Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
39
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5dc138be9a972e255c7f6aa7/ketika-don-juan-jatuh-cinta
Bagi cowok setampan diriku, tentu saja tidak sulit untuk mendapatkan pacar. Semenjak kuliah, terhitung ada sembilan gadis yang pernah menjadi kekasih. Dalam artian, yang kupacari lebih dari sebulan. Namun saat ini, aku sedang jomblo. Predikat yang paling memalukan untuk di sandang.
Lapor Hansip
05-11-2019 15:54

Ketika Don Juan Jatuh Cinta

Past Hot Thread
Ketika Don Juan Jatuh Cinta

Prolog

Kita tak pernah tahu bagaimana rasanya sakit diabaikan bahkan ditinggalkan, sampai mengalami sendiri luka yang sama.
Cinta datang sebagai anugerah, namun kadang dia menggoreskan luka hingga berdarah.
Jika waktu bisa diputar ke belakang, masihkah kita mau melewati jalan yang sama?

Petualanganku dalam cinta telah membuat banyak hati terluka. Tapi aku harus membayar semua ketika sebuah cinta sederhana tak bisa kuraih. Sakit, pedih dan merasa terasing ....
_____________

Part 1

Bagi cowok setampan diriku, tentu saja tidak sulit untuk mendapatkan pacar. Semenjak kuliah, terhitung ada sembilan gadis yang pernah menjadi kekasih. Dalam artian, yang kupacari lebih dari sebulan.

Namun saat ini, aku sedang jomblo. Predikat yang paling memalukan untuk di sandang. Karena mau tidak mau, aku harus fokus pada skripsi yang semestinya tahun lalu selesai. Mama mengultimatum, jika tahun ini tidak lulus kuliah, beliau tak mau mengirim biaya lagi. 

Pagi ini, saat paling menyebalkan untuk memulai aktivitas. Air PDAM mati, tetangga kamar kost bertengkar, dan lebih parah lagi, aku terjatuh dari tangga. Sebenarnya kejadian jatuh dari tangga itu tidak terlalu menyakitkan, tapi malunya teramat sangat. Karena saat kejadian, ada tiga orang cewek penghuni kamar kost di lantai satu, melihat dengan tawa berderai.

Aku merutuki tangga sialan yang membuat level kegantengan turun satu strip. Kubersihkan celana yang kotor oleh debu, kemudian melaju dengan motor sport keluaran terbaru. Hadiah mama saat ulang tahun bulan lalu.

Sebuah desa di Tawangmangu menjadi tujuan. Tempat yang telah kuputuskan untuk obyek penelitian skripsi, pengaruh media sosial di kalangan remaja desa.

Dengan dosen pembimbing seperti Pak Ali Nurdin yang teramat perhatian pada mahasiswa, harusnya sudah kuselesaikan skripsi tahun lalu, bersama puluhan teman seangkatan. Namun, naluri berpetualang dalam cinta telah menunda mimpi mama untuk melihatku diwisuda.

Dua jam berkendara, membawaku pada sebuah rumah berarsitektur joglo, milik kepala desa. Segera kuketuk pintu dan mengucap salam. Seorang wanita empat puluh tahunan muncul dan mempersilakan masuk.

“Nak Faisal?” tanyanya. Aku mengangguk. “Bapak tadi sudah memberi tahu kalau Nak Faisal akan datang.”

“Terima kasih, Bu, sudah memperbolehkan saya menumpang di sini,” ucapku.

Bu Kades mengantarkanku ke sebuah kamar dan membiarkan beristirahat setelah menempuh perjalanan cukup lama. Baru saja kurebahkan tubuh di ranjang, Gita mengirim pesan.

[Lu di mana? Gue samperin di kost kok nggak ada?]

[Mulai sekarang, lu nggak usah cari gue.] Kukirim pesan balasan.

[Apa salahku, Fai, lu tega mutusin gue.] Gita menyematkan emotikon menangis berderet-deret.

[Lu nggak salah, Git, gue yang salah. Gue udah mainin hati lu.] Kukirim balasan dengan perasaan entah apa.

[Gue cinta mati sama lu.] Gita mengirimkan balasan.

[Tapi, gue gak cinta sama lu. Gue Cuma nafsu!]



Aku mendengkus. Jengah mengadapi sikap Gita yang keras kepala. Sama seperti mantan pacarku yang lain, masih mengejar-ngejar walau sudah putus.Segera kumatikan data seluler.

“Iya, sebentar,” kataku. Ketika membuka pintu kamar, tampak seorang bak bidadari berdiri di depan pintu.

Gadis itu sangat cantik, kulit kuning langsat, hidung mancung, bibir indah, dan matanya .... Tuhan telah menempatkan semua dengan teramat sempurna. Gadis itu meletakkan segelas besar teh dan sepiring camilan di atas meja kecil sebelah ranjang. Kemudian mempersilakan dengan jempolnya. Dia tersenyum padaku sebelum pergi. Kupandangi punggung gadis itu hingga menghilang di balik dinding kamar. Siapakah makhluk cantik itu?

Tampak Bu Kades sedang duduk di ruang tengah, menonton sinetron.

“Pak Kades pulang jam berapa, Bu?” tanyaku berbasa-basi seraya duduk di dekatnya.

Bu Kades melihat jam dinding. “Mungkin sebentar lagi.”

Gadis yang tadi mengantarkan teh memberikan isyarat dengan jempolnya, menunjuk sesuatu di dalam kepada Bu Kades. Wanita paruh baya itu membalasnya dengan anggukan. Apakah gadis itu bisu?

“Ayo kita makan dulu, Nak,” ajak Bu Kades. Aku mengikuti wanita itu menuju meja makan. Nasi, tempe, ayam goreng, dan telur dadar sudah tersedia di sana.

“Yang tadi siapa, Bu?” tanyaku tak sanggup  menunggu terlalu lama untuk mengetahui jati diri si gadis.

“Itu anak angkat kami,” jawab Bu Kades. “Ibu tak bisa punya anak, Nak. Dulu ibu pernah hamil, tapi keguguran. Karena ada masalah pada rahim ibu sehingga harus diangkat,” ucap Bu Kades dengan sendu. Wajahnya mendadak murung.

“Maafkan saya, Bu, telah membuat Ibu sedih,” kataku.

“Tidak apa. Ibu sudah ikhlas menjalani. Termasuk jika Bapak ingin menikah lagi,” kata Bu Kades dengan muram. Aku sedikit terkesima dengan apa yang dikatakan  Bu Kades. Seorang wanita yang rela dimadu?

Gadis cantik itu melintas di dekat meja makan, sepertinya hendak menuju kamar. Bu Kades memanggil, “Sini, Rin.” Dia mendekat. “Kenalkan, ini Nak Faisal, akan tinggal di sini sebulan.” Gadis itu tersenyum. “Nak Faisal, ini anak ibu, namanya Arini.”

Aku bersalaman dengan Arini. Gadis kuning langsat itu kemudian pergi meninggalkan kami.

“Kasihan dia, Nak Fai. Dia menjadi bisu karena peristiwa yang traumatik,” kata Bu Kades. “Dulu dia gadis yang normal, tapi hidup dalam keluarga yang serba kekurangan.” Mata Bu Kades menerawang. Sejenak hening di antara kami.

“Dia mengalami pelecehan seksual oleh ayah tirinya. Pelecehan yang terjadi dalam kurun waktu cukup lama, berkali-kali, namun terlambat diketahui.” Mata Bu Kades berkaca-kaca. Dadaku pun mendadak oleh keprihatinan. “Gadis itu diancam agar tidak menceritakan kepada siapa pun, sehingga lambat laun jiwanya terguncang. Dia menjadi stress dan tidak bisa berkata-kata lagi. Dokter mengatakan itu karena trauma.” Pandangan Bu Kades menerawang jauh. Kulihat kesedihan dalam sorot matanya.

“Apakah Arini pernah dibawa ke psikiater?”

“Pada awal-awal kasusnya terungkap, dia dalam penanganan psikiater. Kini Arini sudah bisa menjalani kehidupannya dengan normal. Hanya, suaranya tak pernah kembali. Dia tetap bisu.”

Aku terdiam. Turut merasakan kepedihan yang pernah dialami Arini. Tak kusangka, dibalik wajah bak bidadari itu tersimpan luka yang teramat dalam.

Hari ini kumulai penelitian. Ditemani Arini, menemui dan mewawancarai beberapa pemuda di kampung itu. Arini berkomunikasi dengan tulisan. Gadis itu terbiasa membawa sebuah buku kecil dan bolpoin untuk mengatakan sesuatu. Untunglah Arini bisa baca tulis. Jika tidak, tentu sulit bagiku berbicara dengannya. 

Selesai menemui responden, kami berjalan-jalan di sawah milik Pak Kades. Petak-petak sawah itu dipenuhi padi yang mulai menyembulkan bulir-bulirnya. Arini terlihat gembira, wajahnya selalu dihiasi senyum. Gadis itu menunjuk sebuah dangau, kemudian kami beristirahat di sana.

Beberapa petani yang lewat menyapa kami dengan ramah. Aku merasa seperti berada di belahan bumi lain. Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan kehidupan di kota yang penuh dengan ketidakperdulian.

Aku bercerita banyak hal pada Arini. Termasuk tentang diriku. Sesekali gadis itu bertanya, kemudian kujawab dengan candaan yang membuatnya tertawa terpingkal-pingkal.

Angin sawah memainkan rambut Arini yang panjang melewati bahu. Beberapa helainya menutupi separuh wajahku. Kunikmati sensasi lain bersama gadis ini. Dia terlihat begitu polos. Namun siapa  sangka, seseorang telah merenggut miliknya yang paling berharga.

“Arini ....” Gadis itu memandangku. “Kamu cantik.”

Wajah di depanku bersemu merah dadu. Tersungging senyum manis di bibir indahnya. Kupandang dia dengan debaran aneh yang mulai meraja di dada.

Setelah cukup lama di dangau, Arini mengajakku pulang. Kami kembali meniti pematang sawah yang sedikit berlumpur, bekas hujan semalam. Aku terpeleset dan hampir jatuh, tapi tangan Arini cepat meraih lenganku. Seperti adegan klasik di sinetron, namun ini terbalik, bukan si wanita yang hampir terjatuh. Arini tertawa berderai. Wajahnya terlihat jauh lebih cantik saat tertawa. Jiwa petualangku menjadi terusik. Tapi, mungkinkah aku berpacaran dengan gadis desa, bisu, tak berpendidikan dan mengalami trauma seksual?

Arini menyenggol dengan sikunya, membuatku tersentak dari imajinasi yang liar

Hari-hari di desa itu menjadi sangat menyenangkan karena ada sosok Arini yang selalu menemani. Tak terasa, aku sudah hampir sampai di penghujung waktu.

Malam ini, aku sedang mengetik hasil penelitian di ruang tengah. Pak Kades dan istrinya sudah beristirahat di kamar. Arini menyuguhkan secangkir kopi panas. Namun belum sampai meletakkan kopi di meja, kaki Arini tersandung kaki meja hingga membuatnya  terjatuh. Kopi yang dipegang tumpah di kaki. Aku tersentak kaget oleh rasa panas . Terlebih Arini juga jatuh menimpaku.

“Maaf!” seru gadis itu. Aku tersentak untuk kedua kalinya.

“Arini ... kau ...?” Arini berada di atas tubuhku. Wajahnya berada sangat dekat.

Cepat-cepat gadis itu bangkit, tetapi aku menggenggam pergelangan tangannya, membuat dia duduk di sebelahku. “Kau bisa bicara, Rin ....” Aku menatap bola mata indahnya dengan penuh keharuan. “Ucapkan sesuatu lagi padaku!”

“Ma-maafkan a-aku,” kata gadis itu terbata.

Seumur hidupku, baru kali ini merasa keharuan yang begitu membuncah. Arini meneteskan air mata. Kuusap titik bening yang menetes di pipinya dengan ujung jari.

“Bahkan ketika menangis, kamu masih tetap cantik,” bisikku seraya memeluk tubuh gadis itu, dia tak menolak. Ada gejolak dalam dada yang membuatku begitu bahagia. Kebahagiaan yang belum pernah kurasakan ketika dekat dengan gadis manapun.

Kami tersentak ketika mendengar nada dering HP. Gita menelepon. Kulepaskan pelukan. Arini terlihat salah tingkah. Aku memandangnya dengan tatapan penuh arti.
 
Bersambung
Diubah oleh fikrionly
profile-picture
profile-picture
profile-picture
idner69 dan 10 lainnya memberi reputasi
11
Halaman 1 dari 2
Ketika Don Juan Jatuh Cinta
05-11-2019 15:54

Ketika Don Juan Jatuh Cinta (2)

Part 2

Dua hari menjelang berakhirnya penelitian di desa itu. Aku mulai membuat poin-poin penelitian. Dampak positif dari adanya media sosial adalah pemanfaatannya oleh sebagian remaja desa yang memulai bisnis kecil-kecilan. Ada juga yang membantu orang tuanya menjual berbagai hasil bumi secara on line. Dampak negatifnya, sebagian remaja mengakses situs-situs porno, melakukan bullying, terlibat dalam pertengkaran di dunia maya, dan mulai bergaya hidup ala remaja kota.

Masih banyak yang harus kutulis. Namun malam sudah cukup larut. Kulihat Arini yang sedari tadi menemani, telah tertidur di sofa. Dadaku berdesir melihat lekuk tubuhnya yang indah. Walau bagaimanapun aku masih pemuda yang normal.

Sebelum meninggalkan desa, aku bertekat akan mengungkapkan rasa cinta ini padanya. Tidak perduli bagaimana tanggapan mama jika sampai tahu aku berpacaran dengan gadis itu.

Kubangunkan gadis itu. “Arini, tidurlah di kamarmu.” Gadis itu membuka mata indahnya.

“Maaf, aku ketiduran,” bisiknya. Arini tak mau jika Pak Kades atau Bu Kades mendengarnya bicara. Entah kenapa dia masih ingin merahasiakan kalau dia kini sudah bisa berbicara.

“Tak apa. Malam sudah larut.” Kami beranjak ke kamar masing-masing.
Kurebahkan tubuh di ranjang. Entah kenapa ada rasa sedih yang tiba-tiba menyeruak. Rasanya enggan mengakhiri kehidupan yang sebulan ini berjalan indah. Aku tak ingin berpisah dengan Arini. Gadis yang telah memberi warna lain dalam kehidupanku.

***

Seusai sholat Subuh, aku meminta izin pada Bapak dan Ibu Kades untuk membawa Arini berjalan-jalan. Gadis itu terlihat gembira. Kami pun berjalan menyusuri pematang-pematang sawah, menuju sebuah sungai kecil yang airnya mengalir jernih.

Kami duduk di sebuah batu besar dengan kaki menjuntai ke air. Dingin air sungai membelai kulit kaki. Kulirik gadis cantik itu. Dia seperti melamun.

“Hai, mikirin apa?” tanyaku membuatnya tersentak.

“Tidak ada, aku hanya ....” Arini tak melanjutkan kalimatnya.

“Hanya apa?”

“Sebentar lagi kamu akan kembali ke kota,” ucap gadis itu seraya menatapku. Ada pendar aneh di matanya yang sulit kuartikan.

“Iya. Waktu berjalan terlalu cepat,” kataku. “Jika boleh, ingin kuputar waktu kembali dari awal.”

“Kenapa?”

“Aku ingin lebih lama denganmu,” bisikku.

Gadis itu menunduk, kemudian membuang pandangannya pada batu-batu di tengah sungai. “Apakah kamu menginginkan hal yang sama?” Kugenggam tangan Arini, dia tak menolak. Namun, tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya.
“Arini, aku mencintaimu,” bisikku di telinganya.

Gadis itu tampak terkejut. Dilepaskan genggaman tanganku. Dia berdiri, berjalan menjauh.

“Kenapa, Arini?” tanyaku seraya mengejarnya. Kuraih tangannya hingga membuat langkah gadis itu terhenti. “Apakah aku salah?”

“Aku tidak mungkin menerima cintamu, Kak,”

“Kenapa? Apa yang kurang pada diriku?”

Arini menghela nafas dalam-dalam. “Bukan Kakak yang kurang, tapi aku!” jawabnya.

“Masa lalumu?”

“Lebih dari itu.”

“Maksudmu?”

Gadis itu tak segera menjawab. Setitik air menggenang di sudut matanya. Berkilau keemasan ditimpa sinar mentari yang baru saja muncul.

“Aku akan menjadi istri kedua Pak Kades!” Kalimat Arini bagai sengatan ribuan watt listrik. “Itu takdirku. Aku harus membalas budi Bapak dan Ibu.” Gadis itu tampak muram. “Bu Kades pernah bercerita kepada Kakak, kan, kalau dia tidak bisa punya anak lagi?” Aku mengangguk. “Beliau dan suaminya ingin punya anak. Bu Kades hanya mengijinkan suaminya menikah lagi jika itu denganku.” Kutelan ludah yang tiba-tiba terasa sangat pahit. “Bu Kades sangat menyayangiku. Hanya dengankulah dia mau berbagi suami.”

Dadaku sesak oleh perasaan entah kesedihan atau kekalahan. Seorang yang terkenal sebagai don juan kini harus meratapi nasib cintanya.
Tanpa berkata-kata, kami melangkah pulang. Kuputuskan hari itu untuk kembali ke kota, walaupun semestinya masih sehari lagi. Sungguh, aku tak ingin berlama-lama melihat Arini. Gadis yang kucintai tapi tak bisa untuk dimiliki.

Kuucapkan salam perpisahan dan rasa terima kasih kepada Pak Kades dan istrinya. Juga kepada gadis yang telah meruntuhkan hatiku.
“Selamat tinggal, Arini. Semoga kamu berbahagia,” kataku pada gadis itu. Dia tersenyum. Wajahnya memancarkan keikhlasan dalam hidup. Hatiku semakin merasa terluka.

Bersambung
Diubah oleh fikrionly
profile-picture
profile-picture
profile-picture
idner69 dan 11 lainnya memberi reputasi
12 0
12
Lihat 1 balasan
Ketika Don Juan Jatuh Cinta
05-11-2019 15:55
Link Ketika Don Juan Jatuh Cinta

Part 1

Part 2

Part 3
Diubah oleh fikrionly
profile-picture
rita08048 memberi reputasi
1 0
1
Ketika Don Juan Jatuh Cinta
05-11-2019 16:19
Keren ceritanya Gan. Nggak sabar nunggu kelanjutannya. Kira-kira si don juan tobat nggak ya?emoticon-Leh Uga
profile-picture
fikrionly memberi reputasi
1 0
1
Ketika Don Juan Jatuh Cinta
05-11-2019 16:39
mantap gan, ane tungu lanjutannya yaa, smoga ajaarini ga jd nikah ma pak kades, pngnnya ma faisal aja emoticon-2 Jempol
profile-picture
fikrionly memberi reputasi
1 0
1
Ketika Don Juan Jatuh Cinta
05-11-2019 16:49
cinta itu anugerah
profile-picture
fikrionly memberi reputasi
1 0
1
Ketika Don Juan Jatuh Cinta
05-11-2019 19:03
cerita tentang playboy emang gak ada mati nyaemoticon-Cool
profile-picture
fikrionly memberi reputasi
1 0
1
Ketika Don Juan Jatuh Cinta
05-11-2019 19:21
Nenda ahhh
profile-picture
fikrionly memberi reputasi
1 0
1
Ketika Don Juan Jatuh Cinta
05-11-2019 19:23
Quote:Original Posted By tidhy010709
mantap gan, ane tungu lanjutannya yaa, smoga ajaarini ga jd nikah ma pak kades, pngnnya ma faisal aja emoticon-2 Jempol


Siap. Semoga bisa cepet ngelanjutin cerita iniemoticon-I Love Indonesia
profile-picture
i4munited memberi reputasi
1 0
1
Ketika Don Juan Jatuh Cinta
05-11-2019 19:24
Quote:Original Posted By pabloo
cinta itu anugerah


Iya Gan. Setuju banget dengan quote Aganemoticon-Blue Guy Cendol (L)
0 0
0
Ketika Don Juan Jatuh Cinta
05-11-2019 19:26
Quote:Original Posted By adorazoelev
cerita tentang playboy emang gak ada mati nyaemoticon-Cool


Betul banget. Soalnya dari dulu sampai sekarang cerita tentang play boy selalu ada.
profile-picture
i4munited memberi reputasi
1 0
1
Ketika Don Juan Jatuh Cinta
05-11-2019 19:27
Quote:Original Posted By freeman063
Nenda ahhh


Silakan Gan. Semoga tulisan ane ini bisa menjadi hiburan.
profile-picture
profile-picture
i4munited dan freeman063 memberi reputasi
2 0
2
Ketika Don Juan Jatuh Cinta
05-11-2019 19:28
Lanjutannya kapan nih
profile-picture
tripleculture memberi reputasi
0 1
-1
Ketika Don Juan Jatuh Cinta
05-11-2019 22:45
Kayanya si Arini nyusul ke kota nih, terus nyari ente gan, tapi ketemunya sama cowok lain. emoticon-Ngakak
profile-picture
fikrionly memberi reputasi
1 0
1
Ketika Don Juan Jatuh Cinta
05-11-2019 22:53
waduh... eta bagaimana?
0 0
0
Ketika Don Juan Jatuh Cinta
06-11-2019 05:43
Jangan kayak trit kentang lainnya gan
0 0
0
Ketika Don Juan Jatuh Cinta
06-11-2019 08:34
wah bakalan mantab kayanya nih cerita... akankah ada perjuangan atau hanya menyerah sebelum kalah...
profile-picture
fikrionly memberi reputasi
1 0
1
Ketika Don Juan Jatuh Cinta
06-11-2019 11:53
Quote:Original Posted By fikrionly
Part 2

Dua hari menjelang berakhirnya penelitian di desa itu. Aku mulai membuat poin-poin penelitian. Dampak positif dari adanya media sosial adalah pemanfaatannya oleh sebagian remaja desa yang memulai bisnis kecil-kecilan. Ada juga yang membantu orang tuanya menjual berbagai hasil bumi secara on line. Dampak negatifnya, sebagian remaja mengakses situs-situs porno, melakukan bullying, terlibat dalam pertengkaran di dunia maya, dan mulai bergaya hidup ala remaja kota.

Masih banyak yang harus kutulis. Namun malam sudah cukup larut. Kulihat Arini yang sedari tadi menemani, telah tertidur di sofa. Dadaku berdesir melihat lekuk tubuhnya yang indah. Walau bagaimanapun aku masih pemuda yang normal.

Sebelum meninggalkan desa, aku bertekat akan mengungkapkan rasa cinta ini padanya. Tidak perduli bagaimana tanggapan mama jika sampai tahu aku berpacaran dengan gadis itu.

Kubangunkan gadis itu. “Arini, tidurlah di kamarmu.” Gadis itu membuka mata indahnya.

“Maaf, aku ketiduran,” bisiknya. Arini tak mau jika Pak Kades atau Bu Kades mendengarnya bicara. Entah kenapa dia masih ingin merahasiakan kalau dia kini sudah bisa berbicara.

“Tak apa. Malam sudah larut.” Kami beranjak ke kamar masing-masing.
Kurebahkan tubuh di ranjang. Entah kenapa ada rasa sedih yang tiba-tiba menyeruak. Rasanya enggan mengakhiri kehidupan yang sebulan ini berjalan indah. Aku tak ingin berpisah dengan Arini. Gadis yang telah memberi warna lain dalam kehidupanku.

***

Seusai sholat Subuh, aku meminta izin pada Bapak dan Ibu Kades untuk membawa Arini berjalan-jalan. Gadis itu terlihat gembira. Kami pun berjalan menyusuri pematang-pematang sawah, menuju sebuah sungai kecil yang airnya mengalir jernih.

Kami duduk di sebuah batu besar dengan kaki menjuntai ke air. Dingin air sungai membelai kulit kaki. Kulirik gadis cantik itu. Dia seperti melamun.

“Hai, mikirin apa?” tanyaku membuatnya tersentak.

“Tidak ada, aku hanya ....” Arini tak melanjutkan kalimatnya.

“Hanya apa?”

“Sebentar lagi kamu akan kembali ke kota,” ucap gadis itu seraya menatapku. Ada pendar aneh di matanya yang sulit kuartikan.

“Iya. Waktu berjalan terlalu cepat,” kataku. “Jika boleh, ingin kuputar waktu kembali dari awal.”

“Kenapa?”

“Aku ingin lebih lama denganmu,” bisikku.

Gadis itu menunduk, kemudian membuang pandangannya pada batu-batu di tengah sungai. “Apakah kamu menginginkan hal yang sama?” Kugenggam tangan Arini, dia tak menolak. Namun, tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya.
“Arini, aku mencintaimu,” bisikku di telinganya.

Gadis itu tampak terkejut. Dilepaskan genggaman tanganku. Dia berdiri, berjalan menjauh.

“Kenapa, Arini?” tanyaku seraya mengejarnya. Kuraih tangannya hingga membuat langkah gadis itu terhenti. “Apakah aku salah?”

“Aku tidak mungkin menerima cintamu, Kak,”

“Kenapa? Apa yang kurang pada diriku?”

Arini menghela nafas dalam-dalam. “Bukan Kakak yang kurang, tapi aku!” jawabnya.

“Masa lalumu?”

“Lebih dari itu.”

“Maksudmu?”

Gadis itu tak segera menjawab. Setitik air menggenang di sudut matanya. Berkilau keemasan ditimpa sinar mentari yang baru saja muncul.

“Aku akan menjadi istri kedua Pak Kades!” Kalimat Arini bagai sengatan ribuan watt listrik. “Itu takdirku. Aku harus membalas budi Bapak dan Ibu.” Gadis itu tampak muram. “Bu Kades pernah bercerita kepada Kakak, kan, kalau dia tidak bisa punya anak lagi?” Aku mengangguk. “Beliau dan suaminya ingin punya anak. Bu Kades hanya mengijinkan suaminya menikah lagi jika itu denganku.” Kutelan ludah yang tiba-tiba terasa sangat pahit. “Bu Kades sangat menyayangiku. Hanya dengankulah dia mau berbagi suami.”

Dadaku sesak oleh perasaan entah kesedihan atau kekalahan. Seorang yang terkenal sebagai don juan kini harus meratapi nasib cintanya.
Tanpa berkata-kata, kami melangkah pulang. Kuputuskan hari itu untuk kembali ke kota, walaupun semestinya masih sehari lagi. Sungguh, aku tak ingin berlama-lama melihat Arini. Gadis yang kucintai tapi tak bisa untuk dimiliki.

Kuucapkan salam perpisahan dan rasa terima kasih kepada Pak Kades dan istrinya. Juga kepada gadis yang telah meruntuhkan hatiku.
“Selamat tinggal, Arini. Semoga kamu berbahagia,” kataku pada gadis itu. Dia tersenyum. Wajahnya memancarkan keikhlasan dalam hidup. Hatiku semakin merasa terluka.

Bersambung


sengaja part 2 nya ditaruh sini ya gan? g di taruh di trit baru aja?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
adriel. dan 2 lainnya memberi reputasi
1 2
-1
Ketika Don Juan Jatuh Cinta
06-11-2019 12:47
Kentangnya dipercepat gan, jgn lama2
0 0
0
Ketika Don Juan Jatuh Cinta
06-11-2019 18:59
Hayo di lanjut, jgn kelmaan keburu tenggelam.
0 0
0
Halaman 1 dari 2
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
bunga-di-pinggir-jalan
Stories from the Heart
black-eye-cp3
Stories from the Heart
black-eye2
Stories from the Heart
teror-hantu-dewi
icon-jualbeli
Jual Beli
Copyright © 2019, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia