alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
1024
1024
KASKUS
51
244
4.75 stars - based on 8 vote 5 stars 0 stars
https://www.kaskus.co.id/thread/5d73e0158012ae1ea110ca32/6-bulan-pkl-di-hotel-berhantu-kawasan-sudirman
Lapor Hansip
07-09-2019 23:51
6 Bulan PKL di Hotel Berhantu Kawasan Sudirman
Past Hot Thread
6 Bulan PKL di Hotel Berhantu Kawasan Sudirman

6 Bulan PKL di Hotel Berhantu Kawasan Sudirman


Prolog


Selamat malam kaskuser. Untuk menutup kekosongan cerita di trit sebelah mengenai cerita-cerita seram yang pernah ane alami bersama teman ane atau kala sendiri karena belum adanya alur cerita yang pas, ane ingin membagi kisah cerita anak ane yang diceritakan kembali olehnya kepada ane kala masih melakukan PKL di sebuah hotel bintang 5 di kawasan Sudirman, Jakarta.

Namun ane berjanji akan tetap menulis semua cerita-cerita seram yang akan ane tuangkan di trit sebelah.

Langsung aja ane akan menceritakan kisah anak ane.

Anak ane yang kedua, sekarang telah duduk di kelas 12 sebuah SMK Negeri di bilangan Jakarta Selatan. Nah, pada semester genap kelas 11, dia berkesempatan untuk melaksanakan PKL di sebuah hotel terkenal di kawasan Sudirman, Jakarta, karena jurusan yang diambil oleh anak ane adalah Perhotelan.

Awal mula anak ane PKL, sebut aja Dilla, sebenarnya biasa-biasa aja. Sesuai jadwal penugasan, selama 6 bulan dia akan dirolling menempati pos-pos yang ditentukan oleh pihak hotel tempat dia PKL. Hal itu untuk membiasakan diri dan menambah ilmu perhotelan kelak jika dia telah lulus sekolah.

Dilla, anak ane ini sebenarnya cenderung penakut. Ane tahu benar. Cuma semenjak masuk SMK, rasa takutnya mendadak hilang sedikit demi sedikit. Dan karena ane berharap dia dapat menjaga dirinya, ane biarkan dia mengikuti kegiatan bela diri sejak SMP hingga masuk SMK. Dengan bekal Karate sabuk Coklat, bagi ane cukuplah untuk dia jaga diri diluaran. Sebenarnya saat itu dia hampir ambil sabuk Hitam, namun berhubung sakit, maka ane melarang. Nah, setelah teman-teman seangkatannya telah memakai sabuk Hitam, dia mulai merasa minder untuk latihan sehingga lambat laun dia tidak aktif. Ya sudah, terserah dia. Ane membiarkan saja.

Ane sendiri gak tau, apakah ada hubungannya antara bela diri yang diikutinya dengan hilangnya rasa takut di diri dia pada hal-hal yang diluar nalar dan logika, tepatnya hal-hal ghaib. Tapi suatu ketika dia bercerita sepulang dari latihan Karate. Dia memang pulang berjalan kaki dari sekolahnya di SMP sampai kerumah. Lumayan jauh, tapi itu untuk melatih pernafasannya juga. Dan kadangkala di pulang hampir Maghrib, bahkan setelah Adzan Maghrib.

Dia cerita.
"Yah, aku tadi kan lewat jalan sepi, itu lho yang dari rumah kosong besar itu arah jalan raya," katanya ketika beberapa saat sampai rumah.
"Ehem, iya tau. Kenapa," tanya gw datar.
"Aku nggak tau yang aku lihat itu tadinya beneran manusia atau bukan ya Yah. Jadi pas aku jalan, didepan aku, sisi kiri jalan, ada perempuan Yah, pakai baju putih, rambutnya panjang, nunduk aja. Dia nempel di dinding dekat lorong sempit."
Gw mulai serius mendengarkan ceritanya.
"Aku sih nggak mikir apa-apa. Aku pikir itu perempuan, lagi capek, istirahat. Yaudah aku lewatin aja. Tapi nggak berapa lama, aku penasaran, soalnya dia nggak bergerak sama sekali. Nah, aku nengok Yah kebelakang. Tau nggak Yah..."
Gw gak menjawab. Hanya memandang serius anak gw sambil menunggu kelanjutan ceritanya.
"Dia masih ada disitu Yah. Eh, nggak lama dia terbang Yah!"
"Serius?" tanya gw.
"Beneran Yah. Dia terbang begitu aja. Bajunya berkibar. Taunya dia bukan orang. Pantesan aku sekilas waktu ngelewatin dia, aku nggak lihat kakinya."
"Terus?" gw penasaran.
"Aku kabur. Lari. Sepi banget Yah, nggak ada orang lewat sama sekali.Aku nggak liatin lagi kebelakang, pokoknya aku lari buru-buru sampai ujung jalan. Yang aku ingat, aku dengar suara ketawa cekikikan." Dia bergidik membayangkan kejadian yang dia alami.
"Lagian kenapa jalan sendiri sih. Emang gak ada teman barengan pulangnya?"
"Ada, tapi misah beda arah. Aku sengaja lewat situ buat motong jalan. Kalau tau, ngapain juga aku lewat situ," jelasnya.
"Akhirnya aku kan sampai tuh dijalan raya. Nah, aku myeberang, lewat gang kecil. Aku nggak jalan lewat pinggi jalan raya." Dia terdiam sesaat. "Eh, pas aku udah ditengah-tengah gang, aku merasa merinding. Aku pikir kuntilanak yang tadi masih ngikutin aku. Aku nengok kebelakang, nggak ada. Pas aku nengok keatas tembok, tau nggak Yah apa yang aku lihat? Pocong!" katanya setengah teriak.


6 Bulan PKL di Hotel Berhantu Kawasan Sudirman


Jelas aja gw bengong. Mimpi apa nih anak bisa ketemu memedi sampai beruntun begitu?

"Dia ngelongok ke aku Yah. Berdiri diatas tembok. Dah, aku nggak mikir lagi, lari lagi sampai ujung gang, sampai hampir nabrak motor." "Orang yang naik motor sampai bingung kenapa aku lari ngos-ngosan. Tapi aku nggak ngomong apa-apa. Yang penting aku udah ketemu orang lain dijalan. Tumben bener Yah jalanan sepi."

Itu adalah cerita pertama dia bertemu penampakan secara langsung, meskipun mungkin bukan yang pertama kali, sebab sewaktu dia berusia 1 tahun, dia suka memandang ke tangga dan langit-langit rumah yang gw kontrak dulu saat kumandang Adzan Maghrib. Seperti melihat sesuatu yang tak nampak beterbangan keluar dari lantai atas menuju luar rumah.

■■■■■■

Awal Mula Gangguan Mahluk Tak Kasat Mata


Awal anak gw PKL, dia mendapat posisi di Laundry. Tak ada kejadian apa-apa disini, mengingat Laundry selalu banyak orang lalu lalang. Meskipun sore, suasana Laundry selalu ada orang lain, sehingga anak gw gak merasa sepi sendiri.

Cerita seram dimulai ketika dia sebulan di Laundry, kemudian ditugaskan di bagian Ameneties.

Ameneties sendiri adalah perlengkapan kamar hotel, dimana semua perlengkapan kamar hotel itu dibawa dengan rak beroda dan mempunyai tingkat-tingkat. Dan tinggi rak Ameneties itu sendiri lebih tinggi dari tinggi anak gw, sekitar 1,7 meter.

Kejadian bermula, saat anak gw berada di ruang Ameneties (Pantry) yang memang sepi. Disana dia merasa ada sesuatu yang memperhatikan dia. Suasananya begitu sunyi. Sendiri dia mempersiapkan segala sesuatunya untuk kamar hotel sesuai kebutuhan kamar mana saja yang harus segera dilengkapi. Nah ketika dia selesai beres-beres, dia mulai mendorong rak Ameneties yang berisi perlengkapan kamar hotel. Tiba-tiba pel lantai yang bergagang besi alumunium, yang tersandar di dinding kamar Ameneties melayang keras dari tempatnya dan membentur bahu anak gw. Anak gw spontan kaget. Dia heran kenapa pel lantai yang sejak tadi bersandar di dinding bisa tiba-tiba bergerak melayang dan membentur badannya. Dia merasa ada yang janggal. Dia sadar, sesuatu yang dari tadi seperti memperhatikan dirinya memang benar ada di kamar ini, sejak dia masuk kamar Ameneties. Nampaknya sesuatu itu merasa terganggu dengan kehadiran anak gw. Ruang pantry menurut anak gw emang selalu sepi.

Tanpa pikir panjang lagi, anak gw langsung meraih pel lantai bergagang alumunium itu lalu kembali menyandarkan ditempatnya semula, untuk kemudian bergegas keluar kamar dengan mendorong rak perlengkapan kamar hotel. Ada rasa was-was dihati anak gw, tapi dia sama sekali tidak merasa takut.

Dengan segera dia mendorong rak tersebut kearah lift menuju lantai atas, lantai 6. Sendirian.

6 Bulan PKL di Hotel Berhantu Kawasan Sudirman


Sesampainya dilantai 6, dia bergegas keluar lift. Menurut cerita dia, lantai 6 hotel ini adalah lantai yang tidak direnovasi sejak lama, karena dekorasi lantainya berbeda dengan lantai-lantai lain. Dan lampu di lorong lantai 6 tergolong redup, tidak terang seperti lantai lain.

Dengan perlahan dia menuju ke kamar hotel yang membutuhkan perlengkapan kamar. Tak ada orang lain yang dia temui disini. Ketika dia tengah membuka pintu kamar, tiba-tiba sebuah barang jatuh dari rak. Jatuhnya melayang, bukan bergulir jatuh tegak lurus. Bingung dia. Tapi dia yakin bahwa ada mahluk ghaib yang tengah mengganggunya. Dengan memberanikan diri menganggap biasa-biasa saja, dia kemudian meraih benda yang terjatuh dari rak. Seketika rak dihadapnnya bergeser sendiri!

"Diam kenapa sih!" teriak dia marah.
Sepi, tak ada apapun yang merespon. Tak ada room boy, tak ada kawannya yang tadi katanya ada di lantai 6. Tak ada juga tamuyang menginap di lantai ini. Kebetulan lantai ini memang sebagian diperuntukan bagi staff WNA, dan sebagian lagi diperuntukan bagi tamu hotel.

Akhirnya anak ane masuk kamar untuk menaruh beberapa barang yang dibutuhkan dikamar tersebut. Disini, anak ane merasa masih diperhatikan. Meskipun kamar hotel yang sekarang ini telah dimatikan ACnya, seharusnya hawa kamar masih terasa dingin. Tapi yang dirasakan anak ane justru panas.

Setelah urusan menaruh barang kebutuhan kamar selesai, anak ane beranjak keluar dari kamar. Nah saat keluar itulah sekilas dia melihat ada kelebatan hitam berjalan cepat dari kanan ke kiri, melewati depan pintu kamar. Bergegas dia keluar dan mencari. Tapi tak ada siapapun juga.

Dengan perasaan yang makin tidak enak, anak ane kembali mendorong rak Ameneties kearah lift. Ditekannya tombol lift. Tak ada yang aneh disini. Diapun masuk lift setelah pintu lift terbuka.

"Ya Allah. Jauhkan aku dari hal-hal yang membahayakan diriku," ucapnya pelan.


6 Bulan PKL di Hotel Berhantu Kawasan Sudirman


Dia menekan tombol naik ke lantai 12. Pintu lift tertutup. Dan lift bergerak naik.
7,8,9,10,11,12,13,14....
13?14? Kan yang ditekan lantai 12. Kenapa ini langsung naik terus tanpa berhenti lagi di lantai 12????? Jantung anak ane berdetak kencang. Selama di hotel ini, baru kali ini dia ditugaskan untuk mengantar keperluan kamar hotel. Kebetulan selama masuk PKL, dia hanya di area Laundry, jadi tidak perlu kemana-mana. Lagipula tak ada satupun orang yang memberitahu soal kejadian-kejadian aneh disini.

Lift terus bergerak naik. Dan berhenti di lantai 29! Perlahan pintu lift terbuka. Sejenak anak ane menunggu, mungkin ada seseorang yang masuk. Tapi tak ada sama sekali. Penasaran, anak ane melongok keluar. Sepi.

Dan ketika anak ane memundurkan tubuhnya kembali, terasa ada angin semilir yang menerpa wajahnya. Dingin. Dan tak lama pintu lift tertutup kembali. Naik? Tidak. Lift kembali turun. Kali ini turun dengan cepat, dan..... berhenti tepat di lantai 12! Lantai yang diinginkan anak ane. Bingung sekaligus muncul rasa takut dihati anak ane. Bagaimana gak? Lift yang dinaikinya seperti ada yang menggerakan sesukanya. Akhirnya dengan memberanikan diri, anak ane keluar dari lift dengan menarik rak troly Ameneties. Saat setelah berada diluar lift, dia bertemu dengan Room Boy yang tampaknya baru selesai merapikan kamar.
"Hei, anak baru ya?" tanyanya ramah.
"Iya," jawab anak ane sambil senyum.
"Itu kamarnya udah saya rapihin. Langsung aja kesana." "Emmm, mau dibantu?" tanyanya lagi.
"Gak usah, terima kasih."
"Oh, ok deh. Saya kebawah dulu ya," pamitnya kemudian.
Anak ane mengangguk, lalu mendorong rak kearah kamar hotel yang telah dirapikan tadi oleh Room Boy.

Disini, tak ada kejadian apapun juga. Sampai selesai ke kamar-kamar yang lainpun tak ada kejadian apapun lagi.

Namun anak ane tak sekalipun bertanya perihal kejadian aneh yang dialaminya hari itu, begitu pula keinginan untuk bertanya. Seolah ingin hal itu hanya untuk dirinya sendiri.

■■■■■■



Berikutnya :

Page 01 Post #10

Teman Satu Sekolah Pingsan Melihat Penampakan Sosok Hitam Besar Di Pojok Pintu Darurat


□□□□□□

Kunjungi Trit Mistis Ane Yang Lain :


[REBORN] KISAH MASA LALU : MISTERI CIREMAI (CINTA, PERSAHABATAN, PETUALANGAN)







Diubah oleh i.am.legend.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Murphie dan 16 lainnya memberi reputasi
17
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 6
08-09-2019 01:55
pertamax untuk update emoticon-Cool
profile-picture
i.am.legend. memberi reputasi
1
Lihat 1 balasan
08-09-2019 03:57
Semoga ga kentang...

Ijin gelar tiker agan...
profile-picture
profile-picture
i.am.legend. dan de.prabuahmad memberi reputasi
2
08-09-2019 05:30
berani betul anaknya ya akhiemoticon-Maaf Agan
profile-picture
profile-picture
profile-picture
dipsenk dan 2 lainnya memberi reputasi
1
08-09-2019 06:23
ikut menyimak
profile-picture
i.am.legend. memberi reputasi
1
08-09-2019 06:24
jejak dulu dimari emoticon-Paw
profile-picture
profile-picture
ngejleb dan i.am.legend. memberi reputasi
2
08-09-2019 06:24
Quote:Original Posted By ngejleb
Semoga ga kentang...

Ijin gelar tiker agan...


Ane ikut ya emoticon-Request
profile-picture
profile-picture
ngejleb dan i.am.legend. memberi reputasi
2
08-09-2019 07:21
Hotel apa gan.? Mana tau mau nginep disana 😁
profile-picture
i.am.legend. memberi reputasi
1
Lihat 1 balasan
Lapor Hansip
08-09-2019 12:52
Balasan post johnweek
Quote:Original Posted By johnweek
Hotel apa gan.? Mana tau mau nginep disana 😁


Wah, rahasia gan.
Bahaya kalau dibuka blak-blakan.
Bisa kena tuntut.
profile-picture
prasetia13 memberi reputasi
1
08-09-2019 16:50
Quote:Original Posted By edsixteen
Ane ikut ya emoticon-Request


Hayoo ngikut2...
emoticon-Goyang
profile-picture
i.am.legend. memberi reputasi
1
08-09-2019 17:42


Teman Satu Sekolah Pingsan Melihat Penampakan Sosok Hitam Besar Di Pojok Pintu Darurat


Hari ini, Dilla kembali menjalani tugasnya sebagai pengantar kebutuhan ke kamar hotel.
Kebetulan kemarin dia libur. Kali ini dia membawa rak buah-buahan untuk tamu hotel.

Baru saja dia selesai bersiap untuk membawa rak, seorang Staff hotel bertanya kepadanya. Ohya, untuk ruang Ameneties khusus makanan dan buah-buahan, itu terpisah dari ruang Ameneties perlengkapan kamar hotel. Dan suasana disini tidak seseram ruang tempat dia diganggu dengan jatuhnya pel lantai bergagang alumunium itu.

"Teman kamu kemarin kenapa? Katanya sampai pingsan," kata Staff hotel tersebut.
"Teman saya? Siapa Pak?" tanya Dilla bingung.
"Itu yang namanya Tasya. Teman satu sekolah kamu kan, dari SMK XX juga?" lanjutnya.
"Oh iya Pak? Emang pingsan Pak? Saya nggak tau Pak, soalnya saya libur kemarin," jelas Dilla.
"Oh pantas. Iya, katanya dia ngeliat penampakan di lantai 6."
Hmmm, berarti emang ada disana, gumam Dilla.
"Kamu nggak takut sendirian kan?" tanyanya gak yakin.
"Nggaklah Pak. Yang penting kita nggak ganggu. Biarin aja." kata Dilla santai.
"Oh yasudah. Hati-hati ya. Kalau ada apa-apa, segera hubungi Pak Rudi. Kamu bawa hp dan punya nomor Pak Rudi kan?"
"Ada Pak. Iya siap." Dilla pamit ke Staff hotel tersebut.
"Ok." Staff hotel tersebut memberi kode jempol lalu beranjak pergi. Dilla pun segera membawa rak berisi buah-buahan.

■■■■■■


"Eh, Tasya kenapa?" tanya Dilla pada temannya satu sekolah yang juga PKL di hotel ini.
"Pingsan La, kemarin. Dia jerit-jerit terus pingsan. Itu cerita dia sendiri."
Iya kenapaaa?" tanya Dilla penasaran.
"Dia katanya ngeliat penampakan. Ada sosok hitam tinggi besar lagi berdiri dipojok dekat pintu darurat. Katanya setan itu ngeliatin dia aja. Dia awalnya nggak tau. Pas keluar dari lift, dia jalan nunduk aja. Nah pas dia mandang ke depan, ya itu tadi. Dia ngeliat penampakan seram." kata Hanif bercerita.
"Kayak gimana katanya?" tanya Dilla lagi.
"Gede katanya sih. Kalau dia ngasih tau pakai tangannya ya mungkin 2 meter." "Ngapain sih lu tanya-tanya begitu? Pengen ketemu lu?" tanya Hanif.
"Ih bego! Ngapain juga mau ketemu yang begituan." Dilla melotot. "Eh tapi elu pernah nggak Nif diganggu gitu," penasaran Dilla nanya.
"Nggak tuh. Belom pernah. Eh jangan sampe sih." ralat Hanif.
"Elu pernah?" Hanif balik nanya.
Dilla bimbang, antara mau cerita sama gak.
"Nggak sih," akhirnya Dilla memilih untuk gak cerita kejadian yang dia alami.
"Pilih-pilih juga kali La yang begituan kalau mau ngeganggu atau nampakin diri. Kata orang juga kalau yang begitu nampakin diri katanya sial dianya," kata Hanif sok tau.
"Woo.. Yang sial tuh kita. Kenapa juga dia yang sial," protes Dilla. "Tasya hari ini masuk gak sih?"
"Off. Besok dia masuk pagi, tapi mulai besok dia minta ditemenin berdua. Sampe selesai magang." tutur Hanif.
"Gile. Enak banget dong," celetuk Dilla.

Gak lama Hp Dilla masuk notif WA. Dari Pak Budi, katanya kamar nomor sekian minta buah-buahan.

"Gue duluan ya Nif. Ada tamu yang minta dikirim buah nih. Cepetan lu makannya. Emang piringnya mau lu makan juga," kata Dilla sambil beranjak berdiri.
"Ok deh. Sebentar lagi gue juga udahan." jawab Hanif santai.

■■■■■■


Tanpa terasa hari sudah sore. Sudah jam 5.
"Waktunya pulang," gumam Dilla.
Hari ini dia bersyukur tak ada kejadian yang aneh-aneh selama dia bertugas. Dan dia berharap seterusnya seperti ini.

Baru aja dia berpikir begitu, saat hendak berjalan menuju lift, pintu lift mendadak terbuka, padahal gak ada siapapun juga yang menekan tombol. Dia yakin banget, soalnya sebelum dia beranjak menuju lift, dia agak lama membereskan rak buah-buahan di lorong ini.

Sedetik, dua detik, tak ada yang keluar lift. Kepalang tanggung pikir dia, dia akhirnya memutuskan untuk tetap berjalan kearah lift.

Ketika dia berjalan, pintu lift tertutup kembali. Dan ketika dia sampai didepan pintu lift, kembali pintu lift terbuka.

Dilla berdoa dalam hati dan membaca ayat-ayat suci lalu memberanikan diri untuk masuk lift dengan mendorong rak buah-buahan.
Begitu masuk, lift tertutup.

Dilla menekan tombol untuk menuju lantai dasar.
Didalam lift, Dilla merasa ada yang memperhatikan dia. Terasa dekat. Tapi gak tau ada dipojok lift, di sisi kanan, disisi kiri, atau bahkan tepat didepan muka dia!

Suara mesin memberitahukan bahwa lift telah sampai lantai dasar. Buru-buru Dilla keluar lift!

■■■■■■


Dilla telah keluar dari area hotel tempat dia magang. Tadi dia merasa, entah kenapa badannya terasa berat. Rasanya gak enak sekali. Dan itu dirasakan sampai dia keluar dari area hotel. Belum pernah dia merasakan tubuhnya berat seperti itu.

WA berbunyi.
"Ayah," katanya dalam hati.
Dia lalu menelpon balik.
"Ini aku baru mau arah jembatan penyeberangan. Nanti kalau udah dekat ku telpon Yah," katanya ditelpon.
"Ok Yah," katanya kemudian sambil mematikan sambungan.

skip ■■■■■■ skip


Ane nunggu anak ane diujung jalan. Tadi dia nelpon katanya udah dekat halte. Gak lama dia muncul. Seperti biasa dia senyum manis.
Senyum yang sama sejak dulu waktu dia masih kecil. Tak ada yang berubah. Senyum yang bikin banyak cowok menaruh hati kepadanya. Gen ibunya terlalu banyak membentuk dirinya. Hehehe...

"Hallo ayah," katanya ketika telah melihat ane. Seperti biasa dia mencium tangan ane.
"Gimana hari ini De," tanya ane. Ane emang terbiasa memanggil dia Ade meskipun dia telah memiliki adik perempuan yang usianya terpaut jauh dengannya.
"Masa Tasya pingsan Yah." Dia memulai cerita sambil ane bonceng pakai motor. Ane mendengarkan serius semua cerita dia. Sampai pada akhirnya ane nanya soal dia disana.
"Kamu sendiri gimana? Ada yang ganggu gak?" tanya ane.
"Mulai berani Yah. Mulai berani deket. Aku merasa dia tadi ngikut aku sampai aku keluar hotel."
"Yaudah biarin, asal gak macam-macam. Intinya jangan pernah takut sama mereka. Makin kamu takut, makin ngelunjak mereka," kata ane menguatkan hati dia.

Ada yang aneh memang mengenai diri anak ane ini. Kenapa bisa berubah total dari penakut sampai hilang rasa takutnya. Ane harus cari tau, pikir ane.

Dan malam itu, Dilla cerita tentang kejadian soal Tasya kepada Ibu dan Kakaknya yang menyimak dengan serius.

Ada diskusi kecil. Dan seperti biasa kakaknya memandang dari sudut Psikologi, sebab memang itu ilmu yang tengah dipelajarinya selama kuliah.

Dan ane hanya berharap Dilla mampu menangani soal gangguan ghaib dari penunggu hotel itu. Cuma itu, sebab ane yakin, mereka adalah penghuni lama wilayah tersebut, bahkan mungkin sebelum hotel berdiri.

(Dan berdasar cerita yang ane tahu dari tetangga ane yang ternyata pernah bekerja disana, sebelumnya hotel ini tidak berfungsi sampai akhirnya direnovasi total menjadi hotel berkelas. Dan dikiri kanannya memang masih banyak pepohonan dan tanah kosong.)

■■■■■■

Assalamualaikum!!!


Hari ini, Dilla masih bertugas di Ameneties, mengantar buah-buahan dan makanan kecil seperti roti keju dan lain-lain.

Dia dibekali 2 buah kartu. Pertama adalah kartu untuk membuka pintu kamar hotel. Kedua adalah kartu untuk menyalakan lampu. Keduanya itu harus selalu dipegang selama dia mendapat tugas yang berhubungan dengan kamar hotel.

Seperti biasa dia mempersiapkan buah-buahan dan makan kecil diruang pantry ameneties khusus buah-buahan dan makanan kecil.

Semakin kesini, dia semakin siap untuk menghadapi hal-hal ghaib yang kerap mengganggunya.

Tumben sekali, hari ini di banyak bertemu Room Boy , Staff, tamu hotel yang wara-wiri di lorong hotel, dibeberapa lantai. Dia merasa nyaman sebab dengan begitu dia merasa tidak sendiri.

Tanpa terasa Dilla telah sampai di lantai 29. Lantai inilah yang pernah dituju lift tanpa ditekan tombolnya.

Dari lift, Dilla berjalan melewati lorong, melewati pintu-pintu kamar, menuju sebuah kamar yang akan dipergunakan oleh tamu hotel.

Saat dia berjalan, dari sebuah kamar muncul Room Boy yang nampaknya habis merapihan kamar.

"Dilla ya?" tanyanya ramah.
"Iya," jawab Dilla.
"Itu kamar yang mau dipakai tamu. Udah rapi, udah say rapihin," kata Room Boy itu sambil menunjuk kearah sebuah kamar.
"Ok. Terima kasih ya," kata Dilla.
Room Boy itu mengangguk sambil senyum.

Sampai didepan sebuah kamar, Dilla meraih kartu untuk membuka pintu kamar hotel dari saku bajunya. Sesaat pintu kamar terbuka.

Dan ketika dia ingin memasukkan kartu kembali ke saku bajunya, tanpa sengaja kartu tersebut jatuh.

Alhasil dia menunduk untuk mengambil kartu tersebut, sementara pintu kamar telah terbuka sedikit. Dan ketika kartu telah dia raih dan dia masukan kesaku, dia mendorong pintu kamar hotel sedikit.

Tiba-tiba dari dalam kamar terdengar suara laki-laki, berat! Antara ada dan gak ada. Suaranya seperti jauh, tetapi terdengar jelas.

"Assalamualaikum!!" sebuah suara terdengar dari dalam kamar.
Reflek Dilla menjawab kaget, "Wa...alaikum..salam.." jawabnya terbata-bata.
Sumpah, dia benar-benar kaget. Suara siapa barusan? Kan kamar ini terkunci dan kosong? Tamu yang akan menempati juga belum datang. Lalu, suara siapa yang barusan dia dengar?????

Perlahan dia mendorong pintu kamar. Sesaat kemudian dia menaruh kartu untuk menyalakan lampu, dan tak lama kemudian kamar terang benderang.

Ia melangkah pelan-pelan. Dilongoknya kamar mandi. Tak ada orang. Diperhatikannya kamar tersebut, tetap tak ada orang. Makin yakin ia kalau suara yang mengucap Assalamualaikum dengan berat tadi adalah suara Jin. Tapi kenapa dia sampai mengucap salam seperti itu? Ah, akhirnya dia tau jawabannya. Selama ini Dilla memang terbiasa mengucap salam saat mau masuk kamar meskipun dia tau itu kosong tak ada orang. Tapi belum tentu benar-benar kosong. Sekaranglah buktinya.

Dia tersenyum.
Yaelaaaaah, cuma gara-gara lupa ngasih salam aja sampai negur seperti itu, katanya dalam hati. Kalau tadi kartu pintu kamar nggak jatuh juga gue nggak akan lupa ngasih salam, bathinnya ngomong lagi.

Akhirnya dia cuek aja menaruh buah-buahan dan makanan kecil di meja kamar hotel. Setelah selesai dia beranjak keluar kamar. Dicabutnya kartu untuk lampu. Setelah gelap gulita, sebelum dia menutup pintu kamar, dia mengucap keras, "Assalamualaikuuuum...."

Lalu ditutupnya pintu kamar hotel.

■■■■■■


Dada Dilla Sesak Ditabrak Sesuatu Yang Tak Nampak!


Waktu terasa berjalan lambat. Dilla melihat jam di hpnya. Sudah jam 4 sore. 1 jam lagi tugasnya selesai meskipun terkadang ada aja tugas tambahan diberikan Manager hotel.

Saat Dilla berjalan hendak turun menggunakan lift, seorang temannya keluar dari sebuah kamar.

"Hei Dilla" seru temannya.
"Lah, elu disini? Dapat tugas berapa lu hari ini?" tanyanya kepada temannya itu.
"10. Gila bener deh," sungutnya.
"Udah selesai semua?" tanyanya lagi.
"Boro-boro. Ini aja masih 4 lagi. Padahal tadinya 8. Eh nggak lama gue ditambahin 2 lagi."

Netha temannya Dilla memang dapat tugas Making Bed, ngerapihin ranjang dengan spreinya yang berlapis. Harus terlihat halus, tak boleh ada lekukan apapun diatasnya. Harus sempurna. Pada gilirannya nanti juga Dilla akan mendapat tugas yang sama.

Tengah asyik ngobrol berdua, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan sosok yang berjalan di koridor ujung, melintas kearah barat dari mereka berdiri. Ada suara yang mereka kenal.

"Eh, Pak Budi," bisik Metha ke Dilla.
"Iya. Ngapain ya. Koq kayak ngomong sendiri. Lagi telpon?" tanya Dilla pelan.

Keduanya lalu berjalan berdua, takut ditegur. Saat Dilla mendorong rak buah-buahan disamping Netha, Dilla melihat kelebatan hitam berjalan cepat kearah dia dan Netha. Nampaknya hanya Dilla yang melihat dan menyadari, sebab Netha masih asyik bicara.

Dilla mau ngomong ke Netha memberi tahu. Terlambat! Bayangan hitam itu telah menabrak dirinya. Sesaat tubuhnya terkena hawa panas, lalu mendadak dingin. Dia menggigil. Saat menggigil itulah Netha baru menyadari perubahan di diri Dilla.

"Kenapa lu? Koq kayak orang kedinginan gitu?" tanya Netha.
"Gak tau nih Net. Dada gw sesek banget. Kayaknya Ashma gue kumat deh. Kecapean," keluh Dilla.
"Bawa obat nggak?" tanya Netha lagi.
"Ada. Gue bawa Salbutamol."
"Yaudah gw yang bawa raknya," kata Netha. Keduanya lalu berjalan cepat menuju lift.

■■■■■■


Pulang dari hotel, Dilla anak ane merasa sesak didadanya gak hilang juga. Badannya juga terasa berat. Dia menghubungi ane.

"Assalamualaikum Yah. Ashmaku kumat kayaknya Yah. Aku gak kuat naik Trans Jakarta. Aku naik Ojek aja ya Yah," katanya kala itu.

Ane iyain. Ane juga berpesan agar hati-hati di jalan.

Selang berapa lama akhirnya Dilla sampai dirumah. Setelah beristirahat sebentar, dia meminta ane mengantar ke RSUD. Ane segera bersiap-siap. Ane siapin ventilator miliknya. Tatapan mata anak ane emang kelihatan rada beda. Kayak lelah banget. Tapi ane gak sadar kalau sesuatu itu ngikut kerumah bersama dia. Dia yang ikut anak ane tapi gak bisa menguasai diri anak ane.

Sesampainya di RSUD, setelah mendaftar, anak ane dapat prioritas, karena penyakit Ashma termasuk penyakit darurat. Dia langsung masuk ruang perawatan untuk dapat penanganan penguapan.

Lama juga ane menunggu diluar. Akhirnya Dilla keluar dari ruang perawatan. Setelah urusan obat dan semuanya selesai, akhirnya ane kembali kerumah.

Sesampainya dirumah, ane suruh anak ane untuk tidur mengingat kondisinya masih lemah. Ane suruh istri ane untuk menemani dia tidur.

■■■■■■


Jam 2 dini hari.
Ane lagi berbaring ngaskus. Baca-baca trit sambil sesekali komen di trit. Saat ane fokus ke layar hp, nyess.... mendadak terasa pergelangan kaki ane ada yang megang. Dingin banget! Sontak ane bangun dan menoleh kebelakang. Ane lihat kaki ane, lantai gak ada apa-apa. Ane tahu ada sesuatu yang iseng, tapi ane gak bisa lihat apa itu, seperti apa wujudnya.

Malam Jum'at.
Ane baru sadar kalau sekarang malam Jum'at. Malam yang sebenarnya biasa-biasa aja, tapi jadi luar biasa karena anggapan sebagian orang, termasuk juga mungkin ane.

Gak lama ane merasa haus. Ane buka lemari es. Ane ambil kopi dingin yang sejak tadi ane taruh disana.

Baru aja ane meraih gelas kopi di lemari es, tiba-tiba ada suara seperti barang digebrakin. Ane reflek menengok kearah dapur. Ane picingin mata, ane perhatiin suara apa yang barusan terdengar. Gak lama terdengar lagi suara itu. Tutup mesin cuci! Tutup mesin cuci meskipun tak terlihat jelas dari arah ane, tapi ane familiar banget dengan bunyinya. Kali ini bunyinya keras seperti dibuka dan ditutup dengan kasar, berulang kali! Wew! Poltergeist!
Baru kali ini ane dengar dirumah. Ane tetap menatap kearah dapur. Masih berjongkok didepan lemari es yang terbuka. Gak lama bulu kuduk ane meremang. Oh bukan cuma bulu kuduk. Ini mah semuanya. Dari tangan sampai ujung rambut, ubun-ubun! Wajah ane juga terasa panas. Hawa sekitar ane mendadak panas! Ane gak tau seperti apa ujud mahluk halus ini, tapi ane merasa dia dekat sekali. Dekat dan mungkin sekarang tengah menatap ane, didepan muka ane persis!


Sontak ane baca ayat Kursi yang ane yakini bisa mengusir mahluk halus ini dan menjaga ane dari serangan. Berulangkali ane baca. Berangsur-angsur ane merasa semua kembali normal.

Ane ambil kopi ane lalu beranjak kedepan, ane buka pintu rumah lebar-lebar.

Ambil rokok, nyalain, gak lama asap rokok udah ane hembuskan. Sambil sesekali menyeruput kopi, ane berusaha ngelupain kejadin barusan.

Kembali ane mulai ngaskus lagi.
Gila. Apa yang terjadi barusan ya?

■■■■■■

Selanjutnya :

Dia Ternyata Ada di Rumah, Mengikuti Dilla!

Page 02 Post #25

Diubah oleh i.am.legend.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
knoopy dan 6 lainnya memberi reputasi
7
08-09-2019 17:45
Di tunggu gan
profile-picture
i.am.legend. memberi reputasi
1
08-09-2019 17:48
baca dulu pakdheemoticon-Cool
profile-picture
i.am.legend. memberi reputasi
1
08-09-2019 20:25
kakkeekkkkk, skali2 bikin stensilan napah....emoticon-Sorry
profile-picture
i.am.legend. memberi reputasi
1
Lihat 3 balasan
Lapor Hansip
08-09-2019 20:30
Balasan post gembaladomba13
Quote:Original Posted By gembaladomba13
kakkeekkkkk, skali2 bikin stensilan napah....emoticon-Sorry


Ini cerita anak ane yang ke 2 itu lho Mod.
Kejadian nyata.
Bahkan tuh mahluk sampai ikut kerumah.

Kalau stensilan, by PM aja ya.

emoticon-Ngakak
profile-picture
prasetia13 memberi reputasi
1
Lapor Hansip
08-09-2019 20:32
Balasan post gembaladomba13
@i.am.legend. yg smu dlu pake line yg kebrapa??

iewww mengerikan ih...
profile-picture
i.am.legend. memberi reputasi
1
Lapor Hansip
08-09-2019 20:36
Balasan post gembaladomba13
Quote:Original Posted By gembaladomba13
@i.am.legend. yg smu dlu pake line yg kebrapa??

iewww mengerikan ih...


Itu yang pertama Mod.
Sekarang Semester 5 di UNJ Jakarta.

Kalau yang dibawah ini anak angkat, masih jomblo.

Quote:Original Posted By kenditz
gak dapat pejwan emoticon-Blue Guy Bata (L)


kan ini juga anakmu ayah emoticon-DP

Diubah oleh i.am.legend.
profile-picture
prasetia13 memberi reputasi
1
08-09-2019 20:53
weleh..weleh...
bacaan yg menarik ini emoticon-Recommended Seller
profile-picture
i.am.legend. memberi reputasi
1
08-09-2019 21:13
serem njirr...lanjut kan gannsss....
profile-picture
i.am.legend. memberi reputasi
1
08-09-2019 21:47
hotel apa nih gan? info dong biar saya siap2 jadi pemburu hantunya dulu
profile-picture
profile-picture
diva1808 dan i.am.legend. memberi reputasi
2
Lihat 1 balasan
Lapor Hansip
08-09-2019 21:53
Balasan post kohgreen
Quote:Original Posted By kohgreen
hotel apa nih gan? info dong biar saya siap2 jadi pemburu hantunya dulu


Maaf gan.
Ane gak bisa ngasih tau.
Nanti aja agan ikutin ceritanya.
Pasti ada clue-clue buat dikira-kira.

profile-picture
prasetia13 memberi reputasi
1
Halaman 1 dari 6
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
ketika-matahari-bertemu-bulan
Stories from the Heart
unbreakable
Stories from the Heart
riding-to-jannah
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.