Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
124
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d9871908012ae4b5b2a41e3/cinta-dua-dunia-wanita-di-balik-cadar
Begitu syahdu ditemani seorang sahabat sekaligus saudara. Saudara tak harus sedarah bukan? Zhe dan Veronica adalah sahabat sejak mereka kecil, lebih kental daripada ikatan sedarah.
Lapor Hansip
05-10-2019 17:33

Cinta Dua Dunia, Wanita di Balik Cadar

Past Hot Thread
Cinta Dua Dunia, Wanita di Balik Cadar

Pict by @agungdar2494












Prolog




Sepoi angin dingin menusuk jiwa dalam kebekuan. Barbalut malam bertaburkan bintang-bintang, duduk di tepian taman berhiaskan berjuta warna. Bersimpuh menatap tingginya langit malam. Air mata terjatuh mengaliri pipi hingga ke hati. Kosong menatap ribuan mil cahaya gelap.




"Kamu di sini, Zhe?" tanya seseorang dari samping.

"Iya, lagi pingin di sini," jawab Zhe singkat tanpa menoleh.

"Udah malam, kamu nggak pulang?" tanyanya sekali lagi.

"Sebentar lagi, Ve. Temani saja aku di sini," pinta Zhe.

"Sebenernya aku mau ngajak kamu makan, tapi kalau maunya di sini ya nggak apa-apa," jawab Ve.



Berdua hening menikmati malam yang semakin tenggelam. Aroma bunga menggoda penciuman hidung. Begitu syahdu ditemani seorang sahabat sekaligus saudara. Saudara tak harus sedarah bukan? Zhe dan Veronica adalah sahabat sejak mereka kecil, lebih kental daripada ikatan sedarah.




"Udah malam, Zhe. Yakin masih pingin di sini?" tanyanya menyelidik.

"Baiklah, aku menyerah. Mari kita pulang." Bangkit dari tempat duduk berbahan besi bercorak hitam dengan hiasan ukiran di pinggir.


Berjalan menyusuri gelap malam dengan penerangan yang semakin terang.



"Cepat pakai helmnya, malah ngelamun terus," ucap Ve membuyarkan lamunan.

"Eh, udah sampai parkiran. Oke deh, mana helmnya?" tanya Zhe.



Setapak demi setapak jalan telah dilalui, jarum jam waktu terus berputar. Akhirnya tiba di kediaman kos bertembok coklat dengan pintu sederhana, kamar ukuran 3x3 menjadi tempat paling ternyaman untuk melepas penat dan lelah seharian berutinitas.


"Zhe, aku pulang dulu. Besok ke sini lagi, kamu jangan kemana-mana," kata Ve dari luar pintu kos.



Suara motor Ve semakin lama semakin menjauh hingga ditelan hening malam. Sepertinya malam sangat panjang. Terbaring tubuh di atas tempat tidur berseprai ungu dengan lipatan-lipatan manis disetiap ujung.



Dada membuncah penuh deru amukan ombak mematikan. Mencoba menutup kelopak mata tapi tetap tak sanggup. Bayangan itu, bayangan hitam yang selalu menghantui bertahun-tahun hingga mematikan seluruh urat saraf panca indera. Bahkan masih membekas indah diseluruh bagian raga dan jiwa.



Sekali lagi, Zhe mencoba memejamkan mata berharap malam menenggelamkan segala kegundahan jiwa. Melupakan semua hingga berharap amnesia atau setidaknya matilah jalan paling indah. Namun Zhe tidak selemah itu, masih banyak orang yang menyayanginya daripada yang ia sayangi.




Tik tok tik tok




Dentuman suara jarum jam terus bergulir, tapi mata tetap segar menatap langit-langit.


"Sepertinya sudah saatnya untuk sholat malam, siapa tahu kegelisahan hati akan menghilang," ucap Zhe.


Bangkit dan berjalan menuju kamar mandi untuk sekedar membasuh diri sebelum berserah diri kepada Sang Maha Pencipta.


"Ya Allah, berikan aku sebuah petunjuk untuk pilihan hidup yang aku jalani. Jika dia memang jodohku, dekatkan sedekat mungkin dan rubahlah ia menjadi yang paling terbaik. Namun jika tidak, berikan jalan yang terbaik untuk kehidupan kami," senandung do'a Zhe yang terpanjatkan di setiap hajat.


Zhe merasakan ketenangan setelah mengutarakan keluh kesah hidup yang di alami. Zhe hanyalah manusia yang tidak mampu bercerita, tapi juga tidak mampu memendam segala derita.

Diubah oleh indahmami
profile-picture
profile-picture
profile-picture
syafira87 dan 32 lainnya memberi reputasi
31
Cinta Dua Dunia, Wanita di Balik Cadar
05-10-2019 17:34

Part 1

Pagi indah dengan sinar mentari penuh kehangatan. Awan-awan berkumpul melukis langit cakrawala. Berdiri bangunan nan megah penuh corak perjuangan. Batu alam terpahat di bagian sisi bawah, deretan bangku kosong bercorak coklat menjadi tempat ternyaman. Tidak lupa terpasang pigura para tokoh pahlawan dan sang penguasa negeri ini.



"Zhe, baru datang?" tanya Sonia teman berjilbab yang manis nan ayu. Wajah imut dengan garis blasterannya.

"Iya," jawab Zhe singkat disusul duduk di bangku.

"Udah ngerjain tugas?" tanya Mila si rambut panjang dengan body semampai mirip artis Raline Shah.

"Udah, pasti mau nyontek lagi yah?" tanya Zhe curiga dibalas cengiran kuda.



Bel sekolah berdering, semua masuk ke kelas masing-masing. Seperti sekolah pada umumnya dengan pelajaran yang membosankan. Belajar dan tugas menjadi makanan setiap hari. Hingga pergantian mata pelajaran jam ke-3, ada sesuatu yang berbeda.



"Anak-anak kalian kedatangan murid baru pindahan dari Yogya," jelas Bu Guru.


Semua penghuni merasa penasaran, siapakah murid baru itu? Cewek atau cowok nih? Hingga suara ketukan pintu memecah keheningan.



"Assalamualaikum Bu, boleh saya masuk?" tanyanya sambil tersenyum ramah dengan lesung pipi di kedua sisi.

"Masuk saja dan perkenalkan dirimu," jelas Bu Guru.


Cowok berseragam putih abu-abu itu memasuki kelas dengan sikap penuh wibawa. Senyumnya merekah, memamerkan lesung pipi. Semua murid cewek terpesona oleh wajahnya yang setampan Afgan. Syarif, murid populer di kelas merasa kalau cowok ini sebagai ancaman baginya.


"Hay, teman-teman. Namaku Khoirul Prayoga. Kalian bisa memanggil namaku Irul saja. Alamat rumah di jalan kenanga nomor 9, saya pindahan dari kota jogja," jelasnya ramah dengan senyuman yang masih mempesona.

"Ada yang mau bertanya?" imbuhnya.

"Nomor telfon," teriak salah satu murid.

"Nomor telfon rahasia, silahkan bertanya nanti," jawab Irul masih penuh senyum. Perkenalan berjalan 15 menit ngalor ngidul enggak jelas.

"Kamu duduk di samping Nur Azizah," jelas Bu Guru.


Irul berjalan menuju bangku Zhe dan duduk di samping.


"Hay, namaku Irul. Siapa namamu?" tanya Irul ramah.

"Nur Azizah, bisa panggil Nur atau Azizah," jelas Zhe.

"Oh, salam kenal. Semoga betah jadi temanku," jelasnya penuh keramahan.





*********





Semenjak hari di tahun itu, pertemanan semakin dekat semakin akrab. Bagai tanaman yang terus tersirami akhirnya subur dan berbunga indah. Persahabatan terjalin satu sama lain antara Sonia, Zhe, dan Mila.


Tidak lupa persahabatan dengan teman yang lain seperti Irul, Syarif, dan Johan. Johan kekasihnya Sonia, mereka pacaran semenjak bangku sekolah SMP. Cinta mereka kuat dan kokoh sampai sekarang.


Udara terasa panas mencekik kerongkongan, minum banyak air tidak mampu menghilangkan dahaga. Sebotol air mineral habis tidak tersisa tergeletak di atas bangku kosong usang berwarna biru. Langit cerah merona tertutupi lebatnya daun mangga, teduh tetap saja panas.



"Hay, kamu masih di sini?" tanya seorang pria langsung duduk di samping.

"Iya, habis panas banget cuaca hari ini," jawab Zhe.

"Sama, aku juga. Makanya nyusul kamu di sini. Kamu nggak ke kantin ikut temen-temen yang lain?" tanyanya.

"Enggak, aku di sini aja. Lagi males ke kantin," jawab Zhe.

"Oh, ya udah aku temenin di sini. Boleh?" tanyanya meyakinkan dibalas anggukan.



Berdua duduk bersama menikmati cuaca nan cerah. Angin meniup-niup segar mengusir kepenatan seharian berkutat dengan pelajaran. Sudah setahun mereka berteman, tidak ada kecanggungan antara satu dengan yang lain meski duduk berduaan. Namun manusia tetaplah memiliki rasa, entah sejak kapan hati saling mengagumi satu sama lain. Terpesona dengan segala sesuatu yang mereka miliki.


Waktu cepat berlalu, deringan bel mengisyaratkan seluruh murid untuk masuk. Pelajaran terakhir memanglah sangat membosankan, selain otak yang sudah terkuras, tenaga pun sudah habis.


"Besok tugas kalian kumpulkan di meja Bapak. Kalau sampai ada yang tidak mengerjakan, kalian Bapak hukum. Mengerti?" ancam Pak Guru.

"Siap Pak," jawab murid serempak.



Bel pulang pun berdering, semua murid berhamburan keluar kelas dan pulang ke rumah masing-masing. Banyak murid masih terjebak di depan pintu gerbang sekolah karena menunggu bis dan jemputan datang.



"Zhe, ayo bareng ma aku?" tawar cowok tampan berlesung pipi.

"Baiklah, gratis tapi yah?" goda Zhe dibalas acungan jempolnya.



Perjalanan menuju rumah Zhe lumayan jauh sekitar 30 menit. Cowok tampan berlesung pipi sungguhlah amat baik hati. Nyatanya rela mengantar meski jauh dari arah rumah. Hingga sampai di halaman rumah bercorak joglo dengan dua pohon mangga dan jati di depan rumah.



"Makasih ya, Rul. Jadi ngerepotin kamu terus." Zhe turun dari motor sport berwarna merah.

"Sama-sama, btw nanti malam punya acara nggak?" tanya Irul.

"Hmmm ... kayanya sih enggak, kenapa?" tanya Zhe.

"Aku ajak malam mingguan, mau? Nanti izin ke orang tuamu. Nyantai aja," jelasnya dengan senyum manis.

"Hmm ... Iya, aku mau," jawab Zhe tanpa penolakan dengan wajah bersemu merah.

"Yes, makasih. Jam 7 tepat yah, jangan sampai lupa. Assalamualaikum," pamitnya dengan wajah tersenyum manis.



Zhe merasakan ada sesuatu yang menggelitik di dalam perut, seperti ribuan kupu-kupu yang ingin keluar memporak-porandakan alam dengan keindahan. Rasanya manis sekaligus membingungkan. Jantung Zhe semakin tak beraturan, baru kali ini melihat senyum Irul menimbulkan gejolak yang dahsyat. Sampai meremang ke seluruh tubuh, tersengat aliran listrik bertegangan tinggi.




Sepertinya aku sudah nggak waras, batin Zhe menggeleng-gelengkan kepala.



Zhe masuk ke dalam rumah dengan ornamen khas jawa kuno. Rumah joglo dengan ruangan tengah yang plong luas sekali tanpa sekat kecuali untuk bagian kamar. Lukisan-lukisan dan hiasan terpasang rapi di dinding, orang tua Zhe sangat mencintai seni.


"Assalamualaikum," salam Zhe memasuki rumah.

"Waalaikumsalam," jawab Ibu keluar dari dapur.

"Sudah pulang, Nduk? Sore sekali, banyak tugas di sekolah?" tanya Ibu setelah Zhe mencium tangan lembut.

"Sampun Bu, tugas sekolah banyak tadi. Oh iya, Zhe mau minta izin. Ada temen ngajak main nanti malam. Boleh kan, Bu?" tanya Zhe dengan keringat dingin di kening.

"Temen siapa, Nduk? Laki-laki atau perempuan? Rombongan atau cuma berdua?" tanya Ibu dengan begitu rinci.

"Hmm ... anu Bu, anu," jawab Zhe gelagapan.

"Kamu lucu, Nduk. Udah, sana izin ma Ayah. Izin yang bener, jangan bohong macam ke Ibu," kata Ibu.

"Inggih, Bu," jawab Zhe dengan muka bersemu merah.





**********






Jalanan semakin gelap tertutup malam, lampu menyala di sisi kanan dan kiri. Suasana kampung yang mulai sepi, hanya beberapa orang lalu lalang lewat pergi ke surau. Mengenakan kopiah, sarung, dan mukena. Zhe duduk di teras rumah dengan tatanan sederhana, lampu bolam berwarna kuning sedikit meremang, tempat duduk dari dipan bambu dianyam sedemikian rupa. Halaman nan luas beralaskan tanah merah dengan pohon mangga dan jati di kedua sisi.



"Nunggu siapa, Nduk?" tanya Ayah pulang dari surau.

"Temen tapi belum datang, padahal janji jam 7 tepat," jawab Zhe mencium telapak tangan tegas sang Ayah.

"Yang kamu jelasin tadi sore, Nduk?" tanya Ayah sekali lagi.

"Nggeh, Yah. Ayah duduk dulu, Zhe buatkan teh cem-ceman untuk Ayah," kata Zhe bergegas masuk ke dapur.




Ayah Zhe duduk bertemankan senandung langgam jawa sampai suara deru motor memasuki pekarangan rumah. Turun seseorang yang gagah lagi tampan mengenakan kemeja putih celana levis, berjaket hitam, dan sepatu senada.




"Assalamualaikum," uluk salam dari sang tamu.

"Waalaikumsalam," jawab Ayah mengulurkan tangan membalas dan duduk bersama.

"Cari siapa, Mas? Tumben-tumbenan ada tamu ke sini?" tanya Ayah.

"Nyari Zhe, Pak. Kulo temannya Zhe, mau minta izin ngajak Zhe ke keluar," jelasnya tanpa ragu dengan aura ketenangan.


"Oh, Azizah ... dia lagi bikin teh buat Bapak di belakang. Sebentar lagi keluar. Nah, dia keluar," kata Ayah mengisyaratkan melihat pintu.



Zhe keluar membawa cangkir khas jaman dulu lengkap dengan tutup. Cangkir berlukis mirip seragam kebesaran tentara perang kita, hijau.



"Kamu baru datang?" tanya Zhe ikut duduk di samping Ayah.

"Iya, maaf baru datang. Tadi futsal dulu sampai kelupaan," jelasnya dengan raut penyesalan.

"Sudah, sudah, kalau kalian bertengkar malah nggak Ayah izinin kamu keluar, Nduk," kata Ayah dengan senyum tegas tapi tidak menakutkan.

"Eh, maaf Pak, sampai lupa ada njenengan di sini," ucapnya dengan muka bersemu merah.

"Ya sudah, jangan malam-malam kalau pulang. Ingat kamu perempuan, Nduk. Harus jaga unggah-ungguh dan nama orang tua. Ini kampung, bukan kota. Ayah percaya sama kalian," kata Ayah.

"Ayah sampai lupa, siapa namamu, Mas?" tanya Ayah.

"Nama kulo Khoirul, Pak. Biasa di panggil Irul," jawab Irul dibalas senyuman Ayah.

"Ya udah, kamu pamit Ibumu dulu. Biar Ibu nggak nyari kalau kamu nggak ada, Nduk," pinta Ayah.



Zhe bergegas masuk ke dalam untuk pamit ke Ibu. Kemudian Zhe dan Irul pamit ke Ayah meninggalkan rumah joglo dengan pekarangan yang luas.



Suara deru motor membelah jalanan perkampungan. Setengah jam perjalanan menuju kota dengan hingar bingar di sepanjang jalan.



Kedekatan mereka berdua sudah terjalin lama, hanya saja mereka sepakat untuk tidak mempertanyakan status dan rasa. Bagi mereka asal mengetahui rasa satu sama lain dan saling menjaga itu sudah lebih dari cukup.


Motor berhenti di depan lesehan seafod dengan tenda berwarna biru.



"Aku pesan dulu, kamu duduk duluan," pinta Irul.


Zhe melenggang masuk dan duduk tepat menghadap taman kota. Pemandangan yang indah dengan air mancur dan beberapa sepasang muda-mudi berbincang.


"Gimana seneng aku ajak keluar? Akhirnya setelah sekian lama, kita bisa jalan berdua," kata Irul mengisyaratkan bahagia dengan senyum terus merekah.

"Iya, kamu hebat berani ketemu Ayah. Minta izin pula," imbuh Zhe dengan mata berbinar.

"Entah, mungkin kekuatan itu aku dapat darimu," ucap Irul membalas pandangan mata Zhe jauh lebih dalam.



Semakin dalam hingga terlukis keindahan yang tak mampur dijelaskan. Mata menghipnotis bagi siapapun yang mampu menelisik paling terdalam.


"Kamu cantik, Zhe," kata Irul.


Blussshhh ... pipi Zhe berubah merah merona seperti kepiting rebus.


"Apalagi kalau lagi malu-malu gitu, tambah gemesin. Pingin nyubit pipi tembemmu, gemes!" imbuhnya dibalas cubitan sayang.

"Awww ... nambah dong," katanya genit.

"Udah Rul, malu dilihat orang-orang," kata Zhe menutup wajah.


Pesanan yang ditunggu akhirnya datang, aroma bebek bakar yang nyammi, sambal, lalapan, dan tahu tempe semakin mengguhah selera.



Sedang asyiknya menikmati makanan, tiba-tiba datang seorang cewek berparas cantik dengan tubuh indah bak artis.



"Hay, Rul. Kamu di sini?" sapanya dengan senyum indah.




************







Bersambung....
Diubah oleh indahmami
profile-picture
profile-picture
profile-picture
syafira87 dan 17 lainnya memberi reputasi
18 0
18
profile picture
newbie
14-10-2019 15:45
Nglapak
1
Cinta Dua Dunia, Wanita di Balik Cadar
19-10-2019 09:40

Part 2

"Hay, Rul. Kamu di sini?" sapa gadis itu dengan senyumnya indah.



Lalu, ia masuk ke tenda lesehan, berjalan mendekat ke tempat duduk Irul dan Zhe, gadis cantik dengan rambut lurus sebahu mengenakan baju yang staylish.



"Kita ketemu lagi, Rul. Boleh gabung bareng kalian?" tanyanya.

"Iya, silahkan aja, Mey."


Hmm.. Siapa sih dia? batin Zhe.



"Makasih," ucapnya menyusul duduk. "Hay, namaku Meyra. Kamu?" tanya Meyra pada Zhe.


"Nur Azizah, biasa dipanggil Zhe."


"Salam kenal, yah. Btw, kalian dari tadi di sini?" tanya Meyra ke Irul.


"Lumayan sih, kita udah pesan duluan. Kamu nyusul aja."


Atmosfer mulai berubah pengap dan sesak, Zhe mulai tidak nyaman dengan kehadiran Meyra yang tersenyum ngobrol dan mencuri pandang ke Irul. Sedangkan Zhe diam mematung sesekali menimpali sepatah dua kata, Ia merasa menjadi obat nyamuk bagi mereka berdua. Kencan makan malam yang semula romantis berubah tragis, miris sekali.


"Rul, kamu pindah ke kota ini? Ciyee ... nyusul aku yah?" tanya Meyra genit.


"Enggak, Mey. Pindah karena orang tuaku buka bisnis baru di sini," jawab Irul sesekali melirik ke Zhe. Irul merasa Zhe semakin diam dan hanya menyimak. Hati Irul mulai gelisah.


"Masa sih? Kirain nyusul aku buat balikan lagi," ucap Meyra dengan tertawa.


"Mana mungkin, jangan halu kamu Mey," kilah Irul.


"Ya kali, siapa tahu aja," ucap Meyra acuh.


Zhe ingin sekali pergi dan menghilang dari tempatnya duduk, rasanya malas melihat drama sepasang kekasih yang bertitel mantan. Sebisa mungkin Ia mengatur nafas agar tidak terlihat jengah.



"Rul, mau ke kamar mandi dulu. Kalian lanjutin aja ngobrolnya," pamit Zhe ke belakang.


Zhe melangkah pergi meski malas, kalau bisa sih mending pulang. Dadanya terasa terbakar, panas sekali sampai-sampai ingin berendam di bongkahan es.


"Rul, dia siapa?" bisik Meyra.

"Zhe, kalian kan udah kenalan tadi."

"Bukan gitu maksudku, maksudku dia siapa? Pacar kamu?" tanya Meyra menyelidik.

"Kalau iya, kenapa? Enggak juga kenapa?" tanya Irul balik.

"Dih, nanya gantian nanya. Jawab aja, susah amat," gerutu Meyra kesal.


"Hahaha ... kamu nggak pernah berubah, Mey. Cemburuan, masih sama aja," goda Irul.


"Ish, kamu masih nyebelin. Udah jawab aja, dia kelihatan bad mood lihat kita," jelas Meyra.

"Masa sih?" tanya Irul.

"Beneran, Rul. Kalian pacaran yah?" Selidik Meyra memicingkan mata.

"Hmm ... bisa dibilang gitu, bisa enggak, Mey. Gimana yah? Zhe nggak pernah nolak atau pun nerima cintaku. Yah, ngalir gitu aja. Dibilang pacaran, kita nggak terikat status. Dibilang nggak pacaran, hati kita terpaut," jelas Irul.

"Oh, hubungan tanpa status. Terus gimana di sekolah baru? Pasti dirimu jadi artis, secara di sekolah lama kita aja begitu. Khoirul dengan sejuta fansnya," kata Meyra.

"Yah, gitu deh. Hahahaha...." tawa Irul menggema.


Perbincangan mereka berdua terus berlanjut sampai Zhe datang.


"Sory lama. Rul, pulang sekarang atau nanti? Udah malam, takut Ayah marah," tanya Zhe.

"Emang sekarang jam berapa?" tanya Irul.

"Jam 9 malam," jawab Zhe melihat jam di pergelangan tangan kirinya.

"Ya udah, kita pulang. Takut kena marah Camer juga," celotehnya melucu.

"Ciye ... yang udah jadi calon mantu. Btw, makasih udah boleh makan bareng kalian," ucap Meyra.

"Sama-sama, Mey. Kalau ada waktu bisa makan bareng lagi," kata Irul.

"Pasti dong, ketemu sekali aja belum ngobatin kangenku sama kamu, Rul," ucap Meyra genit sambil melirik Zhe dari ekor matanya.

"Semoga ya, Mey. Seneng bisa kenalan sama kamu," kata Zhe, sedikit kesal tapi sebisa mungkin menutupi.



Angin malam semakin dingin menusuk tulang, perjalanan yang terasa lama tidak seperti biasanya. Irul melajukan motor sport miliknya dengan pelan, menikmati indanya malam bertabur bintang dengan seseorang yang tersayang.


Zhe hanya diam dibalik punggung kokoh Irul, memeluk pinggang kekasih yang ia sayang. Sejujurnya ingin ada status diantara mereka berdua, tapi Zhe memilih untuk seperti ini saja. Jika Irul bersungguh-sungguh tentu tidak masalah, meski ada atau tanpa status sekalipun.




"Zhe, besok minggu ke pantai yuk!" ajak Irul memecah kesunyian.

"Pantai mana?" tanya Zhe singkat.

"Parangtritis jogja, kita jalan-jalan ke sana. Nanti aku deh yang izin ke Ayah lagi," ucap Irul berlobi.

"Hmm...."

"Mau yah? Mau dong!" pinta Irul.

"Tapi kamu yang ngomong ma Ayah," kilah Zhe.

"Iya deh, beres itu," kata Irul senang.


Senandung malam mengiringi perjalanan dua sejoli saling merajut kasih. Biarlah malam yang menjadi saksi bagaimana kisah cinta mereka berdua sampai tibalah di halaman rumah. Penerangan lampu yang meremang khas rumah dusun sederhana.



"Aku antar masuk, sekalian minta maaf ma Ayah mulangin anak gadisnya kemalaman," kata Irul.



Berdua melewati luasnya halaman dengan penerangan yang meremang, suasana begitu hening karena di kampung. Semua pintu tetangga tertutup rapat, hanya beberapa orang yang terlihat berjaga di pos ronda.




Tok tok tok



Suara ketukan terdengar dari pintu depan. Kemudian terdengar pintu terbuka.



"Baru pulang, Nduk?" tanya Ayah.

"Nggih, Yah. Maaf Zhe baru pulang," jawab Zhe.

"Bukan salah Zhe, Yah. Irul yang slah, Irul minta maaf karena kemalaman ngantar Zhe pulang. Pas makan nggak sengaja ketemu teman, kita ngobrol sampai lupa waktu," jelas Irul.


"Yowes, nggak papa. Kamu masuk, Nduk. Biar Masnya bisa pulang. Makasih ya, Mas," pinta Ayah, Zhe pamit pada Irul dan Ayah. Kemudian masuk ke dalam rumah.



"Nggih, sama-sama. Izin pulang, assalamualaikum," ucap Irul pamit setelah memcium tangan Ayah.


"Waalaikumsalam," jawab Ayah.



Irul memutar kunci kontak menghidupkan motor sport miliknya. Deru motor membelah keheningan malam. Berjalan keluar melewati halaman rumah dan semakin lama semakin menghilang ditelan kegelapan malam.






Bersambung......
Diubah oleh indahmami
profile-picture
profile-picture
profile-picture
syafira87 dan 10 lainnya memberi reputasi
11 0
11
profile picture
kaskus maniac
07-11-2019 18:40
Cakep, nih, belum dipanjangin ya? Oke deh 🤭🤭🤭
1
Cinta Dua Dunia, Wanita di Balik Cadar
05-10-2019 17:34
Casting Para Tokoh
Diubah oleh indahmami
profile-picture
profile-picture
profile-picture
syafira87 dan 9 lainnya memberi reputasi
10 0
10
Cinta Dua Dunia, Wanita di Balik Cadar
05-10-2019 17:34
Quote:
emoticon-roseIndex Linkemoticon-rose


1. Prolog
2. Part 1
3. Part 2
4. Part 3





Diubah oleh indahmami
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Indriaandrian dan 7 lainnya memberi reputasi
8 0
8
profile picture
KASKUS Plus
09-12-2019 09:38
Kisah sedih kak-bun ...tapi bikin aku mau tau part demi part ..kepo ah
2
Cinta Dua Dunia, Wanita di Balik Cadar
23-11-2019 14:11

Part 3

Malam indah meskipun hanya kegelapan membentang luas di atas angkasa. Di balik cendela kamar bernuansa ungu dengan kesederhanaan, Zhe menatap langit tanpa berkedip sedikitpun. Ranting dan dedaunan menggerakan diri tergesek oleh terpaan angin. Terasa begitu dingin, tapi menghangat di hati.



Siapa sangka jika rasa cinta Zhe dan Irul semakin dalam, tapi masih enggan mengikat janji. Zhe lebih nyaman dengan statusnya yang bagi orang lain mungkin sia-sia dan bodoh. Irul berkali-kali mengutarakan keinginan untuk mengikat kisah cinta dengan status agar jelas, tapi selalu berakhir dengan jawaban yang sama. Biarlah rasa mengalir apa adanya seperti anak sungai yang mengalir dari hulu ke hilir melewati milyaran mil sampai ke samudera.




Zhe hanya ingin menikmati rasa tanpa harus menuntut apapun, ia takut jika suatu hari nanti akan kehilangan seseorang karena alasan. Bukankah mencintai seseorang itu tanpa alasan? Jika mencintai harus dengan alasan, mungkin ketika ia pergi pun meninggalkan alasan. Mencintai itu sederhana hanya saja manusia yang mempersulit dengan dalih berjuta alibi.




Ketukan suara pintu kamar membuyarkan lamunan.



"Belum tidur, Nduk? Udah malam, nggak baik buat kesehatan," tanya Ayah di balik pintu kemudian masuk.


"Nggeh, Yah. Zhe mau tidur."


"Ya sudah, Ayah cuma mau lihat keadaanmu saja." Tiba-tiba Ayah masuk dan duduk di sudut tempat tidur.


"Pacaran boleh, Nduk. Asal tahu batasan mana yang salah dan mana yang benar. Ayah percaya kamu sudah dewasa, jika memang kalian saling suka, lulus bisa langsung nikah," goda Ayah.




Zhe merasa hatinya tersentil
Di satu sisi dia ingin mengabulkan harap Ayahnya. Di satu sisi, perasaannya untuk irul tak bisa dibohongi. Zhe ingin kepastian, tapi takut menjalani sebuah hubungan. Rasa sakitnya tentu berbeda ketika terikat dengan status dengan yang tidak.




"Ya sudah, Ayah keluar dulu. Ingat baik-baik ya, Nduk. Ayah nggak marah kamu dekat dan berteman dengan siapapun. Bahkan Ayah sangat senang, ternyata anak Ayah banyak teman," ucap Ayah dengan senyum bibir yang berwibawa, kemudian keluar kamar.





Suasana kamar kembali hening, sepasang mata menatap langit-langit bercat ungu. Zhe menyukai segala sesuatu berwarna ungu, jam dinding menjukan pukul 22.00 wib. Tanpa ia sadari waktu ternyata cepat berlalu sejak kepulangannya bersama Irul.




Zhe berusaha memejamkan mata yang ternyata semakin sulit, pikiran dan hati terasa berkecamuk menjadi emosi yang tidak mampu ia kendalikan.




Menerawang jauh menembus kabut kenangan, Zhe mencoba mengingat bagaimana ia dan Irul sampai sejauh ini. Siapa sangka Zhe yang hanya anak kutu buku dan tidak banyak bergaul mampu menaklukan hati Irul. Cowok tampan sejuta pesona yang mampu menaklukan hati gadis-gadis cantik hanya dengan senyum termanisnya.



Zhe tersenyum mengingat segala tingkah laku konyol Irul. Senyum tengil, kejailan, dan canda tawanya.










"Guys, kalian mau ikut ke kantin nggak?" tanya Syarif pada temen gengnya yang terdiri dari 3 personil. Irul, Johan, dan tentu ia sendiri.


"Oke, aku ngajak cewekku sekalian. Kita ketemu di kantin, kalian pesan duluan," perintah Johan.


Syarif dan Irul bergegas pergi ke kantin, bagi mereka tempat paling nyaman nongkrong adalah kantin.


"Lu pesan sono, Rul. Gue tunggu di sini," perintah Syarif.


"Bawel, nyuruh-nyuruh orang mulu," protes Irul, Syarif hanya memasang senyum tengil.




Irul pergi ke pojok abang tukang bakso, memesan 3 bakso seperti biasa dan tidak lupa es teh. Sedangkan di lain tempat, Johan dan 3 cewek cantik, yaitu Sonia, Mila, dan Zhe memasuki kantin.




"Sory kita telat, Brader," ucap Johan menepuk pundak lalu duduk dan disusul ketiga cewek cantik.



"No problem, Bro. Si Irul baru pesen, tapi cuman 3," jelas Syarif. "Sory buat cewek-cewek, kayaknya kalian pesan sendiri," imbuhnya lagi.


"Nggak apa-apa, Rif. Kita pesan sendiri," jawab Zhe lalu melihat ketiga temannya. "Son, Mil mau nitip apa?" tanya Zhe.


"Aku batagor aja," jawab Sonia.


"Aku siomay," tambah Mila. Zhe beranjak dari tempat duduk dan memesan makanan.


"Guys, minumnya nih. Sory telat, tadi ngantri," ucap Irul langsung duduk.


"Yah, ko' dua sih, Rul? Buat kita-kita mana nih?" tanya Mila.


"Sory, lupa," kata Irul tanpa dosa.


"Ish, si Mila canda aja, Rul. Kita udah pesen dan nitip Zhe. Nah, tuh anak nongol," tunjuk Sonia pada Zhe yang membawa tiga es teh juga.



Mata Irul menatap fokus pada Zhe tanpa berkedip, apapun yang ada pada Zhe selalu berhasil memikat.



"Woy, tuh mata tolong kondisikan," bisik Syarif dengan menyikut tangan ke Irul.


"Kenapa?"


"Masih tanya kenapa?"


"Iyalah."


"Lu suka ma Zhe?" Selidik Syarif.


"Nggak ah."


"Jangan bohong, Lu! Bohong gue ambil entar," goda Syarif dibalas tatapan tajam menusuk.


"Woles, Bro. Gue cuma canda." Syarif tertawa dan berhasil mengambil perhatian yang lain.


"Kenapa?" tanya Mila.


"Si Irul suka ama Zhe," jawab Syarif sambil tertawa, tiba-tiba Irul melempar kerupuk ke arahnya. "Asem lu, Rul. Gue bales," umpat Syarif.


"Bales aja," tantang Irul.



Di sudut yang lain, Zhe tengah menahan malu sekaligus hati yang jantungan. Detak jantung terasa lebih cepat dari biasanya, pengumuman Syarif berhasil memacu detak jantungnya menjadi tidak beraturan.



"Ups, gaeess. Kayaknya ada yang malu-malu meong nih," goda Mila melirik ke arah Zhe.


Riuh tawa anak-anak pun pecah, seisi kantin tiba-tiba memandang fokus ke arah mereka.



"Ssttt, jangan keras-keras. Nggak malu dilihat ma seisi kantin?" tanya Sonia dengan dibalas sikap acuh mereka. Sonia hanya bisa menggeleng kepala.


'Sahabat yang gila', batinnya.



"Nah, pesanan kita datang gaes. Selamat makan," kata Syarif.


Mereka sibuk menikmati makanan masing-masing, tapi Zhe tetap merasa canggung. Ada sesuatu yang berubah, dia mulai lebih peka dengan sikap Irul. Meskipun Irul makan seperti para sahabatnya, tapi pandangan mata sesekali melirik fokus pada Zhe.



Suara bel tanda masuk berbunyi, terpaksa mereka mengakhiri keasyikan di kantin dengan cepat.



"Kalian duluan, aku ma Sonia yang bayarin dulu," perintah Johan. Seketika semua membubarkan diri dan pergi ke kelas.



"Zhe," panggil seseorang. Zhe menoleh pada sumber suara dan menautkan dua alis.



"Rif, kayaknya kita harus kasih ruang buat mereka berdua," kata Mila.


"Iyah, Mil. Oke, Zhe dan Irul kalian ngobrol sambil ke kelas. Kita berdua duluan. Papay," pamit Syarif diikuti oleh Mila menghilang di koridor.



"Zhe, kalau yang diomongin Syarif bener. Kamu gimana?" katanya.


"Maksudnya?" Zhe mencoba mencerna setiap perkataan Irul.


"Maksudnya kalau aku suka beneran ma kamu gimana?"


"Hmmm...."


Irul menaikan satu alisnya.


"Gimana?" Tiba-tiba suasana kembali hening.


"Hmm, aku sih nggak apa-apa. Tapi-"


"Tapi apa?" potong Irul penasaran.


"Tapi nggak bisa pacaran, aku takut Ayah marah," jawab Zhe malu.


Astagah, hampir saja Irul mati penasaran menunggu jawaban Zhe. Cewek satu ini selain paling kalem di antara kedua temennya, juga terlalu banyak diam.


"Oh, aku mengerti. Artinya kamu nolak aku," ucap Irul.


"Enggak!" Suara lantang Zhe membuat kaget Irul.


"Maaf, bukan itu maksudku. Maksudku-"


"Apa?" potong Irul.


"Aku suka juga, tapi nggak bisa pacaran. Kalau tanpa status gimana?" Kening Irul nampak mengerut dan berpikir, lalu menghela nafas.


"Baiklah, sementara waktu mungkin kita jalani seperti itu," kata Irul pasrah dibalas dengan sorot mata berbinar Zhe.


"Makasih, Rul. Maaf, bukannya maksud aku,"


"Nggak apa-apa, aku ngerti. Asal kita saling menjaga satu sama lain, no problem buat aku," jelas Irul dengan senyum manis.



Sejak hari itu, Irul dan Zhe menjalin cinta tanpa sebuah ikatan status. Biarkan dunia menganggap mereka berdua bodoh, sejatinya mencintai bukan soal status. Namun bagaimana mampu mencintai dan bersama saling membahagiakan satu sama yang lain.












Bersambung...
Diubah oleh indahmami
profile-picture
profile-picture
profile-picture
syafira87 dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
teror-hantu-dewi
Stories from the Heart
penghuni-lain-di-rumah-kost
Stories from the Heart
black-eye
icon-jualbeli
Jual Beli
Copyright © 2019, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia