alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
30
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5da6596665b24d0e810d7de2/kisah-kisah-romantis-dari-ladita
Sungguh aku tak menantikan suara itu datang. Pengumuman dari pengeras suara menyentak kesadaran bila waktu untuk berpisah telah tiba. Ingin rasanya menikam waktu agar berhenti di detik yang sama.
Lapor Hansip
16-10-2019 06:42

Kisah-kisah Romantis dari Ladita

Past Hot Thread
Airmata di Malioboro

Kisah-kisah Romantis dari Ladita


Quote:Sungguh aku tak menantikan suara itu datang. Pengumuman dari pengeras suara menyentak kesadaran bila waktu untuk berpisah telah tiba. Ingin rasanya menikam waktu agar berhenti di detik yang sama. Kalau saja waktu benar-benar mati, mungkin aku bisa memutar dan mengembalikannya ke awal. Jam dimana aku menginjakkan kaki di stasiun kereta ini. Waktu ketika aku melihatmu berdiri di sana, tersenyum, menyambut kedatanganku.

"Aku harus pulang," suara mendesis keluar dari tenggorokan. Entahlah, aku tak begitu yakin itu terdengar sebagai suara karena butuh kekuatan untuk mengeluarkannya.

Anggukan lemah Rivan menyadarkanku akan sebuah jeda yang kembali harus kami jalani demi pertemuan berikutnya.

"Sini aku bawain tasmu," ucap Rivan sambil mencoba meraih tas di tangan.

Sontak aku menggeleng dan menarik tangan menjauh darinya. Lalu, berdiri perlahan ... berjalan perlahan ... menuju tempat pemeriksaan tiket. Rivan mengikuti dengan perlahan juga. Kami berjalan pelan dalam diam yang menyakitkan.

Kerera api jurusan Bandung melintas pelan, kemudian menghentikan rodanya di depan stasiun. Tepat pada pukul 18.15. Waktu yang ingin kutikam agar tak pernah beranjak dan tak memisahkan kami.

"Dek, hati-hati, nanti kabari." Rivan meraih tanganku tiba-tiba. Memaksa agar badan ini berbalik dan menghadapnya.

Aku tak kuasa memandangnya, hanya bisa mengangguk dan menahan airmata. "Mas juga nanti kabari," ucapku lirih. Anggukan dari wajah pucatnya semakin membuat pilu hati.

Aku tahu akan ada lagi detik-detik kosong yang harus dilalui untuk mempertemukan kembali rindu ini. Akan ada lagi malam-malam sepi menanti kabar dalam untaian puisi bisu. Akan ada lagi airmata yang harus ditahan dan ditampung demi sebuah kelanjutan cerita.

Suara di pengeras suara memintaku untuk bergegas melewati tempat pemeriksaan tiket. Kereta akan berangkat sebentar lagi. Perlahan aku melangkahkan kaki yang terasa enggan meninggalkannya. Pria yang selalu menghiasi hari-hari dengan candaannya, dengan cerita-ceritanya. Pria yang kucintai dan akan selalu jadi pengisi hati hingga usiaku menyusut.

Langkahku semakin perlahan dan akhirnya berhenti di awal jalan yang menurun. Dadaku sesak. Ada airmata yang ingin tumpah, tapi terpaksa ditelan. Tubuh ini lemas. Aku tak ingin pulang. Sontak kubalikkan badan, mencari-cari Rivan di antara para pengunjung. Sebuah lambaian mengalihkan mataku yang mengembun. Itu Rivan ... berdiri di antara pengantar lainnya. Berdiri gelisah di balik pagar pembatas.

"Mas ...," desisku. Ingin rasanya berlari ke pelukannya dan mengatakan ingin selalu bersamanya ... selamanya.

Rivan kembali melambai, kemudian menganggukkan kepala. Menyemangati. Aku paham, ini memang waktunya. Saat kami harus kembali saling merindu dalam jarak yang menyesakkan.

Demi masa yang tak mungkin kembali, demi waktu yang tak ingin dimaki. Saksikanlah hati yang tak kuasa membenci harus kembali berpisah dengan sang kekasih hati.

Dengan berat kususuri jalan yang mengantar ke gerbong-gerbong kereta. Satu demi satu gerbong terlewati, dan langkahku kembali terhenti di pintu gerbong dua. Aku tahu, ketika melewati pintu gerbong itu sama dengan menggenapkan perpisahan sementara ini. Aku tahu, ketika melewatinya berarti mengamini jarak yang terpaksa harus tercipta kembali.

Aku tahu, waktu untuk pulang telah tiba.


"Beneran, Mea?" Teriakkan Wita di ujung telepon Cumiakkan gendang telingaku.

"Jangan jerit-jerit atuh, Wit. Kepalaku udah puyeng jadi nambah puyeng dah."

"Positif diberhentiin jadinya?" tanya Wita lagi penasaran.

Kesal aku dihujani pertanyaan yang semakin memojokkan. Sudah terpojok, malah makin dipojokkan dengan pertanyaan yang seharusnya tak perlu ditanyakan.

"Enggak usah nanya-nanya lagi, ah. Pusing aku jadinya!" sergahku kesal. Suara klik keras mengakhiri pembicaraan kami. Ini sama persis dengan pembicaraanku dengan Rivan kemarin.

Quote:"Mas, gimana ini jadinya? Padahal sebentar lagi kita ketemu," isakku.

Rivan terdiam. Kemudian menarik napas perlahan. "Udah kubilang berkali-kali untuk pindah ke Bapak Yono," jawabnya ketus. Mengingatkan permintaannya dari jauh-jauh hari agar aku pindah kerja ke Bandung.

"Aku enggak bisa pindah gitu aja, Mas," belaku sengit. "Ini gimana sekarang, ya Allah, jadi kacau semua." Suaraku terdengar bergetar. Takut dengan kenyataan tidak ada lagi pegangan untuk mandiri. Takut dengan kenyataan apabila sampai harus menggantungkan diri pada pertolongan orang lain.

Rivan mendesah. "Sudah, Dek, jangan bingung ... ada aku."


Andai saja semua semudah yang diucapkan Rivan. Tapi, kenyataannya tidak. Aku bukan tipe wanita yang begitu saja pasrah dan menggantungkan harapan pada pria. Aku merasa tak berguna ketika tidak beraktifitas. Dan, pemutusan hubungan kerja yang mendadak ini benar-benar membuatku bingung. Bingung, karena aku dan Rivan telah memiliki rencana masa depan. Dan kini, semuanya tiba-tiba harus amblas begitu saja.

"Kalau kamu berpikiran negatif, semuanya bakal bergerak sesuai pemikiranmu itu," celetuk Rivan ketika sedang mendengarkan segala keluh kesahku.

Rivan memang benar. Dia selalu benar. Penyesalan karena tidak bersegera melamar pekerjaan di Bandung pun menghantui hari-hariku. Hari-hari ketika aku menanti waktu perjumpaan dengan Rivan. Perjumpaan yang telah direncanakan dari enam bulan yang lalu.

"Beneran tega banget, deh. Apa gara-gara dirimu mau cuti jadi diberhentiin kerja?" Berondongan pertanyaan Wita semakin membuat hatiku kecut.

Aku memang meminta cuti dari jauh-jauh hari demi menunaikan janji bertemu dengan Rivan. Kalau memang itu alasannya, semoga saja gantinya nanti lebih baik dari yang sekarang.

Kemudian hari itu semakin dekat. Tinggal dua hari lagi semenjak aku dinyatakan jadi pengangguran.

"Aku dihalang-halangi pulang." Rivan menyatakan kegundahan hatinya perlahan agar tidak membuat hatiku tambah bingung.

"Maksudnya gimana, Mas?" tanyaku gelisah.

"Banyak kerjaan, Dek. Teman satu tim juga enggak mau dilimpahin tanggung jawab yang sekarang aku pegang."

"Ya Allah, banyak banget cobaannya," keluhku.

Akhirnya, dalam dua hari itu Rivan berjuang keras agar bisa memenuhi janjinya. Banyak sekali halangannya, mulai dari pekerjaan, gaji yang telat, hingga permintaan bosnya agar menyelesaikan laporan terlebih dahulu sebelum pulang. Kasihan Rivan, dia tertekan karena pekerjaan dan janji yang harus dipenuhi.

"Mas, aku tunggu kamu di Lempuyangan. Aku pasti datang," isakku sedih dan bingung ketika menyadari kesulitan yang tengah dihadapinya.

"Aku juga pasti datang, Dek," balas Rivan tegas.

Perih hati ini mendengar ucapannya. Mengapa begitu banyak cobaan disaat kami hanya ingin saling melengkapi hati? Aku hanya ingin melihat senyumannya, itu saja.

Sebenarnya tidak tega aku dengan kesibukan Rivan seperti itu. Ingin rasanya mengatakan padanya kalau aku bersedia menemui dirinya di tempatnya bekerja. Tapi, aku tahu pasti takkan diizinkan.


Quote:
Hari ini, pukul enam sore, waktunya aku meninggalkan kotaku sejenak. Menjemput rindu yang menggantung rapuh di langit. Memenuhi janji akan dua hati yang saling berharap dalam jarak.

"Tinggal empat stasiun lagi, aku tunggu kamu di Lempuyangan, sayang." Suara Rivan di ujung telepon menghangatkan hatiku yang rapuh. Rapuh karena bertubi cobaan dalam usaha memenuhi sebuah janji.

"Cepet banget, Mas. Ini keretaku baru mau berangkat. Tunggu aku di stasiun, yah."

Sore itu, langit tiba-tiba berubah terang dalam pandangan. Aku melihat warna-warna harapan terukir di mega. Auranya seketika memenuhi hati, menghangatkan dan menumbuhkan semangat. Aku tak heran, karena telah paham dengan semua tujuan. Aku hanya ingin bersatu dan menyatu dengannya dalam rindu yang takkan pernah menjadi abu. Dan, bunyi roda kereta api menghantarkan semua mimpi itu pada kenyataan.


Rivan kembali menghubungi ponselku ketika kereta melewati stasiun terakhir sebelum Lempuyangan. "Aku tunggu di pintu keluar, Dek."

Aku mengiyakan dengan perasaan campur aduk. Ya, Tuhan, benarkah ini terjadi? Pertemuan dengannya ini yang kunanti selama berbulan-bulan.

Tapi, aku tak perlu menanti jawaban Tuhan, karena ternyata semua ini memang nyata. Aku melihatnya. Yah, dia yang terakhir bersua--datang dengan tubuh kurus. Sekarang dia terlihat lebih segar dari hari itu. Rivan ... menungguku di pintu keluar. Dengan ransel di punggung dan wajah lelahnya. Tersenyum padaku. Mata kami kembali bertautan, dan aku merasakan harapan itu. Menyesakkan.

Kami memutuskan untuk mengelilingi Yogyakarta keesokan harinya setelah beristirahat di kediaman saudara. Keputusan yang takkan pernah terlupakan hingga sekarang. Kota ini mengukir kenangan indah di hati kami. Sebuah prasasti yang diukir dengan sengaja untuk sebuah kisah cinta tertulis.


Quote:
Hari ini kami memutuskan untuk berkeliling Yogyakarta di bagian kotanya. Setelah sehari sebelumnya aku dan Rivan menghabiskan waktu di Prambanan dan Malioboro.

"Ke keraton 'kan, hari ini?" desakku setengah merengek padanya.

Rivan nyengir dengan kegigihanku membujuknya. "Siap, Nyonya!" candanya sambil menjawil pipiku.

Aku tertawa. Sebuah becak wisata kemudian menawarkan jasanya ketika kami sedang berjalan menyusuri Malioboro. Setelah berkeliling ke toko-toko wisata, aku dan Rivan memutuskan duduk-duduk di trotoar titik nol. Yogyakarta ternyata sanggup menembus hatiku. Entah kenapa, aku bertekad untuk kembali ke tempat ini.

"Hei, kamu tau enggak, Nyonya? Perutku mules tiba-tiba," seloroh Rivan sambil menekan perutnya.

Aku tertawa lagi. Paham dengan kebiasaan Rivan kalau perutnya sudah diisi. Dia memang tidak bisa jauh-jauh dari toilet.

"Ikut aja tuh ke toko itu," saranku sambil menunjuk toko di depan kami.

"Kamu yakin?" tanya Rivan ragu-ragu.

Aku mengangguk. Mana ada yang tega menghalangi orang yang mau ke toilet.

"Oke, deh. Titip hapeku, Sayang." Rivan meletakkan hapenya di pangkuanku. Aku hanya mengangguk tanpa memperhatikan hapenya.

Lima menit berlalu, ketika bunyi chat di ponsel Rivan sedikit menganggu keasyikanku melamun. Lagi-lagi aku tak memedulikannya. Tak berapa lama kemudian bunyi chat berubah jadi bunyi dering telepon. Aku pikir itu pasti dari teman sekantornya. Entah kenapa, rasa penasaran menuntun mata ini untuk melihat ponsel. Aku terkejut ketika melihat nama wanita yang tertera di ponselnya. Belum lagi berondongan chat yang menyusul.

"Siapa ini?" ketikku. "Rivan sedang ke toilet."

"Aku pacarnya Rivan." Wanita itu membalas chatku.

Seketika godam serasa menghantam keras hati dan jantungku. Dengan segera aku balik menelepon wanita itu. Anehnya, dia lama sekali mengangkat telepon dariku. Sampai Rivan kembali dari toilet baru wanita itu mengangkat telepon.

"Siapa Riana?" tanyaku tajam pada Rivan yang tengah menghampiri.

Roman wajah Rivan langsung berubah mendengar pertanyaanku. Direbutnya ponsel dari tanganku. Aku bahkan tak sempat mendengar suara wanita itu karena Rivan langsung mengambil hape dari tanganku.

"Siapa dia?" desakku sambil menahan amarah yang mulai memuncak.

Rivan menggeleng-geleng gugup. "Dia hanya teman, sayang. Hanya teman."

Aku hancur. Benar-benar berkeping. Harapan yang bergelayut di udara seketika menguap. Tapi, tak ada airmata. Sebegitu pedihnya hingga mata pun tak sanggup mengembun. Semuanya mengendap dalam rasa sakit.

"Aku mau pulang," ucapku gelisah.

Rivan menahan tubuhku. "Jangan, Sayang. Dia bukan siapa-siapa."

Demi Tuhan, ingin aku berteriak pada cupid yang kejam telah memanahku dengan asmara. Aku kalut dan bingung. Ada apa ini? Kenapa begitu banyak cobaan dan kejadian.

"Aku mau pulang!" ucapku tegas. Lalu berdiri dan dengan perasaan hancur berjalan lurus. Entah kemana. Rivan mengapitku ketat. Berusaha menjelaskan segalanya. Tapi suaranya bergaung di telinga. Aku hanya berjalan lurus tanpa menghiraukannya, terus hingga melewati pohon beringin kembar. Dan, terduduk di tanah pasirnya.

"Demi Tuhan, Mea. Dia hanya ingin menghancurkan kita. Ingin merusak hubungan kita.

Aku diam berusaha menelan semua perih. "Enggak tau lagi mesti percaya sama siapa ...." Suaraku terdengar lemah dan putus asa.

"Ada aku, Mea ... ada aku." Rivan berusaha memeluk. "Percaya padaku."

Aku tertawa pedih. Menggeleng, bertanya pada langit. Lalu, jatuhlah mutiara-mutiara itu. "Ya, Allah. Kenapa seperti ini?" isakku sedih.

Rivan tambah gugup melihat airmataku. "Jangan menangis. Mea, jangan ...."

Tapi, mataku tak mau berhenti menyembabkan diri. Embunnya terus berjatuhan. Aku terkapar dalam ketiadaan di bawah langit-langit miskin harapan.


"Yakin, deh, dia cuma ngetes kamu," sanggah Wita ketika keesokan paginya mendengar ceritaku.

"Ngetes?" sergahku tajam.

"Masa dia nitip hapenya di kamu kalo ada hubungan sama cewe lain?" Wita kembali mempertahankan pendapatnya.

Tapi, aku tak yakin dengan apapun lagi. Chat dari wanita itu telah terpatri kuat di ingatan. Dan, itu sangat menyakitiku. Apa mungkin semua itu hanya pura-pura?

"Aku pulang sore ini, Wit."

Jam enam sore nanti aku memang harus kembali naik kereta. Dan itu sangat menghancurkanku. Aku tak ingin pulang. Inginku hanya satu, selamanya di sisi Rivan.

Siang itu panas menyelimuti Malioboro. Aku dan Rivan berjalan perlahan menyusuri trotoar, mencari bangku yang diteduhi bayangan pohon. Sisa-sisa rasa sakit karena kejadian kemarin membuat sekat tipis di antara kami. Beberapa kali genggaman tangan Rivan aku tepis.

"Kenapa kamu lakukan itu?" tanyaku sambil berusaha menahan airmata luruh. "Berbulan-bulan aku menahan rindu untuk bertemu, dan kamu malah melakukan itu? Kenapa kamu bisa setenang itu Rivan. Kamu bisa-bisanya menganggap kejadian ini hanya angin lalu. Kamu tega, ka--." Tiba-tiba suaraku tercekat, menghilang dari tenggorokan. Rivan menangis.

Airmata mengembun di matanya lalu luruh perlahan. Semakin banyak dan deras. "Aku khawatir sama kamu, Mea. Maafkan aku belum bisa menjagamu sepenuhnya," isaknya, "bagaimana kalau kamu sakit, sayang. Aku jauh di sini." Airmata Rivan semakin deras. Dia menundukkan wajah, menyembunyikannya di balik jaket.

"Aku sayang kamu, Mea. Jangan pulang."

Hatiku semakin hancur melihatnya menangis. Oh, Tuhan, aku menyayanginya. Jangan biarkan dia menangis. Kenapa hatiku semakin perih melihat Rivan menangis?

Aku menggapai bahunya, menyingkapkan jaket yang menutupi wajah Rivan. Hatiku sakit melihatnya begitu sedih. "Jangan menangis, Rivan. Ya, Allah, maafkan aku."

"Dia bukan siapa-siapa, Mea. Sebulan kurang aku mengenalnya. Kamu yang utama, Sayang. Cuma kamu."

Rivan semakin tenggelam dalam tangisnya. Dan, aku semakin hancur. Tak paham dengan apa yang terjadi. Yang aku tahu hanya tak ingin melihatnya sedih. Jangan menangis Rivan, karena aku sangat menyayangimu.

Aku tahu perpisahan ini harus kembali terjadi demi sebuah waktu yang telah dinantikan. Waktu dimana kebahagiaan kami akan disuarakan pada semesta. Hingga langit dan bumi pun akan menyaksikannya.

"Aku sayang kamu, Mea. Kamu yang utama. Cukup itu saja yang kamu tahu.

Airmataku luruh mendengarnya. Demi sayap-sayap yang tak sudi patah, doakan hati kami bersatu selamanya


Quote:
Tempat dudukku kali ini tidak di tepi jendela. Tapi aku tak memedulikannya karena rasa lelah. Menangis selama itu di stasiun sampai tertidur ternyata sangat melelahkan. Aku tertidur di bangku tunggu dengan Rivan yang setia menjaga. Kami berdua seperti orang bodoh yang pasrah oleh waktu. Andai saja, semua sesederhana cinta kami. Perpisahan sementara ini tak perlu terulang lagi.

Suara dering hape tiba-tiba menyentakkan lamunanku. "Kamu sudah duduk, Sayang? Nanti kabari." Aku hanya bisa menjawab dengan suara lemas. Rivan pasti bakal menelpon terus nanti, memantau aku.

Lalu, suara peluit itu menyudahi semuanya. Aku berusaha mengingat-ingat wajah Rivan yang menunggui kereta berangkat di pagar pembatas. Sakitnya semakin menghunjam dada, dan membuatku terpana akan kenyataan. Kenyataan jauh kembali darinya.

"Mea, aku sayang kamu." Suara Rivan kembali terdengar di telepon berikutnya.

Aku tersenyum. Berusaha mengumpulkan uap-uap harapan. Ada bulan-bulan berat yang harus ditempuh demi sebuah pertemuan kembali. Ada pekerjaan yang harus aku tata kembali. Ada cita-cita yang harus aku perjuangkan. Dan, ada hati yang harus kembali ditata setelah limbung tersakiti.

Rivan, airmata kita telah menodai Malioboro. Aku sayang kamu.




Kisah-kisah Romantis dari Ladita



THE END
Diubah oleh Laditachuda
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ginanisa7 dan 7 lainnya memberi reputasi
8
Halaman 1 dari 2
Kisah-kisah Romantis dari Ladita
16-10-2019 06:42
mampir dan follow ya, gan
profile-picture
profile-picture
profile-picture
istijabah dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Kisah-kisah Romantis dari Ladita
16-10-2019 06:45
Quote:Original Posted By Laditachuda
mampir dan follow ya, gan


Bersambung apa the End sis, ngg ada tulisannya🤗🙈
profile-picture
istijabah memberi reputasi
1 0
1
Kisah-kisah Romantis dari Ladita
16-10-2019 06:55
Quote:Original Posted By Cahayahalimah
Bersambung apa the End sis, ngg ada tulisannya🤗🙈


eits, tamat aja deh
profile-picture
istijabah memberi reputasi
1 0
1
Kisah-kisah Romantis dari Ladita
16-10-2019 07:17
Romantis banget 😍
profile-picture
profile-picture
istijabah dan iissuwandi memberi reputasi
2 0
2
Kisah-kisah Romantis dari Ladita
16-10-2019 07:50
Quote:Original Posted By hvzalf
Romantis banget 😍


huhuhu
profile-picture
profile-picture
istijabah dan iissuwandi memberi reputasi
2 0
2
Kisah-kisah Romantis dari Ladita
16-10-2019 08:01
Numpang nenda
profile-picture
istijabah memberi reputasi
1 0
1
Kisah-kisah Romantis dari Ladita
16-10-2019 08:02
Huaaaaaa ....emoticon-Mewek
Pagi-pagi dah bikin nyut aja emoticon-Mewek
0 0
0
Kisah-kisah Romantis dari Ladita
16-10-2019 08:05
Quote:Original Posted By iissuwandi
Numpang nenda


nenda apa gan? hehe efek begadang nih jd lemot
profile-picture
profile-picture
istijabah dan iissuwandi memberi reputasi
2 0
2
Kisah-kisah Romantis dari Ladita
16-10-2019 08:05
Quote:Original Posted By istijabah
Huaaaaaa ....emoticon-Mewek
Pagi-pagi dah bikin nyut aja emoticon-Mewek


nyut di hati ga apa hihi...asal jangan di dompet
profile-picture
profile-picture
iissuwandi dan istijabah memberi reputasi
2 0
2
Kisah-kisah Romantis dari Ladita
16-10-2019 08:08
Quote:Original Posted By Laditachuda
nyut di hati ga apa hihi...asal jangan di dompet


Hokyaaaaa ....
Tepat sekali emoticon-Goyang
0 0
0
Kisah-kisah Romantis dari Ladita
16-10-2019 08:15
so sweet pagi pagi baca kek gini sesuatu sekali
profile-picture
istijabah memberi reputasi
1 0
1
Kisah-kisah Romantis dari Ladita
16-10-2019 08:16
Quote:Original Posted By istijabah
Hokyaaaaa ....
Tepat sekali :goyang


ahiiiwww
profile-picture
istijabah memberi reputasi
1 0
1
Kisah-kisah Romantis dari Ladita
16-10-2019 08:17
Quote:Original Posted By sriwijayapuisis
so sweet pagi pagi baca kek gini sesuatu sekali


sambil nyeruput kopi, sis
profile-picture
istijabah memberi reputasi
1 0
1
Kisah-kisah Romantis dari Ladita
16-10-2019 11:17
Quote:Original Posted By Laditachuda
nenda apa gan? hehe efek begadang nih jd lemot


Numpaaang tiduurr daah, kagak ada apa ya yang mau bikinin ane, puisii gitu🙄
profile-picture
istijabah memberi reputasi
1 0
1
Kisah-kisah Romantis dari Ladita
16-10-2019 11:25
Quote:Original Posted By iissuwandi
Numpaaang tiduurr daah, kagak ada apa ya yang mau bikinin ane, puisii gitu🙄


hihi, ga jago puisi
profile-picture
istijabah memberi reputasi
1 0
1
Kisah-kisah Romantis dari Ladita
16-10-2019 11:27
cieeee Rivan..emoticon-Matabelo
profile-picture
istijabah memberi reputasi
1 0
1
Kisah-kisah Romantis dari Ladita
16-10-2019 11:50
co cweet deh emoticon-Goyang
profile-picture
istijabah memberi reputasi
1 0
1
Kisah-kisah Romantis dari Ladita
16-10-2019 11:50
Quote:Original Posted By gmsaivu
cieeee Rivan..emoticon-Matabelo


Ada apa gan emoticon-Goyang
0 0
0
Lihat 1 balasan
Kisah-kisah Romantis dari Ladita
Lapor Hansip
16-10-2019 13:09
Balasan post pabloo
baperr gue ganemoticon-Mewek
0 0
0
Kisah-kisah Romantis dari Ladita
16-10-2019 13:10
Quote:Original Posted By gmsaivu
baperr gue ganemoticon-Mewek


Waduh emoticon-Goyangemoticon-Goyang
0 0
0
Halaman 1 dari 2
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
cinta-sepekan
Stories from the Heart
kealpaan-hati
Stories from the Heart
cinta-pada-pelukan-pertama
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.