Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
127
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5dad014828c99110ea684730/cinta-tanpa-restu-orangtua
Hari ini adalah bulan Agustus, tahun 2013. Aku berstatus sebagai mahasiswa baru (maba) sekarang di sebuah perguruan tinggi di Jogja. Hari itu adalah hari terakhir ospek dikampus, banyak sekali kegiatan disana. Karena kami harus berembug dengan teman satu kelompok untuk pengisi acara di Malam Inagurasi saat itu.
Lapor Hansip
21-10-2019 07:52

Cinta Tanpa Restu Orang-tua [ TRUE STORY ]

Past Hot Thread
Part 1 - Pertemuan

Hey agan semua. Aku mau berbagi sedikit cerita hidupku. Plot twist aku cewek ya gan.
Semua karakter, nama, aku samarkan semua.
Jangan tanya dia siapa karna nggak akan aku jawan hihi.
Okee... Let's begin..
•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••

Hari ini adalah bulan Agustus, tahun 2013.
Aku berstatus sebagai mahasiswa baru (maba) sekarang di sebuah perguruan tinggi di Jogja.

Hari itu adalah hari terakhir ospek dikampus, banyak sekali kegiatan disana. Karena kami harus berembug dengan teman satu kelompok untuk pengisi acara di Malam Inagurasi saat itu.

Pun, beberapa hari selanjutnya kami masih berkumpul untuk pembahasan kelompok kami akan menampilkan apa. Hingga hari H pun tiba, dan kami pun menampilkan drama musikan saat itu dan tidak ada kejadian yang begitu menarik hati, kecuali si kating yang mulaki curi-curi pandang kearahku dan geng ku saat itu.
Dalam 1 geng ku banyak yang naksir doi, karna ya dia si ketua UKM Musik saat itu, dan lagi dia seorang vokalis band indie di Jogja yang tengah merintis karir.

Dia mendekatiku, dan benar saja dia meminta pin BB ku 🤔
Kita saling bertukar pin BB, dan aku pulang duluan dari acara inagurasi tersebut tidak lama setelah itu.
•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••

Hari-hari setelah ospek berjalan seperti biasa, hanya kuliah, kumpul dengan teman kelas. Dan juga mulai masa PDKT dengan kating ini.

Sandi : Hey, dimana ?
Dinta : Baru selesai kuliah ni, mau makan di warung bu Minah
Sandi : Oke. Nanti ke BEM ya, aku mau ngomong sebentar
Dinta : Ok

Selesai makan di warung bu Minah, aku langsung ke ruang BEM karena memang aku parkir motor didepan ruang BEM.
Sandi sudah menungguku di depan ruangan, sambil memainkan gitar kesayangannya.

Sandi : Sudah selesai makanmu ? Mana temen-temenmu ?
Dinta : Udah, mereka balik duluan ada janji katanya sih.
Sandi : Oh gitu, sini deh duduk. Aku mau ngomong.
Dinta : Apaan sih ?
Sandi : mmm aku suka sama kamu. Kamu mau nggak jadi pacarku ?
Dinta : ............
Sandi : Heh jawab dong...
Dinta : Gimana ya. (Pura-pura mikir)
Sandi : Buruan dong.
Dinta : wkwkwk iyaaa aku mau
Sandi : seriusan nih ? Kita pacaran ya sekarang ?
Dinta : iyeeee 😰

Wihiii baru sebulan kuliah sudah punya pacar aku wkwk. Pikirku saat itu.
Tapi tidak taunya, yang di tembak oleh Sandi tidak hanya aku, bukan hanya aku yang dia buat melayang dengan voice note lagu-lagu cinta miliknya. Dan kebanyakan cover lagu Sheila on 7 yang selalu mengena ya kan.

Jadi kami berpacaran tidak lebih dari 1 minggu. Rekor baru nih dalam pacaran ya kan.
•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••

Satu bulan setelah inagurasi memang selalu ada tradisi di fakultasku mengadakan acara Makrab untuk saling mengakrabkan antar maba, kating, alumni, dosen dan juga petugas di fakultas.

Jadilah hari itu sabtu dan minggu di bulan september akhir, aku ikut acara itu.
Acara itu seru sekali, tetapi ada satu pembahasan tentang seorang maba yang katanya baru masuk kuliah saat makrab ini.
Saking hebohnya, seluruh cewek di kelas ku membicarakannya.
Aku belum pernah melihatnya, entah, seperti tidak ada ketertarikan ku dengan sosok ini.
Dia bernama Dika, laki-laki muda, tampan, seorang atlet, dengan badan proporsional seorang atlet, dan juga dia kaya. Itulah yang teman-temanku katakan.

Aku tidak menaruh perhatian ke dia, karna teman-teman ku sudah menyukainya terlebih dulu. Dan membicarakannya terus menerus.

Saat itu kegiatan makrab adalah outbond dimana kami dikelompokkan oleh kating. Untungnya aku tidak satu kelompok dengan Dika.
Jadilah hari itu aku nikmati semua rintangan yang diberikan oleh kating, sampai, saat halang rintang dimana aku harus menaiki semacam jaring laba-laba. Sejujurnya aku berani untuk memanjat, tetapi entah kenapa saat itu kaki ku mendadak kram, dan tidak bisa digerakkan untuk melangkah turun sekalipun.
Tak kusangka, sesosok laki-laki membantuku untuk turun, dengan memegangiku dengan perlahan hingga aku turun. Tidak sampai disana, dia sedikit memijat kaki ku, dan ajaibnya kaki ku baik-baik saja setelah dipijat olehnya.

Dinta : Hey, makasih ya.
Dika : Oke. Sama-sama. (Menjawab seraya langsung berjalan kembali ke kelompoknya)

Selesai outbond kami langsung kembali ke hotel tempat kami menginap. Karena harus segera packing untuk kembali ke rumah, dan masih ada acara perpisahan sebelum pulang.

Sudah mandi dan sudah packing. Aku segera menggendong tasku yang kubawa, langsung menuju aula tempat pertemuan. Karna aku bukan tipe cewek yang ribet membawa banyak barang saat pergi hanya 2 hari begitu. Berbeda dengan teman-temanku yang lain. Hihihihi jadilah aku sampai di aula bisa dibilang awal juga sih.

Disana sudah banyak kating yang menunggu kami di aula. Ada sesosok maba yang aku kenal orang itu bersama dengan kelompok alumni. Ya dia Dika. Sedang berfoto dengan seorang alumni yang sangat menginspirasi saat itu.

Aku hanya duduk di bangku ku, sambil melihat HP ku, mengabari Ibuku bahwa aku sudah bersiap akan pulang dari acara makrab itu.

Selesai acara perpisahan. Dia menghampiri ku.

Dika : Hey, Dinta. Aku kemarin waktu kamu perform dance foto kamu (sambil nunjukin kamera DSLR yang dibawanya)
Dinta : Iya kah ? Lihat dong.
Dika : Yaah, kebetulan baterai nya low nih. Besok senin deh ya dikampus.
Dinta : Oh okee boleh deh, aku minta nomer WA mu aja ya
Dika : Nih (sambil memberikan HP-nya). Tulis nomormu, nanti aku WA ya.
Dinta : Siap, tak tunggu ya fotonya 😁

•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Hari itu sampe dirumah, aku langsung tidur. Karna kecapekan, dan baru bangun senin paginya.
Aku baru ingat jika ada kelas jam 09.00, aku langsung bersiap-siap ke kampus, tanpa membuka HP ku saat itu. Hanya ku masukkan dalam tas, dan aku bergegas ke kampus.

Kelasku untung saja belum di mulai, dan aku langsung mencari tempat duduk yang ada dibarisan tengah, dan deretan yang tidak terlalu dibelakang.
Aku sadar diri karena ya, aku punya masalah dengan penglihatan, yaitu, silinder dan minus yang sudah lumayan berat.
Jadilah aku duduk disana, sambil menunggu dosen masuk, ku buka HP ku, ternyata ada sebuah pesan WA dari Dika.

Dika : Din, sudah tidur ? ( 19.30 )
Dika : Pagi Din, kuliah nggak ? ( 07.00 )
Dinta : Hey Dik, udah tidur aku semalem, baru buka HP nih. Kuliah lah aku, kamu juga kan ?

Belum sampai di balas WA itu, si orang yang ku kirimi pesan masuk kelas dengan gerombolan geng laki-laki nya. Berjalan dengan tetap stay cool, tapi sambil melirik ku dan senyum ke arahku.

Aku pun membalas senyumnya.

Dika : Ada kegiatan nggak hari ini ?
Dinta : Ada sih, nanti siang selesai kuliah tapi. Kenapa ?
Dika : Yaah ya sudah, mau ngajak kamu jalan nanti. Tapi yasudah.
Dinta : Okee deh ya, mungkin lain kali hehe.

Saat itu, aku tidak menceritakan perihal kedekatanku dengan Dika ke teman-teman ku karena ada salah seorang temanku yang dia mengaku sudah ditembak oleh Dika.
Aku tidak ada maksud apapun saat itu. Karna aku pikir ya kami hanya berteman tidak lebih.

Hari itu selesai kuliah, aku ada jadwal pemotretan di daerah pantai selatan.
Aku dijemput temanmu, dan kita langsung berangkat ke lokasi, karena si fotografer sudah menunggu kami disana.

Pemotretan selesai sekitar jam 6 sore, dan kami pun langsung bergegas pulang. Kala itu, aku dibonceng Putri, sialnya, di tengah jalan ban motor yang kami kendarai bocor. Kami harus berjalan kaki, menuntun motor kurang lebih 10 menit, sampai kami menemukan tukang tambal ban.

Sambil menunggu tambal ban, kubuka HP ku.

Dika : Gimana kegiatanmu, sudah selesai ?
Dinta : Udah, ini lagi tambal ban di jalan bantul nih
Dika : Lah ? Kamu naik apa kesana nya ?
Dinta : Bonceng temenku ni,
Dika : Nggak bawa motor kamu emang ?
Dinta : Enggak
Dika : Aku lagi di Jogja ni, tak jemput sekarang ya kesana. Aku otw.
Dinta : (Lah dia Jogja ? Emang rumahe dia mana ?) Lah jangan ngrepoti nanti.
Dika : Aku udah dijalan. Tunggu.
Dinta : ya deh, tiati ya.

15 menit kemudian, Dika sudah sampai lokasi ku tambal ban dengan teman ku. Saat itu dia mengendarai mobilnya, datang menghampiri kami, dan kebetulan tambal ban nya sudah selesai.
Aku akhirnya pulang bareng Dika, untung saja Putri mengerti kondisinya, dan mempersilahkan aku pulang tidak dengannya.

Dijalan pulang Dika bercerita tentang dirinya. Dia ternyata berasal dari Kulon progo, seorang atlet gulat dan lagi dia seorang penjual kembang api saat musim puasa.
Seketika aku langsung terpana dengan semua kegiatannya, hebat sekali, semuda ini, sudah rajin kerja, disaat seumuran kami, masih sibuk dengan hura-hura tidak jelas.

Dia pun mengajakku untuk nongkrong sebentar di sebuah cafe di jalan wates. 😁
Kami ngobrol ngalor ngidul sampe lupa waktu, akhirnya jam 21.00 dia mengantarkan ku pulang kerumah.
Hari itu berakhir dengan senyam senyum sendiri di kamar sebelum menjelang tidur.

•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Seminggu kemudian, saat dikampus aku bertemu dengan Dika saat makan siang.
Kutanyakan hal tentang apakah benar jika dia dan Lilis sudah berpacaran.
Dika menjawab bahwa tidak. Lilis bukan pacarnya, bahkan dia belum pernah menembak Lilis sekalipun. Entah dari mana gosip itu beredar.

Pernyataan itu membuat ku sedikit lega, karena ya, aku sedang dekat bukan pacar temanku.

•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Kami terus PDKT, dan hampir setiap hari kami selalu pergi, entah hanya sekedar berjalan-jalan ke Malioboro Mall di sore hari atau hanya nongkrong di angkringan batas kota.

22 Oktober 2013
Pagi itu, aku tengah bersiap-siap karena, rencana aku dan teman-temanku akan pergi piknik ke Kulonprogo. Ya ini ide Dika. Dia itu layaknya duta wisata Kulonprogo aku rasa ya 😂

Pukul 07.00 Dika sudah ada didepan rumahku sambil mengobrol sama Bapakku, dan Ibuku. Aku berpamitan untuk pergi dengan Dika, dan kitapun bergegas pergi.

Kami janjian dengan teman-teman di jalan wates dekat Univ. Mercubuwana.
Dan akhirnya kita gas ber-touring ria menuju tempat wisata Kali Biru. Aku, Dika, Linda, Diyah, Nindya, Hendra, Moko, Afifah berbonceng ria kesana.

Perjalanan yang kami lalui juga tidak semudah yang dibayangkan. Beda dengan sekarang, saat itu, jalan menuju kesana masih belum semulus sekarang. Mana jalannya nanjak pula, untunglah motor Linda bisa nanjak, karna dia tadi berada di deretan paling akhir.

Karena hampir semua dari rombongan kami belum pernah ke Kali Biru, jadilah kami asyik berfoto-foto di tempat itu.

Dika saat itu terus membuntuti ku kemana pun aku berjalan, saat itu aku berjalan dengan Afifah. Dika terlihat gusar, tetapi tidak ku gubris karena ku pikir dia hanya kebelet pup saja. Karna ya dia tukang kentut wkwk.

Hari sudah terik, dan kami memutuskan untuk turun ke Waduk Sermo, disana kami sangat takjub dengan waduk yang dibuat dengan sebegitu megahnya.
Kami memutuskan untuk mampir sejenak, dan menaiki kapal yang bisa disewa untuk mengelilingi waduk sermo.

Tak lupa kami mengabadikan momen disana. Berfoto-foto sampai lupa waktu.
Karena sudah hampir jam 3 sore, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.
Kami diajak mampir kerumah Dika, dan, ya aku tidak siap saat itu.
Aku di pertemukan dengan keluarga Dika di Kulonprogo. Aku bertemu dengan Ibunya. Dan juga adik-adiknya, dan kami berbincang sampai kira-kira jam sudah menunjukkan pukul 5 sore.
Maka kami berpamitan untuk pulang ke Jogja karna besok masih harus kuliah kan.

Di tengah perjalanan, Dika memegang tanganku, dan di rapatkan tanganku ke perutnya (peluk dari belakang 😳)

Dia pun mengutarakan isi hatinya. Dia memintaku untuk menjadi pacarnya.
Sebenarnya dia sudah mau mengatakan perasaannya kepada ku tadi ketika masih ada di Kali Biru, tetapi karna aku selalu kemana-mana dengan temanku. Dia jadi segan untuk mengatakan maksudnya kepadaku.

Tidak romatis sekali waktu itu pikirku wkwk, dia menembakku di tengah perjalanan pulang dari piknik 1 hari kami saat itu.
Aku masih menimbang-nimbang apakah jawabanku untuk pertanyaan Dika kali ini.
•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••

Lanjut besok ya agan-agan
Diubah oleh wisdeee
profile-picture
profile-picture
profile-picture
tuffinks dan 11 lainnya memberi reputasi
12
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 7
Cinta Tanpa Restu Orangtua
22-10-2019 09:35

Part 2 - Finally

Di salah satu traffic light antara Jl. wates - Jogja aku akhirnya memberikan jawabanku atas pernyataan Dika soal perasaannya.

Dinta : Ya. Aku terima tapi dengan berbagai syarat.
Dika : Hah ? Apa gak denger !!
Dinta : Iyaaa. Aku terima (saut ku dengan nada yang lebih keras. Kalian taulah ya kalo ngobrol diatas motor gimana berisiknya 😂😂)
Dika : Seriusan nih ? (Sambil membalikkan wajahnya menghadap arahku)
Dinta : Iyaa. Tapi dengan syarat kita harus tetep nggak akan ganggu fokus dan tujuan utama kita.
Dika : Siap. (Ditariknya tangan ku hingga ke depan perut Dika)

Perjalanan hari itu terasa hangat ketika dua insan sedang di mabuk cinta. Rasanya betapa indahnya dunia ya kan. Hahaha lainnya ngontrak mungkin.
•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••

Hari semakin berlalu, hingga di hari Jumat di bulan November.
Dika tengah berjuang di pertandingan Porda di cabor g***t. Sebenernya dia sudah mulai bertanding dari hari Senin. Tetapi hari ini adalah hari final, dan yaa Dika masuk nominasi ke babak final.

Dia tanpa ragu mengajakku untuk menonton pertandingannya yang tinggal beberapa langkah lagi akan ketahuan siapa pemenangnya.

Hari itu, aku mandi pagi dan juga sudah bersiap ke rumah kontrakan yang Dika sewa bersama teman-temannya untuk menepati janjiku menonton pertandingannya.

Kurang lebih jam 8 pagi aku sudah disana bersama dengan seorang teman perempuanku Afifah, aku jemput dia terlebih dulu.

Sampai di kontrakan, Dika sudah menungguku dengan celana training, kaos, dan juga tas besar berisi baju dan juga sepatu untuk bertanding.

Tak lama setelah itu, Mama Safira datang dengan seorang adik Dika yang paling kecil.
Namanya Zifa, seorang bocah laki-laki yang wajahnya tampan, mungkin mewarisi ibunya yang juga cantik. Dan berperilaku pendiam seperti ayahnya.

Maka kami berangkat lah ke Gunung kidul, lokasi pertandingannya di sana, disebuah gedung yang cukup luas untuk mengadakan pertandingan.

Kami menunggu sedikit lama, karena banyak kelas yang harus di perlombakan.
Kelas ini menunjukkan tingkat usia, dan juga berat badan. Kurang lebih begitu sih yang aku paham.

Mama Safira hanya berjalan di sekitar gedung itu karena banyak kios menjajakan makanan dan mainan.

Disamping itu, Dika tengah tidur dipangkuan ku, karena menunggu giliran pertandingannya.
Dia memang hobi tidur ketika menunggu jadwal.
Hingga pelatihnya menghampiri dan menginformasikan pertandingannya akan segera di mulai.
Dika bergegas bangun, cuci muka dan berganti kostum dengan baju g***t.

Ini adalah momen pertama dalam hidupku, menyaksikan pertandingan g***t di depan mata, dengan pemain seseorang yang begitu teramat aku sayangi.
Pertandingan berlangsung sengit, karena lawan yang harus di hadapi Dika adalah salah seorang pemain senior.
Rontok hati ku nonton pertandingannya.
Tapi, dengan babak pertambahan waktu, Dika memberikan jurus andalannya saat bertanding, dan berhasil memperoleh juara 1 cabor g***t.

Rasanya bangga memandangnya keluar dan di nobatkan sebagai pemenang hari itu.
Selesai bertanding dia menghampiri ku.

Dika : Hey sayang, gimana ? Aku keren nggak ?
Dinta : Keren banget, sumpah yang.
Dika : Tau nggak, kamu adalah wanita pertama yang aku ajak nonton pertandinganku. Dan hari ini, juga pertama kalinya Mama ikut nonton pertandinganku.
Dinta : Hah ? Seriusan ?
Dika : Ya begitulah. Memang ini yang pertama.

Habis itu pertandingan terpotong solat jumat.
Karena pembagian piala dan medali dirundown setelah jam 2 siang. Saat pembagian piala emas juara 1, Dika menghampiri Ibunya meminta foto bersama dengan sang Ibu. Karna hari itu, dia berhasil membuat Ibunya merasa bangga akan kemenangannya. Dan tidak lupa dia pun juga mengajakku berfoto.
( Foto nya sudah ilang sih gan, soalnya sudah ganti HP juga kan 😂😂😂 )
•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Hari-hari terus berganti hingga akhirnya bulan Desember.
Aku beserta gengku merencanakan pergi ke Wisata Dieng pada hari sabtu minggu, tanggal 21-22 Desember.
Keberangkatan kami sekaligus untuk berkunjung kerumah temanku Diyah, dan lagi pacar temanku Linda orang Wonosobo, jadilah kita pergi berbarengan 1 mobil dan 1 mobil.
Linda dan pacarnya kekeuh berangkat naik motor, alhasil hanya aku, Dika, Diyah, pacar Diyah, dan juga Sefa yang ada didalam 1 mobil.

Sabtu, 21 Desember
Aku sudah bersiap sedari pagi karena Dika mengajakku untuk berangkat pagi, harus ada yang dia kerjakan sebelum berangkat katanya.

Aku di antarkannya ke kost Linda, untuk dimintanya menunggu Dika, selagi masih ada urusan saat itu sambil menunggu pacar Linda yang belum selesai kuliah.

Rencana kita berangkat dari Jogja jam 1 siang, tetapi karena 1 dan lain hal, kita baru berangkat sekitar jam 4 atau 5 sore dari Jogja.

Kami pun segera bergegas karena kondisi sudah mulai tidak mendukung, di Jogja sudah mulai gerimis. Melewati jalanan ke arah utara menuju Borobudur, mobil Dika pun melaju menembus derasnya hujan hari itu.

Ditengah perjalanan, mobil Dika seperti tidak bisa bergerak, karena ban belakang bagian kanan, masuk ke sebuah lubang yang kedalamannya lumayan.
Sehingga harus ada yang mendorong mobil supaya bisa keluar.

Kondisi itu kami alami, ditengah hutan, karena kondisi gelap dan kurang pencahayaan jadi sangat sulit mendapatkan bantuan. Beruntungnya ada beberapa sepeda motor yang lewat dan bersedia membantu kami.

Perjalanan pun akhirnya bisa sampai ke Wonosobo kota sekitar jam 9 malam.
Aku tidak prepare jaket tebal malam itu. Bodohnya aku pikirku. Kita mampir ke sebuah warung lesehan untuk makan malam, karna sedari tadi kami masih belum makan apapun.

Sengaja aku pesan es teh dingin, tetapi disana tidak menyediakan es batu. What ?
Oh iya aku baru sadar, setelah teh panas datang. Tanpa es batu saja, teh hangat yang kami pesan dalam sekejap langsung dingin. Pantas saja si bapak penjual tidak menyediakan es batu disana.

Beres makan, kita lanjut lagi kerumah Diyah. Kami pikir rumah Diyah dekat di Kota ya kan. Ternyata masih jauh ke gunung, dari kota kurang lebih 1,5jam perjalanan.
Jam 23.15 kami baru sampai di rumah Diyah, suasana dingin, habis hujan lagi.
Kami membawa barang-barang bawaan kedalam rumah Diyah. Dan sempat bersalaman dengan simbah Diyah yang memang belum tidur karena menunggu kedatangan kami.

Sedang asik berbincang sebentar dengan teman-teman, tiba-tiba didepan rumah suara motor banyak sekali datang kerumah itu.
Ada apa pikir ku, ini sudah malam, dan di desa pula, tapi kok seramai ini.
Setelah itu untung ada Mas Sugeng pacar Linda yang memang asli Wonosobo, yang menjelaskan ke pemuda-pemuda itu. Bahwa mereka baru sampai dari perjalanan di Jogja. Tidak bermaksud mengganggu warga sekitar. Kita temennya si Diyah.

Setelah diskusi panjang, akhirnya cowok-cowok (Dika, Mas Sugeng dan Mas Dayat pacar Diyah) pergi kerumah Mas Sugeng. Karena ada kekhawatiran kami akan digrebek ulang oleh warga sekitar rumah Diyah.

Aku, Diyah, Linda dan Sefa sudah bersiap untuk tidur.
Siap-siap ambil posisi tidur di pojokan, dengan selimut sharing bersama mereka. Aku terkaget ketika Linda dan Diyah tiba-tiba masuk ke kamar dengan membawa sebuah roti.

Linda & Diyah : Happy birth day to you. Happy birth day happy birth day happy birth day Dinta.
Dinta : Astaga, kalian mengingat ini hari ulangtahun ku. Terima kasih (sambil berdoa dan meniup lilin yang mereka nyalakan)

Tak lama berselang, ada telpon masuk. Ya dari Dika.

Dika : Selamat Ulang Tahun. Semoga panjang umur, sehat selalu, sayang sama aku terus ya.
Dinta : Terimakasih sayang. Ini kamu lagi dimana e ?
Dika : Lagi dijalan kerumah Mas Sugeng, sek tak tutup dulu telponnya. Nanti aku telpon lagi.

30 menit dari telpon itu. Rumah Diyah ada yang mengetuk lagi. Kami sudah cemas, apakah itu warga sekitar kembali lagi atau bagaimana.

Ternyata Dika dan Mas Dayat kembali kerumah Diyah. Karena dirasa rumah Mas Sugeng terlalu menanjak untuk bisa dilewati mobil. Akhirnya mereka memutuskan kembali ke rumah Diyah. Dan tidur di ruang tamu.

Saat pagi mulai menampakkan sinarnya, tim cewek-cewek sudah mandi dan berdandan ala kadarnya. Sedangkan tim cowok masih tertidur di ruang tamu.

Aku membangunkan Dika, dengan sedikit usapan mesra di pipinya. Dia hanya bergeming, dan mengambil tanganku untuk dia peluk.
Langsung saja ku bisikkan "Ayo bangun, udah ditunggu yang lain".
Seketika dia langsung bangun sambil cengar cengir kuda dengan rambut berantakan khas bangun tidur. Ganteng sekali dia hari itu.

Kita bersiap-siap untuk berpamitan ke keluarga Indi untuk berjalan-jalan di tempat wisata Dieng.
Sebelum ke Dieng, kami mampir ke alun-alun Wonosobo untuk sekedar jajan dan sarapan ringan disana.
Kami jajan batagor, kentang dll.

Ada spot di salah satu pojokan alun-alun bertuliskan "wonosobo" tidak lupa kita mampir kesana dulu untuk berfoto-foto ria mengabadikan momen disana 😁😁

Tapi sayangnya ya foto itu sudah aku hapus juga sekarang 😅

Setelah puas berfoto. Kami lanjutkan perjalanan dengan sambil berwacana ingin mandi air hangat disebuah tempat wisata mandi air hangat. Tapi kita belum memutuskan apapun.
Kurang lebih perjalanan 1 jam kami melewati jalanan berkelok, dengan kabut yang sangat tebal, hingga jarak pandang sangat pendek, mengharuskan Dika sang sopir untuk harus terus terjaga. Meski sesekali terlihat dia terlelap sambil menyetir. (Jangan ditiru ya gan, dia kebiasaan jelek kalo lagi nyetir dan ngantuk suka ketiduran. Sampe pernah hampir masuk jurang kita berdua waktu itu 🙄)

Untunglah, akhirnya kami tiba ke Dieng, dengan sedikit berjalan dari parkir mobil ke kawah dan kuda itu. Kami sedikit berfoto-foto disana layaknya turis. ( Lah kan emang lagi wisata ya wajar yaa 😂 )

Dari kawah kita ke Teater itu, nonton sebentar terus keluar untuk kembali ke rumah Diyah lagi. Tapi sialnya saat kembali ke mobil, mesin tidak mau dinyalakan, mogoklah itu mobil.
Sudah susah payah kenapa ini mobil, akhirnya Dika telpon ayahnya, bagaimana car menyalakan kembali. Kata ayah Dika itu kena masalah aki-nya mungkin karena lampu tidak dimatikan saat mesin dimatikan.
Jadilah ada adegan dorong mendorong mobil lagi saat itu hihi 😂😂
Untung kita yang cewek-cewek tidak ikut mendorong ya kan 😛

Akhirnya mobil berhasil dinyalakan, kita segera "turun gunung" untuk makan siang dan makan sore sekaligus sebelum kembali pulang ke Jogja.
Mampirlah kami kesebuah warung makan serba ada, dan segera memesan menu yang diinginkan, dan lagi sudah kucel sekali muka kita kita, tapi tetap saja foto-foto everywhere 😂

Selesai makan, kita kerumah Diyah untuk packing pulang, dan berpamitan ke simbah Indi yang dirumah. Perjalanan pulang kali ini, kami lewat jalur selatan.
Dan apesnya lagi saat itu memang musim hujan di bulan Desember. Pasti deras ya kan. Saat melewati sebuah area persawahan ternyata tanpa kita mengetahui sebelumnya disana banjir, hingga menutupi jalan, hampir tidak terlihat jalanan di depan kami, hanya berjalan berdasarkan insting dan berharap agar tidak masuk ke parit saja ya kan 😌
Kalo itu terjadi bisa sial berlipat lipat kita 😅

( Untung saja hal itu tidak terjadi gan. )

Saat memasuki disebuah hutan, hanya tersisa aku dan Dika yang belum tertidur. Sedangkan semua penghuni di kursi belakang sudah tidur semua.

Dika : Sini, peluk.
Dinta : Malu sih,
Dika : Gapapa tau (sambil tangan kirinya menarik badanku untuk didekapnya dari aamping)
Dinta : dih apasih, fokus aja nyetirnya. (Sambil tetap ada di pelukan Dika)
Dika : siap bos, tapi peluk gini terus ya. Aku rindu dipeluk kamu.
Dinta : iyaaa, (sambil mengeratkan tanganku memeluk nya)
Dika : Tadi lihat tidak yang dibelakang sana ?
Dinta : Iya, cewek baju putih rambut panjang kan.
Dika : iyaa, tapi cuma sekelebat trus ilang lagi.
Dinta : sama berarti aku juga liatnya cuma sebentar.

FYI, aku dan Dika sama-sama bisa melihat adanya kuntilanak saat itu. Tapi ya hanya saat itu saja kami melihat bersamaan. Karena setelah itu tidak ada lagi makhluk astral yang menampakkan dirinya ke kami.

Kami sampai ke Jogja sekitar pukul 10 malam, pertama kami antarkan Mas Dayat balik ke kos nya dulu, kemudian baru Lindah, Diyah dan Sefa kami kembalikan ke kos nya.
Dan terakhir Dika mengantarkan aku pulang, dengan tetap meminta aku tidak melepaskan pelukannya.
Aku turuti saja karena ya memang aku mau. Sambil sesekali kami berciuman. Sebentar tetapi penuh kehangatan rasanya.

Hari itu berakhir menjadi "the best birthday ever" karena aku punya teman-teman yang sangat ku sayang dan juga seorang pacar yang sangat menyayangiku dengan sangat.

•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••

Hey agan-agan. Ini ceritanya nanti akan sedikit panjang. Akan aku usahakan update setiap hari.

Aku menulis cerita ini, karena aku ingin sedikit berbagi tentang pengalamanku sendiri tentang cinta tanpa restu.

Dan untuk kalian yang merasa mengenal tokoh-tokoh di cerita ini. Sssssttt.... Keep it secret ya 😘

Aku sambung besok critanya gan......
Diubah oleh wisdeee
profile-picture
sriwijayapuisis memberi reputasi
1 0
1
Cinta Tanpa Restu Orangtua
23-10-2019 11:23

Part 3 - Wates

"I don't know what my future hold, but i'm hoping you are in it"

Hari ini aku dan Dika ada jadwal untuk pemotretan bareng disebuah studio foto milik teman Dika.
Dengan sangat antusias aku dan Dika berangkat menuju studio foto dengan baju yang sudah kita sepakati untuk dipakai saat sesi foto.

Berbaju batik Dika terlihat tampan seperti biasanya. Dan aku menggunakan batik sarimbitan sebuah mini dress dengan motif yang sama.

Pemotretan sudah berakhir sekitar pukul 1 siang, kami langsung bergegas menuju lapak kembang api milik Dika yang memang biasanya setiap event tahun baru atau bulan puasa selalu berjualan di sekitar Alun-alun Wates.

Siang itu kami datang hanya untuk mengecek persediaan stok, karena jika sudah habis, maka Dika akan langsung "kulakan" kembang api.
Beres mengecek persediaan, Dika mengajakku untuk pergi kerumah Ayahnya.
Ya, Dika adalah seorang anak broken home. Ayah dan Ibu nya berpisah ketika dia masih di bangku SD. Aku sedikit lupa kelas berapa, tapi saat itu Dika memilih di asuh oleh simbah dan adik perempuan Dika satu-satunya diasuh oleh Mama Safira.

Hari itu kami kerumah ayah Dika, seorang yang sangat mirip Dika dalam hal parasnya, diperkenalkanlah aku dengan ibu sambung Dika bernama Mama Dewi, seorang yang baik hati sekali, menganggapku sudah bukan orang lain, tetapi diperlakukan seperti anaknya sendiri. Atau mungkin aku yang ke-GR-an ya wkwkkw. Tapi sungguh Mama Dewi baik hati sekali. Aku tidak pernah melihat beliau marah, selalu terlihat tersenyum dan tertawa khas nya pun masih aku ingat.

Selepas dari rumah Bapak (ayah kandung Dika), aku diajaknya ke rumah simbah Dika. Rumah simbah hanya berjarak 300 meter lah dari rumah Bapak. Aku dikenalkan juga ke sosok simbah putri yang masih cantik di usianya saat itu. Sosok simbah yang masih berjualan, dan hebatnya simbah selalu memasak sendiri setiap hari.
Aku kagum pada keluarga ini.

23.55
Malam hari menuju tahun baru, Dika mengajakku ke perempatan dekat pasar wates, karena disana ada titik menyalakan kembang api ketik mendekati pergantian tahun.
Aku disuruh menunggu di pinggir jalan, sedangkan Dika berjalan menuju kerumuman untuk menyalakan pergantian tahun dengan membakar kembang api yang memang sudah di persiapkan.

3....2.....1.....
Happy New Year..... Semua orang bersorak soray menyambut pergantian tahun hari itu.

Cinta Tanpa Restu Orangtua

Foto ini diambil Dika sesaat setelah kembang api sudah dinyalakan.
Foto ini juga diunggak Dika, disosmed dengan caption "Tahun baruan di Wates, semoga menjadi warga Kulonprogo"

Tidak sampai disitu, hari itu kami masih punya tugas menutup lapak dan juga memberikan upah untuk team jualan Dika.
Kami kembali kerumah Simbah, disana team Dika sudah menunggu, aku ikut membantu menghitung pendapatan hari itu. Lumayan juga dalam 1 hari mendapatkan pendapatan segitu.
Setelah semua urusan jualan sudah selesai.
Tidak terasa jam sudah menunjukkan jam 02.30 pagi.

Dika : Yang, temenku ngajakin makan mi dideket rel ni. Mau nggak ?
Dinta : Ya, aku ya laper ki dari siang belom kamu ajakin makan
Dika : Lah iya ya. Lupa (sambil nyengir kuda) menyeretku keluar rumah simbah dan menstarter motor yamaha x-ride miliknya.

Hari itu dingin sekali rasanya, tidak heran karena memang sudah dini hari.
Teman-teman Dika sudah menunggu di warung bakmi sederhana, dengan konsep jaman dulu, aku segera memesan bihun godog pedas, dan Dika memesan nasi goreng kesukaannya.

Hari itu kami membahas, jika nanti pagi langsung pergi ke tempat wisata, rencananya mau pergi ke gunung merapi, tempat mbah Marijan, saat itu memang terkenal, karena setelah kejadian merapi meletus, dijadikan tempat wisata oleh warga sekitar.

Dan benar saja, pukul 08.00 pagi kami sudah berkumpul lagi untuk pergi ke gunung merapi.
Dengan hati yang senang karena tahun baru, dan juga akan liburan sekalian kan ya.
Dika memarkirkan mobil dibawah, dan kami pun berjalan kaki menuju ke desa Kinahrejo (desa mbah Marijan)
Hari itu sedikit berkabut, sehingga gunung merapi tidak menampakkan kegagahannya hari ini.

Ketakjuban menyirat di hati ku, saat melihat desa yang dulu terakhir kesana masih berbentuk sebuah desa, sekarang hanya hamparan luas banyak puing-puing bekas rumah terkena lava, ada mobil yang sudah hangus. Tetapi disana masih tumbuh subur tanaman karena hasil erupsi merapi seperti memberikan kehidupan baru disana.

Cinta Tanpa Restu Orangtua

Dari yang berbaju putih.
Dika - Aku - Moko - Diyah - Nindya - Linda dan yang memfoto Hendra.

Kami pulang dari wisata merapi jam 14.00 dan langsung pulang kerumahku karena sore hari nanti aku ada acara di rumah keluargaku.

Dika mengantarkan aku balik kerumah dan berpamitan dengan bapak dan ibuku seperti biasanya.
Orang tua ku, terutama Ibuku, sudah mempercayakan aku ke Dika, karena dianggapnya Dika adalah sosok yang bisa mengayomi aku

•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••

Sore harinya, aku pergi kerumah om ku, karena disana sedang ada acara pengajian.
Ibu ku bercerita jika saat ini aku sudah punya pacar lagi, setelah putus dengan yang terakhir Ibuku tau 😅

Dan seorang teman Bapakku, menyahut, lho Dika anak Wates. Rumahe mana ?

Dinta : Cedak pasar ***** Om.
Om Bambang : walah yo aku kenal keluargane Dika, kui wong terkenal neng wates ki. (Walah aku kenal keluarga Dika. Dia orang terpandang di Wates)
Dinta : seriusan om ? Tapi keluargane ketok sederhana wae ki. (tapi keluarganya terlihat sederhana tuh)
Om Bambang : Hoo. Cobo wae sesok tekon dek e. (Iya, coba aja besok tanya ke dia)

Hari itu berakhir dengan pertanyaan dibenakku tentang keluarga Dika. Yang ternyata adalah dari keluarga kaya dan terpandang di Wates.

Sedangkan aku hanya seorang anak biasa dari keluarga ruwet serba kekurangan.
Aku harus kerja keras dari SMA buat sekedar beli baju atau beli HP. Karena orang tua ku lebih memilih mengalokasikan uang untuk biaya makan atau sekolah.

Rasa minder begitu bergulat dipikiranku, minder akan status sosial dan kasta keuangan antara keluargaku dan keluarga dika .

Sedangkan yang aku tau hanya.
Mama Safira punya 3 kios salon, ayah Tiri Dika merupakan seorang anggota TNI, dan ayah kandung Dika kadang bergantian dengan saudara yang lain untuk berdagang toko mebel kepunyaan simbah putri.

Sedangkan keluargaku, ayahku hanya seorang pedagang barang antik, dan ibu ku hanya seorang ibu rumah tangga biasa yang tinggal dirumah sederhana di pinggiran kota Jogja.

Sangat bimbang membuatku tidak begitu tertarik mengikuti acara pengajian dirumah Om ku itu. Dan aku memilih untuk pulang lebih dulu mengajak adikku berboncengan motor kerumah.

Lagi juga, badanku terlalu capai untuk terus berada di acara itu. Sampai rumah, belum berganti baju, dan cuci muka, aku langsung merebahkan diri kekasur dikamar. Dan langsung terlelap hingga keesokan harinya.

•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Hari-hari berikutnya aku lalui seperti biasa. Karena satu minggu ke depan Dika berangkat ke Malang, ada seleksi untuk atlet yang akan dipertandingkan di PON 2016

Aku mengantar Dika ke ring road utara, karena disana titik kumpulnya dengan tim officialnya. Dia berpamitan sambil memelukku sebentar sebelum masuk ke mobil elf yang di kemudikan rekannya.

Semoga menang bisikku sebelum Dika pergi.
Dia hanya tersenyum, sambil berkata pasti.
Aku pun kembali kerumah, sambil harap harap cemas akan kepergian Dika ke Malang.

Aku memang sudah terbiasa dengan jadwal keluar kota dan pertandingan Dika, jadi ya sekalinya Dika selo kami hanya ingin menghabiskan waktu berdua. Seperti layaknya orang berpacaran lainnya.

•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Hari itu Dika mengabariku jika hari ini dia pulang, minta di jemput di ringroad barat, sebelum ke jalan wates.

Aku menunggu nya di perempatan jalan wates ke barat menuju gereja. Tidak lama setelah itu, Dika mengabari sudah dekat dengan lokasi ku.
Akhirnya kami pun bertemu setelah LDR selama 1 minggu 😂
Dia memboncengku, dan aku memeluknya erat dari belakang. Dia hanya tersenyum dan mengelus tanganku di perutnya.

Sungguh rindu rasanya, biasa ketemu di kampus setiap hari, (kecuali kalo dia bolos dan keluar kota 😅) eh ini berpisah selama 1 minggu.

Dia memarkirkan motor di kontrakannya dan mengajakku masuk, langsung aku masuk ke kontrakan. Hari itu masih rame karena sudah musim perkuliahan seperti biasa, jadi warga kontrakan belum pergi balik kampung ataupun holiday.

Aku membuka tas Dika, mengambil baju kotornya dan memasukkannya ke keranjang baju kotor di depan kamar Dika.
Menyapu kamar Dika yang tidak berpenghuni seminggu itu, setelah selesai, aku mulai rebahan.
Sedangkan Dika tengah mandi.
Sambil maen game di HP, rasanya kantuk mengalahkan keinginan untuk bermain gadget wkwk.

Saat aku terbangun, jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Kulihat Dika tengah tertidur di lantai beralaskan karpet. Karena aku yang menguasai kasurnya 😌

Aku coba bangun kan dia perlahan dengan mengusap pipinya. Mengamati dari dekat kulihat banyak sekali luka di tubuhnya hari itu. Dan tangan telunjuk kanannya bengkak parah.
Dia hanya mengabari lewat WA saat bertanding jika dia mengalami sedikit masalah saat pertandingan. Tidak kusangka ternyata meninggalkan bekas sakit seperti itu.

Dika terbangun dari tidurnya karena merasakan telunjuknya sakit saat aku sentuh. Dia hanya meringis seperti biasa,

Dika : Jangan di sentuh, sakit itu. Tapi tolong coba ditarik tanganku, siapa tau tidak bengkok lagi.
Dinta : Lah, nek nambah sakit piye ?
Dika : Gapapa, dah cepet.

Saat kutarik, tangannya, jahilnya dia mulai. Dia hanya mengernyit sambil teriak awww. Habis itu udah nyengir lagi. Duh ni anak ndak bisa banget ngungkapke dia kesakitan apa ya.😌

Ya sudah langsung aku peluk dia saja, karena sudaj lama tidak ketemu. Dan kami mengakhiri hari itu dengan berciuman mesra.

Selepas magrib Dika mengantarku pulang, karena Dika masih harus pulang ke Wates di minta Mama Safira pulang saat itu juga.

•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••

Aku lanjut besok lagi ya gan, 😂😂
Sorry kalo ceritanya loncat loncat ya karna ini seingetku aja, dan lagi ini kejadian nyata.

Ada banyak hal akan terjadi setelah pertemuan dengan Ibu nya saat itu.

Aku sambung besok lagi deh gan yaa 🖤
Diubah oleh wisdeee
profile-picture
profile-picture
i4munited dan deawijaya13 memberi reputasi
2 0
2
Cinta Tanpa Restu Orangtua
24-10-2019 11:08

Part 4 - Surabaya

Ada banyak hal yang di bicarakan oleh Mama Safira ke Dika ketika dia pulang hari itu,
Tapi aku belum sempat diberitahu oleh Dika, karena Dika harus kembali bertanding di Bantul saat itu.

Akhir Januari 2014 aku memutuskan untuk pergi berlibur ke Surabaya, kebetulan rumah Om ku disana dan lagi juga masih ada keponakan cewek disana yang sangat akrab dengan ku.
Hari keberamgkatanku sudah di tentukan, aku berangkat Jumat malam dari Jogja, di jemput travel milik om ku untuk menuju Surabaya.
Aku berangkat sekitar pukul 8 malam dari Jogja, dan baru sampai di Surabaya sekitar jam 6 pagi, karena ya aku diturunkan paling akhir karena tujuanku adalah ke pul travel ini dimana travel ini memang milik om ku.
Om ku biasa ku panggil Abi, saat itu abi tengah bersiap mau mengantarkan keponakanku untuk berangkat ke sekolah.
Akhirnya aku memutuskan untuk menggantikan perannya mengantarkan anaknya kesekolah

Abi : Kon, eruh ta dalan e nang sekolahe Ima ? ( kamu tau apa jalan kesekolah Ima ?)
Dinta : Tenang bi, ada Ima, nek nggak tau bisa tanya orang
Abi : Yawes ati-ati gowo pedah e. (Yasudah hati-hati bawa sepedanya)
Dinta : Siap bi, Assalamualaikum
Abi : Waalaikumsalam

Ternyata sekolah Ima tidak bergitu jauh jaraknya dari rumah Abi, sehingga aku langsung mudah menghapal jalan pulang. Aku tidak langsung pergi kemana-mana, karena memang tidak pakai helm. Kan lucu ya kalo pendatang di tilang polisi di Surabaya hahaha.

Tidak terasa hampir satu minggu aku sudah di Surabaya dengan rutinitas yang hampir sama setiap hari, Namun sedikit berbeda, karena abi harus meninggalkan rumah untuk mengecek kantor travel yang ada di Banyuwangi. Alhasil tinggallah aku Mama ( istri Abi), Ima dan Dini dirumah. Aku dan Dika masih terus saling memberi kabar via BBM saat itu.

Dika : Selamat malam sayang,
Dinta : Selamat malam juga sayang
Dika : Kamu di Surabaya alamatnya dimana sih ?
Dinta : Eh ? Nggak tau aku, coba sek tak tanya mama
Dika : Okee siyap aku tunggu
Dinta : Di jalan lintas juanda, cari aja jalan itu. Nanti ada kantor travel Amanah (nama disamarkan)
Dika : Okee siyap yang,aku rencana besok pagi mau nyusul kamu ke Surabaya
Dinta : Hah ? Lah ngapain ? Naek apa ?
Dika : Ini lagi nyari-nyari tiket kereta api. Sambil masih mikir mau gimana enaknya. Ini aku posisi masih di Wates soale yang,
Dinta : Lah ? seriusan yang kamu ki ? jauh lho Wates - Surabaya ki.
Dika : Iyaa besok aku kabari lagi deh yang ya. Aku mau futsal dulu yang ya, Selamat malam
Dinta : Oke sayang selamat malam.

Hari ini hari kamis, sejak seharian aku resah menunggu kabar dari Dika yang tidak kunjung membalas pesanku. Aku sudah bicara dengan Mama dan Abi jika pacarku mau datang untuk menjemputku. Mama dan Abi mempersilahkan saja Dika untuk menjemputku di Surabaya.
Akhirnya jam 21.00 malam ada pesan dari Dika yang masuk.

Dika : Sayang
Dinta : Sayang dimana e baru bales BBMku
Dika: Aku sudah di Surabaya ini.
Dinta : Hah seriusan ?
Dika : Iya serius, ini lagi mampir ngopi sama mau isi bensin dulu. Alamatnya bener yang kamu kasih kemarin kan ?
Dinta :Bener yang, kamu pake apa kesini ?
Dika : Motoran dong
Dinta : What ? Edan kamu memang

Dika tidak langsung segera membalas pesanku. Sementara jam di dinding sudah menunjukkan pukul 23.00 malam.
Aku resah, menunggu dia datang. Sampai akhirnya ada telepon masuk dari Dika.

Dika : Sayang, coba keluar rumah deh
Dinta : Ya sek sek bentar
Dika : Okee.

Benar saja, Dika sudah berdiri didepan pagar rumah sambil membawa helm 1 untuk ku, dan juga dengan tampang habis kehujanan.
Langsung ku bukakan pagar rumah supaya Dika bisa memarkirkan motornya di dalam pagar rumah. Kebetulan tengah tidak dipakai untuk parkir mobil Abi, karena Abi masih ada di Banyuwangi..
Hari itu seperti biasa paginya aku mengantar keponakanku kesekolah, dan Dika masih tertidur di ruang tamu, Mungkin karena kecapekan kali ya perjalanan jauh dari Wates ke Surabaya.

Dika ku bangunkan untuk solat Jumat dulu, kerna sehabis solat Jumat kami berencana pergi berkeliling Surabaya sebentar.
Kami berangkat menuju maskot di Surabaya yaitu monumen Surabaya yang terkenal. Berputar-putar sambil menghapal jalanan di Surabaya.
Ada saat nya kita tersesat juga hihi, bertanya ke orang sekitar memang pilihan yang paling tepat.

>> Nanti aku kasih fotonya deh waktu aku dan Dika foto di depan lambang Surabaya. Kayaknya masih ada deh wkwk

Cinta Tanpa Restu Orangtua

Selepas dari monumen itu, kami berkeliling Surabaya untuk menuju ke salah satu Mall yang ada di sana. Aku sedikit lupa nama mall itu apa.
Kami mampir sebentar untuk makan sore disana, dan kami pun masuk ke Mall. Niat awalnya hanya ingin berkeliling disana, tetapi setelah melihat harga tiket bioskop disana lebih murah daripada di Jogja. kami memutuskan untuk menonton film pertama kami, dan itu pun di Surabaya. Sedangkan di Jogja kami belum pernah nonton film sama sekali. Sungguh terlalu ya mungkin hahaha

Kami selesai nonton sekitar jam 7 malam, langsung saja kami balik kerumah Abi takut nanti dicari oleh Mama.
Sampai dirumah kami beres-beres, mandi, dan kemudian nonton TV bersama diruang keluarga.
Apesnya, nggak tau disana tegangannya kurang tinggi atau gimana ya, tapi selalu mati listrik kalo sudah malam. Tidak terkecuali hari itu.
Saat mati lampu, aku menunggu di ruang TV sambil membuka HP untuk mencari pencahayaan. Tanpa sadar Dika mendekatiku, dan mencium bibirku secepat kilat sebelum dia pergi ke luar untuk mencoba menghidupkan listrik lagi,

Setelah lampu menyala aku hanya bisa senyam senyum sendiri dengan pipi yang merona.Bergegas aku tidur lebih awal, karena besok kami berencana pulang kembali ke Jogja.

**************************************

Sabtu pagi, aku dan Dika sudah bersiap untuk jalan-jalan terakhir di Surabaya sebelum pulang ke Jogja.
Kami memutuskan untuk pergi ke Madura. Bermodalkan GPS di HP Dika memacu motornya untuk sampai bisa menyeberang ke Madura. Menyenangkan rasanya melewati jembatan Suramadu yang baru selesai pembangunannya, dan terlihat kokoh membelah Surabaya dan Madura. Kami berhenti sebentar untuk sedikit mengabadikan moment diatas jembatan Suramadu.
Perjalanan kami lanjutkan hari itu, kami berkeliling Madura, dan menemukan sebuah bangunan megah, seperti Mall kami rasa. Iseng kami masuk ke mall itu, ketika jam masih menunjukkan jam 09.00 pagi. Setelah masuk, lah sepi banget ini Mall-nya. Yaiyalah kan masih jam 9 pagi gimana sih. Hahhaha

Saat keluar kami berniat mengisi bensin disana, bertepatan dengan solat dhuhur. Betapa kagetnya kami, bahwa semua jalanan sepi, dan lagi di pom bensin juga sepi tidak ada orang. Hanya sebuah papan bertuliskan "Sedang Solat". Alhasil kami mengurungkan niat untuk mengisi bensin di pom itu, dan melanjutkan perjalanan menuju Surabaya.

Ketika sudah sampai di Surabaya, kami juga berkunjung ke store baju supporter Persebaya di dekat stadion Gelora Bung Tomo Surabaya.
Hampir 1 jam kami disana, Dika asyik memilih milih kaos yang mau dia beli. Setelah melalu perdebatan panjang antara aku dan dia, akhirnya dia memutuskan membeli kaos pilihanku dengan motif hijau hitam.

Setelah membeli, akhirnya kami memutuskan kembali kerumah untuk persiapan packing dan beristirahat dulu sebelum kembali ke Jogja.
Karena saat itu jam sudah menunjukkan jam 4 sore.
Selesai beres-beres dan packing kami pun berpamitan ke Abi dan Mama untuk berangkat kembali ke Jogja.
Di perjalanan pulang, kami sempatkan mampir ke toko baju Vanqish, yang anak Surabaya pasti tau toko baju ini. Menjual baju-baju murah tapi ya lumayan Okelah ya.

Perjalanan kami sedikit terhambat oleh derasnya hujan, tetapi tidak masalah karena saat itu Dika membawa jas hujan. Malam semakin mencekam ketika itu jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, kami baru sampai di daerah Ponorogo.
Saat itu kami seperti sedang ditutup matanya, karena perjalanan kami dialihkan menuju sebuah pergunungan sepi yang jelas akan sangat sepi kalau sudah jam malam seperti ini.

Kami memutuskan berhenti sejenak di pinggir jalan, untunglah saat itu malam minggu, sehingga masih ada anak muda yang sekedar nongkrong di warung kopi yang masih bisa kami tanyai. Salah seorang diantaranya menyebutkan, jangan lewat jalan itu, bahaya, warga kami pun tidak berani melintasi pegunungan itu. Karena jalanan yang terlalu menanjak, rawan kecelakaan dan juga sepi sekali untuk lewat dijalan itu.Terlalu beresiko mengambil perjalanan disana.

Semakin ragulah kami untuk melanjutkan perjalanan lewat daerah itu, ditengah perjalanan itu, aku masih sempat memberi kabar ke Ibu ku yang saat itu masih belum tertidur karena masih ada acara syukuran di rumah om ku di Denggung.

Ibu : Mbak, jadi pulang hari ini ?
Dinta : Jadi bu, ini sudah sampe di Ponorogo. Tapi sepertinya kami kesasar.
Ibu : Pantesan rasane ibu ora kepenak mbak. Wes puter balik wae mbak, tekon uwong sek arah bis gede wae dalan e golek e. (Pantas saja perasaan ibu tidak enak. Sudah putar balik saja, tanya orang arah jalan utama yang banyak dilewati bis)
Dinta : Nggeh bu, niki sek tanglet tiyang mriki, ( Ya bu, ini lagi tanya ke warga sini)

Akhirnya kami menuruti Ibu ku untuk melanjutkan perjalanan dengan berbalik arah menuju jalan utama yang banyak dilewati bis. Kami pun tiba dijalur utama, dan rasanya menyenangkan kembali ke jalan yang benar.
Sekitar jam 3 pagi kami baru masuk ke gapura selamat datang di Jogja. Karena kami sama-sama lapar saat teringat belum makan apapun sedari tadi siang. kami akhirnya memutuskan mampir makan di warung gudeg lesehan di depan RS PKU Jogja sambil menunggu subuh untuk kembali pulang kerumahku.

Selesai makan, kami langsung bergegas pulang ke rumahku dan rasanya ingin sekali tidur saat itu. Aku tidur bersama Ibu ku dikamar, sedangkan Dika kusuruh tidur dikamarku. Aku baru bangun jam 11 siang, sedangkan Dika sudah bangun dari jam 8 tadi, dan sedang asyik mencuci motor didepan sambil ngobrol dengan Bapakku. Sambil keluar kamar, masih dengan tampang kucelku baru bangun tidur untuk sekedar menyapa Dika yang belum mau sarapan karena masih menunggu ku untuk sarapan bersama.

Hari itu ibuku memasak sop juga goreng tempe tidak lupa sambel tomat khas ibuku, Ah rasanya lengkap hari itu.
Selesai sarapan, karena saat itu ada keponakanku merengek minta di antar Dika untuk pergi berenang di daerah Bantul, maka agak sorean kami pun bergegas untuk menuju kolam renang. Rasanya tidak ada rasa capek yang menyelimuti orang yang sedang jatuh cinta. Itu kata orang-orang sih hahaha.

Kami berenang menghabiskan waktu sesorean dikolam renang, sampe sekitar pukul 5 barulah kami pulang kerumah ku.
Dika sudah sedari tadi dicari oleh Mama Safira untuk segera balik ke Wates kalo sudah sampe di Jogja.


************************************

Begitulah perjalanan kami di Surabaya, begitu membekas, hingga masih sedikit ku ingat hingga hari ini.
Lanjutan ceritanya besok lagi ya gan, ini aja disambi nyusun critanya sambil mengingat masa lalu hahaha.

See you, emoticon-Wowcantik
Diubah oleh wisdeee
profile-picture
profile-picture
g3nk_24 dan deawijaya13 memberi reputasi
2 0
2
Cinta Tanpa Restu Orangtua
25-10-2019 11:23

Part 5 - SALON

Satu minggu sebelum bulan Ramadhan tahun 2014 datang, Dika sudah sibuk meminta ijin Ibu dan Bapak ku untuk aku bisa ke Wates membantu Mama Safira di salon. Karena biasanya saat musim ramadhan salon akan selalu ramai orang untuk mempercantik diri sebelum perayaan idul fitri.

Awalnya orang tua ku tidak memberikan ijin, tetapi ketika Mama Safira menelpon langsung ibu ku untuk meminta ijin. Akhirnya luluh juga ibu ku dan bapakku memperbolehkan aku ke salon ketika nanti sudah musim ramadhan.

********************
Hari pertama Ramadhan aku tidak langsung berangkat ke Wates, karena aku masih ada kegiatan. Aku bekerja sambilan dengan berjualan garskin HP yang kala itu tengah hits. Lumayan juga hasilnya bisa buat jajan kan hihi.
Puasa hari kedua barulah aku berangkat ke Wates dengan di jemput Dika, aku langsung saja menuju ke salon, (tidak akan aku sebutkan nama salon dan lokasinya ya emoticon-Belo )

Tidak langsung bekerja di salon, karena pagi itu aku diajak ke Solo untuk kulakan baju-baju, karena di toko baju Mama Safira butuh stok baru, karena ini adalah momen yang baik juga untuk sebelum lebaran. Biasanya sembari orang-orang nyalon sambil melihat lihat koleksi baju di toko milik mama Safira. Kami baru pulang dari Solo sekitar jam 4 sore,

Rencananya aku akan tidur di rumah Mama Safira untuk beberapa minggu kedepan.

Keesokan harinya, jadilah merupakan hari pertama ku bekerja sebagai kapster salon, belum ada keahlian apapun aku untuk langsung memgang customer, Sehingga oleh seorang senior disana bernama Nana, aku diajari keramas rambut nasabah terlebih dahulu, kemudian aku juga diajari cara memfacial, dan aku juga diajari semir rambut.
Dalam 1 minggu ku disana aku hanya belajar seputar itu, dengan sedikit tambahan aku belajar merebonding atau pun smoothing rambut dengan panjang sepinggang. Jangan dibayangkan gimana lecet-lecet dan melepuhnya tanganku saat itu karena terkena obat keras rebonding,

Hingga hari-hari terus berganti dan sampai di titik dimana aku harus belajar memotong rambut pria. Karena ini adalah bagian tersulit dari semuanya. Pelangganku untungnya saat itu adalah seorang kakek-kakek yang minta di potong plontos biasa saja.
Jadilah aku sedikit memberanikan diri untuk mengambil clipper (tentunya di dampingi Mama Safira)
Semua berjalan baik-baik saja, tetapi ketika aku sempat melakukan kesalahan saat merapikan tepian rambut dengan mencukur rambut itu dengan "cukuran" karena saat itu pisau cukurnya habis diganti baru sehingga sangat tajam sekali, karena saking groginya aku memegang alat itu,jadilan sedikit menimbulkan kulit bapak itu tergores dan mengeluarkan darah.
Aku meminta maaf ke Bapak itu, dan bapak itu hanya tersenyum dan menjawab tidak apa-apa mbak.
Ku lanjutkan dengan merapikan sisa potongan rambut bapak tadi dengan menggunakan sikat dan juga bedak tabur bayi.

Itu adalah kali pertama aku memotong rambut orang, karena sebelumnya aku hanya bereksperimen dengan memotong rambut ku sendiri, itu pun hanya dibagian untuk merapikan poni saja biasanya.
Kemudian datang seorang anak muda ingin di potong sedikit modis, dan disini aku masih didampingi Mama Safira, karena untuk jenis potong rambut ini, perlu beberapa teknik dengan beberapa ketebalan sisir clipper yang berbeda. Hasilnya menurutku lumayan lah untukseorang amatir sepertiku, tapi itu tidak cukup untuk Mama Safira karena menurutnya hasilnya masih jelek, dan hasilnya pitak pitak.
Kemudian Mama Safira meminta mbak Nana untuk merapikan rambutnya,

Tetapi Mama Safira cukup bangga melihatku mau mencoba untuk segala hal baru. Saat ada teman-temannya datang dan menanyakan sosok ku ke Mama, Mama hanya menjawab ini anak perempuan ku juga.
Pipi ku seketika berubah memerah mendengar pernyataan Mama kepada temannya.

Saat keadaan salon sudah sedikit sepi, Mama mengajakku ngobrol.

Mama : Din, gimana rasanya nyalonin orang ?
Dinta : Yah, oke sih Ma, cuma ya masih kegok aja tanganku. Masih belom terbiasa
Mama : Ya nggak papa, nanti juga terbiasa. Mama pengennya kamu bisa nyalon, nanti Salon sebelah itu buat kamu dan Dika. Nanti kamu bisa pegang. Tapi ya kamu harus bisa dulu, mungkin belom sekarang. Kan lumayan uangnya bisa buat kalian bertahan, bisa buat nikah nanti, atau buat beli rumah dan mobil sendiri.
DInta : (Aku hanya terdiam memikirkan apa yang harus aku jawab karena belum siap sama sekali)
Mama : Kuliah libur hari apa aja ?
Dinta : Sabtu Minggu kebanyakan libur sih Ma, nggak ada kegiatan.
Mama : Ya sudah tiap sabtu minggu kamu tidur wates aja, nanti kamu bisa pegang salon sebelah.


Aku menjawab pernyataan Mama dengan sebuah anggukan, tanda ya aku menyetujui tetapi aku masih akan sangat bimbang karena aku belum tau bagaimana reaksi kedua orang tua ku atas permintaan Mama Safira ini.
Selama satu bulan aku di Salon, malah justru jarang bertemu dengan DIka, hanya malam minggu saja kami bertemu, itu pun jika dia tidak ada jadwal futsal malam harinya, Karena siang sampe malam Dika biasanya sibuk dengan berjualan kembang api dan lagi jika dia harus ke luar kota untuk kulakan kembang api.

Hari itu adalah malam terakhir aku di Wates, ya malam takbiran, aku masih membuka salon sampe jam 9 malam bersama Mama Safira karena karyawan Mama sudah balik mudik sedari jam 3 tadi sore.
Setelah salon tutup, aku bersiap-siap menuju Alun-alun Wates sekedar menemani Dika berjualan kembang Api hingga jam 12 malam.
Karena itu juga closingan sebelum Ramadhan berakhir, setelah menutup lapak, aku Dika dan 2 orang karyawan Dika kembali kerumah Simbah, untuk menghitung pendapatan hari itu.

Tidak lupa Dika memberikan THR dan juga gaji karyawannya karena sudah selama sebulan berjualan kembang api membantu nya.
Saat itu aku tertidur di ruang TV rumah simbah, dan baru terbangun subuh hari karena simbah membangunkan ku.
Aku dan Dika bersiap mengembalikanku kerumah orang tua ku karena hari itu adalah perayaan Hari Raya Idul Fitri.
Kami baru sampe jogja setengah 7 pagi, saat semua orang bersiap untuk solat ied, aku dan Dika baru masuk kerumah. Orang rumahku sudah pergi ke alun-alun kidul dimana kami biasa solat ied bersama seperti tahun-tahun sebelumnya.

Dan Dika langsung pamit untuk pulang lagi ke wates karena ya memang akan ada perayaan idul fitri di rumah simbah, saudara nya juga sudah berkumpul dari 3 hari yang lalu untuk merayakan idul fitri bersama simbah putri.
Aku pun juga punya tradisi jika hari raya idul fitri tiba pasti setelah solat ied, kami tidak lupa bermaaf-maafan dengan tetangga sekitar rumah karena setelah itu mereka akan mudik kedesa masing-masing, termasuk keluargaku pun.

Biasanya kami akan pergi ke makan untuk nyekar keluarga yang sudah di panggil Allah terlebih dahulu, dan barulah ritual bermaaf-maafan dimulai. Kebetulan simbahku adalah yang paling tua, sehingga jadi tempat kunjungan untuk keluarga yang lain.

*********
Cerita tentang salon aku bakal lanjutkan besok senin ya Gan, emoticon-Metal
profile-picture
profile-picture
profile-picture
g3nk_24 dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Lihat 4 balasan
Cinta Tanpa Restu Orangtua
25-10-2019 16:08
yeaaaay , di tunggu updatenya siiis emoticon-Cendol Gan
profile-picture
andrabedy memberi reputasi
1 0
1
Lihat 2 balasan
Cinta Tanpa Restu Orangtua
Lapor Hansip
26-10-2019 19:16
Balasan post wisdeee
Asyek neh.. tebar jala dlu ah...
0 0
0
Cinta Tanpa Restu Orangtua
26-10-2019 20:16
lanjuttttt
0 0
0
Cinta Tanpa Restu Orangtua
26-10-2019 22:42
Quote:Original Posted By chemongg
yeaaaay , di tunggu updatenya siiis emoticon-Cendol Gan


Quote:Original Posted By deawijaya13
Asyek neh.. tebar jala dlu ah...


Quote:Original Posted By harvey7
lanjuttttt


Yuhuuuu ashiaaap ditunggu besok senin ya aku update lagi gan.
Lagi ada kegiatan sekarang ini 😂
profile-picture
deawijaya13 memberi reputasi
1 0
1
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 15
Cinta Tanpa Restu Orangtua
27-10-2019 06:58
Cinta tak di restui cuy...
kimpoi larikk ayok
0 0
0
Lihat 1 balasan
Cinta Tanpa Restu Orangtua
27-10-2019 09:43
nunggu part lanjutanya aja ta
0 0
0
Lihat 1 balasan
Cinta Tanpa Restu Orangtua
27-10-2019 20:57
serasa mirip ceritaku dulu emoticon-Wakaka
0 0
0
Lihat 1 balasan
Cinta Tanpa Restu Orangtua
27-10-2019 23:00
saran ane mah gan.
nitip saham aja gan kecewenya .ntar juga di restuinemoticon-Ngakakemoticon-Ngakakemoticon-Ngakakemoticon-Ngakak
0 0
0
Lihat 1 balasan
Cinta Tanpa Restu Orangtua
28-10-2019 00:30
nice story...


mari kunjungi juga gansis hehhe

Kisah Pengorbanan Ibu Menunggu Anaknya Pulang Dan Berubah, Sedih Dan Bermakna
https://kask.us/iBSRK
0 0
0
Cinta Tanpa Restu Orangtua
Lapor Hansip
28-10-2019 08:12
Balasan post s.i.n.y.o
tunggu hari ini aku update ya gan
0 0
0
Cinta Tanpa Restu Orangtua
Lapor Hansip
28-10-2019 08:12
Balasan post sriwijayapuisis
Quote:Original Posted By sriwijayapuisis
nunggu part lanjutanya aja ta


tunggu hari ini aku update yak
profile-picture
sriwijayapuisis memberi reputasi
1 0
1
Cinta Tanpa Restu Orangtua
Lapor Hansip
28-10-2019 08:13
Balasan post desoel
Quote:Original Posted By desoel
serasa mirip ceritaku dulu emoticon-Wakaka


seriusan gan ? jangan jangan hahahah emoticon-Wakaka
0 0
0
Cinta Tanpa Restu Orangtua
Lapor Hansip
28-10-2019 08:14
Balasan post robbola
Quote:Original Posted By robbola
saran ane mah gan.
nitip saham aja gan kecewenya .ntar juga di restuinemoticon-Ngakakemoticon-Ngakakemoticon-Ngakakemoticon-Ngakak


BIG NO gan emoticon-Mewek
0 0
0
Cinta Tanpa Restu Orangtua
28-10-2019 13:12

Part 6 - IBUKU HEBAT !!!

Ibuku, adalah seorang wanita kuat yang aku tau.
She is my role model.

Jauh sebelum bulan ramadhan, saat itu Ibu ku baru saja kembali dari rumah simbahku, karena ada "rewang" di rumah buliknya ibuku.
Karena merasa kecapekan ibu ku bergegas pulang bersama dengan adikku yang paling kecil.
Aku dan adekku nomor 2 juga saat itu baru saja kembali dari rumah tanteku di Temanggung.

Ini hari Minggu, sekitar jam 3 sore, aku panik dan terkejut mendapati Ibuku terduduk lesu di pinggir kamar mandi yang pintunya sudah terbuka dengan darah yang keluar dan memenuhi lantai kamar mandi.
Nampak jelas diingatanku, darah berwarna gelap sebesar kepalan tangan orang dewasa keluar dari bagian kewanitaan ibuku, darah yang biasanya berbau anyir, ini darahnya berbau seperti busuk. Dan jika ku pegang darahnya, kenyal seperti tahu, tapi langsung hancur saat ku tekan seperti jelly.
Aku hanya tau, ibuku saat itu memang tengah menstruasi tetapi, anehnya ibuku mens sudah 1 bulan.
Kami hanya menduga oh ya bisa jadi itu penghabisan, sebelum ibu memasuki masa menopause.

Ibu pingsan saat itu, aku dan Bapak langsung bergegas membawa ibu ke rumah sakit terdekat dari rumah yaitu RS Jogja.
Kami langsung menuju ke ruang UGD, untuk saja saat itu tidak begitu ramai, sehingga ibu bisa langsung mendapatkan penanganan dari dokter jaga.
Ibu langsung diinfus, dan juga di tranfusi darah sebanyak 2 kantong, karena ibu sudah banyak kehilangan darah.

Sembari ibu menghabiskan kantong darah kedua, aku dan adikku mengurus ke bagian pendaftaran agar ibu bisa segera di pindahkan ke ruang inap.

Akhirnya Ibu dipindahkan ke ruang inap, yang jatah jaga hari itu adikku nomor 2 dan bapakku. Adikku masih libur sekolah, karena dia hanya tinggal menunggu wisuda SMA saja, sedangkan aku pagi hari ada jadwal kuliah.

Hari senin itu, dokter dan perawat mengecek kesehatan ibu, dan masih harus memerlukan transfusi darah 2 kantong lagi, untung saja persediaan di RS itu masih mencukupi.
Dan lagi, Ibu juga harus di cek secara keseluruhan untuk memastikan penyakit itu.

Awal diagnosa ibu hanya di duga karena stress sehingga mens selama sebulan. Tetapi dari pihak dokter masih belum meyakini sebenarnya penyakit apa yang ada di tubuh ibuku.
Memasuki minggu ke dua ibuku dirawat barulah hasil lab darah dan urin ibuku diketahui.

Mutiara : Mbak dimana ?
Dinta : Lagi di tempat Dika, Ibu gimana ? hasilnya udah keluar ?
Mutiara : Udah mbak, tapi mbak jangan kaget ya.
Dinta : Lha ibu sakit apa, ibu baik-baik saja kan ?
Mutiara : Ibu ora baik-baik saja mbak. Dokter baru saja menginfokan kalo ibu sakit Kanker Serviks stadium 1B. Dan anehnya si dokter itu, nginfo nya ke keluarga didepan pasien. Jadine ibu sekarang kritis mbak, shock, nangis terus.


Tangis ku pecah seketika, semakin menjadi setelah membaca lagi isi pesan adikku. Dika yang saat itu baru masuk ke kamar, bingung mendapati ku sedang menangis di salah satu sisi kasurnya. Menghampiri ku dan langsung memelukku erat tanpa bertanya apapun. Sampai aku reda menangisnya, barulah dia bertanya ada apa. Mataku sudah sembab dan bengkak, ku sodorkan HP ku agar Dika bisa membaca sendiri isi pesan adikku.

Tidak lama setelah tangisku reda, langsung aku berpamitan untuk kembali ke rumah sakit.
Selama 1 bulan masa perawatan ibuku, kami bershift ganti-ganti an untuk menjaga ibu.
Aku ada sedikit ketakutan dengan darah, Ibu ku tau, sehingga jika saat memandikan Ibu, ibu menyuruh suster saja yang melakukan.
Tapi lama kelamaan karena sudah terbiasa ya akhirnya aku berani juga. Walaupun masih ada sedikit rasa takutnya.

Genap 1 bulan ibu ku dirawat di RS. Akhirnya hari itu ibu bisa kami bawa pulang dan bisa tidur di rumah lagi.
Ibu ku masih terlihat segar bugar, karena memang ibuku terbilang gemuk, waktu pertama kali masuk ke RS berat badan ibu ku 85 kg. 1 minggu di RS, turun 5 kg, 2 minggu di RS turun lagi 5 kg, dan setelah 1 bulan dirawat ibuku sekarang berbobot 78 kg. Masih cukup berisi. Karena ya aku berterima kasih kepada kantong darah yang sudah di transfusikan ke Ibu ku. Siapapun pendonornya aku sampaikan terimakasih. Karena sungguh, kalian menyelamatkan banyak sekali nyawa yang tengah membutuhkan darah.

Sepulang dari RS, ibuku masih bisa melanjutkan aktivitasnya seperti biasa. Tetapi sudah tidak kami ijinkan untuk mengendarai motor sendiri, takut terjadi apa-apa dijalan.

Ibu ku hanya menghabiskan waktu dirumah, memasak, menonton tv.
Kami juga tidak mengijinkan Ibu untuk melakukan pekerjaan berat setelah pulang dari RS.

Sampai suatu hari, ketika ibuku tengah menonton TV di kamar, mendapati berita artis Jupe tengah sakit kanker yang sama dengan Ibu ku tetapi masih stadium 1A.

Ibu ku langsung drop, dan kami pun membawa ibu ke rumah sakit lagi. Padahal ibu baru 1 minggu dirumah. Dan akhirnya ibu harus mondok lagi di RS.

Setelah di cek lagi ke lab, ternyata stadium ibu sudah bertambah. Dari 1B ke 2B, seketika langsung shock lah kami mendengar penjelasan dokter. Tetapi kali ini, dokter menyampaikannya tidak didepan pasien langsung, sehingga hanya bapak dan aku yang tau. Saat diinformasikan hal itu, kami pun diberi unjuk oleh dokter penyakit apa sih yang menyerang ibuku.

Dari hasil lab, ada sebuah foto yang menunjukkan jika di jalan rahim ibu ku itu ada sebuah lubang semacam sariawan berdiameter kurang lebih 3-4 cm.
Dan lagi kali ini ibuku ada komplikasi dengan ambeien. Sehingga mau tidak mau harus di operasi, tetapi tentu saja harus menunggu sampai ibuku benar benar kondisinya fit untuk dilakukan operasi.

Kami hanya berpasrah saja saat itu. Dan lagi saat itu seluruh biaya di tanggung mandiri karena kami belum memiliki asuransi BPJS.
Selama kurang lebih 1 tahun awal ibu ku sakit, berpindah pindah rumah sakit dari mulai RS Jogja, RS Hidayatullah, RS Bethesda, RS Panti Rapih, RS Sardjito, dan RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.

Selama 1 tahun awal ibuku menderita sakit kanker, kami harus ikut juga mondar mandir dari 1 rumah sakit ke rumah sakit. Sampai kurang lebih saat ibuku sudah dirawat lebih dari 1 tahun.

Kami sudah merasa sedikit merasa wah ibu sudah sehat ini, karena badan ibuku sudah terlihat menggemuk dibagian wajahnya dan kaki. Tetapi ada keluhan dari ibuku, saat itu ibuku susah untuk buang air kecil, Jadilah kami segera bawa ibu ke RS lagi untuk di periksa apa ada yang salah dengan ibuku.

Saat itu sangat jelas diingatan ku, hari itu giliran ku berjaga ibu, yang akan melakukan operasi di RS Sardjito.
Dari ruang inap ibuku dibawa oleh suster menuju ruang operasi di lantai paling atas gedung itu.
Aku mengantarkan ibu sampai masuk ke ruang operasi. Aku menatap ibuku, ibu ku memanggilku untuk sedikit mendekat, karena dokter belum masuk ke ruangan itu.

Ibu : Mbak, ibu takut e.
Dinta : Ndak usah takut bu, nggak apa-apa. Ibu nanti bisa sehat lagi kok. Aku keluar ya bu, dokter e sudah dateng itu.


Keluar ruangan itu dengan berat hati, tangis yang sempat ku tahan saat didalam ruangan itu, akhirnys pecah juga saat aku berjalan melewati koridor ruang operasi yang sangat sepi tidak ada orang disana,
Aku hanya menangis sendiri sesenggukan di pojokan ruangan, sambil menunggu ibuku selesai di operasi, sambil berdoa agar semua nya berjalan dengan baik.

Kurang lebih 1 jam setelahnya ruang operasi terbuka, dan kulihat ibuku sudah siap didorong dengan bed RS nya untuk kembali ke ruang inap. Ada yang berbeda dengan tubuh ibu saat itu, karena ada 2 selang yang menempel di pinggang kanan dan kiri ibuku.
Ya benar, ibu ku dipasang selang kateter apa ya namanya untuk membantu ibuku buang air kecil. Karena ibu mengalami komplikasi penyakit gagal ginjal.

Hati anak mana yang tidak hancur saat seorang ibu yang sangat di sayangi menderita begitu banyak penyakit. Kami hanya berpasrah.
Dan untunglah saat ini kami sudah ikut asuransi BPJS ya, itu sangat meringankan beban kami terutama biaya perawatan dan pengobatan ibuku.

Ibu ku sering mengeluh karena baju yang dipakai selalu saja basah oleh pipisnya. Karena selang yang menempel ditubuhnya tidak cukup untuk menahan aliran pipisnya. Sehingga kami disarankan untuk memakaikan ibu popok dewasa.
Itu adalah antisipasi dari pipis yang tidak akan banyak merembes ke baju, juga untuk darah yang masih saja keluar dari bagian wanita ibu ku.
Dan saat ini, darah yang keluar masih banyak dengan kondisi yang tidak lebih baik dari saat pertama kali ibuku dinyatakan kanker. Tetapi bau menyengat busuk semakin mengganggu hidung, saat giliran harus memandikan ibuku.
Harus kami tahan, ya karena takut menyinggung ibuku saat itu yang sudah mulai setres dengan penyakitnya.

Bayangkan saja, ketika ibu sudah pulang kerumah, setiap malam ibuku pasti akan begadang, menangis dan menarik rambutnya sendiri.
Tak jarang aku mendapati rambut ibuku sudah botak disana sini karena ditarik sendiri oleh ibuku. Ibu hanya selalu mengatakan, mbak pusing banget mbak ibu tuh. Sambil narik rambut, dan dengan refleks ku tarik tangan ibuku agar tidak lagi menyakiti dirinya sendiri.

Ibu ku pun juga menjalani proses kemoterapi, beliau selalu cerita, mbak kalo ibu habis kemo tuh rasanya badan enak gitu. Oh iya jadwal kemoterapi ibuku setiap hari selasa dan kamis di rumah sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta.

Berat badan ibuku sekarang 58 kg, dalam waktu kurang lebih 1,5 tahun sudah menggerogoti beran badan ibuku sedemikian rupa.

Tahun itu sudah tahun 2015.
Aku sudah tidak banyak berjalan-jalan seperti biasanya karena memang kondisi ibuku dan keuangan yang masih belum stabil.
Hari itu, ketika kami menemani ibuku menonton TV diruang keluarga, ada sebuah pesan dari adiknya Ibu ku.

Mbak Lestari : Mbak Dinta, mau ngabari. Simbah putri meninggal, ini baru otw dari RS Wirosaban/Jogja.
Dinta : Innalilahi wa innalilahi rojiun.


Aku menghampiri ibuku, mengajaknya bicara untuk bersiap-siap segera.
Hari itu kami bersiap untuk kerumah simbahku. Karena rencananya almarhumah simbah putri akan dimakamkan esok hari jam 2 siang.Ibuku hanya terdiam, sambil mengangguk saja ketika aku boncengkan dengan motorku.Matanya hanya menerawang jauh, karena saat simbah putri ku sakit, ibuku tidak sempat dikabari, karena pihak keluarga besar takut jika kondisi ibuku drop lagi.

Hari itu ibuku sesampainya dirumah simbah ku, hanya memandang keranda jenasah diruang tamu milik simbah, dan sekeliling sudah ramai warga sekedar melayat atau kalo disini ada tradisi menyiapkan untuk pemakaman besok, seperti nisan, bunga dll.

Ibuku hebat saat itu, tidak sekalipun ku lihat menitikkan air mata. Meski aku tau dia banyak merasakan kepedihan ketika ibunya meninggalkan dia, dengan kondisi sakit. Simbah putri meninggal karena sesak nafas, dan sempat di rawat di RS tetapi takdir berkata lain.
Ibu hanya berbaring di rumah simbah ku yang lain, kebetulan karena sebelah rumah masih keluarga. Ibuku tiduran disana, banyak keluarga yang ingin bertemu dengan ibu berbasa-basi dengan menanyakan kabar. Dan ibuku dengan tetap tersenyum hanya menjawab. Aku sehat kok, lihat kan. Cuma ya hanya pusing saja.

Hari pemakaman pun ramai dihadiri tetangga, keluarga dan juga rekan rekan atau teman dari keluarga kami.
Tidak terkecuali ibu dari bapakku pun juga turut hadir saat pemakaman besannya. Hal yang sangat jarang aku temui ketika kedua besar keluarga ku saling bertemu.

Tiga hari setelah peristiwa meninggalnya simbah putri dari Ibu ku, kami pun mendapat kabar dari adik perempuan bapakku.
Yang siang itu terengah-engah datang ke rumah ku untuk membawa kabar duka. Simbah putri dari bapakku hari itu menghembuskan nafas terakhirnya di perjalanan menuju rumah sakit karena sesak nafas. Oh Tuhan ada apa lagi ini.

Kami pun berangkat ke rumah simbah putri ku di daerah Gunung Sempu, anehnya di sana kalo ada yang meninggal dan berbeda agama maka tetangga tidak akan ada yang ikut melayat. Aku juga heran kenapa bisa begitu.
Jadi seluruh rangkaian proses pemakaman hanya dilakukan oleh keluarga sendiri, dengan dibantu oleh warga non muslim.
Keluarga ayahku memang bukan muslim, mbah kakung dan mbah putri berkeyakinan Katolik, tetapi anak-anaknya berkeyakinan muslim. Tetapi kami hidup damai tanpa memandang perbedaan keyakinan ini.
Malah dulunya aku ketika kecil pernah diajak mbah kakung ke gereja Pugeran.

Ibu ku dengan hebatnya saat itu ikut ke rumah simbah, tetapi tidak sampai prosesi pemakaman karena sudah tidak kuat. Ibu pulang terlebih dahulu.

Satu minggu kemudian, kami mendapat kabar dari adik perempuan ibuku lagi jika Mbah Bambang (adik kedua simbah kakungku) meninggal dunia.

Rasanya tahun ini seperti tahun kehilangan. Banyak sekali keluarga dekatku yang meninggal. Bahkan berjarak tidak begitu lama.

***************
16 Oktober 2015

Hari itu adik Bapakku yang ada di Lampung datang, setelah 2 tahun tidak berkunjung ke Jogja. Dan hanya mendengan kabar tentang ibuku via telpon saja. Dia Om Mahfud.
Om Mahfud baru datang hari sabtunya, karena hari itu kami mengadakan yasinan untuk mendoakan ibuku agar lekas sehat. Keluarga dan tetangga datang untuk mendoakan ibuku.
Malam itu setelah berpamitan, Om Mahfud juga sekalian berpamitan ke Ibuku karena dia harus segera kembali ke Lampung.

Kami pun sempat berfoto-foto sebentar dengan formasi ada keluarga lengkap, dan ada simbah kakung dan om Mahfud.
Itu adalah kali terakhir foto keluarga kami.

Cinta Tanpa Restu Orangtua

Karena kurang lebih 1 jam dari Om Mahfud berpamitan, ibu ku kondisinya drop dan harus dibawa ke rumah sakit. Hari itu kami memutuskan masuk ke rumah sakit PKU Yogyakarta.

Ibu dirawat di RS PKU Muhammadiyah menunjukkan kondisi yang tidak bisa dikatakan membaik. Makan hanya 3 suap sudah, minum hanya sedikit sekali. Sungguh mengenaskan rasanya.
Dari berat badan ibu 85 kg sekarang hanya tersisa 47kg saja. Hanya meninggalkan tulang dan kulit ku rasa.

***********************
25 Oktober 2015

Hari Minggu itu, aku seperti biasa berjualan di sunmor UGM dari jam 5 pagi sampai jam 13.00
Sepulang dari Sunmor, biasanya aku akan segera tidur sebentar sembari merebahkan punggung lelah berjualan. Anehnya aku sama sekali tidak bisa tidur, aku lihat HP ku sudah berbunyi dari tadi. Karena adekku mau pulang, saat ini jatah ku untuk menjaga ibu di RS.
Sekitar pukul 17.00 aku baru sampai di RS, karena aku butuh istirahat sebentar, adekku segera pulang. Sebelum aku pulang, aku sempat bertanya ke adekku.

Aku : Dek, ini rumah sakit kok kayak bau batang yo.
Mutiara : Iyaa, sedari siang bau nya begini. Nggak enak banget. Yawes aku tak pulang sek
Aku : Oke. Ati-ati


Sepeninggal adekku, aku bertanya ke ibuku.

Aku : Bu, sudah maem ?

Tidak ada sahutan. Hanya anggukan kecil yang menandakan ibu sudah makan.
Selepas isya, ibuku sudah tertidur pulas dengan dengkuran keras.
Aku sedikit merasa lega karena akhirnya untuk kesekian kalinya ibuku bisa tertidur dengan pulas.
Saat suster datang untuk mengecek kondisi ibu. Ibu sampe tidak terbangun.

Kira-kira itu sudah pukul 10.00 malam, aku tidak sengaja aku memegang kaki ibuku..
Dingin sekali, aku ambil minyak kayu putih untuk ku balurkan di kaki ibuku. Mungkin ibuku kedinginan, dan ku ambil selimut yang biasa kami bawa dari rumah, untuk ku tutupkan ke ibu agar tidak kedinginan.

Setelah itu, aku melanjutkan membaca komik online di w*btoon. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 00.00 WIB. Aku pegang kaki ibuku masih dingin, aku ambil lagi minyak kayu putih untuk kubalurkan lagi ke kaki ibu.

Aku cek tangan ibu juga dingin. Ibu sudah tidak mendengkur sekeras tadi, aku mulai curiga ketika tidak ada pergerakan dada ibu menandakan ibu bernafas.
Ku dekatkan wajahku ke arah hidung ibu, untuk sekali saja berharap jika firasatku tidak benar. Ku cek nadi ibu di bawah telinga, tidak ada pergerakan sama sekali.
Aku sempat mengabari Dika saat itu.

Dinta : Yang, ibu kok ndak nafas ya ?
Dika : Coba panggil dokter aja.
Dinta : Ya sek sebentar.

Aku bingung harus apa, sambil terisak tanpa suara, aku keluar ruangan ibu, seakan mau telpon orang dirumah. Tetapi batal ku lakukan, aku masuk kamar ibu lagi, menangis lebih menjadi, tanpa tahu harus berbuat apa. Hingga akhirnya ada tetangga sebelah yang sedang dirawat membaca ayat suci Al-Quran, aku tidak tahu apa yang dia bacakan. Hanya firasatku mengatakan aku harus melakukan hal itu.

Aku dekati ibuku perlahan, ku tuntun ibuku untuk membaca "La illaha illah mohammadar rosullullah 3x" ajaibnya ibuku seakan mengerti maksudku, bibirnya perlahan bergerak mengikuti suaraku. Hingga akhirnya ibuku meninggal dunia dihadapanku. Ku tutup mata ibuku perlahan, baru aku keluar lagi memanggil suster dan dokter yang tengah berjaga saat itu sambil tangan gemetaran menelpon orang rumah untuk segera datang kerumah sakit.
Jelas diingatanku saat itu jam 00.30 WIB tangga; 26 Oktober 2015.
Aku menangis sejadi-jadinya di ruangan ibuku. Sampai akhirnya ibu ku di pindahkan ke ruang jenazah, aku menunggu diluar kamar jenazah menangis tersedu-sedu sendirian. Berharap ada keluarga yang akan segera datang.

Yang pertama ku kabari adalah Dika, karena saat itu dia juga belum tidur.
Aku masih mencoba menelpon orang rumah tetapi tidak ada jawaban. Akhirnya ku putuskan telpon ke adik perempuan ibuku. Dan diangkat. aku lega sekali saat itu.

Sekitar pukul 02.00 WIB barulah ayahku, adekku, dan juga suami dari adiknya ibuku datang ke rumah sakit. Kami langsung membawa jenazah ibuku ke rumah simbah kakung karena itu permintaan ibuku jika meninggal ingin dimakamkan dekat dengan ibunya.

Subuh hari ibuku sudah dimandikan, dan akan dimakamkan rencananya jam 2 siang. Semua sudah di persiapkan.
Jam 9 pagi Dika baru datang kerumah simbahku. Dia datang sendirian.
Aku masih sibuk menyapa para tamu yang datang, tidak ku sangka yang datang banyak sekali orang. MashaAllah. Hingga sekitar pukul 12.00 Mama Safira datang, keluar dari mobil, Mama langsung memelukku erat sekali, sambal beliau yang menangis, setelah ibuku dimandikan aku memang tidak menangis lagi. Takutnya ibuku merasa terbebani jika ada anaknya yang tidak rela ditinggal ibunya meninggal. Teman-teman kuliah ku dan juga adekku datang semua saat itu.

Saat prosesi pemakaman tiba, aku ikut sampai ke liang lahat untuk sekedar mengantarkan ibuku ke peristirahatan terakhirnya.

*********
Ibuku, mungkin tidak akan pernah membaca tulisan ini.
Tetapi dia akan selalu tau, jika kami sungguh menyayangi ibuku dengan begitu sangat.

Karena setelah kepergian ibu, kembali kerumah seperti tidak ada tujuan.
Hanya sekedar pulang, tidur, pergi lagi. Rumah tidak bernyawa.

Home is not Home, without mom inside.
emoticon-Mewek emoticon-Mewek emoticon-Mewek emoticon-Mewek emoticon-Mewek
Diubah oleh wisdeee
profile-picture
profile-picture
profile-picture
g3nk_24 dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Cinta Tanpa Restu Orangtua
28-10-2019 20:43
Quote:Original Posted By wisdeee
Ibuku, adalah seorang wanita kuat yang aku tau.
She is my role model.

Jauh sebelum bulan ramadhan, saat itu Ibu ku baru saja kembali dari rumah simbahku, karena ada "rewang" di rumah buliknya ibuku.
Karena merasa kecapekan ibu ku bergegas pulang bersama dengan adikku yang paling kecil.
Aku dan adekku nomor 2 juga saat itu baru saja kembali dari rumah tanteku di Temanggung.

Ini hari Minggu, sekitar jam 3 sore, aku panik dan terkejut mendapati Ibuku terduduk lesu di pinggir kamar mandi yang pintunya sudah terbuka dengan darah yang keluar dan memenuhi lantai kamar mandi.
Nampak jelas diingatanku, darah berwarna gelap sebesar kepalan tangan orang dewasa keluar dari bagian kewanitaan ibuku, darah yang biasanya berbau anyir, ini darahnya berbau seperti busuk. Dan jika ku pegang darahnya, kenyal seperti tahu, tapi langsung hancur saat ku tekan seperti jelly.
Aku hanya tau, ibuku saat itu memang tengah menstruasi tetapi, anehnya ibuku mens sudah 1 bulan.
Kami hanya menduga oh ya bisa jadi itu penghabisan, sebelum ibu memasuki masa menopause.

Ibu pingsan saat itu, aku dan Bapak langsung bergegas membawa ibu ke rumah sakit terdekat dari rumah yaitu RS Jogja.
Kami langsung menuju ke ruang UGD, untuk saja saat itu tidak begitu ramai, sehingga ibu bisa langsung mendapatkan penanganan dari dokter jaga.
Ibu langsung diinfus, dan juga di tranfusi darah sebanyak 2 kantong, karena ibu sudah banyak kehilangan darah.

Sembari ibu menghabiskan kantong darah kedua, aku dan adikku mengurus ke bagian pendaftaran agar ibu bisa segera di pindahkan ke ruang inap.

Akhirnya Ibu dipindahkan ke ruang inap, yang jatah jaga hari itu adikku nomor 2 dan bapakku. Adikku masih libur sekolah, karena dia hanya tinggal menunggu wisuda SMA saja, sedangkan aku pagi hari ada jadwal kuliah.

Hari senin itu, dokter dan perawat mengecek kesehatan ibu, dan masih harus memerlukan transfusi darah 2 kantong lagi, untung saja persediaan di RS itu masih mencukupi.
Dan lagi, Ibu juga harus di cek secara keseluruhan untuk memastikan penyakit itu.

Awal diagnosa ibu hanya di duga karena stress sehingga mens selama sebulan. Tetapi dari pihak dokter masih belum meyakini sebenarnya penyakit apa yang ada di tubuh ibuku.
Memasuki minggu ke dua ibuku dirawat barulah hasil lab darah dan urin ibuku diketahui.

Mutiara : Mbak dimana ?
Dinta : Lagi di tempat Dika, Ibu gimana ? hasilnya udah keluar ?
Mutiara : Udah mbak, tapi mbak jangan kaget ya.
Dinta : Lha ibu sakit apa, ibu baik-baik saja kan ?
Mutiara : Ibu ora baik-baik saja mbak. Dokter baru saja menginfokan kalo ibu sakit Kanker Serviks stadium 1B. Dan anehnya si dokter itu, nginfo nya ke keluarga didepan pasien. Jadine ibu sekarang kritis mbak, shock, nangis terus.


Tangis ku pecah seketika, semakin menjadi setelah membaca lagi isi pesan adikku. Dika yang saat itu baru masuk ke kamar, bingung mendapati ku sedang menangis di salah satu sisi kasurnya. Menghampiri ku dan langsung memelukku erat tanpa bertanya apapun. Sampai aku reda menangisnya, barulah dia bertanya ada apa. Mataku sudah sembab dan bengkak, ku sodorkan HP ku agar Dika bisa membaca sendiri isi pesan adikku.

Tidak lama setelah tangisku reda, langsung aku berpamitan untuk kembali ke rumah sakit.
Selama 1 bulan masa perawatan ibuku, kami bershift ganti-ganti an untuk menjaga ibu.
Aku ada sedikit ketakutan dengan darah, Ibu ku tau, sehingga jika saat memandikan Ibu, ibu menyuruh suster saja yang melakukan.
Tapi lama kelamaan karena sudah terbiasa ya akhirnya aku berani juga. Walaupun masih ada sedikit rasa takutnya.

Genap 1 bulan ibu ku dirawat di RS. Akhirnya hari itu ibu bisa kami bawa pulang dan bisa tidur di rumah lagi.
Ibu ku masih terlihat segar bugar, karena memang ibuku terbilang gemuk, waktu pertama kali masuk ke RS berat badan ibu ku 85 kg. 1 minggu di RS, turun 5 kg, 2 minggu di RS turun lagi 5 kg, dan setelah 1 bulan dirawat ibuku sekarang berbobot 78 kg. Masih cukup berisi. Karena ya aku berterima kasih kepada kantong darah yang sudah di transfusikan ke Ibu ku. Siapapun pendonornya aku sampaikan terimakasih. Karena sungguh, kalian menyelamatkan banyak sekali nyawa yang tengah membutuhkan darah.

Sepulang dari RS, ibuku masih bisa melanjutkan aktivitasnya seperti biasa. Tetapi sudah tidak kami ijinkan untuk mengendarai motor sendiri, takut terjadi apa-apa dijalan.

Ibu ku hanya menghabiskan waktu dirumah, memasak, menonton tv.
Kami juga tidak mengijinkan Ibu untuk melakukan pekerjaan berat setelah pulang dari RS.

Sampai suatu hari, ketika ibuku tengah menonton TV di kamar, mendapati berita artis Jupe tengah sakit kanker yang sama dengan Ibu ku tetapi masih stadium 1A.

Ibu ku langsung drop, dan kami pun membawa ibu ke rumah sakit lagi. Padahal ibu baru 1 minggu dirumah. Dan akhirnya ibu harus mondok lagi di RS.

Setelah di cek lagi ke lab, ternyata stadium ibu sudah bertambah. Dari 1B ke 2B, seketika langsung shock lah kami mendengar penjelasan dokter. Tetapi kali ini, dokter menyampaikannya tidak didepan pasien langsung, sehingga hanya bapak dan aku yang tau. Saat diinformasikan hal itu, kami pun diberi unjuk oleh dokter penyakit apa sih yang menyerang ibuku.

Dari hasil lab, ada sebuah foto yang menunjukkan jika di jalan rahim ibu ku itu ada sebuah lubang semacam sariawan berdiameter kurang lebih 3-4 cm.
Dan lagi kali ini ibuku ada komplikasi dengan ambeien. Sehingga mau tidak mau harus di operasi, tetapi tentu saja harus menunggu sampai ibuku benar benar kondisinya fit untuk dilakukan operasi.

Kami hanya berpasrah saja saat itu. Dan lagi saat itu seluruh biaya di tanggung mandiri karena kami belum memiliki asuransi BPJS.
Selama kurang lebih 1 tahun awal ibu ku sakit, berpindah pindah rumah sakit dari mulai RS Jogja, RS Hidayatullah, RS Bethesda, RS Panti Rapih, RS Sardjito, dan RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.

Selama 1 tahun awal ibuku menderita sakit kanker, kami harus ikut juga mondar mandir dari 1 rumah sakit ke rumah sakit. Sampai kurang lebih saat ibuku sudah dirawat lebih dari 1 tahun.

Kami sudah merasa sedikit merasa wah ibu sudah sehat ini, karena badan ibuku sudah terlihat menggemuk dibagian wajahnya dan kaki. Tetapi ada keluhan dari ibuku, saat itu ibuku susah untuk buang air kecil, Jadilah kami segera bawa ibu ke RS lagi untuk di periksa apa ada yang salah dengan ibuku.

Saat itu sangat jelas diingatan ku, hari itu giliran ku berjaga ibu, yang akan melakukan operasi di RS Sardjito.
Dari ruang inap ibuku dibawa oleh suster menuju ruang operasi di lantai paling atas gedung itu.
Aku mengantarkan ibu sampai masuk ke ruang operasi. Aku menatap ibuku, ibu ku memanggilku untuk sedikit mendekat, karena dokter belum masuk ke ruangan itu.

Ibu : Mbak, ibu takut e.
Dinta : Ndak usah takut bu, nggak apa-apa. Ibu nanti bisa sehat lagi kok. Aku keluar ya bu, dokter e sudah dateng itu.


Keluar ruangan itu dengan berat hati, tangis yang sempat ku tahan saat didalam ruangan itu, akhirnys pecah juga saat aku berjalan melewati koridor ruang operasi yang sangat sepi tidak ada orang disana,
Aku hanya menangis sendiri sesenggukan di pojokan ruangan, sambil menunggu ibuku selesai di operasi, sambil berdoa agar semua nya berjalan dengan baik.

Kurang lebih 1 jam setelahnya ruang operasi terbuka, dan kulihat ibuku sudah siap didorong dengan bed RS nya untuk kembali ke ruang inap. Ada yang berbeda dengan tubuh ibu saat itu, karena ada 2 selang yang menempel di pinggang kanan dan kiri ibuku.
Ya benar, ibu ku dipasang selang kateter apa ya namanya untuk membantu ibuku buang air kecil. Karena ibu mengalami komplikasi penyakit gagal ginjal.

Hati anak mana yang tidak hancur saat seorang ibu yang sangat di sayangi menderita begitu banyak penyakit. Kami hanya berpasrah.
Dan untunglah saat ini kami sudah ikut asuransi BPJS ya, itu sangat meringankan beban kami terutama biaya perawatan dan pengobatan ibuku.

Ibu ku sering mengeluh karena baju yang dipakai selalu saja basah oleh pipisnya. Karena selang yang menempel ditubuhnya tidak cukup untuk menahan aliran pipisnya. Sehingga kami disarankan untuk memakaikan ibu popok dewasa.
Itu adalah antisipasi dari pipis yang tidak akan banyak merembes ke baju, juga untuk darah yang masih saja keluar dari bagian wanita ibu ku.
Dan saat ini, darah yang keluar masih banyak dengan kondisi yang tidak lebih baik dari saat pertama kali ibuku dinyatakan kanker. Tetapi bau menyengat busuk semakin mengganggu hidung, saat giliran harus memandikan ibuku.
Harus kami tahan, ya karena takut menyinggung ibuku saat itu yang sudah mulai setres dengan penyakitnya.

Bayangkan saja, ketika ibu sudah pulang kerumah, setiap malam ibuku pasti akan begadang, menangis dan menarik rambutnya sendiri.
Tak jarang aku mendapati rambut ibuku sudah botak disana sini karena ditarik sendiri oleh ibuku. Ibu hanya selalu mengatakan, mbak pusing banget mbak ibu tuh. Sambil narik rambut, dan dengan refleks ku tarik tangan ibuku agar tidak lagi menyakiti dirinya sendiri.

Ibu ku pun juga menjalani proses kemoterapi, beliau selalu cerita, mbak kalo ibu habis kemo tuh rasanya badan enak gitu. Oh iya jadwal kemoterapi ibuku setiap hari selasa dan kamis di rumah sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta.

Berat badan ibuku sekarang 58 kg, dalam waktu kurang lebih 1,5 tahun sudah menggerogoti beran badan ibuku sedemikian rupa.

Tahun itu sudah tahun 2015.
Aku sudah tidak banyak berjalan-jalan seperti biasanya karena memang kondisi ibuku dan keuangan yang masih belum stabil.
Hari itu, ketika kami menemani ibuku menonton TV diruang keluarga, ada sebuah pesan dari adiknya Ibu ku.

Mbak Lestari : Mbak Dinta, mau ngabari. Simbah putri meninggal, ini baru otw dari RS Wirosaban/Jogja.
Dinta : Innalilahi wa innalilahi rojiun.


Aku menghampiri ibuku, mengajaknya bicara untuk bersiap-siap segera.
Hari itu kami bersiap untuk kerumah simbahku. Karena rencananya almarhumah simbah putri akan dimakamkan esok hari jam 2 siang.Ibuku hanya terdiam, sambil mengangguk saja ketika aku boncengkan dengan motorku.Matanya hanya menerawang jauh, karena saat simbah putri ku sakit, ibuku tidak sempat dikabari, karena pihak keluarga besar takut jika kondisi ibuku drop lagi.

Hari itu ibuku sesampainya dirumah simbah ku, hanya memandang keranda jenasah diruang tamu milik simbah, dan sekeliling sudah ramai warga sekedar melayat atau kalo disini ada tradisi menyiapkan untuk pemakaman besok, seperti nisan, bunga dll.

Ibuku hebat saat itu, tidak sekalipun ku lihat menitikkan air mata. Meski aku tau dia banyak merasakan kepedihan ketika ibunya meninggalkan dia, dengan kondisi sakit. Simbah putri meninggal karena sesak nafas, dan sempat di rawat di RS tetapi takdir berkata lain.
Ibu hanya berbaring di rumah simbah ku yang lain, kebetulan karena sebelah rumah masih keluarga. Ibuku tiduran disana, banyak keluarga yang ingin bertemu dengan ibu berbasa-basi dengan menanyakan kabar. Dan ibuku dengan tetap tersenyum hanya menjawab. Aku sehat kok, lihat kan. Cuma ya hanya pusing saja.

Hari pemakaman pun ramai dihadiri tetangga, keluarga dan juga rekan rekan atau teman dari keluarga kami.
Tidak terkecuali ibu dari bapakku pun juga turut hadir saat pemakaman besannya. Hal yang sangat jarang aku temui ketika kedua besar keluarga ku saling bertemu.

Tiga hari setelah peristiwa meninggalnya simbah putri dari Ibu ku, kami pun mendapat kabar dari adik perempuan bapakku.
Yang siang itu terengah-engah datang ke rumah ku untuk membawa kabar duka. Simbah putri dari bapakku hari itu menghembuskan nafas terakhirnya di perjalanan menuju rumah sakit karena sesak nafas. Oh Tuhan ada apa lagi ini.

Kami pun berangkat ke rumah simbah putri ku di daerah Gunung Sempu, anehnya di sana kalo ada yang meninggal dan berbeda agama maka tetangga tidak akan ada yang ikut melayat. Aku juga heran kenapa bisa begitu.
Jadi seluruh rangkaian proses pemakaman hanya dilakukan oleh keluarga sendiri, dengan dibantu oleh warga non muslim.
Keluarga ayahku memang bukan muslim, mbah kakung dan mbah putri berkeyakinan Katolik, tetapi anak-anaknya berkeyakinan muslim. Tetapi kami hidup damai tanpa memandang perbedaan keyakinan ini.
Malah dulunya aku ketika kecil pernah diajak mbah kakung ke gereja Pugeran.

Ibu ku dengan hebatnya saat itu ikut ke rumah simbah, tetapi tidak sampai prosesi pemakaman karena sudah tidak kuat. Ibu pulang terlebih dahulu.

Satu minggu kemudian, kami mendapat kabar dari adik perempuan ibuku lagi jika Mbah Bambang (adik kedua simbah kakungku) meninggal dunia.

Rasanya tahun ini seperti tahun kehilangan. Banyak sekali keluarga dekatku yang meninggal. Bahkan berjarak tidak begitu lama.

***************
16 Oktober 2015

Hari itu adik Bapakku yang ada di Lampung datang, setelah 2 tahun tidak berkunjung ke Jogja. Dan hanya mendengan kabar tentang ibuku via telpon saja. Dia Om Mahfud.
Om Mahfud baru datang hari sabtunya, karena hari itu kami mengadakan yasinan untuk mendoakan ibuku agar lekas sehat. Keluarga dan tetangga datang untuk mendoakan ibuku.
Malam itu setelah berpamitan, Om Mahfud juga sekalian berpamitan ke Ibuku karena dia harus segera kembali ke Lampung.

Kami pun sempat berfoto-foto sebentar dengan formasi ada keluarga lengkap, dan ada simbah kakung dan om Mahfud.
Itu adalah kali terakhir foto keluarga kami.

Cinta Tanpa Restu Orangtua

Karena kurang lebih 1 jam dari Om Mahfud berpamitan, ibu ku kondisinya drop dan harus dibawa ke rumah sakit. Hari itu kami memutuskan masuk ke rumah sakit PKU Yogyakarta.

Ibu dirawat di RS PKU Muhammadiyah menunjukkan kondisi yang tidak bisa dikatakan membaik. Makan hanya 3 suap sudah, minum hanya sedikit sekali. Sungguh mengenaskan rasanya.
Dari berat badan ibu 85 kg sekarang hanya tersisa 47kg saja. Hanya meninggalkan tulang dan kulit ku rasa.

***********************
25 Oktober 2015

Hari Minggu itu, aku seperti biasa berjualan di sunmor UGM dari jam 5 pagi sampai jam 13.00
Sepulang dari Sunmor, biasanya aku akan segera tidur sebentar sembari merebahkan punggung lelah berjualan. Anehnya aku sama sekali tidak bisa tidur, aku lihat HP ku sudah berbunyi dari tadi. Karena adekku mau pulang, saat ini jatah ku untuk menjaga ibu di RS.
Sekitar pukul 17.00 aku baru sampai di RS, karena aku butuh istirahat sebentar, adekku segera pulang. Sebelum aku pulang, aku sempat bertanya ke adekku.

Aku : Dek, ini rumah sakit kok kayak bau batang yo.
Mutiara : Iyaa, sedari siang bau nya begini. Nggak enak banget. Yawes aku tak pulang sek
Aku : Oke. Ati-ati


Sepeninggal adekku, aku bertanya ke ibuku.

Aku : Bu, sudah maem ?

Tidak ada sahutan. Hanya anggukan kecil yang menandakan ibu sudah makan.
Selepas isya, ibuku sudah tertidur pulas dengan dengkuran keras.
Aku sedikit merasa lega karena akhirnya untuk kesekian kalinya ibuku bisa tertidur dengan pulas.
Saat suster datang untuk mengecek kondisi ibu. Ibu sampe tidak terbangun.

Kira-kira itu sudah pukul 10.00 malam, aku tidak sengaja aku memegang kaki ibuku..
Dingin sekali, aku ambil minyak kayu putih untuk ku balurkan di kaki ibuku. Mungkin ibuku kedinginan, dan ku ambil selimut yang biasa kami bawa dari rumah, untuk ku tutupkan ke ibu agar tidak kedinginan.

Setelah itu, aku melanjutkan membaca komik online di w*btoon. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 00.00 WIB. Aku pegang kaki ibuku masih dingin, aku ambil lagi minyak kayu putih untuk kubalurkan lagi ke kaki ibu.

Aku cek tangan ibu juga dingin. Ibu sudah tidak mendengkur sekeras tadi, aku mulai curiga ketika tidak ada pergerakan dada ibu menandakan ibu bernafas.
Ku dekatkan wajahku ke arah hidung ibu, untuk sekali saja berharap jika firasatku tidak benar. Ku cek nadi ibu di bawah telinga, tidak ada pergerakan sama sekali.
Aku sempat mengabari Dika saat itu.

Dinta : Yang, ibu kok ndak nafas ya ?
Dika : Coba panggil dokter aja.
Dinta : Ya sek sebentar.

Aku bingung harus apa, sambil terisak tanpa suara, aku keluar ruangan ibu, seakan mau telpon orang dirumah. Tetapi batal ku lakukan, aku masuk kamar ibu lagi, menangis lebih menjadi, tanpa tahu harus berbuat apa. Hingga akhirnya ada tetangga sebelah yang sedang dirawat membaca ayat suci Al-Quran, aku tidak tahu apa yang dia bacakan. Hanya firasatku mengatakan aku harus melakukan hal itu.

Aku dekati ibuku perlahan, ku tuntun ibuku untuk membaca "La illaha illah mohammadar rosullullah 3x" ajaibnya ibuku seakan mengerti maksudku, bibirnya perlahan bergerak mengikuti suaraku. Hingga akhirnya ibuku meninggal dunia dihadapanku. Ku tutup mata ibuku perlahan, baru aku keluar lagi memanggil suster dan dokter yang tengah berjaga saat itu sambil tangan gemetaran menelpon orang rumah untuk segera datang kerumah sakit.
Jelas diingatanku saat itu jam 00.30 WIB tangga; 26 Oktober 2015.
Aku menangis sejadi-jadinya di ruangan ibuku. Sampai akhirnya ibu ku di pindahkan ke ruang jenazah, aku menunggu diluar kamar jenazah menangis tersedu-sedu sendirian. Berharap ada keluarga yang akan segera datang.

Yang pertama ku kabari adalah Dika, karena saat itu dia juga belum tidur.
Aku masih mencoba menelpon orang rumah tetapi tidak ada jawaban. Akhirnya ku putuskan telpon ke adik perempuan ibuku. Dan diangkat. aku lega sekali saat itu.

Sekitar pukul 02.00 WIB barulah ayahku, adekku, dan juga suami dari adiknya ibuku datang ke rumah sakit. Kami langsung membawa jenazah ibuku ke rumah simbah kakung karena itu permintaan ibuku jika meninggal ingin dimakamkan dekat dengan ibunya.

Subuh hari ibuku sudah dimandikan, dan akan dimakamkan rencananya jam 2 siang. Semua sudah di persiapkan.
Jam 9 pagi Dika baru datang kerumah simbahku. Dia datang sendirian.
Aku masih sibuk menyapa para tamu yang datang, tidak ku sangka yang datang banyak sekali orang. MashaAllah. Hingga sekitar pukul 12.00 Mama Safira datang, keluar dari mobil, Mama langsung memelukku erat sekali, sambal beliau yang menangis, setelah ibuku dimandikan aku memang tidak menangis lagi. Takutnya ibuku merasa terbebani jika ada anaknya yang tidak rela ditinggal ibunya meninggal. Teman-teman kuliah ku dan juga adekku datang semua saat itu.

Saat prosesi pemakaman tiba, aku ikut sampai ke liang lahat untuk sekedar mengantarkan ibuku ke peristirahatan terakhirnya.

*********
Ibuku, mungkin tidak akan pernah membaca tulisan ini.
Tetapi dia akan selalu tau, jika kami sungguh menyayangi ibuku dengan begitu sangat.

Karena setelah kepergian ibu, kembali kerumah seperti tidak ada tujuan.
Hanya sekedar pulang, tidur, pergi lagi. Rumah tidak bernyawa.

Home is not Home, without mom inside.
emoticon-Mewek emoticon-Mewek emoticon-Mewek emoticon-Mewek emoticon-Mewek


😞😭😭
profile-picture
profile-picture
ariel2057 dan adorazoelev memberi reputasi
0 2
-2
Lihat 1 balasan
Halaman 1 dari 7
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
100-days
Stories from the Heart
illusi
Stories from the Heart
the-piece-of-life
Stories from the Heart
cinta-di-dinding-biru
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Heart to Heart
Heart to Heart
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia