alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
15
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d909887e83c722a53285544/celengan-bambu-bukan-rindu
Haloha... Gan n Sist.. Ini first post aku... semoga suka ya...☺ Celengan Bambu Alunan musik klasik mengiringi sebuah tarian. Terdengar begitu kontras dengan suasana hati. Begitu gagah gemulainya penari itu, sehingga dapat menahan mata kecil tak berkedip. Luar biasa. Sungguh. Itu yang menjadi keinginan tersendiri untuk Adit mengembangkan budaya ini. Kecintaannya terhadap seni tari yang teramat da
Lapor Hansip
29-09-2019 18:41

Celengan Bambu Bukan Rindu

Past Hot Thread
Haloha... Gan n Sist..
Ini first post aku... semoga suka ya...☺

Celengan Bambu Bukan Rindu

Celengan Bambu


Alunan musik klasik mengiringi sebuah tarian. Terdengar begitu kontras dengan suasana hati. Begitu gagah gemulainya penari itu, sehingga dapat menahan mata kecil tak berkedip. Luar biasa. Sungguh. Itu yang menjadi keinginan tersendiri untuk Adit mengembangkan budaya ini. Kecintaannya terhadap seni tari yang teramat dalam membuat anak yang belum memasuki usia remaja ini tergila-gila. Berbeda dengan anak lainnya yang lebih sering menghabiskan waktu dengan gawainya daripada bertengger di lingkungannya sendiri. Maklum juga, Adit tidak memiliki barang semewah itu, karena orang tuanya lebih mementingkan biaya untuknya sekolah daripada membeli alat yang berpengaruh besar terhadap perubahan dunia.

“Dit?!” seorang laki-laki tua renta memanggilnya. Tidak salah, pasti dia menyuruh Adit untuk mengambil sesuatu yang diinginkannya. Terpaksa ia harus berhenti melihat penari yang berlenggak-lenggok di atas panggung.

“Ada apa, Paman?”

“Gimana kau ini, masa tamu-tamu belum dikasih minum. Kau tahu? Tamu di sini tajir semua.”

“Baik, Paman. Maaf saya kelupaan.” Adit menjawab sambil terkekeh.
“Lupa dipiara, macam tak ada yang lain saja.”

Menjadi pelayan pada acara karnaval budaya di desanya menjadi kebanggan tersendiri bagi Adit. Selain bisa melihat penari tradisional yang lincah, ia juga mendapat uang dan makan atas kerjanya.
***
“Nak, cepat kau antarkan pesanan ke Pak Iwan!” seru bapaknya Adit.

“Iya, Pak, bentar.” Ayam potong yang dijual menjadi mata pencaharian untuk memenuhi kebutuhan mereka.

“Assalamu’alaikum, Pak Iwan. Ini ayam pesenannya.”

“Oh, iya Dit. Ini uangnya.”

“Alhamdulillah makasih, Pak.” Dengan senang hati, rezeki menambah untuk keluarganya.

Uang dari ayam potong itu dibagi dua untuk Adit dan bapaknya. Tentu, Adit dapat bagian karena telah mengantar pesanan. Uang itu dengan apiknya disimpan oleh Adit. Namun, karena sayang untung mengeluarkan uang membeli celengan, Bapak Adit membuatkannya dari bambu. Waktu itu, saat Adit kelas empat SD. Begitu bahagianya ia saat bapaknya membuatkan celengan bambu itu. Uang dalam celengan itu ia ingin belikan untuk beberapa aksesoris dalam pengembangan tarian tradisional. Karena memang cita-cita Adit membuat sanggar tarian. Namun, ada kejanggalan. Bapaknya tidak begitu setuju jika anak laki-lakinya ada di bidang tari.

Rabu siang adalah rutinitas ekstrakulikuler tari di sekolahnya. Ada satu event besar dan festival budaya di wilayahnya. Ini adalah peluang besar karena di dalamnya ada festival tari, kesukaannya. Apabila mengikuti festival ini dan menjuarainya maka akan mendapatkan hadiah dan beasiswa. Adit jadi lebih sering latihan, fokus di tarian. Sampai ia lupa waktu untuk membantu bapaknya. Hingga suatu hari bapaknya heran dengan Adit karena ia yang selalu rutin membantunya, tapi akhir-akhir ini Adit lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah.

“Mengapa anak itu tidak sering di rumah? Aku sibuk begini dia sering main. Awas saja kalau dia pulang.” Bapak menggerutu kesal kepada Adit.

“Assalamu’alaikum, Pak.”

“Kemana saja kau? Bapakmu sibuk begini kau malah main-main gak jelas di luar sana.” Bapak Adit tak tahan dengan rasa kesalnya.

“Pak, aku ada kegiatan di sekolah. Maaf, Pak, aku belum bilang sebelumnya.”

“Kegiatan apa? Tari? Kau ini laki-laki. Hanya dengan bekal tari kau bisa apa? Cari kegiatan yang lebih jantan. Untuk masa depanmu.” Tidak diberi tahu pun Bapak sudah menebaknya. Adit hanya terdiam, ia tidak berani untuk melawan bapaknya.

Adit bimbang. Ia sangat menyukai tari. Namun, bapaknya selalu melarang ia dalam hal itu. Awalnya ia ingin membicarakan ini dengan baik-baik. Tapi, bapaknya selalu saja tidak mengerti apa keinginan dirinya. Hingga suatu saat Adit nekat dengan dirinya sendiri untuk tetap berada di perkumpulan tari. Adit sempat marah. Ia lebih sering latihan daripada membantu bapaknya. Maklum, Adit masih bisa dibilang anak kecil di usia kelas enam SD. Kurang didikan dari orang tuanya dan kurang kasih sayang. Bapaknya pun tak peduli dengan sikapnya.

Semakin hari Adit semakin sering latihan. Bahkan sampai hari tidak lagi sore. Ia terkadang iri dengan teman-temannya yang selalu diantar jemput oleh orang tuanya.

“Dit, aku pulang duluan, ya.” seru Rizky teman sebayanya dari keluarga kaya raya. Jika melihat Rizky, ia seperti orang beruntung di dunia ini. Mendapat kasih sayang dan perhatian lebih. Apa yang ia inginkan selalu dikabulkan oleh orang tuanya. Tiap hari ia selalu diantar jemput dengan mobil dan supir pribadinya. Sungguh anak kesayangan.

“Iya, Ky. Hati-hati”

“Kamu mau bareng tidak? Biar aku antar ke rumahmu.” Kurang apalagi Rizky. Ia memiliki hati yang baik pula.

“Tak usah, Ky. Aku ada urusan dulu bentar.” Adit menolak. Sebenarnya, ia ingin. Tapi, ia tidak sanggup menahan rasa sesak, iri pada temannya sendiri.
Sesampainya di rumah, bapaknya tidak ada di sana.

“Assalamu’alaikum, Bapak. Bapak di mana?”

To be continued...

Hayoloh...
Kemana ya bapaknya? Apa jangan-jangan? Jangan deh jangan..

Krisarnya boleh Agan n sistah yang terhormat.😁

part 2

part 3
Diubah oleh serinasa29
profile-picture
profile-picture
profile-picture
midim7407 dan 7 lainnya memberi reputasi
8
Celengan Bambu Bukan Rindu
29-09-2019 19:13
Lanjutkan😉
profile-picture
profile-picture
profile-picture
wardahh18 dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Celengan Bambu Bukan Rindu
29-09-2019 20:32
Lanjutkan siss!! Ini bakal ada kelanjutannya kan ya? Hehe ditunggu kelanjutannya sista!!
profile-picture
profile-picture
nerinae dan serinasa29 memberi reputasi
2 0
2
Celengan Bambu Bukan Rindu
30-09-2019 00:01
cerbung ternyata... bagus
profile-picture
profile-picture
nerinae dan serinasa29 memberi reputasi
2 0
2
Celengan Bambu Bukan Rindu
01-10-2019 08:35
Celengan bambukuu🌾😁
profile-picture
profile-picture
wardahh18 dan serinasa29 memberi reputasi
2 0
2
Celengan Bambu Bukan Rindu
01-10-2019 08:44
wahhh mantap
profile-picture
profile-picture
profile-picture
nerinae dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Celengan Bambu Bukan Rindu
01-10-2019 14:05
Teringat Fiersa Besari, celengan rindu wkwk
profile-picture
profile-picture
tuffinks dan serinasa29 memberi reputasi
2 0
2
Celengan Bambu Bukan Rindu
01-10-2019 19:49
Jdi penasaran, cpt upload sist👌
profile-picture
serinasa29 memberi reputasi
1 0
1
Celengan Bambu Bukan Rindu
03-10-2019 21:16
Bapak jangan tinggalin Adit.
Diubah oleh gegerorion124
profile-picture
serinasa29 memberi reputasi
1 0
1
Celengan Bambu Bukan Rindu
06-10-2019 17:30
“Assalamu’alaikum, Bapak. Bapak di mana?”

Ah atau mungkin bapaknya masih ada kerjaan akhir-akhir ini. Adit tidak tahu perkembangan usaha bapaknya karena sering latihan.

Adit bergegas membersihkan diri dan makan. Namun, sekian lama Adit menunggu bapaknya belum juga pulang. Adit panik. Ia takut sendiri di rumah jika malam larut begini. Adit takut kenapa-napa dengan bapaknya.

“Assalamu’alaikum”

“Akhirnya, Bapak pulang juga.”

“Masih ingat kau pada Bapak?” ketus Bapak Adit.

“Apa maksud Bapak?”

“Seharian kau gak ada di rumah. Kerjaan Bapak numpuk di mana-mana! Kau malah asyik di luar sana. Kau bukan lagi seperti anak Bapak yang dulu. Kau..” hampir saja tangan itu mendarat pada pipi mungil Adit. Ia menangis sejadi-jadinya. Adit langsung pergi ke kamar, kalau saja ibunya masih ada ia tidak seterpuruk ini. Adit kini merindukan ibunya.

Sampai beberapa hari hubungan Adit dan bapaknya kurang baik. Mereka saling acuh tak acuh. Namun, ada seorang laki-laki tua renta yang selalu baik dan peduli padanya, yang selalu ia sebut dengan Kakek Hari. Meskipun beliau tidak ada ikatan darah dengan Adit. Hampir setiap pekan Adit selalu datang ke rumahnya. Mencurahkan segala isi hatinya. Rasanya hanya orang itu yang mengerti apa keinginannya.

“Kek, makasih atas segala waktunya. Jika tidak ada kakek, mungkin aku benar-benar orang yang menyedihkan di dunia ini.” Kakek Hari tidak membalas ucapannya, hanya senyuman yang ia tebarkan di wajah keriputnya.

“Kek, tapi kalau aku dan Bapak terus seperti ini aku tidak nyaman, Kek. Ini salahku yang tidak mendengar apa kata Bapak. Harusnya aku sadar kalau kehidupanku jauh dari sempurna. Aku egois, Kek. Aku nyesel.” Adit menangis saking sedihnya. Namun Kakek Hari masih belum membalas ucapannya. Ia lagi-lagi tersenyum. Bukan terlihat manis, tapi menyebalkan.

“Kakek kok diem aja?” kesal Adit.
“Suatu saat kau akan mengerti dengan sendirinya.”

Celengan bambu yang dibuatkan Bapak. Adit hampir lupa akan itu dan kenangan indah saat mendapatkannya. Adit ingat saat itu. Setelah beberapa hari kepergian ibunya, Adit hampir tidak ada semangat untuk hidup. Ia selalu mengurung diri di kamarnya. Memang, saat itu Adit sangat begitu kecil untuk paham segalanya. Tidak ada lagi senyuman yang mekar dalam bibirnya, keceriaan di setiap harinya. Namun, Bapak datang dan membawakannya sebuah bambu. Adit bingung. Bambu itu untuk apa?

“Kamu tahu? Saat Bapak muda dulu, pertama kali melihat ibumu dan merayunya. Bapak dengan pede memukul-mukul bambu dan menyanyi di depan banyak orang. Menyatakan bahwa Bapak sangat mencintainya. Ibumu saat itu sangat malu. Tapi, tanpa Bapak duga ternyata ibumu merasakan hal yang sama. Waktu itu Bapak seperti kemasukan setan kampung sebelah. Seneng luar biasa. Ibumu hanya tersipu malu dan tersenyum yang tidak akan bisa Bapak lupakan. Dan senyuman itu sepertimu, Nak. Tersenyumlah, maka kau akan selalu merasakan hidupnya. Di dalam hatimu.”

Tak kuasa air hangat itu mengalir di pipinya. Betapa baiknya Bapak kepada Adit. Tapi, apa yang Adit balas. Ia yang masih sekecil ini saja sudah mengecewakan bapaknya. Adit ingat perkataan bapaknya akan celengan ini bahwa uang di dalamnya untuk keperluan cita-citanya. Namun, apa yang ia cita-citakan tidak begitu didukung oleh bapaknya. Adit bimbang. Sangat bimbang.

“Assalamu’alaikum, Dit!” suara Pak Iwan mengangetkan lamunannya. Tampak panik dan tergesa-gesa.
“Wa’alaikumussalam, ada apa, Pak?”
“Itu, bapakmu!"

To be continued...

Jeng jeng jeng...
Duh ngegantung terus ya, Gansis?
Ditungga aja deh kelanjutannya. Semoga suka. Boleh krisarnya wkwk🤣
profile-picture
profile-picture
midim7407 dan abellacitra memberi reputasi
2 0
2
Celengan Bambu Bukan Rindu
13-10-2019 11:06
Ingat masa lalu ...
profile-picture
serinasa29 memberi reputasi
1 0
1
Celengan Bambu Bukan Rindu
14-10-2019 01:36
Quote:Original Posted By wardahh18
Teringat Fiersa Besari, celengan rindu wkwk


Lah. Mau komeng ini nih emoticon-Ngakak (S)
profile-picture
serinasa29 memberi reputasi
1 0
1
Celengan Bambu Bukan Rindu
15-10-2019 02:28
to be continue ya kak...
profile-picture
serinasa29 memberi reputasi
1 0
1
Celengan Bambu Bukan Rindu
15-10-2019 09:58
nungguin next part.nya Kak
profile-picture
serinasa29 memberi reputasi
1 0
1
Celengan Bambu Bukan Rindu
19-10-2019 06:09
“Assalamu’alaikum, Dit!” suara Pak Iwan mengangetkan lamunannya. Tampak panik dan tergesa-gesa.

“Wa’alaikumussalam, ada apa, Pak?”
“Itu, bapakmu. Bapakmu tadi kecelakaan, sekarang sudah dilarikan ke rumah sakit.” Pak Iwan berbicara dengan napas terengah-engah.

“Ayo, Pak. Cepet antar Adit ke sana.”
Di perjalanan Adit menangis tak henti-henti. Ia tidak ingin kehilangan lagi seorang yang ia sayangi. Adit sangat bersalah pada posisi kali ini. Karena akhir-akhir ini ia jarang membantu bapaknya yang jelas-jelas banting tulang untuk hidupnya.
***
“Bapak!” Adit langsung memeluk bapaknya.

“Bapak jangan tinggalin Adit sendirian. Maafin Adit yang egois ini. Adit janji deh sekarang Adit bakal turutin apa kata Bapak. Asal Bapak jangan pergi ninggalin Adit kaya Ibu. Adit sedih Pak.” Adit tak kuasa melepas tangis dan rindu kepada bapaknya.

“Nak, tak apa. Ini hanya parah biasa kok. Hanya luka memar akibat benturan dan sobek sedikit di sikut. Udah dijahit juga kok sama dokternya.” Mendengar penjelasan dari Bapak, Adit sedikit lega. Namun, ada kepanikannya yang lain. Uang dari mana untuk membayar biaya rumah sakit ini. Saat Adit bertanya pada bapaknya, beliau hanya terkekeh. Seakan mengerti dengan hal itu, Adit paham bapaknya tidak memiliki uang sebanyak itu. Kekanakan Adit yang ingin menjadi pahlawan di depan bapaknya, ia pun bergegas pulang dan berniat akan membongkar celengan bambu yang berisi uang yang lumayan banyak itu.

“Mau ke mana kamu, Nak?”

“Bapak tunggu bentar, aku akan kembali kok. Gak akan lama!” Adit terburu-buru menuju rumah.

Adit membelah celengan bambu dan mengambil semua uang yang berada di sana. Ia masukkan semua uang ke dalam kantong plastik. Karena terburu-buru untuk sampai di rumah sakit, ia berlari begitu kencang dan tidak melihat ada batu yang lumayan besar di depannya. Ia tersandung dan uang yang berada dalam genggamannya terlempar dan masuk ke dalam sumur yang berada di dekat sana. Karena malam hari yang begitu gelap. Adit tidak sadar bahwa uangnya jatuh ke dalam sumur yang dalamnya sekitar sepuluh kilometer itu. Adit kaget luar biasa. Ia panik. Ia tidak tahu harus melakukan apa lagi. Niat baiknya untuk menolong Bapak seakan-akan tidak diridhoi Sang Pencipta.

Adit menangis tersedu-sedu. Seketika itu ia ingat Kakek Hari dan meminta tolong padanya. Sesampainya ia di rumah Kakek Hari, ia langsung menceritakan apa yang terjadi. Beliau terkejut, bahkan tersedak saat minum. Namun, Kakek Hari bisa apa? Karena ia sama terpuruknya seperti Adit bahkan lebih. Lalu yang bisa dilakukannya hanya menenangkan Adit dan membantu menjelaskan kepada bapaknya.

“Aku takut Bapak marah, Kek. Aku harus bagaimana?” Adit tidak bisa mengendalikan emosinya. Ia marah pada dirinya sendiri.

“Sudah, Dit. Ayo kita ke rumah sakit dan jelaskan semuanya kepada bapakmu.” Adit tidak bisa mengelak, ia menuruti apa kata Kakek Hari.

Sesampainya di rumah sakit dan menjelaskan semuanya kepada Bapak Adit, respon dari bapaknya hanya tersenyum.

“Kok, Bapak malah senyum sih? Adit panik gini, karena itu uang yang cuma Adit punya.” Adit kesal dibuatnya.

“Nak, terima kasih atau ketulusanmu. Bapak bangga padamu. Kau merelakan uang yang jelas-jelas untuk masa depanmu demi biaya rumah sakit Bapak.” Adit tak mengerti dengan ucapan bapaknya yang harusnya marah.

“Tanpa kamu sadari sebenarnya kamu sudah menyimpan uang di bambu kecil itu beberapa tahun lalu. Kamu juga sangat rajin menyisihkan uang yang kamu punya. Sampai celengan itu tak dapat menahan banyak uang. Bapak selalu lihat uang di ujung lubang yang tandanya tidak bisa memaksakan untuk diisi kembali. Jadi, Bapak membuatkanmu celengan yang baru dan Bapak menyimpan celengan yang terdahulu di atas lemari. Maafkan Bapak tidak bilang dulu ke kamu, Nak. Ada beberapa celengan juga, kamu sudah mengisi lima celengan bambu.” Bapak hanya tersenyum, sedangkan Adit tertegun akan hal itu. Ada kelegaan dalam hatinya. Namun, saat ia berpikir kembali. Uang dalam celengan yang ia bawa tadi lumayan banyaknya. Mungkin seratus ribuan lebih.

“Tapi, Pak. Uang tadi pun lumayan banyaknya.”

“Tak apa, Nak. Mungkin itu bukan rezeki kita. Ikhlaskan saja dan biaya rumah sakit ini sudah dibayar sama orang yang nabrak Bapak.”

“Bapak, maafin Adit. Adit ceroboh.” ujarnya menyesal.

“Bapak juga minta maaf sama kamu. Ya sudah, lebih baik kita pulang saja sekarang. Bapak sudah diizinkan pulang sama dokter. Dan kamu harus istirahat untuk sekolah besok.” Adit hanya mengangguk, sedangkan Pak Iwan dan Kakek Hari yang menyaksikan lucunya anak itu hanya tersenyum di sana.

Apa yang Kakek bilang kepada Adit ternyata benar. Adit akan mengerti dengan sendirinya. Hubungan dengan bapaknya pun mulai membaik seperti dulu. Adit mulai mengerti sebuah masalah tidak bisa diselesaikan dengan keegoisan, harus dibicarakan terlebih dahulu agar tak salah paham. Adit cukup dewasa mengatasi permasalahan dalam dirinya, meskipun ia belum memasuki usia remaja.
***
“Nak, bagaimana dengan festival tari itu?” Bapak memulai pembicaraan di tengah keheningan malam. Adit tercengang. Mengapa bapaknya bertanya seperti itu.

“Maafkan Bapak yang waktu itu melarangmu. Ternyata Bapak memandangmu salah. Kau memang berbakat dalam tari. Selepas Bapak keliling untuk jualan, Bapak selalu mengintipmu saat sedang latihan. Anak Bapak ternyata hebat sama seperti ibumu yang suka tari. Lanjutkan, Nak. Dan menangkan festival itu.” Adit mendengarnya dengan penuh bahagia. Ia langsung memeluk erat bapaknya. Mewakili ucapan terima kasih.

The end

Huhu...
Tamat Gansist..
Gimana pendapatnya? Boleh krisarnya😁
0 0
0
Celengan Bambu Bukan Rindu
29-10-2019 12:40
emoticon-Recommended Seller
0 0
0
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
cinta-pada-pelukan-pertama
Stories from the Heart
warna-luka
Stories from the Heart
rasa-yang-tak-pernah-ada
Stories from the Heart
jumiati-itu-adalah-aku
icon-jualbeli
Jual Beli
Rp 5.000
Rp 125.000
kaos-polo-kaskus---tosca
Rp 5.000
Rp 100.000
kaos-kaskus---kpg-hitam
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.