Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
89
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5daa7ecf4601cf1b14439bca/love-choice-and-decision
Kalian pernah salah mengirim pesan dengan menggunakan WA, SMS atau LINE? Jika, iya. Kita sama. Dan, aku baru saja melakukannya. Bukan masalah besar, tetapi efek samping yang ditimbulkan setara dengan gempa bumi berkekuatan 6,7 scala richter. Mungkin aku terlalu lebay. Ya, ini terjadi karena saat itu, aku sedang error.
Lapor Hansip
19-10-2019 10:11

Tolong Katakan I Love You

Past Hot Thread
icon-verified-thread
Love, Choice, and Decision
Canva


BAB 1

SI PEMBUAT ONAR


Kalian pernah salah mengirim pesan dengan menggunakan WA, SMS atau LINE? Jika, iya. Kita sama. Dan, aku baru saja melakukannya. Bukan masalah besar, tetapi efek samping yang ditimbulkan setara dengan gempa bumi berkekuatan 6,7 scala richter. Mungkin aku terlalu lebay. Ya, ini terjadi karena saat itu, aku sedang error.

Aku tak tahu, harus bagaimana lagi, rasanya tak mungkin semua nomor telepon mahasiswa dan mahasiswi yang jumlahnya ratusan itu, ku-save semua. Hanya mereka yang punya label khusus saja yang terpaksa kusimpan. Walaupun telah kupilih-pilih, ternyata human error masih terjadi juga.

Tanpa kusadari ternyata ada dua nama yang sama dalam list nomor-nomor HP yang kusimpan. Niko, itu dia, namanya. Satu berstatus sebagai teman, sedangkan yang satunya mahasiswa 'gaje' yang sedang mencari jati diri.


Awal kejadiannya, bermula dari sini.

Pulang dari kampus, aku langsung menuju ke kamar. Tidak seperti biasanya. Ya, biasanya aku selalu berhenti dulu di meja makan. Melahap apa saja yang ada di situ sambil ngobrol ngalor-ngidul bersama Mama. Tak demikian dengan hari ini. Rasa capek stadium akhir, membuatku ingin segera berbaring di atas kasur. Selain tugas mengajar yang marathon, aku juga harus menyelesaikan pekerjaan di luar di kampus. Ketika sampai rumah, aku ibarat HP yang baterainya tinggal 19%. Warning agar segera di-charge.

Begitu melihat ranjang, bantal, dan guling, mereka seolah melambaikan tangan memanggilku. Setelah menyalahkan AC, aku segera menghempaskan tubuh ke kasur. Dalam kondisi setengah sadar, aku masih sempat melihat Mama membuka pintu kamar yang tak terkunci. Menengok sebentar, kemudian pergi, lagi.

*

Entah berapa lama mataku terpejam. Saat terbuka kembali, jam dinding di kamar sudah menujukkan pukul 17.30 WITA. Artinya sebentar lagi akan magrib. Sebelum Mama, masuk ke dalam kamar, membangunkan aku sambil ceramah a sampai z, meski malas, aku memaksa membuka mata yang sebenarnya masih ingin terpejam.

Nduk, maghrib-maghrib ndak boleh tidur. Kata Mbah kakung, nanti kalau kamu sakit ndak ada obatnya. Ayo bangun! Ora elok. Pamali. Jadi perempuan itu, mbok ya, jangan malas. Nanti kamu ndak laku.

Itulah kira-kira yang akan dikatakan Mama, jika aku masih nekat merem. Mama akan terus berbicara sampai aku bilang 'iyaa atau ashiyaaap, Ma'. Namun, tak apalah, dari pada Mama diam, malah serasa ada sesuatu yang hilang.

Tiba-tiba ponselku berbunyi. Masih dengan rasa malas, kuambil benda berukuran 6 inci ber-chasing merah maroon itu dari dalam tas kerja.

Langsung kubuka WA. Itu yang biasa aku lakukan. Setelah itu, baru facebook, IG, dan kemudian aplikasi yang lain. Di tiga tempat, WA, facebook, dan IG itulah baik rekan dosen maupun mahasiswa biasa berekspresi. Life is never flat, begitu kata mereka.

Setelah kubaca, tetapi belum kubalas beberapa pesan WA yang masuk, aku membuka status teman-teman. Salah satu dari mereka ada yang menulis:

HBD for me

Idih. Rasanya ada yang menggelitik. Dan, duh, tiba-tiba terasa ngilu. Aku merasa 'Niko' si pembuat status ini, seperti hidup seorang diri di dunia. Ada rasa geli, tetapi juga kasihan. Entah mengapa aku lebih merasa kasihan. Lebih anehnya lagi, langsung terbayang dalam ingatanku, seorang laki-laki yang sedang sendirian di tepi sungai Kayan. Benar-benar, kasihan. Laki-laki yang pernah kulihat ketika aku dan Mama sedang kondangan ke pulau seberang. Perasaan apa ini? Tanyaku, merasa heran pada diri sendiri. Tanpa berpikir panjang lagi, langsung kusambut status itu dengan respon:

Happy Birthday Sir, wish you all the best! Ucapan selamatku untuk Pak Niko, lewat WA. Tak lupa kusematkan emoticon kue ulang tahun di belakang ucapanku.

Tak kuduga. Fast response. Dia langsung membalas:

Thank you very much! Honey. Dia akhiri balasannya itu dengan emoticon love, tiga kali.

Mataku langsung terbelalak, melihat kata 'honey' dan tiga emot love balasan dari Pak Niko. OMG! Tekanan darahku, serasa naik. Ya Allah ada apa dengan bapak satu anak, ini? Apa maksudnya? Apakah aku GR? Kurang gaul? Atau tempat bermainku kurang jauh? Pertanyaan demi pertanyaan langsung memberondong kepalaku. Daripada salah kaprah, aku memilih tak membalas.

Belum habis rasa heran-ku dengan pesan WA aneh itu, Mama datang. Menyuruhku buru-buru mandi, salat maghrib lalu memintaku menemaninya kondangan. Meskipun ada Ayah, Mama lebih suka mengajakku kondangan. Dan, sebenarnya aku paling malas menghadiri acara seperti ini.

Sepanjang perjalanan aku masih berpikir. Rasanya kalimat ucapan selamat ultah-ku untuk Pak Niko itu, biasa saja. Normal, tidak berbau PHP, gaje, pornografi apalagi SARA. Salahnya di mana? Rasanya ingin menggaruk kepalaku yang tak gatal. Yang membuat masalah ini semakin aneh, karena Pak Niko terus menerus mengirimiku pesan.

"Nduk, kita ini mau kondangan ke tempat buliknya Ardhi. Pasti ada Mama sama Abahnya Ardhi di sana. Jangan lupa kasih salam. Juga bersikap sopan."

Perkataan Mama, membuyarkan lamunanku.

"Ah, iyaa, Ma," jawabku sekenanya.

Sampai di tempat hajatan, aku masih memikirkan pesan Pak Niko. Rasanya kesal sekali. Bagaimana mungkin teman sekantor berbuat seperti itu. Bagaimana caraku menghadapinya besok pagi.

Usai menemani Mama mengobrol dengan orang-orang yang diharapkan bulan depan akan menjadi keluarga, selama dua jam--di acara sunatan sepupunya Bang Ardhi--akhirnya kami berdua sampai rumah juga. Tubuhku tadi, di tempat hajatan, tetapi pikiranku ke mana-mana. Begitu sampai kamar, karena masih penasaran, kubuka dan baca lagi pesan-pesan WA dari Pak Niko. Rasanya semakin gemas, aku dibuatnya. Setelah kuperhatikan benar-benar, ternyata oh ternyata, itu bukan pesan Pak Niko, dosen. Astaga, rupanya pesan dari Niko--mahasiswa. Si Trouble Maker. Serta merta aku menjambak rambutku sendiri.

OMG!

Mahasiswa si pembuat onar itu terus menerus mengirimiku pesan dengan emoticon 'love'. Mulai dari pesan tak penting, gaje, sampai akhirnya bertanya masalah kuliah yang dia sendiri sudah tahu jawabannya.

Kesal nggak sih?

Kalau ada mahasiswa yang datang ke kampus tetapi tidak bisa mengikuti kuliah karena pintu sudah ditutup saat telat lebih dari 15 menit, dia-lah orangnya. Mahasiswa yang tak bisa berkerja sama dalam kelompok karena suka-suka gue, itu dia juga. Belum lagi yang hobbi stalking dan nge-hack akun sosmed teman-teman wanita untuk mem-bully, itu juga pasti Niko. Dan, yang datang ke kampus dengan celana jeans robek-robek bagian lutut lalu diusir oleh security, itu juga, tak ada yang lain, selain dia. Celakanya, aku pembimbing akademik dia.

***


"Niko! Tahu kenapa saya panggil?" tanyaku, keesokan harinya. Suaraku sedikit meninggi karena menahan kesal.

"Tahu Ma'am. Maaf Ma'am saya salah...."

Lelaki berperawakan tinggi dan sedikit kurus itu, wajahnya terlihat flat. Sepertinya dia sengaja membuat kesan seperti itu, seolah tanpa dosa. Duh, padahal banyak, ya ampun. Dalam hati aku ingin tertawa. Karena sumpah, dia terlihat sangat aneh. Yang bikin aku kesal, di sela-sela itu, mata elangnya terus berupaya menatapku nakal.

Haks!

Perutku mendadak menjadi kenyang. Benci sekali melihat tatapan sedikit liarnya itu. Uff! Meski demikian aku paling tak berdaya setelah mendengar perkataan 'maaf.' Luntur seketika rasa kesalku.

"Apa yang kamu lakukan meski tak ada hubungannya dengan saya, tapi kita terikat norma. Di mana saya berkewajiban mengingatkan kamu! Bisa dimengerti, 'kan?" sergahku.

"Yes, Ma'am!"

Malas berbicara panjang lebar, aku segera menyuruh Niko pergi dari ruanganku.

***


Setelah Niko menterorku, dengan berbagai pesan di semua sosmed, kini hampir setiap hari selalu ada snack dan makan siang di meja kerjaku. Si tinggi kurus, bergaya casual dan berwajah oriental-lah yang mengirimnya.

Ya Allah, dia bukan tipeku. Ampun! Hari demi hari, rasanya aku semakin benci, padanya. Saking bencinya, sampai terlintas dalam pikiran, jangan-jangan makanan yang dia kirim itu mengandung guna-guna. Meski telah berumur 28 tahun dan lulus pasca sarjana, kadang-kadang aku masih suka berpikir naif. Saking paranoid-nya, semua makanan dari Niko, selalu kubagi-bagi pada siapa saja. Untuk Nesya, Mira dan Andra yang satu ruangan. Kadang-kadang sampai juga ke pos security.

Saat berpapasan dengan Niko di koridor atau tempat parkir kampus, aku selalu menghindar. Pesannya tak pernah kubalas. Ketika harus mengajar di kelas mahasiswa nyleneh itu, sebelumnya kutarik napas dalam-dalam seraya meluruskan niat. Aku sengaja tak mengacuhkan dia.

Ya Allah, tolong! Dosa apakah aku? Ironisnya hanya di kelasku anak bandel itu tak pernah absen. Untuk mata kuliah lain, sebagaimana gaya bad boy itu; dia datang dan pergi sesuka hati.

***


Alhamdulilah. Beberapa hari ini, suasana kampus dan hatiku terasa tenang. Niko seolah ditelan bumi. Apakah aksi boikotku berhasil? Ataukah mungkin dia merasa lelah? Rasanya seperti baru saja terlepas dari jerat tali panjang yang mengikat, melingkar-lingkar di tubuhku dari dada hingga ke perut. Legaa. Jahatkah aku? Dia seorang pemuda berumur dua puluh satu tahun, sedangkan aku dosennya yang tujuh tahun lebih tua dari dia. Apakah aku telah bersikap kejam pada seorang anak kecil? Jika 'iya' apa yang bisa kulakukan untuknya? Jika bulan depan Mama dan Ayah telah mempersiapkan pernikahanku dengan seorang lelaki yang saat ini sedang merantau nun jauh, di negara timur tengah, sana.

Dua jam kemudian aku masuk ke dalam kelas. Dan, setelah satu jam setengah berdiskusi dengan mahasiswa.

"Okay, thank you very much for your attention. See you next week and have a nice day!"

Aku menutup kelasku. Mata kuliah English 4. Segera kukemasi laptop, projector, dan speaker active yang biasa dan baru saja kupakai.

Tak seperti biasanya, hari itu secepat kilat ruangan kelas menjadi sepi. Hanya tertinggal Niko, Andrew dan Hilmi. Aku merasa, ini seperti telah di-setting sedemikian.

Niko, apa yang tak bisa dia lakukan.

"Hil, tolong bantu bawakan speaker active ini ke ruangan saya, yah. Makasih," pintaku pada Hilmi. Mahasiswa berkulit putih dan berbadan sedikit tambun itu pun, segera melakukan apa yang kukatakan.

Sementara itu, Niko dan Andrew berjalan mendekatiku. Gerak-geriknya terlihat aneh. Mereka seperti saling memberi 'kode'. Perasaanku, tiba-tiba menjadi tak enak. Sepertinya mereka akan melakukan sesuatu padaku. Ya Allah, aku takut.


To be continued

Thank you for reading emoticon-Peluk
Diubah oleh Puspita1973
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mbethix dan 25 lainnya memberi reputasi
26
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Love, Choice, and Decision
25-10-2019 15:13

LOVE, CHOICE, AND DECISION

Love, Choice, and Decision

BAB 2

TOLONG KATAKAN I LOVE YOU


Love, Choice, and Decision



"Ma'am, ada yang mau aku katakan!" ucap Niko, dengan ekspresi wajah aneh. Biasanya dia tak pernah menggunakan kata 'aku' untuk menyebut dirinya. Selalu 'saya'. Kali ini ucapannya terasa kasar dan kurang sopan.

Deg!

Bagaimanapun aku ini dosennya. Seharusnya dia mengatakan, 'Ma'am, ada waktu? Ada yang ingin saya bicarakan.' Begitulah biasanya mereka berkata.

Tiba-tiba ada sedikit rasa takut. Setelah lama tidak melihatnya, kini dia datang dengan tatapan mata, ahh. Aku tak bisa mendeskripsikan, tetapi sorotnya sangat melukai.

Di luar dugaanku. Entah setan mana yang merasuki, tiba-tiba Niko menarikku paksa dari lantai 5 menuju rooftop kampus di lantai 7, melalui tangga darurat. Andrew mengikuti kami dari belakang. Sampai di atas napasku serasa mau putus.

"Sengaja kubawa Andrew sebagai saksi! So jangan khawatir."

"Niko! Niko, Niko, kamu mau ngapain?" tanyaku masih dengan napas terengah-engah.

Tubuhku gemetar, telapak tangan dan kakiku pun seketika menjadi dingin.

"Aku tahu kau menganggapku anak kecil! Trouble maker dan kumal!"

Tatapan mata Niko berkilat-kilat. Sesekali dia melempar pandangannya jauh ke depan.

"Niko! Apa mau kamu?" tanyaku dengan tubuh yang semakin gemetaran.

Tiba-tiba Niko menarikku ke salah satu sudut gedung. Terlihat pemandangan di bawah sana. Oh My God! Beruntung masih ada pagar pengaman. Jantungku berdetak semakin lebih kencang. Tanpa sadar air mataku pun bercucuran. Berbaur segala macam rasa yang tak bisa kukatakan.

"Woiii jangan terlalu ke tepii, brooo! Bisa-bisa kalian jatuh beneran!" teriak Andrew dengan wajah memerah.

"Sekarang, tolong katakan I love you! Atau kita sama-sama terjun dari sini!" pinta Niko dengan tatapan mata nanar.

Dalam hati, aku sangat tak ingin mengatakan itu. Bagaimana mungkin aku mengatakan hal konyol. Namun, aku tak punya pilihan.

"Kenapa diam?" desak Niko sambil mendekatkan wajahnya tepat di depan wajahku. Semakin memangkas jarak di antara kami yang sebenarnya sudah sangat dekat. Niko menatapku beberapa saat.

"Kau keberatan, 'kan?" lanjut Niko, lalu melepaskan cengkraman tangannya dari kedua tanganku. Setelah itu menarik wajahnya menjauh dari wajahku.

"Tidak," jawabku pelan.

"So?" Niko seperti terkejut mendengar jawabanku.

"Baik, I--I love you!" ucapku, seperti ada yang tertahan di tenggorokan.

Ada binar tak terkatakan dari kedua mata pemuda di hadapanku itu.

"Please, say one more time!"

Intonasi suaranya terdengar sedikit menurun.

"I love you ...."

Perkataanku seolah meluncur dari dalam hati. Seketika air mataku pecah ... entah mengapa ada rasa pahit dan getir dari dalam sana.

"Thank you! Ini sudah cukup. Meski setelah ini kau menikah dengan calon suamimu itu! Tak masalah. Tetap aku pemenangnya. Thanks sudah mengatakan kalimat yang paling ingin kudengar. Ms. Dilara. Dosen cantikku. Maaf sudah membuatmu takut!"

Setelah menarik tangan lalu membawa tubuhku ke tengah rooftop yang teduh dan aman dari bahaya jatuh, Niko berlalu. Mungkin dengan rasa marah. Benci. Kecewa, atau ketiganya. Ketika punggungnya telah menghilang di balik tembok, tiba-tiba ada rasa aneh yang seolah menggedor-gedor jantungku. Apakah aku juga mencintainya?

Benarkah kadang cinta menemukan jalannya dengan cara yang aneh? Entahlah!

Di luar dugaan. Andrew datang menghampiriku, memberikan sebotol air mineral.

"Maafkan, kami Ma'am," ucapnya dengan wajah menunduk.

***


Aku berjalan setengah berlari dari tempat parkir basement menuju lift. Jam di HP sudah menujukkan pukul 07.58. Artinya maksimal 2 menit lagi, ujung jempolku harus sudah menempel pada finger print di front office, jika tak ingin terlambat atau dianggap alpa.

"Dilara!"

Terdengar suara seseorang memanggilku, dari arah belakang.

"Aish!" gerutuku, pelan.

Aku sempat menoleh, begitu melihat siapa yang memanggil, aku segera mempercepat langkah.

Sampai di depan lift.

Setelah kutekan tombol panah merah menyala, pintu pun terbuka.

"Tungguu!"

Terdengar lagi suara seseorang, kali ini setengah berteriak. Terpaksa kutekan tombol panah terbalik di dalam lift, agar pintu tetap terbuka.

"Dilara!"

"Jangan memanggil saya seperti itu! Sejak kapan mahasiswa boleh memanggil dosennya begitu?" ujarku sedikit sewot.

"Sejak Ma'am bilang I love you!" jawab lelaki di sebelahku dengan mata berbinar disertai senyum kecil penuh kemenangan.

"Hmmm, enak aja!" balasku, ketus. Dalam hati aku ingin tertawa.

"Dilara! Dilara! Dilaraaa!"

Sepertinya dia sengaja membuatku kesal.

"Sorry, saya buru-buru. Jaga sikap! Ini institusi pendidikan!"

Sampai lantai dua.

Setelah absen, aku segera masuk ruang dosen. Sementara mahasiswa limited edition yang tidak bosan membuntutiku itu, berhenti di depan pintu kaca front office. Dia terus menatapku. Seperti sudah setahun tak melihatku, padahal hampir setiap hari, ada saja "masalah" yang bisa mempertemukan aku dan dia. Dasar, bocah!

Sejak ku-blokir no HP dan akun facebooknya, Niko semakin bergerak mendekatiku. Dan, bukan Niko namanya kalau hanya diblokir setelah itu menjadi pesakitan yang tak tahu harus melakukan apa. Dia, semakin lama semakin mendekat, bagaikan hantu yang selalu menghantuiku. Dengan perasaan kesal kuubah nama dia di ponsel dari Niko menjadi Hantu Kampus. Repotnya dia memiliki beberapa nomor HP, setelah aksi pemblokiran yang kulakukan. Aku sengaja menyimpannnya semua. Agar bisa mempersiapkan hati dan pikiran, saat dia mengirim pesan atau meneleponku. Akhirnya ada lebih dari satu nama hantu kampus di dalam HP-ku: Hantu Kampus 2, Hantu Kampus Gaje, dan Hantu Kampus Kumat.

***


Hari ini aku mengajar 4 kelas, dengan 4 mata kuliah berbeda. Masing-masing 2 SKS. Lumayan menguras energi. Uh, rasanya mulutku seperti keriting. Kini saatnya meluruskan punggung pada sandaran kursi empuk di belakang meja kerjaku. Belum lima menit punggungku tersandar, HP-ku bergetar. Muncul nama Mbak Fina. Ah, anak perempuannya Mama yang paling ceriwis sedunia. Dengan malas kuangkat panggilannya.

Assalamualikum. Woiii, dosen cantik, Tak tunggu di lobby Royal Crown jam setengah lima! Ndak pakai lama.

Ibu satu anak itu seperti sedang berteriak dari seberang sana.

"Walaikumsalam. Asiaap. Tunggu, ja!" jawabku singkat, setelah itu buru-buru kupencet tombol merah bergambar telepon di HP. Jika tak demikian maka dia akan nyerocos tanpa henti. Membicarakan hal-hal yang tak ada hubungan dengan urusan yang sedang dibahas.

Entah mengapa, rasanya aku enggan bergerak dari tempatku. Kakak perempuan bawel yang satu itu, bermaksud mengajakku menemui wedding organizer pilihannya. Kakiku serasa berat untuk diajak melangkah. Padahal ini untuk masa depanku. Apakah karena aku telah terpapar radiasi Hantu Kampus? Ah, pemikiran macam apa ini? Apa menariknya anak kecil itu?

Hoaah! Aku menguap meskipun tak mengantuk. Jam di dinding sudah menunjuk ke angka 4 dan 12. Artinya aku bisa pulang. Segera kumatikan komputer, mengunci ruangan dan memasukkan jempol cantikku ke finger print. Legaa!

Akhirnya gue bebas tugas.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam dari kampus, sampai juga aku di tempat yang dikatakan Mbak Fina. Sebuah bangunan besar berlantai sebelas dengan gaya arsitektur modern. Royal Crown, Hotel and Convention, itu nama yang tertera di badan bagian depan bangunan itu. Aku segera berjalan menuju lobby. Ah, Mbak Fina sudah menungguku dengan sorot mata berbinar-binar. Seolah dia saja yang akan menikah. Busyet!

"Silakan dilihat brosur dan katalognya, Kak. Mau konsep pernikahan seperti apa? Internasional, tradisional, modern atau--? Ini Kak, yang lagi ngetren, nuansa pink berlatar belakang Hello Kitty!" ucap seorang lelaki berseragam rapi dengan senyum ramah.

"Yang tradisional, Mas," jawabku, asal.

"Jiahh, anak muda kok nggak update! Payah! Yang modern dikit napa?" protes Mbak Fina dengan suara cemprengnya.

Aku sengaja tak menanggapi. Kalau kusanggah pendapatnya, maka dia akan berbicara a, b, c, dan d. Namun jika aku iyakan, sama saja aku menyakiti diri sendiri. Mungkin pepatah 'diam itu emas' cocok diterapkan untuk menghadapi situasi seperti ini.

HP-ku bergetar. Ada pesan masuk, dari Bang Ardhi.

Abang percaya selera kamu, Sayang. Pilihlah sesuai kata hati. Tradisional atau modern masing-masing punya filosofi. I love you. Bang Ardhi mengakhiri pesannya dengan emoticon 'love'.

Hmm, dia, Ahmad Gutama Ardhida Narayuda—make it short as Ardhi—lelaki yang tak seperti makhluk berjakun di fakultas teknik pada umumnya. Di mana rata-rata berambut gondrong dan casual, tetapi dia malah sebaliknya. Anak keempat dari lima bersaudara, yang semasa kuliah dulu, kakak tingkatku, walaupun berbeda fakultas. Dia anak tehnik, sedangkan aku fakultas keguruan dan ilmu pendidikan. Letak gedung fakultas kami yang bersebelahan membuat aku dan dia sering bertemu, terutama di tempat parkir. Selain itu, Bang Ardhi juga seorang selebriti kampus. Mmm, maksudku, dia seorang presiden BEM, dulu. Siapa yang tak mengenalnya? Terutama mereka yang berjenis kelamin perempuan. Fiuhh.

Setelah lulus S1, pria berpostur tegap dan berkulit putih itu mengikuti open recruitment karyawan sebuah perusahaan minyak dan gas di Balikpapan. Alhamdulillah, Bang Ardhi mampu melewati serangkaian test, psikotes, dan interview yang cukup menegangkan, menurut cerita si Abang. Waktu itu, kami beramai-ramai memberikan ucapan selamat. Status sebagai seorang karyawan pun dia sandang. Takdir mengharuskannya berdomisili sementara di Qatar. Semenjak keberangkatan Bang Ardhi ke salah satu negara Timur Tengah itu, aku anggap, perteman kita harus dijeda takdir perpisahan. Karena saat itu internet belum semarak dan semudah sekarang, kami pun lost contact.

Atas saran Ayah, aku melanjutkan pendidikanku ke jenjang paska sarjana. Meski Mama awalnya keberatan, akhirnya setuju juga. Jogjakarta menjadi kota pilihanku. Selama hampir dua tahun tinggal di sana, aku selalu mengingat pesan Ayah. 'Jangan pacaran, selama jauh dari orang tua. Nanti Ayah kenalin calon suami yang sholeh dan ganteng.'

Ah, ternyata kriteria suami sholeh dan gantengnya Ayah, Bang Ardhi. Tak salah memang, tetapi juga tak sepenuhnya, benar. Bagiku lelaki tipe Bang Ardhi itu terlalu lempeng. Apakah itu artinya aku ini bengkok? Haks! Mungkin saja. Aku mentertawakan diriku sendiri.

Sebenarnya tak pernah terlintas sama sekali dalam pikiranku, memiliki calon suami yang dikenal banyak orang seperti Bang Ardhi. Bukan masalah apa, karena aku bukanlah siapa-siapa. Sampai saat ini, aku masih belum bisa mengerti dengan perasaanku sendiri. Suami seperti apa yang kuinginkan. Aku belum pernah menemukan yang seperti dalam angan-anganku dalam satu sosok. Dan mungkin memang tak ada sosok yang seperti itu di dunia nyata. Fiuhhh, aku mengusap-usap keningku, meski tak berkeringat.

Bang Ardhi hadir dalam hidupku atas prakarsa Ayah. Terima kasih Ayah. Aku mengenal calon menantu Ayah, bahkan sebelum Ayah berinisiatif menjadikan dia sebagai calon suamiku. Namun sayang, aku hanya mengenalnya sebagai kakak tingkat. Tak lebih dari itu. Dan hingga saat ini, aku masih berpikir sama. Meskipun demikian Ayah tak perlu khawatir, apa yang menurut Ayah baik, maka aku pun akan berpikir demikian juga. Doakan aku, Ayah. Semoga anakmu ini, bisa.

Selain itu, mana mungkin, aku berani menyakiti Bang Ardhi dan keluarganya. Apalagi setelah dia bersedia resign dari perusahaan yang memberinya gaji ratusan juta. Bersedia pulang ke tanah air sebelum dan setelah menikah, nanti. Semua itu demi memenuhi keinginan Mama, yang tak ingin anak perempuannya dibawa pergi jauh.

Segenap rencana pun telah Bang Ardhi susun. Bermodalkan penghasilan yang selama ini dia investasikan dalam bentuk rumah kontrakan dan kos-kosan, selanjutnya lelaki bertampang cool ini akan membuka toko sales, service and maintenance komputer. Terdengar penuh perencanaan, dewasa dan, masuk akal. Begitulah dia. Aku tersenyum sendiri.

"Woiii! Pilih yang mana Oning? Ngelamun aja, dari tadi. Kayaknya ada yang nggak beres, nih!?"

Suara Mbak Fina, mengagetkanku. Seketika segala sesuatu yang sedang berkecamuk dalam pikiranku, lenyap begitu saja.

"Oh, iyaa, eh, anu Mas, eemm emm, nuansa tradisional Jawa! Ya, Jawa Tengah sama Jawa Barat," jawabku sedikit kelabakan.

"Baik Kak, terima kasih banyak," ucap laki-laki berjas hitam dan berdasi warna merah menyala, masih dengan senyuman ramah.

Aku sengaja memilih itu, karena Mama berasal dari Sukoharjo. Aku ingin menunjukkan pada semua orang bahwa aku benar-benar anaknya Mama. Sedangkan pilihan Jawa Barat, itu karena Ayah berasal dari Bekasi.

Usai membuat kesepakatan dengan wedding organizer, perjalanan pun berlanjut ke restoran fast food favoritnya Mbak Fina. Aku pribadi tak terlalu menyukai makanan seperti itu. Perasaan tak ada rasa kenyangnya. Sampai di rumah biasanya aku langsung makan lagi masakan Mama. Seolah ke mana pun aku melangkahkan kaki, sosok Mama yang meskipun suka mengomel, selalu mengikutiku. Tak tergantikan.

Apakah setelah menikah nanti, aku masih bisa datang ke rumah Mama, kapan pun aku mau? Jika tidak, meski aku sadar itu risiko, apakah aku siap?

Kadang, meskipun seseorang tahu akan terantuk batu, saat benar-benar terantuk maka dia akan bersedu sedan, seolah menjadi pesakitan yang paling menderita di dunia. Fiuhh.

***


Tok! Tok!

Pintu ruangan kerjaku ada yang mengetuk. Karena tak pernah terkunci, tamu yang diundang maupun tidak, bisa leluasa keluar dan masuk.

Deg!

Jantung langsung berdegub lebih kencang. Hantu Kampus muncul dengan penampilan yang jauh berbeda. Potongan rambut yang rapi, memakai office wear, meski sepatunya tetap casual.

"Ada apa? Ada yang bisa saya bantu?" tanyaku ramah, berusaha menutupi letupan-letupan di dalam sana.

"Tidak bisakah kita ngomong informal?"

"Tidak! Ini kampus!"

"Siapa bilang cafe?" sahut Niko sewot.

"Lah, itu sudah tahu!" jawabku tak kalah sewot. Setelah itu aku memasang wajah jaim.

"Ok, aku tunggu di Nes-Milo, usai jam kantor. I need to talk to you!"

Setelah mengatakan itu, secepat kilat Niko berlalu. Sementara aku masih termangu memikirkan penampilan dan perkataannya, barusan.

Dia bilang 'I need to talk to you?' Apa yang ingin dikatakan anak itu? Apa aku perlu datang? Tiba-tiba saja kejadian di rooftop beberapa hari yang lalu seolah bangkit dalam ingatanku. Padahal aku telah berusaha menganggapnya tak pernah terjadi.

"Datang, tidak? Datang, tidak? Datang tidak?" gumamku.

Ya Allah, sepertinya aku harus datang. Beruntung hanya Andrew yang mengetahui kejadian itu. Setelah melakukan hal gila di tempat terbatas, bagaimana jika setelah ini Niko melakukan sesuatu yang lebih gila lagi di tempat umum. Aku harus melakukan sesuatu, tetapi itu apa dan bagaimana? Aku mengerutkan kening. Kupejamkan mata untuk berpikir. Bukan mendapatkan ide untuk "melawan" Niko, malah terbayang penampilannya yang sungguh berbeda hari ini.

Ya Allah, mengapa dia menjadi keren?! Ah tidak, dia bukan tipeku.

Bukan, bukan, bukan!

Daripada menjadi "gila" kuputuskan segera melangkahkan kaki ke Nes-Milo, menyusul Niko.

To be continued
profile-picture
profile-picture
profile-picture
mbethix dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Love, Choice, and Decision
04-02-2020 14:36
Love, Choice, and Decision

BAB 7
I'M FALLING IN LOVE


Kumandang azan subuh belum terdengar. Mataku yang baru saja tertelap kini terbuka kembali. Seolah memang enggan diajak terpejam. Ada sesuatu yang tak biasa di dalam dadaku. Entah terlalu bahagia karena Bang Ardhi akan segera datang, atau justru sebaliknya. Khawatir reaksi si Abang saat mengetahui perihal Niko.

Mataku kembali merawang ke langit-langit kamar. Salah satu aktivitas favorit yang sering kulakukan saat berada di kamar. Warna plafon yang sejatinya putih pun seakan berubah menjadi taman bunga.

Wow. Aku tersenyum, meski sadar sedang berhalusinasi. Pemandangan di atas sana, seakan mewakili perasaanku yang sedang jatuh cinta. Apa iya aku sedang jatuh cinta? Lagi-lagi aku tersenyum.

Setelah melihat taman, selanjutnya hujan romantis ala drama Korea dan film India. Setelah itu ditutup dengan pelangi. Pelangi? Tiba-tiba seorang laki-laki berdada sixpack tetapi kemayu langsung terlintas di kepalaku. Astagfirullahaladzim. Duh, enak saja orang-orang "sakit jiwa" itu mengambil salah satu keindahan dunia untuk kepentingannya. Aku tertawa karena merasa miris.

Wah, aku benar-benar seperti ABG yang sedang fall in love. Aku masih terus mentertawakan diri sendiri sambil menarik bed cover untuk menutup sebagian wajahku. Seakan merasa malu. Entah pada siapa.

Aku jatuh cinta atau karena mengharap perlindungan dari "serangan" Niko?

Hmmmm

Dan, setelah 4 tahun lebih tak bertemu, apakah Bang Ardhi tak berubah? Dulu dia cool. Saat video call, dia masih terlihat sama seperti yang dulu. Namun mengapa fotonya terlihat lebih tampan? Apa dia punya waktu untuk mengedit atau menggunakan kamera jahat?! Ah, sepertinya mantan presiden BEM itu, bukan orang seperti itu. Doi bukan tipe 'gaje'. Duh, mengapa pikiranku melantur sejauh itu.

Kuambil HP di atas nacas, lalu melihat jam. Masih sepertiga malam. Aku mengubah posisi tidurku dari telentang menjadi miring ke kanan. Menatap lantai. Pikiranku masih entah. Tiba-tiba muncul sosok tinggi berwajah oriental itu lagi dengan senyum cueknya. Suara khas dan perilakunya yang suka memaksa. Semua itu memenuhi ruang-ruang di kepalaku. Duhh. Tubuhku tiba-tiba menjadi gerah. Daripada terganggu oleh hal-hal yang tak kuinginkan, kuambil air wudhu lalu menunaikan sunnah.

Emangnya doi setan? Uff! Begitu dia datang aku langsung salat? Ya, Allah ampunilah dosaku yang datang pada-Mu hanya pada saat ada mauku.

Tak lama kemudian, panggilan salat subuh pun terdengar. Aku melanjutkan ritual salat yang kupaksakan khusuk. Namun pikiranku tetap ke mana-mana. Aku berusaha memejamkan mata, menikmati setiap lantunan bacaan salat yang kuucapkan. Alhamdulillah, akhirnya bisa aku merasa lebih baik.

Pagi nan cerah pun menyambut. Semburat jingga mewarnai langit sebelah timur. Meski matahari masih malu-malu keluar dari peraduannya semalam, sebagian sinarnya telah menerobos masuk ke dalam kamarku melalui jendela. Perpaduan antara kesejukan dan kehangatan pun tercipta.

Aku mematut diri di depan cermin, usai mandi pagi yang begitu dingin, karena water heater sedang tak berfungsi. Bibirku sedikit bergetar dan berwarna kebiruan. Meski dalam kondisi seperti itu, ternyata Hantu Kampus benar. 'Dosen cantikku, my beautiful lecturer' itu yang pernah dia katakan. Aku rasa dia benar. Aku tersenyum.

"Nduk, anaknya Mama sayang. Jam berapa jemput Ardhi?" suara Mama berteriak dari ruang makan yang bersebelahan dengan kamarku. Terdengar merdu suara piring, gelas dan sendok saling bersentuhan. Mama sedang menjalankan tugas mulianya.

"Pesawatnya dari Jakarta subuh, Mah. Sampai sini jam delapan," sahutku. Entah mengapa aku ingin meloncat seperti anak kecil yang mendapatkan mainan kesukaannya.

Usai sarapan, aku mencium punggung telapak tangan Mama dan Ayah. Aku pun segera berlalu sambil membenahi hijab stylish yang tak biasa kupakai. Demi terlihat istimewa, ini terpaksa kulakukan, meski tak merasa nyaman.

*

Aku mengarahkan setir mobil ke arah rumah Bang Ardhi, bermaksud menjemput Mama, Abah dan adiknya. Tiba-tiba jantungku berdetak lebih kencang. Antara perasaan senang, malu dan sungkan berbaur menjadi satu. Mengaduk rasaku di dalam dada. Telapak tanganku seperti biasanya, seketika berubah menjadi dingin. Aku menarik napas dan mengembuskannya. Menarik napas lagi, mengembuskannya. Kulakukannya berulang-ulang. Setelah lebih dari tiga kali, akhirnya sedikit rasa nyaman pun datang.

Aku memperlambat kecepatan si Silver saat akan memasuki rumah bernuansa coklat tanah yang pagarnya telah terbuka. Mataku langsung tertuju pada tiga orang yang sedang duduk di kursi teras. Sepertinya mereka telah menungguku. Yang pertama seorang lelaki baya berkacamata. Mengenakan baju koko warna putih dan songkok. Kedua, wanita yang kutaksir berumur di atas lima puluh tahunan, mengenakan jilbab besar dan gamis. Sedangkan yang terakhir seorang bocah, kuperkirakan seumuran Niko. Garis wajahnya mirip dengan Bang Ardhi. Ya, si Abang yang sebentar lagi akan kami jemput.

Turun dari mobil, aku segera mencium punggung telapak tangan dan pipi Mama si Abang. Mencium punggung telapak tangan Abah dan bersalaman tanpa menyentuh tangan Ardha--adik bungsu Bang Ardhi. Setelah itu, segera kuserahkan setir si Silver padanya.

"Enggak Kak, kita pake mobil perang saja. Barangnya imigran dari Qatar itu banyak banget. Dia beli inih ituh buat Kakak de el el. Habis ini kita juga berlima. Mobil Kakak terlalu imutz! Kasihan," ujar Ardha sambil mengarahkan aku ke mobilnya. Double cabin.

"Okay, mana baiknya saja," sahutku sambil berjalan menuju ke tempat yang ditujuk Ardha.

Abahnya Abang duduk di depan bersebelahan Ardha yang memegang setir. Sedangkan aku di belakang bersama calon Mama, selain Mama yang di rumah. Walaupun tak berkeberatan, entah mengapa aku merasa 'ahh'. Ada rasa yang aneh yang membuatku sedikit tak nyaman. Perkataan orang-orang pun langsung terngiang, perihal seorang mertua wanita yang biasanya cerewet, galak dan jahat. Duhh. Nyaliku seketika langsung mengkeret. Padahal wajah Mama Bang Ardhi, biasa-biasa saja. Lebih seram lagi wajah Mama. Selain itu Mama juga terkesan lebih ceriwis. Astagah, mengapa aku membandingkan dua orang yang seharusnya sama-sama kuhormati dan sayangi.

Sepanjang perjalanan menuju bandara yang hanya ditempuh selama tiga puluh menit, aku lebih banyak diam. Kecuali jika mereka bertanya.

"Kak Dilara, sejak Kakak kuliah di Jogja nggak pernah ada kabar. Kirain nggak bakalan ketemu lagi," Ardha mengawali pembicaraan.

"Masak enggak ketemu lagi? Jangan ngomong sembarangan Nak, ai," sahut Abah Bang Ardhi dengan senyum, raut wajahnya terlihat tenang.

"Iyeee Bah," jawab Ardha juga sambil tersenyum.

"Ayah sehat, 'kan? Nak Dilara," lanjut Abah Bang Ardhi sambil membetulkan letak kaca matanya. Lelaki berambut putih itu tampak berkharisma. Tak jauh berbeda dengan Ayah.

"Alhamdulillah, sehat Abah," jawabku, malu-malu.

Walaupun dulu, aku dan Bang Ardhi berteman, belum pernah sekalipun, aku bertemu dengan kedua orang tuanya. Pernah bertemu beberapa kali saat mereka datang ke rumah, tetapi mereka lebih fokus mengobrol bersama Ayah dan Mama. Pun, pernah bertemu saat kondangan, Mama lebih mendominasi pembicaraan. Sekarang aku leluasa berinteraksi dengan mereka, naasnya malah mati gaya. Untung Ardha, jiwa mudanya mampu mencairkan suasana yang sedikit kaku dan tegang.

Karena weekend, suasana airport sangat ramai. Setelah lama susah payah mencari tempat parkir, kami masih bisa memasuki terminal kedatangan tepat waktu. Ada rasa tak sabar yang menggedor-gedor dalam dadaku. Sesungguhnya aku memang selalu tak sabaran untuk sesuatu yang kuanggap surprise.

Lima menit kemudian.

Deg! Sesuatu berdesir lirih di dalam dada. Akhirnya ... aku benar-benar melihat dan bertemu dengannya. Rasanya seperti mimpi. Aku belum sepenuhnya percaya dengan apa yang kulihat. Pria berkulit putih yang selalu berpenampilan rapi itu masih sama. Tak berbeda jauh saat terakhir kami bertemu lima tahun yang lalu. Kini dia terlihat lebih matang.

Bang Ardhi, langsung berlari memeluk dan mencium mamanya. Mendekap erat. Seolah menumpahkan rindu yang tertahan berbulan-bulan. Kemudian ke abahnya. Mencium punggung tangannya lalu memeluk dengan penuh hormat. Selanjutnya ke Ardha. Setelah berpelukan, Ardha menggendong Bang Ardhi di punggungnya. Aku terkejut melihat pemandangan itu. Sepertinya mereka terbiasa begitu. Usai puas bercengkrama dengan sang adik, Bang Ardhi baru datang padaku. Sedari tadi aku merasa dicuekin. Rasanya ingin mengigit empat jariku, saking irinya melihat betapa manisnya mereka. Terhadapku lelaki berambut lurus dengan jambang dan kumis yang sangat tipis itu hanya menatap. Tersenyum. Dia pancarkan binar-binar sejuta makna terpancar dari bola matanya. Walaupun tak berani menyentuh tangan apalagi memeluk, tetapi aku bisa merasakan kehangatan yang coba sampaikan lewat senyum dan tatapannya. Getaran magnet yang bergejolak dalam diri Bang Ardhi sepertinya terlalu kuat. Akhirnya dia tak tahan juga untuk tak menyentuhku. Dia usap kepalaku, lembut. Tubuhku bagai disengat listrik. Entah berapa watt. Duh, sebenarnya aku mengharap lebih dari ini. Ingin dipeluk dan cium seperti yang lain. Aku tersenyum sendiri.

Benar saja, barang bawaan "pangeran" dari Qatar ini memang menggunung. Dua trolley pun tak cukup.

"Bawa apa saja, sih Bang?" tanyaku, basa-basi sekalian kepo.

"Ada, deh. Sabar yah, Sayang," sahut Bang Ardhi sambil tersenyum.

Begitu mendengar kata 'sayang' seketika mata Ardha, Abah dan Mama tertuju pada Bang Ardhi. Entah mereka senang mendengarnya atau justru ingin mengatakan jangan berlebihan, belum waktunya. Sepertinya pipiku berubah menjadi merah delima jika aku bisa melihatnya di cermin. Aku merasa seperti itu.

"Nggak usah kamu angkat Dek. Ada porter, kok," kata Bang Ardhi pada Ardha yang hendak bergegas mengangkat barang-barangnya.

"Adikmu ini seterooong Bang broh. Don't worry dah."

"Nggak usah, harus berbagi rezeki pada yang lainlah."

"Haaa iyalah, antum selalu keren Bang. Kata orang-orang aku bangga padamuh," sahut Ardha.

"Yaaah! Gue yang di Qatar, kok ente yang kearab-araban?"

"Nggak bisa lihat orang 'sok' dikiit aje, si Abang."

"Dasar!" seru Bang Ardhi, tertawa renyah.

Adem, rasanya mendengar dan melihat percakapan kakak beradik itu. Perjalanan pun berlanjut. Sebelum pulang, kami memutuskan sarapan bubur ayam langganan terlebih dahulu. Dan, jantungku tiba-tiba berdesir mana kala kulihat beberapa mahasiswa dan mahasiswi berada di tempat yang sama. Selanjutnya berdetak lebih kencang lagi, ternyata Niko salah satu dari mereka.

Tetap makan di situ? Pindah? Tetap makan di situ? Pindah? Tetap makan di situ? Pindah?

Jika tetap di situ? Bagaimana jika Hantu Kampus membuat ulah. Tak terbayang betapa ... ah! Kalau pindah takut mengecewakan Mama dan Abah Bang Ardhi.

Duh! Aku harus bagaimana? Berpikir Dilara! Berpikir!

Kenapa dunia ini seolah sempit. Seperti dalam film saja, bisa kebetulan bertemu. Kata orang kebetulan itu tak ada, semua itu karena takdir. Baiklah, aku anggap ini takdir.

"Kenapa Nak? Sepertinya Nak Dilara gugup?" suara Mama Bang Ardhi membuyarkan lamunanku sesaat.

"Ah, enggak Mah. Hmm, perut saya mules," jawabku, gelagapan. Berbohong itu, sama sekali bukan pekerjaan mudah bagiku.

Ahaa! Tiba-tiba seperti ada ide melintas di kepalaku. Sepertinya aku menemukan cara untuk lari dari masalah ini.

To be continued
Diubah oleh Puspita1973
profile-picture
profile-picture
profile-picture
trifatoyah dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Love, Choice, and Decision
20-10-2019 11:34
emoticon-Ngakakemoticon-Malu
Diubah oleh Puspita1973
profile-picture
profile-picture
profile-picture
abdulrazakr80 dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Love, Choice, and Decision
19-10-2019 10:16
Happy reading. Thanks 💗

BAB 1

BAB 2

BAB 3

BAB 4

BAB 5

BAB 6

BAB 7
Diubah oleh Puspita1973
profile-picture
profile-picture
profile-picture
riwidy dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Love, Choice, and Decision
15-11-2019 15:07
Love, Choice, and Decision

BAB 6

SEMOGA HARI CEPAT BERLALU

Setelah merasa cukup puas menikmati holiday galau, hari ini aku mencoba bersemangat. Belum setengah jam, kusandarkan punggung pada kursi hitam di belakang meja kerja, terdengar suara seseorang mengetuk pintu. Sebenarnya aku masih malas diganggu. Namun, apa boleh buat.

"Yah, ada yang bisa saya bantu, Mega?" tanyaku kepada mahasiswi yang baru saja masuk ke dalam ruanganku.

"Maaf, Ma'am mengganggu. Apa kami bisa numpang nge-print undangan di sini?" tanya Mega. Wajahnya terlihat tak yakin dengan apa yang baru saja dia ucapkan, atau mungkin mahasiswi berbadan besar ini merasa sungkan.

"Printer BEM, kenapa?" sahutku.

"Ngadat, Ma'am."

"Kan, ada Niko, yang bisa memperbaiki?"

"Sudah, Ma'am. Tapi blom bisa."

"Okay, jika begitu."

Aku mempersilakan mahasiswi berhijab dengan postur tubuh di atas rata-rata itu, mengambil alih kursi yang sedang kududuki. Sedangkan aku, untuk sementara pindah ke kursi lain, melanjutkan pekerjaanku. Mengoreksi dan merekap nilai UTauditorium, tumpuk-tumpuk.

Mega baru saja memegang keyboard komputer, ketika Hantu Kampus tiba-tiba saja, datang. Walaupun sebelumnya telah mengetuk pintu, tetapi kedatangannya seolah tiba-tiba. Aku pun sedikit terkesiap dibuatnya. Niko pun segera memberi pengarahan ini dan itu pada Mega, layaknya seorang pemimpin. Hmm, sudah kuduga, dia bakal datang ke ruangan ini. Bisa jadi printer mereka juga, tak benar-benar rusak. Ah, mengapa aku berburuk sangka?

"Acaranya kapan?" tanyaku, sambil tetap menulis.

"Hari Jumat ini, Ma'am," jawab Mega, matanya juga tetap tertuju pada layar monitor.

"Ini sudah Selasa. Minimal besok, undangan sudah harus kalian distribusikan. Bukan seperti event yang sudah-sudah. Mbagi undangannya terlalu mepet hari H. Nggak banyak yang hadir, kan?" kataku. Bermaksud sekadar memberi masukan.

"Iya, Ma'am!" jawab mahasiswi berkulit coklat itu penuh semangat.

Mega, gadis penggemar warna biru tua, selalu terlihat seiring sejalan dengan Niko. Meskipun berbusana muslimah, caranya berjalannya yang tegap seakan tak ada bedanya dengan Hantu Kampus. Ditambah wajahnya yang tak pernah mengenal sentuhan make up, seolah mereka satu jenis kelamin. Kadang aku tertawa sendiri saat melihat mereka "bertengkar" mulut. Saling menghina, saling memukul, setelah itu keduanya terbahak-bahak. Kadang Andrew dan Hilmi sengaja menjadi "kompor" agar perkelahian mereka semakin seru. Dasar anak-anak.

Jumat ini, Niko bersama Mega dan genk-nya akan mengadakan event festival film indie. Buatku event ini termasuk langka. Pesertanya berasal dari perwakilan seluruh SMA dan SMK se-kotamadya yang berminat di bidang itu. Juri yang bersedia mereka mintai bantuan, beberapa personal dari TV swasta lokal dan kontributor TV Nasional di daerah. Walaupun tak terjun langsung, biasanya aku selalu mendukung hampir semua kegiatan mahasiswa. Termasuk event-nya Hantu Kampus, tentu saja. Meskipun aku sebenarnya malas.

Setelah entah berapa menit tak menyadari, akhirnya aku merasa ada yang aneh. Tak seperti biasanya, sedari tadi Niko terlihat diam. Rasanya ada yang kurang dan sangat aneh. Mungkin dia sedang dikejar deadline, karena itu terlihat serius atau pura-pura. Saat Niko banyak bersuara, duniaku terasa riuh, bahkan terlalu gaduh. Namun, ketika dia diam, seperti ada yang kurang, seperti ada yang terlepas dari genggaman. Sungguh merepotkan.

***

Sekitar jam 11 WITA, kurang lebih tiga jam semenjak kedatangannya ke dalam ruanganku, Mega berpamitan kembali ke auditorium untuk berkoordinasi dengan panitia yang lain. Begitu Mega meninggalkan ruanganku, tiba-tiba aku merasa canggung. Ya, karena harus berdua saja dengan Niko. Entah hanya sugesti atau karena apa, gerakan tubuhku tiba-tiba serasa terbatas.

"Sweet ... eh Ma'am, bisa pindah ke sebelahku, bentar?" suara Niko membuyarkan apa yang sedang kupikirkan.

"Ngapain? Tolong jangan bikin masalah!" jawabku.

"Kagak!"

"Jadi?"

"Kalau mau tahu ya, sini!" Karena penasaran, aku pun mendekat.

"Let's see this akun!"

Sudah kuduga, pasti dia sedang iseng. Menjadi hacker akun facebook seseorang.

"Bisa nggak, tidak mengganggu orang lain!?" sergahku setelah itu menarik panjang dan napas berat.

"Hmmm, siapa yang ganggu? Come here, please. I need your advice my love--" Niko tak meneruskan perkataannya lalu tersenyum. Sebenarnya seperti ingin tertawa tetapi dia tahan.

Terpaksa kugeser tempat dudukku mendekatinya.

"Oh my God!"

Jantungku serasa akan meloncat. Di inbox akun Diana, terpampang foto-foto kurang pantasnya. Lebih parah lagi ada chat 'ehem' dengan beberapa orang pria.

Astagfirullahaladzim, astagfirullahaladzim. Kupegang dadaku sambil memejamkan mata sejenak. Mahasiswi berhidung mancung, berbulu mata lentik dengan maskara yang tebal dan berambut lurus panjang berwarna cokelat dengan berbagai gaya busana itu memang selalu menarik perhatian. Entah karena cantik atau terlihat 'wow'. Cara berbicaranya yang hangat tanpa sekat pada siapa saja. Mungkin ini melelehkan jantung banyak mahasiswa dan para pria. Ramah dan suka berbagi tanpa pandang bulu. Terutama para pria. Bagi mahasiswa kebanyakan, mungkin yang seperti ini menyenangkan. Apalagi yang berlabel sebagai anak kost. Namun sepertinya tak demikian buat Niko.

"Niko. Please jangan bikin heboh kali ini. Lagian, apa salah Diana sama kamu?"

"Nggak ada, nggak suka aja!" jawab Niko tak acuh.

"Ini menyangkut nama baik kampus, kamu tahu itu, 'kan?" ucapku dengan suara berat.

"Enggak juga. Biasa aja."

"Enggak. Ini nggak biasa."

"Tergantung!" jawab Niko santai.

"Tergantung apa?"

"Tunggu Jumat nanti. Kalau mau nggak ada mahasiswi kejang-kejang, ikuti saja apa kataku. You don't mind, kan? My beautiful lecturer?" ucap Niko dengan wajah sumringah seolah merasa menang.

Dan memang, aku kalah lagi. Aku tak bisa menjawab. Dia memang selalu berhasil memperdayaiku. Meski umur dan pengalaman hidupku, jauh di atas dia.

Kadang aku bertanya, seberapa besar otaknya Niko? Selalu saja ada ide "liciknya". Sampai kapan aku selalu kalah. Satu-satunya jalan untuk men-take down dia, aku harus resign dari kampus. Padahal ini sangat mustahil. Mengingat tanggung jawab yang harus kutunaikan di kampus ini masih menggunung. Sepanjang hari, aku bertanya-tanya pada diri. Apakah ini takdir? Mungkin ....

***


Jumat yang dinanti pun tiba. Selesai salat jumat, hampir seluruh civitas akademika berbondong-bondong menuju auditorium, termasuk aku. Panitia event terlihat telah siap menunggu kedatangan para undangan dan peserta. Aku sedikit terkejut saat menginjakkan kakiku di bibir pintu masuk auditorium. Tak seperti hajatan-hajatan kampus saya yang sudah-sudah. Kali ini serasa lebih maksimal. Backdrop panggung yang cantik dengan perpaduan biru tua sebagai latar dan kuning yang menawan. Perpaduan warna yang kontras tetapi lembut, terkesan menyala dan hidup. Apalagi didukung lighting yang pas. Juga taman-taman mini di sekitar panggung dengan berbagai tanaman dekoratifnya tampak sangat indah.

Barisan kursi VIP dipersiapkan untuk tamu undangan khusus, direktur, dosen, dan sebagian staf. Aku segera mengambil salah satu tempat duduk di sana. Bersebelahan dengan Nesya. Tak jauh dari kami, meja juri di sebelah kanan panggung telah diisi beberapa orang. Agak jauh di seberang tempat dudukku, sederet tropi dan hadiah telah siap menanti untuk dibagi. Sepertinya event ini benar-benar serius.

Sambil menunggu para peserta dan tamu-tamu lain yang masih terus berdatangan, aku mengobrol bersama Nesya. Staf keuangan ini sibuk menceritakan sekolah-sekolah mana saja yang menurutnya berpotensi menjadi juara. Aku hanya manggut-manggut mendengarkan apa yang dia katakan. Dalam hal ini, aku sama sekali tak tahu menahu tentang yang demikian.

Entah berapa lama kami tenggelam dalam obrolan yang berasa hangat dan seru, tahu-tahu acara pun dimulai. Nesya pun berhenti berbicara. Pandangan matanya dan juga mataku langsung lurus ke arah panggung. Sebagai pembukaan, mereka menampilkan tari Enggang, ditarikan oleh beberapa mahasiswi. Meskipun tari ini, tarian suku Dayak Kenyah, tetapi mahasiswi dari suku-suku lain yang ada di kampus biasa menarikannya. Termasuk aku. Bagiku menarikkan tarian ini sungguh challenge. Seseorang harus membuat gerakan tubuhnya sedemikian lentur dan luwes. Walaupun terlihat cantik, tetapi setiap melihat hiasan di atas kepala bermotif Enggang dan bulu-bulu yang dibawa para penari, aku selalu berpikir burung Enggang itu seperti apa aslinya? Sebesar apa? Terancam punah atau tidak? Ah, tak mau terganggu pikiranku yang melantur ke mana-mana. Aku meluruskan niat. Mataku menatap seksama ke arah para penari tetapi pikiranku tetap berkelana. Sampai Nesya menepuk pahaku dan berkata, "Ma'am, lihatlah. Dara keliatan cantik sekali, yah." Suara Nesya menetralisir apa yang sedang kupikirkan.

"Ah, iya, kamu benar sekali Nes," jawabku sekenanya.

Bagiku Dara, Mega, Silvia, dan Vika yang saat ini sedang menari, Mega lah yang terlihat istimewa bagiku. Dara sehari-hari memang sudah cantik, walaupun pendapat Nesya benar. Berbeda dengan Mega, si tomboy yang bisa terlihat wanita setelah di-makeover. Aku tertawa tetapi berusaha kutahan.

Para penari terus berlenggak-lenggok mengikuti dan menyesuaikan dengan irama musik. Musik yang dihasilkan dari alat musik tradisional, khas Dayak. Sampe, gendang, dan gong. Mendengar alunan suara yang bagiku sangat Kalimantan yang berpadu dengan gerakan tubuh para penari yang begitu moleknya membuatku merinding. Betapa sangat kental nuansa tradisionalnya. Rasa haru dan bangga serasa memenuhi ruang-ruang di dadaku. Mereka yang muda tetap peduli pada salah satu budaya bangsa.

Acara berlanjut ke pembacaan doa, setelah itu beberapa sambutan, lalu ke inti. Pemutaran film indie produksi anak-anak SLTA satu per satu. Masing-masing film berdurasi sepuluh menit. Walaupun acting dalam film-film yang ditampilkan masih terlihat kaku, bagi pemula, menurutku sudah sangat bagus. Sampai di sini aku merasa sok tahu.
Aku tertawa sendiri.

Setelah empat film diputar acara diselingi pementasan theater. Ini bagian yang sangat menarik, selain tarian. Lagi-lagi mataku langsung tertuju dengan seksama pada mereka. Para pemain. Mereka yang menampilkan ekspresi, lekuk tubuh dan dialogue yang sanggup membuat bulu-bulu di tubuhku berdiri. Merinding. Perlahan-lahan air mataku pun merembes lalu mengalir membasahi pipi. Rasa haru dan kagum sepertinya telah sedemikian rupa "mempermainkan" rasaku. Emosiku.

Kereeen. Tak henti-hentinya aku mengucapkan kata itu dalam hati. Sampai akhirnya aku menyadari, kisah yang mereka mainkan, ternyata menceritakan tentang aku dan Niko.

Ada saja idenya anak ini. Jadi ini maksud dia memaksaku datang ke acara ini? Rasanya sungguh 'uhh', kesal dan malu. Sebenarnya aku ingin meninggalkan tempat acara, begitu menyadari jalan cerita yang sedang mereka pentaskan di panggung, tetapi kuurungkan. Selain karena Niko memberiku 'kode' agar aku segera kembali ke tempat duduk. Nesya juga bertanya mengapa aku tiba-tiba berdiri. Jika bukan demi menghindari besok pagi akan terjadi "gempa bumi" karena kasus Diana, pasti aku sudah mengambil langkah seribu. Terpaksa aku menurut.

"Nasib...," gumamku.

Acara terus berlanjut dan berjalan sebagaimana run down yang telah mereka susun.

Sampailah di pengujung. Aku sedikit bernapas lega. Penderitaanku akan segera berakhir, pikirku. Namun ternyata, sebagai sajian penutupan, Hantu Kampus akan tampil dengan solo gitarnya. Firasatku mengatakan ada hal buruk akan terjadi. Duh, tiba-tiba ada yang terasa gatal di tubuhku, tetapi tak tahu di sebelah mana. Ingin menggaruk, tetapi bingung di bagian yang mana. Aku terpaksa memasang muka, pura-pura bloon. Untung Nesya tak terlalu menyadari apa yang sedang kurasakan. Sungguh rasanya tak sanggup melihat penampilan "gaje" di atas panggung sana, tetapi sekali lagi ... aku takut. Feelingku tentang hal buruk akan segera terjadi semakin menguat.

Setelah intro yang mengalun pelan dan merdu dari gitar akustik beberapa saat, terdengarlah suara seseorang ....

Wise men say,
Orang bijak mengatakan,

Only fools rush in.
Hanya orang bodoh yang terburu-buru.

But I can't help falling in love with you.
Tapi aku tidak bisa mengendalikan dalam hal jatuh cinta padamu.

Suara bariton-nya Hantu Kampus pun mengalun pelan. Seolah memenuhi seluruh auditorium yang ukurannya lumayan luas. Cukup berkarakter dengan ciri khas sedikit seraknya.

Busyeeet! Matanya terus tertuju padaku. Sementara bibirnya, tak henti-henti melebar, mengumbar senyuman. Senyum bahagia dan kemenangan. Aku tak tahu harus tertawa, terharu atau malu. Yang pasti aku merasa perbuatan ini sangat norak. Dia yang milenial mengapa bisa menyanyikan lagu zaman dulu? Ah, peduli apa.

Shall I stay?
Haruskah aku diam saja?

Would it be a sin?
Akankah ini menjadi sebuah dosa?

If I can't help falling in love with you.
Jika aku tidak bisa mengendalikan dalam hal jatuh cinta padamu.

Petikan gitar dan nyanyian Niko terus mengalun. Setiap mengucapkan kalimat 'If I can't help falling in love with you'
mata Niko menatapku, tajam. Seolah lirik lagu itu dia tujukan padaku dari dasar hatinya yang dalam.

Sesungguhnya aku merasa kasihan. Perasaan hampa, tiba-tiba saja serasa menyelinap ke dalam dadaku. Namun, aku tak bisa berbagai apa-apa. Lagi-lagi pertanyaan untuk diriku sendiri, 'aku bisa apa?' Hanya pertanyaan itu yang bisa dan sering kutanyakan pada diri sendiri.

Like a river flows,
Seperti sebuah aliran sungai,

Surely to the sea.
Yang pastinya (tetap akan) menuju laut.

Darling, so it goes,
Sayang, begitulah ini,

Some things are meant to be.
Beberapa hal memang sudah ditakdirkan terjadi.

Take my hand,
Genggam tanganku,

Take my whole life too.
Genggam juga seluruh hidupku.

For I can't help falling in love with you.
Karena aku tidak bisa mengendalikan dalam hal jatuh cinta padamu.

Begitulah, terlihat dengan penuh perasaan Niko menyelesaikan lagunya dengan penuh percaya diri.

Aku menarik napas panjang. Akhirnya selesai juga. Tangan dan kakiku yang sedari tadi dingin, perlahan-lahan mulai menghangat. Namun, dadaku masih terasa sesak seolah menahan sesuatu.

Pun demikian, aku tetap berpikir yang dilakukan Niko itu sangat norak dan memalukan. Dari sisi sebelah mana pun, aku berusaha memikirkannya. Aku benar-benar ingin segera keluar dari ruangan berkapasitas 200 orang itu, sebelum acara itu benar-benar selesai. Namun ... aku hanyalah seorang tawanan. Suka tidak suka aku memutuskan tetap bertahan. Untuk sementara kuputuskan urat malu-ku. Beruntung tamu-tamu penting telah meninggalkan tempat.

Ternyata kejutan masih berlanjut. Jika yang sebelumnya mungkin hanya orang tertentu yang mengetahui, yang ini sebaliknya. Jantungku serasa benar-benar akan berhenti berdetak, saat MC memanggil namaku untuk menerima bucket bunga mawar merah dari Niko. Meski sempat speechless aku berusaha tetap tenang.

Ini di tempat umum, Dilara. Kalimat itu seolah terus terngiang di kepalaku. Jika bisa melihat wajahku di cermin, mungkin aku terlihat pucat.

Suara riuh tepuk tangan pun begitu bergemuruh, rasanya seperti menusuki jantungku. Serasa sempurna perbuatan norak Niko. Perbuatan mana yang lebih lebay dari ini? Ya Allah, mau ditaruh mana wajahku?

***


Aku berharap agar hari cepat dan segera berlalu. Segera berganti dengan Sabtu, hari di mana aku akan segera menjemput seorang pangeran cinta versi Ayah, yang akan dari Qatar, besok.

To be continued
Diubah oleh Puspita1973
profile-picture
profile-picture
mmuji1575 dan InaSendry memberi reputasi
2 0
2
Love, Choice, and Decision
06-11-2019 04:29
Love, Choice, and Decision

BAB 4

AKU KALAH


Walaupun ragu dengan kemampuan dan kualitas strategi yang telah kubuat, aku tetap melaksanakannya. Rencana pertama: aku izin tak masuk kerja selama dua hari. Setelah itu, mematikan HP. Karena tak ingin direpotkan bongkar dan pasang ponsel, untuk berkomunikasi dengan keluarga, Bang Ardhi, dan kampus aku terpaksa membeli SIM card dan hand phone baru. Rasanya tak sabar ingin segera tahu reaksi bocah gemblung itu.

Untuk mengetahui perkembangan apa saja yang akan dilakukan Niko, aku telah bekerja sama dengan Nesya. Dari informasi yang kudapat; setengah hari pertama, aku tak tampak di kampus dan seolah menghilang dari peredaran, Niko sudah seperti anak ayam yang kelabakan mencari induknya. Dia bertanya tentang keberadaanku ke hampir seluruh karyawan dan dosen yang dijumpainya. Puncaknya dia datang ke bagian kepegawaian. Bukan Niko namanya jika mudah menyerah. Pada Nesya dia bertanya alasan dan kemungkinan mengapa aku tak masuk kerja. Staf manis berkulit sawo matang bagian kepegawaian itu hanya menjawab 'kurang tahu'.

Hari ke dua. Masih menurut cerita si mungil Nesya. Niko datang bersama Andrew ke ruangannya. Di kesempatan ini, Andrew--cowok kurus dengan rambut sedikit acak-acakanlah--yang menggali informasi. Niko hanya duduk diam di sebelahnya. Menurut Nesya, wajah Niko terlihat BT tingkat mahadewa. Uff, sampai di sini aku merasa bahasa Nesya terlalu lebay. Setelah kupikir-pikir, kok, aku berasa seperti menjadi seorang DPO. Di sini Nesya tetap memberikan jawaban 'kurang tahu', untuk Niko dan Andrew.

*

HP-ku bergetar.

Ms. Dee, besok beneran masuk, kan? Pesan dari Nesya.

Insya Allah. Memangnya kenapa?

Nggak tega lihat anaknya Ms. galau. Aku takut dia ngrubuhin kampus ini, ntar. Nesya menambahkan emoticon LOL di belakang pesannya.

Tolong liatin gerak-geriknya hari ini, yah. Mudahan dia nggak bikin onar.

Ciee, Emak takut yah, anaknya yang u-la la itu bikin masalah.

Asem.

Sepertinya, strategiku yang pertama ini, akan nihil.

***


Aku sengaja memarkir mobilku di pinggir jalan, demi tak bertemu Hantu Kampus di parkiran basement. Padahal mobil akan seperti sauna saat akan dipakai keluar jam makan siang saking panasnya. Apa boleh buat.

Dengan langkah kaki berdurasi lebih dari biasanya, aku berjalan menuju front office. Astaga. Jantungku mendadak seperti akan copot saat melihat Niko, Andrew dan Hilmi berada di situ. Apa daya. Sudah terlanjur tertangkap basah, aku tetap berusaha tenang. Tarik napas. Tarik napas.

"Good morniiing Maaam! You are fine, today?" ucap Niko dengan senyum dan mata berbinar.

"Thank you. No, Iam so so!" jawabku, mencoba membuat korelasi mengapa dua hari yang lalu absen. Sesungguhnya aku merasa geli. Meskipun demikian tetap kupasang wajah tenang yang kubuat-buat.

"Oh ya, I am sorry to hear that, kalau begituh!" jawab Niko dengan tatapan mata yang seolah menuduhku berbohong.

Aku segera masuk ke dalam ruangan kerja.

HP-ku bergetar. Hmmm, pesan dari Hantu Kampus.

Lain kali, jangan bolos kerja, kalau hanya untuk menghindariku!

Siapa yang membolos? Jangan sok tahu! Kemarin saya fitting baju pengantin.

Duh, aku terpaksa berbohong. Aku tersenyum, karena merasa menang. Seperti biasanya setelah itu ada rasa aneh yang seolah terenggut dari dadaku.

Tak ada balasan. Padahal aku sangat menunggu reaksinya. Untuk mengatakan haram hukumnya menginginkan wanita yang sudah di-lamar oleh seorang lelaki pada seorang Niko, rasanya tak mungkin. Walaupun belum mencoba melakukannya, aku sudah tak yakin, orang seperti dia akan mengerti. Feelingku mengatakan dia lebih berpedoman pada sebelum janur melengkung seseorang itu masih bebas.

***


Belum merasa putus asa, aku pun menyusun rencana kedua: mengingatkan Niko melalui materi kuliah. Demi menjalankan misi ini, dengan mata yang sudah lima watt, aku masih menggerakkan mouse, untuk membuat materi ajar. Jam di laptop sudah menunjukkan angka 22.30, dan aku masih terus berselancar di dunia maya mencari bahan ajar yang kuinginkan. Ternyata tak mudah juga. Setelah lebih dari tiga puluh menit, aku menemukannya. Sebuah video. Langsung ku-download dan beberapa menit kemudian, done! Urat syarafku yang sedikit tegang, serasa menjadi longgar. Segera kumatikan laptop dan saatnya berselancar ke dalam dunia mimpi. Rasanya sudah tak tahan ingin memeluk guling.

*

Besok paginya di dalam kelas.

"Okay everyone. Let's see the movie! After that, you need to tell the story in your own words. One by one. To the other students, please ask him or her a question. You got it?"

Aku memberi penjelasan tentang apa yang harus dilakukan mahasiswa di kelasku. Mata kuliah English 4, Speaking Section.

Rencananya, aku akan memutar video yang kudapatkan semalam. Setelah itu mahasiswa harus menceritakan kembali dengan bahasanya sendiri. Seperti biasanya, mereka selalu lebih tertarik pada materi pembelajaran yang berbentuk audio visual dibandingkan yang lain. Melihat wajah-wajah mereka yang terlihat fresh, menambah semangatku.

"Okay, are you ready?" tanyaku, sebelum menekan tombol 'klik'.

Aku pun memutar sebuah film pendek berbahasa Inggris, berdurasi tujuh menit. Video yang berisi tentang kisah dua sosok berbeda karakter. Saat mereka harus menghadapi tembok tebal yang menghalangi keinginan mereka, satu sosok bersikap pantang menyerah tetapi terjatuh. Sedangkan yang satunya memilih jalan lain, dan sukses walaupun dengan hasil yang berbeda.

Aku berharap Niko dapat mengambil pelajaran dari video ini. Pantang menyerah untuk sesuatu yang konyol, sama saja menyakiti diri sendiri. Tentu saja, karena kemungkinan besar, dia akan terjatuh. Sebaliknya, walaupun seseorang tak mendapatkan apa yang dia inginkan, dunia tak harus kiamat. Banyak pilihan dan jalan yang bisa diraih. Aku berharap Niko bisa berpikir sepertiku. Akankah itu terjadi?

Usai video diputar, mahasiswa dan mahasiswi mulai mencorat-coret di atas kertas, menyusun apa yang akan mereka ceritakan tentang video yang baru saja mereka lihat.

"Okay. Hilmi, what do you learn from the story?" tanyaku pada Hilmi.

"Mmm, anu Ma'am. Yes, I mean--"
Bola mata Hilmi bergerak ke arah atas, seperti sedang berpikir keras agar bisa mengatakan sesuatu.

"Yes, what do you mean?" ujarku, mencoba membantunya.

"Mmm, I mean ... I mean, someone needs to be smart, Ma'am." Setelah mengatakan itu, Hilmi tersenyum. Seolah tak yakin dengan apa yang baru saja dia katakan.

"Thanks, Hilmi. Good point!"

Begitulah mahasiswa, walaupun jawaban mereka tak salah sekalipun, sebagian besar dari selalu merasa tak percaya diri. Selanjutnya aku sengaja berdiri di tengah-tengah di depan mereka; mahasiswa dan mahasiswi yang selalu duduk dengan formasi membentuk huruf U, khusus untuk kelasku. Itu karena aku selalu ingin berinteraksi langsung dengan mereka.

Aku mengedarkan pandangan. Seolah menghampiri mereka satu per satu. Sampai akhirnya, padangan mataku berhenti pada Niko. Aku sengaja melakukannya.

"Yes, now your turn, Niko. What is the moral of the story?" Aku berharap Niko gagap menjawab.

"Nothing special Ma'am. It talks about failure and successful. An expert says if someone wants to succeed, he or she needs to understand how his or her failure rate can lead to success. Yes, everyone knows that someone wants to live a successful life; nobody wants to live as a failure. Including me." Niko menjawab dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat santai.

OMG! Di luar dugaanku. Aku pikir Niko akan kelabakan menjawab, karena merasa tersindir atau tahu sedang disindir. Aku berharap dia mati gaya. Sebaliknya, dia justru sangat percaya diri. Dan yang lebih menggemaskan lagi, karena dia berpendapat jika seseorang ingin sukses maka dia harus tahu tingkat kegagalannya untuk meraih sukses itu. Tak ada orang yang ingin gagal. Itu artinya dia tak akan menyerah. Tiba-tiba aku merasa lemas. Meskipun tak sesemangat saat awal masuk kelas ini, aktivitas perkuliahanku tetap berlanjut, seperti yang kurencanakan.

Aku merasa kalah. Fisik, otak dan hatiku serasa lelah, harus terus-menerus mengahadapi anak muda yang unpredictable itu.

***


Minggu pagi yang cerah. Matahari masih terlihat malu-malu mengitip dari sana, ufuk timur. Namun secangkir teh dan kudapan telah Mama siapkan di atas meja. Mama memang juara. Setelah empat hari berkutat dengan masalah Niko, teman-teman kantor, dan meng-input nilai-nilai mahasiswa dan mahasiswi ke dalam komputer, hari ini aku merasa benar-benar free. Alhamdulillah.

HP-ku bergetar. Ah, pesan dari Bang Ardhi.

Honey, Inshaa Allah, Sabtu depan, Abang pulang. Abang sudah sangat rindu suara hujan. Jika nggak sibuk tolong jemput sama Mama dan Abah, yah! Seperti biasanya Bang Ardhi mengakhiri pesannya dengan emoticon love.

Alhamdulillah. Iyah, sampai di sini ntar kita hujan-hujanan, Bang. Kuselipkan emoticon gembira, di ahkir pesanku.

Insya Allah aku kondisikan tidak sibuk, Bang. Kuakhiri pesanku dengan emoticon love tiga kali dan bersiul love sekali.

Namun, entah mengapa hatiku terasa hambar. Meskipun aku menghujani Bang Ardhi dengan emoticon love yang bahkan bertubi-tubi, mengapa hatiku seolah tak sejalan dengan jari tanganku yang telah mengetik semua itu. Apa yang harus kulakukan? Aku memejamkan mata. Berusaha membayangkan betapa cool dan gantengnya Bang Ardhi. Konyol. Aku tertawa sendiri. Namun, dua kriteria itu serasa tak cukup, tetap terasa monoton. Jadi apa yang aku inginkan? Tidak, tidak, tidak! Bagi sebagian orang, bukankah sosok seperti si abang ini, sangat ideal? Jangan-jangan aku merasa nyaman dengan karakter hantu kampus yang tak mudah ditebak dan menantang diajak berdebat?

OMG!

Perasaan gila ini, harus diakhiri. Aku segera mengambi HP yang sempat kuletakkan begitu saja di atas ranjang. Kubuka aplikasi WA, cari nama Bang Ardhi dan video call.

Alhamdulillah, begitu muncul wajah manisnya Abang di layar HP, pandangan mataku mendadak menjadi lebih cerah. Aku berusaha menikmati setiap kalimat yang diucapkan Bang Ardhi. Tidak terlalu buruk. Setidaknya teknologi android telah mengubah Qatar-Indonesia bagaikan Tanah Abang-Cibubur. Setelah satu jam setengah, ngoceh, tersenyum, dan pura-pura ngambek di depan layar HP, kami sepakat mengakhiri pembicaraan.

Plong! Seperti itulah yang aku rasakan. Sepertinya aku mulai merindukan pria berkulit putih, yang saat ini masih berada di Qatar. Aku berharap waktu berjalan lebih cepat, hingga rencana kedatangannya minggu depan, tinggal di depan mata.

To be continued
Diubah oleh Puspita1973
profile-picture
profile-picture
mmuji1575 dan tidhy010709 memberi reputasi
2 0
2
Love, Choice, and Decision
27-10-2019 16:50

LOVE, CHOICE, AND DECISION

Love, Choice, and Decision

BAB 3

THE POOR BOY


Ruangan yang hampir seluruhnya berdinding kaca itu tampak sepi. Yang terlihat hanya satu meja terisi dua orang pelanggan, kasir dan tiga waiters yang sedang duduk menunggu. Alhamdulillah. Aku menoleh ke kiri dan kanan, masih ingin memastikan bahwa kondisi benar-benar sepi. Jika teman-teman Niko melihat aku dan Niko duduk berdua satu meja, apa yang akan mereka pikirkan? Dan, mengapa anak gemblung itu memilih Nes-Milo yang lokasinya tepat di seberang kampus. Bukan dia tahu, hampir pasti akan selalu mahasiswa dan mahasiswi yang nongki di sana.

Harus duduk semeja dengan Hantu Kampus? Uh, bulu kudukku tiba-tiba berdiri. Apakah ini the real ketakutan pada hantu? Bukan sekadar istilah? Aku bingung harus tertawa atau merasa bloon. Bocah itu paling bisa membuatku tak bisa memilih. Jika tak diikuti bakal ada tsunami. Saat diikuti aku harus siap mati berdiri.

Aku segera mengedarkan pandangan mencari Niko. Sepertinya dia belum datang. Sudah mengajaknya memaksa, sekarang dia mempermainkan orang yang lebih tua. Dasar!

"Dilara! Sini!"

Oh, itu suara orang yang sedang kucari. Tak merasa lega sebagaimana rasa seseorang yang telah bertemu apa yang dicarinya, aku tetap merasa ada yang mengganjal. Niko melambaikan tangan memberi isyarat agar aku segera menuju ke tempatnya berada. Kursi di bawah tangga menuju lantai dua yang sedikit terlindung dari pandangan umum. Baguslah. Mungkin dia sengaja memilih tempat itu. Aku pun bergegas menuju ke sana. Begitu aku sampai, anak laki-laki berambut hitam mengkilap itu langsung berdiri lalu menarik kursi di depannya. Mempersilakan aku duduk.

"Apa yang akan kamu katakan?" tanyaku ketus, seraya duduk.

"Mau yang mana dulu? Yang baik atau yang buruk?" jawab Niko dengan senyum-senyum simpul. Binar-binar terus memancar dari matanya.

"Mana saya tahu? Terserah kamu!"

"Dilar--"

"Stop! Sudah saya bilang, jangan panggil saya begitu!" selaku, dengan intonasi sedikit meninggi, mungkin wajahku juga memerah.

"Okeh, sweetie.... " ucap Niko sambil mengecup ujung jempol dan jari telunjuknya yang dia satukan.

"Uhuk!" Aku langsung tersedak selanjutnya terbatuk-batuk. Rasa geli dan marah bercampur menjadi satu.

Niko berlari mengambil air mineral yang tersedia di meja dekat kasir. Buru-buru membuka segel dan tutupnya sambil berjalan ke arahku. Begitu sampai di meja kami, dia langsung memberikan air mineral itu padaku.

"Santai saja, kenapa?" ucapnya. Aku merasa perkataannya itu sok dewasa.

"Kalau sehariii sajaa, nggak bikin masalah sama saya, kenapa?" ujarku, setelah menenggak air mineral yang ada di tangan.

"Hmmm...." Niko urung menanggapi apa yang baru saja kukatakan karena seorang waiter datang menghampiri meja kami. Lelaki berpakaian nuansa monochrom membawa dua gelas jus tomat dan dua mie goreng.

"Kita selesaikan nanti, saja. Sekarang waktunya makan. Sudah kupesankan makanan favoritmu. Nggak salah, 'kan? Mi goreng spesial," ucap Niko dengan senyum lebar.

Dia beruntung. Pesanan makanan datang di saat yang tepat. Hantu Kampus mendapat kesempatan untuk menghindar dari seranganku. Serangan? Saat berurusan dengannya, aku selalu merasa menjadi ABG. Oh, God.

Aroma mi goreng bertabur daging, sayuran dan tomat menguar tajam menusuk hidung. Begitu menggoda. Rasa lapar pun memanggil, untuk melahap. Sayangnya, rasa senang dan eneg sedang tidak akur di dalam perut dan otakku.

Rasa macam apa ini?

Nafsu makanku, mendadak turun 50%. Meskipun demikian tetap kupaksakan menikmati hidangan yang sudah disediakan di depan mata.

Sepuluh menit kemudian.

"Cepat katakan apa maumu!" bentakku, pelan. Rasanya sudah terlalu lama aku duduk berdua bersama Niko. Selain tak nyaman, juga membuat jantungku terus berdetak tak beraturan.

"Satu, bersikaplah biasa. Aku hanya seorang cowok, seorang lelaki yang mencintaimu. Bukan penculik seperti di film-film!" ucap Niko dengan penuh percaya diri. Seolah tanpa sedikit pun keraguan. Kedua bola matanya tajam menatapku.

"Hemm, terus?" Aku sangat geli sekaligus prihatin saat mendengar Niko mengucapkan kata 'seorang lelaki yang mencintaimu'. Berani sekali dia.

"Okay! Dua! Aku tidak akan menyakitimu." Intonasi suara Niko menurun, terdengar sedikit lembut. Selain itu bola matanya yang sedikit sipit itu, seolah memancarkan kesungguhan.

"Ada lagi?" lanjutku.

"Jangan bohongi dirimu sendiri!"

Jleb! Kalimat terakhirnya membuatku tertunduk. Seluruh dunia seolah sedang mentertawaiku. Aku harus segera mencari cara untuk mengakhiri pertemuan konyol ini.

"Okeh, lanjutkan via HP! Saya sedang ditunggu kakak perempuan dan keluarga besar. Tahu, kan, apa yang akan mereka bahas?"

Niko menatapku lekat, seolah sedang menebak apa yang akan kubahas dengan mereka. Dan, sepertinya dia bisa menebak. Perihal pernikahanku. Ada kilatan cemburu yang sama sekali tak dia sembunyikan.

The poor boy ...

Ada sedikit rasa pedih yang tiba-tiba muncul dari dalam sana. Bukan sepenuhnya karena Niko, tetapi lebih jika aku berada di posisi dia.

***


Niko, bagi sebagian orang sosok ini kerap memacu adrenalin. Sebagian lagi, anak yang nyaris tak pernah diam ini, hanya membuat tegang urat syaraf, mereka. Namun, bagi golongan yang terakhir, lelaki jangkung ini, tipe yang menyenangkan. Sedikit humoris dan memiliki banyak bakat terpendam. Salah satunya, meski bukan jurusan Informatika Komputer, skill alami yang dia miliki dalam dunia per-HP-an dan laptop membuat dosen maupun teman-teman datang padanya saat mendapat masalah dengan benda-benda itu. Free of charge. Namun hanya aku dan sebagian orang saja yang tahu, jika setelah itu, Niko bisa mengetahui password sosmed dari gadget yang dia perbaiki. Walaupun tak melakukannya secara membabi buta pada semua gadget yang pernah dia perbaiki, tetapi aku tak heran jika ada seseorang menangis karena Niko mempublikasikan chat rahasianya pada orang-orang tertentu. Biasanya dia melakukan itu pada mahasiswi yang dia anggap caper dan berlebihan. Bukan asal tabok. Masih mending. Lah, mengapa aku membelanya?

Lelaki yang identik dengan jaket kulit hitam itu, anak tunggal dari salah satu pengusaha cold storage di kota ini. Dia lebih sering bermotor besar, meski mobil sport hitam limited edition tersimpan di garasi rumahnya.

Menurut cerita dari yang bersangkutan, saat SMA, dia pernah menjuarai turnamen bulu tangkis se-kecamatan. Pernah pula tinggal di Bogor beberapa bulan untuk memperdalam bakatnya. Dari sorot matanya saat bercerita, sepertinya Niko begitu menikmati dunia itu, tetapi sayang, ibunya tidak bisa jauh dari anaknya. Sedangkan sang ayah berpikir bakat seperti itu tak berguna. Tak menghasilkan uang. Untuk apa. Setelah itu dengan sangat keras menentang, keinginan sang anak.

Mendengar kisah hidupnya yang ini, jujur membuatku mengelus dada. Layu sebelum berkembanglah, cita-cita seorang lelaki muda yang baru saja mematri angan-angan pada lembar masa depan di dalam benaknya. Beruntung dia tak lari pada dunia narkoba, pun penjahat cinta. Bisa jadi rengkuhan tangan hangat seorang wanita bernama ibu yang mencegahnya ke sana.

Yup, benar, dunia ini memang tak monoton. Sepertinya semua orang punya kisahnya sendiri-sendiri. Aku tersenyum, entah.

***


Sweetie, aku mau ke rumahmu! Pesan dari Hantu Kampus gaje via whatsapp.

What?!

Mataku terbelalak, seketika.

Jangan cari masalah! Kalau kamu nekat, saya akan keluar dari rumah. Balasku, mengancam.

Emang dia saja yang bisa menekan. Dalam hati aku bersorak, setelah itu tersenyum sendiri. Sepertinya biasanya, aku selalu menjadi serupa bocah, jika harus berhadapan dengannya.

Keluarlah, aku tambah senang. Bisa menemuimu kapan saja. Balasnya, lagi. Uff! Aku tercekat.

Aku segera berpikir mencari cara mengalahkan dia.

Datanglah, setelah itu kamu tidak akan pernah melihat saya lagi di kampus. Menjadi pengguran yang bahagia, sepertinya menyenangkan. Lakukan semaumu! Balasku.

Tiba-tiba aku berpikir, tidakkah kalimat 'pengangguran yang bahagia' terasa aneh? Mau kuhapus, tetapi sudah terlanjur dia baca.

Ah, biar saja. Paling juga dia tak terlalu menghiraukan. Hiburku dalam hati.

Lima menit telah berlalu. Belum ada balasan. Apa dia takut atau? Mengapa aku terlalu antusias menunggu balasannya. Sepuluh menit pun berlalu. Aku masih menunggu. Lima belas menit puj berlalu. Kupikir dia tak akan membalas.

Ya, sudahlah.

Aku memutuskan tak akan menghiraukan dia lagi. Aku pun berjalan menuju teras samping. Di sanalah Mama biasa berada. Bercengkrama dengan bunga-bunga anggrek dan mawar kesukaannya. Daripada keningku terus berkerut memikirkan Niko, lebih baik menghibur diri di dekat Mama.

HP-ku yang kusimpan dalam kantong celanaku bergetar. Tak terlalu antusias aku membukanya. Namun begitu tertera pesan dari Hantu Kampus Kumat, mataku langsung membesar.

Baik Ma'am, saya salah. Saya minta maaf. Saya tidak akan datang.

Bukannya senang karena dia tak jadi mengganggu, aku justru merasa ada sesuatu yang hilang. Ada yang tiba-tiba terasa hampa di dalam dada. Sebenarnya apa, sih, yang aku rasakan? Ah, tidak. Dia bukan ... seperti biasanya aku selalu mencoba berdamai dengan perasaan sendiri. Tanpa sadar aku mengelus-elus dadaku sendiri.

Selanjutnya, aku sengaja membuang pandanganku ke arah bunga-bunga milik Mama. Dengan cara inilah mata dan otakku yang sedang bermasalah biasanya bisa kembali menjadi sedikit lebih baik.

"Kamu kenapa, Nduk? Kok sajak bingung." Pertanyaan Mama, sedikit membuatku terkesiap.

"Ah, ndak papa, Mah. Banyak kerjaan yang blom Dila selesain."

"Yo wes sana, ndang dikerjakan. Jangan malah ngalamun, di situ."

"Iya, Mah."

Aku segera angkat kaki dari teras. Kembali menuju kamar.

Aku merasa perasaanku pada Niko, benar-benar mulai salah. Ya Allah, bagaimana ini? Di satu sisi aku berpikir ini masalah kecil, tetapi di saat yang sama aku merasa gelisah karenanya. Aku harus menemukan cara. Cara berlari atau menenggelamkan masalah ini, hingga tak tersisa.

Bagaimana cara membuat Niko mengerti tanpa menyakiti. Cukup menyanyanginya tanpa tendensi, dan ... menghilangkan dia dari hari-hariku tanpa merasa kehilangan. Apakah ketiganya, mungkin kulakukan?

To be continued
Diubah oleh Puspita1973
profile-picture
profile-picture
mmuji1575 dan anwarabdulrojak memberi reputasi
2 0
2
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 06
Love, Choice, and Decision
25-10-2019 19:15
ish, Nikho nyebelin. jangan sampe endingnya sama nikho ya, Mbak. bisa illfel deh!
profile-picture
profile-picture
mbethix dan Puspita1973 memberi reputasi
2 0
2
Love, Choice, and Decision
25-10-2019 18:59
i love you 🙈
profile-picture
profile-picture
mbethix dan Puspita1973 memberi reputasi
2 0
2
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
cerpensatu-atap-dua-dunia
Stories from the Heart
surat-itu-dari-quotmamaquot
Stories from the Heart
he-is-my-beloved-stepbro
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Heart to Heart
Stories from the Heart
gadis-berambut-merah-part-2
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia