Hobby
Batal
KATEGORI
link has been copied
Pengumuman! Ikuti Surveynya, Dapatkan Badge-nya! Klik Disini
1
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5db9fb44018e0d2c051ab851/aku-cinta-pada-suamimu-mbak--12
#Aku_Mencintai_Suamimu_Mbak (12) Johan berpamitan pagi-pagi sekali pada istrinya. Berniat mencari Dewi lantaran tadi malam hingga pukul 23.00 belum menemukannya. Tidak ingin Rani curiga berlebih, ia pun memilih pulang. Waktunya telah banyak tersita, dua hari berturut-turut tidak masuk kerja ia pun memilih waktu sebelum jam kerjanya. Walau bagaimana, ia hanya seorang bawahan yang harus taat aturan
Lapor Hansip
31-10-2019 04:06

Aku Cinta Pada Suamimu, Mbak ( 12 )

#Aku_Mencintai_Suamimu_Mbak (12)

Johan berpamitan pagi-pagi sekali pada istrinya. Berniat mencari Dewi lantaran tadi malam hingga pukul 23.00 belum menemukannya. Tidak ingin Rani curiga berlebih, ia pun memilih pulang. Waktunya telah banyak tersita, dua hari berturut-turut tidak masuk kerja ia pun memilih waktu sebelum jam kerjanya. Walau bagaimana, ia hanya seorang bawahan yang harus taat aturan jika tidak ingin kena PHK seperti beberapa temannya.

Baru saja masuk setelah mengantar Johan hingga depan pintu, seseorang menelpon dan mengabarinya sesuatu. Mendengar kabar itu, Rani segera berlari ke kamar, bersiap untuk pergi.
Hingga ia hampir selesai dengan persiapan terakhir. Mematut diri di kaca, memasang khimar segiempat yang disimpan lama di alamari kamarnya.

Mertuanya yang lewat kamar dengan pintu terbuka lebar, menghentikan langkah.
"Rani, kenapa panik begitu?" Ibu Anggi ikut cemas melihat wajah menantunya yang terlihat syok. Berharap tidak ada sesuatu yang terjadi dan membuat janin wanita itu bermasalah.

"Em, Rani harus pergi, Bu. Maaf ya. Nanti Rani ceritakan di telepon." Ia keluar sembari berpamitan. Memilih tidak menceritakan apa yang tengah ia hadapi sekarang, yang membuat hubungan keluarga antara mereka semakin renggang.
Sementara Ibu Anggi diam menatap kepergian menantu kesayangannya.

____________

Mendengar ada pembicaraan yang menurutnya aneh, Farahna menghentikan langkahnya. Berharap apa yang ia dengar salah.

"Ada apa ini?"

Bapak dan ibunya saling pandang seolah tertangkap basah melakukan sesuatu.

"Duduklah, Nak. Kita perlu bicara." Dengan lembut sang ibu meminta.

Ragu, wanita yang sebelumnya telah siap pergi itu duduk di samping Farhan, sedang pria itu masih diam, tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Sebelumnya ia memang pernah mendengar dari salah satu almarhum bibinya, bahwa Farhan harus bisa membawa diri di tengah keluarga Suardi Wijaya, di mana ia tinggal sekarang. Jika benar apa yang selalu ditepisnyanya selama ini, 'apa wanita itu adalah ibunya?'
Ingin sekali ia melangkah pergi, meredakan apa yang hatinya rasa. Sebelum terkejut dengan pernyataan orangtua yang dikasihi. Tentang kecewa dan rasa sakit lantaran menjadi orang asing di tengah keluarganya. Namun, dari lubuk hatinya semua prasangkanya salah.

Ponsel Farahna mendengung, cepat ia membuka tas dan mengangkatnya.
"Nomor baru?"

Terdengar suara pria di ujung telepon yang tidak asing menurutnya, tapi siapa? Rasa terkejut membuatnya tidak memikirkan lebih lanjut siapa pemilik suara itu.
"Apa di rumah sakit?! Iya, saya akan ke sana."

"Ada apa? Siapa yang sakit?" Ibu Farahna bertanya cemas.

"Maaf, Bu, Pak. Em, temen Farah kecelakaan tadi malam. Aku-aku harus ke sana. Tapi setelah selesai, Farah pasti cepat kembali, Bu." Membenarkan posisi jaket yang digendong, wanita itu meraih cepat tangan si ibu, diikuti bapaknya lalu secepat kilat pergi dari hadapan keluarganya.
"Assalamualaikum," ucapnya seraya melangkah.

"Ck. Anak itu selalu peduli pada orang lain. Padahal hanya teman." Suardi menarik napas.

Farhan masih bergeming, bahkan sejak kedatangan wanita yang ia sayangi sebagai saudara itu tidak menyita sedikit pun perhatiannya.

Menatap pada Farhan, pria tua itu menarik napas. Apapun yang terjadi, kebenaran haruslah diungkap. Apalagi sekarang mereka bukan lagi anak kecil atau remaja labil yang jika jiwanya terguncang, sulit menimbang jalan yang akan ditempuh.

"Benar, Han. Salah satu dari kalian adalah anak angkat kami." Suara pelan namun serasa guntur yang menyambar itu membuat Farhan mendongak seketika.
Hatinya lebih sakit dari sebelumnya yang hanya prasangka, matanya terasa perih dan memerah dengan rahang yang mengeras. Marah dan kecewa. Orang tuanya menyimpan rahasia besar darinya dan wanita yang selalu bersamanya.
Lalu bagaimana dengan Farahna? Wanita yang selalu menjaga diri dengan terikat syariat agama. Bagaimana perasaannya setelah tahu dan sebelumnya sering membuka aurat didepan Farhan, bicara dan bercanda berdua?
Bagaimana jika Farahna justru akan membencinya?

________________

Hati Farahna disesaki kekhawatiran memasuki ruangan di mana seseorang dirawat. Orang ditelepon menginfokan bahwa orang itu nyaris tertabrak semalam.
"Ya Allah, Dew. Apa yang terjadi?"

"Em. Gak papa Mba," jawab Dewi dengan lemas di pembaringan.

"Gimana kamu gak apa-apa. Sampe masuk RS begini? Lagian kamu keluar ke mana sih, udah malem juga kan. Mana hujan."

"Iya, Mbak. Maaf. Aku ... tadinya mau ...." Wanita itu terlihat ragu, takut jika Farahna tidak lagi mempercayainya karena memaksa pergi di saat wanita itu melarang.

"Apa? Mau apa?" Dahi wanita bergamis lebar itu mengerut.

"Em. Gak Mbak. Cuma cari cemilan aja ke mini market. Tadinya aku mau ke kostan aja, tapi yang nabrak maksa ke sini."

"Jujur Dew, kamu ke mana?" Melihat sorot mata seseorang di hadapannya itu, Farahna bisa tahu bahwa lawan bicaranya tengah berbohong.

"Em, em. Aku ...."

"Kamu nemuin Johan 'kan!" Nada suara Farahna meninggi.

"Mbak, tolong ja jangan keras-keras. Mbak Ran ada di sini," ucap Dewi memelas.

"Rani di sini?" Mata Farahna membulat. "Sekarang di mana dia?"

"Sedang bicara dengan dokter."

"Gawat," lirihnya lagi. " Dia bisa tahu kamu hamil Dew."

"Apa?!" Dewi terkejut, kenapa ia tidak memikirkan hal itu.

Di saat yang sama seseorang memotong pembicaraan mereka.

"Em, maaf Nona. Sepertinya Kakak Anda sudah datang. Saya permisi pulang."
Suara berat seorang lelaki membuat Farahna menoleh ke belakang. Dewi mengangguk, pelan dan mengucap terimakasih.

Di saat sama, seketika mata Farahna melebar, sedikit terkejut melihat sosok yang menjadi penolong Dewi.
"Mi-Michael?"

"Non-na." Lelaki dengan jambang tipis itu mengangkat jari telunjuknya. "Oh, ya ampun. Ternyata yang saya hubungi no telepon Nona Cantik hehe."

Farahna menaikkan bibir sebelahnya disebut cantik oleh pria yang terus dihindarinya itu, menurutnya lelaki ini memang 'katro' bagaimana bisa dia tidak menyimpan nomornya disaat yang sama ia selalu mengirim hadiah untuk menarik perhatiannya.

"Jadi kalian saling kenal?"

"Secara teori begitu, hehe." Michael tertawa kecil sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Ya Allah. Ada apa lagi ini." Farahna mendesis.

"Why?" Dua bahu pria yang menjadi penolong Dewi menggedik.

Terlalu banyak kebetulan, seolah Tuhan mengatakan sudah saatnya Farahna membuka hati untuk seseorang yang serius dan gigih seperti Michael.

"Ya sudah. Dew. Aku mau keluar dulu nemuin kakakmu. Sekalian pamit. Toh yang penting kamu gak apa-apa. Nanti aku ke kost kamu, ingat kamu punya hutang penjelasan."
Farahna berjalan ke luar. Dewi hanya mengangguk.
Melihat gadis pujaannya melangkah ke luar Michael mengikutinya.

"Em, apa bisa sekalian saja kita bareng? Kita 'kan searah," ucap Michael yang langkahnya sudah mensejajari Farahna.

"Tuan, apa penjelasan tadi malam kurang jelas. Kita ini bukan mahram." Wanita itu menjawab tanpa menoleh dan mengurangi kecepatan langkahnya.

Michael ingat bagaimana Farahna menolak tawarannya semalam, ia hanya tidak mengerti bagaimana menarik perhatian wanita yang hingga sekarang belum memberi sinyal untuk membuka hati.

Baru saja langkah mereka meninggalkan pintu kamar Dewi, Rani datang dari arah berlawanan. Farahna yang melihat sahabatnya berjalan segera melangkah cepat menyambut.
"Ran, kamu sudah selesai bicara dengan dok ...."
Ucapannya terpotong, karena Rani terus berjalan tidak mengindahkan keberadaannya.

Merasa sikap yang disapa aneh, Farahna mengikuti hingga kembali ke dalam kamar Dewi. Begitu pun Michael, langkahnya seolah tertuntun mengikuti.

Rani sudah berdiri tepat di samping ranjang adiknya.

'PLAK!'

Sebuah tamparan dari tangan Rani mendarat keras di pipi mulus Dewi.
"Kamu hamil, Dew!"

BERSAMBUNG


Terusannya di sini Gan ....

https://www.kaskus.co.id/show_post/5...27682c7937f624


Ini bagian sebelumnya ....

https://www.kaskus.co.id/show_post/5...3c727a544f6d5f
Diubah oleh wafafarha
profile-picture
pulaukapok memberi reputasi
1
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Aku Cinta Pada Suamimu, Mbak ( 12 )
01-11-2019 15:52
kamu hamil dew..
anak siapa itu?
anaknya johan mba..
emoticon-Betty
profile-picture
edi999693 memberi reputasi
1 0
1
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia