Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
25
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5db7e59cc9518b7db109c31f/the-haunted
Ketika langkah-langkah kaki panjang Penny menginjak di bandara International Ngurah Rai, Bali, terasa kepenatan yang dirasakan selama perjalanan dari Jakarta hilang seketika, dan keceriaan tercermin dengan jelas terukir diwajahnya yang berseri. Bibirnya selalu tampak tersenyum indah memperlihatkan jiwanya yang cerah dan dengan langkah yang tertata rapih, gemulai bagaikan seorang peragawati. Pe
Lapor Hansip
29-10-2019 14:09

The Haunted

Past Hot Thread
icon-verified-thread
  
The Sypnosis:  Haunted

 

 

Sebuah cerita yang tidak terduga dapat terjadi di kehidupan seseorang yang tidak pernah memperkirakan bahwa roh-roh bergentayang itu memang ada. 

Dan  berencana menghalau dengan hanya mempergunakan tekad dan keberanian diri sebagai senjata, yang sangat jelas bukan merupakan tindakan yang memadai, yang mana seharusnya  sangat membutuhkan sebuah kognisi dan kesadaran yang pasti terhadap segala bentuk kehadiran dan keinginan mereka di dunia mereka yang 

 

 
Bab 1 :
  
Kepergian……
 
Ketika langkah-langkah kaki panjang Penny menginjak di bandara International Ngurah Rai, Bali, terasa kepenatan yang dirasakan selama perjalanan dari Jakarta hilang seketika, dan keceriaan tercermin dengan jelas terukir  diwajahnya yang berseri. 

Bibirnya selalu tampak tersenyum indah memperlihatkan jiwanya yang cerah dan dengan langkah yang tertata rapih, gemulai bagaikan seorang peragawati.  Penny berjalan menyusuri lorong panjang dengan kaca tembus pandang, menampilkan bangunan khas Bali di kiri dan kanan, dan suara gamelan Bali menyambut di setiap langkahnya menuju bagian kedatangan.

Pesawat berbadan lebar yang dia tumpangi, hampir terisi penuh padahal hari itu bukan hari diujung pekan, sehingga Penny harus sedikit mengeluarkan ekstra waktu untuk mencari dua kopor besarnya di tempat dimana semua barang dari pesawat di turunkan. 

Penny bertubuh semampai dan cukup tinggi untuk ukuran seorang wanita.  Bola matanya bundar, dihiasi bulu mata panjang nan lentik. Bulu alisnya melengkung indah bagaikan busur panah menghiasi wajahnya ditambah dengan pipinya yang sedikit berisi serta rahangnya yang panjang dan besar, mencerminkan kepribadian yang cukup tegar dan tegas. 

Secara keseluruhan Penny berwajah sangat cantik dengan tubuh yang sangat proposional dengan lehernya jenjang menggantung di bahunya yang melengkung indah. Tubuhnya yang berisi di balut kaos berwarna kuning polos serta warna hijau muda berbentuk daun menghiasi baju bagian bawahnya. Ikat pinggang kuning ketat melingkar di pinggangnya yang langsing menambah lekukan tubuhnya jelas dapat terlihat mempesona setiap pria yang melihat.

Tapi penny tidak perduli akan hal itu, dia tetap berdiri di Conveyer belt yang berputar,  mencari kopornya. Tiba-tiba seorang porter datang menghampiri, menawarkan jasanya.

Oh...boleh pak, tolong dua kopor saya besar berwarna merah, ya...?”. Kata Penny dengan suara lembut sambil memberikan nomor bagasinya, lalu dia menjauhi ‘conveyer belt’ dan berdiri di keramaian orang-orang yang juga tengah menunggu  koper mereka masing-masing.

Dia merasakan dengan jelas, bahwa setiap laki-laki sedang memperhatikan dirinya, ditambah lagi dengan orang-orang asing yang selalu memenuhi bandara yang bertaraf Internasional itu, hilir mudik melihat dirinya dari ujung kaki sampai ujung rambutnya seakan-akan ingin menelan. Lama kelamaan perasaan risih menyelinap di hatinya, Penny berjalan perlahan, dan masuk di salah satu konter yang berjajar.

Beberapa pramuniaga menyambutnya dengan ramah, Penny membalasnya dengan senyuman sambil tangannya bergerak cepat memilih kaos khas buatan Bali, bergelantungan.

”Hmm....”. Gumannya sendiri

Seorang pramuniaga menghampirinya.

Yang ini bagus, miss...... dan warna nya cocok buat kulit seputih miss...”. Sapanya dengan logat Bali yang kental.

Wah, cukup mahal disini, ya...?. Katanya kalau di pasar-pasar bisa lebih murah...”. Jawab Penny tanpa melihat wajah pramuniaga, yang sejak dari tadi memperhatikan Penny dengan seksama tanpa berkedip.

”Lah, kwalitasnya juga lain, miss... Dari bahan, warna dan juga coraknya. Coba nanti bisa dibandingkan. Kalau pakai yang ini tidak terasa panas, tapi kalau yang di pasar pasti panas...”.

Penny tersenyum. Basi...

Yah... sudah, saya beli 2 yang ini. Buat jalan jalan nanti sore. Kalau pakai kaos seperti ini pasti panas, ya...?”.

Pramuniaga itu mengangguk kaku sambil tak lepas matanya menatap Penny.

Ada tambah yang lain, miss..?”.

Penny menggelengkan kepalanya dan berjalan kearah kasir yang di ikuti oleh pramuniaga tersebut dari belakang.

Keadaan kasirnya tidak jauh dari pramuniaga yang melayani,  menatap Penny dengan seksama, walaupun Penny sudah tersenyum, kasir itu tetap menatapnya dengan kagum.

”Ng...,miss...”. Kata pramuniaga yang masih berdiri setia menemani Penny di tempat kasir.

Ya..”.  Jawab Penny singkat yang kali ini berusaha untuk menatap balik dua pramuniaga dihadapannya.

Miss, artis dari jakarta, ya...?”. Tanyanya polos.

Penny tertawa renyah memperlihatkan sederetan giginya yang putih.

Iya..., miss ini artis. Saya suka melihat foto-fotonya di majalah... Iya kan, miss...?”. Potong kasir yang berwajah bulat.

Aku bukan artis. Aku peragawati. Tapi itu 20 tahun yang lalu, maksudnya Aku sudah pensiun sekarang...”. Jawab Penny ringan, menerangkan sambil jari jemarinya  mencari uang di dompet.

Tapi, saya masih suka melihat miss ada di beberapa majalah..........”. Sambut ke duanya hampir bersamaan.

Yah... sekali-kali. Tapi di majalah saja, sudah tua, dan sudah punya anak...!”. 

Tapi, miss... masih cantik sekali. Tidak kelihatan sudah punya anak...”. Kata kasir menempali.

Putri tersenyum bangga. Hm.... masih cantik.

Anak nya berapa, miss,...?”. Rasa penasaran masih menjera kedua gadis Bali itu.

Satu, laki-laki...”. Jawab Penny pendek.

Pasti cakep, ya...miss..?.”.

Penny tertawa, memperlihatkan kembali sederetan gigi putihnya, bersinar......

Sudah, ah.... nanti Aku ga bisa tidur ...”. Kata Penny berbasa basi

Tapi, emang iya, miss.... liat tuh...!, semua laki-laki ngeliatin dari tadi, juga bule-bulenya, apalagi bule yang disana.., tuh...!”.

Secara refleks Penny melihat sekelilingnya, dan ternyata benar, semua lelaki sedang menatapnya, terutama orang asing yang ditunjuk yang juga tengah menatapnya, malah melemparkan senyum. Sangat tampan..!

Sialan...!”. Gerutu Penny dalam hati, segera mengalihkan pandangan, dan terpampang kedua gadis Bali yang lugu, tersenyum....

Ah...kalian, sih...!. Jadi Aku lihat mereka, tuh... memalukan....!”.

Kedua gadis itu tertawa cekikikan, yang disusul oleh Penny.

Mereka tidak pernah melihat perempuan secantik miss, jadi pada bengong begitu..”. Gurau keduanya.

Ah..., bikin Aku jadi risi, nih.....”. Kata Penny seraya membalikkan badannya.

Tiba tiba pada saat itu, muncul porter dengan 2 buah koper merah yang berukuran besar.

Okay, ladies.... kalau begitu Aku pergi dulu sampai ketemu, ya...”. Kata Penny ramah dan dengan langkah gemulai meninggalkan ke duanya,  melewati para lelaki yang masih menatapnya, termasuk laki-laki asing yang berwajah tampan itu.

Di luar pintu bandara, seorang lelaki memegang papan bertuliskan beberapa nama.

Dari Kahlia Resort...?”. Tanya Penny ketika membaca namanya diantara nama-nama lainnya.

Iya, betul.., miss”. Jawab lelaki dengan seragam Hotelnya, sangat ramah.

Bis berwarna kuning,  silahkan......” Katanya lagi sambil menunjuk ke tempat parkir.

Ada luggage...?”.

Iya ada.., tapi biarin ”mas porter” ini saja yang bawa. Mau kan, mas...?”.

Porter itu mengangguk dan berjalan mengikuti Penny dari belakang menuju Bis yang terpakir di parkir area, di seberang jalan.

Bis tidak langsung bergerak, dan kemungkinan telah lebih dari 10 menit  Penny  duduk bertiga dengan sepasang bule yang asyik berbincang tanpa merasa terganggu dengan Bis yang belum juga berangkat. Tak lama kemudian, terlihatlaki-laki yang membawa papan nama itu  berjalan agak cepat yang di ikuti dari belakang oleh seorang laki-laki remaja berparas  tampan.

Penny tertegun sejenak, memandang dari balik kaca jendela bis. Teringat anaknya yang kemungkinan usianya sama dengan pemuda itu. Tanpa terasa, Penny masih sedikit berusaha melirik, ketika dia melintas didepan dan mengambil tempat duduk dibelakangnya.


Diubah oleh mangendol
profile-picture
profile-picture
profile-picture
azhuramasda dan 8 lainnya memberi reputasi
9
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 2
The Haunted
29-10-2019 14:09

The Haunted

Indeks Thread ane gan

.................................. bersambung
[Part 2 : https://kask.us/iD0N4 ]
[Part 3 : https://kask.us/iEnUm ]
[ Part 4 : https://kask.us/iEJKe ]
Diubah oleh mangendol
profile-picture
Moccadark memberi reputasi
1 0
1
The Haunted
28-11-2019 19:04

The Haunted ( part 2 )

Cerita sebelumnya Part 1 (https://kask.us/iDCdG )

( Lanjutan )
Bab 1 :
Kepergian…… 

Hm....Risley”. Gumannya perlahan mengucapkan sebuah nama, dan bis perlahan bergerak meninggalkan pelataran Bandara Ngurah Rai menuju daerah Kuta dan, dengan hanya membutuhkan waktu 15 menit, Penny telah tiba di Kahlia Resort Hotel.
Kahlia Resort terletak di daerah Pantai, dengan memiliki berpuluh-puluh bungalow berciri khas Bali, dengan pintu dan jendela berukir dan menghadap ke lautan nan lepas. Penny disambut ramah oleh para resepsionis yang segera dengan sigap memainkan jari jemarinya di atas key board, sementara lagu-lagu ciri khas Bali mengumandang jernih, mengalun berirama dengan hentakan-hentakan yang teratur menyambut kedatangannya di Kuta, Bali.

Malam pertama di pulau dewata dilewatkan Penny dengan hanya mengenal lingkungan dan fasilitas Hotel.  Kadang, Dia mampir di restauran ataupun cafe-cafe kecil yang berderet di sepanjang halaman hotel di tepi pantai. Kerumunan  tamu-tamu dari hotel, cukup memadati dan menyemarakan suasana malam yang memiliki bulan penuh

Barbeque yang di sediakan oleh Hotel sama sekali tidak menarik perhatiannya, juga hanya dilewatinya walaupun beberapa karyawan dengan senyum ramah mempersilahkannya untuk bersantap malam. Udara pantai tidak terasa begitu dingin,  angin kadang-kadang bertiup agak kencang menerpa seluruh kujur tubuhnya.

Penny berdiri di tepi pantai menjauh dari keramaian, memandang laut yang terbentang lepas di hadapannya. Bulan bersinar menyinari permukaan air laut yang bergerak perlahan ke tepi pantai diterpa angin semilir, menimbulkanwarna perak keemasan dari riak kecil yang bergaris hidup disepanjang tepi pantai, memberikan kesan tersendiri di malam nan indah disepanjang tepi pantai. 

Penny mengambil salah satu kursi santai yang tersedia, digeser agak sedikit mendekati ke pantai, lalu dia duduk bersender dengan mata terpejam. Suara deburan riak kecil menyibak di tepian, saling bersambungan  menjadi nada nada irama berkumandang di telinganya. Sementara angin semilir tetap meniup perlahan, mempermainkan ujung ujung rambutnya yang terurai, lepas... bagaikan hamparan laut yang terbentang bebas tak bertepi.

Penny sedikit berguman dengan mata tetap terpejam. Terbayang jelas, Garry, suaminya yang tampan, seorang pengusaha sukses dan terkenal merupakan salah seorang anak dari keluarga kaya di Jakarta.

Tidak ada satupun perempuan di Jakarta ini yang tidak akan menyukai calon suami mu, Pen..”. Kata-kata ibunya masih terngiang jelas, ketika malam itu Garry bersama kedua orang tuanya dan juga keluarga besarnya datang berkunjung ke rumahnya untuk melamar.

”Tinggi, cakep dan badannya atletis, ditambah  dari keluarga kaya dan terhormat lagi”. Tambah  kakak perempuansatu-satunya, Liska, yang telah menikah dan memiliki anak 2 perempuan.

Penny masih terdiam, tak bereaksi.

Kamu harus hati-hati menjaganya nanti. Jangan ada yang menyambar...” Lanjutnya sambil mengedipkan matanya.

Husss…!” Sela Ibunya kencang. “Hati-hati kalau bicara, Lis!. Tidak bagus itu. Baru dilamar, koq.. sudah kesana pemikirannya!”. Tambahnya lagi sambil menepuk pundak Liska.

Lho, Ibu…. Saya hanya mengingatkan saja. Karena Garry tidak seperti Laki-Laki biasa lainnya..”. Jawab Liska serius.

Maksudnya, seperti Tony, suami kamu itu”. Sambut Ibunya cepat.

Ya, begitulah…, mana ada yang mau ngejar mas Tony. Udah biasa-biasa saja tampangnya, biasa-biasa juga hartanya”. Liska menjelaskan.

Yah… keadaannya lain dong, Lis…. Penny itu Pragawati terkenal, pasti ketemunya dengan kalangan yang terkenal juga, tidak mungkin ketemu dengan laki-laki dari kalangan kantoran pemerintah kaya suamimu itu....!”. 

Ya.. ibu, begitu banget membandingkannya. Jangan dalam-dalamlah.., sedikit saja biar ga begitu sakit, gitu…”. Kata Liska dengan sedikit cemberut.

Udahlah… kok, jadi ribut!. Kalau si Garry nanti cari cewe lagi, Penny tinggalin aja, atau cari laki lain. Emang kaga mampu…”. Sambar Penny sedikit geram.

Tuh… kan, kalau pemikiran orang terkenal begitu, bu… sombong!. Merasa paling cantik dan paling laku”. Kata Liska perlahan.

Lah, emangnya salah… bukan soal terkenal apa tidaknya, itu sebuah konsekwensi dari prinsip saling menghormati dan menyayangi. Kalau nanti si Garry melakukan hal itu, yah… tanggung sendiri akibatnya karena dia telah melangkahi prinsip tersebut. Fair enough kan..?”. Tutur Penny tenang.

Tuh..kan, Bu…?. “.  Sela Liska cepat sambil menunjuk hidung Penny.

Sudah lah…, jadi ramai nanti…!”.

Dan tiba tiba, Tony, suami Liska, muncul dengan perasaan heran.

“Lho, ini ada perkumpulan apa di dapur?. Sementara Ayah dan tamu nyariin tuh..!”.

Ibu Liska langsung bergerak meninggalkan ruangan dapur menuju ruang tengah yang luas dimana keluarga besar dari Garry dan Penny tengah berkumpul setelah menyelesaikan acara lamaran dan juga makan malamnya.

Ada apa ni, kumpul-kumpul”. Tanya Tony dengan nada yang masih penasaran.

Mau tau aja. Urusan perempuan…”. Balas Liska sedikit judes tapi manja.

Begini, mas…”. Penny menjawab. “Kata kak Liska, si Garry yang tampan dan pengusaha itu, harus di jaga ekstra hati-hati, karena pasti banyak perempuan yang naksir..”.

Tonny mengerutkan keningnya.

Terus jawab saya, biarin aja… berani-berani main perempuan, tanggung jawab risikonya..”. Tutur Penny menambahkan.

Tonny semakin mengkerutkan keningnya.

Maksudnya, risiko apa…?”. Tanya Tonny penasaran.

Yah…, risiko...!. Jawab Penny singkat.

Risiko apa..?. Resiko itu kan banyak…?”. Tonny semakin penasaran.

Risikonya…, Penny akan tinggalin si Garry dengan kondisi apapun, atau Penny akan main lelaki lain. Emangnya ga mampu…”.

Jawab Penny datar sambil melangkah meninggalkan Liska dan Tonny yang masih terpaku.

 

..............

( bersambung )

Diubah oleh mangendol
0 0
0
The Haunted
30-12-2019 08:32

The Haunted ( part 3 )

The Haunted


Cerita Sebelumnya Part 1 ( https://kask.us/iDCdG )
Cerita sebelumnya Part 2 ( https://kask.us/iD0N4 )

Bab 1 :
Kepergian……

Suara langkah-langkah kaki berat terdengar begitu menggema di keheningan malam sunyi itu, membuat Penny terjaga dari lamunannya. Dan terlihat anak ganteng yang tadi siang di Bis, berjalan cepat melewati seolah-olah seseorang tengah mengejarnya. Sejenak Penny menatapnya, rasa heran tercermin, apalagi dilihat tidak seorang pun dibelakang mengikutinya..!.

Kembali Penny menyandarkan kepalanya, wajahnya menengadah dengan mata menatap pekatnya langit malam yang hanya disinari rembulan tanpa bintang berkelip.


”Hmm..., kayanya sudah malam...”. Pikirnya perlahan sambil tatapannya beralih ke jam tangan mungil yang melingkar di pergelangan tangannya yang berkulit halus.


”Ugh.... jam 10.00..!. Ga kerasa juga...!”. Gumannya, lalu berdiri dan meninggalkan tepian pantai yang masih diringi irama deburan riaknya ombak mengalun...


ketika Dia melewati salah satu cafe yang berderet di tepi pantai, Penny melihat anak muda itu tengah duduk dengan gelas besar ditangannya.


Rasa penasaran dan keinginan tahu menyelinap di benaknya. Perlahan tapi pasti, Penny melangkah mengambil tempat duduk yang tidak jauh dari anak muda tersebut.


Seorang pelayan menghampiri.


”Mau pesan minum, Mam?.


”Boleh..., coba tolong saya buatkan coklat susu panas, Ya..?”. Jawab Penny ramah.


”Mungkin mau pesan danish pastry atau makanan ringan lainnya..?”. Kembali pelayan itu menawarkan.


”Ga dulu, ya..., rasanya masih kenyang...”.


Penny melempar senyum manis memperlihatkan sederetan giginya yang tersusun rapih dan putih.


Tanpa sengaja, melirik anak muda itu yang mana juga tengah memperhatikan Penny sehingga pandangan mata mereka beradu.


Dengan ramah anak muda itu mengangguk, dan Penny...?. Ragu untuk membalasnya, hanya senyum manis yang menghiasi wajah merahnya.


Belum sempat Penny berpikir, Anak muda itu telah berdiri, dan berjalan menghampiri....


Dan.... wajah tampan muda berdiri dihadapannya sambil mengulurkan tangan.


”Perkenalkan, nama saya Azwar...”.


“Oh, saya... Penny”. Sambut Penny agak kikuk.


“Saya tahu….”. Tambah Azwar tenang.


“Ha….?.  Tau dari mana…?”. 


“Dari pegawai penerima tamu sewaktu ‘check in’ tadi sore..!”.


“Lho, koq... jadi membicarakan saya...?”. Tanya Penny heran, bercampur bangga.


“Bukan membicarakan.., mereka berbisik-bisik ketika saya datang, dan ketika Mba Penny pergi. Terus saya tanya...., ternyata mereka kenal Mba yang suka ada di majalah majalah. Begitu..., kata mereka”. Tutur Azwar menerangkan.


”Waduh...., itu masanya sudah lewat. Yang di majalah-majalah itu hanya sekali-kali saja”. Kata Penny agak, masih tertinggal perasaan bangganya.


”Tapi mereka masih kenal tuh, mba...?”.


”Kalau Kamu...?”. Tanya Penny penasaran.


Azwar tersenyum manis, sambil menggelengkan kepalanya.


”Maaf...”.


”Lho, Koq... harus minta maaf. Ga apa-apa ’ga kenal saya, toh... saya memang bukan orang terkenal seperti pemain-pemain sinetron...”. 


Azwar tertawa, menampakan deretan giginya.


”Ngomong-ngomong, boleh ’ga saya duduk disini...”.  Tawar Azwar yang sedari tadi tidak dipersilahkan duduk oleh Penny.


”Oooh...., Sorry!. Silahkan... duduk”. Jawab Penny sambil tertawa tak tertahankan.


Azwar mengambil tempat duduk yang berhadapan dengan Penny.


”Tidak terlalu dingin, ya...?”. Azwar memulai percakapan kembali.


Penny menganggukan kepalanya, sambil minum coklat susu panas.


”Mba Penny sendiri datang ke Bali....?”. Tanya Azwar singkat.


Penny kembali menganggukan kepalanya.


“Ada job...?”.


“Job...?, maksudnya...?”. Tanya Penny singkat.


”Maksud saya, job pemotretan atau Fashion Show.., gitu...”.


Penny tertawa lepas.


”Ada yang lucu dengan pertanyaan saya...?”.


Penny  menggelengkan kepalanya dengan jari jemarinya menutup bibir tipisnya.


”Terus, kenapa tertawa...?”. Tanya Azwar terheran.


”Begini, bisa dikatakan Saya aktif kegiatan pragawati itu sebelum menikah. Selanjutnya tidak pernah sama sekali. Nah... 2 tahun belakangan, saya suka tampil di majalah-majalah. Itupun tidak sering, sekali-kali saja tergantung  kalau ada penawaran menjadi model untuk pakain-pakain yang pantas buat saya yang sudah memiliki anak, mungkin seumur kamu, deh...“.


Azwar menganggukan kepalanya, dengan mata tak henti hentinya menatap Penny.


“Jadi, nanti suami dan putranya akan menyusul ke sini...?”. Tanya  Azwar  ringan.


Penny tersenyum, getir..... lalu menggelengkan kepalanya perlahan, tapi pasti. Dan melihat kondisi itu, Azwar tidak melanjutkan pembicaraannya mengenai keluarga Penny, hanya tertunduk sambil mempermainkan kedua kakinya yang hanya beralaskan sandal jepit.


Angin bertiup perlahan semilir menerpa keduanya, dingin terasa bahkan dapat dikatakan sangat dingin...........!. Azwarterperanjat..!!. Matanya nanar melihat sekelilingnya. Sementara dahan-dahan kecil berserta dedaunannya, dibelakang kursi Azwar,  bergerak perlahan mengikuti irama angin, sepertinya seseorang tengah melewati tempat dimana mereka duduk.


Azwar  berdiri cepat dengan menggapai-gapaikan kedua tangannya keatas.


“Ada apa, Azwar...?”. Penny segera ikut berdiri sambil berusaha menarik tangan Azwar  kebawah.


Azwar  tersadar, matanya menatap Penny sesaat sebelum dia pergi  dengan langkah cepat tanpa mengucapkan sepatah katapun, sama seperti  tingkah laku Azwar  yang dilihat beberapa saat sebelum pertemuan terakhir terjadi. Dan tanpa pikir panjang, Penny pun pergi meninggalkan tempat tersebut yang telah sunyi ditinggalkan para pengunjung!.

Sementara waktu telah menunjukkan hampir pukul 24.00


................................Bersambung
 


Sambungan part 4 gan ( https://kask.us/iEJKe )
Diubah oleh mangendol
0 0
0
The Haunted
30-12-2019 15:29
pertamax 😁
0 0
0
The Haunted
30-12-2019 16:33
Lanjut gam
profile-picture
Richy211 memberi reputasi
1 0
1
The Haunted
30-12-2019 17:28
lanjutkan lanjutkan
0 0
0
Lihat 1 balasan
The Haunted
30-12-2019 17:35
Mantap!
Nunggu next part.
0 0
0
Lihat 1 balasan
The Haunted
30-12-2019 19:13
ceritanya bagus gan. tapi di jadiin satu aja biar gak buka tutup lagi halamannya emoticon-I Love Indonesia
0 0
0
The Haunted
30-12-2019 21:00
kuy lanjutkan mau bikin sfth tp belom connect
0 0
0
The Haunted
31-12-2019 01:47
bagus nech..buatin index aja... lanjutttt
0 0
0
The Haunted
31-12-2019 18:49
update mas pergantian tahun ga nih?
profile-picture
profile-picture
kobeg dan liee memberi reputasi
1 1
0
The Haunted
31-12-2019 20:13
ada bis ya dari bandara ke kuta gan?
0 0
0
The Haunted
04-01-2020 11:00
gak sabar menunggu cerita selanjutnya
0 0
0
The Haunted
05-01-2020 23:02
keren
0 0
0
The Haunted
06-01-2020 11:41
Lanjut gan
0 0
0
The Haunted
31-01-2020 19:27

The Haunted ( part 4 )

Cerita sebelumnya di.......
part 1 ( https://kask.us/iDCdG)
part 2 ( https://kask.us/iD0N4 )
part 3 ( https://kask.us/iEnUm)

The Haunted

Bab 1

Ketidakharmonisan.....

Pagi cerah mendatang matahari mulai memperlihatkan keindahannya. Menerangi perlahan setiap sudut permukaan bumi termasuk bungalow dimana Penny tinggal sementara untuk waktu yang dia sendiri belum tahu untuk berapa lama.
Penny berdiri dibelakang kaca jendela yang menghadap ke laut lepas, menikmati pemandangan indah, nuansa Bali di pagi hari. 

Segelas teh panas manis dan roti bakar berlapiskan strawberry tersaji di meja kecil yang sepertinya sudah diatur sedemikian rupa oleh manejemen hotel bagi para tamu  kamar VIP.

Sementara burung kecil mulai berterbangan lincah dari satu pohon ke yang lainnya untuk mencari sarapan pagi disekitar halaman hotel, dan juga sekelompok burung berbadan besar tengah berusaha mengepakkan sayapnya, terlihat seperti bergerak perlahan dari kejauhan, terbang dari arah Selatan menuju Utara menambah pemandangan semakin indah dengan latar belakang cahaya matahari yang masih redup tertutup embun pagi bagaikan lukisan alam.

Dengan mata masih sedikit menyipit, Penny menikmati pemandangan yang luar biasa indahnya yang tidak mungkin ditemukan lagi di Jakarta dan sekitarnya, tempat kelahirannya hingga perkimpoiannya. Sementara sebatang rokok filter terselip di jari jari tangan lentik sebelah kirinya.

Memang benar, kenyataannya sejak ketimpangan dan ketidak harmonisan menyelimuti biduk perkimpoiannya dari 2 tahun yang lalu, pelampiasan kekecewaan Penny disalurkan ke rokok yang sempat digandrunginya ketika dia masih bergaul dan sibuk dengan kegiatan “Cat Walk” nya yang kadang2 harus meninggalkan bangku kuliahnya dikarenakan Mode Show, diselenggarakan disetiap Kota kota besar bahkan ke luar Indonesia, seperti Singapore, Malaysia atau Brunei Salam.

Maka dengan kembalinya melakukan kebiasaan hobby lamanya, paling tidak dapat membantu Penny untuk melepaskan kegundahan hatinya disetiap pembicaraan ataupun pengupasan perselingkuhan suaminya, Garry, dengan sekretaris baru yang masih muda, dan tentunya, .....cantik!

        Seperti Jumat malam itu, jam  telah menunjukkan pukul 11.00 malam, ketika Penny mendengar suara mobil suaminya, Garry, masuk kepekarangan rumahnya yang besar di daerah elit, Pondok Indah. Dia langsung berlari ke depan dan serta merta membuka pintu depan lebar-lebar untuk menyambutnya, dengan kedua tangan dilipat .

Garry terlihat sedikit enggan turun dari mobilnya, namun pilihan tidak banyak untuk dipertimbangkan, dan dengan gontai, kakinya satu persatu keluar dari mobil  mewah,  berwarna abu abu metalic, menuju pintu.

Garry berusaha tersenyum, walaupun sangat terlihat kaku sementara Penny memandangnya tanpa berkedip.

“Masih telat terus setiap hari....., apalagi  Jumat malam”. Sambut Penny, ketus....

Garry tidak menjawab, berjalan terus melewati Penny yang masih saja memandang tajam.

Rumah sebelah kita, Suaminya juga punya jabatan sama, Presiden Direktur, tapi tidak pernah pulang telat teruuuuss, kadang kadang, yah... bolehlah, bisa dimaklumi, seorang Pejabat tinggi. Tapi kalau setiap hari....?, apa iya....?”.

Garry masih enggan membuka suaranya. Terdiam sambil membuka kaos kaki dan sepatunya.

Katanya,’tu Cewe udah dikeluarin dari kantor bulan lalu,  tapi jam pulang kerumah tidak ada perbedaanya, tetap sama, malam teruuus..... Kayanya, sih... masih tetap kerja, ya...?, atau memang sudah dikeluarkan,  tetapi kunjungan masih tetap berjalan, begitu...?”

Kembali Penny bercoloteh.

Garry kembali tersenyum, kaku, sambil berusaha menjawab.

Penn, boleh Kamu ke kantor, deh... terus buktikan dia masih ada atau tidak ada di kantor  saya..”. 

Ke Kantor...? Maksudnya sengaja datang kesana hanya untuk membuktikan bahwa dia masih disana atau tidaknya..?” Tanya Penny sedikit meninggikan nada suaranya.

Garry menganggukan kepalanya, dengan senyuman kaku masih terpampang dipaksakan!

Garry..!, kamu ini sangat merendahkan saya sekali. Kamu pikir, hanya untuk perempuan murahan seperti dia, saya harus datang ke kantor untuk  sebuah pembuktian..?, Keterlaluan..!”

Geramnya dengan mata sedikit dipincingkan dan, sudah tentu dengan wajah sinisnya.

Apa ada jalan lain untuk sebuah pembuktian dari saya selain itu?. Atau hal seperti ini akan terus berulang menjadi bahan pokok pembicaraan kita..?. Ujar Garry agak sedikit tegang.

Nah... kalau sudah begini, pokok persoalan  sepertinya ada di saya, dan seolah-olah saya yang menjadi penyebabnya segala kekacauan terjadi di rumah ini. Betapa tidak fair nya.....?”.

Teriak Penny tak kalah tegangnya.

Saya tidak berpendapat seperti itu. Saya sudah mengakui kesalahan saya, dan saya sudah berusaha memperbaiki dan mengembalikan agar segalanya menjadi normal seperti sediakala, akan tetapi kamu masih saja tidak percaya terhadap segala usaha saya. Bagaimana perubahan akan terwujud apabila kamu sudah tidak dapat memberikan kepercayaan lagi kepada saya...?”.

Kembali Garry menegaskan. Dan Penny terdiam.

Berilah saya waktu, Penn...... “. Pinta Garry, mengenaskan.

Penny masih terdiam dengan kedua tangan masih dilipat.

Saya pulang malam, benar benar kerja, Penn... Kamu boleh check ke kantor. Kadang Saya, dengan 2 Direktur bawahan saya, harus meeting tidak resmi untuk membicarakan permasalahan perusahaan, dan itu dilakukan sambil makan malam ataupun bagaimana  mendapatkan  cara agar kami selalu dapat berkumpul, karena diwaktu kerja peluang untuk melakukan meeting resmi, sangat sukar mengaturnya....”

Garry menghela nafas panjang, dan Penny masih dalam keadaan yang sama.

Tolong, Penn.... beri saya kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahan saya, demi rumah tangga kita, dan juga demi masa depan Risley, anak kita satu-satunya.. Tolong, Penn....”.

Penny menggeserkan posisi duduknya kedepan dengan kaki jenjangnya menahan bobot tubuhnya yang semampai.

Dengar, Garry..... 2 tahun yang lalu, kamu tidak perlu menjelaskan situasi di kantor  dan kamu tidak perlu juga membuat penjelasan setiap kamu pulang telat ke rumah.... Tapi, apakah saya pernah mempermasalahkan hal itu..?. Bahkan mungkin saya tidak pernah membutuhkan semua penjelasan tadi. Karena apa..?, karena saya percaya terhadap kamu 100%, bahkan mungkin 1000%...!”

Penny terdiam sesaat dengan mata tajam menatap Garry yang menundukkan kepalanya merasakan kehilangan figur sebagai kepala rumah tangga, suami serta seorang Ayah.

Tapi, siapa yang menghilangkan semua kepercayaan saya terhadap kamu...?. Bukan karena kelakuan saya,‘kan..?, tapi karena kelakuan kamu sendiri yang telah melunturkan semuanya..!”.

Garry menganggukan kepalanya dengan posisi masih menunduk.

Nah...., jadi maaf..., saya sendiri sangat sangat membutuhkan waktu untuk mengembalikan kepercayaan saya untuk setiap presentasenya, karena kepercayaan yang saya miliki sekarang terhadap kamu adalah 0 %, bahkan mungkin, minus...”

Penny berdiri dari posisi duduknya, sambil menambahkan:

Saya akan pergi berlibur, tapi belum tau tujuannya kemana, hanya mencari peluang untuk mengembalikan kepercayaan saya dan sekaligus berpikir kelanjutan daripada perkimpoian kita ini...”. 

Garry menengadahkan kepalanya, menatap Penny yang juga tengah menatap dirinya. Pandangan mereka beradu, ke duanya merasakan adanya getaran....

Apapun hasilnya nanti, kita lihat saja. Yang penting sekarang, saya harus sendiri dan pergi ke tempat dimana kemungkinan saya dapat berpikir lebih jernih dan panjang. Saya titip Risley selama saya pergi........., toh dia sudah remaja.., tidak perlu kamu suapin dan mandiin...”

Penny berlalu meninggalkan Garry yang  masih tidak percaya akan keputusan yang diambil oleh Penny. Dan ketika tengah berjalan menuju kamarnya, terlihat Risley, anak tunggalnya, tengah duduk di anak tangga  menuju ruang atas, yang jelas, dia telah mendengarkan semua pembicaraan kedua orang tuanya tadi.

Penny menghampiri, serta memeluknya dan berkata perlahan.

Mamah akan kasih kabar nanti, kalau sudah sampai di satu tempat. Mamah sangat membutuhkan waktu untuk sendiri agar mendapatkan hasil  yang sangat maksimal. Kalau  masih dirumah, keributan seperti ini bisa terjadi setiap waktu dan pasti tidak akan membuahkan hasil apapun.., percayalah.........”

Risley menganggukkan kepalanya.

Terimakasih atas pengertiannya, sayang..., jaga Papahmu baik baik, ya...?”

Penny mencium kedua pipi Risley yang tengah menginjak dewasa dengan ketampanan yang dimiliki dari perpaduan antara Garry dan Penny.

Hening seketika, hanya langkah langkah sandal Penny terdengar berirama, dibarengi helaan nafas berat dari Garry, dan ..........., Risley.



............................ ( bersambung, tunggu part berikutnya ya Ganemoticon-Bangga Pake Batik )
0 0
0
The Haunted
Lapor Hansip
31-01-2020 19:29
Balasan post Moccadark
halo gan, uda ada ni lanjutannya.. uda sampai part 4 loohh..hehe
profile-picture
i4munited memberi reputasi
1 0
1
The Haunted
Lapor Hansip
31-01-2020 19:29
Balasan post Enisutri
emoticon-Sundul
profile-picture
i4munited memberi reputasi
1 0
1
The Haunted
31-01-2020 19:31
sundul gan part 4 nya (https://kask.us/iEJKe)
profile-picture
i4munited memberi reputasi
1 0
1
The Haunted
31-01-2020 19:34
thank you gan,

pengennya gitu, cuma kepanjangan ane ceritanya, jadi harus dibuat dibeberapa halaman..

part4 nya uda ada ni gan..
profile-picture
kemintil98 memberi reputasi
1 0
1
Halaman 1 dari 2
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
sekamar-kos-dengan-dia
Stories from the Heart
andai-aku-tak-pernah-mencobanya
Stories from the Heart
mars---short-story
Stories from the Heart
tukang-service-mencari-cinta
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
Stories from the Heart
rintihan-hati
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia