Hobby
Batal
KATEGORI
link has been copied
Pengumuman! Ikuti Surveynya, Dapatkan Badge-nya! Klik Disini
4
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5dba04176df2312fa34a86ae/betapa-sayangnya-aku-sama-suamimu-mbak--14
#Aku_Mencintai_Suamimu_Mbak! (14) 💕💕💕 "Islam bagi orang beriman seumpama oksigen yang mengalir di seluruh peredaran darah dalam tubuh mereka, tidak menghirupnya adalah bencana." 💕💕💕 Di indekost, Dewi akhirnya diminta istirahat oleh Farahna. "Istirahatlah. Jika kali ini kamu nekad melanggar laranganku, aku tak segan-segan meninggalkanmu sendiri, Dew." Wanita de
Lapor Hansip
31-10-2019 04:43

Betapa Sayangnya Aku Sama Suamimu, Mbak ( 14 )

#Aku_Mencintai_Suamimu_Mbak!
(14)

💕💕💕

"Islam bagi orang beriman seumpama oksigen yang mengalir di seluruh peredaran darah dalam tubuh mereka, tidak menghirupnya adalah bencana."

💕💕💕

Di indekost, Dewi akhirnya diminta istirahat oleh Farahna.
"Istirahatlah. Jika kali ini kamu nekad melanggar laranganku, aku tak segan-segan meninggalkanmu sendiri, Dew."

Wanita dengan rambut sebahu itu menoleh. Melihat mimik Farahna yang tengah mengomel sembari meletakkan barang-barang miliknya dari rumah sakit. Seseorang yang menurut Dewi memiliki hati bidadari itu mendekat lalu duduk di sebelahnya.
Menarik napas sebelum melanjutkan ucapannya.
"Aku ada di sini karena Rani, Dew."

"Kenapa harus karena Mbak Ran? Kenapa gak tulus karena Mbak kasian sama aku?"

Farahna mengerutkan dahinya. "Kasian sama kamu?" Bibir sebelahnya naik. Pertanyaannya menekan. Seperti belati menancap ke ulu hati.
"Kasian pada orang yang sudah merusak kebahagiaan kakak yang menyayanginya? Ckck."

"Tapi aku khilaf, Mbak! Dan itu bukan sepenuhnya kesalahanku! Mbak Ran juga ikut andil dari kehamilanku ini."

"Jaga mulutmu, Dew! Sekarang wanita itu hidupnya ada di ujung tanduk karena perbuatanmu."

"Aku juga sama Mbak! Nyawaku terancam oleh Mas Johan. Dia pasti sedang mencariku! Dia harus tau kalau Mbak Farahna tau aku hamil, kalau perlu Mbak Ran juga tau, jadi Mas Johan gak akan berani nyakitin aku dan bayiku ini." Suara Dewi meledak-ledak. Mengungkapkan semua yang mengganjal di hati dan rasa takutnya.

Mendengar ucapan Dewi, Farahna berdiri melihat tajam pada wanita itu.

'Plak!'

Dewi meringis memegangi pipinya.

"Kamu emang pantes ditampar! Keterlaluan dan gak tau diri! Egois! Bagaimana bisa kamu berpikir ingin selamat dengan mengorbankan kakakmu sendiri?!"

Dewi menangis, bibirnya bergetar kelu, meski hatinya merutuk pada orang di hadapannya.

"Kenapa cuma aku yang gak tau diri Mbak? Kenapa Mbak Ran dan Mas Johan gak disalahkan? Aku juga korban. Aku juga berhak bahagia." Suara Dewi pelan, seolah meminta seseorang yang bersamanya untuk iba.

Bukan kasihan, Farahna memutar bola mata malas. Beranjak pergi. Sebelum menutup pintu, ia berpesan, "Sampai kamu berani melanggar apa yang aku larang kali ini. Aku tidak segan pergi dan tidak mengurusmu lagi. Sekarang kamu gak punya siapa-siapa. Bahkan hidupmu juga terancam oleh Johan."
Pelan Farahna menutup pintu tanpa mendengar jawaban dari wanita yang menangis di dalam sana. "Assalamualaikum."

Dewi menatap nanar pintu yang tertutup oleh tangan Farahna. Pandangannya beralih pada benda-benda kecil yang Johan pernah berikan padanya di rak kecil miliknya.
"Mas kamu gak sejahat itu, 'kan? Jika iya bodoh sekali aku masih berharap pada pria jahat sepertimu."

_______________

Sampai di rumah, Farhan sudah duduk manis di teras, membuat Farahna bertnya-tanya.
"Lho, kok di sini Mas? Gak kerja?"

Pria yang tengah sibuk dengan ponselnya itu seketika menghentikan aktivitasnya, menatap asal suara.
"Oh, kamu udah pulang?"

Farahna mengambil posisi duduk berseberangan meja kecil dengan lelaki yang dianggapnya kakak itu. Kini keduanya menghadap ke luasnya halaman yang ditumbuhi pepohonan berukuran sedang dan bunga-bunga yang terawat indah, sebelum pandangan itu menerobos jalan dengan lalu lalang kendaraan bermotor di jalanan.

"Em. Iya, aku sengaja libur hari ini. Michael sudah mau menghandle bagianku."

"Michael? Apa dia tidak lelah?"

"Ha?" Farhan menoleh seketika. Tidak biasanya wanita yang bersamanya itu mau membahasa Michael, bahkan kali ini ia seolah tahu apa yang terjadi pada pria yang sudah ditolak lamaran nya beberapa bulan lalu.

Wanita berwajah ayu itu tersenyum. "Sudah, Mas. Mas ceritakan saja apa yang terjadi sampai Mas gak kerja."

"Em, ya. Aku cuma mau memastikan semua baik-baik saja?"

Dahi Farahna mengerut. "Apa Mas tahu apa yang terjadi dengan Rani?"

"Rani? Ada masalah apalagi?"
Sebenarnya keberadaannya sekarang ingin memastikan kedua orangtuanya memegang janjinya, tidak buru-buru mengatakan pada Farahna bahwa mereka dijodohkan, hingga Farhan menemukan saat yang tepat dan dia sendiri yang akan menjelaskan.
Ia tidak ingin wanita itu sedih dan membencinya.

"Dia pingsan Mas, setelah tau Dewi hamil."

"Apa? Kok bisa?"

"Iya. Ceritanya panjang. Aku sampe senewen ngurusin Dewi. Oya, bapak ibu? Apa mereka masih menunggu? Aku penasaran apa yang akan mereka katakan?"

"Sudahlah. Aku sudah mengurusnya. Mereka hanya ingin mempersiapkan acara Mia besok dan melibatkanmu."

"Oh, pantes mukanya Mas jadi jelek begitu tadi pagi. Ternyata soal Mbak Mia."

Farhan manggut-manggut. "Oya, ada baiknya kamu belajar mengemudi Na."

"Kenapa?" Farahna bangkit.

"Karena banyak hal yang harus kamu urus sendiri, belum lagi kadang kemalaman."

"Kan ada Mas?" Farahna meletakkan tangannya di pundak lelaki itu. Ada perasaan tidak enak melihat tangan lentik itu, Farhan bergeser hingga tangan Farahna tak lagi menyentuhnya. Ia sadar, wanita itu bukan lagi mahramnya seperti sebelumnya. Begitulah, Islam mengatur. Jika ia ingin selamat, menghindar dari Farahna adalah jalan terbaik.

"Kenapa Mas?"

"Ah, nggak papa. Aku sekarang akan sangat sibuk, Na. Jadi gak bisa lagi nemenin kamu."

"Sibuk?"

"Huum. Aku harus segera cari istri. Ya sudah, aku pergi Na. Ada hal lain lagi yang mau aku urus." Pria itu bangkit menjauhi Farahna. Sedang wanita itu memicing mata, keheranan melihat sikap aneh sang kakak.

______________

Matahari sudah meninggi, karyawan sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Namun, bukan Johan namanya jika tidak bisa mencuri waktu untuk hal pribadi. Sekarang ini 'selingkuh' seolah sudah menjadi passion baginya.

"Oke. Kita lihat. Apa isi ponselmu ini bisa membantu, Dew? Aku bisa gila jika harus kehilangan Rani." Pria berwajah oriental itu mengotak-atik benda pipih di tangan. Berharap ada petunjuk yang didapat dari sana untuk mengetahui keberadaan wanita selingkuhannya.

Banyak chat yang masuk ke ponsel Dewi termasuk chat darinya. Tidak menemukan hal yang dirasa penting, Johan beralih pada riwayat panggilan.
Hanya ada beberapa nomor, termasuk nomornya dan nomor lain yang lebih sering berkomunikasi dengan Dewi.

"Siapa ini? Seorang wanita kah? 'Mbak Na'?" Ia mengucap nama yang tertera di sana. Saat mengklik kontak tersebut, lalu menekan gambar yang menunjukkan aplikasi whatsapp, rupanya ada banyak sekali interaksi Dewi dengan nomor itu. Bahkan kontak atas nama 'Mbak Na' mengirim beberapa gambar rumah untuk wanita hamil itu.

"Apa maksudnya ini?"

Sedang sibuk membaca chat demi chat, ponsel miliknya sendiri bergetar. Sebuah panggilan dari rumah sakit.
Cepat ia mengangkatnya. "Apa? Istri saya pingsan?"

Hanya butuh tiga puluh menit, Johan sudah sampai di rumah sakit. Ia bahkan lupa pekerjaannya di mata sang bos sangat buruk akhir-akhir ini, tidak peduli mengambil absen lagi mendengar istrinya jatuh sakit.

Baru saja akan masuk kamar sang istri dirawat, pria itu menghentikan langkah, karena sakunya bergetar.
"Ya? Hallo?"

Rupanya orang di ujung telepon tidak sabar menyampaikan maksudnya dengan suara tinggi.
"Hallo Johan. DETIK INI JUGA KAMU SAYA PECAT!"

Lagi-lagi ia harus syok!
Johan menutup ponselnya dengan lemas. Kembali berjalan masuk ke ruangan yang disediakan untuk pasien. Namun, sekuat ia bisa menahan perasaan berkecamuk dalam pikirannya karena akan bertemu Rani.

Di dalam ruangan itu, istrinya terkulai lemas
"Kamu kenapa, Sayang?" Ia perhatikan Rani yang diam dengan pikiran berat di kepalanya. Kehadirannya seolah tidak mengusik wanita itu seperti biasa.

Tidak lama buliran bening keluar dari matanya yang sembab, hatinya yang tengah remuk.

Johan memegang erat jemari sang istri.
"Katakan sesuatu. Jangan begini, jangan buat Mas bingung, Sayang. Pikirkan anak kita."

"Aku gagal Mas. Aku gagal menjaganya ...."

"Kenapa, Sayang? Kamu keguguran?!" pekik Johan penasaran.

BERSAMBUNG

Terusannya di sini Gan ....

https://www.kaskus.co.id/show_post/5...3c72159509bb53


Ini bagian sebelumnya ....

https://www.kaskus.co.id/show_post/5...27682c7937f624
Diubah oleh wafafarha
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Betapa Sayangnya Aku Sama Suamimu, Mbak ( 14 )
31-10-2019 07:37
disatukan di satu thread aja ka tiap bagiannya.

profile-picture
wafafarha memberi reputasi
1 0
1
Betapa Sayangnya Aku Sama Suamimu, Mbak ( 14 )
31-10-2019 08:41
Quote:Original Posted By RetnoQr3n
disatukan di satu thread aja ka tiap bagiannya.


Iya Mbak, terimakasih sarannya Mba
0 0
0
Betapa Sayangnya Aku Sama Suamimu, Mbak ( 14 )
31-10-2019 09:25
iya dibikin index bray biar lebih rapih dan enak dibaca
0 0
0
Betapa Sayangnya Aku Sama Suamimu, Mbak ( 14 )
02-11-2019 07:35
iya ini ceritanya bagus, tp muter2 liatnya bolak balik sana sini.
di index sist biar yg baca enak, viewers nya juga naik pasti
0 0
0
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia