alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
70
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5da58fec68cc957123388ba7/pewaris-terakhir
Namaku Kirani. Sudah 3 tahun ini aku menjalin hubungan dengan seorang lelaki baik hati, namanya mas Riski, dia seorang arsitek muda pewaris perusahaan property ternama di kotaku, wajahnya tampan, dan yang pasti dia sangat mencintaiku.
Lapor Hansip
15-10-2019 16:22

PEWARIS TERAKHIR - Horor Story

Past Hot Thread
PEWARIS TERAKHIR - 1

Hi semua..salam kenal.. Gw mau cerita kisah yang beberapa minggu hadir dimimpi gw, seolah gw ngejalanin hidup orang lain dan jujur ini bikin gw bingung dan ada sedikit rasa takut, terutama kalo kekamar mandiemoticon-Ngakak

sebelumnya gw minta maaf kalo yang gw tulis ini kalimatnya berantakan soalnya ini pertama kali gw nulis cerita, maaf juga kalau mungkin menurut kalian gak serem


Namaku Kirani. Sudah 3tahun ini aku menjalin hubungan dengan seorang lelaki baik hati, namanya mas Riski, dia seorang arsitek muda pewaris perusahaan property ternama dikotaku, wajahnya tampan, dan yang pasti dia sangat mencintaiku.

Sore cerah ini, aku mengajak mas Riski dan adiknya Bayu kerumah kawan lamaku didesa untuk mengunjungi makam bapakku.
Perjalan cukup jauh, kami harus menaiki bis disambung angkot. Setelah sampai, sayang sekali ternyata kawanku sudah pindah, tidak jauh hanya beberapa gang dari rumah lamanya, bersyukur ada petani yang menawarkan diri untuk mengantar kami kebetulan beliau melewati rumah temanku juga, sekitar 15 menit berjalan kaki menuju sebuah rumah dengan kios kecil dekat turunan dijembatan sungai. Rumahnya terlihat kecil dengan halaman yang lumayan luas, di kiri rumah ada jembatan dengan sungai dibawahnya dan disebelah kananya rumah penduduk.
Seperti perkampungan lain saja, disebrang rumah ada pos ronda dan kios mie ayam bersebelahan dengan penjual aneka sayur dan lauk matang. Kampung ini makmur, soalnya walaupun masih banyak hutan dan tanah kosong tapi banyak juga rumah yang besar2 dan sangat terawat pastinya. Ya benar sekali, disini banyak villa mewah tempat orang orang kaya menghabiskan masa liburnya.

Sore itu kami sampai, kawanku terkejut dengan kedatangan kami, selepas kukenalkan tidak lama mereka mulai akrab, tapi tidak begitu dengan suaminya, tak kusangka temanku menikah denganya. Aku kenal suaminya adalah anak orang terpandang didesa ini, namanya mas Anto. Mas anto sepertinya tidak suka dengan kedatangan kami.

Selepas mandi sore aku duduk dikursi depan warung temanku ini, nostalgia ku mulai terbayang kembali, dulu akupun pernah tinggal disini, saat itu usiaku masih sangat kecil ketika tiba tiba bapak memaksa ibu untuk membawaku dengan alasan agar nanti dapat menyekolahkan ku jauh kekota, tinggal bersama tanteku. Sebulan sekali kami mengunjungi bapak, sampai setahun kemudian kami mendapat kabar kepergian bapak, ibu bilang bapak meninggal karna kecelakaan diladang, sejak itu kami hanya berkunjung ke desa ini setahun sekali saja, setiap ulang tahun bapa. Sejak 9tahun lalu tepatnya sejak ibu meninggal aku tidak pernah sekalipun menginjakan kaki didesa ini, kali ini selain mau kemakam bapak entah mengapa aku sangat rindu dengan suasana kampung halamanku ini.

Malam pertama disana, kulihat mas Riski dan Bayu bercanda dengan Adam, anak temanku, usianya baru 3tahun. Ternyata disini cukup ramai, di sebrang warung ini banyak warga dipos ronda dan lalu lalang pembeli mie ayam dan laukpauk, warung temanku sendiri dia penjual sembako dan segala macam jajanan kecil. O iya nama temanku ini Pian, dia 2 bersaudara dengan kakaknya Mila, bapaku dan bapaknya dulu kerja di satu majikan sebagai tukang kebun, sejak kecil kami bertiga slalu bermain bersama, sekarang Pian sudah menikah dan sudah memiliki 1 orang anak laki2.

"Kamu kesini ga kasih kabar ke aku loh ni, jadi aku ga bisa siapin macem macem deh", ucap Pian sungkan.
"Sengaja, aku mau kasih kamu surprise, hahaha", jawabku.
"Maaf ya Pian, kayaknya suamimu kurang suka ya kalau aku nginep disini" kataku tertunduk.
"Jangan dipikirin dia emang gitu orangnya ga suka kalau ada tamu masuk rumah, lagian toh ini rumahku bukan rumah dia" jawabnya ketus.
"Loh ini rumahmu? Bukanya mas Anto itu orang kaya ya?" tanyaku heran.
"Ya dia dulu kaya tapi beberapa tahun sebelum menikah denganku ibunya kecelakaan dan lumpuh, sejak itu hartanya terkuras untuk biaya berobat ibunya, bisa dibilang sebenernya dia itu beruntung nikah sama aku, walaupun bapak cuma tukang kebun toh ternyata alm bapakku menyimpan banyak uang yang diwariskan untuku, kehidupanku jauh lebih baik dari mas Anto, kalau bukan karna bapak menyuruhku menikah dengannya mungkin sekarang mas Anto udah jadi gembel" kata2 pian seolah menunjukan betapa bencinya dia terhadap suaminya.
"Wariskan? Berarti bapak mu?..ya Allah Pian aku minta maaf ya, aku jadi ngingetin kamu ke beliau" kataku canggung.
"Gapapa ko Ran. Lagian kamu juga kan ga tau klo bapak udah ga ada", katanya sambil menghela nafas panjang.
"Sekarang aku sendiri Ran, bapak meninggal seminggu sebelum pernikahan ku, dan beberapa minggu setelah pernikahanku Mila pergi menyusul bapak", lanjutnya.
" Entah apa alasanya Mila nekat menabrakan dirinya kekereta yg sedang melaju" Pian mulai menangis.
"Banyak yang bilang kalau slama ini mungkin Mila menyukai mas Anto, tapi waktu bapak nyuruh mas Anto menikahi salah seorang dari kami, mas Anto milih aku, sejak saat itu Mila mulai berubah menjadi lebih pendiam, semua salah ku, seharusnya aku menolak pernikahan ini, Mila lah yang lebih pantas menikah dengan mas Anto" tangis Pian tersedu.
Ya Tuhan. Tak kusangka hidup Pian setragis ini, dia harus kehilangan 2 orang yang paling dia sayang disaat yang hampir bersamaan.
"Maaf Pian, seharusnya saat itu aku ada disini", kataku menenangkanya.
"Gapapa Ran, mungkin udah jalan hidupku kaya gini" kata pian sambil menyeka airmatanya dan mencoba untuk tersenyum..
"Oia tumben banget kamu kesini, kangen ya sama akuuu" ledek Pian, kurasa dia sedang menghibur dirinya sendiri.
"Iya aku kangen banget sama kamu. Sekalian mau liat makam bapak, aku mau kabarin kebapak rencananya tahun depan aku akan menikah dengan mas Riski" jawabku malu2.
"Waaah sama mas ganteng itu toh.. Selamat ya" katanya sambil memeluku, kami banyak cerita, begitu cerianya Pian seolah tak terlihat lagi sedih diwajahnya. Sesaat setelah ngobrol panjang dia berlalu masuk kedalam rumah meninggalkanku dgn kekagumanku atas desa ini.

Sejak pertama, kuperhatikan rumah ini, rumah sederhana halaman besar dengan motor butut, didalam hanya terdapat 4 ruang, ruang depan sekaligus toko, ruang tengah agak luas tapi hanya ada sedikit barang, hanya ada meja dan tv, 1 kamar tidur dan dapur, selama kami menginap aku, Pian dan anaknya tidur dikamar sedangkan para laki2 tidur diruang tengah beralaskan tikar, kamar mandi? Terpisah dari rumah, jadi dibagian samping agak kebelakang rumah ada tanah kosong agak luas. Iya agak terbuka, hanya bagian untuk mandi saja yang tertutup, disekitar sumur ada bak dan ember, sepertinya dia mencuci di samping sumur, tidak jauh dr sumur ada pohon lamtoro (petaicina) dibawahnya berjejer 5 buah gentong besar terbuat dari tanah liat lengkap dengan tutupnya yang terbuat dari kayu, bawahnya agak berlumut seolah sudah sangat lama berada disana. Belakang pohon lamtoro ditutup bilik bambu agak tinggi, dibaliknya lg hanya tanah kosong dan beberapa pohon besar.

Entah kenapa sejak terbangun badanku begitu sakit, yang kuingat semalam aku memimpikan bapak memeluku, seolah beliau tahu kalau aku akan mengunjunginya.
Aku membangunkan Bayu dan Riski untuk segera bersiap kemakam bapak. Pagi itu Pian menyajikan nasi goreng sebagai sarapan, beberapa kali kulihat mas Anto melirik kesal kearah kami, dan kemudian pergi keluar dengan motor bututnya, selesai makan kami pun berangkat menuju makam bapak. Sambil ngobrol Pian menemani kami berjalan menyusuri jalan kampung yang masih asri, banyak sawah dan hutan.
"Rumah ini bagus, rumah siapa ini?" tanya Riski saat melewati rumah besar berwarna putih bersih dengan pilar besar didepanya.
"Ooh itu dulu rumah keluarga tuan Suratno, tempat bapak ku dan bapaknya Rani dulu kerja. Tapi udah lama dijual sekarang pemiliknya orang kota, aku ga tau namanya hihihi" jawab Pian santai.
Sekilas teringat dulu bapak dan pak de Alif selalu bekerja dengan giat dirumah itu, terkadang kami ikut bermain dikebun tuan saat bapak dan pak de bekerja.
"Hei kamu Rani ya.." tanya seorang laki2 tua, tergesa mendekatiku dengan tongkat ditanganya, kucoba mengingat wajahnya sepertinya aku kenal tapi aku lupa.
"Hei ko cuma melongo..itu kamu disapa, pasti lupa ya? dia itu eyang Sugi" ucap Pian mengingatkanku.
Astaga ternyata itu eyang Sugi, bagaimana bisa aku lupa, beliau adalah tetangga kami dulu, bapak pernah cerita saat bapak kecil kakek dan nenekku meninggal, eyang inilah yang kadang membantu bapak agar bisa hidup mandiri dan menikah dengan ibu. Beliau mengajak kami mampir kerumahnya, sesampai dirumahnya ternyata ada bu'de Suri, anak eyang yang dulu sering mengasuh Pian saat pakde alif kerja, ya Pian memang piatu sejak bayi. Ditemani teh hangat dan singkong goreng kami mengobrol, ternyata suami bude Suri sekarang menggarap ladang milik Pian, senang rasanya bisa mengobrol dengan mereka lagi.
lama ngobrol tak terasa hari mulai sore, kami pamit pulang, kami sepakat kemakam bapak dihari berikutnya saja.
Diperjalanan pulang kulihat mas Riski sering melamun seolah ada yang sedang difikirkanya, ada sedikit risau dihatiku, apakah dia ilfeel begitu tau trnyata keluarga ku termasuk keluarga termiskin didesa ini?.


Diubah oleh MyRyuRey
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kuyaman46 dan 12 lainnya memberi reputasi
13
Halaman 1 dari 4
PEWARIS TERAKHIR
15-10-2019 16:36
Sampai dirumah Pian aku bergegas mandi, saat dikamar mandi entah kenapa kudengar seperti suara seseorang menabuh tutup gentong dengan sesuatu, kuintip dari celah kecil dibilik kamar mandi, tidak ada seorangpun disana, sepertinya aku salah mendengar.
Setelah ku mandi Bayu sudah menunggu dengan gundahnya, ternyata dia menahan pipis sejak tadi.hahaha
Kulihat jam menunjukan pukul 6sore, mas Riski belum juga mandi.
"Ih mas, kamu ga mau mandi kah? Udah mulai gelap, badanmu udah bau acem" ejeku merayunya untuk mandi, mas Riski tersenyum dan bergegas ke kamar mandi.ya begitulah, bukan misterius, mas Riski itu memang laki2 pendiam, tapi dibalik sifatnya yg pendiam dia sangat baik dan mudah akrab dengan orang lain.

Saat itu mas Anto sedang merokok diteras sambil menjaga warung. Aku, Pian, Bayu dan Adam sedang asik menonton tv. Tiba2 terdengar "gooong" seperti suara gong besar dan kemudian "dugg" suara benda berat terjatuh.
Kami semua kaget dan tanpa aba2 kami berlari menuju asal suara. Kamar mandi, suara itu berasal dari kamar mandi. Saat dikamar mandi kami lihat wajah mas Riski pucat seperti terkejut, terlihat tutup gentong paling pinggir terbuka dan sudah tergeletak ditanah.

"Ada apa ini? Kenapa magrib gini mainin tutup gentong? " bentak mas anto penuh amarah.
"Maaf mas tadi mau ambil.." belum kelar penjelasan mas Riski tiba2
"Sudah masuk sana, malam2 main dikamar mandi" ucap mas Anto bertambah marah.

Kami pun masuk kerumah, diruang tengah ku lihat mas Riski seperti menahan sakit, ternyata bahunya terluka. Mas anto masuk dan ikut menonton tv, wajahnya masih memerah menahan marah.
"Tadi itu kamu ngapain sih mas? Ko malem2 gini jadi mainan gentong" tanyaku Sambil mengoles balsam dibahu mas Riski.
"Aku juga ga ngerti Ran.. Tadi itu sehabis mandi air habis, aku mau ambil wudhu, kutimba air eh embernya copot. Kupikir gentong itu pasti ada airnya jadi kubuka tutupnya..eh tiba2 aja tutupnya loncat nimpa ke bahuku.mungkin didorong tekanan angin didalamnya" jawab mas riski ngasal.
"Ya iyalah itu kan gentong lama pasti udah bergas didalamnya" ujar mas Anto.
Kami tertunduk malu.
"merepotkan yang punya rumah aja" kata mas Anto lagi sambil berlalu menuju teras.
"Gentong ada gasnya?Masuk akal ga sih?" itu yang ada difikiranku tapi entahlah toh gentong itu pun kosong.

--
"Bisa cepat ga pak? Tanggung itu sisa 2 lagi yang belum diisi" ucap seorang wanita paruh baya kepada seorang laki2.
"Iya bu ini bapak lagi usahakan, bapak bingung harus pakai siapa lagi, warga sini sudah mulai enggan kemari" jawab laki2 tersebut.
"Kalau bapak susah nyarinya coba bayar orang aja pak, toh bapak jadi ga harus susah2 cari " katanya lagi
"Iya bu.nanti bapak coba cari orang yang bisa dipercaya" jawab laki2 itu lagi.
--

Mimpi semalam.. Seperti kukenal, kuingat2 mereka adalah nyonya dan tuan Suratno, orang terkaya dikampung ini, aku masih ingat, bahkan aku pun ingat betul lokasi mereka ngobrol, balkon rumah besar dengan pemandangan taman yang luas, Rumah tempat bapak bekerja.

Pagi kedua..
"Hari ini ga usah kemakam dulu, kita ke mbah Yus dulu" kata mas Anto ketus.
Kulihat Pian tersenyum dan meng'iya kan perkataan mas Anto.
"Pian, mbah Yus itu siapa?" bisiku penasaran.
"Udah ikut aja, sekali kamu kesana pasti ga mau pulang hihihi" jawab Pian sambil cekikikan.

Merasa penasaran tp Kami semua tetap mengikuti, perjalanan sekitar 30 menit naik angkot dan hanya 5 menit berjalan kaki tibalah kita dirumah mbah Yus. Terkejut ternyata mbah Yus adalah tukang pijat alternatif, rumahnya indah sekali, rumah sederhana di tengah perkebunan buah, ada taman, gazebo bambu dan sungai kecil disamping rumahnya, benar kata Pian, sepertinya aku akan betah disini, hahaha.
Tak ku sangka ternyata mas Anto tidak sejahat yang kukira, buktinya dia mengajak kami kesini untuk mengobati mas Riski.

"Kamu diurut dulu ya, apa kata orang kalau liat tamu yang menginap dirumahku terluka seperti itu" katanya tetap dengan nada ketusnya.
Mas Riski mengangguk "terima kasih mas" katanya.
Sambil menunggu mas Riski diurut kami menikmati suasana disana, sesekali kami bercanda dan kusadar trnyata mas Anto ternyata humoris juga.
Menjelang sore kami sudah sampai dirumah lagi.

Malam ketiga..
setelah mandi seperti biasa kami menonton tv sambil bercanda dengan Adam, kulihat mas Riski dan Bayu mulai akrab dengan mas Anto, menepis sungkanku karna menginap dirumah ini.

--
"Gampang toh? Cuma gitu aja ko " ucap tuan ke pak de alif.
Kulihat pak de alif sangat cemas, tanganya gemetar, tapi dia mengangguk seolah setuju dengan tugas yang diberikan oleh majikanya.
--

5 gentong besar dalam ruangan gelap 4sudah terbuka, entah ruang apa ini, banyak benda2 usang dan ada foto keluarga besar, sepertinya keluarga besar tuan, disini lembab dan pengap seolah udara dan cahaya matahari pun tidak bisa tembus kesini.
Nyonya membuka gentong ke 5, dia tersenyum lebar..
dan tiba2 suara tangis Adam membangunkanku.

Pagi keempat
Kugendong Adam dan kuajak kedepan rumah "lihat tuh mama lagi nyapu, jangan nangis ya sayang" bujuk ku.
Adam tertawa saat tiba2 Bayu mengambilnya dari gendonganku dan mengangkatnya seolah sedang terbang.
"Goong" suara itu lagi.. Diikuti suara benda berat terjatuh. Kaget dan cemas, tapi cemasku menghilang saat kudengar suara tawa mas Anto dan mas Riski dari arah kamar mandi.
Ah Mereka, sudah sangat akrab rupanya.
Saat sarapan "hari ini kita jadi kemakam bapak kan?" tanyaku kepada Pian.
"Jangan hari ini, mas Anto mau ngajak kita ke alun2 desa, disana lagi ada acara adat desa ini, aku ga sabar mau liat ada apa aja disana" kata mas Riski.
"Iya Rin, kamu kan udah lama banget ga kesini, skali2 nginep lamaan kan gapapa, pas banget mumpung ada acara adat gini" Pian menimpali.
"Iya deh, tp besok beneran kemakam bapak ya" jawabku.
Sambil sarapan aku dan Pian bercerita, dulu tiap ada acara adat kami selalu antusias tak pernah ketinggalan satu acara pun.

Jadi jadwal kita seharian ini berkunjung kealun2, ternyata disana sudah ramai sekali, banyak seni dan tari yang dipersembahkan oleh warga sini.
Teringat dulu tiap keacara ini bapak sama ibu selalu membelikanku gula-gula, kembang gula kesukaanku.
Hei..sepertinya aku kenal dengan penari itu yang menari dengan Bayu, tapi siapa ya?

"Nih buat kamu.." kata mas Riski menyodorkan gula gula kepada ku.
"Hmm?.." responku heran.
"Kamu lupa ya, dulu kamu pernah cerita tiap acara adat bapak ibu slalu beliin kamu gula-gula, nih aku beliin buat kamu" katanya.
"Iya kah? Kapan aku pernah cerita?" jawabku.
"Udah dimakan aja, dasar pikun" diusapnya kepalaku, mengejeku.
Acara belum selesai tapi tak terasa hari mulai sore, kita smua pun pulang.

Malam keempat..

--
"Kamu ini manusia bajingan.. Simpan sesukamu Sampai matipun kamu ga akan pernah bisa membukanya" amarah nyonya seperti sebuah gunung yang sedang meledak. Siapa yang sedang dimarahinya?? Pak de alif kah??
Benar, itu pak de alif tertawa terbahak2, kemudian bu ratno pergi sambil menggendong bayinya, jauh kedalam kegelapan.
--

Heran..entah mengapa tiap hari aku selalu bermimpi tentang tuan, nyonya dan orang2 dimasa lalu.
Saat mau mandi pagi, teringat dengan mimpiku, bukankah 5 gentong ini adalah gentong yang ada didalam mimpiku? Ada apa dengan gentong ini? Apakah ada sesuatu yang coba nyonya sampaikan lewat mimpiku tentang benda besar ini?.

2 gentong sudah terbuka, penutupnya disenderkan disamping tiap gentong nya, ku ingat mas Riski yang sudah membukanya. 3 gentong masih tertutup, kucoba membuka tutupnya, keras sekali, ku coba buka sekuat tenaga tetap tak bergerak sedikitpun. Ah sudahlah... Badanku sudah gerah, mandi pasti segar kan? Berbalik kulihat ternyata mas Anto, sejak kapan dia memperhatikanku? Dia menutup mulutnya, menyembunyikan tawanya, mengejeku.

Malu.. Akupun segera masuk kamar mandi. Suara orang bernyanyi, tembang ini seperti kukenal, siapa yang bernyanyi? merdu sekali, Pian kah itu?.
Selesai mandi kulihat mas Riski dan mas Anto sedang mengobrol didepan gentong. Heran..Gentong ke 3 terbuka? Tapi tidak bersuara??

"Tadi Rani nyoba buka ga kebuka2 loh, mukanya sampe merah, tutupnya ternyata ga kebuka juga hahaha" kata mas Anto mengejeku. Kulihat mas Riski ikut tertawa.
Marah?? Ga lah..jelas aku ga bisa buka, aku kan perempuan, sebesar apapun tenaga perempuan pasti tetap kalah sama tenaga laki2, fikirku tak mau kalah.
Habis sarapan kami beranjak ke makam bapak, mas Anto ga ikut, dia memilih dirumah menjaga warung, padahal kalau ikut kan mas Anto bisa sekalian ke makam mertuanya, ya..bapaknya Pian dimakamkan di satu TPU dengan bapak, disepanjang jalan entah kenapa aku masih kefikiran dengan gentong besar itu.

"Hei pian, gentong yg dikamar mandi itu gentong apaan sih? " tanyaku heran.
"Ga tau, itu punya mas Anto, kata mas Anto itu buat jaga2 kalau musim kemarau nanti bisa buat penampung air" jawabnya santai.
"Oh..pantes ditaruh dikamar mandi, kayanya ga pernah dipake ya?" tanyaku lagi.
"Gimana mau dipake, mas Anto aja ga bisa bukanya..hahahaha" jawabnya
"Makanya kemaren pas mas Riski mu bisa buka dia senengnya minta ampun, makanya sampe berubah gitu kn sikapnya kekalian" jawabnya lagi.

Ga terasa langkah kami sampai di TPU tempat bapak dimakamkan. Kudatangi makam bapak dan kusampaikan rasa rinduku, ku utarakan niatku untuk menikah.
"Bapak..ini Kirani, tahun depan kirani mau menikah dengan mas Riski, dia laki2 baik, dia akan menggantikan bapak untuk menjaga Rani, mohon restunya pak" kataku mengiba.
menetes air mataku, berharap bapak disana mendengar dan mengerti keinginanku.

Kemudian kudengar mas Riski pun meminta ijin kepada bapak untuk meminangku, beberapa janji diucapkanya untuk menjagaku sampai matiku.
Hari itu terasa penuh haru, tenang rasanya, akhirnya terlaksana juga niatku untuk meminta ijin kepada bapak perihal pernikahanku.

Kulihat Pian berbicara dimakam bapaknya, entah apa yang dia katakan, yang pasti kulihat kerinduan yang teramat sangat didirinya, sama sepertiku yang selalu merindukan bapak dan ibuku.
Diperjalanan pulang..
"Pian...niat ku kesini udah selesai, besok aku pamit pulang ya" kataku.
"Eh..ko cepet banget, gw masih betah disini" kata Bayu protes.
"Hei emangnya lu ga mau masuk kelas? Kalau bolos terus nanti kuliah lu ga lulus2 " kata mas Riski.
"Ah lu mah.. Yaudah lah terserah kalian aja" jawabnya kesal.
Kulihat Bayu, beberapa hari disini sikap Bayu agak berbeda, Bayu itu biasanya agak koplak, tapi kali ini jadi lebih sopan dan pendiam, entah mengapa hatiku mengatakan ada hal yang disembunyikan Bayu.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
PEWARIS TERAKHIR
15-10-2019 16:43
hmm penasaran lanjutannya
profile-picture
khawil memberi reputasi
0 1
-1
PEWARIS TERAKHIR
15-10-2019 16:50
Sampai dirumah,
Malam kelima, mas Riski memintaku menemaninya berjalan2 menikmati suasana malam didesaku, ga jauh hanya sampai warung penjual soto saja, disana mas Riski mengajaku makan malam, ternyata soto disini enak sekali, aku sangat menikmatinya.
Entah kenapa tiba2 aku teringat dengan mimpi2 ku dan gentong tsb.
"Mas..beberapa hari ini aku mimpi tentang majikan bapak yang dulu, mimpiku aneh, dan ada 5 gentong yg dikamar mandi itu" kataku.
"Iya.. Semalam mas juga mimpi seorang perempuan setengah baya menangis didepan gentong itu..kayanya mas kenal tapi mas lupa siapa ya" kata mas Riski mengingat.
"Semalam? Yakin cm semalam?" tanyaku meyakinkanya.
"Iya cm smalam aja ko" jawabnya.
"Malam2 sebelumnya??" tanyaku lagi.
"Beneran ga da apa2, cuma kadang mas agak aneh aja sama si Bayu, masa dia naksir sama Pian, hahaha" katanya sambil tertawa terbahak2.
"Maksudnya?" kataku.
"Iya, dia bilang Pian itu sering godain dia, pernah pas dia selesai mandi tiba2 dia denger suara orang nyanyi, pas dia liat ternyata Pian lagi jalan kearahnya terus si Pian ini nyium pipinya si Bayu, hahaha..sejak itu dia suka sama sahabatmu itu" cerita mas Riski.
"Hah? Yang bener mas?", kataku kaget.
"iya bener, Bayu sendiri yang cerita ke mas, bahkan semalam saat Bayu tidur dia bilang diam2 Pian datang dan meciumnya" kata mas Riski meyakinkanku.
"Masa sih Pian kaya gitu? Dia itu perempuan baik2 loh mas, dia itu.."
"Udah cepetan dimakan itu makananmu udah mulai dingin" kata mas Riski memotong kata kataku.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 7 lainnya memberi reputasi
8 0
8
PEWARIS TERAKHIR
15-10-2019 16:51
Sambil makan aku terus berfikir, apa iya Pian seperti itu? Sepertinya sikapnya ke Bayu biasa saja. Diantara kami berdua Pian adalah yang paling pemalu, masa iya dia genit ke laki2 yang baru dikenalnya?.
"Tapi kalau melihat sikapnya dengan mas Anto, ga heran juga sih, kayaknya dia ga mencintai suaminya jd mungkin aja kan kalau diam diam dia suka sama Bayu" kata Riski membuyarkan lamunanku.
Aku hanya tersenyum sambil melanjutkan makanku, "sepertinya kata kata mas Riski barusan ada benarnya juga, lagipula Bayu akrab banget sama Adam", fikirku.
Selesai makan kami pulang.
Kami merapikan pakaian untuk pulang besok, lanjut menonton tv, kulihat Bayu beberapa kali mencuri pandang ke arah Pian. Saat Bayu tau kalau aku memperhatikanya dia hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanya.
Kali ini entah mengapa perasaanku gusar sekali, seperti ada sesuatu yang mengawasiku.
--
"Pulang nak, bahaya kalau kamu tetap disini".
Bapak? Itu bapak?
--
Terbangun pagi ini, seperti ada hawa yang berbeda, entah menagapa rumah ini terasa sangat dingin, ada perasaan takut dan amarah jadi satu, tapi tidak bisa ku mengerti perasaan apa ini?. Suasana ini bukan seperti rumah yang kutinggali beberapa hari ini.
Beranjak kekamar mandi, lagi lagi kulihat 5 gentong yang slalu ada dimimpiku, namun kali ini 4 tutup gentong sudah terbuka, kudekati.. Anyir.. Sejak kapan gentong ini berbau?, kemarin gentong ini tidak berbau sama sekali.
Diubah oleh MyRyuRey
profile-picture
profile-picture
profile-picture
themadflyer dan 7 lainnya memberi reputasi
8 0
8
PEWARIS TERAKHIR
15-10-2019 16:52
Sepertinya aku sakit, entah mengapa setelah sarapan kepalaku pusing dan badanku mendadak lemas.
"Mukamu pucat banget..Badanmu juga panas.." kata mas Riski sambil memegang keningku.
"Iya mas, ga tau nih kayanya aku masuk angin", kataku.
"Mungkin karena semalam kita jalan kemaleman kali ya" kata mas Riski sambil memapahku ke kamar.
"Minum ini dulu Ni...oh iya siang ini aku mau ke pesta pernikahan dikampung sebelah kemungkinan pulang agak sore, kamu istirahat aja ya, makanan udah aku masakin" kata Pian sambil menyodorkan obat kepadaku.
"Terima kasih ya", kataku.
"Sama-sama, hari ini kamu jangan pulang dulu ya, takut nanti kamu drop dijalan", kata Pian khawatir.
"Iya, kita disini dulu sampai kamu mendingan ya" kata mas Riski menimpali.
Aku hanya bisa tersenyum, ya mau gimana lagi, sakit ini pun bukan kemauan ku.
Aku tertidur...
Terbangun, ternyata sudah siang, setelah minum obat keadaanku membaik, rasa pusing dan lemas pun sudah mulai menghilang.
Keluar kamar, kulihat Bayu dan mas Riski sedang tiduran diruang tengah, sesaat kemudian. Kulihat Pian, mas Anto dan Adam pamit untuk menghadiri pesta pernikahan dikampung sebelah.
Bosan, sepertinya akan lebih baik jika aku menonton tv saja.
"Aku bosen dikamar, aku nonton disini aja ya mas", kataku pada mas Riski.
" yaudah sini duduk sama mas", katanya.
"Lu pindah gih sana, tidur dikamar aja", kata mas Riski kepada Bayu.
Bayu segera beranjak kekamar dan melanjutkan tidurnya.
Diubah oleh MyRyuRey
profile-picture
profile-picture
profile-picture
eja2112 dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
PEWARIS TERAKHIR
15-10-2019 16:58
Aku menonton tv diruang tengah sambil duduk menyender dibahu mas Riski. Sesekali kami tertawa dan mengomentari film komedi yang sedang kami tonton. Beberapa kali mas Riski memegang keningku memastikan bahwa aku baik baik saja.
--
Bapak diladang..
Kaki bapak terluka terkena pecahan beling..
Darah mengalir cukup banyak, bersyukur ada pakde Alif membantu mengobati luka dikaki bapak, pakde Alif mengelap darah dikaki bapak dengan kain putih, lalu dikantonginya kain tersebut.. Kemudian warga ikut membantu dan membawa bapak entah kemana, sepertinya keklinik desa.
--
Sedang apa? Sepertinya pakde Alif memasukan sesuatu kedalam gentong ke 4..
Kain bersimbah darah bapak tadi?..
Untuk apa?
--
"Terima kasih banyak nyonya.."
Pakde gemetar saat menerima banyak sekali logam emas dari nyonya.
--
"Bapaaaaak", teriakan histeris nyonya bergema diistananya.
Tuan jatuh dari balkon dan meninggal saat itu juga.
--
"Pakailah sesukamu, gentong itu tak akan pernah terbuka lagi", bentak nyonya kepada pakde Alif.
Kenapa nyonya menangis dan meninggalkan istananya?
--
Lima buah gentong.. 3gentong sudah tertutup..
"Sekarang kamu tinggal dengan saya saja", kata pakde Alif kepada mas Anto.
Mas Anto trtunduk sedih.
Pemakaman siapa ini?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
PEWARIS TERAKHIR
15-10-2019 17:00
--
Sepertinya pakde Alif sakit..
"Maaf ya pak. Tapi ini adalah keadilan buat saya"
Mengapa mas Anto mengatakan itu disaat pakde Alif sedang sekarat.
4 gentong tertutup..
--
Pian menangis tersedu, makam siapa ini?
Mila?
Kemana mas Anto?
Disaat Pian terpuruk seperti ini, kemana dia?
--
Sedang apa mas Anto?
5 gentong tertutup..!
--
Gelap..
Dimana aku? Disini pengap sekali..
Sesak, Aku tidak bisa bernafas..
--
Mataku terbuka..
Masih diruang yang sama, ternyata tadi aku tertidur didepan tv dengan bantal dibawah kepalaku.
Aku terduduk, tubuhku berat seolah membatu, nafasku tersengal, dikepalaku terlintas smua kejadian yang slama ini muncul dimimpiku. Entah mengapa ada rasa takut yang tiba-tiba masuk dan seolah mencoba menghentikan jantungku. Semua yang muncul dimimpiku bukan hal biasa, mungkin ini cara mereka memperingatkanku.
Kulihat, kuperhatikan sekelilingku..
Kulihat mas Riski yang sedang memegang tutup gentong yang ke lima. Tubuhku bergetar hebat, menggigil krna rasa takut.
"Mas Riski..." teriakan histerisku mengagetkanya.
Dilepasnya tutup kelima dan dengan cepat dia berlari ke arahku dan langsung memelukku.
"Kenapa Rin?..kenapa kamu?", tanyanya dengan penuh kebingungan.
" Ayo kita pulang sekarang, aku ga mau ada disini ", kataku takut.
"Tapi kenapa? Badanmu basah dan menggigil be..."
profile-picture
profile-picture
profile-picture
lumut66 dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
PEWARIS TERAKHIR
15-10-2019 17:02
"Pokoknya sekarang kita pulang.. Aku ga ma..."
"Bener kata Rani..kita harus pulang sekarang, sekarang juga... ", Bayu berlari keluar kamar sambil setengah berteriak kepada mas Riski. Wajahnya pucat dan sedikit gemetar.
"Lu gila ya? Lu ga liat? Rani lagi sakit, perjalanan pulang jauh" jawab mas Riski kesal.
"Terserah lu..Persetan sama tempat ini, pokoknya gw mau pulang sekarang juga" bentak Bayu sambil mengambil tas yang sudah rapi disamping tv.
"Iya mas..pokoknya kita harus pulang sekarang", pintaku lagi.
"Kalian berdua ini kenapa sih? Woy ada yg bisa jelasin ga?", kata mas Riski membentak.
"Nanti gw jelasin, tapi ga sekarang, lu mau disini silahkan, gw bakal bawa Rani pulang", kata Bayu sambil mecoba memapahku.
"Oke oke, iya kita pulang tp rumah ini gimana? Yang punya kan lagi keluar, masa kita pergi tanpa pamit?", bantah mas Riski.
"Tinggal kita kunci aja sih..", kataku lagi. Mas Riski mengambil tasnya dan tasku, dengan cepat kami kepintu depan dan mengunci pintu rumah Pian.
Ku titipkan secarik kertas pada penjual mie ayam disebrang rumah, kutulis pesan bahwa kami harus bergegas pulang dan kunci kami selipkan dibawah pot.
Sepanjang jalan kepalaku pusing ga karuan, beberapa kali kaki ini terasa lemas seolah tanpa tenaga, mas Riski yang sejak tadi memperhatikanku dengan cekatan memberikan tas ku pada Bayu dan menggendongku dibahunya.
Diubah oleh MyRyuRey
profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 8 lainnya memberi reputasi
8 1
7
PEWARIS TERAKHIR
15-10-2019 17:07
Selama perjalanan kami bertiga hanya diam membisu. Beberapa kali mas Riski bertanya namun tidak ada satupun dari aku dan Bayu yang berani bercerita...
Sudah sebulan sejak kepulangan dari desa kami belum pernah saling bertemu lagi. Walau mas Riski dan Bayu sering datang membujuku untuk bertemu, entah kenapa masih ada perasaan takut untuk bertemu saat ku tau siapa mas Riski sebenarnya.
Rindu, sudah jelas aku sangat rindu, aku sangat menyayangi mas Riski, tak pernah terfikirkan pernikahanku harus batal hanya karena ini.
--
"Bagaimana selanjutnya? Kapan mau mulai poto prewed?"
"Entahlah bu, sejak dari desa xxx sikap Rani berubah banget, kita bahkan belum ketemu lagi", jawab mas Riski.
Sejak bayi mas Riski tinggal dengan tantenya, satu satunya keluarga ibunya, kebetulan juga saat itu beliau belum memiliki anak, mas Riski biasa memanggilnya ibu, sedang ibunya sendiri sudah meninggal sejak usia mas Riski 3tahun. Dan pada usia 8tahun ibu mengangkat Bayu sebagai anak untuk menemani mas Riski.
"Desa mana tadi?", tanya ibu penasaran.
"Desa xxx bu.., udah ah aku mau keluar dulu sama Bayu siapa tau Bayu ada ide buat ajak Rani jalan" katanya
--
Whatsap ku berbunyi, sebuah pesan masuk.
"Hai Karina.. Ibu kangen, main dong kesini, kita obrolin rencana prewed kamu yu", ternyata pesan dari ibunya mas Riski. Aku dan ibu memang sudah sangat akrab, bahkan ibu sudah menganggap aku seperti anaknya sendiri.
Hmm kebetulan sekali, sepertinya lebih baik aku bertanya langsung pada ibunya mas Riski, fikirku.
"Iya bu Rina juga kangen sama ibu, besok Rina kesana ya", balasku.
-
Diubah oleh MyRyuRey
profile-picture
profile-picture
profile-picture
eja2112 dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
PEWARIS TERAKHIR
15-10-2019 17:10
Rumah mas Riski sangat besar, ada ibu, Bayu, mas Riski dan 5 orang asisten rumah tangga.
Di ruang tamu..
"Sini duduk dekat ibu", bujuk ibu.
Sengaja aku datang saat jam kerja Mas Riski, masih ada rasa takut saat harus bersama dia.
Biasanya kami duduk bersebelahan tapi kali ini kami duduk bersebrangan, entah mengapa dihatiku ada sedikit rasa takut juga ke ibu.
"Ibu tau kamu mau cerita apa.. Pasti masalah gentong ya?", tanyanya santai.
"Ko ibu bisa tau?", tanyaku kaget.
"Sewaktu Riski bilang desa Xxx ibu udah punya firasat, kamu menjauhi Riski pasti karna tau Riski ternyata ada hubunganya dengan 5gentong tua itu kan?", jawaban ibu tepat sekali, seolah ibu tau isi hatiku.
"Iya bu, sejak awal sampai disana Rani selalu bermimpi aneh, dimimpi terakhir Rani baru mengerti kalau mereka mencoba memperingati Rani lewat mimpi", kataku menjelaskan.
"Apa kamu bertemu dengan bu Suratno dimimpimu?", tanya ibu penasaran.
" iya bu,.." jawabku.
Saat itu kuceritakan semua tentang mimpiku dan yang kami alami selama ada disana. Tentang bapak, pakde Alif, Mila, Pian, mas Anto, tentang semuanya.
Kulihat ibu begitu antusias dengan semua hal yang kuceritakan, ibu bertanya banyak hal dan tiba-tiba..
"Sekarang kamu dan Bayu mengerti kan?", ucap ibu mengagetkanku.
Saat ku berbalik, aku terkejut ternyata sudah ada Bayu dan mas Riski, entah sejak kapan mereka berdua ada dibelakangku.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
PEWARIS TERAKHIR
15-10-2019 17:11
"Jadi kamu menjauhiku karna masalaluku? Karena hal yang bahkan tidak aku ketahui", tanya mas Riski sedih.
"Kamu tahu? Seminggu ini Riski sampai sakit karena mikirin kamu" kata Bayu memelas,
Aku masih duduk, tertunduk mencoba membenamkan wajahku dalam akal sehatku. Entah apa yang harus kujawab, bukan maksudku menjauhi mas Riski, aku hanya butuh waktu untuk menerima kenyataan bahwa bapaku harus berpulang karena ketamakan keluarga mas Riski.
Sesekali kulihat mas Riski terntunduk seolah terbenam disyal tebal dilehernya, wajahnya pucat dan airmata mulai menetes dari ujung matanya.
"Hai hatiku, setega itukah kamu terhadap orang yang ku cintai?", Bisikku pada hatiku.
Tak tahan rasanya melihatnya menangis, segera ku berdiri dan kupeluk erat laki laki yang paling ku cintai ini.
"Kamu tahu? Menahan rindu dan rasa khawatirku kepadamu itu lebih menyesakkan dari hidup tanpa nafasku", katanya lagi.
"Maaf kan aku mas, tidak ada niat sedetikpun untuk meninggalkan mas, apalagi untuk melupakan mas, aku hanya butuh waktu untuk menenangkan hatiku", jawabku mengiba.
Kulihat mata Bayu mulai berkaca kaca, sepertinya dia juga mulai merasakan perasaan kami.
Sore itu semua teka teki selesai sudah, sudah tak ada lagi pertanyaan dihatiku, ibu sudah menjelaskan semua.
Bayu pun sudah mengerti siapa slama ini yang selalu menggodanya.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
PEWARIS TERAKHIR
15-10-2019 17:12
5 gentong itu adalah peninggalan turun temurun keluarga mereka, setiap 5tumbal maka akan digantikan dengan emas digentong terakhir. Ibu memilih pergi jauh dari keluarga karena takut seperti kakaknya yang tergoda oleh kekuatan gentong tersebut. Sekarang 5 gentong itu tidak akan pernah bisa dibuka lagi, 5 gentong tidak bisa sembarang dibuka, gentong hanya bisa dibuka oleh keturunan dari keluarga mereka, itupun sang pewaris harus melakukan ritual tertentu agar dapat membukanya. Sialnya, saat mas Riski masih bayi kedua orang tua mas Riski sudah melakukan ritual pewarisan kepada Mas Riski.
Kini tak ada lagi rasa yang membuatku ingin menjauh dari mas Riski.
Satu satunya hal yang masih mengganjal dihatiku adalah Pian, apakah Pian tau tentang semua ini?.
--
Menjelang malam.. Bayu masuk kamar..
Aku dan mas Riski ngobrol santai dipinggir kolam renang..
"Ko Bayu bisa tau kalau dirumah itu ada yang ga beres? Apa dia mimpi kaya aku juga? Tadi aku tanya ke dia tapi kayanya dia ga mau cerita", tanyaku heran.
"Mungkin dia malu, hahahaha", kata mas Riski
profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
PEWARIS TERAKHIR
15-10-2019 17:12
"Jd pas dia tidur dikamar itu tiba-tiba ada Pian masuk kamar, dia pegang-pegang Bayu, pas si Pian naik ketubuhnya Bayu, tiba-tiba dia dengar kamu teriak manggil aku, dia mau bangun ngeliat kamu, pas dia liat dari cermin ternyata yang didekapnya bukan Pian, tapi wanita rambut panjang ga karuan, mukanya hancur penuh darah, pakaianya kotor kusam, dia kaget cuma masih bisa menahan dirinya untuk tetap tenang, jd dia lepasin dekapanya dan bilang mau keluar liat kamu, hahaha", ungkapnya.
"Masa sih? Tapi ko dia bisa ya setenang itu?," tanyaku heran.
"Apanya yang tenang?, kamu lihat kan pas keluar dari kamar badanya gemetar dan mukanya pucat banget?, hahahaha", tawanya mengejek.
"Astaga.. Ternyata dia lebih parah dari yang aku alami, hahaha, seenggaknya aku ga sampai melihat wujud mereka secara langsung", ungkapku..
"Kasian.. Padahal dia udah suka beneran sama Pian..Karena kejadian itu bukan cuma patah hati tapi sampe sekarang dia ga berani tidur sendiri, tiap malam tidur dikamarku, huffft", ungkapnya lemas.
"Eh.. Tapi nanti kalau kita udah nikah ga boleh lah dia tidur sama kita", katanya sambil merangkulku mesra.
" hahahahaha", tawaku.
"Oiya pas aku manggil mas itu posisi mas lagi megang tutup ke lima, apa mas udah buka gentong ke 5?", tanyaku.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
eja2112 dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
PEWARIS TERAKHIR
15-10-2019 17:13
"Entahlah, mas lupa, mas ga engeuh, soalnya pas mau buka denger kamu teriak, mas reflek lari kekamu", jawabnya.
"Iiih..coba diinget-inget mas, kalau sampe kebuka semua bahaya loh, bisa aja kan mas Anto nyari tumbal lagi buat isi gentong, nanti dia nyari kamu buat buka lagi tu gentong", kataku takut.
Mas Riski melepaskan rangkulanya, kulihat wajah mas Riski seperti berfikir serius..
"Kayanya sih udah agak keangkat cuma ga tau itu berarti udah kebuka atau belum soalnya ga ku angkat sampe kebuka", katanya serius.
"Astaga mas.. Kalau beneran udah kebuka gimana?", cemasku, entah mengapa rasa takut itu muncul lagi.
"Gimana nasib Pian dan Adam?", air mataku mulai menetes.
"Tenang ya..Besok akan kusuruh orang untuk mencari tahu kabar Pian", mas Riski memeluku dan mencoba menenangkanku.
Tak bisa kubayangkan bagaimana nasib sahabatku itu, bagaimana kalau dia jadi tumbal keserakahan suaminya?.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 7 lainnya memberi reputasi
8 0
8
PEWARIS TERAKHIR
15-10-2019 18:31
lanjut ga ya?🤔
profile-picture
i4munited memberi reputasi
1 0
1
Lihat 2 balasan
PEWARIS TERAKHIR
15-10-2019 19:10
Quote:Original Posted By MyRyuRey
lanjut ga ya?🤔


Lanjut dong
Ditunggu ya updatenyaemoticon-Cendol Gan
profile-picture
mot2nrong memberi reputasi
1 0
1
PEWARIS TERAKHIR
15-10-2019 21:17
lanjuttttttkeuuunnn
0 0
0
PEWARIS TERAKHIR
16-10-2019 00:20
Quote:Original Posted By MyRyuRey
lanjut ga ya?🤔


lanjut doooonkkk.. Nanggung nih emoticon-Blue Guy Cendol (L)emoticon-Shakehand2emoticon-Mewek
0 0
0
PEWARIS TERAKHIR
16-10-2019 01:38
lanjut yaaaa
0 0
0
PEWARIS TERAKHIR
16-10-2019 10:15
Sejak hari itu hubungaku dengan mas Riski kembali membaik, keadaan mas Riski pun berangsur pulih, dia mulai kerja seperti biasanya, namun rasa khawatirku akan Pian dan Adam terus membayangi. Hampir setiap hari aku datang kerumah mas Riski, menanyakan tentang Pian.
"Gimana keadaan Pian mas? Apa ada yang berubah sejak kita keluar dari sana?" pertanyaan yang slalu kutanyakan.
"Tenang aja, mas udah nyuruh Bian (asistenya mas Riski) untuk ngawasin, tapi ga mungkin juga kn dia disana terus jd dia inisiatip bayar tukang mie ayam didepan rumah Pian untuk selalu ngawasin Pian, sampe sekarang kayanya belum ada hal yang berubah, dia bilang sehari2 Pian masih kaya biasanya", kata mas Riski.
"Kenapa ga minta tolong ke bude Suri aja? Bude lebih deket sama Pian", tanyaku.
"Bian mana tau rumah bude Suri, hahaha", tawanya.
"Kan bisa nanya sama tukang mie ayam", kataku jengkel.
"Hei.. Bude Suri itu kan ga bisa terus-terusan merhatiin Pian, satu satunya yang bisa bebas merhatiin rumah Pian ya cuma tukang mie ayam itu, kamu ngerti kan?" ejeknya sambil mengacak rambutku, kebiasaan yang sangat menyebalkan, "bikin rambutku berantakan aja", fikirku.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
eja2112 dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Halaman 1 dari 4
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
cinta-sepekan
Stories from the Heart
kealpaan-hati
Stories from the Heart
cinta-pada-pelukan-pertama
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.