Hobby
Batal
KATEGORI
link has been copied
Pengumuman! Ikuti Surveynya, Dapatkan Badge-nya! Klik Disini
1
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5dba034ca727682c7937f625/suamimu-memikat-hatiku-mbak--12
#Aku_Mencintai_Suamimu_Mbak! (13) 💕💕💕 "Rasa seringkali membisikkan cinta. Namun, selama akal mau menakar seseorang akan mampu membedakan antara cinta dan sekedar nafsu menyalurkan naluri manusianya." 💕💕💕 Dewi memegangi pipi yang merah akibat tamparan sang kakak. Sakit. Namun, hatinya lebih sakit. Belum pernah wajah Rani semurka itu. Dulu, dulu sekali ... Rani pernah mem
Lapor Hansip
31-10-2019 04:40

Suamimu Memikat Hatiku, Mbak! ( 13 )

#Aku_Mencintai_Suamimu_Mbak!
(13)

💕💕💕

"Rasa seringkali membisikkan cinta. Namun, selama akal mau menakar seseorang akan mampu membedakan antara cinta dan sekedar nafsu menyalurkan naluri manusianya."

💕💕💕

Dewi memegangi pipi yang merah akibat tamparan sang kakak. Sakit. Namun, hatinya lebih sakit. Belum pernah wajah Rani semurka itu. Dulu, dulu sekali ... Rani pernah memukul tangan Dewi karena membawa uang tiga lembar ratusan ribu, entah anak sekecil itu mendapat uang dari mana. Rani hanya berpikir adiknya itu mencuri dan tidak mau mengaku, bahkan hingga sekarang. Dewi memilih bungkam meski menghadapi banyaknya kemarahan. Lalu terakhir melihat kakaknya dengan kemarahan membuncah kala ia mengendap-endap pergi dan pulang tengah malam usai pesta perpisahan dengan teman-temannya.

Dengan kepala menunduk separuh rambutnya menutupi mata dan pipi. Mata itu kian redup. Tahu diri akan kesalahan yang diperbuat. Kali ini kakaknya benar-benar murka, entah apa yang terjadi jika wanita itu tahu suaminya lah ayah dari anak yang tengah dikandungnya.

"Katakan siapa yang menghamilimu!" Rani berteriak, tidak peduli lagi ada orang lain di sekitar mereka.

Dewi bergeming. Tidak mampu menjawab walau sepatah kata.

"Jawab!" Suara Rani tak kalah keras lebih dari sebelumnya, hingga seorang suster yang akan masuk memeriksa kondisi Dewi yang sudah diperbolehkan pulang, urung untuk masuk.

Lagi, tak ada jawaban selain linangan cairan bening yang merembes dari sudut mata.

Sedikitpun tak ada iba di hati Rani, dadanya terlalu sesak. Upaya melindungi adiknya telah gagal.
Tidak mendapat jawaban dari seseorang yang duduk mematung di depannya, wanita dengan perut buncit itu menggoyang tubuh Dewi.
"Bilang, Dew! Jangan kaya gini. Huhuhu."
Suara Rani kini melemah diiringi isakan.

Farahna -yang menangis- mendekat. Tidak ingin Rani larut dalam kehancurannya. Sebelumnya ia bahkan berupaya agar sahabatnya itu tidak mengetahui kebejatan perilaku Dewi dan Johan. Sekarang malah dokter sendiri yang memberitahu setelah memeriksa kondisi wanita itu
"Ran, sudah. Kita bisa bicarakan baik-baik. Ingat kondisi kandunganmu juga." Tangan Farahna sudah memeluk pundak Rani, namun emosi yang menguasai membuat Rani menghempaskan tangan yang melingkar di bahunya.

"Lepaskan!" Rani menatap tajam pada Farahna.
"Diam kamu, Na! Jangan ikut campur, wanita suci sepertimu gak akan ngerti gimana sakitnya punya adik kotor seperti Dewi!"

Michael, satu-satunya lelaki di ruangan itu hanya diam dengan pandangan ke lantai. Tidak ingin ikut campur. Meski hatinya turut hancur melihat wanita pujaan nya dibentak kasar. Namun, juga tidak ingin pergi. Melihat situasi sekarang, ia takut jika wanita yang sangat emosi itu bisa melukai Farahna. Jiwa pelindungnya mendominasi dibanding rasa tak nyaman berada di tengah masalah yang ia sendiri tidak mengerti seperti apa sebenarnya.

Tangis Rani kembali menggema. Sesekali meraung mengharap jawaban dari Dewi. Lalu mengguncang tubuh beberpa kali yang sedari tadi diam.

"Ja-wa-b!" Suara lemah itu masih menekan.

Tiba-tiba tangis yang kian menjadi itu berhenti, semua memandang pada Rani. Wanita itu lemas dan memejamkan mata, tak mampu menahan beban tubuh karena lemas. Rani ambruk. Pingsan.

"Rani!" Cepat Farahna memegangi tubuh sahabatnya yang hampir membentur lantai, disusul Michael yang tanpa komando mengambil dan membopong tubuh wanita yang jatuh di depan matanya untuk diberi pertolongan.

__________

Di tempat kerjanya Johan menggebrak meja, sejak pagi-pagi sekali berputar-putar mencari keberadaan Dewi di rumah teman-temanya. Nihil. Tak ada satu pun yang tahu wanita itu ada di mana.

"Ehem." Bosnya yang kebetulan lewat -depan ruang kerjanya yang berukuran kecil dan terbuka pintunya- berdehem.
Johan gelagapan segera bangkit memberi hormat.
Pria paruh baya itu mengangkat jari telunjuknya.
"Sudah dapat surat dari sekretaris saya?"

"Surat apa Pak?"

"Hem." Sang Bos menaikkan bibir sebelahnya, lalu pergi ke ke ruangannya sendiri.

Mata Johan melebar. "Mungkinkah itu surat pemecatan?"
Tangan pria itu kembali mengepal dan menghentakkannya ke meja. Rahangnya yang kokoh mengeras menahan amarahnya.
"Brengsek. Semua ini gara-gara Dewi. Egois, kekanak-kanakan dan gak mau nurut!"

Menyadari banyaknya kesialan yang ia alami, Johan mendesah panjang. Mengambil ponsel Dewi yang tertinggal semalam di tasnya.
"Apa benda ini bisa membantuku?"

Dipencet lama sebuah tombol hingga benda di tangannya menyala. Johan sengaja mematikan ponsel milik Dewi untuk berjaga-jaga jika ponsel itu berbunyi dan membuat Rani curiga.

___________

Farahna nampak gelisah di depan kamar di mana Rani dirawat. Ditemani Michael yang duduk agak berjauhan darinya. Meski beberapa kali netra mereka bertemu, perasaan canggung wanita itu tidak datang seperti biasanya karena mengkhawatirkan Rani.

Keduanya berdiri ketika seorang berpakaian putih-putih keluar dari pintu.

"Alhamdulillah, gak apa-apa. Hanya syok saja. Sementara jauhkan dia dari sumber masalah."

"Em, baik. Dok." Farahna mengangguk. Seksama menyimak apa yang dokter akan sampaikan tentang keadaan Rani.

"Em, maaf jika ikut campur. Karena keributan tadi menyita banyak perhatian, saya sedikit tahu apa yang terjadi karena adiknya adalah juga pasien saya," ucap dokter sembari membenahi letak kacamatanya.

Farahna mengerti maksud pria di hadapannya. "Jadi ...."

"Tolong jangan dipertemukan untuk sementara waktu, sampai kondisi pasien benar-benar tenang. Saya lihat riwayat kesehatannya em ... itu sangat berbahaya buat janinnya. Bisa jadi stres berat yang dialami menyebabkan kelahiran prematur."

Farahna mendesah. Begitu juga Michael.

"Anda keluarganya?"

"Bukan, Dok. Saya hanya temannya. Tapi ... sudah seperti keluarga," jawab Farahna.

"Em, kalau begitu sebaiknya telepon keluarganya yang lain, yang bisa menguatkannya."

"Baik, Dok. Suaminya?"

Kini dokter itu yang mendesah. "Rumit juga. Jika memang belum tahu, suaminya suruh ke sini mendampingi, dan pastikan sementara waktu ia tidak bertemu dengan adiknya."

Farahna manggut-manggut.

"Hemh, ada-ada saja kelakuan manusia." Dokter geleng-geleng seraya pergi meninggalkan mereka.

Michael semakin kagum pada wanita yang kini bersamanya. Farahna memiliki kepedulian yang tinggi, dua wanita itu bukan keluarga tapi dia memperhatikan dengan sangat.

______________

Setelah bercakap dengan alot, akhirnya Michael mengantarkan Dewi dan Farahna menuju rumah yang mereka sewa untuk ditinggalin Dewi.

Sejak kejadian tadi, Dewi banyak diam. Tidak sepatah kata ia ucap selain pertanyaan tentang kondisi sang kakak.

Melihat suasana terasa kaku, Michael tidak tinggal diam.
"Em, jadi Nona Farahna yang udah nolongin kamu, Non?"

Dewi menoleh, tidak ada jawaban selain senyum tipis yang ia paksa.

"Benar-benar calon idaman," ucap Michael pelan. Tangan kirinya mengusap dagu sementara tangan kanan memegang kendali setir mobil yang mereka tumpangi.
Tak ada reaksi dari Farahna, ia memilih diam. Tidak mood merespon apa yang pria itu lontarkan untuk menggodanya. Ya ... nyatanya hatinya telah tergoda dengan banyaknya kebaikan pria itu hari ini. Berharap perasaan itu tidak tumbuh menjadi cinta.

_________

Keluar dari rumah megah Suardi Wijaya, Farhan menggandeng anaknya menuju mobil.
Mendesah pelan pria yang memakai jas dan kemeja berwarna dongker itu bergumam,
"Ini berat, Na. Tapi kita harus melewatinya."

"Hem? Apa, Yah?"
Dzakir mendongak, melihat wajah lelaki yang memegang tangannya. Mata bulatnya menyiratkan keingintahuan, apa yang orang dewasa pikirkan sebenarnya? Dan ia selalu gagal memahami.

Tidak menjawab, Farhan tersenyum mengacak rambut legam sang anak.
"Sudah cepat. Kita akan terlambat!"
Kakinya melangkah lebih cepat, diikuti Dzakir.

"Apa Ayah mau kasih Bunda baru buat aku?"

"Hem? Kata siapa?"

"Nenek."

Deg. Ada yang bergolak dalam dadanya. Namun, ia berusaha tenang. Wanita yang sudah mencurahkan kasih sayang untuknya itu bahkan sudah mengatakan pada Dzakir. Lalu bagaimana keinginannya yang sudah ia utarakan pada Farahna bahwa ia ingin bersama Rani?

BERSAMBUNG


Terusannya di sini Gan....

https://www.kaskus.co.id/show_post/5...f2312fa34a86ad


Ini bagian sebelumnya....

https://www.kaskus.co.id/show_post/5...8e0d2c051ab850
Diubah oleh wafafarha
0
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Suamimu Memikat Hatiku, Mbak! ( 12 )
01-11-2019 16:07
it's getting more complicated..
emoticon-Embarrassment
0 0
0
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia