Tech
Batal
KATEGORI
link has been copied
0
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5dbe3426b8408844bc1a4a2a/bab-2-nenek-minah
Bergegas ia menuju dapur. Ternyata Nenek Minah tadi sempat menjatuhkan wajan saat hendak mengambilnya dari cantelan di dinding tepat dia atas kompor gas. Tio mengambil wajan dari atas lantai dan meletakannya dengan benar di atas kompor gas. "Terima kasih ya,  nenek memang selalu ceroboh jika melakukan sesuatu. Maklum, sudah tua," kata Nenek Minah , kemudian mengambil minyak goreng di sa
Lapor Hansip
03-11-2019 08:57

Bab 2 Nenek Minah

Bergegas ia menuju dapur. Ternyata Nenek Minah tadi sempat menjatuhkan wajan saat hendak mengambilnya dari cantelan di dinding tepat dia atas kompor gas. Tio mengambil wajan dari atas lantai dan meletakannya dengan benar di atas kompor gas.
"Terima kasih ya,  nenek memang selalu ceroboh jika melakukan sesuatu. Maklum, sudah tua," kata Nenek Minah , kemudian mengambil minyak goreng di samping kompor gas.
"Nenek akan buatkan kau sarapan, sebaikmya kau mandi sekarang," kata Nenek Minah, kemudian mencurahkan minyak goreng di atas wajan. Dengan langkah tertati-tatih , ia menuju kulkas yang terletak di samping rak piring tak jauh di depan mereka. Nenek Minah mengambil sebungkus ikan alos (ikan teri)Medan dan seikat sawi serta satu pak telur. Hampir saja ia menjatuhkan pak telur itu, untunglah dengan cepat Tio membantunya.
"Sebaiknya aku membantu nenek, setelah itu baru mandi."
Mereka kemudian membuat nasi goreng ikan alos. Tio memberitahukan pada Nenek Minah bahwa toples yang tutupnya warna merah isinya adalah gula sementara toples yang tutupnya berawarna biru isinya adalah garam. Selain ceroboh, Nenek Minah juga agak pikun. Maklum, umurnya saja hampir mendekati delapan puluh tahun. Wajahnya yang bulat lonjong dipenuhi keriput dan rambutnya yang panjang penuh akan uban. Hidung Nenek Minah begitu pesek dan matanya agak sipit.
Saat Tio berhasil meloloskan diri dari perang yang melanda negerinya menggunakan Peta Segala Arah milik ayahnya, ia muncul di samping gerbang kompleks pemakaman kuno pada malam hari. Tak jauh di depannya ia melihat sebuah gerbang masuk ke sebuah desa. Ia bergegas berjalan ke arah desa yang ternyata bernama Tanjung Melayu.  Sebuah papan nama yang dicacakan (ditancapkan) di samping gerbang agak ke kanan memberitahukannya tentang nama desa itu. Suasana desa begitu sepi. Sementara cahaya lampu jalana menemani langkahnya. Ia terus berjalan.  Di ujung desa ia melihat seorang nenek yang sedang memasukan plastik besar yang tampak mengembug ke dalam sebuah bak sampah. Nenek itu kaget saat melihat dirinya.
"Apakah kau tersesat Nak?" tanya nenek itu setelah bisa menguasai diri. Tio hanya menganguk.
"Di manakah rumahmu?" tanya nenek itu lagi. Tio kemudian melancarkan sebuah jurus.
" Pusaran Angin Menyedot Awan!"
Sebuah cahaya keperakan meluncur menghantam nenek itu, yang kemudian tampak seperti orang lingau ( linglung). Tio baru saja meluncurkan sebuah jurus yang membuat orang jadi lupa dengan apa yang baru saja dialaminya atau dilakukannya.
"Bolehkah aku masuk?"
"Oh, tentu saja."

***

"Ah, syukurlah tadi nenek masak kacang ijo, tapi sekarang sudah agak dingin," kata Nenek Minah- begitulah nama nenek tersebut- sambil membawa sebuah baki yang di atasnya ada sebuah mangkuk berisi kacang ijo. Ia meletakkan mangkuk itu di atas meja makan dan menyorongkannya ke arah Tio. Baru satu suap, Tio langsung menyemburkan kacang ijo yang dimakannya. Kacang ijo itu asin sekali.
"Kau tersedak ya Nak, sebentar nenek ambilkan air," kata Nenek Minah salah menafsirkan. Dengan tertatih-tatih ia berjalan kembali ke dapur.  Tio menggunakan kesempatan itu untuk membuang kacang ijonya melalui jendela yang terletak tak jauh di samping kananya.
Nenek Minah yang baru kembali dari dapur sambil memegang sebuah gelas besar yang terbuat dari besi stainless steel, kaget sekali saat melihat Tio telah menghabiskan kacang ijonya.
"Tampaknya kau sangat kelaparan.  Apakah kau mau tambah lagi kacang ijonya?"
"Ng...nggak, Nek. Dah cukup."
"Oh, baiklah kalau begitu. Kau tidur sekarang."
Ternyata rumah ini memiliki dua kamar. Kedua kamar ini terletak di sebuah lorong yang menghubungkan ruang makan dan ruang tengah.  kamar ini saling berhadapan.
"Yang ini adalah kamar anak nenek," kata Nenek Minah menjelaskan dengan nada yang Tio rasakan ada kepedihan di dalamnya. Sebenarnya tak perlu dijelaskan pun Tio akan tahu bahwa kamar ini milik anak Nenek Minah.  Di daun pintu tertempel sebuah papan yang bertuliskan : Zona Aska Ketuk Dulu Jika Ingin Masuk.
"Anak nenek tinggal dan bekerja di Jogja sebagai pelayan restoran. Tapi sayang, saat ia hendak balik ke Pontianak ketika cuti libur Idul Fitri, pesawat yang ditumpanginya mengalami kecelakaan."
Nenek Minah membuka pintu kamar itu, keadaan di dalam kamar memang terkesan tidak pernah ditempati. Buku-buku yang tersusun rapi di  rak tampak berdebu, begitu pula dengan lantai porselennya. Seprai  yang menutupi kasur tampak kusam warnyanya.
"Ah, nenek selalu lupa untuk membersihkan kamar ini."
"Nenek tenang saja. Biar nanti saya yang membersihkannya."
Tio masuk ke dalam kamar tersebut dan Nenek Minah mengikutinya dari belakang. Di atas sebuah meja kayu, Tio menemukan bingkai foto. Di dalam bingkai foto itu, ia dapat melihat sebuah foto berbentuk bayangan hologram tiga dimensi seorang laki-laki berumur kira-kira 30-an.  Mukanya bulat lonjong, hidungnya mancung, serta matanya begitu bulat.
"Itu Aska, anak nenek. Ia mewarisi hidung dan mata ayahnya," kata Nenek Minah menjelaskan. Matanya yang agak sipit itu kini tampak berkaca-kaca.
Selanjutnya Tio tinggal bersama Nenek Minah. Kepada masyarakat Desa Tanjung Melayu, Nenek Minah menjelaskan bahwa ia adalah cucunya yang tinggal di Jogja dan sekarang pindah ke Pontianak. Selain itu, ia juga mengganti namanya yang semula Raden Wira menjadi Tio.
***

Setelah sarapan, Tio berangkat sekolah. Ia mencium punggung tangan Nenek Minah. Ia melirik jam tangan digitalnya.  Sepuluh menit lagi pukul tujuh. Sesampainya di dalam Kompleks Pemakaman  Tanjung Melayu,  ia menghentikan langkahnya. Tak jauh di depannya, ada sebuah gerbang pagar. Kompleks Pemakaman Tanjung Melayu memang memiliki dua gerbang pagar. Satu menghadap langsung ke desa, yang satunya lagi menghadap ke sebuah jalan aspal yang menghubungkan Perumahan Khatulistiwa Permai.
Kompleks Pemakaman Tanjung Melayu memang menyeramkan suasannya. Di tengah-tengah kompleks pemakaman ada sebuah pohon beringin besar berusia ratusan tahun, dan di setiap sudut kuburan tumbuh subur beberapa pohon bunga kamboja. Selain itu, kebanyakan kuburan di Kompleks Pemakaman Tanjung Melayu merupakan kuburan tua dan terkesan tak terurus. Ini dapat dilihat dari ukuran batu nisannya yang besar, yang mencuat dari dalam tanah, serta rumput yang tumbuh liar di sana-sini, memenuhi setiap sudut kompleks pemakaman. Beberapa batu nisan tampak retak dan berlumut. Menurut penduduk Desa Tanjung Melayu, Kompleks Pemakaman Tanjung Melayu sangatlah angker karena terkadang di malam hari penduduk desa sering mendengar suara klek klek klek yang berasal dari Kompleks Pemakaman Tanjung Melayu. Penduduk yakin suara itu adalah suara hantu atau orang Jawa sering menyebutnya engklek-engklek,  yaitu sejenis mahluk gaib yang memiliki sosok menyeramkan dan mirip monster serta postur tubuh yang tinggi kurus. Mahluk ini memang senang berkeliaran di daerah kuburan sambil membawa bangkai. Konon, bangkai yang dibawa mahluk itu merupakan mayat yang diambil dari dalam kuburan. Itulah alasannya  kenapa semua warga desa maupun kompleks perumahan tidak berani melintasi Kompleks Pemakaman Tanjung Melayu pada malam hari.
Kompleks kuburan ini merupakan jalan satu-satunya untuk menuju Perumahan Khatulistiwa Permai. Tak jauh dari gerbang Perumahana Khatulistiwa Permai, terdapat sebuah shelter bus. Dari sanalah biasanya Tio naik bus.
Jika pergi ke sekolah, Tio paling senang jika naik Bus Trans Khatulistiwa daripada harus menggunakan jurus Pusaran Angin Menyibak Awan. Itu adalah jurus yang memungkinkannya untuk hilang, kemudian muncul di suatu tempat dalam waktu yang sama, atau orang di dunia ini lebih mengenalnya sebagai teleportasi. Tapi jika naik bus, ia baru akan sampai ke sekolah tepat pukul tujuh tiga puluh atau setengah delapan. Ia tak ingin dihukum Pak Senot, satpam sekolahnya yang terkenal galak. Pak Senot pasti akan menyuruhnya berlari mengelilingi lapangan sekolah sebanyak lima kali karena ia telat datang ke sekolah, dan jika ia tak masuk sekolah hari ini, kasihan Gea dan Egi. Ia telah berjanji kepada mereka akan menjelaskan tentang semua kejadian yang menimpa mereka kemarin malam. Tiba-tiba saja Tio dikagetkan oleh suara tar!  nyaring.  Tak jauh di depannya saat ini berdirilah sosok berjubah dan bertudung hitam.

0
icon-hot-thread
Hot Threads
icon-jualbeli
Jual Beli
Copyright © 2019, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia