
30-11-2019 13:56
Quote:Original Posted By ndsteam
Part 5

Kekasih Gelap


Hari-hari berlalu terasa begitu lambat bagi Arief. Hidupnya kini semakin tak berwarna, sangat suram. Rumah besar bak istana itu tak mampu berikan kenyamanan untuk Arief, juga sang ibu. Pemuda yang baru menginjak bangku SMA itu menjadi lebih senang mengurung diri di kamar

Terlebih semenjak kehadiran Metta, istri ketiga sang ayah yang selalu bersikap bak Ratu di rumah mereka. Hanya Lia yang mengurus semua pekerjaan rumah. Sementara Meta terlalu sibuk mengurusi kuku lentik dan perawatan tubuhnya.

Wajar saja, kecantikan fisiklah yang menjadi satu - satunya senjata yang Metta punya. Agar ia menjadi istri yang utama untuk Alex, sang suami. Perasaan Alex yang masih menggebu pada Metta, membuat dirinya tak mau ambil pusing dengan segala kekacauan yang terjadi di rumah mewah itu. Menurut Alex, semua sudah berjalan sebagaimana semestinya, meskipun semua ini tak adil untuk Camelia.

Namun dibalik semua kekacauan yang terjadi, hubungan Lia dan Vera justru menjadi semakin membaik. Semenjak kondisi kesehatan Vera terus menurun, secara rutin Lia datang dan membantu merawat Vera. Ia tak sampai hati melihat Vera yang mengurus dirinya seorang diri. Perlahan kebencian diantara mereka yang sudah terpendam sejak lama pun kini mulai terkikis.

Lia bahkan membawa Vera untuk tinggal bersama, agar ia lebih leluasa mengurus segala kebutuhan sahabat barunya itu.

"Lia, menurutmu apa Mas Alex akan terus bersikap seperti ini?" tanya Vera pada Lia.

"Aku nggak tahu pasti, Mbak, yang jelas Mas Alex sekarang jauh berubah.Dulu, sebelum kami menikah, aku selalu kagum dengan ucapan dan sikapnya yang bijaksana," jawab Lia sambil menepuk pundak Vera yang terduduk lesu di kursi roda. Sore itu ia sengaja membawa Vera berkeliling komplek untuk menikmati udara segar.

"Apa yang bisa kita lakukan dengan perubahan sikap Mas Alex? Aku khawatir jika terus dibiarkan, dia akan semakin menjadi," ujar Vera lemah. Matanya menerawang jauh ke depan.

"Entahlah, Mbak. Sementara ini kita hanya bisa diam, dan berharap Mas Alex akan sadar. Kita hadapi sama-sama ya, Mbak, nggak usah terlalu dipikirkan. Untuk saat ini yang terpenting adalah kesehatan Mbak," timpal Lia. Kedua istri Alex Moris yang sama-sama tersakiti itu kini saling menguatkan sama lain. 

Tak lama berselang, mobil sedan Alex lewat di hadapan mereka yang telah sampai kembali di depan rumah. Mobil itu segera berbelok dan memasuki garasi. Alex dan istri barunya turun dengan rona wajah bahagia. Saat memasuki ruang tamu, mereka saling berpapasan di depan pintu.

"Sudah pulang, Mas?” sapa Lia dengan ramah. Namun, sebelum Alex sempat menjawab, Metta telah lebih dulu buka suara.

"Mas, aku haus, tapi aku capek banget, deh," ucapnya dengan manja. Wanita cantik ini selalu mengandalkan rayuannya untuk mendapatkan apa yang ia mau. Bukan tanpa alasan, Alex yang paham dengan segala kode yang ditunjukan Metta, serta merta akan memenuhi keinginan istri barunya. Senyuman manis ia dapatkan dari wajah perempuan muda itu seolah membuat Alex terhipnotis seketika.

"Lia tolong buatkan orange jus untuk kami, yah, kasihan Meta sudah kehausan," pintanya pada Lia.

"Mas, Metta kan bisa buat sendiri, kenapa harus menyuruh orang lain " Vera ikut bicara, walau dengan suara lirih.

"Apa kamu nggak dengar, barusan Meta bilang sudah capek!" jawab Alex membela istri barunya.

"Kalau karena capek, Lia juga sudah capek Mas mengurus rumah sendirian setiap hari.” Vera kembali menimpali.

"Sudahlah, kamu nggak usah ikut campur masalah ini! Urus saja penyakitmu yang bisa bikin kamu mati kapan saja!" tegas Alex.

Jawaban kasar sang suami bagai sambaran petir meluluhlantakkan hati Vera. Jantungnya pun seolah berhenti berdetak saat itu juga. Dadanya sesak menahan tangis yang tak ingin tumpah. Namun, ia hanya mampu diam. Ia tahu persis bahwa beradu argumen sangat percuma, sebab  suaminya sedang terbuai asmara pada wanita muda yang kini menjadi istri tercintanya.

"Astaghfirullah, Mas, jaga ucapanmu! Kasihan Mbak Vera. Dia juga istri kamu yang sedang butuh perhatian dan dukunganmu." Lia menepis perkataan kasar suaminya. Meskipun ucapan tersebut bukan tertuju untuk dirinya, tapi ia ikut merasa tersayat, bisa saja suatu hari kalimat semacam itu dilontarkan untuknya.

"Diam Lia! Kamu nggak perlu membela dia. Semua sudah kuatur, turuti saja apa yang kukatakan!" jawab Alex tanpa rasa bersalah.

"Tapi ucapanmu keterlaluan, Mas! Nggak seharusnya kamu berkata sekasar itu ....”

"Sejak kapan kamu berani melawanku." Alex mulai menaikkan nada suaranya.

"Lalu sampai kapan kamu mengabaikan kami hanya demi perempuan itu, Mas?" Lia menunjuk perempuan centil itu yang masih bergelayut manja di lengan suaminya.

Mendengar ucapan Lia, Alex semakin murka. Tangan kanannya sudah siap terangkat. Namun, belum sempat Alex mengayunkan tangannya, tiba - tiba Arief datang. Geram melihat sikap sang ayah, Arief tak mampu lagi menyimpan amarahnya.

"Cukup, Yah! Ayah udah kelewatan, hanya demi membela perempuan itu ayah tega bersikap kasar sama Ibu." Arief menghampiri sang ibu, seraya melindunginya. Rupanya ia sudah sejak tadi berdiri di depan pintu, menyaksikan peristiwa yang sebetulnya tak ingin ia lihat.

"Mas, ini nggak adil. Bahkan Arief, anak yang masih bocah itu juga ikut menyudutkanku," ucap Metta mencari pembelaan.

"Jaga bicara kamu, Arief! Hargai Tante Meta di sini!”

"Untuk apa, Yah? Sedangkan dia saja tidak pernah menghargai kami di sini."

"Cukup! Kamu sudah berani melawan ayahmu."

"Aku nggak peduli kalau aku masih dianggap anak kecil, tapi aku nggak bisa diam melihat ibu diperlakukan tidak adil seperti ini hanya karena perempuan licik itu, Yah." Arief semakin berani melawan ucapan ayahnya.

"Keterlaluan kamu!" Tak kuasa lagi membendung amarah, sebuah tamparan keras ia layangkan kembali pada Arief.

"Cukup, Mas! Cukup sama aku Mas bersikap kasar, jangan sama Arief. Dia nggak layak mendapat perlakuan kasar begini," ucap Lia tak kuasa melihat anaknya mendapatkan perlakuan kasar dari sang ayah.

"Biarlah, Bu. Asal itu nggak terjadi sama Ibu."

"Sudah Arief, cukup!" pinta Lia.

"Bawa anakmu masuk! Aku sudah muak melihatnya, ajari dia sopan santun padaku," perintah Alex.

Mereka bertiga pun beranjak meninggalkan Metta dan Alex, Lia membawa Arief masuk ke kamarnya.

Di kamar, Arief pun berbaring di pangkuan sang ibu. Vera yang juga merasa khawatir pada Arief ikut membantu menenangkan pemuda tanggung itu.

"Rief, lain kali sebaiknya kamu nggak perlu ikut menentang ayahmu. Masalah ini biar kami saja yang urus," pinta Lia pada Arief dengan suara yang masih terisak. Derai air matanya terus membasahi kedua pipi, tak kuasa melihat anaknya yang mendapat perlakuan kasar dari Alex. 

"Tapi, Bu, Arief nggak rela melihat Ibu diperlakukan nggak adil kayak tadi."

"Ibumu akan lebih sakit jika harus melihat kamu yang diperlakukan seperti tadi, Rief. Itu naluri seorang ibu, Nak. Tante mohon jangan diulangi lagi, ya, lakukan saja demi ibumu." Melihat tangis Lia yang tak kunjung usai, Vera pun akhirnya angkat suara.

"Tante Vera benar, Nak."

"Kalau begitu jangan lagi menaruh harapan untuk bahagia kepada ayah, Bu, lihat saja aku. Aku akan selalu ada buat Ibu, kuusahakan semampuku untuk membahagiakan Ibu," jawab Arief kemudian.


Dua gelas orange jus kini tersaji diatas meja, Lia tetap menuruti permintaan sang suami seusai keadaan sudah meredam. Tak butuh waktu lama, Metta langsung meneguk minuman itu sampai tuntas. Nikmat rasanya, setelah puas berbelanja, saat kembali ke rumah minuman segar tersaji untuknya. Ahh.. benar benar nikmat hidup Metta semenjak ia dipinang oleh Alex Moris. Meski menjadi istri ketiga, Ia tidak pernah ambil pusing bila terjadi perdebatan dengan Vera maupun Camelia. Pada akhirnya merekalah yang harus mengalah, Metta hanya tersenyum puas merasa menang, hanya itu yang dilakukanya.


Saat Lia dan Vera berusaha menenangkan Arief, Alex dan Meta justru asyik bersenda gurau dan merajut kasih, seolah tidak terjadi apa-apa. Meta dengan manjanya terus bergelayutan di lengan sang suami.

Namun, ketukan pintu rumah itu mengalihkan perhatian mereka. Terdengar seorang wanita berteriak menyebut nama Alex didepan pintu.

Dengan sigap Meta beranjak menuju pintu, dan membukanya. Seorang wanita cantik berperut besar nampak berdiri di depan pintu, dengan pongahnya menanyakan keberadaan Alex.

"Mbak siapa, ya? Ada apa mencari suami saya?" tanya Meta sinis.

"Saya Sellyna, datang kemari mau ketemu sama Mas Alex," jawab perempuan itu dengan percaya diri sambil mengelus lembut perut besarnya.

"Mas Alex lagi nggak di rumah," ujar Meta ketus. Perasaannya menjadi tak enak melihat gelagat aneh dari wanita berkulit kuning langsat itu.

"Saya tau Mas Alex ada di dalam," timpal Sellyna masih dengan nada angkuhnya.

"Saya tuan rumah di sini, berhak menentukan siapa yang bisa bertemu dengan suami saya!" tegas Meta sembari memangku kedua tangannya.

"Sekarang kamu boleh sombong. Tapi lihat nanti, sebentar lagi posisimu sebagai istri ketiga tidak akan ada harganya lagi dimata Mas Alex" ucapnya masih dengan senyum angkuh tersungging di bibirnya, lalu berbalik meninggalkan Meta.

Sementara Metta masih berdiri didepan pintu, mencerna kalimat yang dilontarkan perempuan berperut besar itu. Belum lama ia menjadi primadona untuk Alex, apakah posisinya benar akan tergantikan. Metta sangat panik, wajahnya mendadak pucat pasi, kakinya melangkah kesana kemari seperti sedang merencanakan sesuatu.



Kudu baca dari awal ini mah
profile-picture
profile-picture
feliia dan UchieSuciani memberi reputasi
2 0
2
Neraka Dalam Surga
Lapor Hansip
30-11-2019 13:19
Balasan post ndsteam
Lanjut ke Part 6

Alex semakin menjadi-jadi, tunggu aja karma nya emoticon-Mewek
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ciminuy dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Neraka Dalam Surga
30-11-2019 13:10
akhirnya giliranku selesai emoticon-Nyepi
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ciminuy dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Neraka Dalam Surga
30-11-2019 11:49

Kekasih Gelap

Part 5

Kekasih Gelap


Hari-hari berlalu terasa begitu lambat bagi Arief. Hidupnya kini semakin tak berwarna, sangat suram. Rumah besar bak istana itu tak mampu berikan kenyamanan untuk Arief, juga sang ibu. Pemuda yang baru menginjak bangku SMA itu menjadi lebih senang mengurung diri di kamar

Terlebih semenjak kehadiran Metta, istri ketiga sang ayah yang selalu bersikap bak Ratu di rumah mereka. Hanya Lia yang mengurus semua pekerjaan rumah. Sementara Meta terlalu sibuk mengurusi kuku lentik dan perawatan tubuhnya.

Wajar saja, kecantikan fisiklah yang menjadi satu - satunya senjata yang Metta punya. Agar ia menjadi istri yang utama untuk Alex, sang suami. Perasaan Alex yang masih menggebu pada Metta, membuat dirinya tak mau ambil pusing dengan segala kekacauan yang terjadi di rumah mewah itu. Menurut Alex, semua sudah berjalan sebagaimana semestinya, meskipun semua ini tak adil untuk Camelia.

Namun dibalik semua kekacauan yang terjadi, hubungan Lia dan Vera justru menjadi semakin membaik. Semenjak kondisi kesehatan Vera terus menurun, secara rutin Lia datang dan membantu merawat Vera. Ia tak sampai hati melihat Vera yang mengurus dirinya seorang diri. Perlahan kebencian diantara mereka yang sudah terpendam sejak lama pun kini mulai terkikis.

Lia bahkan membawa Vera untuk tinggal bersama, agar ia lebih leluasa mengurus segala kebutuhan sahabat barunya itu.

"Lia, menurutmu apa Mas Alex akan terus bersikap seperti ini?" tanya Vera pada Lia.

"Aku nggak tahu pasti, Mbak, yang jelas Mas Alex sekarang jauh berubah.Dulu, sebelum kami menikah, aku selalu kagum dengan ucapan dan sikapnya yang bijaksana," jawab Lia sambil menepuk pundak Vera yang terduduk lesu di kursi roda. Sore itu ia sengaja membawa Vera berkeliling komplek untuk menikmati udara segar.

"Apa yang bisa kita lakukan dengan perubahan sikap Mas Alex? Aku khawatir jika terus dibiarkan, dia akan semakin menjadi," ujar Vera lemah. Matanya menerawang jauh ke depan.

"Entahlah, Mbak. Sementara ini kita hanya bisa diam, dan berharap Mas Alex akan sadar. Kita hadapi sama-sama ya, Mbak, nggak usah terlalu dipikirkan. Untuk saat ini yang terpenting adalah kesehatan Mbak," timpal Lia. Kedua istri Alex Moris yang sama-sama tersakiti itu kini saling menguatkan sama lain. 

Tak lama berselang, mobil sedan Alex lewat di hadapan mereka yang telah sampai kembali di depan rumah. Mobil itu segera berbelok dan memasuki garasi. Alex dan istri barunya turun dengan rona wajah bahagia. Saat memasuki ruang tamu, mereka saling berpapasan di depan pintu.

"Sudah pulang, Mas?” sapa Lia dengan ramah. Namun, sebelum Alex sempat menjawab, Metta telah lebih dulu buka suara.

"Mas, aku haus, tapi aku capek banget, deh," ucapnya dengan manja. Wanita cantik ini selalu mengandalkan rayuannya untuk mendapatkan apa yang ia mau. Bukan tanpa alasan, Alex yang paham dengan segala kode yang ditunjukan Metta, serta merta akan memenuhi keinginan istri barunya. Senyuman manis ia dapatkan dari wajah perempuan muda itu seolah membuat Alex terhipnotis seketika.

"Lia tolong buatkan orange jus untuk kami, yah, kasihan Meta sudah kehausan," pintanya pada Lia.

"Mas, Metta kan bisa buat sendiri, kenapa harus menyuruh orang lain " Vera ikut bicara, walau dengan suara lirih.

"Apa kamu nggak dengar, barusan Meta bilang sudah capek!" jawab Alex membela istri barunya.

"Kalau karena capek, Lia juga sudah capek Mas mengurus rumah sendirian setiap hari.” Vera kembali menimpali.

"Sudahlah, kamu nggak usah ikut campur masalah ini! Urus saja penyakitmu yang bisa bikin kamu mati kapan saja!" tegas Alex.

Jawaban kasar sang suami bagai sambaran petir meluluhlantakkan hati Vera. Jantungnya pun seolah berhenti berdetak saat itu juga. Dadanya sesak menahan tangis yang tak ingin tumpah. Namun, ia hanya mampu diam. Ia tahu persis bahwa beradu argumen sangat percuma, sebab  suaminya sedang terbuai asmara pada wanita muda yang kini menjadi istri tercintanya.

"Astaghfirullah, Mas, jaga ucapanmu! Kasihan Mbak Vera. Dia juga istri kamu yang sedang butuh perhatian dan dukunganmu." Lia menepis perkataan kasar suaminya. Meskipun ucapan tersebut bukan tertuju untuk dirinya, tapi ia ikut merasa tersayat, bisa saja suatu hari kalimat semacam itu dilontarkan untuknya.

"Diam Lia! Kamu nggak perlu membela dia. Semua sudah kuatur, turuti saja apa yang kukatakan!" jawab Alex tanpa rasa bersalah.

"Tapi ucapanmu keterlaluan, Mas! Nggak seharusnya kamu berkata sekasar itu ....”

"Sejak kapan kamu berani melawanku." Alex mulai menaikkan nada suaranya.

"Lalu sampai kapan kamu mengabaikan kami hanya demi perempuan itu, Mas?" Lia menunjuk perempuan centil itu yang masih bergelayut manja di lengan suaminya.

Mendengar ucapan Lia, Alex semakin murka. Tangan kanannya sudah siap terangkat. Namun, belum sempat Alex mengayunkan tangannya, tiba - tiba Arief datang. Geram melihat sikap sang ayah, Arief tak mampu lagi menyimpan amarahnya.

"Cukup, Yah! Ayah udah kelewatan, hanya demi membela perempuan itu ayah tega bersikap kasar sama Ibu." Arief menghampiri sang ibu, seraya melindunginya. Rupanya ia sudah sejak tadi berdiri di depan pintu, menyaksikan peristiwa yang sebetulnya tak ingin ia lihat.

"Mas, ini nggak adil. Bahkan Arief, anak yang masih bocah itu juga ikut menyudutkanku," ucap Metta mencari pembelaan.

"Jaga bicara kamu, Arief! Hargai Tante Meta di sini!”

"Untuk apa, Yah? Sedangkan dia saja tidak pernah menghargai kami di sini."

"Cukup! Kamu sudah berani melawan ayahmu."

"Aku nggak peduli kalau aku masih dianggap anak kecil, tapi aku nggak bisa diam melihat ibu diperlakukan tidak adil seperti ini hanya karena perempuan licik itu, Yah." Arief semakin berani melawan ucapan ayahnya.

"Keterlaluan kamu!" Tak kuasa lagi membendung amarah, sebuah tamparan keras ia layangkan kembali pada Arief.

"Cukup, Mas! Cukup sama aku Mas bersikap kasar, jangan sama Arief. Dia nggak layak mendapat perlakuan kasar begini," ucap Lia tak kuasa melihat anaknya mendapatkan perlakuan kasar dari sang ayah.

"Biarlah, Bu. Asal itu nggak terjadi sama Ibu."

"Sudah Arief, cukup!" pinta Lia.

"Bawa anakmu masuk! Aku sudah muak melihatnya, ajari dia sopan santun padaku," perintah Alex.

Mereka bertiga pun beranjak meninggalkan Metta dan Alex, Lia membawa Arief masuk ke kamarnya.

Di kamar, Arief pun berbaring di pangkuan sang ibu. Vera yang juga merasa khawatir pada Arief ikut membantu menenangkan pemuda tanggung itu.

"Rief, lain kali sebaiknya kamu nggak perlu ikut menentang ayahmu. Masalah ini biar kami saja yang urus," pinta Lia pada Arief dengan suara yang masih terisak. Derai air matanya terus membasahi kedua pipi, tak kuasa melihat anaknya yang mendapat perlakuan kasar dari Alex. 

"Tapi, Bu, Arief nggak rela melihat Ibu diperlakukan nggak adil kayak tadi."

"Ibumu akan lebih sakit jika harus melihat kamu yang diperlakukan seperti tadi, Rief. Itu naluri seorang ibu, Nak. Tante mohon jangan diulangi lagi, ya, lakukan saja demi ibumu." Melihat tangis Lia yang tak kunjung usai, Vera pun akhirnya angkat suara.

"Tante Vera benar, Nak."

"Kalau begitu jangan lagi menaruh harapan untuk bahagia kepada ayah, Bu, lihat saja aku. Aku akan selalu ada buat Ibu, kuusahakan semampuku untuk membahagiakan Ibu," jawab Arief kemudian.


Dua gelas orange jus kini tersaji diatas meja, Lia tetap menuruti permintaan sang suami seusai keadaan sudah meredam. Tak butuh waktu lama, Metta langsung meneguk minuman itu sampai tuntas. Nikmat rasanya, setelah puas berbelanja, saat kembali ke rumah minuman segar tersaji untuknya. Ahh.. benar benar nikmat hidup Metta semenjak ia dipinang oleh Alex Moris. Meski menjadi istri ketiga, Ia tidak pernah ambil pusing bila terjadi perdebatan dengan Vera maupun Camelia. Pada akhirnya merekalah yang harus mengalah, Metta hanya tersenyum puas merasa menang, hanya itu yang dilakukanya.


Saat Lia dan Vera berusaha menenangkan Arief, Alex dan Meta justru asyik bersenda gurau dan merajut kasih, seolah tidak terjadi apa-apa. Meta dengan manjanya terus bergelayutan di lengan sang suami.

Namun, ketukan pintu rumah itu mengalihkan perhatian mereka. Terdengar seorang wanita berteriak menyebut nama Alex didepan pintu.

Dengan sigap Meta beranjak menuju pintu, dan membukanya. Seorang wanita cantik berperut besar nampak berdiri di depan pintu, dengan pongahnya menanyakan keberadaan Alex.

"Mbak siapa, ya? Ada apa mencari suami saya?" tanya Meta sinis.

"Saya Sellyna, datang kemari mau ketemu sama Mas Alex," jawab perempuan itu dengan percaya diri sambil mengelus lembut perut besarnya.

"Mas Alex lagi nggak di rumah," ujar Meta ketus. Perasaannya menjadi tak enak melihat gelagat aneh dari wanita berkulit kuning langsat itu.

"Saya tau Mas Alex ada di dalam," timpal Sellyna masih dengan nada angkuhnya.

"Saya tuan rumah di sini, berhak menentukan siapa yang bisa bertemu dengan suami saya!" tegas Meta sembari memangku kedua tangannya.

"Sekarang kamu boleh sombong. Tapi lihat nanti, sebentar lagi posisimu sebagai istri ketiga tidak akan ada harganya lagi dimata Mas Alex" ucapnya masih dengan senyum angkuh tersungging di bibirnya, lalu berbalik meninggalkan Meta.

Sementara Metta masih berdiri didepan pintu, mencerna kalimat yang dilontarkan perempuan berperut besar itu. Belum lama ia menjadi primadona untuk Alex, apakah posisinya benar akan tergantikan. Metta sangat panik, wajahnya mendadak pucat pasi, kakinya melangkah kesana kemari seperti sedang merencanakan sesuatu.

Diubah oleh ndsteam
profile-picture
profile-picture
profile-picture
fiaperm dan 10 lainnya memberi reputasi
11 0
11
Lihat 2 balasan
Neraka Dalam Surga
Lapor Hansip
25-11-2019 16:35
Balasan post bekticahyopurno
Quote:Original Posted By bekticahyopurno
Sinetron ikan terbang hiks hiks, boleh juga, walaupun masih terlalu telling.

Emm
tapi udah keren, mantap


Baru baca wkwkwk

"Sinetron Ikan Terbang"

Kok rasanya menohok sekali ya emoticon-Sorry
profile-picture
UchieSuciani memberi reputasi
1 0
1
Neraka Dalam Surga
23-11-2019 16:25
Sinetron ikan terbang hiks hiks, boleh juga, walaupun masih terlalu telling.

Emm
tapi udah keren, mantap
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ciminuy dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Lihat 1 balasan
Neraka Dalam Surga
22-11-2019 10:28
Kebangetan bapaknya Arief ini 😡
profile-picture
profile-picture
ciminuy dan UchieSuciani memberi reputasi
2 0
2
Neraka Dalam Surga
19-11-2019 16:57
Nambah lagi maslaah hidup Arief dan Ibu emoticon-Sorry
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ciminuy dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Neraka Dalam Surga
19-11-2019 12:32
Kesel banget nih sama pelakor, ga bisa tenang keluarga
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ciminuy dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Neraka Dalam Surga
19-11-2019 11:26
Hadir, jejakin dulu ya emoticon-Shakehand2
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ciminuy dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Neraka Dalam Surga
19-11-2019 11:23
Drama yg menguras jiwa.
emoticon-Mademoticon-Mademoticon-Mad
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ciminuy dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Neraka Dalam Surga
19-11-2019 10:41
🌻🌻🌻🌻🌻

Part 4

🌻🌻🌻🌻🌻


Arief pulang dengan wajah lebam. Namun, tidak ada sorotan kesedihan yang terlihat di matanya. Seragam yang putih bersih kini berubah menjadi abu-abu. Beberapa bercak merah terlihat jelas dipakaian Arief. Rambut yang selalu rapi kini awut-awutan.

Ia telah berdiri di depan rumah. Rumah mewah dengan fasilitas lengkap itu ditatapnya dengan muak. Hidup menjadi orang kaya dengan harta yang melimpah tidak membuat Arief nyaman untuk tinggal di sana. Apalagi jika terus menerus mendengar tangis tertahan dari kamar ibunya--Camelia.

Wanita itu selalu menangis saat terlelap. Di bawah lampu yang temaram, duduk melipat kaki. Berkali-kali ia menghapus air mata yang terus-menerus tumpah. Tapi bagai mata air, air mata itu semakin menggenang dan tumpah berkali-kali. Arief yang sering terbangun di tengah malam hanya bisa menatap sayu penuh kesedihan saat melihat ibunya menderita dalam tangis yang ditahan. Arief paham masalah apa yang menimpa hati ibunya. Namun, tidak dapat berbuat banyak karena ia masih dianggap anak kecil.

"Assallamualaikum," ucap Arief memasuki rumah.

"Waallaikumsallam," ucap Camelia dari arah dapur. Ia baru saja membuat dua gelas teh hangat untuk Alex suaminya yang baru datang dengan Meta calon istri ketiga suaminya.

“Astaghfirullah, ada apa dengan wajahmu, Nak?” Camelia terlihat sangat panik, buru-buru ia menaruh dua cangkir gelas itu di atas meja. Teh itu tumpah karena tangan Camelia sudah gemetar melihat kondisi anaknya. Secepat mungkin, ia memegang kedua pipi anak kesayangannya itu, memeriksa seluruh tubuhnya. Namun, sebelum dapat berkata lagi, air mata sudah tumpah lebih deras.

"Wajah kamu kenapa?" tanya Alex memperhatikan lebam di beberapa bagian wajah Arief.

"Tidak apa, Yah. Tadi jatuh di sekolah," ucap Arief tidak terlalu menanggapi lelaki yang ia sebut Ayah itu.
"Ndak apa, namanya juga laki-laki, Mbak." Meta menanggapi dengan ketus.

"Tante siapa?" tanya Arief menatap Meta yang terlihat centil duduk melekat dengan Ayahnya, sedangkan ibunya ada di sana.

Meta tersenyum sambil memeluk lengan Alex. Tidak memperdulikan perasaan Lia yang menatapnya dengan rasa sedih dan tidak nyaman.

"Ini Tante Meta. Calon ibumu juga nanti. Sini kenalan dulu," ucap Alex memanggil Arief yang masih berdiri mematung memperhatikan gelagat Meta yang menjijikan.

"Arief tidak apa, Bu. Hanya jatuh saat bermain bola bersama teman-teman. Nanti kalau di kompres bakalan sembuh. Ya kan?" jelas Arief pada Camelia yang masih terlihat khawatir.

"Arief, kamu tidak mendengarkan Ayah? Sini kenalan dulu dengan Tante Meta!"

"Tidak perlu, Yah. Aku tidak butuh ibu baru. Ibuku ini sudah lebih dari dunia dan isinya. Tidak perlu tambahan ibu lagi." Arief menatap Meta yang terlihat kaget oleh jawaban Arief yang tidak pernah membantah.

Setahunya, dari cerita Alex, Arief adalah anak yang patuh dan manut saja dengan apa yang diperintahkan orang tuanya. Termasuk jika nanti ia menjadi istri ketiga untuk Alex. Arief bukanlah sebuah penghalang. Namun, kenyataan yang terjadi berbeda dengan ucapan Alex sebelumnya.

"Kok begini, Mas. Katanya Arief aman-aman saja jika aku menikah denganmu. Lantas kenapa ia bersikap seperti ini padaku? Keterlaluan. Aku merasa tidak dihargai sama sekali," Rajuk Meta melepaskan pelukannya dari Alex.

Camelia yang sedari tadi menangis, kini terdiam dengan apa yang disaksikannya barusan. Selama ini Arief adalah anak yang penurut, tidak ada sedikitpun bantahan dari mulutnya jika Alex atau dirinya memerintah.

"Kurang ajar kamu, Rief. Apa ada aku mendidikmu begitu?" Sebuah tamparan mendarat di pipi Arief. Pipi dan matanya yang lebam kini semakin memanas.

Camelia terperanjat dengan apa yang dilakukan Alex terhadap anaknya. Ingin sekali ia memberontak, tentang ketidakadilan yang ia lakukan. Tapi, kembali ia hanya bisa terdiam. Memeluk anaknya dengan erat dan menghapus air matanya berkali-kali.

"Sudahlah, Mas. Mungkin Arief capek, ia kan baru pulang sekolah. Jangan terlalu kasar kepada anak. Ini darah dagingmu," ucap Camelia membela anaknya.

"Ajarkan anakmu sopan santun. Ajarkan ia bagaimana cara menghargai orang lain!" Alex kini berdiri dengan mata memerah. Rahangnya mengeras menahan emosi.

"Ayah harus menjadi Ayah yang baik dulu untuk aku dan Ibu. Baru tuntut aku menjadi anak yang baik, Yah!" Teriakan Arief membuat semua mata menatap padanya. Anak usia lima belas tahun ini kini sudah pandai menyerang.

"Kurang ajar kamu!" Teriakan Alex membahana memenuhi ruangan.

"Apa Ayah pernah bertanya bagaimana perasaanku? Bagaimana perasaan ibu? Atau, apakah Ayah pernah bertanya bagaimana sekolahku? Bagaimana teman-temanku? Apa saja yang aku lakukan seharian di sekolah. Atau, apakah Ayah pernah meluangkan waktu sedikit saja bermain denganku? Tidak kan? Jadi jangan minta aku menjadi anak yang baik jika Ayah tidak bisa menjadi Ayah yang baik buatku!"

"Tutup mulutmu anak kecil. Tahu apa kamu tentang itu?" Alex melangkah beberapa kali. Namun, berhenti saat melihat Arief dan Camelia manangis bersama.

"Ayah percaya lebam ini karena kecerobohanku? Semua ini kulakukan karena membela Ibu. Hidupku terasa hancur saat aku di cap dan dijauhi di sekolah hanya karena dibilang sebagai anak pelakor. Aku masih bisa bertahan di sekolah tanpa teman, tanpa siapa-siapa, Yah. Tapi, aku tidak bisa tahan jika Ibuku dihina. Itu sama saja menghinaku!"

"Tutup mulutmu anak kecil. Hargai Tante Meta di sini!" Gigi Alex gemelutuk menahan emosi atas ucapan-ucapan yang terlontar dari mulut anaknya.

"Apa harus aku memghargai dia? Sedangkan ia tidak menghargai ibuku di sini. Bergayut manja di lengan Ayah di depan ibuku? Wanita perusak rumah tangga orang!"

Sekali lagi, tamparan keras menghampiri pipi Arief. Kali ini Arief tersungkur dengan hidung yang mengeluarkan darah segar.

"Cukup, Mas. Cukup. Kasihan Arief. Ia masih kecil. Ia tidak akan paham. Ia hanya rindu perhatianmu. Itu saja, Mas." Camelia membantu anaknya untuk berdiri.

Arief berdiri perlahan dengan mata basah. Ia menatap tajam ke arah Meta yang sedari tadi terkejut-kejut melihat adegan yang terjadi.

"Tante! Jangan rusak kebahagiaan kami lagi. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menganggap tante ibuku. Ingat itu." Arief berjalan terseok-seok menuju kamar.

Camelia yang manyaksikan anaknya terlihat menderita segera pergi meninggalkan Alex dan calon istri barunya.

Alex mengatur napas, memejamkan mata dan bersandar ke sofa. Meta mencoba menenangkan Alex dengan membelai lengan lelaki itu.

"Lepaskan, aku mau sendiri dulu!" Tegas Alex pada Meta yang kembali terkejut dengan sikap Alex.

Meta tersenyum penuh kemenangan(*)
🌻🌻🌻🌻🌻




Diubah oleh ndsteam
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bekticahyopurno dan 10 lainnya memberi reputasi
11 0
11
Neraka Dalam Surga
18-11-2019 10:51
Masih belum update yaemoticon-Games
profile-picture
feliia memberi reputasi
1 0
1
Neraka Dalam Surga
17-11-2019 15:05
seseru layangan putus kah cerita ini?

aye tunggu nih lanjutannya
0 0
0
Halaman 1 dari 7
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
black-eye-cp4
Stories from the Heart
bunga-di-pinggir-jalan
Stories from the Heart
black-eye-cp3
Stories from the Heart
black-eye2
icon-jualbeli
Jual Beli
Copyright © 2019, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia