Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
167
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d821f4b018e0d040f058865/kumpulan-cerpen-ina-sendry
1. Selfi Terkutuk ilustrasi Kupecahkan celengan ayam warna merah yang bertahun-tahun bersembunyi di bawah dipan. Bunyi kemrincing di lantai terdengar merdu di telinga. Uang saku yang kusisihkan selama ini sepertinya sudah cukup untuk membeli ponsel pintar. Di kelas hanya aku seorang yang memakai hape jadul, cuma bisa dipakai untuk menelpon dan mengirim pesan singkat. Sebenarnya bisa juga dipakai b
Lapor Hansip
18-09-2019 19:12

Kumpulan Cerpen Ina Sendry

icon-verified-thread
1. Selfi Terkutuk

Kumpulan Cerpen Ina Sendry
ilustrasi

Kupecahkan celengan ayam warna merah yang bertahun-tahun bersembunyi di bawah dipan. Bunyi kemrincing di lantai terdengar merdu di telinga. Uang saku yang kusisihkan selama ini sepertinya sudah cukup untuk membeli ponsel pintar. Di kelas hanya aku seorang yang memakai hape jadul, cuma bisa dipakai untuk menelpon dan mengirim pesan singkat. Sebenarnya bisa juga dipakai berswafoto, tapi hasilnya buram.

Segera kuselipkan uang ke dalam saku celana samping. Saat ini juga ponsel pintar impian harus jadi milikku. Setelah pamit kepada ibu, aku bergegas ke tepi jalan raya untuk menunggu mobil angkutan umum. Tak berapa lama, mobil angkot itu segera meluncur ke pusat perbelanjaan elektronik di kotaku.

Dengan hati riang aku memasuki salah satu toko ponsel pintar. Seorang pelayan laki-laki menghampiriku.

"Ponselnya, Mbak. Silakan dilihat-lihat dulu. Ini brosurnya."

Tiga buah brosur ia angsurkan di atas etalase. Ia menjelaskan kelebihan fitur setiap merk yang tertulis. Suaranya hanya masuk ke telinga kanan lalu keluar lagi ke telinga kiriku. Aku tak begitu paham dan tak peduli. Aku hanya ingin ponsel yang bisa digunakan untuk berswafoto seperti milik teman-teman di sekolah.

Akhirnya kuputuskan membeli yang harganya tak jauh dari uang dalam sakuku. Pelayan itu segera mengemas ponselku ke dalam kardus, lalu memasukkannya lagi ke kantung plastik belanja. Usai melunasi harga yang ia sebut. Aku keluar dari pertokoan barang-barang canggih itu. Impianku terwujud sudah.

Tak sabar rasanya untuk segera berselfi ria, lalu mengunggahnya di semua akun media sosialku. Sudah terbayang berbagai pose dan lokasi-lokasi instragamable di sekitar kampungku yang cocok buat sekadar narsis.

Membayangkannya aku jadi tersenyum-senyum sendiri. Jika saja seorang lelaki yang duduk di depanku tidak menahan geli sambil terus memandangku, mungkin aku masih terus berkhayal seperti orang sinting.

Hanya ada lima orang di bangku belakang mobil angkot ini. Selain lelaki yang baru saja menertawaiku, penumpang lain tampak cuek melemparkan pandangan ke jalan raya. Namun, seorang wanita berambut panjang yang duduk di bangku belakang sopir rasanya juga melihat ke arahku. Benar, ketika kami bertemu pandang, ia memang tengah ... memelototiku? Mendadak kudukku meremang.

Kualihkan pandangan ke kendaraan yang berjalan di belakang angkot. Sebuah mobil jenazah dengan lampu menyala menyalip pelan. Kulihat lagi wanita yang duduk di belakang sopir. Hei, ia menghilang. Padahal mobil yang kutumpangi belum pernah berhenti. Aneh.

Mobil angkot sebentar lagi sampai di depan rumah. Beberapa meter sebelum terlewat, kuminta sopir berhenti. Setelah mambayar ongkos, aku segera berlari ke dalam rumah.

Setelah di kamar segera kubuka kardus kemasan ponsel pintar itu. Kuusap lembut permukaan casingnya yang berwarna merah. Layar LCD menyala menampilkan beberapa aplikasi. Segera keketuk aplikasi kamera, ah, cantiknya wajahku. Lampu blizt menyala, kumiringkan kepala ke kanan, ke kiri. Kuambil juga gambar dari atas wajah. Puas sekali saat foto-fotoku tersimpan di galeri.

Keesokan harinya di sekolah.

"Widih ... hape baru, nih?"

"Wiez, keren euy! Cakep lagi warnanya."

Aku hanya tersenyum-senyum menanggapi komentar mereka. Puas dan bangga rasanya saat teman-teman di kelas berdecak kagum. Sekalian kupamerkan kecanggihan kameranya. Tanpa dikomando mereka langsung berpose di belakangku saat aku menekan tombol kamera dan berswafoto.

Beberapa foto kupilih untuk diunggah ke akun Facebook. Dengan fasilitas edit gambar kutambahkan beberapa emot lucu, lalu kutulis juga captionnya. Klik unggah.

Bel tanda masuk kelas berdering. Belum sempat kulihat hasil unggahan, Pak Samsul guru Matematika sudah berada di ambang pintu. Sabarlah ponsel kesayanganku. Nanti kita bermain-main lagi.

Akhirnya jam istirahat pun tiba. Kunyalakan layar LCD lalu membuka aplikasi Facebook dan meluncur ke postingan foto yang tadi kuunggah. Ternyata banjir komentar dan tanggapan. Namun, apa ini?

Horor bangeeet!

Siapa itu yang nyempil di belakang kalian?

Et dah! Serem amat tuh yang berdiri paling belakang


Semua komentar mengatakan hal yang sama. Penasaran kulihat unggahan foto tadi, ya Tuhan, apa ini?

Kumpulan Cerpen Ina Sendry
ilustrasi

Sosok wanita di dalam mobil angkot beberapa waktu lalu selalu muncul di setiap swafotoku, baik di rumah maupun di foto yang tadi pagi kuambil bersama teman-teman. Ekspresi wanita itu masih sama, melotot. Belum pulih dari rasa kaget dan bingung atas apa yang terjadi, mendadak masuk pemberitahuan dari aplikasi Mesengger. Sebuah pesan dari akun yang tak dikenal.

Kamu masih ingat padaku?

Deg!

Ingatanku melayang pada kejadian tersebut. Lututku goyah, badanku langsung lemas. Benar ia adalah korban kecelakaan lalu lintas yang tewas di tempat dua bulan lalu. Dan diam-diam kupungut ponselnya yang terlempar ke tepi jalan lalu kujual, lantas uangnya kumasukkan ke dalam celengan ayam.

Malang, 19 September 2019

Penulis: Ina Sendry
Diubah oleh InaSendry
profile-picture
profile-picture
profile-picture
godong87 dan 36 lainnya memberi reputasi
35
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 9
Kumpulan Cerpen Ina Sendry
18-09-2019 19:13
Diubah oleh InaSendry
profile-picture
profile-picture
profile-picture
syafetri dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Kumpulan Cerpen Ina Sendry
18-09-2019 19:13

2. Bulan dalam Jelaga

Kumpulan Cerpen Ina Sendry

Dena merasakan basah pada sudut bibirnya. Diusapnya pelan area yang terasa perih itu dengan punggung tangan. Ada rasa asin menempel di bibir. Ia memejamkan mata, seraya menarik napas dalam-dalam. Seolah berusaha mengusir nyeri yang berdenyut, jauh di dalam hatinya.


Tamparan dan pukulan adalah makanan sehari-hari baginya. Mungkin di mata Jo, ia hanyalah samsak yang sudah sepatutnya diperlakukan demikian. Toh, sampai saat ini ia masih belum kehilangan nyawa. Itu sudah cukup.

Mata Dena menerawang, mungkin sedang membayangkan peristiwa dua tahun lalu. Saat ayah dan ibu meyakinkannya ..., bukan memohon lebih tepatnya, agar ia mau menikah dengan Jo, kekasih kakaknya sendiri.

"Apa Ayah tidak peduli dengan perasaanku? Aku tidak mencintainya. Bahkan aku sudah menganggap ia abangku sendiri, Ayah."

"Nak, Ayah paham, tapi apalah daya kami ini? Semua undangan telah tersebar. Betapa malunya keluarga Pak Hanan, jika harus menarik semua undangan itu."

"Sayang, Ibu yakin, Jo adalah orang baik. Kelak, ia pasti akan memperlakukanmu dengan penuh kasih sayang."

"Tapi, Bu ... Jo itu mencintai Kak Reta, bukan aku. Demikian juga aku, sama sekali tak ada rasa pada Jo. Malah jijik bila harus merebut kekasih kakakku sendiri. Lagi pula, kenapa kita tidak menunggu Kak Reta kembali. Aku yakin dia masih hidup."

"Yakin bagaimana? Kita sudah melihat sendiri jenazahnya di rumah sakit? Semua identitas dan barang-barang yang melekat pada jenazah adalah betul milik kakakmu."

"Tolonglah ayah dan ibu rundingkan lagi hal ini dengan Pak Hanan. Dena sungguh tak mau menikah dengan Jo."

"Dena, ibu sangat sangat paham, Nak. Namun, Pak Hanan dan Bu Ranti sangat ingin menjalin hubungan kekerabatan dengan kita. Mereka sudah sangat menyayangi kakakmu. Demikian juga mereka pun menyayangimu, dan sangat ingin kau menjadi putri menantu mereka."

Sungguh perdebatan yang melelahkan. Apalagi Pak Hanan dan Bu Ranti pun turut membujuk Dena agar mau menerima Jo. Dena pun menyerah.

Suara berat lelaki itu mantap menyahut akad ijab kabul yang diucapkan penghulu. Meski ada rasa gamang dalam hati Dena untuk menjalani pernikahan, tapi segera ditepis jauh-jauh pikiran buruk itu.

Jo adalah lelaki yang baik. Itu yang selalu disebut oleh Reta--kakak perempuan Dena satu-satunya--yang telah berpacaran selama lima tahun dengan lelaki yang kini jadi suaminya.

Tahun pertama pernikahan semua berjalan wajar. Jo memperlakukan Dena dengan penuh perhatian. Sekali pun tak pernah memaksakan hasratnya. Kesabaran dan ketulusan yang ditunjukkan Jo, lambat laun meluluhkan hati Dena. Hingga rasa sayang perlahan tumbuh di hatinya.

Awal tahun kedua, Jo mulai berubah. Rasa cemburu berlebihan kerap menjadi penyebab pertengkaran. Setiap saat ponsel Dena selalu diperiksa oleh Jo. Bila mendapati sedikit saja chat dengan teman lelaki, Jo pasti akan marah-marah. Tak peduli dengan penjelasan yang Dena berikan. Malah beberapa bulan terakhir ini, Jo tak segan bermain tangan padanya.

Namun, kekerasan demi kekerasan itu ditelannya sendiri. Dena sudah bosan mengadukan pada orangtua atau pun mertuanya. Karena ia selalu dianggap istri yang manja. Jo begitu pandai berakting saat di depan mereka. Bahkan bukti-bukti kekerasan yang pernah ia abadikan menggunakan ponsel selalu dihapus oleh Jo.

Jam berdentang sembilan kali membuyarkan lamunan Dena. Sambil berpegangan pada meja ruang tamu, ia mencoba bangkit. Tamparan Jo yang cukup keras tadi masih meninggalkan rasa pusing. Tertatih ia mengunci pintu. Lalu agak terhuyung-huyung berjalan masuk ke dalam kamar. Ia hempaskan tubuh kurusnya di pembaringan. Wajahnya menyiratkan kelelahan yang teramat sangat. Lelah lahir juga batin. Tak lama matanya pun terpejam.

Baru sebentar terlelap, sebuah gedoran yang sangat keras memaksanya terbangun. Suara teriakan dan makian Jo di luar membuatnya bergegas membuka pintu. Begitu anak kunci diputar, Jo mendorong pintu dengan keras hingga Dena jatuh terjengkang.

"Dasar perempuan bodoh! Kenapa pakai kunci pintu segala, Jalang!"

Sebuah tendangan dari kaki bersepatu laras menghantam wajah Dena. Darah kembali mengucur, kali ini alis Dena robek. Namun, tak terdengar rintihan sedikit pun keluar dari bibirnya.

Dena mencoba duduk. Ditatapnya dengan nyalang wajah suaminya. Tatapan mata yang menyiratkan perlawanan, tak ingin diperlakukan seperti ini terus-menerus.

Jo memandang sinis ke arah Dena. Mulutnya menyeringai saat tangan kekar itu menjambak rambut Dena.

"Kau berani menatapku seperti ini, Jalang? Kau menantangku, hah!"

Cuiiih!

Dena merasa heran sendiri, saat menyadari ia telah meludahi wajah suaminya.

Jo mengusap ludah membasahi sebagian wajahnya. Rahangnya mengeras, lalu menatap Dena. Matanya yang melotot tampak kemerahan.

"Kurang ajar! Berani kau meludahiku, Bodoh! Apa kau cari mati, hah! Yah, sebaiknya memang kau kuberi pelajaran sampai mati seperti kakakmu itu!"

"Ap ... apa maksudmu? Kak ... kau membunuh Kak Reta?"

Mata Dena semakin berani menantang ke bola mata suaminya. Ia tampak kaget dan murka mendengar kata-kata Jo barusan.

"Ya. Aku yang membunuhnya. Wanita pelacur itu pantas mati. Kurekayasa kejadiannya agar ia seolah-olah mati terbakar di dalam mobil. Hahahaha. Hari itu ia ingin memutuskan pertunangan kami. Mungkin ia tergoda lelaki lain. Dasar pelacur laknat!"

"Dia mencintaimu, Jo. Kakakku sangat mencintaimu, Keparaaat!"

"Tapi dia berkhianat! Ia memutuskan sepihak pertunangan kami!"

Teriakan Jo di depan telinga Dena sesaat membuatnya merasa tuli. Air mata Dena semakin deras keluar.

"Kau ... kau juga kerap menyiksa kakakku, kan, Jo?" Lirih suara Dena teredam isak tangisnya.

"Hahahahahah. Ia pantas mendapatkannya, Sayang. Ia ramah dan genit pada setiap lelaki di kantornya."

"Biadap kau, Jo! Luka-luka yang kerap kulihat di tubuh kakakku itu karena ulahmu, iya kan!"

"Hahaha. Aku memang biadap, Sayang. Dan kini kau pun juga ikut jadi pelacur seperti kakakmu, kan? Tadi aku bertemu Dion, teman SMAmu dulu. Ia menanyakanmu. Kau ... pasti sudah selingkuh dengannya bukaaan!"

Jo mengangkat tangannya dan mengepal. Dena segera menendang lelaki itu. Ia lari ke belakang. Jo mengejarnya. Dena meraih benda apa saja untuk melempari Jo. Ia ketakutan melihat suaminya yang seolah menjelma menjadi iblis.

Perlawanan Dena tak ada artinya bagi Jo. Saat ia berhasil meraih tubuh istrinya, segera ia hempaskan ke arah rak piring. Suara gaduh dari piring dan gelas yang pecah, membuat Jo semakin bernafsu menghajar istrinya. Tak ada sedikit pun belas kasih.

Dena jatuh tengkurap di lantai. Matanya menatap sebilah kapak yang tergelatak di bawah rak. Ia merayap berusaha meraihnya. Tak dirasakannya kaki Jo yang menginjak-injak punggung dan kepalanya.

Kapak itu kini digenggamnya erat. Sekuat tenaga ia berbalik, telentang dan mengayunkan pada kaki Jo. Lelaki itu roboh, mulutnya meraung keras. Kesempatan tak disia-siakan Dena. Kapak di tangannya kembali mengayun ke arah kepala suaminya. Kapak itu menancap tepat di ubun-ubun Jo.

Dena dan Jo saling melotot. Darah segar segera merembes dari kapak yang menancap. Muka Jo tak lagi terlihat, tertutup cairan merah segar. Tak lama lelaki itu pun rebah.

Tamat

Malang, 7 Desember 2019

Penulis : Ina Sendry
Pict : Pinterest
Diubah oleh InaSendry
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bekticahyopurno dan 12 lainnya memberi reputasi
13 0
13
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Kumpulan Cerpen Ina Sendry
18-09-2019 19:14

3. Izinkan Aku Melihatmu Lagi

Quote:Kumpulan Cerpen Ina Sendry
ilustrasi

Fandi memandangi wajah-wajah lelah rekan sejawatnya. Ia sangat paham dengan apa yang mereka rasakan, karena ia sendiri pun merasakan hal yang sama. Sudah beberapa minggu ini nyaris tak pernah istirahat, seringkali pula harus menahan haus dan lapar, lantaran harus menghemat ADP, karena stok makin menipis. Sementara jumlah pasien yang terus berdatangan, menuntut untuk segera ditangani. Di ruangan isolasi ini, para dokter dan perawat terus berlomba dengan waktu, demi menyelamatkan nyawa para pasien corona. Aura kematian pun terasa kental, sang maut seakan setia menunggui di samping brankar, tempat pasien terbaring lemah.

"Dokter, pasien nomer empat kritis." Arini, perawat yang sudah dua minggu ini mendampingi tugasnya berjalan tergopoh-gopoh menghampirinya.

Fandi bergegas mendatangi pria muda yang sudah seminggu ini dirawatnya. Mahasiswa semester akhir itu megap-megap, sementara matanya terus melihat ke atas. Ah, barangkali ia sedang berdialog dengan Izrail, pikir Fandi.

Meski tahu kemungkinannya kecil untuk menyelamatkan lelaki muda itu, tapi ia tetap memberikan pertolongan. Namun, takdir sang pasien berhenti sampai di sini. Satu tarikan napas terakhir telah menghentikan kehidupan pemuda untuk selama-lamanya.

Quote:Kumpulan Cerpen Ina Sendry
ilustrasi

Fandi menghela napasnya, mencoba membuang seluruh beban di dalam dada. Rasa bersalah itu selalu mendera, setiap kali ia gagal menyelamatkan nyawa seseorang. Namun, ia hanyalah sebutir debu di megahnya semesta, mengabdikan diri dan ilmu sebaik-baiknya, lalu berserah kepada pemilik ruh seluruh makhluk.

"Innalillahi wainnailaihi roji'uun," lirihnya.

Arini memberikan berkas-berkas yang berisi keterangan kematian yang harus ditandatangani Fandi. Setelah itu perawat senior yang telah mengabdi selama tujuh tahun di rumah sakit itu, menghubungi bagian pemulasaran jenazah agar mengurus dan mengantarkan jasad sang mahasiswa ke peristirahatan terakhir.

🌻

"Halo, Pa," seru Dafa, putra sulung Fandi melalui video call.

"Halo, Nak. Apa kabar jagoan Papa hari ini?" balas Fandi semringah. Rasa lelahnya seketika musnah demi melihat wajah putranya.

"Papa, hari ini Dafa membuat prakarya baling-baling sama Mama." Dafa memamerkan baling-baling berwarna kuning yang dibuat dari kertas lipat.

"Ih, pinternya anak Papa."

"Papa, kapan pulang? Dafa kangen banget sama Papa."

"Papa juga kangen, Nak. Tapi Papa masih bertugas di sini."

"Papa kenapa jadi gak pernah libur, Gak pernah pulang?"

Hati Fandi terasa teriris mendengar protes dari bibir mungil bocah berusia empat tahun itu. Ia pun memendam kerinduan yang sama pada putra dan istrinya yang tengah mengandung anak kedua mereka.

"Kalau tugas Papa udah selesai, Papa nanti minta cuti, biar bisa menemani Dafa, ya, Nak. Oiya, Mama mana?" Fandi segera mengalihkan pembicaraan agar putranya tidak merajuk.

"Halo, Mas? Gimana kondisimu?" Seorang perempuan muda berhijab muncul di layar ponsel Fandi.

"Aku baik, Sayang. Kamu sendiri bagaimana, masih suka muntah? Ntar aku buatkan janji dengan dr. Nita, ya. Biar kamu bisa kontrol kandungan besok."

"Tidak perlu, Mas. Biar aku telepon sendiri. Mas Fandi istirahat saja. Jujur, aku cemas dengan keadaanmu, Mas ...."

"Jangan cemas, Sayang. Aku baik-baik saja. Doakan ya, biar pandemi ini segera berakhir."

"Iya, Mas. Ya sudah. Manfaatkan waktu istirahatmu sebaik-baiknya, Mas. Aku tahu kamu di situ pasti capek banget."

Setelah saling mengucapkan salam, Fandi meletakkan ponselnya. Mendadak kepalanya terasa pusing. Ia segera meraih segelas air putih dan meminumnya hingga tandas. Fandi mengangkat kedua tangannya, berdoa memohon esok pagi pusing dan lelah yang ia rasakan segera hilang.

Suara azan terlantun merdu dari masjid yang tak jauh dari rumah sakit. Fandi membuka matanya. Ia merasakan kondisi tubuhnya pagi ini semakin tak enak. Rasa nyeri mendera seluruh otot-ototnya. Kepalanya juga terasa semakin berat. Namun, ia memaksakan ke bangun untuk mengambil wudhu dan menunaikan shalat subuh.

Jam di dinding menunjuk angka delapan. Fandi bergegas menuju ruangan khusus penderita covid 19 tempatnya berdinas. Untungnya paviliun yang disulap sebagai tempat para dokter berisitirahat tak jauh dari ruangan khusus. Ia tak butuh waktu lama untuk sampai di ruangan, meski harus menahan nyeri di seluruh tubuh.

"Bro, badanku mulai gak enak, nih," keluh Fandi pada Santosa, rekan sejawatnya yang sama-sama dinas pagi itu.

"Oh, ayo kita tes sekarang," sahut dr. Santosa.

Didampingi seorang perawat, hari itu segala prosedur untuk pengecekan infeksi virus covid 19 segera dilakukan kepada Fandi. Tak berapa lama mereka pun memperoleh hasilnya, positif.

Perasaan sedih menyelimuti hati para dokter dan perawat yang mengetahui kondisi Fandi. Pekerjaan ini memang sangat beresiko, apalagi mereka setiap hari berjibaku dengan para penderita pneumonia akibat virus ganas ini.

Fandi pun harus menjalani isolasi bersama para pasien yang kemarin ia rawat. Setiap hari ia merasa kondisinya semakin menurun. Namun rekan-rekannya tak henti-hentinya memberikan semangat. Demikian pula sang Istri yang telah diberitahu kondisi Fandi, setiap hari ia melakukan panggilan video untuk menyemangati suaminya.

Tepat di hari ketiga, Fandi merasakan kerinduan yang tak tertahan kepada istri dan anaknya. Ia ingin sekali melihat mereka secara langsung.

"Aku ingin pulang sebentar saja, San. Aku ingin melihat Diana dan Dafa di rumah." Fandi mencurahkan isi hatinya kepada dr. Santosa yang sedang memeriksa kondisinya.

"Tapi, Bro, kamu tahu sendiri resikonya buat keluargamu ...." dr. Santosa menatap Fandi dengan hati trenyuh.

"Dari jauh, aku hanya ingin melihat mereka dari jauh, Bro. Siapa tahu ini terakhir kalinya ...." Lidah Fandi kelu untuk melanjutkan kalimatnya.

dr. Santosa menghela napas. Ia sangat paham perasaan rekannya. Ia juga tak tega, kondisi Fandi semakin hari semakin parah. Obat dan perawatan yang mereka berikan seakan tak mampu mengalahkan kekuatan virus dalam tubuh Fandi.

Akhirnya keinginan Fandi dipenuhi. Seorang sopir ambulan di rumah sakit itu bersedia mengantarnya pulang. Dua puluh menit kemudian mereka telah sampai di pintu pagar rumah Fandi. Fandi meraih ponsel di dalam sakunya, lalu menekan nama istrinya.

"Halo, Mas ...." Suara istri Fandi terdengar serak.

"Sayang, aku ingin bertemu kalian, ini sudah di depan pagar. Aku gak masuk, ya. Kamu kasih pengertian dulu sama Dafa."

"Iya, Mas."

Beberapa detik berikutnya, pintu rumah terbuka lebar. Dafa hendak menghambur ke arah Fandi berdiri, tapi segera dicegah oleh ibunya.

"Papaaa ... Papaaa ...!" jeritnya.

Fandi tersenyum. Ia melambai pada anak dan istrinya. Tampak sang istri menyusut air matanya dengan selembar tisu. Mereka tidak berbicara, hanya saling pandang untuk beberapa menit.

"Sayang, aku harus kembali ke ruang isolasi. Jaga dirimu, I love you." Fandi melambaikan tangan sekali lagi.

Istri Fandi tergugu di teras. Demikian juga bocah lelaki kecil itu, menangis lirih. Diam-diam dalam hati ketiga orang yang saling menyayangi itu melangitkan doa, kepada Sang Pemilik Kehidupan. Sejak hari itu pula, Dafa selalu menunggu papanya di depan kaca jendela ruang tamu.

Quote:Kumpulan Cerpen Ina Sendry
ilustrasi

🌻

Sebulan kemudian, sebuah mobil berhenti di depan pagar rumah keluarga Fandi. Seorang lelaki keluar dari dalam mobil.

"Papaaa ...!" Seorang bocah menghambur ke pelukan lelaki itu, diikuti perempuan muda berhijab.

Tamat

Malang, 27 Maret 2020

Quote:Kisah ini hanyalah rekaan penulis untuk mengapresiasi setinggi-tingginya kepada para dokter, perawat, dan mereka yang telah berdedikasi melawan pandemi virus Covid 19. Semoga mereka selalu diberikan kesehatan dan kesabaran dalam menjalankan tugasnya. Dan untuk para dokter yang gugur dalam tugas, semoga diampuni segala salah dan dosanya, serta mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya. Semoga pandemi ini segera berakhir. Aamiin
Diubah oleh InaSendry
profile-picture
profile-picture
profile-picture
TaraAnggara dan 10 lainnya memberi reputasi
11 0
11
Kumpulan Cerpen Ina Sendry
18-09-2019 19:14
keempat
profile-picture
profile-picture
profile-picture
anna1812 dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Kumpulan Cerpen Ina Sendry
18-09-2019 19:14
kelima
profile-picture
profile-picture
profile-picture
masnukho dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Kumpulan Cerpen Ina Sendry
18-09-2019 20:14
etdaah nakutin amat gambarnya, ane lagi mojok numpang wifi😭
profile-picture
profile-picture
profile-picture
anna1812 dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Kumpulan Cerpen Ina Sendry
19-09-2019 07:07
Quote:Original Posted By iissuwandi
etdaah nakutin amat gambarnya, ane lagi mojok numpang wifi😭


Ini udah milih yang paling gak serem, sist. Aku juga takut soale emoticon-Maluemoticon-Ngakak
profile-picture
profile-picture
profile-picture
anna1812 dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Kumpulan Cerpen Ina Sendry
19-09-2019 07:12
Quote:Original Posted By InaSendry
Ini udah milih yang paling gak serem, sist. Aku juga takut soale emoticon-Maluemoticon-Ngakak


Etdaah, pengen bikin tapi kok gini amat ya, koinnya horor klo gak diambilemoticon-Takut
profile-picture
profile-picture
profile-picture
masnukho dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Kumpulan Cerpen Ina Sendry
19-09-2019 07:34
Quote:Original Posted By iissuwandi
Etdaah, pengen bikin tapi kok gini amat ya, koinnya horor klo gak diambilemoticon-Takut


Ayo ayo. Aku juga belom yang itu
profile-picture
profile-picture
profile-picture
masnukho dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Kumpulan Cerpen Ina Sendry
19-09-2019 09:43
hoyoyyyy bookkkk
profile-picture
profile-picture
profile-picture
masnukho dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Post ini telah dihapus oleh azhuramasda
Post ini telah dihapus oleh azhuramasda
Kumpulan Cerpen Ina Sendry
19-09-2019 23:24
Quote:Original Posted By rirandara
hoyoyyyy bookkkk


Heleh, mosok se, ra?
profile-picture
profile-picture
profile-picture
masnukho dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Kumpulan Cerpen Ina Sendry
19-09-2019 23:31
Quote:Original Posted By kamujahat.21.
cerpennya mayan bagus


Makasih, gan
profile-picture
profile-picture
profile-picture
masnukho dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Kumpulan Cerpen Ina Sendry
20-09-2019 04:52
Quote:Original Posted By InaSendry
Heleh, mosok se, ra?


Lah, kadar kehororan kita beda, na.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
masnukho dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Kumpulan Cerpen Ina Sendry
20-09-2019 12:31
Quote:Original Posted By rirandara
Lah, kadar kehororan kita beda, na.


emoticon-Ngakakemoticon-Ngakak
profile-picture
profile-picture
profile-picture
masnukho dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Kumpulan Cerpen Ina Sendry
20-09-2019 13:31
emot itu mengingatkan pada bokir
Diubah oleh rirandara
profile-picture
profile-picture
profile-picture
masnukho dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Kumpulan Cerpen Ina Sendry
20-09-2019 15:06
lanjut mbak

emoticon-Takut
profile-picture
profile-picture
profile-picture
masnukho dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Kumpulan Cerpen Ina Sendry
21-09-2019 21:01
Quote:Original Posted By rirandara
emot itu mengingatkan pada bokir


Kalo ingat bokir ingat film suzanna juga
profile-picture
profile-picture
profile-picture
masnukho dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Kumpulan Cerpen Ina Sendry
21-09-2019 21:01
Quote:Original Posted By liverd
lanjut mbak

emoticon-Takut


Hayuuuk
profile-picture
profile-picture
profile-picture
masnukho dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Halaman 1 dari 9
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
you-made-me-love-more
Stories from the Heart
the-perfect-darkness
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia