alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d737b37c820844e0149b49f/cinta-dua-generasi-novel-bukan-picisan
Lapor Hansip
07-09-2019 16:41
Cinta Dua Generasi (Novel bukan Picisan)
Past Hot Thread
Cinta Dua Generasi (Novel bukan Picisan)
Credit : pandaibesi666


Rasanya akan mengurangi keseruan cerita ini, jika kuberitahu cerita apa ini, maka lebih baik langsung saja ku ceritakan, dan silahkan membaca.

1. Prolog
Bima, biasa orang memanggilku. Ralat, setelah kutimbang, orang biasa lebih memilih untuk memanggilku si gondrong, itupun sangat jarang sekali mereka memanggilku. Hanya bunda, Koh Hendra pemilik toko kelontong tempatku bekerja, dan beberapa orang lainnya memanggil aku Bima. Ya, aku bukan orang yang mudah bergaul, dan juga kurasa tidak ada yang mau berteman denganku. Ini adalah hari ketujuh aku bersekolah di sekolah terbaik di Jakarta, atau mungkin tidak berlebihan jika kukatakan sekolah terbaik sekaligus termahal di Negri ini, Indonesia. Hanya anak dari pejabat-pejabat atau pengusaha kaya raya, yang mampu membiayai anaknya untuk sekolah disini, sekolah penghasil lulusan calon sukses, atau lebih dikenal dengan nama B.I.S. (Barata International School). Barata nama pemilik sekolah ini, seorang pengusaha kaya dan cerdas, setidaknya begitu yang kudengar dari bunda, Koh Hendra, dan siswa-siswa yang sedang bercengkrama satu sama lainnya di kantin. Sedangkan aku, duduk sendirian di pojok kanan kantin, tanpa ada satu orangpun yang sudi duduk denganku, barangkali karena tak ada yang tahu siapa itu Tabara pikirku, dan memang kenyataannya akupun tak tahu siapa itu Tabara,yang kutahu hanya itu adalah nama belakangku, dan bunda tidak pernah bercerita sedikitpun tentang ayahku. Lalu kembali aku memikirkan kejadian 7 hari yang lalu. Hari pertama aku bersekolah disini untuk melanjutkan pendidikanku setelat tamat dari smp."Halo, perkenalkan aku Bima Tabara." Ucapku ketika giliranku tiba, ya walikelas meminta kami untuk berdiri dan memperkenalkan nama masing-masing."Apa bidang pekerjaan ayahmu?" Tanya  siswa yang duduk di belakangku."Aku tak punya ayah" jawabku sedikit gemetar, entah sudah berapa kali aku menjawab pertanyaan ini, tetapi tetap saja aku bergetar ketika ditanya tentang ayah. Bunda tidak pernah bercerita apapun tentang ayah. Pernah sekali aku bertanya padanya, hanya kemarahan dan amukan yang kudapat darinya. Tak pernah sekalipun aku melihat seperti apa bentuk wajah ayahku.
"Lantas, bagaimana dengan ibumu?"Tanyanya lagi. "ibuku adalah seorang tukang cuci di rumah tetangga." kurang dari setedik setelah aku mengatakan itu, tiba-tiba saja seisi sekelas yang tenang berubah menjadi ricuh.
"bagaimana bisa dia bisa sekolah disini?" Dan masih banyak suara-suara lain yang sangking banyaknya, tidak dapat kutangkap semuanya.
"sudah-sudah, silahkan duduk, dan lanjutkan siswa sebelahnya"ujar sang guru, yang walaupun tidak membuat suasana kelas menjadi tenang seperti sebelumnya, tapi membantu mengurangi keributan didalam kelas yang terjadi karena aku.Terpikirla aku akan perkataan bunda.

"Apa benar tidak bisa bersekolah di tempat lain saja?" Tanya bunda, berbanding terbalik dengan ekspetasiku saat akan memberitahukan berita bahagia ini, bahwa aku mendapatkan  beasiswa di B.I.S., bukan beasiswa berupa potongan spp, tetapi benar-benar beasiswa penuh, dengan kata lain aku bisa belajar di sekolah terbaik di Negri ini, tanpa mengeluarkan biaya sedikitpun.
"Hanya sekolah ini bun yang bisa memberikanku beasiswa, lagipula kita tidak punya uang untuk membayar biaya sekolah sendiri, aku juga mungkin bisa melanjutkan studi  ke luar negri gratis dan memperbaiki keadaan kita bun."ucapku berseri-seri, bahkan Koh Hendra pun menyelamati aku ketika aku memberitahunya tentang berita ini. "Belajarla sungguh-sungguh, kelak ketika kamu sukses, jangan lupa dengan kokoh ya." pesannya.
"Bila memang itu maumu, yasudah..."

tteett....tteett....

Lonceng pertanda waktu istirahat habis membuyarkan kenanganku. Mungkin bunda tahu bahwa orang tak punya sepertiku mungkin akan kesulitan untuk bergaul di sekolah ini, sekolah para siswa yang katanya berpendidikan tinggi, dan kaya raya ini. Berdirila aku dan kutenteng roti yang tadi kubeli dan belum sempat kuhabiskan, dan berjalan menuju kelasku, X MIPA 3. Sesampainya di kelas aku langsung berjalan ke meja belakang pojok belakang kanan, entah kebetulan atau emang orang tanpa teman sepertiku diharuskan duduk di tempat yang tidak terlihat. Tetapi begitulah, berdasarkan denah tempat duduk yang sudah dibuat oleh walikelas, tempat dudukku adalah di paling belakang, sebelah kanan, sendirian.

1 minggu kemudian.....

Seperti biasa, walikelas masuk untuk memberikan briefing (sudah tradisi setiap pagi walikelas datang ke kelasnya masing-masing untuk memberikan informasi, ataupun wejangan-wejangan terhadap muridnya) walau lebih sering dilakukannya adalah memberikan nasihat nasihat picisan, seperti jagalah kebersihan sekolah, belajarlah sungguh-sungguh, dan masih banyak lagi.
"Hari ini, ada kedatangan siswi, direkomendasikan langsung oleh Herman Barata." Lantas bagaikan Dejavu dihari perkenalan aku 2 minggu yang lalu, terulang lagi kejadiannya. Suasa kelas menjadi ramai, dan akhirnya kudapatkan lah informasi. Singkatnya, sudah ada banyak isu-isu bahwa pacar dari Robert Barata, anak dari pemilik sekolah ini akan belajar disekolah ini. Kurasa hanya aku, yang tidak tahu siapa itu Robert Barata, sampai sekarang, baru aku tahu bahwa Heman Barata memiliki anak yang  memiliki prestasi luar biasa, dan sedang bersekolah juga disini, beda angkatan tapi. Ya, dia kelas 11. Tiba-tiba saja suasana kelas menjadi tenang, kuperhatikan wajah siswa-siswi di kelasku. Tak ada satupun yang berkedip, memandang ke depan, ke arah papan tulis. Bingung, akupun menoleh ke depan untuk melihat siapa gerangan yang bisa menenangkan kelas ini.

Memang bukan main cantiknya, hidungnya mancung, rambutnya panjang terurai lurus. Matanya tajam, siap menusuk siapapun yang menatap matanya yang bewarna cokelat itu. Badannya tidak kurus, juga tidak gembrot. Mukanya mulus, putih, seperti tidak pernah keluar rumah, dan pasti banyak uang dihabiskannya untuk perawatan pikirku. Benar-benar seperti Apsara (baca:bidadari) yang biasa kubaca di buku novel.
"Halo, perkenalkan namaku, Vienna."
Astaga, bahkan suaranya pun bisa menghiphotis siapapun yang mendegarnya, lembut dan halus. Berbanding terbalik dengan yang aku alami, tak ada satupun orang yang bertanya pekerjaan orangtuanya, nama belakangnya-pun tak ada yang berani tanya. Mungkin karena kecantikannya, murid menjadi tidak peduli dengan latar belakangnya, mungkin juga karena dia adalah pacar Robert, sehingga tak ada yang meragukan latar belakangnya.


buat yang mau baca via wattpad

Chapter I
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
Chapter II
10.
11.
12.
Diubah oleh notararename
profile-picture
profile-picture
profile-picture
penikmatindie dan 14 lainnya memberi reputasi
15
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
08-09-2019 13:27
3.Ujian Akhir Semester akan dilaksanakan minggu depan, jadi tidak heran aku saat melihat semua murid belajar dengan sungguh-sungguh, berbeda dari biasanya yang selalu saja ribut saat guru sedang menjelaskan, sedangkan aku fokus belajar, bukannya menyombongkan diri, tetapi tujuanku bersekolah untuk mendapatkan ilmu, aku paham betul bahwa untuk mendapatkan beasiswa kuliah ke luar negri maka aku harus mendapatkan nilai yang besar.

Oh ya, aku sekarang sudah tahu wajah si Robert, pria yang di idam-idamkan oleh barangkali semua siswi di sekolah ini. Bahkan jika aku ini wanita, mungkin sudah jatuh hati aku kepadanya. Masih ingat aku, saat itu, dua hari yang lalu, tiba-tiba saja seluruh murid B.I.S diminta untuk berkumpul di lapangan, ada pengumuman yang sangat penting katanya. Anggota OSIS pun segera mengatur murid agar berbaris dengan rapi, setelah semua murid sudah berbaris dengan rapi, mulaila pak Tresno, kepala sekolahku berbicara di tengah lapangan, di atas podium kecil.
"Selamat pagi, murid-murid yang saya cintai, staff-staff dan guru yang saya hormati. Hari ini ada berita bahagia untuk sekolah kita, mungkin beberapa dari kalian sudah ada yang tahu." Sontak beberapa siswa dan siswi bertepuk tangan sambil berseru " Robertttt."
"Ada siswa kita yang berkesempatan untuk kuliah di salah satu University Ivy League, Harvard University, ini adalah sebuah peluang besar bagi sekolah kita, Robert akan membuka jalan agar kedepannya, akan ada lebih banyak lagi siswa kita yang bisa melanjutkan studi di Ivy League, barangkali di Yale University." Lagi-lagi tepuk tangan bergemuruh di lapangan ini. Bukan dari beberapa siswa yang sudah tahu, tapi kini karena semua siswa sudah tahu beritanya, hampir seluruh murid bertepuk tangan gembira.
"Robert Barata, silahkan maju ke depan." Lagi-lagi seakan tiada hentinya, kembali tepuk tangan dari murid-murid B.I.S terdengar.
Kulihat seorang lelaki dengan rambut pendek, keluar dari barisan siswa kelas 11, dengan langkah tegap ia berjalan ke arah pak Tresno. Oh, ini yang namanya Robert Herman, pangerannya Putri Vienna, pikirku. Benar kata orang wajahnya memang sungguh tampan, cocok betul untuk Vienna.
Dengan bahasa inggris yang fasih ia mulai berbicara, kira-kira beginilah setelah kuartikan, dengan kemampuan bahasa inggrisku yang lumayan bagus. Memang aku sering membaca dari kamus, karena tujuanku adalah seperti Robert ini, melanjutkan studi ke luar negri, meski mungkin tidak ke Ivy League, setidaknya universitas biasapun tak masalah asal bukan di Asia.
"Terimah kasih banyak untuk guru yang sudah membantuku untuk bisa diterima belajar di Harvard, aku akan berusaha sebaiknya untuk belajar dengan tekun, dan menjaga nama baik sekolah ini. Dikarenakan, aku harus menjalani program Foundation sebelum menjalani program Degree, maka aku akan berangkat ke Amerika Serikat, kurang lebih tiga puluh hari lagi. Untuk teman-teman seangkatanku, aku berharap kalian dapat mendapatkan nilai UN dan USBN yang bagus, dan dapat mendapatkan universitas yang bagus." Setelah lagi-lagi tepuk tangan oleh murid-murid, pak Tresno lalu mempersilahkan Robert untuk kembali ke barisannya, kemudian briefing selesai. Sebagian siswa kulihat langsung mengerumuni Robert, mungkin mengucapkan selamat atas prestasinya, mungkin juga memberikan semangat untuknya.

tteett....tteett.....

Suara lonceng tanda waktunya istirahat, dan suara decitan dari kursi yang bergeser, tanda para murid meninggalkan kelas untuk ke kantin atau sekedar berjalan-jalan di lingkungan sekolah membuyarkan pikiranku. kulihat Vienna, juga berdiri dan berjalan ke arah pintu, ternyata Robert. Memang akhir-akhir ini Semakin sering saja Robert datang ke kelasku untuk menegok Vienna, barangkali karena mereka akan segera berpisah, jadilah ia berusaha mengisi waktu sebanyak-banyaknya dengan kekasihnya. Sedangkan aku, malas rasanya untuk ke kantin, bukan hanya karena malas akan keramaian, tapi juga karena harganya yang sangat mahal. Pernah sekali aku membeli Snack, harganya 3 kali lipat dari harga yang diberikan oleh toko Koh Hendra, tapi tetap saja kantin sekolah ramainya bukan main. Hanya beberapa siswa yang memilih untuk tetap di kelas, kulihat mereka ngobrol dan tertawa bersama. Terkadang aku berimajinasi bagaimana bila aku punya teman, mungkin aku bisa sedikit lebih bahagia, melihat mereka tertawa bersama, memang membuatku sedikit cemburu. Segera kutepis imajinasiku, dan segera kuambil buku catatan sekolahku dari laci mejaku, tapi kuurungkan niatku setelah aku melihat ada selembar kertas di lantai bawah meja. Kuambil kertas itu dan kulihat ternyata lukisan seseorang anak kecil, tidak bisa kupastikan apakah ini gambar seorang anak laki-laki atau anak perempuan, karena di lukisan ini ia sedang menghadap ke belakang, sehingga hanya rambutnya-lah yang bisa kulihat, rambutnya panjang, barangkali anak perempuan pikirku, di atas ujung kanan kulihat ada tulisan : Temanku...., tapi punya siapa lukisan ini? Makin bingung aku jadinya.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ariid dan 11 lainnya memberi reputasi
12
profile picture
newbie
09-09-2019 14:59
lajutken brooo.. mantapp
18-09-2019 19:14
9. Tanpa kabar, tiba-tiba saja Vienna datang ke rumah setelah kejadian semalam. Katanya, ingin menemui mama Wulan. Tapi seperti biasa, bundaku sedang bekerja dari pagi sampai sore. Jadi, ia memilih untuk ikut denganku bekerja di toko Koh Hendra. Aku sudah berusaha melarangnya, karena aku merasa tidak enak dengan Koh Hendra kalau harus membuatnya menerima pegawai lagi. Tapi Vienna tetap saja bersikukuh untuk ikut, dia akan membantu sukarela tanpa gaji katanya, dia juga ingin mengenal Meisha, dan ingin menghabiskan waktu denganku di liburannya kali ini. Sekarang, aku sedang berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan kedatangan Vienna ke toko ini. Mata Meisha menatapku tajam saat aku datang dengan seorang perempuan, meminta penjelasan.
"Jadi, perkenalkan ini adalah Vienna, Vienna ini adalah Meisha" ucapku berusaha mencairkan suasana, yang ternyata gagal.
"Oh, jadi ini Vienna yang kau sebut-sebut bidadari itu, mengapa kau membawanya kesini?" nada permusuhan terdengar jelas dari nada suaranya. Aku merasa sangat malu, karena secara tidak langsung Meisha baru saja mengatakan kalau aku sering membicarakan Vienna.
"Dia ingin bekerja di toko Mei, di mana Koh Hendra?"
"Maaf Bim, tapi saat ini kami tidak memerlukan pekerja tambahan."
"Aku hanya ingin membantu, tanpa bayaran." Vienna berusaha menjelaskan.
"Baiklah kalau begitu, aku akan memberitahu papa nanti Bim, papa sedang membeli sesuatu." Lalu Meishapun langsung melanjutkan perkerjannya.
"Jadi kau memanggilku bidadari?" godanya
"Lupakan yang diucapkan Mei." ucapku mengelak.
"Mengapa kau memanggilku bidadari Bim?" tanyanya lagi.
"Entahlah, karena kau cantik Vie."Ucapku ragu.
Kulihat pipinya memerah, buru-buru dia pergi.
Kamipun mulai merapikan beberapa barang, dan melayani pelanggan. Saat toko sedang sepi, kami habiskan waktu dengan bernostalgia tentang masa kecil, dan yang terjadi kepada Vienna dan aku saat berpisah selama sepuluh tahun.

Tidak terasa, akhirnya selesai sudah pekerjaan hari ini. Vienna sangat bersemangat di perjalanan pulang ke rumah. Aku lihat ibu sedang menyapu teras rumah.
"Bunda!" Teriakku, sambil melambaikan tangan lalu berjalan mendekat.
"Siapa ini Bim?" Mata bunda menatap wajah Vienna, seperti saat Ningsih menatap wajahku.
"Ma, ini Vienna ma. Anak bu Ningsih." Vienna langsung memeluk bunda, sedangkan bunda terdiam kaget, tidak bereaksi.
Bunda melepaskan pelukkan Vienna, lalu menyentuh wajah Vienna.
"Sekarang kamu sudah tumbuh dewasa Vie, cantik." Mata bunda berkaca-kaca.
"Terimakasih ma, Vie merindukan mama sepuluh tahun ini ma. Seperti mimpi, akhirnya Vie bisa bertempu dengan mama dan juga Bima lagi." ucapnya berkaca-kaca.
Kini merekapun saling berpelukan.
Seperti yang terjadi semalam, sudah tiga puluh menit berlalu kami duduk di ruang tamu, menjelaskan kepada bunda bagaimana kami bertemu, dan masih banyak lagi. Tapi saat kami menceritakan kejadian semalam bunda marah besar.
"Mengapa kau tidak bilang, kalau yang mengundangmu adalah Robert Barata! Kau tidak bertemu Herman Barata kan?"
"Bundakan tidak bertanya, dan tidak mungkin aku bisa bertemu dengan Pak Herman bun."
"Ingat Bim, jangan pernah kau datang ke rumah itu lagi."
"Kenapa bun? dan apa alasan bunda berhenti menjadi kepala pelayan?"
"Bunda akan menjelaskan semuanya Bim, tapi nanti saat bunda siap."
"Sudah malam, Vie pulang dulu ma, Bim."
"Dijemput Pak Ahmad?" tanyaku, tetapi raut wajah bunda mengeras dan kaget saat mendengar nama itu, Ahmad.
"Iya, Bim. Mama kenalkan dengan Pak Ahmad? dia sudah bekerja untuk pak Herman lebih dari tiga puluh tahun."
"Tentu saja mama kenal Vie. Bima antarlah Vienna sampai ke mobil."
"Iya bun."

Kuambil buku diari yang hampir penuh dari bawah kasur. Dan kuambil sebuah buku diari yang masih bersih dari tinta pena. Sudah kuputuskan mulai sekarang, aku beri nama buku diari ini buku 'Vienna', karena di dalam buku ini akan aku tuliskan segala hal tentang Vienna. Aku salin beberapa hal tentang Vienna yang dulu sempat aku catat di buku diari lama, dan aku tulis beberapa hal yang telah terjadi dengan Vienna. Dengan perasaan bahagia aku mengakhiri hari ini dan tertidur pulas.


Tidak terasa, sudah satu bulan berlalu yang berarti liburan telah habis. Setiap hari selama liburan Vienna datang, makin lama hubungan kami makin dekat. Aku semakin mengenal Vienna, begitu juga sebaliknya. Vienna bercerita, dia masih belum bisa menemukan papanya. Ya, sepertiku Vienna tidak pernah bertemu dengan papanya sedari lahir. Menurut mama Ningsih, papa Vienna pergi meninggalkannya sebelum Vienna sempat lahir, padahal mereka tidak memiliki masalah apapun. Vienna juga bercerita bahwa Robert menyukainya sudah lama, akhirnya saat Vienna kelas 9, Robert menyatakan perasaannya. Vienna lalu bercerita kepada mama Ningsih tentang pernyataan cinta dari Robert. Ningsih menyuruhnya menerima cinta Robert, dengan alasan agar Vienna bisa mendapat perlakuan istimewa, hidup bahagia, dan bisa melanjutkan sekolah SMA di B.I.S. Meskipun Vienna tidak mencintai Robert. Dengan terpaksa Viennapun menerimanya, dan memang benar Semenjak itu, Vienna diberikan sopir pribadi, ponsel bagus, segala serba mewah. Akan tetapi Vienna mengaku tidak pernah merasa bahagia, karena dia harus berpura-pura menyukai seseorang yang dia tidak suka. Saat aku menanyakan apa kejadian yang terjadi kepadanya, dia tidak pernah mau menjawab dan mengalihkan pembicaraan. Berdasarkan cerita Vienna juga, katanya semenjak kejadian malam itu Robert tidak pernah berbicara apa-apa kepadanya, dan Robert sudah berangkat ke Amerika dua minggu yang lalu.
Hubungan Vienna dan bundapun semakin dekat, sepulang dari toko Vienna selalu menemui bunda dan menceritakan kehidupannya setelah bunda pergi dari rumah Herman Barata. Bunda juga menitipkan salam untuk Ningsih, sahabat terbaik katanya.
Sebaliknya, hubunganku dengan Meisha makin merenggang. Meisha sudah sangat jarang sekali berbicara denganku, setiap kali aku ataupun Vienna mencoba mengajaknya berbicara Meisha selalu berusaha menyudahi pembicaraan dengan alasan pekerjaan. Dugaanku, Meisha membenci Vienna, entah untuk alasan apa aku masih tidak tahu.
Hari terakhir liburan, Vienna mengucapkan terimakasih karena sudah menemani liburannya, dan dia mengaku ini adalah liburan terbaiknya. Sejujurnya, aku juga merasa seperti itu. Aku merasa sangat bahagia bisa menghabiskan liburan bersama Vienna, dan sebenarnya akulah yang seharusnya berterimakasih kepadanya. Vienna juga memintaku untuk menjaga rahasianya bahwa dia tinggal di rumah Robert, karena jika murid-murid tahu, maka kemungkinan besar akan banyak rumor jelek tentang dirinya. Buku 'Vienna' juga kini sudah dipenuhi tulisan-tulisanku.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
idner69 dan 10 lainnya memberi reputasi
11
profile picture
kaskuser
18-09-2019 20:49
Akhirnya up date lagi,kerinduanku terobati.
Tapi masih berasa kurang aja nih...emoticon-Wowcantik
07-09-2019 23:01
2.Setelah terpukau akan kecantikan sang bidadari ini, mulailah aku sadar, kalau satu-satunya kursi yang kosong hanyalah di sebelahku. Belum sempat aku berfikir lebih jauh lagi "Silahkan duduk di kursi yang kosong itu" ucap pak Hafiz, walikelasku, sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arahku, atau mungkin ke arah kursi di sebelahku.Entah haruskah hati ini bahagia bisa duduk dengan bidadari yang datang dari langit ini, ataukah hati ini harus sengsara harus berdekat dengan seorang secantik vienna. Belum lagi ocehan-ocehan siswa-siswa kelasku tentang tidak seharusnya orang sepertiku duduk berdua dengan vienna, perempuan yang barangkali tidak ada kekurangan, mulai dari penampilannya sungguh sungguh sempurna.

Lalu, berjalanlah ia ke arah tempatku duduk ini, diiringi dengan lirikan-lirikan mata nakal siswa kelasku. Ia hanya berjalan lurus tanpa menghiraukan mata-mata yang menatap takjub akan kecantikannya. Cepat-cepat aku mengambil buku dan pena dari tasku, pura-pura tidak peduli akan kehadirannya.
"siapa namamu?" tanyanya sambil tersenyum.
"Bima."
"Bima saja?"
"Bima Tabara."
"Anak Pejabat?" akhirnya aku menemukan juga kekurangannya, bidadari ini sama seperti siswa lain di sekolah ini. Dia berusaha menggali latar belakangku, dan aku tahu segera ia akan meminta untuk berpindah tempat duduknya.
"Bukan, aku tidak punya ayah, dan bundaku bekerja sebagai tukang cuci untuk tentangga."jawabku geram, lalu dengan cepat membuka buku dan pura-pura membacanya hanya untuk menghindari percakapan ini.
tanpa kuduga jawabannya sungguh mengejutkan, "oh, namaku vienna" sambil ternseyum, memamerkan lesung pipitnya, yang membuatnya dua kali lipat lebih manis dari sebelumnya.
Aku menjawab dengan meliriknya sekilas, lalu kembali membaca buku diatas meja.

-------

Entah mengapa, susah bagiku untuk mendegarkan apa yang sedang dijelaskan oleh guru yang sedang mengajar. Mata ini, tak bisa diatur, selalu saja tanpa sadar melirik ke sebelah kananku, dimana vienna sedang fokus memperhatikan guru.
Otak ini, juga tak bisa diatur, apapun yang dijelaskan oleh guru, selalu saja Vienna yang kupikirkan, inikah namanya cinta pada pandangan pertama, yang biasa di bicarakan orang-orang, dan yang biasanya di tulis di novel-novel yang kubaca.Tidak mungkin ini cinta, aku hanya mengagumi kecantikannya itu saja, tidak lebih . Entahlah aku sendiri tak yakin.

Tidak terasa, pukul 13.00 telah tiba yang berarti pelajaran sekolah telah berakhir, seperti biasa aku pulang kerumah untuk makan siang sendiri, karena jam segini biasanya bunda masih bekerja di rumah tetangga, berganti baju, lalu pergi ke toko "Gemilang Jaya" toko kelontong yang dimiliki oleh seorang cina, Koh Hendra. Emang upah yang diberikan tidak begitu besar, tapi cukupla untuk membantu biaya kehidupan sehari-hari. Koh Hendra juga sudah sangat baik kepadaku selama ini, sering ia memberikan makanan untuk diriku dan bunda secara cuma-cuma.
Suasana toko sibuk seperti biasa saat aku sampai, memang toko Koh Hendra ini lumayan terkenal di daerah tempat tinggalku, bukan hanya karena harganya yang murah dibanding toko lain di daerah ini, tetapi juga karena Koh Hendra adalah orang yang sangat ramah, sehingga banyak orang menyukainya.

Langsung saja aku menyusun barang-barang, karena memang itu tugasku di toko ini, meski otakku masih saja memikirkan wajah Vienna, kurasa wanita itu menggunakan ilmu goib, yang membuat siapapun terpana akan kecantikannya. "Pergilah kalian." Sebuah teriakkan membuatku menoleh ke arah kasir, ya itu suara Meisha, anak Koh Hendra, harus kuakui cantiknya tidak kalah dengan Vienna, meski tetap menurutku tidak bisa menandingi kecantikkan Vienna.
Kulihat Meisha raut mukanya sungguh serius, didepannya ada gerombolan remaja laki-laki, 4 orang jumlahnya, memang sudah sering aku melihat mereka, preman jalanan. Maka segera aku berjalan ke arah kasir, tempat dimana Meisha berada. Terdengar suara Meisha hampir seperti menangis.
"Sudah sering kalian minta uang dan setiap hari semakin meningkat saja jumlah yang kalian minta"
"Ayolah, Semakin hari tokonya jugakan semakin ramai pelanggan." Ucap salah satu laki-laki itu sambil tertawa
"Tidak cukupkah, uang yang sudah kami berikan dari kemarin-kemarin?" Teriak Meisha, tampaknya belum menyadari kehadiranku.
Aneh tapi nyata, yakin betul aku, hampir semua orang melihat apa yang sedang terjadi, tetapi mereka melanjutkan melihat-lihat barang dagangan, seakan tidak terjadi apa-apa, tak ada niatan sedikitpun untuk menolong Meisha.
"Kalian mau pergi atau aku telepon polisi?" bentakku, tampaknya mereka kaget akan kehadiranku
"Polisipun takut kepada kami." Sambil tertawa ia jawab.
"Baikla"
Kubuka ponselku dan pura-pura aku tekan tombolnya dan kutempel-lah ke telingaku. Sekilas aku melihat mereka saling menatap satu sama lain, seakan berdiskusi haruskkah melanjutkan pemerasan ini, atau berhenti.
"Sudah, matikan sambungan itu, setelah dipikir-pikir aku rasa uang yang kemarin masih cukup untuk sebungkus rokok."Ucap salah satu cowok berbadan besar, yang kurasa adalah ketuanya.Iapun mengisyaratkan temannya yang lain untuk pergi dari sini.
"Terimakasih Bim." matanya memang merah, tapi tidak sampai menangis.
"Itu sudah kewajibanku sebagai pekerja disini Mei, lagi pula dimana papamu?"
"Sedang mengantarkan pesanan orang"
"Baikla, aku akan menyusun barang-barang dagangan lagi Mei."
Kemudian, setelah gerombolan preman jalanan itu sudah tidak kelihatan lagi, barulah pelanggan berbondong-bondong mendekati Meisha, dan menyatakan simpati mereka terhadap kejadian tersebut. Kulihat, Mei hanya menjawab alakadarnya.

Jam 5 sore, saatnya aku pulang ke rumah. Akupun berpamitan dengan Koh Hendra dan Meisha, seperti biasa sebelum pergi dari toko ini.
"Bima."panggilnya ketika aku hendak keluar dari toko kelontong ini. Akupun menoleh.
"Kenapa Koh?"
"Ini, tadi saat dijalan kokoh ada beli pecel berlebih, makanlah dirumah Bim"Katanya sambil menyerah kantong plastik hitam berisi 2 bungkus pecel.
"Terimakasih koh."
"Kokoh, juga terimakasih bim, kalau aja tadi tidak ada kamu, mungkin sudah diambil lagi uang toko ini oleh preman sialan itu." Meisha, pasti sudah bercerita tentang kejadian tadi siang pikirku.
"Sama-sama koh, Bima pulang dulu"
"Hati-hati Bim."

Sesampainya di rumah, kulihat bunda sedang menonton di ruang tamu.
"Lancar sekolahnya?"
"Iya lancar."
"Ini, ada pecel pemberian Koh Hendra bun."
"Taruh saja di atas meja Bim, mandilah dulu nanti bunda siapkan makanannya"
akupun bergegas masuk kedalam kamar, melepas baju dan mandi, lalu makan malam bersama bunda.


Seperti biasa, sebelum tidur biasanya aku sering menuliskan sesuatu di buku harian, mungkin seperti seorang feminim, tapi sedari aku kecil aku sangat hobi menulis. Kuambillah sebuah buku dari bawah kasurku, dan kuletakkan diatas kasurku. Memang rumahku adalah rumah kontrakan dan ukurannya juga kecil, terdiri dari tiga ruangan, kamar bunda, kamarku, dan ruang tamu sekaligus ruang makan. Di kamarku, seperti halnya kamar bunda, hanya ada kasur, dan kamar mandi, tidak ada meja belajar, ataupun lemari. Baju, buku sekolah, buku bacaan biasa kuletakkan dibawah kasur, dan biasanya aku menulis diatas kasur sambil berbaring.
Kubuka buku harianku, tak terasa tinggal tersisa beberapa halaman lagi sebelum buku ini penuh. Lalu, kutulislah ceritaku hari ini mengenai bidadari yang datang ke bumi.

Vienna nama gadis itu. Tak pernah aku melihat ada gadis secantik itu seumur hidupku. Dia juga tidak terganggu tentang latar belakangku, setidaknya itulah yang aku pikirkan. Tentu saja bidadari seperti itu sudah sepatutnya mendapatkan pangeran tampan, seperti di sastra-sastra yang sering kubaca. Aku memang tidak tahu wajah Robert seperti apa, tetapi yakin seratus persen aku, kalau Robert adalah seorang yang tampan, dan dari murid sekolah, aku juga tahu, kalau Robert Barata adalah seorang yang berprestasi, baik hati, dan banyak orang menyukainya. Sungguh pasangan yang cocok.....
Diubah oleh notararename
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ariid dan 10 lainnya memberi reputasi
11
21-09-2019 13:44
11. Si pemilik tangan yang tadi menghalangiku, kini maju mendekat dan berkata tepat di sebelah telingaku, "Mungkin akan menjadi seru jika seluruh murid sekolah tahu 'rahasia' Vienna." lalu merekapun pergi dari hadapanku. Jericho yang berada di sebelahku sudah pasti mendengar yang dikatakan orang tadi. Aku tidak ingin murid tahu kalau Vienna adalah anak dari pelayan di rumah Robert, jika itu adalah yang dimaksud 'rahasia' oleh Kevin. Mungkin juga, yang dimaksud rahasia oleh Kevin bahwa Vienna berpacaran dengan Robert demi uang. Atau mungkin juga, rahasia yang dimaksudnya adalah rahasia lain Vienna, yang aku tidak ketahui. Apapun itu, aku tidak ingin murid sekolah merundung Vienna.
"Pria itu adalah Kevin" jawab Jericho tanpa aku tanya. Dengan cepat aku kejar mereka, dan kutarik baju Kevin. Aku tatap matanya tajam dan dalam, sedangkan dia hanya tertawa meremehkan membuatku semakin geram. Jericho kini berada di sebelahku, hanya berdiri bingung apa yang harus dilakukannya, sementara murid-murid sekolah berhenti dari kegiatan yang sedang mereka lakukan dan memilih untuk menonton pertunjukan ini.
"Jangan macam-macam dengan Vienna!" tegasku. Sambil tertawa dia menjawab,
"Tentu saja." jawabnya, lalu dia melepaskan tanganku dari bajunya dan berbisik,
"Ikuti aku sekarang." Kevin pun melangkah ke arah taman sekolah disusul kelompoknya, aku, dan Jericho.
"Ada apa Bim?" tanya Jericho di perjalanan ke taman sekolah yang sepi.
"Kau tidak perlu tahu Jer, tapi tolong jangan beritahu siapapun tentang hal ini Jer."
"Tentu saja Bim, kau bisa mempercayaiku!" jawabnya sambil mengangguk.

Sesampainya di taman, teman-teman Kevin mengusir beberapa orang yang sedang duduk di taman hingga taman sekolah menjadi kosong. Kemudian, mulailah dia berbicara.
"Pertama-tama aku ingin mengucapkan selamat sudah menggantikan Robert sebagai pacar Vienna. Kepala Vienna terkena tas saja sampai-sampai kau rela berkelahi dengan kelompok Aben. Aku akui semangatmu itu bagus. HAHAHA." Ucapnya sambil tertawa meremehkan, yang membuatku benar-benar geram.
"Tidak, aku hanya sahabat Vienna tidak lebih. Sekarang apa yang ingin kau bicarakan?"tanyaku tidak sabar akan basa-basi tidak berguna ini.
"Baiklah, jadi begini, jika kau tidak ingin rahasia Vienna diketahui murid-murid sekolah, maka ada harga yang harus kau bayar. Kami merasa tersakiti ketika Robert putus gara-gara kau, dan ketika wajah Robert lebam gara-gara kau. Maka, jangan balas pukulan Aben nanti. Rasakan sakitnya Robert seperti ketika kau memukulnya."
"Setelah itu, kau tidak akan memberitahu murid-murid tentang Vienna?"
"Tentu saja. Jadi, kau setuju?"
"Baiklah."
Merekapun lalu pergi dari hadapanku dengan senyum kemenangan. Aku duduk di salah satu kursi panjang di taman, berharap mereka menepati janji mereka. Jericho yang tidak mengerti akan persoalan yang sedang terjadi, ikut duduk di sebelahku dan berkata,
"Kau yakin, akan menuruti mereka Bim? Aku tidak tahu apa masalah kau dan Vienna dengan mereka, tapi saran aku jangan percaya dengan mereka. Mereka tidak bisa dipercaya Bim, mereka adalah kelompok orang-orang kaya, orangtua mereka memiliki kedudukan penting di pemerintahan. Bahkan hukum enggan menyentuh keluarga mereka."
"Aku tidak bisa membiarkan Vienna tersakiti Jer, dia adalah sahabatku dan aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitinya!"
"Kalau kau memang sudah bertekad begitu, terserah kepadamu. Aku berharap mereka menepati janjinya Bim."
"Berjanjilah padaku Jer, jangan memberitahu hal ini kepada Vienna."
"Mengapa?"
"Aku tidak ingin Vienna merasa bersalah dan tertekan Jer."
"Baiklah, kalau begitu. Ingat Bim, mungkin setelah kejadian yang akan terjadi kau akan dirundung. Karena orang tidak akan lagi takut kepadamu."
"Tidak apa-apa, asalkan bukan Vienna yang dirundung Jer."
"Perasaanmu sungguh tulus terhadap Vienna."
"Tentu saja, dia satu-satunya sahabatku di sekolah ini Jer."
"Baiklah kalau begitu, lebih baik kita ke kelas sekarang."

Di kelas, aku tidak fokus belajar. Kepalaku terus memikirkan apa yang akan terjadi setelah pulang sekolah. Bukannya tidak sadar akan keanehan dari diriku semenjak dari toilet. Vienna bertanya apa yang terjadi, aku hanya menjawab tidak ada apa-apa.

tteett..tteett..

Aku lihat, Aben menatapku tajam seakan ingin mengingatkan aku untuk tidak lari darinya.
Vienna menatapku khawatir, "Lebih baik kita langsung pulang saja Bim. Kelompok Aben itu lumayan banyak Bim, kau mungkin akan dikeroyok. Sekalipun kau menang, mungkin mereka akan melaporkanmu kepada polisi karena telah memukul mereka." bujuknya.
"Percaya saya padaku Vie." ucapku tersenyum. Akupun berdiri dan langsung berjalan keluar gerbang sekolah, disusul Aben dan teman-temannya yang berjumlah 5 orang, termasuk Aben. Aku lihat ternyata, banyak murid-murid sudah menunggu di luar gerbang sekolah. Entah kelompok Kevin atau Aben yang menyebarkan tentang perkelahian ini, atau murid-murid yang menyebarkan tentang perkelahian ini kepada murid-murid yang lain. Terbesit untuk membatalkan perjanjianku dengan Kevin, karena begitu banyak murid-murid membentuk lingkaran mengelilingi aku dengan kelompok Aben. Aku melihat Vienna dan Jericho di antara murid-murid lain menatapku khawatir, sebaliknya aku melihat kelompok Kevin di belakang kelompok Aben. Kevin maju dan berdiri di antara aku dan Aben. Bersikap seolah wasit yang adil, ia berkata,
"Satu lawan satu, Aben pastikan temanmu tidak menganggu."
"Tentu saja Kev." ucapnya.
Sebelum kembali ke belakang bersama teman-temannya, Kevin menatapku dan mengedipkan matanya mengigatkan aku akan perjanjian kami.
Beberapa detik setelah Kevin ke belakang, Aben langsung maju dan memukul wajahku yang tidak sempat aku tangkis. Murid-murid bersorak gembira, menambah semangat dalam diri Aben, dia lalu menendang perutku dengan kuat, hingga aku terjatuh di lantai. Kini murid bersorak lebih keras dari yang tadi. Sesaat sebelum aku terjatuh aku melihat kelompok Kevin dan Aben tertawa bahagia. Mendegar sorakan dari murid, dengan cepat Aben berada di atasku, dan memukul dengan membabibuta. Yang bisa aku lakukan sekarang hanya menaruh kedua lenganku di atas wajahku untuk menahan pukulannya. Setelah puas memukulku, dia berdiri kini menendangku seakan sedang menendang binatang. Perlahan-lahan sakit yang aku rasakan menghilang, bersamaan dengan kesadaranku yang juga perlahan-lahan menghilang. Sebelum kesadaranku menghilang sepenuhnya, aku melihat Vienna. Matanya mengeluarkan air mata. Terlalu lemas, aku hanya bisa berteriak di dalam hatiku. Jangan menangis.... aku mohon Vie. Aku mohon Vie, setidaknya jangan menangis ketika aku sedang berusaha untuk membuatmu tidak menangis. Kesadaranku kini sudah hilang sepenuhnya.


Kesadaranku kembali, aku berusaha membuka mata yang sangat sakit ini. Aku berada di suatu tempat yang asing, tubuhku sedang tidur di sebuah kasur yang aku tidak pernah lihat sebelumnya. Aku merasakan sesuatu sedang bersandar di tanganku. Aku berusaha menggerakan tubuhku yang sangat sakit ini, untuk duduk. Aku melihat, ternyata Vienna lah yang sedang menyandarkannya kepalanya di tanganku. Perlahan-lahan aku geser tanganku dari kepalanya, tidak ingin menganggu tidurnya. Aku perhatikan lagi ruangan ini. Sebuah kamar tidur, bukan rumahku, bukan juga rumah Herman. Ukurannya lumayan besar, tidak banyak aksesoris di dalam kamar ini, hanya sebuah kasur, lemari, meja belajar, kamar mandi. Membuat ruangan ini tampak lebih luas. Aku alihkan perhatianku kepada seorang bidadari cantik yang sedang tertidur pulas. Menatap wajah polosnya sedang tertidur, membuat aku melupakan rasa sakit di tubuhku sejenak. Pintu dibuka, aku melihat Jericho dengan sebuah nampan berisi makanan ditangannya. Kaget akan diriku yang sudah sadar, dia langsung bergegas berjalan ke arah kasurku. Di letakannya nampan di sebuah meja sebelah kasur dan berkata,
"Baguslah, kau sudar sadar Bim. Vienna, daritadi menangis melihat kondisimu. Dia juga yang mengobatimu." memang, sekarang aku merasakan beberapa kapas di wajahku, dan betadine. Aku menoleh ke arah Vienna, aku perhatikan matanya. Benar saja, matanya sedikit bengkak akibat menangis. Kini aku merasakan sesuatu sedang mencengkram hatiku. Sakit.
"Di mana ini Jer? Berapa lama aku sudah disini?"
"Ini adalah rumahku Bim, tadi kau pingsan jadi kami membawamu ke rumahku. Kurang lebih kau sudah pingsan selama tiga jam. Sekarang sudah pukul enam malam Bim." percakapan kami ternyata membangunkan seorang bidadari yang tadi tertidur pulas. Melihat aku yang sudah sadar, Vienna langsung memelukku erat. Lagi-lagi dia menangis sambil. Aku usap kepalanya, berkata,
"Shuush, jangan menangis Vie. Seharusnya akulah yang menangis, tubuhku sedang sakit, ditambah kau sekarang memelukku membuatku tambah sakit Vie hahaha." ucapku bercanda, mencoba untuk menghiburnya. Bukannya tertawa, ia melepaskan pelukannya, dan menangis lebih kencang.
"Maaf Bim.... Karena aku .... kamu menjadi begini Bim." Kini aku berusaha menggerakan tubuhku yang sakit ini untuk memeluknya.
"Sudah Vie, ini semua bukan salah kamu." Aku lepas pelukanku dan aku hapus air matanya.
Dia lalu menyenderkan kepalanya ke bahuku.
"Aku harus pulang, bunda pasti khawatir aku belum pulang jam segini. Kamu juga harus pulang Vie, sudah malam."
"Kau yakin ingin pulang dalam keadaan begini Bim?" tanya Jericho.
"Tenang saja Bim, kami sudah memberitahu bundamu kalau malam ini kamu menginap di rumah teman karena ada tugas. Pak Ahmad sedang mengambilkan baju di rumahmu, seharusnya tidak lama lagi Pak Ahmad sampai, karena ternyata rumah kalian berdekatan. Setelah Pak Ahmad sampai aku akan pulang." jawab Vienna. Mendengar itu, kini aku merasa sedikit lega.
"Baiklah kalau begitu, aku akan ke bawah untuk makan malam Bim. Makanlah lalu tidur." ucap Jericho lalu pergi dari ruangan ini. Aku lalu berusaha mengambil makanan yang tadi dibawa oleh Jericho, yang ternyata bubur. Melihatku kesusahan, Vienna buru-buru mengambil mangkok bubur dari tanganku, lalu menyuapiku seperti seorang ibu yang sedang menyuapi anaknya. Dengan penuh perhatian, Vienna menyuapiku, membuatku melupakan segala sakit yang tadi aku rasakan. Setelah aku selesai makan, dia bertanya,
"Mengapa tadi kamu tidak melawan, Bim?"
"Apa maksudmu? Ternyata Aben sangatlah kuat Vie, tentu saja aku kalah." bohongku.
"Tidak Bim, tadi kamu tidak membalas sedikitpun pukulannya, yang kamu lakukan hanyalah melindungi tubuhmu dari pukulannya. Apakah ada sesuatu yang terjadi Bim?"
"Kan sudah aku bilang, dia sangat kuat, juga cepat. Bukannya aku tidak ingin membalas, tapi aku tidak bisa. Dia sangat kuat Vie." Bagaikan penyelamat, Jericho datang memberitahu kalau sopir Vienna telah sampai membuat Vienna berhenti bertanya tentang perkelahian tadi.
"Aku pulang dulu Bim. Cepat sembuh, jika masih sakit seharusnya besok izin saja Bim."
"Iya, hati-hati Vie." Vienna lalu berdiri dari kasur, aku juga mencoba untuk berdiri ingin mengantarnya keluar rumah, sekaligus melihat-lihat rumah Jericho. Ternyata kakiku juga sakit, hampir aku terjatuh jika Vienna tidak menangkapku.
"Tidur saja Bim, tidak usah ikut mengantarku keluar." ucapnya lalu membaringkan aku di kasur. Dengan terpaksa aku menurut.
"Baiklah. Terima kasih Vie sudah merawatku."
"Tidak perlu berterima kasih Bim, aku yang menyebabkan kamu sampai begini." Lalu diapun keluar dari kamar bersama dengan Jericho.
Setelah Jericho mengantarkan Vienna keluar rumah, dia datang ke kamarku. Dia berpesan untuk tinggal dan istirahat disini untuk beberapa hari, dan bik Inem, pembantunya yang aku tidak pernah lihat akan mengurusku selama dia sedang bersekolah. Dia akan memberitahu guru bahwa aku izin sakit selama tiga hari. Aku ingin menolak, tetapi aku juga paham sekarang ini tubuhku sangat lemah dan tidak berdaya. Jadi, aku hanya mengucapkan terima kasih lalu tidur.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kudo.vicious dan 9 lainnya memberi reputasi
10
profile picture
kaskuser
21-09-2019 14:47
Tuh,bener kan? Berat nih buat Bima cs...
14-09-2019 14:31
7. Setelah kejadian malam itu, bunda bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, maka akupun mencoba bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa juga.
"Hati-hati Bim" Pesan bunda, setelah aku pamit untuk pergi ke sekolah.
Akun pun lalu menggowes sepeda menuju ke sekolah.
Sesampainya di sekolah, aku memakirkan sepedaku di parkiran motor yang sepi, karena kebanyakan murid berangkat ke sekolah diantar sopir, ataupun dengan menggunakan mobil sendiri. Seperti biasa para murid menyambut aku dengan pandang mata. Meski sudah hampir setahun aku berangkat ke sekolah menggunakan sepeda, sepertinya mereka masih saja menganggap orang yang berangkat ke sekolah dengan sepeda sebagai sesuatu yang aneh.

Baru beberapa langkah aku berjalan untuk menuju ke kelas, kudengar Vienna memanggil namaku, aku menoleh ke belakang, dan kulihat dia melambaikan tangannya kepadaku dari gerbang sekolah, dibelakangnya kulihat mobil yang sama yang menjemputnya semalam berlalu pergi.
"Ada apa?" tanyaku bingung.
"Emang harus ada apa-apa baru boleh menyapa seorang teman?"Jawabnya. Aku hanya menjawab dengan senyuman.
Saat ini, aku dan Vienna sedang berjalan bersebelahan menuju ke kelas. Jujur saja aku merasa tidak nyaman dengan keadaan seperti ini, karena aku merasakan banyak pandang mata dan bisikan-bisikan dari murid yang kutemui.
"Jangan hiraukan mereka Bim."Ucap Vienna, menyadari bahwa saat ini kami sedang menjadi pusat perhatian para murid.
"Tentu saja." Bohongku.



-----



Makin hari, makin dekat hubunganku dengan Vienna. tak terasa, Ujian Akhir Semester baru saja selesai, kulihat semua murid dalam kelasku tertawa gembira karena mereka akan terbebas dari belajar dan berlibur selama satu bulan. Kecuali aku, dan gadis yang sedang duduk di sebelahku, yang tidak tertawa gembira seperti murid yang lain.

Sejujurnya, aku merasa sedikit kecewa karena rasanya baru sebentar aku memulai pertemanan dengan Vienna, tapi sudah harus berpisah. Dan untuk vienna, aku menerka mungkin dia tidak tertawa karena sebentar lagi dia akan berpisah dengan kekasihnya. Walaupun, jujur, sedikit aku berharap dia kecewa karena akan berpisah denganku, tapi aku tahu itu merupakan hal yang tidak mungkin, siapa aku dibandingkan Robert Barata.
"Tidak terasa bulan depan kita sudah naik kelas sebelas" Ucapku.
"Iya, semoga saja kita bisa berada di kelas yang sama lagi."
"Iya, semoga. Kalau begitu aku pulang dulu Vie, sampai ketemu bulan depan."
"Tunggu, tadi pagi Robert bilang ingin berbicara denganmu Bim"
"Robert kekasihmu?"
"Iya."
"Dimana?"
"Katanya dia akan datang ke kelas setelah ujian, mungkin sebentar lagi dia akan datang Bim."
"Kenapa dia ingin bicara denganku?" tanyaku lagi. Belum sempat Vienna menjawab, suasana kelas yang tadi sedikit ricuh karena para murid yang sedang memamerkan rencana liburannya satu sama lain, berpamitan satu sama lain, atau membahas ujian yang baru saja selesai, menjadi diam. Aku dan Vienna pun ikut diam, dan menoleh untuk mencari tahu penyebab murid kelas menjadi sunyi. Ternyata, Robert diikuti oleh 5 orang temannya memasuki kelasku, dan menuju ke arah mejaku. Aku dan Vienna berdiri dari tempat duduk, untuk menyambut Robert.
"Robert." Ucapnya sambil menyodorkan tangannya.
"Bima." Ucapku lalu menjabat tangannya.
"Kata murid-murid, kau adalah pacar barunya Vienna, benar begitu?" Katanya, disusul dengan bisikan-bisikan dari murid kelasku.
"Robert!!" Geram Vienna.
"Tentu saja tidak, aku dan Vienna hanyalah teman, tidak lebih. Jangan percaya dengan gosip murahan yang dibuat oleh murid-murid sekolah." Jawabku. Robertpun tertawa.
"hahaha, aku hanya bercanda Bim, tidak mungkin aku percaya akan gosip-gosip murahan seperti itu. Aku percaya dengan Vienna." ucapnya lalu menggenggam tangan Vienna. Melanjutkan,
"Semenjak pertama kali aku kenal dengan Vienna, aku tidak pernah melihatnya berteman dengan siapapun, ini adalah pertama kalinya aku melihat Vienna berteman dengan seseorang" Perkataannya, membuatku terbelalak. Tidak pernah aku sangka, kalau Vienna ternyata kurang lebih sama sepertiku, tidak mudah bergaul dan barangkali tidak suka bergaul. Lantas, mengapa ia ingin berteman denganku?....
"Robert!!" Geram Vienna lagi. Robert melanjutkan, menghiraukan Vienna,
"Maka, aku ingin mengundangmu untuk datang ke acara perpisahan kecil-kecilan yang kubuat dalam rangka kepergianku ke Amerika sebentar lagi. Aku harap kau bisa datang Bim, besok pukul tujuh malam di rumahku. Aku ingin lebih mengenal teman dari kekasihku." Pintanya.
"Akan aku usahakan." Tolakku sopan, tentu saja aku tidak akan datang, selain aku tidak suka keramaian, aku juga sadar aku hanya akan jadi bahan omongan murid lain jika aku datang,
"Baiklah kalau begitu, aku akan mengirimkan sopir untuk menjemputmu, memastikan agar kau datang. Bisa kau ketikkan alamatmu?" Ucapnya, sambil menyodorkan ponselnya.
Ragu, aku melihat Vienna menganggu mengangguk kepadaku. Maka, aku ambil ponselnya dan aku ketikkan alamatku.
"Baiklah, aku akan menyuruh sopir untuk menjemputmu sekitar jam 6. Kalau begitu kami pulang dulu Bim." Pamitnya, lalu merangkul Vienna dan berjalan keluar kelas, disusul teman-temannya dan bisikan murid kelasku yang kaget akan undangan Robert kepadaku.


"Menurutku, yang dikatakan oleh murid-murid bukanlah gosip, tapi fakta yang tertunda." Ketus Meisha. Waktu yang seharusnya digunakan untuk mengajari Meisha berubah menjadi waktu bercerita. Setelah aku menceritakan sedikit peristiwa yang terjadi di sekolah, Meisha malah mendesakku untuk menceritakan se-lengkap mungkin bagaimana aku bisa menjadi dekat Vienna. Mulai dari kejadian saat Vienna diganggu preman jalanan, Vienna memintaku mengajarinya beberapa materi ujian, hingga akhirnya Robert mengundangku ke acara perpisahannya.
"Aku memang berharap begitu, hahaha" ucapku bercanda, atau mungkin memang berharap.
"Sudah pukul lima lebih. Sebaiknya kau pulang kalau begitu kalau tidak mungkin harapanmu tidak akan terwujud." Kata Meisha dengan nada marah yang begitu terasa, lalu dia berdiri dan berlari menujur kamarnya. Kususul, kuketok pintunya.
"Pulanglah!" Teriaknya.
"Aku hanya bercanda Mei, lagipula kenapa kau marah?"
"Aku tidak marah, aku hanya sedang lelah Bim, pulanglah dan bersiap-siap." Ucapnya kini bukan teriakkan, suaranya lirih hampir seperti menangis.
"Baiklah kalau begitu, Beristirahatlah Mei, aku pulang dulu." Kutunggu sebentar menunggu jawaban, tetapi ia tidak menjawab. Tidak ingin mengganggu Mei, aku memilih untuk pulang dan bersiap-siap.


Kulihat diriku di depan kaca, kulihat seorang pria hampir dewasa, becelana jeans murah, dan kemeja yang sudah sedikit kekecilan. seorang pria berkulit putih, dengan hidung maju kedepan dan mungkin kalau boleh jujur, bisa dikatakan rupawan. Rambutnya panjang sebahu, terakhir kali dia memiliki rambut pendek adalah saat dia berumur enam tahun. Setelah itu, bunda selalu melarangnya memiliki rambut pendek entah untuk alasan apa.
Inilah perawakanku, Bima Tabara.


Pukul 6.30 tepat, Vienna mengirimkan pesan, mengabari kalau sopir yang menjemputku telah tiba, dan sedang menunggu ditempat yang sama saat menjemput Vienna dulu. Aku lalu berpamitan dengan bunda, memang awalnya bunda kaget sekaligus senang ketika aku mengatakan kalau aku akan pergi ke acara perpisahan seorang teman, karena biasanya aku tidak pernah pergi, atau lebih tepatnya tidak pernah diundang ke acara apapun. Bunda hanya berpesan untuk berhati-hati dan tidak terjerumus dalam pergaulan yang salah. Lalu, aku berjalan keluar lorong ke jalan raya, kulihat mobil yang menjemputku ternyata mobil yang sama yang menjemput Vienna. Aku buka pintu depan, dan duduk. Kulihat ternyata sopirnya juga sopir yang sama, kini aku bisa melihat wajahnya dari dekat, aku tambah yakin kalau aku pernah melihat sopir ini. Entah kapan dan dimana, aku sangat merasa familiar dengan wajahnya dan rambut botaknya. Suaranya membuyarkan pikiranku.

"Duduk dibelakang saja, tuan." Ucapnya sopan, sambil tersenyum gugup.
"Tidak apa-apa aku lebih nyaman duduk di depan, panggil saja aku Bima. Pak...?"
"Ahmad." Jawabnya.
"Baiklah, Pak Ahmad."
Mobilpun berjalan, dan disepanjang perjalanan, aku menangkap beberapa kali Pak Ahmad diam-diam melirikku melalu kaca spion. Mungkin dia bingung siapa aku sampai-sampai harus dijemputnya. Tidak ingin ambil pusing, aku abaikan lirikannya dan memilih untuk melihat jalanan. Lima belas menit berlalu, jalan raya yang ramai, berubah menjadi jalanan yang sepi. Gedung - gedung tinggi, berubah menjadi pohon-pohon tinggi yang rimbun. Sedikit aku berprasangka, jangan-jangan ia hendak membunuhku karena aku dekat dengan Vienna. Segera aku tepis prasangka buruk itu, karena sekalipun ia mencoba membunuhku, aku yakin aku bisa mengalahkan Pak Ahmad, umurnya mungkin sekitar enam puluh. Beberapa menit berlalu, aku lihat dibalik pohon-pohon tinggi nan rimbun, sebuah rumah, ralat sebuah istana berwarna putih. Dari kejauhan orang sudah bisa melihat istana milik Herman Barata, aku sungguh takjub melihat tempat tinggalnya yang sangat besar.
Mobilpun memasuki gerbang besar yang terbuka untuk para tamu, lalu memutari air mancur di tengah lapangan yang melingkar. Mobil berhenti tepat di depan istana megah.
"Sudah sampai tuan." Aku mengerutkan dahiku.
"Sudah sampai Bima." Ucapnya gugup, menyadari kesalahannya.
"Baiklah, terimakasih Pak." Akupun turun dari mobil mewah ini, dan sekali lagi aku takjub akan kemegahan istana ini. Dari dekat semakin terlihat jelas betapa besarnya tempat ini. Banyak mobil mewah terpakir di halaman, entah itu mobil milik teman Robert yang hadir di acara ini, ataupun mobil milik Herman Barata sendiri. Beberapa orang becengkrama satu sama lain, yang pria menggunakan jas, yang wanita menggunakan dress, beberapa bergandengan tangan masuk ke dalam. Kurasakan beberapa mata menatapku, mungkin karena aku adalah satu-satunya yang tidak menggunakan pakaian mewah seperti mereka. Kucoba untuk mengabaikan perasaan tidak nyaman ini, dan melangkah masuk ke dalam.
Semakin takjub, aku melihat keindahan isi rumah ini. Memang aku tidak mengerti tentang keramik, tapi aku yakin bahkan keramik yang digunakan di tempat ini merupakan keramik dengan kualitas yang terbaik. Beberapa chandelier terpasang di langit-langit, menambah kesan mewah. Di tengah terdapat tangga bewarna emas. Tapi tidak ada yang menaiki maupun menuruni tangga tersebut, sepertinya itu adalah tempat tinggal keluarga Herman Barata.
Aku melihat, beberapa orang sedang mengambil makanan, ada yang memilih duduk dan bercengkrama satu sama lain, beberapa pelayan menawarkan minuman ataupun makanan kepada para tamu, bahkan pelayan disini pun menggunakan jas. Sedikit malu, Aku memilih untuk duduk di salah satu sofa kosong yang berada di ujung. Bahkan walaupun duduk di pojokpun, aku masih merasakan banyak mata menatapku, seakan aku tidak cocok berada di tempat seperti ini, bahkan pelayanpun seakan enggan untuk sekedar menyapa atau menawarkan minuman atau makanan. Beberapa menit berlalu, aku masih tidak melihat tanda-tanda kehadiran Robert maupun Vienna. Bosan, aku memilih untuk berdiri dan berjalan-jalan. Aku ingin melihat keindahan tempat ini lebih jauh. Di kanan, terdapat pintu kaca menuju ke sebuah kolam berenang. Aku melihat beberapa orang sedang barbeque-an. Entah mengapa, aku merasa sangat familiar di rumah ini. Tanpa sadar tubuhku bergerak ke arah kiri, dimana terdapat koridor panjang. Aku berjalan, terus berjalan sendiri. Entah mengapa aku bergerak ke sini, padahal tidak ada seorangpun disini.
Di ujung koridor, terdapat dua pintu kayu. Tanpa sadar, aku membuka pintu di sebelah kanan. Ternyata, sebuah koridor lagi, tetapi di kiri kanan terdapat berbagai pintu, dengan sebuah angka di atas masing-masing pintu. Lagi-lagi seakan sudah biasa aku lakukan, aku berjalan ke sebuah pintu dengan angka 07 diatasnya, lagi-lagi aku merasa dejavu, pintu ini, angka ini seakan ini bukanlah pertama kalinya aku kesini. Baru saja ingin kubuka, terdengar suara yang tidak asing bagiku.
"Aku harap kau bisa melupakanku." Suara lembut itu, aku yakin itu adalah suara Vienna.
"Apa maksudmu? Apakah setelah sekian lama kau masih belum bisa memaafkanku?" Suara itu, aku yakin adalah suara Robert.
"Jangan bahas itu Rob! jika kau memang mencintaiku tidak seharusnya kau melakukannya saat itu. Dan sampai kapanpun aku tidak akan memaafkanmu! kau biadab Rob." teriak suara Vienna, hampir menangis.
"Aku melakukannya karena aku begitu mencintaimu Vie, dan saat itu kita memang berpacaran. Waktu itu kau bilang kau sudah memaafkanku. Mengapa tiba-tiba kau menjadi begini Vie? Jangan memintaku melupakanmu Vie, aku mohon. Aku sangat mencintaimu, aku berharap setelah tamat sma kau akan menyusulku ke Amerika, dan kita bisa menikah disana." Suara Robert kini melembut. Kata-kata menikah dan menyusul ke Amerika, membuat hatiku sedikit panas.
"Sebenarnya, aku tidak pernah mencintaimu, aku juga tidak pernah memaafkan kejadian saat itu. Pergilah ke Amerika, dan lupakan aku." Teriak Vienna.
"Jangan bilang kau tidak mencintaiku, aku tahu kau mencintaiku Vie!"
"Tidak Rob, aku tidak pernah mencintaimu, bahkan sebelum kejadian itu aku tidak mencintaimu, dan setelah kejadian itu, aku menjadi membencimu!"
"Tidak Vie, Tidak! kau hanya boleh mencintaiku" Bentak Robert. Terdengar suara barang jatuh dan suara tangisan wanita. Segera aku membuka pintu, tidak ingin sesuatu terjadi kepada Vienna.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
idner69 dan 8 lainnya memberi reputasi
9
profile picture
newbie
15-09-2019 11:57


iya nih, kentang kentang
profile picture
kaskuser
14-09-2019 16:20
Kentangnya jatuh...
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
aku-harus-jahat
Stories from the Heart
perjalanan-panjang
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.