Hobby
Batal
KATEGORI
link has been copied
Pengumuman! Ikuti Surveynya, Dapatkan Badge-nya! Klik Disini
2
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5db8d06da2d19556595f04f3/suamimu-mbak-oh-aku-sayang-padanya--6
#Aku_Mencintai_Suamimu_Mbak! (6) Setelah memuaskan diri dengan menangis tersedu-sedu, Dewi berusaha menguatkan hati. Perlahan ia usap air mata yang membasahi separuh wajahnya. Mengerjapkan mata beberapa kali dan mendongak ke atas berharap air mata itu tak lagi jatuh. Gagal. Untuk ke sekian kali ia diam sesaat namun tiba-tiba ingat kata-kata Johan, hatinya kembali nyeri, isak kembali tercipta. Diam
Lapor Hansip
30-10-2019 06:51

Suamimu Mbak, Oh Aku Sayang Padanya ( 6 )

#Aku_Mencintai_Suamimu_Mbak!
(6)

Setelah memuaskan diri dengan menangis tersedu-sedu, Dewi berusaha menguatkan hati. Perlahan ia usap air mata yang membasahi separuh wajahnya. Mengerjapkan mata beberapa kali dan mendongak ke atas berharap air mata itu tak lagi jatuh.

Gagal.

Untuk ke sekian kali ia diam sesaat namun tiba-tiba ingat kata-kata Johan, hatinya kembali nyeri, isak kembali tercipta. Diam dan begitu lagi. Lebih setengah jam ia menangis namun belum juga rasa perih itu hilang.
Jika saja waktu bisa diputar, ia akan menolak dengan keras semua paksaan Rani dan bantuan dari Johan. Akan lebih baik menyerahkan diri pada preman di pengkolan jalan yang sering mengejar-ngejarnya, dibanding dengan Johan. Pria berisitri. Lebih miris dia adalah suami sang kakak. Lalu kini setelah ia mengandung, hasil dari hubungan cinta terlarang, Johan tidak menginginkan anak mereka.

'Kamu bodoh Dew! Kamu tolol dan tak punya otak! Bagaimana bisa kamu serahkan keperawananmu bahkan sampai hamil pada lelaki beristri!'
Isak kembali terdengar dari bibir sensual Dewi. Mata yang tadi dipoles maskara sekarang benda itu turut leleh bersama air mata.

Rasa sakit membuatnya tak peduli penampilanya jadi tak karuan. Jika saja Johan di sini ia pasti menggodanya dengan sebutan kunti cantik. Ah, itu kan kemarin, sebelum ia tahu kehamilan Dewi.
"Oh ... Mas Johan!" Dewi mendesah di sela tangisnya.

"Cukup, Dew! Kamu gak boleh begini! Kamu harus kuat! Tangismu tidak akan menyelesaikan masalah! Hiks! Hiks! Mbak Ran maafin aku." Sekuat tenaga Dewi mencoba tenang. Menasehati diri sendiri.

"Oke! Aku harus tenang!"
ucapnya menekan dengan menarik napas panjang dan mengaturnya. Menahan isak agar tak lagi tercipta meski airmata terus berjatuhan. Tangan lentiknya tak berhenti menyeka. Terakhir gadis ayu itu mengusap kasar.

"Kamu bisa Dewi! Kamu punya hak bahagia. Ini bukan sepenuhnya salahmu!" Kini napasnya mulai teratur. "Jika Mas Johan bukan jalan mencari kebahagiaan itu, maka lewat Mbak Ran aku akan minta tanggung jawab. Dia pasti membelaku."

Dewi bangkit, berdiri tegak. "Aku harus bicara pada Mbak Ran. Malam ini juga, sebelum aku benar-benar kehilangan Mas Johan. Mbak Ran harus tau kami saling mencintai."

Setelah membersihkan diri di toilet, Dewi melangkah pelan menuju kamar Rani dirawat. Keyakinannya sudah bulat, Johan harus bertanggung jawab atas perbuatannya.

__________

Kunjungan pasien harusnya telah berakhir di jam 20.00 tadi. Namun, karena menunggu keluarga Rani, Farahna dan Farhan terpaksa bertahan sebagai penanggung jawab hingga kehadiran Johan di RS selaku suami. Setelah dirasa Rani bisa ditinggal sendiri, akhirnya dua kakak beradik itu memutuskan pulang, walaupun sebenarnya mereka bisa saja meminta pada pihak RS untuk lebih lama ada di sana, tapi keesokan hari ... pagi-pagi sekali Farahna harus sudah ada di klinik.
Wanita itu bahkan tidak sempat istirahat setelah bekerja seharian hari ini.

"Mas, kok kesannya Johan gak tau diri banget ya. Istri udah ditinggal, hampir mati, udah ada yang nolongin malah ngomongnya gak enak gitu." Farahna ikut kesal, sepanjang jalan menuju parkiran ia mengumpat Johan yang menurutnya sudah keterlaluan.
Lelaki itu tidak tahu balas budi. Bukan begitu cara bersikap pada orang yang sudah menolong istrinya.

Farhan tersenyum masam. "Begitulah, kalau orang baru sadar yang dimiliki lebih berharga dari yang dia kejar di luar."

Mata Farahna menyipit. "Maksud Mas?"

"Masuklah, aku akan jelaskan semua padamu."

Setelah mobil tertutup rapat, Farhan melajukan mobilnya. Membelah kota menuju rumah orang tuanya, di mana adiknya itu tinggal. Kebetulan Dzakir anak semata wayangnya juga tengah ada di sana.

"Mas aku menunggu." Farahna sudah memakai sabuk pengaman dan siap sedari tadi menunggu apa yang akan Farhan katakan tentang Johan.

"Oya. Begini ... kamu bilang selama dua bulan ini dekat dengan Rani."

"Ya."

"Apa ada yang aneh dari hubungan suami istri itu? Maksudku Johan dan Rani." Lelaki dengan alis tebal itu sesekali melirik pada adiknya, selain matanya harus fokus melihat jalan. Dengan lihai ia menginjak rem dan kopling secara bersamaan ketika melewati jalan berlubang atau tiba-tiba ada motor atau pejalan yang berusaha menyeberang jalan.

"Gak ada sih, Mas. Rani bilang suaminya sangat baik, hangat dan perhatian. Tapi satu hal yang gak aku suka ... Rani membiarkan suami dan adik perempuannya yang sudah baligh terlalu dekat."

"Adiknya Rani. Dewi?"

"Iya."

"Iya, ya. Dulu dia memang baru lulus SMP. Kalau sekarang tentu sudah jadi wanita dewasa."

"Maksud Mas apa, sih?"

"Jadi ... maksud dari firasat burukmu itu Johan punya hubungan dengan Dewi, adiknya Rani 'kan?"

Farahna menguap. Ia terlalu letih hari ini.
"Iya, Mas."

"Jadi ... tadi aku gak sengaja lihat Johan dengan wanita, merasa ada yang aneh aku mengikuti mereka hingga di tempat sepi."

"Hem," sahut wanita berjilbab biru di sampingnya.

"Mereka punya hubungan. Johan berselingkuh dengan adiknya."

"Hem, ya Mas. Aku sudah menduganya." Suara Farahna terdengar pelan.

"Dan gadis itu hamil, Na. Ck. Aku benar-benar gak nyangka. Johan yang dulu kukira lelaki perfect ... dia seorang bajingan!"
Kali ini Farhan bicara dengan amarah.

Tidak ada respon dari adiknya, pria itu menoleh.
"Ya Allah, Na! Kamu tidur?"

_________________

Jam dinding menunjukkan pukul 21.30 WIB. Kini sepasang suami istri itu tinggal berdua di dalam kamar.

"Mas, kenapa diam?" tanya Rani yang melihat suaminya mematung beberapa saat setelah masuk ke kamar. Ada sesuatu yang membebani pikirannya.

"Em, nggak, Sayang. Mas bingung bagaimana akan melunasi biaya RS." Mata Johan melihat pada langit-langit mengitarinya hingga ke pelosok ruang, memperhatikan interior dan beberapa fasilitas di sana.
"Ini kamar VIP. Apa Farhan sengaja buat Mas kesulitan?"

Setelah kening Rani mengerut sepanjang Johan bicara, ia akhirnya tersenyum.
"Mas, tadinya aku juga protes. Farahna bilang Mas Farhan yang mengurus administrasi. Dia gak tau apa-apa, apalagi aku. Aku sendiri tentu aja gak nyaman, walau semua biaya dia yang tangungg.

"Apa? Sudah dibayar?"

"Huum." Rani mengangguk. "Tuh, lihat! Di atas nakas ada beberapa catatan dan juga obat yang harus Mas tebus."

Berjalan dan meraih benda yang dimaksud Rani. Ia membaca dengan seksama, netranya menangkap nama Farhan di akhir tulisan, tangannya seketika meremas kertas yang ia pegang membuat sesuatu di dadanya bergolak. Benci.
Rani sadar itu. "Mas ... sebesar apapun kebaikan Mas Farhan. Kamulah satu-satunya suami dan orang yang kucintai. Aku tidak akan berpaling hanya karena melihat kebaikan orang lain."

Johan menatap Rani seketika.

"Mas sudah sholat?" tanya sang istri.

Mendengar pertanyaan itu Johan tersentak, ada rasa tak nyaman karena pertanyaan itu. "Sholat?"

"Iya."

"Mas nanti malam saja sholatnya," jawab Johan sekenanya.

"O ya sudah. Bisa bantu aku." Rani bangkit, berniat untuk berwudhu.

"Apa yang kamu lakukan? Hentikan itu!" Tangan Johan dengan cepat menahan Rani.

"Mau sholat Mas."

"Apa kamu tidak sadar ada infus yang terhubung ke tubuhmu?"

Rani diam, memperhatikan selang dan jarum di tangannya. "Oya, benar."

Johan mendesah pelan.

"Kalau begitu, tolong ambilkan mukena saja, Mas. Biar aku tayamum dan sholat dengan duduk di atas ranjang ini."

"Rani ... kamu masih keras kepala." Dengan malas Johan mengambil apa yang istrinya inginkan.

"Sholat itu kan kewajiban. Mas dulu sering bilang gitu ke aku."

"Ya ... ya ... ya .... tap ...." Suara Johan menggantung mendengar apa yang Rani ucapkan.

"Dewi?!"

Wanita itu sudah berdiri mematung di depan pintu. Entah berapa lama ia ada di sana. Melihat wanita yang sudah ia hancurkan hatinya beberapa waktu lalu, Johan merasa cemas.

BERSAMBUNG


Ini bagian setelahnya Gan...

https://www.kaskus.co.id/show_post/5...c148278413c0e2


Ini bagian sebelumnya ....

https://www.kaskus.co.id/show_post/5...d49564c17c2208
Diubah oleh wafafarha
profile-picture
profile-picture
profile-picture
lina.wh dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Suamimu Mbak, Oh Aku Sayang Padanya ( 6 )
01-11-2019 14:27
waduh, sudah diperawani rupanya..
0 0
0
Suamimu Mbak, Oh Aku Sayang Padanya ( 6 )
02-11-2019 13:42
hmm ternyata dia sayang
0 0
0
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia