alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d7fbfc2018e0d6d4b588e8a/cerpen-fantasi-arthur-dan-bandit-putih-petualangan-di-dunia-kartun
Lapor Hansip
17-09-2019 00:00
[Cerpen Fantasi] Arthur dan Bandit Putih (Petualangan Di Dunia Kartun)
Past Hot Thread
[Cerpen Fantasi] Arthur dan Bandit Putih (Petualangan Di Dunia Kartun)


Jika kebahagiaan itu tak ada di dunia nyata maka akan kutorehkan dalam dunia maya dengan tinta imajinasiku.-Arthur-



Sesosok tubuh jangkung bermantel hitam hampir terjerembap di tepi jalan bersalju. Melewati gedung-gedung besar dengan arsitektur renaisans di sisi jalan. Gundukan seputih kapas mulai bertebaran di tepi trotoar. Desember kali ini menjadi musim terdingin dibandingkan tahun sebelumnya. Bahkan pakaian berbulunya tak mampu mengusir gigil di tubuh.


Aroma sisa dari toko roti masih menguar. Lapar menggigit perut. Remaja bernama Arthur itu berjalan gontai menelusuri jalan raya yang mulai lengang. Hanya ada beberapa mobil yang melintas tanpa pejalan kaki, kecuali dirinya.


Arloji sudah menunjukan waktu dini hari. Saat yang tepat untuk menghangatkan diri di depan perapian seraya menyeruput segelas kopi Robusta. Tidak, lebih baik meringkuk di bawah selimut hangat lalu bermimpi menjadi superhero. Ah, lupakan saja! Bukankah Ben, ayahnya telah menyuruh pergi dari rumah. Bosan dengan tingkah konyol remaja tujuh belas tahun itu yang lebih banyak mengurung diri bersama seperangkat alat menggambar digital.


"Setidaknya lakukan hal berguna untuk kehidupanmu. Mencari uang, misalnya, untuk membantu membayar sewa rumah kita!" marah Ben setelah membanting laptop ke lantai.


Layar benda pipih itu retak. Berkedap-kedip tengah sekarat lalu sempurna menghitam. Kertas-kertas sketsa berserakan di lantai. Alat pemindai gambar bernasib sama dengan laptop. Kamar kecilnya terasa semakin sesak. Mirip kapal pecah dihantam badai.


Arthur menggeram, dadanya bergemuruh menahan muntahan lahar kemarahan. Selama ini kecintaanya pada dunia menggambar sudah mendarah daging. Setidaknya itu bisa menjadi pelarian dari sifat tempramental ayahnya sedari kecil.


Pria berjambang itu lebih memilih bercengkerama bersama botol-botol minuman keras dibandingkan duduk bersama anaknya membahas pelajaran di sekolah. Bahkan tak segan mengambil uang tabungan Arthur untuk berjudi. Anaknya sangat heran betapa pria berumur 45 tahun itu sangat membenci hobinya.


"Aku menghasilkan uang dari ini. Setidaknya aku berusaha bernilai di mata ayah!" Arthur akhirnya tak kuat untuk melawan. Tangan kurus itu telah memunguti laptop.


Melihat sikap menantang itu membuat sang ayah semakin beringas. Tangan Ben bersiap memukul Arthur kembali tapi segera ditepis oleh remaja itu.


"Anak kurang ajar! Berani sekali nada bicaramu seperti itu kepada orang tua!"


Tubuh Arthur limbung, didorong kasar ke dinding. Tak ada teriakan kesakitan. Justru ia menyunggingkan senyum miring. Matanya nyalang menembus kornea ayahnya. Kobaran keberanian dan emosi terpampang jelas di sana. Kekerasan fisik baginya sudah menjadi makanan sehari-hari bahkan bertahun-tahun. Ia sudah kebal menjadi samsak hidup.


Pergi dari rumah ini sekarang juga!" teriak Ben seraya melayangkan tamparan kedua. Lima jari itu mendarat telak di pipi Arthur. Mencetak tanda merah di sana tanpa perlawanan.


"Cukup ini terakhir kali ayah menyiksaku. Tak pernah sedikit pun aku diperlakukan seperti seorang anak. Aku akan pergi!" Kata itu terlontar juga dari bibirnya.


Remaja berwajah bulat itu segera mengemasi baju ke dalam tas beserta laptop. Arthur keluar tanpa menoleh sedikit pun pada ayahnya yang tengah mematung di tembok. Pintu luar sudah dibanting kasar. Hening. Badan Ben luruh ke lantai. Ia menutupi wajah lalu meremasi rambut.


"Maafkan ayah, anakku," isak Ben menatap butiran salju di bingkai jendela. Air matanya mengalir kian deras.


Hidup mereka mulai berubah semenjak ibu Arthur meninggal sepuluh tahun lalu. Bisnis retail yang sudah dibangun bertahun-tahun akhirnya kolaps, beberapa bulan setelah kematian istrinya. Tunggakan gaji karyawan dan hutang bank menumpuk. Rumah mewah mereka terpaksa dijual dan Arthur terpaksa pindah sekolah.


Ben sudah beberapa kali melamar kerja. Namun, selalu saja gagal. Sifatnya yang terkadang kasar dan mudah emosi seringkali menjadi keluhan para pelanggan restoran dan toko sepatu. Belum lagi Arthur tak bisa diatur. Ia cenderung hyperaktif semenjak kecil, membuat kekacauan di rumah. Akhirnya Ben kewalahan dan sering memukulinya agar diam. Arthur melunak, tapi berimbas kepada sikap anak lelakinya. Ia cenderung mengurung diri di kamar.


Berjudi dan mabuk-mabukan menjadi pelarian Ben. Ia masih meyakini peruntungannya ada di meja judi tak peduli harus memakai uang anaknya.

***


Sepanjang jalan Arthur mengutuki nasib buruknya. Lahir di tengah keluarga berantakan tanpa kasih sayang seorang ibu, ayah pemabuk, dan sekarang calon gelandangan di tengah kota.


"Benar-benar hidup yang indah," satire remaja itu. Kakinya menendang kasar sebuah kaleng minuman bersoda.


Telepon seluler tiba-tiba berdering. Ia enggan menjawab. Mungkin dari pemilik rumah yang menagih sewa. Suara dari saku mantel masih saja mengganggu. Pria itu bersungut menerima telepon. Ternyata dari Willy, teman SMA-nya.


"Hallo, bisa kamu menolongku, Ar? Kakek kekurangan kartunis untuk film layar lebar RC. Pegawai lama kami meninggal kemarin sore. Tolong datang ke studio kakek secepatnya jika kamu bersedia bekerja dengan tenggat waktu dua minggu," tawar Willy.


"Baiklah akan kupertimbangkan," jawab Arthur singkat lalu menggeser tombol merah di ponsel. Permintaan Willy menari-nari di pikirannya. Ambil atau tidak sama sekali. Mungkin kesempatan tidak akan datang dua kali di tengah kondisi ini.


Angin dingin mulai bertiup kencang. Tubuh remaja beralis cokelat itu duduk di sisi trotoar. Sejenak mengamati ranting kering di seberang jalan, meranggas persis seperti hatinya saat ini. Tas hitamnya tergeletak di sisi jalan. Ia meringkuk menahan gigil sekaligus kelaparan. Salju mulai turun deras menyelimuti kota.

***


Subuh hari Arthur bertemu Willy di studio menggambar RC. Badannya sudah sepucat kapas ketika sampai di bangunan dengan pilar-pilar tinggi dan besar. Lantai terbuat dari marmer putih dengan ornamen klasik, dan dinding lebih didominasi pelitur berwarna woody.


Kakek Willy adalah pemilik Rumah Produksi kartun terbesar di kota mereka. Pria berusia 70 tahun itu tersenyum ramah. Wajah tuanya kagum dengan kumpulan sketsa gambar di laptop Arthur, nyaris seperti hidup.


Untung hanya layar benda pipih miliknya saja yang rusak separuh, tapi tidak dengan harddisk dan data di dalamnya. Beberapa sketsa masih utuh dan langsung disalin ke dalam flashdisk milik Willy. Dua jempol Willy mengacung pada Arthur.


Pria tua itu mengangkat remaja itu sebagai tenaga magang setelah menyelesaikan wawancara. Senyumnya lebar saat mempersilakan Arthur menempati salah satu kamar kosong selama bekerja.


"Selamat, Ar. Semoga beruntung." Willy menjabat tangan dingin Arthur."


"Terima kasih, Kawan," ucap Arthur di sela perut yang berbunyi meminta makan. Mereka berdua tertawa.


Malam hari di tengah mereka makan malam bersama dan berbincang-bincang tentang tokoh kartun, tiba-tiba wajah pria beruban itu mendadak serius.

"Anggap saja ini studiomu, Nak. Lakukan apa pun yang kau mau tapi tidak dengan memasuki ruangan di ujung lorong kamarmu." Suara pria beruban itu menghentikan suapan roti Arthur.


"Kenapa, Tuan?" tanya Arthur penasaran. Raut wajah Kakek Willy berubah. Kali ini ia menatap tajam anak si seberang mejanya. Ia hanya tersenyum aneh tidak menjelaskan sebabnya. Hanya dari tatapan tajamnya, Arthur yakin ada suatu rahasia.


Hari kedua saat bergadang menyelesaikan proyek, Arthur mendengar bunyi pintu yang berderit seperti dimainkan angin saat keluar dari toilet.


Rasa penasaran mengalahkan larangan Kakek Willy. Tak ada hal aneh ketika ia mengintip dari daun pintu, gelap di dalam sana. Saat tubuhnya berbalik ada sebuah suara memanggilnya.


"Arthur ... Arthur ke marilah ...!"


"Ah, mungkin aku salah dengar," katanya seraya mengucek telinga. Arthur menguap. Tangannya sudah terentang mengusir kantuk. Pekerjaannya masih banyak.


Tak sengaja ia menyenggol sebuah lukisan Kakek Willy. Gambar sebuah kota dengan bangunan gedung hancur.


Sesuatu terjatuh tepat di kakinya. Benda keemasan, bersayap dengan ukiran sisik naga. Di tengah lingkaran naga menempel batu rubi hitam. Ujung depan seperti kunci biasa sedangkan pangkal berbentuk tabung. Ketika pria itu membuka tabungn sebuah mata pulpen tersembul di dalamnya.


[Cerpen Fantasi] Arthur dan Bandit Putih (Petualangan Di Dunia Kartun)


Mungkin ini isyarat bahwa ada sesuatu di dalam ruangan tadi. Arthur berbalik lalu masuk ke ruangan. Kunci tadi sudah disimpan di dalam saku celananya. Ia menyalakan tombol lampu dan ....


Wow! Ruangan dipenuhi dengan gambar karakter kartun rumah produksi Kakek Willy yang sering dilihatnya di televisi. Mulai dari debut film pertama hingga sekarang. Lebih mirip musium mini. Ada beberapa rol film, komik, dan kaset kartun tertata apik di dinding hijau cerah.

Remaja itu mengagumi satu persatu tokoh di dalam peti kaca transparan. Arthur memang lebih berminat kepada karakter seorang Villain. Baginya sisi gelap seseorang lebih manusiawi. Ah, hatinya perlahan menggelap semenjak tumbuh tanpa kasih sayang.


Tangannya mengusap-ngusap kaca, membayangkan bisa menyentuh tokoh-tokoh di dalam sana. Netranya beralih pada bingkai kotak. Ada tulisan bertipe 'Roman Antique'. Seperti bahasa latin dengan tulisan CREATAM VIRTUTEM.*


"Hei, bukankah ini lubang kunci?" hampir saja ia berteriak melihat pojok kanan bawah peti kaca. Lekas ia menutup mulut. Sadar jika suara besarnya dapat memancing orang lain datang.


Ia teringat benda di saku. Mungkin cocok untuk membuka kotak besar transparan ini. Tangan kurusnya memutar kunci ke kanan hingga mengeluarkan bunyi 'klik'.


Kotak besar terbuka dengan kemilau indah. Cahayanya berpendar menerangi ruangan. Arthur terpukau apalagi gambar di dalamnya seolah-olah bergerak.


"Ini menakjubkan!" pekiknya antusias.


Namun, kekaguman itu lenyap seketika, berubah menjadi kepanikan. Angin kencang menerpa tubuh remaja itu. Badannya tersedot ke dalam kotak. Berpilin masuk dalam pusaran gelap. Ia merasakan pusing tapi masih dapat melihat seberkas cahaya di ujung sana.

***


Brugggh!


Tubuh jangkungnya mendarat pada sesuatu yang empuk, sebuah jok. Badannya oleng ketika merasakan kendaraan bergerak dengan laju.


"Ini seperti sebuah mobil," batin Arthur ketika selintas melihat dashbor di depan. Tangannya gemetar seraya memegang gagang di pintu mobil berwarna biru metalik.


[Cerpen Fantasi] Arthur dan Bandit Putih (Petualangan Di Dunia Kartun)
pic by mdsspot


Kendaraan semakin melaju sepersekian detik, mungkin mengunakan tenaga supersonic. Remaja berambut ikal itu tak dapat melihat jelas siapa si pengemudi. Pikiran Arthur fokus untuk menyeimbangkan badan.


Gigi-giginya bergemeletuk dengan bibir terus bergerak, rambutnya sudah meriap-riap diterbangkan angin kencang. Saking takutnya ia mensugesti ini hanya mimpi kemudian menutup mata. Tanpa terasa tertidur dalam ketakutan.


Seember siraman air es membangunkan Athur. Ia terkesiap, perlahan kesadarannya muncul.


"Hei, kenapa tubuhku kaku?"


Tubuhnya meronta-ronta. Ototnya terasa kebas. Sebuah llitan tali tambang membelenggunya di meja panjang. Ia berada di sebuah ruangan kecil dengan cat biru pupus dan sebuah lampu neon yang sudah berkedap-kedip, mungkin sebentar lagi akan mati.


"Siapa kau?!" bentak seseorang di hadapannya. Pria bertopi dengan wajah mempunyai goresan panjang akibat sabetan pedang. Hampir moncong SS Subsonic-nya mengarah ke wajah Arthur.


Ia kenal dengan sosok itu, Matriz. Si penembak jitu di film Kelompok Bandit Putih yang tayang beberapa bulan lalu.


"Katakan! Berani sekali kau menyusup ke dalam mobil bosku," bentak Matriz lebih gahar. Ia bersiap menekan pelatuk.


"Hei, kenapa serius sekali, Teman? Kita baru saja memulai pesta. Hahaha ...." Seorang pria muncul dari punggung pria bertopi. Wajahnya penuh totol merah mirip orang terkena cacar. Rambut dicat biru terang.


Ia tengah bertelanjang dada dengan memamerkan tubuh dan lengan bertato bertuliskan 'Kebebasan'. Gigi bertaringnya berkilat ditimpa cahaya lampu. Bukankah ia .... Alarm di dalam diri Arthur menyala.


"Kau masih belum mengaku, Bocah. Baiklah mungkin alat kejut listrik ini dapat menyegarkan otakmu." Pria bertotol mengambil sebuah alat berlempeng besi. Ketika benda pipih itu saling didekatkan percikan api keluar dari sana.


Arthur semakin ketakutan. Tidak sadar ia telah mengompol di atas meja. Entah kenapa sulit sekali berbicara. Ia tengah terjebak di dunia kartun namun seperti nyata. Beragam pikiran di kepalanya masih mencari cara agar terhindar dari maut.


Sikap mencicit Arthur justru semakin memancing gairah pria di depannya. Ia menyengir senang. Beberapa senti lagi benda itu mendekati sisi kepalanya. Seketika suara Arthur bebas dari mulutnya, ia berteriak,


"Hentikan Mr. Xionto, Matriz! Aku akan mengaku. Aku mohon jangan siksa aku!"

Pria bertato bernama Xionto itu mengurungkan niatnya. Mimiknya berubah heran begitu juga pria di sebelahnya. Ia menatap Matriz seperti bertelepati.


"Kau tahu tahu kami?" tanya Matriz penuh selidik.


Arthur mengangguk cepat. Setidaknya tanda aman mulai tampak. Ia pun bercerita meski dengan kondisi terikat dan terbata-bata. Mr. Xionto bukanlah orang yang mudah percaya begitu saja. Bau pesing mulai menguar di ruangan. Tak mengubah ekpresi datar bos bandit itu.


Siapa sangka cerita Arthur berbuah simpati kelompok bandit. Perlahan kedua pengacau mulai paham tentang dunia manusia dan cara bocah–sebutan untuk Arthur memasuki dunia mereka. Apalagi ia sangat kentara menunjukan ketertarikan pada ketua Bandit Putih. Matriz melepaskan tali di tubuh remaja itu. Ada kelegaan di wajahnya. Inilah awal mula mereka mulai berkomplot.


Remaja itu semakin menikmati dunia berbeda bersama teman barunya. Idolanya tak seperti sosok kejamnya di dunia kartun, pria bertato itu lumayan menyenangkan, loyal dan memanjakannya. Meski tak segan-segan bertindak kasar terhadapnya jika tidak menuruti perintah. Itu tak jadi masalah bukankah Arthur sudah kebal dengan perlakuan kasar.


Hal lain terjadi. Kunci bermata rubi mulai menunjukan keajaiban saat tak sengaja ketika Arthur menggambar sketsa. Lukisan itu menjadi hidup. Hingga akhirnya mereka menciptakan beragam kekacauan di kota animasi–Paintown melalui tangan Arthur.


Pertama kali mengikuti misi, Arthur menggambar tabung berisi cairan TXT88, larutan yang dapat mengubah manusia berwajah setengah alien ketika meminumnya.


Mr. Xionto tertawa terbahak-bahak melihat hasil kerja anggota baru mereka. Manusia Baja–sang Super Hero bahkan mulai melakukan pengejaran terhadap kelompok pengacau itu tapi berbuah nihil. Arthur telah membuat selubung tak kasat mata untuk mobil mereka.


Semakin hari Arthur merasakan gairah baru. belajar untuk meneror orang lain. Ia senang saat melihat orang lain menderita. Beberapa kali ia bertindak sendiri dengan membuat robot raksasa untuk mengancurkan infrastuktur kota.


"Hanya iseng. Hehe," jawabnya seraya menyeringai kepada Manusia Baja yang telah menangkapnya. Sosok remaja itu tiba-tiba menghilang setelah diborgol. Microchip ditangannya telah membantu untuk berteleportasi.


Seiring peningkatan keahlian remaja itu, Mr. Xionto semakin memanfaatkannya. Memporsir pikiran dan tenaga si bocah untuk menciptakan keajaiban. Entah itu senjata, kendaraan, bahkan tokoh baru penjahat untuk melengkapi anggota Bandit Putih.


Mr. Xionto berniat merebut kunci dari Arthur. Ia berambisi untuk menguasai dunia termasuk dunia nyata. Hal itu membuat Arthur gusar. Cukup di dunia kartun beragam kekacauan mereka buat. Apalagi ia sempat melihat seorang ibu meninggal demi menyelamatkan anaknya. Hati kecilnya mulai terketuk.

***


Arthur sudah melarikan mobil subsonic dengan memegang kunci rubi hitam. Matriz terus menerus membabi buta menembaki mobil si bocah pengkhianat–hasil sabotase tadi siang. Sebuah peluru hampir saja bersarang di kepala Arthur jika tak mengelak. Mobil mereka berkejar-kejaran di udara. Seperti lintasan kilat beradu di angkasa.


Jika mobil subsonic dianalogikan seperti mesin waktu maka kunci padanya adalah pembuka portal dimensi lain. Hal yang dipahami remaja itu ketika berulang kali ingin gagal saat melarikan diri. Hanya perlu perhitungan relativitas yang tepat agar ia berhasil lolos, begitu yang diingatnya tentang teori Albert Einstein di sekolah.


Napas Arthur tersengal ketika tubuhnya sudah berada di depan pintu kamar rahasia. Ia berhasil keluar dari portal. Lain kali ia tidak akan memasuki suatu tempat tanpa izin pemiliknya.


Dunia villain bukanlah hal menyenangkan baginya. Justru menjadi petaka dengan nyawa sebagai taruhan. Arthur teringat tugas yang belum selesai. Ia bergegas kembali ke kamar.


Pukul dua belas malam saat semua karakter kartun sudah selesai, ketika cangkir kopi terakhirnya tandas diminum, sesosok tubuh sudah berada di belakang remaja itu.


Ia tersenyum miring kepada si bocah dengan membawa senjata, bersiap menembakinya dari ambang pintu kamar. Sekarang sosok itu menyeringai. Arthur sadar ia melakukan kesalahan fatal, lupa mengunci kotak kaca kembali.

"Pergilah ke neraka, Bocah!" teriak Xionto seraya membidik dada remaja di depannya.


Peluru rudal balistik–ciptaan terakhir Arthur–meluncur, tepat mengenai jantungnya. Seketika ia merasakan panas. Ruangan tiba-tiba merah dan terbakar. Api berkobar di mana-mana. Ia merasakan sakit luar biasa dan tubuhnya perlahan melumer seperti es krim.

***


Bau obat perlahan tercium di hidung Arthur. Perlahan kesadarannya pulih.Ada sentuhan hangat di tangannya.


"Ayah ...," lirihnya menatap sosok yang duduk di sebelah tempat tidur.


"Iya. Ayah di sini, Nak. Maafkan ayah telah menyakitimu selama ini." Ben mengelus rambut anaknya. Hatinya tergugah melihat wajah pucat itu lekat-lekat. Betapa ia telah menyia-nyiakan harta berharganya selama ini.


Sudah tiga hari buah hatinya dirawat di rumah sakit. Ben panik mencari keberadaan anaknya. Tubuh Arthur ditemukan tengah pingsan karena kedinginan oleh seorang pejalan kaki. Tepat di depan gedung studio kartun yang terbakar empat hari lalu. Menewaskan seorang kartunis, pemilik gedung, dan cucunya bernama Willy.(*)


Catatan:
*CIPTAKAN KEAJAIBAN.


21 Februari 2019
Adeline Nordica

Quote:Baca juga cerpen lainnya di sini:
👉[Cerita Misteri] Nifas (Dendam Seorang Kuyang)

👉[Cerita Misteri] Bangket Menaon

👉[Cerpen] Anjing Kurap

👉[Cermis] Teror Setan Penunggu Gunung Gosong
Diubah oleh AdelineNordica
profile-picture
profile-picture
profile-picture
yash15 dan 6 lainnya memberi reputasi
7
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 3
17-09-2019 08:52
[Cerpen Misteri] Nifas
Cover


Quote:Harum bayi itu sendiri yang mengundangku. Menguar hingga ke rongga hidung. Menggelitik hingga ke syaraf lidah. Pasti lezat. Slrupp! Laparku seketika terbit.


🌛🌛🌛


Sore hari di tahun 1970-an.
Menjenguk teman dekat selepas melahirkan, menimbulkan sensasi tersendiri bagiku. Ada gairah tersulut begitu datang. Aroma jamu, telon, dan wangi tubuh bayi itu sendiri menggelitik hidung.


Sempat kulihat perut Diah yang masih membesar. Sesekali aku mengajaknya berbincang agar tak kentara begitu kuraba daster bermotif kembang itu. Gumpalan kenyal dan merah pekat masih bersarang di sana. Belum sepenuhnya keluar. Kasihan. Pasti ia akan pusing beberapa hari ke depan.


Sore merangkak malam. Kulihat jam dinding dengan bantuan cahaya lampu petromak di tengah ruang. Sudah pukul sepuluh. Para tamu satu persatu mulai pulang. Menyisakan buah tangan yang menggunung di dalam nampan besar, tak jauh dari si ibu.


Langkah mereka menimbulkan derit dari rumah panggung ini. Mak Imah, dukun beranak sudah menuruni anak tangga dibantu Lamin, suami Diah. Ia akan mengantar pulang wanita paruh baya itu ke kampung sebelah. Cahaya purnama sepertinya memperlancar perjalanan mereka.


Hening sejenak. Hanya desau angin masih terdengar dari jendela yang sengaja kubuka. Sesekali muncul gemerisik dari pohon sukun di samping rumah. Diah dan anaknya sudah tertidur pulas di dalam kelambu. Sementara aku masih mengipasi badan dengan kipas bambu. Aku begitu gerah dan lapar. Membantu persalinan Diah membuatku lupa makan seharian.


"Kau mau ke mana, Diah?" tanyaku saat ia keluar dari kelambu. Langkahnya tertatih. Masih berpegangan ke dinding kayu.


"Perutku mulas. Seperti ingin buang air besar. Kepalaku juga berdenyut sedari tadi."


"Hati-hati. Kau mau kubopong?" tawarku bangkit dari duduk.


"Tidak usah. Aku titip anakku, Yuk." Ia sudah berjalan ke belakang. Tapal di kepalanya masih belum dilepas. Aku kembali duduk dan berkipas.


"Kasihan kau Diah. Benda itu masih tertahan di dalam sana. Sangat banyak. Nanti aku aku membantumu," bisikku seraya menyeringai.


Tiba-tiba bayi mungil itu menangis. Perlahan aku mendekati tilam, menggendong tubuhnya dengan hati-hati.


"Hmmm... harumnya kau, Nak." Aku menimang-nimang bayi perempuan ini agar tangisnya reda. Ia terdiam, tapi matanya justru melototiku.


"Tidak sopan menatap orang tua seperti itu." Aku menowel hidungnya, gemas. Reaksi tadi membuat tubuhnya mengejang. Tangisnya semakin melengking. Senyum terbit di bibir ini. Kulit putih selembut kapas dan kenyal. Ah, otakku sudah membayangkan lebih dari itu. Pasti ... manis.


Pikiranku mulai nakal. Kujumput jemarinya, mengelus-elus pelan. Aduhai bagaimana rasanya di mulutku. Seringaiku semakin lebar. Kurasakan darah mulai menggelegak. Mataku perih.


Denyut persendian semakin kuat. Deru napas semakin memburu. Sinar bulan sempurna menimpa tubuhku. Bayi tadi kuletakkan kembali dengan tubuh mulai berlendir. Perlahan mulutku komat-kamit. Rapalan mantra turun temurun mulai bereaksi di tubuh.


Crasssh!

Tubuhku terpisah. Saatnya melahap santapan malam.


🌛🌛🌛



Diah masih meringis seraya memegang perutnya di wc. Sudah setengah jam kutunggu tak ada gelagat ia selesai. Bulir-bulir keringat menetes di dahinya. Setelah mengintip, aku menjilat-jilat rinsa'* dari celah lantai kayu. Bilik ini selain bertiang bawah tinggi, juga memudahkanku melancarkan aksi karena dindingnya bersusun sirih dan lantai yang renggang. Letaknyapun lima meter dari rumah. Jadi, kuyakin Diah tak mencurigai berisik yang kubuat tadi.


Hausku semakin menjadi. Aku belum puas dengan makanan sebelumnya. Tak sabar menunggu lebih lama, kudobrak pintu yang hampir rapuh. Langsung kusergap Diah. Ia histeris, bangkit dari jongkok dengan daster tersingkap. Wajahnya pias menahan takut. Gelagapan. Tangannya bergetar mencari pegangan.


Mataku langsung berbinar. Sasaran ada pada pahanya yang dilelehi darah. Dahaga ini akan hilang jika sudah menyedot cairan kental itu langsung dari sumbernya.


"Jangan Yayuk. Kau sahabatku ...!" Suara itu sayup terdengar di telinga sebelum ia tergeletak kehabisan darah.


Gumpalan-gumpalan itu pun kusedot seperti melahap agar-agar. Nikmat. Tepat saat kudengar suara Lamin berteriak nyaris seperti lolongan. Ia meratapi bayinya yang sudah kucabik-cabik.


Aku tertawa puas. Tubuhku melayang di antara pohon sukun dengan usus terburai. Tersenyum menikmati sinar rembulan di atas sana. Kulesat kepala ini menuju jendela kamar, tempat bayi tadi meregang nyawa.


Sasaran terakhirku pada Lamin, pria jahanam itu. Matanya sembab menahan tangis. Ia melontarkan sumpah serapah. Bahkan kata-kata berlabel binatang tak luput dari bibirnya.


Lamin terseok memegang tiang rumah. Matanya masih beralih pada tubuh bawahku yang tergeletak tak jauh dari mayat anaknya. Seluruh kekuatan ia kumpulkan. Matanya tiba-tiba menyalang marah. Secepat kilat ia mengambil parang yang disisipi di dinding ruang tengah.


"Percuma kau memotongnya, Lamin. Kenapa tidak kau hadapi aku seperti ini." Aku melesat ke depannya. Lamin terkesiap sebentar. Lalu menatap geram ke arahku.


"Perempuan iblis. Kau harus mati, baik!" amuknya. Ia bersiap mengayun parang ke arahku. Bersiap membelahku menjadi dua.


Dengan kekuatan magisku, kedua tangannya kaku. Parang panjang tadi terpelanting ke sudut kamar begitupun Lamin. Ia terkejut, mundur beberapa langkah dengan wajah pias, meringis menahan sakit di pergelangan tangan.


"Kau yang harusnya mati! Karena perbuatanmu aku menjadi yatim piatu lima tahun lalu," teriakku penuh amarah.


🌛🌛🌛


Lima tahun lalu.
Aku teringat kejadian saat baru pulang bekerja dari kota. Langkah gembiraku dengan membawa sebungkus oleh-oleh seketika terhenti. Mataku terbelalak menatap kobaran merah di seberang jalan setapak di sebelah hutan. Bungkusan itu terlepas begitu saja. Aku berlari pada jarak yang kubisa.


Saat itu aku begitu ketakutan dan bersembunyi di balik rimbunnya semak di hutan. Tubuhku menggigil. Bergetar hingga ke seluruh tubuh. Ingin aku berlari dan menolong orang tuaku. Namun, saat itu aku masih pengecut. Apalah daya gadis ingusan berusia tujuh belas tahun kala itu. Ringkih dan lemah. Hanya bisa meratap dan menangis di dalam hati melihat kebiadaban.


Asap tebal sudah membumbung hingga ke atap sirap rumah. Kobaran api sudah menjilati tiang hingga dinding. Teriakan pilu orang tuaku yang meminta tolong sayup-sayup kudengar di antara kobaran api yang kian mengganas. Warga yang menyaksikan tak berani berkutik. Satu, dua orang sempat melawan si pembakar, tapi akhirnya harus jatuh tersuruk ke tanah. Dua anak buah bertubuh kekar sudah menerjang dan membuat mereka babak belur.


"Siapa lagi yang merasa sok jagoan? Berani melawan Lamin. Sudah siap kuakhiri nyawanya sekarang juga?!"


Mata Lamin, ketua jagal mentap nyalang ke arah warga. Satu persatu ia memindai sekelompok orang di depannya. Barangkali ada yang berani untuk uji nyali melawannya. Tubuh beberapa warga beringsut. Tak ada yang berani bersuara. Lamin tersenyum culas.


"Kalian berdua ikut aku. Tinggalkan tempat ini. Aku harus segera melaporkan hal ini ke bos besar," perintahnya kepada kedua pria berbadan besar tadi. Dengan enteng mereka melangkahi dua warga yang sudah tak berdaya, tergeletak di tanah.


"Cuih! Rasakan. Jika kalian suka rela menuruti keinginanku, tentunya aku berbaik hati memperpanjang nyawa kalian." Lamin meludah setelah berbalik sejenak menatap rumah yang sudah dilalap si jago merah. Senyum liciknya terkembang.


Lamin berlalu dengan gaya pongah. Kedua pria berbadan besar mengekorinya. Disusul ketiga orang yang berhasil membakar rumahku. Sosok mereka perlahan menjauh hingga tak terlihat di balik rimbunnya pepohonan.


Ya, hari itu aku memang tak bisa melawan. Namun, tekatku sudah bulat untuk membalasnya di suatu masa. Aku masih punya sesuatu yang sebelumnya sempat diwariskan oleh orang tuaku. Dendamku telah menyatu dalam aliran darah.


"Tunggu pembalasanku, Lamin," desisku penuh amarah dengan tangan mengepal.


🌛🌛🌛



"Kau ..." Perkataannya terhenti di udara. Ia mengingat-ingat seraya memandang wajahku lekat-lekat. "Ahaha ... keluarga miskin itu punya anak rupanya. Pantas wajahmu mirip bapakmu itu. Cuih! Ternyata kalian juga keturunan setan." Lamin kembali beringsut. Pria berkumis lebat itu bangkit.


"Kau yang setan! Demi beberapa kapling tanah yang akan kau jual ke cukong, kau dan anak buahmu tega membakar orang tuaku hidup-hidup."


"Ah, peduli amat dengan keluargamu!" teriaknya lalu terhenti seketika. "Diah, di mana Diah?" Ia baru sadar istrinya sudah tak ada di sini.


"Ahahaha. Nasibnya sudah sama seperti anakmu. Mati!" Aku tertawa mengejeknya.


"Keparat kau, Yayuk!"


Lamin menyerangku dengan kalap. Kepalaku menghindar gesit kecepatan tangannya. Jurus-jurus bela diri ia kerahkan untuk membunuhku. Satu, dua berhasil kuelak hingga ...


Aku melolong kesakitan ketika segumpal rambut panjangku berhasil ditariknya dari kulit kepala. Darah menetes di tikar pandan kamar. Kukejar Lamin yang sudah mengambil tombak yang biasa digunakannya untuk berburu ikan. Pria bertubuh tegap itu kembali menyerang. Aku tak sempat menghindar.

"Argggh!" Mata kiriku terkena ujung tombak. Perih. Pandanganku seketika kabur. Ia tertawa puas melihatku kesakitan.


Aku terdiam sejenak. Kembali amarah dan dendam menguasai diri. Kelebat masa lalu bahagia keluargaku tergambar di pelupuk mata. Darahku menggelegak naik hingga ke ubun-ubun. Kurapalkan mantra sakti terakhir. Aku tahu risikonya jika digunakan akan berakibat fatal pada tubuhku nanti. Hawa kamar berbuah mengerikan. Suara katak bangkong dan hewan lainnya mendadak sunyi.


"Arggghh!" Lamin berteriak kesakitan setelah ilmu secepat cahaya tadi kukerahkan. Aku semakin kalap membuatnya menderita dengan luka di sekujur tubuh, penuh cabikkan. Ia tergeletak di sebelah jasad anaknya.


Kekuatan itu tak dapat kubendung lagi. Terakhir, mataku tertuju pada dada yang kembang kempis sesak bernapas. Aku menyerang membabi buta. Dada dan perutnya kukoyak hingga isinya terburai. Lamin tak berontak karena sudah tak bertenaga. Ia mati menyusul anak dan istrinya.


"Rasakan kau, Lamin. Ini balasan atas perbuatanmu dulu. Ahaha ...."


Ujung lidahku menjulur, menikmati sisa lelehan kental di pipi. Puncak amarah sudah tunai malam ini. Tangis bahagiaku membuncah.


Simpai keramat, itulah aku. Generasi mantra dan wujud setan ada di tangan ini. Tak boleh berakhir begitu saja. Besok aku akan berpindah tempat sekaligus mencari calon pengantinku. Hingga saatnya warisan ini berpindah tangan pada anak-anakku nanti. Apa kalian bersedia menjadi suamiku?


-End-

17 Agustus 2019
Adeline Nordica

Catatan:
*Rinsa'= Darah nifas
Diubah oleh AdelineNordica
0
17-09-2019 14:50
[Cermis] Bangket Menaon
[Cerpen Fantasi] Arthur dan Bandit Putih (Petualangan Di Dunia Kartun)



Malam kian larut. Lolongan anjing saling bersahutan dari luar jendela. Mengalahkan dengung kipas yang hampir apkir. Kulihat sebentar beker di atas meja belajar. Sudah pukul sebelas lewat tiga puluh malam. Aku sedang serius membaca novel horor yang baru dibeli tiga hari lalu di pasar loakan. Menceritakan tentang sosok wanita pencari perjaka sebagai tumbal ilmu hitam.


"Argggh! Menyebalkan," marahku ketika suara berisik anjing kian mengganggu. Bacaanku terhenti karena hilang konsentrasi. Kutaruh novel lawas itu dengan posisi terbuka.


Aku beranjak dari kasur. Berjalan malas ke arah jendela yang sudah tertutup. Kusingkap tirai tipis merah muda bermotif kupu-kupu lalu perlahan kubuka daun jendela. Hening. Ke mana gerombolan anjing gaduh tadi? Tak ada seekor pun terlihat di sana. Sejauh mata memandang hanya terdapat pekatnya rimbunan pohon karet di samping rumah. Gelap dan mendebarkan. Aku mengedikkan bahu. Merasa tak ada keganjilan berarti. Tiba-tiba angin dingin menerpa wajah. Hanya sekilas. Sempat meriapkan rambut sebahuku. Membuatku terkesiap sejenak.


"Ah, sudahlah. Lebih baik aku melakukan kegiatan lain," kataku seraya menutup jendela dan menarik tirai ke tempat semula.


Langkahku menuju meja belajar di samping jendela. Membuka buku folio bergaris yang sudah seharian tak terjamah. Kumpulan tulisan legenda urban dari daerahku.


Mungkin sebaiknya aku menulis cerita romantis. Hah! Romantis? Sejak kapan jiwa dinginku memikirkan cinta. Ngawur!


"Hmm ... cerita cinta kunti di kebun karet." Aku terkekeh pelan, menggetok kepala beberapa kali. Menertawakan ide anehku. Mainstream sekali.


Coret. Aku kembali menulis sebuah judul. 'Kompetisi kepala terbang para kuyang dengan kecepatan lebih dari 120 km/jam.'


"Ish. Kenapa horor lagi. Tidak bosan apa?" rutukku pada diri sendiri. "Ayo Yanti pikirkan cerita yang membuat pembaca penasaran.


"Coba nuan tulis, mabes manok idup-idup dalam sepuluh menit."* Sebuah suara sengau mengagetkanku.

[Cerpen Fantasi] Arthur dan Bandit Putih (Petualangan Di Dunia Kartun)
pic by tokopedia


Uh, bau apa ini?! Pahit sekali bercampur busuk. Mirip bau comberan. Keliru. Ini seperti bau bangkai. Huekk! Perutku mulai bergejolak. Mual seketika menyergap. Aku mengibas-ngibas telapak tangan di sekitar hidung. Pening menyergap kepala. Untung saja aku tidak limbung saking tak kuat menahan aroma tak sedap itu.


Rombongan langau mulai berterbangan di sekitarku. Bergerombol di sebelah meja belajar. Membentuk formasi melingkar. Tepat di depan jendela.


Ah, sial. Aku baru ingat sendirian di rumah. Ibu dan adik sedang pergi ke acara keluarga di kampung seberang. Jadi, suara siapa tadi?


Bulu romaku meremang. Teringat desas-desus selama dua minggu ini. Suara lolongan anjing kembali terdengar. Kali ini diiringi suara berisik ayam peliharaan mamak. Hanya dua meter jaraknya dari kamarku. Bau itu sudah samar-samar tercium.


Tubuhku mulai gemetar. Aku mulai beringsut ke arah kasur. Menulis cerita mistis memang kegemaranku, tapi berhadapan langsung seperti ini bukanlah yang diinginkan.


Mataku masih tertuju ke jendela yang tertutup. Sayup-sayup terdengar suara ayam yang tengah sekarat. Suara berisik dari kandang dan lolongan anjing sudah reda.


"Habislah sudah ayam-ayam mamakku."


Aroma busuk kembali hadir. Kali ini jauh lebih dasyat dari sebelumnya. Tirai menari seperti dipermainkan angin. Sosok itu semakin lama semakin jelas wujudnya. Kakek-kakek beruban dengan rambut kusut masai. Mata cekung seakan ingin meloncatkan kedua bola mata itu dari rongganya. Pipinya tirus. Belahan di bawah hidungnya tak ada. Tubuh ringkihnya bergoyang seperti dipermainkan angin. Ia menyeringai ke arahku seraya melambaikan tangannya. Mulutnya sudah penuh dengan darah dan bulu ayam.


Ya Allah, bangket menaon Apai Madan sudah sampai ke sini. Apa mungkin ia menyeberang seperti cerita para tetangga? Ikut rombongan motor klotok tanpa disadari ketika magrib tiba atau berkayuh sendiri menyeberangi sungai.


Bangket menaon adalah sebutan untuk hantu yang diyakini berasal dari arwah
penasaran seseorang yang punya ilmu hitam semasa hidupnya, dapat juga bencong (waria) yang meninggal penasaran. Disebut menaon karena baunya yang busuk seperti bau bangkai berusia puluhan hari. Sumber: Serapah Dalam Masyarakat Melayu Kampung Saigon Kota Pontianak hl. 24.


Jika di siang hari ia tergolek lemas seperti orang sekarat. Bahkan hidup segan mati tak mau, maka di malam hari ia segar bugar layaknya orang tak pernah sakit apapun. Bangket menon ini gemar memakan ayam hidup-hidup.


[Cerpen Fantasi] Arthur dan Bandit Putih (Petualangan Di Dunia Kartun)
Ilustrasi mayat hidup. Pic by suargrid.id


Menurut cerita nenek, pria hampir berumur sembilan puluh tahun, penganut ilmu hitam itu sudah memulai teror di kampungku. Ia dulunya rela bersekutu dengan setan demi ilmu pengasihan dan disegani banyak orang sebagai preman pasar. Berburu mayat bayi yang meninggal di malam jumat kliwon.


Kemudian bersama dukun menggali kubur. Penuh keberanian menggigit langsung lidah mayat si bayi lalu meramunya dengan mantra hingga menjadikannya minyak pelet. Tak lama namanya menjadi buah bibir di kampung sebelah hingga merembet ke kampung-kampung lainnya. Termasuk kampungku. Minyak ini yang nantinya disebut minyak lidah bayi.


Tubuhku langsung tersuruk masuk ke dalam selimut, ketakutan. Lemas disekujur badan. Kepalaku berdenyut tak karuan.


"Tenang, Yanti. Ingat pesan almarhum kakekmu ketika bertemu makhluk jadi-jadian seperti ini."


Tanganku sudah menengadah. Ayat kursi dan surah mu’awwidzaat (Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas) berulang kali kulantunkan hingga hatiku tenang lalu mengusapkan kedua tangan pada sekujur tubuh. Mataku masih terpejam, tapi kuyakin Apai Madan sudah tak di sana. Bau bangkai itu pun sudah tak tercium begitu pun dengung langau. Aku terus berzikir sampai akhirnya kantuk menyergap dan aku tertidur.

-End-


11 September 2019

Catatan*: Coba kamu tulis, menghabisi ayam hidup-hidup dalam sepuluh menit.
Diubah oleh AdelineNordica
profile-picture
doctorkelinci memberi reputasi
1
19-09-2019 19:57
keren kak
profile-picture
AdelineNordica memberi reputasi
1
19-09-2019 19:57
emoticon-Cendol Ganemoticon-Cendol Ganemoticon-Cendol Ganemoticon-Cendol Gan
profile-picture
AdelineNordica memberi reputasi
1
19-09-2019 20:31
Quote:Original Posted By maybelopah
emoticon-Cendol Ganemoticon-Cendol Ganemoticon-Cendol Ganemoticon-Cendol Gan


cendolganemoticon-Cendol Ganemoticon-Cendol Gan
Diubah oleh AdelineNordica
0
19-09-2019 20:47
Quote:Original Posted By maybelopah
emoticon-Cendol Ganemoticon-Cendol Ganemoticon-Cendol Ganemoticon-Cendol Gan


Oke. 😊👍👍
0
23-09-2019 01:43
pen punya mobil kek Arthur
profile-picture
AdelineNordica memberi reputasi
1
Post ini telah dihapus oleh kaskus.support16
23-09-2019 05:58
Quote:Original Posted By nofivinovie
pen punya mobil kek Arthur


Aslinya udah ada loh, Mbak. Uji cobanya di Afrika Selatan bulan Oktober. Mampu tembus 800 km/jam. Punya Inggris.
profile-picture
nofivinovie memberi reputasi
1
23-09-2019 06:55
ninggalin jejak dulu
profile-picture
AdelineNordica memberi reputasi
1
23-09-2019 08:51
Quote:Original Posted By linalusiana
ninggalin jejak dulu


Terima kasih, Kak. emoticon-2 Jempol
0
23-09-2019 09:55
Pasang tenda
profile-picture
AdelineNordica memberi reputasi
1
23-09-2019 10:23
Quote:Original Posted By sitinur200
Pasang tenda


Asyiap, Mbak. Aku bantu nyalain api unggun.🔥🔥
profile-picture
sitinur200 memberi reputasi
1
23-09-2019 14:51
Asik nih, salam dari pecinta genre fantasy. Bakal ada lanjutannya nggak nih?
profile-picture
AdelineNordica memberi reputasi
1
23-09-2019 15:28
Quote:Original Posted By AdelineNordica
Asyiap, Mbak. Aku bantu nyalain api unggun.🔥🔥


Sekalian mie rebusnyaemoticon-Malu
profile-picture
AdelineNordica memberi reputasi
1
23-09-2019 15:43
Quote:Original Posted By AdelineNordica
Aslinya udah ada loh, Mbak. Uji cobanya di Afrika Selatan bulan Oktober. Mampu tembus 800 km/jam. Punya Inggris.


Wah pantea kek pernah liat tapi di tv atau mana gitu.
profile-picture
AdelineNordica memberi reputasi
1
23-09-2019 17:16
Quote:Original Posted By IztaLorie
Asik nih, salam dari pecinta genre fantasy. Bakal ada lanjutannya nggak nih?


Gak ada, Mbak. Ada cerbungku yang lainnya. Cuma baru kelar 2 part aja. Heheemoticon-Malu
profile-picture
IztaLorie memberi reputasi
1
23-09-2019 17:17
Quote:Original Posted By sitinur200
Sekalian mie rebusnyaemoticon-Malu


Boleh. Aku bawain telur rebus juga, Mbak. Biar yahud.emoticon-Jempol
profile-picture
sitinur200 memberi reputasi
1
23-09-2019 17:18
Quote:Original Posted By nofivinovie
Wah pantea kek pernah liat tapi di tv atau mana gitu.


Iya. Awal rancangannya udah tahun 2006 kalau gak salah. Aku terinspirasi dari mobil itu. Heheemoticon-Malu
profile-picture
nofivinovie memberi reputasi
1
23-09-2019 17:28
Quote:Original Posted By AdelineNordica
Gak ada, Mbak. Ada cerbungku yang lainnya. Cuma baru kelar 2 part aja. Heheemoticon-Malu


Sayang kalau nggak dilanjutkan
profile-picture
AdelineNordica memberi reputasi
1
Halaman 1 dari 3
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
lima-belas-menit
Stories from the Heart
cahaya-di-ujung-pantura
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.