alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d7f8055a2d19576755381cb/gadis-berkerudung-senja-1
Lapor Hansip
16-09-2019 19:30

Sebuah Novel : GADIS BERKERUDUNG SENJA (TAMAT)

Past Hot Thread
Quote:Assalamualaikum... Sebelumnya Perkenalan dulu. Nama lengkap saya Muhamad Riyadi, biasa di panggil Adie, dan nama pena saya Adie Prakoso. Ini adalah cerita pertama saya di kaskus. Anak baru nih... hehe... Saya akan membagikan sebuah cerita yang anti mainstream. Ini sebuah novel, judulnya Gadis Berkerudung Senja. Sebelumnya saya sudah aktif menulis di dunia oranye atau yang biasa dikenal dengan Wattpad.

Buku yang sudah diterbitkan :

Misteri Beethoven Sonata No.8 in C Minor

Novel lainnya :

1. 7 Surat Berdarah


GADIS BERKERUDUNG SENJA


PROLOG


Malam itu, pukul 21.00 WIB. Rembulan sempurna hilang tertutup awan hitam nan gelap.

"Bawa semua barang-barangmu! Pergi kau dari sini, rumah ini bukan lagi menjadi tempatmu!" Bapak melontarkan kata terkasarnya yang baru pernah aku dengar. Ibu dan adikku yang masih menginjak usia sebelas tahun, berusaha menghentikan aksi Bapak yang bagai kerasukan iblis, menendangku dan melemparkan tas ransel milikku ke depan rumah.

Aku tersungkur, memegang tas ransel—berisi pakaian serta ijazah SMP-ku, dibalik hujan yang mengguyur, gelap, dan gemuruh petir yang mencekam di malam itu. Bapak mengirimkan kata-kata sumpah serapahnya, "Kau sudah memalukan martabat keluarga, kau tidak pantas hidup disini, sudah kesekian kalinya Bapak ngomong, dan kau sama sekali tak ada perubahannya. Pergi kau dari sini. Pergi! Dasar anak tak tahu diuntung!" Suara keras Bapak bahkan mengalahkan dentuman petir dan derasnya hujan yang jatuh.

Aku menangkap ekspresi wajahnya yang begitu marah, aku paham betul, sepertinya Bapak tak akan bisa memaafkanku lagi. Ibu berusaha menenangkan hati Bapak, tapi tetap saja, sia-sia. Bapak tetap berpegang teguh pada prinsipnya, yakni mengusirku, menganggapku sebagai anak tak berguna, anak haram, atau mungkin, anak durhaka.

Adikku terlihat menangis melihat kejadian yang baru pernah terjadi di dalam keluarga yang sebelumnya baik-baik saja, harmonis, dan tentram. Ibu ikut menangis, menyaksikan kepergianku. Aku mulai berdiri, mengambil tas ransel yang mulai basah.

"Tunggu apa lagi, pergi kau! Jangan pernah datang kesini lagi! Dasar anak tak tahu diuntung!" Bapak melotot, matanya hampir keluar.

"Baik. Aku akan pergi dari sini, dan aku berjanji, aku tidak akan datang lagi ke rumah ini, aku akan pergi jauh, dan aku berjanji, kalau aku bisa menjadi orang baik dan sukses, suatu saat nanti." Aku membalikan badan, melangkah dengan gontai, membuka pagar rumah. Dari kejauhan, terlihat, bibi ikut menangis, melihat kepergianku.

Sebelum aku diusir dari rumah, Ibu sempat memberikan sejumlah tabungannya untuk perbekalanku. Tidak banyak, tapi cukup untuk makan kurang lebih seminggu. Aku mulai berjalan menyusuri gelapnya gang. Hujan semakin deras, gemuruh petir masih terdengar diatas sana. Jam sembilan malam, di hari senin, malam selasa, aku mulai pergi dari rumah, entah kemana arah tujuanku kali ini, masih belum jelas. Satu hal yang membuatku sedih—yakni—sebentar lagi menginjak bulan suci Ramadhan, dan ramadhan tahun ini, sepertinya aku tak bisa menikmati sahur dan buka bersama bareng keluarga. Sudah pasti, tidak mungkin.

Malam itu, aku memutuskan untuk tidur di balai bambu setempat, menunggu pagi dan hujan reda. Aku mulai menemukan rencana, untuk pergi ke rumah Paman yang tinggal di salah satu kota besar, di Jawa Timur. Mungkin, Paman masih mau menerimaku, dan belum tahu soal masalah yang sedang terjadi didalam keluargaku.

Balai bambu malam itu sangat sepi, tak ada warga yang hadir di sana—mungkin karena hujan. Biasanya balai bambu selalu dijadikan tempat nongkrong bagi warga, entah itu kakek-kakek-lah, anak muda, bapak-bapak, bahkan kadang ibu-ibu yang suka ngerumpi. Aku sedikit bersedih kala harus meninggalkan balai bambu yang setiap saat bisa mengerti keadaanku, berkumpul dengan mereka, bermain kartu atau catur, ada yang main gitar, ada pula yang sekedar nonton TV sembari minum kopi. Mereka semua sudah bagai keluarga sendiri. Dan mungkin malam ini merupakan malam perpisahanku dengan mereka.

Hujan masih turun deras. Sesekali suara petir terdengar, kilatan cahaya berkilau. Udara mulai dingin, di tambah posisi pakaianku basah.

"Assalamualaikum. Hey, kamu ngapain di sini, hujan-hujan, sendirian pula?" seru seseorang dibalik lebatnya hujan. Aku lekas bangun dan menoleh ke arah suara itu berasal.

Terlihat Pak Ustad yang baru pulang mengajarkan murid-murid mengaji menggunakan koko berwarna putih, sarung kotak cokelat dicincing, bau harum khas misik, dan menggunakan payung hitam sebagai pelindung dari hujan. Pak Ustad melangkah naik ke dalam balai bambu, menaruh payung di sisinya.

"Apa yang terjadi? Kenapa kau bawa tas ransel?" Pak Ustad menatapku binggung.

"Aku diusir dari rumah, Pak Ustad."

"Diusir? Kenapa?" Pak Ustad membetulkan tempat duduknya.

"Ceritanya sangat panjang Pak Ustad."

"Baik, ceritakanlah padaku, barangkali Pak Ustad dapat memberikan jalan keluar." Pak Ustad mulai antusias, memasangkan telinganya rekat-rekat. Mendengarkan ceritaku yang tak patut dicontoh bagi siapapun di dunia ini.

"Oh ya, sebelum kau bercerita, kebetulan aku bawa sesuatu." Pak Ustad mengambil teh hangat yang ditaruh didalam termos alumunium, yang selalu beliau bawa kemanapun beliau pergi.

"Kau pasti kedinginan kan? Diminum dulu?" Pak Ustad memberikan termos itu kepadaku. Aku lekas meneguknya.

"Terima kasih, Pak Ustad."

"Yah, sama-sama, jadi, bagaimana ceritanya?"

Aku mengambil nafas panjang sebelum bercerita panjang lebar kepada Pak Ustad, seorang tokoh agama di kampung ini—yang berkali-kali sempat menegurku, tapi aku tak pernah menggubrisnya.

Quote:DAFTAR ISI
BAB 1 - Flashback (Sekolah)
BAB 2 - Flashback (Mabuk)
BAB 3 - Flashback (Tugas Kelompok)
BAB 4 - Flashback (Kasus)
BAB 5 - Pak Ustad
BAB 6 - Tetap Semangat (Part1)
Tetap Semangat (Part2)
BAB 7 - Pak Jaya (Part1)
Pak Jaya (Part2)
BAB 8 - Pertemuan (Part1)
Pertemuan (Part2)
BAB 9 - Cinta Sejati (Part1)
Cinta Sejati (Part2)
BAB 10 - Selamat Tinggal (Part1)
Selamat Tinggal (Part2)
Selamat Tinggal (Part3)
BAB 11 - Rembang dan Kisah Kelam (Part1)
Rembang dan Kisah Kelam (Part2)
BAB 12 - Pesantren (Part1)
Pesantren (Part 2)
Pesantren (Part 3)
BAB 13 - Putus Asa (Part1)
Putus Asa (Part2)
BAB 14 - Mudik (Part1)
Mudik (Part2)
BAB 15 - Malam Kemenangan (Part1)
Malam Kemenangan (Part2)
BAB 16 - Sebelum Janur Kuning Melengkung (Part1)
Sebelum Janur Kuning Melengkung (Part2)
BAB 17 - Eksekusi (Part1)
Eksekusi (Part2)
BAB 18 - Hukuman (Part1)
Hukuman (Part2)
BAB 19 - Pulang
BAB 20 - Amarah
BAB 21 - Surat Bersampul Ungu
BAB 22 - Arti Kata Ikhlas
EPILOG

Gambaran Karakter
Diubah oleh adie.scottlang
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Urgen607 dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 5
16-09-2019 19:52
Ijin masang tenda gan
0 0
0
16-09-2019 20:03
Quote:Original Posted By adityasatriaji
Ijin masang tenda gan


Ok Gan...
profile-picture
profile-picture
ferarakiman dan adityasatriaji memberi reputasi
2 0
2
16-09-2019 20:35

BAB 3 - Tugas Kelompok

Quote:"Hey, kau sudah membaik?" sapa Doni di depan kelas, duduk santai bersama murid baru yang menyebalkan.

"Yah, aku mau tobat." Aku melangkah cepat, melewati mereka berdua.

"Hey, gugup sekali." Doni menyeringai. Aku terus berjalan, tak menggubrisnya.

Bel berbunyi. Semua murid dengan cepat duduk rapi di bangkunya masing-masing. Pelajaran pagi itu sedikit membosankan, yakni matematika. Ah, aku tak tahu soal hitung-menghitung, membosankan, rumus-rumus yang membuat otak meleleh, lebih baik tidur, daripada harus berhadapan dengan rumus-rumus menyebalkan. Siapa sih pencipta matematika? Hah, bikin pusing kepala saja.

Jam pelajaran kedua, lebih menarik, yakni pelajaran bahasa Indonesia. Pelajaran kali ini berubah seratus delapan puluh derajat menjadi menyebalkan. Karena apa? Aku masuk ke dalam kelompok si murid baru sialan itu. Yah, si Rahma, gadis menyebalkan yang di gila-gilai semua cowok di kelas ini, termasuk sohibku, Doni. Apa-apaan ini. Aku sempat protes, mengajukan banding, kepada Pak Guru. Tapi, tetap, dia menolak. Apa boleh buat, aku harus menahan emosi, ketika harus berhadapan dengan si Rahma.

"Ah, gak adil. Lo enak ya, satu kelompok sama si Rahma. Sedangkan gue.." protes Doni.

"Kalau lo mau, tuker aja, lagipula, siapa yang mau satu kelompok dengan Rahma. Menyebalkan."

"Lo tu aneh ya bro, si Rahma tuh bunga kelas, cantik, banyak yang suka sama dia, nah, lo sendiri, malah benci. Awas loh, biasanya, awalan benci, akhirnya jatuh cinta." Doni menyeringai lebar, bak kuda.

Kata-kata macam apa itu, tidak ada kamus di kehidupanku. Seorang Hanafi, pria terkeren di sekolah ini, jatuh cinta dengan murid baru sialan itu. Tidak akan!

"Hey, mau kemana kau?" seru Doni, bergegas memasukan buku-bukunya ke dalam tas, lantas mengejarku.

"Ke kantin lah," jawabku ketus.

"Jam segini, udah laper? Tobat dah."

"Ya, efek mabuk semalam." Aku melotot. Sebal.

"Santai kawan, gue tahu, lo pasti habis kena semprot orang tua lo ya?"

"Jelas lah, sekali lagi gue tertangkap sedang mabuk, bisa kena deportasi nih gue dari rumah, hidup gelandagan di jalanan."

"Main rapi dong, lo sih, gue kan dah bilang, kalau lo masih gak sadar, mending lo pulang ke rumah gue dulu aja. Urusan kelar."

"Alah, gak lah."

Perbincangan kami terhenti, saat si Rahma datang menemuiku. "Ngapain, si sialan itu datang," gumamku.

"Rahma, makan bareng yuk." Doni melempar senyum ter-ramahnya minggu ini, ber-basa-basi konyol, membuatku geli, pingin rasanya muntah di hadapannya.

"Gak kok, gue cuma mau ngingetin si Hanafi aja, kalau entar malam, kerja kelompoknya di rumah gue. Lo mau datang kan? Lo udah lupain soal yang kemarin kan?" ujar Rahma.

Aku diam, hanya mengganguk, mengganguk ragu, lantas meninggalkan mereka berdua di depan kantin. Aku masuk ke kantin lebih dulu, memesan es teh dan somay sambal kacang, makanan favorit-ku. Doni menyusul, senyam-senyum sendiri, sepertinya dia sedang berbunga-bunga, atau mungkin, barusan kena hipnotis dari Rahma. Entahlah.

Pagi berganti siang, siang berganti sore. Senja di sore itu sangat elok, warna cahayanya memerah, merona. Burung-burung walet berterbangan, menuju ke persinggahannya. Beberapa tetangga, sibuk memasukan hewan ternak mereka.

Tiba-tiba hp-ku berdering kencang. Sebuah nomor baru, tanpa pikir panjang, segera ku angkat.

"Halo."

"Ya, Halo, dengan Hanafi?" Suara perempuan.

"Ya, benar. Siapa ya?"

"Rahma. Lo jadi ikut kerja kelompok gak?"

Rahma menelponku. Eh..busset! Aku terdiam sejenak, tak ku sangka, dia berani menelponku.

"Halo? Hanafi? Halo?"

"Eh, iya. Aku, eh, maksud gue, gue bisa datang Jam berapa?" Aku sedikit gugup. Gila, ternyata, suara Rahma lembut sekali, bagai sutera.

"Jam delapan ya. Sudah tahu rumahku kan?"

"Belumlah."

Rahma kemudian memberikan alamat rumahnya, aku bergegas mengambil kertas dan pulpen, ku catat baik-baik alamat rumahnya.

"Oke, gue tunggu ya." Rahma menutup teleponnya.

Yosh! Ku putuskan untuk ikut belajar kelompok. Dengan memakai kemeja, celana jeans hitam, minyak wangi, rambut klimis maksimal, aku sudah siap tampil, layak Leonardo di Caprio, tampil di panggung penghargaan Hollywood. Ah, apa itu namanya. Tapi, ngomong-ngomong, darimana si murid sialan itu dapat nomor hpku?

"Bu, Hanafi pergi dulu, mau belajar kelompok di rumah temen." Aku berseru kepada Ibu yang sedang sibuk memasak di ruang belakang bersama Bibi.

"Ya, hati-hati. Jangan mabuk lagi loh!"

"Ya Bu, ini tugas sekolah kok!"

Motor matic sudah ku cuci, kinclong. Siap meluncur membelah keramaian kota metropolitan yang semakin hari, kota ini semakin sibuk dan padat. Lama-lama bisa runtuh nih kota, akibat banyak pendatang baru dari penjuru negeri.

Berputar-putar di satu tempat, tak kutemui dengan jelas, rumah si Rahma. Apa jangan-jangan, dia menipuku, memberikan alamat palsu. Awas lo, sampai beneran, gue gak segan-segan buat hidup lo sengsara.

"Jreng..jreng..jrong..jrengg."

Hp-ku kembali berbunyi, sebuah alunan klasik kesukaanku dari Johan Pachelbel selalu ku pasang sebagai nada dering. Aku lekas mengangkat.

"Halo?"

"Lo jadi kesini gak?"

"Jadi-lah, eh, lo ngasih alamat salah ya ke gue."

"Salah gimana? Bener lah. Emang lo sekarang dimana?"

"Di deket mushola, gang garuda, yang ada toko sembako."

"Oh, tunggu sebentar, gue kesana."

"Eh, tunggu.." Rahma sudah keburu menutup telepon.

Hampir sepuluh menit menunggu di samping mushola, seperti orang bego, tengok sana-tengok sini, tak jelas. Duduk diatas motor, seperti menunggu tuan puteri datang saja. Tak lama kemudian, terdengar suara motor datang. Benar dugaanku, itu si Rahma.

"Maaf, udah nunggu lama ya?" Rahma melempar senyum manisnya, lesung pipinya kian membuat jantung berhenti bekerja. Oh Tuhan, Manis sekali dia, ketika senyum. Aku baru sadar satu hal, kenapa cowok-cowok di dalam kelas, tergila-gila dengannya. Malam itu, aku tak menyalahkan Doni, karena, aku sendiri pun, ikut terhipnotis oleh senyuman mautnya. Rambut panjang tergerai kedepan, bibir merah merona, memakai jaket jeans tanpa di kancing, celana jeans pendek, membuat pahanya sedikit terlihat, mulus.

Bintang-bintang malam ini yang bertebaran di langit, tak bisa ku hitung. Mereka menjadi saksi kebisuanku ketika bertatapan dengannya. Rahma, si murid baru yang aduhai, perlahan kau menyihirku dengan senyuman mautmu. Ah, perasaan macam apa ini, apa yang dikatakan Doni benar, benci berubah jadi cinta. Alah, persetan dengan kata-kata itu, aku berusaha memantapkan hati, kalau dia adalah murid baru pembawa masalah.

"Eh, kok benggong. Yuk, Andi dan Sri sudah nunggu tuh." Rahma mengacaukan lamunanku.

"Oh ya, ayok." Motor sudah ku stater. Rahma membelokan motornya, berjalan di depanku, aku mengikutinya di belakang.

Terkejut bukan main, ternyata rumah Rahma hanya sepelemparan batu dari jalan raya. Ngapain pula, aku merangsek masuk ke dalam gang-gang sempit yang kumuh.

Rahma memarkirkan motor di sisi rumahnya, begitu pula aku. Rumahnya cukup mewah, ada beberapa pohon palem di depan rumahnya dan beberapa ukiran indah di setiap pintu rumahnya. Sepertinya, keluarga mereka suka dengan kesenian.

Rahma menyuruhku masuk, naik ke lantai dua. Rahma sesekali menjelaskan tentang keluarganya, aku sedikit antusias mendengarnya, walaupun masih ada sedikit rasa sebal di dalam dada. Kebetulan kedua orang tuanya sedang ke luar kota untuk urusan bisnis, katanya. Senyumannya yang selalu menyejukan hati, membuat rasa sebalku semakin menipis.

"Yuk, masuk." Rahma membukakan pintu kamarnya. Di dalam sudah ada Andi dan Sri yang masih sibuk mengerjakan tugas kelompok bahasa Indonesia.

"Maaf teman-teman, gue telat."

"Ya gak papa, lain kali jangan telat." sahut Andi.

Kami pun mulai sibuk mengerjakan tugas membuat cerpen. Tak kusangka, ternyata si Rahma pandai juga merangkai kata-kata bijak, tugasku disini hanya menulis saja. Andi dan Sri, mereka mendapatkan tugas menentukan alur cerita.

Sesekali aku melirik ke arah Rahma yang sedang sibuk berpikir, merangkai kata-kata bijak. Setiap kali dia berpikir, matanya selalu menatap ke atas, dari hal itulah, aku bisa melihatnya tanpa perlu rasa canggung. Tapi sialnya, jarum jam sudah menunjuk ke angka sembilan. Tugas belum selesai, Sri meminta ijin untuk pulang, Andi pun akhirnya ikut pulang mengantar Sri yang rumahnya searah. Tinggal aku sendiri di dalam kamar, bersama Rahma. Eits, jangan berpikiran yang negatif dulu ya, Aku pun ikut mereka, pamit pulang. Tapi, Rahma menghentikanku. Dia mengajakku ke taman depan rumahnya untuk sekedar berbincang, sembari meneguk teh buatannya.

"Ada yang perlu gue omongin nih ke elo," ucap Rahma.

"Apaan?" Tanyaku penasaran.

"Aku mau tanya tentang Doni nih, tapi tolong, jangan sampai tembus ke dia ya?" Pinta Rahma.

"Ya, baik-baik."

"Kemarin, Doni nembak gue, Fi."

"Lah terus? Apa urusannya dong sama gue?" Aku sedikit terkejut sih, mendengar pernyataan dari Rahma. Si Doni, berani nembak cewek. Alamak! Gila bener tuh orang. Udah gentle aja dia. Sejak kapan dia belajar tembak-menembak? Jangan-jangan dia belajar dari mitos si Cupid.

"Aku binggung, Fi. Aku harus bagaimana?" Rahma memajukan bibirnya ke depan.

"Lah, bagaimana? Gue kan gak tahu. Yang akan ngejalanin kan elo sendiri. Masa lo harus tanya ke gue, soal itu.

Rahma terdiam, berkali-kali memainkan jari-jari tangannya. Menggigit bibir.

"Pertanyaannya, lo suka gak ama dia?" Aku mencoba bertanya hal itu, menatap matanya yang indah, bulat, bagai bola pim-pong.

"Gak sih, tapi gimana ya, dia baik banget, Fi. Gue, gue gak enak buat nolak." Rahma kembali terlihat panik, seperti menghadapi seratus soal matematika di depannya.

"Ya udah, lo pikir sendiri ajalah, kok gue jadi ikut pusing. Gue mau pulang dululah, udah malam." Aku berdiri, bersiap melangkah menuju ke parkir.

"Ah, gak asik lo. Ya udah, sampai ketemu besok. Tolong jangan bocorin ke Doni ya. Please!" Rahma memohon.

"Iya, iya." Aku sudah duduk rapi di atas jok motor, memakai helm, menyalakan, dan bersiap menarik gas. "Ya dah, gue pamit pulang dulu."

Rahma tersenyum, kali ini lesung pipinya benar-benar membuatku tak bisa tidur semalaman. Bahkan setiap kali tertidur, selalu memimpikannya. Sampai-sampai, paginya aku kesiangan. Ini semua gara-gara si murid baru bernama Rahma, selalu saja mengacaukan kehidupan tentramku.

***

Pagi itu, aku di hukum di lapangan sekolah. Hanya dua orang saja yang kebetulan telat di hari itu. Ah, ini sangat memalukan, bisa kena omel Bapak nih. Lagipula, sekolah ini merupakan sekolah elit dan disiplin. Telat sedikit, dapat surat panggilan orang tua.

"Iqbal Hanafi. Anak kelas dua IPA dua. Sudah dua kali, dalam satu semester kamu telat, dan apa hukumannya sekarang?" Guru BK mendelik, menatapku bak seorang kriminal kelas kakap.

"Dapat surat peringatan, Pak," jawabku lirih.

"Bagus. Kamu sadar juga. Nanti siang, datang ke ruangan Bapak!" Guru BK meninggalkanku dan satu murid yang ikut telat di tengah lapangan.

Pagi itu, matahari menyengat, tidak seperti hari-hari biasanya. Lagipula, aku akan terus berdiri di tengah lapangan, sampai jam istirahat tiba, ini benar-benar melelahkan dan akan menjatuhkan martabat seorang cowok terkeren di sekolah ini. Sialnya, bel istirahat belum bunyi. Beberapa murid di kelasku sudah keluar dari kelas.

"Hey, lo ngapain disana? Berjemur? Kalau mau berjemur, jangan di sini, ke Bali sononoh." Doni tertawa meledekku.

"Sialan lo, lo kira gue turis!"

Doni menghampiriku, dan berbisik, "eh, tahu gak?"

"Tahu apaan?"

Doni menutup kupingku dengan kedua tangannya, sembari membisikan kata-kata yang membuatku shock setengah mati. "Apa? Si Rahma, murid baru itu, jadi pacar lo?"

"Yoi. Yes, akhirnya, gue bisa mendapatkan hatinya. Jangan kecewa ya.." Doni menyeringai. "Eh, gue tinggal ke kantin dulu ya." Doni lekas beranjak pergi.

Selepas kabar yang mengejutkan itu, tubuhku melemas seketika, seperti tak ada tulang belulang di dalam tubuh ini. Detik itu, seakan seperti horror. Aku merasa ada yang hilang dari dalam tubuhku ini, entah apa?

"Hey, jangan benggong, nanti kesambet loh." Rahma tiba-tiba menepuk bahuku, mengacaukan pikiran kosongku. Aku menoleh, ku tatap lamat-lamat bola matanya. Dia tersenyum, memperlihatkan lesung pipinya yang indah.

"Lo telat ya?" tanya Rahma.

Aku nyengir, "ya, begitulah."

"Bagaimana? Entar malam bisa kan?"

"Bisa apa?"

"Datang lagi ke rumah gue, kan tugas membuat cerpen belum kelar."

"Oh, yaya. Oke, siap." Aku nyengir.

"Oke, gue ke kantin dulu ya. Udah laper nih." Rahma mulai pergi, meninggalkanku yang masih berdiri di tengah lapangan.

Ah, kenapa tiba-tiba perasaan ini muncul begitu saja. Kenapa rasanya tak rela kalau si Rahma jadian sama Doni. Ah, bodoh-bodoh. Aku terlalu bodoh, tak memperhatikan dengan jeli, kalau sosok Rahma itu benar-benar cewek ideal. Bahkan sampai ideal-nya dia, bisa membuatku melupakan Vina. Siang ini tiba-tiba langit mendung. Ah, perasaan memang dapat berubah begitu cepat, sama hal-nya dengan cuaca di pagi ini.

Bel istirahat pertama sudah berbunyi. Aku segera cabut dari lapangan, menuju ke ruang BK. Untuk menuju ke ruang BK, harus melewati kantin terlebih dulu, karena letaknya berada di paling ujung pojok sekolah.
Berjalan cepat, melewati keramaian anak-anak sekolah yang berebut tempat ke kantin. Setiap hari seperti itu, berasa sedang berebut BLT (bantuan langsung tunai) dari pemerintah, yang sekarang mungkin sudah tidak ada.

"Hey, mau kemana lo? Gugup kali?" teriak Roni dan teman-teman geng arjuna yang sedang menikmati gorengan di kantin.

Aku menoleh, menghentikan langkah, "Ada masalah kecil."

"Lo di panggil BK ya?"

Aku hanya nyengir, lekas cabut.

Tok..tok..tok.

"Assalamualaikum.."

"Masuk!" Suara keras itu membuat detak jantung berjalan lebih cepat. "Duduk sini. Iqbal Hanafi ya?"

"Ya Pak," jawabku tegas, memasang tubuh tegap.

"Kau sudah tahu kan, apa kesalahanmu?" Bapak itu bertanya, matanya menatapku mantap dari balik kacamata minus-nya.

"Iya Pak. Terlambat."

"Hmm, bagus kalau kamu sudah sadar. Sudah berapa kali, kamu melanggar?"

"Dua kali Pak."

"Selain itu, kesalahan apa lagi?"

Bapak BK sudah macam penyelia yang mewawancari karyawan baru di sebuah perusahaan elit. Aku menggaruk kepala yang tidak gatal, binggung, kesalahan apa lagi ya? "Sudah, itu saja kan?" Aku menjawab ragu.

"Loh, kok itu saja. Kamu gak ingat, waktu kamu berkelahi dengan kakak kelas, beberapa minggu silam."

"Oh, itu kan sudah berlalu Pak. Lagipula, masalahnya sudah selesai."

"Tidak selesai begitu saja di sekolah elit ini, setiap masalah, akan dicatat dengan rapi di dalam buku ini." Bapak itu menunjuk ke buku tebal besar yang berisi catatan-catatan keburukan murid di sekolah ini. Kalian tahu, aku berada di ranking tiga, sebagai murid yang banyak masalah.

"Jadi, gimana Pak?" Aku memasang wajah memelas.

"Kau kena surat pernyataan dari sekolah, dan orang tua-mu, besok harus datang kesini. Kalau kamu membuat kesalahan yang fatal satu lagi, maka kami tak segan untuk mengeluarkanmu dari sekolah ini. Paham?" Bapak itu mengancamku dengan kata-kata horror-nya, membuat bulu kudukku merinding.

Hari ini pikiranku semakin kacau, tak sejernih hari-hari lalu. Kekacauan itu diawali dengan Vina yang memutuskanku begitu saja, lalu perasaan aneh ini, yang membuatku tiba-tiba menyukai murid baru sialan itu, ditambah lagi, sekarang Doni sudah berhasil merebut hatinya, dan yang terakhir, surat pernyataan terakhir. Argghh..!! Sial!
Diubah oleh adie.scottlang
profile-picture
aan2604 memberi reputasi
1 0
1
16-09-2019 20:37

BAB 4 - Kasus

Quote:Jam pelajaran terakhir, mata sudah mulai tak bersahabat. Pelajaran fisika datang, semakin runyam. Doni masih senyam-senyum sendiri, sesekali curi-curi pandang ke bangku Rahma. Begitu pula Rahma, dia juga ikut curi-curi pandang. Entah itu ke arahku atau Doni. Masih menjadi misteri.

Siang itu Pak Muhid, guru fisika sekaligus wali kelas kami sudah mulai menerangkan Hukum Newton, tentang Gaya dan Dinamika. Kelas begitu suram dan membosankan, sepidol berdecit menjilat papan. Sekali-dua kali Pak Muhid berhenti sejenak, membalikkan badannya, menerangkan, lalu menatap kami yang mulai kehilangan konsentrasi.

"Catat!" katanya pendek. Nadanya tegas, "Ini penting!" lanjutnya. Seluruh murid saling lirik, sejujurnya aku sudah bosan mencatat, tapi sekolah tak selalu menyediakan pilihan lain.

Kelas jadi hening. Kami kembali tenggelam dalam buku catatan masing-masing, sebagian mencatat tulisan di papan tulis itu, sebagian lain ada yang menggambar, ada juga yang curi kesempatan untuk tidur, sms pacar, dan mengobrol pelan. Tapi aku tidak bisa tidur siang itu. Aku mencatat dengan saksama. Tentu saja, aku masih ingat rumus itu, Hukum Newton, walau sebenarnya aku benci pelajaran ini.

Di balik kesunyian kelas, aku iseng menoleh ke bangku Rahma, dia pun menoleh, kami saling bertatap, seperti ada aliran listrik, entah apa itu namanya kalau dalam ilmu fisika. Tiba-tiba, Rahma melempar senyum, memperlihatkan lesung pipinya yang menawan itu. Aku membalas dengan senyum kecil, nyengir.

Apa yang terjadi? Tanyaku dalam hati. Kau cantik, Kau manis. Ya, aku akui. Tapi tidak ada perasaan di hatiku. Tapi bagaimana caranya suaramu, gesturmu, matamu, hidungmu, lesung pipimu, langkahmu yang manja, bisa menahan laju degup jantungku? Apa-apaan ini? Tidak jelas!

Sejak saat itu, aku mulai memperhatikanmu. Kau duduk dua baris dari bangku depan, dua deret dari sisi kiri tempat dudukku. Sehari, dua hari, tiga hari, seminggu aku punya kebiasaan baru: Menatap punggungmu, memperhatikan rambut panjang yang diikat rapi dengan ikat rambut—kadang dibiarkan menjuntai, memakai jam tangan warna-warni. Lama-lama aku hapal, setiap Senin kau memakai jam tangan warna merah, Selasa warna hitam, Rabu warna perak, Kamis warna merah lagi, Jumat dan Sabtu kau memakai warna hitam lagi. Apa-apaan ini? Tanyaku dalam hati.



***

Sepulang sekolah. Aku memberitahukan hal yang mungkin akan membuat Bapak dan Ibu marah. Sebuah surat pernyataan terakhir dari pihak sekolah itu benar-benar membuat hidupku runyam, rumit bagai rumus fisika.

"Apa? Kau mendapat surat pernyataan lagi?" Bapak berteriak kencang, menamparku. Ibu berusaha menghentikan kemarahan Bapak. Aku terdiam, bagai patung lilin yang kian meleleh terkena paparan sinar matahari.

Bapak meninggalkanku tanpa sepatah-dua patah lagi, melangkah pergi dengan mobilnya, berangkat ke kantor. Ibu masih duduk disisiku, memberikan nasihat-nasihat yang lembut. Aku tahu, aku salah, gara-gara aku, keluarga yang dulu saling bercanda, sekarang berseteru.

"Bu, Hanafi berangkat dulu."

"Ya, hati-hati nak."

Melangkah ke lantai dua dengan gontai. Beberapa sahutan cewek-cewek adik kelas tidak ku gubris. Bahkan Doni, teman sebangkuku, tak ku gubris. Bahkan seorang Rahma, aku tak meliriknya sedikitpun, padahal hari itu, dia tampil cantik. Duduk di bangku pojok, melamun tak jelas. Doni hanya geleng-geleng melihatku bertingkah aneh.

Hari itu benar-benar buruk. Sekolah terasa lama, pikiranku terus kacau, dan sebuah malapetaka datang menghampiriku sore itu, selepas sekolah. Aku diajak oleh Roni ke rumahnya.

"Kelihatannya, lo banyak masalah. Ada apa Hanafi?" tanya Roni selepas pulang sekolah. Kali ini dia pulang sendiri, tak seperti biasanya.

"Pusing gue Ron, gue dapat surat peringatan keras dari BK dan kepala sekolah, Bapakku datang ke sini tadi siang. Gue pusing Ron." Aku duduk di sisi motor, yang kebetulan ada bangku kosong.

"Lo mau tenangin pikiran?"

"Ya Ron."

"Ikut gue aja yuk, gue jamin, lu bakal tenang."

"Ah, palingan mabuk. Gak lah, udah tobat gue."

"Eh, bukanlah. Ini beda cuy. Oh ya, si Doni kemana?" Roni menyapu keadaan sekitar yang mulai sepi.

"Dia udah pulang duluan tuh sama si cewek yang kemarin dia ajak. Si murid baru sialan itu." Aku memasang wajah kesal. Bukan kesal kepada murid baru itu, melainkan kepada Doni.

"Kok wajah lo kesal, lo cemburu?" Roni meledek.

Aku menggeleng, "gaklah!"

"Gimana? Mau ikut gak?" Roni mencoba merayuku. Aku pun terhipnotis ajakannya, mengganguk setuju.

Kami berdua memutuskan untuk melesat pulang dari sekolah, menuju ke rumah Roni yang sangat mewah. Kebetulan kedua orang tua-nya sedang di luar kota, cuma ada Roni dan bibi-nya. Roni adalah anak tunggal, jadi apa saja yang ia mau, pasti terkabulkan.

Sore itu, Roni membawa sebuah rokok yang mempunyai cita rasa beda. Awalnya aku tak curiga.

"Rokok apa ini Ron?" Tanyaku.

"Rokok mahal itu. Dapat menghilangkan stres. Katanya lo pingin stres-nya hilang. Lah ini, nikmati saja. Gratis. Tenang saja." Roni kembali menghisap.

"Ah, perasaan gue gak enak nih. Jangan-jangan, ini narkoba ya?" Aku menelan ludah. Roni hanya tertawa, menatapku dengan sikap aneh.

Belum sempat menghisap rokok, terdengar gemuruh langkah kaki mendekat ke kamar Roni. Aku tersedak, panik. Pikiranku semakin kacau, jangan-jangan.

Tiba-tiba, pintu kamar Roni di dorong paksa, dan apa yang terjadi? Rombongan polisi menyergap kami berdua. Roni masih dengan barang bukti, yakni sabu-sabu. Sedangkan, aku ikut terseret, padahal sudah ku buang benda haram sialan itu. Bukan menghilangkan stres, justru menambah stres.

Roni pasrah, tangannya mulai di borgol. Aku sempat meronta, dan memohon-mohon kepada Pak Polisi. Tapi, tak ada hasil, borgol tetap bersarang ke tanganku. Sial! Hari tersial sepanjang kamus hidupku. Seorang cowok ter-kece di sekolah, harus tercoreng namanya, akibat benda haram bernama 'Narkoba', dan semua ini, gara-gara ulah si Roni bedebah.

***

Kami berdua di periksa. Urin kami di periksa oleh para ahli di laboratorium langganan kepolisian setempat. Alhamdulilah, aku masih selamat dari tempat menggerikan yang bernama sel. Aku mengambil napas panjang. Sedangkan Roni, dia terpaksa harus menjalani proses rehabilitasi. Aku sedikit lega mendengar pernyataan dari Pak Polisi. Tapi aku harus ditahan dalam waktu tertentu sampai kedua orang tauku datang menjemputku.

"Siapa namamu?" Pak Polisi menggertak tegas.

"Iqbal Hanafi, Pak."

"Jawab dengan tegas. Kau laki-laki apa perempuan, Hah?" Aku menelan ludah, menunduk malu, tubuh ini bergetar kencang.

"Kau yang satunya, siapa?" Pak Polisi menurunkan volume suaranya.

"Roni Ginanjar, Pak."



"Siapa yang menyuruh kalian memakai obat-obatan terlarang itu?" Kali ini Pak Polisi berteriak lantang, kalaupun ada kaca di dalam ruangan, sudah pecah pastinya. Suaranya mungkin bisa mengalahkan tokoh superhero terkenal macam Black-Bolt.

"Aku tidak tahu kalau itu narkoba, Pak. Aku kira itu rokok biasa. Lagipula, belum sempat aku menghisap." Aku menjawab agak tegas, suara gemetar.

"Lalu, Kau?" Pak Polisi memicingkan mata ke arah Roni. Tubuh Roni terlihat bergetar, keringat bercucuran deras.

"Aku.. Aku.."



"Jangan bertele-tele! Jawab dengan tegas!" Pak Polisi memukulkan tangan ke papan tulis kecil. Suaranya mengangetkanku.

"Aku dapat dari temen, Pak."

"Siapa nama temanmu itu?"

"Zack, Pak. Itu saja yang aku tahu informasi darinya. Lagipula, barang itu sudah lama aku beli dari dia, Pak. Baru sempat di pakai." Roni masih menunduk.

"Zack? Kapan terakhir kali kau bertemu dengannya?" Pak Polis mulai bertanya-tanya, semakin serius.

"Dua minggu yang lalu, Pak. Di taman kota. Terakhir aku hubungi, nomornya sudah tidak aktif lagi."

Satu jam berlalu, kami di jejali puluhan pertanyaan yang membuat jantung ini berdebar sangat kencang. Aku menghela napas panjang, lega rasanya. Tapi, sial! Bapakku datang, berlari ke arahku dan melepaskan pukulan keras ke pipiku, hingga aku terjatuh. Ibu mencoba menghentikan amarah Bapak yang bagai kerasukan iblis.

"Dasar anak tak berguna. Memalukan martabat keluarga." Bapak masih menamparku, berkali-kali. Selepas itu, kami berpisah. Aku dibawa pulang karena terbukti tidak bersalah, dan Roni di bawa ke sebuah tempat rehabilitasi. Sekolah sudah mencium kabar ini, dengan cepat, mengeluarkanku dari sana, mungkin Roni juga. Benar-benar sudah tercemar namaku. Sudah tidak ada harapan lagi. Masa depanku suram.

Satu minggu kemudian. Berita tertangkapnya aku dan Roni sudah tercium sampai ke sekolah. Beruntungnya aku, di karenakan aku tidak terbukti menggunakan narkoba, setelah tes urin menjawabnya. Sedangkan nasib Roni, aku tidak tahu kelanjutannya. Kalian tahu, seorang pecandu narkoba dapat di tahan, paling sedikit tiga tahun dan paling lama sampai seumur hidup, adapun membayar denda dengan harga tertentu.

Kami berdua akhirnya di keluarkan dari sekolah. Namaku sudah tercemar buruk di sekolah. Semenjak kepulanganku dari kantor polisi, Bapak tak mau menerimaku lagi sebagai anak. Aku diusir, dianggap memalukan martabat keluarga, dianggap menjadi anak haram, anak durhaka dan sumpah serapah lainnya. Mulai detik itu aku mulai sadar, kalau selama ini kehidupanku sudah melenceng jauh dari jalur yang benar. Maksiat, dunia malam, barang-barang haram, meninggalkan ibadah sholat. Aku ingin merubah kehidupanku, agar lebih baik.
Diubah oleh adie.scottlang
profile-picture
aan2604 memberi reputasi
1 0
1
16-09-2019 20:47

BAB 5 - Pak Ustad

Quote:Satu minggu kemudian. Berita tertangkapnya aku dan Roni sudah tercium sampai ke sekolah. Beruntungnya aku, di karenakan aku tidak terbukti menggunakan narkoba, setelah tes urin menjawabnya. Sedangkan nasib Roni, aku tidak tahu kelanjutannya. Kalian tahu, seorang pecandu narkoba dapat di tahan, paling sedikit tiga tahun dan paling lama sampai seumur hidup, adapun membayar denda dengan harga tertentu.

Kami berdua akhirnya di keluarkan dari sekolah. Namaku sudah tercemar buruk di sekolah. Semenjak kepulanganku dari kantor polisi, Bapak tak mau menerimaku lagi sebagai anak. Aku diusir, dianggap memalukan martabat keluarga, dianggap menjadi anak haram, anak durhaka dan sumpah serapah lainnya. Mulai detik itu aku mulai sadar, kalau selama ini kehidupanku sudah melenceng jauh dari jalur yang benar. Maksiat, dunia malam, barang-barang haram, meninggalkan ibadah sholat. Aku ingin merubah kehidupanku, agar lebih baik.

***

Pak Ustad mengangguk, mendengar cerita kelam panjangku yang penuh dengan drama kemaksiatan. Sebenarnya aku malu menceritakan ini kepada Pak Ustad, tapi bagaimana lagi, dengan adanya Pak Ustad, aku yakin—beliau dapat memberikan jalan keluar.

Hujan malam ini mulai reda. Gemuruh petir pun sudah tak lagi terdengar. Jam sudah menunjuk ke angka sebelas. Dua jam sudah Pak Ustad mau mendengarkan curahan hatiku.

"Hanafi, untuk saat ini, kamu tidur di rumah Pak Ustad dulu saja. Gimana?"

"Aduh, gimana ya, gak usahlah, nanti merepotkan." Aku menggaruk kepala bagian belakang yang tidak gatal.



Pak Ustad menantapku, "Sudahlah, tak usah dipikirkan soal repot-merepotkan. Daripada kau kedinginan disini, nanti kalau sakit gimana?"

Aku masih binggung, tapi berkat dorongan hati nuraniku yang paling dalam, aku mengangguk, mengiyakan ajakan Pak Ustad. Pak Ustad mengambil payung di sisinya, mulai turun dari balai bambu, mengembangkan payung—aku ikut di belakangnya. Hujan sudah reda, bintang-bintang sudah kembali memancarkan sinarnya di langit.
"

Rencananya, Hanafi mau kemana?" Tanya Pak Ustad.



"Mungkin ke rumah Paman, Pak Ustad."

"Di mana?"

"Di Jawa Timur, Pak Ustad."



Kami berbincang-bincang melewati gang sempit yang semakin sunyi, menuju ke rumah Pak Ustad yang letaknya berlawanan arah dengan gang rumahku. Setibannya di sana, Pak Ustad menunjukan kamar kosong untuk menjadi tempat tidurku semalam.

"Ini kamarmu," tunjuk Pak Ustad.

"Terima kasih banyak, Pak Ustad. Tanpa Pak Ustad, mungkin aku sudah mati kedinginan di balai bambu." Ku jabat tangan beliau dan ku cium.

"Ya sudah, tidur sekarang. Nanti shubuh bangun ya."

"Insya Allah, Pak Ustad. Saya akan berusaha." Aku tersenyum, memasang wajah seceria mungkin.

Pak Ustad menutup pintu kamar, meninggalkanku sendirian. Di kamar ini, terdapat beberapa foto-foto yang terpajang di dinding. Ada beberapa foto-foto ulama besar di negeri ini, dari kesemua foto itu, ada satu hal ganjil yang membuatku menatapnya lebih lama. Foto siapa ini? Seorang gadis berkerudung nan cantik dengan senyum manisnya.

***

Jam 04.30 pagi, alarm yang sengaja ku pasang di hp, berdering, membangunkanku dari mimpi indah sesaat. Bergegas turun dari kamar, menemui Pak Ustad yang kebetulan sedang bersiap bertolak ke mushola.

"Alhamdulilah, sudah bangun," ucap Pak Ustad.

"Pak Ustad, aku tidak membawa sarung."

"Oh, sebentar, aku ambilkan dulu." Pak Ustad masuk ke dalam kamar, dan keluar membawa sarung beserta baju koko. "Ini pakai punyaku saja. Aku berangkat dulu ya."

"Ya, Pak Ustad." Aku mengangguk. Lekas mengambil air wudhu, memakai sarung, dan baju koko.

Selama aku hidup, ini pengalaman pertama, bangun pagi-pagi, berjalan di gang kampung ini, menuju ke mushola, melaksanakan ibadah sholat shubuh. Entah mengapa— hari ini benar-benar berbeda dengan hari-hariku sebelumnya. Biasanya aku malas bangun jam segini, entah itu di bulan ramadhan, setelah sahur—aku langsung merapat ke kamar, melaksanakan tidur.

Suara Iqomah sudah terdengar, bergegas mempercepat langkah kaki menuju ke mushola. Pagi itu cukup dingin. Sejarah dalam hidup, melangkah ke dalam mushola, menunaikan ibadah sholat shubuh. Hanya segelintir orang saja yang terlihat memenuhi sof depan. Saking sedikitnya, bisa di hitung dengan jari-jemari. Jamaah laki-laki hanya empat orang. Aku, Pak Ustad, dan dua lainnya, bapak-bapak.

Dalam setiap sujud, aku merasakan hatiku bergetar. Entah perasaan apa ini namanya, bahkan di sujud kedua dan seterusnya, aku merasakan ada perbedaan dalam diriku. Saat tiba di doa qunut, jujur—aku belum mengerti bacaan apa yang harus ku baca.

Dua raka'at di pagi itu, tak memakan banyak waktu. Tapi, kenapa banyak orang yang sulit dan susah untuk bangun pagi menunaikan ibadah sholat shubuh. Mereka beralasan sama, ngantuk, atau mungkin malas. Padahal itu merupakan salah satu kewajiban kita sebagai umat islam.

Selesai sholat shubuh, aku ikut berdoa. Dalam doaku kali ini, aku ingin menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih baik lagi, aku ingin kembali ke jalan yang benar, apapun resikonya yang akan aku dapat. Semoga doaku di selepas shubuh tadi, dikabulkan.

"Bagaimana, Hanafi? Tidak berat kan bangun pagi, menunaikan ibadah sholat shubuh berjamaah?" Pak Ustad menepuk bahuku. Kami berjalan menelusuri jalan. Pulang.

"Tidak. Selama ini aku bodoh, kenapa tidak pernah mau bangun pagi." Aku menepuk dahi.

"Ya sudah, itu masa lalu, jadikan masa lalu sebagai pelajaran, agar bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi." Pak Ustad memang seorang yang memotivasi hidupku. Aku merasa bersalah, karena seringkali menolak ajakannya untuk mengaji dan ajakan kebaikan lainnya.

"Assalamualaikum.." Pak Ustad mengetuk pintu rumah.

"Waalaikumsalam.." terdengar suara istrinya menyaut dari dalam. Kebetulan beliau sedang berhalangan, jadi tidak diperbolehkan untuk melaksanakan ibdah sholat. Ya, itulah keistimewaan kaum hawa.

"Dek Hanafi, sarapan ya?" ucap Bu Ustad.

"Oh, tidak usah repot-repot Bu." Aku menyeringai.

"Eh, tak baik loh, menolak rejeki."

"Bener tuh kata istriku, kita tidak boleh menolak rejeki yang sudah diberikan oleh Allah SWT. Entah itu lewat perantara, contohnya istriku tadi, menawarimu sarapan." Pak Ustad kembali memberikan sedikit demi sedikit ilmu tentang agama yang bagiku masih awam.

Ibu Ustad terlihat sudah ke belakang, terdengar suara menggoreng, sepertinya beliau sedang sibuk mempersiapkan sarapan. Aku jadi tidak enak, aku harus segera pamit dari sini, jangan sampai menginap disini lagi.

"Oh ya, Hanafi. Kau yakin mau pergi ke jawa timur?" tanya Pak Ustad.

"Yakin, Pak Ustad."

"Memang, sudah ada biayanya untuk pergi kesana?"

"Oh, itu, ada kok."

"Kalaupun kurang, kamu bisa pakai uang ini." Pak Ustad memberiku amplop cukup tebal, berisi uang. Tapi aku menolaknya.

"Aku sudah punya ongkos, Pak Ustad." Aku nyengir, salah tingkah.

"Rejeki loh? Tidak boleh di tolak?" Pak Ustad memaksaku menerima pemberiannya. Mau tidak mau, enak tidak enak, aku harus terima.

"Tapi.."

"Jangan tapi-tapian. Sudah simpan saja, kau pasti butuh." Pak Ustad memotong.



"Terima kasih, Pak Ustad. Aku berhutang budi."

Dari belakang, Ibu Ustad datang membawa teh hangat dan gorengan pisang. "Silahkan di minum, di makan, sambil nunggu nasinya matang."

"Repot-repot. Aku jadi gak enak nih."

"Kalau gak enak, kasih kucing aja sono, di depan rumah banyak." Pak Ustad menggeluarkan humornya.

Inilah ciri khas Pak Ustad. Beliau tidak terlalu serius tegang, tapi santai dan kocak, serta memotivasi. Beginilah sosok yang aku suka, dan baru kali ini aku menemui sosok seperti beliau. Baru sadar saja, dari dulu kemana saja ya gue.

"Aduh, kalau inget masa lalu, aku jadi merasa bersalah sama Pak Ustad."

"Bersalah? Bersalah kenapa toh? Lagipula, aku tak menggangapmu bersalah kok," kata Pak Ustad sembari tersenyum.

"Yang waktu itu loh, Pak Ustad." Aku mencoba menjabarkan kejadian yang membuatku bersalah kepada Pak Ustad.

Sepulang dari sekolah di bulan ramadhan tahun kemarin. Pak Ustad bertemu denganku di pertigaan pasar, entah itu kebetulan atau memang takdir Tuhan. Aku dan Doni sedang asyik menikmati makan siang di warung kecil penjual bakso.

Bulan ramadhan tahun kemarin, tak satupun aku menjalani ibadah puasa, selalu saja membatalkannya selepas pulang sekolah. Doni sering sekali mengajakku makan, lumayanlah gratis-lagipula siang-siang gini, panas, haus, ditambah pula perut sudah mulai keroncongan akibat terlalu keras berpikir di sekolah.

Saat kami berdua sedang menikmati bakso dan es teh di siang hari yang panas. Tiba-tiba Pak Ustad hadir disana.

"Astagfirullah, Hanafi. Kamu tidak puasa?" Aku tersedak, saat melihat Pak Ustad menegurku. Malu rasanya.

Pak Ustad geleng-geleng, sepertinya dia habis belanja untuk persiapan buka puasa, membawa plastik hitam besar berisi sayur-sayuran dan daging.

"Bukan urusan Bapak, lagipula yang akan menanggung dosa kan aku sendiri." Aku tak menggubris teguran Pak Ustad, kembali meneguk es teh. Kalau seandainya aku nurut dengan Pak Ustad, apa kata temanku nanti. Terutama Doni, dia pasti meledekku habis-habisan. Pak Ustad menghela nafas, mengelus dada, lekas pergi meninggalkanku.

"Siapa tadi?" Doni yang baru datang dari belakang, meneguk es teh.

"Tetangga, biasa."

"Oh, kirain Ustad. Dari tampang-tampangnya sih, kayak Ustad."

"Bukan, ah sudahlah, lupakan."

Bukan hanya itu saja aku mengabaikan teguran Pak Ustad. Waktu malam ramadhan, selesai sholat tarawih, banyak anak muda kampung sini yang berlomba-lomba pergi ke mushola untuk tadarus, sedangkan aku sendiri-asyik menghisap rokok, meneguk kopi sembari memetik gitar di balai bambu.

Pak Ustad kebetulan lewat, hendak pergi ke mushola, menegurku, "Aduh, Hanafi, Hanafi, kok malah disini sendirian, gitaran. Gak ke mushola? Anak-anak muda banyak yang disana juga loh, yuk ikut tadarusan."

"Ah, tidaklah Pak Ustad, males."

"Males? Daripada disini, bengong sendirian. Mending ke mushola, ramai, banyak teman, dapat pahala pula."

"Gak lah, lagipula, aku tidak fasih membaca Al-Qur'an."

"Aku juga sama sepertimu Hanafi, mereka juga sama, masih belajar. Gak usah malu-malu, yang penting niat, Insya Allah dapat pahala." Pak Ustad kembali merayuku, tapi entah kenapa, hatiku tidak terketuk. Masih bisu, malas untuk ikut.

Aku menggeleng, tetap memetik gitar, sambil menghisap rokok. Pak Ustad ikut geleng-geleng, lekas meninggalkanku.

"Asaalamualaikum."

"Waalaikumsalam," jawabku ketus.

***

Berbincang-bincang santai dengan Pak Ustad yang selama ini sudah ku acuhkan, kini beliau hadir di hadapanku, tak mempunyai dendam ataupun amarah, bersedia memberi jalan keluar untukku.

"Pak Ustad?"

"Ya."

"Ngomong-ngomong soal foto di kamar belakang, itu foto siapa ya?"

"Foto yang mana?" Pak Ustad melipat dahi.

Aku menelan ludah, sepertinya suaraku tertahan, agak sulit untuk di keluarkan, sebelum akhirnya di paksa. "Foto seorang gadis berkerudung itu?"

Pak Ustad terdiam, tiba-tiba menunduk-memandangi teh yang mulai dingin. Aku binggung, salah tingkah, apa tadi aku salah ngomong. Aku ingat-ingat lagi, tapi tak ku temukan kesalahan.

"Dia adalah adikku. Namanya Fitri."

"Adik Pak Ustad?" Astaga! Aku tercengang bukan main. Selama aku hidup di kampung sini, belum sekalipun aku melihat ada seorang gadis cantik seumuranku yang bertamu ke rumah Pak Ustad. Bahkan waktu lebaran, aku tak pernah melihat adiknya maupun kakaknya, yang ada justru kedua orang tuanya dan mertuanya.

"Foto itu adiknya Pak Ustad?" Kali ini wajah Pak Ustad berubah, "Pak Ustad punya adik?" Aku memperbaiki variabel pertanyaan.

"Ya, Hanafi. Tapi.." Pak Ustad diam, tak melanjutkan kata-katanya.

"Tapi, kenapa?" Aku memotong, penasaran.

"Dia sudah meninggal dua tahun yang lalu." Pak Ustad menyeka ujung matanya.

Astaga! Jadi, memang benar kalau Pak Ustad punya adik perempuan. Seharusnya aku tidak bertanya soal itu tadi, jadi gak enak hati. Ah, bagaimana ini.

"Maaf, Pak Ustad. Aku tidak bermaksud.."

"Ya, tak apa Hanafi. Lagipula, semua keluargaku harus ikhlas. Karena apapun yang terjadi, pasti akan kembali, semua milik Allah SWT." Pak Ustad berusaha tersenyum, mengambil tisu, menyeka hidungnya.

Suasana berubah menjadi hening sesaat. Tiba-tiba istri Pak Ustad datang membawa nasi goreng berbau lezat. Suasana berubah menjadi ceria kembali. "Silahkan di makan, jangan malu-malu ya." Aku nyengir, mengambil piring yang sudah disediakan.

"Bu Ustad tidak ikut makan?" tanyaku berbasa-basi.

"Oh, sudah tadi di belakang."

"Biasalah, dia selalu makan duluan." Pak Ustad menyela, tersenyum kembali. Aku tersenyum kecil, menggaruk kepala yang tidak gatal.

Tangan kanan Pak Ustad sudah siap memegang sendok, dengan gerak cepat mengambil nasi goreng, mulut dan tangan kompak bekerja. Aku pun ikut terbawa suasana, lagipula dari malam aku belum makan, perut sudah mulai demo, macam pendemo di bundaran HI saja.

"Alhamdulilah." Pak Ustad mengakhiri sarapan paginya dengan mengucapkan kalimat hamdalah. Aku pun ikut.

"Oh ya, ngomong-ngomong soal adikku tadi, aku ingin sedikit bercerita kepadamu, Hanafi." Pak Ustad kembali membuka obrolan, tapi kali ini, obrolan yang barusan membuat beliau menitikan air mata.

Aku tersedak, sedikit memuntahkan teh yang aku teguk. "Maaf." Aku menyeka dagu yang basah. "Tapi kan?"

"Tidak apa-apa, tidak ada salahnya kan, aku bercerita kepada seseorang. Kamu ini orang pertama di kampung ini loh, yang akan mendengar cerita ini."

Aku diam, menatap wajah Pak Ustad lamat-lamat. Beliau pun menatapku takzim.

"Adikku meninggal karena suatu penyakit kanker."

"Kanker?" Aku memotong.

"Yah, kanker payudara. Keluarga kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membawanya ke dokter spesialis kanker, tapi Allah SWT punya rencana lain, dan kami harus menerima kejadian itu dengan ikhlas dan lapang dada."

Aku baru sadar satu hal, bahwa Pak Ustad yang biasa terkenal sangat bersemangat, ceria dan suka humor ini mempunyai cerita sedih yang mungkin kalau warga di kampung sini tahu, mereka pasti akan ikut menangis. Aku pun tak kuat membendung perasaan ini.

"Kalaupun dia masih hidup, mungkin sekarang dia se-usia denganmu." Pak Ustad mengakhiri ceritanya. Tapi, kali ini dia tidak lagi mengeluarkan air mata, sepertinya sudah benar-benar ikhlas.

***

Sinar mentari mulai berkilat, suara-suara nyanyian burung kian nyaring terdengar. Tas ransel beserta barang-barang kepentingan lain sudah siap, aku pamit pergi.

"Terima Kasih, sudah mengijinkan saya tinggal semalam di rumah Pak Ustad. Doakan saya Pak Ustad dan Bu Ustad, semoga saya bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi." Sebelum melangkah pergi, aku mencium tangan Pak Ustad dan Bu Ustad.

"Kau yakin ingin pergi?" tanya Pak Ustad lagi.

"Ya, ini sudah menjadi jalanku. Aku pasti bisa melewati rintangan dan cobaan ini, Pak Ustad." Aku tersenyum kecil, melambaikan tangan.

"Tunggu!" Pak Ustad berseru, lekas masuk ke dalam, mengambil sesuatu, "Ini nomor hp-ku, tolong kalau ada apa-apa, sms ya?"

Aku mengangguk pelan, lepas itu perlahan melangkah-meninggalkan keluarga Pak Ustad yang ternyata di balik keceriannya, terdapat satu cerita yang menyentuh hati.
profile-picture
aan2604 memberi reputasi
1 0
1
16-09-2019 20:54

BAB 6 - Tetap Semangat (Part 1)

Quote:Terik matahari siang itu menyengat, aku berpeluh kesah, berkali-kali menyeka dahi yang berkeringat. Satu minggu lagi, bulan ramadhan datang, marhaban ya ramadhan. Dan aku masih tak tahu arah, harus kemana aku melangkah. Aku tidak yakin, untuk pergi ke rumah Paman yang ada di Jawa Timur atau masih menetap disini, entah kemana.

Siang itu jam tanganku sudah menunjuk ke angka dua belas. Aku sudah berjalan jauh meninggalkan kampung halamanku, kini suara adzan memanggil hatiku untuk segera merapat ke masjid.

Masjid Jami Al-Huda, yang terletak di sisi jalan protokol, terlihat begitu ramai jama'ah yang hadir disana. Aku memutuskan untuk melangkah masuk ke dalam, mengambil air wudhu, berdoa sebisaku. Aku mulai menyesal, kenapa tidak dari dulu aku belajar agama, baca doa wudhu saja tidak bisa, bagaimana nantinya kalau aku jadi imam kelak kalau sudah berkeluarga.

Selesai wudhu, aku bergegas masuk ke dalam, ikut berjamaah. Alhamdulilah, aku masih ingat doa-doa sholat, karena aku sempat menghafal doa-doa tersebut ketika masih kecil dulu.

Tentram, damai, dan tak ada kata lagi yang bisa aku gambarkan ketika itu. Selesai melaksanakan ibadah sholat dzuhur, aku terduduk merenung, meratapi semua kesalahanku, mulai dari menipu orang tua, mabuk, menyakiti hati perempuan, malak, berkelahi, narkoba, dan huru-hara lainnya. Aku berdoa sebisaku, berharap semua doa-doaku dapat terkabul, aku yakin itu.

Satu persatu jamaah sholat dzuhur sudah pulang, tinggal aku dan seorang imam di dalam. Bahkan Imam pun sudah beranjak pergi, dia sedikit menoleh ke arahku berada. Mungkin heran melihatku menangis sedu, berdoa.

Setelah melaksanakan ibadah sholat dzuhur, aku beranjak keluar dari masjid, dan seorang Imam yang tadi, menyapaku dengan hangat. "Sendirian dek?"

Aku menoleh, tersenyum. "Iya," jawabku singkat.

"Dari mana mau kemana?"

"Dari rumah, entah mau pergi kemana sekarang. Aku tidak tahu arah." Aku duduk, memakai sepatu.

"Loh kok tidak tahu?" Imam tadi semakin penasaran.

Akhirnya, ku ceritakan semua kronologiku dari awal sampai aku di usir dari rumah. Imam tersebut menepuk bahuku, prihatin melihatku. Beliau memberikan beberapa saran terhadapku, aku mengangguk, lantas memahami.

***

Matahari kian menyengat, aku kembali melanjutkan perjalanan. Duduk di sisi jalan, menunggu angkutan umun datang, melambaikan tangan, angkutan merapat. Aku lekas masuk ke dalam, beberapa murid berseragam sekolah sudah berbaris rapi duduk di dalam. Aku tidak kebagian tempat duduk, terpaksa berdiri di samping kernet.

Melihat anak sekolah memakai seragam putih abu-abu, mengingatkanku akan masa indah itu. Ketika pertama kali berkenalan dengan Vina. Romantis sih tidak, tapi berkesan, entah apa itu namanya.

Di kelas X.3, Vina merupakan murid yang pandai, bahkan cantik dan pendiam. Kami satu kelas, tapi kami tak pernah saling sapa-menyapa. Dia pemalu, sedangkan aku sendiri, sok gak mau kenal dulu. Bukannya sombong, dulu sewaktu kelas satu, bakat playboy-ku mulai muncul dan membuatku semakin percaya diri. Mungkin ada sekitar tiga-empat cewek yang sedang mendekatiku. Tiga kelas satu, dan yang satunya-kakak kelas.

Keempat cewek tersebut ku tolak mentah-mentah karena memang hanya ada satu perasaan cinta yang terdalam di hatiku saat itu, yakni Vina si gadis pendiam dan kutu buku.

"Gila lo! Lo nolak keempat cewek yang ngajak jalan?" Doni geleng-geleng menatapku aneh.

"Ya, kenapa emang?"

"Dasar, sok ganteng kau." Doni terlihat sebal melihat gayaku.

"Kau iri?"

"Hah, sory ya, gini-gini gue juga masih laku kali!"

"Lah, mana cewekmu itu?" Aku tertawa, meledek.

"Belum saatnya lah, entar juga lo tau." Wajah Doni macam kepiting rebung.



Obrolan yang asyik akan tetapi membosankan, yah itulah Doni, sahabat sebangku. Setiap hari selalu sibuk dengannya. Sampai-sampai aku di bawa masuk ke dalam geng-nya, geng arjuna. Mengenal Roni, bertemu Lisa, dan bertaruh memperebutkan hati gadis tomboy, Putri.

Tapi dari kesemua itu, yang paling berkesan di hati adalah Rahma. Eh, kok Rahma sih, Vina maksudku. Rahma juga cantik, tapi tak sebaik Vina. Dia sosok perempuan yang sempurna di mataku. Sayang kesempurnaan itu berakhir dengan kehancuran. Itu semua jelas kesalahanku.

Pertemuanku dengan Vina tak semudah membalikan telapak tangan. Ada banyak hal konyol yang kadang membuatku tertawa sendiri dalam lamunan. Seperti waktu itu, dia sedang sibuk mencari novel di perpustakaan sekolah. Kebetulan aku sedang mencari buku geografi, dan di sudut perpustakaan yang lumayan sepi, kami saling bersitatap. Vina menarik pandangannya, malu, salah tingkah, kembali mencari novel di rak buku.

"Kamu Vina kan?" Aku berusaha membuka obrolan.

Dia berhenti mencari buku, menoleh ke arahku, "Ya, ada apa Hanafi?"

"Sedang nyari buku apa?"

"Novel Fiksi, kamu sendiri?"

"Buku pelajaran Geografi. Tapi kok gak ketemu ya?" Aku berlagak sok binggung.

"Ye lah, ini kan rak buku khusus novel. Kalau mau cari buku pelajaran, ada di sebelah rak ini."

Alamak! Aku benar-benar dibuat malu di hadapannya, salah tingkah, menggaruk kepala. "Oh, salah ya, maaf, soalnya baru kali ini masuk ke perpus."

"Oh, begitu ya," jawabnya singkat. Tatapannya datar.



Hari itu, aku belum berani mengobrol lebih banyak, masih canggung. Hari kedua sudah berani ber-basa-basi. Hari ketiga sudah berkembang lebih baik. Keempat sudah mulai saling bertegur sapa, dan di hari kelima, aku berusaha memantapkan hati untuk mengajaknya makan malam.

"Vina!" Aku berseru dari depan perpustakan.

Vina terhenti, menoleh ke belakang, lantas wajahnya meng-ekspresikan 'Apa'. Tanpa buang-buang waktu, lari ke arahnya.

"Nanti malam ada acara gak?"

"Nanti malam? Sepertinya belajar deh." Vina tersenyum, kembali berjalan, masuk ke dalam perpustakaan.



"Kan malam minggu?" Aku kembali menggoda, tak mau menyerah.

"Oh ya ya, sampai lupa." Vina menyeringai.

"Makan malam mau gak?"

"Makan malam?" Vina melongo.

"Ya, makan malam?" Aku memastikan, "Mau kan?"

"Ya, boleh." jawab Vina singkat, lekas melempar senyum tipis yang sangat manis.

"Yes!" Aku meluapkan ekspresi keberhasilanku dengan melompat. "Oh ya, kita ketemu dimana? Aku ke rumahmu, atau ketemu langsung di tempat?"

"Tempat aja ya.."

"Kalau di kafe dekat kota, gimana?"



"Boleh. Jam berapa?" tanya Vina, merespon.

"Jam setengah delapan. Oke?"



"Oke." Vina kembali melempar senyum ter-aduhainya saat itu, membuat degup jantung tak beraturan.

Oh..Vina, engkau sekarang sudah membenciku mungkin.

"Hey, anak muda! Kau mau turun dimana?" Kernet angkutan menghancurkan nostalgiaku, padahal sedang dalam waktu yang paling indah.

"Di terminal dekat pasar baru bang." Aku menjawab ketus.



"Mana ongkosnya?" Kernet menagih, macam Pak Ogah saja.

"Iya, iya, sebentar." Aku mengambil beberapa lembar uang dari saku celana.

Angkutan merapat ke tempat tujuanku, yakni terminal bus pasar baru. Jam tangan melingkarku sudah menunjuk ke angka tiga sore, suara adzan sudah berkumandang. Tiga hari lagi menjelang bulan suci ramadhan, bulan penuh berkah dan ampunan. Sebelum mencari bus, aku menyisahkan waktu untuk sholat di masjid terdekat. Setiap kali aku bersujud, damai dan tentram rasanya hati ini. Galau dan resah tak lagi terasa.

Selepas sholat ashar, aku bersiap diri untuk memesan tiket bus jurusan jawa timur. Bolak-balik, tak pula ku temui bus jurusan jawa timur, kebanyakan jurusan ke jawa tengah. Aku menyeka peluh di dahi, mengambil napas dalam-dalam, kembali melangkah di keramaian warga.

"Pak, numpang tanya, bus jurusan jawa timur kok gak ada ya?" Aku bertanya kepada bapak-bapak yang menjadi petugas parkir di terminal.

"Oh, disini tidak ada dek, kalau mau cari, pergi ke agen saja, pesan dulu."

"Dimana Pak?"

"Adek lurus saja dari sini, belok kanan, kalau ada gang kecil, masuk saja, lurus nanti ada pertigaan, belok kanan lagi, nah disitu." Bapak itu bersemangat menjelaskan detil lokasi.

"Terima kasih, Pak."

"Sama-sama, dek."

Tekad sudah membulat, ku putuskan untuk pergi ke jawa timur hari ini juga kalau bisa, sebelum uang ini habis. Berjalan mengikuti petunjuk dari bapak tadi. Matahari mulai merosot ke ufuk barat, senja kian datang.

Sial. Di pertigaan jalan gang yang sepi, aku di hadang oleh tiga orang preman bertubuh kekar, dipenuhi rantai dan tato.

"Serahkan uangmu?" Salah satu dari mereka mengancamku menggunakan pisau.

Aku mengundurkan langkah ke belakang, tapi kedua rekannya sudah memagariku. Aku menelan ludah, kalau aku beri semua uangku, nanti rencanaku pergi ke jawa timur gagal dong.

"Hey, jangan bengong, cepat sini, mana uangnya."

"Aku tidak punya uang bang." Aku memasang wajah memelas.

"Geledah celana dan tas-nya," preman itu menyuruh anak buahnya. Berkali-kali merogoh saku celana dan kemeja. Dan saat mereka hendak mengambil tas-ku, aku lekas menendang perut salah satu dari mereka. Aku berusaha lari. Tapi mereka berhasil menangkapku, dan detik itu pula, aku tak berdaya. Mereka memukuliku hingga berdarah-darah, habis itu mereka berhasil kabur membawa uang yang ku taruh di dalam tas. Musnah sudah harapanku untuk bertolak ke Jawa Timur.

Detik itu, aku tak bisa berbuat apa-apa, tubuh ini seakan remuk, tak berdaya, hanya bisa terlentang lemah di aspal. Tapi, aku melihat sesuatu yang ganjil di hadapanku. Seseorang gadis cantik berkerdung, memegang kitab suci, di terpa cahaya senja yang indah. Dia berteriak minta tolong. Aku tidak bisa apa-apa setelah kejadian itu, sepertinya aku tak sadarkan diri.

***

Saat terbangun, aku sudah berada di atas dipan, dengan jarum infus yang menancap ke tangan. Aku berusaha bangun, di sekitar terlihat sosok bibi yang tertidur menungguku. Aku menelan ludah, kenapa bibi bisa ada disini?

"Eh, Den Hanafi sudah sadar." Bibi terbangun, mengucek mata, lekas duduk di sebelahku.

"Bi, dimana aku?"

"Tadi kamu habis di pukuli oleh orang, dan beruntungnya tadi—bibi bertemu dengan seorang gadis yang meminta tolong, ternyata pas bibi lihat, itu Den Hanafi." Bibi menjelaskan kronologinya.

"Gadis?"

"Ya den, dia yang pertama kali menemukan Aden tergeletak lemah di pertigaan gang. Kebetulan tadi bibi habis pulang dari rumah, dan hendak berangkat ke rumah Aden."

"Bi, tolong jangan sampaikan kabar ini ke Ibu ya?" Aku memohon.

"Tapi Den ."

"Bi, aku mohon. Aku tidak ingin, Ibu mengkhawatirkanku."

"Tapi bibi sudah menelpon Ibu tadi, waktu Aden sedang tak sadarkan diri."

"Aduh, lalu bagaimana?" Aku menepuk dahi.

"Awalnya Ibu panik, tapi bibi berusaha menenangkannya, dan katanya, nanti malam Ibu akan datang ke sini."

Selepas kejadian menggerikan itu—yang bisa saja nyawaku tak terselamatkan, andai kata para preman tadi nekat menusukku dengan pisau tajam. Aku menghela napas panjang, bersyukur masih diberi kesempatan hidup. Tapi, siapa gadis berkerudung, memegang kitab suci, diterpa cahaya senja itu? Aku masih penasaran dengan sosoknya.

"Bi, bibi tahu tidak, siapa nama gadis yang sudah menolongku tadi?"

Bibi yang sedang membuatkan susu, menoleh, "Bibi tidak tahu Den, tapi bibi sering lihat gadis cantik itu."

"Dimana Bi? Dimana?" Aku bersemangat.

"Diminum dulu Den, susunya." Bibi memberikan susu, aku lekas meneguknya sampai habis.

"Dimana bi?" Aku kembali bertanya.

"Di masjid, yah, di masjid." Bibi menjawab ragu.

"Masjid mana Bi? Masjid kan banyak?"

"Kalau tidak salah, di masjid agung besar, di pusat kota. Waktu ada pengajian dulu, bibi sempat bertemu sapa dengannya."

Astaga! Masjid agung? Itu kan letaknya sangat jauh dari lokasi kejadianku tadi. Apalagi itu kejadian beberapa bulan yang lalu, waktu ada pengajian. Hah, kalaupun aku mencarinya di acara pengajian akbar itu, mana mungkin aku bisa bertemu dengannya. Ah, mustahil.

Tok..tok..tok. (Suara ketukan pintu).

Bibi lekas membuka, dan ternyata Ibu serta adikku. Mereka berdua datang tanpa Bapak, tanpa memberitahu Bapak. Kalaupun memberitahu, pastinya tidak akan di izinkan. Ibu lekas memelukku, memegang-megang wajahku yang lebam, meneteskan air mata, adikku juga. Bibi ikut terharu, aku pun ikut meneteskan air mata.

"Nak, kamu gak papa kan?" Ibu masih memegang wajahku.

"Iya Bu, Hanafi baik-baik saja kok."

"Setelah sembuh, sebaiknya kamu pulang ke rumah lagi ya. Biar Ibu yang akan bujuk Bapak."

"Tidak Bu. Hanafi tidak bisa pulang. Ini sudah menjadi takdir Hanafi."

"Terus, mau pergi kemana kamu nak? Ibu khawatir, kamu kenapa-napa lagi."

Aku memegang tangan Ibu, meyakinkan, "Tenang Bu, Allah SWT selalu bersamaku. Aku tidak takut."

Ibu kembali memelukku erat. Seakan tak ingin melepaskan anak laki-laki tunggalnya pergi begitu saja. Tapi, aku sudah berjanji dan bersumpah, kalau aku tidak akan kembali pulang, sebelum aku sukses dan menjadi orang baik.

Malam itu, menjadi pertemuan terakhirku dengan Ibu, adikku dan bibi, sebelum bulan suci ramadhan datang. Satu hari lagi, aku memutuskan untuk melanjutkan jalan takdirku yang sesungguhnya. Aku akan berjuang di jalan-ku, jalan yang telah ku pilih. Melupakan huru-hara, cinta, dan masa-masa indah sekolah yang kini telah lenyap di masa mudaku.
profile-picture
aan2604 memberi reputasi
1 0
1
16-09-2019 20:58

Tetap Semangat (Part 2)

Quote:Hari terakhir menjelang bulan suci ramadhan. Bulan ramadhan tahun ini berbeda dengan bulan ramadhan tahun lalu. Tidak ada keluarga di kehidupanku. Aku sedikit berat melaksanakan ramadhan tanpa kehadiran sosok Ibu, adikku, bahkan Bapak, walau terkadang Bapak sering memarahiku, tapi aku tetap merindukan mereka.

    Setahun yang lalu, setiap kali jam 16.00, aku sudah bersiap untuk ngabuburit bersama adikku ke pasar, untuk sekedar mencari makanan cuci mulut atau makanan pembuka. Setiap malamnya—jam 02.00, Ibu tak pernah letih membangunkanku dari tidur lelapku, menyuruhku untuk ikut sahur. Yah, walaupun aku tak pernah berpuasa, tapi setidaknya, momen-momen itu sangat indah. Dan sekarang, momen itu tak akan terulang kembali, entah sampai kapan.

    Sehari setelah aku terbaring lemah di rumah sakit. Aku memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalananku. Ibu, makasih sudah mau menjengukku, sudah memberi sedikit tabungan untukku. Aku berjanji, akan aku ganti suatu kelak, jika sudah sukses nanti. Bibi juga, terima kasih sudah setia menungguku, dan gadis berkerudung itu, ah, dimana kau berada, aku belum sempat mengucapkan terima kasih.

    Sore itu, aku tak memutuskan untuk pergi ke jawa timur. Ada satu hal yang masih mengganjal di hatiku, yakni gadis berkerudung yang hadir di bawah terpaan senja itu. Aku menyebutnya dengan nama 'gadis berkerudung senja'.

    Sore itu pula, aku mulai mencari keberadaanya, hanya untuk mengucapkan kata 'terima kasih'. Mencarinya, tak semudah mencari jarum di dalam jerami. Kalian bisa mendapatkan jarum dengan mudah di dalam jerami yang luas, tinggal bawa magnet raksasa saja, maka otomatis jarum itu akan ketemu. Simpel kan.

    Hari pertama pencarianku, nihil. Mulai ku telusuri dari terminal bus, sampai ke gang kecil yang telah membuatku tak berdaya. Bahkan sampai ke masjid terdekat daerah sekitar, tak ada satupun yang ku temui. Banyak gadis berkerudung disini, tapi tak ada yang se-istimewa sosoknya. Entah karena apa.

    Pencarian ku hentikan, saat mendengar adzan maghrib berkumandang. Aku memutuskan untuk ke masjid di daerah sekitar, melaksanakan ibadah. Alhamdulilah, akhir-akhir ini aku berhasil memenuhi ke-lima sholat wajibku. Dan di malam ini, malam pertama bulan suci ramadhan, melaksanakan sholat tarawih.

    "ALLAHUMMA SHALI 'ALAA SAYYIDINA MUHAMMAD."

    "ALLAHUMMA SHALI 'ALAI."

    Sholat tarawih, adalah sunnah yang dilakukan khusus hanya pada bulan ramadhan. Tarawih diartikan sebagai 'waktu sesaat untuk istirahat'. Waktu pelaksanaan sholat ini, selepas sholat isya' , dan biasanya dilakukan secara bersamaan di masjid.

     Terdapat beberapa praktik tentang jumlah raka'at dan jumlah salam pada salat Tarawih. Pada masa Nabi Muhammad shalat Tarawih hanya dilakukan tiga atau empat kali saja, tanpa ada satu pun keterangan yang menyebutkan jumlah raka'atnya. Kemudian shalat Tarawih berjamaah dihentikan, karena ada kekhawatiran akan diwajibkan. Barulah pada zaman khalifah Umar, sholat Tarawih dihidupkan kembali dengan berjamaah, dengan jumlah 20 raka'at dilanjutkan dengan 3 raka'at witir.

    Sejak saat itu umat Islam di seluruh dunia menjalankan shalat Tarawih tiap malam-malam bulan Ramadhan dengan 20 raka'at. Adapun empat mazhab yang berbeda, yaitu mazhab Al-Hanafiyah (8 rakaat), Al-Malikiyah (sebagian 8 atau 20 raka'at) , Asy-Syafi'iyah (20 raka'at) serta Al-Hanabilah (sebagian 8 atau 20 rakaat). Sedangkan Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifah dari Bani Umayyah di Damaskus menjalankan shalat Tarawih dengan 36 raka'at. Dan Ibnu Taimiyah menjalankan 40 raka'at.

     Namun, di negeri ini, ada yang melaksanakan 20 raka'at, ada juga yang 8 raka'at. Seperti Nahdahtul Ulama (NU), mereka melaksanakan 20 raka'at dan 3 raka'at witir. Sedangkan Muhamadiyah, mereka melaksanakan 8 raka'at dan 3 raka'at witir.

    Pada pelaksanaan sholat witir yang menutup sholat tarawih pun terdapat ikhtilaf. Kalangan Muhammadiyah melakukan shalat witir tiga raka’at sekali salam, dan tidak ada qunut pada separuh terakhir bulan ramadhan. Sedangkan NU melakukan sholat witir 3 raka’at dengan dua raka’at salam, dan satu raka’at salam, juga qunut witir pada separuh terakhir bulan ramadhan.

***

    Hari pertama pelaksanaan sholat tarawih, masjid-masjid di penuhi dengan jamaah yang menanti-nantikan bulan suci ramadhan. Beginilah, ke-istimewaan bulan suci ramadhan, kalian bisa saling bertegur sapa dengan para tetangga yang jarang keluar, berlomba-lomba mencari pahala, berbuat baik kepada sesama. Indah memang, apalagi jika kalian bisa melaksanakan bulan suci ramadhan bersama keluarga tercinta kalian. Dan tahun ini, sepertinya tidak. Aku tidak bisa menikmati bulan suci ramadhan bersama keluarga di rumah. Yah, ini cuma soal waktu.

    Selepas sholat tarawih, aku binggung mencari tempat tinggal sementara. Masih terdiam, duduk di teras masjid, mendengar lantunan ayat-ayat suci yang di kumandangkan oleh bapak-bapak dan para kawula muda di daerah setempat. Aku hanya bisa menangis dalam hati, rasa sesal sepertinya sudah terlanjur menusuk. Dulu aku menolak untuk belajar mengaji, aku akui semua itu kesalahanku. Ingin rasanya, aku bisa membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an dengan fasih, seperti mereka yang sedang melangsungkan tadarus.

    Perut sudah keroncongan, aku lekas mengambil sepatu, memakai, dan pergi mencari warung dekat sini. Sekitar dua puluh meter di belakang masjid, ada warung sederhana yang lumayan ramai.

    "Bu, nasi sama ikan pedasnya, sama jangan asam." Aku menunjuk-nunjuk ke kaca, layak seorang bos yang sedang menyuruh-nyuruh karyawannya.

    Ibu penjual makanan itu dengan cekatan mengambil pesananku, dan menyerahkan. "Minumnya apa, Mas?"

    "Teh manis saja bu."

    "Oke."

    Entah mengapa, setiap kali aku makan di warung sederhana, macam warteg, selera makanku bertambah, apapun makanannya, rasanya benar-benar sedap dimakan. Beda dengan restoran elit, makanan terlihat mewah dan mahal, akan tetapi, rasanya biasa-biasa saja, tidak ada sedap-sedapnya. Aku tidak membela secara sepihak, ini berdasarkan pengalaman pribadiku.

     Selesai makan, aku berusaha ikut gabung ke obrolan bapak-bapak di sekitarku, yang sedang asyik membicarakan soal politik di negeri ini. "Hah, sekarang apa-apa serba mahal, pemasukan sedikit, biaya hidup serba mahal. Kapan rakyat kita sejahtera." seorang bapak berkumis tebal protes, kembali meneguk kopi.

    "Hah, kau ini, sudah macam pengamat politik ternama negeri ini. Protes mulu." Bapak tua lainnya menimpali, terkekeh.

    "Bagaimana tidak protes, saya sudah mengabdi sebagai pegawai honorer selama kurang lebih tiga belas tahun, tapi belum diangkat jadi PNS (pegawai negeri sipil), sedangkan mereka, yang tukang parkir, bukan pengabdian kepada negara, kok malah jadi PNS. Coba bayangkan? Siapa yang tidak sakit hati? Mana keadilan yang di lontarkan oleh para pejabat-pejabat pembela masyarakat kecil di negeri ini." Bapak berkumis yang merupakan salah satu pegawai tata usaha di salah satu sekolah swasta itu mengamuk. Aku hanya diam, menyimak obrolan mereka yang semakin malam, semakin seru, jadi teringat dengan balai bambu di kampungku.

    Kalian tahu, dulu sewaktu masih sekolah di bulan suci ramadhan. Selepas melaksanakan tadarus yang selesai jam 23.00, beberapa kawula muda dan bapak-bapak kumpul di balai bambu. Ada yang sibuk ngobrol tentang politik juga, ada yang main catur—bahkan sekali permainan, bisa sampai tiga jam lebih, lama amat ya, maklumlah, amatiran.

     Tapi biasanya, aku lebih sering menyibukan diri untuk bermain gaple bersama ketiga temanku, siapa yang kalah, maka raut mukanya siap di serang dengan tepung. Belepotan, macam charlie caplin.

     Begitulah asyiknya kumpul di balai bambu, kita dapat mengakrabkan suasana, menambah wawasan dengan cerita-cerita dari bapak-bapak. Bahkan sekarang—di warung tempat aku duduk, mereka juga mengajarkanku tentang arti menghargai kehidupan.

    "Lantas, apa yang akan kau perbuat? Aku tak bisa membantumu kawan. Ini sudah jalan ilahi." Seorang bapak yang memakai topi hitam itu mencoba menenangkan.

    "Yah, mau gimana lagi, kehidupan di negeri ini memang sudah di ujung tanduk. Aku harap, mereka (pemerintah) sadar dan dapat nensejahterakan seluruh warga negara Indonesia."

    "NKRI harga mati!" Salah seorang berseru.

    "Eh, ngomong-ngomong soal NKRI, tiga hari lagi ada pengajian besar loh di masjid agung. Kalian datang ya, jangan nongkrong di warung terus." Bapak ber-topi itu mengingatkan.

    Alamak! Pengajian besar.

    Kesempatan besar nih, untuk bertemu dengan gadis berkerudung senja. Semoga saja, di semogakan oleh Allah SWT.

    "Pak, permisi mau tanya sebentar." Aku mengacungkan tangan ke atas, semua bapak-bapak menoleh ke arahku.
"Ada yang mau aku tanyakan."

     "Tanya apa?" Bapak berkumis memotong.

    "Apa di daerah sini ada kos-kos-an gitu?"

    "Kos-kos-an?"

    "Ya, Pak. Aku butuh, tapi cuma satu minggu saja. Ada gak kira-kira?" Aku berharap.

    "Ada kok, kebetulan aku punya satu kamar kosong. Bisa kau pakailah, daripada suwung." Bapak ber-topi itu menyeringai.

    "Serius Pak?"

    "Serius lah, masa aku bohong. Kalau tak percaya, yuk, sekarang ikut bapak." Bapak ber-topi itu lekas mengambil dompet, membayar kopi. Aku pun sama, bergegas membayar, dan beranjak pergi dari warung sederhana, mengikuti bapak ber-topi tadi.
profile-picture
aan2604 memberi reputasi
1 0
1
16-09-2019 22:53

BAB 7 - Pak Jaya (Part 1)

Quote:Lima menit, kami sampai di rumah bapak ber-topi. Dia menunjukan kamar kecil yang lebarnya hanya lima langkah kaki manusia dewasa, dan panjangnya hanya sepuluh kaki. Kamar yang cukup gelap dan nyaman.

"Satu minggu berapa, Pak?" tanyaku sambil menengok isi kamar.

"Gak mahal kok, seratus saja." Bapak ber-topi nyengir, memasang harga. Aku mengangguk setuju.

Mulai malam ini sampai semiggu-aku tinggal di rumah bapak ber-topi yang dikenal oleh warga dengan panggilan Pak Jaya. Pak Jaya tinggal sendiri di rumah. Sebulan yang lalu, beliau di tinggalkan istrinya untuk selama-lamanya-karena terkena penyakit. Beliau bahkan tak punya anak satupun, jadi kehadiranku disini sedikit menghibur beliau.

"Kopi dek." Pak Jaya menawariku kopi, mengajakku duduk di ruang tamu. Dia menaikan satu kakinya ke atas paha, macam bos. Padahal barusan ngopi di warung, eh, ngopi lagi, gila benar ni orang.

"Terima kasih, Pak."

"Sebenarnya adek dari mana? Mau kemana? Kok cuma seminggu saja?" Pak Jaya menyeruput kopi hitam yang masih panas.

"Sebenarnya aku mau pergi ke jawa timur, tapi ada sesuatu hal yang membuatku bertahan di sini untuk sementara waktu."

"Apa ada tugas kerja?"

"Tidak. Aku belum kerja, Pak." Aku nyengir.

"Oh, ku kira kau sudah kerja. Lantas, apa yang membuatmu bertahan dan ingin tinggal disini?" Pak Jaya mulai tertarik.

"Seseorang, Pak." Aku nyengir lagi, menggaruk rambut yang berantakan.

"Pasti cewek ya? Cewek yang seperti apa? Disini banyak cewek yang cantik-cantik loh, siapa tahu, bapak kenal?"

Aku diam, memainkan jari-jemari.

"Ya sudah, kalau kau tak mau memberitahu, tidak masalah. Kadang cinta itu membuat kita terlihat aneh, yang tadinya malas, jadi semangat. Yang tadinya tidak suka olahraga, tiba-tiba suka olahraga. Ah, apalah dayaku, yang sekarang sudah menjadi duda." Pak Jaya tertawa renyah. Aku menatap takzim.

Entah mengapa, hatiku bergejolak ingin menyampaikan perasaan ini kepada Pak Jaya. "Sebenarnya gini Pak.."

"Yah, bagaimana? Tenang saja, bapak tidak akan bercerita ke siapapun kok. Lagipula..., oh ya, adek siapa namanya?"

"Hanafi, Pak."

"Oh ya, Hanafi. Lagipula Kan tidak ada yang kenal kau disini." Pak Jaya menyeringai, mengusap rambutnya yang sedikit beruban.

"Sebenarnya, aku sedang mencari seorang gadis berkerudung pak?"

"Apa? Gadis berkerudung? Ya ampun, sampai menginap pula disini?" Pak Jaya menepuk dahi, kembali meneguk kopi yang perlahan mendingin

"Ya Pak." Aku malu sebenarnya. Entah, kenapa perasaan malu ini tiba-tiba muncul begitu saja di dalam jiwa seorang mantan playboy.

"Lantas, siapa namanya? Apa dia saudarimu atau kekasih?" Pak Jaya menatapku antusias.

"Aku belum tahu namanya Pak. Dia yang beberapa hari lalu menolongku."

"Belum tahu namanya? Astaga! Bagaimana aku bisa membantumu." Pak Jaya berdiri, melangkah ke belakang, "Mau bikin kopi dulu, kau mau nambah gak?" Aku menggeleng, cukup. Baru tadi dia bikin kopi, eh, sudah habis, tu orang punya lidah gak sih?

Pak Jaya kembali duduk di kursi kayu yang sudah tua, kopi hitam kembali penuh dan hangat. Lantas kembali menatapku aneh, "Kau itu lucu ya, sebenarnya mau apa kau cari gadis itu?"

"Cuma mau bilang terima-kasih saja Pak." Aku nyengir.

"Astaga! Cuma mau bilang terima kasih saja-kah? Ada-ada saja anak muda jaman sekarang ini." Pak Jaya terkekeh.

"Gak salah kan?" Aku protes dengan sikap Pak Jaya yang menertawakanku.

"Ya, gaklah. Tapi itu lucu." Pak Jaya kembali tertawa, terpingkal-pingkal, bahkan sampai mengeluarkan air mata. Aku sebal, ku teguk kopi hitam yang dingin itu sampai habis.

"Sudah malam nih, sampai jumpa besok. Kita lanjut besok lagi. Aku masih penasaran dengan gadis berkerudung itu. Secantik apa dia." Pak Jaya beranjak dari kursi, melangkah menuju kamarnya, tak henti-hentinya tertawa.

Kopi sudah habis dengan cepat di hadapannya. Aku baru minum setengahnya saja, sedangkan malam ini Pak Jaya sudah menghabiskan tiga gelas kopi. Itu benar-benar gila!

Apa salahnya coba? Mencari seseorang yang telah menolongku. Setelah itu aku mengucapkan kata 'terima-kasih', selesai. Tidak akan ku perpanjang lebar lagi, cukup untuk bilang itu, tersenyum, lantas pamit pergi. Cerita selesai. Bukannya ngasih solusi, atau jalan keluar, eh, malah menertawakanku bagai wayang yang sedang ngelawak saja.

***

Pagi yang cerah, sinar mentari merambat pelan-begitu hangat menyinari permukaan bumi. Mengucek mata, dan melihat jendela, sial! Aku kesiangan, pagi ini aku melewatkan sholat shubuh. Saat ku lirik hp, ternyata hp-ku mati, lupa tidak di charger tadi malam.

Aktifivas hari ini sangat kosong. Tidak sekolah, tidak bekerja pula, dan aku berencana untuk mencari kerja sampingan. Tujuan pertamaku yakni ke pasar lama, yang letaknya tak jauh dari kampung ini dan terminal bus.

"Eh, kau sudah bangun. Pemuda hebat. Bangun pagi-pagi. Semangat sekali kau ini." Pak Jaya ternyata sudah menikmati kopi, sembari santai duduk di teras depan, melihat lalu lalang orang berangkat kerja, ada yang sekolah, dan belanja.

"Eh, Pak. Pagi-pagi udah ngopi aja." Aku mengacungkan jempol ke Pak Jaya, sembari senyum meledek.

"Ah, kau ini, meledek. Lagipula, beginilah hidupku, seorang diri, tanpa ada kekasih di sisi."

"Oh ya, aku mau pergi dulu Pak. Ada acara nih, aku hampir lupa." Aku bergegas memakai sepatu, dan pergi meninggalkan Pak Jaya yang terus tersenyum melihatku.

Pak Jaya, Pak Jaya, hah, aneh sekali dia.

Kini aku mulai melangkah menuju ke pasar yang hanya membutuhkan waktu dua puluh menit jalan kaki. Di beberapa sela gang, banyak ibu-ibu yang sedang belanja sayuran, sembari ngerumpi. Di ujung gang, banyak ku temui, orang-orang ber-jas yang sedang menunggu taksi datang, ada pula anak-anak sekolah yang sedang menunggu angkutan merapat. Aku hanya bisa tersenyum melihat mereka bersemangat menjalani aktifitas.

Di pasar lama, aku berusaha bertanya-tanya soal pekerjaan. Dari toko busana muslim, mereka bilang, "Wah, maaf mas, disini hanya membutuhkan karyawan wanita."

Kembali berjalan, ada tulisan lowongan kerja. Besar sekali. Aku lekas masuk ke dalam toko besi, dan lagi-lagi yang dibutuhkan karyawan wanita. Berputa-putar, tak kutemukan satupun pekerjaan lagi. Ku lirik jam di tangan kiriku, menunjuk ke angka dua belas. Aku segera cabut, meninggalkan keramaian pasar, mencari masjid ataupun mushola untuk melaksanakan kewajiban sebagai umat muslim.

Selepas sholat dzuhur, aku melihat ada sebuah pengumuman yang terpajang di mading masjid. Sebuah pengajian akbar yang bertajuk 'NKRI harga mati', yang akan di meriahkan oleh para habib dan ulama besar di negeri ini. Aku tertarik, mencatat jam dan hari pelaksanaan dalam memo hp.

Pukul 13.00, aku memutuskan untuk pulang ke kos-an. Duduk di teras depan, berkipas dan menyeka keringat di dahi. Begitu panas siang ini, aku baru tersadarkan satu hal. Kalau hari ini, hari pertama puasa. Astagfirullah! Aku sampai lupa, kalau tadi malam, aku tidak sahur. Berarti, Pak Jaya tidak puasa dong. Pagi-pagi sudah meneguk kopi hitam.

"Hei, kau sudah pulang?" Pak Jaya keluar dari dalam rumah, kali ini dia membawa pisang goreng yang sangat lezat. "Kau mau? Enak loh? Jangan sungkan-sungkan." Pak Jaya memberiku pisang goreng, aku menolak. Menggeleng takzim.

"Loh, kenapa?"

"Aku puasa, Pak!"

"Puasa? Tunggu-tunggu." Pak Jaya diam sejenak, memutar bola matanya, lalu berhenti, dan menatapku, sembari menaruh pisang goreng ke piring lagi.

"Astagfirullah! Aku lupa! Ya Allah, bagaimana ini." Pak Jaya menepuk dahi, lekas masuk, menaruh pisang goreng itu lagi, "Kenapa kau tidak mengingatkanku sejak pagi, hah?" Pak Jaya mendelik.

"Mana aku tahu? Aku juga lupa? Aku baru inget tadi." Aku menyeringai.

"Ah, macam mana ini, batal tidak ya?" Pak Jaya masih terlihat panik.

"Setauku, kalau kita lupa dan tidak sengaja makan ataupun minum, maka puasa kita sah-sah saja, Pak." Aku nyengir, menatap ganjil Pak Jaya.

"Ah, serius gak?" Pak Jaya masih panik.

"Ya itu setauku, kalau lebih jelas, tanya ke Pak Ustad saja. Biar jelas."

"Ah, ye lah."

"Bapak menang banyak deh, udah ngopi, makan pisang pula, pasti udah makan siang juga ya?" Aku tertawa.

"Ya, kau juga kan?" balas Pak Jaya.

"Aku cuma sarapan tadi pagi. Lepas itu aku tak makan dan minum lagi."

Hari pertama bersama Pak Jaya terasa begitu tentram, beliau tidak seperti sosok Bapak kandungku yang pemarah dan tak pandai berbincang dengan anak-anaknya. Sibuk dengan urusan duniawinya. Pak Jaya benar-benar bisa melengkapi kelemahanku. Buka bersama dengan Pak Jaya, sederhana, tapi menyenangkan dan nikmat tiada tara. Ibu, andai Bapakku seperti Pak Jaya, aku pasti akan selalu ceria.

Selesai berbuka, kami berdua melaksanakan sholat maghrib berjamaah. Di karenakan waktu maghrib dan isya' sangat singkat, kami berdua memutuskan untuk tidak pulang, dan santai duduk di masjid, menunggu sholat isya'.

"Eh, bagaimana soal ceritamu tadi malam?" Pak Jaya yang sedang terlentang, lekas duduk.

"Cerita yang apa, Pak?" Aku pura-pura lupa.

"Ah, kau ini, macam kakek-kakek pikun. Ya, cerita tentang gadis berkerudung itulah."

"Oh, itu. Kan sudah ku ceritakan semua." Aku nyengir, "Yah, begitu."

"Ciri-cirinya seperti apa? Barangkali bapak tahu orangnya?" Pak Jaya menatapku antusias.

"Tinggi semampai, cantik, senyumnya indah, ada tahi lalatnya sedikit sih di sebelah bibir, apalagi ya." Aku melamun, membayangkan wajahnya yang diterpa cahaya senja kala itu.

"Ah, kurang lengkap. Di kampung sini, ada dua gadis yang mempunyai ciri-ciri seperti itu." Pak Jaya membuat harapan.

"Serius, Pak?" Aku menatap matanya, memang terlihat serius.

"Ya, kau mau lihat?"

"Ya," jawabku semangat.

"Nanti, selesai sholat tarawih, akan aku tunjukan." Pak Jaya menyeringai, lekas berdiri, mengambil air wudhu, dan adzan.
profile-picture
aan2604 memberi reputasi
1 0
1
16-09-2019 22:55

Pak Jaya (Part 2)

Quote:Satu jam berlalu, Pak Jaya memanggil-manggil namaku. Aku menghentikan langkah, menoleh ke belakang, apa? Pak Jaya menunjuk-nunjuk sesuatu, ke arah jama'ah perempuan yang sedang berjalan pulang, kebetulan menuju ke arahku.

Aku baru ingat akan satu hal, kalau Pak Jaya akan menunjukan dua gadis dengan ciri-ciri yang sama seperti dugaanku. Aku memainkan kepala, Pak Jaya segera berlari-lari kecil ke arahku. "Itu, gadis yang kau maksud bukan?"

Aku menoleh, ke arah telunjuk Pak Jaya menunjuk. Ada tiga gadis menggunakan mukena, sedang berjalan pulang, selesai melaksanakan sholat tarawih. Aku menatapnya lamat-lamat, benar sih, ada tahi lalatnya, tapi bukan itu, jelas sekali bukan dia orangnya. Aku menggeleng. Pak Jaya menghela napas. Kami melanjutkan perjalanan pulang. Di tengah-tengah perjalanan pulang, aku bertanya sesuatu ke Pak Jaya. "Bukankah, masih ada satu gadis lagi yang belum bapak perlihatkan kepadaku?"

Pak Jaya menepuk dahi. "Aduh, ya, tapi dari tadi bapak tidak lihat gadis itu. Apa mungkin, sedang berhalangan ya...."

Huh, aku menghela napas, melanjutkan langkah lagi. Kali ini aku memutuskan untuk langsung tidur, tidak berbincang-bincang lagi dengan Pak Jaya, takut kesiangan—tidak sahur. Tarik selimut, pasang alarm di hp, dan tidur lelap. Hari kedua tidak ada hal istimewa. Semoga di hari ketiga, akan ada kejutan yang disisipkan Tuhan kepada hamba-Nya yang lemah ini.

***

Hari ketiga, akhirnya aku berhasil bangun tepat di jam sahur. Saat keluar dari kamar, ternyata Pak Jaya sudah duduk di atas kursi dengan meja berisi nasi, lauk-pauk, serta teh hangat. Aku mengkerdipkan mata berkali-kali, tidak menyangka kalau Pak Jaya sudah bangun dan mempersiapkan makanan.

"Wow, apa aku tidak salah lihat?" Aku masih sibuk mengucek mata.

Pak Jaya menyeringai lebar, bak kuda, menatapku ganjil. "Ayolah, cuci muka sana, mari sahur."

"Oke, baik-baik." Aku bergegas ke kamar mandi, cuci muka.

Kami pun menikmati sahur pertama. Aku merasakan hal yang berbeda, ketika sahur bersama Pak Jaya. Dia suka bercanda, membuat suasana menjadi ramai, walau kami cuma berdua.

Sahur selesai, Pak Jaya mengganti teh dengan kopi hitam. Aku hanya bisa geleng-geleng melihatnya meneguk kopi, menghisap rokok.

"Kau tidak merokok?" Pak Jaya menawari rokok.

"Oh, ya, terima kasih." Sebenarnya sudah lama sekali, aku tidak merokok, semenjak seminggu yang lalu. Tapi kali ini tak apalah, sekali-kali menghormati Pak Jaya. Sambil menunggu waktu imsak dan sholat shubuh, kami berdua berbincang-bincang.

"Eh, besok siang, lepas dzuhur, mau ikut gak?"

"Kemana Pak?" tanyaku.

"Pengajian akbar di masjid agung kota."

Pengajian akbar? Inilah kesempatanku untuk bertemu dengan gadis berkerudung senja itu. Aku yakin dia pasti ada disana, bahkan bibi juga pernah melihatnya—disana. Aku mengganguk mantap, "Ya, aku ikut."

"Bagus, semoga saja pintu hati kita terketuk ketika berkunjung ke pengajian." Pak Jaya tersenyum, kembali menghisap rokok di tangan kanannya.

Hari ketiga tinggal di kos-an Pak Jaya, tepat hari ketiga di bulan suci ramadhan. Selepas dzuhur, Pak Jaya sudah berpakaian rapi, mengenakan koko putih, sarung cokelat kotak-kotak, peci hitam, dan wangi-wangian. Aku pun ikut, hanya menggunakan kemeja, celana hitam, dan peci. Kami melangkah menuju ke pengajian akbar yang di adakan di masjid agung kota.

Sebelum pergi kesana, Pak Jaya mampir ke toko, untuk membeli perbekalan, macam air putih dan yang terpenting baginya, rokok. Aku menyeringai, melihat gaya Pak Jaya ketika membeli di toko. Pemilik warung nyengir, meledek Pak Jaya dengan bahasa batak yang tak di mengerti Pak Jaya.

Kami mulai melanjutkan perjalanan, menuju ke pertigaan. Pak Jaya melambai-lambaikan tangan, berusaha menghentikan angkutan yang datang. Sial, dua-tiga angkutan, tidak berhenti, terlihat penuh. Pak Jaya menghela napas, kembali duduk di halte.

"Tunggu disini saja Pak. Lagi pula, kalau angkot sedang sepi penumpang, mereka pasti akan merapat sendiri." Aku berusaha menasehati Pak Jaya. Dia hanya tersenyum, menepuk-nepuk baju kokonya yang berdebu.

"Ye lah, lagian masih jam setengah satu. Santai dululah."

Lima belas menit kemudian, satu angkutan merapat, kernet berteriak memanggil-manggil penumpang. "Yuk, berangkat-berangkat." Aku dan Pak Jaya bergegas masuk, terlihat angkutan masih sepi, hanya kami berdua.

Sepuluh menit berlalu, angkutan tak berangkat juga, Pak Jaya mulai gerah, dan sebal. "Beginilah yang aku benci kalau naik angkot."

"Loh, kenapa Pak?" tanyaku penasaran.

"Kernet sering menipu para penumpang, bilangnya 'yuk, langsung berangkat', tapi apa? Angkutan masih ngetem, menunggu penuh." Aku tertawa, melihat ekspresi Pak Jaya.

"Benar kan? Kenapa kau malah tertawa? Memangnya ada yang lucu?" Pak Jaya mendelik, menatapku yang masih tertawa.

"Ya jelas begitu-lah, mana mungkin angkot akan langsung berangkat kalau masih kosong. Dari jaman aku masih sekolah, sampai sekarang juga begitu pak. Itu trik spesial kernet." Aku tertawa, meledek Pak Jaya yang semakin gerah.

Satu-dua penumpang sudah masuk, ada ibu-ibu yang sepertinya akan ikut mengunjungi pengajian, ada pula karyawan perusahaan swasta yang sepertinya terburu-buru.

"Bang, lama sekali!" seru karyawan muda itu.

"Bentar bang, satu penumpang lagi," jawab kernet. Dia kembali sibuk menggoda penumpang untuk naik ke angkotnya. Satu-dua penumpang kembali masuk. Kernet berseru, "Berangkat cuy!"

Angkutan sudah meluncur deras, membelah keramaian jalan kota. Sesekali berhenti, ada penumpang turun, ada yang naik, berhenti di lampu merah, berkali-kali. Banyak sekali lampu merah di kota metropolitan ini, banyak pertigaan jalan, perempatan, bahkan simpang lima.

Pak Jaya menyeka dahi yang berkeringat, bergumam, "Panas sekali!"

"Sabarlah, bentar lagi juga sampai, Pak."

Lima belas menit, Pak Jaya berseru, kernet ikut berseru, angkutan melipir ke kiri. Aku, Pak Jaya dan Ibu-ibu berkerudung dan berpakaian serba putih ikut turun. Pak Jaya menarik napas panjang, lega, seperti membuang beban yang telah menumpuk di pundaknya.

"Ayok!" Pak Jaya mulai melangkahkan kaki, tak lupa pula, sebuah rokok sudah ia taruh di mulutnya. Aku menggeleng-geleng. "Bapak tidak puasa?"

"Eh!" Pak Jaya mengambil kembali rokok itu, nyengir menatapku. "Maaf, lupa. Maklum, sudah tua." Aku menahan tawa, menutup mulut dengan tangan kananku.

Suara sholawat sudah terdengar nyaring dan damai di telinga. Sebuah nyanyian 'Padang Bulan' di nyanyikan oleh seorang pemuda, di iringi hadroh atau musik terbangan atau brai.

Kalian tahu, terbangan atau brahi merupakan jenis musik yang di tabuh, bentuk tabuhan semacam genjring. Sedangkan brai berasal dari kata "birahi" yang berarti kasmaran atau jatuh cinta. Namun berahi di sini sebagai "berahi" kepada Allah atau lazim dikatakan "Brai maring Pengeran" (cinta kepada
Allah).

Dari berbagai sejarah yang ada, seni brai diperkirakan telah dikenal sejak abad ke-13 sebelum berdirinya Kesultanan Cirebon. Diceritakan, berawal dari tiga pemuda Timur-Tengah bernama Sayid Abdillah, Abdurrakhman, dan Abdurrakhim diperintahkan orang tuanya mencari seorang bernama Syekh Nur Jati di Tanah Jawa (Cirebon) untuk berguru dan memperdalam ajaran Islam. Selama dalam perjalanan itulah mereka menyenandungkan syair-syair mengenai keagungan Allah dan rasul-Nya, Muhamad saw. Mendengar irama itu, masyarakat yang belum mengenal Islam berbondong-bondong mengikuti tiga pemuda tampan itu dari belakang hingga ke Gunung Ampara Jati pimpinan Syekh Nur Jati.

Hadroh di jaman sekarang sudah sangat populer, bahkan saking populernya, banyak anak-anak remaja yang mulai mengidolakannya. Hadroh seringkali di pakai dalam acara pengajian maulid Nabi Muhamad SAW, mereka menggunakan hadroh sebagai musik penghantar sholawat.

"Wah, ramai sekali, Pak?" Aku terkejut saat melihat lautan manusia serba putih duduk rapi di sekitar masjid agung, bahkan sampai ke jalan-jalan dan taman kota. Mereka rela panas-panasan demi ikut mengunjungi pengajian akbar yang biasa di gelar tahunan. Bahkan kata Pak Jaya, tidak hanya setahun sekali, kalau ada peringatan maulid nabi, dan acara besar lainnya.

"Yuk, duduk sini." Pak Jaya memilih duduk di bawah pohon, yang lumayan terhindar dari panas.

"Kenapa bapak beli air putih? Kan sedang puasa?"

"Aku kan dah bilang, sudah tua, lazim-lah kalau lupa." Pantas saja sewaktu Pak Jaya beli rokok dan air putih di toko, pemilik toko senyam-senyum sendiri. Aku menepuk jidad, aku juga ikut lupa, tidak mengingatkannya.

    "Allohumma sholli wasallim 'alaa.. sayyidina wamaulanaa Muhammadin..
Allohumma sholli wasallim 'alaa.. sayyidina wamaulanaa Muhammadin..
'adada ma fi 'ilmillaahi sholatan.. daimatan bidawami mulkillaahii...
Sholatan daimatan bidawami mulkillaahii..."

    "Padang bulan, padange koyo rino.. rembulane sing ngawe-awe..
Ngelengake, ojo turu sore..
E... Kene tak critani, kanggo sebo mengko sore.."

Lantunan syair sholawat semakin membawa suasana menjadi damai. Aku baru sadar akan satu hal. Pengajian, walaupun banyak penonton, tapi mereka sangat tertib dan damai, beda dengan konser musik, penontonnya sama banyak, tapi keributan terjadi tiap menit, senggol sedikit—berkelahi. Tapi masih banyak orang diluar sana yang justru menyukai konser musik ketimbang datang ke pengajian, entah mengapa? Aku masih muda, usiaku tujuh belas tahun, belum mengerti tentang kehidupan, wawasanku belum luas.
profile-picture
profile-picture
aan2604 dan i4munited memberi reputasi
2 0
2
17-09-2019 06:23
pejwan, lanjut gan
profile-picture
adie.scottlang memberi reputasi
1 0
1
17-09-2019 07:45
wah cerita menarik
ditunggu kelanjutannya gan
profile-picture
adie.scottlang memberi reputasi
1 0
1
17-09-2019 10:01
ikut mantengin gan, cerita yang menarik
profile-picture
adie.scottlang memberi reputasi
1 0
1
17-09-2019 12:06
Quote:Original Posted By aan2604
pejwan, lanjut gan


Makasih gan dah mampir. emoticon-Malu
0 0
0
17-09-2019 12:08

BAB 8 - Pertemuan (Part 1)

Quote:Satu jam berlalu, jam tangan melingkarku sudah menunjuk ke angka 14.00. Nyanyian sholawat kepada kanjeng Nabi Muhamad SAW sudah selesai, dan sekarang seorang ulama sudah berdiri, memegang mikrofon, memberikan tausiyah kepada para pengunjung.

Tausiyah beliau kali ini, membuat hati kecilku menangis pilu. Sebuah cerita tentang seorang anak yang berjuang dalam kehidupan. Anak itu bukan anak yang menurut kalian biasa, tapi luar biasa. Bagaimana tidak, anak itu harus banting tulang saat usianya baru menginjak tujuh tahun, membagi waktu, sekolah dan merawat ibunya yang mengalami sakit stroke. Sejak anak itu masih kecil, Bapaknya sudah pergi, entah kemana, tak pernah kembali lagi.

Aku menyeka mata yang sudah meneteskan air mata. Pak Jaya menatapku lamat-lamat, tanpa komentar. Aku mulai merasakan masuk ke dalam cerita itu. Klimaks. Anak itu berhasil merawat ibunya dengan sabar, walau pada akhirnya harus merelakan ibunya pergi untuk selamanya. Tapi apa? Anak itu kini sudah tumbuh dewasa, dengan perjuangan keras—hasil yang didapatkan begitu indah. Dia kini menjadi seorang sarjana muda, sekolah sembari bekerja seadanya, lulus—bekerja sebagai seorang arsitek ternama di negeri ini yang telah menyumbangkan puluhan ide dalam pembangunan. Sampai dia besar, dia masih sering rutin, mendoakan ibunya, sesekali menjenguk ibunya di makam.

Mendengar tausiyah barusan, aku merasa bersalah besar pada kedua orang tuaku, terutama Ibu. Kadang, aku sering menolak permintaanya, kadang juga sering membohonginya. Aku menunduk, menatap rerumputan di bawahku, berharap dapat menemui jawaban yang tepat.

Suara adzan berkumandang, menghentikan lamunanku. Aku menghela napas panjang, berdiri dan bersiap untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Pak Jaya menepuk bahuku, sepertinya beliau tahu betul apa yang sedang aku rasakan.

Ratusan pengunjung sudah siap melaksanakan sholat ashar bersama—di masjid agung, aku dan Pak Jaya tidak kebagian tempat. Pak Jaya berteriak lantang, memanggil-manggil seorang penjual koran bekas.

"Nah, ini." Pak Jaya menepuk-nepuk koran bekas. "Ini buat alas kita."

"Kita wudhu pakai apa, Pak?" tanyaku binggung, karena tidak mungkin merangsek ke depan, mengantri di tempat wudhu. Bisa sampai maghrib baru kelar.

"Nah, ini gunanya air putih." Pak Jaya menyeringai, membuka tutup botol air mineral satu liter. "Pakai ini saja buat wudhu." Aku mengangguk setuju.

Koran bekas sudah disusun rapi menjadi alas. Aku dan Pak Jaya sudah berdiri di baris paling belakang. Ada ratusan jama'ah di sore itu. Aku merinding. Suara imam sudah melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an, menuntun ratusan jama'ah, sholat ashar.

Selesai sholat ashar, dzikir bersama. Selepas pukul 16.30, aku dan Pak Jaya memutuskan pulang. Kami menunggu angkutan di halte taman kota, ramai sekali sore itu, tidak hanya para ratusan jama'ah saja, ada pula karyawan pabrik swasta yang pulang kerja, ada pula yang sedang ngabuburit. Satu hal yang baru ku ingat saat itu, yakni gadis berkerudung senja yang beberapa hari silam telah menyelamatkan nyawaku.

"Hei, mau pergi ke mana kau?" teriak Pak Jaya memanggilku.

Aku berhenti, menoleh, "Ada sesuatu yang harus aku cari, Pak. Bapak pulang dulu saja." Aku tersenyum, melambaikan tangan.

Pak Jaya hanya meringis kecil menatapku aneh, "Ada-ada saja, anak muda jaman sekarang. Kalau sudah jatuh cinta, apapun akan dilakukan, oh indahnya masa muda."

***

Di antara ratusan jama'ah yang berlalu-lalang, aku mencoba merangsek, mendongak, tengok kanan dan tengok kiri. Di depanku—sekitar sepuluh meter, ada rombongan gadis berkerudung yang sedang asyik ber-selfie ria. Aku lekas berlari ke arah mereka, saat langkah ini mendekat, tiba-tiba rasa maluku muncul, apa-apaan ini, kenapa sekarang aku punya rasa malu seperti ini. Aku tepis jauh-jauh perasaan malu itu, berjalan mendekat ke-lima gadis berkerudung, saat ku tatap satu-persatu wajahnya, tak ada yang ku temui parasnya. Aku menghela napas panjang, kembali melanjutkan langkah lagi.

Tujuanku kali ini pergi ke bazar buku yang memang selalu hadir di setiap acara besar pengajian seperti ini. Bukan hanya penjual buku saja, ada juga pakaian islami, foto-foto para ulama, pokoknya yang serba islami disini ada, lengkap pula.

Di bazar ini, aku mulai memfokuskan mata, melirik sana-sini, macam orang mau mencuri. Tapi tak ku temui parasnya. Ah, kemana gadis itu? Apa memang belum takdirku bertemu dengannya, atau mungkin hanya sekali saja dalam kisah hidupku bertemu dengannya. Tapi aku percaya kata-kata Pak Ustad, "Tuhan punya rencana lain, yang lebih indah. Bahkan yang tak terduga."

Ada beberapa kata-kata istimewa lainnya yang masih ku ingat dalam benakku, yakni, "Man jadda wajada, barang siapa yang bersungguh-sungguh, maka dia akan berhasil." Atau mungkin, "Man saaro alaa darbi wasola, barang siapa yang berjalan pada jalannya, maka dia akan sampai (pada tujuannya)." Dua kalimat sederhana dari Pak Ustad yang selalu aku ingat-ingat dalam telinga sebelum aku melangkah pergi. Aku yakin, dua kata itu tak pernah bohong.

Cahaya mentari sudah merosot ke ujung barat. Gradasi cahaya di sore itu sungguh cantik. Aku menghentikan pencarianku, mungkin hari ini belum beruntung, tapi suatu waktu, pasti dapat ber-sua dengannya. Ini cuma soal waktu. Sebentar lagi jam berbuka puasa, aku lekas mencari rumah makan untuk sekedar membatalkan puasa hari ini.

Rumah makan padang, itulah tujuanku, terlihat sudah ramai, tapi tak apalah. Aku melepas sandal, masuk ke dalam, memesan makanan spesial dan teh hangat. Ku lirik di sekitarku, para muda-mudi, ada yang bersama pasangannya, ada yang bersama teman sekolah melakukan buka bersama, dan disini, aku duduk menyendiri.

Sembari menunggu makanan datang, ada satu hal ganjil yang menghalangi tatapanku. Sial! Itu bukannya si Rahma dan Doni. Ah, apa kata mereka kalau melihatku, seorang kriminal di sini. Doni terlihat sedang mencari tempat kosong, aku lekas menunduk, menutup wajahku dengan tangan. Sialnya lagi, mereka berdua duduk tepat di belakangku.

"Gimana sayang, puasanya hari ini?" Suara Rahma yang merdu, aku masih ingat jelas, itu suaranya.

"Alhamdulilah, lancar sayang. Kamu sendiri sih?" Doni benar-benar brengsek. Puasa? Aku tertawa geli dalam perut. Gombal sekali dia, dua tahun sekelas dengannya, belum pernah dia berpuasa.

"Semoga sampai hari terakhir ya sayang, semangat." Rahma menyemangati Doni.

"Tentu saja. Kan aku akan jadi imammu, kelak."

Aku berdehem, terbatuk-batuk kecil, tak tahan rasanya ingin tertawa lepas. Doni menoleh ke arahku, bahkan Rahma juga, aku mengintipnya dari kaca buram kecil yang menempel di dinding. Wajah mereka benar-benar membuatku geli. Tapi, ada satu hal ganjil lain, saat tak sengaja menatap salah satu wajah di belakang Rahma. Itu si gadis berkerudung senja yang telah menolongku. Alamak! Benar apa kata dua bijak dari Pak Ustad. Aku tersenyum, akhirnya, bisa ku temui pula sosoknya.

"Ini mas, makanannya." Seorang pelayan rumah makan menyiapkan makanan yang sudah ku pesan.

Lima menit berlalu, suara adzan maghrib sudah berkumandang. Aku lekas berdoa, dan siap menyantap makanan. Alhamdulilah. Nikmat sekali, buka puasa hari ini. Ku lirik lagi kaca buram itu, gadis berkerudung itu sangat anggun melahap makanan yang ada di depannya.

Selesai makan, gadis itu bergegas pamit dengan teman-temannya. Melihat kejadian itu, aku lekas memanggil pelayan, membayar, dan beranjak pergi. Tapi sepertinya Rahma curiga terhadapku, dia terus menatapku, tanpa berkedip. Aku lekas pergi jauh-jauh dari rumah makan padang ini, tujuanku yakni mengikuti gadis berkerudung itu. Seperti dugaanku, dia pergi ke masjid terdekat.

Alhamdulilah. Sholat maghrib usai, bintang-bintang sudah terlihat menghiasi langit, menemani bulan sabit yang menjuntai—indah. Selepas berdoa, aku bergegas keluar dari masjid, duduk di teras depan masjid, menunggu gadis berkerudung itu keluar.

Dua-tiga menit menunggu, alangkah indahnya malam itu. Gadis itu menuruni tangga masjid dengan anggun, duduk sebentar, memakai sandal, dan kini dia melangkah ke tempat ku berdiri. Subhanallah! Cantik sekali makhluk ciptaan-Mu yang satu ini. Aku bergumam dalam hati.

Apakah sekarang aku sedang jatuh cinta? Cinta sejati yang hanya ada dalam cerita dongeng?
profile-picture
aan2604 memberi reputasi
1 0
1
17-09-2019 12:10

Pertemuan (Part 2)

Quote:Cinta Sejati? Entahlah, aku tak mengerti. Tapi bagiku, jatuh cinta harus dibuktikan secara ilmiah. Harus ada bukti empiris yang cukup kuat menunjukkan bahwa aku benar-benar sedang jatuh cinta. Tapi, bagaimana caranya?

Sekarang aku tidak sekolah lagi. Lupa akan hukum fisika yang di gombalkan oleh Pak Muhid, ketika mengajar dulu. Beliau seringkali menyatukan hukum fisika dengan cinta. Dan itu, aku sangat menyukai. Pelajaran itu jadi lebih asyik dan menarik.

Mungkin jatuh cinta dapat di buktikan dengan mengecek detak jantung kita. Saat ku hitung detak jantungku di waktu normal setiap menitnya, dan ku hitung detak jantungku ketika melihatnya, aku menemukan perbedaan yang cukup signifikan.

Detak jantung normalku setiap menit mencapai; 60. Sedangkan detak jantungku setiap kali bersua dengannya, kira-kira; 71. Lebih 11 detak jantung. Aku mulai membuktikan, bahwa aku sedang menemukan cinta sejati.

"Permisi, mbak," sapaku lembut.

Gadis itu menghentikan langkahnya, menoleh ke arahku, "Ya, ada apa ya Mas?"

"Aku... aku mau..." Ah, macam mana ini, kenapa suaraku tiba-tiba hilang di kerongkongan.

"Ya, ada apa mas?" Gadis berkerudung itu mengulangi kalimatnya lagi, menatapku aneh.

"Aku hanya ingin mengucapkan terima-kasih. Yah, terima kasih." Aku mamainkan jari-jemari, sesekali membenarkan rambut. Sudah lama aku tidak merasakan grogi seperti ini, padahal dulu aku seorang playboy yang pandai merayu wanita, tapi sekarang bakat itu lenyap begitu saja saatdibuat berdiri di hadapannya. Kikuk.

"Terima kasih? Terima kasih untuk apa toh mas?" Gadis itu menatapku tidak mengerti.

"Terima kasih sudah menolongku beberapa hari yang lalu. Di pertigaan gang. Apa mbaknya masih ingat?" Aku menggaruk-garuk kepala, tanda grogi.

Gadis itu memurar bola matanya ke atas, membayangkan sesuatu. "Oh, Mas-nya yang kemarin babak belur itu ya?"

"Ya, benar. Terima kasih ya... Aku berhutang budi pada Mbak."

"Tidak usahlah berhutang budi, lagipula kan kebetulan aku melintas di gang itu. Sesama manusia, kita di wajibkan saling tolong menolong, seperti apa yang pernah disampaikan oleh Hadist Riwayat Muslim." Gadis itu mulai menjelaskan isinya.

"Barangsiapa yang berusaha
melapangkan suatu kesusahan kepada seorang mukmin dari kesusahan-kesusahan dunia,
maka Allah akan melapangkannya dari suatu kesusahan di hari kiamat dan barang siapa yang berusaha memberi kemudahan bagi orang yang kesusahan, maka Allah akan memberi kemudahan baginya di dunia dan akhirat. Barang siapa yang berusaha menutupi kejelekan orang Islam, Allah akan menutupi kejelekannya di dunia dan akhirat. Allah selalu membantu hamba-Nya selama hamba itu menolong sesama saudaranya."

Aku menatap takzim gadis berkerudung itu. Subhanllah. Baru pernah aku bertemu gadis yang cantik, sholehah, serta baik. Perangainya benar-benar membuatku terpukau.

"Permisi ya Mas, aku mau pulang dulu." Gadis itu pamit, melangkah pergi. Aku masih terpatung di tempat yang sama.

Mana mungkin aku seorang pendosa ini pantas menjadi kekasihnya. Saat tersadar, gadis itu sudah menghilang di hadapanku, aku lekas menoleh ke belakang, langkahnya sudah cukup jauh. Aku bergegas mengambil langkah, mengikutinya dari belakang. Aku harus tahu, dimana dia tinggal, setidaknya aku tahu, agar bisa berjumpa dengannya lagi, kelak.

Berjalan pelan-pelan, dan berlagak sok santai, agar orang di sekitarku tidak curiga kalau aku sedang mengikuti gadis berkerudung itu. Mulai dari naik angkot, tapi kami beda angkot, sampai turun di gang yang sama. Sejak beberapa hari lalu, sudah ku teguhkan hati ini untuk bisa mengenalnya dan tahu di mana tempat tinggalnya. Pertemuan singkat di sore itu, entah mengapa membuatku tergila-gila dengan parasnya.

Di pertigaan jalan, gadis itu telah hilang. Aku segera lari, dan setibanya di pertigaan, aku binggung, tengok kiri, tengok kanan. Aku menepuk dahi berulang-ulang kali. Ah, bagaimana ini, kenapa aku sampai kehilangan jejaknya.

Dari depanku, ada anak kecil yang kira-kira ber-usia delapan tahun. Mereka berdua laki-laki, sepertinya hendak pergi ke masjid, melaksanakan sholat isya' dan tarawih.

"Dek, kakak mau tanya sebentar?" Aku memasang senyum termanis, agar kedua anak kecil itu tidak takut melihatku.

"Tanya apa kak?" jawabnya polos.

"Adek kenal sama perempuan yang pintar mengaji, berkerudung, dan cantik gak di sini?" Aku berharap besar pada jawaban anak kecil di hadapanku.

Mereka berdua berbisik-bisik, yang satunya setuju, dan satunya tidak. Pada akhirnya, salah satu dari mereka menjawab, "Oh, Kakak yang suka mengajar ngaji ya?"

"Mungkin. Mungkin," jawabku meyakinkan.

"Ini rumahnya." Anak kecil itu menunjuk ke rumah di sisi kananku. Aku menatap lamat-lamat, begitu megah, rumah yang aku pandangi. Aku menelan ludah, sepertinya hanya benar satu hal, aku tidak pantas menjadi kekasihnya. Ah, kenapa sudah berpikiran ke situ, kenal saja belum, eh, kekasih.

"Terima kasih, dek."

"Sama-sama, Kak," jawab anak kecil itu polos, mulai melangkah meninggalkanku sendiri.

Aku masih berdiri di sana, menatap rumah yang begitu mewah itu. Tak ada angin, tak ada hujan, tiba-tiba, Rahma menepuk bahuku, mengagetkanku.

"Hey, Hanafi? Sedang apa lo di sini?"

Aku menoleh, terkejut bukan main, lantas kembali menoleh, berusaha membuang muka, tapi tidak bisa, sudah terlanjur. "Eh, Rahma, gak kok, tadi habis dari rumah temen, iya temen." Kalimatku tak lancar, terbata-bata.

"Bukannya kau tadi habis dari rumah makan padang kan?" Rahma memajukan bibirnya.

"Eh, ya. Kok lo tahu?"

"Tahu lah, kan lo duduk di depan gue. Ngapain lo disini? Sendirian kayak orang mau nyuri aja."

Aku lekas menarik tangan Rahma, mengajaknya ke pos kamling yang letaknya tak jauh dari rumah gadis berkerudung itu. Rahma berusaha melepaskan pegangan tanganku, bahkan dia mengancam untuk berteriak.

"Dengar Rahma! Dengerin gue. Gue tidak akan memperkosa atau apalah. Gue disini cuma mau tanya satu hal ke lo." Aku menatap mata Rahma dalam-dalam. Dia pun sebaliknya.

Rahma mengalah, dia menatap mataku. "Tanya apa?"

"Lo kenal gadis yang tinggal di rumah itu?" Jari telunjukku menunjuk ke arah rumah gadis itu. Rahma mendongak, terdiam sejenak, lantas menahan tawa.

"Eh, kenapa lo malah ketawa?"

"Lo lucu ya, emang kira, lo tu siapa? Hah? Mau deketin gadis itu? Kau itu playboy, dan seorang kriminal, Hanafi. Sedangkan dia itu gadis sholehah, yang taat terhadap hukum-hukum agama." Rahma membuatku drop di tempat.

"Ya, gue tahu kok. Gue memang kriminal, bajingan, atau apalah, terserah orang mau bilang apa. Bahkan Bapakku sendiri sudah menggangapku sebagai anak haram." Air mata mulai menetes, Rahma terlihat bersalah, mencoba meminta maaf dan menenangkanku.

"Gue tahu kok posisi lo sekarang gimana. Itu pasti berat kan." Rahma menyentuh bahuku lembut.

"Ya, sorry, gue agak cengeng akhir-akhir ini. Aku cuma butuh namanya dan kegiatannya sehari-hari, itu saja."

"Kalau soal nama, gue gak tahu. Tapi kalau kegiatan sehari-harinya, gue cuma tahu satu hal tentang dia." Aku menatap Rahma serius, dia kembali melanjutkan, "Akhir-akhir ini, dia selalu hadir di sekolah, mengisi acara pesantren kilat. Itu saja informasi yang gue tahu."

"Udah berapa lama lo lihat dia di sekolah?"

"Dua hari."

"Lo sendiri gak kenal sama dia?"

Rahma mengangguk, "Jelas tidak lah, kan rumah gue lumayan jauh dari dia. Lagian, gue cuma kenal wajah doang."

"Terima Kasih, lo dah mau ngasih info ke gue. Titip salam buat Doni dan teman-teman di kelas ya." Aku tersenyum.

"Siap. Ya dah, gue mau pulang dulu. Bentar lagi kan isya' , lo gak sholat?"

"Insya Allah."

Rahma sudah beranjak pergi. Hari ini, tepat di hari ketiga di bulan suci ramadhan. Banyak kejutan yang tak terduga. Mulai dari sore—waktu berbuka, aku bertemu dengan gadis berkerudung itu, akhirnya berhasil mengucapkan kata 'terima-kasih' , lalu bertemu Rahma, mendapatkan info berharga darinya. Terima kasih Ya Allah, engkau telah mengabulkan doaku selama ini.
profile-picture
aan2604 memberi reputasi
1 0
1
17-09-2019 12:31
Quote:Original Posted By hari11
wah cerita menarik
ditunggu kelanjutannya gan


Maaf kalau tulisannya masih banyak typo nya gan. Mohon dimaklumi. emoticon-Malu
0 0
0
17-09-2019 12:32
Quote:Original Posted By dzakycahpordjo
ikut mantengin gan, cerita yang menarik


Makasih gan, maaf kalau tulisannya kurang rapi.
0 0
0
17-09-2019 18:35

BAB 9 - Cinta Sejati

Quote:Hari keempat di bulan suci ramadhan. Aku mulai menyusun rencana konyol, walau sebenarnya hati kecilku menolak, tapi otakku sudah merespon untuk melakukan hal bodoh itu. Apapun yang terjadi, aku siap menerima.

Selepas dzuhur, aku bersiap diri untuk bertolak ke SMA Pancasila, tempat sekolahku dulu. Awalnya agak ragu dengan rencana ini, tapi tekadku sudah bulat.

"Hei, mau kemana kau?" Pak Jaya berseru. Dia sedang duduk menghadap televisi, menikmati acara telenovela siang itu, macam anak muda saja.

"Aku mau ke sekolah dulu, Pak."

"Sekolah? Mau apa ke sana?" Pak Jaya menyelidik.

"Menemui gadis berkerudung yang pernah aku ceritakan pada Bapak." Aku menyeringai.

"Astaga! Kau sudah bertemu dengannya?"

"Alhamdulilah. Tuhan punya rencana indah, Pak. Aku pamit dulu, Pak. Sudah telat nih." Aku lekas membuka pintu, keluar dari rumah.

"Eh, tunggu dulu. Kau belum menceritakan pertemuanmu itu?" Pak Jaya sudah siap menjadi wartawan dadakan, siap menjejaliku dengan puluhan pertanyaan. Aku melambaikan tangan, lekas pergi. Kalau misalnya—aku terus diam di sana, bisa sampai sore berbincang dengannya.

Seperti biasanya, aku naik angkot, kali ini turun di depan SMA Pancasila. Siang itu tidak terlalu panas, sedikit mendung. Aku mulai melangkah mendekati pagar utama sekolah. Tapi hati kecilku kembali menolak, kali ini otakku ikut setuju. Duduk di depan kedai yang masih tutup di siang hari, menunggu jam pulang sekolah. Satu jam lagi.

Satu jam bukan waktu yang cepat untuk menunggu. Menunggu adalah hal yang sangat membosankan. Tapi dari kata menunggu, kita belajar arti bersabar. Sabar itu tiada batasan, tidak ada kata, 'sabar itu ada batasnya', aku tidak pernah setuju dengan kalimat itu. Kalau sabar, ya sampai kapanpun harus sabar. Entah itu sampai kau menjadi tua, menjadi kakek atau nenek yang terbaring lemah.

Kring..kring.. (bunyi khas bel pulang khas SMA Pancasila)

Ratusan anak sekolah berseragam putih abu-abu mulai hilir mudik. Ada yang naik motor, ada yang menggunakan sepeda, ada pula yang jalan kaki. Aku masih setia duduk di kedai langgananku dulu bersama geng arjuna ketika masih sekolah, beberapa minggu silam.

Lima belas menit, kerumunan anak-anak sekolah sudah terlihat sepi. Hanya beberapa saja yang sedang menunggu angkutan umum datang, atau sekedar menunggu jemputan. Dari dalam, Doni dan rombongan gengnya datang, bercanda tawa. Di balik itu, tidak ku temukan sosok Roni, apa mungkin dia di keluarkan juga dari sekolah?

Aku berusaha memalingkan wajah, agar Doni dan teman-temannya tidak melihatku. Sialnya, Doni sepertinya curiga, dia tahu betul gestur tubuhku. Aku mendengar mereka sedang berbisik-bisik.

"Hei, kau yang disana!" seru Doni. "Hei, kenapa kau diam saja!"

Doni kemudian mendekat, berdiri di depanku. Lantas menatapku, tertawa lebar. "Lihatlah ini! Si anak kriminal datang." Doni berseru ke rombongan geng-nya.

Mereka segera merapat. Ikut tertawa, ada pula yang mengancamku. "Lo masih punya nyali toh! Hah! Berani sekali lo datang ke sekolah elit ini. Percuma, gak bakalan diterima." Mereka kembali tertawa. Tawa jahat mengejek.

Doni kembali berkomentar, "Hei, Hanafi. Gue peringatkan ke lo ya! Vina, Lisa, Putri gak bakal mau balikan lagi sama lo, lihat muka lo saja udah mau muntah." Teman-temannya terkekeh. Aku mendengus kesal. Sabar Hanafi, sabar. Kau masih puasa, tidak boleh emosi, biarkan mereka menertawakanmu, yang terpenting kau sekarang sudah berubah menjadi lebih baik. Entah, siapa yang membisikkan kata-kata itu kepadaku.

Tak selang lama, Rahma datang menemui Doni. Mereka masih setia menjalin kasih, seperti apa yang ku lihat kemarin sore di rumah makan padang.

"Sayang, pulang yuk." Rahma menggoda. Doni mengangguk, lantas berkata, "Tunggu dulu Yang, lihat, siapa orang ini." Doni menunjuk ke arahku.

"Hanafi! Ngapain lo disini?" seru Rahma. "Jangan bilang kalau mau menemuinya." Rahma menurunkan volume suaranya.

"Ya, kenapa?" Aku balik bertanya.

"Kalian bicara apa sih?" Doni menatapku dan Rahma bergantian. Penasaran.

"Yuk pulang, gak penting." Rahma menarik tangan Doni. Mereka berdua sudah pergi, begitu pula rombongan geng arjuna. Beberapa dari mereka mengacungkan ancaman kepadaku.

Dari kejauhan ku lihat Doni dan Rahma kembali berbincang-bincang. Serius sekali. Sepertinya Doni ingin tahu sesuatu tentang kedatanganku ke sekolah ini.

Sampai jam 14.00, gadis itu masih belum terlihat keluar dari dalam sekolah. Aku bersabar menunggu. Bahkan sampai satpam menutup gerbang. Aku panik, pikiranku berubah kacau, lekas ku berlari ke arah satpam, menghentikannya. "Tunggu, Pak."

"Eh, Hanafi. Baru kelihatan saja kau. Bagaimana sekarang? Sekolah dimana?" Pak Satpam terlihat respect.

Tapi aku tak menjawab pertanyaannya, "Pak, apa sudah tidak ada orang lagi didalam sekolah?"

"Sudah pada pulang semua. Kepala sekolah, juga sudah pulang."

Aku melipat dahi. "Apa?"

"Memangnya, mau cari siapa kau, hah?"

"Gadis Pak. Gadis berkerudung yang mengisi acara pesantren kilat." Aku berkata mantap.

"Gadis berkerudung pengisi acara pesantren kilat?" Pak Satpam menatap langit, berpikir sejenak, "Oh, hari ini dia tidak datang ke sini."

"Apa Bapak kenal?"

"Ah, kau ini, kau cari dia untuk keperluan apa? Biar nanti kalau ketemu, ku sampaikan."

"Tidak ada kepentingan sih, aku cuma mau...."

"Kenalan?" Pak Satpam memotong, terkekeh. Aku dibuat malu di hadapannya.

"Hanafi. Hanafi. Kau ini jangan bermimpi di siang bolong deh."

"Loh, kenapa?"

"Bapak akui, dulu kau memang punya banyak cewek, tapi yang satu ini jelas beda. Dia itu anak orang kaya, konglomerat. Lagipula, dia juga gadis yang sholehah. Aku tak mau kau merusaknya."

Aku mendengus kesal. Siapa pula yang akan merusaknya, Bapak kira aku ini hama perusak, atau mungkin parasit. Enak saja kalau ngomong. Aku bergegas pergi, meninggalkan sekolah. Melambaikan tangan, naik angkot, kembali ke rumah Pak Jaya.

Sampai di rumah Pak Jaya, aku langsung melempar tas kecil ke kamar. Pak Jaya terlihat masih tidur di atas kursi sofa, padahal satu jam lagi, waktu buka. Aku melangkah ke kamar mandi, menyegarkan badan, selepas itu mempersiapkan makanan dan minuman. Gantianlah, tadi pagi Pak Jaya sudah memberikan surprise, sekarang giliranku.

Tung..tung..tung.. (suara kentongan masjid).

"Pak, bangun Pak." Aku menggoyang-goyangkan tubuh Pak Jaya yang masih tertidur.

Pak Jaya meregangkan badan, lekas duduk, mengucek mata, berkali-kali mengkerdipkan mata. "Apa sudah shubuh?"

"Shubuh?" Aku terkekeh, "Ini maghrib Pak. Bapak gak buka?"

"Ya ampun, Bapak kira pagi, ternyata sore." Pak Jaya meluncur ke kamar mandi. Aku menyiapkan teh ke dalam gelas, dan beberapa lauk-pauk yang di beli di warung belakang masjid.

"Wah, sejak kapan kau pintar masak oseng-oseng?" Pak Jaya menarik kursi, duduk takzim.

"Sejak tadi, Pak." Aku menyeringai tipis.

"Rasa-rasanya, bukan masakan kau nih."

"Ah, Bapak sok tahu."

Kami menikmati buka puasa dengan nikmat. Nasi putih, oseng-oseng udang, sambal, telur dadar, teh hangat dan menu cuci mulut, pisang. Nikmatnya berbuka hari ini, andai saja aku bisa menikmati buka puasa bersama Pak Jaya dan keluargaku di rumah.

***

Hari kelima. Hari ini tidak terlalu memberi semangat, karena langit di pagi ini sudah hitam pekat. Hanya ada sedikit cahaya yang menerobos masuk ke daratan bumi. Setelah selesai sholat shubuh, aku memutuskan tidur lagi, eh, pas bangun sudah jam 09.00. Selepas itu, habis dzuhur tidur lagi, bagun jam 16.00 sore.

"Kau tidur lagi ya?" Sapa Pak Jaya, yang masih santai duduk melihat televisi.

"Ah, beginilah hidup seorang pengganguran yang tak punya masa depan," jawabku lesu, lantas pergi ke kamar mandi.

Selesai mandi, Pak Jaya memanggilku untuk ikut nonton acara telenovela favoritnya di ruang tengah. Dasar tua-tua keladi, jiwanya masih kayak anak muda saja, sukanya nonton acara lebay, macam telenovela, sinetron yang bertele-tele. Ah, soal bertele-tele, semoga kisahku tak seperti itu, aku harap dapat segera mengenal namanya, bercakap, dan lebih dekat.

"Eh, bagaimana ceritanya?"

"Cerita apalagi, Pak?"

"Ah, tadi malam aku lupa tidak menanyakan soal gadis berkerudung itu. Katanya kau sudah bertemu dengannya?" Pak Jaya duduk tegap, menatapku, menduakan telenovela.

"Baik-baik, akan kuceritakan. Selepas buka puasa." Aku mendengus kesal. Tapi aku putuskan untuk menceritakan kisah itu setelah berbuka puasa.

***

Matahari sudah tumbang di kaki bumi bagian barat. Adzan maghrib berkumandang. Berbuka puasa. Sungguh nikmat tiada tara.

"Bagaimana ceritanya? Bapak penasaran nih." Pak Jaya terlihat kepo.

"Kepo!" jawabku singkat.

"Kepo? Apaan itu kepo? Ah, orang setua yang hidup sebatang kara ini tidak tahu-menahu soal bahasa gaul itu." Pak Jaya mengusap dahi.

Aku duduk di sebelahnya, mengambil napas panjang, mulai bercerita dari awal pertemuan sampai pada rencana konyolku ke tempat sekolah. Pak Jaya menatapku takzim, sesekali tertawa, sesekali tersenyum, menepuk jidat.

"Haha..! Kau terlalu lebay, kata anak muda jaman sekarang, Hanafi." Pak Jaya menatapku aneh.

"Lalu, aku harus bagaimana?"

"Kalau dilihat dari alamat rumahnya, aku tahu siapa gadis itu."

"Bapak tahu? Siapa namanya? Aku memasang ekspresi memohon.

"Kau cari tahu sendiri lah, kau lelaki sejati kan?" Pak Jaya berkata serius, walau kadang tetap tak membuatku merasa serius.

"Lelaki sejati-lah!" jawabku tegas.

"Lelaki sejati adalah lelaki yang berani menyatakan perasaan, bukan hanya menganggumi di belakang, lantas membuat cerita, seolah-olah dia adalah kekasihnya."

"Ye lah, aku tahu."

 "Satu hal lagi." Pak Jaya menghela napas, "Berani jatuh cinta, berani ber-tanggung jawab. Berani ber-tanggung jawab, berani mencintai. Cinta adalah tanggung jawab. Jangan hanya cinta saja, lantas setelah perasaan cinta itu sudah mati, kau buang begitu saja, bagai sampah. Perasaan perempuan bukanlah sampah, perasaan perempuan bagai mutiara yang perlu dijaga. Sulit mendapatkannya, dan setelah kau dapatkan, rawatlah dan jagalah agar lebih indah. Karena perasaan mutiara tidak akan pernah mati."

Aku menatap Pak Jaya takjub. Sejak kapan beliau dapat berbicara macam motivator di acara per-televisian tanah air. Ah, mungkin beliau sering nonton acara itu dan mencatat kata-kata cantik itu ke dalam buku, lalu menghafalkan dan mempraktikannya di depanku.

"Eh, kau kira kata-kataku barusan menghafal? Mencuri dari acara televisi?" Pak Jaya mendelik, menimpukku dengan sajadah yang ada di meja.

"Satu hal lagi, Hanafi." Pak Jaya meneguk teh, menyalakan rokok yang sudah di genggamnya, mendesah nikmat. "Kau tahu tidak, ada berapa jiwa penduduk di bumi ini?"

Aku tidak peduli dengan pertayaan klasik guru sosiologi waktu baru menginjak kelas satu SMA dulu. Aku tidak menjawab.

"Ada tujuh milyar penduduk di muka bumi ini. Itupun belum terhitung hewan dan makhluk hidup lainnya."

"Lantas apa yang mau Bapak bahas sekarang?" Aku masih belum paham, arah pembicaraan Pak Jaya. "Jangan bilang, soal pelajaran sosiologi?"

Pak Jaya tertawa, kembali melanjutkan pembahasannya, "Di antara tujuh miliar penduduk bumi, ada berapa para remaja di antara angka itu?"

"Mana kutahu?" Aku mendengus sebal, siapa pula yang mau menghitung, bahkan pakar matematika pun tak mungkin mampu.

"Kita anggap saja, dua milliar remaja atau pemuda. Sisanya orang tua macam aku, anak-anak." Pak Jaya menghisap rokok lagi, terlihat begitu sedap menikmatinya. "Lantas, coba kau bayangkan, setiap hari ada berapa orang yang jatuh cinta dan patah hati, Hanafi?" Pak Jaya menghitung dengan jari-jemarinya.

"Tidak tahulah!"

"Menurut orang tua yang hidup sebatang kara ini, maka setidaknya setiap detik ada dua orang yang jatuh cinta, dan dua orang pula yang patah hati. Dengan demikian, satu jam berarti ada tujuh ribu dua ratus, satu hari berarti seratus tujuh ribu pasangan yang jatuh
cinta dan patah hati. Kalau kau tidak percaya, hitung saja sendiri." Aku mulai tertarik dengan pembahasan Pak Jaya, tapi tidak tertarik untuk menghitung.

"Luar biasa bukan. Karena jatuh-cinta atau patah-hati. Kau bisa mengalaminya berkali-kali, tidak macam mati atau lahir yang cuma sekali seumur hidup,
jangan-jangan angkanya lebih banyak lagi. Kau bayangkan, Ramai sudah bumi ini dengan kalimat ‘aku cinta kau’, atau 'aku sayang kau’, atau sebaliknya 'cukup sampai di sini. Kita putus, kita selesai.’ Seperempat juta manusia setiap hari, Hanafi. Bayangkan."

"Jatuh cinta dan patah hati ya?" Aku membayangkan, menatap keluar jendela. Pak Jaya menghabiskan hisapan terakhirnya.
Diubah oleh adie.scottlang
profile-picture
profile-picture
aan2604 dan i4munited memberi reputasi
2 0
2
18-09-2019 20:00

Cinta Sejati Part 2

Quote:"Hanafi, kau tahu tidak. Kalau aku boleh bercerita, kenapa aku sampai sekarang belum mencari pasangan pengganti lagi? Hidup menduda?"

Aku menatap mata Pak Jaya, seperti ada rahasia besar yang disimpan di balik bola matanya. "Boleh saja Pak, justru aku suka dengan cerita-cerita cinta yang nyata."

"Cinta sejati itu memang benar adanya. Aku sudah menemukannya, dan aku tak bisa mencari pengganti cinta sejati itu. Terlalu sulit dan mungkin setiap manusia hanya mendapat satu jatah saja di dunia ini. Satu cinta sejati. Dan jangan pernah sia-sia kan cinta sejati yang tulus itu, jagalah sampai maut memisahkan." Pak Jaya mengambil tisu, menyeka ujung matanya.

"Jadi begini, ceritanya." Pak Jaya mengambil napas panjang, sebelum bercerita panjang lebar. Masih ada waktu setengah jam lagi, sebelum sholat isya'.

"Dulu, ketika aku masih remaja se-usia kau. Aku sudah bekerja keras, banting tulang, mengais nafkah, demi mengobati Ibu yang sedang sakit keras di rumah. Aku merantau ke jakarta. Aku hanya lulusan SLTP. Dulu, ijazah SLTP masih bisa bersaing di dunia pekerjaan, bapak melamar sebagai cleaning service di salah satu rumah sakit ternama di ibu kota. Tiga hari selepas melamar, aku mendapat surat dari petugas pos. Jaman dulu tidak memakai hp, jadi kalaupun tidak mendapat surat dari perusahaan yang bersangkutan selama kurang lebih seminggu, ya alamat tidak lulus."

"Lalu?" Aku memotong.

"Aku mendapat surat berisikan panggilan interview. Aku menyambut hangat berita baik itu. Kebetulan, aku sedang bekerja sebagai kuli bangunan, ikut Paman. Aku meminta ijin tidak masuk selama sehari, alasan mendapat panggilan kerja di salah satu rumah sakit swasta. Paman mengijinkan, aku pamit. Bermodalkan alamat yang tertera di kop surat, aku melangkah pergi, naik oplet, tanya-tanya ke warga, sempat tersesat, dan pada akhirnya sampai juga di tempat tujuan, yah, walau agak telat sepuluh menit."

"Aku sudah berdiri di depan rumah sakit yang megah itu. Kalaupun di samakan dengan hotel, mungkin hotel bintang lima. Aku melapor ke satpam jaga, mereka mengijinkan, lantas menunjukkan jalan masuk ke tempat interview. Aku mengangguk, lekas berjalan masuk. Seingatku, ruangan itu ada di lantai dua—di sisi lift. Ruang tamu. Aku melangkah masuk, mengetuk pintu. Didalam sudah ada dua orang yang berpakaian sama sepertiku. Putih-hitam."

"Penyelia itu memberikanku puluhan pertanyaan yang membuatku sedikit gugup saat menjawab. Tapi dengan jawaban kepolosanku, aku diterima. Dua hari setelah itu, aku mulai aktif bekerja di rumah sakit, sebagai tukang bersih-bersih. Jaman dulu, tidak ada kontrak kerja. Jadi kami bekerja se-betah kami. Satu teman kerjaku mengundurkan diri, baru bekerja sehari. Katanya, dia gak kuat bekerja di rumah sakit, melihat darah bermuncratan, bertemu orang sekarat, dan kadang pula bertemu dengan keluarga yang sedang berduka." Pak Jaya mengambil napas sejenak, meneguk teh yang sudah dingin di atas meja.

"Kau tahu, Hanafi. Berapa tahun aku kerja disana sebagai kacung?" Aku menggeleng. "Tiga tahun lebih, dan di rentang waktu itu, aku bertemu dengan cinta sejatiku. Kau pasti tak akan percaya dengan kisah cintaku yang terbilang klasik dan khayal."

Pak Jaya kembali bercerita. "Di tahun kedua bekerja di rumah sakit. Aku menjadi karyawan senior, mungkin paling lawas. Aku dipindahkan ke bagian lantai tiga, tepatnya di ruang VVIP. Ruang khusus bagi orang-orang kaya. Dari situlah aku bertemu dengannya?" Pak Jaya tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca.

"Hari itu, aku mulai bertanggung jawab di ruang VVIP. Malam itu, jam sepuluh, aku sedang mempersiapkan kamar untuk pasien baru. Dikarenakan kamar VVIP sudah penuh, tinggal satu kamar yang kosong, dan itupun baru ditinggal pergi sama pasien, eh, ada pasien baru lagi. Macam mana ini, kenapa orang sakit setiap menit selalu ada. Macam orang jatuh cinta, mungkin."

"Satu jam, kelar sudah membersihkan kamar, sudah di steril dengan sinar UV (Ultra-Violet). Semprot dengan wangi-wangian, biar semakin harum dan nyaman. Aku bergegas ke ruang perawat, memberitahu, kalau kamar sudah siap dipakai. Perawat VVIP menelpon IGD, dan dalam waktu sepuluh menit, pasien itu sudah meluncur ke lantai tiga. Aku lekas membuka kamar menggunakan kunci, mempersiapkan dispenser, dan menunjuk-nunjuk fasilitas yang ada. Seperti televisi, kulkas, dispenser, shower, AC, dan telepon. 'Kalau butuh apa-apa, tinggal telepon saja Pak'. Sebelum aku pamit keluar, bapak itu memanggilku, meminta tolong untuk mengangkat bed dibagian kepala pasien agar lebih tinggi. Aku mengganguk, lantas memutarnya."

Aku menatap Pak Jaya takzim. Tak sedikit pun berkedip, ceritanya semakin menarik, aku ingin cepat-cepat selesai. Karena tinggal lima belas menit lagi, waktu bersantai sebelum sholat isya'.

Pak Jaya kembali tersenyum tipis, melanjutkan cerita. "Saat aku berdiri, dan menatap pasien yang terbaring lemah di atas kasur dengan peralatan medis yang masuk ke dalam hidung, dan beberapa perban di wajah dan tangannya. Tapi di balik itu, dia cantik. Matanya menatapku lamat-lamat, setelah itu tersenyum tipis, dari ekspresi wajahnya, mengambarkan kalau dia hendak bilang terima-kasih."

"Aku mulai penasaran dengan perangainya. Lantas merangsek masuk ke ruang perawat, bertanya. Siapa sosok gadis itu? Apa dia korban kecelakaan? Di mana tempat tinggalnya? Sialnya, perawat justru menggodaku dengan kalimat-kalimat yang membuatku malu kala itu. Akhirnya aku tahu namanya dari papan yang terpajang di dinding ruang perawat. Namanya 'Mega Susilowati', korban kecelakaan lalu lintas, alamat rumahnya ada di daerah Jakarta Utara."

"Jadi, Pak Jaya mulai suka nih, sama Mega siapa tadi namanya?" Aku meledek.

Wajah Pak Jaya memerah. "Mega Susilowati."

"Lalu bagaimana kelanjutannya, Pak?" tanyaku penasaran.

"Mulai detik itu, kerjaku jadi semangat. Dan satu hal, satu kamar yang sengaja ku bersihkan dibaris akhir, yakni kamar pasien bernama Mega. Karena aku ingin berbincang-bincang lebih lama dengannya. Entah mengapa, setelah aku melihat tatap matanya dan senyum manisnya di balik peralatan medis itu, semangat kerjaku tumbuh mengakar begitu hebat. 'Assalamualaikum! Permisi Pak, mau dibersihkan dulu, Bapak nunggu diluar sebentar ya.' , Bapak itu mengangguk, tersenyum, lantas berjalan keluar membawa koran tempoe doeloe.

"Sapu dan lap sudah siap, beberapa meja sudah di lap bersih, mengecek perlengkapan yang ada, lepas itu mulai menyapu. Gadis yang terkapar itu menoleh ke sisi kanan, di mana aku sedang sibuk menyapu. Aku memberanikan diri menyapanya, 'Mbaknya sudah baik?'. Dia tersenyum. Aku diam, masih berpikir keras mencari bahan obrolan. 'Oh ya, kalau boleh tahu, mbaknya masih sekolah?'. Dia hanya tersenyum. Aku tambah binggung, lantas mempercepat tugas kerjaku, dan segera keluar. Aku malu bukan main, dia tidak menjawab, hanya tersenyum."

"Mungkin dia belum bisa ngomong kali?" Aku memotong.

Pak Jaya menggeleng, kembali melanjutkan true story-nya.

"Satu bulan berlalu, aku mulai angkat tangan. Aku tak berani menyapanya lagi, dia masih tinggal di kamar itu. Sudah berkali-kali melakukan operasi di kakinya. Tapi masih belum kunjung sembuh. Suatu malam, Bapaknya memanggilku saat hendak pulang. 'Ya, ada apa Pak?'. 'Kau bisa jaga anak-ku malam ini tidak? Tidak usah khawatir soal uang. Aku membutuhkan bantuanmu Dek, aku ada meeting kerja, ini mendadak dan sangat penting.' Bapak itu menatapku penuh harap. Aku mematung di hadapannya. 'Kenapa bapak mempercayakan itu kepadaku? Bukankah aku ini orang asing?'
'Aku percaya padamu Dek, karena kamu itu baik. Anakku sudah bercerita banyak kepadaku. Kamu mau kan?' Bapak itu mengambil lembaran uang seratus ribuan, jumlahnya ada tiga. Aku menelan ludah, jaman dulu, uang ratusan ribu itu sangat banyak, kalaupun dibandingkan dengan sekarang, ada sekitar tiga jutaan rupiah mungkin. Aku menolak. 'Apa kurang?' Bapak itu menambahkan lagi. Aku menjawab tegas, 'aku tidak butuh uang sebanyak itu, Pak. Aku ikhlas kok.' Tapi Bapak itu tetap memasukan uang tiga ratus ribu bahkan ditambah dua lembar lagi ke saku seragamku. Bapak itu menepuk pundakku, lekas pergi."

"Aku kembali menelan ludah, ku ambil uang ratusan ribu itu, ku pegang. Alhamdulilah, dengan datangnya rejeki ini, aku harap bisa mengobati penyakit ibu di kampung. Jam 00.00, ku ketuk pintu kamar tersebut, lekas masuk ke dalam, gadis itu tertidur. Aku duduk di sampingnya, kebetulan ada sofa panjang. Lambat laun, aku ketiduran. 'Hey, bangun! Hey!' Aku terkejut mendengar suara itu, tidak asing bagiku. 'Ngapain kau tidur di sini? Hah?' , Anjas, salah satu karyawan yang sama sepertiku, membangunkanku. Dia masuk sif malam."

"Dia menatapku curiga, 'Di mana Bapaknya gadis itu?' Aku mengucek mata, 'Dia sedang meeting kerja, titip anaknya padaku. Cuma malam ini saja.' Anjas berbisik, 'dapat uang tips berapa?', aku bergegas mengambil satu lembar ratusan ribu ke Anjas, 'Ini, bagi sana sama teman-teman. Jangan sampai bocor ke kordinator ya!' Aku mengancam. Anjas menyeringai lebar, mengipas-ngipaskan uang itu, lantas pergi keluar. Satu-dua perawat masuk, mereka sepertinya sudah di sogok Anjas, hanya tersenyum kecil menggodaku."

"Pagi harinya, aku melaksanakan sholat shubuh di samping gadis itu. Dia sepertinya sudah bangun, berusaha duduk, mengambil air putih. Selepas menjalankan ibadah, gadis itu menyapaku riang. 'Kak, makasih ya, selama ini udah kasih perhatian ke aku, udah menjadi penyemangat dalam hidupku. Berkat kakak, aku mempunyai semangat hidup lagi.' Aku melongo, kalaupun aku bayi, mungkin sudah ngiler dengar kata-katanya. 'Kak! Kok diem!'.
'Eh, iya. Kamu sudah baikan?'
Gadis itu tersenyum ceria, 'Alhamdulilah Kak, tapi...' dia tidak melanjutkan kalimatnya. 'Tapi kenapa?' tanyaku. 'Sepertinya aku tidak bisa berjalan lagi kak?' Matanya mulai berkaca-kaca, perlahan meneteskan air mata."

"Lalu? Terus? Bagaimana?" Aku sudah macam wartawan, bertanya terus, semakin penasaran dengan kelanjutan ceritanya.

"Dua bulan dirawat di rumah sakit, bukan hal yang mudah bagi seorang gadis remaja se-usianya. Dan di hari sabtu, tepat pukul 15.00, dia di ijinkan pulang oleh pihak rumah sakit. Aku merasa lega dan senang mendengar kabar baik itu. Tapi, ada satu perasaan yang hilang, semenjak gadis itu tak lagi ada di kamar VVIP. Hari-hariku terasa membosanakan, aku sering melamun tak jelas. Suatu hari, aku dapat jatah masuk pagi. Jam istirahat, aku berkunjung ke ruang poliklinik untuk menemui temanku yang sedang berobat. Aku terkejut bukan main, saat melihat gadis itu ada di sana, tersenyum melihatku di atas kursi roda. Dia melambaikan tangan kepadaku, aku salah tingkah, hatiku berbunga-bunga, lantas menhampirinya, bercakap dengannya dan Bapaknya."

"Selepas itu, Bapaknya menyuruhku untuk datang ke rumahnya, malam itu juga. Katanya akan mengadakan syukuran atas anaknya yang semakin hari semakin membaik. Malam itu pula, aku berdandan rapi, meminjam motor paman, melesat ke sebuah kompleks perumahan, mencari rumah nomor-9. Lantas terkejut, rumah nomor-9 membuatku merinding dan merasa tidak pantas untuk masuk ke dalam sana. Rumah yang bak layaknya istana."

"Satpam rumah membukakan gerbang, aku disuruh masuk dan memarkirkan motor di tempat parkir yang sudah disediakan. Gadis itu sudah menyambutku dengan senyuman hangat, dia masih duduk di atas kursi roda. Aku di suruh masuk, di dalam sana sudah ada Bapak dan Ibunya, sepertinya acara syukuran sudah rampung, aku datang telat. Satu hal yang membuatku gugup pada waktu itu, ketika Bapaknya bertanya kepadaku. Pertanyaan itu sungguh di luar nalar pikiran, seumur hidupku, aku baru pernah mendapat pertanyaan seperti itu."

"Pertanyaan macam apa itu?" tanyaku semakin penasaran.

"Kau tahu, Hanafi. Bagaimana rasanya, ketika diberi pertanyaan macam ini, 'Apa Dek, siapa namanya?' Aku menjawab ragu, 'Kusuma Jaya, Pak.' Bapak itu tersenyum, 'Kusuma Jaya, kamu adalah laki-laki luar biasa, berkat kamu, anakku mempunyai semangat hidup lagi. Lantas, apa Dek Jaya sudah punya calon?'. Aku terdiam, lantas kembali berkata, 'belum pak!'."

Aku menatap Pak Jaya tanpa berkedip.

Pak Jaya kembali melanjutkan kisah cintanya. "Suasana menjadi hening sesaat. 'Maukah kamu menjadi suami dari anakku ini?' Aku tersedak, menelan ludah, apa aku sedang bermimpi. Mendapatkan istri cantik dan kaya raya? Ah, tidak mungkin. 'Bagaimana Nak Jaya?' Aku menggaruk kepala yang tidak gatal, lantas menjawab, 'apa anak bapak mau dengan saya?' Gadis itu tersenyum manis, memainkan rambutnya yang tergerai panjang. 'Bagaimana nak?' Bapak menoleh ke arah gadis itu. Gadis itu mengganguk mantap. Hatiku berbunga-bunga, ingin rasanya berteriak ke taman yang dipenuhi dengan bunga-bunga cantik."

"Lalu? Setelah itu? Bapak menikah dengannya?"

Pak Jaya menyeringai. "Ya. Satu bulan kemudian, kami melangsungkan acara pernikahan. Alhamdulilah, Ibu sudah sembuh, beliau dapat berkunjung ke jakarta. Setiap hari aku merasakan berjuta-juta rasa yang tak bisa ku ungkapkan dengan kata-kata. Gadis itu berusaha menjadi lebih baik dihadapanku. Tapi, suatu hari, dia berkeluh kesah. 'Aku tidak pantas menjadi istri, Mas.' Aku terkejut mendengar kalimat itu, 'tidak pantas kenapa? Kamu adalah segalanya bagiku, Mega.' Gadis itu menunduk di atas kursi roda, menangis. 'Aku tidak bisa berjalan. Sepertinya, aku sudah lupa bagaimana caranya berjalan.' Aku lekas memegang erat tangannya, 'ingat ya. Aku mencintai kamu apa adanya, tulus. Aku terima kamu apa adanya, mau kamu cacat, tidak bisa berjalan, aku terima kamu. Kamu gak usah mikir yang aneh-aneh ya.' Dia kembali tersenyum mendengar kata-kataku tadi."

"Dua-tiga tahun, kami tidak ada masalah lagi. Di tahun ketiga, kami memutuskan untuk beli rumah sendiri, dan rumah inilah saksi cintaku kepadanya, Hanafi. Sampai bertahun-tahun. Tapi, selama bertahun-tahun pula, kami tidak dikaruniai seorang anak. Istriku kembali berpikiran aneh, merasa tidak pantas menjadi istri terbaik. Padahal aku tidak menuntutnya lebih. Hingga malam itu, dia ku temukan tewas di kamar mandi, dengan luka sayatan di tangannya. Aku terkejut, dibuat panik, lekas menghubungi rumah sakit. Beberapa warga kampung sini berusaha ikut menolong. Tapi, Tuhan berkata lain, dia sudah tewas sebelum sampai ke rumah sakit." Pak Jaya mengeluarkan air mata, aku lekas mengambilkan tisu yang sudah tersedia di atas meja.

"Setelah dia meninggal. Aku memutuskan hidup sebatang kara. Karena di dalam hatiku yang paling dalam, masih terukir namanya, cintanya."

Aku ikut terharu mendengar cerita Pak Jaya. Di balik sosok Pak Jaya yang humoris dan kocak itu, ternyata menyimpan duka yang mendalam. Mungkin bagiku—aku tidak akan mampu menjalani hidup, setelah mendapat hal seperti itu. Tapi, beliau masih kuat dan semangat menjalani hidup.

Suara adzan menghentikan cerita menyedihkan ini. Pak Jaya lekas masuk ke dalam kamar, bersiap diri. Aku pun juga. Kami berangkat ke masjid untuk melaksanakan sholat isya' sekaligus tarawih.

"Besok kan Hari jum'at, maukah kau temani Bapak ini ke pemakaman?" Aku mengangguk setuju. "Akan aku kenalkan kau dengan istriku, ku harap dia senang melihatmu, Hanafi."
profile-picture
aan2604 memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Lapor Hansip
18-09-2019 20:54
Balasan post adie.scottlang
Titip ....
0 0
0
Halaman 1 dari 5
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
petaka-batu-safir-kisah-nyata
Stories from the Heart
love-life-lost
Stories from the Heart
lima-belas-menit
Stories from the Heart
cahaya-di-ujung-pantura
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.