alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d6218dd28c991225b46bab7/ustad-in-love
Lapor Hansip
25-08-2019 12:13
Ustad in love
Past Hot Thread
Welcome to my first Thread emoticon-Hai

Ustad in love


Ustad in love
(Prolog)
.
.
.




Warning : Segala hal yang tertulis di dalamnya tidak bermaksud untuk menyinggung pihak manapun, typo betebaran, absurd, gaje, but this story is mine.





Assalamualaikum.....

Dalam kisah ini, perbincangan pertama denganmu kumulai dengan 'kalaamun mufiidun' , kata-kata penuh makna walau mungkin teramat sedikit tetapi amat membekas dan berarti di lubuk hati.

Dan disini izinkan aku menggoreskan kisah sederhana. Tentang Hasbi, seorang pemuda sejuta pesona dengan paras tampan bak dewa Yunani serta tubuh atletis layaknya model papan atas yang begitu digilai kaum hawa yang menyebut dirinya "MH". Pemuda dingin dan datar namun menjadi idola di kampusnya. Mendapatkan gelar sarjana ekonomi disaat usianya 21 tahun dan selalu menjadi yang pertama dalam segala hal.

Ah.... juga Gus Muzaki, putra bungsu pengasuh pondok pesantren Al-Hadi yang terkenal di daerah kecil di wilayah jawa tengah tepatnya di kota Semarang. Ia merupakan Gus yang begitu dihormati dan disebut dengan "Pangeran Yusuf" bagi santri-santri yang mengidolakannya. Menjadi hafidz saat usianya 18 tahun serta menyumbangkan banyak piala dari lomba keagama'an seperti tilawatil qur'an maupun dakwah.

Penampilan serta kemampuan mereka tentu bertolak belakang kan? Hasbi dengan gaya cool nya dan Gus Muzaki dengan sarung serta baju kokonya. Hasbi dengan wajah dingin dan datar serta Gus Muzaki dengan keramahannya.

Tapi jangan salah. Kuharap kau tidak akan terkejut jika mereka sebenarnya adalah orang yang sama. Yah, yang tak lain adalah seorang Muhammad Hasbi Muzaki, pemuda sejuta pesona dengan sejuta rahasia yang disimpannya.  Tak perlu heran dengan sifat yang berbeda 180°. Tidak banyak yang tau jika dia adalah satu dari sekian orang yang menderita alter ego. Sebuah kondisi dimana seseorang membentuk karakter lain dalam dirinya secara sadar.

Ah, sekali lagi ini hanya kisah sederhana tentang seorang Hasbi Muzaki, Gus muda dengan kepribadian ganda meski nyatanya hanya  memiliki satu hati dan satu perasaan yang sama.


Tbc





Thread pertamaku, maaf jika aneh.
Cerita ini juga di publish di wattpad dengan judul yang sama. (https://my.w.tt/wC8zbx93h0)

Bab 1 https://www.kaskus.co.id/show_post/5...9b1758ee392543

Bab 2 https://www.kaskus.co.id/show_post/5...f231521e413603l

Bab 3 https://www.kaskus.co.id/show_post/5...d49548ea795d8e

Bab 4 https://www.kaskus.co.id/show_post/5...377223682c5317

Bab 5 https://www.kaskus.co.id/show_post/5...d295312437e6ee

Bab 6 https://www.kaskus.co.id/show_post/5...3c7257a73e4e29
Diubah oleh aikaanifah2
profile-picture
profile-picture
evywahyuni dan hayuus memberi reputasi
2
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 2
25-08-2019 17:32
Waw roman2nya seru nih.
Lanjutken yakk...
No kentang no makan
emoticon-Jempol
0
25-08-2019 20:51
boleh juga..
lanjutkannn gan
0
25-08-2019 21:44
Membaca judulnya, gw sempat termenung, Yusted? Berusaha menterjemahkan. Ternyata "Ustad" disitu bahasa Indo/Arab. Et dah...
0
25-08-2019 21:49
parkir gerobak sist
0
27-08-2019 07:25
Ini cerpen yak, bagus kisahnya, cuma kependekanemoticon-Jempol
0
29-08-2019 06:04
wihhhh ada yg baca juga tohh, auto nggk nyangka hhh.
Thanks gan.
Jujur sih aku baru tau KasKus (kudet amat yak).
Jadi masih agak2 bingung gituuu...
0
29-08-2019 06:36
BAB 1
Ustad In love.
Bab 1. Hasbi Muzaki.





(Warning : story pertamaku selain fanfic. Segala hal yang tertulis di dalamnya tidak bermaksud untuk menyinggung pihak manapun. Typo, gaje, absurd but this story is mine.)






~ Saat itu aku seperti isim mufrad, tunggal sendiri saja. Seperti kalimat huruf, sendiri tak bermakna.~





"Tadi Umi bertemu dengan anaknya Bu Rahma, ituloh si Nisa, dia cantik dan sekarang sudah semester 3 di UNES. Selain itu dia juga pintar." Kata Humairah, wanita paruh baya yang berstatus sebagai istri pengasuh Pondok Pesantren Al-Hadi, sekaligus ibu dari seorang pemuda yang kini tengah berkutat dengan laptop didepannya.

"Cantik dan pintar saja tidak cukup Umi." Balas pemuda tadi tanpa menghentikan kegiatannya.

"Kalau gitu bagaimana dengan Najma? Dia cantik, pintar dan juga sudah hafal AL-Qur'an, jadi nanti bisa bantu umi disini."

"Maksud Umi Najma anaknya kyai Hasim itu?"

"Iya. Kamu kenal dia?" Tanya wanita dengan dengan lesung di pipinya itu antusias dan mendapat anggukan singkat dari lawan bicaranya.

Yah lagipula siapa yang tidak mengenal kyai Hasim? Pengasuh pondok pesantren Al-muqorobin yang terkenal itu?

"Tapi setauku dia sedang berta'aruf dengan salah satu ustad yang mengajar disana. Hasbi tidak ingin menjadi pengganggu." Jawab pemuda yang menyebut dirinya Hasbi tadi dengan nada datar seperti biasanya.

"Benarkah? Kok umi baru tau sih, kamu bohong ya Bi?"

"Memangnya sejak kapan Hasbi bisa membohongi umi?"

Sejenak pertanyaan malas dari pemuda didepannya membuat wanita paruh baya itu terdiam. Ditatapnya lekat manik hitam anak semata wayangnya itu. Memang sejak dulu Hasbi tidak bisa berbohong pada keluarganya, terutama pada ibu kandungnya. Umi yang begitu disayanginya, dia anak yang selalu jujur. Tapi bagaimanapun juga kabar tadi memang baru didengarnya hari ini.

"Ya sudah, bagaimana kalau nanti umi kenalkan sama anak teman umi yang lain? Barang kali diantara mereka ada yang kamu suka."

"Hasbi malas mi, lain kali saja."

"Kamu selalu saja seperti ini, kalau gitu kamu kapan nikahannya Bi?"

"Menikah? Hasbi belum siap mi."

"Belum siap bagaimana? Kamu sudah 24 tahun, bahkan kakakmu saja sudah punya anak sekarang."

"Hasbi masih ingin kuliah mi."

"Kuliah lagi? Masyaallah Bi, apa gelar sarjana ekonomi yang kamu dapat itu belum membuatmu puas? Lagipula kuliah dengan status sudah menikah itu tidak apa-apa kan?" Tanya Umi dengan nada kesal.

"Tetap saja nanti Hasbi bisa terganggu saat belajar. Umi, hanya butuh waktu beberapa bulan lagi Hasbi bisa lulus jadi biarkan Hasbi menyelesaikan kuliah dulu."

"Dan setelah itu kamu akan
menikah? " Tanya umi penuh harap.

"Entahlah, lihat saja nanti." Jawab Hasbi acuh.

"Terserah kamu sajalah, umi mau tidur." Ucap Umi lelah dan memutuskan untuk pergi dari kamar anaknya yang lumayan besar itu.

Helaan nafas kembali terdengar dari seorang pemuda yang kini tengah menutup laptop dipangkuannya. Tampaknya ia harus terbiasa berdebat dengan uminya seperti malam ini. Pemuda itu merebahkan tubuh lelahnya diatas kasur king size setelah meletakkan laptop kesayangannya diatas meja belajar.

Jemari tangannya terarah memijit pelan pelipisnya yang kini nampak sedikit berkerut kesal. Ia lelah dengan semua permintaan keluarga terutama ibunya itu yang memintanya untuk segera menikah padahal usianya baru 24 tahun dan menurutnya ia masih terlalu muda untuk menikah. Sudah tak terhitung berapa kali permintaan itu didengarnya. Yang ia ingat hanyalah setiap dia pulang kerumah maka Uminya akan terus bercerita tentang gadis yang menurutnya ideal dijadikan menantu.

"Menikah? Yang benar saja. Kurasa Umi belum tau kalau wanita itu merepotkan." Gumam pemuda bernama lengkap Muhammad Hasbi Muzaki itu entah pada siapa.

"Eh, tapi Umi kan juga perempuan," lanjutnya.

Dibaliknya tubuh tegap itu kesamping dan mengamati sisi kanan kamarnya yang benuansa biru dongker. Mata sekelam malamnya menatap kosong objek didepan hingga perhatiannya teralihkan dengan suara deringan hp yang diletakkan diatas nakas sisi tempat tidurnya.

'Bi, jangan lupa besok jam 9 di cafe biasa.' Hanya itu pesan yang tertera dilayar ponselnya, membuat pemuda berambut emo itu mendengus kesal.

'Hn," Begitulah balasan yang dikirimnya. Singkat, padat, dan terkesan dingin. Seperti itulah Hasbi, walau begitu dia akan bersikap hangat pada keluarga serta orang-orang terdekatnya.

Siapa yang tidak mengenal Muhammad Hasbi Muzaki? Sosok yang begitu populer dengan julukan 'MH' dikampus tempatnya belajar. Ia merupakan mahasiswa tingkat akhir jurusan hukum dari Universitas Erlangga Buana. Salah satu Universitas ternama di Jakarta. Ia juga merupakan mahasiswa yang berprestasi serta digilai hampir seluruh mahasiswi yang sebagian besar termasuk dalam anggota 'MH lovers', sebuah nama untuk fansgirl seorang M. Hasbi. Pemuda rupawan bak dewa Yunani dengan kulit seputih porselend, hidung mancung, bibir tipis dan rahang kokoh serta mata tajam bak elang itu mampu menghipnotis siapa saja yang melihatnya. Apalagi ditambah dengan postur tubuh professional membuatnya terlihat sempurna. Selain itu Ia juga genius, terbukti dengan banyaknya prestasi yang diraihnya sedari kecil baik dibidang akademik maupun non akademik. Selalu menempati peringkat pertama disekolahnya bahkan diusianya yang masih 21 tahun Ia mendapatkan gelar sarjana ekonomi dengan IP nyaris sempurna. Dan tak lama lagi Hasbi akan menyelesaikan kuliah jurusan hukumnya itu.

Tapi tak banyak yang tau bahwa dibalik itu semua sebenarnya Ia adalah seorang Gus, panggilan untuk putra seorang Kyai besar.

Dia adalah putra pengasuh pondok pesantren Al-Hadi yang begitu terkenal di salah satu daerah kecil di Jawa tengah, di kota Semarang lebih tepatnya. Pesantren itu cukup mashur karena mampu melahirkan hafidz-hafidzah dan tenaga pendidik dibidang agama atau yang lebih sering disebut sebagai 'ustad' yang kemampuannya tidak perlu dipertanyakan lagi.

Hanya segelintir orang yang mengetahui tabiat keluarga Hasbi dikampusnya, salah satunya adalah Riski karena mereka berasal dari daerah yang sama.

Dalam lingkungan pesantren, Hasbi lebih dikenal dengan panggilan Gus Muzaki, ustad muda yang begitu dihormati dan menjadi idola bagi santri-santri dipesantrennya maupun santri dari pesantren lain yang mengenalnya. Ia mendapat gelar 'Pangeran Yusuf' dari santri wati yang mengidolakannya. Bagi mereka, Gus Muzaki itu mewarisi paras Nabi Yusuf yang begitu mashur akan ketampanannya.

Bukan hanya itu saja tapi setiap santri juga tau akan prestasi Gus tampan itu dalam bidang agama. Saat usianya 18 tahun ia sudah menjadi seorang hafidz dan banyak sekali piala yang didapatnya dari berbagai lomba dibidang keagamaan seperti tilawatil qur'an maupun dakwah walaupun ia jarang sekali terlihat di pesantren.

Dengan segala pesona yang dimilikinya ia seakan-akan menjadi 'Imam idaman' dimata para santri.

Tentu saja hal itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarganya walaupun terkadang sifat keras kepala serta jiwa pemberontaknya membuat mereka harus lebih bersabar. Salah satunya adalah ketika keluarganya meminta Hasbi untuk menikah, selalu saja ada alasan untuk menolak.

Hasbi seakan-akan menjadi pemuda yang tak tersentuh bahkan hingga kini keluarganya belum pernah melihat atau sekedar mendengar ia berdekatan dengan wanita manapun setelah insiden yang terjadi beberapa tahun lalu. Mereka sempat berfikir apa Hasbi tidak tertarik dengan lawan jenisnya lagi dan justru tertarik dengan sesama alias gay? Jika yang difikirkan mereka itu benar, sudah dipastikan serangan jantung menjadi hal pertama yang mereka dapat, tapi alhamdulillah sepertinya itu tidak akan terjadi.

Tak seperti kebanyakan Gus pada umumnya, Gus Muzaki cenderung royal baik dalam sikap maupun penampilan. Jika kebanyakan Gus maupun ustad di daerahnya mengenakan sarung serta baju koko maka Ia lebih sering mengenakan kaos serta celana jins untuk kesehariannya, meski itu hanya dilakukan di lingkungan yang jauh dari pesantren. Memang sedikit aneh. Bahkan sampai saat ini ia masih selalu berhati-hati saat berjalan karena takut jika sarung yang dikenakannya akan lepas, tentu saja itu menjadi bahan ledekan kakaknya, Ridwan.

Tak usah bertanya "mengapa bisa begitu?" Itu wajar karena walaupun dia putra pemilik pesantren besar tapi sejak kecil ia lebih banyak menghabiskan waktu diluar pesantren bahkan ia bersekolah disekolah umum diluar kota dan tinggal dengan pamannya dan itu berpengaruh juga pada kepribadian maupun penampilannya.

Hal itu tentu saja dipermasalahkan oleh keluarganya mengingat bagaimana kedudukan mereka dimata masyarakat, dan pada akhirnya dengan berat hati mereka membuat kesepakatan bahwa jika dilingkungan pesantren serta daerah yang dekat dengan wilayah pesantren, ia harus berpakaian layaknya Gus pada umumnya dan jika diluar lingkungan itu maka ia boleh menjadi dirinya yang diinginkan, Hasbi yang apa adanya, tidak terikat pada tsatus serta tabiat keluarganya.

Bukan hanya soal penampilan, tapi cara berfikir pun Ia cenderung modern dan tak jarang pula ia berdebat dengan sang ayah, Kyai Arifin tentang berbagai masalah disekitarnya.

Biasanya dalam dua atau tiga bulan sekali Hasbi akan menyempatkan diri pulang menemui orang tuanya dan saat liburan Ia membantu ustad lain mengajar santri-santri kelas 3 dan juga mengajari tilawah bagi santri kelas 6 yang akan segera lulus dari pesantren ini. Hal itu menjadi sesuatu yang terkadang mengganggunya.

Bukan karena ia tidak suka, ia tau betul seperti apa tugas dan kewajibannya di pesantren ini tapi jika boleh jujur ia lebih suka menjadi Hasbi yang apa adanya, bukan menjadi Gus Muzaki yang begitu dihormati dan diperlakukan begitu istimewa. Saat ia berjalan atau berpapasan dengan santri, semua menunduk dan tak jarang pula ada yang langsung bersimpuh dan segan menatapnya. Itulah yang membuatnya kurang nyaman. Hay, dia bukan tipe orang yang gila hormat hingga harus diperlakukan seperti itu. Pernah ia bertanya pada abinya, kyai Arifin namun jawaban yang didapatnya hanya membuatnya semakin kesal saja. Itu karena saat dia bertanya tentang sikap mereka, abinya hanya tersenyum dan mengatakan "Memang sudah seperti itu adapnya Bi."

Tentu saja akalnya memberontak. Apanya yang adap? Baginya semua manusia itu sama setinggi apapun pangkat atau derajat yang dimilikinya lagipula ini sudah bukan zaman kerajaan, rasanya aneh jika menghormati orang sampai seperti itu.

Menundukkan kepala itu masih wajar tapi bersimpuh? Ia tak habis fikir dengan semua itu. Yah pola berfikir modern itulah yang membuatnya sering berdebat dengan sang ayah. Itu juga yang membuatnya lebih menyukai kehidupannya yang bebas, tanpa banyak peraturan yang mengekangnya seperti saat ini, dimana ia menjadi seorang Gus Muzaki dengan sarung serta baju koko bewarna biru yang membalut tubuhnya.

Perlahan Ia memejamkan matanya, menyembunyikan manik arang dan wajah dingin serta datarnya kini telah tergantikan dengan wajah damai dan polos saat dunia mimpi mulai merenggut kesadarannya, yah kesadaran seorang Hasbi Muzaki, pemuda sejuta pesona dengan sejuta rahasia pula yang disimpannya.






Tbc
.



***


Sekali lagi saya tekankan, " Segala hal yang saya tulis disini tidak bermaksud untuk menyinggung pihak manapun." Jika ada kesamaan nama atau tempat itu hanya fiktif belaka (kok kayak sinetron yak #plak).

Maaf jika ada kekurangan...
Auto baru belajar nulis, jadi kritik saran dari kalian sangat dibutuhkan....

Terakhir, review please....


Pertama kali publish : 1 Desember 2017. (on wattpad).

Story by : Anifah @Aika_anifah

Magelang, Jawa Tengah.
profile-picture
profile-picture
nurcahya7 dan cos44rm memberi reputasi
2
Lihat 1 balasan
29-08-2019 06:40
..
.....
Diubah oleh aikaanifah2
0
13-09-2019 10:02
BAB 2
Ustad in love
Bab 2.
Permohonan antar sahabat.
.
.
.



Warning : segala hal yang kutulis didalamnya tidak bermaksud merugikan pihak manapun, typo, gaje, dan hal-hal absurd lainnya #plak. Okay happy reading all......

.

.

.



~Aku bertekad untuk menjadi mubtada' , memulai sesuatu. Menjadi fa'il yang berawal dari fi'il.~

.

.

.



Pandangan memuja terus saja terlihat dari hampir semua pengunjung saat seorang pemuda yang mengenakan kaos putih polos dipadukan jaket bewarna biru donker dan celana jins dengan warna senada itu memasuki cafe. Bahkan pelayan yang menawarkan menupun tak berkedip sedetikpun saat mancatat pesanannya tadi.

Pemuda tersebut tak lain adalah Muhammad Hasbi Muzaki yang kini tengah menjadi seorang Hasbi. Ia benar-benar datang ke cafe sesuai dengan pesan yang diterimanya kemarin malam. Manik arangnya menelisik sekitar dan mendengus kesal serta menampilkan wajah datar saat mendapati beberapa pengunjung diam-diam memotretnya, seolah dia adalah aktor yang terdampar disini.

Jam menunjukkan pukul 09:05 saat Hasbi menyesap coffee latte kesukaannya. Sesekali matanya melirik ke arah pintu masuk berharap orang yang membuatnya menunggu segera menunjukkan batang hidungnya. Namun hingga lima belas menit kemudian seseorang yang dimaksud belum juga datang.

"Ck, tau begini lebih baik tadi aku ikut abi saja ke rumah paman Khairy." Gumamnya kesal dan memutuskan untuk pergi dari sana.
Tapi baru berdiri beberapa detik ia dikagetkan dengan seseorang yang Cumiik didepannya.

"Ma'af telat." Ucap seorang pemuda berambut kecoklatan dengan lantang dan nafas yang memburu. Sontak saja hal itu membuat beberapa pengunjung mengalihkan pandangan kearah mereka walaupun hanya sesaat.

"Hn, kuharap kau punya alasan masuk akal kali ini." Kata Hasbi datar dan duduk kembali sementara pemuda tadi hanya tersenyum kikuk dan duduk di depannya.

"Ano... etooo tadi aku harus membantu kucing yang tersesat dijalan bernama...... kehidupan." Balas pemuda tadi dengan cengiran khasnya yang langsung dibalas dengan tatapan mematikan oleh Hasbi.

"Ckckck, tatapanmu itu tidak mempan padaku Gus" . Ucap pemuda itu lagi, tak lupa memberi penekanan pada kata 'Gus' dengan wajah tanpa dosanya yang membuatnya Hasbi mendengus kesal.

"Jangan memanggilku begitu. Ingat, kita tidak sedang berada dilingkungan pesantren Fan." Ucap Hasbi dingin.

"Kau sama sekali tidak berubah ya Bi." Kata pemuda bermata sayu itu.

Dalam hati pemuda tadi tersenyum, sungguh Ia sangat menyukai sikap Hasbi yang apa adanya, disaat sebagian orang berlomba-lomba menunjukkan kealiman mereka, berpakaian layaknya ustad besar yang berakhlak , sahabatnya yang sebenarnya adalah sosok Gus yang begitu dihormati dan berhati mulia justru menjelma menjadi pemuda biasa yang seakan-akan tidak mengetahui banyak hal tentang ilmu agama. Ia suka dengan sifat apa adanya itu meskipun terkadang ia juga tak habis pikir bagaimana bisa seorang Gus Muzaki bisa berubah 180 derajat saat menjadi Hasbi. Tapi ia lebih menyukainya daripada penampilan mereka yang menurutnya lebih pantas disebut dengan pencitraan.

"Hn, kau juga Fandi. Dan ada apa kau memintaku kesini?"

"Ah itu .... emm boleh aku memesan dulu? Aku haus setelah berlarian tadi." Ucap pemuda yang dipanggil Fandi tadi dengan muka memelas.

"Ck, kau tetap saja menyebalkan." Decak Hasbi.

Fandipun segera memanggil pelayan untuk memesan minuman dan tak lama setelahnya, pelayan tadi datang kembali dan meletakkan orange juice dimeja mereka.

"Aku butuh bantuanmu Bi." Ucap Fandi dengan raut serius setelah meneguk minumannya.

"Bantuan apa?"

"Ku dengar besok kau akan kembali ke Jakarta."

"Ya, aku harus kembali kuliah. Memangnya kenapa?"

"Itu.... tolong titip ini untuk adikku." Kata Fandi sambil menyerahkan kotak berukuran sedang yang dibalut kertas kado bewarna hijau dengan hiasan pita putih diatasnya.

"Hah? Sejak kapan kau punya adik?" Tanya Hasbi bingung. Pasalnya Ia sudah lama mengenal Fandi dan setaunya Fandi itu anak tunggal.

"Dia adik sepupuku Bi." Ucap Fandi.

"Kau punya sepupu?" Tanya Hasbi penuh selidik. "Aku tak pernah melihatnya." Lanjutnya.

"Ya, tentu saja itu karena dia tinggal di Bandung dan hanya berkunjung kesini sesekali." Jelas Fandi.

"Kalau dia di Bandung untuk apa kau memberikan kotak ini padaku? Aku akan ke Jakarta bukan ke Bandung." Tanya Hasbi heran.

"Dengar dulu Bi, sekarang dia di Jakarta dan kuliah di universitas yang sama denganmu." Jawab Fandi.

"Oh, hanya itu? Kupikir kau butuh bantuan apa." Ucap Hasbi pelan.

"Sebenarnya masih ada lagi." Kata Fandi ragu. "Tapi aku takut itu akan menambah bebanmu Bi." Lanjutnya dengan suara lirih namun masih bisa ditangkap indra pendengar Hasbi.

"Apa maksudmu?"

"Ah, tidak." Ucap Fandi gugup.

"Apa ada yang kau sembunyikan Fan?" Tanya Hasbi dan dijawab gelengan pelan oleh Fandi. Tapi bagaimanapun juga Hasbi tau jika sahabatnya ini tengah menyembunyikan sesuatu darinya.

"Katakan saja Fan, kau itu payah jika berbohong." Ucap Hasbi sarkastik dan itu membuat Fandi menjadi tegang seketika. Yah tapi yang dibilang Hasbi itu ada benarnya juga dan Fandi tak akan bisa membohonginya.

"Kau benar Bi." Kata Fandi tersenyum kecut.

"Lalu?"

"Sebenarnya ak-aku butuh bantuanmu un-untuk menjaganya." Kata Fandi gugup.

"Hah? Jadi kau memintaku untuk menjadi pengasuhnya begitu? Disini aku menjadi pengasuh dadakan Fakhrie dan Ghani. Sekarang kau memintaku menjadi pengasuh adikmu di kampus? Kau pikir aku baby sister apa?" Tanya Hasbi histeris, tak peduli dengan image cool yang selalu dijaganya. Ia begitu syok dengan permintaan sahabatnya ini. Pasalnya dirumah ia sering diminta untuk menjaga si kembar, keponakannya jika sang kakak tengah ada urusan dan baginya menjaga berarti mengasuh dan mengasuh berarti merepotkan.

"Menjaga bukan berarti mengasuh Bi, dan kau tak perlu menjadi baby sisternya. Cukup kau awasi dia dan laporkan semuanya padaku. Dan jika kau bersedia, lakukan apa yang kuminta tapi aku tak akan memaksa. Aku tau itu akan menambah bebanmu. Aku juga sadar selama ini aku sudah banyak merepotkanmu. Yah anggap saja ini permohonanku." Jelas Fandi panjang lebar.

"Well, hanya itu? Dan sejak kapan kau tertular virus siscon?"
Fandi yang ditanya seperti itu hanya mendengus. Siscon maksudnya sister complex, dimana kau akan bersikap terlalu posesif pada saudaramu, begitu? Yang benar saja.

"Kau tidak mengerti Bi." Ucap Fandi dan kini tatapannya menjadi sendu. Hasbi yang tadinya terkekehpun kini merasa tidak enak dan bersalah telah bertanya seperti itu.

"Apa maksudmu?"

Bukannya menjawab, justru kini Fandi malah terlihat seperti sedang menahan air matanya dan itu membuat Hasbi sedikit panik dibuatnya.

"Akan kujelaskan tapi bukan disini." Kata Fandi dan beranjak dari sana.


☆☆☆



Kini keduanya insan itu tengah duduk di dekat danau yang lumayan sepi. Semilir angin yang membawa kesejukanpun membuat suasana hati Fandi sedikit membaik.

"Dia berbeda Bi." Ucap Fandi pelan.

"Maksudmu?"

Terlihat tatapan Fandi yang kembali sendu. Mata kecoklatannya menatap kosong kedepan seakan-akan ia melihat kembali masa lalunya.

Dengan helaan nafas berat, kata demi kata meluncur dari bibir tipisnya sementara Hasbi terus saja mendengarkan dengan seksama. Sesekali Ia memasang wajah terkejut dan matanya melebar namun segera ditutup kembali dengan mimik datar andalannya.

"Kau tenang saja, akan kulakukan." Ucap Hasbi setelah sekian lama terdiam.

"Kau yakin? Sungguh Bi, aku tidak ingin menambah bebanmu."

"Insyaallah aku yakin dan berhenti berkata seperti itu. Kita itu sahabat dan kau tidak pernah menjadi bebanku." Ucap Hasbi seraya tersenyum.

"Terimakasih Bi, aku banyak berhutang budi padamu. Tapi kau tenang saja, suatu saat nanti aku pasti akan membalasnya." Balas Fandi tulus.

Ia ingat seperti apa ia dulu. Jika bukan karena Hasbi dan keluarganya mungkin ia tidak akan menjadi seperti ini. Senyum tulus menghiasi wajahnya mengingat bagaimana keadaannya dulu, saat ia hampir mati dipinggir jalan hingga datang sepasang suami istri yang menolongnya dan membawanya ke pesantren serta merawatnya dengan penuh kasih sayang. Lalu masa-masa saat ia masih di pesantren dulu. Dimana Hasbi selalu membantunya, dimana mereka di ta'zir karena melakukan kesalahan yang sama, dimana mereka melewati masa remaja yang begitu bewarna. Ia tak akan pernah lupa dengan semua itu. Dan baginya Hasbi bukan sekedar sahabat, Hasbi adalah saudara yang begitu berharga. Hasbi sudah dianggapnya seperti kakaknya sendiri. Dan ia berjanji dalam hatinya suatu saat nanti ia pasti akan membalas semua kebaikannya, jika perlu nyawapun rela jika harus dikorbankan untuknya.

'Apapun akan kulakukan untukmu Bi, untuk kebahagiaanmu meski nanti aku harus kehilangan kebahagiaanku sekalipun. Aku tak peduli, inilah janjiku Bi, janji seorang Arfan Fandi al-hamid.' Ucap Fandi dalam hatinya.

"Tak perlu berterimakasih Fan. Oya, ngomong-ngomong bagaimana pekerjaanmu?" Tanya Hasbi mencoba mencari topik lain.

"Yah, kau tau? Berkat bantuanmu aku bisa menjadi ustad tetap yang mengajar disana dan itu membuat kehidupanku lebih baik."

"Benarkah? Aku senang mendengarnya dan jangan bicara seperti itu. Kau bisa berhasil berkat kemampuanmu sendiri."

"Tapi tetap saja Bi, jika bukan karena kau yang merekomendasikanku waktu itu mungkin saja aku tidak akan diterima. Tau sendiri kan menjadi ustad di pesantren Al-Muqorrobin itu tidak semudah di pesantren lain, seleksinya sangat ketat."

"Hn, terserah kau sajalah."

"Lalu kau sendiri bagaimana?" Tanya Fandi.

"Hn, seperti yang kau tau sebentar lagi aku akan menyelesaikan kuliahku."

"Apa rencanamu setelah itu?"

"Entahlah, tapi jujur saja aku ingin pergi sejauh mungkin dari sini kalau perlu sampai ke luar negeri. Kurasa dengan berbekal gelar sarjana ekonomi dan hukum itu bisa membantuku memperoleh pekerjaan yang lumayan." Ucap Hasbi dengan pandangan menerawang.

"Kau ingin pergi kemana?"

"Aku juga belum tau. Tapi hati kecilku mengatakan ada sesuatu yang menungguku disana."

"Sesuatu? Seperti apa?"

"Entahlah, yang jelas akan kucari sekalipun aku harus berkelana menjelajahi setiap tempat di bumi ini."

"Yang benar saja Bi. Bagaimana dengan pesantren dan tanggung jawabmu? Aku yakin abi dan umi tidak akan setuju dengan rencana konyolmu itu." Ucap Fandi "Dan apa ini ada hubungannya dengan dia?" Tanyanya ragu.

Sejenak pertanyaan dari Fandi membuat Hasbi terdiam. Tubuhnya nampak tegang meski hanya sesaat, sebelum berbalik menatap sahabatnya tepat pada manik kesua matanya.

"Entahlah. Mungkin iya. Fan, aku benar-benar membutuhkan bantuanmu kali ini." Perkataan Hasbi membuat Fandi tercekat. Pasalnya selama mereka berteman baru kali ini Hasbi meminta bantuannya.

"Bantuanku?"

"Hn, kau tau sendiri kan, orang tuaku bahkan lebih percaya dan mendengarkanmu jadi kurasa akan lebih mudah jika kau yang menyakinkan mereka. Juga soal dia, kau pasti lebih tau bagaimana reaksi orang tuaku soal masalah ini. Maka dari itu, ku mohon bantu aku." Pinta Hasbi sungguh-sungguh.

"Jangan konyol Bi. Walaupun begitu pasti itu tidak akan mudah. Lalu jika mereka bertanya alasannya aku harus jawab apa?" Tanya Fandi frustasi sekaligus terkejut. Hasbi yang dinginnya melebihi kulkas bisa berbicara panjang lebar seperti itu? Bahkan Ia memohon padanya.

"Itu urusanmu Fan, yang jelas aku benar-benar membutuhkan bantuanmu." Balas Hasbi datar.

"Ya baiklah." Ucap Fandi lemas. "Tapi bagaimana dengan pesantren? Kau tau kan sebagai seorang Gus kau mempu... "

"Aku tau apa tugas dan tanggung jawabku Fan, tapi masih ada mas Ridwan kan." Potong Hasbi cepat. Yah dia tau apa tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang Gus, tentu saja meneruskan tugas kedua orang tuanya untuk mengurus pesantren, bahkan lebih dari itu.

"Tapi biar bagaimanapun mas Ridwan itu juga harus mengurus pesantren kakak iparmu. Memangnya kau tidak kasihan apa membuatnya menjadi pengurus dua pesantren besar sekaligus?" Tanya Fandi dan sukses membuat Hasbi meneguk ludah gugup.

Memang benar kakaknya, Muhammad Ridwan Hasnawi menikah dengan putri tunggal pengasuh pondok pesantren Al-Hasan, pesantren yang tak kalah besar dari pesantrennya. Sedangkan ayah dari kakak iparnya meminta Ridwan menjadi penerus di pesantren Al-Hasan.

"Kalau begitu kau saja." Ucap Hasbi setelah berfikir sejenak.

"Maksudmu?" Tanya Fandi bingung.

"Ini permohonanku yang pertama Fan. Tolong gantikan aku dan bantu aku terlepas dari semua tugas serta tanggung jawabku sebagai seorang Gus." Kata Hasbi tegas dan menatap tepat kedua manik kecoklatan Fandi sementara itu Fandi hanya menganga, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

"A-apa? Masyaallah Bii, kau tau? Kau itu Gus tergila yang pernah ku kenal." Ucap Fandi pada akhirnya dan hari itu mereka habiskan dengan obrolan dan juga pikiran yang bergelut dalam kepala masing-masing.

.

.

.

.



Tbc
***



Awal publish : 3 November 2018.

Versi revisi : 13 Mei 2019.

On Wattpad (@Aika_anifah) link :

https://my.w.tt/lpZ4eDxfWZ

Maaf jika ada kesalahan.

Review please....... 

Btw lama nggk up hehe, maaf, auto sok sibuk di dunia nyata gan #plak. emoticon-Ngakak
Diubah oleh aikaanifah2
0
16-09-2019 12:45
Kok aku ga pernah denger itu semua
Sebenernya aku orang Indonesia bukan sih
0
16-09-2019 13:28
Diubah oleh aikaanifah2
0
16-09-2019 13:29
Quote:Original Posted By itik.buruk.rupa
Kok aku ga pernah denger itu semua
Sebenernya aku orang Indonesia bukan sih


Yg mana ya?? emoticon-Blue Guy Smile (S)
profile-picture
itik.buruk.rupa memberi reputasi
1
16-09-2019 22:39
Iki opo tho nduk...?

0
16-09-2019 23:28
Jangan lupa kasih indeks ya. Biar enak bacanya atuh.

Jadi ini storynya di publish ulang setelah sari wattpad yak?
0
17-09-2019 13:58
alter ego itu bukan penyakit, ya kalo tentara dia sangar saat latihan dan perang apa kabar dengan sikap dia terhadap keluarganya,
0
20-09-2019 10:38
BAB 3
Ustad in love
Bab 3.
First meet.
.
.
.




(Warning: Segala hal yang kutulis disini tidak bermaksud untuk menyinggung pihak manapun, typo, absurd, gaje, but this story is mine. So..... happy reading all......)

.
.
.




~Aku mulai kisah kita dengan sebuah kalam, dari susunan beberapa lafadz yang mufid, terkhusus untuk dirimu dengan penuh makna.~


.
.
.



Gadis bercadar dengan pakaian syar'i yang begitu anggun itu melangkah dengan tergesa disepanjang kloridor pesantren  yang nampak sepi. Sesekali manik coklatnya melirik jam di pergelangan tangannya. Langkahnya kian cepat dan pandangannya masih menatap objek yang sama.

'Bruk..'

Kini langkahnya terhenti dengan badan yang menghuyung ke belakang dan mungkin punggungnya sebentar lagi akan merasakan sakit karena terbentur lantai. Matanya terpejam.

1 detik.


2 detik.


5 detik.


Tak ada rasa sakit melainkan tubuhnya seperti tertahan oleh sesuatu. Menarik nafas, Ia membuka matanya perlahan dan hal pertama yang dilihatnya justru membuat jantungnya berdegub kencang. Mata coklat itu, hidung mancung, bibir tipis dan juga wajah teduh yang selama ini selalu menghantui mimpinya. Sesaat keduanya bergeming, terpesona dengan keindahan manik mata masing-masing sebelum sebuah suara menyadarkan keduanya.

"Neng Najma." Panggil mbok Asih dari kejauhan. Ia adalah wanita paruh baya yang menjadi abdi keluarga kyai Hasim, pengasuh pondok pesantren Al-muqqorobin. Pesantren terbesar di Jawa tengah yang terletak di kota Yogyakarta.

"Afwan ukhti, saya tidak sengaja." Ucap sosok yang kini melepaskan tangan kokoh yang menahan tubuh mungil Najma dan membantunya berdiri.

"Tidak apa-apa akhi, seharusnya saya yang minta maaf." Balas Najma seraya menunduk, menyembunyikan rona merah dipipinya yang tertutupi cadar.

"Neng dicari sama pak kyai,  katanya disuruh ke ruangannya." Kata mbok Asih sesopan mungkin setelah sampai di depan mereka. Matanya melirik ke arah kanan dimana berdiri seorang pemuda dengan baju koko putih yang kini tengah memunduk. Pemuda yang tak lain adalah Fandi yang baru saja kembali ke pesantren tempatnya mengajar.

"Iya mbok, kalau begitu kami permisi dulu ya ustad Fandi, Assalamualaikum." Ucap Najma lembut lalu berjalan diikuti oleh mbok Asih di belakangnya.

"Waalaikumsalam" jawab Fandi.

Bibirnya membentuk senyum tipis melihat dua orang, ah maksudku satu diantara dua orang yang kini mulai menghilang di tikungan kloridor. Hatinya bergetar mengingat manik mata yang memandangnya tanpa berkedip juga kini Ia menatap kedua tangannya yang tadi sempat merengkuh tubuh gadis itu, gadis yang menjadi alasannya berjuang mati-matian agar bisa lolos seleksi saat dirinya mendaftarkan diri untuk menjadi pengajar disini dulu. Andai saja tangan itu bisa lebih lama merengkuhnya, ia akan sangat bersyukur dan berjanji dengan tangan itu Ia akan selalu melindungi gadis tadi, menghapus air matanya kala kala dia  menagis dan mencubit hidung mungilnya saat mereka bersendau gurau.

"Astagfirullah, apa yang kupikirkan?" Ucap Fandi seraya mengusap wajahnya kasar dan berbalik melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.

Sementara sang gadis yang berjalan dengan anggun itu diam-diam menyunggingkan senyum walaupun tertutupi oleh cadar yang dikenakannya. Hatinya tak berhenti berdebar bahkan Ia masih merasakan siasa kehangatan di tubuhnya dan wajahnya kembali memanas mengingat bagaimana lengan kokoh itu menahan tubuhnya agar tidak terjatuh tadi.

Klise memang, seperti adegan dalam film yang terlalu basi. Tapi entah mengapa hatinya menghangat. Ia bukanlah gadis yang polos, tentu Ia tau betul tentang perasaannya. Itulah yang selalu Ia rasakan saat bersama pemuda itu, pemuda yang telah berani mencuri hatinya saat pertemuan pertama  mereka beberapa bulan yang lalu. Dan hanya pemuda itu yang mampu menghantui pikirannya. Senyumnya memudar kala ia mengingat akan status mereka. Keduanya terlalu jauh dalam perbedaan.

'Ya Allah, bolehkah aku mengagumi makhluk ciptaanmu itu?' batinnya bertanya dengan senyum sendu.


***




Disisi lain....



"Kya.... kak Mh...."


"Kyaaa... ganteng banget sih...."


"Omg..... calon suami gue lewat..."


"Ngarep amat sih lo..."


"Kak Mh........"


Hasbi yang kini tengah berjalan di klolidor kampus mendengus kesal saat mendengar teriakan histeris dari para mahasiswi yang ditemuinya. Ini bukan hal yang pertama untuknya mengingat dirinya yang memang selalu menjadi primadona bahkan sejak dirinya masih duduk di bangku sekolah dasar.

"Wah semakin hari fans mu semakin banyak saja Bi." Suara cempreng yang tak kalah memuakkan membuat Hasbi mendengus untuk kedua kalinya. Dilihatnya Riski, lelaki berkulit tan dengan rambut panjang yang diikat rapi itu tengah nyengir di sampingnya.

Hasbi baru saja kembali ke Jakarta kemarin. Dan hari ini, Ia kembali sibuk dengan kegiatannya. Menjalani kewajibannya sebagai mahasiswa tingkat akhir di Universitas Erlangga Buana.

"Berisik." Kata Hasbi dingin. Bukannya tersinggung, Riski justru malah terkekeh pelan menanggapi sahabatnya semenjak  SMA dulu. Yah, mereka sudah bersahabat sejak SMA dan kini kuliah di universitas yang sama pula. Meski kepribadian mereka bertolak belakang namun itu malah membuat mereka lebih dekat.

"Ck, kau ini, cobalah untuk ramah sedikit. Aku heran denganmu Bi. Kau benar-benar memiliki kepribadian ganda. Ahhhh aku jadi rindu dengan Gus Zaki yang selalu ramah padaku." Ucap Riski melirik Hasbi dengan seringainya.

"Jika kau membongkar identitasku maka kupastikan kau akan menyesal." Ucap Hasbi dengan sorot mata tajam sedangkan Riski hanya memutar bola matanya bosan.

"Halah, ancamanmu itu basi gus. Kau selalu mengatakannya ribuan kali tapi nyatanya tak pernah terjadi apapun padaku." Ucap Riski santai.

Hasbi semakin kesal mendengar ocehan sahabatnya tapi tak dipungkiri memang yang dikatakannya itu benar. Hasbi hanya selalu mengancam tanpa tindakan apapun karena nyatanya Ia memang tak bisa menyakiti sahabatnya itu. Mereka terus berjalan hingga saat di depan perpustakaan Hasbi merasa menubruk sesuatu yang terasa wangi.

"Aduh...." ringis seorang gadis yang kini duduk di lantai dengan tidak elit.

"Kau tak apa?" Tanya Riski yang membuat gadis itu seketika mendongakkan wajahnya.

'Manis." Batin Hasbi memperhatikan wajah gadis di depannya.

Wajah putih, pipi kyuby, hidung dan bibir yang mungil serta mata coklat yang kini berkaca-kaca menatap ke arahnya. Ia merasa hanyut dalam mata itu seolah membuat waktu terhenti berbeda dengan Rizki yang menatapnya cemas.

"Kau baik-baik saja?" Tanya Riski untuk yang kedua kalinya dan membantu gadis itu berdiri tapi yang dimaksud hanya diam.

Mata dengan manik coklat yang meneduhkan itu semakin berkaca-kaca dan wajah imutnya kini mulai memerah seakan mau menangis hingga membuat Rizki begitu panik sementara Hasbi berusaha mempertahankan ekspresi datarnya walaupun matanya menyiratkan kekhawatiran.

"Kenbi...." Panggil seseorang yang setengah berlari ke arah mereka membuat gadis itu panik. Tanpa memikirkan apapun, diliriknya seseorang yang berdiri tak jauh darinya dan memeluknya erat.

" Maaf kak Doni. Kenbi nggak bisa soalnya Kenbi udah punya pacar, dan ini pacar Kenbi."

Sontak saja perkataan gadis yang menyebut dirinya Kenbi tadi membuat lelaki yang dipeluknya syok. Matanya sempat melebar walau hanya sesaat sebelum kembali  mempertahankan wajah datar andalannya. Seseorang yang tak lain adalah Hasbi, kini melirik gadis yang bahkan hanya setinggi dadanya itu dengan raut tak terbaca.

Selama ini belum pernah ada perempuan yang berani memeluknya seerat ini kecuali ibunya, dan gadis ini? Entahlah, tapi kenapa semburat merah itu kini menghiasi pipi putihnya? Dan entah mengapa detak jantungnya menggila. Apa karena untuk pertama kalinya Ia sedekat ini dengan perempuan yang bukan mahramnya?

"Apa? Jadi kau..." Doni, lelaki yang mengejar gadis tadi menggantungkan perkataannya saat sadar siapa yang kini berdiri di hadapannya. Terkejut, sebelum akhirnya berbalik pergi seraya memandang mereka sinis.

'Huff, aman.' Batin gadis itu sebelum sebuah suara menyentaknya.

"Bisa kau lepas pelukanmu itu, gadis mesum." Ucap Hasbi dingin membuat gadis yang memeluknya mendongak memperlihatkan wajah manis dan tatapan mata polosnya. Perlahan semburat merah tipis menghiasi pipi kyubynya saat manik coklat itu memperhatikan wajah yang diciptakan Tuhan dengan begitu sempurna. Dunianya seolah berpusat pada manik sekelam malam yang kini menatapnya tanpa berkedip.

"Ekhm." Rizki berdehem setelah jenuh memperhatikan keduanya yang bagaikan adegan di sinetron yang sering Ia tonton. Lima menit bukan waktu yang singkat kan?

"Eh, maaf." Gadis itu refleks melepaskan pelukannya dan menunduk sebelum tangannya ditarik oleh seseorang.

"Kenbi, lo nggak papa kan?" Tanya seorang gadis lainnya yang baru saja datang dengan panik.

"Aku baik-baik saja Vira."

"Tapi seharusnya ka-" Ucapan gadis yang dipanggil Vira itu terhenti saat menatap dua pria di hadapan mereka. Dengan panik Ia menunduk dan menarik Kenbi ke belakang tubuhnya.

"Ma'af kak, dia memang ceroboh, kami permisi." Katanya gugub sebelum berbalik pergi dan menyeret Kenbi dengan langkah cepat.

Sementara itu Kenbi yang bingung hanya mengikutinya dan dengan senyum lebar menoleh ke belakang melihat dua pria yang menatap mereka dengan ekspresi yang tak dapat dijelaskan.

"Maaf kak, Kenbi nggak maksud apa-apa. Tapi jujur kakak ganteng, Kenbi suka." Ucap Kenbi lantang yang membuat Vira kini menepuk jidatnya seraya menyeret sahabat polosnya ini dengan langkah yang lebih cepat dari sebelumnya.

Sementara itu Rizki menganga dengan tidak elit sedangkan Hasbi walaupun ekspresinya datar tapi kini deru nafasnya tisak beraturan antara kesal dan entahlah, mendengar pujian sederhana dari gadis mungil yang seenak jidat memeluknya tadi  membuatnya sedikit tersipu padahal biasanya Ia mendapat pujian sana sini dan lebih dari itu. Tapi kenapa rasanya berbeda? Mendengus sesaat Hasbi melanjutkan langkahnya, meninggalkan Riski yang masih bengong dengan kejadian tadi.

☆☆☆

Bruk.

Hasbi mendudukkan dirinya di bangku taman belakang kampus yang begitu sepi, yah karena memang jarang sekali ada mahasiswa yang datang ke sini hingga menjadikan tempat ini begitu tenang dan Hasbi sangat menyukai ketenangan.

Mengusap wajahnya kasar, Hasbi menyenderkan kepalanya di bangku dan menengadahkan wajahnya menatap langit yang terlihat mendung.

Hatinya tak berhenti mengucapkan istighfar sementara jemari tangannya setia menggulirkan gelang tasbih yang selalu di bawanya kemanapun.

Pikirannya kembali berputar pada kejadian di depan perpustakaan tadi. Perlahan tangannya memegang dadanya yang mulai sesak serta memejamkan mata mengingat manik coklat yang menatapnya dengan polos tadi.

"Astaghfirullah, apa yang kupikirkan?" Ucapnya seraya duduk dengan tegak.

"Kenbi, kenapa harus dia?" Ucapnya dengan sorot mata yang sulit di artikan.

.
.
.



Tbc

***



Awal publish : 3 November 2018.
Versi revisi : 13 Mei 2019.

On wattpad (@Aika_anifah)


Review please....
Diubah oleh aikaanifah2
profile-picture
nurcahya7 memberi reputasi
1
Lihat 1 balasan
20-09-2019 10:48
Quote:Original Posted By cos44rm
Iki opo tho nduk...?


Niki cuma coretan-coretan nggak jelas, sakeng susunan huruf abjad yang terangkai menjadi kata, kemudian kalimat dan disatukan hingga membentuk paragraf2 yang lama kelamaan makin absurd emoticon-Ngakak
0
20-09-2019 10:50
Quote:Original Posted By itik.buruk.rupa
Kok aku ga pernah denger itu semua
Sebenernya aku orang Indonesia bukan sih


Auto juga ndak tau emoticon-Bingung
0
20-09-2019 10:52
Quote:Original Posted By tuffinks
Jangan lupa kasih indeks ya. Biar enak bacanya atuh.

Jadi ini storynya di publish ulang setelah sari wattpad yak?


Makasih sarannya, emoticon-Jempol
Iya, ini publish ulang dari wattpad,,
Diubah oleh aikaanifah2
0
20-09-2019 10:55
Quote:Original Posted By khambing34
alter ego itu bukan penyakit, ya kalo tentara dia sangar saat latihan dan perang apa kabar dengan sikap dia terhadap keluarganya,


Bener gan, jujur dulu pas awal2 buat story ini auto belum ngeh kalo Alter-ego sama DID itu beda 😅
0
Lihat 1 balasan
Halaman 1 dari 2
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
pewaris-terakhir
Stories from the Heart
senandung-black-n-blue
Stories from the Heart
the-way-you-are
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.