Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
393
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5da3e96310d29539c1617040/kunikahi-sahabatku
Dari sana ia bisa melihat Saga yang pulas di sofa ruangan itu. Wajah pria itu terlihat tenang, napasnya teratur, hanya poninya yang tampak agak berantakan. Kemeja putih bekas akad masih melekat di tubuhnya.
Lapor Hansip
14-10-2019 10:20

Kunikahi Sahabatku

Past Hot Thread
icon-verified-thread
Kunikahi Sahabatku




Nimas tertegun di ranjang pengantinnya.

Dari sana ia bisa melihat Saga yang pulas di sofa ruangan itu. Wajah pria itu terlihat tenang, napasnya teratur, hanya poninya yang tampak agak berantakan. Kemeja putih bekas akad masih melekat di tubuhnya.

Di matanya, Saga tidak lebih dari sahabat.

Namun, aksi heroiknya kemarin sungguh membuat Nimas tidak enak hati.

Semua berawal dari kaburnya Andre di hari pernikahan. Harusnya dia yang kini berada di kamar itu bersama Nimas, bukan Saga. Harusnya Nimas tidak mengorbankan Saga demi menutupi rasa malu keluarganya.

Saga, teman Nimas sejak kecil.

Sejak dulu, laki-laki itu rela melakukan apa saja untuk Nimas. Saga belajar bela diri untuk melindungi Nimas dari anak-anak yang suka mengganggunya. Saga dan Nimas seolah tidak pernah terpisahkan.

Namun, saat keduanya beranjak dewasa, semua mulai berubah. Nimas dan Saga menjadi jarang bertemu karena kesibukan masing-masing. Hingga suatu hari Nimas bertemu Andre dan menjalin hubungan serius.

"Udah bangun?" Lamunan Nimas buyar saat sebuah suara serak yang begitu dikenalinya terdengar begitu dekat. Ia menoleh ke sumber suara.

"Eh, u-udah, Ga."

Kaku. Sunyi. Namun, Saga terlihat begitu tenang. Laki-laki itu mendekati ranjang.

"Boleh gue duduk di sini?"

Mereka berpandangan sejenak.

"Duduk aja." Sekuat tenaga Nimas menahan gejolak dalam hatinya. Pada situasi normal, Nimas akan baik-baik saja duduk berdekatan dengan Saga.

Namun, saat ini situasinya berbeda. Mereka berada di kamar pengantin. Kamar mereka berdua. Kamar pengantin yang bahkan spreinya masih putih bersih dan rapi. Cahaya redup dari lampu tidur membuat suasana makin mendebarkan bagi keduanya. Suasana yang harusnya romantis justru menjadi hal yang meresahkan mereka.

"Apa rencana lo ke depan?" tanya Saga hati-hati. Laki-laki itu tentu tidak mau Nimas salah tangkap dengan maksud pertanyaannya. Bagaimana pun pernikahan ini hanya demi meyelamatkan harga diri Nimas dan keluarganya.

Nimas masih membisu. Wajah sendunya belum hilang sejak kemarin. Namun, setidaknya air mata  sudah tidak lagi terlihat.

"Rencana apa maksud lo, Ga?" Nimas balik bertanya. Wajah ayunya sedikit mendongak.

Lagi-lagi keduanya beradu pandang. Namun, Saga cepat membuang pandangan ke arah meja rias demi meredam degup jantungnya yang tidak menentu. Saga menarik napas berat hingga terdengar di telinga Nimas.

"Kita nggak lagi main sandiwara, kan?"

Nimas tidak punya jawaban untuk pertanyaan Saga, setidaknya untuk saat ini. Nimas benar-benar merasa seperti terjebak akibat keputusannya sendiri. Sudah tepatkah keputusannya dengan menerima Saga?

Nimas masih diam.

Saga beranjak dari duduknya. Ia berjalan pelan dengan menyelipkan kedua telapak tangannya di saku celana. Laki-laki jangkung itu sepertinya ingin memberikan Nimas waktu untuk berpikir.

"Ga!" seru Nimas.

Saga yang tangannya hampir menyentuh gagang pintu, berhenti. Ia menoleh. Matanya menatap Nimas.

"Gue nggak peduli kita sandiwara atau enggak. Yang gue tahu, gue berusaha buat lo bahagia. Lupain aja pertanyaan gue tadi."

"Saga!" Nimas turun dari ranjang. Ia mendekati laki-laki yang kini sudah resmi menjadi suaminya itu, lalu berhenti tepat di depannya. "Gue egois banget, ya? Gue cuma mikirin perasaan gue dan keluarga."

"Semua udah kejadian. Pilihannya hanya dua. Kita tetap bersandiwara atau belajar menerima. Itu aja, nggak ada yang lain."

Nimas tertegun mendengar jawaban Saga.

Akhirnya, Nimas hanya mampu menatap punggung sahabatnya yang berlalu. Keresahannya semakin menjadi. Pilihan yang mereka miliki memang hanya pura-pura atau belajar menerima, seperti yang Saga katakan.

Bersambung.

Sumber Gambar: ini

Bab 2

Bab 3

Bab 4

Bab 5

Bab 6

Bab 7

Bab 8

Bab 9

Bab 10

Bab 11

Bab 12

Bab 13

Bab 14

Bab 15

Bab 16
bab 17
Bab 18
Bab 19
Bab 20
Bab 21
Bab 22
Bab 23 (Ending)
Baca juga kisah cinta yang sesat di sini: Sisi Lain Seorang Pelakor
Diubah oleh nofivinovie
profile-picture
profile-picture
profile-picture
herry8900 dan 93 lainnya memberi reputasi
94
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 18
Kunikahi Sahabatku
14-10-2019 10:25

Bab Dua

Untuk sejenak, Saga menarik napas, kemudian membuangnya perlahan. Mata sipit itu mengarah pada ikan-ikan koi yang sedang berkecipak berebut pelet dari tangannya. Pikirannya sedang sedikit melayang.

Di saat itulah, Pak Sasongko datang.

Deheman kecil pria berkepala botak itu berhasil menarik Saga dari awang-awang.

Keduanya saling berpandangan yang kemudian menerbitkan senyum di bibir tipis Saga. "Om pagi-pagi udah bangun aja?" Kikuk.

Pria setengah tua di samping Saga itu tertawa kecil. "Saya biasa pagi-pagi bangun. Tapi ngomong-ngomong, Nak Saga sekarang jadi mantu saya. Manggilnya masih tetap 'Om', nih?"

Saga garuk-garuk kepala. Merasa tidak enak sekaligus bingung akan dirinya sendiri. Ia merasa linglung.

"Eh, i-iya, Saga panggil 'Papa' aja."

Sasongko tertawa, geli akan kelakuan menantunya.

"Kamu bukan orang baru di rumah ini."

"Tapi baru di situasi seperti ini."

"Ya, ya, saya paham."

"P-Pa, apa Saga melakukan hal yang tepat?"

"Hmmm, kalau itu, jujur saja saya nggak bisa komentar apa-apa. Di satu sisi, saya bersyukur karena Nak Saga menyelamatkan muka kami. Tapi, di sisi lain, saya khawatir dengan kalian." Sasongko menatap wata sipit mennatunya.

"Saga tidak keberatan sama sekali dengan pernikahan ini. Tapi, Saga nggak yakin Nimas berpikiran sama." Saga menunduk. Tangan kanannya kembali menebar pelet-pelet ikan di jernihnya air.

Kecipak air terdengar saat hewan bersirip itu berebut makanan. Warna putih yang berkombinasi warna oranye dan kuning, terlihat sangat cerah di dalam kolam. Namun, hal itu sangat berlawanan dengan suasana hati Saga yang sedikit diliputi kabut.

Sasongko ikut memperhatikan ikan-ikan itu. Ia juga mengamati cara Saga menabur pelet-pelet ke permukaan air. Pemuda itu melakukannya dengan perlahan dan sangat hati-hati.

Sasongko mengenal Saga sudah sejak anak itu balita. Saga dan Nimas memang cukup sering bermain bersama. Kadang Nimas yang pergi ke rumah Saga, begitu sebaliknya. Dan, ternyata takdir membawa Saga dan Nimas pada takdir yang seperti ini.

"Saya percaya kamu laki-laki baik."

Sasongko menepuk bahu sang mantu.

Saga menoleh ke arah mertuanya. Keduanya bertatapan, saling memandang sebagai sesama laki-laki. Hanya saja, Saga tidak yakin dengan dirinya sendiri. "Apa yang harus Saga lakukan, Pa?"

"Hanya satu."

"Apa itu?"

"Buat Nimas selalu tersenyum. Kamu bisa, 'kan?" Sasongko kembali menepuk bahu kanan menantunya. Tanpa menunggu jawaban, pria botak berkaca mata itu pergi. Langkahnya tampak bergegas.

Saga mengangguk. Ia seolah menjawab pertanyaan sang mertua meski Sasongko sudah meninggalkannya. Yang ada dalam pikiran Saga saat ini adalah bagaimana caranya mencairkan kekakuan.

Kekakuan yang sungguh membuat Saga dan Nimas mati gaya. Keduanya yang pada situasi sebelum ini bisa menjadi pasangan terkompak, kini bagaikan orang asing. Berdua tapi bisu. Begitulah kira-kira.

"Ga!"

Saga tersadar dari pikirannya yang sedang merajut asa. Ia menoleh ke sumber suara. Ternyata Nimas. Gadis itu tersenyum kikuk sambil menyerahkan secangkir minuman beruap. Tercium aroma lembut khas teh hijau. Minuman kesukaan Saga.

Saga menerima cangkir itu.

"Repot-repot."

"Namanya juga istri soleha," canda Nimas.

Keduanya tertawa.

"Bisa aja lo," sahut Saga.

Nimas mengerucutkan bibir. Saga menikmati pemandangan itu sambil menyesap minuman di tangannya. Ternyata hal remeh seperti itu bisa membuatnya bahagia. Jika Saga merasa bahagia, apakah Nimas juga?

"Jadi nggak suka?"

Saga hampir tersedak.

Bersambung
Diubah oleh nofivinovie
profile-picture
profile-picture
profile-picture
suryos dan 36 lainnya memberi reputasi
36 1
35
Kunikahi Sahabatku
14-10-2019 10:25

Bab Lanjutan

Saga tidak pernah menyangka akan mendengar candaan macam itu. Walau kaget, tetapi hati Saga sedikit menghangat. Mungkin juga efek teh hijau.

Kecanggungan di antara mereka masih kental, sekuat apa pun mereka berusaha menepisnya. Tapi, Saga memilih untuk terus bersikap biasa. Sebisa dan semampunya. Hingga pada akhirnya kecanggungan masing-masing berujung pada adegan saling toleh. Awalnya sekilas, kemudian berulang.

Detik berikutnya, tawa meledak di antara keduanya. Saling toyor, hingga akhirnya Nimas menyenderkan kepala di bahu sang suami. Saga hanya memejamkan matanya.

"Emangnya kita beneran?"

"Apanya?"

Nimas sengaja memancing Saga untuk bicara lebih banyak. Sejujurnya ia rindu kebersamaan mereka yang sempat terenggut beberapa waktu lalu. Nimas merindukan gelak tawa mereka. Nimas rindu suara lembut itu saat sedang berbagi cerita dengannya.

Saga yang begitu antusias ketika bercerita tentang keinginannya memiliki kebun bunga. Entah apa yang ada di dalam pikiran laki-laki itu hingga ia menginginkan hal yang menurut Nimas sedikit menggelikan. Laki-laki dan bunga sangat bertentangan. Tapi, Saga memang lain.

Mungkin karena itu Nimas begitu suka dekat-dekat dengan Saga. Saga yang lembut dan penuh perhatian, pintar, dan ... sedikit aneh. Laki-laki suka bunga itu aneh, bukan?

"Hubungan kita."

"Hubungan yang mana?"

"Maksud gue tentang pernikahan ini."

"Kenapa memang?"

"Kita serius?"

Nimas mengangkat kepalanya dari bahu Saga. Mereka saling tatap. Tapi, dengan cepat Saga mengalihkan fokus matanya ke arah ikan-ikan di bawah sana.

Nimas masih belum yakin untuk memberikan Saga jawaban. Ia justru merasa terjebak oleh perangkap yang dipasangnya sendiri. Ia yang memancing Saga, ia justru yang gelagapan. "Kasih gue waktu," jawab Nimas akhirnya.

"Gue nggak pernah berharap banyak."

Ada rasa nyeri mendengar jawaban Saga yang terdengar begitu lembut, tetapi sangat menusuk. Kalimat itu sukses membuat hati Nimas terasa seperti diremas. Nimas merasa bersalah sudah menggiring Saga ke arah sana. Kini wanita bergaun putih pucat itu bingung mencari kalimat yang tepat untuk kembali mencairkan suasana. Hingga akhirnya ia memilih berdeham.

Saga menoleh sekilas, kemudian menyesap tehnya lagi. Laki-laki itu menyodorkan teh yang tinggal beberapa mililiter itu kepada Nimas. Yang disodori malah memasang wajah tidak berdosa sambil mempertontonkan gigi-gigi putihnya.

Bersambung....
Diubah oleh nofivinovie
profile-picture
profile-picture
profile-picture
suryos dan 23 lainnya memberi reputasi
24 0
24
Lihat 2 balasan
Memuat data ..
Kunikahi Sahabatku
14-10-2019 10:25

Bab 4

Suara dehaman dari belakang membuat mereka serempak menoleh. Ternyata Sasongko yang keluar pintu dan mendekati sepasang pengantin baru itu. Kemudian, sebuah amplop diulurkan Sasongko kepada Saga. Senyuman manis tampak tersungging di raut tuanya.

Saga menerima amplop itu dengan ragu.

"Papa harap kalian bersenang-senang."

"Ini apa, Pa?" Saga membolak-balik amplop. Sesekali matanya diarahkan pada Sasongko. Tapi, Sasongko tidak memberikan jawaban.

Laki-laki itu malah pergi meninggalkan Nimas dan Saga. Tinggallah mereka berdua saling pandang. Nimas menautkan alis.

Saga memberikan amplop itu kepada Nimas.

"Lo buka aja!" Nimas menolak amplop itu dan menyuruh Saga membukanya. Akhirnya Saga menuruti perintah Nimas.

Perlahan, Saga membuka benda yang dipegangnya.

"Tiket?" Mereka berpandangan. "Bulan ma ...." Saga menggantung kata terakhir. Matanya diarahkan pada Nimas.

"Bulan madu?"

"Iya," jawab Saga.

Nimas berpikir sebentar. Ia tidak menyalahkan siapa-siapa atas situasi ini. Dari awal dia sendiri yang mengambil sikap.

Nimas merebut tiket dari tangan Saga. Saga sedikit terkejut dan panik karena mengira Nimas akan marah. Tapi, ternyata Nimas hanya ingin membaca tiket itu secara keseluruhan. Nimas membaca kalimat-kalimat yang ada di tiket tersebut dengan keras.

"Yuk, siap-siap!" Nimas melipat tiket tersebut dan menggenggamnya di tangan kanan, lalu tangan kirinya menarik kemeja Saga bagian perut. Saga merasa bagai kerbau yang dicocok hidungnya.

"Lo serius?" Saga masih bingung. Ia sama sekali tidak menyangka Nimas menerima ini dengan sangat mudah.

Nimas menoleh dan tersenyum.

"Serius, Suamiku tersayang!"

"Ta-tapi--"

"Nggak ada tapi-tapian. Kita bukan anak kecil, Saga. Berhenti main-main!"

"Main-main apa?"

"Main sandiwara."

Glek!

"Jadi serius?"

"Berapa kali lagi lo mau nanya?"

"Lo nggak lagi mabuk, kan?"

Nimas menghentikan langkah.

"Ya gue mabuk!"

Setelah itu Nimas berlari meninggalkan Saga. Laki-laki itu hanya geleng-geleng melihat kelakuan istrinya. Dan, sebuah senyum terbit di bibir tipis Saga.

***

Bandar udara I Gusti Ngurah Rai menyambut kedatangan Saga dan Nimas.

Mereka terlihat menarik koper kecil.

"Wah udah lama kita nggak ke sini," ujar Nimas di sela-sela langkahnya. Suara roda koper yang bergesekan dengan aspal beradu dengan suara nyaring dari pesawat. "Ga, tunggu!"

"Ya," jawab Saga. Laki-laki itu menunggu Nimas yang sedikit tertinggal. "Jalannya lama," gerutu Saga. Nimas yang sudah berhasil menyusul hanya memamerkan senyum manis.

Keduanya berjalan beriringan. Sesekali Nimas berceloteh tentang tempat-tempat mana saja yang ingin dikunjunginya. Saga hanya menggangguk.

Nimas terus berceloteh hingga mereka bertemu taksi daring yang mereka pesan. "Ke Dwaraka Ubud, ya, Pak," ujar Nimas. Si sopir menutup bagasinya yang sudah dipenuhi oleh koper sang penumpang. Tidak lama kemudian mereka mulai menembus kemacetan menuju Ubud.

Sekitar sejam kemudian mereka sampai.

"Terima kasih banyak, Pak," ujar Saga sambil mengangsurkan dua lembar ratusan ribu. Si sopir ingin mencari kembalian, tapi Saga mencegahnya, "Nggak usah, Pak. Itu tip dari kami."

Sang sopir tersenyum santun.

"Semoga langgeng dan bahagia," ujar sopir itu tulus. Kedua penumpangnya hanya mengucapkan terima kasih seraya tersenyum. Tak lama kemudian si sopir pergi. Baru saja Saga ingin melangkah, Nimas sedikit tergelak.

"Lo kenapa?"

Saga terkejut mendengar tawa Nimas.

Bersambung(kira-kira Nimas kenapa?)

AN: Mohon maaf untuk semua teman yang menunggu lanjutan kisah ini, kebetulan saya lagi ngurusin bayi yang demo, jadi harap dimaklum jika jualan kentang.emoticon-Jempol
Diubah oleh nofivinovie
profile-picture
profile-picture
profile-picture
suryos dan 27 lainnya memberi reputasi
28 0
28
Lihat 2 balasan
Memuat data ..
Kunikahi Sahabatku
14-10-2019 10:26

Bab 5

Nimas menghentikan tawanya.

"Lucu," jawab Nimas. Wajah ayunya memerah. "Memangnya kita beneran kelihatan pasangan, ya?" Kembali Nimas tergelak.

Saga yang mendengar nada heran di kalimat Nimas, hanya bisa menarik napas panjang dan membuangnya perlahan. Kemudian ia memilih berlalu. Laki-laki itu berusaha menyembunyikan rasa kecewanya.

***

"Kita mau makan malam di mana?"

"Terserah," jawab Nimas.

"Tumben?" selidik Saga.

"Ya, lagi nggak ada ide," sahut wanita yang kini berstatus Nyonya Saga itu. Biasanya ia adalah orang yang rewel masalah makan. "Lo sendiri aja!"

"Lo nggak lapar?"

"Nggak," jawab Nimas lagi.

Saga mencoba mengerti.

"Yaudah."

Saga memilih keluar vila yang mereka tempati. Pria itu berjalan pelan melewati koridor sempit yang kanan kirinya ditumbuhi bugenvil beraneka warna. Kakinya melangkah keluar area vila, menuju jalanan yang sepi.

Saga menyipitkan mata yang memang sudah sipit saat ada sebuah mobil berlawanan arah dengannya. Ia memang memilih berjalan kaki ketimbang menyewa sepeda motor dari vila. Bukan karena alasan biaya, laki-laki itu hanya ingin menikmati jalan sepi di sekitar vila mewah dengan langkah perlahan. Sejak dulu, berjalan pelan di jalanan sepi atau taman adalah kegemaran Saga. Sepi dan sendiri.

Beberapa saat berlalu, ponsel pintar di saku kemejanya bergetar. "Nimas," gumamnya. Ia menekan tombol hijau.

Di seberang sana terdengar suara manja sang istri yang menanyakan keberadaannya.

"[Ini makananya udah datang.]"

***

Saga mengetuk pintu vila.

"Gue nggak pesan makanan," ucap Saga begitu pintu terbuka. Ia lalu masuk. "Apa memang udah sepaket?"

Di sana, di tepi kolam renang pribadi vila yang mereka tempati, terlihat dua buah kursi berhadapan yang hanya terpisah sebuah meja kecil. Di atas meja terlihat hidangan makan malam, lengkap dengan lilin dan bunga. Harusnya itu romantis. Saga mendekati meja dan tiba-tiba saja bayangan liarnya menyeruak. Dalam angan-angannya, Saga dan Nimas sedang menikmati makan malam itu dengan saling menatap.

Perlahan tapi pasti, tangan kiri Saga meraih jemari Nimas untuk dikecup. Nimas tersenyum dengan tatapan yang semakin sayu. Detik berikutnya, Saga membawa Nimas dalam gerakan dansa romantis diiringi alunan musik lembut yang entah dari mana datangnya. Mereka sama-sama hanyut.

Tapi, sayangnya itu hanya sebuah angan kosong yang mendadak buyar karena toyoran tangan Nimas di bahu kanan Saga. "Gue ngomong dicuekin. Bayangin apaan lo?" selidik Nimas.

Saga gelagapan.

"Bayangin apaan?"

Saga masih berusaha menyembunyikan rasa malunya karena ketahuan sedang membayangkan hal yang di luar jangkauan.

"Nyatanya gue ngomong malah bengong."

Saga tertawa sumbang.

"Gue nggak bengong."

Nimas kembali menoyor Saga. Tidak hanya sampai di situ, kali ini jari lentik wanita itu mampir di pinggang sang pria. Bukan sebuah belaian, melainkan cubitan. Saga mengaduh.

"Bohong," semburnya, "jelas-jelas gue ajakin ngomong kaga jawab," lanjut Nimas.

Saga masih ingin berusaha membela diri, tapi Nimas justru menyeret pria itu untuk duduk berhadapan dengannya di kursi yang sudah tersedia.

"Memangnya ini paketan bulan madu?"

Bahu Nimas terkulai karena merasa sia-sia sudah menjelaskan panjang lebar, tapi nyatanya Saga benar-benar tidak mendengarnya. "Udah, ah, makan aja!" katanya kemudian. "Gue males ngulang."

Saga memperhatikan mimik Nimas. Dalam hati, Saga masih tidak menyangka akan bisa berakhir di tempat dan situasi seperti itu bersama Nimas. "Maafin gue...," ucap Saga.

Nimas mengangkat wajah.

"Untuk?"

Ingin sekali Saga meminta maaf atas keputusan yang diambilnya. Tapi bibirnya terasa kelu. Bahkan nyalinya menciut seketika.


Bersambung next ada yang pengen mereka ber-ehm ria nggak?
Diubah oleh nofivinovie
profile-picture
profile-picture
profile-picture
suryos dan 22 lainnya memberi reputasi
23 0
23
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Kunikahi Sahabatku
14-10-2019 10:26

Bab 6

Kunikahi Sahabatku

Saga masih terdiam dengan mata yang terarah pada wanita bermata cokelat di depannya. Ia kemudian meletakkan garpu dan pisau di tangannya ke piring. Sambil menahan napas, Saga memejamkan matanya.

Nimas memperhatikan Saga dan menunggu jawaban lelaki itu. Kadang, Nimas gemas akan tindakan Saga yang kelewat hati-hati. Bahkan untuk hal-hal remeh seperti saat ini.

Buat Nimas itu remeh. Ia hanya bertanya tujuan laki-laki sipit itu meminta maaf, tapi nyatanya untuk menjawab saja susah. Padahal tinggal bicara apa adanya, beres. Sayangnya, Saga tidak menganggap demikian.

Beberapa saat berlalu, Saga tidak juga memberi Nimas jawaban. Laki-laki itu hanya berulang kali menghela napas. Tampak sekali ada sesuatu yang seolah sulit untuk diucapkan.

Nimas tahu betapa sulit Saga menyusun kata. Ini memang bukan situasi biasa untuk mereka, jadi kemampuan verbal Saga yang biasanya bagus, mendadak buruk. Sayangnya, laki-laki berkemeja flanel itu memang sudah bertekad untuk bicara. "Mungkin aksi sok pahlawan gue justru bikin lo nggak nyaman."

"Masalah itu, lupain!"

"Terus apa yang harus kita lakuin?"

Nimas berhenti mengunyah. Ia tidak menyangka Saga melontarkan pertanyaan seperti itu. Mata cokelatnya menatap sang pria.

Garpu dan pisau di tangan Nimas telah berpindah ke piring. Tangannya dilipat di atas meja. Mata cokelatnya menatap sang pria naif yang mulai gusar.

Sementara itu bulan di langit sedang dalam posisi bulat sempurna. Cahayanya memantul di permukaan kolam renang. Suasana benderang juga menyapu areal sawah di bawah sana. Suara binatang malam khas persawahan terdengar sayup di telinga. Keduanya masih diselimuti kecanggungan.

"Kita manusia dewasa. Mari bertindak selayaknya orang dewasa, Ga!" Nimas menyadari perubahan yang terjadi di wajah Saga.

"Apa itu artinya gue boleh---"

"Boleh," potong Nimas.

Detik berikutnya Nimas berjalan meninggalkan hidangan makan malamnya dan masuk ke kamar.

"Boleh apa?" tanya Saga yang bergegas membuntuti Nimas. Kini keduanya sudah sampai di kamar, suasana romantis sangat terasa oleh keduanya. Hamparan ranjang berseprei putih dengan hiasan kelopak mawar, seolah memanggil keduanya untuk menghabiskan malam di sana. "Tadi gue belum selesai ngomong."

Bersambung

Maafkan Saga yang nggak gercepemoticon-Wakaka
Diubah oleh nofivinovie
profile-picture
profile-picture
profile-picture
suryos dan 22 lainnya memberi reputasi
23 0
23
Kunikahi Sahabatku
14-10-2019 10:26

Bab 7

Nimas menoleh mendengar ucapan Saga.

"Gue tuh gemes banget nunggu lo ngomong."

Saga tidak membantah.

"Berarti yang tadi boleh apa?"

"Boleh apa aja."

"Kalau gitu boleh abis ini kita jalan-jalan?"

Nimas menggeleng.

"Gue capek, Ga. Lo sendiri aja, ya. Gue kayaknya lebih suka tidur cepet malam ini." Mendengar jawaban Nimas, Saga mengangguk.

"Oke."

Nimas menjatuhkan tubuh sesampainya ke kasur. Ia tidak peduli dengan kuntum-kuntum mawar yang seketika berantakan. "Tolong kasih tau orang vila buat beresin bekas makan malam."

"Ya, gue sekalian keluar. Lo mau nitip apa-apa nggak?" Saga menunggu jawaban Nimas. Wanita itu terlihat sudah hampir memejamkan matanya.

"Nitip jagain suami gue aja!"

"Siap!"

Saga tersenyum. Ia kemudian meninggalkan sang istri seorang diri. Langkahnya perlahan menyusuri koridor menuju lobi vila.

"Ga!"

Saga menoleh ke arah suara.

***

Dua orang satpam terlihat menahan tubuh Saga yang meronta. Mulut pria itu tidak henti-hentinya mencaci seseorang yang berdiri di hadapannya. "Bajingan lo!"

Napas Saga tersengal menahan amarah.

"Lepasin, Pak!"

Dua orang satpam yang tadi menahan tubuh Saga segera menuruti perintah pria berkemeja putih itu. Pria yang baru saja mendapatkan serangan bertubi dari Saga hingga wajahnya memar di sana sini. Ia sama sekali tidak melawan. Kini hanya mata keduanya yang seolah sedang saling melempar jurus. Tatapan Saga yang biasanya teduh, tidak terlihat saat ini.

"Apa maksud lo ngelakuin semua ini?"

Beberapa karyawan yang tadi sempat berkumpul akibat kegaduhan, perlahan menyingkir. Begitu pula kedua pria itu, sekarang berpindah ke bar di dalam pub kecil vila itu. Suara musik yang mengentak, seolah menggedor-gedor perasaan. Seperti cambuk-cambuk amarah yang kembali membuka rasa kesal di dada Saga.

"Apa kabar?"

"Nggak usah basa-basi," jawab Saga, "jawab aja apa maksud lo ngelakuin ini?"

Pria yang bersama Saga segera memesan dua buah minuman. "Gue nggak ada maksud lain, selain melindungi Nimas dan keluarganya. Lo tau 'kan kalau Om Sasongko lagi dalam masa pailit?"

"Maksud lo?"

Bersambung lagi
Diubah oleh nofivinovie
profile-picture
profile-picture
profile-picture
suryos dan 17 lainnya memberi reputasi
18 0
18
Lihat 2 balasan
Memuat data ..
Kunikahi Sahabatku
14-10-2019 10:27

Bab 8

Saga menatap tak sabar pria di sampingnya.

"Minum dulu kita."

"Gue nggak punya banyak waktu."

"Oh gitu."

"Andre, apa sebenarnya mau lo?" Saga bangkit dan menarik kerah kemeja pria di hadapannya. Pria yang disebut Andre itu memasang seringaian.

Melihat Andre yang bersikap tak acuh, Saga kembali melepaskan kerah kemeja pria itu. Andre semakin melebarkan seringaian hingga gigi-giginya terlihat. Saat yang sama, peracik minuman menyodorkan dua gelas berembun berwarna cokelat transparan.

Andre segera menjangkau kedua minuman itu dan menyerahkan satu gelas kepada Saga. Dengan enggan, Saga mengambil gelas itu. Sementara Andre terlihat sudah mulai menyesap minumannya. Lama Saga menimbang untuk memutuskan akankah ia meminum cairan di tangannya itu.

Saga bukan peminum, bukan perokok, tapi kali ini akhirnya ia memilih untuk menyesap minuman yang diberikan Andre. Laki-laki berwajah oriental itu mendekatkan bibir tipisnya ke mulut gelas. Sekali sesap seketika mulut Saga merasakan sebuah sensasi segar.

Rasa segar yang asing. Benar-benar asing, ini pertama kalinya ia mengecap minuman beralkohol. Sebelumnya ia selalu menolak tawaran minum alkohol baik dari teman kuliah atau rekan-rekan kantornya.

"Nah, gitu, dong! Jadi cowok jangan lugu-lugu amat kenapa," ledek Andre. Ia menyikut Saga, memperhatikan wajah putih itu mulai sedikit memerah.

Saga tidak memedulikan ledekan Andre.

"Gue cuma mau tahu alasan lo."

"Gini loh, Ga---"

"Nggak usah muter-muter!" potong Saga.

Andre justru tergelak.

Saga makin geram. Ia hampir saja berdiri andai saja Andre tidak menahan bahu kirinya. Mau tidak mau Saga mengurungkan niatnya.

Saga kembali menyesap minumannya.

"Jujur aja, Om Sasongko tahu kalau gue nggak bakal datang hari itu. Om Sasongko juga yang ngurusin berkas-berkas pernikahan kalian. Satu lagi, paket bulan madu ini bukan dari mertua lo, tapi dari gue."

"Gue nggak ngerti lo ngomong apaan."

"Intinya, gue tinggalin pernikahan ini demi Nimas. Demi kelanjutan usaha Om Sasongko. Gue tahu, gue bukan cowok tajir yang bisa ngasih masa depan cemerlang. Gue relain Nimas nikah sama lo."

"Hanya karena itu?" selidik Saga.

Andre mengalihkan pandang ke arah Saga.

Keduanya saling tatap.

"Lo bilang 'hanya'?

"Ya, hanya karena uang?" tegas Saga.

Andre menggeleng. Kemudian ia tertawa. Sumbang. Tawa yang penuh rasa sakit. Sayangnya hanya Andre yang merasakan.

"Lo nggak pernah ngerasain jadi di posisi gue. Lo nggak pernah ngerasain gimana rasanya diajak tukar pikiran sama calon mertua dan lo nggak bisa kasih jalan keluar. Lo nggak tahu, gimana rasanya gue harus rela ngelepas cewek yang paling gue cinta karena kekurangan ini."

"Jadi inti dari semua cerita lo apa?"

"Gue tinggalin pernikahan ini buat jaminan klien utama Om Sasongko nggak memutus kerja sama. Berat. Tapi mau gimana lagi?"

Saga sedikit tercengang.

"Jaminan gimana?"

"Anak bos gue memanfaatkan keadaan."

Saga makin tercengang.

"Gue makin bingung," keluh Saga.

"Anak bos gue itu naksir sama gue."

"Terus lo juga suka sama dia?"

"Nggak gitu!"

"Terus?"

Andre menenggak minumannya dan diam sebentar. Saga menunggu dengan sabar. Ia masih ingin mendengar alasan Andre.

Melihat Andre belum juga buka suara, akhirnya Saga memilih mengikuti jejak pria berkemeja putih itu. Saga menandaskan minuman. Kemudian ia meletakkan gelas itu di meja. Andre menoleh padanya dan tersenyum.

Sementara musik bertempo cepat dan mengentak terus mengalun. Menari bersama aroma alkohol. Seolah mencoba untuk mengajak para pengunjung berdansa.

Bersambung
Diubah oleh nofivinovie
profile-picture
profile-picture
profile-picture
suryos dan 15 lainnya memberi reputasi
16 0
16
Kunikahi Sahabatku
14-10-2019 10:27

Bab 9

Kalau bukan karena Andre ingin menjalankan misinya, ia tidak akan membuka hal ini pada siapa pun. Tekadnya sudah bulat. Ia ingin Nimas dan Saga benar-benar menjalani pernikahan yang normal.

Lama kebisuan di antara Saga dan Andre tercipta. Saga sudah tidak lagi tergesa pergi. Ia sudah benar-benar penasaran dengan apa yang ingin Andre ungkapkan kepadanya. Ia ingin semuanya jelas.

Saga berniat akan memberitahukan hal ini kepada Nimas. Ia tidak ingin Nimas dan dirinya terus berkubang dengan masa lalu. Jika memang pernikahan mereka tidak akan berlanjut, Saga berusaha siap.

"Jesica namanya. Dia anak tunggal bos gue. Dia suka sama gue dan tahu kalau gue mau nikah. Dia tahu Nimas anak klien ayahnya."

"Dia minta ayahnya ngancam bakal mutusin kerja sama dengan Om Sasongko kalau kalian tetap menikah, gitu?" Saga memberondong Andre dengan logika yang baru saja diterima otaknya. Tadinya Saga benar-benar tidak berpikir sampai sejauh itu.

"Tepat," jawab Andre.

"Lo nggak kasih tahu ke Nimas tentang ini?" cecar Saga. "Gue akan kasih tahu Nimas abis ini, lo tenang aja, Ndre!"

Andre menggeleng.

"Gue mau tunangan. Besok malam. Kalian harus datang!" Andre bangkit dari duduknya, kemudian berjalan menjauhi Saga.

Andre terlihat berbicara dengan seseorang berseragam putih dengan rompi hitam yang sepertinya adalah salah seorang pelayan pub itu. Tidak lama setelah itu Andre berbalik. Ia kembali memesan minuman dan kemudian duduk lagi di kursinya.

"Maksud lo apa ngundang kami ke sana?"

"Nimas perlu tahu."

"Nimas memang perlu tahu."

"Yaudah, gue tunggu."

"Gue nggak jamin."

"Kenapa?"

Saga sudah hampir membuka mulut saat seseorang yang tadi dihampiri Andre datang. Orang itu menyodorkan sesuatu kepada Andre. Sebuah undangan. Andre mengucapkan terima kasih dan menyuruhnya untuk pergi. Ia lalu menyerahkan undangan bernuansa ungu metalik itu kepada Saga. Melihat Saga yang enggan menerima, Andre akhirnya meletakkan benda itu di meja dekat tangan Saga yang terlipat.

Minuman kedua datang. Andre mengajak Saga untuk kembali menikmati segarnya es teh beralkohol itu. Tapi, kali ini Saga menolak.

Bukan Andre namanya kalau menerima penolakan. Ia membujuk Saga untuk meminunya, sedikit saja. Alasannya sayang karena sudah dibayar.

Dengan enggan Saga kembali menurut.

Bersambung
Diubah oleh nofivinovie
profile-picture
profile-picture
profile-picture
suryos dan 20 lainnya memberi reputasi
21 0
21
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Kunikahi Sahabatku
14-10-2019 10:27

Bab 10

Saga merasakan kepalanya tidak baik-baik saja. Bahkan rasa tidak nyamannya menjalar hingga ke mata. Rasa asing yang harusnya tidak ia rasakan, setidaknya untuk saat ini. Setelah menghabiskan minuman kedua, Saga bersikeras pamit. Ia tidak mau lagi berlama-lama di tempat itu.

Andre yang sebenarnya masih ingin sedikit berlama-lama berbagi resah dengan Saga, akhirnya mengiyakan keinginan lelaki itu untuk pergi dari sana.

"Gue bakal kasih tahu semua ke Nimas."

"Boleh aja. Setelah kalian menghabiskan malam berdua," jawab Andre. "Punya bini tuh jangan lama-lama dianggurin!"

Saga terbelalak. Wajahnya yang sudah memerah makin merona. Entah perasaan apa yang sedang bergejolak di dadanya.

Sejurus kemudian Saga benar-benar melangkah.

Andre menatap punggung semampai itu dengan nanar. Setitik air matanya jatuh, tapi ia segera menghapus kerapuhan itu dengan sebuah senyum.

Senyum yang rasanya entah. Lalu, wajah persegi lelaki itu dibenamkan dalam ke meja bar. Ia seolah ingin menikmati rasa itu hingga puas.

"Pak, permisi ada telepon dari Bu Jesica."

"Bilang sama dia bentar lagi saya pulang."

Andre sama sekali tidak melihat siapa yang datang dan bicara padanya. Tapi, dia tahu kalau itu suara salah satu resepsionis sif malam. Ia ingat bahwa ponselnya sengaja diletakkan di laci meja kerja.

Andre hanya sedang tidak ingin mendengar suara manja calon tunangannya itu. Ia hanya ingin sendiri. Setidaknya sampai esok pagi.

"Baik, Pak."

"Oiya, tolong kalau nanti Jesica telepon lagi, bilang saya sudah pulang."

Wanita bersanggul modern dengan kebaya khas Bali itu melangkah menjauhi Andre setelah berpamitan. Andre kembali menikmati kesendiriannya. Bersiul, bernyanyi, dan berteriak dalam hati.

***

Saga sampai di depan pintu vila.

"Nimas," panggilnya.

Pintu terbuka. Nimas sudah berganti pakaian dengan kimono. Kain halus nan bercahaya itu seolah makin menambah aura cemerlang wajah Nimas.

Saga menelan ludah. Kerongkongannya kering. Entah benar-benar nyata atau hanya perasaannya saja.

Nimas terlihat cemberut.

"Inget jalan pulang?" sindir Nimas.

"Inget."

Nimas yang masih kesal karena Saga, kembali melompat ke kasur. Ia seolah tidak peduli dengan laki-laki yang masih termangu di tengah ruang tamu vila. Hingga Saga berinisiatif menyusul Nimas.

Saga berdiri di dekat ranjang, digaruknya kepala yang tidak gatal. Kemudian mengacak rambutnya sendiri yang sedari tadi pun sudah tidak tertata rapi. Ia kehilangan kata-kata untuk memulai sebuah obrolan.

Saga akhirnya mendengkus. Menyelipkan kedua telapak tangannya ke saku celana jin dan menundukkan kepala. Ia menekuri lantai marmer yang berwarna gelap.

Nimas masih belum terlelap. Ia justru menunggu apa yang akan dikatakan laki-lakinya itu. Rasa kesalnya akibat Saga pergi terlalu lama sangat mempengaruhi pembawaannya.

Setelah bermenit-menit menunggu tanpa hasil, Nimas akhirnya mengalah.

"Dari mana aja?" ketusnya.

"Gue---"

"Jujur aja!"

Nimas menatap Saga.

"Gue ketemu Andre," jawab Saga.

"Sebentar," tukas Nimas.

"Gue ketemu Andre dan dia jelasin semua ke gue," jawab Saga panjang lebar.

Suasana makin kaku. Nimas bangkit, kemudian duduk. Ia kemudian memberi isyarat Saga untuk duduk di hadapannya. Tampak sekali Saga berusaha menolak. Akhirnya Nimas turun dari ranjang.

Nimas mendekati laki-laki yang kini terlihat berantakan itu. Jarak mereka tidak kurang dari satu meter. Yang terus diperpendek oleh Nimas dengan perlahan. Saat jarak mereka hanya tinggal beberapa senti, Saga justru mundur. Tapi, Nimas tidak membiarkan hal itu.

Bersambung

A/n: Menjelang konflik inti
Diubah oleh nofivinovie
profile-picture
profile-picture
profile-picture
suryos dan 20 lainnya memberi reputasi
21 0
21
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Kunikahi Sahabatku
14-10-2019 10:37
Pilih yang kita pilih widih mantul nih ceritane
profile-picture
nofivinovie memberi reputasi
1 0
1
Kunikahi Sahabatku
14-10-2019 10:38
Wah, kataknya romantis abis nih cerita. Nyimak lanjutannya Sis emoticon-Angel
profile-picture
profile-picture
ajang.dee dan nofivinovie memberi reputasi
2 0
2
Kunikahi Sahabatku
14-10-2019 10:54
Keren. Rapi sekali☺☺
profile-picture
profile-picture
ajang.dee dan nofivinovie memberi reputasi
2 0
2
Kunikahi Sahabatku
14-10-2019 11:10
sahabat jadi cintah
profile-picture
profile-picture
ajang.dee dan nofivinovie memberi reputasi
2 0
2
Kunikahi Sahabatku
14-10-2019 11:10
pej ¹
profile-picture
profile-picture
ajang.dee dan nofivinovie memberi reputasi
2 0
2
Kunikahi Sahabatku
14-10-2019 11:10
Quote:Original Posted By mbakendut
Keren. Rapi sekali☺☺


Yoi gan emoticon-Goyangemoticon-Goyang
profile-picture
profile-picture
ajang.dee dan nofivinovie memberi reputasi
2 0
2
Kunikahi Sahabatku
14-10-2019 11:22
cerita di trit sebelumnya belum kelar woy.
mau bikin cerita kentang lagi?
Gw suka model kisah sepotong2 gini.
Tapi jangan kentang juga dong.emoticon-Mad
Diubah oleh esaka.kedua
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ajang.dee dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Kunikahi Sahabatku
14-10-2019 11:25
ceritanya beneran ... nyesek
profile-picture
profile-picture
ajang.dee dan nofivinovie memberi reputasi
2 0
2
Kunikahi Sahabatku
14-10-2019 11:29
Ikut mejeng di page one
Lanjutkan kaka....
profile-picture
profile-picture
ajang.dee dan nofivinovie memberi reputasi
2 0
2
Kunikahi Sahabatku
14-10-2019 12:19
Carilah sahabat yg cantik
profile-picture
profile-picture
profile-picture
romo212 dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Kunikahi Sahabatku
14-10-2019 12:21
"Gue nggak peduli kita sandiwara atau enggak. Yang gue tahu, gue berusaha buat lo bahagia. Lupain aja pertanyaan gue tadi."
Bikin meleleh.😭
profile-picture
profile-picture
profile-picture
suciasdhan dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Halaman 1 dari 18
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
milk--mocha
Stories from the Heart
bab-25--rasa-bersalah
Stories from the Heart
bintang-itu-bersinar
Stories from the Heart
sebuah-pengorbanan
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Heart to Heart
B-Log Collections
Stories from the Heart
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia