alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d9c735a349d0f6a7032a166/sampai-bila-kau-menjauhi-ku
Lapor Hansip
08-10-2019 18:30
Sampai Bila Kau Menjauhi Ku
Past Hot Thread








Sampai Bila Kau Menjauhi Ku







Nama ku Dewi Sartika Anggun, dari kecil teman bermain suka memanggil ku Intan, yang samasekali tidak ada nama itu di nama panjang ku.
Sampai sekarangpun mereka masih menggilku Intan.

Sudah lebih setengah abad aku menghuni dunia ini.
Terlahir dari keluarga yang sederhana, walaupun dimata orang-orang keluarga kami cukup berada.
Namun itu pandangan luar yang tampak oleh mereka, namun yang sebenarnya cuma kami yang tau sebab hanya kami yang merasakan.
Aku anak ke 5 dari 10 saudara, ya benar 10 bersaudara, dari satu bapak juga dari satu rahim ibu yang sama.

Sudah wajar bagi setiap keluarga di kampung kelahiran ku memiliki anak yang banyak.
Makan cuma satu kali sehari, itu pun cuma pake nasi garam, dan sekali-sekali ada lauk ikan asin yang dibakar diatas bara api.
Masalah pendidikan jangan ditanya.
Bisa tulis baca saja, itu sudah luar biasa.

Memiliki anak banyak sudah menjadi kebanggaan tersendiri.
Mungkin benar adanya, "banyak anak banyak rejeki" saat anak- anak mereka sudah dewasa, para orang tua benar-benar memetik hasil jerih payah mereka.
Namun tidak selama nya falsafah itu benar,mungkin dikarenakan pendidikan yang kurang ditambah pergaulan yang salah. Banyak dari anak-anak mereka tetap membuat susah di sisa umur orang tua nya.

[l]Sebagai wanita yang menginjak usia senja yakni sudah memasuki usia 52 tahun, dengan semangat dan kegigihan ku dalam usaha. Bisa dibilang aku sudah memiliki segala nya. Rumah pribadi, kendaraan, usaha sendiri, dan segala kebutuhan yang mencukupi. Namun semua itu tidak membuat ku bahagia.
Yang mana teman-teman seusia ku, sudah banyak yang menimang cucu.
Namun lihatlah diri ku, yang sampai saat inipun masih belum bertemu dengan jodoh belahan jiwa ku.[/I]


Walaupun orang bilang Bapak ku termasuk orang berada, namun tidak ada kebahagian yang kami terima.
Kesedihan demi kesedihan, kekerasan dami kekerasan, cacian demi cacian, hanya itu yang membekas dihati dan jiwa kami sebagai anak-anak nya.
Sebab hanya itu yang sering kami terima.
Karena "Hobi" Bapak, dapat mengalahkan rasa kasih sayang nya terhadap keluarga yang seharusnya dia lundungi.
Bapak rela menghabiskankan uang hanya untuk hobi nya tersebut.
Juga sikap tempramen Bapak jua lah yang membuat orang yang aku cinta menjauh dari ku.

Dan inilah kisah sedih ku.

BERSAMBUNG
profile-picture
profile-picture
profile-picture
nichi07 dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 2
08-10-2019 22:00
Monggo dilanjut kisahnya gan... Ai menyimak emoticon-Malu
profile-picture
karimuntajit memberi reputasi
-1
09-10-2019 02:11
Semangat ceritanya ya intan
profile-picture
karimuntajit memberi reputasi
1
09-10-2019 16:03
Diubah oleh karimuntajit
0
09-10-2019 18:00
Peran orang tua memang berpengaruh besar pada tumbuh kembang anaknya, so buat bapak2, ibu2 belajarlah menyayangi anak yang dititipkan Tuhan melalui rahim dan benih - benih cinta
profile-picture
karimuntajit memberi reputasi
1
10-10-2019 07:15
Anggap ini prolog untuk masuk ke inti cerita, karena ini cerbung maka untuk update selanjutnya bisa pake dialog, yakemoticon-Jempol
profile-picture
karimuntajit memberi reputasi
1
11-10-2019 17:36
Sari Intan
"mak tua..mak tua..kak Dewi mak..kak Dewi.!"
tampak tubuh kecil Siti berlari tergopoh-gopoh, dan langsung berdiri di hadapan Emak yang sedang menyusukan adik ku Eni yang sudah hampir berumur 2 tahun. Dan yang membuat emak marah kali ini adalah, tampa disadarinya sebelah kaki Siti masuk kedalam mangkok bubur sisa makan Eni barusan.

"aduuh..kamu lagi,,ada apa Siti, sudah berepa kali dibilangin masih juga tidak paham"
tampak muka sewot Emak, tidak tau sewot kenapa, entah karena cara Siti yang sembrono, atau mungkin karena tidak suka di panggil dengan sebutan mak tua ,karena jelas Emak belum tua. Walaupun sudah punya 7 anak saat itu umur Emak belum 30 tahun.

"kalau mau bicara itu ucap salam dulu, salim dan cium tangan, kan Siti sudah besar."
kembali nasehat emak pads Siti yang masih berumur 8 tahun.

"maaf mak tua..Siti lupa lagi..hehe" jawab Siti seakan tanpa dosa.

"lah..terus Siti mau ngomong apa, memang nya Dewi kenapa?" tanya Emak.

"itu mak tua, Dewi berkelahi lagi sama si Benu anak nya Engku Salim, Siti lihat sendiri kepala Benu berdarah dipukul Dewi pakai batang singkong." jawab siti, yang tampa malu-malu meletakkan mangkok bubur tadi, yang sudah bersih sebab sisa yang masih tertinggal sudah pindah keperut nya.

"Hffh..Pasti Benu mengolok- ngolok Dewi lagi kan.?". kata emak lagi.

"Iya mak tua, tadi Kak Dewi membantu Nenek Intan, terus Benu datang merecokin karung yang sudah penuh sampah yang susah payah dikumpulin Nek Intan sama Kak Dewi. terang Siti penuh semangat.

"sudah,,biarkan saja mereka,,Emak lagi sibuk,,kamu main lagi sana.!" kata emak.
Siti pun berlalu maksudku berlari lagi kearah dia datang tadi.

Nenek Intan, dulu orang yang serba berkecukupan, waktu masih muda pun Nenek Intak gadis yang cantik juga pintar, sangat jarang bahkan hampir tidak ada perempuan sebayanya yang bisa mengenyam bangku pendidikan di ksmpung ini, kecuali Intan muda satu-satu yang gadis yang sempat menempuh pendidikan di sekolah Belanda karena orang tua nya yang berpengaruh saat itu.

Berbeda dengan keadaan sekarang, orang bilang Nenek Intan sudah gila. Semenjak ditinggal pergi suami nya yang kabur entah kemana dengan membawa semua anak-anak mereka.
Tinggallah Nek Intan sendirian, sebatang kara, walaupun ada sanak kerabat namun mereka seakan tidak peduli akan nasip nya.

Biarpun orang kampung bilang Nenek Intan orang yang tidak waras, namun bagi ku dia lebih waras dari siapapun di kampung ini.

Sudah lebih sepuluh tahun semenjak ditinggal suami nya itu, tiap hari dari pagi sampai sore Nenek Intan berkeliling, dengan karung goni dia memunguti sampah-sampah yang bertaburan di sepanjang jalan kampung ku, bahkan sampai kekampung-kampung sebelahpun dia jelajahi.

Tak ada yang tau, atau lebih tepatnya tidak mau tau kemana sampah-sampah itu dia bawa.
Lain dengan diri ku, karena penasaran ditambah cerita teman-teman sebaya ku, mereka bilang sampah itu dia tumpuk dalam rumah nya. Memang ukuran rumah Nek Intan cukup besar, namun dengan waktu selama itu dan tidak pernah seharipun dia apsen mengumpulkannya, tidak mustahil sampah-sampah itu pasti tidak muat dalam rumah nya.

Suatu petang aku sendirian, memberanikan diri masuk kepakarangan rumah nya.
Jangankan anak2 seumuran ku waktu itu masih 9 tahun, orang dewasapun tidak ada yang berani memasuki halaman Nek Intan yang luas itu. Entah kenapa rasa penasaran mengalahkan rasa takut ku waktu itu.

Di belakang rumah panggung yang lumayan besar itu aku lihat satu sosok sedang menggali-gali tanah.
Siapa lagi kalau bukan sosok Nek Intan, karena memang dia yang tinggal di sana, di rumah yang agak terpisah jauh dari pemukiman warga sekitarnya.
Melihat pacul yang di penggangnya jantung ku berdegup kencang, bagaimana kalau dia melihat ku lalu mengejar dengan paculnya itu. Ah sudahlah yang penting sekarang aku harus lari dari sini. Begitu pikir ku waktu itu.

Belum sempat membalikkan badan tiba-tiba dia menoleh kearah ku. Jantung seakan berhenti berdetak, nafas serta langkah kaki ku pun seolah kompak berhenti tertahan.

"Gadis nanis,,ngapain kamu disana, ayo kemari bantu nenek memindahkan karung-karung itu." seulas senyum manis dari bibir orang tua itu seakan nenyihir ku agar mengikuti apa yang baru saja dia ucapkan.

Entah keberanian yang datang nya dari mana dengan reflek aku malah mengikuti arah tulunjuknya yang mengarah pada tumpukan karung yang berisi sampah.
Ada sampah plastik, daun-daun kering dan berbagai macam jenis lain nya, tertata dan sudah di pilah-pilah sesuai jenisnya.

"bawa daun-daunan kering itu kemari, biar di kubur disini," kata Nek Intan.
Meskipun berbagai macam pertanyaan terbersit dalam benak ku, namun aku menuruti saja perintah nya.

Maaf Nek,,karung yang berisi sampah plastik itu tiak di kubur sekalian" setelah mengumpulkan keberanian pertanyaan meluncur juga dari mulut ku.

"Anak manis,,plastik-plastik itu biar dikubur berapa lama pun tetap tidak akan berubah, beda lagi kalau daun2 kering ini, dalam beberapa waktu kedepan bisa di manfaatkan buat jadi pupuk. Kamu lihatkan sayur yang nenek tanam di samping rumah itu, itu subur karena dikasih pupuk alami ini, dan sampah plastik nya biar nanti nenak bakar saja" tutur nenek Intan panjang kali lebar dan aku masih tidak paham apa maksut nya.

Selesai mengerjakan itu, nenek Intan menyuruh ku masuk ke rumah nya, meskipun ragu juga masih ada rasa takut, namun lagi2 rasa penasaran dengan keadaan di dalam rumah nya membuatku menuruti permintaan nya.

"Luar biasa"
kata2 itu yang keluar dari mulut ku, setelah melihat keadaan dalam rumah nenek Intan ini.
Terlihat sangat bersih, walaupun tidak banyak perabotan yang ada di rumah nya namun semua tertata rapi. Tidak ada bau yang menyesak kan dada, seperti kebanyakan rumah yang pernah ku masuki di kampung ini.
Jauh bahkan sangat jauh berbanding terbalik bila dibandingkan dengan keadaan di rumah ku sendiri.

"Anak manis,,nama mu siapa dan anak siapa?"
Nenek Intan bertanya sambil meletak kan gelas berisi air minum biasa di atas meja dekat aku berdiri yang masih terpukau akan keadaaan rumah nya.

"Aku,,Anu,,nama ku Dewi" jawab ku yang merasa malu sendiri, yang semula masih berpikiran sama dengan penduduk tentang keadaan di rumah ini.

"Dewi,,nama yang bagus, anak siapa kamu nak, dan kenapa main nya sampai kesini, apa tidak takut dengan nenek gila ini?" pertanyaannya itu semakin mengaduk-aduk perasaan ku.

"Dewi anak nya Pak Tuan Johan dan Mak Piah nek" jawab ku memberi tau nama Bapak dan Emak.

"Dan maaf Dewi tidak sengaja main sampai kemari, tadi Dewi main petak umpet sama teman2 di lapangan samping rumah nenek, karena Dewi yang jaga, tau nya malah nyari sampai kesini" jawab ku berbohong.

Nenek Indah cuma tersenyum, tampak senyum nya kali ini bercampur dengan raut muka sedih, aku tidak paham apa yang dia pikirkan saat itu.

"Rumah nenek bersih sekali, kapan-kapan Dewi boleh main kesini lagi apa tidak?" tiba-tiba pertanyaan bodoh itu terlontar dari mulut ku.

"hehe..kamu memang anak yang pemberani juga polos,,nenek suka anak yang jujur,,sebenarnya kamu kesini karena penasaran,,benar kan.?" mendengar kata2 terakhir nya itu membuat aku mati kutu.

"sekali lagi Dewi minta maaf ya nek,,Dewi ga ada maksut apa2 kok sama nenek,,jujur Dewi memang penasaran dengan semua omongan orang kampung tentang nenek Intan,,tapi setelah dewi lihat sendiri ternyata nenek bukan seperti yang mereka kata kan itu,,malah nenek jauh lebih baik dari mereka bahkan dari keluarga dewi sendiri"
ucapan itu memang tulus dari lubuk hati ku, sebab sesuai dengan apa yang aku lihat dan aku rasa kan..

"Dewi manis,,anak tuan Johan dan mak Piah,,hidup ini cuma sementara, hidup yang singkat ini kenapa justru kita habiskan untuk hal-hal yang tidak berguna, apalagi sibuk mengurus urusun orang lain yang tidak ada hubungan serta maanfaatnya untuk kita,,lebih baik lakukan apa yang berguna bagi kita, dan yang lebih bagus lagi jika kita bisa bermanfaat buat orang lain, meskipun orang itu tidak meminta secara langsung pada kita,,hehe..hehe"
kata nek Intan sambil tertawa kecil padahal, tampak mata nya yang menatap jauh keluar jendela mengeluarkan tetesan air mata yang lagi-lagi aku tidak mengerti apa sebab nya.

Itu lah awal aku kenal betul dengan sosok Nenek Intan yang semua orang menganggap nya sudah gila, namun dari awal pertemuan ku dengan nya di rumah itu tidak sedikit ilmu dan nasehat yang dia berikan pada ku, basehat yang tidak semua orang waras dapat memberikan nya, tapi nasehat dari seorang Nenek luar biasa yang menyimpan perasaan nya,,disaat orang lain menganggapnya gila, di sisi lain dia beruhasa menjadi orang yang berguna meskipun orang lain tidak menyadari nya.

Hari-hari selanjut nya aku sering ikut membantu nenek Intan memumunguti sampah dan tiap sore sering main kerumah nya..
Semenjak itu pula lah nama ku berganti atau tepat nya di ganti oleh anak-anak sebaya ku dengan panggilan INTAN.

Aku tidak mempermasalahkan olok2 mereka..kecuali si Benu si bocah tengil, dia memang sering jahil, apalagi sama nenek Intan. dengan sifat nya yang nakal dia suka melempari nenek Intan pakai batu atau apa saja yang bisa dia gunakan untuk mengganggu nenek yang tak ada salah apa pun pada nya.

Aku sering ribut dengan nya karena ulah nya tersebut, tapi kali ini aku benar-benar sudah tidak tahan lagi, apa lagi saat ku lihat luka di kepala nenek Intan, dengan pohon ketela di tangan ku, tanpa ampun aku pun memukul kepala bocah nakal itu sampai berdarah yang akhir nya aku pun di sidang di depan ayah nya yang kepala desa itu.

Sebenarnya banyak kisah tentang nenek Sari Intan yang bisa aku ceritakan.
Kisah-kisah masa lalu nya yang dia ceritakan pada ku..
Atau kisah salah satu anak nya dan cuma dia satu-satu nya keluarga yang pernah mengunjungi nek Intak setelah puluhan tahun di tinggal pergi keluarga tercintanya itu.
Dan kunjungan nya itu kunjungan terakhir bagi anak nya, sebab dia pulang dalam keadaan sakit, dan nek Intan yang merawatnya dan tidak sampai satu bulan, anaknya itupun meninggal dunia.

Juga kisah tentang anak cucu nya, yang mana salah satu cucu nya ada yang menjadi artis di ibu kota,dan suami cucunya itu jua seorang aktor tampan, yang juga pernah jadi anggota DPR periode kemaren,ga tau sekarang terpilih lagi apa tidak.. dan itu bukan cerita belaka, walaupun tidak pernah cucu nya itu berkunjung atau mengunjungi nek Intan namun semua orang dikampung ku juga tahu, bahkan tiap bulan uang selalu rutin dia kirimkan kan buat biaya masa tua nek Intan. Aku tahu itu, sebab uang itu di kirim melalui aku sebagai penerima. Dan aku pula yang mengatur segala kebutuhan nek Intan dengan uang itu.


Sepenggal kisah tentang Nenek Intan aku tutup sampai disini.

BERSAMBUNG
Diubah oleh karimuntajit
profile-picture
gegerorion124 memberi reputasi
1
11-10-2019 17:56
Quote:Original Posted By lonelyqueen999
Monggo dilanjut kisahnya gan... Ai menyimak emoticon-Malu


Monmaap rada lama bikin lanjutan nya sist, maklum ada kesibukan lain. emoticon-Cendol Gan

Quote:Original Posted By lonte.murah
Semangat ceritanya ya intan


Cerita orang yang ane kisahkuen sist. Tapi ya gitu, masih butuh belajar juga buat nulis cerita emoticon-Cendol Gan


Quote:Original Posted By MbaWarna
Peran orang tua memang berpengaruh besar pada tumbuh kembang anaknya, so buat bapak2, ibu2 belajarlah menyayangi anak yang dititipkan Tuhan melalui rahim dan benih - benih cinta



Siip..benar sekali
Makasih udah mampir dan membaca tulisan yang alakadar nya ini ya sist emoticon-Cendol Gan

Quote:Original Posted By evywahyuni
Anggap ini prolog untuk masuk ke inti cerita, karena ini cerbung maka untuk update selanjutnya bisa pake dialog, yakemoticon-Jempol



Siap kumendan,,
Masih butuh belajar lagi ane gan..
Masih banyak kekurangan nya..
Makasih saran dan masukan nya
emoticon-Cendol Gan
Diubah oleh karimuntajit
profile-picture
evywahyuni memberi reputasi
1
11-10-2019 18:41
Quote:Original Posted By karimuntajit
Monmaap rada lama bikin lanjutan nya sist, maklum ada kesibukan lain. emoticon-Cendol Gan



Cerita orang yang ane ceritakuen sist. Tapi ya gitu, masih butuh belajar juga buat nulis cerita emoticon-Cendol Gan





Siip..benar sekali
Makasih udah mampir dan membaca tulisan yang alakadar nya ini ya sist emoticon-Cendol Gan




Siap kumendan,,
Masih butuh belajar lagi ane gan..
Masih banyak kekurangan nya..
Makasih saran dan masukan nya
emoticon-Cendol Gan


Oke, sukses untuk story-nya yaakemoticon-Cendol Gan
0
16-10-2019 12:17
nice thread
0
16-10-2019 19:56
lanjut du tunggu updatenya
0
16-10-2019 23:34
Sepertinya perlu lebih akrab sama PUEBI karena tulisannya banyak yang salah.
0
Post ini telah dihapus oleh kaskus.support16
17-10-2019 20:07
Kasian sekali Nggun emoticon-Mewek
0
17-10-2019 20:14
wah kayaknya seru nih cerita numpang gelar tikar ya sis
0
17-10-2019 20:35
Gelar tiker untuk part selanjutnya 😁
0
17-10-2019 22:18
nice storyemoticon-Shakehand2
0
17-10-2019 22:52
menarik alur ceritanya
0
17-10-2019 22:53
ditunggu thread selanjutnya yak
0
17-10-2019 23:25
bagus cerita nya walau belum.baca
0
17-10-2019 23:49
mantap. sangat mnginspirasi..
0
Halaman 1 dari 2
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
dua
Stories from the Heart
dibatasi-jendela-kamar
Stories from the Heart
let-me-tell-you-a-story
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.